When You Smile Like Monalisa :)

Joan berlari membuka pintu, mengejar Katherine yang bergegas pergi, “It was my choice not to go! He would have supported it.”

Katherine menggeleng, “But you don’t have to choose!”

“No, I have to. I want a home, I want a family! That’s not something I’ll sacrifice.”

Katherine berkeras, “No one’s asking you to sacrifice that, Joan. I just want you to understand that you can do both.”

Gambar : imdb.com
Gambar : imdb.com

Joan mengernyit, “Do you think I’ll wake up one morning and regret not being a lawyer?”

“Yes, I’m afraid that you will.”

Joan menangkis, “Not as much as I’d regret not having a family, not being there to raise them. I know exactly what I’m doing and it doesn’t make me any less smart. This must seem terrible to you.”

“I didn’t say that.”

Joan keukeuh, “Sure you did. You always do. You stand in class and tell us to look beyond the image, but you don’t. To you a housewife is someone who sold her soul for a center hall colonial. She has no depth, no intellect, no interests. You’re the one who said I could do anything I wanted. This is what I want.”

Sudah nonton fim Mona Lisa Smile? Ingat tidak dengan scene yang saya kutip di atas :D.

Hari Guru ya, tentunya kudu eksis! Nyahahaha :p.

No, no, I won’t mention any spesific teachers for my 16 years of my formal education back then :D. Buat saya, mereka semua sangat pantas untuk dikenang dan comot sedikit tulisan Mas Iqbal, setiap mereka punya peran dalam membentuk seperti apa kita sekarang :).

They’re all my heroes <3.

Guru identik dengan pendidikan. Dan somehow, buat perempuan, pendidikan itu punya jalan panjang nan berliku not mention drama-dramanya hehehe. Karena itu, banyak film-film yang diangkat dengan tema-tema “to educate women” macam Mona Lisa Smile tadi :).

Seorang guru ala-ala feminis, Katherine, datang mengajar seni di sekolah khusus perempuan di Massachusetts. Bisa dibilang, sekolah ini tempat berkumpulnya perempuan-perempuan berotak encer :D.

Entah kalian sadar atau tidak, bahwa “feminis” itu termasuk isu baru di abad ke-20 yang baru kencang berhembus pasca Perang Dunia 2. Diakibatkan perang berkepanjangan, perempuan pun terpaksa mengambil banyak peran sementara kaum lelaki pergi bertempur di garis depan.

Gambar : en.wikipedia.org
Gambar : en.wikipedia.org

Perang usai, kaum perempuan menyadari satu hal. Sebagian mereka tidak ingin “pulang ke rumah” dan tetap ingin melanjutkan peran di luar rumah. Itu baru terjadi di tahun 50 an lho.

Jadi, bayangkan kerennya pemikiran perempuan-perempuan Indonesia yang sudah menggagas pendidikan dan kebebasan buat kaum perempuan di Indonesia sebelum tahun 1945 ;). Tak sedikit dari perempuan ini justru datang berbekal semangat dan pengetahuannya tentang Islam. Ironisnya, sekarang beberapa kalangan Islam yang malah berusaha membenturkan kembali soal beginian.

Kaum feminis menentang banyak hal. Tapi alih-alih meminta keadilan, lama-lama jadi lepas kendali sehingga ada perlawanan dari sesama kaum perempuan sendiri. Kaum feminis dianggap lebay dan menganggap laki-laki sebagai musuh.

Sebenarnya sih, ada juga feminis yang agak ‘waras’. Mereka tidak memperjuangkan kesetaraan yang gimana-gimana. Mereka hanya ingin PEREMPUAN BISA MEMILIH.

Dan pesan bahwa “PEREMPUAN BISA MEMILIH” itu dijabarkan dengan sangat baik di film Mona Lisa Smile.

Gambar : slopemedia.org
Gambar : slopemedia.org

Tahun 50-an banyak anak gadis yang bersekolah seadanya hanya untuk mencari suami yang mapan. Agar mereka punya akses ke arah sana. Masih tabu bagi perempuan untuk terus melanjutkan pendidikan selepas pendidikan selevel SMA. Lulus SMA ya kawin, gitu normalnya.

Sementara, pilihan untuk peran ganda, berkarier sekaligus berkeluarga juga belum umum, lho. Bayangkan itu tahun 50-an. Belum ada 100 tahun dari sekarang! :p.

Tapi lantas, semangat kebebasan ini lama-lama dirasa memojokkan sebagian kalangan perempuan yang memang niatnya ingin menikah dan mengurus anak. Sisanya nyusul ajalah hehehe. Ya syukur-syukur bisa kerja dari rumah. Tidak pun tidak mengapa.

Di Mona Lisa Smile, endingnya juga cakep dan enggak basi. Sorry spoiler hehehe. Tokoh Joan yang mati-matian pengin jadi lawyer dan memang termasuk yang paling cerdas dan rajin akhirnya memutuskan untuk menikah dan tidak mendaftar ke Yale University padahal keterima.

Di percakapan di atas tadi, Joan meyakinkan Katherine bahwa itu adalah PILIHANNYA. Dan pilihan itu tidak membuatnya menjadi tidak merasa pintar, “It doesn’t make me less smart.”

Sebaliknya, ada murid yang lain, Bettie, yang tadinya konservatif banget dan suka meledek Katherine yang dianggapnya “perawan tidak laku”. Bettie nyolot melulu ke Katherine. Bettie sakit hati ketika suaminya ternyata selingkuh. Ibu Bettie memaksa Bettie memaafkan dan melupakan dan terus melanjutkan pernikahan. Perceraian juga termasuk tabu lho waktu itu. Perempuan pun tidak leluasa minta cerai.

Instead, Bettie, yang memang dasarnya juga vokal dan encer, nekat minta cerai dan memutuskan untuk mendaftar ke Yale University yang juga menerimanya :). Ini pokoknya satu geng pinter semua lah ceritanya hihihi. Joan, Bettie, sama ada 2 orang lagi yang seru juga kepribadian dan konfliknya. Suka banget deh sama film ini :D. Perempuan banget hehehe.

Perempuan memang spesial. Banyak dibatasi tapi kepadanya pula banyak tertumpuk harapan setinggi bintang, as they always said, “Perempuan itu guru pertama buat anak-anak mereka nantinya.”

Perempuan makanya harus pandai berdamai dengan dirinya sendiri. Karena pengaruhnya besar kepada anak-anak ditambah lagi tugas penting mendampingi suami. Mendampingi kan bukan hanya cekokin nasi ke mulutnya kalau dia lapar atau setrikain kemejanya kalau dia mau ke kantor toh yaaaa :p.

Kita sendiri yang harus pandai-pandai memutuskan. Pintar-pintar mengenali diri sendiri. Menjunjung tinggi pendidikan tapi tidak mengikat diri kepada label-label yang menyertainya. Sekaligus jangan doyan membanding-bandingkan karena kita ini rentan diadu domba karena lebih baper :p. Hehehe. Terima saja fakta kalau kita ini lebih baper. BAwaannya laPER melulu hahaha :p. Ibu menyusui mode on :v :v.

Peran guru, harusnya lebih banyak menginspirasi ketimbang hanya transfer ilmu. Itu sih, era sekarang baca wikipedia juga sudah cucok yaaaaa :p.

Untuk peran semulia itu, makanya perempuan diciptakan spesial ;).

“Let me tell you something, Toula. The man is the head, but the woman is the neck. And she can turn the head any way she wants.” -Maria Portokalos, from the movie Big Fat Greek Wedding-

Selamat hari guru <3.

People We Haven’t Met Yet (6)

Tulisan ini merupakan salah satu bab dalam buku “Memoar of Jeddah : How Can I not Love Jeddah?” :D.

***

Saya ingat betul ucapan salah satu teman saya, “Waktu baru nyampe di Jeddah, pertama kali ke mal, ke Serafi Mall. Terus gue takut banget. Pegangan terus sama suami gue. Gue takut diculik!”

Kalimat tersebut tidak berlebihan. Saya juga begitu. Sewaktu masih di tanah air, cerita-cerita yang mendominasi tentang Saudi ya tentang penculikan perempuan, perkosaan TKW dan sejenisnya. Sebagian besar teman-teman saya di Jeddah punya kesan pertama yang tidak jauh berbeda.

Baca : People We Haven’t Met Yet (5) 

Sekarang sih, jangan ditanya! Siang-siang suami di kantor, kami suka kelayapan kemana-mana. Awal-awalnya masih suka naik taksi dengan supir Indonesia. Lama kelamaan makin banyak yang berani naik taksi ‘abal-abal’. Taksi apa saja yang kami setop sendiri di jalan. Termasuk saya.

Padahal saya termasuk penakut. Manalagi kecerdasan visual saya sangat terbatas. Susah sekali mau menghapal jalan. Sampai sekarang masih suka bingung antara 4 ruas jalan utama yang mengelilingi lokasi apartemen kami : Madinah Road, Sitten Street, Palestine Street dan Tahlia Street.

Saya masih pilih-pilih rute. Kalau cuma ke sekolah anak, rumah teman yang sering saya datangi, saya berani naik taksi ‘abal-abal’ sendiri. Tapi ada, lho, teman saya yang tidak pandang bulu. Ke mana pun berani naik taksi ‘abal-abal’ sendiri!

Taksi di Jeddah
Taksi di Jeddah

***

Pernah tersiar rumor yang mengatakan bahwa kewajiban menutup aurat bagi wanita di tempat umum malah menjadikan negara Saudi ini sebagai negara yang rawan perkosaan. Datanya dari mana, ya?

Kejahatan pemerkosaan yang beberapa kali diberitakan di media nasional pada umumnya terjadi di wilayah ‘domestik’. Kejadiannya di dalam rumah. Sedangkan di tempat-tempat umum, hijab sangat dijaga antara perempuan dan laki-laki. Kecuali di tempat-tempat tertentu yang pengunjungnya didominasi oleh pendatang seperti di pusat perbelanjaan Balad.

Saya cuma berani ke Balad kalau ditemani suami atau ramai-ramai dengan teman perempuan lainnya. Pendatang pada umumnya tidak terlalu terbiasa dengan aturan hijab seperti ini. Tapi, kalau ke mal-mal besar, insya Allah aman buat perempuan yang hanya sendiri atau menenteng balita saja.

Women in Saudi (gambar : theguardian.com)
Women in Saudi (gambar : theguardian.com)

Pengalaman tiap orang berbeda-beda. Memoar ini tentu berdasarkan pengalaman pribadi saya sendiri. Mungkin berbeda dengan teman-teman lain. Karena ada juga teman saya yang empet luar biasa dengan pria Arab yang menurutnya selalu mencari gara-gara. Alhamdulillah, biarpun ada yang kurang menyenangkan, untuk saya pribadi lebih banyak yang meninggalkan kesan yang baik.

***

Awalnya saya bingung dengan laki-laki yang suka membuang muka pada saya. Atau kalau saya di lift bersama suami, laki-laki lain dalam lift tiba-tiba merapat ke dinding. Kayak gengsi gitu, lho, dekat-dekat saya. Pernah juga di rumah sakit, saya duduk di ujung sebuah kursi panjang. Laki-laki yang duduk di ujung satunya langsung berdiri. Padahal diantara kami masih bisa ditempati oleh sekitar 2-3 orang lagi.

Lain lagi di supermarket. Kalau di kasir, biarpun saya yang ada dalam posisi mengeluarkan uang dari dompet, kasir laki-laki pasti memilih berbicara pada suami saya. Padahal saya kan juga bisa berbahasa Inggris dan sedikit-sedikit mengerti bahasa Arab.

Saya mengomel ke suami, “Buset, deh. Sombong amat laki-laki di sini. Kenapa sih, Bang? Aku disangka TKW, ya? Jijik dekat-dekat orang Indonesia?”

Suami langsung terbahak. Lalu menjelaskan, “Jangan geer dulu. Di tempat umum memang begitu, laki-laki tidak boleh dekat-dekat perempuan. Apalagi mengajak ngobrol yang tidak perlu.”

Benar juga ternyata. Baru, deh, saya perhatikan betul-betul sejak saat itu. Ternyata perlakuan seperti itu berlaku untuk perempuan mana pun.

Jadi, aman kok buat para perempuan untuk bepergian. Apalagi kalau ada suami. Selain lebih aman, kalau mau belanja-belanja kan juga ‘terjamin. Ada ‘ATM colek’ dengan saldo yang tak terbatas. Hahaha.

Apa? Kemana-mana harus menenteng suami? Suami di kantor seharian dari pagi hingga sore. Masa jalan-jalannya malam doang? Tidak, kok. Tadi sudah dibahas jika akan mengunjungi tempat-tempat tertentu saja harus menunggu suami pulang kantor dulu.

Dibandingkan situasi di Jakarta, rasanya memang berbeda. Di ibukota tanah air, saban ke mal, biarpun sudah punya anak dan tampang seadanya, ada saja yang suit-suit enggak jelas. Sudah pakai penutup kepala pula. Di Saudi, perlakuan seperti itu jarang terjadi di tempat-tempat umum.

Yanbu Arab Saudi
Foto kenangan waktu liburan ke Yanbu. Mirip dengan Pangandaran kan? Hehehe

***

Bulan januari 2011, saya tengah hamil 6 bulan. Bumil kepengin jalan-jalan malam-malam. Jadi, deh, kita putar-putar ke Corniche Road. Terus mampir di salah satu kios di pantai untuk jajan. Semua keluar dari mobil. Pintu dikunci dengan central lock. Lalu, suami tersadar, “Yaaaaa, kuncinya ketinggalan dalam mobil!”

Waktu itu masih menggunakan mobil sewa. Angin bertiup kencang sekali dan Jeddah sedang berada di puncak  musim dingin. Aduh, langsung lemas.

Suami mencoba menghubungi pihak penyewa. Sembari menunggu mereka membawa kunci cadangan, suami berusaha sendiri. Saya berdiri di samping kios sambil kedinginan. Bingung pula mau duduk di mana. Sementara Abil, anak sulung saya, sudah sibuk berlarian sendiri kesana sini.

Tiba-tiba pemilik kios keluar membawa karpet. Saya cuekin saja, pura-pura tidak lihat. Mana tahu maksudnya kurang baik. Eh, pas menoleh lagi, orangnya sudah tidak ada, menghilang ke dalam kiosnya. Dan…karpet yang ditentengnya tadi sudah digelar di atas lantai. Duh, sudah berburuk sangka. Lagi-lagi kegeeran tidak jelas. Tidak berapa lama, dibawain secangkir teh hangat. Tangannya memberi isyarat harganya 1 riyal. Saya ambil terus dia buru-buru pergi lagi.

Main sama bocah di Corniche - Jeddah, 2012
Main sama bocah di Corniche – Jeddah, 2012

Pemilik kios juga ikut membantu suami beserta satu orang temannya. Tapi dilakukan sambil melayani pembeli. Enggak ada tuh yang mengajak saya mengobrol atau menggoda tidak jelas.

Tahu-tahu sudah pukul 11 malam. Parahnya, tempat penyewa mobil tidak menemukan kunci cadangan. Jadi, mereka sibuk mencari cara lain. Kemudian sebuah mobil mewah berhenti. Seorang pria .arab dengan penampilan necis keluar dari mobil dan mendekat. Saya sudah deg-degan. Mau apa, ya, dia kira-kira. Saya cuma memperhatikan dari jauh. Tidak tahu mereka mengobrol apa. Tapi setelah itu, dia pun sibuk membantu mengeluarkan kunci mobil.

Akhirnya sekitar pukul 12 malam, kunci berhasil dikeluarkan. Para laki-laki itu termasuk suami saya saling berjabat tangan dengan senyum merekah. Alhamdulillah, kaki sudah beku menahan dingin. Herannya, Abil tetap bagai gasing berputar-putar dengan gembira di pelataran parkir.

Saya membayar jajan kami dan bermaksud memberi uang lebih untuk karpet. Pemilik kios menggeleng-geleng, “Mafi musykilah.” (“Tidak ada masala, tidak apa-apa.”)

Sewaktu saya tetap memaksa, suami menegur, “Jangan, Dek. Tersinggung, lho, nanti.”

Ya sudah, kami pun pulang.

Masya Allah pengalaman kami malam itu. Sampai sekarang kalau ingat bantuan mereka (yang tanpa pamrih sama sekali), rasa harunya tak pernah berkurang.

***

Lalu, pernah pula ban mendadak kempes di daerah Balad. Kami mudik mendadak. Jadi, dadakan pula berburu oleh-oleh. Pakai acara ban bermasalah pula saat hendak pulang setelah membeli beberapa barang di toko langganan di Balad.

Saat suami mencoba ganti ban sendiri, beberapa anak kecil berkulit hitam tiba-tiba menghampiri. Mereka menawarkan bantuan. Dari dalam mobil saya was-was. Barang dari bagasi berserakan di luar karena suami mengeluarkan ban serep yang ditaruh di bagasi. Biasanya orang-orang ini terkenal agak-agak Bengal. Konon, mereka suka melakukan tindakan kriminal. Akhirnya, saya berdiri di luar mobil, dekat bagasi. Menjaga barang maksudnya.

Kemudian lewat seorang lelaki dewasa berkulit hitam. Duh, makin cemas. Tapi ternyata laki-laki itu mengajarkan cara mengganti ban yang benar. Benar saja, acara ganti ban berlangsung lebih lancar setelahnya. Setelah memberi pengarahan singkat, laki-laki dewasa itu pergi begitu saja.

Saat kami sibuk memasukkan barang ke bagasi, anak-anak tadi juga ikut pergi. Saya cepat-cepat mengingatkan suami, “Bang, kasih uang, Bang.”

Suami buru-buru mengejar mereka. Mereka malah masuk ke dalam mobil dan siap-siap pergi. Suami mengetuk pintu kaca mobil. Akhirnya dengan wajah malu-malu mereka menerima pemberian suami. Masya Allah, never judge a book by its cover.

Pasar di Jeddah
Pasar di Jeddah

***

Saat di mal atau di rumah sakit, saya sering kesulitan menjaga Abil. Apalagi ketika Narda pun sudah bisa diajak main oleh kakaknya. Mereka berdua menjadi ‘duet maut’ yang kerap membuat saya sibuk minta maaf ke orang sekitar.

Ini kebiasaan di Indonesia, sih. Rasanya kalau di tanah air, orang-orang kurang suka dengan tipe anak-anak tidak bisa diam. Suka melempar pandangan, “Duh, ibunya bisa ngurus anak enggak, sih?”

Makanya kalau acara pengajian, kebetulan anak sulung saya tidak sekolah, saya memilih menahan diri untuk tidak ikut acara. Kecuali rumah penyelenggara yang saya kenal dekat. Kalau saya sudah tahu nyonya rumah ‘kurang nyaman’ dengan kehadiran anak-anak saya, saya akan memilih enggak datang.

Lain dengan di Jeddah ini. Kalau saya menegur anak-anak, saya sering ditegur balik oleh pria Arab. Pernah di rumah sakit, saya menegur Abil yang bolak balik naik ke kursi terus loncat terus naik lagi terus loncat lagi. Ibu-ibu arab lain senyum-senyum.

Tapi saya pikir mereka hanya senyum basa basi seperti  teman-teman dari Indonesia. senyum-senyum di depan, dalam hati menyimpan jengkel. Jadinya tetap saya tegur anak saya. Sorang pria Arab malah melotot ke saya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Shagiir“, katanya. (Shagiir = kecil). Mungkin maksudnya masih anak kecil, santai saja. Saya akhirnya membiarkan Abil jadi tontonan orang-orang di ruang tunggu.

Kejadian yang sama di supermarket. Abil mau masuk ke troli seorang pria Arab. Langsung saya tegur. Pria Arabnya mengomel balik ke saya. Malah, anak saya diberi permen.

***

Selanjutnya, bagaimana kesan-kesan bekerja dengan orang-orang Arab? Apa dicambuk kalau bandel? Hahaha. Mari kita tengok pengalaman suami saya.

Di hari acara perpisahan yang diadakan divisi tempat suami bekerja, sepulang dari kantor, wajah suami terlihat muram. Dia menenteng sebuah kotak hitam besar. Katanya souvenir dari teman-teman di kantor. Dia memang tidak menyangka akan dibuatkan acara perpisahan secara khusus. Lengkap dengan tanda mata pula. Kenang-kenangannya pun bukan barang murah.

“Seumur-umur aku kerja, baru kali ini dapat kenang-kenangan.” Kata suami, sekilas saya melihat matanya sedikit berkaca-kaca,

Kalau di Jeddah, adatnya sedikit berbeda. Yang mau pergi yang akan ditraktir oleh teman-temannya. Semasa di Jakarta, biasanya yang akan resign yang ditodong untuk mentraktir teman-teman lain.

Suami saya terharu sekali. Orang Arab memang punya ciri khas sendiri. Tidak jelek-jelek semua, kok. Mereka ada sisi positifnya. Biarpun terkenal ‘bawel’ dan ‘pemalas’, kalau sudah kenal baik dimana kita bisa merebut kepercayaan mereka, mereka bisa memperlakukan kita dengan istimewa.

Tapi cerewetnya memang tidak ketulungan, sih, menurut suami saya. Kadang suka memaksa. Tapi mereka tidak pendendam. Kalau sudah mengomel, tidak berapa lama mereka akan biasa-biasa lagi.

Perpisahan dengan teman-teman di Jeddah (Januari 2013)
Perpisahan dengan teman-teman di Jeddah (Januari 2013)

Konon seorang teman yang tinggal di Negeri Sakura pernah mengeluh. Supervisornya baik dan jarang protes. Tapi tahu-tahu memberi appraisal atau nilai yang kurang bagus. Padahal sudah mengira hasil kerjanya bagus karena tidak pernah mendapat kritikan. Saya percaya tidak semuanya seperti itu. Kebiasaan kita sebagai orang timur memang banyak “enggak enakan” nya.

Salah satu teman kerja suami di Jeddah merupakan karyawan kesayangan bos. Sam-sama dari Indonesia. Kebetulan bosnya sama dengan bos suami saya. Bos yang ini engineer asal Indonesianya ada beberapa. Ketika suami mau pergi, dia langsung menagih CV teman suami. Sudah jatuh cinta pada orang Indonesia. Padahal rate orang Indonesia konon lebih tinggi daripada rate karyawan asal Pakistan-Bangladesh-India.

***

Tak terasa akhirnya kami pun harus pindah ke tempat lain. 30 bulan di Jeddah menyisakan banyak sekali kenangan manis. Di hari keberangkatan untuk terbang meninggalkan Jeddah, sejak jam 2 malam saya sudah tidak bisa tidur. Sibuk mengingat kalau saya pernah kecewa karena “tak ada salju di kota Jeddah.” Saya sungguh ingin tinggal di negeri yang bersalju..

Gagal bertemu salju. Tapi sukses bersentuhan dengan hal-hal indah lainnya.

Namun, tak ada penyesalan sudah mengambil keputusan yang tidak mudah ini. Insya Allah di tempat baru nanti, jika Tuhan menghendaki, kami pun akan dipertemukan oleh orang-orang baik. Sekali lagi … insya Allah <3.

Perpisahan dengan madam-madam di Jeddah (Corniche, 2013)
Perpisahan dengan madam-madam di Jeddah (Corniche, 2013)

***

 

Katanya, Dunia Tidak Peduli?

1. Dunia tidak peduli pada Perang Irak?

Sudah baca ini ? —> Protests against the Iraq-War 

Malah, salah satu protes anti Perang Irak yang berlangsung di Roma memecahkan rekor dengan jumlah pemrotes terbanyak.

Saya kutip ya :

“Largest Anti-War Rally

On February 15, 2003, anti-war rallies took place across the globe – the largest occurring in Rome, Italy, where a crowd of 3 million gathered to protest against the USA’s threat to invade Iraq. Police figures report that millions more demonstrated in nearly 600 cities worldwide: on the same day, 1.3 million rallied in Barcelona, Spain, 1 million participated in a peace march through the streets of London, UK, and 500,00 people in Melbourne and Sydney, Australia, joined the biggest marches since the Vietnam War peace protests.”

Dari situ juga kelihatan, ada demo anti perang lainnya dari wilayah lain di Eropa :).

2. Dunia tidak peduli pada Palestina?

Wah, ini yang paling banyak linknya hehehe. Perwakilan saja ya saya sertakan di sini. Sila dicari lebih lengkap kalau mau :).

Ini yang versi foto-foto. Aksi protes dari berbagai belahan dunia dirangkum di sini. Klik tanda panah di bagian kanan foto for the next pic.

Di Tel Aviv sendiri juga ada demo –> Demo anti kekerasan di Gaza (Tel Aviv)

Salah satu protes di London –> Gaza Protest March in London

3. Dunia tidak peduli pada Bosnia?

Kasusnya bahkan dibawa ke pengadilan internasional dan diadili sebagai kejahatan perang –> War Cries Chamber in Bosnia 

4. Dunia tidak peduli pada Afghanistan?

Ini daftar lengkapnya, sumbernya juga banyak tuh di bagian bawahnya. Monggo disikat satu persatu ^_^.

5. Dunia tidak peduli pada Suriah?

Jangankan negara-negara mainstream, di sebuah kota kecil di Republik Irlandia, salah satu negara Eropa yang paling tidak tenar (hihihi), sebuah sekolah Katolik beberapa kali menggalang dana + baju-baju/selimut untuk Suriah :). Sekolah itu… sekolah anak saya :’).

Bantuan dikumpulkan via organisasi di gereja sekolah untuk disatukan dengan bantuan lain dari seluruh penjuru Irlandia. Itu sudah dilakukan sejak tahun 2014.

6 … dan seterusnya. Ini masih perlu dilanjutkan kah? Fungsi kalian terkoneksi ke internet itu seharusnya bikin “kalian” lebih aware dengan situasi di tempat lain kan ya? Biar lebih tahu dan tidak terus-terusan hidup bagai katak dalam tempurung? Sumber berita itu bukan cuma FACEBOOK! Bukan juga media sosial lainnya :p.

***

See my dear friends, humanity beyond our differences, including religion :).

Kita seharusnya bekerja lebih keras untuk menyiarkan kedamaian. Memperlihatkan bahwa kita itu bisa lho hidup damai dalam perbedaan. Menunjukkan kalau ada tempat-tempat di dunia ini di mana kalian bisa berjalan bebas tanpa mesti menyembunyikan identitas agama kalian dan kalian tetap mendapat kedamaian dan penghormatan dari orang lain.

Setidaknya itu yang saya rasakan sebagai muslimah berjilbab di negara mayoritas Katolik di sini :).

Juga menyadarkan bahwa kadang persamaan tidak lantas membuat kita dijunjung tinggi oleh orang lain. Dan itu kadang-kadang tidak berhubungan dengan agama :). Ada hal lainnya lagi. Jangan heran kalau seringkali di beberapa kesempatan di Timur Tengah, kita, orang Asia Tenggara/Selatan dipandang sebelah mata oleh saudara-saudara sesama muslim kita yang beda ras :). Itu masalah ekonomi semata. Bahwa mengapa agama tidak sanggup mematahkan hal ini itu adalah peer kita semua bukan? :).

Makanya teman-teman, kita harus terus menghidupkan harapan tentang “dunia yang damai” itu ADA dan insya Allah bisa kita perjuangkan.

Mungkin karena itulah, jika ada gejolak yang menimpa wilayah-wilayah yang kita tahu di sana harapan kita ada (di Paris misalnya), kita terkejut! Lebih terasa efeknya!

Karena separuh hati kita terasa limbung dan was-was nan khawatir, “Apakah sudah tidak ada tempat di mana kita bisa menaruh harapan bahwa perbedaan itu benar adalah rahmat :). Bahwa kita bisa lho hidup damai dalam perbedaan. ”

Gambar : misacor.org
Gambar : misacor.org

Setop adu domba, yuk! ^_^. Setop menyebarkan kebencian untuk hal-hal yang bahkan kita sendiri tidak tahu :).

49:13. Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku SUPAYA KAMU SALING KENAL MENGENAL. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.

Itulah salah satu gunanya merantau bukan? 😉 <3

Baca : To Read More Pages 

foto traveling

Menjadi Phala-Wan

Untuk hidup sehat, tidak ada cara lain selain menjaga pola makan dan rajin olah tubuh. Saya lebih suka pakai istilah olah tubuh ketimbang olah raga.

Biasanya kalau pakai istilah olahraga banyak yang mengeluh tidak punya waktu. Padahal pengertiannya kan luas, ya. Untuk ibu rumah tangga, seharian beberes rumah dan berdiri beberapa jam di dapur itu sudah termasuk olah tubuh lho ;). Coba saja dirutinkan tiap hari. Yang bekerja, jangan cengeng enggak punya duit nge gym :p, naik turun tangga ketimbang pakai lift/tangga jalan itu juga sudah termasuk olah tubuh :D.

Percaya tidak sih kalau satu hal baik itu otomatis berimbas ke hal baik lainnya. Menjaga pola makan + bergerak teratur –> membuat badan lebih sehat –> berat badan terjaga –> jadi misalnya untuk ibu-ibu enggak perlu ribet nyari pembenaran enggak penting macam, “badan gendut tandanya bahagia kan”? Hahaha :p. Enggak capek membohongi diri sendiri? ;).

Ha? Ujung-ujungnya soal berat badan saja nih. Tidak juga. Imbas lainnya lebih luas lagi. Umumnya pola makan sehat alami hanya mengandalkan bahan-bahan alami saja dan sebagian besar menyarankan konsumsi bahan alami tanpa diolah semisal sayur dan buah.

Efeknya?

1. Hemat listrik, hemat energi
2. Hemat biaya
3. Sumbangsih lebih baik untuk lingkungan

Kalau makanan olahan enggak jauh-jauh dari minyak. Kemarin jerit-jerit soal asap dan minyak kelapa sawit. Ayolah, berjanji pada diri sendiri untuk berkontribusi pada lingkungan dimulai dari diri sendiri dan keluarga sendiri dulu :).

Baca : Make That Change … You!

Kalau banyak yang sadar dan lebih sering mengkonsumsi sayur dan buah, bayangkan, demand sayur dan buah bertambah. Supply pun mengikuti. Jadi lebih banyak orang yang menanam aneka sayur dan buah. Penjual gorengan mungkin nantinya berbondong-bondong jualan rujak saja :p.

Gambar : female.kompas.com
Gambar : female.kompas.com

Ingat lho, tanaman itu menyumbangkan oksigen buat lingkungan. Sementara mengkonsumsi protein hewani agak sulit tanpa pengolahan sama sekali. Belum lagi beternak boro-boro nyumbang oksigen, ada juga hewan ternak ikut makanin rumput dan ikut menghabiskan oksigen :p. Kalau jumlahnya terus dipaksa meningkat, keseimbangan alam otomatis terganggu.

Hewan-hewan ini juga dibuat berkembang biak secara cepat mengikuti permintaan pasar :(. Terjadilah ide aneh-aneh. Ikan lele dikasih makan sampah lah karena tempat pemeliharaan terbatas. Sapi/kambing/domba/ayam dikasih makan serampangan, pokoknya gimana caranya biar cepat gede dan dijual.

Tahu sendiri sifat manusia yang dasarnya serakah, ya. Apalagi soal duit. Jangankan daging palsu dicampur macam-macam bahan, berita palsu saja laku dijual online kok :p.

Baca : e-Hate, Bisnis Baru yang Menjanjikan? 

Makanya, saya bilang tadi, hal-hal baik itu biasanya satu paket ^_^. Menjaga pola makan otomatis membuat kita lebih perhatian kepada kesehatan dan otomatis membantu alam menjaga keseimbangannya.

Manusia itu diciptakan sebagai pemimpin alam. Kita yang punya potensi besar menjaganya sekaligus merusaknya :(. Tinggal pilih mau yang mana.

Natural View, Glendalough, Ireland (foto : Dani Rosyadi)
Natural View, Glendalough, Ireland (foto : Dani Rosyadi)

Ya ngomong-ngomong soal pola makan ada macam-macam sih, ya. Saran saya pribadi jauhi pola makan yang nyuruh kita konsumsi satu bahan olahan /pabrikan/kemasan/buatan/non alami tertentu. Tuhan sudah menciptakan semuanya secara alami kok. Sudah dikasih macam-macam kok masih mau melawan Tuhan dengan lebih percaya pada produk pabrikan yang nyata-nyata bikinan manusia? :p.

Siapa tahu tertarik dengan pola makan food combining yang anti suplemen mana pun…monggo dibaca tulisan di link kalau ada waktu ^_^. Panjang banget soalnya hahahaha.

Baca : Solusi Hidup Sehat ala Food Combining 

Tapi tentu enggak ada jaminan kalau pola makan sudah kece terus enggak mungkin sakit. Buat yang percaya kalau Tuhan itu ada :D, lengkapi ikhtiarnya dengan doa dong ya ;).

Terus juga jangan gampang putus asa, ya, soal ngadepin kebiasaan makan kita sendiri. Saya sendiri juga enggak disiplin-disiplin amat hihihihi :p. Yang penting itu ada kesadaran dulu. Lagi-lagi ngutip Mbak Sophie Navita, “Makan yang berkesadaran” :). Bukan hanya asal mangap, lidah senang dan perut begah :p.

Pokoknya tiap hari coba terus. Jangan karena hari ini kebanyakan “makan sampah” besok langsung loyo dan enggak semangat nyoba lagi hehehe.

Terserah mau pilih pola makan alami model mana yang penting jaga baik-baik kesehatan kita semua as we all know …

“The greatest wealth is Health.” -unknown-

Btw, sekarang 10 November kan ya?

Kalau kata wikipedia “Pahlawan” itu berasal dari bahasa Sansekerta phala-wan. Artinya orang yang dari dirinya menghasilkan buah (phala) yang berkualitas bagi bangsa, negara, dan agama.

Kadang tuh ya untuk jadi pahlawan enggak usah susah-susah dan ngeri-ngeri lah mikirnya :p. Cukup berbuat baik untuk diri sendiri saja efeknya bisa bagus. Nanti bisa nular ke keluarga dan teman-teman.

Mau jadi pahlawan mikirnya harus punya uang banyak, harta berlimpah, tenaga yang kuat, pengaruh digdaya, bla bla bla. Dari pilihan-pilihan hidup yang kita buat pun, asalkan bisa punya pengaruh bagus, bisa dibilang kita sudah memberikan buah(phala) yang berkualitas untuk sekitar.

Dari rumah, dari kantor, dari mana saja, ayo terus persembahkan phala-phala kebaikan buat siapa saja :D.

Note : phala lama-lama kalau dibaca jadi pahala yak? hehehe ;).

Selamat hari pahlawan <3.

Gambar : billmarshjr.com
Gambar : billmarshjr.com

People We Haven’t Met Yet (5)

Baca : People We Haven’t Met Yet (4) 

Masa-masa naik kopaja jurusan Depok-Blok M yang ramainya naudzubillah itu tak sampai setahun. Naiknya boleh berdesakan dengan penumpang lain, tapi angkutan umum minim kenyamanan tersebut setia mengantar saya menuju rumah para murid yang rata-rata tinggal di pemukiman mentereng.

Mulai dari Kemang, apartemen daerah Dharmawangsa, hingga kompleks perumahan ekspat yang tertutup tapi super mewah di daerah TB Simatupang.

Biarpun harus menunggu wisuda di bulan Agustus, biarpun gagal meraih ambisi menuntaskan masa perkuliahan 7 semester saja, akhir maret saya resmi menjadi alumni :). Damn, selisih sebulan! huhuhu -_-.

Saya ikhlaskan membayar uang kuliah di semester 8 dimana saya sudah tak aktif kuliah sama sekali. Bahkan sudah memasuki dunia kerja. Selamat tinggal kampus, sampai jumpa di wisuda Agustus!

Graduation Girl! (Source : www.123rf.com)
Graduation Girl! (Source : www.123rf.com)

***

Dunia kerja membuka mata lebih lebar. Memang tak ada keinginan untuk hengkang kembali ke tanah kelahiran :D. Stres juga mendengar minimnya lapangan pekerjaan untuk IT di daerah :(. Sebagian besar teman saya malah berlomba bekerja jadi pegawai Bank di sana. Duh.

Baca : Di Timur Matahari Mulai Bercahya

Saya ingat, pertama kali kerja di daerah Cikini. Kantornya pas di depan stasiun kereta api Cikini. Dan tidak habis pikir juga ternyata dulu saya sempat menjadi ANKER sejati selama nyaris 4 tahun. Bukan kereta ekspres yang full AC itu, tapi KRL Ekonomi yang murah meriah, yang (katanya) kayak kepiting rebus kalau udah di dalam hihihi.

Stasiun Cikini, gambar : tribunnews.com
Stasiun Cikini, gambar : tribunnews.com

Bergaul bersama rekan kantor, rekan satu divisi, user, dll, selama 5 hari seminggu, 8 jam sehari, tentu membuat wawasan lebih terbuka. Jangan kira, pekerja IT macam kami, sepanjang hari melotot depan layar monitor saja. Hehehe.

Saya jadi menemukan bukti bahwa bukan isapan jempol jika ada asumsi bahwa etnis Tionghoa memiliki etos kerja yang luar biasa. Tentu ada juga yang tidak. Tapi memang, hampir semua yang saya kenal baik memiliki karakter kerja seperti itu :).

Bukannya mereka tak suka bercanda. Duh, waktu masih berkutat dengan para Bapak-bapak di lantai 8 (ruangannya bernama 8C), bisa sampai mules-mules dan pengin pipis kalau bercanda dengan mereka semua. Oiya, asal tahu dari 8 karyawan divisi IT di ruangan ini, hanya satu yang berjenis kelamin perempuan, hehehe.

Tak ada canggung. Mengingat saya dibesarkan di keluarga mayoritas pria, dan kuliah pun di kampus yang (mungkin saat itu) 80% adalah pria.

Tapi begitu ada deadline, semua serius hingga sudi bekerja sampai larut malam dengan hasil kerja yang rata-rata memuaskan :). Play hard, work harder ;).

Mereka bukannya pelit, tapi sangat-sangat menghargai uang. Jangan kira kalau mereka berada bisa sembrono buang-buang duit. Bahkan saya sangat terkesan dengan sebagian besar mereka yang menyantap makan siang hingga butir nasi terakhir. Hingga piring mengkilat saking bersihnya.

Bahkan jika ada yang mengeluh, “Duh, salah pesan. Ini gak enak.” Mereka tetap menghabiskan dengan tekun hingga suapan terakhir.

Saya terkesan dengan kisah seorang rekan yang bercerita mengenai masa kecilnya yang tinggal di lingkungan kampung kecil. Dimana etnis tionghoa entah mengapa menghadirkan rasa enggan sedemikian tinggi dari warga sana. Keluarganya tidak terlalu berada. Setelah berjuang dengan menjadi pedangan keliling, karena konon orang-orang kampung tak suka mereka membuka toko, akhirnya keluarganya memilih hengkang ke kota besar terdekat.

Saya jadi tersadar. Saya termasuk orang yang (dulu) berpikir, “Ah, semua orang cina kan pasti kaya.”

Dia tapi memilih bungkam ketika saya bertanya apakah dia dan keluarganya ada di Jakarta saat kerusuhan 1998? Padahal saya merasa saya sudah bertanya dengan sangat hati-hati :(.

Baca : Cerbung Temanku Cina

***

Tapi, bukan berarti jika mereka orang berada mereka akan sok dan royal. Salah besar, tuh. Hehehehe. Saya pun pernah kerja di lingkungan yang didominasi etnis tionghoa tapi yang berasal dari kalangan menengah ke atas.

Tidak tanggung-tanggung tajirnya kadang-kadang. Lulusan universitas yang cukup ternama dari luar negeri. Berpenampilan necis dengan mengendarai mobil pribadi tiap hari ke kantor. Nge-kos di daerah segitiga emas yang terkenal tidak murah.

Tapi, urusan uang, mereka pun sama disipilinnya. Ingat lho, bukan kikir. Tapi disiplin :D. Jangan kira tiap hari mereka akan mengajak makan di tempat-tempat enak-enak dan harus merogoh kantong hingga bolong (kantong saya maksudhya ahahahaha).

Budaya saya di geng mata sipit ini ketika bekerja di salah satu perusahaan yang berkantor di gedung BEJ, adalah makan siang ramai-ramai ke Semanggi-Expo. Murah meriah hehehe.

Hal konyol yang rutin kami lakukan adalah berlomba-lomba memesan menu dengan harga termurah! Bahkan ada yang rela tidak memesan minum dengan alasan, “minumnya nanti di kantor saja.” Ahahahahahahaha. Makin murah makin keren :P.

Oiya, hutang seribu perak pun pasti akan ditagih oleh mereka. Hehehe. Itu hak mereka. Bukan kikir sekali lagi. Ini menunjukkan betapa mereka menghargai uang, seberapa pun besarnya :).

***

Berjalannya waktu dan seringnya berpindah tempat kerja juga mengikis stereotip yang sudah terlanjur nempel di kepala terlalu lama. Seperti contoh di atas, tidak semua etnis Tionghoa tergolong orang berada.

Juga, orang Jawa pun jangan lantas dicap ‘jago basa basi’ semua. Ada juga, lho, yang dengan tulus hati rajin nawarin ini itu but they mean it. Contohnya yang kemarin protes di komen yang edisi no.3 ya kalau gak salah :P.

Orang Jawa pun, banyak yang ‘outspoken’ ;).

Orang Batak kasar-kasar dan pemberani? Saya pernah kenalan dengan mbak-mbak yang ngomongnya pelaaaann banget. Gak grasak grusuk pula. Malah cenderung penakut. Kasihan juga melihatnya, saat itu kami sering bertemu di halte stasiun kereta. Biarpun dia mengaku sudah bertahun-tahun naik kereta, dia suka pucat dan pasrah jika kereta terlihat sangat penuh.

Padahal saya sudah coba bantu dengan ikut memegang tangannya. Ya, karena didorong banyak orang, dan dia pun nampak ogah-ogahan jadinya gak keangkut. Sepertinya tak lama dia memilih mengganti jadwal makanya kami cuma sebentar saja akrabnya. Namanya Mbak X Sitompul. KUrang batak apa coba? Ahahahahahaha.

Orang Minang pelit? Memang! ehehehehe. Enggak semuanya tapi :P. Sahabat kuliah saya, yang entah sudah berapa kali saya sematkan namanya di berbagai tulisan adalah asli Minang 100% biarpun lahir dan besar di ibukota.

Orangnya royal sekali biarpun tidak berasal dari keluarga yang tajir mampus. Tak terhitung berapa kali dia mentraktir saya dan teman-teman lain. Kalau titip fotokopian ke dia, dia malah malas menagih dan menghitung. Suka-suka saja mau bayar berapa katanya.

Baca : V.V.I.P 

Hayooo…sebutin orang mana lagi? hihihihihi.

Baca : People We Haven’t Met Yet (6)

****