Netijen vs Hasil Disertasi : The Death of Expertise?

Sejak awal hasil disertasi yang lagi ramai itu muncul di publik, sudah saya tunggu-tunggu respons berupa amukan netijen 😅😅😅🧐.

Tetap saja tidak menyangka akan berakhir dengan se-dramatis ini :(. Sampai universitas dan si penulis harus minta maaf segala dan berjanji merevisi ck ck ck.

Lebih wakwaw lagi teror kepada keluarga penulis :(. Tuduhan-tuduhan tolol yang sebenarnya hanya cerminan betapa ketakutan sekali lagi menunjukkan “dark side” nya pada diri manusia. Penggemar Yoda (Star Wars) mana suaranyaaaaaa :p.

Kok bisa-bisanya sampai ada komentar-komentar macam, “Yuk kita perkosa aja ramai-ramai istri dan anaknya. Kita gilir aja saudara-saudara perempuannya.” REALLY?

Memang tidak gampang membaca hasil penelitian ratusan halaman,, tapi masa iya the BIG PICTUREnya aja gak bisa dapat, sih? Di media juga sudah banyak kok secara garis besarnya yang memang sangat tidak nyambung dengan teror-teror dungu di atas tuh -_-.

Hasil disertasi pun seharusnya bukan hal yang menakutkan. Memang topiknya agak sedikit menyulut zona nyaman bagi yang keyakinannya terkait soal ini sudah FINAL. Tapi sebenarnya enggak se-ngeri di pikiran kalian.

I’m just trying to give a little explanation here. Jangan dianggap sebagai persetujuan saya ya terhadap hasil penelitian. Yang gitu-gitu biar dibahas oleh sesama ahli fikih saja.

Penelitiannya ini bukan tentang SEKS BEBAS. Tapi sebaliknya tentang SEX with CONSENT. Hubungan seksual yang dibahas adalah hubungan seksual yang disetujui secara sadar oleh kedua belah pihak. Tanpa persetujuan kedua belah pihak, otomatis menjadi kasus PERKOSAAN.

Kedua belah pihak juga harus sama-sama berusia dewasa. Kalau di bawah umur, tentu menjadi kasus PEDOFILIA.

Penelitiannya juga mempertimbangkan MASA IDDAH buat perempuan. Secara medis, biologis, dan ilmiah, MASA IDDAH ini memang penting dalam membahas hubungan seksual (y).

MASA IDDAH ini juga penjelasan sederhana mengapa POLIGAMI boleh tapi POLIANDRI itu mustahil ;). Kakak-kakak feminis tolong jangan marah padaku hihihihi :p. Masuk akal kok soal larangan poliandri tanpa harus bawa-bawa ayat sekali pun.

MASA IDDAH yang dibahas sesuai dengan aturan dalam alquran, jadi PELACURAN bukan bagian dari “SEX with CONSENT” yang diperbolehkan dalam penelitian ini. PELACURAN tidak mengindahkan kaidah MASA IDDAH, jadi ya HARAM :p. Jelas banget kok itu.

Dari sini juga bisa ditarik kesimpulan, lelaki lajang maupun yang sudah menikah tidak masalah melakukan “SEX with CONSENT” ini dengan perempuan lain selain istrinya. Tapi perempuan yang masih/sedang berstatus ISTRI ya jelas tidak boleh. Terkait ke masa iddah tadi.

Hubungan seksualnya pun TIDAK BOLEH di tempat terbuka atau disaksikan oleh orang lain. Ekshibisionis jelas perbuatan haram.

CMIIW, ya. Ini saya dapatkan dari kompilasi beberapa media yang memuat secara garis besar soal hasil penelitian ini. Tentu sangat mungkin saya ketelisut 🙏.

Menyusun disertasi sampai mendapatkan persetujuan dan lulus pula bukan kerjaan sehari dua hari atau sebulan dua bulan. Pasti panjang banget itu prosesnya secara akademis.

Sayang banget, dari berita terakhir kok ya malah universitasnya yang takluk kepada amukan netijen. Di mana saya rasa netijen ini ngerti juga kagak disertasinya tentang apa hahaha. Penulis sampai harus berjanji mengganti judul bahkan akan merevisi.

Tapi nampaknya membuka dialog pun terasa mustahil, ya.

Kemarin sempat nonton salah satu acara diskusinya. Pihak televisi juga nyolot, sih. Ya masa penulis yang kompetensi akademisnya segitu dihadapkan dengan perwakilan ormas yang tidak jelas bidang ilmunya apa selain bolak balik ad hominem ke penulis?

Mengapa berdiskusi saja tidak mau? Toh hasil disertasinya bukan sesuatu yang dipaksakan untuk diikuti, kan? What scares you?

“Manusia membenci apa yang tidak diketahuinya.” -Imam Ali-

Yah begitulah era internet ini sudah terlalu jauh mengubah cara hidup kita. Di satu sisi dengan mudah mengalirkan informasi apa saja kapan saja kepada siapa saja. On the other hand, membuat banyak sekali bias-bias pemahaman sana sini :(.

Makanya kusuka membujuk-bujuk teman-teman yang punya expertise di bidang tertentu, mbok ya, medsos-an lah lebih serius hehehehe. Try to share your knowledge dengan menuangkannya dalam gaya-gaya tulisan yang lebih populer. Era sudah berubah, euy.

Kemampuan menulis seharusnya bukan lagi BAKAT khusus tapi SKILL dasar yang sebaiknya dimiliki semua orang SEJAK DULU.

Saya baru paham mengapa di sekolah-sekolah Irlandia dan US, MENULIS itu jadi SATU MATA PELAJARAN SENDIRI, loh 😍🤩.

Kira-kira dalam mata pelajaran MENULIS diharapkan agar siswa bisa menguntai isi pikiran ke dalam tulisan yang runut sesuai logika dengan argumen yang baik dan bahasa yang rapi dan tentunya … mudah dipahami oleh pembaca.

Terlepas dari hasil penelitiannya (experts can be wrong too, rite?), seharusnya menjadi momen untuk berdiskusi, berdialog, or simply to challenge your way of thinking?

But again …

“Thinking is difficult, that’s why most people judge.” -Carl Jung-

Novel Arus Balik (Pramoedya Ananta Toer) : A Review

Sempat kuberprasangka di awal membaca novel Arus Balik ini, apakah penulis hendak mendiskreditkan Islam?

Berbagai scene yang ditulis, misalnya pembuangan patung-patung gajah yang dianggap “keramat” buat Hindu ke pesisir laut saat tentara muslim Demak menyerbu pesisir Jepara, yang merupakan wilayah Tuban.

Sebagian besar tentara Demak muslim tadinya beragama Hindu. Tergambar mereka enggan melempar patung-patung tersebut.

Pembaca dibuat paham bahwa pemimpin pasukan semata ingin mengobarkan semangat tempur walau terlontar kata-kata semacam, “Sudah percaya Allah, masih takut kepada patung orang kafir?”

Tapi cerita terus bergulir dengan banyaknya kisah perubahan tatanan hidup masyarakat ke arah lebih baik sejak Islam merambah ke Pulau Jawa (y).

Kerajaan Islam-Demak (gambar : guruips.com)

Penulis mengkritisi dengan cukup imbang:). Kritikan kepada praktik-praktik agama Hindu, ketidaksetujuan dengan beberapa praktik ala umat muslim, pujian kepada legowonya sebagian masyarakat Hindu menyambut kedatangan Islam, serta sanjungan kepada tokoh muslim yang benar-benar menggelorakan semangat Islam untuk melawan penindasan <3.

Sangat-sangat-sangat laaaaaffffff <3.

Novel Arus Balik, versi cetaknya sekitar 760 halaman. Diterbitkan oleh Hasta Mitra di tahun 1995. Membaca bukunya cukup 5 hari saja. Sungguh kutakjub dengan diriku sendiri hahahahaha.

Jangan gentar membaca sastra klasik karya Pram. Jauh sekali dari yang kebanyakan orang sangkakan.

Soalnya dulu baca “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk” agak-agak ‘mengantuk’ :p. Sementara di 2 novel Pram yang pernah saya baca (halamannya nyaris 1000 semua ck ck ck), lancar aja gitu sampai habis. Mengalir banget. Dua-duanya kelar dalam 4-5 hari (per buku).

Walau memang diksinya ‘jadul’, tapi sama sekali bukan tipe-tipe, “duhai Adinda yang alisnya bagai semut beriring” yang terasa gengges kalau dibaca sekarang-sekarang mah ???.

Pram tidak begitu.

Btw, tadinya saya tidak paham kenapa novel-novel Pram bertajuk ROMAN.

Satu-satunya definisi ROMAN yang saya tahu, ROMAN = kisah percintaan.

Ternyata ditengok di Wikipedia, ROMAN bisa pula = sejenis karya sastra dalam bentuk prosa atau gancaran yang isinya melukiskan perbuatan pelakunya menurut watak dan isi jiwa masing-masing.

Definisi ROMAN yang terakhir ini yang SANGAT PAS untuk novel Pram.

Mirip dengan “AROK DEDES”, “ARUS BALIK” adalah novel tentang sejarah nusantara. Kali ini mengenai awal kedatangan Portugis dan geliat kerajaan-kerajaan muslim di Pulau Jawa.

Novel Arus Balik
Ilustrasi Kapal Portugis yang sedang berlayar

Kebayang sukar sekali mengarang ala Pram yang mengambil sudut pandang buanyaaaakkk sekali orang-orang yang terlibat dalam pembentukan sejarah. Daku tidak terbayang flow chartnya ?.

Alur ceritanya tidak standar. Entah yang mana klimaks yang mana anti klimaks. Klimaks buat tokoh A, tapi awal cerita bagi tokoh B misalnya. Karena penulis cukup detail mengangkat persoalan dari banyak sekali pelaku sejarah.

Adipati Wira (Tuban) mungkin dicap pengecut dan berkhianat kepada Dipati Unus yang mati-matian ingin menghalau Portugis yang sukses merebut Malaka. Tapi di novel disajikan sudut pandang Adipati yang cukup masuk akal (y).

Perang memang sangat menyakitkan dan seringnya berakhir dengan kesengsaraan. Makanya banyak pemimpin yang terlihat lemah dan egois karena mati-matian menghindari perang.

Novel berpusat pada bagaimana chaosnya suasana di Jawa saat Portugis sudah bertahta di Malaka. Sikap pembesar kerajaan-kerajaan di Jawa terbagi.

Ada yang malah rusuh sendiri secara internal. Ada yang justru berambisi menguasai seluruh Jawa terlebih dahulu dan enggan mengusik Portugis di Malaka. Ada yang habis-habisan menggalang persatuan kerajaan besar di Jawa untuk bersatu menghalau Portugis.

Ada pula kerajaan/wilayah yang terpikir untuk bekerja sama dengan Portugis, yang juga terbagi 2 kubu : murni ingin menjalin kerjasama dagang DAN ingin bekerja sama sekaligus minta perlindungan Portugis dari ancaman dari kerajaan lainnya di Pulau Jawa.

Portugis bisa berkuasa begitu lama tanpa bisa digeser bukan karena Portugis terlampau kuat. Bukan karena teori konspirasi njelimet dan adanya sebuah kekuatan rahasia dari kelompok tertentu dst dst :p.

Selipan kisah Idayu – Wiranggaleng – Pada (Firman) juga melengkapi serunya novel Arus Balik ini. Another pewarna cerita utama –> dua syahbandar Tuban, Kyai Benggala dan Thalib Sungkar.

Bener-bener enggak mati gaya kisahnya berpacu sampai ratusan halaman. Macam-macam konfliknya. Termasuk betapa manusiawinya rasa sakit hati kalangan ningrat kepada kaum pedesaan/rakyat biasa yang bisa masuk ke barisan punggawa kerajaan.

Novel Arus Balik menyajikan lengkap sudut pandang dari mana-mana.

Baik buruk, hina mulia, perkasa lemah, adalah PERTARUNGAN yang ADA dalam setiap pribadi. Pilihan-pilihan yang harus dihadapi oleh siapa pun setiap hari.

Justru dari jalinan pribadi-pribadi orang per orang yang mungkin terjebak dari pilihan-pilihan yang ternyata kurang tepat inilah dimulai peristiwa-peristiwa besar macam perang dunia, kesengsaraan dll :(.

Jadi bukan konspirasi ini itu dan kaum anu yang ingin menghancurkan dunia yaaaaaa hehehe.

Dengan ketidaksempurnaan kita sebagai manusia, pertarungan-pertarungan ini seringnya tidak mudah. Something no hero will ever defeat :).

Selamat membaca :).

era digital

RUANG PUBLIK, PRIVASI, DAN ERA DIGITAL

“Pujilah masakan ibumu di meja makanmu sendiri.” Kira-kira gitu dulu kalimat dari tulisan Bang Saief Alemdar, years ago :D.

Masalahnya sekarang, even if you’re boasting around about something in front of your “inner circle” (ONLY), selalu ada TIM SKRINSYUT dengan kecepatan cahaya yang siap beraksi hahaha.

Tentu beda cerita dengan STATUS/POSTINGAN yang sifatnya PUBLIC ;). Apa pun yang sudah di-share secara PUBLIC, ya harus siap menerima konsekuensinya :D.

Bahkan saya sudah pernah memperingatkan soal aplikasi Google Photos, kan? Kalian mungkin tidak sadar pernah login di Google Photos yang menyebabkan Google Photos bisa mengakses foto-foto di gallery ponsel kalian.

Semua foto akan ter-backup di sana. Hati-hati jangan bikin foto aneh-aneh dah biarpun niatnya cuma koleksi pribadi aja hihihihi.

Ada untungnya juga, sih. Tempo hari kalau gak salah seorang teman panik, tidak sengaja menghapus ratusan foto liburannya di ponsel sebelum sempat di-dokumentasikan. Syukurlah begitu masuk Google Photos, ratusan foto tersebut baik-baik saja dalam folder Google hehehe.

Sekali kalian menyetorkan data secara ONLINE, even sudah setting ONLY ME kek, SUPER PRIVATE LU KAGAK MUNGKIN BISA NGINTIP kek, dst dst, secara otomatis data tersebut sudah bukan milik kalian pribadi.

Terjadi pergeseran cukup besar dalam penyebaran informasi di era digital.

Seperti yang saya singgung di awal, bahkan kalau kita pun niatnya cuma merepet di “grup pribadi” atau lingkaran teman tertentu, be extra careful.

Ingat kasus embak-embak (D) yang ngomel soal ibu hamil di gerbong Commuter Line? Dia posting di PATH kalau gak salah.

Berbeda dengan platform lain, PATH ini bisa dibilang paling “private”. Bener-bener harus temenan baru bisa ngintip. Gak punya settingan public kan ya kalau gak salah? Itu juga harus LOGIN dulu.

Sialnya, salah satu ‘inner circle’ si Mbak D mungkin kesel juga dengan postingan tersebut. Alih-alih konfrontasi langsung, dese melakukan hal yang lebih ‘kejam’. Postingannya di-screenshoot dan disebarluaskan dengan membabi buta secara PUBLIC di berbagai platform media sosial yang lain :(.

Sisanya ya kalian tau sendirilah apa yang terjadi setelah itu.

Membenci itu sesuatu yang sangat manusiawi. Tapi MENYEBAR KEBENCIAN itu beda lagi.

Even chat-chat pribadi harus hati-hati. Harus dipikir-pikir takut kena skrinsyut hahahahaha. APALAGI ceramah-ceramah agama frontal di depan orang banyak (walau ‘inner circle’).

Makanya kasus ceramah-ceramah agama yang pernah ramai itu, soal kontennya sih bukan barang baru lah. Pada umumnya kan ya emang gitu. Sindir-sindiran antar agama hal yang tidak terelakkan.

Ya mungkin karena itu juga banyak yang ‘lelah’ dan memilih tidak beragama (lagi). Karena penyebaran informasi sekarang lebih brutal dan liar :(.

Konten youtube misalnya, entah berapa channel yang suka iseng clickbait dengan mengunggah ceramah-ceramah sepotong-sepotong dari para pemuka agama. Dipilih yang sekonyol atau se-terekdungces mungkin :(.

Ini di semua agama rasanya ada, deh :(.

On the other hand, ya memang susah. Tidak mungkin kita mau ngatur-ngatur keyakinan orang lain. Ya memang pada dasarnya tidak sedikit kaum beragama yang yakin, “Udahlah, kalo lo gak ikut agama gue, ya lu otomatis masuk neraka lah.”

Karena kalau kalian berani-berani berpendapat, “Udahlah, biar Tuhan yang menilai, kita jalani masing-masing saja” ya siap-siap saja dituduh LIBERAL, PLURALIS yang kini makin tajam persinggungannya dengan kaum ‘puritan’/konservatif.

Mungkin ada baiknya para pemuka agama mempertimbangkan pergeseran penyebaran informasi di era terkini. Mbok ya, jangan terlalu vulgar lagi. Apa gak ada yang bisa dibahas lagi soal agama sendiri sampai harus nyinyirin agama orang lain?

Sudah tidak bisa lagi kita menyangkal model, “Loh ini kan buat kalangan internal.”

Helooooooo, kalangan internal piye kalau ternyata semua jemaah bebas merekam dan bebas menyebarluaskan. Apalagi semangat dakwah lagi pada tinggi-tingginya, hijrah dimaknai dengan sebanyak mungkin berkomentar, “Duh, lo cepetan kembali ke jalan yang lurus deh kayak gue. Semoga dapat hidayah. Maaf, cuma mengingatkan.”

Sialnya, yang begini-begini tidak menyebar di kalangan seagama saja, tapi terpental-pental sampai jauh ke mana-mana.

Belum lagi ribetnya UU Penistaan Agama yang entah apaan tauk parameternya. Karena lama-lama yang ‘diproses’ ya yang nyerang mayoritas doang :(. Kuat-kuatan adu massa, banyak-banyakan demo, dst dst dst.

Gagap beragama, gagap teknologi, juga mungkin kombinasi politikus yang paling pinter manfaatin sikon, makin-makin tidak terkendali :(.

Kita hidup dalam perbedaan sudah lama sekali. Yang diributkan juga bukan barang baru. Yaela, ulama muslim yang nyinyirin ajaran Nasrani dari dulu juga buanyaaaaaakkk. Pendeta yang mencibir prosesi ibadah haji dsb juga ada dari kapan tauk mah.

Tapi INTERNET membuat jangkauan informasi yang dulu
terbatas kini terbentang luas. It’s not something we can ignore atas nama dakwah semata :(.

Lagian, diantara sekian banyak persamaan, sudah-sudahilah mempertajam perbedaan. Cobalah lebih banyak membahas problem kemanusiaan yang biasanya mudah terjalin lintas agama itu.

Etapi lupa ada politikus dan birokratis ‘busuk’ yang siap memanfaatkan apa saja untuk memuluskan jalan meraih kekuasaan termasuk memperkuat POLITIK IDENTITAS.

Politik Identitas ini yang juga mendorong kita untuk tidak peduli lagi kepada ‘KONTEN’ tapi super ribet di ‘JUDUL’ :(.

“We build too many walls and not enough bridge” -Isaac Newton-

Think about it.

Toilet-Training untuk Jemaah Haji/Umrah Asal Indonesia

Transit di Abu Dhabi menuju Jakarta waktu mudik berdua doang dengan si bungsu bulan Maret 2018 kemarin. Lagi ribet-ribetnya ngurusin si adek yang mau ganti celana di kamar mandi, saya disamperin oleh embak-embak petugas kebersihan.

“Mama, Mama …” sapanya kepada saya.

Saya enggak kaget. Alumni Timur Tengah pasti sudah terbiasa dengan genggesnya orang-orang asing yang suka manggil-manggil “Bunda/Mama/Sayang” ke ibu-ibu yang mereka sangka asal Indonesia hahaha.

Sepertinya dia orang Filipina.

“Yes?” Jawab saya.

Mudik berdua si bungsu (Maret 2018)

“Mama, help me here.” Dia menunjuk ke arah salah satu bilik toilet. “I need you to teach them. Show them please how to do that.”

“Oooo oke, oke.” Saya langsung paham maksudnya.

Dia memberi kode jempol lalu membuka pintu kamar mandi yang ternyata sudah penuh antrian. Oalah, pantes kamar mandi kosong. Ternyata ditutup sementara sama si embak petugas.

Embak petugas sibuk memberi instruksi, “Tolong Mama, bukan lantai. Duduk, duduk. Siram, siram. Duduk, duduk. Siram, siram.”

Wooowww, si embak petugas (yang nyata-nyata bukan orang Indonesia) berusaha keras berbahasa Indonesia seperlunya dengan mengulang-ulang gerakan seolah duduk dan telunjuk seperti memencet saat bilang “siram”.

Repotnya punya anak kecil. Saya hanya sempat membantu beberapa jemaah yang itu juga saya pilih-pilih yang sudah berumur.

“Permisi Ibu, ini nanti buang air kecilnya duduk, jangan jongkok. Kalau sudah selesai, dipencet yang di belakang itu.”

Si Ibu ngangguk-ngangguk ramah. Eh, begitu tutup pintu kok langsung kedengeran suara flush ?. Si embak petugas geleng-geleng putus asa, “See? They siram-siram first. And then they do that on the floor.”

Antara kasihan sama mau ngakak. Tapi yah gimana, cuma berduaan ama si bungsu. Anaknya udah lari-larian deket pintu mau keluar. Akhirnya saya “pamit” ke luar, setelah membantu menerangkan ke 4-5 jemaah perempuan yang kira-kira masih “perlu bantuan keterangan”.

Barusan baca cerita Mbak Meidia yang lagi naik haji dan cerita soal penggunaan toilet terkait salah satu teman (lansia)nya saat berhaji.

Bukannya ingin merendahkan, tapi kultur/budaya buang air kita di Indonesia kan memang agak beda dulu-dulu. Saya sendiri di rumah dulu (sebelum dijual hahaha) selalu buang air di kamar mandi toilet jongkok hihihi. Ada satu kamar mandi lagi, toilet duduk. Tapi di situ pun, kalau kepepet, ya saya tetap jongkok hahaha.

Kelas 1 SMA pindah numpang ke rumah Tante, kamar mandinya juga ada 2 model. Saya lebih nyaman pakai toilet jongkok. Tapi kalau ke toilet duduk ya saya duduk beneran. Di rumah orang lain, euy, hahaha.

Makanya karena itu jemaah lansia rata-rata belum terbiasa dengan toilet duduk yang sudah menjadi model standar di 99% bandara dan hotel. Untungnya di kamar mandi umum sekitaran Masjidil Haram masih banyak toilet jongkok. Eh, masih gak, tuh?

Saya sudah hengkang dari Saudi sejak tahun 2013. Waktu di sana sih masih banyak toilet jongkok di toilet umum Arab Saudi (kecuali mal-mal besar dan hotel-hotel berbintang).

Gue tuh ya, udahlah rentan disangka TKW domestik pas era abaya-an, giliran modis dikit, dimintai tolong jadi asisten toilet-training di kamar mandi bandara. BHAIQUE ?????.

Setuju banget sama Mbak Meidia, perlu banget deh ada toilet-training buat jemaah-jemaah asal Indonesia. Terutama yang lansia. Biro penyelenggara umrah/haji di Indonesia sangat perlu memasukkan hal-hal simpel ini ke dalam ‘program manasik’.

Apa udah, ya?

PENTING loh itu.

Kadang, risih saja kan jemaah asal negara kita terkenal “jorok”. Padahal bukan begituuuuuu.

Malah secara umum, jemaah Indonesia (dan Malaysia juga deng) itu terkenal tertib dan sabar loh dalam Masjidil Haram. Tidak suka dorong-dorong dan mudah tersenyum kepada siapa saja masya Allah ^_^.

Testimoni ini bukan pengamatan narsis pribadi ala-ala nasionalisme NKRI harga mati semata :p. Tapi pujian langsung dari banyak teman-teman jemaah haji asal Mesir dan berbagai negara Arab lainnya waktu se-tenda bareng mereka di Mina dan Arafah.

Saya naik haji tahun 2012 via hamla (biro haji) lokal di Jeddah. Hamla lokal umumnya 90% peserta = orang Arab dari berbagai negara.

Mina dan tempat melontar jumrah arab saudi
Tempat melontar jumrah dilihat dari sebuah area tenda jemaah di Mina, foto : Dani Rosyadi

Jadi, jangan sampai lah hal-hal sepele macam penggunaan toilet duduk ini jadi “citra buruk” yang berlarut-larut. Apalagi sekarang model jet washer ada yang langsung dari belakang itu. Bukan pakai pegangan lagi.

Jet washer otomatis yang udah nempel di bagian belakang toilet itu kadang pakai hand-signal loh bukan diputar lagi. Begitu juga dengan flushing, sudah banyak yang pakai teknologi hand-signal.

Takutnya bingung dan panik kok gak ada pencetannya hehehe. Ada juga yang begitu kita berdiri atau gerak dikit atau buka doorlock langsung flush otomatis.

Sungguh perkembangan teknologi dalam dunia pipis-eek ini kadang gemes-gemes kesel hihihihi. Sebenarnya sangat memudahkan tapi ya buat yang sudah berumur butuh penyesuaian yang lebih “intens” :). Manusiawi kok itu ;).

Semoga penyelenggaraan haji dan umrah khususnya buat jemaah Indonesia terus membaik dari tahun ke tahun. Aamiin ya rabbal aalamin <3.

Tak terasa beberapa hari lagi, dari seluruh penjuru Mina akan bergerak bersama menuju Padang Arafah. Berdiam di sana sampai senja mulai menghilang di hari itu juga.

Masih terkenang rasa haru saat ramai-ramai keluar dari tenda, menikmati detik-detik mentari terbenam, saling memandang dengan mata berkaca-kaca, dan kita semua harus bergerak pergi meninggalkan Arafah.

“Zawwadakallahut taqwa wa ghofaro dzanbaka wa yassaro lakal khoiro haytsuma kunta (Semoga Allah membekalimu dengan takwa, mengampuni dosa-dosamu, dan memudahkanmu di mana saja engkau berada).”

Semoga menjadi haji mabrur, ya, teman-teman semua ????.

IDEALISME OKE SAJA, TAPI …

Jadi begini … ada orang-orang yang sebenarnya berusaha menyampaikan sesuatu yang tujuannya baik, tapi somehow dengan cara yang wakwaw :p.

Misalnya berusaha untuk bilang bahwa banyak jalan menuju kesuksesan. Tidak harus sekolah formal. Betul itu. Sepakat satu juta persen saya mah. Tapi ujungnya kok ya mau ngenyek orang-orang yang memperjuangkan anaknya untuk sekolah favorit atau ngeledekin lulusan Perguruan Tinggi Negeri.

Mereka lalu ngalor ngidul ngobrol betapa hancurnya mereka pas kuliah dan gak dapat apa-apa. Ya itu lu aja kali ;). Itu masalah pribadimu. Bukan jadi alasan untuk melemahkan orang-orang yang ingin menempuh “jalur” masa depan yang itu ;).

Terus tidak jarang membawa-bawa orang-orang seperti Bu Susi yang katanya cuma lulusan SMP.

Dear, Ibu Susi putus sekolah bukan karena mau rileks, mau santai, gak mau dikejar-kejar ini itu. Beliau juga bukan keluarga orang susah yang tidak punya biaya bla bla bla.

Beliau menghentikan langkahnya di sekolah formal lebih karena beliau SUDAH TAHU MAU NGAPAIN. A very huge passion di bidang maritim. Sejak dulu.

Atau gak tanggung-tanggung, ADA yang ambil contohnya Bill Gates dan Mark Zuckerberg ???.

Yang digadang-gadang seringnya mentok di Bu Susi doang. Memangnya ada berapa anak putus sekolah yang ujug-ujug jadi Menteri?

Ini tuh kasus yang ibaratnya “one in a million” di Indonesia. Eh, dijadiin kek contoh kehidupan sehari-hari. Sehat? :p

Kalau mau adil, BIKIN STATISTIKAnya berapa anak-anak putus sekolah yang bisa se-mentereng Bu Susi dan berapa anak-anak putus sekolah tidak seberuntung itu?

Atau ambil contoh, “Tuh lihat temen gue, cuma lulusan SD, eh sekarang punya usaha. Karyawannya anak kuliahan. Ngapain lu sekolah tinggi-tinggi?”

Memang lu kira lulusann Perguruan Tinggi Negeri enggak ada yang bisa menggaji orang, enggak ada yang bisa bikin perusahaan? ????

Perlu dibikin statistiknya juga mungkin? 😉

Saya juga tidak suka kalau sebagian orang terlalu memuja profesi PENGUSAHA dengan jargon andalan, “Jangan mau jadi karyawan seumur hidup!”

Dikira modal kemauan doang bisa sukses jadi pengusaha. Disangkanya tanpa kewajiban kerja dari jam 8 sampai jam 5, pengusaha hidupnya tidak lebih mumet dan pasti uangnya lebih banyak daripada karyawan.

Kalau soal pemenuhan biaya hidup, apa pun pilihan jalan hidupmu, semua tergantung gaya hidup ;).

Mau jadi pengusaha penghasilan berapa juga, selama pasaknya lebih besar daripada tiangnya ya pasti roboh, Bro dan Sis?.

Jadi pengusaha oke, jadi karyawan oke. Tidak ada istilah siapa yang lebih keren siapa yang lebih nganu. Kerja keras, karakter, cara menghadapi hidup yang akan lebih banyak berbicara.

Idealis boleh. Bagus itu (y). Tapi jangan sampai terjebak nyinyir gak guna.

Paling kurang respek juga dengan komentar seperti, “Si Anu cuma tamatan SMP bisa dapat 80 juta sebulan. Si Ono lulusan luar negeri sampai S3 10 juta gak nyampe.”

Memangnya ukuran KESUKSESAN itu dari penghasilan doang. Cara berpikir macam apa itu. Punya duit 1 trilyun pun bukan jaminan kamu bisa masuk S3 dan kuliah sampai lulus, Sayangkuuuuu <3.

Itulah makanya suka meremehkan institusi pendidikan karena apa-apa duit, apa-apa duit :p. ILMU (tentu definisinya luas) itu juga HARTA. Like I’ve said before, HARTA yang menyenangkan untuk dibawa ke mana-mana karena tidak memberatkan. Sifatnya yang spesial, kalau dibagi ke orang lain di kita malah bertambah.

Memang ada orang-orang yang diciptakan dengan TALENTA jauh di atas rata-rata dilengkapi dengan PASSION luar biasa dan fokus di satu bidang.

Maksud saya bukan hanya sekadar chef misalnya. Tapi lebih spesifik.

Saya pernah nonton kompetisi masak-masak ada chef yang jagooooo banget bikin aneka jenis barbeque. Sekilas dilihat remeh. Tapi ternyata memang skillnya gak main-main (y). 
Barbeque doang yang saya kira cuma bakar-bakar gitu-gitu doang.

Yang lebih susah, cake decoration. Saya kenal salah satunya. Mbak Sisi di Texas. Baru-baru ini dia pasang foto hamburger, heran juga saya kok tahu-tahu posting foto receh beliau hihihi. Eh, baru sadar pas baca caption … ITU KUE!

Memang bukan pertama kalinya kami dibikin terkecoh. Kue SEPATU NIKE dan TAS juga dulu menggemparkan.

Enggak perlu sekolah-sekolah, kursus sana sini, banyakan otodidak doang. Monggo ceki-ceki sendiri di fanpagenya Michelle Sie.

Nih, beberapa karya Mbak Sisi 😀

Di bidang musik mungkin ada Addie MS dan Purwacaraka. Addie MS kalau tidak salah menentang keinginan sang ayah yang tidak ingin dirinya berkarier di bidang musik.

Lulus SMU, Addie MS memutuskan total bermusik. Susahnya waktu itu cari sekolah musik di Indonesia, Addie MS maju terus otodidak sana sini + bantu-bantu + menabung dan ke New York sekolah musik walau cuma kursus singkat.

Purwatjaraka beda lagi ceritanya. Mungkin di masa itu kecemasan para ortu mirip-mirip. Tapi Purwatjaraka memenuhi keinginan orang tua, masuk ITB kuliah sampai lulus. Abis itu ijazah kasih ke ortu and he pursued his passion in music.

Dua maestro dengan proses yang berbeda. See? Ndak masalah mau lewat mana.

Contoh bertolak belakang ada. Tapi ndak boleh sebut nama ini katanya hahaha. SEorang teman yang anaknya sastra abis tapi dipaksa orang tua masuk Kedokteran Umum. Akhirnya dia nurut, tapi masuknya ke Kedokteran Gigi.

pendidikan non formal

Dia kuliah sampai lulus. Sekarang, udah tajir dese hahaha. No regret, katanya ;). Kini, mudah saja. Dia menjadi dokter gigi yang hobi menulis. Menulis sesuka hati tanpa dikejar setoran karena praktik dokter giginya sudah sanggup membuatnya keliling dunia jalan-jalan sana sini nyari-nyari bahan tulisan.

Jadi, jangan menyerang institusi pendidikan formal apalagi depan anak-anak sendiri. Amit-amit. Kalau tidak suka kan tinggal homeschooling ;).

Kecuali sejak usia dini, anak-anak sudah menunjukkan talenta+passion jauuuuhhhhh di atas rata-rata di bidangnya. Pelukis nih yang banyak model begini. Nah, kalau begini cucokkkk, ngapain sekolah dari senin ampe jumat dari pagi ampe sore kalau ternyata mereka bisa diasah untuk berkarya sejak dini?

Tapi inget, jangan cuma sekadar gambar-gambar lukis-lukis doang. Konsultasi ke ahlinya juga. Nanti biar mereka ikut menilai ;).

pendidikan non formal

Biasalah ortu tuh suka kek Pak Tino Sidin. Semua gambar anaknya dibilang bagus. Gambar komik dikit sudah kayak ngeliat Affandi gitu ya, padahal mah mungkin skill biasa aja :p.

Maaf tidak bermaksud nyinyir, maksudnya biar enggak ngegampang-gampangin menjauhkan anak dari sekolah formal.

Selevel Addie MS itu memang ada genetiknya jugak. Tuh lihat anak sulungnya kan, lebih dahsyat lagi bakatnya hehehe. Itu si Kevin Aprilio, sudah punya perusahaan rekaman sendiri dan jago mencipta lagu sejak SMA, tetap dipaksa kuliah ama emaknya :p.

Yang coding juga udah mulai rame model begini. Di US tuh, astaga, anak-anak level SMP sudah mulai diincar perusahaan-perusahaan selevel Google.

Tapi kalau cuma anaknya malas bangun pagi, lebih suka youtubean gak jelas, cuma suka sok-sok kritis gak jelas bosan sekolah tapi gak jelas juga maunya apa, ya jangan diberhentiin sekolah atuh.

BOSAN itu sifat yang sangat manusiawi. Bisa dihadapi kok ;).

IDEALIS itu KEREN (y). Tapi ingatlah, di seluruh penjuru dunia ini mustahil menemukan kesempurnaan. Jadi, setinggi apa pun IDEALISME, jangan lupa menapak di tanah dengan tetap menggenggam REALITAS.

Seringnya itu memang kudu ambil jalan tengah kok ;).

“Idealism is fine, but as it approaches reality, the costs become prohibitive.” -William F. Buckley, Jr. –