Sifat Wanita : What Women Want

Sifat wanita : “Most women want a man that has it all. But a real woman seeks success on her own, only to find a king to build an empire with.”

Saya langsung sadar, I’m that most women! Hahaha :p.

I'm not sure where I get this pic :D
I’m not sure where I get this pic 😀

Iya banget. Semasa gadis sesekali saya membeli majalah Cosmopolitan yang dulunya bertajuk “Fun Fearless Female”. No matter how hard I try to become one, akhirnya saya harus terima kenyataan saya ini tipe “I can’t stand being alone. Pokoknya persetan dengan semua, saya mau kawin! Titik.” *benerinBuluMata*.

Beberapa teman malah menganggap saya tipe pengejar karier. Ya mungkin itu yang berusaha saya tunjukkan. Entah karena dulu jomblonya kelamaan jadi butuh pelarian atau karena biar dianggap keren aja gitu hihihi :p.

Btw, quote di atas saya temukan di newsfeed sudah lama banget. Di postingan siapa gitu. Tertulis rapi dengan latar Beyonce lagi tos-tosan sama suaminya.

Walau saat belum menikah bawaannya haus darah melulu saban lihat laki-laki lajang (hahaha), saya selalu kagum dengan tipe-tipe Mbak Beyonce ini ^_^. Mirip dengan salah satu sahabat saya dulu. Yang selalu menertawakan keinginan saya untuk cepat-cepat kawin. Ealah, eike masih jatuh bangun mengejar cinta *tsaaah*, dese sudah duluan duduk di pelaminan -_-. Ah, ah, takdir siapa yang tahu ya ;).

Saya pribadi cenderung merasa di era terkini, kemandirian perempuan sering dianggap berbanding lurus dengan ketidakbergantungannya (duh apa sih ini bahasa enaknya :p) kepada kaum lelaki. Makin enggak bergantung makin mandiri. Di mana yang namanya mandiri identik dengan cari duit sendiri.

Dari cara kalian menghandle keuangan, untuk perempuan nih ya, termasuk “tipe Beyonce” atau tipe “ngikut apa kata ATM suami”? Hahahaha :D.

Emang nih jadi perempuan kadang pilihannya jadi ribet sendiri. Yang misalnya berkarier demi alasan kemandirian dihantui tuduhan macam-macam. Mulai dari alasan menelantarkan anak sampai ancaman enggak masuk surga :p. Ini beneran lho.

Tapi yang memilih “santai” di rumah pun, pressurenya beda lagi. Tempo hari saya pernah mendapat beberapa email dari yang ngakunya suka baca blog dan bertanya kira-kira cara nyari duit dari rumah apa saja ya? Katanya zaman sekarang kalau perempuan enggak bisa nyari duit sendiri tuh anu-anu-anu bla-bla bla. Udah berasa pengasuh rubrik Oh Mama Oh Papa gak lo? Hahaha.

sifat wanita Gambar : quizony.com
Gambar : quizony.com

Yaela, saya juga enggak punya penghasilan tetap kali, ah :p. Ya paling juga sesekali ngirim tulisan ke media cetak kalau lagi banyak lowong dan enggak malas. Iklan di blog? Waduuuuhhh, masih jauh banget dari harapan :D.

Sebagian teman saya beralibi katanya enggak betah kalau dikit-dikit minta suami. Lah emang kenapa? Yang enggak bener itu kalau dikit-dikit minta uang dari … suami orang lain! *asahGolok* :v :v.

Kalau mintanya dari suami sendiri salahnya di mana? ;). Terserah saja kalau ada yang merasa ‘gengsi’ dan merasa lebih keren kalau bisa punya sendiri. Preferensi masing-masing ^_^. Tidak ada hubungannya dengan BENAR atau SALAH :D.

Ada yang merasa suami sungguh beruntung punya istri yang juga mau bekerja keras mencari uang sendiri. Ah, tidak juga :). Ada kok tipe suami “konservatif”, yang lebih nyaman kalau istrinya tenang di rumah mengurus anak dan rumah tangga. Suami saya salah satunya hehehe.

Saat masih kerja kantoran, pernah mengobrol dengan teman di kantor (laki-laki), dia punya pemikiran, “Bini gue mah gue larang berhenti kerja, Je. Gimana ya? Kalau dia di rumah-rumah aja takut dianya jadi enggak update dan kuper.”

Waduh! Urusan kurang update dan kurang pergaulan di era internet begini kayaknya enggak relevan lagi lah yaoowww hehehehe. Gak ada hubungannya, kudet sama apakah seorang ibu bekerja atau tidak ;). Emang iya yang jarang keluar rumah sudah pasti lebih kudet?

Sini, sini, adu-aduan update info sama gue berani kagak? Mau cerdas cermat topik apa? Gosip artis, politik, ekonomi? Hahhahaha *kepretPakaiDaster*. Itu mah tergantung tingkat ke-kepo-an kali yaaaaaaa :p.

It’s good if you’re a woman who can stand on your own dalam urusan keuangan ;). Ih, saya mah senang banget punya sahabat model begini. Kalau ketemuan dan makan bareng tinggal merajuk, “Gue kan pengangguran, elo kerja. Traktir yak.”

sifat wanita Gambar : buzzquotes.com
Gambar : buzzquotes.com

Jangan iri atau merasa terintimidasi ^_^. Rugi sendiri. Mending kita hepi-hepi bareng :D. Duh, langsung nyari daftar teman yang harus dihubungi kalau mudik buat minta traktir hihihihi :p.

Hal lainnya, kita cenderung mengeneralisasi kasus per kasus.

Misalnya ada kasus istri yang disia-siakan setelah dicerai. Hidup jadi susah harus ngurus anak sendiri dan suami ogah mengongkosi. Katanya si perempuan ini hanya bisa pasrah enggak tahu harus ngapain. Langsung deh jump into conclusion, “Tuh kaaaaaaan, gue bilang juga apa. Perempuan tuh harus bisa cari duit sendiri. Harus!”

Padahal ada juga kasus perceraian yang justru menimpa seorang perempuan saat dirinya ada di puncak karier, tampangnya juga cantik dan bodinya oke, tapi ya itu…suaminya tetap berpaling ke perempuan lain.

Soal kasus pertama, itulah mengapa menurut saya jadi perempuan itu harus cerdas dan kuat, untuk alasan apa pun. Tapi jangan menyempitkan arti kecerdasan dan kekuatan dengan hal-hal standar macam, “harus pintar nyari duit sendiri/berdikari” bla bla lainnya.

Pahamilah hak kita sebagai istri :). Saya juga tipe yang percaya rezeki itu di tangan Tuhan, tapi ada yang namanya ikhtiar kan? Dalam perceraian ada yang namanya harta gono gini.

Banyak yang mengira gono-gini ini maksudnya harta atas nama bersama. Salah! :D. Atas nama suami/nama istri pun jika diperoleh setelah menikah (dan kita tidak terikat dalam perjanjian pranikah apa pun) maka seharusnya bisa dimasukkan sebagai harta gono gini.

Kewajiban membekali anak itu juga ada pada suami. Sudah bercerai pun ya tetap begitu.

Jangan gaptek urusan keuangan walau aslinya kita enggak pinter masalah ekonomi :). SEkali lagi, pahami hak kita. Tapi jangan lupa, bersama hak selalu ada kewajiban yang menyertai ;). Jangan asyik saja menuntut suami harus ini itu sementara situ sendiri “pelayanan”nya sudah oke ndak? :p.

Masalah pembawaan aja sih ya ini. Saya sendiri tipe “pemalas” hahaha. Enggak pinter dalam urusan mengelola duit :p. Semuanya dikelola suami. Tapiiiiii, saya tahu semua seluk beluknya ;). Harus mau belajar.

Selain cerdas juga harus kuat. Kuat tidak selalu berarti mandiri secara ekonomi juga. Kuat ini lebih ke arah mental. Selalu persiapkan untuk kemungkinan terburuk apalagi dalam kondisi kita tidak punya ladang uang selain kantong suami hehehe.

Tapi saya pernah ketemu perempuan yang ternyata setelah ditinggal suaminya tetap “terpuruk begitu dalam” padahal beliau adalah tipe yang juga ikut mencari nafkah bersama suami. We don’t judge her. Let’s learn something, yes? :). Ini masalah mental juga.

Ada juga yang pernah bilang katanya kalau “ibu rumah tangga doang” (whatever this means :p), nanti enggak dapat respek dari suami maupun anak-anak. Wah, wah, wah, situ kudu kenalan sama eike punya ibu mertua hehehe :p.

Beliau, dari sejak menikah sampai detik ini tidak pernah sepeser pun menghasilkan uang sendiri, apa membuat beliau jadi kurang pede? Ho ho ho. Menantu-menantunya aja ngeri ya booooo hahahaha :p. “Ngeri” in a positive way dong ya ;).

Yang istimewa, rasa respek ini justru saya dengar sendiri dari suami dan anaknya. Dari bapak mertua dan suami saya, salah satu anaknya :D.

Balik lagi, tergantung orang per orang, kasus per kasus, plus situasi kondisi tertentu. Ya intinya jangan suka panik sendiri dan heboh sendiri lah hehehe. Dengar kasus ada anak yang disiksa baby sitter, langsung kayak orang gila nuduh-nuduh ibu bekerja di luar rumah dan memercayakan anak pada orang ketiga berarti tidak sayang anak misalnya :p.

Gambar : www.plesents.com
Gambar : www.plesents.com

Dengar ada istri yang kebetulan tidak punya penghasilan sendiri ditinggal kawin sama suami dan disia-siakan langsung ribut menyarankan perempuan HARUS bisa nyari duit sendiri hehehe.

Jangan yaaaaaaaa :D. Dunia ini tidak hitam putih saja. Faktornya buanyaaaaaakkkk.

Walau saya setuju juga dengan pendapat yang mengatakan, “The sense of independence and security is very sweet.”

Tapi kemerdekaan sesungguhnya itu termasuk kebebasan MEMILIH ^_^.

Anyway, setelah menikah, namanya istri ya harus kerja sama dan konsolidasi paling penting dan utama ya sama suami dong :D. Kalau sibuk mikirin apa kata orang atau apa yang lagi nge-trend di timeline media sosial :p, waduh, enggak ada kelarnya, Cuy. Hawanya pengin bela diri aja terus hahahaha.

Rebut hati suami kan macam-macam caranya. Ada lho itu orang yang saya kenal yang walau istrinya rempong, enggak kerja, cerewet pula. Tapi sang suami tetap setia pada yang bersangkutan. Konon, karena dia enggak bisa makan kalau bukan istrinya yang masak! :D. Urusan perut boooo ^_^.

Tapi jangan lantas patah semangat yang enggak terlalu lihai di dapur. Ada juga tipe suami yang tidak terlalu fokus sama hasil tapi selalu menghargai apa pun yang dimasak oleh istri tercinta *pelukSuamiSendiri* <3.

Setiap rumah tangga, kepribadian orang-orang yang ada di dalamnya kan beda-beda. Ada suami yang bangga istrinya ikut bekerja, ada suami yang justru meminta istri enggak perlu banyak cing cong urusan cari duit hehehe. Ada istri yang memang bawaannya enggak bisa “diam” di rumah, ada yang memang merasa asyik-asyik saja walau dari pagi sampai malam seputaran dapur-kamar-ruang tamu aja urusannya. Tentunya …plus facebook! Hahahahaha :p.

Gak apa-apa. Yang mana-mana sajalah. Ngomongin resiko ke depan ya semua juga ada resikonya. Be prepared :). Dunia toh berputar terus. Hari ini yang pilihan sono yang naik daun, besok-besok pilihan sini yang dipuja-puja. Namanya juga manusia :p. Apalagi kalau patokannya dunia maya. Labil abis lah pokoknya :D.

Tapi adalah benar kalau gini-ginian lebih rempong rasanya jadi perempuan ketimbang jadi laki-laki hehe.

“The great question that has never been answered, and which I have not yet been able to answer, despite my thirty years of research into the feminine soul, is ‘What does a woman want?’ ” -Sigmund Freud

Gambar : www.popmatters.com
Gambar : www.popmatters.com

Let’s be the one we want without over thinking what others should say, yes? ;).

Walau dalam perjalanannya, bolehlah sekali-sekali kita kita merasa tersinggung dan tersentil dengan pendapat orang lain. Secukupnya saja :D. Bolehlah kadang-kadang terasa iri. Dalam hati saja, jangan sampai meledak ke mana-mana hehe.

As they said, peace comes from within. Yang paling dasar tentu berdamai dengan diri sendiri dulu :).

Have a nice weekend, Ladies <3.

***

(Never) Judge a Book by Its Cover

“I can’t find halawa here. Do you know where I can find one?” Saya bertanya sesopan mungkin pada seorang wanita arab di sebelah saya. Kami berdua sedang berada dalam supermarket. Sibuk berbelanja di rak yang sama.

Dia bengong sebentar, nampak tidak mengerti.

 

Baiklah. Mari berbahasa arab. Saya gelagapan karena bisanya cuma pas-pasan, “Halawa, halawa. Ummm…sukkar. Fen halawa? Ma’alish, mafi arabic.”

Barulah dia mengangguk-angguk. Dia menjelaskan dengan bahasa arab sambil tangannya sibuk mengarahkan. Saya mengangguk-angguk kecil padahal sebenarnya “Sumpah, gue gak ngarti.” Hehehehehe.

Saya akhirnya memilih pergi saja. Tiba-tiba dia kembali memanggil, saya menengok.

Dia seperti penasaran, “Filipino? Malayzi?”

“Indonezi.”

Main sama bocah di Corniche - Jeddah, 2012
Main sama bocah di Corniche – Jeddah, 2012

Matanya membesar sambil menepuk bahu saya. “Indonezi? Speak English? Masya Allah!”

Yup, begitulah (mungkin) pandangan sebagian besar orang-orang di Jeddah terhadap perempuan Indonesia. Seorang perempuan Indonesia yang bisa berbahasa Inggris (apalagi tidak bisa berbahasa Arab) akan dianggap sesuatu yang istimewa.

Setidaknya saya sudah kenyang banget dengan pengalaman, “You Indonezi? Speak English? Masya Allah!”

Pengalaman saya tidak terbatas kepada perempuan-perempuan arab yang ternyata banyak juga yang tidak fasih berbahasa inggris. Tapi pengalaman persis pernah saya dapatkan saat berobat ke bagian emergency rumah sakit Bugshan.

Dokternya adalah laki-laki yang sangat ramah dan sopan, asalnya dari Mesir. O ya, katanya sebagian besar dokter di Saudi memang berasal dari Mesir.

Kami sudah mengobrol dengan akrab selama hampir setengah jam dalam bahasa inggris. Mungkin Pak Dokter berusaha mencairkan suasana. Dia pasti melihat jelas kalau saya ketakutan dan gemetar padahal cuma operasi kecil saja di bagian jari tangan :P.

Dia kaget sekali ketika saya bilang saya dari Indonesia. Sedari tadi dia berpikir saya orang Filipina atau Malaysia. Secara fisik, memang terdapat banyak kemiripan antara kita dan kedua negara tetangga tersebut.

Sudah pakemnya di Jeddah, perempuan yang bisa berbahasa Inggris itu PASTI dari Filipina atau Malaysia. Perempuan Indonesia? Harusnya lancar berbahasa Arab dan profesi mereka pastilah TKW :). Diskriminatif? Tidak juga. Ini lebih karena kondisi lingkungan.

***

Meskipun saya tidak punya data akuratnya, tapi terlihat jelas bahwa sebagian besar perempuan Indonesia yang datang ke Saudi berprofesi sebagai TKW. Menguasai sektor domestik, pekerja rumah tangga atau pengasuh anak.

Memangnya yang dari Filipina enggak ada? Malaysia? Bangladesh? Pakistan?

 

Filipina memang ada. Banyak juga jumlahnya. Tapiiiii…mereka mendominasi di beberapa sektor formal. Saya nyaris tak pernah bertemu suster yang berkebangsaan BUKAN Filipina di rumah sakit besar di Jeddah.

Admin-admin rumah sakit pun didominasi oleh mereka. Dari petugas lab, petugas apotik, hingga customer service. Perempuan Indonesia ada juga. Tapi kebanyakan menjadi petugas kebersihan.

Malaysia? Jangan sirik. Tak ada TKW Malaysia di sini. Ditambah lagi, menurut suami, tenaga kerja laki-lakinya datang rata-rata dengan status mohandis (engineer). Jadi, para madam asal Malaysia, bisa dipastikan istri mohandis (atau di atasnya mohandis) :P.

Ketambahan lagi mereka rata-rata fasih berbahasa Inggris, bahasa kedua di Negeri Jiran tersebut.

corniche weekend

Bangladesh konon tidak mengirimkan TKW secara legal. Pakistan juga. Tapi ada juga perempuan asal negara-negara tetangga India yang bekerja di sektor domestik. Kemungkinan tidak legal dan jumlahnya terbatas.

Saya tidak marah kepada para TKW. Hormat saya setinggi-tingginya kepada perempuan-perempuan luar biasa ini :). Saya berdiri di barisan penentang moratorium.

Menurut saya pribadi, pemerintah yang gagal melindungi mereka di sini. Tak kuasa menyediakan lapangan kerja di tanah air tapi melarang mereka mencari rezeki di negeri orang.

Tidak seperti Filipina. Negara tetangga satu ini mungkin paham betul kekurangan mereka untuk menghidupi seluruh rakyatnya.

Mereka dengan sigap membaca kesempatan di luar negeri, mengirimkan warganya, tak lupa memberikan jaminan dan perlindungan penuh beserta keterampilan yang mumpuni.

Ketika masa melahirkan, saya menggunakan jasa seorang bibik asal Madura. Dia pernah menunjukkan dengan bangga foto anaknya mengenakan seragam SMP.

Dengan riang dia berujar, “Saya yang ngongkosin dia bisa sekolah setinggi ini, Ning.”

Proud of you, Mbak :). (Ning, sebutan untuk Neng dalam bahasa Madura. Bener gak sih? :D).

***

‘Posisi’ saya cukup diper’sulit’ oleh penampilan fisik suami. Biarpun perawakannya tidak sebesar orang-orang Arab pada umumnya, tapi tingginya mencapai 180 cm. Hidungnya tidak pesek, berjanggut, dan berkumis. Pasrah deh, (mungkin) akan sering disangka “TKW yang sukses menikahi majikan arabnya.” Ahahahahahaha.

Misalnya di masjidil haram. Sebagian besar petugas kebersihan di sana perempuan Indonesia, lho ;). Mereka bercadar semua soalnya.

Anak sulung saya adalah fotokopi bapaknya. Rambut kecoklatan, kulit kuning langsat cerah, hidung tidak pesek, dan ‘berangasan’ kayak anak-anak kecil arab ihihihihihihi.

Seperti biasa ya, eyke paling enggak tahan kalau enggak hosip-hosip :P. Jadilah, suka mengobrol juga dengan para petugas kebersihan di Haram. Ketika asyik mengobrol, ada yang pernah berkata :

“Kamu dapat orang sini, ya?” (Mereka suka berkamu-kamu ke kita, jangan tersinggung hehehe).

“Ha?”

“Itu anaknya arab begitu.”

“Bukan, bukan. Suamiku orang Indonesia juga, Mbak.”

“Oooohhh…”

Tapi entahlah apa yang ada di pikirannya waktu melihat suami saya datang ke arah saya :P. Otak saya yang suudzon berpikir, mungkin dalam hati dia gondok, “Dasar tukang bohong. Suaminya memang orang Arab. Malu kali ketahuan kawin ama majikannya.”

Ahahahahaha. Cukur jenggotmu, Baaaaaaaannngggg.

***

Meng-upgrade penampilan mungkin cukup menolong.

Manusia memang tak mudah lepas dari stigma sosial. Saya pun dulu berpikir perempuan Saudi pasti congkaknya minta ampun. Sampai akhirnya saya berobat dan dapatnya dokter perempuan.

Kata suami, melihat namanya, dia pasti orang Saudi asli. Mungkin saja. Penampilannya bercadar pula. Biasanya perempuan arab berkebangsaan lain tidak banyak yang bercadar.

Masya Allah. Dokternya sangat ramah. Padahal saya sudah berburuk sangka ketika dia menanyakan kebangsaan kami. Saya sudah pasrah, begitu bilang orang Indonesia, pasti dia langsung gimanaaa gitu. Ternyata enggak, lho. Baik banget.

Beliau dokter kulit. Dengan sopan, dia meneliti sela-sela jari saya yang kena semacam kudis (tutup muka menahan malu :P). Dia menjelaskan panjang lebar, kalau mungkin kulit saya sensitif. Menyarankan menggunakan sarung tangan.

Saya bertanya, “Is this contagious?”

Dia menggeleng-geleng sambil tersenyum. I can see thru her eyes :).

Saya iseng mengusap-usapkan tangan saya ke suami. Suami langusng menghindar. Dia jijik gitu memang hihihihihi. Kami berdua cekikikan di depannya. Dan Ibu Dokter pun malah ikut tertawa-tawa, mudah-mudahan enggak kapok kedatangan pasutri gila ini :P.

Saya selalu berprasangka perempuan arab asli Saudi sombongnya minta ampun. Kaku. Apalagi jika menghadapi ‘kasta rendah’ macam perempuan Indonesia, yang datang membawa penyakit kulit di sela-sela jarinya (ketauan kan di rumah kerjanya kalau gak cuci piring ya ngepel, ahahahahaha).

Salah satu foto bersama teman-teman di Jeddah, 2012
Salah satu foto bersama teman-teman di Jeddah, 2012 (6 orang diantaranya sudah hengkang dari Jeddah hehe)

***

Sedihnya, stigma yang sama juga datang dari jemaah haji asal Indonesia. Mungkin tidak semuanya. Tapi heran juga, “Kenapa gue melulu deh yang kenaaaaaa”. Padahal rasanya pas masih di Jakarta, tampang eyke beda-beda tipis dengan artis ibukota (dilihat dari monas mungkin? :P).

Sewaktu Ibu saya datang umrah dengan membawa puluhan buku-buku “Bunda of Arabia”, saya sudah siap mental melakukan direct marketing.

Penuh percaya diri mengajak suami ke Masjid Apung di Corniche. Mantap menyambangi para jemaah haji asal Indonesia yang bisa dipastikan absen ke sana tiap ke Jeddah.

“Permisi Bu, mau beli buku “Bunda of Arabia”? Isinya tentang pengalaman ibu-ibu Indonesia yang tinggal di Jeddah.”

Sebagian ada yang tertarik dan mendekat. Melihat-lihat sampul sambil berkata, “Kok bisa keluar rumah?”

“Bisa dong, Bu.”

“Ooohh, dapat libur juga, ya. Baik majikannya, ya.”

Huhuhuhuhu. Ini padahal sudah pakai kacamata hitam yang trendy punya, lho *langsungLemes*.

Terus dong, mereka enggak beli! Sibuk berempati tidak jelas. Jadi, saya pindah ke grup lainnya. Dimulai dengan kalimat yang sama.

Kali ini dijawab dengan, “Ikut suami apa bagaimana, Mbak?”

Wah, ada harapan, pikir saya. “Ikut suami, Bu.”

“KOk bisa ya bawa istri? Katanya susah, lho. Kemarin saya diceritain supir taksi katanya susah bawa istri.”

Belum sempat jawab, temannya menyambar, “Ada yang bisa kali. Kan tergantung majikan. Supir kan juga macam-macam.”

Siyaaaalllll. Ahahahahahaha. Sekali itu saja saya nekat ke Masjid Apung. Suami terus sibuk membujuk, katanya latihan mental. Atau kata dia, “Pinjam abaya ibu-ibu lain kali. Kamu, sih, abayanya kumel gitu.” Hehehehe.

Di Masjidil Haram juga anak saya pernah dikasih uang oleh salah satu jemaah perempuan asal Indonesia. “Belajar yang rajin. Ingat kerja keras Ibu.” Ihiiyyyy, kerja keras Ibu :P.

Etapi dapat rezeki kok sakit hati. Senang malah :). Syukran katsiran doanya, Bu :).

***

Tentu saja, hidup itu intinya belajar. Mengambil hikmah dari tiap pengalaman. Biarpun tidak sepenuhnya marah dan sakit hati, setidaknya saya belajar kalau diperlakukan seperti itu rasanya tidak menyenangkan.

Then, don’t do that to others! :).

Toh, ternyata perempuan-perempuan arab banyak yang menyenangkan. Ketika hajian kemarin satu tenda dikepung perempuan arab semua, rasanya kayak keluarga. Mereka sopan dan ramah.

Perempuan asli Saudi ternyata ada juga yang menyenangkan. Pakai cadar tapi bisa berbicara dengan bahasa yang jelas. Tadinya saya suka mengeluh kalau berhadapan dengan perempuan bercadar yang ngomongnya kayak kumur-kumur.

Bukan cadarnya, tapi cara berbicara tiap orang yang berbeda.

Urusan upgrade penampilan bukan hal yang sulit buat saya. Kalau mau, segala merek bisa dibeli (suami langsung stres, ahahahahahaha). Sombong amat sih, lu :P. Serius iniiihhh. Penghasilan sebagai ekspat engineer di Jeddah tidak sedikit. Tanpa pajak pula.

pengalaman di Jeddah
Kumpul-kumpul di salah satu rumah teman di Jeddah, 2011 😀

Tapi, jangan lupa pepatah salah satu orang terkaya di dunia, Warren Buffet, “Manusia yang membuat barang.” Jangan sampai kita yang didikte oleh barang. Saya tak pernah sudi dinilai berdasarkan apa yang menempel di badan saya :).

Therefore, saya pun tak pernah menimbang-nimbang lawan bicara saya berdasarkan ‘harga’ di sekujur tubuhnya ;).

Sebagai muslim, kita percaya bahwa Allah sudah menetapkan parameter kesempurnaan tiap insan :“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.” (Al-Hujurat: 13)

Lagipula, sebuah pepatah mengatakan, “Kalau Anda hanya menilai orang lain hanya dari penampilan (atau suku bangsa :P), Anda akan kehilangan banyak kesempatan bertemu orang-orang hebat.”

Tapi ada juga sih, orang hebat bukan, penampilan dekil iya *tunjuk diri sendiri* hahaha.

***

Saat Ka’bah Hanya Berjarak Satu Jam Saja

Salah satu obrolan yang lazimnya terjadi di akhir pekan saat suami kerja di Arab :

“On call gak, Bang?”
“Enggak.”
“Umrah, yuk.”
“Hayuk.”
“Abis aku nyuapin, mandiin anak-anak, kita langsung berangkat.”
“Ok.”

Berapa tempat sih di dunia ini yang memungkinkan percakapan di atas terjadi?

Bahkan jika Anda bermukim di negara Saudi pun belum tentu bisa memutuskan untuk umrah dalam hitungan detik. Kota Madinah saja jaraknya ratusan kilometer dari Mekkah. Ibukota Riyadh malah berjarak lebih dari seribu kilometer.

Salah satu tempat ‘penuh berkah’ tersebut adalah kota Jeddah :). Berjarak hanya sekitar 70 km dari Rumah Tuhan.

Cukup dalam tempo sejam sejak mobil meninggalkan parkiran gedung apartemen, kami sudah bisa berdiri berhadapan langsung dengan bangunan hitam yang berdiri tegak di tengah-tengah Masjidil Haram. Itu sudah termasuk cari tempat parkir dan berjalan kaki dari basement mal masuk ke dalam masjid.

saat ka'bah kerja di arab
Gambar : sinertour.co.id

***

Itu baru soal jarak. Berapa biaya yang harus dikeluarkan para jemaah umrah asal tanah air? Minimal belasan juta. Bahkan banyak yang di atas 20 juta rupiah.

Kalau naik mobil kan tetap harus bayar bensin. Seorang kenalan dari Doha pernah berkata, “Doha enaaakkk. Bensinnya cuma 2500 perak per liter.” Hmm…2500, ya? Kalau 1000 perak per liter gimana? Hehehe. Kalau di Indonesia premium, tuh. Salah! Di Indonesia minimal 10 ribuan (harga per 2015). Karena bensin yang dijual umum di kota Jeddah levelnya ‘pertamax’ semua ;).

Ibu saya saat umrah kemarin sempat berkata, “Aduh, penuh juga, ya. Kasihan itu anak-anakmu ya kalau dibawa umrah.”

Selain jarak dan biaya, kami, para pemukim Jeddah, juga beruntung soal ‘waktu’ dan frekuensi. Kami punya pilihan untuk ziarah ke tanah suci di saat-saat lengang. Lho, ada, ya? Kalau masih bingung berarti belum baca buku “Bunda of Arabia.” Beli, gih :P.

Visa umrah ditutup oleh pemerintah setelah idul fitri. Persiapan menyambut kedatangan jemaah haji dari seluruh penjuru dunia. Kami akan menikmati waktu sekitar 2 minggu untuk mengunjungi Mekkah dan Madinah yang masih terbilang sepi. Berapa orang sih yang diberikan rezeki merasakan tawaf 10 menit saja?

Begitu musim haji berlalu, visa umrah kembali ditutup. Waktu berleha-leha lebih panjang. Bisa sekitar 2 bulan. Saat inilah biasanya, kiswah penutuh Ka’bah diganti. Beberapa tempat dalam masjid ditutup untuk renovasi.

***

Saat kerja di Arab, bagaimana dengan naik haji?

Sewaktu pulang liburan kemarin, teman saya mengeluh. “Gila lu, sekarang ngantrinya bisa 7 tahun. Ampun, deh. Gue masih lagi nabung nih buat bayar uang mukanya. Kalau uang muka sudah lunas, baru bisa masuk antrian.”

“Berapa uang mukanya?”

“25 an sekarang. Kalau berdua suami 50 jadinya. Ya tapi kan biaya lain-lain juga masih banyak.”

“ONH plus aja.”

“Lu kira berape? ONH plus yang sodara gue aja bisa 80 jutaan. Itu ternyata bukan yang mewah-mewah amat. Kalau berdua 160 juta, dong.”

“Ooohhh…”

“Makanya beruntung lu, gak banyak cing cong tau-tau udah hajian aja. Selamat ya, say.”

Tepat sekali. Bahkan setelah hari raya idul fitri berlalu pun, saya tidak menyangka akan mendapat kesempatan naik haji. Bukannya keinginan tidak ada. Tapi pertimbangannya cukup banyak mengingat anak bungsu saya usianya belum 2 tahun.

Kerja di Arab Saat Ka'bah berjarak 1 jam saja
Kompleks jemaah haji di Mina

Kami mendaftar sebulan sebelum periode wukuf. Biayanya hanya belasan juta rupiah. Mendaftar di hamla lokal sini. Bisa lebih murah kalau mau. Tapi karena kami memboyong si kecil, kami berusaha memilih biro haji yang nyaman dan tidak terlalu mahal. Yang lebih mahal juga banyak soalnya.

Itu baru soal biaya. Di tahun yang sama, ada 2 kerabat suami yang juga melaksanakan ibadah haji. Keduanya melalui program haji reguler. Mirisnya mendengar fasilitas yang mereka dapatkan :(.

Jatah makan yang pas-pasan dengan lauk super sederhana. Pembagian makanan dengan sistem antrean. Tidur tanpa alas kasur, boro-boro ada selimut, bantal saja tidak ada. Tenda di Mina sangat sesak, sehingga untuk tidur pun tak mungkin meluruskan kaki. Kamar mandi sangat terbatas. Bahkan Tante mengeluh, ada jemaah yang nekat membuang air di tempat wudhu.

Perjalanan untuk melontar jumrah ditempuh dengan jalan kaki pulang pergi, full 3 hari. Bahkan 4 hari untuk yang mengambil nafar tsani.

Berhaji dengan hamla lokal Arab? Makanannya berlimpah ruah. Bahkan seringnya makanan diantar ke dalam tenda masing-masing. Tak perlu repot mengantre, keluar tenda saja tidak perlu. Hampir tiap saat pula, meja panjang di selasar depan tak pernah kosong oleh makanan. Minuman kaleng tak pernah kosong dalam lemari pendingin. Cemilan disuplai tiap hari, pagi-siang-sore.

Kami tidur menggunakan dipan. Hamla saya menggunakan tempat tidur tingkat. Ada kasur, bantal, lengkap dengan selimut. Satu orang ya satu tempat tidur :). Di tengah-tengah tiap tenda ada ruangan cukup luas untuk makan bersama atau digunakan sebagai tempat bermain untuk anak-anak.

Kamar mandinya cukup memadai. Bahkan, ada petugas yang membersihkannya tiap hari. Jarang banget mesti antre.

Melontar jumrah? Pulang pergi naik kereta. Full AC. Dimana lokasi tenda hamla kami di Mina sangat dekat dengan stasiun kereta. Masya Allah, hingga detik ini rasanya tak pernah akan cukup rasa syukur yang sanggup terucap untuk pengalaman haji via Jeddah ini.

Saat Ka'bah
Padang Arafah

***

Tentu saja, hidup di Jeddah juga banyak ‘tantangan’nya. Tapi namanya manusia. Tempat salah dan lupa. Seringnya kita terlalu sibuk mencari-cari yang tidak ada.

Mengeluh soal dikekang lah, soal sekolah anak lah, soal jauh dari orang tua lah, mengeluh soal keterbatasan soal menyetir (kayak situ bisa nyetir aje hahaha). Sama, saya pun kadang tak lepas dari pikiran-pikiran seperti itu.

Saya rasanya ingin terbang ketika akhirnya ada kesempatan untuk tinggal di salah satu wilayah yang saya impi-impikan. Saya berdiri di barisan paling depan untuk menyemangati kala suami saya menunjukkan keraguan untuk pindah dari sini.

Lucunya, ketika beberapa hari sebelum benar-benar akan hengkang suami berkata, “Nih, tiket tanggal segini. Mulai packing-packing, gih.”

Tanggapan saya tak lain dan tak bukan adalah…mewek! Hahaha. Ya ampun, saya jauh lebih cengeng daripada yang saya kira.

Begitulah, “You don’t know what you’ve got until it’s gone.”

Siapa bilang bersabar dan bersyukur itu mudah, sih? Tapi untuk rasa syukur yang harganya memang mahal itu, Allah sudah menjanjikan ganjaran yang tidak sedikit :

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni’mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni’mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”(QS. 14:7)

Saya terjebak dalam perasaan senang luar biasa dan sedih sekaligus. Maka, daripada nangis-nangis gak jelas, mari kita ikat kenangannya dengan tulisan :).

Berterima kasih untuk segala hal yang sudah berlalu. Sembari berharap keberkahan yang sama di tempat baru nanti. Walaupun mungkin dalam bentuk yang berbeda.

Can’t thank God enough for this :). How can I not Love Jeddah? <3.

(Catatan lama yang ditulis di Mushrifah-Jeddah, di penghujung Januari 2013 silam)

***

People We Haven’t Met Yet (4)

People we haven’t met yet (1)

People we haven’t met yet (2)

People we  haven’t met yet (3)

 

***

Tahun terakhir di bangku kuliah, saya pernah bekerja paruh waktu menjadi tutor matematika untuk murid-murid ekspatriat. Lumayan banget honornya untuk saku anak kuliahan.

Yang diajar bervariasi, dari grade 2 hingga grade 10. Tapi kurikulum internasional memang jauh lebih mudah daripada kurikulum nasional. Jadi, ya, matematikanya dasar banget lah. Untuk grade 10 (kelas 1 SMA) mungkin setara dengan kelas 2 SMP. Modal bahasa Inggris saja.

Ada 4 anak dari 3 keluarga yang berbeda. Yang paling berkesan adalah 2 bersaudara Julianna dan Garth.

Peristiwa 911 di tahun 2001 terjadi saat masa-masa mengajar di keluarga blasteran Amerika Serikat – Filipina ini. Ibu mereka berkebangsaan Filipina dan cukup fasih berbahasa Indonesia.

Kejadiannya memang menimpa negara Paman Sam nun jauh di benua Amerika sana. Efeknya tapi kemana-mana :(.

911 di US (Gambar : truthinmedia.com)
911 di US (Gambar : truthinmedia.com)

Selepas kejadian, saya ditelepon oleh mbak-mbak agensi tempat saya mengajar. “Libur dulu 2 minggu. Mereka mendadak ke luar negeri.”

Dan dua minggu kemudian, saya menepati jadwal dan datang seperti biasa ke rumahnya. Dari Julianna (kakak), saya tahu ternyata mereka diboyong ibunya ke Filipina. Sementara Ayahnya tetap di Jakarta. Katanya takut ada apa-apa, jadi mereka ‘ngungsi’ ke kerabat di FIlipina.

Seusai mengajar kedua putra-putrinya, si Ibu (Joanna) memanggil saya. “I need to talk to you.”

Duh, langsung deg-degan. Apa mereka mau ganti tutor, ya? Soalnya di agensi saya, tutor yang tidak pakai jilbab juga banyak. Jadi, saya pasrah saja ketika diajak ngobrol sebentar di ruang tamu mereka yang super gede itu.

“We need to change the schedule. The children are having a tennis activity now.”

Ya ampun, kirain mau minta ganti tutor hehehe. Cuma mau ganti hari saja. Biarpun sudah mendengar dari putrinya, saya basa basi saja bertanya kemana dia selama dua minggu kemarin. Ceritanya sama dengan Julianna.

Saya pun bertanya tentang keluarga mereka di Amerika. Apa ada yang menjadi dan korban sembari tak lupa mengucapkan belasungkawa. Dengan takut-takut, saya mengatakan secara implisit agar dia tidak membenci orang muslim.

Joanna menjawab santai. Kalau tidak salah, intinya dia bilang, “We’ve been living here for 7 years. It’s their problem. It’s ridiculous to take it as ours.”

Dia juga sempat berseloroh dalam bahasa Indonesia. “Orang Indonesia baik-baik. It’s not always about their belief. It’s about the people.” Kurang lebih seperti itu. Panjang sih dia neranginnya, saya sudah tak ingat detailnya.

Alhamdulillah leganya. Selamat nih honor mengajar beberapa bulan ke depan. Ahahahahahaha.

Yang berkesan pula saat mengajar di saat bulan puasa. Beduk tiba saat jadwal mengajar masih berlangsung. Saya sih tahu diri lah. Mereka penganut protestan, jadi saya siapkan sebotol aqua dalam tas dan kadang bawa biskuit. Buat ganjel dikit saja. Karena memang biasanya sepuluh menit kemudian saya sudah boleh pulang.

Tapi saya risih juga ketika Joanna bolak balik ke kamar nanyain, “eh, kamu sudah mau makan, belum?”

Saya sudah terangkan berkali-kali kalau saya bawa minuman sendiri. Tapi tak lama setelah waktu berbuka, asisten rumah tangganya, yang memang orang Indonesia, selalu datang membawa nampan yang berisi secangkir teh manis dan kue-kue kecil.

Tapi ya jangan harap bakal ditawarin makan malam bersama mereka, ya. Hehehehe.

***

It’s not about their belief, it’s about the people.

Saya ingat kalau saya kala itu masih termasuk orang yang suka bermain stereotip. Orang Jawa anu, orang Cina begini, orang Batak begitu, Orang Kristen bla bla bla.

She reminds me that it’s about the people :).

Baca : People We Haven’t Met Yet (5)

***

(bersambung)

Avatar, The God on Earth

Menjelang sebuah peristiwa penting, Avatar Aang galau bukan kepalang.

Komet diperkirakan akan datang ke dunia. Fire Lord akan memanfaatkan habis-habisan kesempatan ini untuk terus memperkuat posisinya dan membumihangsukan Ba Shing Se, pertahanan terakhir Negara Bumi.

Aang
Gambar : avatar.wikia.com

Avatar Aang adalah harapan terakhir penduduk dunia untuk perdamaian keempat negara : Bumi, Air, Api dan Angin. Aang yang menjadi tempat bertumpu untuk mengalahkan Fire Lord yang makin membabi buta.

“You should kill him. No other way!” Begitu kira-kira desakan orang-orang terhadap Aang.

Problem is .. Aang juga adalah seorang biksu. Dalam keyakinannya, Aang merasa kurang sreg kalau harus melenyapkan nyawa Fire Lord. Sekali pun tujuannya adalah perdamaian dunia.

Tapi Aang juga ribet. Naon etah mencegah keganasan Fire Lord tanpa harus ditebus ajal? Jalur perundingan ibarat kata sudah tidak mungkin lagi. Apalagi Prince Zucko (anak kandung Fire Lord yang akhirnya balik arah melawan ayahnya sendiri) terus merongrong Aang, “If you don’t kill him, he will kill you!”

Macam jalan buntu gitulah. Seolah membunuh Fire Lord adalah satu-satunya jalan mencegah kemungkaran yang makin merajalela.

Aang pun sempat menghilang untuk “menenangkan diri” sekaligus mencari jalan keluar.

avatar 2
Gambar : avatar.wikia.com

Sekilas sih ya, kita juga sering berada dalam posisi Aang. Ya enggak perlu selebay itu juga. Kudu bunuh siapa buat perdamaian dunia bla bla bla hahaha. Ngeri amat -_-.

Kadang, sesimpel apakah kita harus merayakan Breastfeeding week atau tidak? #eaaaaaa. Gatal kan loooo pengin bahas gini-ginian hahahahaha :p.

No, no, saya enggak ingin ceramah soal pentingnya ASI anu-anu. Sebaliknya, saya ingin membagi pengalaman saya mengapa peer pressure ASI vs sufor ini menjadi sedemikian rempong.

Si Mamah (ibu kandung saya), ASI full untuk kami bertujuh. Waktu saya tanya, jawabnya santai saja, “Kalian semua ogah dikasih botol. Majjallo’ maneng ko muitai botolo’e. Mana botol susu dulu mahal-mahal. Susu kaleng juga mahal.” Sesimpel itu hahahaha :p. Mana paham ibu saya soal generASI anu-anu, soal pentingnya ASI anu-anu. Pokoknya dulu sufor mahal.

(Majjallo’ maneng ko muitai botolo’e = mengamuk semua kalian kalau lihat botol susu!)

Tahu tidak sih, ibu saya tetap ke kios membantu bapak di pasar. Gak ada cuti-cutian pasca melahirkan. Tetap juga jahit menjahit dan segala macam. Jadi dulu, kalau ibu ke pasar, bayinya ditojang-tojang saja biar tidur dan tenang :p. Tojang = ayunan :p.

Mana kepikir ASI perasan. Kulkas aja enggak punya hahahaha. Nyusuinnya entar kalau sudah pulang dari pasar. Tidur malam nempel deh kita semua dinenenin sampai pagi. Katanya gitu strateginya biar bayi-bayi tetap ASI tapi si Mamah enggak perlu mompa apalagi cuti. Singkat kata, faktor ekonomi. Orang susah memang pilihannya enggak banyak ya hahahaha :p.

On the other hand, Mami (ibu mertua) saya, enggak ngASI :p. Alasannya ya karena tidak tahu. Malah karena harga susu formula dulunya agak mahal dan stok juga jarang, ngasih sufor menjadi prestise tersendiri. Don’t judge her, ya. Sebagai menantu, saya adalah saksi langsung, selain soal ASI, kita semua mungkin tidak ada apa-apanya dibanding beliau ;).

Mami itu merantau sejak menikah. Dari Sumatera ke Sulawesi. Tidak ada kerabat segala macam. Tahun segitu mah nazi-nazi ASI bisa dibilang belum ada hihihihi :p. Sedangkan kata si Mamah, kakek saya (bapak kandung si Mamah) selalu siap ceramah panjang lebar penuh ancaman kalau si Mamah ogah netekin anak kalau anaknya lagi nangis. Literally! Hahahaha.

Both si Mamah and Mami, dua-duanya role model saya dalam berbagai hal ^_^.

Gambar : bolsademulher.com
Gambar : bolsademulher.com

Kita jadi mamak-mamak di era yang berbeda. Era digital. Jangankan perkembangan anak sebelah rumah, ibu-ibu nun jauh di kutu sana bisa kita tahu anak-anaknya ngapain saja. Tinggal baca blog emaknya saja hahahaha :p.

Belum lagi media sosial. Segala Facebook-Path-Instagram, tersaji lengkap untuk memuaskan hasrat narsis kita. Manusia biasa pun kita semua. Penginnya diperhatikan kan? Enggak usah nyari-nyarii pembenaran. Mari kita iyakan bersama sambil salam-samalan :D.

Salahkah? Like I’ve said, dunia berputar, era ikut berubah. It’s something that you cannot deny. Terserah saja ngomong sampai berbusa, “Ih, sumpah lho, saya mah cuma mau sharing, enggak mau pamer.” Ah maca ciiiiihhhh? :p.

Dan lebih absurd lagi kalau kalian meributkan orang yang kalian anggap pamer. Oh C’mon. Ini internet, Cuy! Bukan diari! Hahaha :p.

Inilah yang mungkin terjadi kepada saya saat masa-masa ASI anak saya pertama dulu. I can’t stand my ego :'(. Dulu, karena terbawa emosi, saya pikir salah satu cara sukses berASI adalah being stubborn no matter what!!!

“Being stubborn” nya mungkin sudah cucok. Tapi … “no matter what”-nya itu yang harus belajar lagi kepada Avatar Aang :p.

Sangat percaya diri dengan semua persiapan yang sudah saya lakukan sejak hamil, benar-benar tidak siap kalau ternyata ngASInya … totally drama! Saya sampai ke klinik laktasi nun jauh di Cikini sana. Asking for help di milis ini itu. It broke me more, ASI tak kunjung lancar.

Bodohnya, saya kurang bisa menjaga perasaan ibu mertua dan suami saya. Padahal suami saya itu sangat-sangat mendukung keinginan saya untuk full ASI sekalipun faktanya si doi kan produk sufor :p.

Tentu saja, sebagai orang tua yang hidup di zaman berbeda, baik ibu mertua mau ibu kandung tidak bisa memahami kegalauan kita-kita ini, mamak-mamak muda era internet yang dikit-dikit google dikit-dikit ngintip wall orang lain hahahahaha :p.

SI Mamah maupun Mami sama-sama menasihati, “Pakai sufor aja napa sih?”

Disitulah dodolnya. Saya melampiaskan rasa kecewa kepada suami dan ibu mertua. Waktu itu masih tinggal di rumah mertua hihihi. Tanpa sadar, keras kepala saya dianggap perlawanan kepada sufor. Helooooo…suami produk sufor tuh! 😀 :p.

Padahal suami saya dan ibu mertua awalnya cukup mendukung. Cuma memang setelah dicoba banyak cara, ya disuruh kasih sufor saja. Saya juga tidak paham salahnya di mana waktu itu. Kalau gagal berarti ada masalah sama ibunya! Makin down, saya apa kena kutuk ya? Huhuhu.

Setelah masuk kantor dan lebih pasrah dan santai, voila! Saya sukses relaktasi ^_^. Dari meras cuma 50 cc saja sudah kayak orang gila senangnya, lama-lama penghasilan nambah :p. Sekali meras bisa hajar 300-400 cc. I did nothing! Gak tahu kenapa hahahaha.

Nah dari situ jadi belajar, sometimes, it’s just a matter of time dan memang kadang tidak harus semulus orang lain. Saya dulu kayaknya gagal berdamai dengan diri sendiri dan sok jagoan bakal berhasil. Stubborn-nya salah arah hahaha. Abis itu ASI lancar-lancar aja tuh ;). Prediksi saya sih harusnya anak kedua lebih gampang.

Memang benar, anak kedua lancaaarrrrrrrrrrrr, no drama at all! Ya ada sih puting lecet dan rasa sakit saat awal-awal. Tapi saya sudah tahu. Enggak usah drama, nanti juga sembuh sendiri hahaha.

Di anak ke-2 pun saya punya back up plan. Sebesar apa pun keinginan mau ngASI ekslusif, saya tetap beli botol-botol susu dan membeli sekaleng susu formula buat jaga-jaga ^_^. Ya jadinya buang-buang duit, karena expired tanpa tersentuh satu sendok pun! :D.

Nah, belajar dari kondisi si Mamah di masa lalu, saya sepakat satu hal. Sekarang itu gampang bener jualan sufor bayi. Gila, mereknya macam-macam dan menguasai sampai beberapa lorong sekaligus di supermarket. Bukan “barang mewah” lagi kayak dulu. Belum lagi iklan-iklannya yang bagus-bagus banget dan sangat inspiratif :).

Iklan sufor biasanya penuh pesan bersahabat dan non judgemental.  Iklan ASI? Slogannya saja kadang sudah  ngajak berantem duluan, “Anak ibu minum susu ibu, anak sapi minum susu sapi.” Inspiratif belah mana coba? Hahaha :p.

Sadar tidak sih kalian, iklan keren ini digagas oleh produsen susu formula? 😉

https://www.youtube.com/watch?v=jePmMqqQNas

Ini yang harusnya kita ‘lawan’ sama-sama ;). Gimana caranya biar produsen sufor bayi tidak seleluasa itu “jualan” di “tempat umum”.

Di Jeddah agak susah lho nemu sufor bayi. Kalaupun ada, terbatas banget. Pilihannya sedikit. Susu tertentu hanya dijual di apotik bukan di supermarket terbuka. Lumayan kan membatasi effort untuk mendapatkannya.

Di Irlandia sini, mereka sangat mendukung breastfeeding. Tapi tidak disertai dengan judgemental berlebihan. Misalnya nih, setiap cek ke rumah sakit, kita selalu ditanya apakah mau ASI atau tidak? Ada pilihan itu di kartu kita. Jadi, pihak medis berusaha keras kampanye ASI tapi pada akhirnya … pilihan tetap diserahkan kepada para ibu :).

Yang kurang kita sadari, memang ada ibu-ibu yang SECARA SADAR memang tidak mau ngotot ngasih ASI.

Memang ada yang enggak ngASI karena kudet. Tapi percayalah, orang-orang kudet ini bukan mereka yang aktif berantem di media sosal atau di blog hahahaha. Mereka ada di dusun-dusun terpencil sana yang boro-boro fesbukan atau menikmati foto ASi kalian satu freezer di blog masing-masing :p, punya TV aja mungkin enggak.

Itu yang harusnya jadi sasaran kampanye lebih intensif :).

Saya sih pesimis kalangan menengah ke atas yang melek internet enggak ngasih ASI karena “ketidaktahuan” :p. Kalau pun mereka terlihat bersembunyi di balik alasan “ketidakberdayaan”, ya itu jangan-jangan karena kalian, yang pro ASI, terlalu keras judgement-nya ;). Jadi, yang nyalinya agak lemah mana berani terang-terangan hahaha.

Pilihan mereka bukan urusan kita. Toh mereka memilih bukan karena tidak tahu ;). Leave them alone. Bukan mereka sasaran kampanye model begini.

***

Kitara, perwakilan dari Negara Air, sahabat dekat Avatar Aang, ikut bersuara soal Fire Lord, “Jangan khawatir Aang. Orang-orang tahu niatmu tidak jahat. Kau harus membunuh Lord Fire untuk kebaikan yang lebih besar.”

Yes, Aang juga sadar soal itu. Dia tahu, yang dilawannya adalah dirinya sendiri. Menurut dia, itu justru yang lebih penting ketimbang mikirin ucapan orang lain :). Walau seluruh dunia akan mampu memahami niatnya, tapi Aang tahu tindakan membunuh itu bukan jalan keluar terbaik.

avatar fire lord
Gambar : avatar. wikia.com

Spoiler dikit, ya. Aang berhasil menaklukkan Fire Lord sekaligus memaksanya hengkang dari tahta kekuasaan. Tapi TIDAK dengan membunuh. Aang, somehow, menemukan cara untuk menghapuskan kekuatan Fire Lord yang punya kemampuan mengendalikan api dan petir. Kekuatan itulah yang dihilangkan oleh Aang ;). Karena sudah tidak berdaya dengan jurus-jurus api dan petirnya, ya tentu sulit bagi Fire Lord mau petantang petenteng lagi ;).

Nah, itulah yang harusnya kita temukan solusinya bersama. Apa sih kira-kira yang menyebabkan pemberian ASI kepada bayi masih kurang maksimal selain “penyerangan terhadap kaum ibu itu sendiri”? Malah berantem sendiri coba yaaaaaaa :p.

Sekeras apa pun niat yang kalian klaim baik itu, cobalah untuk mundur sejenak dan sedikit menekan ego. Kalau cara yang kalian anggap baik itu nyata-nyatanya akan menyakiti (sebagian) orang lain, bisakah kita sedikit menjelma jadi seorang Avatar? :p.

Mungkin … kita bisa lebih fokus mendesak perusahaan untuk menyediakan lebih banyak nursery dan kenyamanan buat para perempuan bekerja yang lagi ngASI. Sufor buat bayi kita usulkan untuk dinaikin harganya. Persulit akses membeli sufor bayi. Kalau untuk nambah cuti ya gimana ya. Belum cocok dengan sikon ekonomi tanah air kita :).

Tapi jangan merasa terhakimi ya. Mohon maaf :). Ya, ya, ya, kita pun semua pernah ada di masa-masa di mana rasanya anak nyengir dikit aja pengin upload foto-fotonya dia dari semua posisi! Hahahaha. Anak pertama dokumentasinya paling tokcer dah :p.

As time went by, nanti semuanya juga settle sendiri kok ;). Monggo diterusn berantemnya. SEperti biasa, saya numpang eksis ajah kok intinya hahahaha *benerinKutang* :p.

***