Sifat Wanita : What Women Want

Sifat wanita : “Most women want a man that has it all. But a real woman seeks success on her own, only to find a king to build an empire with.”

Saya langsung sadar, I’m that most women! Hahaha :p.

I'm not sure where I get this pic :D
I’m not sure where I get this pic 😀

Iya banget. Semasa gadis sesekali saya membeli majalah Cosmopolitan yang dulunya bertajuk “Fun Fearless Female”. No matter how hard I try to become one, akhirnya saya harus terima kenyataan saya ini tipe “I can’t stand being alone. Pokoknya persetan dengan semua, saya mau kawin! Titik.” *benerinBuluMata*.

Beberapa teman malah menganggap saya tipe pengejar karier. Ya mungkin itu yang berusaha saya tunjukkan. Entah karena dulu jomblonya kelamaan jadi butuh pelarian atau karena biar dianggap keren aja gitu hihihi :p.

Btw, quote di atas saya temukan di newsfeed sudah lama banget. Di postingan siapa gitu. Tertulis rapi dengan latar Beyonce lagi tos-tosan sama suaminya.

Walau saat belum menikah bawaannya haus darah melulu saban lihat laki-laki lajang (hahaha), saya selalu kagum dengan tipe-tipe Mbak Beyonce ini ^_^. Mirip dengan salah satu sahabat saya dulu. Yang selalu menertawakan keinginan saya untuk cepat-cepat kawin. Ealah, eike masih jatuh bangun mengejar cinta *tsaaah*, dese sudah duluan duduk di pelaminan -_-. Ah, ah, takdir siapa yang tahu ya ;).

Saya pribadi cenderung merasa di era terkini, kemandirian perempuan sering dianggap berbanding lurus dengan ketidakbergantungannya (duh apa sih ini bahasa enaknya :p) kepada kaum lelaki. Makin enggak bergantung makin mandiri. Di mana yang namanya mandiri identik dengan cari duit sendiri.

Dari cara kalian menghandle keuangan, untuk perempuan nih ya, termasuk “tipe Beyonce” atau tipe “ngikut apa kata ATM suami”? Hahahaha :D.

Emang nih jadi perempuan kadang pilihannya jadi ribet sendiri. Yang misalnya berkarier demi alasan kemandirian dihantui tuduhan macam-macam. Mulai dari alasan menelantarkan anak sampai ancaman enggak masuk surga :p. Ini beneran lho.

Tapi yang memilih “santai” di rumah pun, pressurenya beda lagi. Tempo hari saya pernah mendapat beberapa email dari yang ngakunya suka baca blog dan bertanya kira-kira cara nyari duit dari rumah apa saja ya? Katanya zaman sekarang kalau perempuan enggak bisa nyari duit sendiri tuh anu-anu-anu bla-bla bla. Udah berasa pengasuh rubrik Oh Mama Oh Papa gak lo? Hahaha.

sifat wanita Gambar : quizony.com
Gambar : quizony.com

Yaela, saya juga enggak punya penghasilan tetap kali, ah :p. Ya paling juga sesekali ngirim tulisan ke media cetak kalau lagi banyak lowong dan enggak malas. Iklan di blog? Waduuuuhhh, masih jauh banget dari harapan :D.

Sebagian teman saya beralibi katanya enggak betah kalau dikit-dikit minta suami. Lah emang kenapa? Yang enggak bener itu kalau dikit-dikit minta uang dari … suami orang lain! *asahGolok* :v :v.

Kalau mintanya dari suami sendiri salahnya di mana? ;). Terserah saja kalau ada yang merasa ‘gengsi’ dan merasa lebih keren kalau bisa punya sendiri. Preferensi masing-masing ^_^. Tidak ada hubungannya dengan BENAR atau SALAH :D.

Ada yang merasa suami sungguh beruntung punya istri yang juga mau bekerja keras mencari uang sendiri. Ah, tidak juga :). Ada kok tipe suami “konservatif”, yang lebih nyaman kalau istrinya tenang di rumah mengurus anak dan rumah tangga. Suami saya salah satunya hehehe.

Saat masih kerja kantoran, pernah mengobrol dengan teman di kantor (laki-laki), dia punya pemikiran, “Bini gue mah gue larang berhenti kerja, Je. Gimana ya? Kalau dia di rumah-rumah aja takut dianya jadi enggak update dan kuper.”

Waduh! Urusan kurang update dan kurang pergaulan di era internet begini kayaknya enggak relevan lagi lah yaoowww hehehehe. Gak ada hubungannya, kudet sama apakah seorang ibu bekerja atau tidak ;). Emang iya yang jarang keluar rumah sudah pasti lebih kudet?

Sini, sini, adu-aduan update info sama gue berani kagak? Mau cerdas cermat topik apa? Gosip artis, politik, ekonomi? Hahhahaha *kepretPakaiDaster*. Itu mah tergantung tingkat ke-kepo-an kali yaaaaaaa :p.

It’s good if you’re a woman who can stand on your own dalam urusan keuangan ;). Ih, saya mah senang banget punya sahabat model begini. Kalau ketemuan dan makan bareng tinggal merajuk, “Gue kan pengangguran, elo kerja. Traktir yak.”

sifat wanita Gambar : buzzquotes.com
Gambar : buzzquotes.com

Jangan iri atau merasa terintimidasi ^_^. Rugi sendiri. Mending kita hepi-hepi bareng :D. Duh, langsung nyari daftar teman yang harus dihubungi kalau mudik buat minta traktir hihihihi :p.

Hal lainnya, kita cenderung mengeneralisasi kasus per kasus.

Misalnya ada kasus istri yang disia-siakan setelah dicerai. Hidup jadi susah harus ngurus anak sendiri dan suami ogah mengongkosi. Katanya si perempuan ini hanya bisa pasrah enggak tahu harus ngapain. Langsung deh jump into conclusion, “Tuh kaaaaaaan, gue bilang juga apa. Perempuan tuh harus bisa cari duit sendiri. Harus!”

Padahal ada juga kasus perceraian yang justru menimpa seorang perempuan saat dirinya ada di puncak karier, tampangnya juga cantik dan bodinya oke, tapi ya itu…suaminya tetap berpaling ke perempuan lain.

Soal kasus pertama, itulah mengapa menurut saya jadi perempuan itu harus cerdas dan kuat, untuk alasan apa pun. Tapi jangan menyempitkan arti kecerdasan dan kekuatan dengan hal-hal standar macam, “harus pintar nyari duit sendiri/berdikari” bla bla lainnya.

Pahamilah hak kita sebagai istri :). Saya juga tipe yang percaya rezeki itu di tangan Tuhan, tapi ada yang namanya ikhtiar kan? Dalam perceraian ada yang namanya harta gono gini.

Banyak yang mengira gono-gini ini maksudnya harta atas nama bersama. Salah! :D. Atas nama suami/nama istri pun jika diperoleh setelah menikah (dan kita tidak terikat dalam perjanjian pranikah apa pun) maka seharusnya bisa dimasukkan sebagai harta gono gini.

Kewajiban membekali anak itu juga ada pada suami. Sudah bercerai pun ya tetap begitu.

Jangan gaptek urusan keuangan walau aslinya kita enggak pinter masalah ekonomi :). SEkali lagi, pahami hak kita. Tapi jangan lupa, bersama hak selalu ada kewajiban yang menyertai ;). Jangan asyik saja menuntut suami harus ini itu sementara situ sendiri “pelayanan”nya sudah oke ndak? :p.

Masalah pembawaan aja sih ya ini. Saya sendiri tipe “pemalas” hahaha. Enggak pinter dalam urusan mengelola duit :p. Semuanya dikelola suami. Tapiiiiii, saya tahu semua seluk beluknya ;). Harus mau belajar.

Selain cerdas juga harus kuat. Kuat tidak selalu berarti mandiri secara ekonomi juga. Kuat ini lebih ke arah mental. Selalu persiapkan untuk kemungkinan terburuk apalagi dalam kondisi kita tidak punya ladang uang selain kantong suami hehehe.

Tapi saya pernah ketemu perempuan yang ternyata setelah ditinggal suaminya tetap “terpuruk begitu dalam” padahal beliau adalah tipe yang juga ikut mencari nafkah bersama suami. We don’t judge her. Let’s learn something, yes? :). Ini masalah mental juga.

Ada juga yang pernah bilang katanya kalau “ibu rumah tangga doang” (whatever this means :p), nanti enggak dapat respek dari suami maupun anak-anak. Wah, wah, wah, situ kudu kenalan sama eike punya ibu mertua hehehe :p.

Beliau, dari sejak menikah sampai detik ini tidak pernah sepeser pun menghasilkan uang sendiri, apa membuat beliau jadi kurang pede? Ho ho ho. Menantu-menantunya aja ngeri ya booooo hahahaha :p. “Ngeri” in a positive way dong ya ;).

Yang istimewa, rasa respek ini justru saya dengar sendiri dari suami dan anaknya. Dari bapak mertua dan suami saya, salah satu anaknya :D.

Balik lagi, tergantung orang per orang, kasus per kasus, plus situasi kondisi tertentu. Ya intinya jangan suka panik sendiri dan heboh sendiri lah hehehe. Dengar kasus ada anak yang disiksa baby sitter, langsung kayak orang gila nuduh-nuduh ibu bekerja di luar rumah dan memercayakan anak pada orang ketiga berarti tidak sayang anak misalnya :p.

Gambar : www.plesents.com
Gambar : www.plesents.com

Dengar ada istri yang kebetulan tidak punya penghasilan sendiri ditinggal kawin sama suami dan disia-siakan langsung ribut menyarankan perempuan HARUS bisa nyari duit sendiri hehehe.

Jangan yaaaaaaaa :D. Dunia ini tidak hitam putih saja. Faktornya buanyaaaaaakkkk.

Walau saya setuju juga dengan pendapat yang mengatakan, “The sense of independence and security is very sweet.”

Tapi kemerdekaan sesungguhnya itu termasuk kebebasan MEMILIH ^_^.

Anyway, setelah menikah, namanya istri ya harus kerja sama dan konsolidasi paling penting dan utama ya sama suami dong :D. Kalau sibuk mikirin apa kata orang atau apa yang lagi nge-trend di timeline media sosial :p, waduh, enggak ada kelarnya, Cuy. Hawanya pengin bela diri aja terus hahahaha.

Rebut hati suami kan macam-macam caranya. Ada lho itu orang yang saya kenal yang walau istrinya rempong, enggak kerja, cerewet pula. Tapi sang suami tetap setia pada yang bersangkutan. Konon, karena dia enggak bisa makan kalau bukan istrinya yang masak! :D. Urusan perut boooo ^_^.

Tapi jangan lantas patah semangat yang enggak terlalu lihai di dapur. Ada juga tipe suami yang tidak terlalu fokus sama hasil tapi selalu menghargai apa pun yang dimasak oleh istri tercinta *pelukSuamiSendiri* <3.

Setiap rumah tangga, kepribadian orang-orang yang ada di dalamnya kan beda-beda. Ada suami yang bangga istrinya ikut bekerja, ada suami yang justru meminta istri enggak perlu banyak cing cong urusan cari duit hehehe. Ada istri yang memang bawaannya enggak bisa “diam” di rumah, ada yang memang merasa asyik-asyik saja walau dari pagi sampai malam seputaran dapur-kamar-ruang tamu aja urusannya. Tentunya …plus facebook! Hahahahaha :p.

Gak apa-apa. Yang mana-mana sajalah. Ngomongin resiko ke depan ya semua juga ada resikonya. Be prepared :). Dunia toh berputar terus. Hari ini yang pilihan sono yang naik daun, besok-besok pilihan sini yang dipuja-puja. Namanya juga manusia :p. Apalagi kalau patokannya dunia maya. Labil abis lah pokoknya :D.

Tapi adalah benar kalau gini-ginian lebih rempong rasanya jadi perempuan ketimbang jadi laki-laki hehe.

“The great question that has never been answered, and which I have not yet been able to answer, despite my thirty years of research into the feminine soul, is ‘What does a woman want?’ ” -Sigmund Freud

Gambar : www.popmatters.com
Gambar : www.popmatters.com

Let’s be the one we want without over thinking what others should say, yes? ;).

Walau dalam perjalanannya, bolehlah sekali-sekali kita kita merasa tersinggung dan tersentil dengan pendapat orang lain. Secukupnya saja :D. Bolehlah kadang-kadang terasa iri. Dalam hati saja, jangan sampai meledak ke mana-mana hehe.

As they said, peace comes from within. Yang paling dasar tentu berdamai dengan diri sendiri dulu :).

Have a nice weekend, Ladies <3.

***

(Never) Judge a Book by Its Cover

“I can’t find halawa here. Do you know where I can find one?” Saya bertanya sesopan mungkin pada seorang wanita arab di sebelah saya. Kami berdua sedang berada dalam supermarket. Sibuk berbelanja di rak yang sama.

Dia bengong sebentar, nampak tidak mengerti.

 

Baiklah. Mari berbahasa arab. Saya gelagapan karena bisanya cuma pas-pasan, “Halawa, halawa. Ummm…sukkar. Fen halawa? Ma’alish, mafi arabic.”

Barulah dia mengangguk-angguk. Dia menjelaskan dengan bahasa arab sambil tangannya sibuk mengarahkan. Saya mengangguk-angguk kecil padahal sebenarnya “Sumpah, gue gak ngarti.” Hehehehehe.

Saya akhirnya memilih pergi saja. Tiba-tiba dia kembali memanggil, saya menengok.

Dia seperti penasaran, “Filipino? Malayzi?”

“Indonezi.”

Main sama bocah di Corniche - Jeddah, 2012
Main sama bocah di Corniche – Jeddah, 2012

Matanya membesar sambil menepuk bahu saya. “Indonezi? Speak English? Masya Allah!”

Yup, begitulah (mungkin) pandangan sebagian besar orang-orang di Jeddah terhadap perempuan Indonesia. Seorang perempuan Indonesia yang bisa berbahasa Inggris (apalagi tidak bisa berbahasa Arab) akan dianggap sesuatu yang istimewa.

Setidaknya saya sudah kenyang banget dengan pengalaman, “You Indonezi? Speak English? Masya Allah!”

Pengalaman saya tidak terbatas kepada perempuan-perempuan arab yang ternyata banyak juga yang tidak fasih berbahasa inggris. Tapi pengalaman persis pernah saya dapatkan saat berobat ke bagian emergency rumah sakit Bugshan.

Dokternya adalah laki-laki yang sangat ramah dan sopan, asalnya dari Mesir. O ya, katanya sebagian besar dokter di Saudi memang berasal dari Mesir.

Kami sudah mengobrol dengan akrab selama hampir setengah jam dalam bahasa inggris. Mungkin Pak Dokter berusaha mencairkan suasana. Dia pasti melihat jelas kalau saya ketakutan dan gemetar padahal cuma operasi kecil saja di bagian jari tangan :P.

Dia kaget sekali ketika saya bilang saya dari Indonesia. Sedari tadi dia berpikir saya orang Filipina atau Malaysia. Secara fisik, memang terdapat banyak kemiripan antara kita dan kedua negara tetangga tersebut.

Sudah pakemnya di Jeddah, perempuan yang bisa berbahasa Inggris itu PASTI dari Filipina atau Malaysia. Perempuan Indonesia? Harusnya lancar berbahasa Arab dan profesi mereka pastilah TKW :). Diskriminatif? Tidak juga. Ini lebih karena kondisi lingkungan.

***

Meskipun saya tidak punya data akuratnya, tapi terlihat jelas bahwa sebagian besar perempuan Indonesia yang datang ke Saudi berprofesi sebagai TKW. Menguasai sektor domestik, pekerja rumah tangga atau pengasuh anak.

Memangnya yang dari Filipina enggak ada? Malaysia? Bangladesh? Pakistan?

 

Filipina memang ada. Banyak juga jumlahnya. Tapiiiii…mereka mendominasi di beberapa sektor formal. Saya nyaris tak pernah bertemu suster yang berkebangsaan BUKAN Filipina di rumah sakit besar di Jeddah.

Admin-admin rumah sakit pun didominasi oleh mereka. Dari petugas lab, petugas apotik, hingga customer service. Perempuan Indonesia ada juga. Tapi kebanyakan menjadi petugas kebersihan.

Malaysia? Jangan sirik. Tak ada TKW Malaysia di sini. Ditambah lagi, menurut suami, tenaga kerja laki-lakinya datang rata-rata dengan status mohandis (engineer). Jadi, para madam asal Malaysia, bisa dipastikan istri mohandis (atau di atasnya mohandis) :P.

Ketambahan lagi mereka rata-rata fasih berbahasa Inggris, bahasa kedua di Negeri Jiran tersebut.

corniche weekend

Bangladesh konon tidak mengirimkan TKW secara legal. Pakistan juga. Tapi ada juga perempuan asal negara-negara tetangga India yang bekerja di sektor domestik. Kemungkinan tidak legal dan jumlahnya terbatas.

Saya tidak marah kepada para TKW. Hormat saya setinggi-tingginya kepada perempuan-perempuan luar biasa ini :). Saya berdiri di barisan penentang moratorium.

Menurut saya pribadi, pemerintah yang gagal melindungi mereka di sini. Tak kuasa menyediakan lapangan kerja di tanah air tapi melarang mereka mencari rezeki di negeri orang.

Tidak seperti Filipina. Negara tetangga satu ini mungkin paham betul kekurangan mereka untuk menghidupi seluruh rakyatnya.

Mereka dengan sigap membaca kesempatan di luar negeri, mengirimkan warganya, tak lupa memberikan jaminan dan perlindungan penuh beserta keterampilan yang mumpuni.

Ketika masa melahirkan, saya menggunakan jasa seorang bibik asal Madura. Dia pernah menunjukkan dengan bangga foto anaknya mengenakan seragam SMP.

Dengan riang dia berujar, “Saya yang ngongkosin dia bisa sekolah setinggi ini, Ning.”

Proud of you, Mbak :). (Ning, sebutan untuk Neng dalam bahasa Madura. Bener gak sih? :D).

***

‘Posisi’ saya cukup diper’sulit’ oleh penampilan fisik suami. Biarpun perawakannya tidak sebesar orang-orang Arab pada umumnya, tapi tingginya mencapai 180 cm. Hidungnya tidak pesek, berjanggut, dan berkumis. Pasrah deh, (mungkin) akan sering disangka “TKW yang sukses menikahi majikan arabnya.” Ahahahahahaha.

Misalnya di masjidil haram. Sebagian besar petugas kebersihan di sana perempuan Indonesia, lho ;). Mereka bercadar semua soalnya.

Anak sulung saya adalah fotokopi bapaknya. Rambut kecoklatan, kulit kuning langsat cerah, hidung tidak pesek, dan ‘berangasan’ kayak anak-anak kecil arab ihihihihihihi.

Seperti biasa ya, eyke paling enggak tahan kalau enggak hosip-hosip :P. Jadilah, suka mengobrol juga dengan para petugas kebersihan di Haram. Ketika asyik mengobrol, ada yang pernah berkata :

“Kamu dapat orang sini, ya?” (Mereka suka berkamu-kamu ke kita, jangan tersinggung hehehe).

“Ha?”

“Itu anaknya arab begitu.”

“Bukan, bukan. Suamiku orang Indonesia juga, Mbak.”

“Oooohhh…”

Tapi entahlah apa yang ada di pikirannya waktu melihat suami saya datang ke arah saya :P. Otak saya yang suudzon berpikir, mungkin dalam hati dia gondok, “Dasar tukang bohong. Suaminya memang orang Arab. Malu kali ketahuan kawin ama majikannya.”

Ahahahahaha. Cukur jenggotmu, Baaaaaaaannngggg.

***

Meng-upgrade penampilan mungkin cukup menolong.

Manusia memang tak mudah lepas dari stigma sosial. Saya pun dulu berpikir perempuan Saudi pasti congkaknya minta ampun. Sampai akhirnya saya berobat dan dapatnya dokter perempuan.

Kata suami, melihat namanya, dia pasti orang Saudi asli. Mungkin saja. Penampilannya bercadar pula. Biasanya perempuan arab berkebangsaan lain tidak banyak yang bercadar.

Masya Allah. Dokternya sangat ramah. Padahal saya sudah berburuk sangka ketika dia menanyakan kebangsaan kami. Saya sudah pasrah, begitu bilang orang Indonesia, pasti dia langsung gimanaaa gitu. Ternyata enggak, lho. Baik banget.

Beliau dokter kulit. Dengan sopan, dia meneliti sela-sela jari saya yang kena semacam kudis (tutup muka menahan malu :P). Dia menjelaskan panjang lebar, kalau mungkin kulit saya sensitif. Menyarankan menggunakan sarung tangan.

Saya bertanya, “Is this contagious?”

Dia menggeleng-geleng sambil tersenyum. I can see thru her eyes :).

Saya iseng mengusap-usapkan tangan saya ke suami. Suami langusng menghindar. Dia jijik gitu memang hihihihihi. Kami berdua cekikikan di depannya. Dan Ibu Dokter pun malah ikut tertawa-tawa, mudah-mudahan enggak kapok kedatangan pasutri gila ini :P.

Saya selalu berprasangka perempuan arab asli Saudi sombongnya minta ampun. Kaku. Apalagi jika menghadapi ‘kasta rendah’ macam perempuan Indonesia, yang datang membawa penyakit kulit di sela-sela jarinya (ketauan kan di rumah kerjanya kalau gak cuci piring ya ngepel, ahahahahaha).

Salah satu foto bersama teman-teman di Jeddah, 2012
Salah satu foto bersama teman-teman di Jeddah, 2012 (6 orang diantaranya sudah hengkang dari Jeddah hehe)

***

Sedihnya, stigma yang sama juga datang dari jemaah haji asal Indonesia. Mungkin tidak semuanya. Tapi heran juga, “Kenapa gue melulu deh yang kenaaaaaa”. Padahal rasanya pas masih di Jakarta, tampang eyke beda-beda tipis dengan artis ibukota (dilihat dari monas mungkin? :P).

Sewaktu Ibu saya datang umrah dengan membawa puluhan buku-buku “Bunda of Arabia”, saya sudah siap mental melakukan direct marketing.

Penuh percaya diri mengajak suami ke Masjid Apung di Corniche. Mantap menyambangi para jemaah haji asal Indonesia yang bisa dipastikan absen ke sana tiap ke Jeddah.

“Permisi Bu, mau beli buku “Bunda of Arabia”? Isinya tentang pengalaman ibu-ibu Indonesia yang tinggal di Jeddah.”

Sebagian ada yang tertarik dan mendekat. Melihat-lihat sampul sambil berkata, “Kok bisa keluar rumah?”

“Bisa dong, Bu.”

“Ooohh, dapat libur juga, ya. Baik majikannya, ya.”

Huhuhuhuhu. Ini padahal sudah pakai kacamata hitam yang trendy punya, lho *langsungLemes*.

Terus dong, mereka enggak beli! Sibuk berempati tidak jelas. Jadi, saya pindah ke grup lainnya. Dimulai dengan kalimat yang sama.

Kali ini dijawab dengan, “Ikut suami apa bagaimana, Mbak?”

Wah, ada harapan, pikir saya. “Ikut suami, Bu.”

“KOk bisa ya bawa istri? Katanya susah, lho. Kemarin saya diceritain supir taksi katanya susah bawa istri.”

Belum sempat jawab, temannya menyambar, “Ada yang bisa kali. Kan tergantung majikan. Supir kan juga macam-macam.”

Siyaaaalllll. Ahahahahahaha. Sekali itu saja saya nekat ke Masjid Apung. Suami terus sibuk membujuk, katanya latihan mental. Atau kata dia, “Pinjam abaya ibu-ibu lain kali. Kamu, sih, abayanya kumel gitu.” Hehehehe.

Di Masjidil Haram juga anak saya pernah dikasih uang oleh salah satu jemaah perempuan asal Indonesia. “Belajar yang rajin. Ingat kerja keras Ibu.” Ihiiyyyy, kerja keras Ibu :P.

Etapi dapat rezeki kok sakit hati. Senang malah :). Syukran katsiran doanya, Bu :).

***

Tentu saja, hidup itu intinya belajar. Mengambil hikmah dari tiap pengalaman. Biarpun tidak sepenuhnya marah dan sakit hati, setidaknya saya belajar kalau diperlakukan seperti itu rasanya tidak menyenangkan.

Then, don’t do that to others! :).

Toh, ternyata perempuan-perempuan arab banyak yang menyenangkan. Ketika hajian kemarin satu tenda dikepung perempuan arab semua, rasanya kayak keluarga. Mereka sopan dan ramah.

Perempuan asli Saudi ternyata ada juga yang menyenangkan. Pakai cadar tapi bisa berbicara dengan bahasa yang jelas. Tadinya saya suka mengeluh kalau berhadapan dengan perempuan bercadar yang ngomongnya kayak kumur-kumur.

Bukan cadarnya, tapi cara berbicara tiap orang yang berbeda.

Urusan upgrade penampilan bukan hal yang sulit buat saya. Kalau mau, segala merek bisa dibeli (suami langsung stres, ahahahahahaha). Sombong amat sih, lu :P. Serius iniiihhh. Penghasilan sebagai ekspat engineer di Jeddah tidak sedikit. Tanpa pajak pula.

pengalaman di Jeddah
Kumpul-kumpul di salah satu rumah teman di Jeddah, 2011 😀

Tapi, jangan lupa pepatah salah satu orang terkaya di dunia, Warren Buffet, “Manusia yang membuat barang.” Jangan sampai kita yang didikte oleh barang. Saya tak pernah sudi dinilai berdasarkan apa yang menempel di badan saya :).

Therefore, saya pun tak pernah menimbang-nimbang lawan bicara saya berdasarkan ‘harga’ di sekujur tubuhnya ;).

Sebagai muslim, kita percaya bahwa Allah sudah menetapkan parameter kesempurnaan tiap insan :“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.” (Al-Hujurat: 13)

Lagipula, sebuah pepatah mengatakan, “Kalau Anda hanya menilai orang lain hanya dari penampilan (atau suku bangsa :P), Anda akan kehilangan banyak kesempatan bertemu orang-orang hebat.”

Tapi ada juga sih, orang hebat bukan, penampilan dekil iya *tunjuk diri sendiri* hahaha.

***

Saat Ka’bah Hanya Berjarak Satu Jam Saja

Salah satu obrolan yang lazimnya terjadi di akhir pekan saat suami kerja di Arab :

“On call gak, Bang?”
“Enggak.”
“Umrah, yuk.”
“Hayuk.”
“Abis aku nyuapin, mandiin anak-anak, kita langsung berangkat.”
“Ok.”

Berapa tempat sih di dunia ini yang memungkinkan percakapan di atas terjadi?

Bahkan jika Anda bermukim di negara Saudi pun belum tentu bisa memutuskan untuk umrah dalam hitungan detik. Kota Madinah saja jaraknya ratusan kilometer dari Mekkah. Ibukota Riyadh malah berjarak lebih dari seribu kilometer.

Salah satu tempat ‘penuh berkah’ tersebut adalah kota Jeddah :). Berjarak hanya sekitar 70 km dari Rumah Tuhan.

Cukup dalam tempo sejam sejak mobil meninggalkan parkiran gedung apartemen, kami sudah bisa berdiri berhadapan langsung dengan bangunan hitam yang berdiri tegak di tengah-tengah Masjidil Haram. Itu sudah termasuk cari tempat parkir dan berjalan kaki dari basement mal masuk ke dalam masjid.

saat ka'bah kerja di arab
Gambar : sinertour.co.id

***

Itu baru soal jarak. Berapa biaya yang harus dikeluarkan para jemaah umrah asal tanah air? Minimal belasan juta. Bahkan banyak yang di atas 20 juta rupiah.

Kalau naik mobil kan tetap harus bayar bensin. Seorang kenalan dari Doha pernah berkata, “Doha enaaakkk. Bensinnya cuma 2500 perak per liter.” Hmm…2500, ya? Kalau 1000 perak per liter gimana? Hehehe. Kalau di Indonesia premium, tuh. Salah! Di Indonesia minimal 10 ribuan (harga per 2015). Karena bensin yang dijual umum di kota Jeddah levelnya ‘pertamax’ semua ;).

Ibu saya saat umrah kemarin sempat berkata, “Aduh, penuh juga, ya. Kasihan itu anak-anakmu ya kalau dibawa umrah.”

Selain jarak dan biaya, kami, para pemukim Jeddah, juga beruntung soal ‘waktu’ dan frekuensi. Kami punya pilihan untuk ziarah ke tanah suci di saat-saat lengang. Lho, ada, ya? Kalau masih bingung berarti belum baca buku “Bunda of Arabia.” Beli, gih :P.

Visa umrah ditutup oleh pemerintah setelah idul fitri. Persiapan menyambut kedatangan jemaah haji dari seluruh penjuru dunia. Kami akan menikmati waktu sekitar 2 minggu untuk mengunjungi Mekkah dan Madinah yang masih terbilang sepi. Berapa orang sih yang diberikan rezeki merasakan tawaf 10 menit saja?

Begitu musim haji berlalu, visa umrah kembali ditutup. Waktu berleha-leha lebih panjang. Bisa sekitar 2 bulan. Saat inilah biasanya, kiswah penutuh Ka’bah diganti. Beberapa tempat dalam masjid ditutup untuk renovasi.

***

Saat kerja di Arab, bagaimana dengan naik haji?

Sewaktu pulang liburan kemarin, teman saya mengeluh. “Gila lu, sekarang ngantrinya bisa 7 tahun. Ampun, deh. Gue masih lagi nabung nih buat bayar uang mukanya. Kalau uang muka sudah lunas, baru bisa masuk antrian.”

“Berapa uang mukanya?”

“25 an sekarang. Kalau berdua suami 50 jadinya. Ya tapi kan biaya lain-lain juga masih banyak.”

“ONH plus aja.”

“Lu kira berape? ONH plus yang sodara gue aja bisa 80 jutaan. Itu ternyata bukan yang mewah-mewah amat. Kalau berdua 160 juta, dong.”

“Ooohhh…”

“Makanya beruntung lu, gak banyak cing cong tau-tau udah hajian aja. Selamat ya, say.”

Tepat sekali. Bahkan setelah hari raya idul fitri berlalu pun, saya tidak menyangka akan mendapat kesempatan naik haji. Bukannya keinginan tidak ada. Tapi pertimbangannya cukup banyak mengingat anak bungsu saya usianya belum 2 tahun.

Kerja di Arab Saat Ka'bah berjarak 1 jam saja
Kompleks jemaah haji di Mina

Kami mendaftar sebulan sebelum periode wukuf. Biayanya hanya belasan juta rupiah. Mendaftar di hamla lokal sini. Bisa lebih murah kalau mau. Tapi karena kami memboyong si kecil, kami berusaha memilih biro haji yang nyaman dan tidak terlalu mahal. Yang lebih mahal juga banyak soalnya.

Itu baru soal biaya. Di tahun yang sama, ada 2 kerabat suami yang juga melaksanakan ibadah haji. Keduanya melalui program haji reguler. Mirisnya mendengar fasilitas yang mereka dapatkan :(.

Jatah makan yang pas-pasan dengan lauk super sederhana. Pembagian makanan dengan sistem antrean. Tidur tanpa alas kasur, boro-boro ada selimut, bantal saja tidak ada. Tenda di Mina sangat sesak, sehingga untuk tidur pun tak mungkin meluruskan kaki. Kamar mandi sangat terbatas. Bahkan Tante mengeluh, ada jemaah yang nekat membuang air di tempat wudhu.

Perjalanan untuk melontar jumrah ditempuh dengan jalan kaki pulang pergi, full 3 hari. Bahkan 4 hari untuk yang mengambil nafar tsani.

Berhaji dengan hamla lokal Arab? Makanannya berlimpah ruah. Bahkan seringnya makanan diantar ke dalam tenda masing-masing. Tak perlu repot mengantre, keluar tenda saja tidak perlu. Hampir tiap saat pula, meja panjang di selasar depan tak pernah kosong oleh makanan. Minuman kaleng tak pernah kosong dalam lemari pendingin. Cemilan disuplai tiap hari, pagi-siang-sore.

Kami tidur menggunakan dipan. Hamla saya menggunakan tempat tidur tingkat. Ada kasur, bantal, lengkap dengan selimut. Satu orang ya satu tempat tidur :). Di tengah-tengah tiap tenda ada ruangan cukup luas untuk makan bersama atau digunakan sebagai tempat bermain untuk anak-anak.

Kamar mandinya cukup memadai. Bahkan, ada petugas yang membersihkannya tiap hari. Jarang banget mesti antre.

Melontar jumrah? Pulang pergi naik kereta. Full AC. Dimana lokasi tenda hamla kami di Mina sangat dekat dengan stasiun kereta. Masya Allah, hingga detik ini rasanya tak pernah akan cukup rasa syukur yang sanggup terucap untuk pengalaman haji via Jeddah ini.

Saat Ka'bah
Padang Arafah

***

Tentu saja, hidup di Jeddah juga banyak ‘tantangan’nya. Tapi namanya manusia. Tempat salah dan lupa. Seringnya kita terlalu sibuk mencari-cari yang tidak ada.

Mengeluh soal dikekang lah, soal sekolah anak lah, soal jauh dari orang tua lah, mengeluh soal keterbatasan soal menyetir (kayak situ bisa nyetir aje hahaha). Sama, saya pun kadang tak lepas dari pikiran-pikiran seperti itu.

Saya rasanya ingin terbang ketika akhirnya ada kesempatan untuk tinggal di salah satu wilayah yang saya impi-impikan. Saya berdiri di barisan paling depan untuk menyemangati kala suami saya menunjukkan keraguan untuk pindah dari sini.

Lucunya, ketika beberapa hari sebelum benar-benar akan hengkang suami berkata, “Nih, tiket tanggal segini. Mulai packing-packing, gih.”

Tanggapan saya tak lain dan tak bukan adalah…mewek! Hahaha. Ya ampun, saya jauh lebih cengeng daripada yang saya kira.

Begitulah, “You don’t know what you’ve got until it’s gone.”

Siapa bilang bersabar dan bersyukur itu mudah, sih? Tapi untuk rasa syukur yang harganya memang mahal itu, Allah sudah menjanjikan ganjaran yang tidak sedikit :

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni’mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni’mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”(QS. 14:7)

Saya terjebak dalam perasaan senang luar biasa dan sedih sekaligus. Maka, daripada nangis-nangis gak jelas, mari kita ikat kenangannya dengan tulisan :).

Berterima kasih untuk segala hal yang sudah berlalu. Sembari berharap keberkahan yang sama di tempat baru nanti. Walaupun mungkin dalam bentuk yang berbeda.

Can’t thank God enough for this :). How can I not Love Jeddah? <3.

(Catatan lama yang ditulis di Mushrifah-Jeddah, di penghujung Januari 2013 silam)

***

People We Haven’t Met Yet (4)

People we haven’t met yet (1)

People we haven’t met yet (2)

People we  haven’t met yet (3)

 

***

Tahun terakhir di bangku kuliah, saya pernah bekerja paruh waktu menjadi tutor matematika untuk murid-murid ekspatriat. Lumayan banget honornya untuk saku anak kuliahan.

Yang diajar bervariasi, dari grade 2 hingga grade 10. Tapi kurikulum internasional memang jauh lebih mudah daripada kurikulum nasional. Jadi, ya, matematikanya dasar banget lah. Untuk grade 10 (kelas 1 SMA) mungkin setara dengan kelas 2 SMP. Modal bahasa Inggris saja.

Ada 4 anak dari 3 keluarga yang berbeda. Yang paling berkesan adalah 2 bersaudara Julianna dan Garth.

Peristiwa 911 di tahun 2001 terjadi saat masa-masa mengajar di keluarga blasteran Amerika Serikat – Filipina ini. Ibu mereka berkebangsaan Filipina dan cukup fasih berbahasa Indonesia.

Kejadiannya memang menimpa negara Paman Sam nun jauh di benua Amerika sana. Efeknya tapi kemana-mana :(.

911 di US (Gambar : truthinmedia.com)
911 di US (Gambar : truthinmedia.com)

Selepas kejadian, saya ditelepon oleh mbak-mbak agensi tempat saya mengajar. “Libur dulu 2 minggu. Mereka mendadak ke luar negeri.”

Dan dua minggu kemudian, saya menepati jadwal dan datang seperti biasa ke rumahnya. Dari Julianna (kakak), saya tahu ternyata mereka diboyong ibunya ke Filipina. Sementara Ayahnya tetap di Jakarta. Katanya takut ada apa-apa, jadi mereka ‘ngungsi’ ke kerabat di FIlipina.

Seusai mengajar kedua putra-putrinya, si Ibu (Joanna) memanggil saya. “I need to talk to you.”

Duh, langsung deg-degan. Apa mereka mau ganti tutor, ya? Soalnya di agensi saya, tutor yang tidak pakai jilbab juga banyak. Jadi, saya pasrah saja ketika diajak ngobrol sebentar di ruang tamu mereka yang super gede itu.

“We need to change the schedule. The children are having a tennis activity now.”

Ya ampun, kirain mau minta ganti tutor hehehe. Cuma mau ganti hari saja. Biarpun sudah mendengar dari putrinya, saya basa basi saja bertanya kemana dia selama dua minggu kemarin. Ceritanya sama dengan Julianna.

Saya pun bertanya tentang keluarga mereka di Amerika. Apa ada yang menjadi dan korban sembari tak lupa mengucapkan belasungkawa. Dengan takut-takut, saya mengatakan secara implisit agar dia tidak membenci orang muslim.

Joanna menjawab santai. Kalau tidak salah, intinya dia bilang, “We’ve been living here for 7 years. It’s their problem. It’s ridiculous to take it as ours.”

Dia juga sempat berseloroh dalam bahasa Indonesia. “Orang Indonesia baik-baik. It’s not always about their belief. It’s about the people.” Kurang lebih seperti itu. Panjang sih dia neranginnya, saya sudah tak ingat detailnya.

Alhamdulillah leganya. Selamat nih honor mengajar beberapa bulan ke depan. Ahahahahahaha.

Yang berkesan pula saat mengajar di saat bulan puasa. Beduk tiba saat jadwal mengajar masih berlangsung. Saya sih tahu diri lah. Mereka penganut protestan, jadi saya siapkan sebotol aqua dalam tas dan kadang bawa biskuit. Buat ganjel dikit saja. Karena memang biasanya sepuluh menit kemudian saya sudah boleh pulang.

Tapi saya risih juga ketika Joanna bolak balik ke kamar nanyain, “eh, kamu sudah mau makan, belum?”

Saya sudah terangkan berkali-kali kalau saya bawa minuman sendiri. Tapi tak lama setelah waktu berbuka, asisten rumah tangganya, yang memang orang Indonesia, selalu datang membawa nampan yang berisi secangkir teh manis dan kue-kue kecil.

Tapi ya jangan harap bakal ditawarin makan malam bersama mereka, ya. Hehehehe.

***

It’s not about their belief, it’s about the people.

Saya ingat kalau saya kala itu masih termasuk orang yang suka bermain stereotip. Orang Jawa anu, orang Cina begini, orang Batak begitu, Orang Kristen bla bla bla.

She reminds me that it’s about the people :).

Baca : People We Haven’t Met Yet (5)

***

(bersambung)

The Best is Yet to Come

Biar enggak bingung, Irlandia dalam artikel ini merujuk ke Republik Irlandia, ya. Bukan Irlandia Utara. Walau bosan neranginnya, tapi capek juga kan kalau ada komentar enggak nyambung melulu hahaha :p.

Irlandia Utara/North Ireland adalah bagian dari Kerajaan Inggris Raya / United Kingdom of Great Britain atau disingkat UK saja. Republik Irlandia adalah negara sendiri yang tidak ada hubungannya dengan pemberontakan IRA! Paham ya? :p.

Biar singkat, saya tulis Irlandia saja :).

Midland, Ireland :)
Midland, Ireland 🙂

Tahun 2012, taipan berusia lanjut asli Irlandia, Sean Quinn, jatuh bangkrut akibat krisis yang mendera Irlandia yang kira-kira puncaknya di tahun 2009 silam. Tidak kira-kira, bisnis yang dirintisnya sejak tahun 70 an hanya menyisakan kenangan saja.

Saya pernah dengar tapi belum pernah mencari detailnya. Sampai akhirnya halal bi halal kemarin mengobrol dengan teman baru dari Malaysia :D. Beliau juga lagi hamil anak ke-3. Di situlah mulainya bumil saling menyapa hingga akhirnya kita mengobrol agak lama di atas kursi. Enaknya jadi bumil. orang pada ngelesor di lantai, kita boleh duduk di sofa hihihihi :p.

She’s a doctor ;). Kuliah dan praktik di Irlandia sejak 10 tahun yang lalu kalau tidak salah.

Dari dia juga saya jadi tahu kondisi ekonomi-politik di Malaysia sekarang.

Memang begitu ya ternyata, kalau ekonomi lagi ‘terguncang’, perpecahan agak sulit dihindari. Di Malaysia agak ‘riskan’, karena mereka punya 3 ras yang cukup dominan. Kalau di Indonesia, ras yang ‘itu’ masih banyak yang pasrah kalau dikuya-kuya hihihi. Sementara di Malaysia, ada “perlawanan” :(.

Dulu kondisi mereka tidak begitu, curhat si teman tadi. Tapi ketidakpuasan dan tuduhan korupsi serta gaya hidup si PM sekarang ini benar-benar menekan kepercayaan masyarakat Malaysia. Every country has their own battle lah ya. Berharap yang terbaik untuk Malaysia :).

Sementara mbak-nya curhat soal negerinya, di mana saya tidak terlalu menimpali soal Indonesia, lebih banyak mendengar dan ngangguk-ngangguk, biar terlihat bijak gitu ya saya-nya? :p. Padahal mah karena kekenyangan hahaha :D.

PM Najib dan istri (gambar : merdeka.com)
PM Najib dan istri (gambar : merdeka.com)

Habis itu barulah kita mulai merambah ke ekonomi internasional. Ajegile ini 2 bumil emang hahaha. Topiknya booooo :p. Soalnya sempat juga saya cerita ke dia kalau saya ini sebelumnya pernah tinggal di Arab Saudi. Dia nanya-nanya juga. Jadi kita semacam tuker-tukeren info.

Makanya, saya juga tanya-tanya soal Irlandia ke si embak pan dese udah 10 tahun di sindang. Dia ceritalah soal krisis tahun 2009. Nah, ini cerita ginian karena sebelumnya juga kita nyerempet Yunani. Ya apa yang terjadi di Yunani tahun 2012 silam, begitulah kondisi Irlandia di tahun 2009.

Saat terpuruk itulah, Irlandia minta “paket penyelamatan dari Uni Eropa” :D.

Demo di Irlandia saat krisis 2008 (gambar : links.org.au)
Demo di Irlandia saat krisis 2008 (gambar : links.org.au)

Apa yang terjadi?

Hutang kredit yang macet setelah salah prediksi sebelum tahun 2009. Ini sekilas sudah pernah diceritakan suami. Molor melulu sih kalau ngobrol beginian sama suami hahahaha. Beliau mah pengetahuannya luas banget urusan ekonomi global :p. Tapi ogah kalau disuruh nulis serius. Soal menulis katanya jatah saya hahahaha.

Perbankan Irlandia diamuk badai. Spekulasi gagal. Defisit anggaran mencapai 32% dari produk domestik Bruto di tahun 2010. Pemerintah mengambil alih kebijakan perbankan untuk mencegah karam.

Saat itu, tak sedikit warga Irlandia yang ‘kabur’ Ke Australia, US dan Kanada. Menghindari krisis besar di Irlandia. Pengangguran mencapai 15%. Permintaan dalam negeri merosot tajam.

Ingat ya, orang sini ogah cabut ke Eropa daratan hehehe :p. Kata suami, kedekatan “budaya-sosial” Irlandia emang kurang sama Eropa daratan selain faktor bahasa tentunya ;).

Situasinya pasti berat, pemerintahan pun berganti. Hingga akhirnya disepakati sampai 5 paket penyelamatan.

Perdana Menteri Irlandia saat itu adalah Enda Kenny. Kenny menjalankan dengan sungguh-sungguh program reformasi yang disepakati dengan Uni Eropa dan Dana Moneter Internasional IMF.

Kenny berkali-kali mengatakan bahwa hal ini tidak akan mudah. Tidak akan terjadi sekejab. Terlalu banyak kesulitan yaang dialami. Terpaksa harus memgambil keputusan-keputusan sulit demi rakyat dan negara. Enggak paham juga waktu itu ada fenomena lover hater apa enggak ya di Irlandia? hihihihi :p.

AKhirnya…jerih payah Kenny berhasil! ^_^

Kita mundur sedikit, apa yang dialami Irlandia saat itu mirip kayak Yunani di tahun 2012 ;). Apa bedanya?

Saat itu, Irlandia ‘patuh’ pada persyaratan yang diberikan Uni Eropa. Uang bantuan memang habis-habisan dipakai untuk membangun infrastruktur. Pantas saja, teman-teman yang tinggal di ujung selatan Irlandia, kota Cork, mengeluh, dulu transportasi mah ancur banget :'(.

PM Enda Kenny (gambar : thejourne.ie)
PM Enda Kenny (gambar : thejourne.ie)

Sekarang, jalan tol sudah banyak banget ^_^. Enggak akan kerasa kalau kita datang dan melihat Irlandia sekarang :).

Per Januari 2013, Irlandia kembali memimpin Dewan Eropa, setelah digilir dari negara-negara lain. Setelah 2 tahun menerima paket dana bantuan dan seoptimal mungkin menjalankan program pembangunan segala macam, Irlandia sukses melepaskan diri dari masa krisis ;).

Saya sekeluarga datang saat Irlandia sudah bangkit dari kebangkrutan :D. Dan kini, menjelma menjadi salah satu negara maju di Eropa. Dari banyak prediksi pertumbuhan ekonomi, Irlandia memimpin dengan perkiraan pertumbuhan ekonomi lebih dari 4% tahun ini. Mayoritas Eropa daratan masih berkisar 1-2%. Di luar Uni Eropa, Rusia misalnya, prediksinya adalah minus.

Sangat jauh apa yang terjadi di Eropa daripada keluhan kalian di tanah air. Irlandia sendiri walau secara prediksi terang benderang tetap struggling dengan jumlah penduduk yang terlalu sedikit :(. Ekonomi susah tumbuh. Saya sudah kenyang melihat toko atau kafe yang gulung tikar sejak 2.5 tahun lalu saat saya pertama datang.

Itulah, banyak penduduk pusing, sedikit penduduk sama peningnya hahaha.

Itu masih berlangsung sampai sekarang :(. Kadang sedih pengin memborong kalau ada toko yang memasang plang, “Closing sale. All stock must go!”

Setahun lalu, sebuah toko peralatan rumah tangga yang cukup besar dan pernah sukses di masanya akhirnya harus ‘jatuh’. Itu barang-barangnya diskon sampai 70%. Saya sudah berusaha membeli apa yang bisa dibeli. Kasihan euy hehehe. Banting harga enggak kira-kira. Kualitas barangnya padahal enggak jelek :'(. Mereka bangkrut habis-habisan.

Itu pun, tetap saja sepi. Sampai hari terakhir, barang masih menumpuk di rak :(. Kelesuan ekonomi melanda semua kalangan. Panci bagus dijual di bawah 5 euro saja tidak banyak yang mau beli. Di Pasar Minggu mah sudah ngamuk kali ibu-ibu rebutan yak hahaha.

Toko-toko baju apalagi. Gonta ganti gulung tikar. Satu bangkrut, ada satu yang baru. Enggak lama plangnya pun menghilang, kiosnya tutup sementara. Banyak yang tetap tidak berpenghuni sampai sekarang :(.

Gambar : nickgrantham.com
Gambar : nickgrantham.com

INi kondisi negara yang diprediksi pertumbuhan ekonominya bakal di atas 4%. Gimana di Eropa lain coba? Hehehe.

Saya saja pasrah suami tetap harus assignment ke luar negeri padahal sudah minta keringanan untuk remote support karena saya lagi hamil tua. Persaingan lagi berat, nih. Gempuran engineer India-Pakistan dominasinya tinggi banget. Mereka juga banyak yang punya kualitas mumpuni dengan etos kerja luar biasa.

MEreka would do anything untuk mendapatkan citizenship di Irlandia! Syaratnya memang mudah, asal tinggal 5 tahun berturut-turut di sini. Pada betah-betah dan doyan kerja semua. Kagak peduli gaji berapa yang penting jadi warga negara Eropa! Ngeri, Kakaaaaa hehehe. Orang lokalnya malah yang agak ogah-ogahan hehehe.

Saya mendorong suami untuk tetap aktif. Suami nan saleh pasti berat lah ninggalin bini yang lagi buncit-buncitnya bareng 2 anak tengil ini :p. Eike mah yang penting oleh-olehnya Bang. Hahahaha. Tetap semangat! ^_^.

Mau angkat pompom enggak kuat lihat perut, Euy. Hahahaha. Jadi kutuliskan saja ya, Cinta <3. Pokoknya foto saja yang bagus-bagus sebanyak-banyaknya di sana nanti kita sulap bareng jadi duit dah :p.

Bisnis yang sama di Indonesia pun lagi lesu. Layoff habis-habisan sudah kejadian 2 tahun kemaren. Mau ke mana coba? :D. Semua juga lagi ‘berjuang’ menghadapi masa sulit. Sebelum Jokowi jadi presiden pun, sudah lesu duluan lho :p. Ya kali situ mau mangap lagi :v :v :v.

Ada hal yang harus dipahami sebelum menuduh negara-negara besar Uni Eropa berusaha menghisap darah negara-negara yang lagi sulit ekonominya :). Logically, Jerman pasti berusaha sekuat tenaga mempertahankan kelangsungan Uni Eropa. Memang, Angela Merkel and the gank punya kepentingan sendiri.

Tapi suksesnya Uni Eropa harus didukung oleh kesuksesan semua anggota. Justru yang diharapkan adalah yang “kecil-kecil” ini terus bangkit dan makin banyak yang mau join atau bertahan dalam Uni Eropa :).

Apa sih untungnya Jerman kalau sampai Yunani benar-benar jatuh dan keluar dari Uni Eropa? Ada juga makin khawatir. Karena tidak semua negara-negara Eropa yang tergabung di sana memiliki perekonomian yang kuat.

Kalau sampai Uni Eropa tidak bisa dipertahankan, Jerman juga mungkin harus melepas euro. Selama ini negara besar Eropa yang ekonominya ditopang ekspor menikmati kurs Euro yang tidak terlalu kuat dibandingkan ekonomi dalam negerinya. Iya lah, untung dong kalau dominan ekspor dan mata uang “lemah”? ;). Jadi ubah itu mindset kalian kalau pelemahan mata uang dalam negeri adalah kemalangan.

Bersama kemalangan ada celah ekspor yang bisa digapai ;). It can be a challenge, bagi mereka yang memang selalu berusaha mencari jalan keluar.

Sebaliknya, negara-negara model Yunani, yang entah apa gitu yang mau diekspor hihihi, pemasukan utama mungkin mayoritas dari pariwisata. Bayangkan kalau ternyata ekonomi dalam negeri mereka tidak secemerlang nilai tukar Euro. Euro yang lebih ‘kuat’ malah akan menghalau turis asing masuk ke negaranya :p.

Sementara, ekonomi dalam negeri sudah kolaps tapi mereka tidak sanggup memaksa Euro melemah ke level yang cocok dalam perekonomian dalam negeri. 2 sisi mata uang memang.

Bendera Uni Eropa

Tapi percayalah, Uni Eropa tidak hendak menikam negara-negara kecil ini. Ini ibaratnya sebuah kapal. Kalau ada bagian yang bocor, kapal akan karam dan semua penumpang akan terjebak bersama. Ubah persepsi konspirasi kalian lah :p. Apaan sih, dikit-dikit konspirasi, dikit-dikit konspirasi.

Musuh bersama semua manusia itu adalah sifat-sifat buruk yang bisa muncul dari kalangan MANA SAJA. Jangan pandang kaum, orang atau golongan pun organisasi mana-mana pun. Keserakahan, kerakusan, egoisme, terjebak kemewahan dunia dan segala macam … itulah musuh kita. Bukan siapa pelakunya! Karena semua sifat buruk ini bisa kejadian di kaum mana pun. Individu mana saja. Tidak mandang situ ras mana ;). Itu yang harus konsisten kita lawan ^_^.

Nah, salah satu kesalahan pemerintahan Yunani, abis dapat segepok uang dari Uni Eropa dan berbagai lembaga internastional, mereka ogah menjalankan “kebijakan” yang sudah disepakati. Uang yang seharusnya dipakai untuk pembangunan produktif malah lebih banyak yang lari ke konsumtif :(.

Serunya lagi, utang enggak bisa dibayar, dalam kepanikannya mereka mengambil keputusan yang bisa dibilang ceroboh. Mereka memang terjebak dalam perputaran ekonomi yang tidak seimbang diantara negara-negara Uni Eropa. Tapi mengapa malah bersikap “arogan”? :). Sudah tahu tidak punya apa-apa lagi, malah ribut mau referendum.

Pemerintahan Yunani tidak sanggup mengendalikan korupsi dan banyaknya para pengemplang pajak di negerinya. Mereka juga tidak mau menaikkan pajak karena mungkin tidak berani menghadapi protes rakyat. Uang pinjaman banyak dipakai untuk subsidi konsumtif ke rakyatnya. Lah ya piye? hehehe. Uang habis percuma, modal enggak balik. Boro-boro mau balikin utang, sekadar perbaikan dalam negeri saja tidak sanggup.

Tahu enggak hasil akhir referendum? Referendum hanya mekanisme untuk “buying time” saja menurut suami saya. Ya mau gimana, mereka bukan hanya tidak bisa bayar utang, tapi secara internal memang ekonominya lagi remuk. Mau tak mau kembali menerima suntikan dana. And we hope this time mereka bisa lebih bijak mengambil keputusan.

Tak akan mungkin memang memuaskan semua pihak. Apalagi kalau dalam posisi pemerintah. Segitu banyak kepentingan yang harus diperhatikan. Belum lagi kalau dirongrong sama “haters” yang nyinyirnya luar biasa tapi solusi kosong melompong :p. Huhuuuyyyy, makin sedaplah itu.

Gambar : biznews.com
Gambar : biznews.com

Uni Eropa memang punya Jerman yang kekuatan ekonominya masih yang paling solid. Penduduknya banyak, produktivitasnya yahud. Ekspor pun tinggi. Sistem kesehatan publik di sana is one of the best ;).

Jangan bayangin enak-enaknya sahajoooo :p. Pajak juga termasuk paling ngeri di sana hahahaha. Habis banyak ya orang-orang di tanah air kalau dengar kata negara maju disangka orang di sana pada koleksi mobil dan foya-foya atau nge-mal melulu tiap hari. Zzzzzz -_-.

Jangan lupa juga telusuri sejarah Jerman dari dulu-dulu :p. Biar situ enggak kebanyakan kemakan teori konspirasi hahahaha :p. Negara-negara besar ini pun dulunya dibangun dari perselisihan sengit yang memakan banyak korban jiwa.

“If you want to understand today, you have to search yesterday.” – Pearl S. Buck

Memang, belajar sejarah itu ada serunya sendiri hehehe. Kita akan menyaksikan yang namanya pergiliran masa kejayaan. Siapa sangka, peradaban dunia yang justru banyak dimulai di Asia, di sebagian besar wilayah Timur Tengah sana, malah hampir hilang tak berbekas. Ada apa di sana sekarang? Perselisihan tiada berkesudahan. Tentu saja … ini salah konspirasi lah ya, kita mah enggak salah apa-apa hahahaha :p.

Eropa Barat, yang sebelum abad ke-14,s empat dikenal sebagai bangsa barbar, mandi saja jarang (hihihi). Dulu, Eropa Barat sirik abis sama Eropa Timur yang sangat ‘maju’. Sementara banyak pemimpin di Eropa Barat yang membaca dan menulis saja tidak bisa hahaha. Eropa barat kini menjadi incaran dan idola banyak pendatang dari berbagai wilayah Asia :D.

Pasti sakit hati kalian kalau tahu dari mana bangsa Eropa ini ‘belajar’ kebersihan, kesenian dan segala macam ;).

“How we handle adversity determines the chances if we either fall or rise.”
― Lailah Gifty Akita, Pearls of Wisdom: Great mind

Tapi ingat, tidak ada yang bilang ini akan mudah ;).

Dan siapakah yang hidupnya yang tidak celaka selain mereka yang saling nasihat dan menasihati dalam menetapi kesabaran.

Cemunguuuddd eaaaaaa *kasihSenyumCibiCibi* :D. The best is yet to come ^_^.

 

***