[Cerbung] Temanku Cina (2)

Tentang Dia (Bagian 2) –> bagian 1 nya di sindang :D. 

Oleh : Jihan Davincka

***

Tahun demi tahun berlalu.

Tidak seperti hari biasanya, sore ini, rumah si Cina agak ramai. Astaga, melihat dia dan papi-maminya saja aku suka pusing. Sekarang, ada belasan orang-orang bermata sipit memenuhi ruangan besar di tengah-tengah rumahnya.

“Jangan bengong. Masuk sini.” Tiba-tiba tanganku ada yang menarik.

“Ada acara apa?” Tanyaku penasaran ketika kami berdua sudah duduk berdua diatas ranjang besar di kamarnya.

“Sahabat macam apa kau ini? Hari ini aku ulang tahun. Kau tak bawa kado untukku?”

“Oh ya?”

Dia mencibir. “Tak ada kado, tak boleh makan kue.”

Aku tertawa. Dan akhirnya melihat tumpukan kotak-kotak kado warna-warni di sudut kamarnya. Sebagian malah kertasnya sudah dikoyak-koyak.

“Tak sopan. Membuka kado saat tamu belum pulang.”

Dia menjawab sambil meraih salah satu kotak yang setengah terbuka. “Orang-orang aneh. Umurku sudah 15 tapi mereka masih saja memberiku boneka.”

“Hahahahahaha.”

Lalu tawaku terhenti, teringat tujuan utamaku menemuinya. Dia lalu memandangku lekat-lekat. Seolah tahu kalau aku mau bercerita sesuatu.

“Ibu mau aku pake kerudung.”

“Terus?” Dia memandangku aneh. “Semua temanmu pakai kerudung. Dan kalau mengaji dulu kau selalu pakai juga, kan?”

“Ini beda. Jadi, aku disuruh terus-terusan berkerudung. Kalau keluar rumah aku harus berkerudung terus.”

Dia masih terlihat bingung. Tapi sesaat kemudian, berkata dengan nada penuh semangat, “berarti kau harus punya banyak kerudung. Papiku menjual bahan-bahan buat kerudung juga. Apa warna kesukaanmu? Nanti aku ambilkan di toko. Untukmu, setengah harga saja.”

Sekarang aku yang menatapnya dengan bingung. “Kau ini…aku sedang bertanya padamu, menurutmu apa aku harus berkerudung seperti kata Ibu?”

Dia malah kembali mencecarku dengan mata berbinar-binar. “Kau suka warna ungu, kan? Akan aku pilihkan banyak motif untukmu. Tapi menurutku, kau pun cocok memakai warna biru. Aku sudah bilang, untukmu, setengah harga saja. Kau boleh mencicilnya kalau kau mau.”

Lihatlah dia, mendengarku saja tidak mau. Dan sore itu, aku pulang dari rumahnya dengan rasa kesal.

Sungguh hari itu bukan hari keberuntunganku. Baru saja mau masuk rumah, suara Ibu sudah melengking, “darimana kau? Dari rumah anak Cina itu, kan?”

Sebelum aku sempat menjawab, Ibu sudah kembali meracau, “lihatlah kalau kau terus-terusan bergaul dengannya. Kau tidak mau pakai kerudung. Semua temanmu sudah berkerudung. Dia pasti mengajarimu yang tidak-tidak. Kenapa, sih, kau terus-terusan main ke rumahnya? Mesti bagaiman Ibu lagi memberitahumu.”

Dan masih panjang lebar Ibu berbicara dengan nada tinggi sebelum Bapak datang dan menyuruhku masuk kamar. Di dalam kamar, aku membenamkan kepalaku dalam bantal. Dari balik pintu, masih terdengar jelas suara Bapak yang sedang berdebat dengan Ibu.

Aku berpikir-pikir, mungkin sebaiknya aku berkerudung juga seperti teman-temanku yang lain. Mana tahan aku mendengar Ibu yang terus-terusan menghardikku tiap hari. Dan mungkin aku akan mempertimbangkan bahan-bahan kain yang ditawarkan oleh anak Cina itu.

Tiga hari kemudian aku datang lagi ke rumah di ujung jalan itu. Ternyata, dia sudah menyiapkan banyak sekali bahan-bahan kain untukku. Warnanya ungu dan biru. Ketika aku mengambil beberapa buah bahan, dia menuliskannya dalam sebuah notes kecil. Namaku, nama-nama bahan yang aku tidak mengerti, beserta jumlah rupiah yang harus aku bayar. Setelahnya dia menatapku dengan nada puas, “jangan khawatir. Untukmu, setengah harga.”

***

Dua tahun kemudian, tak banyak yang berubah. Aku masih sering muncul di pintu rumahnya. Dan kemudian kami lebih banyak mengobrol di kamarnya.

Akhir-akhir ini, dia sering bercerita tentang laki-laki yang ditaksirnya. Aku menyimak dengan malu-malu. Dan sekali itu, dia mendesakku untuk bercerita hal yang sama.

Aku akhirnya bercerita panjang lebar dengannya mengenai pria yang aku taksir itu.

“Oh, jadi selain kau, si Nora pun juga suka padanya? Dan laki-laki itu sepertinya juga lebih suka pada Nora. Begitu maksudmu?” Dia mengangguk-angguk setelah aku selesai menumpahkan isi hatiku.

“Ya, seperti itulah.”

Dia nampak tercenung, sepertinya berusaha mengingat-ingat sesuatu. Lalu melihat ke arahku dengan serius, “tapi, Nora memang lebih cantik darimu.”

Aku sangat tersinggung. “Memangnya kau kenal dia?”

“Kau yang menceritakannya tadi. Dia teman mengajimu juga, kan? Semua anak kecil yang suka mengaji dulu itu selalu lewat depan sini. Berteriak-teriak seperti orang gila, cinaaaaaa…cinaaaaaa…” dia menirukan sambil tertawa-tawa.

“Teman mengajiku banyak. Ada Nisa. Ratna juga.”

“Oh, aku tahu si Nisa itu. Anaknya Pak Haji. Dia suka datang kesini juga sama Pak Haji. Tapi dia malu-malu kalau disuruh masuk ke kamarku. Oiya, kakak laki-lakinya Nisa juga suka ikut.”

“Ha? Laki-laki yang aku ceritakan tadi itu kakaknya Nisa.” Pipiku menghangat. Pasti wajahku sekarang merah padam.

Dia langsung terbahak-bahak. “Laki-laki seperti itu yang kau suka? Apanya yang menarik?”

Wajahku mungkin lebih merah lagi. “Tadi kau bilang Nora lebih cantik dariku. Sekarang kau bilang laki-laki itu tidak menarik. Kau benar-benar mau membuatku kesal.”

Dia tertawa kecil sekarang. “Menurutku, kau harus lebih sering pakai rok panjang seperti teman-temanmu. Kau ini kemana-mana pakai celana panjang.”

“Apa urusanmu?”

“Masa kau tak tahu? Laki-laki kebanyakan lebih suka dengan perempuan yang pakai rok.”

“Sok tahu sekali. Kau tahu aku tak suka pakai rok.”

“Berarti laki-laki yang kau suka itu laki-laki kebanyakan. Tapi, tenang saja. Aku rasa ada laki-laki yang lebih suka perempuan bercelana panjang. Mungkin jarang. Tapi pasti ada.”

“Tapi kau bilang Nora lebih cantik dariku.”

“Menurutku dia memang lebih cantik.”

“Mana mungkin kau tahu dia. Kami sudah lama berhenti mengaji di mesjid. Kau hanya mau mengejek.”

“Aku tidak pernah keluar rumah tapi aku tahu teman-temanmu.”

“Kau hanya ingin membuatku kesal. Jangan-jangan kau juga suka dengan kakaknya Nisa.”

Dia terbahak-bahak lagi. “Mana mungkin aku suka dengan laki-laki kebanyakan.”

Aku tersenyum mengejek. “Kau kira banyak laki-laki yang suka kepadamu?”

“Mana aku tahu. Kenapa kau marah-marah?”

Aku memang tak pandai berdebat dengannya. Lagian mataku sudah memanas. Dia pasti menertawakan aku kalau aku sampai menangis di hadapannya. Dan sore itu, entah untuk keberapa kalinya, aku pulang dari rumahnya dengan rasa kesal.

(Bersambung ke sini)

***

Gambar : clipartof.com
Gambar : clipartof.com

[Cerbung] Temanku Cina

Tentang Dia

Oleh : Jihan Davincka

***

BAGIAN 1

Tanah di ujung jalan itu cukup luas. Bertahun-tahun ditinggal pemiliknya, lama-lama dijadikan tempat membuang sampah oleh para tetangga.

Aku melewatinya selalu dengan hati berdebar. Bangunan rumahnya sudah hampir tidak ada. Seminggu setelah bangunan itu kosong, rumah batu yang sempat berdiri kokoh di sana dibongkar orang-orang.

Dulu-dulu aku suka mengusap-usap mataku jika lewat sini. Aku tidak mau terlihat menangis. Aku takut kalau orang-orang tahu mataku basah.

***

Gambar : igotitall.net
Gambar : igotitall.net

Ingatanku melayang jauh. Sangat jauh ke belakang.

Aku masih kelas satu SD. Rumah besar di ujung jalan itu tiba-tiba dipugar. Yang tadinya dikelilingi oleh pagar seng, sekarang hanya ditutup dengan pagar kayu kecil-kecil.

Dan sebulan kemudian, saat aku pulang mengaji, aku berdiri berlama-lama di depan rumah itu. Catnya baru semua. Baunya membuat kepalaku sedikit pening. Tapi masih jauh lebih enak daripada bau apek yang dulu selalu menguntit jika kita lewat sana. Pintunya terbuka.

“Mau apa kau?” sebuah suara menghardikku.

Aku kaget sekali. Aku pikir itu suara hantu. Tapi aku melihat kepala anak perempuan menyembul dari balik jendela.

Aku menantangnya, “memangnya kenapa?” padahal aku sebenarnya takut dan sudah ingin lari.

Anak perempuan itu menghilang. Aku tersenyum puas. Dia tentu takut padaku. Aku baru mau meninggalkan tempat itu, ketika dia sudah berdiri di depan pintu.

“Aku punya banyak mainan.” Katanya dengan lantang.

Aku melihatnya jelas-jelas. Aku yakin sekali dia sebaya denganku. Matanya sipit. Kulitnya putih sekali. Dia memakai rok renda-renda. Kaosnya warna putih bersih tanpa lengan. “Kau cina,” kataku setengah mengejek.

“Tapi aku punya banyak mainan.”

“Tapi kau cina.” Dan aku berlari menjauh, pulang ke rumah.

Aku berteriak-teriak kepada Ibu, “Ibuuuu, ada orang cina! Ada orang cina!”

“Kau ini kenapa? Mandilah sana. Ganti bajumu. Anak gadis berteriak-teriak seperti itu. Apa tidak malu?”

***

Tapi besoknya dan besoknya lagi, sepulang mengaji, aku melambatkan langkahku jika melewati ujung jalan itu. Tapi jendela tempat aku melihat kepalanya pertama kali selalu kosong.

Akhirnya setelah seminggu penasaran, hari ini aku berhenti di ujung jalan itu. Membuka kerudung kecilku dan berteriak, “haloooo.”

Pintunya bergerak. Terbuka setengah, dan dia pun muncul, “aku punya banyak mainan.”

“Aku juga punya.” Aku mengeluarkan setoples penuh kelereng yang aku punya.  Aku suka main gundu.

“Hahahaha, itu punya anak laki-laki. Aku punya banyak boneka.”

“Mana?” Tantangku.

Dia tiba-tiba keluar dan menghampiriku. Menarik tanganku kuat-kuat dan menyeretku, “Masuk sini.”

Biarpun takut tapi aku sangat penasaran. Dia membawaku ke dalam sebuah kamar. Mataku terbelalak. Luasnya kamar ini. Dan setengah dari ruangannya dipenuhi mainan.

“Sekarang kau percaya kan?”

“Ini punyamu semua?”

“Tentu saja. Tapi kau boleh main kalau mau.”

Sejak hari itu, setiap pulang mengaji, aku selalu mampir ke rumahnya. Tapi tak berani berlama-lama. Aku takut Ibu mencariku. Dan lebih takut lagi kalau Ibu memarahiku.

***

Setelah berbulan-bulan aku suka diam-diam bermain ke rumah anak itu, Ibu menegurku di suatu sore.

“Kata Ical, kau suka main ke rumah besar itu, ya?”

“Kenapa memang?” aku menjawab takut-takut.

“Kau kan harusnya mengaji, kau ini bagaimana?”

“Aku mengaji. Aku ke sana pas pulang mengaji. Tidak apa-apa kan?”

Ibu terdiam tapi kelihatan gelisah. “Kenapa tidak bermain bersama Ical lagi. Atau Nora atau Nisa. Biasanya kau bermain bersama mereka.”

“Misye punya banyak boneka.”

“Misye? Siapa Misye? Kau kan juga punya boneka.”

“Misye punya boneka barbie. Itu boneka mahal. Nisa juga bilang itu boneka mahal. Tanya saja pada Nisa.”

Ibu kelihatan bingung.

Bapak keluar dari kamar. Menyalakan rokoknya dan ikut duduk-duduk bersama kami. “Kenapa kalian? Kau bolos mengaji, ya.” Bapak mengepulkan asap rokok, melirik ke arahku.

Ibu mendekat ke Bapak dan membisik-bisikkan sesuatu di telinganya. Bapak mengernyitkan dahinya sebentar terus langsung tertawa.

“Kau tidak takut kalau dia menyuruhmu makan babi?” Bapak berbicara sambil tertawa.

“Dia punya boneka barbie.” Tantangku.

Bapak tertawa lagi. Kali ini dia melihat ke arah Ibu. “Biarkan saja. Dia tidak bolos mengaji, kan?”

Ibu memandang tidak suka pada Bapak. Aku merasa menang. Aku ikut duduk di sebelah Bapak. “Dia pelit, Pak. Tidak pernah menawariku makanan. Tapi dia punya boneka barbie.”

Bapak tertawa-tawa lagi.

***

(Bersambung ke sini :D)

[FF] Dear Pakde, …

Gambar : www.myeloma.org.au
Gambar : www.myeloma.org.au

Tak berani kuremas selembar kertas di tanganku. Cepat-cepat kusisipkan di balik kebaya. Tanganku berkeringat. Kalau tintanya sampai luruh tak terbaca, habislah aku.

Ini bukan surat kuitansi apalagi surat cinta. Tapi di atas lembaran putih itulah, kutitipkan harapan terakhirku. Usaha penghabisan untuk menyelamatkan masa depanku. Ketika sebulan yang lalu Ibu gencar membujukku, “Mbah Setyo sudah membantu melunasi utang bapakmu. Tolonglah Ibu, penuhilah permintaan keluarga besar untuk menikah dengan anak Mbah. Iku Pakdemu. Pakde Trisno.”

Bertahun-tahun Ibu merantau ke tanah bugis demi cinta tak terbendungnya pada seorang kapten Birawa nun jauh di kota Makassar. Bapak meninggal tiga bulan lalu. Ibu berkeras mengajakku kembali ke Surabaya, tanah kelahirannya.

Kini, genap dua bulan aku berada di tengah-tengah keluarga ibu. Sejak kecil dibesarkan secara bugis, aku merasa sangat asing di sini.

Mendengar nama Pakde Trisno, ingin menangis rasanya. Aku cuma tahu, Pakde adalah sebutan untuk saudara Ibu yang usianya lebih tua. Belum usai laraku karena kehilangan bapak, sekarang aku pun harus menerima takdir yang tidak  kalah menyedihkannya.

Pakde Trisno-mu ngganteng, Nduk. Beruntung kamu.” Ah, ucapan Bude Marni cuma basa basi saja. Aku tak berniat bertanya lebih jauh. Kepada ibu pun kudiamkan semua tanya, sakit hatiku masih membuncah.

Biarlah. Akan kuminta pengertian langsung saja pada si Pakde ini. Mungkin masih tersisa rasa belas kasihannya padaku. Tega-teganya dia mempersunting aku. Walau terhitung saudara jauh, buatku sungguh tak wajar seorang paman menikahi keponakannya. Hari ini, saat dia akan datang melamarku, akan coba kuutarakan isi hati padanya langsung melalui sepucuk surat.

Suara gaduh mulai terdengar. Hatiku makin berdebar putus asa. Kuraba secarik harapan yang tersisa di balik kebayaku. Mbah Setyo muncul. Aku mengenalnya sejak  kecil. Seorang perempuan yang mungkin usianya hanya beberapa tahun lebih tua dari Ibu berjalan di sampingnya, menggamit mesra lengan si Mbah.

Bude Marni berbisik padaku, “Iku istri mudanya Mbah. Kenal ndak? Ibune si Pakde Trisno-mu.” Belum habis bingungku, seorang pria tampan muncul dari belakang mereka. Bude Marni tak bersuara, tapi jarinya sibuk mencolekku seolah memberi isyarat siapa pria rupawan itu.

Hatiku berdebar makin tak karuan. Perasaan marah dan tak berdaya menguap entah ke mana. Kuremas selembar kertas di balik kebayaku. Andai boleh berlari ke dalam kamar dan menulis ulang isi hatiku, tak ragu kan kugoreskan satu kalimat saja, menghapus puluhan kalimat rintihanku tadi untuknya, “Dear Pakde, aku jatuh cinta.”

Iki Pakde Trisno? Hihihihihi (Sumber gambar : detikhot.com)

***

 

Tips Menulis Cerpen : Write and Send!

Coba lihat contoh cerpen di bawah ini :

Jam 12

Sepuluh menit lagi. Tanganku berkeringat terlalu banyak. Sampai-sampai aku takut sebilah benda di tanganku akan terlepas. Seluruh rasa percaya diri yang setengah mati kukumpulkan beberapa bulan terakhir ini entah kemana perginya. Kini, tak cuma jantung yang berdetak terlalu cepat, lutut pun bergetar begitu rupa.

***

Apaan sih ini?

Ada yang nanya, kalau bikin cerpen, pembukanya enaknya gimana? Judulnya apa? Contoh paragraf pertamanya gimana? Semacam nanya soal tips menulis cerpen gitu, ya. Duh, paling enggak ahli deh bikin tips-tips hihihi. Apalagi tips menulis cerpen.

Namanya Aryana, Femina no.24 (2)Ampuuunnn, udah kayak penulis cerpen kawakan saja kauuu, sok-sok bikin tutorial ahahahahahahaha.

Saya terus terang tidak pernah mengerti teorinya. Selama ini ya langsung ditulis aja. Jadi, langsung dikasih contoh saja, ya . Gimana? Judulnya bikin penasaran gak? Pembukanya ‘nendang’ gak?

Setiap penulis itu (baik yang beneran maupun yang sok merasa dirinya penulis kayak gue :P), punya ‘taktik’ masing-masing dalam membuat tulisan fiksi. Nah, saya ini tipe yang MESTI TAHU AKHIRNYA apa dan PESAN MORALnya apa. Sok keren, ya? Iya dong, biar pun fiksi, kudu ada pesan yang mudah-mudahan mengarah ke kebaikan. Iya, gak? ;).

Cerpen Tiga Rahasia Femina no.50Jadi, saya selalu memulai menulis fiksi dengan menuliskan paragraf terakhirnya . Tapi karena ditanyain awalnya, jadi deh yang dikasih ya awalannya . Buat saya, kalau sudah tahu kemana cerita akan bermuara, tak akan sulit untuk meramu awal dan pertengahannya. Dengan catatan, plot dan alur sudah ada.

Plot dan alur kepikiran dari mana? Kalau saya pribadi, tidak perlu momen khusus. Misalnya lagi ngerebus daging saja, suka kepikiran bikin cerpen tentang istri yang mau meracuni suaminya karena suaminya mau kawin lagi. Hati-hati para suami. Konon… para istri rela dimadu asalkan suami rela diracun. Ahahahahahahha. Becandaaaaa :P.

Intinya, cari ide jangan dibikin stres. Tidak harus mendaki seribu gunung, menyeberang seribu pulau, kok . Kalau lagi mengerjakan pekerjaan yang tidak butuh konsentrasi tinggi (seperti menyetrika, beres-beres rumah, cuci piring / iya nih eike gaptek enggak bisa pakai dish washer ahahahaha), manfaatkan untuk menghayal .

Apa sih gue? Jadi situ udah jagoan bikin fiksi, neh? Ya kan namanya juga ada yang nanya, Kakaaaaaaa :D.

Inti nomor duanya, jadi orang ya pede aja. Gimana cara cerpen dimuat di majalah? Ya bikin cerpen terus kirim! Gampang kan? .

Kalau yang narsis kayak saya, ya memang tahapnya gitu doang. Ketik cerpennya, rapiin di word, attach di email, ketik alamat redaksi, pencet tombol send. Simpel. Beres . Suka malas cari-cari tahu tipe-cerpen di berbagai majalah dll. Pokoknya majalah wanita dewasa ya usia tokohnya dibuat dewasa. Ya selama ini cuma ngirim ke majalah wanita dewasa. Yang remaja belum pernah. Masa remaja kurang bahagia? Kayaknya sih begitu :P.

yang kumau KartiniYa kalau redaksinya suka, alhamdulillah. Naskah ditolak? Itu kerugian redakturrnya. Naskah bagus kok ditolak? Iya, gak? Ahahahhahahhaha. Jangan karena naskah ditolak, kepercayaan diri terguncang. Yang rugi diri sendiri kan?

Nih, redaksi femina : kontak@femina.co.id (panjang naskah sekitar 12 ribu karakter). Font gak usah dipikirin. Pokoknya kalau gak TNR ya arial. Spasi 1.5 lah ya.

Redaksi kartini : redaksi_kartini@yahoo.com (panjang naskah sekitar 13,5 ribu karakter). Font sama. Spasi sama.

Redaksi lain? Belum pernah tembus, euy hihihihi.

Jadi … tips menulis cerpen? Write and send! As simple as that ;).

Selamat mencoba ^_^.

bintang

[Cerpen Majalah Kartini] Judul : Yang Kumau

Cerpen Majalah Kartini , Oleh : Jihan Davincka

***

Cerpen Majalah Kartini

Jam sebelas lebih sepuluh menit. Masih dua jam lagi pesawatnya mendarat.
Aku tak bisa melupakan peristiwa tiga bulan lalu. Saat wajahnya merekah penuh kebahagiaan, tak henti-hentinya berujar, “Manda, ini betul-betul keputusan yang tepat. Terima kasih, Nda.”

Aku tak melepaskan genggaman tanganku sejak detik aku duduk di sampingnya, “Doakan selalu yang terbaik ya, Pa.”

Wajah berseri yang tengah terbaring di sebuah ranjang rumah sakit mengangguk-angguk dengan mata berbinar. Pipiku memanas. Dua butir airmata meluncur cepat tak tertahan. Kuabaikan segala kerisauan yang menghantui beberapa minggu terakhir. Apapun untukmu, Papa.

***

Kuedarkan pandangan ke sekeliling. Suasana masih ramai. Beberapa orang yang ikut duduk tak jauh dariku, tampak mengipas-ngipaskan tangan tak sabar. Baru terasa udara yang gerah ini. Aku mengusap perlahan keningku yang basah dengan selembar tisu.

Kulirik jam tangan. Setengah dua belas. Dua puluh menit termenung rasanya bagai berjam-jam. Kusandarkan punggung ke pundak kursi.

Pikiran kembali melayang. Kali ini jauh ke belakang. Terbang mundur ke saat aku berdiri terpaku menghadap sebuah meja. Sebuah kue tar besar dengan angka delapan diletakkan tepat di hadapanku. Semua orang bersorak tapi aku malah tak henti-hentinya mengeluarkan air mata.

Papa berbicara sesuatu kepada orang-orang, aku tak menyimak. Yang kuingat, dia menuntunku masuk ke dalam kamar dan memelukku di pangkuannya. “Manda kangen Mama?”

Aku mengangguk perlahan sambil terus menunduk. Betul sekali. Saat itu adalah ulang tahun pertamaku dimana hanya ada Papa yang menemaniku berdiri di depan kue ulang tahun.

Papa membelai rambutku. “Biarpun anak perempuan, Manda jangan sering menangis.”

“Manda sedih, Papa.”

“Iya, tidak apa-apa. Tapi tidak harus menangis, kan? Kasihan teman-teman sudah datang. Masa melihat Manda terus-terusan menangis?”

Aku menjawab sambil terisak, “Manda enggak bisa berhenti.”

“Ingat saja kado-kado yang dibawa mereka. Kalau nangis terus, kadonya diambil lagi, lho.”

Ucapan Papa barusan memunculkan senyumku seketika. Bertahun-tahun setelahnya hanya selalu ada Papa yang setia bertepuk tangan bersamaku di hari bahagiaku. Tak pernah ada pengganti Mama.

Aku terbiasa menceritakan apa pun kepadanya. Papa selalu mendengarkan dan selalu punya solusi atas kegelisahanku.

Tapi pernah sekali, ketika usiaku belum genap 12 tahun, aku berbisik takut-takut kepadanya, “Papa, aku sakit. Ada noda darah di pakaian dalamku.”

Papa nampak bingung sebentar. Kemudian terlihat tegang, meninggalkanku sendiri sambil menepuk jidatnya. Aku mendengarnya berbicara di telepon dengan suara panik. Sejam kemudian Tante Heti, adik Mama, sudah tiba di ruang tamu.

Papa berusaha tenang saat berkata kepadaku, “Manda, ceritakan saja soal yang tadi ke Tante Heti. Manda tidak sakit, kok.

Senyum-senyum sendiri mengingat peristiwa yang kini menurutku cukup lucu itu. Sejak saat itu, Papa mengajariku untuk berbelanja pakaian sendiri.

Waktu SMP aku bangga. Papa sudah membiarkanku kemana-mana sendiri. Tapi aku tidak boleh keluar tanpa ditemani malam-malam. Di bangku SMA, Papa membolehkan aku ke luar kota bersama teman-temanku. Tak heran ketika kuliah, Papa membebaskanku untuk memilih perguruan tinggi di kota lain.

Pertama kali terpisah darinya, aku sangat sedih. Bertahun-tahun selalu tinggal bersama Papa. Aku meneleponnya sambil sesenggukan di malam kedua aku tinggal di rumah kos.

Papa tertawa di ujung sana, “Kamu kan sudah sering ke luar kota ninggalin Papa.”

“Itu kan cuma beberapa hari, Pa. Ini beda. Aku bisa berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan tidak ketemu Papa. Tidak mungkin aku pulang tiap bulan, kan?”

“Selalu ada pengalaman pertama untuk hal apa pun, Nda. Masa masalah kecil begini kamu mendadak cengeng?”

Ucapan Papa tidak menghapuskan rasa gelisahku begitu saja. Tapi aku membenarkan ucapannya. Hingga akhirnya kami berdua kembali berdiri bersama dan berpose di depan kamera dengan sebuah toga melingkar di kepalaku.

Aku beruntung. Belum genap sebulan menggenggam ijazah, sebuah perusahaan besar menawariku pekerjaan. Pekerjaan impian yang menjanjikan penghasilan yang tidak sedikit dan kesempatan untuk menginjakkan kaki di berbagai tempat. Aku selalu suka bertualang ke tempat-tempat baru.

Karierku menanjak cepat. Aku begitu serius, ambisius dan sangat menikmati pekerjaanku. Tepat di usia ke-28, aku mendapatkan promosi sebagai senior manager dari konsultan tempatku bekerja.

Aku merayakannya dengan makan siang di kafe mewah bersama teman-teman. Sebagian besar sahabat perempuan mengeluh tentang orang tua mereka yang sudah mulai meributkan masalah pasangan. Mereka rata-rata teman kerjaku di kantor yang sama. Jam kantor padat dan jadwal traveling yang rutin tak menyempatkan sebagian besar kami memikirkan secara serius masalah ini.

Aku bersyukur Papa tidak pernah mendesakku soal pasangan. Paling sesekali menggodaku, “Di Facebook, foto kamu yang baru dengan siapa, tuh? Ganteng juga. Kenalin ke Papa, dong.”

Makin lama makin sering kami berjauhan. Jarak terbentang tapi aku tak pernah merasa jauh darinya. Media sosial menjadi tempat komunikasi utamaku dengan Papa. Aku bangga padanya. Di usia yang tidak muda lagi, Papa tidak pernah risih bergaul di media sosial.

Rasanya sudah lama sekali aku tidak pernah lagi berandai-andai tentang Mama yang kuharapkan diberi usia lebih panjang bersama kami. Dengan Papa di sampingku, aku begitu percaya diri dan merasa sangat cukup.

Lalu, terjadilah percakapan yang tidak biasa di malam itu. Aku baru saja tiba dari bandara setelah penerbangan yang melelahkan dari Negeri Paman Sam, tempat klien baruku. Papa menungguku di ruang tamu. Hari sudah larut, tidak biasanya Papa masih terjaga. Wajahnya pucat. Aku tahu dari emailnya beberapa hari yang lalu tentang kondisinya yang tidak sehat.

“Aku kan bawa kunci, Pa. Papa tidak istirahat?” Aku duduk di sampingnya. Dari dekat, aku melihat wajahnya yang benar-benar kuyu. Aku mulai khawatir.

“Kamu tidak suka Papa tungguin?”

Aku menggeleng sambil tersenyum. “Ada-ada saja, deh. Papa sudah ke dokter?”

Papa diam agak lama. Lalu menatapku dengan pandangan serius, “Jangan khawatirkan Papa. Lihatlah dirimu. Kapan kau memikirkan untuk menikah?”

Aku tidak siap dengan pertanyaan itu. Aku mengalihkan pertanyaannya, “Dokter bilang apa, Pa?”

“Manda, umurmu tak muda lagi. 30 tahun. Papa tidak…”

Aku memotong ucapannya, “Kenapa tiba-tiba meributkan soal ini, Pa?”

“Baiklah. Besok pagi kita bicara.” Papa berdiri, meninggalkanku.

“Aku antar Papa ke rumah sakit besok, ya.”

Tak ada jawaban. Hanya derit pelan pintu kamarnya yang menutup percakapan kami malam itu.

***

Aku menyesali diriku yang begitu larut dalam kesibukan sendiri. Tak menyadari kesehatan Papa mulai menurun. Aku terisak-isak memandangi hasil tes kesehatannya yang diserahkan pihak rumah sakit padaku.

“Papa, aku akan minta cuti. Aku mau merawat Papa di rumah.”

“Waktu Papa mungkin tak lama lagi. Kalau tak ada Papa, siapa yang akan menjagamu?”

“Aku bukan anak kecil, Pa. Giliranku menjagia Papa.” Aku tersenyum dan merapatkan dudukku. Memeluknya erat.

Papa melingkarkan tangannya di bahuku. “Begitu sulitkah permintaan Papa, Nda?”

Tak tahu harus menjawab apa, aku memilih diam. Aku tak berani mengangkat wajahku untuk menyuarakan isi hatiku di saat kondisi Papa seperti ini.

Tapi seminggu kemudian, Papa mengajakku ke rumah Tante Heti. Aku kaget ketika di sana sudah ada seorang laki-laki. Tanpa canggung, Papa mengenalkannya padaku. “Manda, ini Giring.”

Aku menyambut uluran tangan pria berkacamata itu. Wajahnya sama sekali tidak jelek. Badannya tegap, tersenyum penuh percaya diri saat menggenggam tanganku. Tapi tak ada getaran apa pun untuknya.

Papa tidak mempedulikan aku yang masih berdiri kaku kebingungan, “Giring ini seorang dokter. Usianya lebih tua dua tahun darimu, Nda.”

Sekaget dan semarah apa pun aku, aku tetap berusaha sopan dan mengobrol santun dengan Giring. Ini bukan salahnya. Tiba di rumah kembali setelah dua jam yang menyiksa di rumah Tante Heti, aku tak bisa menahan diriku lagi.

“Apa-apaan ini, Pa?”

Papa menjelaskan panjang lebar, “Sudah saatnya, Nda. Papa tidak akan memaksa. Tapi kau cobalah dulu akrab dengannya. Papa kenal anak itu dari kecil. Orangtuanya, baik ibu dan ayahnya, kolega Papa di kampus.”

“Tidak memaksa? Papa bahkan tidak memberiku kesempatan untuk…”

Papa mulai tak sabar, “Kenapa kau ini? Sesulit itukah sekadar mengobrol dengannya?”

Aku kaget. Papa tidak pernah seperti ini. Papa selalu mendengarkan aku dan membuka ruang diskusi. Aku tak berdaya. Kuceritakan saja pada Tante Heti, yang kadang-kadang kuanggap sebagai pengganti Mama.

Ucapannya mengalir bijak, “Papamu Cuma khawatir. Sudah tugas orang tua kan mengantarkan putrinya ke gerbang pernikahan.”

“Mengantar, bukan memaksa,” keluhku.

“Mungkin papamu merasa waktunya tak akan lama lagi. Mengertilah. Dari dulu pusat kehidupannya Cuma kamu. Sekarang pun, ini pasti untuk kebaikanmu juga.”
Ucapan Tante Heti tak juga bisa meruntuhkan kegundahanku.

Biarpun aku mengambil cuti dan selama berhari-hari kami diam bersama dalam rumah, hubunganku dengan Papa makin dingin. Tapi tak ada perdebatan sengit. Hari ke hari aku makin resah, tak terbiasa memendam amarah seperti ini. Rasa kasihanku pada kondisinya membuatku mau saja menjalin hubungan dengan Giring.

Suatu hari Papa berbicara lembut kepadaku, “Manda, keinginan Papa dari dulu cuma ingin kau bahagia.”

” Aku bahagia, Pa. Satu-satunya yang bisa merusaknya adalah kecemasanku akan kondisi Papa.” Mataku berkaca-kaca.

Papa menggeleng pelan, “Bukan itu.”

“Aku bisa menjaga Papa. Tanpa Giring sekali pun.”

“Kau belum mengerti juga.” Lalu, Papa terdiam lama sekali. Ternyata itu pembicaraan terakhir kami sebelum akhirnya beberapa jam kemudian, kondisi Papa menurun drastis. Aku melarikannya ke rumah sakit.

Dalam cemasku, aku memeluknya kuat-kuat dan membisikkan, “Papa, baiklah. Aku akan menikah dengan Giring.”

Itu kejadian tiga bulan lalu. Tuhan mendengarkan doaku. Hanya sehari Papa di rumah sakit, dokter sudah membolehkannya pulang.

Saat kondisinya makin membaik, Papa memutuskan untuk ke luar kota dalam rangka penelitian dan tugas dari kampus. Aku menentang keras. Tapi Papa sungguh keras kepala akhir-akhir ini.

Berminggu-minggu Papa pergi dan hari ini akan pulang. Aku sudah bilang aku akan menjemputnya.

***

Senyumnya melebar. Siapa pun bisa menebak betapa bahagianya wajah itu. Ya Tuhan, bagaimana harus kurangkai kata di hadapannya.

Bagaimana harus kuceritakan bila tak akan ada resepsi yang ditunggu-tunggunya. Tak akan ada penghulu yang menghampiri rumah kami di hari yang telah ditetapkan itu.

Seperti apa harus kuungkapkan ketika minggu lalu aku muncul di pintu rumah Giring. Dengan segenap kekuatan yang aku punya, kujelaskan pada orang tuanya mengenai niatku untuk membatalkan pernikahan kami. Nada suaraku mungkin layu tapi aku sungguh tak ragu.

Langkah lelaki tua itu makin cepat ke arahku. Papa, aku tak ada niat menyakiti. Aku hanya ingin menunjukkan bahwa Papa mendidikku untuk berani. Tegas mengambil keputusan yang kurasa terbaik untukku. Tapi tepatkah untuk Papa?

“Cantik sekali calon pengantin Papa.” Dia memelukku erat-erat. Suaranya serak, walaupun tak terlihat, aku bisa merasakan matanya yang basah.

“Apa kabar Papa?” Kata-kataku bergetar, hatiku gentar.

Oh Tuhan, dari mana aku harus memulainya.

***

Kami tiba di rumah. Papa bersenandung kecil dari dalam kamarnya. Aku mengintip dari balik pintu kamarnya yang setengah terbuka. Papa sedang membongkar kopernya. Entah apa yang dicarinya. Aku memutuskan untuk menunggu di meja makan saja.

“Nah, ini dia kejutan buat calon pengantin Papa.” Tak lama, Papa menghampiriku yang sedang duduk tegang menantinya.

Aku menjawab lemah, “Makan dulu yuk, Pa.”

Papa duduk di sebelahku dengan antusias, “Lihat ini, Nda.”

Aku terkejut melihat sebuah kotak perhiasan diletakkan di hadapanku. Papa membukanya dengan tidak sabar. “Lihat ini. Papa sempat mencarikanmu sebuah cincin. Ini mirip sekali dengan punya Mama. Tadinya Papa tidak berharap…”

“Sudahlah Papa…” Airmataku meluncur tak tertahan.

Papa tersenyum, “Tidak apa-apa, Nda. Papa memang sudah meniatkan…”

“Aku sudah membatalkan semuanya.” Entah keberanian itu datang dari mana, kata-kata itu meluncur begitu saja.

Cincin yang dipegang Papa terlepas dan jatuh ke lantai. Papa menatapku tak percaya. Suaranya terbata-bata, “A…apa maksudnya, Nda?”

Tak ada gunanya kusembunyikan lagi. Lebih baik kuceritakan semuanya. “Minggu lalu, aku ke rumah Giring. Bertemu dengan kedua orang tuanya.”

Aku menunggu reaksinya. Papa malah bangkit dari duduknya. Cincin di tangannya terjatuh begitu saja. Papa berjalan gontai ke arah kamarnya. Aku membiarkannya pergi dan tetap duduk di tempatku. Setelah bayangannya menghilang, aku memungut cincin tadi. Menempelkannya di pipiku, membiarkannya ikut basah.

***

Berhari-hari Papa mendiamkanku. Ini sungguh menyiksa. Perasaan bersalah mulai menyusup. Apa yang telah kulakukan? Benar kata Tante Heti, lebih dari 20 tahun, aku selalu menjadi pusat kehidupannya. Keistimewaannya bahkan tidak membuatku meratap merindukan sosok Mama.

Aku pasti tak mungkin bisa menyamai rasa cintanya padaku. Tapi aku sungguh tak mampu membohongi diriku bahwa permintaannya terlalu besar. Aku bukannya tak ingin menikah. Aku hanya ingin melakukannya saat aku siap. Bukan karena alibi sosial apa pun.

Tak kusangka, setelah hampir seminggu Papa bersikap seakan-akan aku tidak ada, sore ini Papa menghampiriku. Duduk di sofa yang sama, tepat di sampingku.

“Ini semua salah Papa,” ujarnya perlahan dengan tatapan lembut.

“Maafkan aku, Papa. Maksudku bukan…”

Papa langsung memotong, “Papa membiarkanmu terlalu lama sendiri. Papa teledor. Lupa kalau waktu terus berjalan, tidak selamanya Papa akan bisa…”

Kali ini aku yang memotong ucapannya, “Papa beda dengan yang lain. Aku bangga.”

Papa tersenyum tak bersuara. Lalu, menoleh dan berkata, “Papa yang bangga padamu. Kau berani sekali, Nda.”

Aku tidak tahan. Aku langsung memelukknya kuat-kuat. “Kalau yang Papa tunggu adalah melihatku bahagia. Tidak perlu menunggu lagi. Aku bahagia, Pa. Dari dulu, aku selalu bahagia.”

Papa menepuk pundakku dengan lembut.

“Oh ya, soal Giring…” Aku melepaskan tanganku dari bahunya. Menatapnya takut-takut.

“Sudahlah. Ini tentangmu, bukan tentang Giring.” Lagi-lagi dijawab dengan tersenyum.

Aku lega dan tiba-tiba teringat sesuatu, “Sebentar, Pa.”

Aku setengah berlari menuju ke kamarku. Mengambil sesuatu dari kantong tas dan kembali duduk di samping Papa.

“Ini.” Aku menunjukkan cincin yang tempo hari ditunjukkannya padaku.

Papa ingin meraihnya tapi kutarik lagi. “Aku ingin memilikinya. Apa boleh, Pa?”

“Papa berharap bisa melihatmu memakainya di hari bahagiamu nanti.”

Aku memakai cincin itu di jari manis tangan kananku. “Aku sudah bilang, Pa. papa tidak perlu menunggu untuk melihatku bahagia.”

Kali ini Papa yang meraih aku ke dalam pelukannya.

Aku berbisik padanya, “Aku tidak bohong. Aku benar-benar bahagia.”

Aku memang tidak bohong. Aku pikir ketika aku menyaksikan pemakaman Mama, kebahagiaan tidak akan pernha menjadi milikku lagi. Tapi sejak Papa meyakinkan aku untuk memasang senyum terbaikku sebelum meniup lilin ulang tahunku yang pertama tanpa Mama, aku tahu aku akan tetap bahagia. Bahkan Papa melakukan hal yang lebih jauh. Sejak kecil mengajariku bahwa kebahagiaanku tidak pernah tergantung pada keberadaan orang lain.

Bagaimana mungkin aku tidak menyayanginya sebesar yang aku mampu?

***

Baca juga : [Cerpen Femina] Namanya Aryana

Baca lagi : [Cerpen Femina] Tiga Rahasia

Note :

8 Mei kemarin tepat 21 tahun meninggalnya almarhum bapak saya. Kebetulan sekali, ya, cerpennya dimuat di edisi awal mei di Majalah Kartini kemarin hehehe.
As old as she was, she still missed her daddy sometimes . I always did anyway. Drama, drama, drama ahahahahahahha .