People We Haven’t Met Yet (3)

People we haven’t met yet (1)

People we haven’t met yet (2)

***

Masa-masa kuliah bukannya tak pernah terisi dengan ‘gesekan-gesekan’ dengan ‘dunia baru’.

Masalah bahasa sudah bisa diduga. Apalagi di kampus, di kos, saya pasti selalu jadi minoritas hehehe. Bukan cuma minoritas, tapi jadi satu-satunya :P.

Masa kuliah pun memperkenalkan saya pada etnis terbesar di tanah air… orang Jawa. Belasan tahun di tanah kelahiran, saya nyaris tak pernah bergaul dengan orang Jawa. Ada sih teman Jawa, tapi paling cuma separuh Jawa dan mereka dari lahir besar di lingkungan Sulawesi. Atau pun berdarah Jawa asli, tapi interaksinya dengan saya tak banyak.

Kejadian ‘memalukan’ pernah saya alami di tempat kos. Biar murah, pilih kosan yang sekamar berdua :D. Teman sekamar saya, orang Jawa asli. Rumahnya di Jakarta juga. Tiap minggu dia pulang ke rumah di daerah Jakarta. Jika balik lagi, tas ranselnya akan dipenuhi penganan aneka rupa.

Kalau dia mengeluarkan koleksi cemilannya dari rumah, ketika ditaruh di atas mejanya dia selalu berkata, “Eh, Jihan mau, gak?”

Gambar : wisatajiwa.wordpress.com
Gambar : wisatajiwa.wordpress.com

“Wah, bener, nih?”

“Iya. Ambil saja kalau mau.”

Dan berhari-hari mejanya selalu ada cemilan. Ya, mengingat uang bulanan pas-pasan, saya tak ragu-ragu ikut menikmati makanan kecil aneka rupa di atas mejanya.

Itu berlangsung sampai berminggu-minggu. Hingga akhirnya salah satu teman kos yang lain menegur saya, “Jihan, jangan marah, ya. Tapi tak sopan lho memakan makanan orang tanpa izin.”

Ha??? Saya mendadak naik pitam. Waktu itu sedang akhir pekan. Jadi, teman sekamar sedang tidak ada. Biasanya dia akan datang di senin sore.

Senin pagi, saat kuliah, saya lampiaskan kekesalan saya pada sahabat saya. Seorang Minang asli yang lahir dan besar di Jakarta. Setelah saya meluapkan emosi saya, dia memandang dengan heran :

“Lu itu bego apa kenapa, sih?”

“Sialan lu.”

“Itu namanya basa basiiiiiiii. Masa tidak mengerti, sih?”

“Dia memang selalu menawari kuenya, kok. Dan gue selalu bilang mau.”

“Duh, begini nih kalau orang kampung masuk kota hahaha.”

Saya melotot sampai akhirnya dia puas terbahak-bahak dan melanjutkan, “Woooiii, kalau ditawarin sesuatu ya jangan langsung mau. Itu kan cuma basa basi. Duh, lu kayak tinggal di hutan aja, deh. Gini-ginian aja  mesti diajarin.”

Saya tentu membela diri panjang lebar. Dan akhirnya sahabat saya menutup pembicaraan kami dengan bijak, “Hehehehe. Banyak-banyak belajar saja. Nanti lama-lama terbiasa, kok. Pokoknya camkan ya pesan gue, apa pun yang ditawarin orang ke elu, jangan langsung dianggap gimana-gimana. Ada yang namanya basa basi.”

Awalnya sulit sekali menerima hal seperti itu. Tak habis pikir saya dengan segala budaya Bugis saya dengan tawaran-tawaran ‘tak niat’ seperti itu. Hehehehe. Maklumlah, benar kata teman saya, orang kampung baru kenal ibukota :D.

Baju bodo sulawesi selatan
Akad nikah dengan baju bodo, adat Sulawesi Selatan 🙂

Kami orang Bugis tak mengenal basa-basi macam itu :). Kalau kami menawarkan sesuatu, malah jika orang lain itu menolak atau tak merespons kami akan sangat tersinggung :).

Butuh waktu untuk akhirnya menyadari, saya kini hidup jauh dari kampung halaman dan menjadi orang minoritas. “Dimana tanah dipijak, disitu langit dijunjung.” When in Rome, do as Romans do :).

Dan lama-lama jadi paham dan malah lama-lama sedikit-sedikit memahami bahwa budaya ‘asing’ ini pun punya keunggulan. Pada umumnya kami dari Indonesia Timur, mudah mengumbar amarah. Pelan-pelan saya belajar, tak semua kekesalan harus terlontar dari mulut. Sulit memang, bahkan sampai sekarang pun, saya masih harus belajar banyak untuk urusan satu ini. Hahaha.

Baca : People We Haven’t Met Yet (4) 

***

Revolusi Mental Adalah ….

Revolusi Mental Adalah  …

Revolusi Mental adalah

Mungkin petikan ucapan  itulah salah satu beban terberat dalam rangkaian panjang revolusi mental ala pemerintahan baru. Membalikkan cara berpikir masyarakat yang sudah sekian puluhan tahun memiliki persepsi sendiri soal kesejahteraan sosial : harga barang murah, pajak kecil dsb :p.

Isn’t it terrifying, knowing that most developed countries are the ones who have the highest living cost as well as the highest taxes? Diperkuat oleh fakta bahwa bahwa umumnya negara berkembang justru memiliki biaya hidup cenderung rendah.

Uniknya, tak berarti di negara berkembang tak ada orang kaya. Tapi yang terjadi adalah jurang menganga antara mereka yang berpunya vs mereka yang tidak.

Biaya hidup rendah hanya akan membuat si kaya akan semakin kaya dan ternyata tidak membuat mereka yang kurang beruntung bisa bernasib lebih baik, bukan? :). Sementara sebaliknya, di negara-negara maju, situ makin tajir siap-siap dihajar pajak gede hahaha. Yang kurang mampu malah kadang tidak perlu bayar pajak tapi tetap menikmati fasilitas umum yang ada :).

So what do you want? Kalian kira badai ekonomi hanya sedang menerpa negeri kita saja? Atau jangan-jangan apa yang terjadi di Yunani itu buah konspirasi orang paling kalian benci itu juga? Hahahaha :p.

Yunani sekarat. Negara sekelas Jerman pun meradang. Jerman punya kepentingan besar untuk menjaga stabilitas negara-negara yang sudah terlanjur mengikat janji bersama dalam Uni Eropa :p. Ada yang paham kenapa? ;).

Revolusi Mental Adalah
Gambar : mytripolog.com

Saban nonton BBC news edisi ekonomi, kalau lagi bosan mantengin gosip artis hahahaha, Ibu Angela Merkel bolak balik meeting sama pemerintah Yunani hihihihi. Yang lain sudah gemas, tapi Jerman, yang justru bertengger sebagai posisi ekonomi Uni Eropa terkuat juga punya kepentingan lain ;).

China, yang laju ekonominya sempat dua dijit sekarang harus menekan pertumbuhannya demi menjaga laju inflasi. US yang serba salah. Dolar menguat, ekspor terancam. Dolar melemah, ya enggak untung-untung amat juga :p.

Dan lihatlah Swiss, dengan kurs mata uang yang terus menguat pun, setengah mati bertahan agar tidak tergerus oleh tetangga-tetangga Euro-nya :p. Dan situ kira di UK sekarang lagi tenang-tenang saja? Jangan kebanyakan baca situs aneh-aneh makanya hahahahaha. Seolah-olah di seluruh dunia, hanya kita yang sedang terpuruk.

Revolusi Mental adalah
One of the best View of Lausanne (Switzerland), taken from Hermitage

Itu Malaysia juga tengah bermuram dengan merosotnya nilai tukar ringgit ke salah satu titik terendahnya dalam 10 tahun terakhir ini.

Justru bintang yang sekarang terang benderang adalah…India! Kuartal pertama ini laju pertumbuhannya cukup emejing kalau kata alay sekarang :p. Dan diramalkan India akan menjadi negara dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di dunia di akhir tahun 2015.

Indonesia hancurkah? Hahahaha. Itu mah situ saja yang berharap begitu :p. Indonesia, termasuk 20 besar kekuatan ekonomi dunia (secara GDP). Memang, sepertinya akan turun tapi harapan ekonomi dunia itu masih ada di tangan para raksasa Asia :D. Uniknya, bukan lagi dominasi Jepang. Tapi ada India dan China dan diharapkan Indonesia bisa ngekor di belakang. Aamiin.

Long way to go, ya, teman-teman. Selalu ada harga yang harus KITA bayar. Iya, KITA. Tapi tak mengapa dalam perjalanannya harus penuh kontroversi dan penyesuaian. Harapan saya mah asal jangan ada kata-kata tidak senonoh saja sih tapi itu pun kayaknya mustahil ya hahaha.

Ekspor tambang mengalami pukulan berat. Konon karena salah satu eksportir terbesar, China, lagi “kurang enak badan”. “Makan”nya tidak sebanyak dulu hehehe. Jadi, kita yang sudah biasa nyediain bahan mentah dalam jumlah luar biasa buat “makanan” mereka harus kehilangan orderan. Hukum ekonomi sederhana, demand jatuh, harga pun runtuh.

Revolusi Mental adalah
Great Wall-China (gambar : en.wikipedia.org)

Bisa bayangkan saat posisi dolar seperti ini dan pemerintah masih harus mensubsidi konsumsi BBM? Kejauhan gak saya pertanyaannya? Mengerti tidak apa hubungannya? :D.

Pemerintah harus bekerja keras. Untuk terus membayar utang luar negeri, situ kira utangnya ke IMF doang, dikata ke IMF lunas, habis urusan gitu? Hahahaha. Utang banyak dan pemasukan sedang tergoncang.

Tidak hanya sibuk bayar utang, rakyat sejumlah 250 juta ini pun apa bisa dianggurin begitu saja? No! Pembangunan harus terus berjalan. Dengan kondisi geografis yang segini menantang, di mana dari dulu isu infrastruktur tidak pernah beranjak dari kesenjangan antar wilayah dan pulau satu dengan yang lain, bisa bayangkan seberapa besar dana yang dibutuhkan?

pesona-indonesia4.jpg

Pemerintah berusaha keras meningkatkan pelayanan kesehatan via BPJS yang diharapkan bisa menjangkau seluruh lapisan masyarakat. Entah gimana enaknya. Iuran kecil, kalangan medis yang ngambek merasa diperbudak. Iuran digedein, ya terus gimana dengan rakyat kecil yang mungkin adalah mayoritas pengguna BPJS ini?

Itu urusan pemerintah, dong, ah. Ya terus dananya dari mana, Kakaaaaa?

Dana itu bentuknya harus DUIT. Sekali lagi, DUIT. Bukan upil, bukan bulu ketek, apalagi bulu kaki :D. DUIT, teman-teman. DUIT.

Oh wait, Indonesia tambangnya banyak, sumber daya alamnya banyak. Tambang atau migas itu memang luar biasa pesona keuntungannya tapi investasinya juga gede, teman-teman. Kalian kira bisnis seperti ini tinggal lihat peta terus nemu sumbernya terus loncat-loncat kegirangan, “HOreee kita kaya, kita kaya.”

Nope! Untuk observasi awal saja ada investasi milyaran bahkan ada yang bisa mencapai trilyunan rupiah. Siapa yang akan membiayai ini semua? Kalau ngumpulin bulu ketek kalian insya Allah cukup, tapi kita kan butuhnya duit, Euy! :p. Ini tulisan bagus yang dibuat suami teman saya yang mudah-mudahan bisa buat masukan.

Karena itu ada yang namanya investasi asing. Yang sering kalian kaburkan dengan istilah utang!

Pemerintah bisa menekan pengeluaran. Misalnya dengan memotong gaji PNS yang porsinya juga lumayan banget itu di APBN tiap tahun. Boro-boro. Disuruh hidup sederhana saja sudah hampir runtuh timeline dibuatnya! Hahahaha. Mau perang saudara kalau berani utak utik gaji dasar PNS? :D.

Pemerintah bisa meningkatkan pendapatan. Naikin pajak penghasilan saja biar cepat. Bunuh diri gak tuh? Makanya, subsidi yang ditarikin satu-satu. Anyway, apa pun opsinya mana ada yang enak lah.

Lah, kan sumber daya alam lain banyak. Yoih banget. Tapi apakah mungkin beras-beras di Jawa Timur atau di Sulawesi Selatan bisa terbang begitu saja ke mana-mana tanpa ada pembangunan infrastruktur? Andaikan Aladin itu nyata yaaaa, tinggal pinjem karpet terbang deh kiteeee hahahaha.

maritim-indonesia.jpg

Ikan-ikan di perairan timur bisa berenang sendiri ke Pulau Jawa dan sekitarnya gitu atau ke luar negeri sekalian. Tinggal kita kasih pesan, “Yuhuuu udang-udang segar, tolong berenang ke Jepang ya, ke alamat ini-ini-ini. Nanti jangan lupa bilangin tagihannya suruh transfer ke Indonesia.” Kebanyakan nonton Finding Nemo kauuuuuu! Hahahaha.

Tangkepin saja koruptor satu-satu. Eh, kalian kira China yang segitu hebatnya bisa melakukan giant step dalam kemajuan ekonominya sudah bebas dari korupsi? Kan mereka sudah pakai hukuman mati segala! Salah besar. Cek saja indeks korupsi di China. Masih memprihatinkan tuh.

Seiring sejalanlah semuanya. Enggak bisa kita hentikan pembangunan dan segala macam hanya untuk nangkepin koruptor satu-satu.

Bukankah pemerintahan sekarang juga sudah berupaya keras menutup jalan-jalan untuk korupsi? Penyerapan anggaran sangat rendah karena sepertinya pemerintahan sekarang juga mati-matian melakukan reformasi birokrasi. Itu bukan pekerjaan mudah.

Be the part of a solution. Karena kalau semua sanggupnya menuntut doang, terus macam mana kita mau maju?

Ya, ya, ya, saya tahu kita semua penginnya bobo cantik malam ini, dan berharap bangun-bangun besok ada pesta kembang api plus sebuah poster di udara, “Congrats, Beb! Indonesia sekarang sudah jadi negara maju, lho!” Awwwww, mercon mana mercon! :v :v :v.

Rupa-rupa wajah Indonesia (gambar : 123rf.com)
Rupa-rupa wajah Indonesia (gambar : 123rf.com)

Siapa yang tidak mau, muda senang-senang, tua bahagia, mati masuk surga! Aamiin :p. Enggak mau yang susah-susah deh pokoknya. Kalau bisa itu harga di-rewind semua ke zaman Orde Baru. Sekalian sama kurs dolarnya. Gitu ya? :p

But we all know, it won’t happen that easy :).

Kalian, yang pengusaha, jangan malah menurunkan semangat dengan mengadu ini itu. Buktikan dong, pengusaha lebih tangguh daripada karyawan. Ingatlah masa-masa kalian jumawa-jumawanya merasa keren karena katanya tangannya di atas bukan di bawah :p. Keep it that way! Itu yang dibutuhkan sekarang ^_^.

Kalian, yang karyawan, jangan malah makin cengeng minta ini itu. Buktikan dong, etos kerja kita tetap cerah dalam keadaan apa pun.

Kalian, yang ibu rumah tangga, teruskan berkiprah di rumah, sepositif yang kalian bisa. Teruslah mendidik anak-anak penerus bangsa kita untuk menjadi secemerlang yang mereka bisa. Karena mereka yang kelak harus berlari di lintasan yang sekarang kita jalani.

Kalian, yang suka menulis *uhuk*, jangan malah nyari keuntungan sendiri dengan sibuk menebarkan hal-hal yang malah membuat semangat letoy. Ya, ya, ya, saya tahu kalian juga butuh duit. Tapi ayolah, live with honour :), setidaknya di masa-masa yang katanya lagi limbung ini ;). Tebarkan kebaikan, pacu semangat melalui tulisan-tulisan kalian.

Buktikan pena itu kadang lebih tajam daripada pedang. Pengaruhnya dalam kebaikan lho ya bukan untuk macam-macam lainnya :p.

Kalian, yang di luar negeri. Udah dulu atuh culture shock-nya. Sekalinya mudik kok ya yang negatif-negatif saja sih yang dilihat dan disebarkan :(. Kalau segitu sulitnya mencari hal-hal menarik di tanah air setelah sekian lama kalian tinggalkan, fokus saja kepada wajah-wajah yang kita rindukan yang sekian lama tak pernah bertemu :). Fokus ketemu teman, ketemu saudara kerabat handai taulan.

Jangan suka kagetan lah. Macet kaget. Ketemu pengemis kaget. Ngeliat orang naik motor enggak pakai helm kaget. Yaela, sebelum kalian ke luar negeri pan emang udah gitu. Santai sajalah ;).

Jangan lupa, walau disindir kiri kanan, devisanya ya Kakaaaaa ke tanah air tetap harus lancar ^_^ *pukPukSuami* :v :v. Semangat Bang, mari semangat menabung untuk ngirim duit ke Pak Jokowi hihihihi :p.

Ya pokoknya, apa pun yang kalian lakukan, do the best on your own way.

Buat yang muslim, sebelum bobo atau nanti bacanya pas makan sahur, persembahkan doa terbaik kalian untuk perbaikan ke arah yang lebih baik untuk negara kita tercinta :).

And that’s how this thing called Revolusi Mental should work ^_^.

Allah Merahasiakan Masa Depan
Untuk Menguji Kita
Agar Berprasangka Baik,
Merencana Dengan Terbaik
Berusaha Yang Terbaik,
Serta Bersyukur Dan Bersabar

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al ‘Ashr: 1-3).

Satu lagi nih, bagi penggemar Harry Potter. Ingat Professor Trelawney gak? Professor satu ini mengajarkan kita, bahwa kita tak bisa menyesali masa lalu tapi kita bisa MENGUBAH masa depan.

Tetap semangat puasanya, teman-teman. Eman-eman ah puasanya, jangan dipakai buat maki-maki ;).

Revolusi Mental adalah  ……….   Tanggung jawab kita semua !

***

Peace Comes from Within :)

Ada berita seru sebenarnya beberapa hari terakhir ini :D. Walikota Kota Hujan melarang pelaksanaan sahur on the road, dan yang teranyar … walikota Kota Buaya membekukan Badan Amal Zakat. Nyaris tidak ada benturan! :p.

Gambar : yarismalang.org
Gambar : yarismalang.org

Bisa dibayangkan kalau yang melakukannya adalah pemimpin daerah yang entuh? :v :v. Beuh! Hancurlah Indonesia! Agama Islam lebur sudah! Hahahaha. Boro-boro mau baca alasan, mentok di judul pun sudah langsung ramai yang share :p.

Media ‘anu-anu’ juga tidak terlalu menyorot masalah ini :D. Sempurna sekali bukan?

Makanya, media ‘anu-anu’ pun tidak sembarangan bikin berita ;). Mereka punya satu pemantik penting –> perkiraan tentang respons orang-orang. Khusus untuk pemimpin daerah entuh sama partnernya dulu yang sekarang sudah jadi orang nomor satu di tanah air, rasa benci memang terus dipelihara oleh pihak-pihak tertentu ;).

Penyakit hati satu ini dioptimalkan betul oleh berbagai media untuk kepentingan mereka sendiri hehehe. Kadang, beritanya memang bukan hoax. Tapi mereka bisa mengubah redaksi berita atau menyampaikan sepotong-sepotong :p. Itu sudah lebih dari cukup untuk memantik rasa benci yang memang sudah terlanjur tertanam di benak beberapa pihak.

Lebih seru lagi kalau yang diberitakan memang hoax! Ampun dije lah hahaha.

Buat kalian yang langsung emosi jiwa baca apa pun tentang pihak-pihak yang kalian sebut “wahabi” misalnya. Contoh : pemindahan makam rasulullah. Isu basi yang selalu dipoles ulang tiap tahun. Saban mau musim haji, adaaaaa saja yang mendaur ulang berita ini :p.

Buat yang anti Timur Tengah, mudah tersulut membaca berita-berita soal hukum syariat yang katanya terlalu arabisasi. Di tanah air, paling sering soal Aceh. Beberapa berita sempat saya lihat-lihat, misalnya soal orang yang diperkosa yang malah dirajam tempo hari, kenyataannya ternyata beda. Padahal orang sudah ramai share soal piciknya pemerintahan daerah di Aceh :D. Kasusnya ternyata bukan begitu ;).

Masjid Baiturrahman, Aceh (gambar : id.wikipedia.org)
Masjid Baiturrahman, Aceh (gambar : id.wikipedia.org)

Saya sekarang selalu skip berita yang mendiskreditkan penerapan Syariah di Aceh. Dari yang dulu-dulu, mayoritasnya hoax. Susah juga soalnya mau cari tahu :(.

Buat yang sensi sama Syiah juga. Asli selalu pengin ngakak kalau ada yang pasang berita-berita soal Iran apalagi Teheran. Lah ya gimana, saya pernah di sana hehehe.

Ini lebih ngeri, kita meluruskan, pasti ujung-ujungnya dituduh taqiyyah hahaha. Memang, hidup sebagai Sunni agak terbatas di sana. Tapi ya enggak segitunya kaleeeeeee hehehe. Memang benar di sana agak sulit mau salat Jumat. Secara umum, masjid-masjid umum enggak ngadain salat Jumat. Suami saya dulu salatnya di KBRI :D.

And then tanya sama diri sendirilah, umat Syiah di tanah air apa hidupnya senang-senang juga? Hehehe. Mau balas dendam gitu ya? :p.

Buat yang sensi sama Arab Saudi. Nuduh macam-macam misalnya perempuan mana pun tinggal di sana bisa stres. Ya enggak juga tuh! :p. Tapi memang kurang tepat kalau kalian berharap mentang-mentang ini daerah kelahiran nabi, tabiat mayoritas penduduknya beda-beda tipis sama rasulullah. Waduh! Hehehe.

Yang anti komunis, kadang ditanya asal muasal munculnya komunis juga gagap :p. Yang anti agama, boro-boro mau baca kitab suci, hanya menilai berdasar satu dua sampel. Yang anti atheis, terlalu pongah mau ‘membaca’ mengapa orang-orang ini menjauhi agama.

Yang anti negara sekuler, lihat berita Perancis melarang orang pakai jilbab, langsung pukul rata, “Eropa anti Islam!” :v :v.

Muslim di Eropa (gambar : wykop.pl)
Muslim di Eropa (gambar : wykop.pl)

Hadeeehhh, kalian kira tidak banyak imigran muslim yang mati-matian mendapatkan status kewarganegaraan di negara-negara Eropa barat? :p. Lari dari negaranya yang mungkin malah dihuni mayoritas muslim, sering mengorbankan harta dan tenaga, hanya demi bisa memboyong diri dan keluarga tinggal di negara-negara sekuler :). Apa itu artinya mereka sudah jadi orang-orang sekuler dan tidak lagi peduli agama? :p.

Ketidaktahuan menjadi dasar ilmu. Rasa benci mengalahkan akal.

Manusia biasa pun ya :). Saya juga begitu. Kalau baca berita tentang orang/pihak yang tidak suka, tanpa sadar berharap, “Please, yang jelek-jelek dong, yang jelek-jelek dong” Hahahaha. But then I realized it consumed me. Amit-amit jabang bayi dah hehe. Mayoritas waktu habis untuk mencari yang negatif setidaknya untuk mencari pembenaran, “Rasa benci saya berdasar kok! Saya sudah benar karena sudah benci sama ini-itu.” :D.

At least, sadar tidak sadar, it made us relieved kalau ada berita jelek tentang yang bersangkutan. Padahal lupa satu poin penting, selama kita ngomongin manusia biasa, yang namanya kesalahan itu PASTI akan ada. PASTI ;). Jadi, kenapa mesti tepuk tangan kalau mereka salah? :p.

Manusia tempat salah dan lupa. Ngomong-ngomong kalian masih menganggap diri kalian manusia biasa kan? :p.

Jangan biarkan orang-orang gila ini mengambil keuntungan dari kita. Mereka dapat duitnya, kita dapat dosanya. Satu hal penting lagi, bebaskan diri dari penyakit hati satu ini :). Ibaratnya, media itu hanya sekadar mengobarkan api dengan melempar korek di tengah linangan bensin. Kalau bensinnya tidak ada, tak akan semudah itu api menjalar ;).

Ada banyak sekali sebenarnya kebaikan yang bisa kita tuai dan kita sebarkan via kecanggihan internet ini. Stay away dari macam-macam hasut dengki. Percayalah, kebencian itu seperti api. Yang sanggup membakar habis segalanya. SEGALANYA.

Rumours are created by haters, spread by fools, and accepted by idiots.
Don’t be ANY of them ;). Jangan meresahkan berita yang kita belum pasti kebenarannya. Belum pasti kok sudah resah? Hehehe. Pakai otaknya! ;). Kalau pun tak sanggup menelusuri lebih jauh, berprasangka baik selalu pilihan terbaik. Ingat dong, kita disuruhnya menjauhi prasangka buruk. Sebagian prasangka sudah pasti dosa.

TIDAK ADA perintah untuk utamakan prasangka buruk. Mau pakai alasan menyelamatkan agama kok ya lebih absurd lagi. Apa yang mau diselamatkan kalau dalam prosesnya sudah berapa larangan agama tuh yang dilanggar? Tabayyun enggak, prasangka buruk iya, menyebarkan kebencian apalagi :p.

gambar : mariaelita.com
gambar : mariaelita.com

Saya pernah membaca kalimat begini, lupa di mana hehehe. Benci sama sesuatu itu manusiawi. Tapi menebarkan kebencian itu sesuatu yang beda lagi ;).

“I’m interested in the fact that the less secure a man is, the more likely he is to have extreme prejudice.” -Clint Eastwood-

Peace comes from within. Do not Support E-HATE. Say no to hoax! Stay positive!

Selamat melanjutkan ibadah puasa, teman-teman ^_^.

People We Haven’t Met Yet (1)

“Gak mau ah nunggu di gereja…”

“Ayooooo… disuruhnya tunggu disitu!” Adik saya sudah menarik-narik tangan saya.

Akhirnya kami berdua menunggu jemputan di sebuah gereja (yang belakangan saya ketahui sebagai gereja katolik karena memasang patung Bunda Maria dimana-mana). Gereja yang berdiri megah ini terletak di ujung jalan yang sama dengan sekolah saya, Sekolah Islam Athirah.

Gedung sekolah Athirah Makassar 2011 (gambar referensi.data.kemdikbud.go.id)
Gedung sekolah Athirah Makassar 2011 (gambar referensi.data.kemdikbud.go.id)

Kalau tidak salah, jalanan sekolah kami satu arah. Jadi untuk memudahkan, penjemput kami, yang biasanya menggunakan motor vespa, kami menunggu di persimpangan. Y,a di gereja itu.

Ternyata teman saya banyak yang menunggu di sana. Teman dekat pula. Mereka tinggal di kompleks dosen UNHAS. Dan berbagi mobil jemputan dengan anak kompleks lain yang bersekolah di sekitar jalan Kajaolalido itu.

Sembari menunggu, ada pula anak-anak sekolah dari Frater (sekolah kristen). Tapi anak-anak sekolah ini juga banyak yang muslim. Atau dari sekolah Nusantara, sekolah swasta yang juga dimiliki oleh yayasan Kristen.

Aduh, rasanya aneh sekali. Saya, yang bertahun-tahun sekolah di sekolah Islam tak biasa bercengkrama dengan anak-anak bermata sipit dari Frater. Atau anak-anak dengan wajah yang cukup ‘khas’ yang dikenal sebagai etnis Toraja, wilayah yang didominasi pemeluk Protestan.

Tapi entah kenapa, “menunggu di gereja” menjadi hal yang rutin. Penjemput merasa itu adalah jalur tercepat. Ya sudah, biarp canggung, lama-lama terbiasa sendiri.

Karena dasarnya kepo, begitu rasa kikuk tak lagi tersisa, mulai deh gatal ingin melihat seperti apa sih kawasan dalam gedung gereja?

Adik saya selalu menolak kalau diajak masuk. Dia lebih suka melepas sepatu, berlari-lari seperti orang gila di halaman gereja hihihi :p. Atau bermain pasir di sebuah bundaran tengah halaman. Gak penting amat sih kegiatan lu, Buntel? hahaha.

Biarpun penakut, rasa penasaran menyeret saya memasuki pintu gerbang gedung gereja di bagian samping yang saat itu entah kenapa terbuka lebar. Biasanya terkunci.

Gereja Katedral Makassar , Kajaolalido (gambar : kebudayaan.kemdikbud.go.id)
Gereja Katedral Makassar , Kajaolalido (gambar : kebudayaan.kemdikbud.go.id)

Halaman samping gereja berupa taman yang rapi. Di tengah taman, ada semacam kolam kecil yang di tengahnya ada patung Bunda Maria. Ada kamar-kamar di ujung taman. Pas pengin menyelinap masuk, ada beberapa biarawati yang memergoki. Duh, rasanya ingin kencing :P.

Mereka pasti mengenali saya. Seragam sekolah kami cukup unik. Waktu SD, saya tak pernah mengenakan seragam putih merah. Tapi seringnya seragam kotak-kotak hijau dengan rok hijau pastel yang menurut saya seragam yang paling keren :D.

Tak berpikir panjang, lari terbirit-birit keluar. Hahaha.

Sampai akhirnya, ijazah SD sudah distempel dan saatnya memulai dunia ABG jadi anak SMP :D.

Sebenarnya ingin sekali melanjutkan di sekolah yang sama, secara kecengan SD semuanya kembali bersekolah di sana. Mulia sekali alasannya, Kakaaaa, hahaha. Tapi 2 hari setelah Ebtanas SD, Bapak meninggal tiba-tiba. Jadi tahu diri saja deh, NEM nya cukup untuk masuk sekolah negeri yang kala itu masih sangat-sangat murah :P. Dipilihlah SMP negeri yang merupakan SMP terbaik (katanya) sepropinsi.

***

Menginjak bangku SMP lain lagi ceritanya. Biarpun waktu SD, akhirnya terbiasa menunggu bersama dengan anak sekolah lain (yang sipit, dll itu :P), tetap saja canggung ketika harus berbagi kelas yang sama.

Waktu SD, teman saya juga ada yang sipit. Tapi ketika azan dzuhur tiba, dia juga duduk bersama kami mengenakan kerudung dalam mushalla sekolah. Delapan tahun penuh saya sebelumnya bersekolah di lingkungan Islam. Semuanya muslim. Dari guru hingga teman-teman. Di lingkungan tempat tinggal pun, anak perempuan di rumah saya tak bebas bermain keluar rumah. Sementara kakak saya yang laki-laki semua boleh kelayapan kemana suka. Itu aturan dari Bapak :D.

SMPN 6 Makassar (gambar : referensi.data.kemdikbud.go.id)
SMPN 6 Makassar (gambar : referensi.data.kemdikbud.go.id)

Jadinya aneh juga, sepanjang hari harus bertemu mereka. Mengobrol bersama mereka. Bahkan mereka latihan paduan suara untuk gereja di sebuah kelas terbuka saat jam istirahat tiba. Entah kenapa, awalnya ada rasa enggan. Tak terbiasa. Dada saya berdebar-debar tidak jelas kalau mendengar paduan suara seperti ini. Sebal saja rasanya.

Jujur saja, 3 tahun di bangku SMP, saya tak pernah dekat dengan teman-teman non muslim. Sekedar kenal dan saling menyapa. Hingga lulus, saya gagal menepis ‘rasa canggung’ saya terhadap mereka. Kelas saya hampir 100% beragama Islam. Ada 2 kelas lain yang didominasi agama lain, meskipun muridnya pasti ada yang muslim.

Ngapain, pikir saya. Teman muslim banyak, kok :D. Bahkan pernah terbersit rasa tidak suka ketika salah seorang teman dekat bercerita kalau dia naksir dengan X. Dimana X ini seorang penganut Protestan.

Pantai Losari, Makassar (gambar : bukuwisata.com)
Pantai Losari, Makassar (gambar : bukuwisata.com)

Kelas 2 SMP, apa kelas 3 ya, ada anak baru di kelas kami. Agamanya protestan. Anaknya ceria dan jadinya banyak yang dekat dengannya. Bahkan saya dan beberapa teman dekat membuat acara bazaar yang melibatkannya. Duh, jujur saja, saat itu saya ingin mundur saja karena ada dia. Tapi saya takut dan malu karena apa dong alasannya?

Jadilah dengan setengah hati tetap ikut. Bahkan, kami pernah main ke rumahnya, lho. Susah payah saya menepis ketidaksukaan saya. Berusahan bersikap senormal mungkin, padahal waktu di rumahnya, otak saya dipenuhi pikiran aneh-aneh, “duh, ntar kita dikasih babi gak, ya?” Tolol to the max, ya, saya. Hahaha.

Bangku SMA lah yang akhirnya ‘membobol’ sedikit-sedikit rasa ‘aneh’ tidak jelas itu :P. Yang belakangan saya sadari, dulu pun saya ternyata mengidap xenophobia yang tidak ringan. Hehehehe.

Baca : People We Haven’t Met Yet (2) 

 

Konflik Rohingya : GOD’S GREAT BIG FAMILY

Konflik Rohingya terus memanas. Ini tulisan tentang Myanmar –> Ditulis tahun 2013 silam, waktu ada event menulis untuk Komunitas ASEAN #10daysForASEAN. 

Tiap hari temanya tentang negara anggota ASEAN.

Myanmar
Myanmar, gambar : 123rf.com

Konflik Rohingya memang terlalu sempit kalau berpikirnya hanya soal agama saja :).

Ada sih faktor agamanya. Tapi tidak berarti di seantero Myanmar mendadak anti Islam gitu kali lah hehehe. Tuh, saya punya teman pakai jilbab yang sekarang lagi bermukim di Myanmar :D.

Tahun 2013 itu menulisnya memang pakai riset kecil-kecilan. Topiknya tentang tanggapan atas Myanmar sebagaii satu-satunya negara ASEAN yang masih menerapkan aturan visa bagi turis sesama ASEAN sekali pun.

Myanmar memang punya sejarah panjang mengenai cengkraman rezim militer terhadap mereka. Belum lama Myanmar menghirup udara ‘kebebasan’ dan masih banyak peer yang harus dihadapi. Mereka juga memilih tidak terlalu terbuka kepada “pihak luar”.

Konflik antar etnis sebenarnya yang lebih terasa di sana. Kebetulannya, etnis ini pun berbeda agama pula. Padahal etnisnya enggak banyak. Secara fisik, etnis mayoritas di Myanmar itu memang miripnya ke etnis Tionghoa. Sementara salah satu etnis minoritas, Rohingya, penampakannya lebih mirip orang-orang Bangladesh, yang juga berbatasan darat dengan Myanmar.

Ribet lah ini urusannya. Karena Bangladesh juga lebih sarat masalah soal kependudukan. Negeri mayoritas muslim ini merupakan negara ke-6 dengan penduduk negara terbanyak. Kondisinya juga ya gitulah :'(. Sengaja sebut-sebut mayoritas muslimnya biar kalian enggak terbakar amarah dan malah ngamuk enggak jelas ke penganut agama Budha.

Apa yang terjadi di internal Myanmar ya jangan langsung bikin sugesti macam-macam lah hehehe. Kita pun tak suka bila ada kekerasan yang mengatasnamakan Islam dan dunia internasional langsung menyerang Islam secara universal. Terus, kenapa sekarang jadi balas dendam dong? Seolah berlomba ingin menunjukkan pada dunia, “Budha juga punya teroris, lho.”

Myanmar, gambar : cosianatour.com
Myanmar, gambar : cosianatour.com

Ya enggak gitulah ya harusnya. COMPASSION. Jangan melakukan hal yang kita tidak suka jika dilakukan terhadap kita, yes? ;). Saat punya kesempatan membalas ya harusnya jadi momen untuk ‘meluruskan’ bukan malah ikutan rusuh. Lingkaran setan dong jadinya hehehe.

Macam kecelakaan pesawat di Perancis tempo hari. Mentang-mentang copilotnya bukan muslim kalian menuntut dia disebut teroris juga? Lah, piye? Katanya enggak suka dibilang teroris? Kok sekarang kepengin supaya si copilot juga dilabel sebagai teroris? Hayooooo…balas dendam ni yeeee hehehe.

Yang terbaik, adalah dukungan untuk menyelesaikan masalah dan mencari solusi. Dan berhenti label-labelan enggak jelas.

Nah solusi untuk Myanmar kalau benar-benar dilihat atas bawah kiri kanan itu memang bikin puyeng. Apalagi mungkin banyak yang kita tidak pahami, tahu pun juga cuma sepotong-sepotong.

Belum lagi banyaknya pihak yang ambil kesempatan, berusaha membakar massa dengan potongan berita sampah. Yang seringnya, beritanya cuma sepihak dan terbukti tidak benar di belakang hari. Apa lacur, linimasa sudah terlanjur bergejolak huhuhu.

Enggak tahu harus ngapain? Ya berdoalah atau berikan yang mampu diberikan. Tapi jangan menuntut macam-macam yang kalian sendiri saja juga tidak paham hehehe. Apalagi kalau hanya untuk nyerang orang yang kalian tidak suka. Ish, dosanya dobel itu. Sudah sok tahu, nyerang orang pula :p. A BIG NO-NO ya teman-teman :).

Pernah nonton film Hotel Rwanda? Tentang suku Hutu dan Tutsi yang mendadak tersulut pertikaian berdarah gara-gara rumor pembunuhan presidennya ya kalau enggak salah. PResidennya suku Hutu. Yang dituduh membunuh adalah pemberontak etnis Tutsi. Langsung deh … perang saudara! Huhuhu.

Awalnya saya bingung itu, secara fisik nyaris tak bisa membedakan yang mana Hutu yang mana Tutsi. Kok sakti amat ya mereka? Hihihihi. Ternyata, selain pergaulan sehari-hari, di kartu tanda pengenal ADA NAMA SUKUnya. Terlihat di salah satu adegan saat si pemeran utama, si Paul, orang Hutu, mau minta tolong apa gitu.

Yang dimintai tolong kayaknya agak curiga sehingga Paul akhirnya harus mengeluarkan semacam kartu yang berisi foto, nama, data pribadi dan dicap dengan tulisan “HUTU”.

Mengerikan bukan? Tiap hari mereka hidup bersama dan bertetangga dan saling berbaur. Istri Paul, Tatiana, itu orang Tutsi. Bayangkan bagaimana pusingnya Paul melindungi istri dan kerabat istrinya dari kebrutalan orang Hutu yang lagi dibakar amarah.

hotel_rwanda_la

Secara warna rambut, warna kulit, dan ciri fisik lainnya, entah apa bedanya. Mungkin bahasanya yang beda. Agama juga kayaknya enggak beda, yang jelas sih enggak dibahas. Cuma karena etnis Tutsi ini ada yang memberontak jadilah seluruh orang Tutsi dianggap bertanggung jawab.

Sedihnya, itu bukan cuma film! Itu diangkat dari kisah nyata! Huhuhuhu.

Sampai sekarang pun, situasi di sebagian wilayah Afrika sangat menyedihkan :(. Beberapa dari mereka ada yang datang ke Irlandia sebagai refugee. Republik Irlandia memang membuka diri terhadap imigran asal negara-negara yang sedang konflik dalam negerinya.

Irlandia jangan disamakan kayak Indonesia lah :D. Penduduk Irlandia itu sedikit bangeeettt. Belum sampai 5 juta orang kalau enggak salah, itu pun sudah termasuk pendatang. Geliat ekonomi Eropa memang jauh lebih lambat daripada Asia salah satunya karena minim penduduk.

Kekuatan ekonomi Republik Irlandia juga jauh di atas Indonesia. Dengan sesama Eropa pun, sudah cukup lumayan. Irlandia juga menjadi bidikan beberapa negara Eropa Timur yang kondisi ekonominya juga di bawah Eropa Barat. Misalnya Polandia. Di sini banyaaaakkk banget orang Polandia yang datang mengadu nasib. Jangan heran kalau melihat rambut pirang yang enggak terlalu lancar bahasa Inggris hihihihi.

Refugee di Irlandia itu dapat fasilitas publik yang sama, lho. Bukan diundang datang untuk jadi pengemis dan ditelantarkan. Nope. Mereka bisa menikmati sekolah gratis dan fasilitas kesehatan :). Pakai kartu khusus *uhuk uhuk*. Negara ini juga terkenal dengan aneka kartu yang lagi diterapkan sama presiden kalian di tanah air yang suka kalian hina-hina itu lhoooooooo :p.

Refugee diberi tunjangan khusus sehingga bisa hidup layak di tengah masyarakat. Ya biar tidak mengacau juga kan? Kalau cuma misalnya boleh datang tapi dicuekin ya ujung-ujungnya kriminalitas deh yang ditakutkan. Belum lagi kalau bentrok dengan penduduk lokal atau pendatang lainnya.

Untuk mendapat status refugee juga banyak persyaratannya. Tidak ujug-ujug datang dan diterima begitu saja.

Negara-negara maju yang metodenya macam Eropa Barat-Kanada-Australia yang ekonominya berbau sosialis itu emang gitu. Sangat mencegah kesenjangan ekonomi sosial. Uniknya, agama Islam justru yang menjejali ayat-ayat alquran dengan perintah memperhatikan orang miskin.

Malah Gandhi (yang Hindu) itu yang mempopulerkan istilah “Poverty is the worst of violence”.

Lantas kenapa yang liberal-sekuler-rheumason-illuminati yang malah nerapin sih? *garukKepalaBerjamaah* hihihi

Jadi ya teman-teman, yang namanya mengurus negara dan berinteraksi dengan negara lain itu tidak bisa bekal emosi doang :). Hanya bekal rasa kasihan doang. Of course, kita tidak boleh mati hatinya. Tapi tidak bisa impulsif juga, kan? :).

Mekanismenya kompleks itu pun tidak semuanya mungkin bisa kita pahami. Sementara kalau kalian marah-marah membabi buta juga tidak akan membawa persoalan ke mana-mana kan? :). Takutnya yaaaa, Konflik Rohingya -nya tidak ketemu solusi, kita di Indonesia yang malah berantem.Rugi 2x. Ini aja masalah Pilpres kagak kelar-kelar berantemnya, Cuy! Hahahahaha.

Sementara kita terus mendoakan dan mengupayakan apa yang kita bisa untuk penyelesaian masalah pengungsi dari konflik  Rohingya, hendaknya kita tidak lupa memetik pelajarannya.

Konflik Rohingya
gambar : www.partnersworld.org.au

Dengan etnis yang minim begitu, Myanmar sungguh sulit untuk hidup damai. Lantas bagaimana dengan Indonesia?

Tiap provinsi biasanya punya lebih dari 1 etnis. Kadang, mayoritas ada lebih dari 1. Sulawesi Selatan misalnya. Ada 2 besar : etnis Makassar dan etnis Bugis. Belum lagi yang lain-lain –> Toraja, Mandar (yang sebagian besar sudah jadi Sulawesi Barat), Enrekang, Duri, dsb. Itu baru satu provinsi :D.

Soal fisik apalagi. Suku Dayak ada ciri khasnya. Orang Batak katanya rahangnya persegi. Orang Timur seperti Maluku dan Papua rata-rata berkulit gelap kontras dengan Sunda yang katanya putih-putih. Orang Bugis pun secara fisik macam-macam. Umumnya berkulit gelap. Tapi ibu saya dan kembarannya itu berkulit kuning langsat beda dengan kakak dan adik kandungnya yang sawo matang :D.

Saya kebagian yang kuning langsatnya walau sebagian besar saudara kandung saya itu sawo matang.

Nikmat TuhanMu mana yang kalian dustakan bisa hidup berdampingan tanpa perlu bunuh-bunuhan sejak lama di Nusantara dengan segitu banyak etnis dan agama :).

Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda tapi SATU. Never lose that spirit ^_^.

Indoensia budaya

Dalam alquran sendiri, Al Hujurat ayat 13 sudah turun ratusan tahun sebelum Michael Jackson membuat dunia terpesona dengan salah satu gubahan indahnya ini :

We can’t go on pretending day by day
That someone, somehow will soon make a change
We are all a part of Gods great big family
And the truth, you know,
Love is all we need

We’re all…God’s great big family #prayForRohingya

Have a nice weekend <3.