Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck : Novel Klasik Karya HAMKA

Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, sebuah roman karangan HAMKA (Haji Abdul Malik Karim Amrullah) yang dipublikasikan pertama kali di tahun 1938. Saya membaca novelnya di usia SD, entah persisnya umur berapa. Iseng bongkar-bongkar sebuah kardus yang sengaja diturunkan oleh ibu saya dari atas lemari karena sedang mencari-cari sesuatu.

Tenggelamnya kapal van der wijck
Gambar : openbooks.com

“Buku cerita bagus itu. Bacami.” Kata ibu saya waktu saya membolak-balik buku tua yang lembarannya masih utuh, hanya sampulnya yang sudah koyak.

Sebagai penggemar fiksi (fiksi apa saja, termasuk komik-komik Donald yang bisa eike baca berulang-ulang tapi tetep ngikik-ngikik hehehe), langsung leyeh-leyeh di atas kasur mulai membuka halaman pertamanya. Awalnya pening, ya, bahasanya ribet begitu hehehehe. Tapi karena ibu bolak balik mempromosikan kalau ceritanya sedih tapi bagus jadinya bikin kepo berat .

Roman Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck ini berisi kisah cinta ala-ala Romeo dan Juliet yang lebih kompleks dengan latar belakang budaya Minang yang membuat saya waktu itu sudah terpikir, “Ajegile ini orang Minang. Repot amat adatnya. Jangan sampai deh berjodoh ama model begini.”

Ahahahahhaha. Who knows bertahun-tahun habis itu, takdir membawa saya menjadi menantu keluarga Minang-Bukittinggi . Diawali dengan sahabat dekat yang masih langgeng hingga kini dari masa awal kuliah yang juga berdarah 100% Minang.

Benarlah kata pepatah yang dibawakan oleh pembawa acara sebagai pembuka di acara resepsi pernikahan saya 6 tahun silam, “Asam di gunung, garam di laut, bertemu di dalam periuk.” Gadis Bugis dari sulawesi, bujang Minang dari sumatera, bertemu di UI – Depok, hihihihihi .

***

Balik ke novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, Kakaaaaa 😀.

Zainuddin, pemuda setengah Minang yang mengawali hidupnya hingga remaja di tanah Sulawesi. Ayah Zainuddin, Pendekar Sutan, adalah pemuda asli Minang. Yang terusir dari kampung setelah terlibat perselisihan yang mengakibatkan kematian Mamaknya. Mamak = Paman. Bukan sembarang paman, tapi paman yang paling ‘dituakan’ dari pihak Ibu. Beda lho dengan pengertian Pakde-nya orang Jawa.

Dari pengasingan di Cilacap, Pendekar Sutan memilih menetap di Sulawesi. Menikah dengan Daeng Habibah (asli sulawesi) dan berbuah seorang bujang, Zainuddin.

Kedua orang tua Zainuddin telah berpulang semasa dirinya masih kecil. Saat remaja, Zainuddin meminta izin pada pengasuhnya untuk kembali ke Tanah Minang. Bertolaklah Zainuddin ke negeri asal ayahanda tercinta.

Ternyata, sambutan tak sehangat yang dibayangkan. Jika di Sulawesi, Zainuddin tak begitu diterima oleh keluarga sulawesinya karena adat Sulawesi yang secara umum mengaitkan asal usul seseorang berdasarkan darah Ayah, maka di Minang ia pun tertolak. Adat Minang kala itu masih memegang teguh prinsip Matrilineal. Yang menggariskan keturunan seorang anak berdasarkan darah ibunya.

Sibuk mengais perhatian dari keluarga minangnya, masalah bertambah dengan tertambatnya hati Zainuddin pada Hayati. Hayati bukanlah upik sembarangan. Melainkan seorang anak perempuan dari keluarga terpandang, semacam bangsawan Minang gitu, deh .

Di zaman itu, perempuan Minang dari keluarga terkemuka tentu saja diharapkan untuk berjodoh dengan sesama urang awak (sebutan khas untuk orang Minang). Lah, Zainuddin kan Minang juga. Eit, karena ibunya orang sulawesi, Zainuddin tidak dianggap orang Minang tulen. Istilahnya anak pisang apa, ya? Tolong yang dari Minang diceki-ceki, suami eike bete nih gue tanya-tanyain dari tadi hahahahahaha.

Sebenarnya, Hayati pun menyimpan bara cinta yang sama untuk Zainuddin. Ihiiiiy. Tapi ya, kehendak Ninik Mamak mana sanggup dibantahnya. Hayati memasrahkan dirinya yang telah dijodohkan oleh pemuda Aziz, yang juga berasal dari keluarga ‘Minang tulen’.

Padahal, waktu itu, Zainuddin sempat diberkahi harta warisan berlimpah selepas meninggalnya sang pengasuh di Sulawesi. Zainuddin tetap maju mempertahankan cintanya. Namun, garis keturunan tetap memenangkan cinta Aziz.

Membawa sakit hati tak terperi, pergilah Zainuddin ke Surabaya. Berbekal harta yang banyak, berusahalah ia melupakan kasih tak sampainya dengan menjadi penulis. Beuh, kenapa sih sastra tempo dulu, asal patah hati pasti ujung-ujungnya jadi penulis? . Untung di era internet, enggak perlu patah hati untuk menjadi seorang penulis, yak. Hehehehe .

Singkat cerita, Zainuddin tentu jadi tenar. Akhirnya Hayati pun ikut merantau bersama Aziz ke Surabaya. Kontras dengan kepopuleran sang bujang pujaan, Hayati malah kurang beruntung. Saking susahnya kehidupan rumah tangganya, Aziz dan Hayati sampai nekat menumpang tinggal di rumah Zainuddin.

Hingga akhirnya, Aziz malah meninggalkan Hayati begitu saja. Ditalak lewat surat dan menitipkan Hayati pada Zainuddin.

Tapi, cinta dan benci sudah terlanjur menyatu, apinya tak kunjung padam di hati Zainuddin. Masih terbakar oleh rasa sakit hati, Zainuddin malah menyuruh Hayati ke kampung halamannya. Padahal Hayati sebenarnya sangat berharap menyatukan kembali cinta yang sesungguhnya tak pernah redup untuk Zainuddin.

Apa daya kemampuan seorang perempuan. Hayati pun pasrah menuruti permintaan Zainuddin. Dengan menumpang Kapal Van Der Wijck, Hayati bertolak pergi. Sebelum pergi, dititipkan ungkapan hatinya kepada sang kekasih melalui sepucuk surat.

Tak lama setelah Hayati pergi, hati Zainuddin bergejolak. Apalagi setelah membaca untaian kasih dari Hayati di atas berlembar-lembar kertas. Tanpa pikir panjang, Zainuddin berusaha menyusul Hayati.

Di tengah perjalanan, tersiar kabar bahwa kapal yang ditumpangi Hayati mengalami kecelakaan. Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, Hayati menghembuskan nafas terakhirnya dalam dekapan Zainuddin. Setelah kedunya sempat saling mengungkapkan perasaan dan penyesalan masing-masing.

Mudah ditebak, sebentar saja setelah ditinggal belahan jiwa, Zainuddin pun jatuh sakit dan ikut menyusul Hayati.

***

Novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck ini sebenarnya menyuarakan kritikan sang penulis kepada adat Minang yang ‘keras’ di masa itu. Apa pula itu menghalang-halangi dua hati yang sudah tersangkut habis-habisan hanya karena perbedaan suku. “It’s so last year” la yaow, kalau isitlah zaman sekarang hehehe. Berapa banyak hati yang luka, dendam dan pengorbanan yang tidak perlu hanya karena ‘perbedaan’ macam ini.

Walau nyatanya, dari hasil kepo-kepo dengan beberapa teman perempuan yang asli Minang, harapan seperti itu dari para orang tua tetap ada. Ada yang masih ketat, ada pula yang sekedar imbauan semata.

Ada juga lho, di abad Facebook, teman perempuan saya yang berdarah Minang yang akhirnya dijodohkan oleh orang tuanya dengan urang awak. Padahal teman ini sudah memiliki tambatan hati lain (kebeneran bukan urang awak :P). Alhamdulillah, mereka mah baik-baik saja sampai sekarang .

Tentu saja, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, novel lama yang terhitung salah satu karya sastra terbaik di tanah air ini masih patut kita jadikan pelajaran. Bahwa yang namanya suku, warna kulit, marga, sesuatu yang tak bisa kita ubah. Sudah dari sananya, kan? . Memangnya kita bisa meminta, “Ya Allah, lahirkan aku sebagai orang bule. Kulit putih mulus, rambut tebal bergelombang, mata biru, rambut blonde, badan langsing selamanya.” Hahahahahha.

Kalau keyakinan seperti agama itu lain lagi. Bisa dipelajari dan bisa kita sebarkan.

La kalau suku piye? Mau bolak balik merantau ke Depok, Jakarta, Tehran, Jeddah hingga ke Athlone, orang bugis ya tetap orang bugis hehehe. Lahir sebagai bugis, sampai mati pun akan tetap berdarah bugis . Begitu pula dengan minang, jawa, batak, tionghoa, sampai ras arab.

Tapi, apa penting ya yang begini-beginian menjadi pemecah persatuan? Apalagi untuk bangsa sebesar Indonesia yang ragamnya macam-macam. Bayangkan, di satu propinsi saja, sukunya bisa belasan jumlahnya. Bahasanya juga macam-macam. Kalau pun kata-kata bermakna sama, sering dialeknya yang berbeda-beda .

Itulah cyin kerennya orang Indonesia . Diantara banyak budaya yang membentang dari Sabang sampai Merauke, kita punya “bahasa Indonesia” untuk saling berkomunikasi. Punya lagu “Indonesia Raya” yang bisa dinyanyikan sama-sama di tanggal 17 Agustus ini .

Karena saya seorang muslim, tak mengapa, ya, bila saya kutipkan sebuah ungkapan indah dari kitab suci kepercayaan saya :

“Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari laki-laki dan perempuan, dan Kami menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kalian adalah orang yang paling bertaqwa di sisi Allah. “[al-Hujurat:13].

Jadi, tetap lho ya, bagi kepercayaan kaum muslim, mau situ Jawa-bugis-Minang-Batak-Maluku-Papua-Flores-Bali dll, ukuran kemuliaan di mata Allah akan kekal sepanjang masa : KETAKWAAN 🙂. Nah, ada pun ketakwaan ini bisa lain panjang lagi ya ceritanya.

Tapi kita cukupkan sampai di sini saja, pan temanya hari Kemerdekaan Bangsa Indonesia bukan ngajak berdebat siapa yang masuk neraka siapa yang masuk surga? Hehehehhe.

17 Agustus tahun ini, kembali semangat kebangsaan agak dikorek-korek dikit. Untuk memperingati 68 tahun lepasnya Nusantara dari tangan penjajah. Satu-satunya kata yang patut menutup tulisan ini  adalah … Merdeka! ^_^. Moga-moga belum basi hihihihi. 

***

Dua Sisi Mata Uang, Arung Palakka

by : Jihan Davincka

***

Berbeda dengan puja puji yang dilimpahkan kepada ‘musuh’nya Sultan Hasanuddin, nama Arung Palakka tercatat sebagai salah satu ‘penghianat bangsa’ dalam buku-buku sejarah yang pernah saya pelajari waktu masih SD.

Kontras dengan buku-buku sejarah yang pernah saya pelajari waktu masih di bangku sekolah, sebuah patung besar berdiri gagah di sebuah Taman Bunga yang dibangun untuk mengenangnya di tengah kota Watampone. Watampone terletak di kabupaten Bone, daerah asal Arung Palakka.

Sumber : koraadnan06.blogspot.com
Sumber : koraadnan06.blogspot.com

***

Sebagai pengantar, mari sedikit mempelajari kultur sosial masyarakat Sulawesi Selatan. Ehm…propinsi asal eike, nih *benerinPoni*.

Seperti kebanyakan propinsi di berbagai belahan Nusantara, Sulsel juga kaya akan ragam suku dan bahasa. 4 suku terbesarnya adalah : Makassar, Bugis, Toraja dan Mandar. Beberapa waktu lalu, sebagian besar wilayah yang dikuasai suku Mandar sudah memisahkan diri menjadi sebuah propinsi baru, Sulawesi Barat. Makassar sendiri sudah resmi menjadi nama ibukota Sulawesi Selatan sejak tahun 1999 lalu setelah sebelumnya bernama Kota Ujung Pandang. Bukan berarti semua penghuni kota ini berasal dari suku Makassar semua la yaow. Orang Bugis dll juga ada .

Suku lain misalnya Enrekang. Kakek saya sendiri (dari Ibu) juga memiliki darah Enrekang. Aduh, ingat Enrekang ingat Dangke, makanan khas asal sana hehehe .

***

Membahas sejarah Arung Palakka akan membuka luka lama yang pernah ditorehkan oleh dinasti kerajaan Makassar kepada Kerajaan Bone, salah kerajaan terbesar Bugis di masa itu. Jadi, bukan cuma Sunda vs Jawa saja yang pernah bersimbah drama di masa lalu. Orang Bugis pun menyimpan kisah kelam di masa lampau.

Arung Palakka lahir sebagai pewaris tahta Kerajaan Bone. Belum lagi menginjak abege, Kerajaan Bone ditaklukkan oleh Kerajaan Makassar. Di usia belasan, Arung Palakka dan keluarganya disandera. Untung saja, Arung Palakka dan keluarga dijadikan pelayan Karaeng Pattinggaloang, salah satu petinggi di Kerajaan Makassar. Dalam asuhannya, Arung Palakka diberi kesempatan mendapat pendidikan layak hingga menjadi anak yang menonjol dalam olah fisik dan akademis.

Walau besar dan diizinkan bergaul biasa dengan pemuda-pemuda Makassar, Arung Palakka tak pernah bisa melepaskan dirinya dari Siri’-Pacce-Sare yang mengalir kuat dalam darah bugisnya. Sungguh sulit baginya menyaksikan ribuan bangsanya digiring dari Kerajaan Bone untuk bekerja paksa bagi Kerajaan Makassar atas perintah Sultan Hasanuddin.

Siri’-Pacce-Sare apaan? Ketiga prinsip ini adalah kepercayaan dasar bagi orang Bugis kala itu.

Siri’’ (harga diri atau kehormatan dan rasa malu).
Pacce (perasaan sakit dan pedih atas penderitaan saudara sebangsa).
Sare (kepercayaan bahwa seseorang dapat memperbaiki atau memperjelek peruntungannya dalam hidup ini melalui tindakan orang itu sendiri).

Tak cuma itu, setelah banyak para pekerja paksa yang sakit dan melarikan diri, para bangsawan Bone dan Soppeng yang tadinya hanya dijadikan pelayan dipaksa untuk ikut menggali kanal di sepanjang garis pertahanan Kerajaan Makassar. Bayangkan, seberapa besar rasa malu yang harus ditanggung oleh para bangsawan Bugis ini.

Banyak yang tidak terima dan melawan. Salah satu kompornya ya si Arung Palakka. Perlawanan dipatahkan. Larilah Arung Palakka membawa beberapa orang-orang kepercayaannya.

Singkat cerita, rombongan bugis yang melarikan diri dari penjajahan sekaligus kabur dari rasa malu, mendarat di Batavia. Dimulailah kehidupan keras mereka untuk mempertahankan diri. Para ‘Tau Ogi’ (sebutan untuk orang Bugis) segera mendapat perhatian dari Cornelis J Speelman, yang tengah berjuang membersihkan namanya dari tuduhan perdagangan gelap. Bertiga bersama Kapiten Jonker, mereka bertiga menjelma menjadi ‘Preman Batavia’. Semacam “Three Muskeeter” gitu kali, ya, di masa itu hehehe.

Uniknya, membawa dendam akibat pelecehan terhadap bangsanya malah membuat Arung Palakka membabi buta. Tak segan-segan ia membantu VOC meluluhlantakkan perlawanan orang-orang Minang di wilayah Sumatera. Jadi pernah lhooooo orang Bugis ‘mengalahkan’ orang Minang (melirik tajam ke arah suami! Apa iniiiii? Malah jadi chauvinisme begini :P).

Setelah bertahun-tahun menunggu, kesempatan emas itu datang juga. Pihak VOC meminta Arung Palakka membantu menaklukkan Kerajaan Makassar yang kala itu punya potensi besar menyaingi rencana monopoli VOC. Terbakar Siri’, Pacca, sibawa Sare, Arung Palakka langsung menyambut tawaran ini.

Begitulah sejarah terukir. Arung Palakka membawa bangsanya meraih kemerdekaan setelah bersama VOC berhasil melumpuhkan Kerajaan Makassar yang makin terdesak dengan Perjanjian Bongaya. Ah, dari dulu isunya selalu sama. Padahal mungkin jika Makassar dan Bone bersatu, VOC tak akan pernah sanggup mencicipi kekuasaan di perairan Sulawesi.

***

Seorang sejarawan memang mencoba mengangkat latar belakang darah bugisnya dan penjajahan Kerajaan Makassar terhadap kerajaan-kerajaan bugis untuk mengupas kisah Arung Palakka secara keseluruhan. Kalau dalam buku-buku sejarah dulu (sekarang masih enggak sih?), kisah yang ditonjolkan adalah bentuk kerja sama Arung Palakka bersama laskar bugisnya bahu membahu bersama VOC memojokkan Kerajaan Makassar di masa itu.

Bahwa, bila tak dibesarkan dalam situasi terjajah, mungkin tak akan ada cerita pengkhianatan orang Bugis terhadap sejarah kemerdekaan bangsa. Remember, we don’t judge others, for often we don’t know the whole story .

Sebenarnya Arung Palakka juga menunjukkan kekeliruan besar ketika membantu VOC mematahkan perlawanan Minang dan membuat beberapa wilayah Minang malah jatuh ke dalam penjajahan kompeni. La ya katanya sakit hati suku sendiri terjajah kok malah ikut-ikutan menjajah suku lain? Enggak bener dong, ya *jewerArungPalakka*.

Kerajaan Makassar pun membuktikan pepatah, “Apa yang kau tanam itu yang kau tuai.” Bukannya baik-baik sama suku tetangga malah memperbudak mereka? Zzzzz .

Ketika Kerajaan Makassar telah berhasil dilumpuhkan, Arung Palakka mau tak mau terjebak dalam urusan ‘balas jasa’ kepada VOC. Dia bahkan pernah meninggalkan bangsanya, berlayar hingga ke Jawa, membantu VOC menyelesaikan masalahnya di sana. Sikap ini mengundang kontroversi dalam kalangan orang Bugis sendiri. Tak sedikit orang-orang Bugis yang akhirnya hengkang dari Sulawesi sebagai bentuk protes terhadap sikap Arung Palakka yang dianggap menghalalkan segala cara.

Demikianlah tiap cerita kepahlawanan memiliki porsinya sendiri-sendiri. Dengan melihat dari berbagai sisi, kita akan memiliki pemahaman lebih mengenai siapa si jahat siapa si baik. Apa ada yang benar-benar jahat atau ada yang secara keseluruhan baik? .

Kisah-kisah seperti ini sekaligus mengajarkan betapa MAHAL yang namanya KEBERANIAN, KEKUATAN dan KEBAHAGIAAN.

Sultan Hasanuddin dalam kisah ini adalah orang yang paling berani melawan VOC? Belum cencuuuuu . ORANG yang paling CEPAT dalam MINTA MAAF adalah ‘ORANG YANG PALING BERANI’.

Jadi, yang paling kuat itu Arung Palakka? Ya enggak juga. ORANG yang paling CEPAT meMAAFkan adalah’ORANG YANG PALING KUAT’..

Pada akhirnya siapa yang mereka bahagiakan? ORANG yang paling CEPAT meLUPAkan KESALAHAN orang lain adalah ‘ORANG YANG PALING BAHAGIA’. Mudahkah kita meLUPAkan?

Ternyata untuk menjadi orang yang BERANI, KUAT dan BAHAGIA enggak mesti pula terbang jauh ke masa lampau mengangkat senjata melawan penjajah. Rumusnya sudah dikasih tuh di atas hehehe.

Dan sebenarnya ada satu hal penting yang perlu kita camkan bersama sebagai satu bangsa dan tanah air adalah… JANGAN MACAM-MACAM SAMA ORANG BUGIS!!! ahahahahahahahahahahhaha *pasangKacaMataItem*.

***

(Disarikan dari : id.wikipedia.org)

Every Woman’s Best Man

Di agama Islam ada sebuah hadis yang menceritakan ketika seseorang datang kepada Rasulullah untuk menanyakan, kepada siapakah dirinya harus berbakti. Rasulullah menjawab, “Ibumu … kemudian ibumu. Kemudian ibumu, lalu ayahmu…”

Tiga kali berturut-turut nama kata ibu disebut-sebut barulah kata ayah dimunculkan. Apa ini berarti seorang ayah tidak lebih penting daripada ibu? Belum tentu.

***

Cerita pewayangan memperkenalkan kita pada tokoh Begawan Bagaspati. Nama aslinya, Bambang Anggana Putra. Seorang ksatria tampan yang dikutuk menjadi raksasa oleh seorang dewa di khayangan. Saking saktinya, Anggana Putra pernah berhasil menaklukkan seorang raksasa hebat (Candrabirawa).

Candrabirawa akhirnya bersemayam dalam diri Anggana Putra yang membuat Anggana tidak akan bisa mati kecuali atas keinginannya sendiri. Ajian sakti mandraguna, Candrabirawa sendiri, boleh diwariskan oleh sang pemiliknya nanti.

Anggana Putra sebenarnya pria yang tak cuma sakti namun juga santun. Konon, kesalahpahaman akibat hobi becandanya yang membuat sang dewa murka. Aih, kudu ati-ati ini kalau begini *langsungNgaca* .

Padahal, undangan ke khayangan bagi Anggana Putra adalah memintanya memilih salah satu bidadari di sana untuk diperistri. Anggana Putra langsung meminta maaf ketika berkelakar, mengatakan akan memilih istri dari sang dewa (becandanya nekat bener *ngelapKeringat*).

Walaupun pundung, Sanghyang Manikmaya tetap memenuhi janjinya untuk mengizinkan Anggana Putra mencomot salah satu satu bidadari di khayangan. Dipilihlah Dewi Dharmastuti. Masih menahan amarah, sang dewa memberi ultimatum, “Setelah sang hapsari melahirkan anakmu, dia akan meninggalkanmu kembali ke khayangan.”

Tak hanya harus menanggung kutukan menghabiskan sisa hidupnya sebagai seorang raksasa, Anggana Putra juga harus menduda ketika akhirnya Dharmastuti melahirkan seorang anak perempuan.

Anggana Putra mengikhlaskan takdirnya. Memilih hidup tenang sebagai raksasa bijaksana, seorang diri membesarkan Pujawati, buah hatinya bersama sang hapsari, dengan segenap cinta. Saking luar biasanya asuhan sang ayah, Pujawati tak pernah merasa merana karena ditinggal ibunya. Her life was just … perfect .

Nama Anggana Putra pun berganti … Resi Bagaspati. (Resi = Begawan)

Pujawati mewarisi kecantikan seorang bidadari, turunan dari ibunya. Singkat cerita, terjadi pertemuan antara Pujawati dengan seorang pria tampan. Naksir-naksiran terus jadian. Bahkan, akhirnya menikah. Pria yang menikahi Pujawati bukan pria sembarangan. Melainkan seorang calon prabu yang waktu itu masih bernama Narasoma.

Konon, Narasoma kaget dan tidak siap ketika mengetahui calon bapak mertua ternyata seorang raksasa. Sementara Narasoma adalah pewaris tahta sebuah kerajaan. Malu dong la yaowww punya bapak mertua seorang raksasa.

Bagai buah simalakama, cintanya pada Pujawati sudah kadung mendalam. Sekian lama menyimpan kegelisahan, Narasoma pun curhat ke Pujawati. Agar tak menyakiti pujaan hati, Narasoma mengatakan kegalauannya dalam bentuk teka teki.

Pujawati yang bingung, balik curhat ke sang ayah. Bagaspati, bukan resi biasa. Kebijaksanaannya yang tinggi membuatnya langsung mengerti maksud sang calon menantu.

Sembari curhat soal Narasoma, Pujawati pun mengungkapkan besarnya rasa cintanya pada Narasoma, “Aku takut ayah, dia akan pergi meninggalkanku. Bantu aku. He means everything to me.”

Permintaan Pujawati tidak main-main. Bagaspati awalnya berusaha menasihati putrinya perihal perangai Narasoma yang menurutnya tak menunjukkan seorang laki-laki yang patut. Pujawati malah bete.

Namun, peribahasa yang mengatakan, “Kasih anak sepanjang galah, kasih orang tua sepanjang jalan” menuai kebenarannya dalam kasus ini. Bagaspati menyadari, kebahagiaan putrinya adalah tujuan hidupnya.

Bagaspati tak perlu waktu lama untuk memutuskan apa yang harus dilakukannya. Dipanggilnya Narasoma. Narasoma sebenarnya keki juga karena Bagaspati mengetahui maksud hatinya dengan mudah.

Sebelum meninggal, Bagaspati sudah memanggil Candrabirawa keluar dari raganya. Tadinya, Candrabirawa enggan untuk berpindah tangan kepada anak muda yang dianggapnya sebagai sosok yang sombong dan mementingkan diri sendiri. Selama ini, Candrabirawa sudah nyaman bersemayam dalam tubuh sang resi nan bijaksana.

Bagaspati meyakinkan Candrabirawa, “Bagaimana pun, dia pria pilihan putriku.”

Candrabirawa akhirnya bersedia diwariskan kepada Narasoma. Sebelum merelakan nyawanya di tangan keris Narasoma, Bagaspati memintanya bersumpah, “Menantuku, walau putriku hanya anak gunung, tolong jangan kau sakiti dirinya nanti jika kelak kau menjadi raja. Berjanjilah untuk menjaga cintanya seumur hidupmu.”

Karena memang naksir berat, Narasoma langsung iya-iya saja. Apalagi dia pun bernafsu memiliki ajian Candrabirawa. Usailah hidup sang resi di tangan calon menantunya. Narasoma sukses mempersunting Pujawati dan mendapatkan ajian sakit mandraguna.

Kelak, Narasoma memang menjadi orang penting dalam kisah Mahabharata. Gelarnya adalah Prabu Salya. Prabu Salya sendiri akhirnya takluk di tangan Yudistira. Candrabirawa memang bisa dikalahkan oleh ksatria berdarah putih yang tidak memiliki nafsu duniawi.

***

Versi ‘modern’ dari kisah Bagaspati mungkin bisa kita lihat di film Armageddon. To be honest, walaupun pencinta drama, ane kagak demen ama ni film dan tidak pernah tuntas menonton. Tapi sinopsisnya kira-kira mirip kan, ya? CMIIW .

Seorang ibu tentu punya tempat istimewa di sudut hati terkhusus dalam benak masing-masing anaknya. Namun, tak berarti cinta Ayah terkesampingkan . Tiap anak adalah buah hati dari 2 orang sekaligus, ayah dan ibunya.

Salah satu keinginan terbesar seorang perempuan di hari pernikahannya, selain hadirnya calon mempelai laki-laki, adalah berada di samping ayahanda tercinta. Bersyukurlah bagi yang diberi kesempatan untuk menghadapi hari bahagia itu dengan kehadiran kedua pria terbaik tersebut.

Sementara, sebagian perempuan hanya sebatas memimpikannya saja.

Gambar : searchquotes.com
Gambar : searchquotes.com

Bakti kepada ibu tidak melupakan kita pada kasih ayah, kan? . As for most women, a father is always be their best man.

Menuju sepertiga ramadan terakhir, selain bersungguh-sungguh memanfaatkan momentum suci untuk meraup amal semaksimal mungkin, jangan lupa mendoakan selalu kedua orang tua, ya. Baik ibu maupun ayah. Whether they’re still here with us or not .

“Rabbighfirli waliwalidayya warhamhuma kama rabbayani shaghiran”

Artinya :”Ya Tuhanku, ampunilah dosaku dan dosa ayah serta ibuku, kasihanilah mereka sebagaimana kasih mereka padaku sewaktu aku masih kecil”

***

We are The World, We are The Children

by : Jihan Davincka

***

St Mary
Sumber : www.rte.ie (Green Flag Day at St Mary’s Primary School)

Saat mengantar dan menjemput Abil di sekolahnya yang sekarang, St. Mary Primary School (Athlone, Ireland), saya melihat jelas jika para orang tua yang menunggu di luar tidak ‘bercampur’ secara alami.

Konon, hadirnya kantor Er***** di kota Athlone membuat kota kecil ini dibanjiri para pendatang dari negara lain. Anak-anak dari para pendatang inilah yang mengisi sebagian bangku-bangku di St Mary Primary School tadi.

Yang rambut kuning sibuk berbicara dengan sesama rambut kuning :D, beberapa perempuan berjilbab yang dari logatnya terlihat jelas mereka berasal dari Saudi membentuk ‘lingkaran’ sendiri ;), tampang asia (India, Pakistan dll) juga terlihat berdiri merapat.

Di salah satu pojok saya sering melihat seorang perempuan yang sepertinya bertampang latin selalu berdiri menyendiri sambil memainkan ponselnya.

Yang paling merana emak-emak asal Indonesia yang enggak ada temennya ahahahahaha. Udahlah anak baru pula :P. Dasar tukang ngobrol, tetep aja maksa suka ikut-ikutan ngerumpi di grup-grup yang dirasa agak ‘open’.

Akhirnya saya punya temen ngobrol rutin yang berasal dari Suriname, seorang ibu keturunan India yang sudah menetap lama di Belanda. Sering juga mengobrol dengan ibu-ibu asal India yang anak-anaknya sekelas dengan Nabil, anak sulung saya.

Karena punya satu teman akrab dari Saudi, beberapa perempuan Saudi jadi sering menyapa atau minimal tersenyum kepada saya. Tapi kalau sudah asyik sesama mereka, mereka pasti berbahasa Arab, deh. Ampun maaaakkk, eike tahunya cuma sebatas, “swayya, swayya, asara, mafi mushkilah, aiwa” saja, ahahahahaha. Mending melipir :P.

Kontras dengan para orang tua di luar yang terlihat kikuk dan hanya menyapa seperlunya dengan ‘ras lain’ :P, anak-anak terlihat jauh berbeda. Kalau mereka berhamburan dari kelas, terlihat sangat akrab satu sama lain.

Anak saya sendiri belum apa-apa sudah punya ‘geng’ hihihihi. Dasar emang enggak bisa diem dari kecil :P. Nabil punya beberapa sahabat, Jerry yang selalu keren dengan jaket kulitnya (afrika), Tyrish yang rambutnya kuning menyala (I’m not sure whether he’s polish or irish), Hamzah (muslim India tepatnya dari kota Bangalore), Mustafa (yang orang tuanya asli Saudi) dan Alex ( kalau enggak salah ini anak baru pindahan dari Inggris). Saya hapal karena tiap hari kaleeee dikenalin sama Abil hihihihihihi.

Tapi kalau melihat teman saya, Clara, yang sudah menetap di Irlandia selama 5 tahun, sepertinya ada juga acara-acara ‘morning tea’ rutin yang diadakan para ibu-ibu yang tidak memilah-milah ras. Tapi kelihatan kok, kebanyakan terlihat nyaman ‘bergaul akrab’ dengan sesamanya :).

Keakraban dengan ‘bangsa lain’ hanya sebatas kesopanan saja. Kalau pun ada yang bisa saling akrab, itu termasuk langka. Bahkan di negara-negara yang katanya menjunjung HAM ini :P. Walaupun tidak mengganggu dan terasa wajar, rasa kikuk itu tidak benar-benar pudar di mana pun :).

Makanya, saya sangat senang berkenalan dengan Fatima, perempuan asal Dhammam (ibunya Mustafa). Beberapa kali saya diundang ke rumahnya, dimasakin pula nasi-nasi arab yang enak-enak.

Sungguh tak menyangka, nyaris 3 tahun di Jeddah saya tak punya sahabat penduduk asli sana. Baru beberapa minggu di Athlone, kami menjadi akrab begitu saja :). Sayang, dia dan keluarganya sudah kembali ke Dhammam for good :(. I and she were crying on her last day, when we were saying goodbye at each other while having a brunch at a certain coffee house. Miss you already, my dear Fatima :).

***

Video di bawah dan pengalaman saya tadi adalah bukti bahwa pada dasarnya, secara lahiriah kita tidak dilahirkan dengan rasa kikuk itu :). Lihat saja Nabil dan teman-temannya. Untuk anak-anak umur 5 tahun itu, warna kulit – perbedaan bahasa – agama – sama sekali tidak pernah menjadi acuan dalam berteman :).

Kita semua pun pernah kecil. Saat kecil pun, coba saja diingat-ingat, bagaimana cara kita memilih teman? Pertanyaan besarnya, mengapa setelah dewasa pemikiran-pemikiran idealis ini bisa memudar bahkan mungkin menghilang? Ulah siapakah?

Tidak percaya? Luangkan waktu menonton video yang saya share ini :).

Ah, ini mbak-nya liberal sekali pemikirannya. Abis ini jangan ada inbox aneh-aneh dengan tuduhan macam-macam ke saya, ya :P. Enak saja :D. Saya malah sangat bangga sebagai umat muslim. Saya, kok, malah curiga dengan penggalan lirik lagu Michael Jackson pada judul lagu yang saya jadikan judul tulisan ini.

Jangan-jangan dia terinspirasi dengan petikan dari ayat suci alquran di bawah ini 😀 …

“Wahai seluruh manusia, sesungguhnya Kami telah
menciptakan kamu dari seorang lelaki dan seorang
perempuan, dan Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa
dan bersuku-suku, AGAR KAMU SALING MENGENAL.
Sesungguhnya yang paling mulia diantara kamu di sisi
Allah adalah yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah
Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Al Hujurat ayat 13)

Penggalan ayat suci alquran yang sudah turun ratusan tahun sebelum Jacko, salah satu legenda musik dunia, membuai semesta dengan salah satu gubahan terindahnya, “We are The World.”

We can’t go on pretending day by day
That someone, somehow will soon make a change
We are all a part of Gods great big family
And the truth, you know,
Love is all we need

***

Hari ini, hari ke-8 di bulan suci ramadan (hari ke-9 buat sebagian yang lain). Berarti sudah sekitar satu minggu kita menjalani ibadah puasa di tahun ini. Alhamdulillah.

Selain memanfaatkan 30 hari istimewa untuk ‘narsis’ dan ‘carper’ kepada Allah melalui amalan-amalan aqidah, sudah sejauh mana kita menalaah masalah muamalah kita terhadap orang lain? :).

Selamat melanjutkan ibadah puasa, saudara-saudara muslimku :). Tetap semangat ^_^.

***

Keterangan video ada di sini –> https://www.dailydot.com/lol/kids-react-cheerios-commercial-race/

[youtube=https://www.youtube.com/watch?v=VifdBFp5pnw&feature=player_embedded]

How Islamic are Islamic Countries ? Islamicity Index

Belum lama berlalu ketika saya membaca status seorang teman yang terdampar di Kuwait. Sebelumnya, teman bersama suami dan anak-anaknya tinggal di salah satu negara Eropa. Teman saya ini bukan orang biasa-biasa saja.

Namanya pernah menjadi hits di beberapa media cetak karena kesuksesannya berdakwah di Negeri Non Muslim dan membawa belasan perempuan mengucapkan kalimat syahadat untuk pertama kalinya :). Semoga Allah berkenan mengampuni dosa-dosa beliau sekeluarga :).

Ada apa dengannya di Kuwait?

Teman saya mengalami benturan budaya yang luar biasa. Dia terkaget-kaget. Sementara saya tersenyum-senyum membaca statusnya. Sebagai alumni Jeddah, kota terbesar nomor 2 di Arab Saudi, saya tidak heran sedikit pun membaca ‘kegalauan’nya. Been there, done that.

How islamic are islamic countries
Gambar : britannica.com

***

“How Islamic  are Islamic Countries” adalah sebuah penelitian lama yang hasilnya dipublikasikan tahun 2010 silam.

Berikut kutipan dari kompas.com (https://nasional.kompas.com/read/2011/11/05/09034780/Keislaman.Indonesia) :

Sebuah penelitian sosial bertema ”How Islamic are Islamic Countries” menilai Selandia Baru berada di urutan pertama negara yang paling islami di antara 208 negara, diikuti Luksemburg di urutan kedua. Sementara Indonesia yang mayoritas penduduknya Muslim menempati urutan ke-140.

Adalah Scheherazade S Rehman dan Hossein Askari dari The George Washington University yang melakukan penelitian ini. Hasilnya dipublikasikan dalam Global Economy Journal (Berkeley Electronic Press, 2010). Pertanyaan dasarnya adalah seberapa jauh ajaran Islam dipahami dan memengaruhi perilaku masyarakat Muslim dalam kehidupan bernegara dan sosial?

Ajaran dasar Islam yang dijadikan indikator dimaksud diambil dari Al Quran dan hadis, dikelompokkan menjadi lima aspek. Pertama, ajaran Islam mengenai hubungan seseorang dengan Tuhan dan hubungan sesama manusia. Kedua, sistem ekonomi dan prinsip keadilan dalam politik serta kehidupan sosial. Ketiga, sistem perundang-undangan dan pemerintahan. Keempat, hak asasi manusia dan hak politik. Kelima, ajaran Islam berkaitan dengan hubungan internasional dan masyarakat non-Muslim.

Setelah ditentukan indikatornya, lalu diproyeksikan untuk menimbang kualitas keberislaman 56 negara Muslim yang menjadi anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), yang rata-rata berada di urutan ke-139 dari sebanyak 208 negara yang disurvei.

***

Penasaran dengan hasilnya? Saya kasih sontekan sedikit. Selain Selandia Baru, urutan ke-2 hingga 5 ditempati oleh berturut-turut : Luxemburg, IRLANDIA *uhukUhuk*, Eslandia dan Finlandia. Negara dengan penduduk mayoritas muslim yang menempati urutan tertinggi adalah … Malaysia! Menempati peringkat ke-39.

Indonesia sendiri, sudah disebutkan dalam kutipan artikelnya, urutan ke-140. Arab Saudi? Di urutan ke 131.

Beberapa negara ‘penting’ dunia lainnya, misalnya Amerika Serikat, menempati urutan ke-25. Jepang di urutan ke-29 dan Jerman, salah satu negara terbesar di Eropa, di urutan ke-17.

Saya lahir dan besar di Indonesia yang konon merupakan “Negara dengan mayoritas penduduk muslim terbesar di dunia.” Pernah berkesempatan tinggal di Arab Saudi, “Negeri Penjaga Dua Kota Suci Umat Muslim Sedunia.”

Baru-baru ini berkesempatan liburan ke Kuala Lumpur, ibukota Malaysia, “Negara Mayoritas Muslim yang Berada di Peringkat Tertinggi.” Dan kini…saya berada di  Irlandia, peraih medali perunggu “Negara Paling Islami” :D. Fabiayyi alaa irabbikumaa tukadzziban :).

Kuwait sendiri urutannya tak terlalu buruk.  Bayangkan, teman saya saja yang terdampar di “Negeri Paling Islami no.48” bisa sebegitu stres-nya hehehe. Bagaimana dengan kita-kita yang pernah tinggal di Saudi, si peringkat ke-131? Madam-madam Jeddah, mana suaranya? Ahahhahahahaha.

***

Jujur saja, selama tinggal di Indonesia dulu, saya merasa biasa-biasa saja. Tidak pernah merasa terzalimi. Ya, kadang-kadang mungkin terselip sakit hati. Saya anggap wajar-wajar saja masalah muamalah di Indonesia. Mungkin kasarnya…pasrah.

Hingga akhirnya saya ke Jeddah. For me, Jeddah is better than Jakarta. ‘Gemerlap’nya sih mirip-mirip. Yang  namanya ‘gap’ antara si kaya dan si miskin menganga sedemikian lebar baik di Jakarta maupun di Jeddah.

Alasan pertama saya lebih senang di Jeddah karena beberapa hal. Bensin murah, mobil murah, penghasilan suami jauh lebih besar (daripada di Jakarta), enggak terlalu macet, kemana-mana terasa dekat, bahkan beberapa bahan pokok di Jeddah lebih murah daripada di Jakarta. Unbelievable.

How Islamic are islamic Countries
North Corniche – Jeddah

Belum lagi kesempatan untuk umrah sepuasnya. Tahun lalu dimampukanNya kami untuk naik haji. Di tahun terakhir kami di sana sebelum akhirnya dibukakan pintu rezeki di negara lain. Sekali lagi, Fabiayyi alaa irabbikumaa tukadzziban :).

Saya akui, secara umum perilaku orang-orang Arab di Jeddah cukup mengecewakan. Meskipun pengalaman pribadi saya tidak separah beberapa teman saya yang sudah sebegitu sewotnya sama orang-orang Arab hehehe.

Saya pun tak bosan-bosannya menuliskan bahwa beberapa episode-episode terbaik dalam hidup saya bertempat di Jeddah. Selama di sana, saya tergolong ‘yang paling bahagia’ hehehehe. Meskipun tak sedikit hal yang membuat saya selalu mengelus dada, “How come they call themself a moslem?”

Berusaha untuk selalu berfokus pada hal-hal yang menyenangkan, membuat 30 bulan pengalaman tinggal di Jeddah menjadi ‘rangkuman kenangan indah’. Ingat saja hal-hal luar  biasa yang selalu membuat saya bersyukur. Tak pernah luput mengenang Mekkah dan Madinah sebagai tempat-tempat terindah yang pernah saya datangi.

Begitu mudahnya dulu kami menghampiri kedua kota suci tersebut. Sementara tak sedikit umat Islam di Indonesia baru hanya sebatas memimpikannya saja. Bentar…hapus air mata dulu *drama-part :P*. Fabiayyi alaa irabbikumaa tukadzziban :).

Dulu, saya suka bertanya-tanya, mengapa teman-teman yang berada di Eropa bisa sebegitu ngebetnya tinggal di sana. Tak sedikit yang mencari-cari cara setelah lulus sekolah agar bisa tetap bermukim di sana.

Bahkan, ada yang sudah terpikir untuk menggadaikan status kewarganegaraannya. Ingin berganti warna paspor. Apa enaknya hidup berlama-lama dalam ‘kulkas”? :P.

***

Konon, bangsa Irlandia ini memang salah satu bangsa paling ramah di dunia. Selama lebih dari 3 bulan tinggal di sini, saya sudah membuktikan sendiri. Terpukau oleh keramahan mereka. Ada  juga yang rasial kok, saya pernah diteriakin di perempatan jalan, “Go home!” oleh seorang pria separuh baya.

Tapi santai saja. Orang-orang lain tidak ada yang peduli, tuh. Enggak penting memikirkan sebagian kecil yang kurang ramah.

Di Athlone, hampir tak ada pengemis. Kalau pun ada tunawisma, penampilannya enggak germbel-gembel amat. Di Jakarta, yang bilang Pajero bukan barang mewah ada, yang gembel jadi tukang semir sepatu tak kalah banyaknya . Di Jeddah, Ferrari bukan barang langka, tapi pengemis terpencar di berbagai sudut kota.

How Islamic are Islamic Countries
Athlone, perayaan St Patrick’s day

Fakta-fakta yang menguatkan pernyataan Ahmad Syafii Maarif dalam tulisannya yang saya share di status FB saya :

” …Bagi saya penggunaan perkataan ringkih terasa lebih puitis dan tajam, dibandingkan padanannya dalam istilah bahasa Indonesia.

Itulah sebabnya dalam tulisan ini perkataan ringkih digunakan. Benarkah Dunia Islam itu ringkih? Tanpa memerlukan data hasil riset yang mendalam, berdasarkan pengamatan umum saja, pasti jawabannya: benar! Kesenjangan sosial-ekonomi hampir merata di seluruh dunia Islam. Keadilan yang demikian keras diperintahkan Alquran tidak digubris oleh penguasa yang mungkin sudah menunaikan ibabah haji berkali-kali…”

Dulu sih, semasa di Jakarta dan Jeddah, bila mendapat perlakuan kurang menyenangkan dari orang lain, tak pernah menjadi pikiran. Dimaklumi saja. Di Jakarta, sering dicuekin sama satpam di mal. Padahal kepada seorang Ibu yang turun dari mobil mentereng dengan berbagai aksesoris wah di badannya, tersenyum mengangguk setengah membungkukkan badan.

Hidupnya sudah cukup ‘berwarna’ dalam menjalani tugas sebagai satpam, tak usahlah menyimpan dendam yang tidak perlu.

Di Jeddah, pernah mendapat pengalaman pahit saat antre di kasir dalam toko di mal. Sebelumnya, saat 2 perempuan arab berdebat soal antrean, penjaga kasir dengan tegas melerai dan menunjuk ibu yang memang sudah datang lebih dahulu.

Giliran saya diselak orang Arab, saya protes, kasirnya malah diam seribu  bahasa. Ya, sudahlah. Saking sudah seringnya, sudah mati rasa ane hehehe.

Terdampar di tempat lebih jauh, berbaur di tengah-tengah masyarakat non muslim, dari ras yang secara fisik sangat berbeda pula, malah mendapat perlakuan yang sangat menyenangkan. Sepele, ya? Biarpun suami suka meledek saya yang dianggapnya, “Dasar kamu ini. Belum apa-apa sudah lebay soal eropa”, menurut saya ini bukan hal sepele :).

Setiap pagi mengantar anak ke sekolah, kami selalu berjalan kaki. Hampir 100% orang-orang yang berpapasan akan tersenyum menyapa, “Good morning.”  Di Jeddah, seringnya mendapat pandangan penuh tanda tanya, mungkin berpikir, “Prikitiwww, mbak-mbak TKW ini cakep juga, yak.” Ahahahahaha.

Di Athlone, saat mengantre di kasir setelah berbelanja barang-barang dapur dll di supermarket, semua orang mengantre dengan tertib. Bahkan, kasir benar-benar menunggu kita selesai mengemasi barang baru melayani customer setelah kita.

Awalnya saya sering gugup. Saking takutnya kalau mengganggu antrean, mau buru-buru masukin barang ke stroller + plastik + ransel, barang-barang malah berserakan jatuh ke lantai. Malunya minta ampun.

Tapi kasir cuma tersenyum, “That’s ok. Take your time.” Bahkan, ibu-ibu berambut kuning yang mengantre di belakang saya ikut memunguti barang-barang yang jatuh. Masya Allah. Sudah terbiasa diperlakukan bak TKW di tengah-tengah umat yang seiman, rasanya terharu diperlakukan seperti itu. Lebay? Whatever.

Kata-kata “thank you”, “sorry”, berhamburan begitu mudah dari bibir mereka. Jadinya saya pun, biarpun awalnya agak kagok, jadi terbiasa selalu ber “thank you” dan ber “sorry” ria :).

Di Irlandia, pajak memang termasuk tinggi. Biarpun gak setinggi di negara eropa lain pada umumnya. Tapi fasilitasnya juga enggak main-main. Jalanan dibuat senyaman mungkin. Angkutan umum sangat diperhatikan. Harga mobil sangat mahal. Bensinnya apalagi.

Tapi lihatlah, sebagian besar penduduk jadinya berbaur di trotoar jalan kaki atau dalam angkutan umum. Bagus juga ide pajak tinggi dan dikenakan secara proporsional. Agar si ‘tajir’ mikir-mikir kalau mau beli barang mahal dan yang kurang mampu tak terlampau tersakiti.

Sekolah gratis dengan fasilitas yang sangat memadai *nyengirLebar*. Malah, di selebaran pengumuman buat orang tua murid, ditulis jelas-jelas larangan untuk ‘tampil mewah’. Baju harus seragam. Seragam resmi terasa mahal? Kepala sekolah mempersilakan membeli di tempat lain yang lebih murah asal warnanya mirip.

Disebutkan dengan jelas jenis-jenis sepatu tertentu yang TIDAK BOLEH digunakan ke sekolah. Bahkan, kotak untuk bekal makan pun dianjurkan untuk sesederhana mungkin. Ini semua dituliskan secara resmi dalam selembar kertas yang dibagi-bagikan pada orang tua murid sebelum hari pertama sekolah si anak.

‘Attitude’ adalah landasan utama pendidikan anak-anak di usia dini. Saya perhatikan betul, guru-guru dan kepala sekolahnya sangat disiplin dalam masalah tingkah laku. Mereka tak terlalu peduli dengan kemampuan kognitif.

Tapi coba saja ada anak yang berani memukul temannya, kepala sekolah tidak segan-segan menarik tangan si anak dan menceramahinya panjang lebar dengan nada yang tinggi. Saya pernah melihat langsung.

Soal penampilan pun tidak ada yang heboh-heboh. Ada lah beberapa yang agak ‘gaya’ tapi bisa dihitung jari. Pede-pede saja kemana-mana pakai training pants + kaos + jaket + sepatu kets + ransel :D. Mbak-nya mau mendaki gunung, ya? Ahahahahaha.

Di Irlandia, dalam memperlakukan orang lain, people don’t really care whether you’re Catholic, Moslem or even you don’t believe in any religion at all :). Berperilaku sopan dan non diskriminatif adalah hal universal buat siapa saja.

Ajaran yang saya tahu pasti adalah landasan muamalah dalam Islam. Sadly, you can hardly see this in (most of) moslem countries. Ironically, pretty easy to see the practice in non-moslem countries. Tanya kenapa?

Memang, awal di Athlone, saya benar-benar teruji oleh udara dingin. Tapi tak lama. Baru 3 bulan tinggal di sini, rasa betah menerjang sedemikian kuat. Meskipun keinginan untuk mengganti status paspor sama sekali belum ada. Tapi saya ingin agar anak-anak saya suatu hari nanti melangkahkan kaki mereka sejauh yang mereka  bisa.

Saya doakan, semoga saya dianugerahkan kesehatan yang mumpuni (menjalani pola hidup sehat ala FC adalah salah satu ikhtiar saya dari sekarang untuk doa yang ini), tak perlu meresahkan anak-anak kelak, sehingga saya bisa menghabiskan sisa usia di negeri  kelahiran tercinta. Sampai akhir menutup mata. Amin :).

***

Kembali mengutip pendapat Profesor Komaruddin Hidayat (UIN Syarif Hidayatullah)

Hasil penelitian ini juga menyisakan pertanyaan besar dan mendasar: mengapa semarak dakwah dan ritual keagamaan di Indonesia tak mampu mengubah perilaku sosial dan birokrasi sebagaimana yang diajarkan Islam, yang justru dipraktikkan di negara-negara sekuler?

Tampaknya keber-agama-an kita lebih senang di level semarak ritual untuk mengejar kesalehan individual, tetapi menyepelekan kesalehan sosial. Kalau seorang Muslim sudah melaksanakan lima rukun Islam—syahadat, shalat, puasa, zakat, haji—dia sudah merasa sempurna.  Semakin sering berhaji, semakin sempurna dan hebatlah keislamannya. 

Pada hal misi Rasulullah itu datang untuk membangun peradaban yang memiliki tiga pilar utama: keilmuan, ketakwaan, dan akhlak mulia atau integritas. Hal yang terakhir inilah, menurut penelitian Rehman dan Askari, dunia Islam mengalami krisis.
***

Saya setuju sekali, kita terlalu sering menyepelekan ‘kesalehan sosial’. Pengalaman saya naik haji kemarin, selain menyisakan rasa haru yang masih terus berbekas hingga kini, terselip rasa kecewa yang mendalam.

Seusai wukuf,  jemaah biro haji kami keluar dari tenda ke arah jalan untuk  menuju stasiun kereta. Saya tercekat melihat suasana jalan raya yang sudah kosong dari para jemaah ‘haji koboi’ yang sudah kembali ke Mina/Musdalifah. Kotornya luar biasa. Bau pesing tak terkira. Ceceran makanan, botol minuman dan entah cairan apa itu *yucky* berbaur menjadi satu. Subhanallah, sampahnya tidak main-main.

Besoknya, saat akan tawaf ke Mekkah, jam 7 pagi kami sudah berjalan ke arah jembatan untuk menunggu taksi. Lautan sampah di mana-mana. Baunya pun sangat menyengat. Saya ingat saat itu sempat bergumam kepada suami, “Kebersihan sebagian dari iman.” Kebersihan tidak hanya menyangkut diri sendiri, tapi orang lain dan lingkungan sekitar, kan?

Saat sepi pun, kalau tawaf, saya sering memperhatikan ‘rusuh’nya keadaan di sekitar hajar aswad. Tidak pernah damai suasananya. Sikut-sikutan, teriak-teriak, dorong-dorongan. Itu cuma amalan sunnah, saudara-saudaraku.

Teringat pesan ustaz Syafiq yang mengisi ceramah pengajian di acara syukuran salah satu teman di Jeddah sebelum kami berangkat haji, “Jangan melakukan amalan sunnah dengan cara-cara haram.”

Malah, bagi sebagian muslim, yang penting : salat, zakat, puasa. Perlakuan kepada orang lain, gaya hidup sehari-hari, tidak akan mempengaruhi keislaman kita selama kita salat-zakat-puasa. Sadar tidak sadar, penyempitan makna “rahmatan lil ‘aalamin” dilakukan oleh kaum muslim sendiri.

Dalam salah satu ceramah, Cak Nun bertutur, “Apakah di sini anda bisa punya cara untuk mengetahui seberapa iman anda? Bisa nggak kita mengukur akidah? Bisa nggak kita mengukur, kita ini Islam atau belum Islam? Kalau engkau menjawab “bisa”, lho, itu rak cangkemmu? Lha atimu? (itu kan mulutmu, lha hatimu?). Kita tidak bisa menilai Islamnya orang, kita tidak bisa menilai sesat atau bukan kecuali MUI.” Ucapannya disambut tawa jamaah.

Ketika beberapa waktu lalu, saat ramai-ramainya pilkada DKI, saya berdebat dalam sebuah grup masalah akhlak vs aqidah. Seorang teman tak ragu-ragu menyematkan label ‘sekuler/liberal’ kepada saya? Untuknya, sebuah kalimat syahadat akan selalu berada di tempat teratas, jauh melampaui masalah-masalah yang berkaitan dengan kesalehan sosial.

Dia mengejek, “Lo lebih pilih manusia daripada Tuhan?”

Saya menjawab, “Pilihan yang mana? Memuliakan sesama manusia adalah perintah Tuhan.”

Untuk saya pribadi, sangat jelas. Islam itu seimbang dunia akhirat. Terlalu condong kepada salah satu hanya akan membuat keseimbangannya goyah. Pengalaman hidup di Jakarta, Jeddah dan kini Athlone membuat saya mensyukuri betapa ‘liberal’nya saya.

Sedangkan dalam hati saya selalu bersyukur saya dilahirkan sebagai seorang muslim. Dan selalu memohon agar Tuhan tidak akan memalingkan saya hingga akhir hayat nanti :).

Akhlak itu tidak kalah pentingnya dengan akidah. Kalau Anda berdakwah dengan mengatakan babi haram, ini itu adalah konspirasi, menolak nasi kotak hasil acara paskah terang-terangan di media sosial, memasang status publik tentang haramnya mengucapkan ucapan Natal dan mengutuk muslim lain yang tetap melumrahkan ucapan tersebut, apa iya mereka akan berbondong-bondong mengakui kebesaran keyakinan Anda?

Satu lagi dari Cak Nun yang mungkin bisa jadi bahan renungan, “Tuhan yang tahu akidahmu. Masyarakat butuh akhlakmu.”

Tugas kita sesungguhnya bukanlah untuk membawa seluruh umat manusia untuk  bersyahadat bersama dalam satu bendera penafsiran yang sama (Sunni? Syiah? Wahabi? Salafi?). Tapi untuk menunjukkan (bukan menghakimi apalagi mengancam) bahwa : Islam = rahmatan lil aalamin.

Bahkan rasulullah pun menekankan dirinya HANYA sebagai PEMBAWA PERINGATAN dan PENJELASAN. Bukan pemegang daftar siapa yang masuk surga siapa yang masuk neraka, kan?

Katakanlah, “Wahai manusia! Sesungguhnya aku bagi kalian hanyalah pembawa peringatan dan penjelasan.” (QS. al-Hajj [22]: 49).

Alquran, adalah petunjuk dan rahmat. Bukan untuk  mengancam-ancam orang yang tidak sepaham.

Maksudnya apa? Renungkan sendiri :).

Semoga bertahun-tahun setelah tahun 2010, saat penelitian How Islamic are Islamic Countries ?  digelar kembali, jajaran negara-negara muslim bisa bertengger di peringkat 10 besar. Amin :).

***

Bagian 2 dari tulisan dengan judul yang sama sudah ada di sini :D. 

_MG_6095