To Educate a Woman

Perselisihan kaum feminis di era 50 an juga memperuncing hubungan kaum kapitalis vs komunis. Salah satu daya tarik paham komunisme adalah dukungannya kepada persamaan derajat antara pria dan wanita.

Komunisme memesona bagi sebagian kaum feminis tentang ide “dunia baru” bagi kaum perempuan.

Sekarang ini kayaknya kita cenderung menilai pemikiran berdasarkan apa yang kita alami kini. Kita mencocokkan pola pikir dengan lingkungan/kondisi yang kita jalani sekarang.

Muncul anggapan, ide-ide kaum feminis bertentangan dengan agama. Padahal enggak juga. Misalnya, salah satu perjuangan kaum feminis ini adalah penolakan terhadap obyektifisasi terhadap perempuan. Apa ya padanan KBBI untuk obyektifisasi ini hihihi.

Kaum feminis menolak keras terhadap eksploitasi industri terhadap tubuh perempuan. Mereka benci bener sama yang namanya Kontes Kecantikan bla bla bla. Nah, sejalan kan sebenarnya dengan FPI dkk? Hehehe :p.

Satu sisi saya setuju juga. Sempat searching soal bikini dalam ajang Miss Universe. Oalah, ini ternyata karena memang salah satu sponsor awal acara ini adalah produsen bikini.

Kontes beginian sering berkilah mencari wanita cantik dan pintar. Sementara definisi cantik dan pintar kan sangat luas dan tidak stabil. Persepsi bisa diatur.

Pada akhirnya kontes-kontes beginian menyempitkan makna cantik dan pintar. Cantik adalah tinggi badan segini, ukuran payudara segini, lingkar pinggang seanu, … bla bla bla. Fisik kita diukur-ukur dengan dalih macam-macam. Definisi pintarnya malah enggak jelas melihat dari mananya.

Contoh lain … pameran mobil di tempat umum. Pameran begini biasanya memajang SPG perempuan dengan kostum yang gimanaaa gitu :p.

Sampai seorang teman saya (laki-laki) pernah buat joke, “Coy, ada pameran mobil di onoh. Nonton yuk. Lumayan, lihat pemandangan.” Laki-laki yang mendengar tertawa beramai-ramai.

Lalu beberapa dari mereka memasang foto mobil mewah dengan mbak SPG berpose ya begitulah di samping mobil dengan caption misalnya, “Bagus gak?”

Dari situ nanti komentar-komentarnya bisa bermakna ganda, antara mengomentari mobil atau embak-nya. “Wow mantap Gan, gede ya? Coba dudukin, enak gak? Kalau diraba luarannya mulus ndak?” atau “Berapaan tuh harganya, Gan?” atau “Sempat nyoba sampai ke dalam gak Bos? Luas apa sempit?”

Anehnya, kaum perempuan biasanya menghujat mbak-mbak SPGnya.

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

 

Seperti soal ada meme mengibaratkan perempuan dengan permen. Meme ini diaminkan oleh banyak perempuan dan dishare ramai-ramai dengan rasa bangga. Situ permen? Kasihan amat -_-.

Ada meme lebih gila lagi, semacam mau bilang “Kalau lo gak mau nutup aurat, terus lo jalan-jalan dilihat sama laki-laki terus lo diperkosa, jangan nangis, ya!”

Lagi-lagi yang share lagi-lagi kaum perempuan. Zzzzz -_-.

Coba pakai analogi lain. Ada orang yang berlibur ke luar kota. Dia lupa mengunci rumahnya. Rumahnya dibobol maling. Tentu saja polisi tetap menyalahkan si maling. Malingnya tetap sebagai orang yang paling bersalah dalam hal ini.

Heloooo … kalau ada uang jatuh di jalan apa itu berarti boleh dicuri? Enggak boleh kaaaaan :p.

Ya sama, perempuan pakai baju terbuka apa itu artinya dia minta diperkosa?

Ada banyak tempat di mana perempuan bebas berpakaian sesukanya tanpa perlu khawatir diapa-apain. Sebaliknya, ada tempat di mana perempuan sudah setengah mati membungkus diri atas bawah kiri kanan tetap saja tak membuat mereka aman bepergian sendiri :(.

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

 

Namun, sebagai pemilik rumah ya kalau mau pergi, rumahnya dikunci. Walau kita tahu, dikunci pun belum tentu maling enggak berusaha masuk. Di jalan, tas kita kekepin pun, tetap saja bisa dijambret. Apa pun kondisinya, penjambret dan perampok ya tetap penjambret dan perampok! Mereka salah dan harus dihukum, tidak peduli apakah rumah/tas sudah setengah mati kita gembok.

Ya sama! Kasus perkosaan pun begitu.

Memangnya situ sudah tertutup rapat pasti enggak bakal diperkosa gitu? Belum cencuuuuuuuu :p. Coba saja cek negara-negara yang menerapkan aturan pakaian tertentu. Bebaskah mereka dari kasus perkosaan? :(. Dalam kasus perkosaan, pelaku perkosaan adalah faktor utama terjadinya pemerkosaan. Mereka pelakunya. Yang diperkosa itu korban.

Jangan malah dibalik. Karena di zaman edan ini, balita perempuan di bawah umur pun bisa diperlakukan tidak senonoh bahkan oleh keluarganya sendiri.

Itulah hal lain yang diperjuangkan oleh kaum feminis. Kenapa kalau ada kejadian pelecehan seksual, perempuan yang kerap disalahkan. Perempuan yang harus menanggung malu. Perempuan begini perempuan yang begitu. Tekanan terbesar justru diderita oleh perempuan. Perbuatan laki-laki malah dianggap wajar -_-.

“Wajar saja dia diperkosa. Siapa suruh pakai rok mini!” –> ajaibnya, ini ucapan dari sesama perempuan sendiri :'(.

Di banyak belahan dunia, orang lalu lalang pakai rok mini tanpa perlu takut disuit-suitin sekali pun. Ada hukum yang melindungi :). Ada penegakan hukum secara disiplin. Ada budaya hukum formal yang menaungi.

Sebuah artikel random di sebuah majalah bercerita tentang sebuah fenomena di beberapa wilayah India, “Kebebasan bagi perempuan sesederhana … bepergian sendiri tanpa takut diperkosa.”

Budaya di sana, kalau ada perempuan diperkosa kalau dia jalan-jalan sendiri berarti si perempuan itu yang salah! -_-.

Dalam banyak hal di masa lalu, perempuan selalu dianggap sebagai “warga kelas dua”. Jangankan di India, di AMerika Serikat pun pasca Perang Dunia II, hal-hal macam di atas masih kejadian.

Info penting lainnya, kaum perempuan pasca 1960 an bisa bebas mengenakan alat kontrasepsi untuk memberi jarak dan membatasi kelahiran itu adalah upaya dari kaum feminis :p. Sebelumnya, dianggap tabu! Oleh negara seliberal US sekali pun! ;).

Perempuan harus membenahi persepsinya sendiri. Nyatanya, kaum perempuan yang “inferior” itu masih ada di sekitar kita di era yang katanya sudah jauh lebih modern ini :(.

Lah, itu kalian yang mengangguk-angguk kalau konon tubuh perempuan itu diumpamakan sebagai permen? Inferior!

Kaum perempuan yang merasa pakaian mini adalah undangan bagi kaum laki-laki untuk memperkosa? Inferior!

Laki-laki dan perempuan, masing-masing punya pertarungannya sendiri. Secara alamiah, laki-laki emang lebih ngeres hahahaha. Dan itu tidak ada hubungannya dengan jenis pakaian yang perempuan gunakan. Apakah seorang perempuan berpakaian terbuka atau tertutup, seorang laki-laki HARUS melawan nafsu ngeresnya itu :D.

Sebaliknya, naturally perempuan lebih suka pamer. Lebih baper. Lebih pengin dipuji, pengin diperhatikan. Lihatlah bagaimana industri fashion dan sejenisnya memanfaatkan kelemahan perempuan yang satu ini.

Lawan! Sebagai perempuan pun kita harus bekerja keras melawan nafsu yang satu ini :D.

Nah, kalau menurut saya itulah fungsinya berhijab. Melindungi diri dari nafsu sendiri. Berhijab = menyederhanakan penampilan :). Tapi soal menyederhanakan penampilan ya tidak harus berhijab. Karena yang pakai hijab dan malah jadi ribet itu juga ada :p.

Kalau nafsu orang lain itu di luar tanggung jawab kita, dong! Laki mah kalau emang dasarnya ngeres, ngobrol apa saja dengan siapa saja bisa lari ke mana-mana hahaha.

Menanggapi soal statement, “Perempuan baik PASTI pakai jilbab”?

Begini ya, sebagai muslim saya meyakini perintah kebaikan itu banyaaaaaakkk banget. Anggaplah contoh misalnya ada 100 perintah. Mengenakan hijab salah satu diantaranya. Tapi jangan berhenti di situ. Masih ada 99 lainnya kan?

Pakai jilbab enggak pakai jilbab, tidak bisa jadi satu-satunya ukuran kebaikan seorang perempuan :). Mengapa jilbab mengemuka dan sering dijadikan acuan? Mungkin karena penilaiannya yang KASAT MATA. Bisa dilihat dengan mudah oleh mata manusia kita:).

Gampang, dilihat dari jarak 10 meter juga sudah kelihatan.

Tapi begini …

Beberapa tahun lalu saya menonton acara Oprah Winfrey tentang seorang perempuan. Profesinya adalah dokter kandungan. Bule, tapi lupa asal negaranya.

Dokter kandungan ini sudah lama resah dengan kondisi perempuan di salah satu wilayah di Afrika. Perempuan di sana, kalau melahirkan malah disuruh menyepi ke hutan. Melahirkan sendiri di sana karena melahirkan dianggap aib :'(. Setelah melahirkan, tanpa intervensi medis sama sekali, para perempuan ini barulah kembali ke rumahnya.

Ada yang meninggal di hutan bersama bayinya. Ada yang tetap hidup tapi mengalami banyak masalah dengan organ intimnya karena ketidaktahuan mereka akan penanganan medis pasca melahirkan.

Si Dokter kandungan tadi akhirnya menuntaskan kegelisahannya. Dia menjual semua hartanya dan mengajak suaminya pindah ke Afrika. Dia menghabiskan uang hasil penjualan properti tadi untuk membangun klinik sederhana buat perempuan-perempuan afrika yang hendak melahirkan tadi. Memberikan penyuluhan dan pelayanan gratis kepada mereka.

Aih, saya yang sudah lama pakai kerudung ini pun tidak berani berkomentar sedikit pun soal kepalanya yang tidak tertutup sehelai kain pun. What she had done beyond my imagination *love*.

Saya percaya, keimanan itu diukur BERDASARKAN PERBUATAN. Bukan PENGAKUAN. Kalau cuma ngaku-ngaku ya siapa pun juga bisa ngaku ini-itu.

Untunglah, yang ditugasi mengukur perbuatan tiap manusia adalah malaikat bukan sesama manusia :p. Katanya, malaikat tidak punya hawa nafsu seperti kita manusia. Yang berhak mengukur isi hati hanya Tuhan bukan sesama manusia. Kalau sesama manusia yang disuruh menilai, ya suka-suka dia saja dong. Pasti yang masuk surga dia-dia aja beserta gengnya hahahaha.

Saya jangan dianggap menyerang orang berkerudung ya. Saya juga pakai kerudung kok *sodorinPashmina* :D. Pakai kerudung pun ujian yang cukup berat. Bagaimana agar kita tidak jatuh pada jurang kesombongan. Merasa diri lebih tinggi. Jangan sampai seenaknya menilai sesama perempuan yang kepalanya tanpa kerudung :).

Karena sungguh, kebaikan itu punya banyak dimensi. Terlalu banyak dimensi untuk bisa dipahami oleh keterbatasan kita sebagai manusia biasa. Entahlah kalau situ malaikat ya? :p.

Gambar : women2.com
Gambar : women2.com

 

Kaum feminis tidak masalah kok mau pakai pakaian mana pun dan menjalani gaya hidup mana pun. SIapa bilang mereka anti perempuan bercadar? Tidak benar kalau mereka benci dengan profesi ibu rumah tangga. Yang mereka tentang adalah pemaksaannya. Menurut mereka perempuan juga boleh punya keinginan sendiri.

Coba pahami kondisi tahun 50/60 an saat kaum feminis mulai marak, perempuan di masa itu macam mana kehidupannya. Biar kita tidak semena-mena menuduh mereka sesat dan semacamnya hehehe.

Namun, namanya pemikiran/ide, ada saja versi “garis keras”nya :D.

Berhentilah berantem-berantem dan judge-judge enggak jelas. Menganggap bahwa kita bertanggung jawab atas hal-hal yang sebenarnya di luar kuasa kita. Ya iya gitu katanya perempuan bisa bikin suami atau ayahnya masuk neraka. Bikin stres aja dah hehehe. Pemikiran kayak gini yang bikin laki-laki jadi merasa berhak ngancam-ngancam, “Pakai jilbab gak lo? Entar gue masuk neraka nih!” :p.

Gak gitu, ah. Setiap orang kan hanya bertanggung jawab atas keburukan atau kebaikan yang dilakukannya. Kita tidak berhak mengontrol orang lain. Setiap individu bebas dengan pemikirannya masing-masing.

Tugas orang tua/suami/kakak/kerabat/pendamping/teman ya hanya mengingatkan, bukan mengancam apalagi memaksa :D. Mentang-mentang katanya perempuan makhluk yang lemah. Jadi lebih gampang diintimidasi gitu? Situ minta diulek? Hahaha :p.

Ya itulah. Pemahaman atas ke-perempuan-an kita, entah dalam konteks berpakaian dan sebagainya, jadi modal penting sebelum kita melangkah lebih jauh sebagai … seorang Ibu.

Pemahaman itu nanti yang memengaruhi akan seperti apa masa depan generasi dunia kelak. Katanya ibu itu madrasah utama kan, kan, kan? :p.

Kalimat kerennya, “‘You educate a man; you educate a man. You educate a woman; you educate a generation.”

That we improve the way we see ourself and our peers, so perhaps … we are able to heal the (next) world, Mommies :).

Gambar : en.wikipedia.org
Gambar : en.wikipedia.org

***

Bisnis Gengsi :D

Jaket anak sulung sudah memprihatinkan. Udahlah kekecilan, kantong depannya juga sobek. Ini mah bukan sederhana yak, tapi tegaaaaaaa … hahahaha :p.

Tadinya bersabar mau menunggu musim diskon akhir tahun. Apalagi pas boxing day tanggal 26 nanti, brand-brand bagus biasanya banting harga habis-habisan. Beberapa toko sudah mulai duluan, sih :D.

Gambar : all-free-download.com
Gambar : all-free-download.com

Tapi memang dari dulu hasilnya sama. Berapa pun harga diskon di toko-toko lain, Penney’s tetap tak terkalahkan! :D.

Nih ya, kemarin lihat jaket di H&M, harganya 20 euro. Itu sudah diskon 50%. Ya memang bagus, sih. Tapi sebenarnya enggak butuh yang gitu-gitu amat. Butuhnya, yang penting tebal dan bahannya tahan air karena di sini kan hujan tidak memandang musim.

Tahun ini ya booo, dari musim panas, musim gugur sampai musim dingin nih, hujannya aweeeetttt :D. Debit air di Sungai Shannon yang melintasi kota saya juga membludak. Di beberapa wilayah pinggiran sungai sudah mulai banjir. Lah, malah bahas hujan dan banjir -_-.

Balik ke topik belanja :p.

Tahun lalu saya ingat, ke NEXT waktu boxing day. Jaket anak-anak juga pada diskon. Tapi ya semurah-murahnya itu kalau gak salah 19 euro. Rata-rata tetap di atas 20 euro. Memang harga aslinya bisa 40-50 euro, sih.

Saya jalan-jalan ke Penney’s beberapa minggu lalu buat nyari perbandingan harga. Jaket di Penney’s juga lumayan lah. Tebal dan bahannya juga enggak yang murahan banget. Widiiiihhh, harga asli saja rata-rata 20 euro. Malah banyak yang di bawah 20 euro. Harga asli, tuh. Sempat berpikir tamak, tunggu aja sampai diskon.

Ditunggu-tunggu kok ndak diskon-diskon juga ya -_-. Dasar kikir, nih, Bibi Gober hahahaha.

Jadilah tetap saya beli tuh jaket yang lumayan tebal. Harganya cuma 15 euro hihihi. Sudah ngantri di kasir pun, enggak bakal nyesel lah ya kalau besok-besok bakal diskon. Dapat harga segitu saja sudah paling murah diantara toko lainnya.

Tidak cuma jaket anak-anak saja. Hampir semua item di Penney’s tergolong jauh lebih murah daripada barang sejenis di toko lain. Ya beda-beda bahan dikit sih.

Tapi ada juga yang bahan sama, model pun mirip, tapi harga bisa jauh. Misalnya knitted clothes buat pakaian musim dingin yang lagi naik daun di kalangan fashionista. Di Penney’s lumayan banyak model dengan kisaran harga 15-25 euro saja. Sementara brand lebih besar, model mirip bahan bisa dibilang sama, harganya minimal 40 euro lah :p.

Itulah kekuatan nama besar sebuah brand, ya :D.

Gambar : cutorcopy.com
Gambar : cutorcopy.com

Kemarin dapat ilmu baru soal efek Diderot dari komentar seorang teman di wall Facebook saya. Sebenarnya penggambaran efek Diderot ini sudah pernah saya tulis di tulisan “This Best Feeling in The World”.

Diderot pernah diberikan sebuah baju mewah oleh seorang temannya. Saat baju tersebut digantungkannya pada kursi di rumahnya, dia tersadar betapa jeleknya kursi tersebut dibandingkan baju mewah tadi. Kursinya pun diganti. Setelah diganti, terlihat mejanya yang terlihat buruk. Meja pun diganti. Dan seterusnya.

Itu fenomena biasa yang memang menjadi pola umum sifat konsumerisme manusia di era modern sekali pun. Diderot padahal hidupnya di abad ke 18 :p.

Seperti yang pernah diobrolin sama Windi di postingan yang ini nih ;).

Hari-hari di akhir tahun, harus siap-siap menghadapi gempuran diskonan akhir tahun seperti biasa ya hahahaha. Jebakan luar biasa nih dari brand-brand besar :p.

Butuh banyak pegangan biar enggak kalap kali, ya hahaha.

Dalam hati kita semua, tak berbatas usia/agama/gaya hidup/dll, kita tahu kalau “hidup sederhana” itu adalah hal yang “benar” dalam “kondisi apa pun”. Iya kan, kan, kan? Hehehe.

Dalam hati meyakini tapi praktiknya yang ruwet!

Ukuran kesederhanaan sebaiknya jangan berpatokan ke jumlah harta. Kalau begitu nanti ujung-ujungnya, yang harus sederhana hanya yang miskin aja dong yak hahaha. Kalau banyak duit ya jadinya suka-suka. Selama uangnya ada, hajar teroooossss …

Sementara kalau uangnya gak ada terus harus sederhana, ya itu sih namanya terpaksa, yes? Hahaha.

Jangan juga berkilah dengan standar “kenyamanan”. Nyaman vs gengsi itu suka ketelisut soalnya :p.

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

Mengukurnya dari mana? Gampang saja. Dari kebutuhan. Definisi kebutuhan itu juga simpel banget. Kalau enggak ada, hidup kita jadi sulit. Hidup jadi sulit beda lho dengan “gengsi ah pakai yang CUMA gituan”.

Tuh, nyaman suka ketuker kan sama yang namanya gengsi? :p.

KESEDERHANAAN itu PRINSIP UNIVERSAL. Bersama dengan keikhlasan, kerja keras, kasih sayang, simpati, empati, … adalah hal-hal kokoh yang akan TEGAK berdiri tanpa sanggup kita tabrak. Nekat nabrak? Kita yang remuk. Percaya deh! ;). 

Salah kaprah yang sudah sering kejadian, miskin = sederhana, mewah = kaya. Mewah dan sederhana kan suka dinilai dari “casing luar” saja. Enggak heran, tidak sedikit orang yang berusaha tampil melebihi kemampuannya. Banyak orang juga yang kalau ada kelebihan harta biasanya langsung kena virus OKB hihihi.

Hal-hal begini, bagian dari tekanan lingkungan. Plus sifat dasar manusia yang pada fitrahnya kita ingin dihargai/diperhatikan/dihormati :).

Pernah saya nonton sebuah acara soal “behind the scene” barang-barang bermerek. Beberapa brand yang benar-benar “mewah” secara khusus tidak pernah memberi diskon apa pun. Malah, kalau sudah banyak yang sanggup beli, mereka akan terus menaikkan harga!

Mereka tidak mengincar pembeli yang banyak. Mereka mengincar “kesetiaan” konsumen. Kesetiaan itu dipertahankan dengan embel-embel GENGSI. Jadi, ada “nilai lebih” bagi yang sanggup membeli barang ini. Ya itu tadi, yang mahal adalah GENGSInya hehehe.

Yup, Pak Erizeli Bandaro juga dulu pernah menulis tentang “bisnis gengsi” ini. Sayang ya, enggak ketemu lagi tulisannya. Beliau kalau menulis banyak banget dan frekuentif. Susah menyelam di wall-nya nyari-nyari tulisan lama.

Jangan salah, ini bisnis besar yang mendatangkan banyak uang. Banyak yang berusaha bermain di bisnis-bisnis seperti ini karena memanfaatkan kelemahan umumnya kita sebagai manusia biasa yang gampang kalah sama yang namanya GENGSI. Apalagi perempuan! Hahaha *sadarDiri*.

Jangan galau, ya itulah namanya perjuangan hidup dong, ya. Untuk tidak gampang takluk dengan yang begini-beginian. Ini memang bukan perjuangan periodik. Seumur hidup kita harus terus mati-matian menangkis virus GENGSI ini :D.

Sukses tahun lalu, apakah akan sukses juga tahun ini? Kita lihat saja hasilnya di musim diskon tahun ini!!!! Hahaha.

Hang on, boxing day tinggal beberapa hari lagi lho! Hahahaha *ketawaPucat*.

Btw, jangan dikira cobaan terbesar itu saat kita sedang pas-pasan. Because definitely, it’s not! ;).

Yuk ya, rapalkan manteranya –> “The best feeling in the world is realizing that you’re perfectly happy without the thing you thought you needed” -Marxie

 

monkey happy

 

Risihnya Menyusui Depan Umum :(

Enggak menyangka kalau menyusui depan umum di negara maju satu ini bakal bermasalah.

Saya kaget dengan fakta bahwa Irlandia termasuk negara yang cukup rendah tingkat ibu menyusuinya. Bener gak nih kalimatnya. Bacanya kok ribet   Iki piye, negara maju kok agak menyalahi pakem umum, ya? :D.

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

Waktu masih dirawat pasca melahirkan saja, saya sudah heran, suster bolak balik ke tiap bangsal menawarkan botol susu bersih. Di sini, bayi baru lahir langsung room in ke ibunya.

Pas mau ke kamar mandi, saya perhatikan di meja-meja bangsal lain sebelah saya, kok banyak botol susu di mana-mana ya?

Saya melahirkan dengan asuransi publik. Btw, melahirkan di Irlandia memang gratis sih :D. Tapi ya itu, fasilitasnya jangan bayangin kayak di Jakarta dan di Jeddah hihihi. Di sini kamar inap pasca melahirkan isinya … 6 orang! Yyyiiuuukkk :p. Berasa kemping hahaha.

Malam-malam, satu bayi menangis, bisa paduan suara deh tuh satu kamar -_-. Saya malah enggak bisa tidur. Madam mode on nih. Di Jakarta dan di Jeddah, kamar sendiri melulu booooo *ihiyHorangKayah*.

Di Irlandia, pulang ke rumah, ada fasilitas bidan yang mengunjungi beberapa kali untuk bantu mengontrol ibu dan anak. Termasuk menimbang berat badan, ngajarin breastfeeding (kalau mau), ngajarin mandiin anak, pokoknya bisa bantu-bantu kalau kita mau. Tentu saja … gratis! :p. Masih bagian dari pelayanan melahirkan gratis –> program pemerintah. Nanti dibahas terpisah deh ya yang lebih komplitnya dengan tema “Melahirkan di Irlandia” :D.

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

Tentu saja suami saya marah kalau saya memuji yang gini-ginian. Katanya, “Enak saja gratis! Kita bayar pajak tauk!” Hahahaha :p. Dese memang suka stres kalau lihat slip gaji :v :v.

Nah, si bidan ini yang cerita kalau budaya menyusui memang bukan budaya Irlandia. Kampanye breastfeeding sih lumayan gencar. Cuma ya, orang bule santai, sih, ya. Gitu-gitu doang. Bagi brosur, penyuluhan terus udah deh. Harus banyak belajar ini dari mamak-mamak Indonesia yang kalau kampanye ASI, beuh! Ngeriiiiiii :p.

Agak anomali emang. Katanya sih di banyak negara lain di Eropa, tingkat ibu menyusuinya bisa mencapai 90%. Entah kenapa Irlandia hanya mencapai 50-an persen.

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

Efek lanjutannya lumayan. DI sini tuh susaaaaaaahhh banget nyari yang namanya nursery room. Adanya tempat ganti popok doang. Untung toilet cukup bersih, ya. Jadi bisa nyusuin anak di toilet hihihi. Waktu acara KBRI kemarin di Dublin, saya 3x ke toilet buat nyusuin. Gedungnya cukup besar tapi tidak ada fasilitas ruang menyusui -_-.

Sama. Di mal-mal juga tidak pernah ketemu. Saya pernah nyusuin anak di ruang ganti pakaian perempuan hahaha. Saya risih kalau nyusuin depan umum. Mau pakai nursing apron juga risih. Apalagi emang di sini enggak umum nyusuin depan umum. Kalau di Indonesia kan, apalagi di mal-mal besar, nursery room nya kece-kece ya ^_^.

Nursery Room di Kota Kasablanka, gambar : theurbanmama.com
Nursery Room di Kota Kasablanka, gambar : theurbanmama.com

Makanya nih, agak susah keluar rumah. Paling jemput anak pulang sekolah saja. Untungnya lagi anak ketiga nih enggak rewel bawaannya. Kalau didorong di stroller biasanya tidur saja.

Oh well, saya agak gimanaaa gitu dengan anak ketiga ini. Lahirnya kecil banget. Cuma 2.85 kg. Kakak-kakaknya 3 an kg semua huhuhu. Manalagi waktu di rumah sakit, ditimbang sebelum keluar rumah sakit bareng bayi-bayi bule yang ukurannya jumbo-jumbo huhuhu. Mungil bangeeeet :D.

Tapi makin ke sini beratnya melebihi berat abang-abangnya hihihi. 3 bulan sekarang beratnya sudah hampir 7 kg. Bayangin itu lahir cuma 2.85 :p. Pengaruh pola makan food combining kah? #eaaaaaa. Gila-gilaan nih makan sayurnya  ;).

Bahagianya 2x lipat, karena berat badan saya terus menyusut sementara adek bayi makin montok.

Tapi stres juga enggak terlalu bebas ke mana-mana karena kendala menyusui depan umum itu. Kemarin pas ke Christmas Village di Dublin, saya menyusui di tempat makan di foodcourt. Tempat ganti popok lagi ramai antriannya. Gak enak mau lama-lama di dalam. Duh, enggak nyaman banget -_-. Walau ditutupi juga gimana gitu, ya.

Jadinya malas keluar rumah lama-lama.

Padahal kan kepengin juga tetap kelayapan ke mana-mana yak :D. Mungkin kalau ke tempat-tempat sepi gak masalah, sih. Atau juga bisa menyusui dalam mobil. Ummm… tapi tetap saja kepengin nursery room lucu-lucu kayak di Jakarta hihihi :p. Nursery room-nya aja, jangan macetnya yaaaaa hahaha :p.

Efek tambahan, di sini susah nemu nursing apron :p. Apalagi toko-toko kayak Mothercare segala macam enggak ada di kota kecil saya ini. Adanya di Dublin semua. Saya pakai pashmina aja jadinya.

Untungnya sudah anak ketiga ya jadi lebih pengalaman. Mungkin kalau anak pertama bisa lebh drama hahaha :p.

When You Smile Like Monalisa :)

Joan berlari membuka pintu, mengejar Katherine yang bergegas pergi, “It was my choice not to go! He would have supported it.”

Katherine menggeleng, “But you don’t have to choose!”

“No, I have to. I want a home, I want a family! That’s not something I’ll sacrifice.”

Katherine berkeras, “No one’s asking you to sacrifice that, Joan. I just want you to understand that you can do both.”

Gambar : imdb.com
Gambar : imdb.com

Joan mengernyit, “Do you think I’ll wake up one morning and regret not being a lawyer?”

“Yes, I’m afraid that you will.”

Joan menangkis, “Not as much as I’d regret not having a family, not being there to raise them. I know exactly what I’m doing and it doesn’t make me any less smart. This must seem terrible to you.”

“I didn’t say that.”

Joan keukeuh, “Sure you did. You always do. You stand in class and tell us to look beyond the image, but you don’t. To you a housewife is someone who sold her soul for a center hall colonial. She has no depth, no intellect, no interests. You’re the one who said I could do anything I wanted. This is what I want.”

Sudah nonton fim Mona Lisa Smile? Ingat tidak dengan scene yang saya kutip di atas :D.

Hari Guru ya, tentunya kudu eksis! Nyahahaha :p.

No, no, I won’t mention any spesific teachers for my 16 years of my formal education back then :D. Buat saya, mereka semua sangat pantas untuk dikenang dan comot sedikit tulisan Mas Iqbal, setiap mereka punya peran dalam membentuk seperti apa kita sekarang :).

They’re all my heroes <3.

Guru identik dengan pendidikan. Dan somehow, buat perempuan, pendidikan itu punya jalan panjang nan berliku not mention drama-dramanya hehehe. Karena itu, banyak film-film yang diangkat dengan tema-tema “to educate women” macam Mona Lisa Smile tadi :).

Seorang guru ala-ala feminis, Katherine, datang mengajar seni di sekolah khusus perempuan di Massachusetts. Bisa dibilang, sekolah ini tempat berkumpulnya perempuan-perempuan berotak encer :D.

Entah kalian sadar atau tidak, bahwa “feminis” itu termasuk isu baru di abad ke-20 yang baru kencang berhembus pasca Perang Dunia 2. Diakibatkan perang berkepanjangan, perempuan pun terpaksa mengambil banyak peran sementara kaum lelaki pergi bertempur di garis depan.

Gambar : en.wikipedia.org
Gambar : en.wikipedia.org

Perang usai, kaum perempuan menyadari satu hal. Sebagian mereka tidak ingin “pulang ke rumah” dan tetap ingin melanjutkan peran di luar rumah. Itu baru terjadi di tahun 50 an lho.

Jadi, bayangkan kerennya pemikiran perempuan-perempuan Indonesia yang sudah menggagas pendidikan dan kebebasan buat kaum perempuan di Indonesia sebelum tahun 1945 ;). Tak sedikit dari perempuan ini justru datang berbekal semangat dan pengetahuannya tentang Islam. Ironisnya, sekarang beberapa kalangan Islam yang malah berusaha membenturkan kembali soal beginian.

Kaum feminis menentang banyak hal. Tapi alih-alih meminta keadilan, lama-lama jadi lepas kendali sehingga ada perlawanan dari sesama kaum perempuan sendiri. Kaum feminis dianggap lebay dan menganggap laki-laki sebagai musuh.

Sebenarnya sih, ada juga feminis yang agak ‘waras’. Mereka tidak memperjuangkan kesetaraan yang gimana-gimana. Mereka hanya ingin PEREMPUAN BISA MEMILIH.

Dan pesan bahwa “PEREMPUAN BISA MEMILIH” itu dijabarkan dengan sangat baik di film Mona Lisa Smile.

Gambar : slopemedia.org
Gambar : slopemedia.org

Tahun 50-an banyak anak gadis yang bersekolah seadanya hanya untuk mencari suami yang mapan. Agar mereka punya akses ke arah sana. Masih tabu bagi perempuan untuk terus melanjutkan pendidikan selepas pendidikan selevel SMA. Lulus SMA ya kawin, gitu normalnya.

Sementara, pilihan untuk peran ganda, berkarier sekaligus berkeluarga juga belum umum, lho. Bayangkan itu tahun 50-an. Belum ada 100 tahun dari sekarang! :p.

Tapi lantas, semangat kebebasan ini lama-lama dirasa memojokkan sebagian kalangan perempuan yang memang niatnya ingin menikah dan mengurus anak. Sisanya nyusul ajalah hehehe. Ya syukur-syukur bisa kerja dari rumah. Tidak pun tidak mengapa.

Di Mona Lisa Smile, endingnya juga cakep dan enggak basi. Sorry spoiler hehehe. Tokoh Joan yang mati-matian pengin jadi lawyer dan memang termasuk yang paling cerdas dan rajin akhirnya memutuskan untuk menikah dan tidak mendaftar ke Yale University padahal keterima.

Di percakapan di atas tadi, Joan meyakinkan Katherine bahwa itu adalah PILIHANNYA. Dan pilihan itu tidak membuatnya menjadi tidak merasa pintar, “It doesn’t make me less smart.”

Sebaliknya, ada murid yang lain, Bettie, yang tadinya konservatif banget dan suka meledek Katherine yang dianggapnya “perawan tidak laku”. Bettie nyolot melulu ke Katherine. Bettie sakit hati ketika suaminya ternyata selingkuh. Ibu Bettie memaksa Bettie memaafkan dan melupakan dan terus melanjutkan pernikahan. Perceraian juga termasuk tabu lho waktu itu. Perempuan pun tidak leluasa minta cerai.

Instead, Bettie, yang memang dasarnya juga vokal dan encer, nekat minta cerai dan memutuskan untuk mendaftar ke Yale University yang juga menerimanya :). Ini pokoknya satu geng pinter semua lah ceritanya hihihi. Joan, Bettie, sama ada 2 orang lagi yang seru juga kepribadian dan konfliknya. Suka banget deh sama film ini :D. Perempuan banget hehehe.

Perempuan memang spesial. Banyak dibatasi tapi kepadanya pula banyak tertumpuk harapan setinggi bintang, as they always said, “Perempuan itu guru pertama buat anak-anak mereka nantinya.”

Perempuan makanya harus pandai berdamai dengan dirinya sendiri. Karena pengaruhnya besar kepada anak-anak ditambah lagi tugas penting mendampingi suami. Mendampingi kan bukan hanya cekokin nasi ke mulutnya kalau dia lapar atau setrikain kemejanya kalau dia mau ke kantor toh yaaaa :p.

Kita sendiri yang harus pandai-pandai memutuskan. Pintar-pintar mengenali diri sendiri. Menjunjung tinggi pendidikan tapi tidak mengikat diri kepada label-label yang menyertainya. Sekaligus jangan doyan membanding-bandingkan karena kita ini rentan diadu domba karena lebih baper :p. Hehehe. Terima saja fakta kalau kita ini lebih baper. BAwaannya laPER melulu hahaha :p. Ibu menyusui mode on :v :v.

Peran guru, harusnya lebih banyak menginspirasi ketimbang hanya transfer ilmu. Itu sih, era sekarang baca wikipedia juga sudah cucok yaaaaa :p.

Untuk peran semulia itu, makanya perempuan diciptakan spesial ;).

“Let me tell you something, Toula. The man is the head, but the woman is the neck. And she can turn the head any way she wants.” -Maria Portokalos, from the movie Big Fat Greek Wedding-

Selamat hari guru <3.

Sifat Wanita : What Women Want

Sifat wanita : “Most women want a man that has it all. But a real woman seeks success on her own, only to find a king to build an empire with.”

Saya langsung sadar, I’m that most women! Hahaha :p.

I'm not sure where I get this pic :D
I’m not sure where I get this pic 😀

Iya banget. Semasa gadis sesekali saya membeli majalah Cosmopolitan yang dulunya bertajuk “Fun Fearless Female”. No matter how hard I try to become one, akhirnya saya harus terima kenyataan saya ini tipe “I can’t stand being alone. Pokoknya persetan dengan semua, saya mau kawin! Titik.” *benerinBuluMata*.

Beberapa teman malah menganggap saya tipe pengejar karier. Ya mungkin itu yang berusaha saya tunjukkan. Entah karena dulu jomblonya kelamaan jadi butuh pelarian atau karena biar dianggap keren aja gitu hihihi :p.

Btw, quote di atas saya temukan di newsfeed sudah lama banget. Di postingan siapa gitu. Tertulis rapi dengan latar Beyonce lagi tos-tosan sama suaminya.

Walau saat belum menikah bawaannya haus darah melulu saban lihat laki-laki lajang (hahaha), saya selalu kagum dengan tipe-tipe Mbak Beyonce ini ^_^. Mirip dengan salah satu sahabat saya dulu. Yang selalu menertawakan keinginan saya untuk cepat-cepat kawin. Ealah, eike masih jatuh bangun mengejar cinta *tsaaah*, dese sudah duluan duduk di pelaminan -_-. Ah, ah, takdir siapa yang tahu ya ;).

Saya pribadi cenderung merasa di era terkini, kemandirian perempuan sering dianggap berbanding lurus dengan ketidakbergantungannya (duh apa sih ini bahasa enaknya :p) kepada kaum lelaki. Makin enggak bergantung makin mandiri. Di mana yang namanya mandiri identik dengan cari duit sendiri.

Dari cara kalian menghandle keuangan, untuk perempuan nih ya, termasuk “tipe Beyonce” atau tipe “ngikut apa kata ATM suami”? Hahahaha :D.

Emang nih jadi perempuan kadang pilihannya jadi ribet sendiri. Yang misalnya berkarier demi alasan kemandirian dihantui tuduhan macam-macam. Mulai dari alasan menelantarkan anak sampai ancaman enggak masuk surga :p. Ini beneran lho.

Tapi yang memilih “santai” di rumah pun, pressurenya beda lagi. Tempo hari saya pernah mendapat beberapa email dari yang ngakunya suka baca blog dan bertanya kira-kira cara nyari duit dari rumah apa saja ya? Katanya zaman sekarang kalau perempuan enggak bisa nyari duit sendiri tuh anu-anu-anu bla-bla bla. Udah berasa pengasuh rubrik Oh Mama Oh Papa gak lo? Hahaha.

sifat wanita Gambar : quizony.com
Gambar : quizony.com

Yaela, saya juga enggak punya penghasilan tetap kali, ah :p. Ya paling juga sesekali ngirim tulisan ke media cetak kalau lagi banyak lowong dan enggak malas. Iklan di blog? Waduuuuhhh, masih jauh banget dari harapan :D.

Sebagian teman saya beralibi katanya enggak betah kalau dikit-dikit minta suami. Lah emang kenapa? Yang enggak bener itu kalau dikit-dikit minta uang dari … suami orang lain! *asahGolok* :v :v.

Kalau mintanya dari suami sendiri salahnya di mana? ;). Terserah saja kalau ada yang merasa ‘gengsi’ dan merasa lebih keren kalau bisa punya sendiri. Preferensi masing-masing ^_^. Tidak ada hubungannya dengan BENAR atau SALAH :D.

Ada yang merasa suami sungguh beruntung punya istri yang juga mau bekerja keras mencari uang sendiri. Ah, tidak juga :). Ada kok tipe suami “konservatif”, yang lebih nyaman kalau istrinya tenang di rumah mengurus anak dan rumah tangga. Suami saya salah satunya hehehe.

Saat masih kerja kantoran, pernah mengobrol dengan teman di kantor (laki-laki), dia punya pemikiran, “Bini gue mah gue larang berhenti kerja, Je. Gimana ya? Kalau dia di rumah-rumah aja takut dianya jadi enggak update dan kuper.”

Waduh! Urusan kurang update dan kurang pergaulan di era internet begini kayaknya enggak relevan lagi lah yaoowww hehehehe. Gak ada hubungannya, kudet sama apakah seorang ibu bekerja atau tidak ;). Emang iya yang jarang keluar rumah sudah pasti lebih kudet?

Sini, sini, adu-aduan update info sama gue berani kagak? Mau cerdas cermat topik apa? Gosip artis, politik, ekonomi? Hahhahaha *kepretPakaiDaster*. Itu mah tergantung tingkat ke-kepo-an kali yaaaaaaa :p.

It’s good if you’re a woman who can stand on your own dalam urusan keuangan ;). Ih, saya mah senang banget punya sahabat model begini. Kalau ketemuan dan makan bareng tinggal merajuk, “Gue kan pengangguran, elo kerja. Traktir yak.”

sifat wanita Gambar : buzzquotes.com
Gambar : buzzquotes.com

Jangan iri atau merasa terintimidasi ^_^. Rugi sendiri. Mending kita hepi-hepi bareng :D. Duh, langsung nyari daftar teman yang harus dihubungi kalau mudik buat minta traktir hihihihi :p.

Hal lainnya, kita cenderung mengeneralisasi kasus per kasus.

Misalnya ada kasus istri yang disia-siakan setelah dicerai. Hidup jadi susah harus ngurus anak sendiri dan suami ogah mengongkosi. Katanya si perempuan ini hanya bisa pasrah enggak tahu harus ngapain. Langsung deh jump into conclusion, “Tuh kaaaaaaan, gue bilang juga apa. Perempuan tuh harus bisa cari duit sendiri. Harus!”

Padahal ada juga kasus perceraian yang justru menimpa seorang perempuan saat dirinya ada di puncak karier, tampangnya juga cantik dan bodinya oke, tapi ya itu…suaminya tetap berpaling ke perempuan lain.

Soal kasus pertama, itulah mengapa menurut saya jadi perempuan itu harus cerdas dan kuat, untuk alasan apa pun. Tapi jangan menyempitkan arti kecerdasan dan kekuatan dengan hal-hal standar macam, “harus pintar nyari duit sendiri/berdikari” bla bla lainnya.

Pahamilah hak kita sebagai istri :). Saya juga tipe yang percaya rezeki itu di tangan Tuhan, tapi ada yang namanya ikhtiar kan? Dalam perceraian ada yang namanya harta gono gini.

Banyak yang mengira gono-gini ini maksudnya harta atas nama bersama. Salah! :D. Atas nama suami/nama istri pun jika diperoleh setelah menikah (dan kita tidak terikat dalam perjanjian pranikah apa pun) maka seharusnya bisa dimasukkan sebagai harta gono gini.

Kewajiban membekali anak itu juga ada pada suami. Sudah bercerai pun ya tetap begitu.

Jangan gaptek urusan keuangan walau aslinya kita enggak pinter masalah ekonomi :). SEkali lagi, pahami hak kita. Tapi jangan lupa, bersama hak selalu ada kewajiban yang menyertai ;). Jangan asyik saja menuntut suami harus ini itu sementara situ sendiri “pelayanan”nya sudah oke ndak? :p.

Masalah pembawaan aja sih ya ini. Saya sendiri tipe “pemalas” hahaha. Enggak pinter dalam urusan mengelola duit :p. Semuanya dikelola suami. Tapiiiiii, saya tahu semua seluk beluknya ;). Harus mau belajar.

Selain cerdas juga harus kuat. Kuat tidak selalu berarti mandiri secara ekonomi juga. Kuat ini lebih ke arah mental. Selalu persiapkan untuk kemungkinan terburuk apalagi dalam kondisi kita tidak punya ladang uang selain kantong suami hehehe.

Tapi saya pernah ketemu perempuan yang ternyata setelah ditinggal suaminya tetap “terpuruk begitu dalam” padahal beliau adalah tipe yang juga ikut mencari nafkah bersama suami. We don’t judge her. Let’s learn something, yes? :). Ini masalah mental juga.

Ada juga yang pernah bilang katanya kalau “ibu rumah tangga doang” (whatever this means :p), nanti enggak dapat respek dari suami maupun anak-anak. Wah, wah, wah, situ kudu kenalan sama eike punya ibu mertua hehehe :p.

Beliau, dari sejak menikah sampai detik ini tidak pernah sepeser pun menghasilkan uang sendiri, apa membuat beliau jadi kurang pede? Ho ho ho. Menantu-menantunya aja ngeri ya booooo hahahaha :p. “Ngeri” in a positive way dong ya ;).

Yang istimewa, rasa respek ini justru saya dengar sendiri dari suami dan anaknya. Dari bapak mertua dan suami saya, salah satu anaknya :D.

Balik lagi, tergantung orang per orang, kasus per kasus, plus situasi kondisi tertentu. Ya intinya jangan suka panik sendiri dan heboh sendiri lah hehehe. Dengar kasus ada anak yang disiksa baby sitter, langsung kayak orang gila nuduh-nuduh ibu bekerja di luar rumah dan memercayakan anak pada orang ketiga berarti tidak sayang anak misalnya :p.

Gambar : www.plesents.com
Gambar : www.plesents.com

Dengar ada istri yang kebetulan tidak punya penghasilan sendiri ditinggal kawin sama suami dan disia-siakan langsung ribut menyarankan perempuan HARUS bisa nyari duit sendiri hehehe.

Jangan yaaaaaaaa :D. Dunia ini tidak hitam putih saja. Faktornya buanyaaaaaakkkk.

Walau saya setuju juga dengan pendapat yang mengatakan, “The sense of independence and security is very sweet.”

Tapi kemerdekaan sesungguhnya itu termasuk kebebasan MEMILIH ^_^.

Anyway, setelah menikah, namanya istri ya harus kerja sama dan konsolidasi paling penting dan utama ya sama suami dong :D. Kalau sibuk mikirin apa kata orang atau apa yang lagi nge-trend di timeline media sosial :p, waduh, enggak ada kelarnya, Cuy. Hawanya pengin bela diri aja terus hahahaha.

Rebut hati suami kan macam-macam caranya. Ada lho itu orang yang saya kenal yang walau istrinya rempong, enggak kerja, cerewet pula. Tapi sang suami tetap setia pada yang bersangkutan. Konon, karena dia enggak bisa makan kalau bukan istrinya yang masak! :D. Urusan perut boooo ^_^.

Tapi jangan lantas patah semangat yang enggak terlalu lihai di dapur. Ada juga tipe suami yang tidak terlalu fokus sama hasil tapi selalu menghargai apa pun yang dimasak oleh istri tercinta *pelukSuamiSendiri* <3.

Setiap rumah tangga, kepribadian orang-orang yang ada di dalamnya kan beda-beda. Ada suami yang bangga istrinya ikut bekerja, ada suami yang justru meminta istri enggak perlu banyak cing cong urusan cari duit hehehe. Ada istri yang memang bawaannya enggak bisa “diam” di rumah, ada yang memang merasa asyik-asyik saja walau dari pagi sampai malam seputaran dapur-kamar-ruang tamu aja urusannya. Tentunya …plus facebook! Hahahahaha :p.

Gak apa-apa. Yang mana-mana sajalah. Ngomongin resiko ke depan ya semua juga ada resikonya. Be prepared :). Dunia toh berputar terus. Hari ini yang pilihan sono yang naik daun, besok-besok pilihan sini yang dipuja-puja. Namanya juga manusia :p. Apalagi kalau patokannya dunia maya. Labil abis lah pokoknya :D.

Tapi adalah benar kalau gini-ginian lebih rempong rasanya jadi perempuan ketimbang jadi laki-laki hehe.

“The great question that has never been answered, and which I have not yet been able to answer, despite my thirty years of research into the feminine soul, is ‘What does a woman want?’ ” -Sigmund Freud

Gambar : www.popmatters.com
Gambar : www.popmatters.com

Let’s be the one we want without over thinking what others should say, yes? ;).

Walau dalam perjalanannya, bolehlah sekali-sekali kita kita merasa tersinggung dan tersentil dengan pendapat orang lain. Secukupnya saja :D. Bolehlah kadang-kadang terasa iri. Dalam hati saja, jangan sampai meledak ke mana-mana hehe.

As they said, peace comes from within. Yang paling dasar tentu berdamai dengan diri sendiri dulu :).

Have a nice weekend, Ladies <3.

***