Wanita … (Bukan Lagi) Perhiasan Sangkar Madu

Blusukan ke news feed di Facebook barusan menghasilkan kesimpulan : ada 2 topik ala emak-emak yang lagi ramai hihihi.

Politik istirahat dulu yaaaaa, lagi gak mood nih bahas politik hahaha :p.

Topik 1 : heboh soal melahirkan via SC. Ini gara-gara ada seorang bapak-bapak yang terekdungces banget komentarnya soal SC. Tapi pas ngecek di blog, waduh, belum pernah dibahas topik ini. Jadi lewati dulu :D.

Topik 2 : heboh Post Partum Depression. Menangkap kekhawatiran beberapa teman, saya cukup sejalan. Jangan-jangan nih pada enggak bisa bedain antara baby blues vs Post Partum Depression :D.

Nah yang ini lebih pas. Karena sudah pernah dibahas di blog hihihi. Jadi mari kita buka dengan share link ini :p

Baca : “Baby Blues Pasca Melahirkan”

Baby Blues / Post Partum Blues sebenarnya bukan hal baru. Tapi bersyukurlah dengan era yang terus berlari dan maraknya informasi maka kesadaran tentang kondisi ini sudah mulai banyak dirasakan oleh ibu-ibu :).

Karena jujur, saya enggak gitu paham soal Baby Blues ini pasca melahirkan anak pertama. Jadilah waktu kena Baby Blues ya enggak nyadar dan malah takut dan bingung.

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

Kok rasanya macam perempuan terkutuk ya? Abis lahiran kok malah galau? 9 bulan jungkir balik, malah jelang-jelang anak lahir sibuk belanja sana sini dengan perasaan gegap gempita kok begitu lahir malah jadi berasa kayak mau gila gini? Ada apa dengan saya? huhuhu.

Terus, curhatnya ke tempat yang “salah” pula. Ealah, malah dinasihati panjang lebar. Itu katanya karena kurang bersyukur, iman lemah, terlalu manja, minta diperhatiin, dsb. Disuruh merenung soal kehidupan orang miskin yang enggak bisa beli susu buat anak sendiri, kehidupan para janda dsb. Apa hubungannya ya? -_-.

Walah, makin stres dah hahaha.

Saya terus terang enggak berani cerita ke suami. Jadi ya saya simpan sendiri saja. Malam-malam saya terbangun, saya injak-injak popok anak saya di kamar mandi sambil nangis-nangis. Itu suami pules aja hahaha, padahal pintu kamar mandi dekat tempat tidur.

Saya terselamatkan karena akhirnya saya memutuskan cepat-cepat masuk kerja lagi! Untunglah saya cepat menguasai diri walau saya tetap tidak paham ini gejala apa.

Cutinya saya pangkas. Sampai-sampai teman-teman kantor bingung kenapa saya cepat banget masuk kantor lagi hihihi. TIdak ada yang benar-benar ingat jadwal cuti saya kecuali HR. Saya berbohong ke suami, bohong ke mertua, bohong ke Pak Bos sekaligus hahahaha.

Yang lucu, mbak sekretaris divisi menghampiri saya di meja dan bertanya, “Jee, mau gue urusin biar cuti lo diperpanjang?”

Saya menjawab panik, “Jangan, jangan Mbak!” Hahaha.

Gambar : huffingtonpost.com
Gambar : huffingtonpost.com

Alhamdulillah, pas masuk kerja, lebih tenang :p. Mulai kerja lagi kayak biasa ketemu teman-teman lagi, tidur normal lagi karena sudah ada baby sitter (hihihi).

Minggu pertama masuk kerja, begitu mobil keluar dari halaman rumah dan saya tentunya harus buka kaca dan pura-pura melambaikan tangan ke anak bayi dengan akting murung depan mertua, padahal dalam hati saya malah lega banget, “Yes, I’m free!” –> mamak durhaka! 😀

Anak kedua masih baby blues. Tapi sudah ada pengalaman dan saya sudah tahu, “Everything will be over.” Somehow, walau masih malas googling, saya sudah merasa “rasa mellow dan gampang mengamuk” pasca melahirkan itu adalah hal yang wajar.

Pasti akan lewat. Jadilah sebentar aja baby bluesnya pas anak ke-2.

Anak ke-3? Alhamdulillah sampai sekarang, hasilnya negatif hihihi. Artinya, tidak kena baby blues seujung kuku pun tongue emoticon. Iyalah, untuk kelahiran ke-3 ini, kami mengimpor Mama langsung dari Jakarta hahahaha.

Suami saya kayaknya kapok! Dia yang maksa-maksa biar Mama datang menemani saya :D.

Well, happy ending buat semua pihak, ya. Termasuk Mama saya. Saya terharu lho pas Mama sempat bilang, “Seumur-umur gak nyangka bakal bisa ke Eropa. Dulu berdoanya buat anak-anak saja yang bisa ke luar negeri.”

Saya lebih rileks sih emang. Selain karena memang sudah pengalaman ke-3, support systemnya sudah “dipersiapkan”. Dan berbekal yang dulu-dulu, dari jauh-jauh hari sudah sering berdiskusi panjang lebar dengan suami.

Saya sudah lebih berani menyuarakan isi hati. Tentu saja sudah disertai kesadaran penuh soal “kewajaran” kondisi Baby Blues ini. Suami disiapkan, diri sendiri disiapkan.

Itulah mungkin mengapa susahnya ya boooo menurunkan berat badan sekarang ini dibanding kehamilan 1 & 2. Dulu-dulu tuh, sebulan abis melahirkan, semua lemak lenyap tak bersisa :D. Pasti pada sirik kan lo, padahal cepat kurusnya lebih karena stres hahaha.

Sekarang nih? Butuh 5 bulan buat balik ke berat badan sebelum hamil hahahaha. Ini juga sekarang kudu ditambah ekstra olahraga untuk nendangin sisa-sisa lemaknya. Terima kasih Kayla Itsines dan Blogilates, jadi bisa ngegym di rumah dengan gratis dan nyaman hihihi.

Sekarang malah kalap pengin berat badan ada di kepala 4 lagi *benerinMatras*.

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

Yah jadi perempuan memang kadang serba salah, ya. Diharapkan ini itu dan mudah sekali mendapat tudingan sana sini. Disuruh harus kuat buat anak-anak tapi kita pada dasarnya ya serba baper hihihi.

Begtu ada kaum perempuan nunjukin kekuatan dikit aja langsung dihakimi, “Perempuan tuh ya kodrat sebenarnya tuh kudu …nganu, nganu, nganu”

Kalau nangis tapi dibilang cengeng dan dituduh hendak memanipulasi.

Kalau kita protes minta “kesetaraan” langsung disindir, “Perempuan banyak maunya. Minta dimengerti lah minta ini lah minta itu lah. Lebay!”

Sekarang saya jadi paham tuh sebuah quote yang pernah dipopulerkan oleh seorang teman (laki-laki lho padahal) di kampus di milis angkatan kami, “Hanya wanita yang mengerti wanita.” Hahaha :p

Pengaruh hormon saat kita menghadapi berbagai situasi “istimewa” memang tak bisa dihindari. Entah saat menstruasi yang datangnya malah bulanan ;), saat perubahan tubuh di awal kehamilan, dan kembali tubuh kita beradaptasi selepas melahirkan.

Mungkin justru di situ letak kekuatan spesial kita? Apaan tuh? Ah, sudah pernah ditulis panjang lebar di sindang, baca lagi dong  –> “In Her Shoes” 

Bersyukurlah kita, perempuan, hidup di era yang tidak lagi terlalu timpang memandang masalah antara perempuan dan laki-laki. Satu generasi di atas kita saja, generasi ibu-ibu kita, masih terasa benar bedanya, kan?

Ibu saya masih enggak paham-paham juga kalau dijelasin soal Baby Blues ini hehehe :p.

Hm, masih merasa ingin kembali ke masa lalu? Masih merasa kecanggihan teknologi hanya menawarkan efek negatif saja? ;).

***

10 Lagu Patah Hati “Andalan” Abege 90an :D

“90 miles outside Chicago, can’t stop driving I don’t know why, so many questions I need an answer, 2 years later you’re still on my mind…” Tragis bener gak sih liriknya? Hahaha. Hayooooo…itu lagu apa, itu lagu apa. Lagu patah hati laaaah hahahahaha :p.

Lagu ini bukan lagu terkenal di eranya, sih. Band yang menyanyikannya juga bukan yang gimana-gimana banget tenarnya. Pernah dengar New Radicals? Lagu yang saya kutip tadi judulnya “Someday We’ll Know”. Itu pun bukan lagu yang paling terkenal dari band ini hehehe.

Memorablenya kenapa? Soalnya itu salah satu lagu kebangsaan pas patah hati, Kakaaaaa hahaha.

Lagu Patah Hati New-Radicals Someday We'll Know

Ish, jangan dikira generasi sekarang saja yang pernah merasakan pahitnya bercinta *apaIniiiiii* :p. Kalau kalian bisa berjam-jam menangis di kafe sambil dengerin Adele meratap satu album penuh, kita pun, abege-abege baheula ini juga ppunya lagu kebangsaan di masa-masa dunia seakan  mau runtuh itu lhoooo hahaha. Cuma nangisnya di bantal aja sih, belum punya duit masuk kafe buat nangis doang hahaha.

Tapi ini versi saya yaaaaaaa. Ada beberapa lagu yang keluarnya di tahun 2000 an. Maklum, dimari patah hatinya agak-agak telat. Dulu waktu sekolah, patah hati sih pernah. Cuma ya, fokusnya dulu pan gimana lulus UMPTN. Urusan patah hati bisa belakangan lah hahaha.

Lagu-lagu “menye” begini ajaibnya kalau didengerin pas kita lagi enggak kenapa-kenapa pun kok ya bawaannya pengin patah  hati gitu ya hihihi. Padahal pacar saja tidak punya dan lagi enggak naksir siapa-siapa, tapi jadi ikutan merasa patah hati aja gitu  bawaannya *sodorinTisu*.

Kalau di saya memang mayoritas jadinya lagu bule. Bukan karena belagu. Semata dulu karena pas masa-masa itu, tempat saya ngopi MP3 banyakan  lagu-lagu bule. Jadi ya gimana dong hahaha. Ada juga beberapa lagu bahasa Indonesianya kok.

Sebagian besar lagu lagu patah hati ini pun kalau didengerin lagi masih tersayat-sayat aja bawaannya. Tersayat-sayat karena kok sampai sekarang nyanyinya tetap enggak ada peningkatan ya ini vokalnyaaaa hahaha :p. Masih fals aja -_-.

Lagu patah hati abege 90an
Gambar : pixabay.com

Untuk lagu Indonesia, lagu PUPUS ini ada cerita khususnya. Jadi dulu tuh pas di kantor pernah naksir-naksiran gitu. Sama anak yang baru masuk hihihi. Di kantor pertama dulu kan, status saya sebagai “Jomblo Ngenes nan Bawel” memang cukup membahana. Apalagi di divisi mayoritas laki, sering jadi  bulan-bulanan.

Alasan mereka ngeledekin soalnya karena saya ngeselin sih katanya hahahaha. Jomblo tapi banyak omong! Idih, memangnya kalau jomblo harus nangis melulu :p.

Saya suka lagu PUPUS pas pertama kali nge-hits. Pada dasarnya saya memang penggemar lagu-lagu DEWA dan Ahmad Dhani-nya. Jadi, walau sekarang saya mati-matian pilih Ahok untuk Pilkada DKI, tetap berat rasanya harus ikut mengutuk Ahmad Dhani. Lagu-lagunya setia menemani saya melewati masa-masa remaja nan labil itu #eaaaaaa :p.

Biarlah orang lain saja yang ikut maki-maki. Saya tetap ngefans :D.

Nah, balik ke PUPUS tadi. Kalau suka sama lagu, saya rewind terus dan terus. Ruangan kerja saya tidak terlalu  besar waktu itu. Jadi kalau muter lagu enggak pakai headset, bisa ke mana-mana hihihi. Ditambah lagi saya suka ikutan nyanyi dengan heboh dan penuh penghayatan. Ngeselin gak tuh? Hahaha. Padahal ya tidak dalam kondisi patah hati. Ya senang lagunya aja gitu.

Terus, masuklah si anak baru tadi. Eh, saya naksir. Saya kan kalau naksir memang suka heboh sendiri. Semua orang dikasih tahu hahaha. Dari zaman SMU, kuliah sampai kerja ya kelakuannya begonoh. Kalau naksir orang, seluruh dunia mesti tahu! *benerinMike*.

Ndilalah, dese tahu-tahu sebar  undangan mau nikah. Nikahnya dengan teman satu kantor juga. Waduh, habis deh gue! Hahaha.

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

Pedih-pedih dikitlah cuma ya, teman satu ruangan kayaknya nafsu bener godainnya hahaha. Ampun dah. Lagu PUPUS diputar berkali-kali dan terus ada yang ikutan nyanyi. Awas kau semuaaaaaaa, zzzz -_-.

Baiklah, ini dia daftar lagu Patah Hati abege 90an di mana abege yang dimaksud itu spesifik yang namanya Jihan Davincka :p. Kalian listnya sama gak kira-kira? ;).

Daftar Lagu Patah Hati versi Akyuuuuu :p

Kasih Tak Sampai – PADI

Judulnya saja sudah bikin lemas yaaaaa hahaha. Kasih Tak Sampai ini bagian dari salah satu album terbaik yang pernah dirilis PADI. Tapi PADI  memang albumnya bagus-bagus. Single-nya juga keren-keren.

Dulu yaaaa, denger intronya saja udah mau mati rasanya. Hoahahahaha.

Pupus – DEWA

Kalau ini sudah diceritain sih tadi ya hihihi. Tapi video klipnya juga saya suka. Soalnya ada Fathir-nya hihihi. Apa kabar Abang Fathir? Masih ganteng gak? 😀

Someday We’ll Know – New Radicals

Ini juga sudah saya kutip liriknya di atas. Bagus deh liriknya secara keseluruhan. Enggak mainstream, menurut saya lho yaaaa :D. Cari sendiri versi lengkapnya di Google. Lagu ini pernah dinyanyikan kembali sama Mandy Moore bareng Jonathan Foreman di film “A Walk to Remember”.

Pada dasarnya saya suka lagu dan liriknya, jadi ya biarpun dinyanyiin sama Mandy Moore yang manis-manja bener suaranya, tetap saja saya demen 😀

Satu yang Tak Bisa Lepas – Reza

Duh ini lagiiii. Coba itu ya judulnyaaaaaaaa. Sudah kepengin nangis aja kan bawaannya? Hahaha :p. Kalau tidak salah ini lagu patah hati ini ciptaan Ahmad Dhani juga, sih. Panteslah keren ya. Ampun, saya jangan dibully ya, haters! :p. Video klipnya simpel tapi baguuusss <3.

Four Seasons of Loneliness – BoyzIIMen

Yak, yang ini puuuun, judulnya sudah bikin sesak napas huhuhu. Basically, saya penggemar BoyzIIMen dikarenakan salah satu kakak saya mengoleksi kaset-kasetnya. Banyak lagunya yang saya suka dan bahkan  hafal.

Kalau lagi patah hati dengerinnya, bisa enggak kuat makan 3 hari 3 malam deh saking sedihnya. Boong deeeeng hahahaha :p.

Untuk lagu yang ini, liriknya cetaaaarrrrr ….

“Until you release me I’m bound under ball and chain
Reminiscing our love as I watch four seasons change …”

Gombal abessssss hahahaha.

In a Rush – Blackstreet 

Kalau lagi berat-beratnya mau move on terus denger lagu ini, waduuuuuh, remuk, remuk deh itu hati #eaaaaaa. “It comes over me in a rush that I realize that I love so much that sometimes I cry but I can’t tell you why … ” Sambil mukul-mukul dada mungkin lebih enak nyanyiinnya *bantuinBukaKancingBaju* hahahaha :p.

I Miss You So Much – TLC

Nah, nah! Ini nih salah satu yang favorit banget-banget. Soalnya gini, TLC ini lagu-lagunya jarang yang “menye” begini. Liriknya suka “berani” gitu. Yang satu ini manja-manja gimana gituuuuu :p. Khas orang patah hati lah. Mungkin yang ngefans dengan TLC banyak yang enggak familiar dengan lagu ini? :). Cobain deh dengerin via youtube. Musiknya bener-bener bikin meleleeeeeeeeh … :’).

One Last Cry – Brian McKnight

Kalau judul yang ini sih bukan meleleh lagi tapi sudah tercabik-cabiklah hahaha. “I saw you holding hands, standing close to someone else … Now I sit all alone wishing all my feeling was gone … ”  Tuh, baru sepotong lirik, sudah tercabik-cabik belon? Jangan bunuh diri yaaaaa :p.

Stay – Lisa Loeb

Lagu patah hati yang ini sempat bikin saya kepengin banget jago main gitar hahahaha. Lisa Loeb termasuk yang suaranya khas dengan lirik yang cepat-cepat khusus di lagu ini. Tapi saya berhasil lho ngapalin liriknya *karaokeYuk*. Makin khusyuk deh nyanyinya pas patah hati #eaaaa.

Again – Janet Jackson

Ini mungkin salah satu yang paling jadul. Ini ala-ala CLBK sih. Hahaha. Tapi tetap pas untuk lirik yang patah hati. Yang namanya patah  hati mah, kadang lagu apa juga selalu diaku-aku cucok  :p.

That’s my complete list!

Tidak bermaksud membuka luka lama lho yaaaaa. Eh, ada tuh lagu dari COKLAT, “Luka Lama” yang juga genre-genre  patah hati gitu hihihi. Masih ada yang ingat lagunya? :p.

Santai ajaaaaa … Sekarang sih kalau dengar lagi ya pasti ketawa-ketawa dan mungkin mati-matian ingin hafal liriknya lagi atas nama nostalgia semata.

Kan katanya what doesn’t kill us makes us stronger ;). Don’t we all? ^_^. Tapi tetep mau *sodorinTisuLagi*. Just in case …. :p.

Privilege

Barusan lihat iklan video ala India seliweran di timeline FB :D. Indian, in many ways, shared (almost) the same culture to us, Indonesian. Ini pendapat pribadi ya hehehe. Linknya ada di bawah tulisan ini ya ;). Kita ngobrol dululah sikit baru nonton videonya hehehe.

Tidak hanya India sih. Bangladesh, Pakistan, dan sekitarnya juga mirip-miriplah.

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

Satu hal yang saya perhatikan, some of them had changed as probably they’ve been living in here (Ireland, “western” society) for too long :p. But some stayed the same ;).

Apalagi soal segregasi antara perempuan dan laki-laki. Miripnya pakai bangeeeeetttt :D. Budaya apa ini? Budaya timur apa budaya Asia ya tepatnya.

Satu yang sering bikin saya bingung, kalau iseng nyari di youtube masih banyaaaaaaaaaaak aja gitu “perempuan bule” yang meresahkan soal kesetaraan gender. I thought they were talking about us, the “non western ladies” yang katanya hidupnya memprihatinkan ini hahahaha  :p. But they’re not. They’re speaking for general, including themselves.

Kemarin lihat video bagus juga soal isu ini, yang bawain “ceramahnya” tapi laki-laki. No wonder, videonya yang ngelike vs dislike hampir berimbang hahaha :p.

Tapi pesannya bagus kok. Si penceramah (yang LAKI-LAKI itu) membandingkan 2 hal :

1. Antara perempuan kulit putih vs perempuan kulit hitam. Ternyata, menurut si penceramah itu, dalam keseharian perempuan kulit hitam masih lebih risau soal RASISME, “Every morning I look in the mirror I see a…black person. Black. I’m black.”

Sementara perempuan kulit putih menjawab ringan, “Everyday I look in the mirror and all I see is a woman.”

2. Antara laki-laki kulit putih vs perempuan kulit putih. Laki-laki kulit putih, “Every mirror-time, I see … a human.”

Lihat bedanya?

PRIVILEGE. Kita tidak sadar bahwa kita dianugerahi hak-hak khusus/keistimewaan tertentu yang membuat kita merasa, “Ah, enggak ada apa-apa kok. Apa sih masalah lo? Semuanya oke-oke aja tuh.”

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

Privilege is invisible for those who have it ;).

And yes, according to this gender issue, “western world” punya banyaaaaaak sekali privilege yang belum/masih sedang diperjuangkan di belahan dunia yang lain. MIsalnya kita di Asia ini :D.

Makanya dulu saya menulis “Battle Hymn of The Asian Parents” terkait soal sistem pendudukan antara Asia vs Eropa Barat misalnya. Karena tidak sedikit ibu-ibu Indonesia teman saya yang dikit-dikit Finlandia, dikit-dikit Finlandia :p.

Semua interaksi sosial dan infrastruktur itu saling melengkapi dan memengaruhi dong, ya. Dengan tingkat kesejahteraan yang sudah sangat mapan (dibandingkan banyak negara berkembang) di Asia, Eropa Barat ya pasti lebih enak dalam banyak hal.

Orang-orang kenyang, akses pendidikan merata, masa depan ya 90% cerahlah buat hampir semua kalangan. Penduduk minim dan negaranya dikelilingi oleh negara-negara tetangga-tetangga yang tidak kalah mapannya.

Perlu saya terangkan kondisi mayoritas di Asia? :p.

Jangan heran orang bule mah anaknya enggak ngerjain peer santai saja. Kita? Mamak-mamak Asia? Anak enggak ngerjain peer, merepetlah itu kalimat-kalimat penuh ancaman, “Mau jadi apaaaaaa kalau besar nanti.” Hahaha :p.

Jangan ngakak duluuuuuu. Itu bukan kekhawatiran lebay. Karena iya toh? Mau jadi apa mereka kalau besar nanti?

Makanya, kita perlu memandang isu-isu budaya dengan lebih terbuka dan ….jujur :).

Tentu dong sebagai perempuan yang lahir dan besar di Asia, saya akui, saya sedikit kaget mendapati teman-teman anak saya diantar jemput ke sekolah oleh ayah/bapaknya. Habis sekolah, saya ke supermarket buat belanja, eh ketemu lagi si Ayah/Bapak yang sama. Dia juga lagi belanja. Nanti pulang sekolah ya dia lagi. Begitu seterusnya tiap hari dan ini sudah jalan 3 tahun hehehehe. Tidak satu dua orang lho ;).

Who should do the laundry ???, gambar : pixabay.com
Who should do the laundry ???, gambar : pixabay.com

Tidak bisa serta merta kita bersorak, “Ih, keren kali bapak-bapak bule iniiiiii…” It will take me more and more words to explain why this is not that important to be discussed NOW. NOT until Asia (the worldwide Asia) has done with their basic issue(s) : food, education, sanitation, health care, justice, … do I need to mention them all? :p.

Makanya, perjuangkan dulu lah minimal keseteraan pendidikan dan kesehatan bagi seluruh lapisan masyarakat, barulah kita bisa lebih tenang dan terbuka membahas soal peran perempuan dan laki-laki dalam berkeluarga dan bermasyarakat. Ini belum bahas soal dogma dan doktrin agama lho :p.

Btw, saya suka video iklan Ariel ini. Suka banget ^_^. Good job, Ariel <3.

Videonya sila di lihat di sini :

Anyway, happy belated International Women Day, my Ladies :D. Masak apa kita hari iniiiiiiiiiiiii :D.

Selamat hari Nyepi jugak dan selamat melihat gerhana matahari sekalian hehehe.

People We Haven’t Met Yet (8)

“Bu, buuuu, tolongin dong …”

Saya menengok, “Apaan…”

“Ini kemarin sudah ada lagu-lagunya. Tinggal pencet ini. Tapi sekarang mana, ya? Gak ada lagi yang bisa dipencet? Ilang ini pencetannya.”

“Apaan tuh yang dipencet-pencet?” Saya mulai cengengesan.

Si embak menyodorkan ponselnya sambil sibuk nerangin dari awal lagi. Nerangin ala dia. Setelah melihat gambar di ponsel dan keterangan dari mulutnya baru deh bisa sinkron apa itu yang dipencet-pencet segala macam hahaha.

Sebut saja namanya Mbak Paris. Mawar melulu bosan yeeeeee :p.

Mbak Paris ini asisten rumah tangga yang bekerja di rumah yang satu kompleks dengan saya. Di Jakarta, sekitar hampir 7 tahun silam, sebuah pergaulan baru mewarnai hari-hari saya … bergaul dengan embak-embak saban sore sembari nemenin anak main hihihihi. Embak-embak yang sehari-harinya dikenal sebagai asisten atau pembantu rumah tangga.

Pembantu Rumah Tangga

Ikut jongkok bareng-bareng mereka membahas mengapa si Gondrong kalau datang bawanya selalu tempe yang sudah tidak segar. Ikut berdiskusi besok enaknya masak apa biar majikan mereka dan anak-anak semua doyan biar enggak banyak-banyak masaknya. Karena kalau kebanyakan nanti kena marah juga hihihihi.

Eh, siapa si Gondrong? Gondrong ini nama tukang sayur langganan. Satu-satunya gerobak sayur yang boleh masuk ke kompleks kami :D.

Kompleks tinggal saya modelnya town house. Karena sempitnya lahan di tengah-tengah kota, banyak developer yang akhirnya membangun kompleks-kompleks mungil yang biasanya berisi maksimal 20 rumah lah ya. Tapi ada juga yang bisa sampai 30. Minimal bisa 2 rumah doang malah hehehe.

Pulang dari Teheran, saya memang sudah berhenti bekerja sejak setengah tahun sebelumnya. Tak tega meninggalkan anak, saya urungkan dulu niat melanjutkan sekolah ke tingkat S2. Toh dulu niat resign karena kepengin lebih dekat dengan si sulung yang memang aktifnya luar binasa banget deh dari kecil hahahaha. Saya hanya percaya kalau dia dihandle oleh tangan saya sendiri 😉 –> mamah-mamah posesif :p.

Anak baru satu. Suami pergi jauh merantau. Karena visa tak kunjung datang, terpaksa LDR-an hampir setahun.

Tiap sore, saya bawa si kecil (waktu itu anak baru satu) main-main di jalanan kompleks. Kompleks kecil ya jalanannya seadanya juga. Tapi cukup luas buat arena lari-larian kelompok balita dan abege di sana hihihi. Relatif aman juga lah.

Baru saya sadari, mamah-mamah tetangga jarnag ada yang beredar. Anak-anak ditemani oleh embak-nya masing-masing. Jujur, saya sih tidak pernah risih dengan mereka. Mereka yang menjaga jarak dengan saya karena tahu posisi saya sebagai “nyonya”.

Tapi saya pepetin aja terus hahahaha. Saya ajak mengobrol, saya becandai, saya ikut duduk sebelah mereka, walau awalnya mereka langsung bubar kalau saya datang. Idih, berasa gue nenek sihir! Huhuhu.

Saya tidak tahan tidak ada teman mengobrol. Sebanyak itu orang di jalanan kompleks sore-sore, pasti gatal kan pengin bergosip hahahaha.

Saya coba main-main dengan geng balita. Yaela, 5 menit udah bosan. Namanya balita, oper-operan bola aja bisa ngikik-ngikik bareng sampai sejam enggak bakal bisa berhenti. Akhirnya saya dekati satu-satu geng para embak. Dari situ baru mereka mulai “nyaman” dan mulailah saya “diterima” oleh mereka *tsaaaaah*.

Dengan bantuan embak saya juga, sih hihihi.

Pasti kalian mengira mereka suka curhat soal majikan. Tidak juga, lho. Kalau saya sendiri lebih suka bertanya hal-hal yang berkaitan dengan mereka. Ratu kepo mulai beraksi hahhaha.

Pembantu rumah tangga
gambar : mariaelita.com

Ya pertanyaan ngalor ngidul standar khas orang ketimuran yang memang budaya “kepo”nya lebih kuat daripada orang bule ya hihihi, “Asalmu dari mana sih, Mbak? Sudah menikah? Punya pacar? Anak berapa? Umur berapa?” Kalau mereka sudah mulai nyaman, merembet ke pertanyaan lebih pribadi, “Ada suami? Suami di mana?”

Dari situ juga saya didapuk menjadi tukang benerin ponsel atau membantu download mp3 dan semacamnya hihihihi. Sambil saya utak utik ponselnya, mengalirlah banyak cerita dari mereka. Saya kagum sekali dengan cara mereka menertawakan hidup masing-masing, setengah cengengesan bercerita hal-hal yang menurut saya sedih huhuhu.

Saya kan cengeng ya, tapi saya tahan untuk tetap se-kasual mungkin misalnya saya mereka cerita, “Suamiku lari Bu sama janda. Eh, tabunganku dicuri. Jadi anakku berhenti sekolah. Kutitip di Bude. Aku yo cari kerja di Jakarta. Lumayan Bu, jadi bisa jajanin anak.”

“Sekolahnya?” Tanya saya.

“Belum cukup uangnya Bu. Biar ajalah. Lagian ada adeknya masih bayi. Susu mahal. Lumayan yang gede sudah bisa baca tulis. Nanti tunggu gedean dikit bisa jadi supir kargo. Bagus itu supir kargo. Gak sembarangan juga Bu orang bisa jadi supir.”

Hiks, jadi supir kargo :'(.

Si embak, janda 2 anak. Lain lagi cerita yang gadis.

“Sekolahnya jauh, Bu. Capek ah. Jadi ke sini aja cari duit. Mau beli henpon.”

Kata saya, “Idiiih, mending sekolah. Nanti sekolah tinggi lulus kerjanya bisa lebih bagus. Jangankan henpon Mbak, yang lain juga bisa beli.”

Matanya berbinar-binar, “Iya, betul Bu. Tetanggaku bisa jadi TKW ke Arab. Banyak itu duitnya. Betul itu.”

Hiks, sekolah tinggi untuk jadi TKW di luar negeri :'(.

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

Ada lagi yang membanggakan anaknya yang sudah kelas 2 SMP. Karena katanya di keluarganya, yang lulus SD saja masih sedikit banget. Lulus SMP, siap-siap jadi buruh pabrik di kampung sebelah. Aish *hapusAirMata*.

Jelang ada cuti buat pulang, mereka ribut mau beli baju buat si kecil di kampung. “Kemarin katanya di Pasar Senggol ada celana tentara gitu. Mahal je. 20 rebu.”

Saya diaaaam saja mendengar mereka membahas harga-harga barang. Mereka itu, tidak ada keluhan tidak ada protes. Hanya sekadar berbagi dan saling memberi informasi beli bedak merek apa di mana yang harganya paling murah. Beli pulsa di warung anu yang suka dapat diskon. Majikannya kali yang sibuk teriak, “Harga-harga mencekik rakyat” sambil ngerumpi minum-minum kopi di kafe #eh :p.

Pernah di suatu pagi, saya kepoin si Gondrong, “Ndrong, siang amat ke sininya. Bangun pagi napa?”

Sambil masukin belanjaan saya dia nyengir, “Kan muter dulu Bu. Di sini memang jadwalnya ya jam segini.”

“Pagian dong makanya…” Saya tetap protes sambil memilih ikan di gerobak bagian belakang.

“Kan jam 5 juga sudah mulai muter Bu.”

“Ha? Jam 5?”

“Iya. Sebelumnya belanja dulu. Jam 1 sudah nungguin barang di pasar.”

“Jam 1? Tengah malam? Ngerinya. Gak takut lu Ndrong, malam-malam d pasar?”

Dia tergelak, “Pasar mah jam segitu justru rame Bu. Truk-truk ngumpulnya jam segitu. Bawa macam-macam.”

Ooo…I see. Berat juga ya jadi pedagang sayur keliling. Pantas si Gondrong kalau di sms-in sore-sore gak pernah reply. Sms minta dibawain bahan khusus yang dia jarang bawa sehari-hari hihihi. Memang gitu cara kami memesan daging sapi misalnya. Gondrong ogah membawa daging kalau tidak ada yang pesan. Soalnya modal gede kalau bersisa mau ditaruh di mana?

Tinggal sms, “Ndrong, daging buat dendeng satu kilo. Bilangin ke yang jual, potongin tipis-tipis.”

Gambar : pemudawirausaha.com
Gambar : pemudawirausaha.com

Para embak, si Gondrong, semua tinggal terpisah dari pasangan dan anak-anak mereka. Embak-embak ini … sama-sama perempuan seperti saya. Yang sudah berkeluarga, sama-sama jauh dari suami. Bedanya, ada yang janda ada yang suaminya juga bekerja di tempat lain. Ada yang juga berstatus Ibu.

Sementara waktu bekerja dulu, saban habis gajian, seringnya saya dan beberapa teman jalan-jalan ke toko baju lihat-lihat. Yang diobrolin tas yang bisa jadi harganya juta-juta. Lah di hadapan saya, para embak meributkan celana motif army yang harganya 20 ribu :'(. Mahal banget katanya.

Mereka juga jauh dari anak sendiri malah seharian mengurus anak orang lain. Saya sepanjang hari bisa dekat dengan anak.

Perspektif baru ya tentang kehidupan jauh dari pasangan :). Sedihnya kalau harus LDR. Tapi saya jauh lebih beruntung. LDR pun, tidak kesulitan soal uang. Ngambek dikit tinggal minta duit hahahaha :p. Tinggal pun di rumah sendiri. Bisa dibilang full fasilitas. Punya embak pula yang bantu-bantu. Padahal anak cuma satu *tutupMuka*.

Bosan di rumah sekali-sekali pengin keluar tapi malas nenteng bocah? Tinggal telepon Mama. Mama datang menemani anak saya di rumah. Saya keluar ke mal, janji makan siang dengan teman, kadang nonton di bioskop juga. Me time, me time … hihihihi.

Lah itu embak-embak, me time -nya kapan? Ada gitu duit khusus buat me time?

Berat rasanya melewatkan waktu saat jauh dari suami, tuh. Ada aja gitu masalah. Kesepian dan serba tidak pasti. Ceramahin suami melulu soal pentingnya tinggal bersama bla bla bla. Padahal waktu itu sikon memang sulit. Mau enggak mau harus LDR-an sementara. Sementara saja.

Nah coba si embak-embak tadi, entah harus sampai kapan membanting tulang dengan gaji pas-pasan hanya untuk masa depan selevel sopir kargo dan buruh pabrik untuk anak-anak mereka?

Kita ini memang narsis. Saat kondisi sulit, serasa dunia hanya berputar di sekitar kita saja hehehe. Oh, betapa beratnya hidupku. Oh, betapa malang nasibku. Oh dan oh dan oh lainnya. Saya mah sering bener begitu hahaha *ngumpet*.

Btw, I learned a lot from embak-embak tadi :).

Dengan ritme reguler sebagai ibu rumah tangga di rantau pasti tiap hari ya gitu-gitu aja. Bangun-masak-nyiapin anak-ngurusin anak-facebookan (hhahaha)-masak lagi-cuci piring-ngurusin laundry-beberes bla bla bla.

every mom image

Anytime I feel exhausted regarding this never-ending-daily-routines, I remembered them. Biasanya, jadi lebih enakan walau tetap betenya enggak sepenuhnya hilang hahahaha.

Exhaustion is temporary ;). Ada banyaaaaaaaaaaaaaaak hal lain yang bisa dirayakan and they are permanent ^_^.

Makin dibiasakan untuk tidak gampang fokus ke diri sendiri kalau lagi ribet :p. Sering kan kita begitu, kalau dirasa ada kesulitan, dunia serasa berhenti berputar and oh… I’m the most miserable person in this universe yadda, yadda, yadda …

Urusan dunia, usahakan terus lihat ke bawah.

“You must understand the whole of life, not just one little part of it. That is why you must read, that is why you must look at the skies, that is why you must sing, and dance, and write poems, and suffer, and understand, for all that is life.”-Jiddu Krishnamurti

Have a nice weekend <3.

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

Perempuan Indonesia di Arab Saudi … Jangan Sensi! ;)

Kisah tentang perempuan Indonesia di Arab Saudi ini berdasarkan pengalaman pribadi tentu saja 😉. Macam kisah antara Arab Indonesia :D.

Indonesia di mata Saudi (mungkin juga di kebanyakan negara Timur Tengah yang membuka pintu gerbangnya buat TKI informal) = negara pembantu! Hehehe. Suka enggak suka ya kenyataannya begitu terus gimana dong? ;).

 

Sebenarnya sektor informal yang tersedia di Arab Saudi bukan cuma ranah domestik rumah tangga seperti pembantu rumah tangga dan supir pribadi (yang sedihnya memang didominasi oleh bangsa kita 🙁 huhu). Tapi ada juga penjaga/pelayan toko, pelayan restoran cepat saji, cleaning service di perkantoran, cleaning service di rumah sakit, supir ambulans, supir buat delivery services… hmm, apalagi ya? Pokonya banyak lah.

Gambar : berita.plasa.msn.com
Gambar : berita.plasa.msn.com

Tapi kenapa cuma PRT dan supir pribadi yang banyak menyedot TKI informal asal Indonesia?

Alasan utama mungkin … kendala bahasa. Biarpun termasuk sektor informal, pekerjaan lain yang saya sebutkan belakangan rata-rata butuh kemampuan berbahasa Inggris, bukan cuma bahasa Arab. Apalagi di Jeddah yang rasa-rasanya memang lebih banyak warga pendatang dibanding penduduk asli Saudi.

Dalam hal berbahasa ini, TKI informal asal Filipina, India, Pakistan (=FIP) memang beberapa tingkat di atas kita. TKI informal asal Indonesia kebanyakan memang oke dalam hal berbahasa arab, tapi bahasa inggris? :(.

Alasan kedua (yang mungkin merupakan imbas dari alasan pertama tadi) adalah kemampuan berkomunikasi dengan sekitar yang berpengaruh pada networking juga, lho. Kelihatan bener deh pedenya orang-orang FIP jauuuuuh d iatas TKI kita. Ini masalah mental atau apa ya? Atau mungkin juga mereka memang ‘persiapan’ nya lebih matang. Konon, PJTKI (Indonesia) suka ‘main belakang’ dan kurang disiplin dalam pembinaan bagi para calon TKI yang dikirim? Enggak terlalu berani banyak omong, enggak punya bukti  langsung soalnya 😀.

Dari tadi kok Malaysia enggak disebut? Ho ho ho, jangan salah! Warga Malaysia itu lebih disegani di Saudi. AFAIK, bukan cuma di Saudi sih, secara umum di Timur Tengah, orang Malaysia termasuk figur “Asia” yang disegani.

Iyalah, di Saudi, Malaysia tidak mengirimkan tenaga kerja sektor informal. Minimal level teknisi, dan tidak ada sama sekali TKW asal Malaysia di sini! Begitulah faktanya, memang pamor orang Malaysia secara internasional lebih oke ;).

Ada enggak sih TKI kita yang bekerja di sektor formal?

Ya ada dong aaaah :D. Ini contohnya suami tercinta si penulis postingan ini hehehe. Suami saya adalah seorang telco engineer semasa di Jeddah. Tapi dibandingkan dengan jumlah TKI informal ya jauh perbandingannya. Persentase pekerja formal asal Indonesia sangat kecil dan kurang ‘kedengeran’.

Jadi, ‘jangan sensi’ ini  juga berlaku untuk anda kaum pria kalau tahu-tahu ada yang ngomong, “Wah, baru tahu saya kalau orang Indonesia juga ada yang jadi engineer di sini” :D. Atau ujug-ujug ditanyain, “Kamu supir di mana?” *ngakakGulingGuling*.

Dengan melihat kenyataan-kenyataan di atas, jangan heran kalau anda adalah seorang wanita Indonesia yang tinggal di Jeddah akan sering mendapat perlakuan yang ‘istimewa’ yaitu … dianggap pembantu! Hahaha *ngakakStres*.

Buku saya tentang Kota Jeddah, "Memoar of Jeddah"
Buku saya tentang Kota Jeddah, “Memoar of Jeddah”

 

Bukan itu saja ‘cobaan’ yang harus dihadapi :p, kalau anda seorang wanita Indonesia dan kebetulan bisa berbahasa Inggris, itu juga bukan hal biasa di Arab Saudi. Atau jika berpenampilan rapi dikit disangkain orang Filipina atau Malaysia. Jangan lupa, secara fisik, Filipina itu memang mirip banget dengan orang Indonesia, apalagi Malaysia 😉.

Waktu awal-awal saya pernah bilang ke suami, “Kampungan banget sih orang-orang sini, banyak kaleeee cewek Indonesia yang bisa ngomong Inggris. Norak!norak!norak!” Hahaha.

Waktu melahirkan di Jeddah tempo hari sampai bete saya menerangkan ke orang-orang di rumah sakit kalau saya asli Indonesia. Jadi bukan karena kulit gw yang kuning langsat makanya saya disangka orang Filipina, tapi karena saya selalu berkomunikasi dengan bahasa Inggris. Abis mau ngomong pakai bahasa apa dong? Bahasa Arab saya kan pas-pasan dan so pasti mereka enggak bisa bahasa indonesia kan? 😉.

 

Pepatah “don’t judge a book by its cover” juga enggak terpakai sama sekali. Indeed, perlakuan sehari-hari yang kita terima tentu saja berbanding lurus dengan apa yang menempel di badan kita 😉. Untung saja dengan tampang saya yang by default sudah jutek dari sananya dan suara yang bariton nan terkesan galak, suster-suster Filipina di rumah sakit enggak berani macam-macam biarpun kemana-mana saya selalu bermodalkan abaya ‘biasa-biasa saja’.

Tinggal di Jeddah Arab Saudi
Main sama bocah di Corniche – Jeddah, 2012

 

Memang, banyak pula ibu-ibu Indonesia yang kebetulan suaminya pekerja formal memilih untuk meng’upgrade’ penampilan 😉. Pake tas-tas mahal, pake abaya keren-keren (ada yang abayanya rata-rata berharga 500 sr ke atas, ihiiiiyyy…pinjem dooong hahaha). Pakai jilbab pun yang sebisa mungkin ‘beda kelas’ dengan jilbab yang dikenakan para ‘bibik/embak’ di Saudi.

Aduh, kalo saya sih, mungkin karena pada dasarnya pelit dan keras kepala rendah hati dan tidak sombong, memilih cara yang lebih murah rajin latihan TOEFL biar grammar makin oke dan melatih aksen bahasa Inggris biar tambah keren hahaha.

Sok intelek banget sih loooooo. Emang intelek boooo :p. Karena yesss, biarpun pembagian kasta berdasarkan penampilan merajalela di Arab Saudi, once they knew you can speak english, they would instantly respect you more ;). Norak, ya? Hahahaha :p.

Kesimpulannya, ya balik lagi, kalau kebetulan berstatus ‘perempuan asal Indonesia’ dan tinggal di Arab Saudi, sesuai judul : Jangan Sensi! ^_^

Santai sajaaa ;). Tanggapi semuanya baik-baik, ingat bangsa kita juga terkenal karena keramahan dan senyum manis nya looohhh *nyengirManis*. Biarpun awalnya pasti bete berat yah, dulu di Indonesia rasanya kece-kece saja masa di sini disangkain pembantu hahaha.

Kalau mereka bilang : “Malaysia? Filipina?” Enggak usah emosi. Kan tinggal dijawab saja : “Oh bukan, saya Indonesia.”

Terus kalau dilanjut lagi, “Loh kok bisa bahasa Inggris?” Respons saja, “Ya bisa dong, enggak salah kan?” Biasanya bakal diterusin dengan, “Wah saya baru tahu ada perempuan Indonesia yang bisa bahasa Inggris, jarang-jarang tuh.” Jawab lagi, “Oo, banyaaak. Mungkin belum pernah ketemu saja” Dan seterusnya…dan seterusnya… :D.

Kesannya horor amat yaaa, ribet amat?

Jangan sensi dong saudari-saudari sebangsa dan setanah air ;).

Perempuan Indonesia di Arab Saudi arab indonesia
Berakhir pekan di Corniche Road, Jeddah ^_^

 

Sesungguhnya ada buanyaaaak hal positif di Saudi yang lebih menyenangkan. Anggap saja buat melatih mental, dan biar mereka jadi tahu bahwa perempuan indonesia juga keren-keren. Bukan cuma pekerja domestik rumah tangga saja yang lahir di sana *kedip2SokManis*.

 

Di Saudi mungkin sering di’remeh’in tapi jangan lupa, di sini harga-harga makanan sangat bersahabat, cari asisten rumah tangga gampang tidak seperti umumnya di luar negeri yang lain, makanan indonesia merajalela (dari yang kelas warteg  hingga yang kelas hotel), katering-katering bergelimpangan dengan harga oke, manalagi mal-mal besar buat cuci mata hihi, harga bensin mureeee *tepukTangan*. Harga mobil juga murah.

Bisa piknik setiap weekend ke luar kota, lihat pemandangan padang pasir yang eksotis ^_^. Pokoknya kenikmatannya jauh lebih menonjol lah timbang terus-terusan makan hati karena disangkain pembantu! Hahaha.

Oiya, ini lho role model mamak-mamak Indonesia yang “tabah” menghadapi “sengit”nya kehidupan ala perempuan Indonesia di Arab Saudi #eaaaaaaa hahaha :p.

Kehidupan perempuan Indonesia di Arab Saudi
Anak baru satu, yang nomor 2 dalam perut ;).