[Netflix] Review film The Social Dilemma

Yang lagi happening nih film dokumenter di Netflix. Film The Social Dilemma.

It’s a bit weird, discussing about how dangerous the social-media-business-model melalui salah satu platform media sosial itu sendiri hihihihi.

Iya kannnn? Check this out … yang bikin filmnya Netflix, dipublikasikan lewat Youtube dan dibahas rame di IG, Twitter, dan FB. Piye? Semuanya produk medsos yang lagi dikritisi

😝

Asyiknya menggunakan medsos itu salah satunya karena gratisnya kan? Makanya salah satu pesan penting dari film ini, “If you’re not paying for a product, you’re the product”.

Logikanya, mereka dapat duit dari mana sih? Jualan apa sih? Yang dijual ya preferensi kita-kita ini sebagai pengguna hehehe. Jumlah click kita merupakan salah satu ladang duit bagi FB-IG-Youtube-Google dst dst dst.

HOW?

Business model media sosial yang utama adalah SEBISA MUNGKIN MEMBUAT PENGGUNA BERLAMA-LAMA menggunakan platform mereka.

Caranya? Menyuguhkan, memberikan, menyarankan, INFO yang dianggap menarik bagi pengguna.

Kok bisa terbaca ya preferensi penggunanya? Bukan sulap bukan sihir, kok. Apalagi semua data kalau sudah terDIGITALisasi (is this even a word? cmiiw hihihihi).

Ini tuh bukan kayak kita dihipnotis atau semacam scam untuk memberikan info rumah di mana, nomor rekening berapa, bla bla bla. Mereka berusaha “membaca” … kira-kira ni user senengnya baca/lihat tentang apa ya?

Nah, dari scrolling an kita, berapa lama kita tertahan pada postingan tertentu, ke mana jempol kita sering mampir untuk nge-LIKE, di mana kita menghabiskan waktu berkomentar berlama-lama, foto mana yang membuat kita terhenti sejenak. Bahkan jumlah detiknya bisa dicatat dengan sangat-sangat tepat.

Selamat datang di dunia digital yang tidak punya wilayah abu-abu. Binary/biner, kalau enggak 0 pasti 1.

Data-data ini mungkin kelihatannya remeh saja. Tapi bayangkan dari sekian jam yang kita habiskan di media sosial setiap hari TEREKAM terus. Tanpa sadar kita membuka diri secara gratis, sukarela pula.

😃
Image by Tumisu from Pixabay

Data segabruk inilah yang diolah menjadi INFORMASI. Mereka bisa membaca pola atau kebiasaan kita. Dengan mudah, mereka bisa mengatur postingan/foto/tulisan/video mana yang ingin kita lihat.Kalian tahu kan, setiap akun di media sosial itu bisa beda-beda isi news feednya.

😉

Ini tuh bukan RANDOM semata. Tapi misalnya Facebook, begitu kita login, FB akan langsung memperhitungkan semua history kegiatan kita yang lalu-lalu untuk kemudian memprioritaskan postingan-postingan yang sesuai dengan minat kita.

Begitu algoritma udah diset, dengan kecepatan akses data yang makin ke sini makin dahsyat, dalam tempo sepersekian detik juga beres hehehe.

Kita terus scrolling, kita klik, kita like, scrolling lagi, terus ada postingan yang bikin emosi, kita komen, kita berantem (hahhaha), terus scrolling lagi, dst dst dst.

Kalau sudah begini, berjam-jam pun tanpa terasa kita habiskan di FB. Makin ketagihan, makin besar nama FB yang mengundang para pengiklan untuk ‘jualan’ di sini. Yang ngiklan nanti itu ya kita-kita juga sebagai pengguna hahahaha.

Dengan modal data segitu besar, informasi yang lumayan akurat, FB dengan mudah memetakan, iklan mana untuk siapa.

Everybody’s happy …. NOT!

Image by Robin Higgins from Pixabay

Jangan lupa … media sosial tidak peduli kalau postingan itu hoaks atau bukan, apakah postingannya bisa meningkatkan kualitas hidup apa enggak, pokoknya gimana caranya si Jihan Davincka ini bisa menghabiskan waktu selama mungkin di FB. Others … they don’t care!

Jadi segala sponsored post, recommended video, endebre endebre itu tidak muncul begitu saja. Tidak random. Ada algoritmanya.

Mungkin kita akan menangkis, “Ah, itu mah orang tolol doang yang bisa kena hoaks, yang akan tergiring hate speech, gue mah pinter cuy. Gue pergaulannya luas. Gue mah suka melihat dari berbagai sisi.”

Unfortunately, you’re not, Dear. Sooner or later, business model seperti ini akan menjebak kita semua. Karena punya pemetaan data yang luar biasa luasnya, semua pengguna media sosial bisa kena imbas.

Image by Gerd Altmann from Pixabay

Contohnya, metode pencarian di Google.Kalian pernah ngecek gak, kata kunci yang kalian ketikkan di Google itu bisa beda-beda hasilnya di tiap wilayah/negara/domain?

Try it yourself, ketik “Justin Bieber” di domain Google yang berbeda. Perhatikan kata kunci yang keluar, daftarnya pasti beda-beda. Kalau anak SEO pasti taulah hehehe.Jadi Google akan menyarankan kata kunci yang BANYAK dicari, sekali lagi, bodo amat isinya relevan atau enggak.

Soal relevansi ISI postingan sama standar Google itu beda lagi, yes? Google tetap terus mengupdate algoritma untuk membuang link-link ngawur. But remember, ngawur vs hoaks itu 2 hal berbeda. Siapa bilang tulisan hoaks pasti ngawur?

Banyak loh artikel ‘bullshit’ yang memutarbalikkan fakta yang ditulis dengan gaya gemilang nan meyakinkan.

Image by mohamed Hassan from Pixabay

Oooo karena itu ya susah menangkal hoaks di Indonesia apalagi di masa pandemi begini? Kate siapaaaa di Indonesia doang hahahaha. Familiar dengan Qanon Conspiracy? Selevel Australia yang budaya literasinya kuat pun banyak kalangan terpelajar yang kepincut sama si Qanon.

Emang kalian kira penganut teori bumi datar dan kalangan antivaks (berbasis hoaks) itu cuma ada di Indonesia? Tet tooot! Lu kira di negara maju kayak Irlandia mereka gak percaya hoaks? Hahahaha.

Ada loh yang komen, “Kita kena Covid karena Irlandia sudah melegalkan pernikahan sejenis dan aborsi. Ini karma buat Irlandia!” Yang nge like dan memberikan sub komentar setuju juga banyak. Mereka merajalela di berbagai belahan dunia.

Image by Alexas_Fotos from Pixabay

Fakta lain yang harusnya tidak mengejutkan adalah betapa HOAKS itu memang lebih mudah mengalir sampai jauh ketimbang fakta. Lebih eksotis, lebih mudah menarik perhatian, lebih memancing emosi, lebih waaauuuuwww, lebih jeng-jeeeennnggggg… dst dst.

Misalnya : “Sejak sekolah dibuka di Malaysia, ada satu kelas yang dikarantina karena positif covid semua!”

Padahal berita aslinya, “Sejak sekolah dibuka di Malaysia, ditemukan ada satu anak yang positif sehingga semua teman sekelasnya dikarantina untuk dicek lebih lanjut.”

Bangke sekali bukan?

Image by lagrafika from Pixabay

Dan saya menemukan berita ini dishare oleh salah satu teman yang pendidikan akademisnya bukan kaleng-kaleng. Enggak usah sebut profesi, ya. Sensitif nanti hehehe.

Hanya butuh beberapa detik bagi saya untuk menemukan link aslinya dan membaca berita sebenarnya. Tapi menurut teman yang share, “Ah yang penting kan intinya ada yang kena covid dan sekolah tetap harus tutup.”

Ya beda doooonggg, ada satu yang positif covid vs murid satu kelas covid semua. Hadeeehhhh, tentu saja berita hoaksnya lebih mudah memancing emosi. Kok bisa-bisanya dese ketemu link berita kacrut begitu sih?

Mudah saja kalau ngikut algoritma standar medsos di atas. Terbukti ybs tiap hari posting Covid melulu dengan narasi kontra tingkat tinggi. Kebiasaan ini mungkin diolah dengan baik oleh mesin FB untuk mengantarnya bertemu berita-berita yang seolah membenarkan ketakutannya.

Nah sekarang siapa yang bangke?

😑
Image by Gerd Altmann from Pixabay

Business model media sosial boro-boro bikin orang makin luwes dalam mencari informasi. Dibikinnya kita terjebak dalam pikiran kita yang bias dari awal. It’s not rite.

Dengan penjelasan yang sama inilah, urusan politik pun merambah dengan mulus di media sosial. Mereka memanfaatkan preferensi politik pengguna dengan terus menghajar berita-berita sejenis. Tidak jarang malah melanggengkan hate speech.

Ingat kasus Cambridge Analytica? Sangat berhubungan erat.

Kok ya jadi SOCIAL DILEMMA? Karena memang ini problem sosial. Seberapa pun tingginya integritas individual yang mungkin kita miliki, lambat laun akan tergeser dengan arus sosial yang lebih besar.

Again, lu kira yang doyan share hoaks hanya orang-orang yang kurang piknik dengan pendidikan rendah?

Sialnya, di masa pandemi ini di mana PSBB dan lockdown akan makin sering mewarnai hidup kita, gimana lagi cara membunuh kebosanan kalau gak main medsos? Nonton Netflix, cek youtube, scrolling FB, intip story di IG?

Saya pun tipe kalau ingin lari dari Medsos, ya saya jalan ke luar rumah. Ngapain kek, hiking kek, muter-muter di mal kek. Lah kalok pandemi begini? Tapi kini sekolah online sudah merenggut hari-hariku dari medsos hahahahha. Hidup Nadiem! Hahaha.

Media sosial memang sudah menjadi gaya hidup hampir semua orang. Manusiawi sekali itu. But there should be a workaround gimana caranya biar kita tidak terjebak. Dan workaround ini seharusnya bukan hanya menjadi tanggung jawab pengguna.

Pemangku kebijakan sudah seharusnya memikirkan batasan-batasan soal business model yang tetap memperhatikan etika dll. However complicated, that we can work with.

Think about ya teman-teman :).

🙏

I Google You (2) : Bisnis “Kepo-kepo” ala “Intelijen Digital” ;)

Waktu pertama kali tahu ada fasilitas “diari” (blog) via internet, saya seneng bangeeeeet. Masih kuliah waktu itu. Yoih, angkatan 98 akutu, apa lo apa lo apa lo 😝😝🤪.

Pikir saya waktu itu, “Ih, enaknya. Praktis banget, gak perlu beli-beli buku diari lagi. Gak rempong dan deg-degan kalau ada yang baca. Gak ribet dibawa ke mana-mana.”

Yaaaayyyyy ^_^

Sebagai anak diari-diari sejak SD, menulis keseharian memang gaya hidup sejak kecil, Cuy hihihi. Makanya jangan heran kalau eike bawel di medsos 🤣🤣🤣.

Pikiran saya waktu itu, dalam beberapa hal benar. Adanya BLOG bener-bener praktis. Bisa diakses dari mana saja asalkan ada koneksi internet. Waktu itu memang koneksi internet masih barang “langka”. Tapi tetep aja praktis.

Bagian yang ((DEG-DEGAN KALAU ADA YANG BACA)) …. SALAH TOTAL!!!! 🙈🙈🙈.

Bahkan jika kita “menitipkan data/info” kepada internet dengan setting paling PRIVACY sekali pun, tetap bisa ditembus.

Waktu di kampus dulu punya temen yang memang passionnya … hacking! Hahahaha. Kite masih ribet mikirin algoritma tugas-tugas di kampus, dese udah sibuk ngerjain satu lab dengan mengirim pesan aneh-aneh ke semua PC di lab. Heboh banget waktu itu hehehe.

Dari dia inilah saya jadi tahu dikit soal jaringan komputer sebelum mata kuliahnya dipelajari beneran. Saya kutip salah satu ucapan teman saya itu, “Apa pun kalau sudah masuk server, pasti bisa diintip. Selama yang bikin masih manusia, pasti bisa nemu celahnya.”

Iya sih.

INTERNET benar-benar menjelma jadi pedang bermata … banyak! Sereeeeeem.

Artikel Haaretz ini membahas soal industri Cyber-Spy yang dikembangkan oleh perusahaan-perusahaan lokal Israel. Haaretz merupakan media yang cukup terpercaya. Monggo di-googling sendiri kalau gak percaya.

Hal pertama yang saya lakukan sebelum membaca link saat dikirimkan oleh teman, ya cek dulu apa sih Haaretz ini. Haaretz semacam TEMPO-nya Israel. Banyak mengkritik pemerintahan lokal sana.

Makanya, Haaretz ini dibenci oleh kebanyakan orang Israel tapi dipuja-puja oleh orang dari luar Israel.

Luar biasanya, produk-produk Cyber-Spy ini bahkan dijual ke negara-negara yang tidak punya hubungan diplomatik dengan ISrael.

Sebenarnya produk ini banyak sisi positifnya. Termasuk untuk mendeteksi gerakan-gerakan teroris dan radikal. Sayangnya, dalam praktiknya … ngeriiiiiiii :(.

Banyak bukti bahwa beberapa intelijen negara menggunakan produk ini untuk “menjebak” lawan politik atau oposisi atau aktivis-aktivis yang dianggap terlalu “cerigis”.

Bahkan dipakai untuk membantai (literally!) kelompok-kelompok minoritas seperti LGBT dan segala macam.

Saya kutip yang tentang INDONESIA :

——
Indonesia is no haven for the LGBT community, either. Reports by human rights organizations have noted the tough policy against the community, as well as against religious minorities, under legislation that bans “blasphemy.” Three sources who spoke to Haaretz talked about wrongful use of Verint products in Indonesia.

In one case, the systems were used to create a database of LGBT rights activists who had been targeted for surveillance. In another, the victims of the spyware were religious minorities. “As soon as I arrived in the country, the client told me that my help was needed with an investigation that was bogged down,” Netanel, who worked with the Indonesians to activate the systems, relates. “Very quickly the investigation turned out to be a case against a non-Muslim public figure who was accused of blasphemy,” an offense that carries up to five years in prison.

——-

Sisanya, kalian baca sendiri aja artikel lengkapnya.

Industri ini memang meningkat luar biasa. Bukan hanya di Israel. Negara-negara lain juga ada yang mengembangkan produk-produk sejenis. Cuma Haaretz menyoroti Israel secara khusus dalam artikel ini.

Betapa berharganya nilai DATA dan INFORMASI sekarang ini. Beberapa orang yang terlibat dalam industri ini mengakui SULIT untuk mengontrol penggunaan produk secara moral/etika. Apalagi di negara-negara berkembang yang DEMOKRASI-nya masih kembang kempis :(.

Beberapa negara Timur Tengah, Amerika Latin, dan Afrika disebut juga dalam artikel ini.

Hal menarik lainnya adalah TAWARAN GAJI yang gila-gilaan buat para pekerja di industri Cyber-Spy. Tidak ada industri lain di dunia yang bisa se-sadis ini urusan renumerasi.

Industri beginian juga pinter. Mereka membidik semua sisi. Ibaratnya produsen virus, sengaja bikin virus ya biar anti virusnya juga laku.

Nah, jadi paham yaaaaa, mengapa kalian harus ekstra hati-hati dengan data dan informasi apa pun yang kalian bagikan secara digital. Karena jangan salah Bro dan Sis, jaringan pribadi dalam bentuk apa pun bisa ditembus. Termasuk chatting whatsapp one on one. Apalagi kalok cuma akun medsos :p.

Makanya tempo hari sempat berdebat dengan teman dan kakak sendiri hahahaha, soal aplikasi-aplikasi yang menurut mereka “aman” dan tidak mungkin bocor terkait musik dan buku.

Yaela, dulu pun YOUTUBE pun terkenal videonya gak bisa di-download. Sekarang, daripada dipreteli sama aplikasi “ilegal”, Youtube pun akhirnya menyediakan fasilitas DOWNLOAD secara terbuka hahahahaha :p.

Apapun yang dibagikan ke dalam dunia tak terbatas di ruang maya, TIDAK ADA YANG TIDAK BISA DITEMBUS ;).

Kok gitu ya? Nah balik ke pendapat teman saya tadi, “Selama yang bikin adalah manusia, pasti bisa nemu celahnya.”

Jadi inget PEPATAH KLASIK

“Dalamnya lautan bisa diterka, dalamnya hati SIAPA YANG TAHU.”

Tempat menyimpan rahasia yang paling aman ya “TELL NO ONE!” 😁.

Sekarang lebih ngeri, apa pun bisa VIRAL dalam hitungan detik bahkan. Kalok dulu kan paling gosip-gosip dari mulut ke mulut. Perlu resource yang besar untuk menyebar luas.

Lah sekarang? Pencet SATU TOMBOL SHARE PAKEK SETTINGAN PUBLIC, SELURUH DUNIA BISA TAHU (LITERALLY) 🙈🙈🙈.

Walau begitu, jangan mendadak jadi anti internet gitu lah ya. Sebenarnya, buanyaaaaakkk sekali manfaat positifnya.

Segala kemudahan ini memang dibarengi dengan tanggung jawab yang luar biasa besarnya. Makin praktis makin besar resiko yang harus ditanggung. Memang seharusnya begitu kan? 🙂

Jangan khawatir, MANUSIA itu bukan makhluk sembarangan ;).

Many times we can see, semua masalah yang dibuat oleh manusia suatu hari akan dituntaskan oleh manusia lainnya untuk kemudian dibuatkan kesalahan yang lain, lalu dibereskan oleh yang lain, dst dst dst…sampai dunia kiamat hehehe.

Tetap semangat, yes? Jangan galau hehehe.

Artikelnya lumayan buat nambah-nambah ilmu dan informasi ;). Very-very long one but it’s worth every second.

era digital

RUANG PUBLIK, PRIVASI, DAN ERA DIGITAL

“Pujilah masakan ibumu di meja makanmu sendiri.” Kira-kira gitu dulu kalimat dari tulisan Bang Saief Alemdar, years ago :D.

Masalahnya sekarang, even if you’re boasting around about something in front of your “inner circle” (ONLY), selalu ada TIM SKRINSYUT dengan kecepatan cahaya yang siap beraksi hahaha.

Tentu beda cerita dengan STATUS/POSTINGAN yang sifatnya PUBLIC ;). Apa pun yang sudah di-share secara PUBLIC, ya harus siap menerima konsekuensinya :D.

Bahkan saya sudah pernah memperingatkan soal aplikasi Google Photos, kan? Kalian mungkin tidak sadar pernah login di Google Photos yang menyebabkan Google Photos bisa mengakses foto-foto di gallery ponsel kalian.

Semua foto akan ter-backup di sana. Hati-hati jangan bikin foto aneh-aneh dah biarpun niatnya cuma koleksi pribadi aja hihihihi.

Ada untungnya juga, sih. Tempo hari kalau gak salah seorang teman panik, tidak sengaja menghapus ratusan foto liburannya di ponsel sebelum sempat di-dokumentasikan. Syukurlah begitu masuk Google Photos, ratusan foto tersebut baik-baik saja dalam folder Google hehehe.

Sekali kalian menyetorkan data secara ONLINE, even sudah setting ONLY ME kek, SUPER PRIVATE LU KAGAK MUNGKIN BISA NGINTIP kek, dst dst, secara otomatis data tersebut sudah bukan milik kalian pribadi.

Terjadi pergeseran cukup besar dalam penyebaran informasi di era digital.

Seperti yang saya singgung di awal, bahkan kalau kita pun niatnya cuma merepet di “grup pribadi” atau lingkaran teman tertentu, be extra careful.

Ingat kasus embak-embak (D) yang ngomel soal ibu hamil di gerbong Commuter Line? Dia posting di PATH kalau gak salah.

Berbeda dengan platform lain, PATH ini bisa dibilang paling “private”. Bener-bener harus temenan baru bisa ngintip. Gak punya settingan public kan ya kalau gak salah? Itu juga harus LOGIN dulu.

Sialnya, salah satu ‘inner circle’ si Mbak D mungkin kesel juga dengan postingan tersebut. Alih-alih konfrontasi langsung, dese melakukan hal yang lebih ‘kejam’. Postingannya di-screenshoot dan disebarluaskan dengan membabi buta secara PUBLIC di berbagai platform media sosial yang lain :(.

Sisanya ya kalian tau sendirilah apa yang terjadi setelah itu.

Membenci itu sesuatu yang sangat manusiawi. Tapi MENYEBAR KEBENCIAN itu beda lagi.

Even chat-chat pribadi harus hati-hati. Harus dipikir-pikir takut kena skrinsyut hahahahaha. APALAGI ceramah-ceramah agama frontal di depan orang banyak (walau ‘inner circle’).

Makanya kasus ceramah-ceramah agama yang pernah ramai itu, soal kontennya sih bukan barang baru lah. Pada umumnya kan ya emang gitu. Sindir-sindiran antar agama hal yang tidak terelakkan.

Ya mungkin karena itu juga banyak yang ‘lelah’ dan memilih tidak beragama (lagi). Karena penyebaran informasi sekarang lebih brutal dan liar :(.

Konten youtube misalnya, entah berapa channel yang suka iseng clickbait dengan mengunggah ceramah-ceramah sepotong-sepotong dari para pemuka agama. Dipilih yang sekonyol atau se-terekdungces mungkin :(.

Ini di semua agama rasanya ada, deh :(.

On the other hand, ya memang susah. Tidak mungkin kita mau ngatur-ngatur keyakinan orang lain. Ya memang pada dasarnya tidak sedikit kaum beragama yang yakin, “Udahlah, kalo lo gak ikut agama gue, ya lu otomatis masuk neraka lah.”

Karena kalau kalian berani-berani berpendapat, “Udahlah, biar Tuhan yang menilai, kita jalani masing-masing saja” ya siap-siap saja dituduh LIBERAL, PLURALIS yang kini makin tajam persinggungannya dengan kaum ‘puritan’/konservatif.

Mungkin ada baiknya para pemuka agama mempertimbangkan pergeseran penyebaran informasi di era terkini. Mbok ya, jangan terlalu vulgar lagi. Apa gak ada yang bisa dibahas lagi soal agama sendiri sampai harus nyinyirin agama orang lain?

Sudah tidak bisa lagi kita menyangkal model, “Loh ini kan buat kalangan internal.”

Helooooooo, kalangan internal piye kalau ternyata semua jemaah bebas merekam dan bebas menyebarluaskan. Apalagi semangat dakwah lagi pada tinggi-tingginya, hijrah dimaknai dengan sebanyak mungkin berkomentar, “Duh, lo cepetan kembali ke jalan yang lurus deh kayak gue. Semoga dapat hidayah. Maaf, cuma mengingatkan.”

Sialnya, yang begini-begini tidak menyebar di kalangan seagama saja, tapi terpental-pental sampai jauh ke mana-mana.

Belum lagi ribetnya UU Penistaan Agama yang entah apaan tauk parameternya. Karena lama-lama yang ‘diproses’ ya yang nyerang mayoritas doang :(. Kuat-kuatan adu massa, banyak-banyakan demo, dst dst dst.

Gagap beragama, gagap teknologi, juga mungkin kombinasi politikus yang paling pinter manfaatin sikon, makin-makin tidak terkendali :(.

Kita hidup dalam perbedaan sudah lama sekali. Yang diributkan juga bukan barang baru. Yaela, ulama muslim yang nyinyirin ajaran Nasrani dari dulu juga buanyaaaaaakkk. Pendeta yang mencibir prosesi ibadah haji dsb juga ada dari kapan tauk mah.

Tapi INTERNET membuat jangkauan informasi yang dulu
terbatas kini terbentang luas. It’s not something we can ignore atas nama dakwah semata :(.

Lagian, diantara sekian banyak persamaan, sudah-sudahilah mempertajam perbedaan. Cobalah lebih banyak membahas problem kemanusiaan yang biasanya mudah terjalin lintas agama itu.

Etapi lupa ada politikus dan birokratis ‘busuk’ yang siap memanfaatkan apa saja untuk memuluskan jalan meraih kekuasaan termasuk memperkuat POLITIK IDENTITAS.

Politik Identitas ini yang juga mendorong kita untuk tidak peduli lagi kepada ‘KONTEN’ tapi super ribet di ‘JUDUL’ :(.

“We build too many walls and not enough bridge” -Isaac Newton-

Think about it.

Startup Itu Apa … Unicorn Itu Gimana?

Ramai-ramai bahas startup itu apa … hubungannya dengan Unicorn gimana? Kudu online apa enggak?

Teman-teman, tidak semua perusahaan startup dan yang online-online itu DISEBUT UNICORN hehehe.

Kita mulai dari yang paling dasar dulu.

STARTUP itu apa, sih? Definisi Startup ini semacam small business tapi dalam ruang lingkup lebih khusus dan beberapa perbedaan mendasar. Mencakup bisnis baru  yang dibangun dalam kurun waktu kurang dari 5 tahun. Read more here.

Booming TEKNOLOGI INTERNET di tahun 2000 an membuat STARTUP mulai bermunculan.

startup itu apa

STARTUP adalah perusahaan-perusahaan rintisan yang memanfaatkan INOVASI dari segi teknologi (tentu saja erat kaitannya dengan INTERNET atau DUNIA ONLINE).

STARTUP ini kadang-kadang menginvasi kebiasaan bisnis yang sudah ada dengan memasukkan sentuhan inovasi teknologi dalam prosesnya, seperti GO-JEK misalnya.

Ojek mah udah ada dari dulu. Tapi GO-JEK dengan cerdik memanfaatkan gaya hidup lokal dengan sentuhan era digital. Memang membantu banget, ya. Kok bisa-bisanya kepikiran hihihihi.

startup itu apa

Ada juga yang menciptakan bisnis baru.

Jadi tidak semua bisnis ONLINE itu termasuk STARTUP hehehe. Tapi bisnis yang masuk kategori STARTUP ya memang yang online-online itu .

Dan tentu saja TIDAK SEMUA STARTUP masuk kategori UNICORN.

Istilah UNICORN diperkenalkan pertama kali oleh Aileen Lee di tahun 2013. Kenapa memilih istilah UNICORN?

STARTUP ini sangat berbeda dengan bisnis-bisnis “konservatif/tradisional” tempo pra-internet yang biasanya didominasi oleh modal besar dan sumber daya yang tidak sedikit.

STARTUP lebih mengandalkan kreativitas ala-ala INOVASI. Yang kini memang didominasi oleh yang muda-muda. Alami saja lah, ya. Yang sudah berumur agak kurang bisa catch-up dengan teknologi yang terus berlari ini. Dari segi mental juga, lho.

Makanya startup biasanya dikendalikan oleh generasi yang lebih muda. Lebih aware teknologi dengan semangat perubahan yang masih membuncah-buncah .

Modalnya secara materi dan sumber daya manusia kadang sangat sedikiiiiiiitttt compare to bisnis-bisnis “tempo dulu” ala pabrik-pabrik segala macam itu.

Karena percepatan teknologi yang terus melompat dan memengaruhi gaya hidup manusia era digital ini, beberapa STARTUP secara mengejutkan bisa memiliki kapitalisasi yang sangat tinggi. Instead of sumber daya mereka yang rata-rata jauuuuhhh lebih sedikit daripada perusahaan “konvensional”.

Tapi ya sangat sedikit yang bisa memiliki kapitalisasi sampai lebih dari 1 milyar dolar (USD) dalam tempo kurang dari 10 tahun.

SAKING SEDIKITNYA dan waktu awal kemunculan dulu kesannya mustahil ya, makanya Aileen Lee memilih istilah UNICORN.

Bayangkan, perusahaan dikelola anak-anak muda biasanya dengan sumber daya pas-pasan, bisa menjerat investasi sampai seFANTASTIS itu. Dalam dunia bisnis, it’s like a MAGIC, yes? ??

Mengacu kepada magical creature, makhluk mistis yang sebenarnya kan tidak pernah ada . Jadi betul, UNICORN itu memang berasal dari makhluk kuda-kudaan bertanduk berponi lucu imut yang bisa terbang yang lagi digemari anak-anak perempuan di berbagai penjuru dunia itu hihihihi.

Indonesia sendiri kini punya 4 UNICORN : GoJek, Tokopedia, Traveloka, dan BukaLapak. Malaysia setahu saya belum ada sampai sekarang UNICORN-nya .

Memang nilai kapitalisasi STARTUP-UNICORN ya berasal dari suntikan dana investor yang luar biasa besarnya. Sampai sering dinyinyirin sebagai dana-dana ajaib hehehe. Atau dituduh bakar-bakar uang karena kadang besarnya investasi itu tidak diikuti oleh keuntungan secara materi.

Tapi pola pikir investor itu bukan kek kita-kita pada umumnya ya, sobat misqueenku hihihi. Mereka mikir jangka panjaaaanngggg dan pertarungan di pasar modal .

Sobat misqueen mah lihat tanah luas dikit mikirnya kos-kosan dan petak-petakan mulu ??.

Di Indonesia sendiri, suntikan dana investasi ya banyak juga dari investasi asing. Kalok ngandelin dalam negeri ya agak-agak mustahil kita bisa punya 4 UNICORN .

Tentu ini didukung dari kesempatan bisnis/pasar yang luar biasa di Indonesia. Jadi kalian ndak usah inferior begitu. Kita ini punya potensi keren kok. Di Indonesia tuh ibaratnya asal mau capek dikit, adaaaaa aja yang bisa dijadiin lahan bisnis .

Teman-teman diaspora emak-emakku yang tadinya mantan pengusaha di Indonesia pada mengeluh tinggal di luar negeri (padahal negara-negara maju lohhh) hahahaha.

Pemerintah tentu punya peran yang tidak sedikit dalam menciptakan kenyamanan bisnis di Indonesia bagi para pemilik modal internasional.

Kira-kira seperti itu, ya. Semoga membantu infonya :).

Duolingo Learn English : Belajar Bahasa Asing dengan Aplikasi Duolingo

Duolingo Learn English : Mana tahu lagi eneg ber-medsos dengan ponsel, coba cari variasi kegiatan lain hihihi … ayoooo belajar bahasa asing dengan aplikasi Duolingo :D. Tinggal instal saja di ponsel masing-masing. Apalagi kalau untuk belajar bahasa Inggris nih, “duolingo learn english” ^_^. Eh harusnya Duolingo learns English, eh harusnya Let’s learn English with Duolingo #eaaaaaa :p.

Tadinya mau posting ini minimal setelah mencapai level 20 lah di Bahasa Spanyol versi Duolingo. Apa daya ya, ini masih mentok di level 15 huhuhu -_-.

Berselancar di internet, bisa dibilang, 90% saya lakukan di laptop. Instagram-an saja saya pakai laptop kok hahaha. Tapi sejak instal Duolingo, lumayan deh, ponsel jadi lebih kepake lagi.

Luar biasa ya kecanggihan era digital sekarang. Jadi ingat dulu waktu kecil punya cita-cita mau belajar bahasa ini-itu, tapi ya enggak mungkin mau les, duit dari maneeeeee :p. Beli buku-buku percakapan ringan, kok ya kurang praktis dan kurang interaktif jadinya. Mau beli buku yang bagusan dan lebih komplit lagi-lagi mentok di dana hahaha.

Nah, aplikasi Duolingo ini bisa menjadi alternatif teman belajar bahasa asing yang lumayan komplit :D. Strukturnya rapi. Banyak latihan soal mulai dari grammar, kosakata, sampai pronounciation segala *jempol*.

duolingo learn english
gambar : slideshare.net

1- Gratis! Tentu harus nomor satu bagian haratis-haratis begini hahaha.

2- Aplikasi Duolingo ini sifatnya interaktif. Banyak soal-soal. Jadi kita tinggal jawab dan nanti dinilai benar apa enggaknya.

2- Fleksibel waktunya. Ya iyalah, kita sendiri yang nentuin mau belajar kapan dan di mana. Modal ponsel dan koneksi internet saja.

4- Terkait nomor 3, intinya NIAT dan MOTIVASI pribadi harus kuat, ya. Karena belajar model begini serba mandiri. Enggak ada guru yang marah-marahin. Semua target juga tergantung kita sendiri. Apalagi karena nomor 1 di atas, kita enggak ngeluarin duit jadi cenderung menggampangkan, ya :p.

Kalau bayar kan rasanya sayang aja gitu mau bolos apa gimana-gimana hihihi.

5- Bisa multitasking beberapa bahasa sekaligus. Ada lho teman-teman saya yang rajin banget ngikutin beberapa bahasa sekaligus dan levelnya juga bagus-bagus. Keren (y).

duolingo learn english
Gambar : duolingo.com

Ada untungnya juga multi-lingual. Karena beberapa bahasa itu akarnya kan sama, ya. Seperti Perancis dan Spanyol banyak kemiripan. Dengan Jerman juga. Bahasa-bahasa ini strukturnya juga mirip. Misalnya ada istilah feminin dan maskulin (kata-kata dipisahkan berdasarkan gender).

6- Belajar bahasa lebih menyenangkan serasa main game aja gitu. Duolingo menyediakan banyak fitur dan reward macam-macam.

7- Ada forum diskusi dan bisa ikut klub-klub sesuai bahasa yang diikuti. Kalau bingung, tinggal masuk forum buat nanya-nanya. Biasanya pun sudah banyak yang menanyakan hal yang sama, kita tinggal search saja.

8- Menambah teman atau ajang silaturahmi karena modelnya kayak media sosial gitu juga. Bisa follow-follow an, bisa add friend, dan seterusnya. Saya sendiri kurang kepake bagian ininya. Karena niatnya memang mau belajar bahasa aja hehehe.

Add orang pun paling akun suami sendiri. Itu juga buat ledek-ledekan siapa yang lebih tinggi levelnya hahaha. Dia kan sempat rajin belajar bahasa Jerman via Duolingo pas kita tinggal di Swiss tempo hari :p. Saya tahu aplikasi ini juga dari suami, sih.

***

Hanya saja, Duolingo belum menyediakan sarana buat  belajar bahasa yang menggunakan huruf non-latin, ya. Misalnya Mandarin, Jepang, atau Arab. Eh, apa sudah ada ya hehe. Pengin juga belajar bahasa Arab.

Dulu sebelum hamil anak ke-3 sempat ikut program BISA. Seru banget sebenarnya. Lebih privat belajar kelompok via WA. Tapi terus keputus karena hamil. Sempat minta tolong diajarin teman tapi ya itu banyakan malasnya hahaha.

Kalau pakai Duolingo no worry. Kadang diserang malas, sampai seminggu enggak buka aplikasi Duolingo sama sekali. Tapi ya, kalau lagi rajin ya ikut lagi aja ;). Jangan dibikin ribet, yes? Hehehe.

Kok milih bahasa Spanyol?

Karena saya pikir Spanyol ini bahasa internasional kedua yang banyak digunakan selain Bahasa Inggris :D. Exclude bahasa Mandarin tapi ya hehe. Serba kebetulan juga. Sekarang saya nangkring di Texas, di mana bahasa Spanyol juga sering digunakan di sini.

Di toko-toko sudah lumayan fasih deh sama bahasa Spanyol terkait barang-barang kebutuhan sehari-hari *sombongKaaaauuuuu* hahaha :p. Di negara-negara bagian selatan, karena banyak orang Hispanik, bahasa Spanyol jadi cukup umum di Texas, Florida, Louisiana, Alabama, bahkan di California juga katanya.

Gambar : dari channel – youtube, “rags360”

 

Bahasa Spanyol juga relatif mudah untuk lidah bahasa Indonesia kita karena pelafalannya mirip banget. Misalnya bandera ya dibaca bandera. Kebetulan artinya juga sama, bendera :D. Yang pengucapannya sulit banget itu bahasa Perancis ya. Ya ampun sumpe looooo, saya masih stuck di level 3 kali nih di Bahasa Perancis hahaha.

Seru kan, kan, kan, berkat kemajuan era digital yang seperti berlari ini.

Efek negatif kecanggihan dunia digital juga ada. Iya kan, bikin kita sering susah mau logout dari akun-akun medsos. Jadi semacam ketergantungan :(. Emosi kita mudah terbentuk dari berita-berita yang berseliweran di medsos.

But we can work on that too, yes? ;). Pinter-pinter kita saja ya, mengambil lebih banyak sisi positif atau terjebak dalam pusaran efek negatifnya.

Ngomong-ngomong soal belajar bahasa, konon menguasai beberapa bahasa membuat resiko kita terkena penyakit Alzheimer menjadi berkurang. Coba itu di-googling sendiri hasil penelitiannya :D.

Buat orang Indonesia sendiri sih sudah banyak contoh, ya. Selain bahasa Indonesia, saya lumayan bisa berbahasa Bugis. Ketambahan bahasa Inggris juga hehehe.

Kakak-kakak saya malah lancar berbahasa Makassar juga. Ibu saya malah bisa 3 bahasa daerah : Makassar-Bugis-Enrekang, semuanya bahasa daerah Sulawesi Selatan. Suami saya bisa bahasa Minang dan Jawa serta sedikit bahasa Madura.

Waktu tinggal di Jeddah, suami juga rajin belajar bahasa Arab. Tapi bahasa Arab sehari-hari di sana ya. Bahasa Arab dialek pendatang, bukan yang baku.

duolingo learn english
Gambar : pixabay.com

Penguasaan bahasa lain selain bahasa asli kita juga bisa dianggap sebagai ilmu :). Asalkan kita tidak mengkotak-kotakkan definisi ilmu. Agama saya mengajarkan bahwa Tuhan akan mengangkat derajat orang yang berilmu <3.

Ilmu ini juga termasuk harta, lho. Banyak belajar, banyak ilmu baru, nambah harta juga.

Ilmu adalah harta yang menyenangkan. Karena bisa dibawa ke mana-mana tanpa memberatkan pemiliknya ;).

Ayooo gunakan ponsel pintar kita untuk menambah harta jangan sampai malah menguras pahala :). Kampanye “duolingo learn English” :D.