
Tak berani kuremas selembar kertas di tanganku. Cepat-cepat kusisipkan di balik kebaya. Tanganku berkeringat. Kalau tintanya sampai luruh tak terbaca, habislah aku.
Ini bukan surat kuitansi apalagi surat cinta. Tapi di atas lembaran putih itulah, kutitipkan harapan terakhirku. Usaha penghabisan untuk menyelamatkan masa depanku. Ketika sebulan yang lalu Ibu gencar membujukku, “Mbah Setyo sudah membantu melunasi utang bapakmu. Tolonglah Ibu, penuhilah permintaan keluarga besar untuk menikah dengan anak Mbah. Iku Pakdemu. Pakde Trisno.”
Follow




