Salahuddin Al Ayyubi (Saladin), Dicinta Kawan Dipuja Lawan

Salahuddin Al Ayyubi

Salahuddin Al Ayyubi (Saladin), salah satu tokoh besar yang dipersembahkan oleh peradaban Islam di abad 6 – 7 Hijriah. Lahir tahun 1138 M di daerah Tikrit, Irak. Seorang keturunan Kurdi yang di usia belasan ikut hijrah bersama keluarganya ke Damaskus, Suriah. Namun menaiki panggung kebesarannya melalui daratan Mesir.

Namanya adalah Yusuf bin Najmuddin. Dijuluki sebagai Salahuddin. Dunia barat memanggilnya sebagai Saladin. Al Ayyubi merupakan nama keluarganya. Salahuddin Al Ayyubi.

Salah satu keistimewaannya adalah namanya tidak cuma bergema di kalangan muslim saja. Tapi disebut-sebut di berbagai literatur barat. read more

Don’t We All?

athlone, ireland

***

“There is nothing permanent except CHANGE.”

Sepanjang hidup kita tak pernah bisa lepas dari perubahan. Dari TK ke SD saja, padahal sekolahnya sama dan hampir 100% teman-temannya itu-itu juga, tapi gara-gara ganti baju seragam, saya sempat keder.

Agak canggung juga rasanya membawa tas yang lebih besar dengan buku-buku lebih banyak. Di TK kan sebagian besar waktu dihabiskan untuk menyanyi dan main-main saja, hehehehe. Kasihan ya anak-anak TK (di Indonesia) zaman sekarang :P. Padahal waktu masih berseragam rompi, selalu mencuri-curi waktu untuk mengintip anak-anak SD di gedung depan. Berharap agar waktu berlari dan akhirnya bisa melepas rompi, berganti kemeja dan rok payung :D.Tapi saat waktunya tiba, tetap saja ada rasa tidak nyaman. Malah ingin waktu berputar mundur, belum rela meninggalkan akses khusus kapan saja untuk menyerbu playground sekolah di belakang kelas.

Dari SD ke SMP lebih dinanti-nanti. Buat saya alasannya sepele banget. Model roknya beda, Cyiiinnnn. HIhihihihi. Anak SMP kan roknya model apa itu ya namanya, pokoknya rasanya lebih dewasa gitu, deh.

Tapi tetap saja begitu gongnya sudah berbunyi, mendadak muncul rasa ragu dan was-was. Akankah semua berjalan seperti yang diharapkan? read more

Mengirim Artikel Jalan-jalan ke Kartini

“Musim Semi di Gurun Saudi” adalah judul artikel jalan-jalan ke Kartini yang sudah tayang. Horeeee :D. Artikel lengkapnya bisa dicek di sini ya 😉.

Tapi… lagi-lagi artikel jalan-jalan :p. Hobinya kan sebenarnya menulis fiksi padahal. Artikel jalan-jalan ini muncul di edisi ke-2 di bulan November (15-29 november 2012).

Cara ngirim artikel jalan-jalan ke Kartini gampang, kok :

  1. Tulisan terdiri dari 1500 kata. Kira-kiranya begitu. Lebih/kurang 100 an kata mungkin tidak mengapa. Cek di word pakai fasilitas “word count”, ya ;).
  2. Siapkan foto-foto pelengkap. Minimal 8 buah. Resolusinya harus tinggi kalau untuk cetak di Majalah. Minimal 800 dpi dan pixelnya kudu gede juga (high resolution).
  3. Tulisan dibagi menjadi beberapa sub-bab/bagian. Lihat saja contohnya ya di link paling pertama yang saya kasih di atas tuh ^_^.
  4. Isinya yang penting ada what, where, when, who, with dan how to get therenya lah. Sertakan kuliner kalau ada. Info akomodasi juga dituliskan.
  5. Tulisan ditulis dalam dokumen word dan diattach ke dalam email. Demikian juga foto-fotonya di-attach ke email.
  6. Subyek email sih enggak harus seragam. Tapi sebaiknya to the point saja misalnya, “[Artikel Jalan-jalan] Wisata ke Kota Thaif”
  7. Badan email jangan dikosongkan lah ya hihihi. Tulis apa kek basa basi. Ucapkan salam, perkenalan dan sampaikan tulisan apa yang dikirim. Topik garis besarnya saja. Ucapkan terima kasih jangan lupa ;).
  8. Kirim email ke redaksi_kartini at yahoo dot com. Lho? Email yahoo? Emberrrr, ehhehehe. Saya juga sempat ragu. Tapi pas cek di media cetaknya memang kirimnya ke situ kok ;).

Saya kirim artikel jalan-jalan ke Kartini yang ini sekitar bulan Oktober gitu. Dua minggu kemudian dapat kabar akan dimuat dan diminta untuk mengirimkan kelengkapan foto-foto. Saya awalnya mengirim foto dikit saja dulu buat contoh. Tapi sebaiknya memang langsung dilengkapi saja. Minggu depannya sudah langsung dimuat setelah foto dilengkapi. read more

Challenge What The Future Holds!

by : Jihan Davincka

***

Saya termasuk beruntung. Dalam hitungan hari setelah sidang terakhir penentuan kelulusan, saya diterima bekerja. Bulan April 2002, saya sudah mendapat kepastian diterima bekerja. Jadi, ketika menghadiri wisuda di bulan September di tahun yang sama, saya sudah berstatus sebagai pegawai.

Tempat kerja pertama ini yang meninggalkan kesan paling dalam. As they said, “First love never ends.”

Kantornya di Cikini, tepat di depan stasiun kereta. Hanya membayar abonemen 45 ribu sebulan (bisa naik kereta sepuasnya), saya tinggal menyeberang jalan dari stasiun menuju lobi kantor. read more

Cerita Tentang Jeddah-nya Mana, sih?

Ada kooookkkk ^_^.

Khusus untuk Jeddah, saya kumpulkan semua di blog Mamasejagat. Saat ini sudah ada sekitar 40 postingan tentang kota Jeddah, lho. Mulai dari tempat jalan-jalan yang seru, kuliner, gaya hidup, pengalaman melahirkan di Jeddah, sampai tempat membeli abaya, semuanya bisa dicek di Mamasejagat kategori Arab Saudi – Jeddah.

Mamasejagat memang blog komunitas. Kontributornya banyak. Ada belasan orang. Kebetulan yang paling cerewet ‘pegang kunci’ adalah saya, jadinya postingannya paling banyak :D. read more