review buku berjalan jauh fauzan mukrim

Review Buku “Berjalan Jauh” (Penulis : Fauzan Mukrim)

Ini bukan buku traveling, yaaaaa .

“Berjalan Jauh” semacam kumpulan tulisan-tulisan pendek dari seorang Ayah buat anaknya. Sesekali beberapa gombalan buat sang istri (Kak Desan, apa kabaaar ).

Dibilang buku parenting juga kurang tepat, sih.

Some said, “It’s NOT about WHAT you write BUT HOW you write it.”

Indeed. Cucmey dengan tema-tema tulisan dalam buku “Berjalan Jauh”. Tema-temanya itu benar-benar sehari-hari banget-banget. Dibaca sambil lalu terus cengengesan tapi … jleb! Menancap di hati . Tulisannya lho ya, bukan yang lain-lain (Kak Desan, halo lagi ).

review buku berjalan jauh

Misalnya di tulisan, “Malaikat yang Patah Sayapnya”. Waduh, kirain mau bahas apaaaa gitu, eh ternyata …. hahahaha. Tapi qu nangis bacanya, but let’s not ignore the fact that akyu emang anaknya cengeng. Biar cengeng yang penting kece *apaLoApaLo*.

Jangan membayangkan pesan-pesan semacam “Oh Anakku semoga kau tumbuh menjadi anak yang saleh dst … juga tampan, kaya raya, kelak bisa menyulap kardus senilai …. ” Wooooiiiii, lagi ripiu buku, Kaaaaaaak, emblem cebbienya tarok dulu ??.

Yah pokoknya, bukan pesan-pesan yang es-te-de gitu-gituuuuuu . Pesan-pesan unik tapi sederhana mengalir pelan-pelan lewat tulisan-tulisan ringan.

Beberapa juga lumayan “serius” kontennya.

Kadang udah benerin posisi duduk karena siap-siap dirasa tema yang dibaca pas agak berat, eeeeehhh…langsung wakwaw lagi baca kalimat-kalimat semacam, “Aku pernah takut pada banyak hal. Takut pada musuhnya Megaloman. Takut pada Suzanna, Eva Arnaz, Lia Warokka, Ricci Ricardo.”

Saya kebayang emak-emak generasi milenial sibuk googling siapa-siapa saja mereka ????.

Beberapa kisah juga memberi sudut pandang lain tentang bapak kepada anak. Jangan terkecoh dengan judul “Dua Ayah yang Tidak Mengobrol Tentang Bola.”

Sudah siaga pengin ngikik karena judulnya terasa jenaka, isinya yang cuma 4 halaman boro-boro bikin ketawa malah jadi mewek. This one is super, Bang Ochank .

Many times, the writer can amazingly turn simple things around (most of) us INTO something worth reading? Benar-benar berkah luar biasa ya, Bang .

Padahal kalau ketemu langsung, orangnya seneng ngikik-ngikik jugak bukan tipe yang mikir mulu bawaannya walo pakek kacamata. Waktu kecil saya pengin pakai kacamata biar dikira pintar hahahaha.

Lihat saja kan di status-statusnya, lagi jalan pagi saja ngobrolin mau sarapan apa, tetap terselip yang jleb-jleb tadi.

Fortunately, kita bacanya bisa sambil ketawa-ketawa minimal senyum-senyum.

(Ini gambar dari situsnya Mbak Shanty, yang kemarin menang giveaway untuk buku ini) :

review buku berjalan jauh

“Menonton Artis Ibu Kota”, bacanya ngakak terus di awal, tengah-tengah terasa sejuk airmata sudah di pelupuk … ealah…ujungnya kek gitu hahaha. You’re so blessed, Ayah Ochank .

Jadi, gimana rasanya pipis sebelahan dengan Afghan? ???.

“Lebah Sudah Pergi” salah satu tulisan paling pendek tapi endingnya cukup menghujam.

Ada 50 judul dalam buku yang super random. Jangan kecele dengan judul lucu-lucu, itu sudah lihat contohnya yang saya tulis di atas, kan? Kejutan-kejutannya itu lho ck ck ck.

Boleh kenalan langsung sama penulisnya Fauzan Mukrim. Atau enggak usah buang-buang waktu soalnya bininya kece dan anaknya lucu-lucu #ehGimana (hahaha), langsung aja beli bukunya via River’s Corner atau hubungi manajer beliau Desanti Sarah.

Instagram River’s Corner ada di sini, ya. Monggo dicolek via IG kalau mau.

Sukses terus ya Bang Ochank dengan karya-karyanya. Terutama di masa-masa di mana newsfeed penuh dengan gejolak perang kek sekarang-sekarang ini hahaha.

Kuingin berikan 5 of 5 (stars) buat buku ini. Tapi takut Pakde Agus Amrullah ribut-ribut teriak “Chauvinisme Mengancam Kebhinnekaan” karena kedengkiannya melihat betapa kerennya orang-orang Bugis tidak kalah dengan orang Jawa, kukasih 4.83 saja ???

Bukunya sudah saya bawa “Berjalan Jauh” sampai ke tepian Sungai Shannon di kota tinggal saya di Irlandia . Sori fotonya gitu-gitu doang. Pak Fotografer sudah gantung kamera, malas diajak motret-motret serius lagi .

review buku berjalan jauh fauzan mukrim

Irlandia, terkenal dengan sungai-sungai yang mengalir jauh di sepanjang pulau dan curah hujan yang cukup tinggi di hampir sepanjang tahun … River dan Rain, Tante Jihan tunggu di sini yaaaaa ???.

Jangan capek menulis yang baik-baik Bang Ochank, yang nyolot-nyolot biar bagian orang Sidrap ajah hahaha …

“Ininnawa mitu denre sisappa, sipudoko, sirampe teppaja” ?.

“Hanya kebaikan yang akan saling mencari, saling menjaga, dalam kenangan yang tiada putus-putusnya.”

Ya sekali-sekali sih kalian juga kenalan sama pepatah-pepatah bugis, yes?

Btw, bukunya BAHASA INDONESIA kok hahaha.

Tentang Pengungsi Afghanistan : Giving Up Your Prejudices

“Kok rasanya banyak banget ya orang Cina di sini?”

Suami saya nanya, “Mana orang Cinanya?”

“Tuh, anak-anak kecil lagi.” Tunjuk saya kepada tiga orang anak kecil yang lagi menjajakan sapu tangan lusinan yang dibandrol seharga 5-10 riyal per gulungan.

“Itu bukan orang Cina. Itu orang Afghanistan!”

Pengungsi Afghanistan (gambar ilustrasi)
Etnis Hazara dari Afghanistan bagian tengah (gambar : commons.wikimedia.org)

Lah? Kok bisa? Saya tahunya orang-orang Afghanistan secara fisik kebanyakan mirip dengan orang Arab. Agak beda dengan Pakistan yang condong ke fisik orang India. Iya nih, sampai sekarang masih enggak pandai membedakan antara orang Pakistan dan orang India :D.

Macam mana ada orang Afghanistan matanya sipit-sipit walau hidungnya mancung. Orang-orang dengan ciri begini mudah sekali ditemukan di seantero Kota Jeddah, bahkan mungkin di kota lain di Arab Saudi. Umumnya memang beprofesi sebagai pekerja informal atau (maaf) pekerja kasar. Anak-anaknya malah banyak yang jadi pengemis :(.

Salah satu penjaga gerai kerudung tempat favorit madam-madam Jeddah di Bab Shareef itu kami juluki sebagai “Tau Ming Se” . Mas-mas penjaga itu memang orang Afghanistan dengan ciri fisik mirip orang Cina tadi.

Kita sering cekikikan kalau nawar-nawar harga sama si Tau Ming Se ini :D. Dia enggak bisa bahasa Inggris, para madam bahasa Arabnya mentok di asara-asara doang hahaha.

Tidak salah asumsi saya soal ciri fisik mayoritas penduduk Afghanistan. Si “Tau Ming Se” dan teman-teman “arab sipit”nya yang memiliki ukuran tubuh rata-rata lebih mungil daripada perawakan orang Arab ini ternyata salah satu ras minoritas di Afghanistan. Tepatnya, minoritas yang dikucilkan. Mayoritas penduduk Afghanistan sendiri adalah etnis Pashtun.

Karena merasa “terpinggirkan” inilah, orang-orang Hazara banyak yang hengkang ke negara-negara lain.

Saya jadi tahu soal Pashtun-Hazara dan beberapa etnis lain di Afghanistan dan sepenggal problem sosial di sana dari salah satu bab di buku “Out of The Truck Box” karya Iqbal Aji Daryono :D.

buku iqbal

Tidak hanya tentang Afghanistan, menyerempet juga ke beberapa pengetahuan ringan soal orang-orang dari Chile, India, bahkan Macedonia.

Si Iqbal nih, gaul kaleeeeee :D. Kerja di kedutaan atau staf di badan sekelas PBB gitu? Enggak! Iqbal ini asli Jogya yang tergila-gila pada kampung halamannya tapi somehow harus hengkang ke Australia untuk sementara waktu. Menemani istrinya yang melanjutkan sekolah di sana.

Hingga akhirnya Iqbal terpikir untuk mencari kerja dan akhirnya berhasil menjadi seorang…supir truk! Anti mainstream bener, Kakaaaaa :D. Ngerti kan sekarang kenapa judul bukunya mesti bawa-bawa kata truk hahaha.

Indeed, dari pengalaman menghabiskan waktu di belakang kemudi itulah, Iqbal jadi ketemu banyak teman-teman sesama supir truk dari berbagai negara. Rata-rata pendatang dari negara-negara lain. Termasuk dari Irlandia, lho ;).

Yup, selain Amerika Serikat, Australia adalah “the dream land” bagi orang-orang dari dunia ketiga yang umumnya hendak mencari peruntungan yang lebih baik. Walau konon, dari hasil kepo-kepo Iqbal dengan salah satu rekan Indianya yang katanya seorang Punjabi, ada juga pendatang asal India yang merantau karena prestise semata.

“Out of The Truck Box” ini termasuk kategori buku traveling. Tapi bukan tentang tempat-tempat wisata keren atau traveling guide ke tempat-tempat menarik di Australia :D. Ini semacam memoar si penulis tentang hal-hal yang didapatinya saat jauh dari kampung halaman tercinta.

Gaya bahasa yang santai, di banyak halaman malah bikin ngikik-ngikik, sekilas akan membuat bukunya jadi kayak buku guyon. Tapi itulah yang selalu bikin saya sebal. Beberapa orang tertentu, punya 2 hal keren sekaligus : cerdas dan tukang bikin ngakak! :D. Tidak adilnya dunia. Susah kan ya itu. Jadi orang jenius sekaligus jadi orang yang lucu (walau belum tentu menggemaskan :p).

Tinggal di negara maju tidak membuat Iqbal serta merta langsung menganggap negeri asalnya hanya remah-remah dibanding negara besar selevel Australia. Saya senang, deh, cara Iqbal menggambarkan Australia vs Indonesia sebagai dua hal yang…berbeda! :).

Hal-hal yang dipujinya dari Australia tak harus membuat Iqbal mendadak sebal sama Indonesia ;). Banyak juga hal kurang menyenangkan yang merupakan imbas ‘kehebatan’ Negeri Kangguru yang menurutnya adalah sisi positif dari komunitas sosial di tanah air.

Good job! ^_^. Tak boleh lupa kacang pada kulitnya ;).

Walau banyakan nyengir, sering juga lepas satu bab, saya berhenti dulu. Menertawakan hal yang diceritakan sekaligus jadi tercenung.

buku iqbal 2

Sepert misalnya bahwa negara-negara maju nan sekuler menjadi pilihan-pilihan utama bahkan bagi pengungsi dari negara-negara mayoritas muslim bukan fakta yang menyenangkan, ya :(.

Saya sendiri heran, berbondong-bondong orang Pakistan berusaha keras menembus Eropa barat-Kanada-US-Australia demi apa yang mereka sebut sebagai “better life” atau “good future for our kids”.

Bahkan sekadar untuk merebut posisi-posisi sebagai pekerja informal. Iya sih, di negara-negara maju, sudah rahasia umum jika “pekerja kerah biru” pun bisa hidup layak dan “dimanusiakan” sebagaimana mestinya. Seperti kata Buya Syafi’i Maarif, keadilan sosial yang begitu keras diperintahkan oleh Alquran justru begitu sulit terwujud dalam komunitas muslim hampir di mana pun :'(.

Jangan buru-buru tunjuk sana sini, yaaa :D. Solusinya tentu bukan sesuatu yang tidak rumit. Saya juga bingung mau berpikir gimana-gimana. Sanggupnya sebatas cukup dijadikan bahan renungan :).

Dari catatan-catatan ringan Iqbal yang dibundel dalam satu buku tadi, jadi terpikir bahwa merantau seharusnya menjadi ajang kenal-kenalan. Kenal untuk mendalami. Mendalami untuk memahami. Seharusnya, nyaris tak ada ruang untuk prasangka. Karena konon, prasangka itu justru lahir karena ketidaktahuan. Macam pepatah lama, tak kenal maka tak sayang :D.

Namun, tak semua kita bisa mendapatkan kesempatan emas untuk menyorot dunia secara langsung di belahan bumi yang lain. Enggak otomatis membuat kita berhak untuk merasa picik dong, ya. Itulah gunanya membaca macam-macam ;). Saya sendiri belum pernah ke Australia hehehe :p.

Pepatah lama, buku adalah jendela dunia. Bolehlah sesekali kita keliling dunia dengan membaca buku ^_^. Termasuk mengintip kondisi sosial di banyak tempat lain via hasil kepo-kepo si supir truk satu ini.

“Out of the Truck Box” terbit awal bulan ini dan akan segera beredar di toko-toko buku di tanah air minggu depan. Kalian punya waktu semingguan untuk mikir mau beli atau … pinjam! Hahaha.

“It is never too late to give up your prejudices”
― Henry David Thoreau

Selamat membaca ;).

buku iqbal 3

Cerita Islami Inspiratif : Resensi Buku Kembali Menjadi Manusia

Buku ini berisi kumpulan cerita cerita islami inspiratif (y).

Judul Buku : Kembali Menjadi Manusia

Pengarang : Doni Febriando
Penerbit : Elex Media – Gramedia

“Islam, Membungkus Kebenaran dengan Kebaikan”

***

3 bintang pertama (out of 5) pasti akan langsung saya berikan pada pemilihan kata dan cara mengisahkan penulis yang sangat mengalir dan bikin betah. At least, buat saya, lho, ya.

Mengikat pembaca sejak halaman pertama adalah salah satu hal yang cukup sulit buat seorang penulis. Bravo, Mas Doni :). Poin ini ditaklukkan dengan cukup baik. Buku ini sudah sukses memaksa saya membacanya secara beruntun sampai halaman terakhir sampai telat keluar dari kamar padahal sudah bangun sejak dini hari hehehe. Dipelototin suami, deh hahahhaha.

Buku ini terdiri dari 26 esai yang direkatkan dalam 5 bab. Dilengkapi dengan 8 buah puisi.

Cerita islami inspiratif buku kembali menjadi manusia

Tapi sedikit masukan, ya. Kalau berbicara walisongo kayaknya kurang tepat kalau menyebut-nyebut Nusantara. Mungkin lebih cocok di Pulau Jawa saja :D. Saat walisongo aktif menyebarkan Islam di Pulau Jawa, secara bersamaan ada ulama-ulama lain yang juga mendakwahkan Islam di Sumatera dan Sulawesi. Sumber : buku “Ulama & Kekuasaan” (Penulis : Jajat Burhanuddin).

Jangan khawatir, buku ini tidak melulu membahas walisongo doang, kok :D. Isinya lebih luas.

Walau memang bernapaskan Islam, penulisnya menolak buku ini disebut buku agama. Iya sih, sesuai judulnya, buku ini cocoknya disebut “buku kemanusiaan” :D. Genre apa pula itu? :v :v :v.

Bagi yang ingin membuka wawasan terhadap ajaran Islam, bolehlah dijajal buku ini untuk mendapatkan sudut pandang yang lain tentang ajaran yang punya pakem “rahmat bagi seluruh umat manusia.”

Ah yang benar, rahmat bagi umat manusia atau umat muslim doang, nih? :p.

Penulis mempunyai satu penjelasan yang mumpuni untuk keraguan di atas. Bahwa yang namanya kebaikan itu posisinya justru lebih tinggi daripada kebenaran. Lagipula, jika manusia berbicara kebenaran, bisa ribet urusan :p. Karena, yang Mahabenar itu hanya Tuhan semata dong ya, dalam keyakinan kita sebagai umat beragama.

Kecuali ada yang menganggap, “Lah, saya mengerti semua kok Tuhan maunya apa. Saya ini bicara berdasarkan kata Tuhan.” Nah lho! Ngeri, kan? Tuhan punya kembaran gitu? Hahaha :p.

Apakah terbayangkan jika “kami paling benar” ini tidak cuma satu tapi ada beberapa bahkan banyak. Berapa banyak kesusahan hidup yang harus ditanggung oleh umat manusia? :(.

Di sinilah penulis mulai menjabarkan makna pentingnya manusia untuk selalu sadar diri.

Tulisan “Termasuk yang 72 atau yang 1?” adalah tulisan pembuka. Rasulullah sendiri yang berpetuah, umat Islam akan terpecah menjadi 73 golongan. Makin mencekam dengan lanjutan, hanya ada 1 golongan yang selamat, sedangkan 72 golongan lainnya tersesat.

Pasti langsung pening nyari pengajian mana ini yang cucok hihihihi. Harus ikut NU apa Muhammadiyah? Harus ikut PPP, PKB, atau PKS?

Penulis menguraikan pentingnya kita untuk selalu merasa bagian dari yang 72 itu ketimbang ngotot bahwa kita adalah yang 1 golongan. Selalu merasa tersesat akan membentengi kita dari perasaan tinggi hati dan mendekatkan kita pada rasa rendah hati ;). Mengakui diri masih kurang akan terus menggenjot kita untuk melakukan perbaikan diri demi mengharap rahmat dariNya.

Tak sadar, fokusnya akan selalu di diri kita sendiri. Tak banyak waktu lagi mengorek-ngorek aib orang lain. Senantiasa mencari kebaikan dalam diri orang lain. Bukankah rahmat dan ampunan Allah jauh lebih luas dari jagad raya dan seisinya? Siapalah kita hendak menelaah pikiran dan kebijaksanaan Tuhan? Siapalah kita mau cap cip cup kembang kuncup, ribet sendiri mikirin siapa yang masuk surga siapa yang masuk neraka? :D.

cerita islami inspiratif

Kategori golongan yang dimaksud bukan kriteria organisasi apalagi kartu tanda anggota :D. Tapi kepada karakter manusia-nya. Karakter kita ngikut siapa? Ya mengikuti sunnah-sunnah dan cara hidup rasulullah :). Walau tak akan sesempurna beliau, minimal kita terus mengupayakan seoptimal yang kita bisa ;).

Sunnah rasulullah? Horeeeee … poligami, poligami, poligami! :v :v :v.

Yang perempuan jangan cemberut dulu. Penulis punya satu artikel yang mengupas tentang “Monogami Juga Sunnah Rasul”. Ah, masa, masa, masa? Katanya kalau istri cuma satu mah artinya cemen. Poligami sering dianggap titik lemah Islam karena bertolakbelakang dengan jargonnya, “Memuliakan derajat perempuan.”

Baca sendiri di bukunya yaaaaa, penjabarannya sangat runut dan tidak ada yang aneh-aneh dari yang selama ini sudah pernah kita dengar :).

Penjabaran macam apa sih? Buku ini juga banyak menyebut-nyebut soal menjabarkan ibadah via ilmu tasawuf. Ibarat manusia, ilmu syariat adalah tubuh, ilmu hakikat adalah ruh. Jadi, ilmu fikih harus didampingi dengan ilmu tasawuf. Tasawuf ini juga yang akan terus menjaga agar kebenaran-kebenaran yang kita sampaikan terus menerus terbungkus dalam kebaikan. Mencerahkan bukan menyakiti. Membujuk bukan mengancam.

Kemampuan mencerahkan dan membujuk (bukannya menghina apalagi menakut-nakuti) yang menjadi kunci keberhasilan penyebaran Islam secara damai dalam tempo waktu cukup singkat di Jawa oleh para Walisongo.

Ilmu niat diperkenalkan sejak awal. Semua kegiatan kita sehari-hari jatuhnya ibadah kalau disertai niat yang benar. Tidur lebih awal itu pemalas? Enggak juga. Kalau niatnya untuk menjaga kesehatan jatuhnya ya ibadah juga. Kalau niatnya mau begadang nonton bola ya bisa lain lagi urusannya :p –> ini contoh dari bukunya langsung, ya :D.

Bukannya mengatakan sedikit-sedikit masuk neraka, walisongo menerapkan ajaran sedikit-sedikit masuk surga. Jadi, masyarakat awam mudah tertarik dan ajarannya diterima dengan suka cita ^_^.

Kutipan dari buku, “Akhirnya, para petani semakin mencintai sawahnya, para pencari kayu bakar semakin mencintai kelestarian hutan, para nelayan semakin mencintai perahu layarnya, dan sebagainya. Semakin cinta, karena Walisongo giat menyadarkan nenek moyang kita, bahwa semua keseharian umat manusia ternyata adalah jalan menujuNya, asal diniati untuk Allah.”

Soal kepercayaan penduduk saat itu yang memuliakan sapi, disikapi oleh Walisongo dengan menunjukkan surah Al Baqarah, bahwa Islam pun memuliakan hewan sapi :). Saat hari raya qurban, sapi tidak boleh disembelih, diganti dengan kerbau.

Kutipan dari buku, “Di atas ilmu fikih, masih ada ilmu ushul fikih, dan di atasnya lagi masih ada ilmu tasawuf. Maksudnya, menghargai perasaan orang lain lebih diutamakan, daripada sekadar halal-haram. Kebaikan lebih utama daripada kebenaran.”

Dan banyak suri tauladan ala walisongo yang disampaikan dalam tulisan-tulisan lainnya. Seperti dalam “Jejak-jejak Walisongo” dan “Bertemu Walisongo di Candi Prambanan.”

Tulisan “Beberapa Jalan Mudah Menuju Surga” juga jangan sampai dilewatkan. Penekanan bahwa ayat-ayat alquran sebenarnya lebih banyak membahas aturan bermuamalah dalam kehidupan sosial. Untuk melengkapi argumen saya tempo hari untuk membantah tuduhan kaum atheis ya, kalau agama hanya peduli pada ritual individu semata. Dalam Islam sendiri, jelas tidak begitu ;).

Allah Maha Pengasih
Allah Maha Pengasih

Berbakti kepada kedua orang tua dalam kondisi apa pun, menyayangi makhluk lain ciptaan Tuhan seperti binatang dan lingkungan hidup, bisa menjadi modal penting asalkan dilakukan dengan istiqamah dan terus menerus.

Belajar memahami kondisi orang lain bisa dijadikan senjata ampun untuk menjaga dari sifat tinggi hati yang sering berujung penghakiman kepada orang lain. Jangan berpikir kehidupan ini seperti buku teks. Apalagi mencoba memasangkan ukuran-ukuran dari pengalaman kita kepada orang lain.

Kehidupan ini sangat kompleks. Seperti contoh dalam buku, memandang pelacuran. Jangan terlampau mudah mengklaim melacur = masuk neraka. Masih ada wacara lain, “menolong”.

Kutipan dari buku, “Kalau tidak bisa memperbaiki, jangan merusak. Kalau tidak bisa membuat seseorang keluar dari kubangan lumpur dosa, jangan melemparinya dengan batu. Kalau kita tidak bisa menolong seseorang keluar dari pekerjaan melacurkan diri, kita jangan sampai menambah kesedihannya.”

Rasa belas kasihan itu adalah sifat dasar manusia yang seharusnya makin tergali seiring keyakinan kita kepada Tuhan. Bukannya malah terkikis atas nama agama :(.

Makna-makna ibadah ritual dari ilmu tasawufnya juga dijabarkan di sini. Hikmah-hikmah di balik gerakan salat misalnya. Agar kita tidak “Meninggalkan Allah di Atas Sajadah”, salah satu judul tulisan lain dalam buku ini.

Demikian garis besar isi buku “Kembali Menjadi Manusia”. Semoga kehangatan dan ketenangan bisa kita peroleh dari isinya. Kedua hal yang mudah-mudahan bisa menguatkan kita bahwa siapa bilang menjadi orang saleh itu mengharuskan kita memusuhi ajaran lain? Apakah akidah yang teguh terkadang mewajibkan kita harus memilih hal yang dirasa tidak nyaman dan menyakiti orang lain?

Kebaikan itu posisinya selalu paling atas ;). Kebaikanlah yang seharusnya membungkus semua kebenaran yang kita yakini.

Secara keseluruhan 4.5 bintang (out of 5) untuk buku ini :D. Segera akan saya list di akun Goodreads saya :D.

Akhir kata saya kutipkan ini kalimat yang pernah saya baca di salah satu tulisannya Mas Iqbal Aji Daryono (entah yang mana hihihihi). Kurang lebihnya begini, “Kita tidak boleh lupa, selain mengakui hak kita sebagai umat beragama kita tidak boleh lupa kewajiban kita sebagai … umat manusia :).”

Dia manusia, mereka manusia, kita pun manusia. Manusia, tempat salah dan lupa (Al insaanu mahallul khatha wan nisyaan). Mari … kembali menjadi manusia.

Selamat membaca ^_^.

Kembali Menjadi Manusia

Athlone, Januari 2015
-Jihan Davincka-

***

Little Things That Count

Pertengahan 1980, George Kelling dipekerjakan oleh New York Transit Authority dalam rangka pengawasan proyek pembangunan kembali sistem kereta bawah tanah yang menguras dana sampai jutaan millar dollar. Dipilihlah seorang direktur baru, David Gunn, untuk membantu tugas ini.

Banyak pejabat di direktorat terkait yang menyarankan Gunn agar tidak usah mengurusi masalah corat-coret di badan gerbong oleh anak-anak muda iseng. Mereka lebih menginginkan Gunn untuk fokus pada kejahatan-kejahatan yang lebih serius dan keandalan sistem. Masuk akal sih, ya.

Gambar : artnewsandviews.com
New York Graffiti Gambar : artnewsandviews.com

Ingat, New York pada saat itu sudah hampir lumpuh akibat tingginya kejahatan di kawasan tersebut. Segala macam kejahatan mulai dari perkosaan, perampokan, pencurian, pemerasan, pengedaran narkoba dsb. Komplit, plit, plit hihihi. Dari tahun ke tahun makin tidak terkendalikan.

Wajar saja jika hampir seluruh pejabat tadi meremehkan keinginan Gunn yang ingin serius membuat gebrakan awal dengan memberantas masalah corat-coret ini. Kalau dipikir-pikir, apa sih artinya corat-coret kereta dengan kasus pemerkosaan dan perampokan serta pembunuhan misalnya???

Gunn berkeras. Katanya, “Corat coret atau grafiti adalah simbol keambrukan sistem ini! Kita ingin menambahkan kereta-kereta baru yang per buahnya bisa sepuluh juta dolar. JIka tak mampu kita lindungi, kereta-kereta ini hanya akan berumur sehari dan setelahnya hanya akan ada … vandalisme.”

Dibuatlah sebuah sistem dengan anggaran dana yang disediakan. Semua diperhitungkan secara rinci dan cermat. Enggak hanya sekadar maju mundur cantik, maju mundur cantik pastinya ‪#‎eaaaaa‬ hahahahhahha 😀.

David Gunn, gambar : observer.com
David Gunn, gambar : observer.com

Gunn meminta timnya bereksperimen dengan teknik-teknik baru untuk membersihkan corat-coret. Gerbong yang sudah dicoret harus dipisahkan dari gerbong yang bersih. Di tiap terminal, sudah ada tim khusus yang disiapkan untuk menghapus grafiti-grafiti baru yang ada.

Jika gerbong gagal dibersihkan, gerbong tidak boleh diberangkatkan. Disiplin banget deh ngurusin masalah corat coret doang.

Ada beberapa fasilitas untuk menginapkan rangkaian kereta tertentu. Di mana saat malam hari, para berandalan akan menyelinap masuk dan seperti biasa, membuat gratifiti di badan gerbong.

Oleh Gunn, mereka dibiarkan. Tapi begitu grafitinya selesai, Gunn mengerahkan anak buahnya untuk langsung membersihkannya saat itu juga. Anak-anak ini butuh 3 hari untuk menyelesaikannya. Tapi Gunn mematahkan semangat mereka karena dia memastikan grafiti yang susah payah dibuat itu tak akan bisa terlihat oleh publik.

Gunn meminta anak buahnya untuk pantang menyerah. Dicoret lagi,, dibersihkan lagi, dicoret lagi, dibersihkan lagi, dicoret lagi, dibersihkan lagi.

Bersamaan pula dengan pembersihan grafiti oleh Gunn, NY Transit Authority melantik William Bratton menjadi komandan polisi kereta api baru. Seperti David Gunn, gebrakan yang dilakukan Bratton sama “aneh”nya.

Bratton juga memilih untuk fokus luar biasa pada penumpang-penumpang nakal yang naik kereta tanpa karcis. Kala itu, saking ‘rusaknya’ penegakan hukum di New York, naik kereta tanpa karcis itu sudah menjadi hal yang lumrah. Ada yang meloncati pagar pembatas dan lari masuk ke kereta. Ada yang mendobrakk pintu dan merusak mesin pembayar tiket. Orang ya mana peduli. Jangankan enggak punya karcis, bunuh-bunuhan di kereta aja juga saat itu terlihat lumrah, kok.

Bratton menganalisa dan berhari-hari bekerja penuh hampir 24 jam untuk memilih stasiun mana yang akan dipilihnya untuk proses pertama. Akhirnya dipilih stasiun dengan pelanggaran terbanyak.

Penjaga ditambah dan diperketat di setiap palang pintu pembelian karcis. Yang tidak punya karcis langsung disergap dan dikumpulkan. Proses administrasi yang biasanya memakan waktu seharian karena harus dibawa ke kantor polisi, isi berkas bla bla dipangkas oleh Bratton.

Bratton menyulap sebuah bus khusus menjadi sebuah kantor polisi yang dinamis, lengkap dengan mesin faks, telepon, ruang tahanan dan fasilitas sidik jari. Urusan penanganan seronga tangkapan berubah menjadi beberapa jam saja.

NYC Subway 1991 gambar : centennial.journalism.columbia.edu
NYC Subway 1991 gambar : centennial.journalism.columbia.edu

Semua yang tertangkap diperiksa dengan teliti. Banyak kalangan kepolisian yang mencemooh kerjaan Bratton. Diantara sekian banyak kejahatan berat, kok ya mau-maunya ngurusin yang remeh-remeh begitu?

Ternyata … ditemukan banyak fakta-fakta mengejutkan. Dari penggeledahan terhadap para pelanggar yang naik kereta tanpa karcis, ada saja yang kedapatan membawa senjata tajam tanpa izin, pisau, uang palsu dan bahkan harta hasil rampokan yang tak bisa mereka pertanggungjawabkan.

Voila! Tiba-tiba bagi kepolisian, penangkapan ini seperti tambang emas. Banyak kriminal-kriminal yang sedang diburu yang tidak sengaja terjaring melalui penyergapan yang dilakukan oleh Bratton tadi.

Bratton juga menerapkan dengan ketat aturan pengusiran orang mabuk dari stasiun bawah tanah. Perilaku yang mengganggu orang lain yang sifatnya remeh-remeh macam kedapatan membuang sampah sembarangan di areal stasiun juga ditindak secara masif, terstruktur dan sistematis :p.

Setelah Rudolph Giuliani terpilih sebagai wallikota New York 1994, Bratton diangkat menjadi Kepala Kepolisian New York City dan mulailah ia menerapkan hal yang sama di jajaran kepolisian kota.

Caranya ya gitu. Menindak dengan tegas kejahatan-kejahatan kecil seperti membuang sampah sembarangan (kali ini di seantero kota dihukum), buang air kecil sembarangan, melempar botol, mabuk di tempat umum (catat ya, di negara maju yang lo bilang sekuler itu, orang kagak boleh mabuk sembarangan cuy :p), dsb.

William Bratton di sampul Majalah Time ^_^
William Bratton di sampul Majalah Time ^_^

Nah, kita balik lagi ke kalimat pertama, ya. Siapa George Kelling tadi?

Again and again. Ini adalah sedikit ringkasan dari Buku Tipping Point hihihi. Duh, ni buku kagak habis-habis dibahas euy. Habisnya memang isinya menggemparkan .

George Kelling adalah salah satu penganut teori “Broken Windows”. Beliau adalah seorang kriminolog yang mengemukakan bahwa kriminalitas adalah akibat tak terelakkan dari ketidakteraturan. Jika jendela sebuah rumah pecah namun dibiarkan saja, siapa pun yang lewat dan melihatnya cenderung akan berpikir pastilah di situ tidak ada yang peduli atau rumahnya tak berpenghuni.

Dalam waktu singkat, akan makin banyak jendela rumah yang pecah dan terus berkembang menjadi kejahatan lebih serius karena .. ketidakpedulian.

Awal yang remeh seperti corat coret dan naik kereta tanpa karcis, jika tidak ditindak tegas, hanya akan menjadi semacam ajakan bagi orang banyak untuk melakukan kejahatan yang lebih serius.

Inilah jawaban dari MISTERIUSnya kasus kejahatan di New York yang mencapai Tipping Point di tahun 1995. Secara mencengangkan, angka kejahatan dari tahun 70 an yang terus menukik naik, tiba-tiba menurun tajam. Dalam tempo 5 tahun saja, kasus pembunuhan berkurang sebanyak lebih dari 60%. Dan kejahatan-kejahatan serius lainnya terpangkas sampai kurang dari setengahnya. Fantastis!

Penerapan Teori “Broken Windows” ini yang akhirnya diakui sebagai pemicu utama “keajaiban” yang terjadi di kota New York yang menjelma menjadi kota ciamik setelah puluhan tahun bergulat dalam kemerosotan moral di seantero wilayahnya.

Gambar : newluxuryfeed.com
Gambar : newluxuryfeed.com

Saya kembali membaca lembar-lembar yang menceritakan tentang hal ini karena saya ingin membagikan harapan baru kepada teman-teman semua. Bahwa New York City yang keren itu dulunya tak lebih daripada sebuah kampung besar para penjahat dari segala kalangan.

Siapa tahu, ya siapa tahu… Jakarta bisa menjadi New York City hihihi. Dan lebih optimis lagi, Indonesia bisa berada di jalur yang sama ^_^.

Pemerintahan baru telah resmi dimulai. Kabinet sudah terbentuk. Diantara banyak pro dan kontra, mari terus kita awasi :).

Satu hal kecil telah membuat harapan tadi mulai bersemi dalam hati. Hati saya sih, ya, maksudnya .

Saat melihat sebuah foto di mana ada puluhan orang berkumpul dalam ruangan dalam istana. Orang-orang ini membelakangi kamera. Tapi semuanya seragam dengan memakai baju putih dan celana hitam. Saya sempat ngikik dalam hati, “Ya ampun, Jokowi sudah mulai kloningan neh!” Hahhahahaha.

Ternyata benar! Orang-orang yang berpakaian (cuma) sehelai kemeja putih dan celana hitam tadi adalah anggota-anggota kabinet yang akan segera diumumkan.

Kabinet Kerja 2014 - 2019 (gambar : beritasatu.com)
Kabinet Kerja 2014 – 2019 (gambar : beritasatu.com)

Jas-jas dan penampilan khas pejabat yang menurut saya kurang membumi itu ternyata sudah memperlihatkan sedikit cahaya perubahan. Kecil sih memang kalau dilihat dari banyaknya permasalahan. Teramat kecil dan mungkin dianggap tidak penting.

Btw, menurut saya beberapa tahun terakhir KPK sudah mulai menerapkan “Broken Windows” ini. Walau banyak suara-suara miring, “Dasar pengecut! Beraninya sama ikan teri! Tangkap kakapnya!”

Buktinya, dari penangkapan Nazaruddin tempo hari, sebuah persekongkolan besar di Hambalang ikut terbongkar . Mari kita semangati KPK untuk terus istiqamah dan mendapat dukungan penuh dari pemerintahan baru beserta seluruh jajaran kejaksaan-pengadilan dan kepolisian.

Muluk-muluk banget ih, hihihi. Tapi konon, harapan adalah satu-satunya hal yang membuat hidup terasa hidup .

“Never deprive someone of hope; it might be all they have.” H. Jackson Brown, Jr.

Let’s not kill THIS HOPE.

Setidaknya, sahih ya kalau saya bilang, “Sebuah perubahan telah terjadi.”

Walau di daratan Eropa musim gugur lagi ngamuk-ngamuk-nya, semoga perubahan kecil tadi adalah awal dari dimulainya “musim semi” di kawasan tanah air kita tercinta .

Selamat bekerja, Kabinet Kerja 2014 – 2019 . Doa terbaik kami (eh, minimal saya deh hehehehe) insya Allah akan terus mengiringi. For every little things that count .

Semoga suatu hari kita bisa kembali khusyuk menyanyikan bait-bait lagu ini,

“Indonesia sejak dulu kala, selalu dipuja-puja bangsa” 🙂.

Stand still, Pakde. Stand still.

cropped-tagline1.jpg

***

Akidah atau Akhlak?

Saat Rasulullah pertama kali menyiarkan Islam di masa awal dulu, tentangan terbesar adalah dalam masalah akidah. Orang-orang lebih banyak mengkhawatirkan zona nyaman mereka yang terganggu dengan ajaran Nabi Muhammad.

Nabi-nabi lain sebelum Nabi Muhammad juga begitu. Umat yang diberi tahu masalah tauhid umumnya menolak dari segi akidah.

Lebih dari 1500 tahun setelah Nabi Muhammad wafat, keutamaan akhlaknya terus dipuja-puja oleh ilmuwan barat sekali pun.

Beberapa tahun lalu saya membaca biografi “Sang Nabi” karangan Karen Armstrong yang jelas-jelas bukan seorang muslim. Armstrong menekankan sekali kesuksesan Rasulullah tidak lepas dari akhlaknya yang tak pernah meresahkan “siapa pun”, termasuk “pihak musuh”.

Salah satu yang dibahas yang sangat berkesan bagi saya adalah Perjanjian Hudaibiyah. Armstrong memuji ‘taktik’ Nabi Muhammad yang menurutnya tak akan lahir dari orang sembarangan.

Perjanjian Hudaibiyah (gambar: www.islam.ru)
Perjanjian Hudaibiyah (gambar: www.islam.ru)

Perjanjian Hudaibiyah yang sekilas terlihat sangat berat sebelah dan merugikan kaum muslim mendapat kecaman keras dari kalangan para sahabat. Nabi Muhammad bergeming. Tekanan para sahabat, kebimbangan banyak umat tidak membuatnya mengubah keputusan yang sudah diambil.

Perjanjian dalam tempo waktu 10 tahun tetap dilaksanakan. Salah satu intinya, orang Madinah yang berkunjung ke Mekkah tak boleh kembali ke Madinah. Sementara orang Mekkah yang datang ke Madinah boleh bolak balik sesuka hati Mekkah-Madinah.

Wah, wah, pantas saja para sahabat banyak yang resah. Rasanya kok merugikan umat muslim di Madinah?

Hasilnya? Sebelum 10 tahun, Islam telah berhasil mengubah peta kehidupan sosial masyarakat Mekkah . Begitulah awalnya peristiwa futuh Mekkah terjadi. Direbutnya Sang Kota Suci tanpa pertumpahan darah berarti. Istilah, dikuasai dengan damai. Damai, literally!

Apa sebab?

Masyarakat Madinah, walau pun heterogen hidup dalam naungan Islam dan berjalan dalam perangkat Syariah Islam yang memang terkenal dengan jargon “rahmatan lil aalamiin” nya . Jangan dikira di Madinah semua orang dipaksa untuk memeluk akidah Islam. No, no. Sistemnya Islam, tapi suka-suka situ mau ke sinagog atau ke gereja 😉.

Akhlak para penduduk Madinah berhasil mencuri hati mereka yang di Mekkah. Kalau sudah ke Mekkah, orang Madinah kan enggak boleh pulang lagi, harus bermukim dan berbaur di sana. Di Mekkah inilah, orang-orang Madinah hasil binaan Rasulullah menunjukkan cara bermasyarakat yang mereka anut di Madinah sana.

Gambar : www.albabuldiin.com
Gambar : www.albabuldiin.com

Perlahan dan pasti, penduduk Mekkah mulai melupakan kebencian pada kaum muslim yang dulu mereka anggap tengah berusaha menghancurkan kepercayaan nenek moyang. Mereka melihat saudara-saudara mereka yang dulu hijrah bersama Rasulullah tumbuh menjadi insan-insan saleh dan sama sekali tidak menakutkan seperti yang mereka sangkakan. Tak ada dengki tak ada paksaan. Kesejukan malah yang didapatkan.

Demikian pula orang-orang Mekkah yang datang ke Madinah, terpukau dengan sistem kemasyarakatan yang “islami” ini . Mereka pun kembali ke Mekkah dan menceritakan betapa asoynya kehidupan di Madinah.
Sungguh taktik yang luar biasa. Salawat dan puji-pujian bagi Allah dan rasulNya 🙂.

CMIIW, ya. Mohon dibetulin kalau ada yang salah. Siapa tahu referensi saya kurang tepat hehe.

Antara Madinah dan Mekkah di masa lampau sungguh kontras dengan kehidupan umat muslim di masa terkini.

muhammad karen armstrong

Yang pernah ramai adalah wawancara Bill Maher dan Sam Harris yang juga mengorbitkan nama Ben Affleck sebagai pembela muslim. But sorry to say, setelah lihat interviewnya…anu…Ben Affleck agak-agak gak nyambung sih emang hehehe. Raise your knowledge Ben, not your voice :p.

Fokus ke pendapat Sam Harris dulu, yuk. Keresahan Bill Maher dan Sam Harris justru pada kelakuan umat Islam ekstremis yang mereka klaim sebagai ‘kelakuan mayoritas’ umat muslim. Hm, saya enggak punya datanya. Jangan-jangan benar itu, tak sedikit dari kaum muslim yang diam-diam bersorak memberi semangat kepada kaum ekstrimis itu? 🙁.

Beberapa situs “islami” di Indonesia menobatkan beberapa pelaku pengeboman bunuh diri di tempat sipil sebagai “pahlawan”. Zzzzzzz -_-.

Tapi seorang narasumber satu lagi mementahkan anggapan itu dengan menuduh media-media internasional yang terlalu gencar memberitakan sisi negatif kaum muslim. Tapi kemudian ada sebuah komentar di videonya yang bikin dada sesak “…kalau mereka mengklaim itu hanya orang-orang tertentu yang ekstrimis lalu mengapa tak ada yang lantang menentangnya? Sisanya kok diam saja? Their silence is deafening.”

Ya gimana dong, kalau kita tentang kebrutalan mereka, kita pula yang dibilang liberal-sekular-anu-anu-anu :p.

Apakah kita tidak terganggu jika dulu Rasulullah memperjuangkan akidah sekarang malah siapa yang ngomongin akidah Islam? Karena aksi terorisme-nya bergema lebih kuat? Belum masuk ranah akidah, orang lain sudah dibikin takut dengan akhlak orang-orang yang (katanya) memperjuangkan akidah ini.

Katanya, Islam itu membunuhi siapa pun yang dianggap kafir. Memang benar lho. Ada yang menganggap kita harus berperang (literally, berperang) melawan fitnah. Fitnah terbesar = kemusyrikan, musyrik = bukan agama Islam. Pingsan gak lo? -_-.

Sebuah situs dengan lincah mengumpulkan ayat-ayat dalam alquran yang ditengarai sebagai perintah Tuhan bagi kaum muslim untuk bunuh-bunuh-bunuh. Sekitar 209 ayat. Padahal alquran terdiri dari 6 ribuan ayat.

Fokus pada ayat-ayat yang turun saat peperangan fisik terjadi lantas bagaimana dengan Al Mumtahanah (surah ke-60, juz 28)? Ayat 8 dan 9-nya sungguh sejuk dan sangat mudah dipahami.

Komentar-komentar di video juga bagus sebagai bahan kita berkaca, “Islam itu memang agama yang paling beda. Kita harus ikut mereka. Untuk masuk surga, kita harus membunuhi banyak-banyak orang kafir. Orang kafir ya orang yang enggak percaya sama ajaran agama mereka. Bayangkan, mereka hidup di dunia, mengejar surga dengan cara kekerasan. Dan mereka mengklaim agama mereka sebagai agama perdamaian. It’s really hard to understand that thing. Or is it just me?”

Ben Affleck, Bill Maher, Sam Harris (gambar : theguardian.com)
Ben Affleck, Bill Maher, Sam Harris (gambar : theguardian.com)

Susah mau membela diri kalau tahu ayat-ayat alquran saja kita tidak. Jika diberondong dengan ayat-ayat kekerasan, jangan-jangan sebagian dari kita juga bingung hihihihi. Iya ya, alquran nyuruhnya bunuh-bunuhin orang euy. Hehehe.

Insya Allah, alquran itu menyimpan banyak sejarah masa lampau untuk kita belajar dan berkaca bukan untuk menghakimi siapa pun. Mengurai keutamaan tauhid dan iman sekaligus menjabarkan keutamaan akhlak dan tingkah laku.

Perhatikan saja, banyak sekali ayat yang diterjemahkan sebagai… “Beriman dan berbuat kebaikan”, “beriman dan beramal baik”, “beriman dan menganjurkan untuk memberi makan kaum miskin” pokoknya iman selalu disertai dengan perbuatan baik.

Tak berarti iman dan tauhid nomor 2 atau tidak penting. Enggak gitu ya. Semuanya penting. Justru kita ini yang sering mengesampingkan urusan muamalah. Ah, ndak penting-penting amat lah itu. Sing penting syahadat-salat-zakat-puasa. Beres. Surga di tangan.

Apa kita tidak terusik jika makin ke sini umat muslim ditakuti justru karena tingkah lakunya? . Boro-boro mau menerangkan tauhid, makna zakat, qurban, berpuasa, kalau belum-belum mereka sudah merinding duluan melihat penampakan dan aksi-aksi kita?

Sama-sama kita buktikan bahwa kehadiran umat muslim seharusnya selalu membawa kesejukan, kedamaian, keadilan, kesejahteraan pada sekitarnya. Sesuai pakemnya, Islam … rahmatan lil aalamiin, rahmat bagi seluruh umat manusia. SELURUH. Bukan buat umat muslim doang toh ya ;).