makanan bayi 6 bulan

Makanan Bayi 6 Bulan : Daftar Menu MPASI 30 hari pertama

Yup, ini dia menu makanan bayi 6 bulan versi adek bayi. Ampuuun, anak ketiga masih ikutan drama daftar menu MPASI Bayi aja nih, Buk? Hahaha. Husss, ini bukan mau drama-dramaan dong ah. Sharing iniiiii, sharing ceritanyaaaaaa :p.

Waktu anak pertama dan kedua, proses MPASInya ya gitu deh. Suka-suka hati saja. Random. Pokoknya ngikut sana ngikut sana. Misalnya satu teman bilang gini ya ngikut. Disaranin gono ya ngikut.

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

Juga tergiur dengan menu-menu MPASI lucu-lucu. Dengan harapan anaknya semangat makan. Betapa kita sering mengira begitu bayi mulai makan makanan padat seleranya mendadak sama dengan orang gede hehehe :p.

Tahu teori-teori MPASI, misalnya situs wholesomebabyfood juga sudah lama. Tapi ya begitulah. Habis nama-nama sayurannya suka gak mudeng, ya. Eh, padahal dicari-cari di supermarket lokal juga ada. Tapi dulu ikut-ikutan suka belanja di toko tertentu yang konon jual sayur-sayuran “bule” yang cucok buat bayi-bayi hihihi.

Toko khusus tentu harga juga spesial :p.

Kayak sayur Zukini (zucchini), sayur apaan tuh? Hahaha. Ealah, kemarin pas mudik di toko lokal ternyata juga ada hehehe. Eh, apa baru-barusan saja ya jenis sayur ini sudah masuk toko lokal. Entah juga. Soalnya pas anak pertama (sekitar 7-8 tahun lalu), saya belinya ya di toko “khusus” tadi. Ngikut teman saja :D.

Begitu anak ke-3. Saya familiar banget dengan nama-nama makanan yang direkomendasikan oleh wholesomebabyfood. Yaiyalah, pan tinggalnya di kawasan yang ‘sejalan’ dengan daerah asal yang nulis situs :p –> tempat tinggal orang bule :p.

Yang ingin lihat versi vlog-nya, sudah ada di sini ya ^_^ (jangan lupa subscribe ke channel youtube saya doooonggg hehehe) :

Sebagai orang Asia, kita sudah terbiasa dengan makanan kaya bumbu. Jadi seolah anak bayi juga pasti doyan sama selera kita hahahaha. Makanya saya agak skeptis lihat resep-resep di situs tadi. Ini bener gak si adek bayi bakal doyan?

Kita lupa, di usia 4-6 bulan, adek bayi pan baru belajar makan. Ya kali langsung mau ditawarin sate padang atau siomay? Hahaha :p.

Step by step, Mommie ;).

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

Adapun si #baby3 ini awalnya juga kurang bergairah. Saya pasrah deh. Soalnya kedua abangnya juga gitu hihihi. Tapi saya tetap disiplin dengan “aturan pengenalan 3 hari” dan sebagainya. Tetap saya berikan makanan yang sama kalau indikasinya hanya “enggak doyan”. Kalau sampai alergi atau sembelit ya tentu diganti dong yaooowww ;).

Wah, ternyata beda! Makin ke sini, makannya makin semangat ^_^ *tepukTangan*.

Di masa anak ketiga ini saya ngerasain anak tuh yang mengamuk minta disendokin kalau kebetulan emaknya iseng ngasih makan sambil whatsap-an hahaha *jitakEmaknya*. Kan nyendokinnya jadi tersendat-sendat :p.

Hampir semua jenis makanan yang saya berikan, anak ketiga ini doyan! Bahkan tepung beras coklat yang awalnya bikin dia sembelit tetap rakus makannya.

Tapi saya selalu bilang, bisa saja ini hanya HOKI semata hahaha. Mungkin Tuhan kasihan ya, duh ini embaknya masa udah anak ke-3 masa dramanya masih itu-itu juga sih? :p. Terima kasih ya Tuhan <3.

Tapi tentu bisa jadi juga, ini karena efek “disiplin” dan keseriusan dalam memilih jenis makanan dan patuh pada aturan no gula garam sebelum 1 tahun. Booo, anak 1 & 2 dulu, saya sejak awal sudah pakai garam + gula hihihi. Abis ya balik lagi, selalu mikir mereka kayak orang gede, ogah makan kalau makanannya tanpa rasa :p.

Yah, yang mana-mana ajalah. Yang penting usaha / ikhtiar kita yang terbaik dong ya ;). Untuk meminimalkan drama, tentu saja definisi “yang terbaik” di sini ya tergantung si emak masing-masing ^_^. Udah anak ke-3 niiihhh, masa masih mau berantem aja? Hahahaha.

Yuk ah, ini dia susunan menu MPASI makanan Bayi 6 bulan. Buat bayi yang ASI ekslusif, jangan tunda pemberian protein ya kepada bayi kita :). Karena kandungan utama ASI itu adalah karbohidrat. Protein dan lemaknya lebih minimal.

Tentu saja, tetap mengacu pada aturan dasar : first thing first, pengenalan per jenis makanan 3-4 hari, no garam dan gula. Lagian jangan suka lebay duluan, ya. Masak buat anak bayi itu mah gampaaaaaang :D. Cuma kukus terus dihalusin doang. Gak pake bumbu macam-macam. Apalagi masih umur 6 bulan ;). Disaring boleh kalau punya banyak waktu. Diblender atau pakai food processor juga gak masalah.

Again, senyamannya ibu saja :).

Gambar : pixabay.com menu makanan bayi 6 bulan
Gambar : pixabay.com

Untuk awal MPASI makanan bayi 6 bulan, di satu hari kenalkan 1 jenis makanan saja. Ya biar kelihatan misalnya kalau alergi, alerginya sama makanan yang mana. Kalau dalam sehari langsung cusss 2-3 jenis makanan, kan jadinya bingung toh yaaaa ;).

Daftar Menu MPASI Makanan Bayi 6 Bulan

Hari 1 : Pisang kerok

Sebaiknya dimulai dengan buah-buahan. Karena karbohidrat seperti tepung beras itu cenderung bikin sembelit. Walau tidak terjadi pada semua bayi. Amannya pisang kerok ajah. Indonesia banget kan hahaha. Konon katanya pisang juga anti sembelit dan jarang menyebabkan alergi.

Jenis pisangnya bisa Pisang Ambon atau Pisang Cavendis (bener gak ini nulisnya? Hehe).

Saran pemberian biar tidak terlalu kental tambahkan dengan ASI/susu formula secukupnya.

Diberikan sekitar pukul 8 atau 9 pagi. Senyamannya si ibu saja :). Satu kali sehari dulu sudah cukup. Ingat, ingat, ini baru hari pertama ;).

Soal porsi disesuaikan dengan anak masing-masing ya. Tentunya karena ini baru hari pertama ya kasih porsi wajar saja. Kalau pun tidak habis jangan panik atau buru-buru ke dokter hahaha :p.

Hari 2 : Pisang kerok

Ingat aturan pengenalan 3 hari untuk satu jenis makanan. Santai sih, anak bayi lho iniiiiiiii :D. Jadwal kalau bisa tetap sama di pukul 8 atau 9 pagi, sesuai kesediaan ibu saja :). Atau embak/simbok :p. Kalau anak terlihat doyan, bisalah porsinya ditambah.

Hari 3 : Ya pisang kerok lagiiiiiii hahahaha. Jadwal sama. Porsi bisa ditambah kalau adek bayi kayaknya makin getol ;).

Hari 4 : Alpukat. Pilih yang matang. Dikerok juga seperti pisang. Nanti dihaluskan dengan sendok juga bisa. Campurkan dengan ASI/susu formula secukupnya juga. Jangan tambahkan gula sih pastinya ;). Waktu makannya samakan saja ya, pukul 8 -9 pagi.

Hari 5 : Alpukat lagiiiii :D. Penyajiannya sama. Pengenalan alpukat hari ke-2 nih. Waktu pemberian sama.

Hari 6 : Alpukat dengan penyajian dan waktu pemberian yang sama. Porsi mungkin bisa berubah :). Buah-buahan ditaruh di awal untuk mencegah sembelit. Maklum dong ya, biasanya cuma nenen atau minum sufor, ini langkah pengenalan terhadap makanan padat. Potensi sembelit cukup risky.

Hari 7 : Sudah bisa dimulai dengan 2x makan. Sekalian pengenalan karbohidrat pertama.

Pukul 8-9 pagi : berikan pisang kerok. Pukul 12 – 13 siang : berikan bubur oatmeal. Resep bubur oatmeal bisa dilihat di sini, ya. Porsinya disesuaikan saja dengan si adek bayi. Pokoknya kalau baru awal-awal begini ya santaiiiiiii :D.

Oiya, ASI dan susu formula juga lanjut terus ya sesuai permintaan si adek bayi ;). Di sela-sela makan kalau minta juga ya tetap diberi :).

Hari 8 :

Pukul 8-9 pagi : berikan alpukat biar selang seling dengan pisang karena pengenalan 3 harinya sudah selesai :). Pukul 12-13 siang : bubur oatmeal. Ini adalah hari ke-2 pengenalan oatmeal jangan diganti dulu.

Hari 9 :

Pukul 8-9 pagi : berikan pisang kerok. Jangan bosan yaaaa. Menu makanan bayi 6 bulan ya begini ini :p. Pukul 12-13 siang : bubur oatmeal. Bubur oatmeal sudah 3 hari berturut-turut berarti selesai sudah *yayyyy* ^_^. Saatnya ganti menu tuh.

face-1083872_640

Hari 10 :

Pukul 8-9 pagi : berikan alpukat. Pukul 12-13 siang : bubur tepung beras coklat. Lihat resepnya di sini :).

Hari 11 :

Pukul 8-9 pagi : berikan pisang kerok. Pukul 12-13 siang : bubur tepung beras coklat. Porsinya mungkin sudah bisa ditambah bila adek bayi dirasa siap atau terlihat makin lahap makannya.

Hari 12 :

Pukul 8-9 pagi : berikan alpukat. Pukul 12-13 siang : bubur tepung beras coklat.

Hari 13 :

Pukul 8-9 pagi : berikan pisang kerok. Pukul 12-13 siang : bubur oatmeal + puree zukini. Pengenalan makanan baru lagi nih ;). Resep puree zukini bisa dilihat di sini.

Hari 14 :

Pukul 8-9 pagi : berikan alpukat. Pukul 12-13 siang : tepung beras coklat + puree zukini. Bisa mulai divariasikan.

Hari 15 :

Pukul 8-9 pagi : berikan pisang kerok. Pukul 12-13 siang : bubur oatmeal + puree zukini. Hari ini pengenalan zukini selesai :D. Mulai terasa variasinya menu makanan bayi 6 bulan gak? 😀

Daftar menu MPASI makanan Bayi 6 Bulan
Puree Zukini

Hari 16 :

Yuk, mulai kenalkan dengan protein :).

Pukul 8-9 pagi : berikan alpukat. Pukul 12-13 siang : tepung beras coklat + puree tofu + puree zukini.

Hari 17 :

Jangan beri jenis makanan baru dulu. Kan masih dalam proses kenalan dengan tofu nih ;).

Pukul 8-9 pagi : berikan pisang kerok. Pukul 12-13 siang : oatmeal + puree tofu + puree zukini.

Hari 18 :

Pukul 8-9 pagi : berikan pisang kerok. Pukul 12-13 siang : tepung beras coklat + puree tofu + puree zukini.

Hari 19 :

Kenalkan buah baru misalnya apel. Dan makannya mungkin sudah bisa 3x :D.

Daftar Menu MPASI makanan Bayi 6 bulan
Puree apel

Pukul 8-9 pagi : berikan apel kukus yang dilumat sampai lembek. Ingat ini bayi 6 bulan ya Kakaaaa :p. Belum sempat nih bikin resep puree apel. Tapi caranya persis dengan puree pear kok ;). Di sini resepnya.

Pukul 12-13 : oatmeal + puree tofu + puree zukini. Pukul 18-19 malam : tepung beras coklat + puree tofu + puree zukini

Hari 20 :

Pukul 8-9 pagi, apel kukus yang dilumat sampai lembut. Pukul 12-13 : oatmeal + puree tofu + puree zukini. Pukul 18-19 malam : tepung beras coklat + puree tofu + puree zukini

Hari 21 :

Sama dengan hari sebelumnya.

Pukul 8-9 pagi, apel kukus yang dilumat sampai lembut. Pukul 12-13 : oatmeal + puree tofu + puree zukini. Pukul 18-19 malam : tepung beras coklat + puree tofu + puree zukini

Hari 22 : Kenalkan sayuran baru, wortel.

Pukul 8-9 pagi, coba balik ke pisang kerok lagi ;). Pukul 12-13 : tepung beras coklat + puree wortel + puree tofu. Pukul 18-19 malam : oatmeal + puree wortel + puree tofu.

Hari 23 :

Di hari ini mulai kombinasikan sayurnya kalau mau. Jangan risau soal masaknya. Masak satu-satu saja di tempat-tempat sendiri yang kecil-kecil itu taruh dalam freezer. Kalau mau makan baru dikeluarin dan dicampur di mangkoknya ;).

Pukul 8-9 pagi, alpukat. Pukul 12-13 : tepung beras coklat + puree wortel + puree zukini + puree tofu. Pukul 18-19 malam : oatmeal + puree wortel + puree zukini + puree tofu.

Hari 24 : Variasikan lagi menunya.

Pukul 8-9 pagi, berikan apel kukus. Pukul 12-13 : tepung beras coklat + puree wortel + puree tofu. Pukul 18-19 : puree wortel + puree zukini + puree tofu (sesekali tanpa karbo juga boleh dicobakan)

Daftar menu MPASI makanan Bayi 6 bulan
Puree wortel

Hari 25 : perkenalan protein baru, ayam! Yaayyyyy, sedap, sedap, sedap hehehe.

Pukul 8-9 pagi, berikan pisang kerok. Pukul 12-13 : puree wortel-ayam. Resepnya di sini ya. Pukul 18-19 : tepung beras coklat + puree zukini + puree tofu

Hari 26 :

Pukul 8-9 pagi, berikan apel kukus. Pukul 12-13 : puree zukini-ayam. Resepnya sih mirip dengan wortel-ayam, tinggal ganti zukini dengan wortel hehe. Pukul 18-19 : oatmeal + puree wortel-ayam.

Hari 27

Pukul 8-9 pagi, berikan alpukat. Pukul 12-13 : oatmeal + puree wortel-ayam. Pukul 18-19 : puree zukini-ayam. Saya kadang ngikut menu ideal food combining yang tidak mencampur protein hewani dengan karbohidrat. Kadang-kadang saja sih. Karena suami masih belum benar-benar sreg kalau diterapin ke anak-anak :).

Hari 28 : kenalkan sayuran baru, parsnip

Pukul 8-9 pagi, berikan pisang kerok. Pukul 12-13 : oatmeal + puree parsnip-wortel + puree tofu Pukul 18-19 : tepung beras coklat + puree zukini-ayam.

Hari 29 :

Pukul 8-9 pagi, berikan apel kukus. Pukul 12-13 : oatmeal + puree parsnip-zukini + puree tofu. Pukul 18-19 : tepung beras coklat + puree wortel-ayam.

Hari 30 :

Pukul 8-9 pagi, berikan alpukat. Pukul 12-13 : oatmeal + puree wortel-parsnip-ayam. Tinggal dicampur tiga-tiganya dengan cara yang sama dengan resep-resep sebelumnya. Pukul 18-19 : puree parsnip-zukini-ayam. Selesai sudah 30 hari menu makanan bayi 6 bulan nyaaaaa *tepukTangan*.

Beres deh!

10 jenis makanan sudah diperkenalkan kepada adek bayi sebagai makanan bayi 6 bulan di awal ini dengan kombinasinya masing-masing :

  1. Buah-buahan : pisang, alpukat, apel
  2. Sayuran : zukini, wortel, parsnip
  3. Karbohidrat : oatmeal dan tepung beras coklat
  4. Protein : tahu dan ayam.

Tinggal dilanjut ke MPASI bulan berikutnya dengan tambahan pengenalan jenis makanan baru dan kombinasi yang lebih banyak tentunya ;). Semoga membantu ya contoh menu makanan bayi 6 bulan ini ;).

Film Uang Panai’ : You Can’t Hurry Love, No, You Just Have to … Pay!

Sudah pada nonton film Uang Panai’ ? 😀

“Ko kira gampang menikah, di manako ambil Uang Panai’?” (Situ kira gampang mau nikah? Dari maneeeeee dapat Uang Panai -nya?”)

“Ballasa’ Anca’. Rompa na mamo cintayya…” (Ribet deh si Anca. Rempong bener deh yang namanya cinta).

Siapa yang sudah menonton film “Uang Panai”? Hihihihi. Jangan khawatir buat yang non-Sulsel, ada ji tauwa subtitlenya hahahaha.

Film Uang Panai

Produser film ini teman SMA saya lho. Ketua kelas pas kelas 1. Jangankan kenal secara personal, semua kisah cinta SMA nya juga saya bisa bongkar nih sekarang juga hahahaha.

Ish, malah gosipin produser filmya hihihi. Pa gosip memang tong :p.

Uang Panai’ ini istilah khas dalam salah satu prosesi pra-pernikahan di Sulawesi Selatan. Saya kurang tahu apakah semua suku di Sulsel menerapkan prosesi Uang Panai’ ini. Yang jelas suku Makassar dan Bugis, yang merupakan mayoritas suku di sana, sangat paham tentang itung-itungan Uang Panai’ ini hihihihi.

Uang Panai’ ini beda lagi lho dengan mahar pernikahan. Karena Uang Panai’ ini harus dibayar sebelum akad nikah. Tapi konon, belakangan boleh nyicil sesuai kesepakatan di awal. Ini mau nikah atau mau nyicil KPR coba yaaaaaa hahahaha.

Sering disamakan dengan mahar karena “yang dibeli” adalah pihak perempuan.

Film Uang Panai
Gambar : pixabay.com

Saya sendiri menikah dengan pria asli Minang asal Bukittinggi.

Tapi kebetulan mertua saya juga perantau abisssss. Belum sebulan setelah akad nikah, ibu mertua sudah diboyong ke Gorontalo. Setelah 10 tahun lalu lalang di Gorontalo-Manado-Bitung, hengkang ke Jawa. Memulai 14 tahun petualangan selanjutnya di Muntilan-Pamekasan-Nganjuk.

Lucunya, adat Minang kan juga ada istilah “membeli laki-laki”. Jadi terbalik dengan orang Bugis yang merupakan suku asal saya, ya, hehehe. Tapi hanya daerah Pariaman yang mengenal setoran model begini :p, kalau tidak salah namanya “Uang Jemputan”.

Entahlah macam mana penerapannya.

Sempat sih saya dan suami eh calon suami deng dulu :p, becanda-becanda,

Saya, “Orang Bugis tuh kalau dilamar kudu setoran ya booo.”

Apalagi kalau lulusan S1. UI pula. Fakultasnya yang kata 1 banding 100 ya Kakaaaaa hahahaha. Coba itu yel-yelnya masih valid gak? :p.

Suami saya membalas, “Ada juga gue yang kudu dibeli.”

Waktu itu saya belum tahu kalau adat “Uang Jemputan” ternyata buat orang Pariaman doang, tidak dikenal dalam adat Bukittinggi. Sialan dah! -_-

Jadi ceritanya, kita impas dong ya hahahaha. Uang Panai’ = Uang Jemputan. LUNAS! :p.

Lamaran saja kita santai bagai di pantai cuma calon mertua datang ke rumah om saya di mana ibu saya juga saya hadirkan di sana. Udah gitu doang. Minum teh sama ngemil-ngemil doang :p.

Enggak pakai prosesi Uang Panai’ sama sekali.

Film Uang Panai
Akad nikah dengan baju bodo, adat Sulawesi Selatan 🙂

Ada juga waktu saya bikin lelucon soal Uang Panai di depan Mama saya, “Eh, disuruh bayar berapa nih, Mam?”

Emak eike malah melotot, “Ayyaseng! Makanja’ motu engka tauwe me pubeneko. Makanja’ topa ana’na, madeceng ambo’na indo’na!”

Eike pun yang kena semprot! Hahahahha.

Artinya kira-kira gini, “Ngomong apaan sih! Masih mending ada yang ngelamar. Anak baik-baik. Dari keluarga baik-baik pula.”

Padahal becanda jugak, sensi bener emak gue hahaha. Takut anaknya bakal jadi perawan tua. Pede dikit dong Mam, punya anak gadis cihuy begini packaging komplit kok bisa galau siiiiih #eaaaaaa#UdahLamaGakBenerinPoni

Uang Panai’ setahu saya bagian dari adat dulu-dulu. Tapi konon sampai sekarang, masih ada saja yang rewel soal beginian. Apalagi kalau kebetulan yang menikah berasal dari keluarga bangsawan. Maklum ya, kita mah rakyat jelata, nyari suami pun kudu merantau ke pulau seberang! Hahahaha #benerinKoper

Makin tinggi pendidikan si perempuan, makin tinggi pula “label harga”nya. Jadi seperti barang saja 🙁. Seperti salah satu curhat embaknya di film Uang Panai’ ini, “Yang dikasih harga itu saya! Pakai price tag.”

Tingginya Uang Panai’ juga punya efek sosial 🙂. Baik untuk keluarga perempuan, “Ish, mahal dong anak kite dibelinya.” JUga untuk keluarga laki-laki yang melamar, “Yoih dong, kita punya banyak duit buat bayarin.”

Ya kalau kita mah yang nikahnya “gratisan” entah dianggap apa ya kalau pakai adat begituan hihihihi.

Jihan Davincka Anniversary Note
Adat Minang

Anyway ada juga yang menganggap bahwa Uang Panai’ ini sebenarnya untuk si calon pengantin perempuan. Bukan buat keluarganya :p. Kalau pada praktiknya sih seringnya duitnya ya buat keluarga perempuannya 😀.

Uang Panai’ dipandang sebagai “perlindungan” kepada masa depan si perempuan. Semacam jaminan bahwa dia akan diperlakukan dengan layak dan kalau ada apa-apa pan tinggal korek Uang Panai’ aja gitu kali ya hihihi.

Oh well, we’ve been in this thing called marriage for years. Does it really matter?

Rasanya, berapa pun Uang Panai’, atau semegah apa pun resepsi pernikahan kita, bahkan jika dalam pesta itu ada banyak sekali tamu VIP yang bikin tamu-tamu gempar, karangan bunga yang sampai melimpah ruah ke gerbang gedung, in the end … hanya akan ada kita berdua di dalamnya 🙂.

Apa pun keputusan penting dan pilihan-pilihan yang KITA BERDUA BUAT SETELAH akad nikah itu terlaksana yang kelak akan menentukan apakah “perjalanan” akan terus berlanjut atau mungkin malah membuat kita akhirnya harus turun di stasiun yang terpisah.

Sudah baca tulisan saya yang dulu itu kan ya, cinta itu kata kerja di mana pernikahan butuh kerja keras dari kedua belah pihak hampir di setiap saat, bukan cuma baper-baperan sebatas malam minggu atau pas kencan macam waktu pacaran hihihihi :p.

Baca : “Will You Still Love Me?” 

Marriage is A HUGE THING <3. Seberapa pun lembaran uang yang harus keluar untuk menandai awalnya tidak akan bisa menjamin bakal langgeng apa tidak 😉.

Kenapa malah ceramah serius gene siiiihhh? Hahaha. Pilem drama komedi pun :p.

Pokoknya jangan lupa ya nonton filmnya di bioskop-bioskop di tanah air. Sayang sih, tempat dan waktu tayangnya memang terbatas 🙂. Nonton yuk biar tahu karya-karya anak bangsa dari belahan timur ^_^.

Minimal dari film ini nanti kalian bisa bedakan logat Batak vs logat Makassar lah yaowww. Pusing nih eike sering bener disangka orang Batak dulu hahahaha.

Good luck ya buat Pak Produser dan seluruh tim yang menggawangi film ini. Makassar bisa tonji! <3.

Lihat dulu trailernya di sini 😉

https://www.youtube.com/watch?v=TN-viZjZMd4

 

Social Alibi

“Kalo gue, lulus kuliah, langsung kawin! Terus punya anak.”

“Nikah.”

“Ya kawin pan nikah jugak.”

“Kalo gue, mau kerja dulu. Mau puas-puasin dulu berkarier. Ke luar negeri kalau perlu.”

“Keburu tua, susah cari suami.”

“Ah, bisa operasi plastik kalau punya banyak uang. Makanya kerja. Punya uang banyak.”

“Nikah cepat. Cepat punya anak. Umur 40, anak gue sudah 17 tahun. Gue jadi tante-tante yang masih cantik.”

“Hahaha. Kuliah capek-capek malah mau kawin.”

“Kuliah di tempat yang tepat untuk mendapatkan suami yang tepat.”

“Busyet”

“Hahahahaha.”

Itu salah satu percakapan saya dengannya di suatu hari saat kami sedang makan siang di salah satu kantin kampus. Kantin balsem, balik semak. Selain harganya yang murah-murah, kami berdua suka melihat beragamnya mahasiswa dari fakultas lain yang ikut makan di sana.

Dia selalu menertawakan niat saya yang dulu begitu lulus kuliah ingin segera menikah.

Gambar : jaksflowergirldresses.com
Gambar : jaksflowergirldresses.com

Salah satu persamaan kami adalah ketidaksukaan kami menghabiskan waktu berlama-lama di lab. Lab hanya kami kunjungi untuk mengerjakan tugas-tugas kampus. Padahal nama pun mahasiswi ilmu komputer yak hihihi.

Jadilah, lama kelamaan saya lebih sering pergi berdua dengannya.
Saat tak ada ujian, tak banyak tugas, kami duduk-duduk di balsem. Mengomentari orang-orang yang lalu lalang. Atau mencemooh dengan penuh dengki mahasiswi cantik yang berpenampilan keren yang nampak dikerubutin cowok-cowok.

“Genit sekali.”

“Tapi bajunya bagus, ya. Lihat deh, pinggulnya ramping banget.”

“Tapi genit, ah.”

“Iya, ketawanya dibuat-buat.”

Hahaha. Sirik tanda tak mampu memang 😀.

Dia jauh lebih santai dalam urusan belajar, dibanding saya. Tapi kami berdua wisuda bareng. Berfoto bersama dengan toga, tersenyum lebar-lebar dengan lipstik merah menyala, tepat di hari sabtu minggu ke-3 di bulan september 2002.

Biarpun tak suka menghabiskan banyak waktu di depan komputer kami menepati janji kami untuk wisuda setelah 8 semester terlewati. Saya mau kawin. Dia mau kerja. Hahaha.

Gambar : rtf.com
Gambar : rtf.com

Tapi kenyataan memang lain. Bulan April tahun yang sama, saya sudah bekerja setelah terlebih dahulu menyelesaikan tugas akhir dan menyematkan S.Kom di belakang nama saya. Bukan sarjana kompor, yeee 😛.

Saya menunggu 6 bulan untuk pemasangan toga secara legal, gagal memenuhi ambisi wisuda di bulan februari.

Tak ada foto berdua dengan lelaki berjas yang menggenggam sekuntum mawar di sebelah kami. Kami sama-sama mengakhiri masa-masa di kampus dengan status jomblo.

Malah, dua tahun setelah lulus, saya masih melewatkan malam minggu dengan menonton apa saja yang bisa ditonton di dalam TV dalam kamar kos, dia sudah berbicara soal pernikahan.

Iya, dia menikah dua tahun lebih dahulu daripada saya, yang bercita-cita memiliki anak berusia 17 tahun saat saya merakayakan ultah ke-40. Hehehe.

Sebulanan sebelum timeline pecah gegara anak Pak Ustaz nan ganteng memutuskan menikah di usia 17, saya sudah sering memantau instagram seorang perempuan muda.

Perempuan ini baru saja lulus kuliah S1 jurusan psikologi. Anak seorang politikus partai biru itu lhooo hehehe. Instagramnya rame banget. Kirain kenapa. Ternyata, dese hits karena memutuskan untuk langsung menikah pas lulus SMA.

Cukup WOW kan untuk ukuran alay terkini hehehe. Ah, jadi ingat cita-cita saya yang kandas untuk kawin muda huhuhu :p.

Anak itu cantik banget. Sembari berjuang menyelesaikan skripsi, dia ternyata sudah hamil anak kedua. Anak pertamanya juga lucu menggemaskan, sering dibawa ke kampus menemani orang tuanya. Suaminya juga kalau gak salah masih muda banget.

Banyak banget komentar mupeng di instagramnya si embak itu 😀. Mana adek laki-lakinya ganteng banget ‪#‎ehGimana‬ hahahaha :p. Suaminya sih biasa aja :p. Sungkem ya Uda, jangan baper :p.

Banyak juga komentar yang nyinyir, “Yaela, dia kan anak orang kaya. Kawinnya juga sama anak orang kaya. Tinggal bobok-bobok cantik juga semua sudah tersedia.”

Sebenarnya, sampai sekarang pun saya masih menganggap kawin muda itu keren sih hehehe. As silly as it sounds ya gimana, cita-cita saya itu duluuuuuuu :p.

Di lingkaran pertemanan sendiri, menikah muda tidak selalu berarti keren. Ada juga teman-teman yang menikah muda kemudian kandas. Tapi ada juga yang terbilang sukses.

Kayak teman saya yang baru saja saya datangi rumahnya kemarin hehehe. Halo Bundaaaaaa 😀. Makasih lho nyuknyangnya *elusElusPerut*.

Tetangga depan rumah banget pas di Jeddah. Surprais sekali bertemu anak sulungnya. Dulu pertama kenalan masih kelas 4 SD, masih kinyis-kinyis, masih suka berantem dengan adik-adiknya rebutan naik perosotan hahaha. Sekarang, sudah pakai seragam SMA!

She’s like living my dream. Walau dia nikahnya agak lebih cepet hehehe. Melahirkan anak pertama di usia 20 tahun, sekarang benar-benar kayak adik kakak dengan putri sulungnya <3.

Manalagi dese sukses program dietnya, turun sekitar 20 kg ya booooo 😉. Makin cantik dan makin kinclong. Bikin sirik ajeeeee hahahaha :p.

Menyesal dulu tidak berhasil menikah di usia muda? Enggak laaaaah 😀.

Selain calonnya emang enggak ada (hahaha), situasi dan kondisi ya begitulah. Tapi saya tetap kagum dengan mereka yang berani memutuskan menikah muda apa pun pertimbangannya <3.

Dulu saya sempat berusaha menghibur diri bahwa sebaiknya saya fokus mengejar mimpi ke luar negeri dulu. Via beasiswa atau tugas kerja atau semacamnya lah.

Enggak pernah kesampaian! Hahahaha.

Ya memang saya banyak maunya. Mau kawin muda lah, mau dapat kesempatan tinggal di luar negeri lah, mau inilah, mau itulah.

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

Iri sekali rasanya dengan teman-teman yang berhasil melanjutkan sekolah ke luar negeri :'(. Saya merasa saya kurang usaha. Lama-lama merasa ketuaan dan capek sendiri mikirinnya hihihi. Mending jalani sajalah. Kerja kantoran sambil nyari suami :p.

Kemudian akhirnya jodohnya datang juga dan singkat cerita anak pertama lahir saya memutuskan berhenti bekerja. Pas masukin surat resign, suami keterima kerja di luar negeri.

Begitulah akhirnya hingga 7 tahun terakhir ini, saya wara wiri di Iran-Arab Saudi dan sekarang di Irlandia. Sembari mampir-mampir di beberapa negara lainnya buat sekadar jalan-jalan.

Hidup kadang sukar ditebak <3.

Soal iri-irian dengan kehidupan orang lain ya makanan sehari-hari yaaaaa :p. Termasuk situ-situ yang ribet banget dengan isu anak Pak Ustaz yang ketemu jodoh di usia 17 tahun :p.

Cuma memang berita ini menjadi pukulan tersendiri buat para jomblo yang usianya sudah jauh di atas 17 tahun hahahaha. Sesuai dengan pendapat banyak teman, saya tidak setuju kalau pernikahan kok ya menjadi ajang balapan. Makin cepat makin bagus gitu?

Enggaklah. Kita-kita yang usia pernikahannya sudah mendekati satu dekade atau lebih, pasti sudah sangat paham…marriage is a huge thing. Super HUGE 🙂.

Jadi ya adik-adik, menikah itu bukan hanya sekadar pasang foto di instagram untuk menunjukkan betapa masih kencengnya kulit kalian saat anak-anak udah gede-gede (hahahaha).

Setelah menikah, masalah itu pasti adaaaaa aja. Akan datang sendiri. Maka jangan cari-cari masalah sebelum menikah, pastikan kalian menambatkan hati pada orang yang tepat di SAAT yang tepat.

Apalagi buat kita kaum perempuan nih. Halamaaaaak, tekanannya bisa atas bawah kiri kanan tuh :p.

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

Keputusan menikah jangan hanya karena tren atau karena diancam-ancam dengan dogma agama dan semacamnya. Atau karena sebal dinyinyirin melulu di media sosial? 😀.

“Don’t let marriage be your social alibi. Do it out of love” 😉

Tetap semangat buat yang masih sendiri. Heyyyy, jodoh siapa yang tahu kan? ^_^

Sabar yaaaaaaa…hahahaha :p.

***

Cerita Hijab : Berbicara Hijab, eh…Jilbab :p

Cerita Hijab : ribut-ribut soal baju lagi. Ya namanya juga perempuan yak. Adaaaaaa aja yang bisa dibahas. I love being a woman hahaha.

Paling kasihan sih sebenarnya yang “pertengahan” atau ala-ala seperti saya ini hihihi. Pakai jilbab -nya cuma “sepotong” kalau menurut kritikan beberapa teman :p.

cerita hijab

Terus masih pakai celana jeans. Apalagi saya sekarang lagi demen yang model straight, karena model baggy sudah old school dong ya. Nah lho sudah pakai jilbab masih milih-milih model hahaha. Dan bukankah pakai celana panjang itu menyerupai laki-laki?

Tadinya saya sepakat. Eh, terus saya tinggal di Saudi dan melihat laki-laki pakai gamis panjang (namanya thobe di sana) yang sebenarnya mirip banget dengan baju model perempuan. Laki-laki Pakistan pakai baju sepasang yang bajunya panjang kayak baju kurung dan celananya longgar banget. Lah ya piye? Hahaha.

Then I realize something … baju itu memang bagian dari budaya setempat :).

Makanya, susah mendefinisikan apa yang dimaksud dengan “menarik perhatian”. Karena jelas, kalau Anda di Saudi dan pakai baju bunga-bunga segede-gede gaban dengan warna merah-kuning-hijau di langit yang biru ya so pasti orang-orang akan syok.

Tapi kalau Anda hadir di acara kumpul-kumpul orang Malaysia, berasa salah kostum pakai baju hitam-hitam karena mereka warna bajunya kinclong-kinclong. Jilbab merah, atasan kuning, rok hijau misalnya. Ya jadinya biasa saja karena semua orang juga pakai baju model begitu ;).

Terakhir datang ke acara mereka, ya saya kerahkan atasan kuning muda, jilbab garis-garis hijau kuning walau celana saya enggak pede macam-macam tetap pakai pantalon hitam hehehe. Baru deh bisa terasa tidak saltum :D.

Balik lagi ke masalah jilbab.

cerita hijab
Foto : Dani Rosyadi

Yang kayak saya nih, kiri dihajar, kanan disepet hahaha.

Oleh teman-teman yang masih enggan berjilbab tidak segan-segan bilang depan saya, “Gue bingung sama elo. Pakai jilbab tapi masih pakai celana jeans ngepas di badan. Kalau pakai jilbab ya jangan tanggung-tanggung. Gue makanya belum jilbabab karena enggak mau setengah-setengah. Justru yang kayak elo ini yang merusak citra perempuan berjilbab.”

Oleh “wing kanan” kena jugak, “Apalah gunanya pakai jilbab kalau cuma setengah-setengah? Pakai yang panjang nih kayak gue. Yang syar’i, yang syar’i.”

Tapi ya sudahlah. Fleksibel aja kita yak. Kalau disepet ya pasti kesal lah ya. Cuma biar mengimbangi dosa saya yang segabruk-gabruk (hahaha) saya alihkan pikiran. Kalau disepet rasanya sungguh terluka makanya janganlah suka sepet-sepet orang masalah baju ;).

Indeed, saya memang tidak terlalu terganggu dengan ragam fashion atau apalah-apalah yang katanya menimpa umat muslimah di tanah air. Saya tahu rasanya berjualan, ya. Dulu merasakan jualan buku terbit indie kayak orang gila.

Makanya, kalau ada rezeki dan mood bagus ya kalau ada yang nawarin baju-baju atau jilbab-jilbab walau terus terang saya enggak cocok modelnya, insya Allah tetap inbox dan beli beberapa. Apalagi kalau saya ngefans sama yang jual atau kenal baik dan mereka nawarinnya sopan :p.

Tapi memang, kalau mahal-mahal ya saya angkat tangan! Hahaha.

Prinsip saya dalam berbusana ya … itu tadi. Enggak pengin yang mahal-mahal. Kikir sama hemat memang tipis bedanya :p.

Sekarang pun baju-baju saya arahin ke satu warna semua. Di sini sih santai ya. Keluar rumah pakai jeans + jaket. Jaket saya ya hitam semua hahaha. Itu juga cuma ada 3 biji : winter, autumn, spring. Untuk summer udah keburu punya beberapa kardigan.

Gurten Swiss Bern pic by Dani Rosyadi
Bareng anak ke-2 ^_^, kostum lagi liburan juga sama hahaha (hamil 20 bulan di Swiss tempo hari)

Waktu mau mudik saya baru sadar, alamak, kenapa baju hitam semua iniiiiiiii hahaha. Terinspirasi Pak Jokowi nih :p. Masa presiden saja bajunya gitu-gitu doang, kita rakyat jelata mau macem-macem.

Itu  jawaban ala cebong *benerinEkor*.

Sebenarnya saya senang warna hitam karena :

  1.  Bikin kelihatan langsing hahaha
  2. Gampang dipadu padankan dengan warna jilbab apa saja.
  3. Kalau ditanya saya tinggal ngeles, “Eh baju saya banyak cuma memang hitam semua” Hahaha. Jadinya, orang enggak akan tahu sebenarnya berapa banyak baju saya :p.
  4. Kalau bawahan ya saya paling suka celana jeans. Praktis. Udara dingin maupun tropis :D. Bisa dipakai berkali-kali tanpa perlu dicuci dan tidak perlu disetrika dan tetap kelihatan rapi hahaha. Nah cucok kan celana jeans + atasan hitam :D. Tinggal jilbabnya saja yang dimainkan :D.

Namun, saya tidak rewel kalau situ mau pakai baju bunga-bunga atau pink atau kuning atau manalah. Ya soalnya saya juga tidak terlalu suka sih menilai-nilai orang dari penampilan ;).

Paling merhatiin yang umum-umum saja misalnya kerapihan dan kebersihan :). Soal warna dan model monggo sajalah. Saya fleksibel. Lihat yang modis-modis juga suka, kok ^_^.

Kakak saya yang rewel suka banget nyinyirin penampilan saya yang di  matanya “standar abesssss”. Ya biarin saja dia ngomong sampai berbusa toh enggak pernah saya dengerin hahaha. Tapi saya pribadi senang kok dengan baju-baju rancangan dia yang modis-modis itu ;). I’m still a proud sister <3.

Tidak sedikit memang teman-teman saya yang kini beralih mode busana. Pakai gamis panjang dan jilbab panjang. Good for them <3.

Untuk urusan niat dan soal tabarruj dan berhias diri, ya saya pun tipe perempuan yang hanya kenal bedak dan pelembab bibir. Tapi saya suka juga sih  nonton-nontonin youtube cara bikin alis walau saya tidak pernah habis pikir, “Kenapa alisnya dihapus terus digambar lagi?” Hahahha.

Tapi ya, tidak merasa terganggu juga. Ya, alis-alis dia :p.

cerita hijab : Dermaga Burkliplatz Zurich pic Dani Rosyadi
Numpang eksis di Dermaga Burkliplatz Zurich 😀

Perkara niat lebih absurd lagi, ya. Bukan ranah manusia :p. Kadang, kenal juga tidak. Jadi kenapa kita harus pusing kalau dia punya koleksi gamis yang diklaim syar’i 10 biji dengan harga tidak murah? Let them! Yang penting ketemu tetap haha hihi dan cipika cipiki ^_^.

Saya sih kalau lihat pashmina agak besar dan bahannya bagus saya sering beli buat oleh-oleh :). Karena teman-teman dan kerabat memang banyak yang pakai pashmina/jilbab lebar-lebar. Saya lebih prefer yang kecil-kecil kan pakai jilbabnya memang cuma sedada atau seleher :).

Teman-teman yang sekarang pada pakai gamis lebar dan jilbab besar ya tetap baik-baik saja sih dengan saya. Terserahlah ya kalau di belakang saya, saya toh juga mungkin sesekali keserimpet ngomongin orang *tutupMuka*. Yang penting kalau ngobrol di FB, WA dan tatap muka mereka tetap akrab :). So why bother? :).

Masalah busana hanya salah satu sisi dari berwarnanya hidup ini, kan, kan, kan ^_^. Tidak terlalu signifikan buat saya sih.

Hidup merantau membuat saya melihat banyak sekali hal-hal dan perbedaan budaya yang mungkin ribet di tempat A tapi simpel di B. Atau krusial di B tapi di A ya santai-santai saja.

Itulah warna dunia. Pasti bosan sekali ya, sudah jauh-jauh merantau ya ketemunya model-model itu-itu juga hehehe. Lebih senang kalau warna warni ^_^. Lebih bahagia lagi karena untuk menikmati dan menjadi bagian darinya, saya tidak perlu ikut-ikutan menyamakan “warna”.

Urusan siapakah kelak yang menunjukkan “warna” sejatinya sesuai perintah sembahan masing-masing, ya itu bukan ranah manusia ;). Biar sajalah malaikat Rakib dan Atid melaksanakan tugasnya :D. Kita semua posisinya sama. Sama-sama menunggu hasil yang hanya akan ketahuan “nanti”. Bukan sekarang :).

Tapi kalau dibikin ribut juga enggak apa-apa. Kan asyik, sudah berapa hari bingung  mau nulis apaan, tetiba ada topik seru kan bisa nulis-nulis lagi hihihi.

Cuma saja, buat sebenarnya masih  banyak hal lain tentang persoalan perempuan yang lebih menarik dan edukatif untuk diperdebatkan :). Lah terus kenapa situ ikut-ikutan rempong? Ya sekalian curhat sebagai orang “tengah-tengah” yang kena sikut melulu dari 2 sisi dooooong hahahaha. Kapan lagi dapat momen yang pas :p.

Sekalian pasang foto-foto ala OOTD dong ya hahahaha :p. Sungguh postingan yang sangat inspiratif :D.

 

Depresi Pasca Melahirkan (PPD) dan Baby Blues, Antara Penyakit atau Kepribadian?

Yaela enggak kelar-kelar ya bahas Baby Blues dan Depresi Pasca Melahirkan (PPD) hahaha. Baby blues itu sih gejala normal kok. Bukan sesuatu yang gimana-gimana. Depresi Pasca Melahirkan (PPD) itu MURNI penyakit yang tidak ada hubungannya dengan kapasitas kita sebagai ibu dan sebagainya.

[Updated : sudah saya bikinin versi vlognya nih soal tips mengatasi baby blues pada Ibu pasca melahirkan ^_^]

Pahami ini dulu deh sebelum sibuk pamer-pamer kalian tidak mengalami karena kalian tabah, tidak banyak cing cong dsb. Tidak ada hubungannyaaaaaaaaa :D. Hehehe. Memangnya kalau perfeksionis cenderung kena Baby Blues atau bahkan PPD. Enggak ada riset medis yang membuktikan tuh ^_^

Depresi Pasca Melahirkan (PPD) dan Baby Blues
Gambar : best-pregnancy-advice.com

Sedikit sharing, di Irlandia sendiri, pendampingan Baby Blues dan Depresi Pasca Melahirkan (PPD) ini termasuk layanan serius lho sejak kita hamil sampai melahirkan :). Sangat ditekankan bahwa dalam fase perubahan setelah melahirkan, si ibu baru jangan segan-segan berkonsultasi atau curhat dan sebagainya.

Ada bidan khusus yang menangani ini. Dan segabruk-gabruk brosur tentang Baby Blues dan Depresi Pasca Melahirkan PPD ini sudah dibagi-bagikan sejak hamil. Sama sekali tidak ada penghakiman dan tidak ada judgement apa pun dalam brosur.

Tidak pernah kita ditanya-tanya, “Eh kamu perempuan rewel gak? Kamu perfeksionis gak? Kamu nyante gak? Kalau nyante sih kayaknya enggak bakal baby blues deh!”

SEkali lagi, yang ditekankan adalah BAGAIMANA menghadapinya dan hal ini sama sekali tidak bisa dijadikan patokan untuk menilai kepribadian si Ibu :).

Di Indonesia sendiri, sepertinya memang tabu banget ya di masa-masa lalu ngomongin ginian. Saya sih yakin banget sebenarnya tidak sedikit ibu-ibu kita dahulu juga mengalami kondisi ini. Somehow sekarang mungkin kalau ditanya ya sudah lupa. Entah beneran lupa atau memang malu mengakui ;).

Soalnya masih banyak yang menganggap kondisi ini sebagai dosa atau apalah-apalah. Tuduhan manja, tuduhan perfeksionis, tuduhan sok-sok an, dan macam-macam. Padahal ya, siapa pun bisa aja kena.

Depresi Pasca Melahirkan (PPD) Baby BLues
Gambar : pixabay.com

Again, untuk baby blues nya sendiri, ITU NORMAL BANGET lho ;). Jangan merasa lemah apalagi sampai muncul perasaan terkutuk hahaha.

Karena dulu saya pun di anak pertama merasanya gitu. Saya ketiban karma atau apalah. Padahal ya enggak gitu hihihi. Itulah pentingnya memahami soal kondisi ini, agar saat terkena kita tidak kaget atau malah menarik diri. Tapi harus yakin kalau gejala seperti itu somehow akan segera berlalu, asalkan penanganannya tepat ;).

Buat teman-teman yang tidak punya background psikologi, tidak apa-apa sih sharing pengalaman pribadi. Tapi ya, jangan sampai ya asyik sendiri ngambil-ngambil kesimpulan sesuka hati hehehe.

Alhamdulillah buat kalian yang tidak mengalami baby blues ^_^. Lucky you ;). Tapi again, jangan sampai gatal menghubungkan-hubungkan kondisi pribadi diri sendiri dengan orang lain yaaaa. Misalnya tetiba berpikir, “Ah, gue mah enggak kena baby blues soalnya gue orangnya asyik dan santai sih.”

Rasanya sih tidak ada hubungannya antara gaya hidup sehari-hari seorang perempuan dengan kemungkinan dia kena baby blues :). CMIIW juga ya.

Bahkan ya, ada seorang perempuan yang dari anak ke 1 sampai ke 3 sama sekali tidak mengalami hal aneh-aneh. Ealah begitu anak ke 4 dia depresi ;). Anak ke-4 padahal yang normalnya sudah bisa santai karena sudah pengalaman.

Pic from thhis video : https://www.youtube.com/watch?v=ko2LCrpeC_A
Pic from this video : https://www.youtube.com/watch?v=ko2LCrpeC_A

Berdasarkan brosur yang saya dapat kemarin sih, ini lebih ke pengaruh hormon di mana respons orang bisa beda-beda.

Miriplah dengan gejala hamil muda yang berlainan di tiap orang dan tiap kehamilan. Saya mah kenyang yaaaaa, mengalami hamil muda serba drama di 3 kehamilan saya hahahaha. Kenyang juga dinasihati macam-macam oleh orang-orang yang merasa, “Ah, itu karena elo emang drama kali Jee. Lihat deh gue. Hamil muda selalu nyantai. Malah kayak kebo. Makan gila-gilaan.”

Sabaaaaaaarrrrrrr :D. Goloknya umpetin dululah hahahaha.

Saya paham sih, buat yang tidak mengalami pasti deh sibuk berandai-andai sendiri hihihi. Mungkin karena saya begini mungkin karena saya begitu. Ujung-ujungnya ya gitu deh. Malah jadi sotoy ;).

Jangan juga jadi takut melahirkan hanya karena takut baby blues. Busyet deh hihihi. Saya baby blues anak “lumayan” pas anak pertama, lanjut terus nih sampai anak ketiga produksinya hahaha.

Terima kasih kepada teknologi informasi yang menyadarkan saya tentang kondisi pasca melahirkan ini. Khusus anak ketiga karena melahirkan di negara maju jadi lebih terbantu juga pemahaman saya.

Harus diakui jugalah, budaya patriarki yang hegemoninya masih kuat di mayoritas negara-negara berkembang membuat kaum perempuannya masih terasa tabu bahas-bahas ginian.

Kalau laki-laki yang bingung ya wajarlah. Lah ini, sesama perempuan juga masih enggak paham tapi gatal pengin komen-komenan. Masih saja ada anggapan, “Amit-amit jabang bayi, sudah dikasih rezeki punya anak kok ya malah kena baby blues. Salat yang banyak gih!! Minta ampun sama Tuhan!”

Sad yet true. It still happens until now :). Cek saja tanggapan orang-orang, sesama ibu-ibu di timeline terkait hal ini. TIdak sedikit yang beranggapan, “Baby blues itu hanya menunjukkan level kemanjaan seorang perempuan. Makin manja ya makin gampang kena.”

RIP ilmu psikologi? Hahahaha :p

Bahas soal manja-manjaan, apa kabar Princess Syahrini dengan segambreng hestek manja-nya di Instagram. Belum tentu nanti dia pas lahiran baby blues melulu :p.

“Post Natal depression is an illness and not a reflection of you as a mother or as a woman.”

Note : Depresi Pasca Melahirkan (Post Natal Depression/Post Partum Depression) vs Baby Blues adalah 2 HAL YANG BERBEDA.

Jangan minder karena hamil mudanya ribet, atau pasca melahirkannya malah galau … karena balik lagi, kedua hal terbseut sama sekali bukan refleksi kita sebagai seorang Ibu atau seorang perempuan.

Ada yang sotoy dan sok-sok an menghubung-hubungkan antara hal-hal begini dan kepribadian kita, ya udah sih. Biarin saja mereka koar-koar sendiri. Urusan kita ya dengan suami dan anak-anak masing-masing dong ya. Yuk ah, cemungud, cemungud, cemungud eaaaaa :D.

***