Cerpen di Majalah Kartini

Waktu masih di hotel, awal tiba di Athlone, saya mengalami jetlag berhari-hari. Tidur jam 9 malam, pasti jam 2 kebangun. Enggak bisa tidur lagi hingga pagi. Jadi deh, suka laptop an nunggu subuh hehehe.

Ngebut menulis Cerpen di majalah kartini 🙂

Pernah menulis cerpen. Saking konsennya, karena semua majikan lagi tidur :P, cerpennya jadi dalam beberapa jam saja. Tapi rasanya kepanjangan. Besok dini harinya diedit. Kirim ke Kartini. Luar biasa, responsnya kurang dari 24 jam hehehehe. Tapi bunyinya begini, “Ide ceritanya ok. Tapi kurang panjang, dipanjangin lagi ya Mbak. Ditunggu redaksi.”

Ahahahahahahahaha. Padahal setengah mati diedit agar lebih ringkas. Aslinya tak saya simpan. Ya sudah, ditulis ulang akhirnya. Dimuat akhirnya cerpen di Majalah Kartini (kayaknya di terbaru, no.2447) :D.

Dari gambarnya ketebak ya, ini cerpen tentang seorang anak tunggal (perempuan) yang dibesarkan seorang diri oleh ayahnya. Hahahaha. Jauh panggang dari api :D. Tulisan fiksi ini 100% mengandalkan imajinasi semata dari penulisnya yang merupakan anak ke-5 dari 7 bersaudara dimana ayahnya sudah meninggal sejak usianya 12 tahun :D.

Anyway…terima kasih, Majalah Kartini :D. Beli, ya. Biar majalah Kartininya laku dan kami-kami, emak-emak yang mengais rezeki dari media cetak, tetap panjang jalan rezekinya hihihihi.

Oiya, Majalah Kartini akhirnya bikin account twitter juga. Sila difollow di @MajalahKartini. Ada fanpagenya juga di Facebook. Terus ada account facebook juga, terpisah dari fanpage. Di sana ada note tentang syarat-syarat penulisan cerpen ke majalah Kartini :D. Dicek sendiri langsung ke TKP, ya ;).

Dengan demikian, setelah 2x cerpen saya menembus majalah Femina, berarti ini adalah cerpen ke-3 yang muncul di media cetak. Sekaligus merupakan tulisan ke-10 yang muncul di media cetak. Gak kerasa sudah 10 bulan rajin ngirim-ngirim tulisan. Masih jauh dari target. Penginnya nanti pas setahun ada 20 tulisan yang dimuat. Ahahahahahaha :P.

Akhir-akhir ini kok lebih senang ikut lomba blog, ya Biarpun kadang cuma menang hadiah hiburan hehehe. Lagi seneng blogging emang sekarang-sekarang ini. Tapi pengin coba aktif lagi ah ke media cetak.  Jadi semangat lagi bikin cerpen di Majalah Kartini  ^_^.

cerpen di majalah kartini
Kartini edisi no.2447

TIGA PULUH HARI

by : Jihan Davincka
***
Coffee News Postcard
        Tiga puluh hari katanya. Sebelum pergi, dia bilang begitu, “Aku tentu perlu beradaptasi. Sebelum 30 hari pasti sudah kukirim kabar untukmu.”
        Aku sebenarnya bingung. Lama sekali 30 hari. Dia tidak pergi ke ujung dunia. Bukan ke hutan belantara. Hanya ke sebuah kota kecil di eropa barat sana. Apa susahnya menemukan internet di negara yang tergolong maju itu? Kalau menulis email terlalu repot, setidaknya dia bisa menuliskan sebuah tweet untukku. Masa dia perlu 30 hari  untuk sekadar mengabariku, “Aku sudah sampai.”
           Hari ini, sudah 40 hari berlalu sejak aku terakhir mengirimkan pesan singkat kepadanya, “Hati-hati di pesawat, ya. ” Sudah 10 hari lewat dari 30 hari yang dijanjikannya. Aku duduk-duduk di kedai ini sendirian.
           Di hadapanku ada dua cangkir kopi. Sudah kosong. Bukan punyaku. Dari dulu aku tak suka minum kopi. Dua cangkir tadi habis diminum Rio, sahabatnya. Tak sengaja kami bertemu. Aku tanyakan tentangnya. Rio malah mengajakku mengobrol panjang lebar. Tidak ingat apa saja yang dibicarakan tadi.
          Aku hanya ingat sebelum Rio pergi, aku tetap penasaran, “Kenapa ya dia belum mengabariku?”
          Rio menjawab pendek, “Mungkin dia tak merasa perlu. Lagipula, kau bukan pacarnya, kan?”
          Tega sekali. Aku mau marah. Tapi akhirnya aku cuma merana sendiri. Rio benar, aku bukan pacarnya.
***
Ini iseng ikutan #CerminBentang di @bentangpustaka hehehe. Cerita mini 200 kata. Just for fun, enggak menang juga hehehehe. Seru juga. Bikin cermin di atas cuma 10 menit an, no harm done :D.
Cerpen Femina

[Cerpen Femina] TIGA RAHASIA

Cerpen Femina

(Cerpen Femina dimuat di Femina no.50/2012, oleh redaktur tokoh perokok diedit menjadi klubber. Femina mempunyai kebijakan “against smoking habits”, versi di bawah adalah versi aslinya)

by : Jihan Davincka

***

Mengenakan rok pendek merah menyala, kemeja krem muda, seorang perempuan berambut pendek turun dari sedan mewahnya. Dengan tubuh langsing dan wajah menarik, ia melangkah penuh percaya diri meninggalkan tempat parkir. Beberapa pasang mata ikut mengiringi langkahnya memasuki pintu kafe.

Seorang perempuan berkaus hitam melempar sepuntung rokok yang masih menyisakan bara ke tanah dan menginjaknya kuat-kuat. Dia menepuk-nepuk pahanya, mengibas tangannya ke udara berharap tak ada sisa asap yang menempel di sekujur tubuhnya. Dengan santai, ia membuka pintu kafe dan langsung menebarkan pandangan mencari-cari.

Perempuan dengan terusan warna hijau tua terlihat berlari-lari kecil menuju pintu kafe. Rambut ikal panjangnya yang tergerai ikut melambai-lambai. Sambil berlari, sesekali ia mengangkat lengan kiri, melirik jam tangan yang melingkar di sana.

Di suatu sore yang cerah, ketiga perempuan itu duduk bersantai di suatu kafe di sudut jantung ibukota.

***

“Apa kau masih merokok?” si Rambut Ikal menoleh ke arah perempuan berkaus hitam.

“Sudah lama berhenti,” Kaus Hitam menjawab cepat tanpa ragu.

“Hebat kau. Sejak berhenti bekerja, hidupmu malah lebih teratur. Aku dari dulu tak suka melihatmu merokok.”

Kaus Hitam memalingkan wajah ke Rok Merah, “Siapa yang bisa melebihi kehebatan Bu Dokter cantik sepertimu. Eh, apa masih ada pasien yang suka menggodamu?”

Rok Merah tertawa berderai. “Sekarang aku praktik di tempat yang sama dengan suamiku. Mana ada yang berani macam-macam.”

Rambut Ikal bersuara dengan serius, “Wah,wah, kalian berdua sama sibuknya dong sekarang. Aku rasa kau dan suamimu kelelahan melayani pasien. Apa kalian tak ingin segera punya anak?”

“Ah, aku dan suamiku santai saja. Kalau belum diberi kenapa mesti ngotot?”

“Dan kalian baik-baik saja dengan hal itu? Wow, kau beruntung sekali. Suamiku dari dulu selalu ingin punya anak. Banyak anak kalau bisa. Hahahaha.” Kali ini giliran Rambut Ikal yang tertawa lepas.

“Kau sendiri bagaimana? Dari tadi sibuk bicara tentang orang lain.” Kaus Hitam mengarahkan perhatian ke Rambut Ikal.

“Jadwalku padat sekali akhir-akhir ini. Ah, kalian tak tahu rasanya punya anak 3 dengan kesibukan macam-macam. Sudah tiga bulan ini, tiap akhir pekan aku nyambi menjadi penyiar radio, lho.”

Jawaban Rambut Ikal membuat kedua temannya memekik perlahan, “wow…”

Kaus Hitam terdengar merajuk, “kenapa baru cerita, sih?”

“Aku tiap hari berkicau di twitterku. Kalian ini yang ketinggalan berita. Kenapa sih tidak aktif di media sosial?”

“Tak ada waktu.” Jawab Rok Merah cepat.

Kaus Hitam menyambung, “anakku masih kecil-kecil. Kalau di rumah rasanya seharian tak cukup menemani mereka. Energimu benar-benar luar biasa.”

Lalu, Rambut Ikal bercerita panjang lebar tentang profesi tambahan barunya. Betapa senangnya mendapat teman-teman baru. Honor tambahan yang jumlahnya tidak sedikit. Terbawa pergaulan dengan beberapa selebritis ibukota. Biarpun mereka hitungannya mungkin masih artis papan bawah, belum terlalu tenar.

“Mungkin kapan-kapan, hari sabtu atau minggu siang, abis siaran, kita janjian, yuk. Nanti kukenalkan pada teman-teman baruku.”

Rok Merah langsung menolak, “Wah, tiap akhir pekan, aku pasti ada acara berdua suami.”

Kaus Hitam tak mau kalah, “Akhir pekan ya acara keluarga, dong.”

Rambut Ikal angkat bahu, “Terserah kalian saja.”

Sesekali obrolan mereka terlempar ke masa lalu. Masa-masa belasan tahun yang lalu dimana mereka masih mengenakan seragam putih abu-abu di sekolah yang sama. Derai tawa sesekali mengundang pandangan mata dari pengunjung kafe yang lain.

“Kau ingat tidak anak laki-laki kelas sebelah yang mati-matian mengejarmu? Dengar-dengar dia sedang melanjutkan S3 di Eropa. Dia dokter juga, kan? Apa kalian dulu satu kampus?”

Rok Merah tersipu malu sebelum berujar, “Tidak, tidak. Itu cuma gosip, ah. Kampusnya juga beda, kok.”

“Ah, suamimu sekarang kan tak kalah hebatnya. Ngomong-ngomong, apa tak ingin mencoba bayi tabung saja? Mertuamu pasti punya banyak kenalan dokter hebat.”

“Aku kan sudah bilang. Kami baik-baik saja. Tak terlalu memikirkan hal itu. Karier pun sekarang sedang bagus-bagusnya. Tak perlu memusingkan hal yang belum ada, kan?” Rok Merah menjawab diplomatis dengan senyuman bijak.

“Aku iri sekali pada pasangan seperti kalian.”

“Eh, bagaimana denganmu? Apa betah seharian di rumah saja? Mau gak aku kenalkan pada teman-temanku di radio? Kau ini dulu jurnalis, kan?”

“Wah, seharian di rumah bersama anak selalu membuatku berpikir waktuku tak pernah cukup.”

“Ini cuma paruh waktu saja. Mana tahu kau tertarik, coba dulu saja.”

Kaus Hitam menjawab enggan, “Tidak, ah. Aku masih mau menikmati masa-masa santai bersama anak-anak dulu.”

“Aku malah salut padamu. Apa tidak kerepotan dengan kesibukan sepanjang hari? Bagaimana kau bisa punya waktu mengurus ketiga anakmu?”

Rambut Ikal menjawab dengan percaya diri, “itu masalah pengaturan waktu saja. Anak-anak semua tak ada masalah, kok. Semuanya berjalan normal.”

“Kalau akhir pekan kau pun bekerja, kapan kau berlibur dengan anak-anak?”

“Berlibur tidak mesti keluar rumah, kan? Dan tidak mesti akhir pekan. Setiap hari aku selalu punya waktu untuk mereka.”

Kaus Hitam memandang temannya dengan kagum, “Benar-benar supermom.”

Beberapa cangkir kopi sudah hampir kosong. Piring-piring kecil berisi roti dan kue sudah tergeletak tak beraturan. Tapi suara mereka masih terdengar penuh semangat.

Beberapa kali Rambut Ikal nampak memperlihatkan foto anak-anaknya melalui layar ponselnya. Rok Merah tertegun cukup lama sebelum bergumam, “Cantik dan ganteng-ganteng, ya.”

Rambut Ikal tersenyum bangga, “Aku beruntung sekali. Mereka anak-anak yang hebat.”

Kaus Hitam menceritakan dengan detail tingkah pola anak-anaknya di rumah. Dan betapa senangnya menjadi orang yang pertama menyaksikan semua hal-hal kecil namun luar biasa itu. “Kenikmatannya tak bisa diukur dengan uang,” ujarnya penuh semangat.

Rok Merah juga ikut berbagi pengalaman menghadapi berbagai macam pasien. Dan sedikit bergosip mengenai roman picisan antara dokter dan suster yang tidak jarang ditemuinya di rumah sakit.

Kedua temannya nampak tertarik, menyimak dengan serius ucapannya. “Perawat-perawat yang baru masuk, banyak yang mencari-cari kesempatan untuk menggoda dokter-dokter muda.”

Kaus Hitam menggodanya, “Kau yakin kau tak pernah terlibat cinta lokasi seperti itu? Tak pernah naksir dengan teman doktermu yang laki-laki?”

“Eh, aku rasa malah teman dokternya yang tergila-gila padanya.”

Rok Merah mendelik sambil tertawa kecil, “Sembarangan saja kalian. Jangan lupa, aku praktik di rumah sakit yang sama dengan suamiku.”

Lalu, beberapa gelas kaca berisi minuman dingin diantarkan ke meja mereka. Pelayan kafe mengangkat gelas-gelas dan piring-piring kosong dari hadapan mereka. Tapi mereka tetap larut dalam berbagai macam obrolan.

Sekali waktu nampak mereka mengomentari pengunjung lain yang duduk di sekitar mereka. Berbisik-bisik mengenai seorang wanita muda yang nampak duduk gelisah seperti menanti seseorang. Menebak-nebak hubungan antara seorang perempuan yang sudah cukup berumur yang duduk berhadapan dengan seorang pria tampan yang usianya jauh lebih muda.

“Tidak mungkin itu anaknya.” Kaus Hitam berbicara dengan suara rendah.

“Mungkin keponakannya.” Rok Merah mengedipkan matanya.

Rambut Ikal memicingkan mata, “Aneh betul bertemu dengan keponakan sore-sore di kafe seperti ini.”

Lalu mereka saling melempar pandangan. Berusaha menyembunyikan tawa.

Gelap sudah memenuhi langit ketika mereka melangkah keluar dari kafe. Berpelukan di pintu kafe dan berjanji untuk pertemuan berikutnya yang mungkin bisa berlangsung beberapa bulan lagi.

***

Denisa menutup pintu mobil perlahan setelah menghempaskan tubuh ke dalam sedan mewahnya. Perasaannya tak menentu mengingat kalimat-kalimat yang terlontar dari mulutnya tadi. “”Ah, aku dan suamiku santai saja. Kalau belum diberi kenapa mesti ngotot?”

Profesinya sebagai dokter mungkin sedang meroket. Setelah setahun lalu menggenggam gelar spesialis, resmi menjadi seorang internis, dia mulai ikut praktik di sebuah rumah sakit. Bapak mertuanya, salah seorang dokter ternama di sana, ikut memuluskan jalannya.

Siapa bilang enam tahun mengarungi kehidupan rumah tangga tanpa kehadiran anak membuat dia dan suaminya biasa-biasa saja? Hubungan mereka makin lama malah makin dingin.

Masing-masing tenggelam dalam kesibukan menangani pasien dan terus berburu ilmu yang seolah tiada habisnya untuk profesi yang cukup melelahkan ini. Akhir pekan pun diisi oleh seminar-seminar atau tenggelam dalam tumpukan diktat.

Denisa iri membayangkan kedua temannya yang sudah punya buah hati. Ada yang punya 3 malah. Kapankah Tuhan memberikan kepercayaan itu? Mungkin kehadiran seorang bayi mungil akan sanggup mengembalikan kehangatan cinta mereka kembali. Airmatanya menitik sambil mengelus-elus perutnya, “Tuhan, beri aku satu saja.”

***

Arumi menghela nafas panjang. Tidak sekali tapi berkali-kali sebelum akhirnya memacu mobilnya meninggalkan halaman kafe.

Memiliki 3 anak, berada di puncak karir sebagai salah satu senior marketing manager, siapa yang tak iri padanya? Bahkan sebagai penyiar saat akhir pekan di salah satu radio wanita ibukota, namanya mulai dilirik.

Tapi siapa yang tahu, semua hanya pelarian terhadap kekecewaannya atas kondisi dua anak terakhirnya. Mereka mungkin tidak cacat tapi mendapat vonis sebagai anak berkebutuhan khusus.

Ditutupnya rapat-rapat cerita ini kepada siapa pun. Dia takut segala puji yang sudah terlanjur disematkan untuknya mungkin akan berbalik. Mereka akan mengarahkan telunjuk menghakimi kepadanya. Seolah ini adalah hukuman atas pilihannya sebagai Ibu yang lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah.

Arumi bahkan tak sanggup menghadapinya langsung. Empat tahun terakhir ini, dia memboyong keluarganya kembali tinggal bersama ibunya. Menitipkan pengawasan anak-anak kepada Ibu dan beberapa pengasuh anak.

Kalau boleh memilih, ingin rasanya melepaskan diri dari pencitraan palsu ini. Yang gencar dihembuskannya melalui media sosial. Ingin rasanya melepaskan diri dari puja puji, melewati waktu yang lebih panjang bersama anak-anak di rumah. Kalau saja Tuhan memutar waktu dan menganugerahkan anak-anak yang normal.

***

Rinjani menutup mata sambil menikmati hisapan rokoknya dalam-dalam. Dibiarkannya kaca jendela terbuka agar asap rokok tak terperangkap dalam mobil.

Dia memang pernah berhasil menjauhi puntung-puntung kenikmatan yang membius ini. Tapi itu dulu. Sejak dua tahun terakhir ini, begitu dia menyudahi masa-masa berkarir, dia gagal menghalau keinginannya untuk kembali merokok.

Berpura-pura menikmati masa-masa berhenti bekerja adalah hal konyol yang sering dilakukannya di hadapan orang lain. Padahal hingga kini, hatinya masih sulit berdamai dengan keputusan besar itu.

Menghabiskan waktu lebih banyak di rumah malah membuatnya merasa terperangkap tak berdaya. Pernah dicobanya untuk menjadi penulis lepas. Sekedar melampiaskan hasratnya yang pernah lama berkarir di bidang jurnalistik. Tapi hasilnya seringkali hanya ampas rokok memenuhi asbak, buku-buku bertebaran di dekat ranjang, dan dokumen di laptop yang tak berhasil diisi oleh satu kata pun.

Kembali ke dunia kerja juga bukan pilihan tepat untuk anak-anak. Suaminya lebih banyak dinas ke luar kota. Kedua balitanya berada di bawah pengawasan asisten rumah tangga dan pengasuh anak. Rinjani lebih suka menghabiskan waktu dalam kamar, atau berjalan-jalan sendiri ke mal, dan sesekali menyambangi salon.

Rinjani membayangkan kehidupan kedua temannya yang mandiri. Dia terbakar iri kepada si dokter cantik. Biarpun tanpa anak, tapi didampingi suami yang sangat pengertian. Ah, seperti apa akhir pekan mereka. Mungkin tiap minggu akan terasa bagai bulan madu.

***

Ketiga perempuan itu menembus padatnya jalanan ibukota, larut dalam keterpurukannya masing-masing. Tanpa menyadari bahwa tiap jalan cerita dalam kehidupan punya rahasianya masing-masing. Bahwa seringkali rumput tetangga tak sehijau yang tampak di hadapan mata.

(TAMAT)

Cerpen Femina yang lainnya bisa dilihat di sini –> Cerpen “Namanya Aryana” oleh Jihan Davincka.

Untuk cerpen “Namanya Aryana” ini sudah ada versi vlognya. Buat yang mau baca cerpennya dengan background musik + gambar, ini dia vlognya :

***

Cerpen Femina

Cerpen (Lagi) di Femina

Akhirnya, ada (lagi) cerpen yang dimuat hehehe. Kali ini “Tiga Rahasia”, dimuat di Femina terbaru minggu ini. Edisi no.50/2012, 22-28 desember 2012, edar hari rabu 20 desember.

Menambah semangat untuk terus nulis-nulis fiksi. Biarpun nampaknya hokinya gak sebagus tulisan jalan-jalan, yang begitu dikirim, biasanya langsung dapet respons :D. Tapi kalau mau jujur, eyke lebih doyan emang bikin fiksi. Mungkin karena senang mengkhayal, ratu drama pula. Cucoklah ya hihihihi.

Naskahnya diedit sedikit oleh redaktur. Ada tiga tokoh dalam tulisan ini. Tokoh yang saya gambarkan gemar merokok diganti menjadi klubber. Ternyata redaktur cerpen di Femina memiliki aturan “against smoking habits” :). Sip deh, gak masalah, alur ceritanya tetap sama.

Kayak apa cerpennya? Diposting minggu depan yaaaaaaa. Ada baiknya sih beli aja majalah Feminanya minggu ini *maeninBuluMata*.

Alhamdulillah cerpen ini adalah tulisan ke-7 yang dimuat di media cetak nasional.  Not bad ya, targetnya sih 10 ahahahahahaha *tidakTahuDiri :P*.  Mulai nekad sok-sok kirim ke media cetak dimulai dari Juni tahun ini, sekitar 6 bulan yang lalu. Terima kasih untuk Femina (memuat tulisan saya 3x dalam kurun waktu 6 bulan ini, Republika (memuat 2 dalam setengah tahun ini), juga Kartini dan Pikiran Rakyat (eh, ini media cetak khusus Jabar, deng :P).

2013? Bikin buku (lagiiiiiiii)!!! Yyyiiiuuuuuukkkk ;;).

cerpen-tiga-rahasia-femina-no-50.jpg

Btw, cerpen di Femina “Tiga Rahasia” ini … adakah salah satu tokoh yang merupakan cerminan diri sendiri? Ummm … enggak sih, ya. Mungkin tokoh yang berhenti bekerja dan ingin menjadi penulis itu disangka mirip. Padahal enggak banget. Secara yang bersangkutan memang jurnalis. Sementara di sindang kan penulis-penulis gitu-gitu doang :D.

Dua tokoh lainnya itu terinspirasi dari teman atau kerabat di sekitar. Tapi itu juga enggak mirip-mirip banget. Dikasih bumbu-bumbu sana sini.

Itulah menyenangkannya menulis fiksi ^_^. Bisa punya tokoh khayalan sesuka hati, hahahha. Bisa juga berusaha menciptakan tokoh yang diinginkan yang tidak kesampaian di diri sendiri mungkin? :p.

Kalau disuruh memilih, fiksii atau non fiksi? Alamak, yang mana-mana yang banyak duitnya lah ya hahahahahaha. Tapi cerpen di Femina termasuk yang dokunya lumayan emang ;).

Oh ya, untuk Cerpen Majalah Femina yang judulnya “Namanya Aryana”, sudah ada versi vlognya, yah. Yuks, buat yang mau baca cerpen dengan background gambar + musik selowwwww hehehehe :

[Cerpen] “TITIPAN”

Oleh : Jihan Davincka

***

Nuril berusaha bangkit dari tempat tidur. Berjalan pelan ke arah jendela.

“Hm…enak juga dapat kamar yang viewnya bagus.” Nuril menggumam sendiri.

Hari masih pagi. Pukul setengah enam. Belum lama azan subuh berkumandang. Sisa hujan semalam masih menyisakan titik-titik embun di kaca jendela.

Wajar jam segini belum terdengar hiruk pikuk berarti di rumah sakit. Hanya sesekali suara langkah mendekat dan menjauh, beberapa obrolan dengan suara rendah dari luar pintu, dan selebihnya hanya kicau burung yang mengundang langkah Nuril mendekat ke arah jendela sekarang ini.

“Halo…,” Nuril tersenyum dan menyapa seekor burung kecil yang bertengger di depan kaca jendela yang masih tertutup rapat.

Nuril mengetuk lembut kaca jendela dengan telunjuknya, menggoda si burung kecil. Burung kecil itu mendadak terbang menjauh. Nuril tertawa lebar, “kamu sudah bisa terbang, ya.”

Masih memandangi pemandangan taman rumah sakit yang hijau dengan berbagai rupa bunga warna warninya, pikiran Nuril melayang ke masa lalu. Hinggap tepat di saat itu, kala itu, kala semuanya masih terasa berbeda.

***

Nuril tidak bisa tidur. Entah jam berapa sekarang. Terakhir dia menengok ke arah jam saat jarumnya menunjukkan pukul 1 pagi. Tapi itu mungkin sekitar sejam yang lalu. Jam 2 malam sekarang ini dan Nuril tak juga bisa memejamkan mata.

Kekhawatiran yang berlebihan sudah menjelma menjadi ketakutan. Nuril memandang ke arah suaminya yang sudah terlelap sejak tadi. Apakah ini bisa dianggap pengkhianatan? Dada Nuril berdegup makin kencang. Situasi sekarang ini sedang tidak menentu, haruskah masalah ini muncul?

“Tapi kan belum tentu, lho. Tunggu saja dulu beberapa hari lagi.” Suara hati kecil yang ini mampu meredakan kegelisahan yang sudah memuncak. Nuril mencoba mengatur nafas. Mencoba berpikir jernih. Belum tentu semua terbukti benar. Belum perlu menceritakan apa-apa kepada Abang.

Selang beberapa hari, Nuril malah makin gelisah. Ah, kelamaan menduga-duga. Di suatu sore Nuril memutuskan keluar rumah sebentar. Sudah saatnya menerima kenyataan, apapun itu.

“Mbak Is, aku keluar sebentar. Titip anak-anak, ya. Doni masih tidur kayaknya. Bella di kamarnya, tuh. Temenin main dulu, ya.”

“Kemana, Bu? Lama ndak? Nanti kalau Bapak tanya…”

“Nggak lama. Sebentar aja, kok. Sebelum Bapak pulang, Ibu dah di rumah.”

Malam itu Nuril akhirnya mendapat kepastian, tidak lagi menduga-duga. Hatinya ciut. Bagaimana ini? Terlintas keinginan untuk… astagfirullah, Nurul memejamkan matanya. Tidak boleh begini, tegasnya dalam hati. Biarpun keinginan terkutuk itu menghantui sepanjang malam, batin Nurul berusaha menghalau sekuat tenaga.

***

Suaminya sudah di rumah sejak siang tadi. Biarpun meragu luar biasa, Nuril mantapkan hati untuk berterus terang kepadanya. Hari ini juga. Memang bukan saat yang tepat. Dan entah akan seperti apa tanggapan suaminya. Tapi Abang harus tahu. Dia berhak tahu.

“Belum ada perkembangan, Bang?”

“Belum. Visanya tetap gak bisa. Gak tahu kenapa.”

“Orang sananya gimana? Mau nungguin?”

“Sepertinya enggak, Dek. Mereka butuhnya buru-buru.”

“Aduh, kok bisa jadi kayak gini, ya? Abang sih dulu buru-buru resign. Jadinya kan sekarang kayak gini.”

“Lho, kenapa jadi malah nyalahin aku, sih? Lagian divisiku kan emang mau bubar. Kalo gak resign juga bakal dikeluarin, Dek.”

“Tapi Bang…harusnya Abang bisa dapat paket pensiun dini itu. Andai saja mau bersabar, andai…” Suara Nurul mulai meledak-ledak.

“Kenapa malah marah, Dek?” Suaminya memotong ucapan Nuril. “Ini sudah kita bahas. Divisiku mau bubar, Dek. Temanku banyak yang mencari lowongan. Aku pikir urusan visa bakal lancar. Tentu dong aku harus sigap membaca kesempatan. Aku harus resign untuk mencoba lowongan itu, Dek. Aku kan sudah bilang, tak banyak yang bernasib sial seperti kita. Teman lain lancar-lancar saja urusan visa ini. Tapi ya…”

Nuril mendadak menangis. Suaminya terlihat bingung. Nuril sebenarnya juga tak tahu, tangisan apa ini. Mendadak saja segala emosi yang tertahan beberapa hari terakhir ini tumpah di saat itu.

“Maaf, Dek.”

Nuril mengangkat wajahnya.”Aku juga mau minta maaf.”

Nuril menyerahkan benda kecil yang sedari tadi dipegangnya. Dia meletakkan benda itu di telapak tangan kanan suaminya. Nuril menunduk lagi, tak berani mengangkat kepalanya..

Suaminya mendesah panjang. “Kok bisa?”. Nuril mendongak cepat, matanya menyala.

“Bukan, bukan itu maksudku.” Suaminya menggeleng cepat. Dia meraih kepala Nuril ke bahunya. Memeluk perlahan, mengangkat muka Nuril sehingga wajah mereka berhadapan.

“Maaf apa? Aku senang.”

“Tapi Bang…”

“Akan ada jalan keluarnya. Jangan takut, kok malah kayak gini, Dek. Selamat, ya.”

Tangis Nuril langsung pecah. Lebih menjadi-jadi dari yang tadi. Suaminya tertawa. “Kamu ini selalu kayak gitu, deh. Kalau hamil muda pasti cengeng.”

***

Nuril senyum-senyum sendiri. Begitu cepatnya waktu berlalu. Duh, capai juga berdiri terus. Nuril balik ke tempat tidur. Duduk bersandar dan meraih dompet yang tergeletak di meja di sebelah tempat tidur. Mengeluarkan sepucuk foto, menatapnya lekat-lekat. Dalam hitungan detik matanya sudah basah.

Doni, anak sulungnya sedang tertawa lebar membawa Anggun. Anggun di foto ini baru berusia 1 tahun. Bella, 4 tahun, berusaha menggapai Anggun yang diangkat tinggi-tinggi oleh Doni. Anggun tertawa jenaka seolah mengerti kedua kakaknya sedang berusaha memperebutkannya.

Proses hamil Anggun yang tadi hinggap di pikirannya. Memori saat suaminya baru saja kehilangan pekerjaan tanpa mendapat pesangon. Sementara, iming-iming tawaran kerja di luar negeri belum menjadi rezeki keluarga mereka kala itu. Visa suaminya gagal. Entah kenapa.

Tapi memang semua orang sudah punya jodohnya masing-masing. Nuril yang mudah panik, gampang dilanda kecemasan, dihibur dengan telaten oleh suaminya, “Adek, rezeki anak ada di tangan Tuhan. Bukan di tangan kita. Tapi kita pasti selalu berusaha yang terbaik buat mereka.”

Dan saat Nuril masih saja menyimpan keengganan, suaminya pun berkata, “Di atas kertas mungkin rasanya mustahil bagi kita untuk menambah anak saat ini. Biaya Doni dan Bella saja tidak sedikit. Aku menganggur. Asuransi kesehatan kita sudah tak punya. Tak ada kantor yang menanggung kita lagi. Tapi Dek, itu kan hitung-hitungan manusia. Matematika Tuhan itu bukan urusan kita untuk memahaminya. Tuhan punya kalkulator sendiri.” Betul, Tuhan punya kalkulator sendiri.

Dan memang, manusia itu keterbatasannya sangat terlihat dan Tuhan punya perhitungan yang maha luas. Belum genap 6 bulan kandungan, tiba-tiba tawaran kerja datang menghampiri.

Suami yang sudah berusaha melamar kemana-mana segera merespons. Biarpun sempat pesimis karena ini datang dari luar negeri lagi. Negara yang sama dimana beberapa bulan yang lalu pengurusan visanya terhenti di tengah jalan. Alhamdulillah, kali ini, pintu rezekinya membukakan diri lebar-lebar bagi mereka untuk masuk.

Hamil 7.5 bulan, Nuril memberanikan diri terbang jauh bersama suami dan kedua anak mereka. Merantau pertama kali ke luar negeri dan melahirkan Anggun, anak ketiga mereka, di sana.

Tiba-tiba terdengar bunyi langkah-langkah kaki mendekat. Nuril cepat-cepat menyusut airmatanya.

“Mama, mamaaaa…” Ketiga anaknya menghambur ke arahnya. Suaminya mengiringi di belakang mereka.

“Wah, sudah bangun.” Suaminya tersenyum. “Eh, mana bayinya?”

“Belum, tuh. Sebentar lagi mungkin.”

Dan benar saja. Pintu yang baru saja tertutup, dibuka lagi dari luar secara perlahan. Seorang suster melangkah masuk, tersenyum simpul sambil mendorong tempat tidur bayi berwarna putih.

“Itu adeknya Anggun. Itu adeknya Anggun.” Anggun langsung bersorak.

“Iya, Mama nanti sama adek terus. Anggun gak dipeluk-peluk Mama lagi,” seloroh Doni.

“Iya bener. Anggun tidur sendiri nanti. Gak boleh ya di kamar aku,” Bella ikut menggoda.

“Mamaaaa…,” tangis Anggun sudah hampir pecah.

“Anggun kan sudah besar, sudah punya adek. Nanti malah Anggun yang peluk-peluk Adek.” Suami Nuril angkat suara.

“Tapi Anggun mau sama mama…Anggun maunya te…”

“Ya gak bisa,” sergah Doni.

Suara Anggun sudah bercampur tangis. “Anggun gak mau besar. Anggun kecil aja terus.”

Seisi ruangan tergelak bersama.

***

“Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut melarat. KAMILAH yang memberi rezeki kepada mereka dan kepadamu juga. Sesungguhnya membunuh mereka adalah dosa yang besar.” (QS 17:31)

***

Kalau ‘ketakutan’ akan rezeki yang menghalangi untuk mencukupkan anak hingga angka tertentu, apa boleh menurut Alquran?

Eh yang disebutkan di ayatnya kan ‘membunuh’, ya. Kalau mencegah?

Bagaimana? 😉