Only Light That Can Drive Out The Darkness

Nabi Musa AS ditugaskan Tuhan untuk menyampaikan ajaran tauhid kepada Firaun dan bangsa Mesir. Nabi Musa juga meminta agar Firaun melepaskan Bani Israil dari belenggu perbudakan oleh Bangsa Mesir.

Firaun menolak. Perlawanan pun terjadi. Akhirnya Bani Israil berhasil ‘diselamatkan’. Lalu, alquran meneruskan uraian kisah beratnya perjuangan Nabi Musa meyakinkan Bani Israil untuk terus bertakwa pada Tuhan. 

Kisah Musa vs Firaun di Laut Merah (gambar : laskarislam.com)

Kisah Musa vs Firaun di Laut Merah (gambar : laskarislam.com)

 

Setiap kali kisruh Israel vs Palestina merebak, kebencian tanpa arah selalu ikut mendampinginya. Masa sampai ada yang mendadak memuji-muji Hitler dan berharap saat itu Hitler menghabisi seluruh kaum Yahudi saat fasisme NAZI tengah berjaya di bawah kepemimpinannya. Konflik Palestina bisa nyasar sampai ke NAZI :D.

Sebenarnya NAZI tak hanya berusaha menyingkirkan orang-orang Yahudi. Tapi juga kaum-kaum lainnya yang dianggap bukan ras unggulan. Hitler kan narsis abis ya, Bo hehehe. Untuknya, bangsa Jerman adalah suku bangsa paling keren sejagad dan menolak percampuran antar berbagai ras. Selain mengucilkan kaum Yahudi, ada juga kaum Gipsi yang diperlakukan dengan sama kejamnya.

Jadi, benar-benar gagal paham jika paham fasis seperti ini bisa mendapat puji-pujian sekecil apa pun. Perbedaan diantara umat manusia adalah jaminan dan ketentuan dari Allah. Bodoh sekali jika sampai ada manusia yang berusaha menyeragamkan apa-apa yang sengaja dibuat berbeda. Mau mengalahkan aturan Tuhan, nih?

Perbedaan memang sengaja diciptakan sebagai ujian. Apakah kita akan narsis dan merasa penting sendiri ATAU akan seoptimal mungkin menghargai perbedaan dan berusaha menarik hikmah sebanyak-banyaknya? Choose wisely 🙂.

Karena nyatanya diskriminasi antar kaum itu adalah cerita lama yang selalu berulang dan berulang. Macam lingkaran setan. Menimpa berbagai macam kaum, misalnya kaum Yahudi.

Isolasi terhadap kaum Yahudi itu bukan cerita baru. Dalam rentang waktu ratusan tahun di abad pertengahan Eropa, kaum Yahudi sudah mendapat tekanan besar. Kemungkinan setelah kaum Nasrani menguasai Eropa, sebuah kebencian mulai tertanam mengenai siapa dalang pembunuhan Yesus, Tuhan bagi kaum Nasrani. Kaum Yahudi tertuduh utama.

Di masa itu, Yahudi dikucilkan sedemikian rupa. Mereka terus didesak, dibatasi gerak langkahnya. Sejak dulu, perkampungan khusus Yahudi sudah mulai dipraktikkan. Di zaman Nazi, hal inilah yang diistilahkan dengan Ghetto.

Warsawa Ghetto during Nazi-Rule in Poland (gambar : ivarfjeld.com)

Warsawa Ghetto during Nazi-Rule in Poland (gambar : ivarfjeld.com)

 

Mendapat perlakuan sedemikian rupa memaksa kaum Yahudi berusaha survive dengan macam-macam cara. Saat kitab-kitab mereka dicuri dan dibakar, kaum Yahudi memaksa generasi mudanya untuk menghafalkan isi Taurat di luar kepala.

Kaum Yahudi berusaha berasimiliasi di mana pun mereka berada dan aktif mencari celah untuk mengasah kemampuan bertahan dalam berbagai tekanan. Itu dilakukan dari dulu secara turun temurun 🙂. What doesn’t kill them makes them stronger.

Berbagai hal-hal baru dari lingkungan mereka serap dan tidak pernah menutup diri dari lingkungan. Begitu satu-satunya cara untuk menghadapi kerasnya dunia saat itu terhadap mereka. Termasuk dalam urusan mencari uang hihihi. Kan ada juga stereotip kalau kaum Yahudi itu sangat hemat alias pelit. Karena dulu mereka memang sangat dikekang dalam urusan ekonomi. Uniknya, kekangan tidak membuat mereka menyerah. Pelajaran dari para Yahudi, “Keterbatasan seharusnya membuat kita menjadi kreatif” 😀.

Dari generasi ke generasi, kaum Yahudi mengajarkan kaumnya untuk mengoptimalkan fungsi otak daripada otot. Mereka sadar dengan jumlah mereka yang tidak akan mungkin bisa menyamai penduduk dunia. Kita cukup jarang menemukan atlet yang berasal dari bangsa Yahudi. Tapi kalau urusan inovasi, ilmu pengetahuan dan ekonomi, bangsa Yahudi terkenal sangat lihai.

Lebih dari 30% penerima hadiah Nobel adalah orang-orang Yahudi. Bandingkan dengan populasi mereka di seluruh dunia. Fantastis bukan? Tirani minoritas yang luar biasa . Industri-industri kreatif internasional tak terlepas dari sentuhan pemikiran kaum Yahudi. Sudah berlangsung turun temurun. Rahasia umum jika kaum Yahudi sudah terbiasa memaksimalkan potensi penerusnya sejak dalam kandungan 🙂.

Ratusan tahun sejak Kerajaan Yahudi terakhir berdiri (zaman Nabi Daud dan Sulaiman), orang-orang Yahudi hidup terpencar di berbagai belahan dunia.

Sejak akhir abad ke-19, beberapa kaum Yahudi sudah mulai ‘lelah’ dengan ketidakadilan yang sering menimpa mereka. Tercetuslah ajaran zionisme. Zionisme adalah keinginan dari sebagian mereka, bukan semuanya! Mayoritas kaum zionis malah ditengarai sebagai Yahudi sekuler.

Para zionis ini mengajak para diaspora di seluruh penjuru bumi untuk membentuk tanah air khusus untuk kaum Yahudi. Mereka percaya pada sejarah bahwa tanah Israel adalah tanah yang dijanjikan untuk mereka dan berhak mereka rebut. Beginilah asal mula konflik Palestina.

Gerakan ini seolah berjodoh dengan runtuhnya kekaisaran Ottoman dan wilayah Kerajaan Turki mulai terpecah. Termasuk wilayah Palestina yang berada di bawah ‘kendali’ Kerajaan Inggris.

Kala itu, Kerajaan Inggris berusaha ‘menengahi’ berbagai bentuk ‘permusuhan abadi’ antara Yahudi dan non Yahudi di Eropa. Belum lagi Perang Dunia 1 dan 2 di awal abad ke-20 yang benar-benar membuat Eropa super galau. Tahun 1948, Kerajaan Inggris ‘menghadiahkan’ wilayah Palestina kepada kaum Yahudi.

Saat itu, kaum Yahudi diharapkan untuk berasimilasi dengan penduduk setempat yang didominasi oleh bangsa Arab. Sebelum tahun 1948, perpindahan kaum Yahudi ke wilayah Palestina sudah mulai terjadi. Awalnya berlangsung damai dan mereka memang berbaur dengan penduduk asli sana.

Hingga akhirnya kaum Yahudi membesar dan sifat serakah mulai menghampiri. Mungkin juga terbawa dendam masa lampau, ratusan tahun harus berjuang mati-matian menghadapi penolakan masyarakat non Yahudi terhadap mereka, para zionis seolah mendapat restu untuk menguasai Palestina pasca “1948”.

Mereka mulai belagu. Seenaknya menduduki Palestina, menolak asimilasi dan malah mengusir penduduk Palestina yang ‘asli’. Konflik Palestina dan Israel tak terelakkan.

1948 Palestinian Exodus (Gambar : en.wikipedia.org)

1948 Palestinian Exodus (Gambar : en.wikipedia.org)

Dukungan dari Negara Adidaya Amerika Serikat bukan tanpa sebab. Saat Amerika masih menjadi benua baru di mata Eropa di abad ke 15 hingga 17, Amerika dijadikan ‘tempat pembuangan’ bagi kaum-kaum terkucilkan di Eropa, termasuk orang-orang Yahudi.

Terbiasa bertahan dalam ‘keras’nya hidup, orang-orang Yahudi mampu ‘menaklukkan’ sang benua baru.

Liga Arab pernah beberapa kali memerangi pendudukan Israel terhadap Palestina. Yang memerangi Israel saat itu justru pemimpin-pemimpin nasionalis Arab. Seperti Ghamal Abdul Nasser, Presiden Mesir, yang memimpin Pan-Arab untuk menghalau Israel yang terus berusaha mencaplok wilayah-wilayah di sekitar kependudukan awal mereka. Sayangnya tak berhasil.

Perang di tahun 1967 malah berakhir dengan jatuhnya Tepi Barat, jalur Gaza, Semenanjung Sinai dan dataran Tinggi Golan ke tangan Israel pasca gencatan senjata.

Israel mulai ‘balas dendam’. Di bawah kepemimpinan Yordania dahulu, kaum Yahudi dilarang memasuki kota suci Yerussalem. Saat wilayah dikuasai Israel, peraturan dibalik. Kaum muslim yang dibatasi kunjungannya ke Yerussalem.

Perang 6 hari di bawah kepemimpinan Nasser (Mesir) saat itu juga mencuatkan skandal serangan terhadap kapal intelijen Amerika Serikat, USS Liberty. Israel yang menyerang kapal ini dan meminta maaf kepada Amerika Serikat karena salah identifikasi.

Beredar rumor kuat kalau Amerika Serikat ditekan habis-habisan oleh Israel untuk menerima klaim ini dengan ‘lapang dada’. Saat itu rencana sebenarnya adalah Israel bermaksud menenggelamkan kapal tersebut dan menuduh Mesir sebagai pelakunya dan menggiring Amerika Serikat untuk menyerang Mesir secara terbuka.

Gamal Abdel Nasser (gambar : en.wikipedia.org)

Gamal Abdel Nasser (gambar : en.wikipedia.org)

 

Rencana gagal total. USS Liberty terlalu kuat untuk dihancurkan. Awak kapal juga keburu mengenali siapa penyerang mereka. Awak kapal yang selamat dibungkam oleh pemerintahan Lyndon Johnson yang mendapat ‘tekanan’ dari Mossad terkait pembunuhan Kennedy dan masalah cadangan minyak. ‘Kongkalikong’ ini konon terbongkar saat beredar rekaman percakapan sang Presiden yang tengah diancam oleh Israel untuk tidak membantu USS Liberty saat dihajar habis-habisan oleh pasukan Israel. Ini baru teori konspirasi ‘berkelas’ hehehe .

Dulunya Israel memang dianggap ancaman bagi Liga Arab. Hingga akhirnya PLO dibentuk dan seolah hal ini menjadi urusan Palestina seorang diri . Dunia politik dan berbagai kepentingan terus bergolak. Pesona cadangan minyak dunia terus menyedot perhatian negara-negara ‘besar’ kepada wilayah Timur Tengah.

Di sisi lain, Amerika Serikat juga sangat pandai bermain di 2 kaki. Sudah rahasia umum, ya, negeri-negeri tajir Timur Tengah ‘berlindung’ di balik ‘hubungan intim’ dengan si Negeri Adidaya. Padahal tahu pasti jika Israel bisa sedemikian leluasa terhadap Palestina itu tak lepas dari dukungan kuat Negeri Paman Sam.

Ujung-ujungnya Liga Arab hanya bisa memborbardir Palestina dengan roti-roti, selimut, kucuran dana untuk membangun perkampungan atau renovasi dsb. Pokoknya sebatas materi saja. Walau semua tahu, tindakan politik tegas kepada Israel-lah yang sebenarnya diperlukan untuk mengakhiri mimpi buruk rakyat Palestina .

***

Saya kurang paham mengapa kisah Musa dijadikan salah satu ‘tameng’ bagi sebagian mayoritas muslim terkini untuk membenci kaum Israil (bangsa Yahudi) secara permanen hehehe. Padahal kisah Nabi Musa juga menguraikan panjang lebar soal penolakan Firaun (dan sebagian bangsa Mesir) kepada ajaran tauhid.

Bagaimana jika tingkah laku (sebagian) Bani Israil pada saat itu dilakukan oleh orang-orang yang bukan Yahudi? Masalah yang ingin ditekankan dalam alquran itu adalah Yahudi-nya atau perbuatannya?

Apakah perilaku buruk yang dikisahkan dalam kitab suci tersebut mengajak kita untuk membenci (seluruh/siapa pun) kaum Yahudi hingga akhir zaman? Atau mengajak kita menghindari tingkah laku orang-orang di masa lampau (terlepas dari suku bangsa apa mereka) yang tidak disukai Allah? 

Sebelum kisah para Bani Israil, ada Firaun (yang berasal dari bangsa Mesir) yang menyombongkan diri terhadap seruan Nabi Musa dan menolak untuk melepaskan perbudakan atas Bani Israil. Apa yang diceritakan alquran adalah kejadian di masa itu. Tak ada petunjuk bahwa kaum yahudi saat itu terkutuk 100% dan akan berlangsung sampai selama-lamanya.

Islam mengajarkan kita bahwa semua bayi terlahir tak berdosa. Penentuan apakah kita akan terlahir sebagai Yahudi atau sebagai orang bugis yang manis, imut nan menggemaskan juga bukan keputusan kita kan? . Mutlak hak Tuhan.

Apakah kita berhak menuduh Tuhan sudah mengkotak-kotakkan kita sejak lahir sebagai kaum terkutuk atau tidak? Bukan keturunan bukan asal suku bangsa … tapi ketakwaan, amal, dan perbuatan setelah akil baligh yang akan menjadi pembeda bagi tiap insan manusia .

Ingat, bukan warna kulit, bukan suku bangsa …

Jadi, sebenarnya kurang tepat jika masalah Israel-Palestina ini dikait-kaitkan dengan isu akidah. Saya menolak jika ada yang bilang “Ini bukan masalah agama tapi masalah kemanusiaan.”

Ajaran Islam yang saya tahu berakar pada 2 hal, akidah dan muamalah (kemanusiaan). Saya keberatan jika masalah kemanusiaan dilepaskan dari kaidah agama. Karena saya percaya 100%, tak ada masalah kemanusiaan yang luput dari penerangan kitab suci alquran 😉.

Gambar : elhooda.net

Gambar : elhooda.net

 

Mayoritas para zionis di masa awal suburnya Zionisme adalah kaum Yahudi sekuler. Masyarakat Arab yang memerangi mereka sepanjang tahun 1948 – 1970 an juga mayoritas kaum nasionalis Arab. Mengapa sekarang jadi pada sensi urusan akidah coba? Sebagian teman-teman Nasrani saya di timeline juga mengeluhkan mengapa masalah penyerangan terhadap jalur Gaza juga membawa-bawa kaum Nasrani.

Jadi, dalam menyikapi masalah Israel vs Palestina utamakan solusi bukan hujatan bernada kebencian tanpa arah, ya. Karena di berita-berita sudah mulai ramai penyerangan terhadap kaum Yahudi yang tinggal di luar wilayah Israel. Tak semua kaum Yahudi sepaham dengan ideologi Zionisme.

“Hate, it has caused a lot of problems in the world, but has not solved one yet.” ―
Maya Angelou.

Kapan habisnya dong kalau kayak begitu? 🙁. Putuskan lingkaran setannya.

Kita sudah tahu apa yang akan terjadi jika kita tidak melawan segala bentuk diskriminasi terhadap kaum apa pun. Ingat hukum Qisas yang datang untuk menegakkan keadilan kala saat itu kejahatan perorangan tiap suku dianggap sah untuk dibebankan kepada seluruh suku asal pelaku di masa Arab jahiliyah. Setiap orang bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Bete sama si A jangan diteruskan kepada orang tua si A, sahabat-sahabat si A, kerabat-kerabat si A, anak cucu si A, dst. Don’t! .

Benci sama kaum Yahudi hanya membuat kita luput untuk mengambil pelajaran kepada daya tahan mereka menghadapi kehidupan dunia. Kreatifitas dan kepatuhan mereka kepada ajaran Taurat dan usaha keras mereka menjalankan ajaran-ajaran Taurat dalam kehidupan sehari-hari.

Walau dalam urusan akidah, sebagian kaum Yahudi juga kayaknya sudah mulai tidak ambil pusing . Mereka hanya mengambil ayat-ayat yang menguntungkan mereka secara duniawi saja. Padahal, percaya pada hari akhir itulah yang paling utama 🙂.

Bila tak tahu harus membantu apa, bukankah selemah-lemah iman adalah doa? Jangan malah menambah masalah dengan ajakan-ajakan kebencian yang tidak perlu.

Embargo ekonomi terhadap Israel dan tekanan dunia yang diperlukan oleh Palestina sekarang ini. Hal yang sangat mungkin dilakukan oleh negeri-negeri tetangganya. Minimal usirlah itu dubes Israel di berbagai negara Arab. Kalau tak salah, Mesir-Turki-Qatar dll menjalin hubungan bilateral dengan Israel dengan hadirnya kedutaan Israel di negara masing-masing. Kita doakan negara-negara Arab di sana bisa bersatu kembali mengusir Israel.

 

Atas nama muamalah sebagai umat muslim yang taat, maka mari kita …

Putuskan lingkaran setannya 🙂.

“Darkness cannot drive out darkness: only light can do that. Hate cannot drive out hate: only love can do that.”
― Martin Luther King Jr

Light up the dark :) (gambar : freeimages.com)

Light up the dark 🙂 (gambar : freeimages.com)

 

Sumber :

“Jerome Becomes a Genius.” (Eran Katz)
“Perang Suci.” (Karen Armstrong)
“Perang Eropa 1.” (PK Ojong)

(dan banyak buku seputar perang Dunia 1 dan 2).

***

18 thoughts on “Only Light That Can Drive Out The Darkness

  1. Baru kmrn ngobrol sm hubby mau nanya kau rekomendasi buku yg netral dibaca soal ini. Hahahaha sehati ya kita *aku dan kau dan aku dan suamiku maksudku ihik*. Wonderful as usual. Beautifully written as always. Great quotes dan mencerahkan pastinya. Maybe the only flaw is the statemenf of orang bugis.manis imut dan menggemaskan ahahaahahah

    • Hahahahahhaha, mau mendiskreditkan orang Bugis apa gimana nih? hihihihi :P. Btw buku “Perang Suci” itu sebenarnya cukup netral tapi gimana ya, mungkin karena penulisnya pernah menganut Nasrani dan akhirnya keluar jadi ada kesan si penulis ‘judgemental’ banget sama kaum Nasrani hehehehe.

  2. Wah mbak, thanks banget untuk tulisan ini. Dari kemarin juga gerah rasanya baca timeline dengan aneka komen salah arah terkait peristiwa di Palestina, apalagi yang bawa-bawa Hitler 🙁

    • Iya ya, saya juga bingung itu sama yang mendadak memuja-muja Hitler hihihi. Apa tahu sejarah Nazi dan apa yang sebenarnya dicita-citakan oleh Hitler via NAZI-nya? 🙁

  3. Sejak isu Gaza kembali merebak beberapa hari lalu, saya udah nungguin tulisan mba Jihan tentang ini. Bagaimana melihat permasalahan dari dua sisi dan dijabarkan berikut latar belakanganya..tapi kayanya kemaren masih demam world cup ya…hehehehehe…
    Ijin share ya mba, biar pada baca tulisan dari “orang bugis yang manis, imut nan menggemaskan”…hakhakhak

    • hahahaha, gak ada hubungannya dengan Piala Dunia lah :D. Menulis isu ‘sensitif’ biasanya butuh ‘semedi’ beberapa hari emang biar enggak asbun 😀

  4. iya ni sempet termakan quote HIttler jg sih kmrn…mskpn muncul banyak pertanyaan kenapa kenapa dan kenapa??
    sepertinya saya harus banyak-banyak membaca lagi, dengan membaca terbuka pintu dunia 🙂

  5. SEbuah tulisan yang bisa menjadi tambahan pengetahuan untukku mbak. MEski aku juga nggak pernah menjudge seseorang dari suku atau agamanya. Karena menurutku, setiap orang apapun agama dan sukunya, punya tanggung jawab masing2. Akhir kata yaaa…moga negara Arab bersatu (impianku sejak dulu) untuk benar2 berani embargo Israel. Berani gak yaaa…

  6. Mbak, minta pencerahan dong :mrgreen:
    Kan mbak Jihan nulis kalau “Saat kitab-kitab mereka dicuri dan dibakar, kaum Yahudi memaksa generasi mudanya untuk menghafalkan isi Taurat di luar kepala.”
    Nah kok saya pernah dengar/baca (lupa dimana 😥 ) tentang kitab bangsa Yahudi yaitu Talmud, iku beda kah dengan Taurat? terus yang jadi pegangan orang Yahudi itu cenderung yang mana ya mbak?
    Terima kasih 🙂

  7. Setuju kalau semua orang tidak minta untuk dilahirkan sebagai bangsa and dan anu. Yang kita banci adalah perbuatannya yg jahat. Yuk ah ingin juga Bantu Mereka yg ada di Palestina dengan doa dan materi yg mgk nilainya tak banyak..

  8. Kalau baca tulisan seperti ini nggak boleh fast reading 🙂
    Sekarang ini, apa pun yang dikembangkan berkaitan dengan agama, pasti cepat banget tersulutnya 🙁

  9. Seperti biasa, selalu tercerahkan kalo baca postingan disini 🙂 btw tentang bantuan untuk saudara kita di palestine ini, anakku yang sulung saja sudah bisa bertanya “bubu, sudah kasih bantuan ke palestine?” ternyata dia diceritakan saat kegiatan MABIT (malam bina iman dan taqwa) di sekolahnya weekend kemarin…

    Tapi dengan banyaknya pertanyaan dari anakku, aku jadi berpikir keras dan berusaha mencari referensi tentang semua berita dan cerita itu dan akhirnyaa…nemu referensi nya disini…hehehe…terima kasih 🙂

  10. aku pernah baca opini lain yang mengatakan bahwa upaya menghentikan konflik ini adalah berunding dengan Israel. Tapi, Israel hanya mau berunding jika kita (negara Indonesia) mengakui keberadaan Israel sebagai negara (yang dampaknya juga membuka hubungan diplomatik, menerima kedutaan Israel di sini, bisa memiliki kantor kedutaan Indonesia di Palestina -yang diklaim Israel sebagai wilayahnya jadi izin buka kantor kedutaan juga ke Israel nya). Gus Dur katanya pernah menginisiasi pendekatan ini tapi mentok karena penolakan besar di dalam negeri, rakyat Indonesia menolak mengakui Israel gitu. Mesir ‘berhasil’ membawa kedua negara ini untuk duduk bersama dan berunding, karena Mesir memiliki hubungan diplomatik dengan Israel (mengakui keberadaan negara Israel) ya walaupun belum berhasil mendapat kesepakatan juga sampai saat ini.

    Negara Islam lain, ‘bisanya’ kirim selimut, obat, dll gitu.

    Lalu saya puyeng, jadi gimana ya harusnya?

    Mohon dikoreksi jika salah, baru ngikutin (tapi belum mendalami) isu ini sebentar soalnya 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *