Tragedi Farkhunda, Antara Agama -Misogini – dan Politik

“Allahu Akbar!” Pekikan ini terdengar saat iring-iringan manusia mengantarkan jenazah Farkhunda ke tempat peristirahatan terakhir.

Ironisnya, pekikan yang sama, “Allahu Akbar” juga digunakan oleh para pelaku saat membunuh Farkhunda beramai-ramai di salah satu pusat kota Kabul, Afghanistan. Dimana dalam kasus ini, kata membantai mungkin lebih tepat.

Gambar : operationworld.org
Gambar : operationworld.org

 

Tanggal 19 Maret 2015, sebuah video amatiran yang direkam oleh banyak orang (ada yang mengklaim ratusan) tersebar viral di media sosial. Orang-orang yang menyebarkan video dengan bangga mengklaim bahwa mereka adalah bagian dari “tim penyelamat agama” oleh seorang perempuan atheis bernama Farkhunda.

Farkhunda dituduh membakar alquran. Massa yang merubung, diklaim sekitar seribu laki-laki, (SERIBU LAKI-LAKI) yang dari usia abege sampai tua, secara spontan memukuli, menampar, menendang, menyeret tubuhnya dengan mobil sejauh ratusan meter, menaruhnya di tepi sungai, melempari batu hingga akhirnya membakar jasadnya.

Setelah insiden ini, orang tua Farkhunda mengakui kalau putri mereka mengidap gangguan jiwa. Belakangan klaim ini tidak benar. Keluarga Farkhunda dipaksa mengatakan soal penyakit jiwa agar mereka terhindar dari amuk massa. Bahkan orang tuanya sempat diminta meninggalkan kota Kabul untuk sementara waktu.

Gambar : thegrindstone.com
Gambar : thegrindstone.com

 

Sehari setelahnya, kaum ulama dan beberapa petinggi pemerintahan ikut mengecam Farkhunda dan “mendukung” pembantaian tersebut sebagai “tindakan membela agama”. Walau presiden menginstruksikan investigasi dan menolak klaim bersalah terhadap Farkhunda sebelum ada bukti.

Hasil investigasi menunjukkan Farkhunda tidak pernah membakar alquran. Tuduhannya palsu.

Apa yang sebenarnya terjadi?

Di depan sebuah masjid yang juga ramai dikunjungi orang karena berfungsi sebagai tempat wisata, suatu pagi di hari yang sama, Farkhunda menegur seorang laki-laki, Zainuddin, penjual cinderamata di depan masjid.

Farkhunda meminta Zainuddin menghentikan kegiatannya menjual benda-benda kecil yang berisi tulisan-tulisan alquran yang bisa dianggap sebagai jimat. Farkhunda menganggap hal tersebut sebagai bid’ah dan tidak sesuai tuntunan agama.

Zainuddin, bukan hanya penjual cinderamata tapi juga dikenal sebagai ulama lokal di sana. Sementara Farkhunda juga lulusan sebuah sekolah agama yang saat itu juga bekerja sebagai tenaga pengajar agama secara sukarela.

Saat berdebat, Zainuddin berteriak kepada orang-orang yang ramai lalu lalang di sana, “Hei, hei kemarilah. Perempuan ini membakar alquran.”

Tuduhan tersebut menyulut perhatian. Dari situ para lelaki mulai berdatangan dan berkerumun. Di sini, sudah banyak yang mulai merekam.

Farkhunda membantah tuduhan tersebut. Tuduhan juga melebar kepada tuduhan antek Amerika, mata-mata, dsb. Massa makin memanas. Hadehhh, enggak di mana-mana ya. Isu beginian selalu “laku dijual” :'(.

Farkhunda dihajar oleh banyak laki-laki sampai babak belur hingga jilbabnya terbuka dan wajah berlumuran darah. Permohonan ampun dan bantahannya sama sekali tidak ditanggapi. Orang makin ramai berteriak-teriak. Jangan nonton videonya kalau enggak kuat.

Polisi pun tidak sanggup menahan serbuan massa. Malah ada indikasi polisi diam saja saat massa makin membludak. Kalau lihat videonya mungkin benar jumlahnya bisa mencapai seribu orang. Seribu laki-laki membantai SATU PEREMPUAN karena tuduhan membakar alquran yang BELUM ADA BUKTINYA.

Watch your anger, gambar : pixabay.com
Watch your anger, gambar : pixabay.com

Polisi-polisi yang dianggap lalai saat kejadian hanya dihukum 1 tahun itu pun dibebaskan setelah beberapa bulan dengan jaminan bersyarat.

Saat pemakaman yang biasanya “terlarang” bagi wanita, jenazah Farkhunda digotong ramai-ramai oleh para perempuan saja. Laki-laki dilarang mendekat.

Ironisnya, para pelaku, massa laki-laki yang diamuk amarah ini bukan kalangan relijius yang biasanya tinggal di daerah-daerah terpencil atau di perbukitan. Mereka adalah orang-orang perkotaan Kabul yang hidup dan besar di daerah urban.

Lebih sadis lagi, sama sekali tidak terlihat tanda-tanda ada yang berusaha menolong apalagi melerai. Malah ramai-ramai merekam!!! . Ya itu tadi, polisi saja tidak terlihat upaya maksimal untuk meredakan massa.

Polisi baru terlihat datang dan membubarkan massa saat jasad Farkhunda sudah dilalap api di tepi sungai. Telat ajeeeee .
Kalau nonton videonya di Youtube terus mantengin komentar-komentarnya, ya pasti isu agama menjadi sasaran empuk deh 🙁. Padahal isu agama dalam hal ini tidak berdiri sendiri. Toh, di berbagai belahan dunia lainjuga banyak negara konflik terlepas apa agama yang mayoritas di sana.

Walau kita juga tidak bisa melepaskan fakta bahwa urusan agama memang masih sering dijadikan “tameng politik” dari dulu sampai sekarang. Unfortunately, it worked very well. Makanya masih banyak yang suka “mencari celah” via ayat-ayat suci .

Tragedi Farkhunda salah satu dari banyak penguat betapa masih beratnya melepaskan Afghanistan dari trauma instabilitas politik bahkan sampai level perang Afghanistan selama beberapa dekade.

Di masa penguasaan komunis via Uni Soviet, ada beberapa peraturan yang melegakan misalnya pelarangan kawin paksa dan pengenalan hak politik bagi perempuan. Tapi korbannya tidak sedikit. Banyak sekali warga yang berseberangan ideologi yang terbunuh dan tertindas.

Dari sini, banyak pihak luar yang mencari kesempatan, misalnya hadirnya kalangan Mujahidin yang disponsori oleh lawan-lawan politik Sovyet untuk membebaskan Afghanistan dari komunisme. Usahanya berhasil. Tapi tidak membuat kondisi politik Afghanistan “adem”.

Perang Afghanistan (gambar ilustrasi saja)
Gambar : pixabay.com

 

Perang Afghanistan adalah perebutan kekuasaan yang terjadi diantara sesama golongan yang tadinya bersatu mengusir komunisme. Hingga akhirnya Taliban berkuasa sejak tahun 1995. Di era Taliban yang mengklaim dirinya sebagai “Moslem Estate”, represi terhadap kaum perempuan benar-benar “berjaya”.

Dari kewajiban menutup tubuh (benar-benar dari ujung rambut ke ujung kaki), batasan dalam menuntut pendidikan, kawin paksa/perkawinan di usia sangat muda, dsb :. Namun, tak sedikit kalangan Islam baik internal maupun di luar Afghanistan yang mengkritik hal ini sebagai “very wrong idea of Islam.”

Taliban mungkin sudah bisa “ditaklukkan”. Tapi efek kehidupan sosial budaya yang mengarah ke misoginisme -nya mungkin butuh satu atau lebih generasi lagi untuk perbaikan ke depan .

Puluhan orang ditangkap dalam insiden ini saat terbukti Farkhunda ‘bersih’. Sedihnya, beberapa bulan kemudian, hukuman mati yang dijatuhkan kepada beberapa orang malah dibatalkan diganti dengan hukuman 10-20 tahun penjara. Itu pun keputusannya berlangsung dalam ruang tertutup, tidak dibuka untuk publik .

Sebenarnya, tidak sedikit dana yang digelontorkan oleh banyak pihak untuk pemulihan kondisi di Afghanistan. Tapi korupsi yang merajalela makin melumpuhkan harapan perbaikan di sana. Penegakan hukum ya masih jauh dari sempurna .

Perlawanan terhadap kelompok Talliban dll masih berlangsung. Sambil melawan kelompok ekstrimis, perjuangan internal juga diwarnai dengan pemberantasan korupsi. Hingga kini, Afghanistan masih masuk dalam 5 besar negara paling korup di dunia.

Korupsi melumpuhkan kondisi ekonomi di sana. Kondisi ekonomi yang stagnan dan cenderung lemah punya andil besar dalam kondisi psikologis yang menjalar kepada budaya dan sosial masyarakat setempat. Apalagi ini negara yang puluhan tahun hidup dalam suasana perang.

Perbaikan tingkat pendidikan seharusnya bisa menjadi salah satu pemutus ketidakberdayaan masyarakat dalam banyak hal. Tapi kalau duitnya diembat sama pejabat ya bagaimana mau memulai semuanya?

Setidaknya Farkhunda memantik semangat perlawanan dari kalangan aktivis perempuan di Afghanistan dan semoga membuka mata masyarakat di sana untuk bersama memperjuangkan hidup ke arah lebih baik. Aamiin.

Farkhunda jauh di sana, itu juga kejadiannya sudah lebih dari setahun yang lalu. Tapi kita bisa memetik banyak pelajaran, ya. Tentang pentingnya stabilitas politik misalnya. Jangan kalian kira Afghanistan ujug-ujug kacau, ya. Itu banyak penyusupnya dari luar . Termasuk negara-negara besar yang berebut pengaruh.

Hal lainnya terkait…berita bohong. Duh, ini nih masih peer banget. Apalagi di tengah terjangan arus informasi yang super deras. Belajar berenang ya teman-teman, jangan sampai tenggelam karenanya .

Efek berita bohong yang berpotensi menyebar kebencian itu jangan disangka gitu-gitu doang. Selain berujung kepada pembantaian dan pembunuhan kepada satu orang (misalnya kasus Farkhunda), tidak sedikit perang besar di dunia yang salah satu pemantik utamanya adalah … rumor belaka 🙁.

Mobilisasi massa juga harus berhati-hati . Namanya keramaian, apalagi memang tujuannya mau menghujat dan penuh dengan cacian ya pasti potensi bikin orang kejang-kejangnya tinggi.

Salah satu pelaku yang tertangkap karena kelihatan di video di kasus Farkhunda adalah Yaqoob. Usianya masih 16 tahun. Dia bukan anak nakal bahkan sedari kecil rajin bekerja dan sangat melindungi adik-adik perempuannya.

Perang afghanistan
Gambar : pixabay.com

 

Ujug-ujug dia ikut ke dalam keramaian hanya karena mendengar seribu orang berteriak-teriak dan memukuli satu orang perempuan. Yaqoob terlihat melemparkan batu berukuran besar ke tubuh Farkhunda. Orang tua Yaqoob membelanya, “Ya tentu dalam keramaian seperti itu, kita pastilah gampang emosi. Tersulut oleh mayoritas. Dia tidak terpikir bahwa perempuan tersebut tidak bersalah.”

Ya makanya, mbok ya ngumpul-ngumpul itu buat minum teh bareng atau diskusi. Atau memperjuangkan sesuatu yang berfaedah yang bisa menyelamatkan hidup banyak orang atau membawa perbaikan bagi masyarakat. Jangan menghimpun massa untuk mengalirkan amarah 🙁.

Itu di videonya, ada lho anak-anak usia pra remaja yang ikut-ikutan melempar batu dan semacamnya 🙁.

Nama Farkhunda diabadikan sebagai nama jalanan tempat Farkhunda dianiaya dan diseret. Sebuah tugu juga dibuat untuk mengenangnya. Semoga kenangannnya tidak hanya berhenti menjadi label dan bangunan seremonial semata.

Remembering Farkhunda. Remembering the societies where women are still considered as the not more than the second gender .

Masih mempertanyakan mengapa aktivis perempuan suka lebay dan layak didengarkan suaranya?

Gambar : misacor.org
Gambar : misacor.org

Time Trax

Kata “salary” berhubungan dengan kata “salt”. Garam.

Di masa lalu, garam ternyata dihargai sangat tinggi. Produksinya masih sangat jarang. Sehingga garam dijadikan alat tukar yang berharga. Dari sinilah, garam pun dijadikan sebagai upah bagi pekerja di masa lampau. Salt, then salary 😀.

pixabay garam

Di masa-masa Inggris kesusahan dalam soal materi, para serdadu akhirnya dibayar dengan … garam!

Garam, Cuuuy. Yang beberapa tahun lalu kalau saya borong daging ayam ke si Gondrong, tukang sayur langganan kompleks, suka dikasih gratis satu bungkus 😀.

Dulunya orang mau bekerja keras supaya dapat sejumput garam buat pelezat makanan kali ya. Sekarang … kasih duit seribu rupiah ke tukang sayur, bisa dapat sebungkus yang dipakai bisa sampai sebulan lebih ^_^. Jangan kebanyakan makan garam, sayangi tekanan darah 😉.

Ternyata, sesuatu yang di masa lalu sangat berharga bisa mengalami pergeseran sangat signifikan seiring perkembangan jalan. Enggak cuma garam.

Yang lebih kekinian misalnya ponsel.

Dulu masih ingat banget saya, kelar gajian bulan kedua di kantor pertama bekerja dulu (gaji pertama habis buat bayar utang hahahaha), langsung beli ponsel. Ponsel Nokia yang sangat hits waktu itu. Bangganya enggak ketulungan. Padahal cuma buat menelepon sama sms doang bisanya.

Nokia jadul :D (gambar : snapguide.com)
Nokia jadul 😀 (gambar : snapguide.com)

 

Sekarang? Beuh, ponsel dipakai nyari duit juga tokcer abessssss hahahaha. Makanye, media sosial jangan dipakai buat baper-baperan ajalah 😉. Banyak betul kesempatan dan keuntungan yang bisa kalian raih selain mikirin isi/makna status, kegiatan dan foto-foto orang lain toh yaaaaaa hahahaha :p #uhuk.

Di sekitar awal abad ke 19, ekonom Thomas Malthus meramalkan bahwa di masa depan dunia ini tidak mungkin menampung banyak manusia. Karena jumlah makanan yang mampu disediakan oleh bumi tidak akan bisa cukup. Ini berkaitan dengan perkembangan manusia = deret ukur vs perkembangan makanan = deret hitung.

Diprediksi bahwa jumlah manusia tidak akan mungkin mencapai 1 milyar orang. Karena keburu makanan tidak cukup. Jadi, akan terjadi kelaparan bahkan perang memperebutkan makanan dan banyak yang meninggal hingga akhirnya manusia enggak terlalu banyak lagi dan makanan cukup. Begitu seterusnya. Intinya, jumlah manusia tidak mungkin melebihi 1 milyar.

Concernnya, “Gimana cara menyediakan makanan untuk manusia sebanyak itu?” Catat ya, di abad segitu orang hanya mampu meramal sebatas apa yang terbayang di saat itu saja 🙂. Mana ada makanan instan/pabrikan zaman segitu 😉.

Jangankan abad ke-18, di awal abad ke-20 pun, Daniel Quinn memperkenalkan istilah “Food Race”. Intinya mirip dengan ramalan Malthus. Cuma fokusnya Quinn berbeda, “Gimana cara membatasi pertumbuhan manusia?”

Lihatlah kini. Jumlah penduduk Cina + India saja sudah 3 milyar kali. Disusul US + Indonesia yang jelas-jelas sudah melebihi angka 600 juta jangan-jangan, ya. Malas googling hehehe.

Kita rebutan makanan sampai perang gitu? Heloooooo, ada Indomie, ya, booooo hahaha. Segala macam rasa dari Sabang sampai Merauke juga ada :p. Makanan pabrikan dari semua lini terus menerus tercipta. Teknologi yang sebenarnya juga berasal dari “kecerdasan” manusia sendiri. Bukan sihir toh yaaaaa :p.

Nah, sama juga dengan prediksi beberapa pihak soal naik haji 😉.

Kata mereka, sebaiknya naik haji itu diubah aja fatwanya menjadi enggak wajib karena di masa mendatang nanti bakal ‘chaos’ bakal begini bakal begitu bla bla bla. Dikait-kaitkan pula dengan pemborosan segala macam endebre-endebre-endebre.

Kompleks jemaah haji di Mina
Kompleks jemaah haji di Mina

 

Belum 50 tahun berlalu lho, saat naik haji itu bisa terlaksana via perjalanan laut saja. Perjalanannya saja bisa memakan sebulanan kali.

Sekarang? Voila! Pakai pesawat yang 10 jam juga enggak nyampe 😉 –> maklum yak, saya pernah bermukim di Jeddah jadi hafal durasi terbang Jakarta-Jeddah hehe.

Mungkin baru lima tahun berlalu saat semua jemaah harus jalan kaki menuju Arafah saat wukuf. Sekarang sudah ada kereta, Kakaaaaa ^_^. Things changed. Many things did change.

Kita meramal begitu wajar sih. Sama seperti Opa Malthus dan Pakde Quinn tadi yang belum terbayang tentang makanan kaleng dan segala macam hihihi. Kita menilai sesuai keterbatasan kita sebagai manusia yang hidup di era sekarang 🙂.

bekerja di luar negeri

Siapalah yang tahu apa yang bisa dicapai manusia di masa mendatang 🙂. Teknologi apa yang sedang dalam proses menunggu untuk ditemukan oleh manusia-manusia di masa depan.

Sebagai muslim, buat saya teori Malthus dan Quinn jelas bertentangan dengan keyakinan saya bahwa Allah yang menjamin rezeki tiap manusia. Ekonom ya boleh saja mengeluarkan berbagai macam teori, tapi faktanya … bukan tanpa dasar Tuhan memilih manusia sebagai khalifah di muka bumi ini 🙂. Sesuatu yang dulu sempat dipertanyakan oleh para malaikat bahkan dilawan oleh kaum iblis.

Saya tidak menantang para ilmuwan lho ya. Ampuuuun. Saya percaya 100% kalau bumi itu bulat lho! #eaaaaa hahaha :p.

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

 

Tapi jangan terlalu pesimis terhadap masa depan. Saya sih sepakat kalau umat muslim harus diberi pencerahan soal naik haji. Jangan juga menganggap bahwa meninggal sebelum naik haji itu “terhina” sehingga hanya menghabiskan waktu dan materi di dunia untuk mikirin gimana biar naik haji doang. No, no, bukan itu maksudnya.

Justru karena itu umat muslim jangan malah menjauh dari ilmu pengetahuan muamalah. Jadilah ilmuwan-ilmuwan di berbagai bidang ilmu yang cetar membahana untuk membuktikan pada orang-orang yang tidak lagi percaya pada agama bahwa agama dan kehidupan dunia itu bukan 2 hal yang bertentangan.

Kejar ilmu dunia untuk kemaslahatan bersama bukan untuk kafir-kakfirin orang lain huhuhu.

Challenge what the future holds, yes? 😉.

Belajar juga dari sejarah garam tadi. Jangan suka takut dan galau soal sumber energi yang katanya mulai menipis.

Di awal tahun 2000 an, produksi minyak dunia dan hasil tambang ditakutkan tidak akan mencukupi kebutuhan dunia lagi. Orang dilanda kekhawatiran dan minyak dunia dianggap penting banget.

Kalau sudah kerja di perusahaan minyak atau tambang, beuuuhhh, kayaknya sudah akan bahagia sampai 7 turunan hehehe.

Sadar tidak, beberapa tahun terakhir ini baik tambang dan minyak dunia terus merosot popularitasnya 🙂. Kendaraan listrik mulai menuai pamor di berbagai tempat. Energi baru mulai ditemukan.

Roda pedati ya, teman-teman. Dunia ini berputar seperti roda pedati. Jangan jumawa pun jangan pesimis. Ada gilirannya siapa yang di atas siapa yang di bawah.

Tugas kita cuma berusaha dan berprasangka baik pada Tuhan. Selalu <3.

Have a nice weekend ^_^.

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

Every Step Toward

For this whole week, I’ve been discussing about this with my husband. Dese kan orangnya memang pragmatis vs saya yang menurutnya terlalu ‘utopis’ hehehe.

Menurut suami, at some points, kita masing-masing pastilah memimpikan Dunia Utopis. Tapi sekaligus harus paham, dalam praktiknya, yang mana melibatkan banyak sekali manusia biasa (manusia yaaaaa bukan malaikat), itu adalah hal yang mustahil 🙂

Kita ngobrolin (dan kadang-kadang sampai berantem hahaha) soal penggusuran, spesifik soal Luar Batang, dan gaya kepemimpinan Ahok selama ini.

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

Kalau menurut suami, “Baca lebih banyak lagi sejarah. Pembangunan itu mustahil tanpa pengorbanan. There’s no such thing : maju bersama-sama. Itu mimpi lo aja.”

“Gak adil amat.”

“That’s life, Dear.”

Lalu mulailah dia mengoceh tentang Restorasi Meiji yang diiringi dengan berakhirnya era Samurai.

“Ya harusnya yang pro kekaisaran ngomong baik-baik aja ke Para Samurai untuk join jadi tentara Jepang.”

“Ngerti gak sih Samurai itu apa? Posisi mereka di masa shogun berkuasa itu kayak apa?”

Iya sih saya enggak terlalu tahu hahahaha. Mulai lagi dah dese dongeng sejarah kayak biasa.

Ternyata kaum Samurai itu semacam kalangan bangsawan ala militer. Mereka punya kedudukan penting dalam struktur sosial bermasyarakat.

Di masa sebelum reformasi berlangsung, Jepang adalah bangsa yang terkungkung dan terbelakang. Kedatangan banyak orang asing malah menimbulkan kegelisahan dan penolakan. Standar lah, orang lokal Jepang takut perubahan ;). Kita juga sering kan berada di dalam posisi yang sama.

Kuil Meiji, gambar : pixabay.com
Kuil Meiji, gambar : pixabay.com

Namun, orang asing datang tak terbendung hingga akhirnya menimbulkan konflik sosial dan ekonomi bla bla bla. Kaum Shogun pun terdesak oleh banyak konfrontasi.

Singkat cerita akhirnya muncul pemikiran untuk mengembalikan Jepang kepada pemerintahan “satu komando” di bawah satu kekaisaran yang sah dan berdaulat. Kaisar mah dari dulu juga ada, tapi cuma simbol saja. Dalam keseharian, para shogun ini yang menyebar di banyak daerah dan masing-masing punya wilayah kekuasaan sendiri-sendiri.

Nah, para Samurai yang jadi “tangan kanan” para Shogun itchuuu. Kalau diibaratkan kasta, Shogun = Kasta Bangsawan/warlord, Samurai = Ksatria. Sisanya ya rakyat jelata nan tidak terlalu penting.

Singkat cerita, Meiji lah yang akhirnya berusaha mewujudkan ide ini. Salah satu konsekuensi yang terjadi ya terhapusnya para Shogun dan kelas Samurai.

Tentu tidak segampang itu kaum Samurai takluk setelah selama ini mereka sudah mencicipi kemegahan hidup ala “Kasta Ksatria”. Namanya manusia biasa. Harga diri terinjak lah yaow. Jadilah mereka melawan habis-habisan. Dari sini suami menutup, “Nah dulu inget kan kita nonton The Last Samurai. Inget-inget aja lagi filmnya, kira-kira begitulah ending perlawanan Samurai.”

Tapi aslinya sih tidak semua kaum samurai nyolot. Ada juga yang akhirnya bersedia bergabung dengan kekaisaran atau minimal tidak menolak jika kelas Samurai pada akhirnya dihapuskan.

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

Yang tidak siap dengan perubahan pun tentu tidak sedikit. Dan begitulah hingga akhirnya Si Negeri Matahari Terbit mengawali kiprahnya sebagai raksasa ekonomi Asia. Roda pun terus berputar, nampaknya jatah “Matahari Asia” bentar lagi akan menjadi milik Si Negeri Tirai Bambu :D.

Saya sempat bilang, “Ya mbok sabar aja. Bujukin aja dulu satu-satu biar mau gabung baik-baik, gak perlu pakai kekerasan sama sekali.”

Suami saya malah ngakak.

Ya begitulah mungkin beratnya menjadi pemimpin. Keterbatasan sebagai manusia akan selalu mungkin dikonfrontasikan dengan situasi dan kondisi. Sementara…waktu akan terus berlari.

Mungkin, hampir semua keputusan akan seperti buah simalakama.

Ya karena itu juga kali tidak semua kita dilahirkan menjadi pemimpin 🙂

Leadership, adalah salah satu dari sekian banyak hal terpuji nan terhormat yang tidak begitu saja terprogram otomatis dalam sanubari setiap kita.

Berapa orang yang punya nyali berdiri di garis terdepan, menjadi eksekutor bagi begitu banyak keinginan diantara keterbatasan waktu dan sumber daya? Memangnya kita semua sanggup mengambil keputusan besar yang tidak mudah diantara banyak pilihan sulit?

Beberapa diantaranya mungkin akan terus menerus menjadi perdebatan moral yang takkan ada habisnya.

Human progress is neither automatic nor inevitable… Every step toward the goal of justice requires sacrifice, suffering, and struggle; the tireless exertions and passionate concern of dedicated individuals.  

-Martin Luther King, Jr-

Siapa pun pemimpin Jakarta terpilih di 2017 nanti, terus berbenah Jakarta-ku <3

Understood Backwards, Live Forwards

“Aneh ya kalau dipikir orang dulu bikin bentengnya kok di bukit yang tinggi?”

“Ha? Kenapa emang?” Saya enggak ngeh maksudnya suami.

“Ya soalnya sekarang kan ada pesawat. Kalau bikin benteng di tempat tinggi ya sekali dibom, habis sudah!”

“Oooooo…ya dulu pan kagak ada pesawat!”

Hahahaha :p.

Ini oleh-oleh jalan-jalan ke Rock of Dunamase 2 minggu kemarin. Yah, tinggal di Irlandia mah, hiburan gratisnya ya enggak jauh-jauh dari reruntuhan kastil ini itu hahahaha :p

Dunamase Irlandia

Dua minggu terakhir ini cuaca di Irlandia berangsur-angsur membaik. Setelah diterpa hujan hampir berhari-hari selama 6 bulan lebih.

Musim panas hujan, musim gugur hujan, musim dingin apalagi. Sungai di belakang gedung apartemen saya, Sungai Shannon, sampai sempat meluap. Di beberapa tepiannya, banjir tak terbendung. Gubernurnya siapa siiiiiiihhhhh ‪#‎eaaaaa‬.

Nah, sekarang hujannya sudah mulai berkurang *tepukTangan* :D.

Kalau weekend, cuaca bagusan dikit, pasti suami langsung merengek minta jalan-jalan. Yoih, saya mah anak rumahan banget. Kalau weekend, bawaannya pengin fesbukan melulu hahahaha ‪#‎eh‬ :p.

Rock of Dunamase, reruntuhan bangunan batu yang konon sudah ada sejak abad ke-10 di era Joko eh…eranya bangsa Viking.

Orang-orang Viking ini asalnya dari wilayah Jerman. Mereka menyebar ke daerah-daerah Skandinavia. Lalu menaklukkan Britania dan Irlandia.

Oleh Bangsa Viking, dibangunlah sebuah benteng pertahanan di atas bukit Dunamase ini. Tapi tak ada sisa peninggalan yang berjejak untuk kisah Dunamase di abad 10 tadi.

Benteng Dunamase kembali dibangun, untuk tujuan yang sama dengan pembangunan sebelumnya, di abad ke-12 oleh orang-orang Norman/Normandia.

Foto : Dani Rosyadi
Foto : Dani Rosyadi

Normandia ini adalah nama sebuah wilayah di Perancis Utara. Orang Norman juga keturunan bangsa Viking. Cuma mereka umumnya adalah penganut Kristiani. Kalau Viking kayaknya masih era animisme dinamisme apa ya hehehe, CMIIW ya.

Setelah pendudukan Viking, giliran Normandia yang menguasai Britania dan Irlandia.

Pemilik Benteng di Dunamase berganti-ganti hingga akhirnya jatuh ke tangan bangsawan Inggris. For info, wilayah Irlandia (termasuk Republik Irlandia di belahan selatan) dijajah oleh Kerajaan Inggris Raya selama 8 abad lamanya *ngelapKeringat*.

Dalam salah satu perang lokal, pertengahan abad ke-17, benteng di bukit Dunamase ini diledakkan agar tidak direbut oleh musuh. Hingga akhirnya dibangun ulang menjadi semacam tempat perjamuan oleh Sir John Parnell di di penghujung abad ke-18. Arsitektur Aula Pertemuan ini menggunakan gaya abad pertengahan.

Sisa-sisa reruntuhannya itulah yang hingga kini masih bisa dilihat di kawasan wisata Dunamase ini.

Kalau pakai logika sekarang ya cupu banget bikin benteng pertahanan kok di atas perbukitan yang tinggi. Dengan kecanggihan teknologi perang era sekarang, ya benar kan kata suami saya tadi. Sekali dibom, langsung gubrak hehehe.

Belum lagi lokasinya yang eye-catching di atas bukit yang gampang banget deteksinya karena tinggi sendiri di tengah-tengah lembah di sekitarnya 😀

Enggak perlu capek-capek sewa detektif atau mengaktifkan radar untuk mendeteksi tempat persembunyian musuh hihihi.

Ya tapi kan pakai pola pikir zaman dulu dong ;). Dulu sih, boro-boro ada pesawat tempur bermesin jet, mobil paling sederhana saja belum ada hahaha :p.

Mengapa benteng dibangun tinggi sendiri di atas perbukitan? Ya biar gampang memantau musuh. Dulu ngecek musuh ya ngandelin keterbatasan jangkauan mata manusia saja.

Foto : Dani Rosyadi
Foto : Dani Rosyadi

Begitu juga dengan hal-hal lain di masa lalu di luar konteks benteng tadi ;).

Maaf nih, agak SARA dikit. Soal tudingan bahwa Islam mendukung perbudakan dengan banyaknya ayat-ayat yang mengatur soal budak dalam ayat suci. Ya iyalah, di abad ke-14 saat alquran diwahyukan, perbudakan memang hal yang lumrah di berbagai belahan dunia :(.

Justru Islam datang untuk menyerukan persamaan derajat diantara seluruh umat manusia. Makanya, di awal-awal yang banyak tertarik dengan ajaran ini ya para budak dan golongan miskin / fakir. Dan yang stres ya para penguasa yang sudah dimaklumi sering hidup mewah dari hasil menindas rakyatnya dan kebanyakan kaum berpunya yang sudah terbiasa menikmati kemudahan hidup dengan bantuan para budak.

Makanya, jangan juga yang muslim berkeras kalau ayat-ayat perbudakan itu masih relevan sampai kapan pun. Haduuuuh, di era modern ini dimana kita semua sudah memiliki kesadaran penuh soal hak asasi manusia kok ya masih mau bahas tetek bengek hamba sahaya -_-.

Demikian juga misalnya tuduhan kepada kaum feminis yang dituduh sok-sok kuat dan mengajak perempuan ke arah yang enggak bener :p. Lah, situ kira perjuangan awal kaum feminis memang apaan? Di awal abad ke-20 saja penggunaan alat kontrasepsi itu TABU banget lho.

Jangan pakai latar belakang kehidupan modern perempuan zaman sekarang untuk menertawakan ide feminisme di masa lalu ;). Instead, berterima kasihlah kepada mereka yang sudah memperjuangkan biar situ-situ enggak tek dung melulu saban tahun sehabis menikah hahaha :p.

Jadi, pahamilah masa lalu untuk pelajaran buat kita. Jangan dicari-cari alasan untuk menegakkan kebenaran ala-ala keyakinan kalian sendiri ;). Malah belakangan, banyak yang mau balik ke masa lalu. Duh! Ciyus? :p.

Masa lalu jangan dikais-kais. Hiduplah untuk ke depan. Persembahkan kebermanfaatan yang kita punyai/miliki untuk kehidupan masa depan yang lebih baik. Untuk kemanusiaan, lingkungan dan sekitarnya (y).

Let’s work together for a better world. Shall we? <3

“Life can only be understood backwards; but it must be lived forwards.”
― Søren Kierkegaard

Ah ya … enjoy the pics ;).

Foto : Dani Rosyadi
Foto : Dani Rosyadi

When Silence is Deafening

Di awal abad ke-20, Republik Irlandia akhirnya berhasil merebut kemerdekaannya dari Kerajaan Inggris Raya. Beberapa aktivis Katolik dan nasionalis Irlandia mengklaim kemerdekaan mereka dan tidak disambut mulus oleh pihak Kerajaan Inggris.
 
Katoliknya harus disebut, ya, karena di masa itu, hubungan Protestan vs Katolik ikut mewarnai perebutan wilayah di Pulau Irlandia oleh Kerajaan Inggris dan Republik Irlandia. Mayoritas Kerajaan Inggris adalah penganut Protestan.
Gambar : gtaforums.com
Gambar : gtaforums.com
 
Sebelumnya pula, lebih dari 100 tahun, pertikaian antar kepercayaan ini terus berkobar sejak masa penjajahan Kerajaan Inggris terhadap Republik Irlandia. Penekanan dari sisi agama juga dilancarkan oleh pihak penjajah. Misalnya pemaksaan bahwa warga Irlandia HARUS manut pada ajaran Protestan.
 
Yang begini ini yang bikin perselisihan makin sengit.
 
Dari klaim kemerdekaan di tahun 1916 itulah, muncul IRA (Irish Republican Army). Anggotanya : sukarelawan komunitas Katolik di Irlandia (kaum militan katolik) dan anggota militer Inggris yang berasal dari Irlandia.
 
IRA melancarkan operasi-operasi militer yang akhirnya berhasil memaksa Kerajaan Inggris untuk membagi Pulau Irlandia menjadi 2 bagian. Wilayah utara tetap berada dalam naungan Kerajaan Inggris, wilayah selatan yang hingga kini berdiri sebagai satu negara sendiri, Republik Irlandia. Perjanjiannya dikenal dengan nama Traktat Anglo.
 
Note, mbak yang nulis ini tinggalnya di Republik Irlandia sekarang :p. Jadi suka pening kalau ada yang nanya-nanya soal teroris. Salah woi, salaaaaahhh :p. Terorisnya di bagian utara ituuuuuu :D. Tapi baiklah, mumpung temanya lagi pas bahas teroris, kita tuntaskan tanya kalian via tulisan ini *tsaaaaah* :p.
 
Pasca Traktat Anglo, IRA terpecah menjadi 2 : pro Traktat vs kontra Traktat. Yang pro yang setuju-setuju saja wilayah Pulau Irlandia terbagi 2. Yang kontra sebaliknya, kepengin kalau Pulau Irlandia merdeka secara utuh.
 
Berantem sendiri. Hingga akhirnya yang kontra Traktat terdesak dan kalah. Tapi IRA versi kontra ini terus menerus melancarkan perlawanan dengan aksi bersenjata. Tentu dengan dukungan militan Katolik Irlandia.
 
HIngga akhirnya tahun 1969 pecah kerusuhan besar. Komunitas Protestan pro Inggris dan polisi setempat sukses mendesak komunitas Katolik. Tidak sedikit penganut Katolik di wilayah Belfast (Irlandia Utara) yang rumahnya dibakar oleh pihak lawan.
 
IRA dikecam oleh militan Katolik karena dianggap gagal melindungi umat Katolik di Belfast. Setelahnya, IRA kembali terpecah : Official IRA (OIRA) vs Provisial IRA (PIRA).
 
OIRA lebih moderat. PIRA yang radikal. Umm…bisa dibilang Fatah vs Hamas kali ya kalau di Palestina? CMIIW.
 
PIRA yang terus melanjutkan tradisi kekerasan militer. PIRA melindungi kalangan Katolik di Irlandia Utara dengan tidak segan-segan menggunakan senjata. Inilah bedanya OIRA dan PIRA. OIRA menghindari bentrokan fisik. Namun, PIRA mendapat dukungan dari militan Katolik baik di Republik Irlandia maupun Irlandia Utara.
 
Sejak tahun 1970 mereka memang menggunakan taktik peledakan bom dan metode “urban warfare”, menyerang polisi Inggris di pemukiman padat penduduk.
 
Karena banyaknya korban dari kalangan sipil, lama-lama rakyat di Republik Irlandia pun ogah mendukung PIRA. Tapi PIRA masih didukung oleh kalangan Katolik di Irlandia Utara yang tidak suka dengan kehadiran militer Inggris.
 
Persenjataan modern PIRA disuplai dari Libya (Qaddafi), komunitas Irlandia di US, ETA (Spanyol) dan PLO (Palestina). Konon, Qaddafi rajin menyuplai senjata karena dendam pribadi terhadap US dan Kerajaan Inggris.
 
Masifnya teror bom oleh kelompok PIRA, Kerajaan Inggris yang kepayahan akhirnya membuat aturan baru. Menangkap siapa saja yang tertuduh PIRA tanpa pengadilan. Hal ini malah membuat kalangan Katolik di Irlandia Utara makin bete dengan militer Inggris.
Serangan bom tahun 1996 di UK,, gambar : irishtimes.com
Serangan bom tahun 1996 di UK,, gambar : irishtimes.com
 
Tahun 1979, PIRA meledakkan bom tidak jauh dari kapal pribadi Lord Mountbatten (veteran Perang Dunia II dari Inggris) di perairan Irlandia. Lord Mountbatten tewas dalam serangan tersebut.
 
Tahun 80-an, PIRA makin hot. Tahun 1984, sebuah bom diledakkan di Hotel Grand Brighton (Inggris). Margareth Thatcher yang sedang berada dekat lokasi selamat. Bom menewaskan 5 orang dan melukai 34 lainnya.
 
Tahun 90-an loyalis Protestan mulai melawan dengan bantuan intelijen Inggris. Makin-makin dah PIRA mengamuk. Terdesak di Irlandia Utara, PIRA terus melancarkan serangan bom di Inggris Raya.
 
Tahun 1993, PIRA mengebom wilayah Chesire. Kesalahan teknis. Yang meninggal justru 2 anak kecil :'(.
 
Tahun 1996, pemboman lebih sukses. PIRA meledakkan bom di beberapa titik di London dan Manchester. Peristiwa ini berhasil membuat Kerajaan Inggris menelan kerugian materi hingga ratusan juta pounds.
 
Proses menuju gencatan senjata terus berlangsung. Hingga akhirnya lahir perjanjian Belfast tahun 1998 yang disepakati oleh PIRA. PIRA berjanji hanya akan memperjuangkan kemerdekaan Irlandia Utara via negosiasi damai tanpa aksi kekerasan.
 
Butuh waktu belasan tahun hingga akhirnya PIRA melenyapkan stok senjatanya.
 
Tapi di sini saya bertemu teman dari India yang pindah dari Belfast ke Athlone sekitar tahun 2011 silam. Menurutnya, keadaan di Belfast di beberapa wilayah tertentu masih suka rusuh kecil-kecilan. Masih suka ada ledakan bom iseng-iseng. Duh, iseng-iseng kok ledakin bom? :'(.
PIRA terkikis tapi warisannya itu lho … metode baru menebar teror via penyerangan fisik/peledakan bom di area sipil :'(. Taktik ini menginspirasi banyak pergerakan/pemberontakan di dunia :(.
 
Suami saya bilang, ide teror bom di kawasan sipil ini awalnya ya dari PIRA ini. Saya belum bisa menemukan data yang lebih dulu soal teror bom di kawasan sipil sebelum era PIRA. Apa benar, ya?
 
Lots of things we can learn.
 
Terutama sensitifnya isu agama ini. Sekarang sih kayaknya sudah hampir tidak ada lagi sumbu pendek antara Protestan dan Katolik. Di sini sendiri ya damai-damai saja so far alhamdulillah :). Apalagi saya di kota kecil. Rasanya belum pernah mendapat teror aneh-aneh terkait selembar kain yang selalu melingkar di kepala saya kalau saya lagi berada di luar apartemen.
 
Ada juga saya pernah disangka orang Gipsi, pengungsi dari Rumania yang kebanyakan jadi tukang minta-minta di banyak negara Eropa yang maju hihihihi. Dikasih duit booooo, sayang cuma 1 euro 50 sen :p. Hadeeeeeh,, hahahahaha :p.
 
Dulu pun di Masjidil Haram, oleh seorang jemaah Indoonesia, anak sulung saya dikasih duit 10 riyal, saya disangka TKW hahahahaha. Anak saya disuruh belajar yang rajin katanya biar pengorbanan saya katanya tidak sia-sia. Onde mandeeeee, banyakan fesbukan seharian di rumah kok dibilang berkorban sih hahahahahaha :p.
 
Masa ya, kece begini selalu disangka orang miskin, sih? *nangis*.
 
Berakhirnya tegangan tinggi antara Protestan dan Katolik ternyata diikuti oleh makin runcingnya pertikaian internal antara Sunni dan Syiah dalam Islam, ya? :(.
 
Sebenarnya pemicu awal pertikaian itu SEMUA diawali dengan masalah yang sifatnya sekuler. Enggak jauh-jauh dari perebutan tanah atau wilayah atau kekuasaan atau lebih kekinian di Timur Tengah, merebut pasar minyak :p. Apalagi goncangnya harga minyak membuat kondisi di sana kejang-kejang. Ya gimana, dominasi penghasilan rata-rata dari minyak. Manalagi sudah biasa hidup “hedon-hedon” :p. Makin pusing pala para Abu dan Ummu :D.
 
Kejang-kejangnya ini yang menular ke mana-mana. Dan bumbu agama untuk kesekian kalinya dimanfaatkan untuk menambah romansa pertikaian. Semangat jihad dikobarkan salah satu tujuannya untuk membentuk militansi, sih, ya.
 
Yang “atas-atas” memang nyari duit dan kekuasaan. Tapi mereka perlu serdadu-serdadu yang bisa dimanfaatkan militansinya tanpa perlu keluar uang banyak. Candu apalagi yang paling tepat selain candu agama?
 
PIRA/IRA kan berjuang untuk pembebasan Irlandia. Persoalan agama hanya pelengkap yang justru membuat masalah makin sulit diurai.
 
Palestina? Ya masalah tanah juga. Sudah berhamburan berita bahwa di Palestina itu sebenarnya ada penganut agama lain selain muslim. Demikian pula pemerintahan Israel itu sebenarnya sekuler, tidak mewakilli kepercayaan Yahudi.
 
Tapi yah, kalau sudah urusan Palestina, perdebatannya ujung-ujungnya bahas orang kafir, surga dan neraka. Padahal di belahan dunia lain, banyak kalangan masyarakat yang mati-matian mengutuk Israel. Tapi buat mereka yang sudah “kecanduan”, Palestina ya jihad agama! Terkutuklah kau Yahudi dan Nasrani. Lah jangan-jangan petinggi-petinggi Israel atheis semua hahahahaha :p.
 
Pokoknya kalau sudah bawa-bawa Tuhan, repot ya :(.
Gambar : misacor.org
Gambar : misacor.org
 
Susah kan mau minta konfirmasinya gimana. Enggak bisa kita confirm langsung, “Tuhan, jadi yang benar yang mana nih? Dia apa saya?” Lah masing-masing merasa perwakilan Tuhan :p. Mengkritisi mereka berarti mengkritisi Tuhan, onde mande banget kan? :D.
 
Tapi teman-teman muslimku, saya percaya mayoritas kita sebenarnya BUKAN orang-orang yang sakaw yang menganggap keislaman kita adalah seberapa keras kita mengutuk (bahkan membunuh) orang lain di luar Islam. Saya yakin deh, yang error-error itu cuma sedikit.
 
Problemnya, mereka sedikit tapi BERISIK. Terlalu BISING. Suara mereka yang terlampau kencang ini yang membuat orang-orang di luar Islam merasa bahwa sesungguhnya merekalah perwakilan Islam yang “benar”.
 
Saya kutip nih satu komentar di sebuah video yang membahas soal fanatisme kekerasan dalam Islam, “…kalau umat Islam mengklaim yang suka meneror dengan kekerasan hanya orang-orang tertentu yang ekstrimis lalu mengapa tak ada yang lantang menentangnya? Sisanya kok diam saja? Their silence is deafening.”
 
Kata “mereka”, diamnya kita justru bukti bahwa jangan-jangan kita mengiyakan? Padahal mungkin kita malas saja dituduh LIBERAL kan, kan, kan? Hahhaahahaha.
 
Banyak teman saya mengaku menghindari mengomentari hal-hal seperti ini karena ujung-ujungnya bisa berdebat tiada ujung.
 
Alasan sebagian teman, “Lo sih enak, emang lo doyan berantem! Lah kita yang pengin nyari resep doang di Facebook ya ogahlah ngurusin gituan.” Hahahahaha :p. Husss, eike juga rajin nyatet-nyatetin resep di Facebook kali aaaaahhh ;).
 
Tapi kita mungkin sudah berada di masa di mana DIAM tidaklah cukup :).
 
“Our lives begin to end the day we become silent about things that matter.” -Marthin Luther King Jr-
 
Kecuali…tentu saja, kalian diam karena dalam hati memang sepakat. Atau buat kalian, ini bukan perkara yang penting. 
 
Think about it. Please <3. 
Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com
 
***