Naik Haji, Antara Ibadah Horisontal dan Vertikal

Sewaktu masih tinggal di Jeddah sempat ada kasak kusuk pro dan kontra mengenai beberapa rekan di sana yang naik haji saban tahun. Sebenarnya ada aturan di Saudi naik haji hanya boleh 5 tahun sekali. Tapi kan, kita-kita yang di Saudi punya satu keistimewaan khusus soal naik haji ini. Bisa haji koboi, Kakaaaaa πŸ˜‰.

Oh well, I’m against Haji Koboi actually . Definisi ‘haji koboi’ di sini adalah naik haji tanpa Tasrikh/surat izin resmi dari pemerintah Saudi untuk naik haji. Kalau haji backpacker tapi tetap dengan izin resmi monggo saja, asal bawa kantong plastik sampah sendiri pliiiiiiiisssssssssssssssss… -_-.

Gambar : news.liputan6.com

Gambar : news.liputan6.com

Apalagi jika dilakukan oleh orang-orang kalangan berada for the sake of the … challenge and seru-seruan! Hahhahahaha. Dikata liburan kali yeeee :p.

Kalau yang melakukannya dari kalangan kurang mampu pun sebenarnya kurang bisa ditolerir. Mengingat pemerintah Saudi sudah berusaha keras menyediakan macam-macam fasilitas naik haji bagi pemukim dengan biaya yang terjangkau .

Alasan lain para koboi ini ya karena itu tadi, pengin naik haji berkali-kali. Tiap tahun kalau bisa. Menjadi kebanggaan tersendiri kadang-kadang.

Salah satu rekan yang bertitel “alumni haji koboi” juga berkilah, “Salah pemerintah Saudi kenapa dibatasin? Emangnya tanah suci punya dia. Suka-suka umat muslim dong. Lagian tasrikh itu bukan rukun maupun syarat naik haji.”

Baiklah kalau begitu, tahun depan dan seterusnya, quota hajii enggak usah diberlakukan . Biarlah seluruh umat muslim dari seluruh penjuru dunia tumplek di Mina-Arafah saban tahun. Ngomong-ngomong berapa ya jumlah umat Islam di dunia? Hm, mungkin wilayah Mina itu seperti karet. Bisa melar otomatis kalau banyak yang datang hahahaΒ . Dan mengecil kembali kalau jemaah sudah pulang. Bukan sulap bukan sihir ya Kakaaaaa πŸ˜€ πŸ˜€ πŸ˜€.

Sebagian teman yang kontra melihatnya dari berbagai sisi. Salah satunya dari sisi materi. Kalau saya pribadi, urusan materi gak masalah. Suka-suka orangnya saja, duit ya duit dia ya hehehe. Tugas sesama kan cuma memberitahu dan mengingatkan. Enggak ditanggapi? Stop sampai di situ. Itu sudah di luar kuasa kita ^_^.

Tapi saya pribadi, kalau ada rezeki dan kesempatan, pasti tak berpikir dua kali untuk memberikannya pada yang belum pernah (dan kalau bisa belum mampu secara materi). Insya Allah πŸ™‚.

Concern saya memang lebih ke arah kapasitas Mina dan Arafah itu sendiri. Aturan “tasrikh naik haji” kalau gak salah merupakan peraturan baru. Baru berlaku di awal tahun 2000-an. Alhamdulillah ini tanda bahwa umat muslim makin berkembang sehingga saking banyaknya, pemerintah Saudi merasa perlu memberikan batasan bahkan kepada warga/pemukim Saudi sendiri πŸ™‚.

100% saya sepakat dengan pemerintah Saudi . Lagian 5 tahun sekali ya cukuplah ya πŸ˜‰.

tasreeh haji

Mina itu mau diperlebar sampai ke mana lagi? Daya tampungnya pasti terbatas. Walau sebagian teman menganggap itu kuasa Allah, seberapa banyak pun jemaah pasti cukup! Ya balik lagi, hapus sajalah quota kalau begitu.

Masjidil Haram di Mekkah pun memangnya mau sampai kapan mau diperluas dibikin bertingkat sampai berapa juga kalau tak ada kesadaran dari umat muslimnya sendiri untuk ‘berbagi’ ya enggak akan pernah terasa lapang . Memangnya kita berharap umat muslimnya yang akan berkurang?

Setuju dengan ide Doni Febriando, seharusnya program ONH Plus dihapus saja. Diganti dengan ONH Kemanusiaan. Pemerintah sebaiknya menggalang dana saja untuk memberangkatkan haji bagi mereka yang sudah berumur. Masa iya usia sudah 60 an harus mengantre sampai 10 tahun? Ajegileeee hahahaha. Ya makanya, naik haji dari muda dong. Ya situ kasih duitnya dong, bisa? .

Perketat pula jatah naik haji seperti di Saudi. Utamakan bagi yang belum pernah. Jangan malah instansi terkait dan oknum-oknum yang punya ‘kuasa’ malah sibuk menggunakan jatahnya untuk keuntungan pribadi.

Antara wilayah Mina dan Musdalifah sendiri sekarang ya sudah rancu. Makanya, ada juga teman-teman saya di sana yang kalau memilih biro haji mereka tanya dulu lokasi tendanya. Mereka termasuk yang disiplin dalam urusan batas wilayah. Ini memang pendapatnya terbagi-bagi.

Saya sendiri saat naik haji 2012 silam kebagian di wilayah ‘abu-abu’. Mina iya, musdalifah iya hihihi. Jadi, saat acara bermalam di Musdalifah dan Mina ya kita tetap dalam tenda saja enggak ke mana-mana. Ada juga rekan satu hamla yang disiplin. Mereka benar-benar pasang peta dan mencari batas wilayah Mina dan Musdalifah yang sah. Mereka gotong kantong tidur dan berpindah sesuai ketentuan apakah harus di Mina atau Musdalifah.

Tak masalah, ya. Kesepakatan ulama Saudi sendiri memang tidak satu suara πŸ˜‰. Salam damai ^_^.

Kompleks jemaah haji di Mina

Kompleks jemaah haji di Mina

Urusan umrah juga begitu. Saat saya tahu tanah suci lagi padat-padatnya, saat masih di Jeddah dulu, saya memilih menahan diri untuk tidak ke wilayah Haram . Biarin dah dinyinyirin kenapa sudah tinggal di Jeddah kok enggak umrah sebulan sekali? Hehehe. Kalau suami tetap rajin, saya memilih di rumah saja sama anak-anak .

Sebagai pemukim Saudi, saya sungguh beruntung dianugerahi masa-masa di mana tanah haram lagi sunyi-sunyinya. Bisa menikmati tawaf 10 menit sambil bolak balik menyentuh Ka’bah, minum air zam-zam dengan tenang, Safa-Marwah sangat lengang, alhamdulillah .

Tawaf pagi-pagi, cari parkiran pun gampang. Sehabis tawaf masih bisa bersantai sejenak menunggu waktu Zuhur. Usai Zuhur, lunch deh di Shofwa Tower di gerai makanan Malaysia favorita kami . Gak pakai antre, duduk manis sambil mengobrol imut sama suami . Menjelang waktu Ashar, masuk lagi ke wilayah Haramain untuk salat. Serba santaiiiiiii. Kosong, Cyin .

Sebisa mungkin, saat banyak jemaah yang datang jauh-jauh dari seluruh penjuru dunia, kalau tak ada sesuatu yang kepepet, saya menghindari datang ke tanah suci (Mekkah dan Madinah). Kehadiran kita-kita pemukim Saudi yang sebenarnya bisa melaksanakan umrah di waktu-waktu ‘kosong’ tadi kan seharusnya tidak perlu merampas jatah lowong jemaah yang datang jauh-jauh dari belahan dunia lain untuk ikut menikmati syahdunya beribadah di tanah suci .

Malah ikut-ikutan bikin sesak di sana hehe.

Umrah berkali-kali (mungkin) memang bagus. Tapi ya, dalam Islam, ibadah vertikal dan horisontal sangat dianjurkan keseimbangannya .;) Menurut saya begitu, anda boleh beda πŸ˜€.

Suami saya juga beda, kok. Dia lebih suka rutin ke Masjidil Haram. Katanya lebih afdol salatnya. Wah, saya insya Allah di mana saja salat harus terasa afdol. Asal khusyuk. Di mana pun kita bersembahyang, bumi Allah sungguh luas ^_^.

Jalan Menuju Arafah dari Mina

Jalan Menuju Arafah dari Mina

Kalau menurut beberapa teman ya aji mumpung tinggal di Jeddah, ayooo ke Mekkah sering-sering. Justru karena saya tahu nikmatnya beribadah di tanah suci jika jemaah tidak terlalu sesak maka saya relakan jatah kemudahan saya ke tanah suci kapan saja agar yang datang dari jauh pun mudah-mudahan bisa merasakan hal yang sama .

Kalau ada rekan/teman/kerabat yang mampir Jeddah, baru kita jemput dan ajak keliling-keliling . Terus traktir makan deh .

But again, ini menurut pendapat pribadi enggak pakai dalil-dalilan hahahaha. Tentu, yang berpendapat berbeda tetap saya hargai .

Walau memang ujung-ujungnya ini hanya masalah takdir, katanya kan kalau Allah sudah berkehendak pasti akan kejadian. Betul itu.

Tapi jadi ingat dengan ayat satu ini, kalau tidak salah penolakan seorang kafir untuk memberi makan kepada orang miskin dengan alasan, “Mengapa saya harus memberi makan kepada orang dimana jika Tuhan berkehendak Tuhan bisa memberinya makan?”

Lantas, “Mengapa kita harus memikirkan jatah naik haji bagi yang belum kepada orang dimana jika Tuhan berkehendak Tuhan pasti memberangkatkannya untuk naik haji?”

Memang, kalau Tuhan mau, semua juga bisa naik haji tahun ini. Kalau Tuhan mau, Mina dibikin semacam magic, bisa melar dan menyempit lagi sesuai banyaknya jemaah hihihi. Kalau Tuhan mau, semua umat muslim kaya, tak ada mazhab yang bikin kita berantem, yang bikin kita pusing kenapa si anu jilbabnya sampai lutut kenapa si ana jilbabnya cuma sampai leher?

Disitulah rahasia Tuhan. Tuhan memberi kita pilihan. Tuhan menganugerahkan perbedaan. Lho kok anugerah? Iya dong, orang miskin memangnya maunya dia? Dalam tempo sedetik, Tuhan bisa membuat mereka kaya. Tapi Tuhan baik, dia memberi kesempatan pada mereka yang berpunya untuk berbuat kebaikan. Dan memberi kesempatan pada mereka yang diberi kesempitan untuk bersabar.

Tapi hikmah ini memang hanya untuk yang mau berpikir dan beramal saleh saja memang kata ayat-ayat dalam alquran hehehe. Semoga dimampukannya kita untuk termasuk dalam golongan ini, ya. Saya, anda, dan kita semua . Amin, amin, ya rabbal aalamiin.

Padang Arafah

Padang Arafah

Tapi, intinya Tuhan memberi keterbatasan dan kelebihan selalu ditujukan untuk kesabaran. Sabar menjalani dan sabar untuk tidak pamer/bermewah-mewah . Jangan salah, yang sering gagal itu justru yang dikasih lebih-lebih . Hukum alam. Yang harus kerja keras itu justru yang kelihatannya diberi kelebihan. Kelihatannya doang. Padahal, semua juga cobaan yak :D. Hehehe.

Percaya pada Tuhan, berarti tak menafikan kemanusiaan ;). Kalau dijalankan dengan benar, Islam itu memang solusi banget deh pokoknya hehehe.

Karena sejatinya, umat muslim itu beriman dan mengerjakan kebaikan :). Ingat dong, kata kuncinya … Islam, Rahmatan lil aalamiin. Rahmat bagi seluruh penjuru dunia yang isinya macam-macam ini. Tidak terbatas pada umat muslim saja. Kita adalah solusi bagi sekitar.

Jadi, mau naik haji berapa kali nih? Hahahhahaha. Santaiii…naik haji berapa kali pun, antara saya dan anda tak boleh terputus tali silaturahmi ;). Haram hukumnya memutuskan apa yang diperintahkan Allah untuk disambungkan πŸ˜€ –> nasihati diri sendiri ini sih harusnya! Hahhaha :p *sodorinKaca*.

***

Tanggal 7 Dzulhijjah tahun ini. Sebagian besar biro haji lokal Saudi akan memberangkatkan jemaah serentak via bus menuju Mekkah. Masih teringat, tiba di Kudai pukul 10 malam saking macetnya dari Jeddah ke Mekkah. Saran saya, apa pun yang terjadi, usahakan langsung tawaf Qudum dan sa’i ya teman-teman. Kalau gak keburu tawaf Ifada, tinggal digabungkan ke tawaf Wada saja. Insya Allah, hukumnya boleh :).

Tempat melontar jumrah

Tempat melontar jumrah

Selamat menunaikan ibadah haji untuk sahabat-sahabatku tercinta di Jeddah sana. Friendship never ends, ya, cantik-cantikku. Untuk Madam Anggie Mutia, Madam Nisa Ayu dan Mbak Yuli Karim …

Untuk teman di dunia maya, salah satu pahlawanku urusan resep walau sekarang site resepnya lagi maintenance melulu nih :D. Untuk Mbak Astri Merianti Nugraha + suami, yang berhaji dari Canberra.

Untuk teman di FB, Ibu dokter imut Sasqa Dyah, yang dari kemarin upload foto melulu bikin kangen deh awwwww hihihihi.

Untuk temen SMP, dan ternyata ketemu lagi di kampus yang sama, Aditya Hananto yang juga baru saja walimahan, nih :D. Apakah berumrah dengan nyonya sekalian? Masya Allah, bulan madu di tanah suci :D.

Semoga dilancarkan semuanya, sehat selalu lahir batin, untuk selanjutnya menundukkan diri di hadapan Allah, bersama jutaan jemaah dari segalal penjuru dunia, saat wukuf di Arafah 9 Zulhijjah esok nanti.

Labbaik Allahumma Labbaik, adalah kami memenuhi dan akan melaksanakan perintah-Mu ya Allah.
Labbaika la syarika laka labbaik, tiada sekutu bagi-Mu dan kami insya Allah memenuhi panggilan-Mu.
Inna al hamda wa an ni’mata laka wa al mulka la syarika laka, sesungguhnya segala pujian, nikmat dan begitu juga kerajaan adalah milik-Mu dan tidak ada sekutu bagi-Mu.

Hajj mabruran, hajj mabruran, hajj mabruran untuk kalian semua … insya Allah, insya Allah :).

Selamat bertugas pula pada suami para Madam Telco yang kebagian ‘jaga kandang’ pas ‘peak season’ nanti. Eh, sudah mulai ya shift-shift-an nya hihihihi. Insya Allah, ada pahala khusus juga tuh. Ikut membantu kelancaran para jemaah berkomunikasi dengan handai taulan yang ditinggalkann di rumah masing-masing ^_^. Semoga lancar lemburannya ;).

lontarjumrah 2

 

17 thoughts on “Naik Haji, Antara Ibadah Horisontal dan Vertikal

  1. Aku juga sependapat dengan opinimu, Jeng; prioritas kuota haji bagi yang belum and less priority bagi yang sudah. Itung-itung, ga “serakah” titel hajinya, ‘kan … hehe

  2. bagian baca Labbaik Allahumma Labbaik, jadi terharu, karena memang blm merasakan kenikmatan berada di tanah suci.
    keseluruhan tulisannya, saya setuju bingiit πŸ™‚
    jadi ingat pembicaraan suami pada ibunya, haji itu 1 kali saja cukup, berikan tempat utk yg lain yg ingin berhaji pula.
    thanks for sharing this article πŸ™‚

  3. Jadi kaya pun juga ujian ya mbak, ujian dari Allah apakah kita bisa berbagi dgn yang lain (dalam hal ini berbagi kuota haji)

  4. Di Al Quran ditulis juga kan ya, kalau berhaji sekali bagi yang mampu? CMIIW
    Setuju ONH Plus ditiadakan, rasanya kok kurang afdol ya berhaji hanya 2 minggu πŸ˜€

    • Bukan masalah afdolnya sih Mak :D. Karena sebenarnya ritual haji itu memang cuma 5-8 hari aja hehehe. Sisanya jalan-jalan doang :p. Masalah kuota yang pas-pasan yang harus dibagi lagi dengan jemaah ONH Plus yang umumnya mengutamakan siapa yang sanggup bayar lebih πŸ˜‰

  5. Setahu saya berhaji hanya wajib satu kali saja. Rasulullah pun hanya berhaji sekali saja CMIIW. kalo yg terasa afdol saat sholat di Masjidil Haram, gimana dengan kami2 yg belum berkesempatan menginjakkan kaki ke sana ya hehe……

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *