Sebelum memutuskan untuk sunat di rumah sunat smart klamp (cara non bedah) sebaiknya konsultasi ke dokter dulu, ya. Setahu saya, ada juga dokter-dokter ahli bedah yang TIDAK menyarankan hal tersebut. Katanya kurang aman atau gimana-gimana. Coba konsultasikan langsung.
Kalau saya dan suami akhirnya memilih cara non bedah di salah satu rumah sunat di wilayah Jakarta Selatan. Tepatnya di Mampang. Kenapa? Ya lebih praktis saja sih hehe. Kami lagi mudik liburan kalau pakai cara bedah, pemulihannya kan lumayan, ya. Maunya sih, disunat juga tapi acara jalan-jalan terus hihihi *benerinRansel*.
Dari dulu sudah cari-cari tahu soal metode cincin atau istilahnya sunat di rumah sunat smart klamp. Menurut cerita teman-teman yang sudah menggunakan metode ini buat anak mereka masing-masing, testimoninya oke-oke hehehe.
Terus penginnya tempatnya dekat dari rumah biar enggak ribet bolak-balik. Pas suami nyari-nyari ketemu deh di daerah Mampang Prapatan. Lokasinya sekitar 15 menit dari rumah kami di wilayah Pejaten. Nama tempatnya Sentra Sunat di “Klinik Pratama Hayana”. Buka 24 jam lho :D. Tapi kami ke sana di jam-jam standar, sih.
Pertama ke sana lihat-lihat dan tanya-tanya. Pulang ke rumah untuk diskusi internal *ceile* hehehe. Lalu, akhirnya diputuskan … YES :D. Biayanya okeh bangeeeet hihihi. Sekitar 975 ribu rupiah, ALL IN. Itu sudah termasuk obat dan segala macam + konsultasi pasca sunat dalam kurun waktu maksimal sebulan setelah sunatan.
Tadinya agak ragu melihat tempat rumah sunat smart klamp yang kecil dan sederhana. Ya namanya buat anak sih. Kalau buat diri sendiri mah, klinik mana juga asal murah ya ndak masalah hahaha. Tapi yang penting tempatnya nyaman, metode terpercaya, ditangani dokter berpengalaman, apalagi harganya ternyata jauh lebih murah dari yang kami bayangkan … ya kenapa tidak? ;).
Kliniknya juga bersih kok ^_^. Walau memang bukan klinik besar, letaknya juga di Jalan Mampang Prapatan yang jalannya benar-benar pas-pasan 2 mobil. Dari jalan Buncit Raya arah Kuningan belok kiri ke jalan Mampang Prapatan XV. Masuk ke dalam kira-kira 100 meter. Tempatnya di sebelah kanan jalan.
Setelah sepakat kami datang lagi ke Sentra Sunat tersebut buat daftar sekalian milih waktunya. Setiap hari sih bisa. Tapi takutnya sudah dibooking orang, ya. Kami dapat jadwal seminggu setelahnya. Waktu seminggu dipakai buat nyemangatin si sulung hehehe. Dia sih agak takut emang tapi ya tidak ada perlawanan berarti sih :p.
Intinya ya mau disunat cuma agak-agak galau saja. Lagian beberapa bulan sebelum mudik, pas masih di Ireland, si sulung sudah kami beritahu dan sudah “disiapkan” :D. Jadi yah, begitu di Jakarta tinggal eksekusinya saja.
Pas hari H nya, saya dan suami nganterin si sulung. Bapak mertua dan anak nomor 2 juga ikut. Adek bayi ditinggal sama ibu mertua hehehe. Ribet nanti, abangnya abis disunat adek bayi malah rewel :p.
Janjian sekitar jam 10. Dokternya ternyata belum datang. Kami menunggu sekitar setengah jam. Sambil ngeliatin pasien-pasien yang datang buat buka clamp-nya. Ini ceritanya mereka sudah disunat sekitar seminggu sebelumnya.
Ini penampakan si clamp (Gambar : sunatpremium.com)
Dokter datang, kami pun dibawa ke ruang tindakan. Anak nomor 2, yang juga laki-laki, dilarang masuk sama dokternya. Takut trauma katanya kalau lihat.
Anaknya dibius terlebih dahulu di sekitar selangkangan apa ya. Duh, ini mah emaknya yang nervous hahaha. Saya dari awal enggak berani lihat :p. Saya nemenin anak saya mengobrol saja. Pas disuntik obat bius dia sih biasa saja. Dari bayi si sulung ini memang kebal sama jarum suntik sih. Kalau divaksin enggak pernah menangis sama sekali. Emang ada hubungannya apa? zzzzz -_-.
Habis dibius, nunggu beberapa menit sebelum proses disunat dimulai. Dokternya masih muda dan atraktif banget. Seneng ngajak ngobrol. Kayaknya sih sudah pengalaman banget ya ^_^. Lincah saja gitu pas bagian tindakan utamanya. Saya tetap enggak berani lihat! Hahaha.
Saya mengobrol saja terus dengan anak saya. Tidak lama, clampnya pun dipasang. Anak saya sama sekali tidak menangis. Sempat meringis tapi saya curiga dia meringis karena sebel sama joke-joke saya yang enggak lucu. Ya eike lagi takut disuruh becanda ya mana bisa dong ya hahaha :p.
Gambar : sentrasunat.com
Enggak lama kok prosesnya. Kurang dari setengah jam sudah beres. Pak Dokter dibantu oleh asisten yang sekaligus menjadi resepsionis dan penjaga bagian Sentra Sunat di klinik tersebut. Pak Dokternya enggak stand by di rumah sunat smart klamp itu. Khusus datang kalau ada perjanjian saja.
Setelah selesai, kami menunggu sebentar di luar. Tebus obat segala macam. Dikasih parasetamol kalau diperlukan dan beberapa obat lainnya yang wajib minum termasuk antiobiotik. Ada yang 2x sehari ada yang 3x sehari.
Alhamdulillah, seminggu berlalu setelah proses sunat dan pemasangan clamp, anak saya tidak ada keluhan berarti. Ya paling pas pipis harus ditemenin ya. Jangan khawatir, kita dipandu kok oleh Pak Dokter + asistennya mengenai perawatan sehari-hari termasuk saat buang air kecil selama clamp terpasang di alat kelamin si anak. Lengkap dan jelas ^_^.
Setelah seminggu, sesuai jadwal yang disepakati, kami balik lagi ke Sentra Sunat tadi. Kali ini, kalau tidak ada keluhan berarti, tidak perlu bantuan Pak Dokter. Ditangani langsung oleh sang asisten yang stand by terus di sana. Tidak perlu minum obat lebih lanjut karena sepertinya semua berjalan lancar. Alhamdulillah <3.
Clamp pun dibuka dan kita pulang kembali ke rumah. Kalau tidak ada keluhan tidak perlu kembali lagi. Diterangkan kondisi yang mungkin terjadi. Misalnya bekas pemasangan clamp yang kemungkinan akan mengerut seperti karet dan akhirnya copot sendiri. Sekitar kulit juga mungkin ada perdarahan tapi sedikiiiiiiit.
Sempat agak heboh karena memang ada bercak darah ya setelah lebih dari seminggu clamp dibuka. Kita sih enggak panik, mertua yang khawatir hehehe. Tapi suami memutuskan untuk menelepon saja dan kami diyakinkan bahwa itu proses normal.
Sampai sekarang, berbulan-bulan setelah proses sunat di rumah sunat smart klamp ya anaknya sih belum ada kendala berarti :). Sekarang nyiapin adeknya buat ikutan disunat hahaha.
Yah overall, memang memuaskan ya sunat pakai clamp ini. Enggak ada drama sakit-sakitan. Soalnya dulu kakak saya empat-empatnya pakai cara “tempo dulu” hahahaha. Disunat pak mantri di puskesmas dekat rumah :p. Harus pakai sarung berhari-hari dan kayaknya sakit gitu.
Nah, kalau pakai clamp ya kayak biasa saja. Kecuali mungkin pas clampnya lagi dipasang dan beberapa hari setelahnya ya jangan terlalu pecicilan. Enggak boleh lari-lari misalnya. Tapi aktivitas lain berlangsung seperti biasa (y). Insya Allah aman, ya. Tapi tetap harus berkonsultasi dengan pihak medis yang terpercaya bila dianggap perlu.
Petualangan Dinosaurus TMII, salah satu wahana di Taman Legenda, yang merupakan bagian dari Taman Mini Indonesia Indah.
Taman Legenda ini dibuka pertama kali di bulan Desember 2015.
Perginya pas bulan Juli, mudik lebaran tahun 2016 kemarin. Tapi ngedit videonya baru sekarang hahaha. Ya kan resolusi vloggernya baru tahun 2017 *ngeles* .
Tiket masuknya menggunakan sistem ticketing terpadu berupa gelang merah yang diberikan kepada masing-masing pengunjung. Gelang merah ini merupakan gelang RFID (Radio Frequency Identification). Makin canggih aje nih Taman Mini .
Semua transaksi bisa dilakukan sesuai dengan sejumlah uang yang kita berikan di kasir depan sebelum memasuki Taman Legenda. Mulai dari memasuki wahana/permainan, membeli makanan dan minuman, termasuk membeli suvenir segala lho. Tinggal tunjukin gelang merahnya saja.
Jangan takut membayar lebih, ya. Karena kalau “pulsa” gelang merahnya nyisa, bisa diambil di kasir sebelum keluar dari area Taman Legenda ;). Mending lebih-lebih dikit biar kalau di dalam enggak ribet ngisi-ngisi lagi.
Tiket masuk ke Taman Legenda di hari Senin sampai Jumat, 15 ribu per orang. Untuk akhir pekan, 25 ribu per orang.
Tiap wahana nanti punya tiket masuk terpisah. Untuk Petualangan Dinosaurus dikenakan 30 ribu rupiah per orang. Wahana lain juga banyak, sih. Ada bianglala, komedi putar, bahkan kolam renang segala ^_^.
Tapi kami hanya sempat ke Petualangan Dinosaurus ini. Sempat hujan juga setengah jam lebih jadi kami berteduh di mushalla rame-rame.
Anak-anak pasti seneng deh dibawa jalan-jalan ke sini. Apalagi anak-anak saya kan kayaknya secara turun temurun demen dinosaurus semua. Nih, generasi terbaru si Dino bentar lagi menyusul, si adek bayi, yang pas jalan-jalan di Jakarta nyeker mulu hahahaha.
Panas ya Dek hihihi, dese ogah pakai sepatu apalagi kaos kaki .
Tidak ada rencana mau mampir ke Petualangan Dinosaurus Taman Legenda ini. Kami juga benar-benar baru tahu pas lewat depannya hehehe.
Begitu lewat di depan Taman Legenda ini dan ada pamflet gambar Dinosaurus yang lumayan gede terpampang lebar-lebar, tentu saja para penggila hewan purba ini langsung kalap hahahaha.
Anak-anak saya memang tergila-gila dinosaurus sejak kecil. Diawali dengan si sulung yang sukses menular ke adeknya. Entah gimana dengan si anak nomor 3 entar. Apa bakal ketularan juga apa enggak :D.
Bersama Oma-Opa dan Tante, kami sekeluarga jalan-jalan ke Taman Mini Indonesia Indah di wilayah Jakarta Timur. Ini tempat liburan wajib saban mudik. Murah meriah menyenangkan pakai banget sih ya ^_^.
Sebelumnya kita dari pagian sudah ke Taman Burung terlebih dahulu.
Seru banget Petualangan Dinosaurusnya karena cukup atraktif buat anak-anak. Hewan-hewan purba ini tidak hanya ditampilkan dalam bentuk fisik tapi juga dilengkapi dengan suara.
Tuh, di video saya tirukan suara dinosaurusnya , mirip kaaaaan. Suaranya yaaaaaaa, bukan orangnya hahahaha. Nih, barusan tadi pagi merampungkan vlognya :D.
Soal suara dinonya, suaranya yang benar-benar menggelegar gitu. Tidak sedikit anak-anak di sana yang malah ketakutan pas di sana. Kebanyakan sih yang masih kecil-kecil gitu. Apalagi kalau anak perempuan.
Kalau anak laki-laki apalagi yang memang fans garis kerasnya dinosaurus ya so pasti makin tergila-gila karena efek suara ini hihihi.
Fasilitas dalam Taman Legenda lumayan banget lho. Mushallanya nyaman, luas dan bersih. Makanya keenakan pas berteduh saat hujan hehehe. Sempat mengobrol seru pula dengan pengunjung lain yang kebetulan orang Minang juga :D.
Pas masuk ke Petualangan Dinosaurus Taman Legenda ini, Oma-Opa-Tante Desi menunggu di luar. Iya juga ya, bisa mati gaya mereka bertiga kalau ikutan ke dalam hihihi.
Tempatnya sendiri tidak luas-luas amat. Enggak nyampe sejam sudah selesai keliling-keliling di sana. Itu juga sudah pakai foto-foto dan ngerekam videonya plus lihat-lihat di toko suvenir walau enggak beli apa-apa hahaha.
Eh, beli pedang-pedangan gitu deng. Pedang-pedangan enggak penting tapi anak-anak cranky minta beli-beli -_-. Karena nyari yang cukup murah, makanya beli gituan :p.
Ya sudahlah.
Overall, senang deh seharian itu main di Taman Mini, mengunjungi 2 tempat : Taman Burung dan Taman Legenda.
Ayooo yang belum ke sana, yang belum ke sana ;). Petualangan Dinosaurus Taman Legenda TMII ini mayan bangetlah buat bikin anak-anak jejeritan hahaha.
Look at their happy faces ^_^
Updated, ada vlog juga nih tentang tempat wisata lain yang seru buat anak-anak. Agak jauhan ini, di Batang-Jawa Tengah.
Tapi sekarang kan udah gampang road trip karena banyak jalan tol. Mampir ya ke Batang Dolphin Center di Batang, tempatnya mayan banget, murah pula hehehehe :
Baru anak ketiga ini nih jadi terpaksa kepikiran tentang mengatasi kulit kepala berkerak pada bayi. Anak pertama dan kedua enggak pernah ada masalah.
Saya malah baru tahu soal Cradle Cap ini hahahaha :p.
Cradle Cap pada kulit bayi
Waktu umur si #baby3 sekitar sebulan lebih kelihatan ada kulit-kulit berkerak di kepala bagian depan sampai ke bagian tengah. Cukup lebar dan terlihat jelas. Saya pikir karena pas pakai shampoo enggak bersih. Pas dimandiiin kok enggak hilang walau sudah dibasahi air. Saya gosok-gosok sedikit juga. Agak hati-hati karena kan bagian kepala masih ada yang lunak gitu.
Terus, saya raba bagian belakang telinga juga ada kerak-kerak yang sama. Di sekitar alis matanya juga. Nah, di bagian alis sih dikorek dikit pakai tangan dengan bantuan air bisa hilang dengan mudah. Tapi yang di telinga butuh tenaga ekstra. Di bagian kepala apalagi. Lumayan jijik ih ngeliatnya huhuhu :(. Sampai-sampai ogah saya foto-fotoin.
Ini ambil sampel dari foto bayi orang lain aja hahahaha :p.
Gambar : primehealthchannel.com
Malas aja bayangin entar dia gede dan lihat fotonya yang ber-Cradle Cap :p. Entar anaknya jadi maluuuuu :D.
Tentu saja, langsung ribut nyari di Google dan Youtube. Dari situlah ketemu istilah kulit kepala berkerak / Cradle Cap ini. Ternyata bukan penyakit yang serius kok, fiuhhh … :p. Enggak serius tapi gengges -_-.
Kebanyakan artikel bilang sih enggak usah diapa-apain. Karena penyebabnya lebih ke arah hormon. Nanti hilang sendiri. Ada yang usia 3-4 bulan juga sudah hilang, ada yang bertahan sampai si anak usia 7 tahun. Aish, lama amit huhuhu.
Cradle Cap memunculkan semacam kerak pada kulit bayi yang teksturnya agak keras dengan warna kuning kehijau-hijauan. Lama-lama agak menghitam. Umumnya muncul di :
Kulit kepala. Ada yang sampai menjalar di seluruh kulit kepala. Di kasus anak saya, hanya kepala bagian depan saja untungnya.
Di sekitar alis. Di anak saya, yang daerah alis ini agak keras keraknya dan warnanya keputih-putihan. Sekilas enggak nyadar kalau ini penyakit kulit.
Di belakang telinga. Di anak saya juga ada nih, bagian bawah belakang tepatnya. Bagian atasnya tidak ada.
Di samping pipi dekat telinga, di anak saya enggak ada.
Saya sempat terpikir, cuaca ngaruh gak sih? Karena kalau cari-cari di Google Images, yang muncul foto-foto bayi bule semua. Tapi jangan-jangan di Indonesia namanya apa gitu ya, bukan Cradle Cap :p.
Setelah ubek-ubek banyak artikel dan cari-cari video youtube, akhirnya …bingung sendiri! Hahaha. Banyak yang ngiklan juga sih nawarin obat macam-macam.
Akhirnya kepincut dengan metode yang paling simpel. Dibersihkan dengan bantuan olive oil alias minyak zaitun. Ini sih si Mama pasti punya :p. Selain buat masak juga buat oles-oles muka juga. Nanti ya bagi-bagi tips perawatan wajah murmer dengan minyak zaitun ini, di artikel lain ;).
Caranya sederhana saja :
Oleskan bagian yang kena kerak dengan minyak zaitun. Untuk yang di kepala saja. Di alis dan telinga digosok agak lamaan bisa hilang kok. Biarkan dan tunggu sampai kira-kira setengah jam.
Sikat keraknya pelan-pelan dengan sikat gigi bekas. Yang sikatnya berbahan lembut. Harus sabar emang. Hati-hati dengan kulit bayinya. Biasanya jadi agak merah dikit.
Siapkan handuk kecil yang bahannya lembut, ini buat kulit bayi booo, kudu serba halus :p. Kulitnya belum jadi kulit badak kayak kita yang udah tua ini hahahha :p. Digosokkan juga ke kepala bayi buat membuang sisa-sisa kerak yang disikat tadi.
Mandikan si bayi setelah itu.
Begitu pakai shampo, gosok-gosok lagi bagian yang tadi berkerak sebersih yang kita bisa.
Kalau anaknya sudah jejeritan enggak usah maksain harus bersih semua. Terutama pas pakai sikat gigi tadi. Walaupun pelan-pelan kan lama-lama si bayi enggak nyaman juga :(. Sedapatnya saja. Nanti besok-besok bisa diulang lagi.
Akhirnya, setelah 2-3x “pembersihan”, kulit kepalanya lumayan bersih. Dan keraknya enggak balik-balik lagi :D. Umumnya akan balik lagi sampai beberapa lama. Tapi entahlah, mungkin saya hokinya bagus hahahaha :p. Kalau tidak salah sejak dia 3 bulan sudah bersih dan kerak tidak muncul kembali ^_^.
Pokoknya enggak usah heboh gimana-gimana. Ini sama sekali bukan penyakit yang patut di-panik-in hihihi. Semoga tips mengatasi kulit kepala berkerak pada bayi ini membantu ya ^_^.
(dimuat di Majalah Parenting Indonesia edisi Oktober 2015)
Oleh Jihan Davincka
***
Bermukim di Arab Saudi, Sang Negeri Penjaga Dua Kota Suci, memang agak unik. Ada beberapa peraturan lokal yang tidak umum diberlakukan di negara-negara lain. Semisal aturan bahwa perempuan tidak boleh menyetir mobil dan harus mengenakan abaya panjang berwarna hitam di ruang-ruang publik atau tempat-tempat umum.
Awal bermukim di kota Jeddah, bukan cuma masalah penyesuaian dengan banyaknya hal baru yang memenuhi kepala. Tapi juga kekhawatiran terhadap lingkungan baru bagi anak-anak.
Selama di Jakarta, saya tinggal dalam lingkungan perumahan kompleks. Tiap sore anak-anak bebas bermain di luar rumah. Bercanda dengan teman-temannya atau sekadar berlari-lari sambil bermain bola. Naik sepeda ramai-ramai juga sering.
Di Jeddah, suasananya berbeda. Kami tinggal dalam lingkungan apartemen. Lingkungan sehari-hari cenderung tertutup. Perempuan tidak terlalu bebas kemana-mana. Boleh saja, sih, kemana-mana sendirian tanpa suami. Tapi tidak mungkin tiap sore menenteng anak bermain di playground yang harus ditempuh dengan berkendaraan.
Ternyata, ada banyak tempat-tempat menarik selain dua kota suci Mekkah dan Madinah. Tiap minggu, saya sekeluarga bermain ke taman bermain gratis yang tersebar di berbagai penjuru kota. Tiap bulan kami piknik bersama-sama dengan keluarga asal Indonesia lainnya yang bermukim di Jeddah. Semacam acara gatheringkeluarga.
Teman-teman di Jeddah 🙂
Salah satu sisi positif tinggal di Saudi karena banyaknya keluarga perantau yang sama-sama berasal dari Indonesia juga. Rasa kesepian mudah dihalau karena banyak teman untuk berbagi.
Menghabiskan Senja di Gurun Bahrah
Lokasi: Kota Bahrah
No. Telp./Website: –
Jam Buka: Buka sepanjang waktu
Harga Tiket:Gratis
Anak-anak saya dari dulu paling suka bermain pasir. Di taman-taman bermain umumnya disediakan arena untuk bermain pasir berupa sebuah kotak yang luasnya beragam. Umumnya memuat hingga belasan anak untuk bermain pasir dalam waktu yang sama.
Bayangkan bagaimana senangnya mereka diajak piknik ke padang pasir nan luas. Beramai-ramai pula dengan teman-temannya yang lain.
Belum lengkap rasanya tinggal di Negeri Gurun jika belum mencoba menaklukkan daerah gurun. Di suatu sore saat akhir pekan, kami diajak teman-teman menghabiskan senja di Gurun Bahrah.
Gurun Bahrah, Arab Saudi, foto : Dani Rosyadi
Kami pun pernah beramai-ramai menjajal Gurun Bahrah yang letaknya tidak jauh dari Kota Mekkah. Berangkat dari Kota Jeddah, hanya perlu menyetir sekitar 30-40 menit.
Sepanjang perjalanan saja, banyak area gurun berpasir yang kami lewati. Kepala anak-anak sudah menempel di kaca mobil, “Nanti kita yang ke sana itu, ya, Ma. Nanti bikin benteng-benteng ya, Ma. Boleh guling-guling, ya, Ma?”
Mereka sudah tidak sabar. Saya menanggapi sambil tertawa kecil, “Iya, iya. Nanti tempatnya kayak gitu. Tapi enggak boleh dorong-dorongan, ya.”
Benar saja. Anak-anak tampaknya tidak membuang waktu begitu kami tiba di lokasi. Anak-anak kami meluncur bolak balik di atas gundukan-gundukan pasir yang berbentuk bukit-bukit kecil.
Pasirnya halus nyaris tanpa kerikil sama sekali, begitu diinjak biasanya langsung terburai. Asyiklah anak-anak menjerit sambil tertawa, “Awas tenggelam, pasirnya goyang-goyang.”
Anak-anak di Padang Bahrah (foto : Dani ROsyadi)
Kami, para orang tua saling melempar tawa melihat hebohnya mereka lari-larian ke sana ke mari. Di mata mereka, wilayah gurun mungkin sudah semacam kotak pasir raksasa.
Angin agak kencang saat hari masih terang. Menjelang senja, barulah mereda. Saat itulah, para ibu-ibu segera menggelar tikar dan membongkar barang bawaan masing-masing. Jauh-jauh Selepas senja memang sudah berniat makan malam bersama di sana. Namanya orang Indonesia, tidak bisa lepas dari selera nusantara. Jauh-jauh ke gurun, menunya tetap saja bakso kuah dan sate ayam.
Menjelang malam, mentari yang menjadi satu-satunya sumber penerangan di wilayah gurun mulai menghilang. Lampu-lampu mobil kami nyalakan sebagai sumber cahaya. Makin seru makan bareng-bareng dalam gelap karena penerangan sangat terbatas.
Anak-anak yang sudah kelelahan tidak begitu sulit diminta untuk duduk dan makan.
Tapi tetap sulit dibujuk pulang.
“Sudah gelap enggak bisa main lagi. Besok-besok lagi, ya, mainnya. Pulang, yuk.”
Karena malam, penglihatan terbatas. Mereka jadi bertanya-tanya, “Pasirnya masih ada kan, ya?”
“Masih ada, kok. Masih.”
Piknik di gurun terbuka memang seru. Murah meriah secara biaya tapi anak-anak senangnya tetap optimal. Tapi sebaiknya dilakukan di awal-awal musim panas atau di penghujung musim dingin. Kalau musim dingin saat puncak-puncaknya, suhu terlalu rendah. Bisa menggigil apalagi kalau menjelang senja sampai malam. Di puncak musim panas sebaliknya, suhu terlalu panas.
Harga Tiket:Gratis. Tapi harus disertai pemandu. Tarif pemandu tergantung rombongan. Umumnya minimal 300 riyal untuk kelompok berkisar 20 an orang)
“Ada kereta, ada kereta! Serbuuu …” Anak-anak langsung berhamburan begitu mobil-mobil kami sudah terparkir rapi di sisi sebuah tempat yang diperkenalkan oleh pemandu sebagai stasiun kereta api zaman dulu.
Stasiunnya sama sekali sudah tidak terpakai. Tapi bangunannya masih lengkap. Sebuah kereta api lengkap dengan gerbongnya juga masih berdiri tegak.
Stasiun kereta di Madain Saleh, foto : Dani Rosyadi
Stasiun ini peninggalan dari Kekaisaran Ottoman yang pernah berniat menghubungkan Mekkah-Madinah dengan kota-kota lainnya di jazirah Arab. Kereta-keretanya akan digunakan untuk mengangkut jemaah haji ke tanah suci.
Di Perang Dunia I, pembangunannya terbengkalai. Oleh pemerintah Saudi, stasiun dan keretanya direnovasi dan dijadikan tempat wisata. Lokasi stasiun ini juga menjadi bagian dari Madain Saleh. Oleh UNESCO, situs ini dinobatkan sebagai salah satu “Warisan Budaya Dunia” tahun 2008.
Madain Saleh terletak di kota Al Ula, berjarak sekitar 400 km dari Madinah. Kali ini, pikniknya kembali beramai-ramai.
Dari lokasi stasiun dan kereta tadi, kami kembali menyetir ramai-ramai dengan mengekor Pak Pemandu di belakang jeep-nya. Pemandu kami, seorang laki-laki paruh baya, yang kami panggil dengan sebutan Abu Ahmad. Orangnya cukup jenaka dan tidak kaku. Beliau menerangkan kepada kami dalam Bahasa Inggris.
Berikutnya kami berhenti dimana banyak terdapat bangunan-bangunan yang terpahat di bukit batu. Abu Ahmad mengawali dengan ucapan, “You can pick your room. You’re going to stay at this hotel.”
Tentu saja maksudnya hanya bercanda. Bangunan-bangunan batu tadi dibangun di abad pertama oleh orang-orang dari suku Nabatean. Sebagian bangunan digunakan sebagai kuburan.
Abu Ahmad menerangkan dengan penuh semangat bahwa proses pembuatan bangunan tadi sangat unik. Mengandalkan tenaga manusia biasa. Hanya dipahat dengan menggunakan alat dari kayu dan batu disertai percikan air untuk melunakkan agar mudah dibentuk. Sangat kami melongo, Abu Ahmad tersenyum puas, “Isn’t it amazing?”
Madain Saleh, foto : Dani Rosyadi
Di sekitar area tadi banyak wilayah padang pasir. Anak-anak berlarian ke sana kemari sambil berteriak-teriak.
Lokasi terakhir yang kami datangi bernama Ad Diwan. Bangunan batu khusus yang digunakan oleh orang-orang dari suku Nabatean tadi untuk berkumpul di acara-acara pemujaan. Ad Diwan juga berupa bangunan yang dibentuk dengan memahat perbukitan batu. Modelnya agak beda. Ruang tengahnya lebar dan tidak ada pintu.
Seharusnya masih ada beberapa titik yang biasanya ramai dikunjungi oleh para wisatawan. Sayang sekali, sudah terlalu sore untuk melanjutkan jalan-jalan ke lokasi lainnya.
Karena anak-anak senang sekali bermain pasir, jadi cukup repot ketika harus mengumpulkan mereka masuk ke dalam mobil untuk melanjutkan perjalanan antar lokasi tadi. Cukup makan waktu membujuk mereka.
Akhirnya sebelum senja benar-benar berada di puncaknya, kami sudah meninggalkan pintu gerbang Madain Saleh, hendak kembali ke Madinah, ke hotel tempat kami menginap.
Bersenang-senang di Pantai Thuwal
Lokasi: Kota Thuwal
No. Telp./Website: –
Jam Buka: Buka sepanjang waktu, tidak ada pagar/penghalang
Harga Tiket:Gratis
Jeddah terletak di pesisir barat Saudi, dimana terdapat beberapa pantai cantik di luar kota yang seru buat liburan.
Salah satunya Pantai Thuwal. Terletak di kota Thuwal, sekitar 80 km di utara Jeddah, dan ditempuh sekitar sejam dengan menyetir santai.
Bosan juga, ya, kalau terlalu mengandalkan fasilitas di mal-mal besar yang tersebar di berbagai penjuru kota untuk menyenangkan hati anak-anak. Mereka perlu hiburan di luar ruangan. Sementara anak-anak lebih senang bergembira beramai-ramai. Masalahnya tidak mudah juga memberikan aktivitas untuk mereka tanpa menganggu orang lain. Di kota-kota besar, di tempat-tempat publik di Saudi, privasi dijaga ketat. Ribut sedikit pasti ada yang menegur.
Tinggal jauh dari tanah air jangan sampai menjauhkan anak-anak dari akarnya. Rata-rata dari kami sudah tinggal di Arab Saudi lebih dari 2 tahun. Kami ingin mengenalkan kebiasaan anak kecil sebaya mereka di tanah air. Kami pun seru-seruan dengan mengadakan lomba makan kerupuk buat mereka.
Anak-anak umumnya suka sekali makan kerupuk. “Ayo, ayo, ayoooo … ” Mereka merespons dengan penuh semangat saat diberitahu.
Kerupuk, bukan makanan langka di Arab Saudi. Maraknya pendatang asal tanah air membuat banyak orang membuka toko-toko yang menjual makanan khas dan barang-barang lain asal Indonesia.
Foto Lomba Kerupuk di Pantai Thuwal, Arab Saudi
Lomba makan kerupuk sebenarnya untuk anak-anak yang berusia di atas 5 tahun. Tapi yang kecil-kecil juga memaksa ikut serta dalam barisan. Mereka ikut ribut, “Mau kerupuk juga.”
Mereka awalnya bingung melihat kerupuknya diikatkan di seutas tali dan berusaha memegangi kerupuk, “Kerupuknya goyang-goyang,” begitu alasan mereka.
Setelah diterangkan aturan mainnya, barulah mereka paham dan permainan bisa segera dimulai.
Acara lomba-lomba dilanjutkan dengan permainan mencari harta karun bajak laut. Sudah disiapkan oleh tim ibu-ibu topi-topi handmade dan hadiah secukupnya bagi mereka. Menang kalah semua dapat hadiah tentunya.
Ini permainan untuk anak yang lebih kecil. Ibu-ibu mengubur bola-bola warna warni dalam pasir. Nanti mereka akan mengais-ngais di pasir dan memasukkan temuan bola-bola tadi ke dalam kantong plastik. Pengumpul terbanyak akan menjadi pemenangnya.
Salah satu kelebihan pantai Thuwal dibanding pantai-pantai lain di kota Jeddah dan sekitarnya adalah kebersihan dan kelengkapan fasilitasnya. Di Thuwal, banyak petugas berseragam wara wiri membersihkan berbagai tempat di lokasi tempat wisatanya. Termasuk kamar-kamar mandi yang bebas digunakan oleh siapa saja.
Seringkali anak-anak berlarian dari arah pantai sambil memegang celana sambil panik, “Mau pipis, mau pipis!”
Tak ada masalah. Jumlah kamar mandi di sana cukup memadai dan kondisinya bersih dan sangat layak pakai. Sementara di beberapa pantai lain, fasilitas umumnya nyaris tidak ada dan tempatnya kurang terawat.
Pantai Thuwal, Saudi 🙂
Di pantai Thuwal, didirikan sebuah bangunan yang dibiarkan terbuka. Hanya ada atap yang menutupi seluruh bagian bangunan dan tiang-tiang penyangga yang berjajar rapi di sisi kanan dan kiri bangunan. Bangunan beton ini dibuat memanjang dan cukup luas untuk menampung hingga ratusan pengunjung.
Tidak cuma para orang tua yang ingin melepaskan penat dengan istirahat di atas gelaran tikar sambil memandangi birunya langit yang beradu dengan birunya air laut. Anak-anak pun tidak ketinggalan ingin bermain sepuasnya kala di sana.
Pilihan mereka untuk bersenang-senang tidak hanya dengan berenang. Sebagian anak-anak nampak asyik bermain-main dengan pasir halus yang mendominasi pelataran di pesisir pantai Thuwal.
Perairan di wilayah pantai Thuwal termasuk cukup aman untuk berenang. Karena letaknya bukan di laut lepas. Melainkan di wilayah teluk. Jadi, nyaris tanpa ombak dan pusaran airnya cukup tenang. Tak perlu khawatir melepas si kecil berlarian ke dalam air bila sudah bosan bercengkrama dengan timbunan pasir.
Buat para perempuan dewasa, kostum wajib abaya tetap harus digunakan. Abaya, berupa kain hitam panjang yang menutup hingga ujung kaki tidak boleh dilepas sekali pun para perempuan dewasa ingin beraktifitas dalam air. Sebenarnya ada beberapa tempat yang memungkinkan para perempuan untuk melepas abayanya. Misalnya di wilayah yang termasuk dalam private beach.
Private beach biasanya tidak dibuka untuk umum. Perlu undangan khusus untuk bisa menikmati tempat khusus seperti ini. Kalaupun dibuka untuk umum, kita perlu merogoh kocek untuk membayar biaya masuk.
Pantai Thuwal sendiri termasuk tempat umum. Tidak dikenakan biaya apa pun tapi aturan yang berlaku adalah aturan khas Kerajaan Saudi. Termasuk kewajiban berabaya dalam kondisi apa pun bagi para perempuan dewasa.
Saat senja telah hampir usai, wilayah perairan harus dikosongkan. Ada petugas yang lalu lalang memberi peringatan agar semua pengunjung keluar dari air sebelum gelap datang.
Setelah lelah bermain, silakan membersihkan diri di kamar-kamar mandi yang jumlahnya cukup banyak dan tersebar di berbagai penjuru wilayah pantai. Selanjutnya, marilah bersantai di atas tikar yang boleh digelar di atas pasir atau di atas lantai bangunan terbuka yang saya ceritakan sebelumnya.
Di malam hari, lampu-lampu bangunan akan dinyalakan. Beberapa penjual layangan akan bermunculan. Bila masih sanggup beraktifitas, kita bisa membeli beberapa buah layangan dan bermain bersama si kecil di bawah siraman cahaya rembulan di tepi pantai ****
Bern Swiss : Negara Swiss terdiri dari beberapa canton. Canton ini bisa diartikan sebagai wilayah atau semacam propinsi kali, ya. Termasuk ada yang namanya Canton of Bern. Total canton yang ada di Swiss ada 26.
Tiap canton punya ibukota sendiri-sendiri kayak propinsi di Indonesia saja. Misalnya Sulawesi Selatan ibukota di Makassar :D. Ihiiiyyy, mesti banget sebut-sebut tanah kelahiran *benerinSarung*.
Selain ibukota, masing-masing canton juga punya bendera sendiri-sendiri. Beda lagi sama bendera nasionalnya Negara Swiss. Tahu kan, benderanya Swiss yang kayak gimana? Canton of Luzern misalnya, benderanya berwarna putih dan biru. Canton of Zurich lain lagi, benderanya juga putih biru tapi pemisahan warnanya diagonal. Sementara kota Lausanne itu masuk Canton Vaud motif benderanya putih hijau.
Nah, ini nih bendera-nya Canton of Bern. Rame gini baik warna maupun gambar hehehe.
Flag of Bern (gambar : en.wikipedia.org)
Ada gambar beruangnya! ^_^
Saya enggak yakin, tapi ada yang bilang Bern itu diambil dari kata Baren yang artinya beruang. Sutralah ya, yang jelas memang di Bern Swiss ada taman beruang beneran :D. Sempat 2x kami ke sana.
Pertama kali ke sana, hanya suami dan anak-anak saja. Si maknyak masih lagi hamil muda pan waktu itu. Paginya kita sempat jalan-jalan sekitar rumah sekalian mau ke supermarket buat belanja-belanja dikit. Mampirlah di playground dekat rumah biar anak-anak main.
Eh pas, di supermarket, saya mendadak enggak enak badan. Langsung dingin deh rasanya badan terus gak kuat berdiri. Mana supermarketnya tuh sempit, jadi kalau duduk di antara rak bisa ganggu orang lain. Ya gimana lagi, terpaksa jongkok daripada pingsan huhuhu.
Untung akhirnya masih kuat jalan kaki balik ke apartemen. Nah, karena itu, pas siangnya hanya suami saja dan anak-anak yang ngider-ngider kota Bern Swiss. Itu emang weekend pertama kita di Bern. Enggak mau rugi, ya. Karena weekdays pasti suami kerja, weekend tidak boleh disia-siakan sedetik pun! Hahaha :p.
Waktu itu masih awal Maret. Judulnya sih sudah musim semi tapi memang umumnya Maret itu dinginnya masih cetaarrrrr. Beruang-beruangnya masih pada hibernasi. Jadi, suami sibuk foto-fotoin saja :D. Gitu yeeee, giliran bini enggak ada semangat foto-fotoin anak-anak. Padahal pemandangan bagus itu kan adanya di … *pupurBedakOlesLipstik*.
Menuju Baren Park / Bear Park Bern ini, kita tinggal naik Bus no.12 dari Bern-Bahnhof (stasiun kereta/tram/bus di Bern). Jurusan Paul-Klee-Center. Enggak jauh kok dari Bahnhof. Paling 10 menit saja.
Tempatnya lumayan ramai walaupun beruangnya lagi tidak ada. Gitu kata suami saya. Lokasinya tidak berpagar. Tempat beruangnya sendiri ada di bawah. Jadi, di lembah antara dataran tinggi dan Sungai Aare, disitu dibangun kandang beruang yang ukurannya lumayan gede.
Kita bisa mengintip Finn, Bjork, dan Ursina either dari atas atau turun melalui tangga menuju tepi sungai Aare. Heh? Sapa tuh? Itu nama beruang-beruang yang ada di sana :D. Keren kali pun nama-namanya tuh :p.
Kalau naik bus ya pasti turun di atas :D. Tempatnya juga disebut Barenplatz (Bear-Square). Di tengah-tengah ada semacam bundaran gitu. Terus bawahnya bolong :p. Kita bisa ngintip dari atas. Terus turun ke bawah melalui tangga yang disediakan kalau ngintipnya belum puas hihihihi.
Di bawah bundaran tadi, banyak patung-patung beruang dari batu. Semacam musem outdoor kecil-kecilan. Kita bisa membaca sejarah per-beruang-an di Kota Bern Swiss melalui beberapa pigura bertulis di sisi-sisi bangunannya. Kelihatan kan ya di gambar atas tuh ^_^.
Anak-anak senang banget panjat-panjatin si beruang-beruang batu di bawah ituh :p
Ada juga ruangan-ruangan tertutup berpintu kaca yang katanya isinya fosil beruang beneran gitu. Aih, ngintip bentar udah takut duluan deh eike hahaha.
Oiya, kedatangan kedua saya sudah ikut :D. Beruangnya sudah ada, lho. Sudah selesai hibernasinya. Memang, kedatangan kedua kami sudah bulan April. Cuaca sudah mulai cerah walau belum anget-anget banget. Ini hasil foto pas diintip dari atas :D.
Suami dan anak-anak terus pengin melihat dari bawah. Saya malas euy ikut turun hihihi. Jadi, pas mereka ke bawah, saya ngadem di ke dalam gedung pojokan yang supposed to be semacam Tourist-information gitu. Ada kantinnya segala di dalam. Bagian depan ada resepsionis.
Dekat resepsionis ada toko-toko suvenir gitu. Ya pura-pura sibuk saja lihat-lihat padahal enggak niat beli hahaha. Suvenir cimik-cimik saja minimal 5 frank per biji *ngeriGakTuh*. Dasar mamak-mamak kikir hahaha :p. Saya bertahan agak lama di dalam gedung soalnya dingin di luar hihihi *ngikikLicik*.
Suami sama anak-anak kayaknya enjoy juga di bawah. Sampai saya kebosanan pura-pura mau beli suvenir (hahaha), terus jalan ke luar lagi, muter-muter dekat area bundaran tadi, mereka belum juga balik -_-.
Di bawah memang lebih ramai sih. Mungkin lebih enak melihat pergerakan Finn, Bjork dan Ursula kalau dari tepian sungai Aare :). Tapi mereka sih belum aktif-aktif banget. Maklum ya, baru bangun dari bobok panjang berbulan-bulan menghabiskan musim dingin :D.
Ini penampakan kalau difoto dari bawah.
Ukuran beruang gede lho itu. Saya yang penakut jiper juga melihatnya. Padahal kan dari luar kandang aja, jauh lagi jaraknya hihhi. Tidak ada akses masuk ke dalam kandang. Ada pagar kawat yang mengeliling kandang. Paling beberapa spot kosong buat ngarahin kamera biar pagarnya enggak keambil pas motret.
Saya juga enggak paham yang mana Finn, yang mana Bjork, atau pun Ursula. Mukanya kok sama semua ya hahahaha. Warna bulunya juga mirip-mirip :p.
Ya ampun lupa satu info super penting lainnya. Tempatnya tentu saja GRATIS! Hahaha :p. Lumayanlah bisa ngabisin waktu sekitar sejam-an. Lihat beruang plus-plus lah ya. Selalu senang baca-baca keterangan tempat yang banyak bertebaran di plang-plang di sana. Sayang, bahasa Jerman semua, zzzz -_-
Ya begitulah acara jalan-jalan ke Barenplatz/Baren Park/Bear Square tempo hari alias taman beruang di Bern Swiss. Yang entah kenapa kok baru ditulis sekarang? Hahahahha. Ini masih ngantri tempat-tempat seru di Swiss yang belum sempat ditulis-tulis huhuhu. Nafsu gede, kemampuan terbatas iniiiihhh *elusElusPerutBuncit* :p.
Sebagai penutup, jangan bosan melihat penampakan 2 bocah ganteng hasil perpaduan Minang-Bugis ini yak :D. Mamah-nya kece ya so pasti dong anak-anaknya juga ganteng, ihiiiyyy *maeninAlis*.