What’s Your Hajj Story (5) – FInale

Bagian 1, bagian 2, bagian 3, bagian 4

Tanggal 11 Dzulhijjah memang yang terberat buat kami. Tapi alhamdulillah semua rukun haji selesai di tanggal itu. Selepas Sa’i, secara rukun, kami resmi menyandang gelar haji. Insya Allah mabrur. Amin :).

Pas tidur malamnya terasa deh betis dan kaki mulai pegel. Tapi doa saya malam itu, “Ya Allah, beri kekuatan untuk melakukan tawaf
wada besok sore.” Menurut beberapa teman, boleh saja pemukim Jeddah tidak melakukan wada saat itu juga. Pulang dulu saja ke Jeddah, nanti balik lagi untuk melakukan tawaf wada.

Tapi ya, sudah kadung semangat masih membara hehehe. Toh, bis kami pasti mampir di Mekkah dulu. Daripada bengong di bis, sekalian saja ingin ikut tawaf wada.

Tanggal 12 hari terakhir di Mina. Karena mengambil nafar awal, sebelum senja tiba, kami sudah harus meninggalkan Mina.

Paginya saat di kamar mandi, kaget bukan kepalang. I got my period that morning. Saya sibuk menghitung hari. Seharusnya masih 3 hari lagi waktunya. Kok cepat banget, ya. Hampir tidak pernah jadwal mens saya kecepetan, kalau telat sih pernah.

Saya berpikir positif saja. Mungkin ini jawaban Tuhan atas doa semalam. Saya malah tidak diizinkan untuk ikut tawaf wada hari itu.

Tapi mohon diingat, satu-satunya ritual haji yang ‘terlarang’ bagi wanita yang sedang haid hanya tawaf saja. Sisanya tetap boleh. Wukuf boleh, melontar jumrah boleh. Jadi, menurut saya sih, pemakaian obat-obatan tertentu untuk mencegah jadwal mens itu tidak perlu. Tidak baik pula untuk kesehatan, kan?

Kami melontar jumrah terakhir di pagi hari. Jam 7 sudah menuju stasiun. Kereta kosong melompong. Baru deh kepikiran foto-foto hehehe. Kereta juga cepat datangnya.

Tempat lontar jumrah lantai 4 di hari ke-3 itu benar-benar sepi. Kami berjalan dari stasiun menuju Jumarat sambil mencari kerikil-kerikil kecil buat melontar. Karena sepi banget, cukup aman berjalan sambil sesekali jongkok mungutin kerikil.

Pulang ke tenda, mulai deh beres-beres isi tas segala macam. Beberapa teman mulai pamit. Mereka ke Mekkah sendiri lebih awal tanpa menunggu rombongan. Tapi sebagian besar teman satu tenda saya mengambil nafar akhir. Meninggalkan Mina-nya tanggal 13.

Terharu juga saat pamit. Teman-teman menyalami saya satu persatu. “We’re gonna miss you. Take care. Ma’assalamah. Wada’an.”

***

Bis tiba di Kudai jam setengah tiga sore. Supirnya memberi waktu 4 jam saja katanya. Jam setengah 7 sudah harus berangkat ke Jeddah.

Biarpun tidak ikut tawaf, ogah nunggu sendirian dalam bis. Saya ikut ke Masjidil Haram.

Begitu tiba sudah mulai deg-degan. Hampir semua pintu dikepung pria berseragam coklat. Sempat terjadi kehebohan di salah satu pintu. Beberapa orang mendobrak masuk dan mematahkan brikade para petugas. Tapi dengan sigap, para petugas itu kembali berdiri tegak menghalau orang yang ingin masuk.

Rupanya akses ke lantai 1 ditutup rapat. Kami berhasil menemukan pintu masuk yang cuma ada tanggal langsung menuju lantai 2. Suami sudah tidak berminat turun ke lantai 1. Langsung saja menuju tempat tawaf di lantai 2. Sementara saya dan si kecil menunggu di salah satu sudut masjid yang cukup lengang.

Tadinya ingin memanfaatkan waktu dengan kembali membaca ulang buku-buku doa yang masih tersimpan lengkap dalam tas. Apa daya, si kecil baterainya sedang full :D.

Dia berlarian kesana kemari. Ada bocah laki-laki Arab yang berusia sekitar 3 tahun yang tahu-tahu muncul dan mendorongnya hingga terjatuh. Dia bangkit, menangis, dan berlari kembali ke arah saya.

Saya pikir dia kapok. Salah besar. Dia bangkit lagi menuju ke tempat anak kecil tadi. Eh, mau ngapain tuh?

Anak saya berdiri tegak dengan tangan terkepal. Mukanya serius banget. Anak kecil tadi juga maju dan mulai menghentakkan kakinya. Anak saya diam saja. Anak kecil itu mulai mendorong. Saya masih penasaran jadi saya biarkan dulu.

Ternyata, sabar tidak berarti penakut ya, Nak. Dilabrak sedikit, anak saya sempat terdorong mundur, tapi tangannya masih terkepal dan dia tidak berlari menjauh. Tapi mukanya dong lucu banget. Sudah mewek hampir menangis. Hahahahahaha. Lembut bukan berarti tidak punya nyali ya, Nak. Ini baru orang bugis :p.

Ketika terlihat anak kecil tadi sudah akan mendorong lebih keras, saya langsung berdiri, berteriak tegas, “Laa. Hadza walad. No, don’t hit him!”

Akhirnya saya menghabiskan waktu duduk-duduk dengan pandangan penuh mengawasi si kecil yang berlarian kesana kemari. Dibujuk biar tidur enggak mempan juga.

***

Nyaris 4 jam menunggu, tak lama, suami muncul dengan langkah tertatih-tatih. “Aduh, penuhnya, Dek. Untung saja Adek lagi haid. Gak bisa bayangin kalau harus tawaf yang ini sambil gendong anak kecil.”

Ini rupanya hikmah kenapa jadwal menstruasi saya yang biasanya sangat teratur (kalaupun tidak pas, biasanya telat atau mundur) tiba-tiba dimajukan 3 hari :).

All out banget deh Pak Haji kita yang satu ini. Tawaf qudum 1.5 jam, tawaf ifada 2.5 jam, plus tawaf wada nyaris 4 jam, semuanya dibabat habis. Hehehe. Insya Allah mabrur ya, Haji Dani Rosyadi :).

Tadinya saya sudah rela menggendong si kecil balik lagi ke Kudai. Tapi ternyata… suasana di luar masjid sama ‘horor’nya. Super penuh. Suami yang tadinya jalannya agak pincang mendadak gesit lagi. Sambil gendong si kecil dan tangannya yang satu memegangi saya.

Benar-benar padat. Belum lagi yang tidak sabaran berteriak-teriak, “Yalla! Yalla! Imsi, Imsi. Rouh, Rouh!” Pasrah deh didorong sana-sini diantara lautan manusia segitu banyak.

Akhirnya tiba dengan sempoyongan di bus station. Naik bis, yang alhamdulillah belum terlalu padat, menuju Kudai. Di Kudai kita sudah setengah berlari menuju parkiran bis. Soalnya jam telah menunjukkan pukul 8.30 malam. Kami terlambat 2 jam!

Tapi begitu mencapai bis, kami termasuk jemaah pertama yang tiba. Hanya tampak sepasang suami istri dan si supir yang sudah tampak gelisah.

Baru duduk sebentar di kursi bis, suami tiba-tiba berseru, “Ya ampun, makan malamnya Narda gimana?” Rasa letihnya mendadak luntur, suami langsung melesat keluar bis, lari ke seberang jalan mencari baqala.

Tak lama datang membawa kresek, isinya jus kotak, air mineral, roti-roti, dan kue-kue. Masya Allah :'(. You’re the best, Pak Haji :D.

Satu persatu jemaah lain mulai datang. Wajah-wajah kelelahan, langkah terpincang-pincang, saling menyambut dengan ucapan, “Mabruk, mabruk. Hajj Mabruran Insya Allah.”

لاحول و لا قوه الا بالله العلي العظيم

Laa Hawla wa laa Quwwata Illa Billah

( “Tidak ada usaha, kekuatan dan upaya selain dengan kehendak Allah.”)

Hingga jam 10 malam, bis tak kunjung penuh. Menjelang pukul 11, akhirnya semua penumpang sudah duduk di kursi masing-masing. Jalanan macet luar biasa untuk keluar dari Mekkah. Pukul setengah dua dinihari barulah kami tiba di pelataran parkir hamla Al Mahabbah di Palestine Street, Jeddah.

Untung tempatnya sangat dekat dengan gedung apartemen kami, naik taksi 5 menit, tiba di rumah dengan selamat :).

Semoga menjadi haji yang mabrur. Terima kasih sudah diberi kekuatan untuk melewatkan semua ritual haji ini dengan cukup lancar, ya Allah.

Kalau mendengar cerita Tante suami yang kebetulan juga berhaji tahun ini, kami jauh lebih beruntung. Haji reguler dari Indonesia jalan kaki selama prosesi lontar jumrah, pulang pergi. Kami diberi kemudahan dengan fasilitas kereta.

Kata Tante juga, tenda di Mina cuma tidur diatas karpet. Isinya cukup padat sehingga agak sulit jika ingin meluruskan kaki saat tidur :(. Sementara kami tidur di atas tempat tidur yang sudah dilengkapi selimut + kasur. Kami juga membayar biaya yang jauh lebih murah (dengan fasilitas luar biasa) dengan durasi waktu yang jauh lebih pendek.

Mungkin ada seribu alasan untuk mengutuk Jeddah sebagai kota yang terasa sangat mengekang. Tapi ada sejuta alasan lain untuk melewati hari-hari di sini dengan senyum menyenangkan ;).

***

Jika Tuhan menghendaki dan memberi restu, (mungkin) tahun 2012 ini adalah tahun terakhir kami di Jeddah.Mudah-mudahan kali ini Allah berkenan :).

Setelah di bulan Juni kemarin, proses visa kami menuju salah satu kota di Negara Jantung Dunia terhambat. Quota visa imigran dinyatakan habis 2 minggu setelah kami mengirimkan dokumen untuk pengurusan visa.

Ini pun hikmah Allah untuk mengizinkan kami berhaji dulu di tahun ini. Sebelum melangkahkan kaki meninggalkan kota indah sarat kenangan yang berjarak hanya 40 menit dari Rumah Allah.

Terima kasih atas kesempatannya ya Allah. Izinkan kami untuk menikmati belahan bumiMu yang lain :). Dan tentu jika kau perkenankan kami ke sana, jangan tutup pintuMu agar kami bisa mengunjungi rumahMu di lain waktu.

Amin.

(Tamat)

What’s Your Hajj Story (4), Biaya Naik Haji

Sekadar info awal, biaya naik haji untuk perjalanan dari Jeddah tahun 2012 itu sekitar 4500 riyal per orang. Kami berangkat dari Jeddah karena memang saat itu sedang bermukim di sana.

Bagian 1, bagian 2, bagian 3

Jam setengah tujuh meninggalkan tenda Arafah. Tiba di tenda Mina sekitar jam 10 malam. Langsung memandikan si kecil, mengganti bajunya, dan membiarkannya tidur nyaman di atas kasur. Pahlawan kecilnya Mama :).

Teman sebelah menawarkan untuk menjaga si kecil dan mempersilakan saya mandi. Senangnya. Untung juga pas kamar mandi sedang sepi. Mungkin banyak orang masih ‘berjuang’ di jalan dalam perjalanan pulang dari Arafah.

Mandi sekedarnya lalu langsung pulas di sebelah si kecil.

***

Keesokan paginya, subuh-subuh sudah heboh. Orang-orang saling berjabat tangan dan berpelukan. Sempat bengong sebentar. Hingga akhirnya Eyma, salah satu penghuni tenda yang sama, menghampiri saya, “Happy Ied, Jihan.”

Ya ampun, 10 Dzuhijjah, ya. Hari raya qurban. Yayyyy. Kemeriahannya berlangsung hingga ke kamar mandi. Tiap orang berpelukan dan mengucapkan selamat. Saya ikut-ikutan deh hehehehe. Ikut meluk-meluk dan jabat tangan dengan siapa saja yang melintas :D.

Aduh, senangnya. Rasa keki karena peristiwa semalam, terkurung antrian selama 3 jam menuju kereta, menguap tak berbekas di pagi itu ^_^.

Siapa bilang merayakan hari raya di negeri orang tidak seru? Ingat ya rumusnya “Bunda of Arabia” :D. Happiness is not given…it is made ;).

***

Sebagian besar penghuni tenda saya melontar jumrah hari pertama itu di waktu fajar. Jam 6 pagi mereka sudah menenteng anak-masing-masing (dari 16 orang, 9 perempuan di tenda saya membawa balita), bersama para suami, bergegas menuju stasiun kereta.

Biaya naik haji
Bareng Ibu Hajjah Indira 😀

Oiya, melontar jumrah ini pun sejak hari pertama tidak mendapat bimbingan apa pun dari hamla. Berangkat sendiri-sendiri saja. Toh, stasiun keretanya (Mina 1) dekat sekali dari tenda ;).

“Kita juga berangkat, yuk.” Kata saya pada suami.

“Kasihan si kecil. Belum bangun, kan? Abis dia sarapan saja, ya.”

Sebenarnya sudah gelisah, ya. Penginnya pagi. Apalagi ketika rombongan melontar jumrah itu sudah kembali ke tenda jam 8! Wah, sementara kami belum beranjak sedkit pun :(.

Akhirnya setelah anak kami bangun dan sarapan, jam setengah 9 kami bertiga berjalan menuju stasiun.

Ternyata…kereta menuju Jumarat-Place dihentikan sebentar. Katanya 4 jam lagi baru ‘on’. Tapi dari arah sebaliknya, orang-orang dari Jumarat masih bebas lalu lalang. Masa mau balik ke tenda?

Jadinya di hari pertama itu, kami jalan kaki dari tenda Mina menuju Jumarat. Jaraknya sekitar 4 km. Rasa kesal sudah mulai menghantui. Kenapa gak berangkat lebih pagi, sih? Dari awal saya sudah uring-uringan.

Benar saja. Kesabaran runtuh setelah hampir sejam menempuh perjalanan yang cenderung mendaki di bawah panggangan matahari. Aduh, malu ih kalau ingat *blushing*. Lupa sama semuanya. Pundung tidak karuan saat itu.

Padahal suami dan anak saya biasa-biasa saja. Seperti biasa, anak kami malah sering ketiduran. Dasar mamak-mamak pemarah :P. Waktu mogok jalan dan duduk di pinggiran, banyak lho perempuan paruh baya yang melintas. Berjalan penuh semangat sambil tak putus-putusnya bertalbiyah.

Tapi emosi masih membakar, saya malah meracau tidak jelas. Marah-marah ke suami. Suami saya diam saja :'(. Jadi, saya nyap-nyap sendiri kayak orang gila :P.

Akhirnya setelah 1.5 jam berjalan kaki, tibalah kami di tempat melontar jumrah. Kami memilih lantai 4. Cukup lengang. Tidak ada istilah berdesak-desakan sama sekali. Rasa pundung berangsur menghilang.

Apalagi pas pulangnya naik kereta. Hehehe. Jarak stasiun Jumarat (Mina 3) dekat banget. Cuma 10 menit berjalan kaki santai.

Tiba di tenda Mina, tukang cukur sudah ada dimana-mana. Lantunan talbiyah mulai tenggelam berganti dengan gema takbir, “Allahuakbar, allahuakbar, allahuakbar, walillaahilham…”

Suami langsung mencukur rambut. Bayar 10 riyal, dalam tempo semenit langsung plontos. Usai sudah masa berihram :). Pulang ke tenda, suami mandi, melepas kostum ihram dengan baju biasa.

Karena kelelahan, diputuskan tawaf ifada besok saja.

***

Malamnya agak santai. Saya bermain-main dengan anak-anak kecil dalam tenda saya. Aneh juga, ya. Terus terang saya memang bukan pencinta anak kecil. Dengan anak sendiri saja maunya hehehe. Di kalangan teman-teman Indonesia disini, sudah terkenal deh, Tante Jihan yang galak ala ‘ibu tiri’ ahahahaha.

Si bayi populer, Sultan, paling emoh digendong ama saya. Padahal orang tuanya, Raiz dan Nira, adalah salah satu teman-teman paling akrab saya dan suami :P.

Nah, si anak-anak kecil Arab itu malah gelendotan melulu ke saya. Tangan kiri dipeluk si kecil Joseph, tangan kanan menggendong si kriwil Hamzah. Kata ibu-ibu mereka, pengasuh mereka itu orang Filipina. Wajarlah mereka demen dengan tampang Asia ;).

Jadi, 2 malam terakhir di Mina itu, si nenek sihir menjelma menjadi nanny :P. Hehehe.

***

Belajar dari pengalaman tanggal 10 kemarinnya, tanggal 11 kami bergerak lebih pagi. Jam 6 sudah siap dan sudah sarapan. anak yang masih tidur digotong saja.

Kami berjalan ke arah Musdalifah mencari angkutan menuju Mekkah. Cuma 5 menit menunggu di tepi jalan, datang deh sebuah mobil omprengan tujuan Mekkah. Ongkosnya cuma 30 riyal per orang.

Kota Mekkah masih sunyi sekali di pagi itu. Turunnya dekat masjidil Haram. Kami mampir sebentar membeli sarapan buat si kecil+ dua gelas teh hangat.

Masuk ke masjidil haram pun masih relatif sepi. Tapi tawaf di lantai 1 sudah sangat sesak. Tapi kami tetap nekad menembus masuk.

Sekitar 30 detik terkurung di himpitan orang-orang dan tidak bergerak maju sedikit pun, suami langsung memberi instruksi tegas, “Keluar! Keluar! Kita tawaf di lantai 2 saja.”

Suami langsung sadar kalau terpanggang sinar matahari, saya bisa ‘kumat’, ngomel gak karuan ahahahahahaha :P.

Keputusan yang sangat tepat tawaf di lantai 2. Kami pikir, kepadatan di tanggal 11 harusnya sudah berkurang. Ternyata padat juga.

Lantai 2 adem banget. Full AC dan kipas angin dimana-mana. Sejuknya. Biarpun rada keder saat mengedarkan pandangan dan menyadari betapa panjangnya jarak tempuh di lantai 2 ini *ngelapKeringat*.

3 putaran pertama relatif nyaman. Memasuki putaran ke-4, bottle neck nya mulai memanjang. Tapi masih lebih banyak rute yang ‘lengang’. Mulai deh senggol-senggolan, dorong-dorongan, dan saling menghardik :'(.

Akhirnya tawaf ifada tuntas dalam tempo 2.5 jam non stop. Boro-boro deh mau mampir istirahat. Usai putaran ke-7, sakit-sakit badan berusaha menembus keluar dari jalur tawaf. Di lantai 2, jalur tawaf sudah bercampur dengan rombongan sa’i.

Salut juga sama suami. Membawa beban hampir 11 kilo selama 7 putaran penuh, 2.5 jam tanpa henti, tidak mengurangi rasa khusyuk membaca doa. Proud of you, Haji Dani hehehehe.

Selesai tawaf masih harus segera lanjut sa’i. Terlebih dahulu salat 2 rakaat, pokoknya begitu ketemu tempat kosong, langsung salat saja. Suami ngantri ngambilin air zam-zam sebentar. Antriannya sesak, tapi gesit juga suami hehehe. 5 menit sudah datang membawa 2 botol air dan 2 gelas air zam-zam.

Duduk sebentar di wilayah Safa, sedikit mengatur nafas. Suami memperkirakan kalau Sa’i waktunya harusnya mirip-mirip dengan periode Sa’i normal karena jarak tempuhnya sama dan lurus-lurus saja.

Gak berlama-lama duduk, karena takut keburu makin sesak, kami langsung bergegas melaksanakan Sa’i. Benar kata suami, cuma butuh 1 jam saja. Normalnya sih, saat bukan musim haji dan ramadan, kami sa’i sekitar 40 menit.

Tapi keluar dari masjidil haram pun mesti mengerahkan kekuatan penuh. Sempat melihat tempat sa’i di lantai 1. Subhanallah, penuhnya luar biasa! Seperti tidak bergerak sama sekali.

Kaki sudah kebas benar rasanya. Tapi ritual haji di hari itu belum berakhir. Masih harus melontar jumrah. Mengingat si kecil, kami menuju supermarket “Bin Dawood” dulu. Ramainya susasana di luar haram.

Di Bin Dawood membeli biskuit, wafer, susu, dsb. Untungnya anak saya yang nomor 2 ini, selain sabar, apa aja mudah dilahap. Roti-rotian Arab saja dia doyan. Nasi ok, biskuit boleh, wafer juga demen :P.

Lalu menuju Kudai dengan bis Saptco. Tiba di Kudai, berusaha mencari taksi menuju stasiun Musdalifah 3. Tarif taksinya 100 riyal. Ya sudahlah.

Gak antri sama sekali di stasiun dan kereta pun segera datang. Alhamdulillah. Setelah 25 menit, tiba di stasiun Mina 3 (Jumarat). Lagi-lagi kami ke lantai 4. Gak ramai-ramai banget, lho. Lancar saja tidak pakai antri.

Tempat jumarat memang sudah jauh berbeda sekarang ini. Selain sudah dibuat 4 lantai, tugunya pun diperlebar semua.

Setelah melontar jumrah, langsung balik ke stasiun kereta lagi. Tiba di tenda Mina, tidak ada istilah santai-santai. Buru-buru memandikan si kecil, ganti baju, dan titip ke suami sebentar. Biarpun badan sudah rontok, tetap harus makan dulu sebelum tidur.

Orang Arab jadwal makan malamnya jam 9 malam. Hadeuhhh, dah gak kuat nungguin. Jadinya habis mandi, makan indomie gelas + satu butir telur rebus sisa sarapan. Lumayan lah.

Setelah itu tepar di atas kasur berdua anak saya. Sekitar jam setengah sepuluh malam, kaki saya ditepuk-tepuk. Makan malam sudah datang. Naimee, teman satu tenda, menaruh satu kotak Al Baik di dekat kaki saya. Tadinya sih mata sudah ingin terpejam lagi, tapi aroma nugget ayam bikin perut yang memang tidak diisi dengan semestinya di hari itu langsung memberontak.

Dengan mata setengah mengantuk, setengah porsi Al Baik itu ludes dalam tempo 10 menit saja. Hehehehehe. Laper ni yeeeee :P.

***

(bersambung ke bagian terakhir di sini :D)

Menuju Padang Arafah Arab Saudi

What’s Your Hajj Story (3), Pergi Haji dari Jeddah

Kisah pergi haji kami dimulai dari tulisan ini –> Bagian 1, bagian 2

***

Tenda di Arafah bentuknya juga compound. Hamla kami khusus menyewa kumpulan tenda secara terpisah. Kamar mandinya juga khusus. Gak kalah nyamannya dengan tenda Mina *laaaaffff*.

Tendanya tapi cuma beralas karpet tebal. Mungkin karena enggak bakal menginap. Tapi tiap jemaah dibagi-bagikan kantong tidur. Lumayan, dapat gratisan lagi hehehe. 

Untuk perempuan, ada 5 tenda besar. Satu tenda isinya sekitar 70 – 80 orang. Tendanya lapang dengan atap yang tinggi. Pendingin ruangan disediakan di setiap penjuru tenda. Plus satu kipas angin besar.

Tapi memang nih, orang-orang Arab, rasa sabarnya memang pas-pasan hehehehe. Sejam pertama tiba di Arafah, diisi dengan drama perebutan AC. Iya, masing-masing berkeras mengontrol arah angin dari AC besar tersebut. Duh, ributnya mereka saling berdebat :(.

Sembari ibu-ibunya sibuk adu mulut, anak-anak kecilnya meraung-raung. Mungkin kegerahan. Padahal kok ya buat saya, rasanya adem-adem aja, ya hehehe. Untungnya anak saya lagi-lagi gak ikut-ikutan rewel. Dia asyik saja bermain-main dengan kantong tidur.

Akhirnya ‘kerusuhan’ berakhir saat azan dzuhur. Setelah salat berjamaah, makanan datang. Nasi kabsah yang disajikan dalam bentuk nampan. Sempat bingung juga. Secara ‘beda warna’ sendiri. Satu tenda disapu bersih orang Arab. Teman-teman satu tenda di Mina duduknya sudah tersebar-sebar pula.

Tapi akhirnya dengan membawa nampan kosong, memberanikan diri mendekati 3 orang ibu-ibu yang asyik makan senampan, “Can I have a little?”

Mereka menyambut dengan ramah nampan saya. Diisinya malah banyak banget sampai saya mesti berkeras, “Khalas, khalas. It’s too much.”

Salah seorang dari mereka memandangi saya sambil senyum-senyum, “You should eat more. Look at you. You’re too skinny.” La ya jangan disamain atuh bodi Asia ama bodi Arab hihihi *benerinKorset*.

Sembari menikmati segambreng hidangan dalam nampan seorang sendiri, saya didekati seorang Ibu yang datang dengan menggendong balita. Dia berbahasa Arab. Saya sedikit-sedikit menangkap maksudnya. Dia minta nasi sedikit.

Saya menyodorkan nampan saya, “Sorry, mafi Arabic. But you can sit here, eat with me.” Alhamdulillah, orang Mesir ternyata. Dan fasih berbahasa Inggris. Akhirnya saya punya teman makan (sekaligus temen ngerumpi sembari ngunyah) :D.

Sehabis makan, sebagian besar ibu-ibu di tenda saya malah ketiduran. Anak-anak ramai berlari-lari. Si kecil lagi ganti shift ke bapaknya hehehe. Dibawa ke tenda laki-laki. Kata suami, dia sudah pules ;).

Biarpun suasana tenda agak gaduh dengan suara ibu-ibu lain yang malah asyik mengobrol, saya berusaha konsentrasi berdoa. Mengeluarkan buku-buku doa yang sudah disiapkan sejak jauh-jauh hari. Sembari sesekali mengecek BB, intip-intip siapa saja yang menitip doa via BBM dan FB. Hehehe.

Alhamdulillah, kesendirian tidak menghalangi niat beribadah. Malah ketika terbenam seorang diri dalam tangis, seseorang menepuk bahu saya perlahan, menyodorkan tisu dan air mineral. Masya Allah :). Terima kasih banyak, Saudariku <3. 

Setelah usai memanjatkan doa, saya saling bertukar buku dengan suami. Kami janjian di pintu batas tenda perempuan dan laki-laki. Sekaligus ganti shift jagain si kecil hehehe.

Tiba kembali di tenda perempuan, anak saya lagi-lagi tertidur pulas. Nampaknya tahu kalau mamanya butuh konsentrasi untuk memanfaatkan sedikit waktu memohon belas kasihan melalui munajat panjang kepadaNya. Di tempat dan waktu yang konon salah satu yang paling mustajab itu.

Menjelang senja, tidak sedikit jemaah keluar dari tenda. Kami duduk bersama-sama memandangi senja yang mulai merambat turun. Kami berharap waktu bisa berhenti berputar saat itu dan matahari jangan sampai terbenam :'(.

Akhirnya waktu magrib tiba. Kami berkemas-kemas. Selanjutnya berjalan bersama-sama lagi, berbaris di jalanan. Antri menuju stasiun untuk kembali ke Mina, dengan menggunakan fasilitas kereta.

Sangat sedih melihat jalanan yang mulai kosong oleh para haji koboi tapi meninggalkan tumpukan sampah dimana-mana. Bau pesing yang menyengat pula :'(. Saya tahu, ibadah kepada Allah itu nomor satu, tapi bukankah kebersihan pun sebagian dari Iman? :(.

Tahu tidak, dari buku sejarah “Perang Suci” karya Karen Armstrong dituliskan bahwa orang-orang Eropa Barat belajar mandi dari orang-orang muslim di jazirah Arab. Mereka belajar kebersihan justru dari kaum muslimin. But look at us now :(. And look at them now.

Pergi Haji 2012 dari Jeddah tahun 2012
Bareng keluarga Bang Man dan istri di COrniche Road (2012)

 

***

Jika paginya suasana antri menuju stasiun tertib dan syahdu oleh lantuntan talbiyah, maka suasana pulang berubah 180 derajat! Kami mengantri hingga 3 jam!!!

Dalam 3 jam itu, berdesakan dan berhimpitan, diselingi suara orang-orang yang berteriak mengamuk. Anak-anak kecil bergantian meraung. Keringat sudah mengucur dari atas hingga ke alas kaki. Entah berapa kali kena sikut.

Saya, yang stok sabarnya sering negatif ini :P, mendadak ‘kalem’. Salah satu penyebabnya ya karena anak kami. Anak kecil umur 1.5 tahun ini tidak sedikit pun rewel. Tak ada tangis sebutir pun. Mukanya lempeng aja. Sesekali tertidur malah.

Padahal badannya sudah basah penuh keringat. Anakku sayang :'(. Penyemangat Mama selama hajian kemarin.

Suami juga anteng banget. Tidak pernah tersulut sedikit pun. Tidak sekali pun ikut berteriak-teriak atau memasang wajah emosi. Padahal lumayan kan gendong si kecil non stop 3 jam! Sambil sikut-sikutan dan sesekali tangannya memeluk saya. Maklum bininya mini begini hehehehe.

Dari tawaf qudum selama 1.5 jam, hingga perjalanan jalan kaki lainnya, saya tak pernah menggendong si kecil sedetik pun.

Untuk suami dan anak luar biasa ini :

Bismillahirrahmanirrahim… fabiayyi alaa irabbikuma tukazziban..

“Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang… Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”

***

(bersambung ke sini)

What’s Your Hajj Story? Kisah Naik Haji (bagian 2)

Kisah naik haji ini bagian 1-nya di sini. 

Salah satu kegelisahan saya menjelang naik haji ada cerita beberapa teman yang juga berhaji dengan menggunakan hamla Arab. Beberapa bercerita, mentang-mentang orang Indonesia, suka disuruh-suruh ini itu oleh jemaah Arab lainnya. Walah, saya kan orangnya gampang tersulut, ya :P. Gimana nih?

Tapi niatnya mau naik haji kok ya mikirin macam-macam. Jadinya saya pasrah saja, deh. Sudah siap-siap mental kalau di’bully’ ama perempuan-perempuan Arab di tenda hihihi.

Dalam tenda saya, dari 16 orang perempuan dewasa, 15 orang lainnya adalah perempuan Arab asal Mesir. Dibully beneran gak, nih? Ternyata … engga dooooooong :P. Tidak sama sekali ;).

‘Strategi’ saya adalah, jangan diam saja! Gak susah lah, secara orangnya memang kepo dan doyan ngoceh hahaha. Tak bisa berbahasa Arab tapi kan bisa bahasa Inggris ;).

Dari pertama masuk tenda, sudah memasang tampang penuh percaya diri, tangan kanan menggendong si kecil, tangan kiri nenteng tas, bersuara lantang, “Where can I sleep and put my stuff?”

Seorang dari mereka, yang paling fasih berbahasa Inggris, menyambut dengan senyum sangat ramah. “Welcome, welcome. You can pick any place. But some are already booked.”

Jalan Menuju Arafah dari Mina
Jalan Menuju Arafah dari Mina

Semua tempat tidur bawah sudah terisi. Jadi, saya kebagian tempat tidur tingkat atas. Which is anugerah juga. Tempatnya lebih luas dan tidak terlalu pengap.

Mereka semuanya baik banget :). Tidak ada diskriminasi sedikit pun. Apalagi nyuruh-nyuruh gak jelas. Di siang hari malah saya leluasa ke kamar mandi atau keluar tenda sebentar jika ada keperluan dan menitipkan anak saya ke salah satu dari mereka.

Tadinya ada 2 ibu-ibu yang nampak agak ‘segan’. Saya pikir, ya sudahlah, you just can’t have it all. Setidaknya ada 13 orang lainnya yang gak lelah ngajakin ngobrol dan kompak membuat saya merasa senyaman mungkin :).

Sebagian terbata-bata berbahasa Inggris tapi tak pernah bosan menyambut ajakan saya untuk mengobrol.

Di hari terakhir, barulah saya tahu kenapa 2 orang ini nampak ‘menjaga jarak’. Dengan malu-malu mereka berujar, ketika di hari terakhir sarapan, “Sorry, Jihan. Mafi English.” Oh, ternyata mereka tak fasih berbahasa Inggris. Saya menjawab santun sambil senyum-senyum, “Mafi musykillah, mafi musykillah.”

Di hamla saya, ternyata ada juga beberapa orang Indonesia. Saya bertemu di tenda Arafah. Ada sekitar 5 orang, yang kesemuanya berprofesi sebagai pekerja rumah tangga.

Sebagian takut keluar tenda dan menitip ke saya untuk membeli Indomie gelas hehehe. Maklum ya, selama berhari-hari di Mina dan Arafah, sebagian perut pribumi berontak terhadap suguhan makanan Arab hihihi. Saya sih doyan banget nasi biryani dan segala rupa makanan Arab :p.

***

Sepanjang hari di tanggal 8 dilewati dengan acara kenal-kenalan. Malam harinya semua tidur lebih awal. Mempersiapkan diri untuk wukuf di Arafah di keesokan paginya.

Azan subuh masih berkumandang, tapi compound kami sudah hiruk pikuk sejak sejam sebelumnya. Setelah sarapan ala roti Arab yang dicocol krim keju, berbagai macam selai, dan halawa’ (ini favorit saya, nih), tepat jam 7 pagi, kami semua berbaris di depan tenda. Ikut mengantri menuju stasiun kereta yang akan membawa kami ke Padang Arafah.

Stasiunnya dekat sekali. Stasiun Mina 1, hanya berjarak sekitar 200 meter dari compound hamla kami. Tapi puluhan ribu jemaah lainnya akan menuju stasiun dan menaiki kereta yang sama. Sekitar 1.5 jam kami mengantri dari depan tenda hingga menapakkan kaki ke atas kereta.

Suasananya cukup tertib. Masih pagi dan masih segar mungkin, ya. Talbiyah terus berkumandang tak putus-putusnya. Terus membakar semangat biarpun kaki cukup pegal berdiri dan berdesakan cukup lama. Petugas-petugas di stasiun jumlahnya ratusan dan sangat kompak.

Puluhan laki-laki berseragam biru tua itu tak ada capeknya mengarahkan puluhan ribu jemaah dari mulai antri di jalanan, memasuki stasiun, hingga berdiri dengan patuh menanti di pintu kereta.

Anak saya anteng banget. Masya Allah. Bocah 18 bulan inilah salah satu penyemangat saya dalam perjalanan naik haji kali ini. Malu kali, Cyyyiiinnn, sama anak 1.5 tahun hehehehe.

Naik keretanya cuma 20 menit saja. Dari stasiun Mina 1 dan turun di stasiun Arafat 3. Berjalan kaki sekitar 15 menit menuju tenda hamla kami. Di sepanjang jalan, terutama di bawah jembatan, sudah dijejali para ‘haji koboi’ hehehe. Membawa tenda sendiri, bahkan ada yang cuma bermodal sebuah tikar tipis.

Naik haji dari Jeddah 2012
Berpose di stasiun sebelum berangkat melontar jumrah :D.

Tanggal 9 Dzulhijjah pagi itu, Arafah penuh jutaan umat. Datang bersama-sama dari segala penjuru dunia. Untuk menundukkan diri di hadapan Allah, memuji keagunganNya di momen Wukuf, salah satu rukun wajib sahnya ibadah naik haji.

Mahabenar Allah dengan firmanNya, yang sudah diturunkan lebih dari 1400 tahun yang lalu, bahwa :

وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالا وَعَلَى كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ (٢٧)لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ (٢٨)

“Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh, supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka …” (Al Hajj: 27-28).

***

(bersambung ke sini)

Note : this is my hajj story, performing Hajj on 2012. What’s your hajj story? 😉

What’s Your Hajj Story? (Pengalaman Haji via Jeddah)

Tanggal 7 Dzulhijjah sudah menjelang. Dari pagi sudah sibuk melengkapi barang-barang bawaan. Seharusnya tidak ribet. Tapi kami membawa si kecil #boy2. Jadilah cukup rempong mengatur bawaan yang didominasi oleh diaper, susu kotak, snack balita, dll.

Tas buat #boy1 juga ikut diberesin. Si sulung tidak dibawa serta (dan ini betul-betul keputusan yang tepat! hehehe). Padahal awalnya saya ngotot ke suami kalau si sulung juga mesti ikut.

Untunglah ada Bunda Cantik (*uhuk uhuk*) yang menawarkan diri menjaga si sulung. You’re our hero, Dear ;).

Siangnya, anak sulung diantar ke Aziziyah. Kami balik ke rumah. Maksudnya mau istirahat sebentar menunggu magrib. Tapi, malah sibuk wara wiri, beres-beres rumah, dsb.

Begitu azan magrib, kami langsung mandi. Suami mengenakan pakaian ihram, lalu kami salat bersama. Dengan menumpang taksi, kami bertiga berangkat menuju hamla (biro haji) Al Mahabbah, tempat kami mendaftar hajian.

Hamla kami cukup spesial. Karena membolehkan para jemaahnya untuk membawa anak-anak. Makanya sedih juga, nih. Kami seharusnya berhaji dengan teman-teman Indonesia lainnya. Tapi terpaksa kami ‘membelot’ ke hamla ini terkait ketatnya aturan hamla lain TIDAK BOLEH MEMBAWA ANAK :(.

Lokasi hamla dekat banget dengan gedung apartemen kami, tepatnya di Palestine Street. Cukup menempuh beberapa menit perjalanan. Begitu tiba, langsung disambut pemandangan belasan bis-bis besar yang siap mengangkut para jemaah memasuki kota Mekkah.

pengalaman haji 2012
Parkiran Kudai di Mekkah, gambar : arabnews.com

Pukul 8 malam, bis mulai jalan. Jarak kota Mekkah cuma sekitar 70 km dari Jeddah. Biasanya ditempuh dengan waktu 45 menit saja. Tapi karena musim hajian, dimana tanggal 7 malam biasanya serentak rombongan dari  Jeddah memasuki Mekkah, perjalanan tersendat-sendat begitu mendekati checkpoint Mekkah.

Sekitar jam 10.30 malam akhirnya kami tiba di Kudai, parkiran raksasa yang dibuat khusus untuk pengunjung masjidil Haram. Kudai cuma ramai di saat ramadan dan musim haji, kok.

Tadinya saya agak ragu mau ikut tawaf Qudum. Tapi begitu bis kami parkir di pelataran Kudai, semangat langsung berdentum-dentum hehehe.

Kami langsung menuju Masjidil Haram. Tidak dibimbing oleh pembina. Sendiri-sendiri saja. Di Kudai disediakan bis khusus untuk bolak balik Kudai-Haram. Duh, ramainya saat harus berebutan naik bis Saptco.

Kami sudah terbiasa dengan sifat orang-orang Arab yang pada umumnya memang ‘angot’an :D, jadinya sabar saja menanti giliran ;).

Jam 11 malam tiba di Haram. Kami tawaf di lantai 1. Sudah sesak. Tapi semilir angin malam di awal musim dingin cukup membantu kami melewati 1.5 jam mengitari Ka’bah selama 7 putaran di tengah himpitan jemaah lainnya. Si kecil gimana? Bocah luar biasa ini tidur teruuuuuss. Hehehehe.

Tadinya ingin lanjut Sa’i. Tapi kami takut tertinggal bis. Buru-buru ke kamar mandi dulu. Saking ramainya kamar mandi laki-laki, suami saya ‘menyerah’. Lalu kami bergegas ke arah bus station dan melesat kembali ke Kudai.

Tiba di Kudai, masih sepi banget. Baru jam 2.30 dini hari. Langsung menyesal gak lanjut Sa’i. Padahal masih segar bugar :(. Kami bertiga akhirnya duduk-duduk di atas rumput di samping parkiran bis.

Menikmati segelas teh hangat yang dibeli suami di baqala (toko kelontong) di seberang jalan. Sambil menemani si kecil, yang sudah terjaga dari tidurnya, bermain-main.

Akhirnya baru pukul 4.30 subuh bis kembali bergerak menuju Mina. Ini sih macetnya luar biasa. Butuh sekitar sejam untuk mencapai tenda di Mina, padahal jaraknya cuma seucrit.

Kompleks jemaah haji di Mina  pengalaman haji
Kompleks jemaah haji di Mina

Tiba di Mina, ada insiden kecil. Tas suami mendadak raib! Tapi saya sudah yakin pasti ada yang salah ngambil, nih. Alhamdulillah, drama kehilangan tas cuma berlangsung sekitar 15 menit. Tas pun ditemukan, ada yang menaruhnya begitu saja di luar tenda.

Tenda di Mina untuk hamla lokal Saudi itu gimana, sih?

Ternyata setiap hamla menyewa satu kompleks tenda tertentu. Istilahnya compound. Di depan tiap compound sudah terpasang nama hamla penyewanya.

Dalam compound tersebut, tenda perempuan disekat khusus. Tempatnya bersih banget. Alhamdulillah. Ada belasan, bahkan mungkin puluhan asisten, yang hampir tiap waktu membersihkan kamar mandi, lorong-lorong antar tenda, bahkan dalam tendanya pun juga dibersihin, lho.

Masya Allah. Nyaman banget. Anak-anak jadinya bebas berlarian di luar tenda.

Nah, tenda-tenda di dalam terbagi-bagi lagi. Satu tenda bisa ditempati oleh 10-20 orang. Tenda saya sendiri ada 16 orang dewasa. Ada 8 tempat tidur tingkat lengkap dengan kasur + selimut untuk tiap orang. Lantainya dialasi karpet-karpet yang cukup tebal.

Tanggal 8 pagi, suasana dalam compound sunyi senyap. Mungkin kelelahan dan sebagian besar jemaah tertidur lelap. Saya memanfaatkan kesempatan ini untuk mandi, mumpung kamar mandi belum ramai-ramai amat. Si kecil sih sudah pulas dari tadi :D.

***

(bersambung ke sini)

Note : tulisan ini untuk mengenang naik haji via Jeddah saya dan suami beserta anak kami yang nomor 2 tahun 2012 silam 😀