“Darah itu merah, Jendral!”

– Darah itu merah Jendral -Masih ada yang ingat Gestapu? :D.

Sejak era reformasi, gaung peristiwa Gestapu 1965 makin melemah. Saya juga tak sadar kalau hari ini adalah 30 september. Dimana belasan tahun masa kecil saya, saya suka tersiksa di tanggal ini. Karena malamnya sudah pasti sebuah film dokumenter akan diputar di TVRI.

Saya takut menonton film ini. Intro musik di awal film saja sudah bikin saya pengin pipis. Tapi sumpah deh kepo bener pengin tahu filmnya secara lengkap. Ahahahaha. Makanya saya bilang saya tersiksa, antara takut sama kepo :P.Tapi rasa takut yang selalu menang. Hingga saat ini, saya tidak pernah berani menonton filmnya hingga tuntas. Paling bagian-bagian tertentu saja, itu pun pakai acara ngumpet di bantal. Atau kalau adik saya ikut menonton bersama saya, saya ngumpet dan terus-terusan merongrong dia, “eh, gimana? gimana? adegan apa sekarang? adegan apa sekarang?” ahahahahaha… colek si Buntel :P.Judul tulisan di atas adalah salah satu kalimat yang cukup tenar gara-gara film “Pengkhiatan G30S/PKI” itu. Ada yang masih ingat? :).

***

Waktu masih kecil, tahu apa sih kita salah satu sejarah hitam dalam perjalanan menuju orde baru ini? Saya sendiri sih jelas. Sangat-sangat-sangat benci PKI. Pokoknya partai ini kalau dalam PSPB dan pelajaran sejarah dulu, adalah partai biang kerok. Mereka dengan liciknya membubarkan Masyumi dan beberapa partai besar lainnya.

Ideologinya? Duh, gak pernah pengin tahu, tuh. Pokoknya jahat saja. Titik. Ibaratnya dalam sinetron, PKI adalah Lely Sagita! Ahahahahaha.

Era internet memperkenalkan saya kepada banyaknya tulisan-tulisan tentang konspirasi gerakan ini. Baru tahu ternyata di mata banyak kalangan, gerakan ini tergolong bodoh dan impulsif. Btw, jangan cuma baca konspirasi Rheumason-Yahudi dong, boleh diintip sekali-sekali konspirasi tentang sejarah bangsa sendiri :P.

Tentang PKI dan D.N Aidit, ada banyak tuh biografi tentang beliau di internet :). Gratisan, asal mau baca saja sih :). Baru tahu ideologinya PKI yang sebenarnya. Siapa D.N Aidit dan apa falsafah hidupnya. Tolol juga dulu tahunya cuma sebatas PKI itu komunis dan penyiksa para ustaz :P.

***

Tokoh lain yang menarik perhatian saya dalam peristiwa Gestapu adalah Bung Karno. Zaman orde baru, tak banyak sejarah perjuangan Bung Karno yang diajarkan di sekolah. Ya, paling pahlawan proklamator dan ikut berjuang demi kemerdekaan.

Dulu saya suka bingung kenapa Bung Karno dan Bung Hatta sih yang disuruh bacain proklamasi? Tempo itu saya mikirnya, “oohh, mungkin beliau berdua yang paling hits di zaman segitu. Makanya dipilih.” Hehehehe. Dan diajarkan juga bahwa beliau pun dikenal sebagai seorang orator ulung. Karena itu juga kali makanya dipilih.

Sejarah masa muda Soekarno pertama kali saya dapatkan dari sebuah buku percintaan. Lho? Iya, dari buku “Kuantar Hingga ke Gerbang”, kisah cinta beliau dengan Ibu Inggit Garnasih.

Sumpah lho, saya malah baru tahu waktu baca buku itu bahwa Ibu Fat bukan istri pertama Bung Karno. Bukan pula istri ke-2. Tapi yang ke-3!

Kalau Bung Karno punya banyak istri saya sudah tahu ;). Di masa kuliah, di salah satu koleksi buku Ibu kosa ada buku “Istri-istri Soekarno.” Lumayan, bacaan gratis kalau bengong di kosan.

Nah, di buku itu banyak diceritakan tentang Soekarno muda. Yang tampan, sangat cerdas, tapi sejak remaja sudah ‘nyolot’ ke pemerintah Belanda. Konon, beliau itu kesayangan guru-guru Belandanya. Tapi, beliau menampik setiap kesempatan untuk menjadi ‘piaraan’ kompeni, dan sudah berpikir tentang kemerdekaan untuk bangsa pribumi.

Berkali-kali bolak balik masuk penjara tapi gak kapok-kapok. Ternyata jasa Bapak proklamator ini bukan cuma sebagai orang paling hits sehingga terpilih untuk membacakan naskah proklamasi. Sedari usia belia, hampir seluruh masa mudanya dihabiskan untuk memikirkan dan sekaligus memperjuangkan langsung tentang nasib kaum pribumi.

Jadi, pantaslah masih banyak orang yang begitu menggilai Bung Karno, sampai ke keturunannya. Jelas. Kita boleh keki sama Megawati dan adik-adiknya :P, tapi jangan lupa, di darah mereka mengalir darah Soekarno. Tanpa kerja keras beliau, belum tentu kita bisa berbangga sebagai sebuah bangsa merdeka :).

Tapi tentu tiap pribadi punya kekurangannya masing-masing. Dan masih simpang siur tentang keterlibatan dan pengetahuan Bung Karno soal gestapu ini.

***

Pening kalau ngikutin semua teori tentang siapa sebenarnya dalang Gestapu 47 tahun silam. Apa betul PKI? Banyak yang meragukan. PKI adalah sebuah partai yang sangat besar waktu itu. Juga memiliki kedekatan khusus dengan Soekarno. Why would they become so stupid?

Tapi gosipnya memang ada ketegangan antara Angkatan Darat dengan PKI karena isu angkatan ke-5.

Sebuah teori yang cukup masuk akal mengatakan ini kerjaan kapitalisme barat yang sebel sama Soekarno. Presiden pertama kita ini terkenal bukan cuma karena selera seninya yang luar biasa. Beliau pun tak pernah segan menghardik siapa pun yang berseberangan dengannya termasuk pada Amerika Serikat!

Ingat peristiwa Dwikora? Bung Karno sangat berani menentang pembentukan Federasi Malaysia, atas inisiatif Inggris. Kala itu perang dingin sedang melanda Blok Barat dan Blok Timur. Disimpulkan sendiri, deh. Ditambah lagi Bung Karno membiarkan paham komunis tumbuh subur di Indonesia.

Konon, di salah satu literatur disebutkan bahwa Kolonel Untung adalah salah satu fans berat beliau. Tapi banyak yang menyebutkan bahwa Untung ini bukan orang bodoh.

Ada juga teori yang mengatakan, ada pihak yang memanfaatkan Untung atas nama ‘keselamatan Soekarno’. Siapakah pihak itu? Jeng..jeeengggg… zoom in zoom out zoom in zoom out, itu lah misteri terbesarnya hingga saat ini. Semua teori konspirasi mentok disitu hehehe.

Ada pula tokoh Syam, yang out of nowhere tiba-tiba menjadi tenar. Pokoknya ini konspirasinya lumayan banyaklah ‘drama’nya hehehehe. Syam ini katanya otak Gestapu. Tapi pas ditangkap, tanpa perlu payah-payah disiksa, dia langsung mengakui semuanya secara gamblang, Konon, karena kerjasama Syam yang extraordinary ini, Syam sendiri paling belakangan dihukum mati.

Literaturnya lumayan banyak lho di internet. Silakan di-google jika berminat :).

Darah itu merah jendral
Gambar : pixabay.com

***

Yang jelas di masa lalu, sejarah politik negara kita lebih banyak diwarnai dengan perang ideologi yang sangat kental. Mana ada istilah “wani piro”? :P.

Mungkin buat para politikus yang hidup di era idealisme non kapitalis kala itu … “darah itu merah, Jendral!” Tidak seperti para koruptor di masa kini, “duit itu segalanya, Jendral!” :D. Hehehehe.

Berbicara Agama

Ini copas dari status di facebook tempo hari. Pantes lah saya gak bisa cocok sama Twitter. Biarpun dari dulu punya @davincka. Status facebook aja mesti deh minimal 5 paragraf, hehehehehe :P.

Status ini ditulis di tanggal 1 september kemarin. Pas lagi hangat-hangatnya isu Sampang sepertinya :D.
Lumayanlah buat nambah-nambah isi blog :D.

***

Bukan main. Luar biasa. Beberapa isu sensitif (agama, dkk) dalam rentetan peristiwa sekaligus.

Pilkada DKI yang awalnya saya pikir akan menggiring orang-orang untuk akhirnya menyadari bahwa musuh utama tanah air adalah PARA KORUPTOR, sekarang malah berputar-putar di urusan agama.

Konflik Rohingya, yang pernah ternoda oleh penebaran foto-foto palsu bukannya membuat kita tergerak untuk menolong.

Malah membuat foto-foto tentang kebencian terhadap agama Budha sempat beredar luas :(. Saya percaya betul segala penganiayaan itu ada, tapi lihat dong efeknya kalau mata Anda disuguhi foto-foto bombastis).Terus ada #SaveMaryam dengan slogan 2 juta nya. Ah, cuma salah data doang. Beritanya kan mungkin benar. Tapi cermati tujuan si pembuat video. Adakah video ini akan booming kalau mereka ganti datanya misalnya cuma 200 ribu?

Konflik Suriah, saya pikir akan dipahami sebagai lanjutan intervensi pemerintah AS di Timur Tengah (setelah sukses ‘menggoyang’ Mesir, Libya, dan sekarang giliran Suriah). Mulai dihembus-hembuskan sebagai isu kontroversial yang sudah hidup berabad-abad lamanya Sunni vs Syiah.

Isu Sunni vs Syiah diam-diam sudah berkembang sejak awal tahun. Tapi mengapa tiba-tiba ramai di tanah air? Ya karena ada peristiwa Sampang. Selain habis-habisan dikutuk sebagai penyulut pertikaian, paham Syiah pun secara internasional mulai dilirik dan dibahas.

Agak sulit memahami apa yang sebenarnya terjadi. Tapi, kita tidak merasa bingung!

Karena banyak media-media yang dengan mudah menjajakan liputan-liputannya kemana-mana.

Pengalaman pribadi yang pernah saya alami sendiri atas ‘ampuh’nya media internasional memborbardir dunia adalah perisitiwa pemilihan Presiden Iran di tahun 2009. Pemilu 2009 kembali membawa Ahmadinejad memperopleh mahkota pemimpin.

Saya tidak berbicara apakah Syiah sesat bla bla bla, atau apakah Ahmadinejad memperoleh suara terbanyak dengan cara ‘negatif’.

Tapi fakta yang saya tahu pasti, saat protes warga terhadap hasil pemilu, media internasional sudah BERBOHONG besar-besaran. BERBOHONGnya kompak lagi. Yaeyalaaahhh, negara penghasil minyak terbesar di Tim Teng nya kan ‘pacar’nya pemerintah AS. Jangan pura-pura gak tahu, ya ;).

Bukan asal bicara, awal Juni hinggal awal agustus, saya sekeluarga tengah bermukim di kota Tehran. Liputan-liputan media asing internasional diputar berulang-ulang dengan menyuguhkan tayangan yang itu-itu saja. Seolah-olah terjadi kerusuhan massal dan berdarah-darah di Tehran.

Saya sampai kewalahan menerima banyak email dari kerabat, bekas teman-teman kantor, dan teman-teman kuliah, dsb.

Saya tinggal di sekitar Vanak Street, salah satu wilayah jantung kota. Sumpah ya booo, kagak ada apa-apaan! Memang ada protes massal, tapi apa dikira berlangsung sepanjang hari?

Suami saya tetap ke kantor seperti biasa. Karena saya lihat di televisi, BBC, AL Jazeera, dkk, ramai-ramai membahas Tehran, wuiiihhh, jadi kepo dong kita hehehehe.

Gedung apartemen saya memiliki kaca jendela raksasa yang menghiasi seluruh dinding ruang tamu yang menghadap ke jalan. Tak perlu payah-payah saya bisa mengintip ke arah jalan kapan pun dengan mata telanjang. Kok sepi?

Saya telpon suami. Jawabannya bikin saya ngakak, “ooohh, demonya nanti. Kan masih pada kerja. Nanti bubaran kantor baru pada demo lagi.” Ahahahahahahaha.

Gak niat benar, deh :P. Harus belajar dari Indonesia nih. Demo itu ya Mas-mas Mbak-mbak Tehran kudu dari pagi ampe besok pagi laginya. Emang harus capek. Ya kalo nunggu jam kantor kelar, terus abis itu abis magrib udah bubaran, ya kapan suksesnya? hehehe.

Tapi, yang terlihat di berita-berita TV yang diputar tiap jam sekali mungkin (saya pantau terus BBC dan CNN), adalah massa beramai-ramai demo dan berteriak-teriak. Memang ada korban penembakan. Liputan empuk, nih. Saya sampai bosan lihat tayangan itu diputar berulang kali di waktu yang sama, dan pakai slow motion segala.

Bahkan saat demo tiba, masih banyak tempat-tempat publik yang buka seperti toko, dll. Suwer deh, kagak ada mencekam-mencekamnya pisan. Saya sampai gatal pengin ke jalan lihat orang-orang berdemo itu. Tapi rasa penakut saya sendiri yang mengurungkan niat itu hihihihihi.

Mungkin, Syiah itu punya pemahaman BERBEDA, mungkin mereka di mata kita SESAT (saya pun mengaplikasikan Islam saya sebagai seorang Sunni). Tapi jangan lupakan fakta soal Syiah. Bahwa pemerintah Iran, dedengkotnya para Syiah, adalah yang paling keras mendengungkan soal ‘Anti Zionisme ISrael’.

Iran tak anti Yahudi, lho. Bedakan zionisme Israel vs umat Yahudi di seluruh dunia. Konon, ada orang Yahudi yang hidup damai di tengah-tengah Iran. Jangan salah, warga Palestina juga ada yang berasal dari keturunan Yahudi. Jadi, jangan sampai salah menyebarkan ‘kebencian’ :).

Pertama kali Ahmadinejad menjadi Presiden di Iran, media nasional ramai-ramai memuji beliau. Jadi tenar deh langsung Ahmadinejad. Entah mengapa saat itu tak ramai membahas Syiah. Bener-bener deh, kita ini mengapa begitu mudah tersulut?

Soal ‘sisi lain’ kejadian di Suriah, ini ada link pembanding. Jangan langsung skeptis krena yang menulis adalah Ibu Dina Sulaeman, yang pernah tinggal di Iran, dan (mungkin) sudah menganut Syiah atau minimal pro Syiah. Baca saja dulu, ya.

Setelah baca, kalau Anda tetap berkeras bahwa Syiah memang ingin membantai Sunni, bolehlah menyimak sedikit ke ‘belakang’. Saat Irak berguncang di bawah kepemimpinan Saddam Hussein, siapa yang berperan menjadi ‘korban’?

(linknya saya taruh dalam komen. Biar tulisan ini tidak langsung menunjuk pada link nya. Ntar disangka Syiah dan sesat lah saya. Karena menurut menteri agama, “mereka yang tidak menganggap Syiah sesat maka mereka sesat.”) 🙁

Gak akan ada habisnya gak, sih? Apakah pengabdian kita kepada agama akan selalu berbanding lurus dengan pemeliharaan kebencian terhadap penganut kepercayaan lain? (note : syiah dianggap bukan Islam!). Istilah favorit saya yang ditulis oleh salah satu peserta lomba menulis di MP adalah : istiqomah di dalam, toleransi di luar.

Apakah dalam menyiarkan kepercayaan mesti dengan menjelek-jelekkan kepercayaan lain?

Bagaimana kalau menyuarakan kelebihan-kelebihan kepercayaan Anda? Masa sih, menjatuhkan ‘pihak lain’ akan kita yakini sebagai cara untuk menaikkan ‘pihak kita’? Black campaign itu lama-lama #eaaahhhh….

Seberapa besar pun amarah yang berkobar di dada Anda, seberapa cintanya Anda pada ajaran yang menurut Anda telah diinjak-injak oleh orang-orang Syiah, jangan sampai rasa keadilan ikut lebur.

Jangan merasa ini kepentingan Allah. Allah maha Sempurna. Allah tidak butuh Anda untuk membelaNya. Kita beribadah untuk kebaikan kita sendiri, bukan untuk Allah. Tak ada cerita, keagunganNya akan berkurang bila sudah tak ada lagi yang peduli pada ajaranNya. Kalau Anda menyimpang, yang rugi bukan Allah, diri kita sendiri, kan? Camkan hal yang sama untul orang-orang yang Anda anggap sesat.

Anggap saja ini tulisan orang ‘liberalis’ atau ‘pluralis’ atau apalah yang Anda suka. Mungkin ada trend baru yang saya tidak tahu :D.

Ini kan cuma pendapat pribadi saja. Yang mungkin tak saya dapat dari duduk berjam-jam, bertahun-tahun menghapalkan ayat suci. Tapi saya dapatkan dari kehidupan sehari-hari melalui pengalaman dari kesempatan yang diberikan Allah untuk pernah mencicipi hal-hal lain, hidup di tanah berbeda-beda.

Dan mengajarkan bahwa sampai mati pun tak mungkin saya berharap : “ya Tuhan, kenapa seluruh dunia bukan orang Bugis semua? Kalau bisa Bugis-Islam. Dan kalau bisa Islamnya pun harus Sunni. Kalau bisa semua perempuannya pakai jilbab dan abaya hitam, biar gak pusing mereka gonta-ganti baju. Hehehehe” :).

Cara menerbitkan buku indie

Kritik Terhadap Bunda of Arabia

***

Kritik pertama adalah soal keakuratan isinya.

Sebelum “Bunda of Arabia” terbit, sebenarnya telah terbit satu buku non fiksi bergenre komedi yang bertajuk “Kedai 1001 Mimpi” yang dikarang oleh Vabyo, yang juga menggunakan latar belakang negara Saudi.

Ketika gencar berpromosi di beberapa milis (thanks to Bapak Dani hehehehe, Baba of Arabia :P), beberapa orang bertanya tentang “Bunda of Arabia” dan “Kedai 1001 Mimpi.” Isinya dianggap bertentangan.”Kedai 1001 Mimpi” karangan Vabyo (yang konon laris manis ini) diterbitkan oleh penerbit formal, Gagasmedia.

Gagasmedia sendiri kebetulan penerbit yang banyak melahirkan penulis-penulis favorit saya seperti suami istri Adhitya Mulya-Ninit Yunita dan Raditya Dika.Sayangnya sampai sekarang saya sendiri belum membaca buku ini. Tapi dari banyak review di berbagai media online, saya jadi maklum kenapa sampai disebut-sebut ‘bertentangan’.Sebenarnya, kedua buku tersebut TIDAK BERTENTANGAN sama sekali :). Kok, kok, kok???

Sudut pandang penceritanya berbeda. Ini nih pokok perbedaannya :).

Vabyo datang ke Saudi dengan ‘menyamar’ sebagai TKI informal dan bekerja di beberapa tempat untuk mengumpulkan bahan cerita.

Sedangkan “Bunda of Arabia” ditulis oleh ibu-ibu asal Indonesia yang datang ke Jeddah untuk mengikuti suami yang bekerja di sana. Spesifik tentang kota Jeddah dan sekitarnya.

Apa yang diceritakan Vabyo dalam “kedai 1001 mimpi” adalah kumpulan pengalamannya bekerja di Saudi selama (kalau tidak salah) 3 pekan (apa 3 bulan), ya.

Sedangkan para Bunda yang menuangkan pengalamannya di “Bunda of Arabia” rata-rata sudah bermukim minimal satu tahun.

Saya tidak suka menceritakan hal ini. Tapi memang pada kenyataannya kaum pekerja formal di kota Jeddah memiliki ‘dunia yang berbeda’ dengan dengan kaum pekerja informal.

Anda jangan lantas menganggap pekerja formal disini sombong. Salah satu sahabat saya disini, akibat terlalu entah lugu entah apa, dimanfaatkan secara materi oleh oknum yang kurang bertanggung jawab.

Oknum, sih. Tapi ya, pengalaman itu guru paling berharga, bukan?

Juga jumlah kaum informal terlalu banyak. Dan nyaris tak tersentuh karena mereka tinggal di lingkungan tertentu dan seringnya berkelompok. Kerasnya kehidupan yang mereka alami mungkin sudah mengikis separuh rasa kesantunan mereka. Tapi jangan digeneralisir. Tentu tidak semuanya :).

Hal-hal ‘sensitif’ ini tak mudah untuk saya terangkan panjang lebar dalam tulisan :(.

***

Kritik kedua adalah isi “Bunda of Arabia” kok kayaknya ‘senang-senang’ semua? Emberrrrrr ahahahahahahaa :P.

Bunda-bunda hepi 😀

Justru sebenarnya saya menggagas buku ini sebagai penyeimbang. Atas berita-berita yang menurut saya terlalu berat sebelah tentang salah satu negara ‘penguasa’ gurun ini. Terutama mengenai kehidupan orang-orang yang berasal dari tanah air.

Saya sudah mengawalinya dengan blog mamasejagat dan ceritaJeddah. Tapi tentu perlu ada langkah lebih ‘serius’. Jadilah saya, yang memang memendam mimpi menjadi penulis (kelak), memberanikan diri mengangkat sisi lain ini ke dalam buku “Bunda of Arabia.”

Ah, berarti untuk kalangan terbatas. Kalau menilik tujuan awalnya saya setuju jika orang-orang berkata ini untuk kalangan terbatas. Makanya saya pantang berdebat lebih jauh ketika mencoba menawarkan naskah buku kepada sebuah penerbit formal dan langsung ditolak dengan alasan ‘segmented readers’. Saya sepenuhnya paham :).

Waktu membahas isu ini pun, resistensi dari rekan-rekan Bunda yang saya tawari untuk ikut menulis pun sudah ada.

Bahkan saya akhirnya rela mengganti judul yang awalnya adalah : “How can we not love Jeddah?” menjadi “Bahagia, Meski Mungkin Tak Sebebas Merpati” untuk ‘menggaet’ salah satu penulis yang awalnya hendak hengkang, padahal dia adalah penulis incaran utama saya.

Beliau inilah yang sebenarnya memiliki kemampuan menulis yang paling ‘mumpuni’ diantara kami hehehe. Heran saya, orangnya masih gak pede juga melangkah lebih ‘jauh’ padahal sudah saya komporin hehehehe. Mana buku solo-mu, Mbaaaaakkkk? :D.

Demikian juga dengan rekan penulis lain yang menunjukkan keengganan saat saya minta menulis dengan tema yang sudah saya tetapkan. Meskipun tidak kepada saya, saya tahu dia meminta pertimbangan dari mana-mana. Saya maklum. Dia takut disangka mau pamer. Tapi alhamdulillah, melalui BBM intensif, beliau pun akhirnya ‘takluk’ dan mau nyetor tulisan hehehe.

Perempuan Indonesia yang banyak mendiami wilayah Saudi, sebagian besar datang dengan status TKW. Dan diantara mereka, jumlah terbesarnya memang ada di ranah domestik, sebagai asisten rumah tangga atau pengasuh anak.

Jadi, kami (para penulis) pun mencoba sangat berhati-hati dalam tiap tulisan. Agar orang tak lantas menuduh kami sebagai ‘musuh dalam selimut’. Dan demi Tuhan, kami tak ada yang menentang dan tak ‘memusuhi’ apalagi memandang rendah pada mereka. Setiap orang berhak mencari rezeki halal dengan kesanggupannya masing-masing.

Maka dari itu, butuh kerja ekstra untuk terus menumbuhkan semangat ini kepada rekan penulis yang lain, bahkan mengusir ‘ketakutan’ yang sering hinggap di pikiran saya sendiri.

Meskipun tetap ada teman yang malah menganjurkan menulis tentang ‘tema perjuangan’, mengangkat kisah-kisah TKW dan semacamnya. Ini memang mungkin akan menjadi topik populer (mengingat kisah menyayat hati memang cukup laku di tanah air hehehe), tapi justru kisah-kisah seperti ini yang saya hindari.

Maksud saya, cukuplah berita-berita memilukan hati ini dimanfaatkan oleh media untuk menaikkan jumlah pembaca mereka. Sekali lagi, saya ingin menghadirkan ‘kisah penyeimbang’ :).

Jadi ya, dari awal pun, tujuannya malah untuk memperkenalkan ‘sisi lain Saudi’ kepada tanah air. Agar kalau Anda-anda kebetulan sedang umrah dan hajian, bertemu dengan perempuan berabaya hitam di masjidil haram, Anda tidak buru-buru memandangi mereka dengan rasa kasihan, mengeluarkan uang 10 riyal untuk anak kecil yang mereka bawa dan berucap, “senang disini? majikannya baik?” hehehehe ;). Terlepas dari apakah cerita macam ini akan ‘laku’ atau tidak :).

Bahwa hidup di kota Jeddah mungkin memang serba dilarang tapi ada hal-hal lain yang akan membuat iri para perantau asal Indonesia di negara lain :P.

***

Kritik ketiga, judulnya terlalu ‘drama’ sementara isinya sangat deskriptif. Hehehehe.

Saya akui pemilihan judul memang untuk menarik perhatian publik :D. Dan kalimat ini yang selalu terngiang di kepala saya saat melihat foto-foto teman-teman disini yang hobi sekali ‘foto loncat-loncat’ kalau lagi main ke pantai hihihihihi. Sebenarnya selain dicomot dari salah satu lirik lagu Kahitna, kalimat ini juga saya jadikan judul foto teman-teman yang tempo hari piknik ke South Corniche. Saya tak ikut, tapi saya yang menuliskan ceritanya di blog hehehe.

Ada pun tentang cara penulisan dan sebagainya, saya cuma mau bilang, kami tak ada yang berprofesi penulis sebelumnya. Harap dimaklumi :P. Cuma 3 orang blogger dan 6 orang Bunda yang mungkin sebenarnya ‘terpaksa’ karena saya teror terus. Ahahahaha.

***

Terima kasih atas pihak yang sudah membeli dan memberikan kritikan dan memberi review untuk buku kami :).

Bagi yang belum beli, saran saya cuma satu : inbox saya secepatnya, ya! hehehehehe.

Jangan lupa kunjungi page kami, di facebook – fanpage ini.

Salam dari Jeddah

Jihan Davincka, on behalf of penulis “Bunda of Arabia” (Ibu Euis Fauziah, Ibu Vica Item, Ibu Aina Hidayati, Ibu Nining HaerAni, Ibu Ismiyati Afni, Ibu Dini Fabria, Ibu Alfiani, Ibu Mira Sonia).

Lebaran di Arab Saudi : Eid Mubarak 1433 H

Tahun ini, lebaran ke-3 di tanah Saudi, di kota Jeddah. Lebaran di Arab Saudi tentu beda dengan lebaran di kampung halaman.

Jadi ingat, libur lebaran tahun lalu, gue sekeluarga ke Yanbu-Badar. Perjalanan yang sangat-sangat menyenangkan sekaligus ‘menguntungkan’. Bulan lalu, kisah jalan-jalan itu berhasi di’duit’in karena dimuat di Femina hihihihihi.

Sayang sekali, tahun ini, suami malah terbang ke Dublin 5 hari huhuhu. Mungkin tertunda liburan ke luar kota, nunggu majikan balik dulu :D.

Inginnya salat Eid di Masjidil Haram, Mekkah. Tapi berangkatnya mesti jam 2 malam. Duh, kasihan anak-anak :(. Sempat iri dengan teman-teman lain yang tetap semangat salat Eid di Haram. Tapi lega juga dengar cerita mereka yang akhirnya gelar sajadah di bawah tangga masjid saking penuhnya areal Haram. Hehehehe.

Jadi, pagi hari tepat di hari raya itu, tetap terbangun jam 5 pagi. Thanks to alarm yang masih ke-set di jam segitu :P. Tapi gak ikutan salat, jagain para bocah di rumah. Suami yang salat di masjid dekat rumah. Abis itu kita sarapan pake…nasi goreng! Ahahahahahahaha.

Gue masak, kok ;). Tapi buat menu siang. Yaeayalaaahh, masaknya baru jam 6 pagi :P. Masak gulai ayam + goreng persediaan empal gepuk di kulkas. Lumayanlah. Empal itu udah gue bikin 3 hari sebelumnya. Sengaja bikin dalam porsi banyak, buat persiapan hehehe.

Sorenya baru deh halal bi halal bareng teman-teman Keluarga besar Telko di kota Jeddah. Kita kumpul-kumpul di playground dekat Corniche. Menu utamanya Kari Rajungan bikinan Mbak Ratna. Sayang euy, biarpun lahir dan besar di kota pantai, gue dari dulu gak demen makan rajungan atau kepiting :D. Selain kari tadi, juga ada ayam goreng, sayur nangka, sambal ati, lontong, dll. Kenyang lah ^_^.

Baru deh 2 hari kemudian, si Papa capcus ke Dublin.

Overall, tetap senang sih dengan lebaran kali ini :). Suasana yang memang beda banget dengan tanah air lama-lama ilang sendiri. Entah ya, makin lama makin terkikis rasa nasionalisme sejak tinggal jauh dari tanah air hehehe.

Nih, ada foto para Madam yang lagi santai-santai di playground kemaren itu ;). Kinclong sekali dong ya kita-kita ini hahahaha.

Tampil di Leisure – Republika

Republika edisi selasa 14 Agustus 2012 kemarin memuat tulisan gue tentang kota Jeddah. Judul artikelnya “Jeddah, Kota Bertabur Monumen.”
Kayaknya artikel jalan-jalan so far hokinya lebih bagus daripada naskah cerpen hehehe. Respons dari redakturnya cepat dan pemuatannya juga gak menunggu waktu lama. Padahal ini gue lebih rajin ngirim cerpen huhuhu.
Oiya, syarat untuk mengirim tulisan Jalan-jalan ke “Leisure Republika” dicek di https://enggar.net/2012/03/27/lowongan-penulisan-jalan-jalan/
Ayooo diserbu redaksinya hehehe. Tidak harus cerita dari luar negeri, lho. Hasil liputan jalan-jalan dalam negeri pun boleh bangeeeet ^_^.

Leisure – Jalan-jalan Religi (Harian Republika 14 agustus 2012)