[Netflix] Review film The Social Dilemma

Yang lagi happening nih film dokumenter di Netflix. Film The Social Dilemma.

It’s a bit weird, discussing about how dangerous the social-media-business-model melalui salah satu platform media sosial itu sendiri hihihihi.

Iya kannnn? Check this out … yang bikin filmnya Netflix, dipublikasikan lewat Youtube dan dibahas rame di IG, Twitter, dan FB. Piye? Semuanya produk medsos yang lagi dikritisi

😝

Asyiknya menggunakan medsos itu salah satunya karena gratisnya kan? Makanya salah satu pesan penting dari film ini, “If you’re not paying for a product, you’re the product”. read more

I Google You (2) : Bisnis “Kepo-kepo” ala “Intelijen Digital” ;)

Waktu pertama kali tahu ada fasilitas “diari” (blog) via internet, saya seneng bangeeeeet. Masih kuliah waktu itu. Yoih, angkatan 98 akutu, apa lo apa lo apa lo 😝😝🤪.

Pikir saya waktu itu, “Ih, enaknya. Praktis banget, gak perlu beli-beli buku diari lagi. Gak rempong dan deg-degan kalau ada yang baca. Gak ribet dibawa ke mana-mana.”

Yaaaayyyyy ^_^

Sebagai anak diari-diari sejak SD, menulis keseharian memang gaya hidup sejak kecil, Cuy hihihi. Makanya jangan heran kalau eike bawel di medsos 🤣🤣🤣. read more

era digital

RUANG PUBLIK, PRIVASI, DAN ERA DIGITAL

“Pujilah masakan ibumu di meja makanmu sendiri.” Kira-kira gitu dulu kalimat dari tulisan Bang Saief Alemdar, years ago :D.

Masalahnya sekarang, even if you’re boasting around about something in front of your “inner circle” (ONLY), selalu ada TIM SKRINSYUT dengan kecepatan cahaya yang siap beraksi hahaha.

Tentu beda cerita dengan STATUS/POSTINGAN yang sifatnya PUBLIC ;). Apa pun yang sudah di-share secara PUBLIC, ya harus siap menerima konsekuensinya :D. read more

Startup Itu Apa … Unicorn Itu Gimana?

Ramai-ramai bahas startup itu apa … hubungannya dengan Unicorn gimana? Kudu online apa enggak?

Teman-teman, tidak semua perusahaan startup dan yang online-online itu DISEBUT UNICORN hehehe.

Kita mulai dari yang paling dasar dulu.

STARTUP itu apa, sih? Definisi Startup ini semacam small business tapi dalam ruang lingkup lebih khusus dan beberapa perbedaan mendasar. Mencakup bisnis baru  yang dibangun dalam kurun waktu kurang dari 5 tahun. Read more here.

Booming TEKNOLOGI INTERNET di tahun 2000 an membuat STARTUP mulai bermunculan.

startup itu apa

STARTUP adalah perusahaan-perusahaan rintisan yang memanfaatkan INOVASI dari segi teknologi (tentu saja erat kaitannya dengan INTERNET atau DUNIA ONLINE).

STARTUP ini kadang-kadang menginvasi kebiasaan bisnis yang sudah ada dengan memasukkan sentuhan inovasi teknologi dalam prosesnya, seperti GO-JEK misalnya.

Ojek mah udah ada dari dulu. Tapi GO-JEK dengan cerdik memanfaatkan gaya hidup lokal dengan sentuhan era digital. Memang membantu banget, ya. Kok bisa-bisanya kepikiran hihihihi.

startup itu apa

Ada juga yang menciptakan bisnis baru.

Jadi tidak semua bisnis ONLINE itu termasuk STARTUP hehehe. Tapi bisnis yang masuk kategori STARTUP ya memang yang online-online itu .

Dan tentu saja TIDAK SEMUA STARTUP masuk kategori UNICORN.

Istilah UNICORN diperkenalkan pertama kali oleh Aileen Lee di tahun 2013. Kenapa memilih istilah UNICORN?

STARTUP ini sangat berbeda dengan bisnis-bisnis “konservatif/tradisional” tempo pra-internet yang biasanya didominasi oleh modal besar dan sumber daya yang tidak sedikit.

STARTUP lebih mengandalkan kreativitas ala-ala INOVASI. Yang kini memang didominasi oleh yang muda-muda. Alami saja lah, ya. Yang sudah berumur agak kurang bisa catch-up dengan teknologi yang terus berlari ini. Dari segi mental juga, lho.

Makanya startup biasanya dikendalikan oleh generasi yang lebih muda. Lebih aware teknologi dengan semangat perubahan yang masih membuncah-buncah .

Modalnya secara materi dan sumber daya manusia kadang sangat sedikiiiiiiitttt compare to bisnis-bisnis “tempo dulu” ala pabrik-pabrik segala macam itu.

Karena percepatan teknologi yang terus melompat dan memengaruhi gaya hidup manusia era digital ini, beberapa STARTUP secara mengejutkan bisa memiliki kapitalisasi yang sangat tinggi. Instead of sumber daya mereka yang rata-rata jauuuuhhh lebih sedikit daripada perusahaan “konvensional”.

Tapi ya sangat sedikit yang bisa memiliki kapitalisasi sampai lebih dari 1 milyar dolar (USD) dalam tempo kurang dari 10 tahun.

SAKING SEDIKITNYA dan waktu awal kemunculan dulu kesannya mustahil ya, makanya Aileen Lee memilih istilah UNICORN.

Bayangkan, perusahaan dikelola anak-anak muda biasanya dengan sumber daya pas-pasan, bisa menjerat investasi sampai seFANTASTIS itu. Dalam dunia bisnis, it’s like a MAGIC, yes? ??

Mengacu kepada magical creature, makhluk mistis yang sebenarnya kan tidak pernah ada . Jadi betul, UNICORN itu memang berasal dari makhluk kuda-kudaan bertanduk berponi lucu imut yang bisa terbang yang lagi digemari anak-anak perempuan di berbagai penjuru dunia itu hihihihi.

Indonesia sendiri kini punya 4 UNICORN : GoJek, Tokopedia, Traveloka, dan BukaLapak. Malaysia setahu saya belum ada sampai sekarang UNICORN-nya .

Memang nilai kapitalisasi STARTUP-UNICORN ya berasal dari suntikan dana investor yang luar biasa besarnya. Sampai sering dinyinyirin sebagai dana-dana ajaib hehehe. Atau dituduh bakar-bakar uang karena kadang besarnya investasi itu tidak diikuti oleh keuntungan secara materi.

Tapi pola pikir investor itu bukan kek kita-kita pada umumnya ya, sobat misqueenku hihihi. Mereka mikir jangka panjaaaanngggg dan pertarungan di pasar modal .

Sobat misqueen mah lihat tanah luas dikit mikirnya kos-kosan dan petak-petakan mulu ??.

Di Indonesia sendiri, suntikan dana investasi ya banyak juga dari investasi asing. Kalok ngandelin dalam negeri ya agak-agak mustahil kita bisa punya 4 UNICORN .

Tentu ini didukung dari kesempatan bisnis/pasar yang luar biasa di Indonesia. Jadi kalian ndak usah inferior begitu. Kita ini punya potensi keren kok. Di Indonesia tuh ibaratnya asal mau capek dikit, adaaaaa aja yang bisa dijadiin lahan bisnis .

Teman-teman diaspora emak-emakku yang tadinya mantan pengusaha di Indonesia pada mengeluh tinggal di luar negeri (padahal negara-negara maju lohhh) hahahaha.

Pemerintah tentu punya peran yang tidak sedikit dalam menciptakan kenyamanan bisnis di Indonesia bagi para pemilik modal internasional.

Kira-kira seperti itu, ya. Semoga membantu infonya :).

Duolingo Learn English : Belajar Bahasa Asing dengan Aplikasi Duolingo

Duolingo Learn English : Mana tahu lagi eneg ber-medsos dengan ponsel, coba cari variasi kegiatan lain hihihi … ayoooo belajar bahasa asing dengan aplikasi Duolingo :D. Tinggal instal saja di ponsel masing-masing. Apalagi kalau untuk belajar bahasa Inggris nih, “duolingo learn english” ^_^. Eh harusnya Duolingo learns English, eh harusnya Let’s learn English with Duolingo #eaaaaaa :p.

Tadinya mau posting ini minimal setelah mencapai level 20 lah di Bahasa Spanyol versi Duolingo. Apa daya ya, ini masih mentok di level 15 huhuhu -_-.

Berselancar di internet, bisa dibilang, 90% saya lakukan di laptop. Instagram-an saja saya pakai laptop kok hahaha. Tapi sejak instal Duolingo, lumayan deh, ponsel jadi lebih kepake lagi.

Luar biasa ya kecanggihan era digital sekarang. Jadi ingat dulu waktu kecil punya cita-cita mau belajar bahasa ini-itu, tapi ya enggak mungkin mau les, duit dari maneeeeee :p. Beli buku-buku percakapan ringan, kok ya kurang praktis dan kurang interaktif jadinya. Mau beli buku yang bagusan dan lebih komplit lagi-lagi mentok di dana hahaha.

Nah, aplikasi Duolingo ini bisa menjadi alternatif teman belajar bahasa asing yang lumayan komplit :D. Strukturnya rapi. Banyak latihan soal mulai dari grammar, kosakata, sampai pronounciation segala *jempol*.

duolingo learn english
gambar : slideshare.net

1- Gratis! Tentu harus nomor satu bagian haratis-haratis begini hahaha.

2- Aplikasi Duolingo ini sifatnya interaktif. Banyak soal-soal. Jadi kita tinggal jawab dan nanti dinilai benar apa enggaknya.

2- Fleksibel waktunya. Ya iyalah, kita sendiri yang nentuin mau belajar kapan dan di mana. Modal ponsel dan koneksi internet saja.

4- Terkait nomor 3, intinya NIAT dan MOTIVASI pribadi harus kuat, ya. Karena belajar model begini serba mandiri. Enggak ada guru yang marah-marahin. Semua target juga tergantung kita sendiri. Apalagi karena nomor 1 di atas, kita enggak ngeluarin duit jadi cenderung menggampangkan, ya :p.

Kalau bayar kan rasanya sayang aja gitu mau bolos apa gimana-gimana hihihi.

5- Bisa multitasking beberapa bahasa sekaligus. Ada lho teman-teman saya yang rajin banget ngikutin beberapa bahasa sekaligus dan levelnya juga bagus-bagus. Keren (y).

duolingo learn english
Gambar : duolingo.com

Ada untungnya juga multi-lingual. Karena beberapa bahasa itu akarnya kan sama, ya. Seperti Perancis dan Spanyol banyak kemiripan. Dengan Jerman juga. Bahasa-bahasa ini strukturnya juga mirip. Misalnya ada istilah feminin dan maskulin (kata-kata dipisahkan berdasarkan gender).

6- Belajar bahasa lebih menyenangkan serasa main game aja gitu. Duolingo menyediakan banyak fitur dan reward macam-macam.

7- Ada forum diskusi dan bisa ikut klub-klub sesuai bahasa yang diikuti. Kalau bingung, tinggal masuk forum buat nanya-nanya. Biasanya pun sudah banyak yang menanyakan hal yang sama, kita tinggal search saja.

8- Menambah teman atau ajang silaturahmi karena modelnya kayak media sosial gitu juga. Bisa follow-follow an, bisa add friend, dan seterusnya. Saya sendiri kurang kepake bagian ininya. Karena niatnya memang mau belajar bahasa aja hehehe.

Add orang pun paling akun suami sendiri. Itu juga buat ledek-ledekan siapa yang lebih tinggi levelnya hahaha. Dia kan sempat rajin belajar bahasa Jerman via Duolingo pas kita tinggal di Swiss tempo hari :p. Saya tahu aplikasi ini juga dari suami, sih.

***

Hanya saja, Duolingo belum menyediakan sarana buat  belajar bahasa yang menggunakan huruf non-latin, ya. Misalnya Mandarin, Jepang, atau Arab. Eh, apa sudah ada ya hehe. Pengin juga belajar bahasa Arab.

Dulu sebelum hamil anak ke-3 sempat ikut program BISA. Seru banget sebenarnya. Lebih privat belajar kelompok via WA. Tapi terus keputus karena hamil. Sempat minta tolong diajarin teman tapi ya itu banyakan malasnya hahaha.

Kalau pakai Duolingo no worry. Kadang diserang malas, sampai seminggu enggak buka aplikasi Duolingo sama sekali. Tapi ya, kalau lagi rajin ya ikut lagi aja ;). Jangan dibikin ribet, yes? Hehehe.

Kok milih bahasa Spanyol?

Karena saya pikir Spanyol ini bahasa internasional kedua yang banyak digunakan selain Bahasa Inggris :D. Exclude bahasa Mandarin tapi ya hehe. Serba kebetulan juga. Sekarang saya nangkring di Texas, di mana bahasa Spanyol juga sering digunakan di sini.

Di toko-toko sudah lumayan fasih deh sama bahasa Spanyol terkait barang-barang kebutuhan sehari-hari *sombongKaaaauuuuu* hahaha :p. Di negara-negara bagian selatan, karena banyak orang Hispanik, bahasa Spanyol jadi cukup umum di Texas, Florida, Louisiana, Alabama, bahkan di California juga katanya.

Gambar : dari channel – youtube, “rags360”

 

Bahasa Spanyol juga relatif mudah untuk lidah bahasa Indonesia kita karena pelafalannya mirip banget. Misalnya bandera ya dibaca bandera. Kebetulan artinya juga sama, bendera :D. Yang pengucapannya sulit banget itu bahasa Perancis ya. Ya ampun sumpe looooo, saya masih stuck di level 3 kali nih di Bahasa Perancis hahaha.

Seru kan, kan, kan, berkat kemajuan era digital yang seperti berlari ini.

Efek negatif kecanggihan dunia digital juga ada. Iya kan, bikin kita sering susah mau logout dari akun-akun medsos. Jadi semacam ketergantungan :(. Emosi kita mudah terbentuk dari berita-berita yang berseliweran di medsos.

But we can work on that too, yes? ;). Pinter-pinter kita saja ya, mengambil lebih banyak sisi positif atau terjebak dalam pusaran efek negatifnya.

Ngomong-ngomong soal belajar bahasa, konon menguasai beberapa bahasa membuat resiko kita terkena penyakit Alzheimer menjadi berkurang. Coba itu di-googling sendiri hasil penelitiannya :D.

Buat orang Indonesia sendiri sih sudah banyak contoh, ya. Selain bahasa Indonesia, saya lumayan bisa berbahasa Bugis. Ketambahan bahasa Inggris juga hehehe.

Kakak-kakak saya malah lancar berbahasa Makassar juga. Ibu saya malah bisa 3 bahasa daerah : Makassar-Bugis-Enrekang, semuanya bahasa daerah Sulawesi Selatan. Suami saya bisa bahasa Minang dan Jawa serta sedikit bahasa Madura.

Waktu tinggal di Jeddah, suami juga rajin belajar bahasa Arab. Tapi bahasa Arab sehari-hari di sana ya. Bahasa Arab dialek pendatang, bukan yang baku.

duolingo learn english
Gambar : pixabay.com

Penguasaan bahasa lain selain bahasa asli kita juga bisa dianggap sebagai ilmu :). Asalkan kita tidak mengkotak-kotakkan definisi ilmu. Agama saya mengajarkan bahwa Tuhan akan mengangkat derajat orang yang berilmu <3.

Ilmu ini juga termasuk harta, lho. Banyak belajar, banyak ilmu baru, nambah harta juga.

Ilmu adalah harta yang menyenangkan. Karena bisa dibawa ke mana-mana tanpa memberatkan pemiliknya ;).

Ayooo gunakan ponsel pintar kita untuk menambah harta jangan sampai malah menguras pahala :). Kampanye “duolingo learn English” :D.