Jejak Urang Awak dalam Sejarah Bangsa

by : Jihan Davincka

***

sejarah kecil

Baru saja menuntaskan sebuah buku dari kumpulan jilid “Sejarah Kecil Perjuangan Bangsa.” Buku ini bukan khusus membahas suku Minang. Buku biografi beiberapa tokoh pelopor sejarah perjalanan bangsa ini ditulis oleh Rosihan Anwar. Kesan pertama setelah menuntaskan isinya, “Minang lagi, minang lagi!” Hehehehehe.

Memang, majalah Tempo pun pernah merilis buku biografi 4 Bapak Bangsa. Tidak tanggung-tanggung, 3 dari 4 (Sukarno, Hatta, Syahrir, Tan Malaka) terlahir dari salah satu suku terbesar di pulau terbarat nusantara. Bukan cuma mempopulerkan rendang, suku minang melahirkan tidak sedikit tokoh-tokoh penting di masa lalu. Pola pikir mereka yang beragam dan ‘intelek’ membuat banyak ideologi yang teranut. Membentang dari sayap kiri, tengah, dan kanan.

Sayap kiri ada Tan Malaka. Seorang tokoh komunis nasional yang namanya sempat diendapkan oleh rezim orde baru. Anda mungkin berpikir Tan Malaka seorang atheis :). Beliau seorang penghapal alquran. Mungkin lebih tepat jika disebut sebagai sosialis ekstrim kiri. Berbeda dengan sosialis komunis yang diterapkan oleh Lenin dan Stalin, yang sayangnya menjadi standardisasi dalam menilai pengusung paham komunis. Selain Tan Malaka, ada juga Rustam Effendi.

Sayap tengah ada Syahrir. Bapak Bangsa yang jasanya tidak sedikit namun berakhir tragis dalam isolasi politik hingga akhirnya meninggal dunia. Syahrir sosialis beraliran kiri namun tidak menyetujui sosialisme ala Uni Soviet. Menurutnya, sosialisme adalah mengakui persamaan derajat antar sesama manusia.

Tokoh populer di sayap kanan antaralain : Muhammad Natsir, Agus Salim, dan Buya Hamka. Ketiganya bukan nama asing, kan?

Urang awak juga menghiasi daftar pujangga besar dan pejuang kemanusiaan tanah air. Ada Motinggo Busye, A.A Navis, Muchtar Lubis, dan Lukman Harun. Saya baru tahu kalau Motinggo Busye, cerpenis favorit saya, ternyata orang Minang juga. Rata-rata mereka memiliki keahlian bermacam-macam nan mumpuni. Seorang versatile.

Disebutkan kalau orang Minang tidak berjodoh dengan pemerintahan. Hatta mundur ketika merasa garis politiknya sudah tidak sejalan dengan Sukarno. Syahrir mundur dari jabatan perdana menteri di tahun 1947. Tan Malaka terlempar dari organisasi yang diperjuangkannya dengan segenap jiwa. Buya Hamka juga akhirnya memutuskan hengkang dari pucuk kepemimpinan dari MUI.

A.A Navis mengeluhkan apa yang salah dengan orang Minang?

Sementara Sukarno dan Suharto mati-matian membentuk kekuasaan. Sekali tergenggam, mereka tak sudi melepaskannya.

Orang Minang mulai ‘tersisih’ ketika pemberontakan PRRI/Permesta bergejolak. Satu persatu tokoh-tokohnya mulai dilemahkan.

Sisa-sisa intelektualitasnya masih sangat terasa hingga kini. Sebagian besar teman saya yang lahir dan besar di sana, saat merantau pas kuliah atau sudah bekerja, kecerdasannya memang tidak main-main :).

Bahkan pernah kami naik taksi. Supirnya ternyata urang awak. Saat macet tidak terasa karena dia dan suami sibuk mengobrol soal politik tanah air. Cara bicaranya tidak seperti orang kebanyakan. Kok bisa jadi supir taksi, ya? hehehehe.

Saya ingin menghindari stereotip atau stigma semacam ini. Tapi ya, sejarah dan pengalaman sehari-hari mana sanggup saya bantah :). Tidak semuanya, lebih tepat (mungkin) sebagian besar.

***

Ngomong-ngomong soal agama, suami saya bilang orang Minang termasuk suku yang ‘ketat’ untuk urusan keyakinan. Bisa dibilang, suku ini 100% penganut muslim. Makanya tidak berlebihan jika film “Cinta Tapi Beda” karya Hanung menuai protes keras dari ‘petinggi-petinggi Minang’. Duh Mas Hanung, apa yang dicari? Jangan disama-samakan yang memang sudah berbeda :). Toleransi ada batasnya.

Saya penasaran sekali mengapa orang-orang Minang ini bisa ‘eksentrik’ begitu, ya. Padahal sebagian besar mereka mengalami gemblengan masa kecil ala pesantren konservatif. Memiliki pengetahuan agama Islam yang tidak ecek-ecek. Memang banyak dari mereka yang akhirnya berkiprah dan memiliki nama besar dalam pengetahuan agama. Tapi banyak juga yang akhirnya memilih berpihak pada sosialisme.

Sebenarnya bila ditilik lebih jauh, para sosialis ini muncul sebagai bentuk perlawanan kepada kaum kapitalis. Makanya kalau melihat sejarah perjuangan bangsa, selain kaum muslim yang memang sudah mendominasi kala itu, perlawanan habis-habisan pun datang dari kaum sosialis. Muslim memandang imperialisme sebagai ‘kristenisasi’ dan Sosialis yang memandang imperialisme sebagai kapitalis.

Sebagian paham sosialisme memimpikan perwujudan “Masyarakat Madani”. Karena paham ini kerap dihembus-hembuskan sebagai ekstrim kiri, konotasinya menjadi negatif 100%. Padahal ekstrim kiri ya karena ekstrim kanannya sudah menjadi pakem penganut kapitalis :D. Iya enggak, sih? *sotoy*.

Kalau ditinjau lebih jauh lagi, sebagian paham sosialis belum sepenuhnya ‘mati’. Sebagian besar Eropa Barat masih menerapkan aturan sosialisme kemanusiaan. Berbeda dengan Amerika Serikat yang kental dengan liberalismenya. Liberalisme? Jangan bingung. ‘Teman’nya kapitalisme juga, kok. Hehehe.

Liberalisme mengingatkan pada istilah liberal. Islam di era terkini di Indonesia mulai digerogoti sebuah kelompok kecil yang menamakan dirinya JIL (Jaringan Islam Liberal). Pemahaman mereka bisa dicek di website resminya. Yang saya bingung, mereka banyak menyerang pemahaman Islam ‘konservatif’ termasuk ‘meragukan’ isi alquran. Lha ya bikin agama baru aja, kenapa mesti dompleng nama Islam? :). Takut enggak dapat pengikut ni yeeeee :P.

Tapi apesnya, istilah ‘liberal’nya ini menjadi istilah yang tidak jarang digunakan secara ‘serampangan’. Misalnya pas Pilkada kemarin milih Jokowi, dituduh ‘liberal, lu!’. Suami saya nih yang kerap dituduh ‘liberal’ oleh teman-temannya. Ahahahahhaha.

Suami saya kebetulan urang awak juga. Saya mengagumi semangatnya belajar bahasa Arab. Alasan utamanya karena dia ingin lebih mengerti isi alquran. Memang, orangnya kurang suka dengan doktrin-doktrin yang menurutnya membuat orang menjadi ‘malas belajar’ dan mencari tahu sendiri:).

***

Semoga sepenggal cuplikan masa lalu urang awak di atas (exclude my husband! :P) bisa menyemangati kita sebagai intelektual muda kaum muslim *tsaaahhh* untuk tidak enggan menggali dan terus mengasah pengalaman. Jangan takut rasa penasaran akan menjerumuskan kita. Perbedaan akan me’liberalisasi’ kita ?Tidak, kok. Bukan label ustaz yang akan membawa kemuliaan bagi tiap manusia.

Takwanya, bukan ‘label’nya :).

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al Hujurat: 13)

Jangan berlindung di balik zona nyaman, “kata ustaz kan begitu”. Jangan mentok gitu, dong hehehehe. Tentu kita selalu butuh guru dan bimbingan. Manalagi kita dihantui ketakutan hati tiap insan mudah terombang-ambing dan resiko ‘tergelincir’ itu selalu ada. Maka, lafadzkan selalu :

‘Yaa Muqallibal Quluub, Tsabbit Qalbi ‘Ala Diinik’

Artinya: “Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkan hati kami di atas agama-Mu.”

[HR.Tirmidzi]

Sekalipun rasa hormat pada kaum ulama harus selalu menjadi bagian dari akhlak utama seorang muslim, bersandarlah selalu pada Allah. Bukan pada orang, figur, dan lain-lainnya.

Hasbunallah wani’mal wakil (Cukuplah Allah sebagai penolong kami, dan Allah adalah sebaik-baik tempat bersandar). Surah Ali `Imran (3).

Amin :).

***

Salahuddin Al Ayyubi

Salahuddin Al Ayyubi (Saladin), Dicinta Kawan Dipuja Lawan

Salahuddin Al Ayyubi (Saladin), salah satu tokoh besar yang dipersembahkan oleh peradaban Islam di abad 6 – 7 Hijriah. Lahir tahun 1138 M di daerah Tikrit, Irak. Seorang keturunan Kurdi yang di usia belasan ikut hijrah bersama keluarganya ke Damaskus, Suriah. Namun menaiki panggung kebesarannya melalui daratan Mesir.

Namanya adalah Yusuf bin Najmuddin. Dijuluki sebagai Salahuddin. Dunia barat memanggilnya sebagai Saladin. Al Ayyubi merupakan nama keluarganya. Salahuddin Al Ayyubi.

Salah satu keistimewaannya adalah namanya tidak cuma bergema di kalangan muslim saja. Tapi disebut-sebut di berbagai literatur barat.

Salahuddin Al Ayyubi
Salahuddin Al Ayyubi

***

Secara sekilas sudah sering sekali mendengar kebesaran seorang Salahuddin Al Ayyubi. Tapi baru benar-benar ‘tersentak’ ketika membaca sepak terjangnya secara khusus dalam perjalanan panjang kisah Perang Salib. Ditulis dalam buku “Perang Suci, dari Perang Salib Hingga Perang Teluk.”

Karena peristiwa di Gaza beberapa waktu lalu, saya terpancing untuk kembali membolak-balik 800 halaman dari buku yang ditulis oleh seorang Karen Armstrong yang mengaku dirinya sebagai ‘freelance monotheist’ ini. Tapi rasanya pengetahuan saya masih terlalu minim untuk membahas soal Gaza dan zionisme.

[adCOntent]

Saat kembali mengurai halamannya satu persatu, kisah Salahuddin Al Ayyubi (Saladin) -lah yang lagi-lagi mencuri perhatian.

Membaca pertama kali buku ini hampir 3 tahun yang lalu, saya sampai-sampai begitu ngotot kalau punya anak laki-laki lagi, namanya mesti Saladin. Ketika 20 bulan lalu putra kedua saya lahir, usul ini tidak mendapat approval dari bapaknya hehehehe.

***

Yusuf remaja sebenarnya adalah pemuda yang sangat sensitif. Malah cenderung penakut. Yusuf trauma dengan peperangan melelahkan yang pernah dijalani bersama pamannya, Syirkuh. Terkesan ogah-ogahan saat harus kembali berangkat menuju Mesir bersama Syirkuh. Namun akhirnya, bersama Yusuf, Syirkuh berhasil memukul mundur para Crusaders (ksatria Perang Salib) dari perbatasan Mesir.

Atas jasanya, Syirkuh diangkat menjadi wazir Mesir. Ketika Syirkuh wafat, secara tak terduga, Yusuf-lah yang ditunjuk untuk menggantikannya.

Saat inilah perubahan besar mulai terjadi pada pemuda berhati lembut ini. Yusuf meyakini takdirlah yang telah mengutusnya untuk berjihad di jalan Islam. Membawa kembali kejayaan Muslim yang seakan terbenam dengan direbutnya Baitul Maqdis di periode Perang Salib pertama.

Mendalami agama dan mengobarkan semangat jihad, Yusuf menjelma menjadi seorang pemberani yang diimbangi oleh tingkat kesalehan yang tinggi.

Yusuf tampil dan dikenal dengan gaya kepemimpinan yang revolusioner. Pemimpin besar pendahulunya, Sultan Nuruddin, dikenal sebagai pemimpin saleh dan dermawan. Tapi seperti kebanyakan model kepemimpinan di Timur Tengah, Nuruddin nyaris tak terjangkau oleh rakyatnya. Tinggal di istana besar dalam kemewahan, Nuruddin tak luput dari gaya despotiknya yang kental.

Yusuf justru membuka aksesibilitas dirinya terhadap rakyat seluas-luasnya. Gayanya yang informal mengejutkan banyak pihak. Termasuk ketika beliau pasrah kepada pelayannya yang menceramahinya untuk banyak beristirahat. Hanya tertawa-tawa ketika kuda salah satu pengawalnya mencipratinya dengan lumpur.

Yusuf kembali mengingatkan dunia Islam akan sejarah masa lampau Kepemimpinan Islam yang diterapkan oleh Rasulullah dan para sahabatnya. Ingatlah Nabi Muhammad, kenanglah Abu Bakar, lihatlah Umar, Usman, dan Ali. Adakah mereka memberi jarak terhadap umat yang seharusnya dibela kepentingan dan kehormatannya?

Satu kejadian lucu saat saya membawakan materi ini di pengajian rutin kami minggu lalu, di bagian ini, seorang teman saya langsung menyeletuk, “Ih, kayak Jokowi dong, ya.” Hehehehe. Bukan tanpa dasar, saya sempat mengelu-elukan beliau secara khusus di wall ini ;).

Ya, beda kelas lah :D. Terlalu dini untuk menyanjung seorang Jokowi setinggi pahlawan besar seperti Salahuddin. Namun kita berharap Jokowi adalah sebuah tipping point bagi negeri yang tengah terpuruk ini :(. Membawa angn segar, setidaknya memacu perubahan tipe kepemimpinan yang makin memihak kepada rakyat. Hidup blusukan :P.

Dengan semangat tinggi, Yusuf menyatukan kerajaan-kerajaan Islam kecil menjadi satu kekuatan besar. Mengobarkan semangat jihad yang pada akhirnya merebut kembali Baitul Maqdis di Perang Salib periode ke-2.

Sekalipun Yusuf adalah petarung ulung dalam perang, jangan lupakan pribadinya yang mudah tersentuh. Yusuf tak pernah menyiksa tawanan perang. Yusuf tak segan mengabulkan permintaan gencatan senjata bila lawan sedang kepayahan. Dalam Islam, tak masalah dilakukan gencatan selama tidak merugikan kaum muslim.

Kejujurannya pun sangat teruji. Yusuf tak pernah melanggar gencatan senjata mana pun. Sekali beliau murka ketika para Crusader menyerang rombongan kaum muslim yang akan berangkat berhaji di masa gencatan senjata tengah berlangsung. Tanpa ragu, Yusuf turun langsung mengobarkan perlawanan kepada musuh yang dianggap berkhianat. Pengasih namun pantang direndahkan :).

Salah satu kisah teladannya menghadapi musuh adalah saat berhadapan dengan Raja Richard. Richard yang dijuluki The Lion Heart, Hati Singa, saking pemberaninya.

Ketegasan nyaris tak pernah mempengaruhi jiwa kemanusiaannya. Di suatu pertempuran, kala pasukan Richard terdesak, dimana akhirnya sang Raja ikut berjalan bersama pasukannya tanpa menunggang kuda, Yusuf luluh.

Yusuf meminta salah seorang serdadu mengirimkan kuda buat Richard. Sabdanya, “Aku tak tega melihat pejuang besar sepertinya mempermalukan diri seperti itu.”

Saat Richard tengah sakit keras, Yusuf mengirimkan tabib terbaik kerajaan untuk turut merawatnya.

Allah bersabda, “Hai orang-orang yg beriman hendaklah kamu menjadi orang-orang yg selalu menegakkan keadilan karena Allah menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum mendorongmu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah karena adil itu lebih dekat pada ketakwaan. Dan bertakwalah kepada Allah sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Mahabenar Allah dengan segala firmanNya :).

Di akhir hayatnya, pemimpin besar ini hanya meninggalkan harta 47 dirham saja. Konon, pengawal pribadinya selalu menyisihkan sebagian harta kerajaan secara diam-diam untuk mencukupi kehidupan seorang Salahuddin. Masya Allah :'(.

***

Ada satu hal penting lain tersirat dari buku sejarah (saya lebih suka menyebutnya sebagai “buku sejarah” instead of “buku agama”) karya Armstrong ini.

Di masa-masa awal perang Salib, Eropa barat selaku kaum yang menginvasi umat Muslim di Timur Tengah, tengah berada dalam periode abad kegelapan. Peradaban mereka diwakili oleh kaum Frank, yang digambarkan Armstrong sebagai kaum barbar.

Perang Salib sedikit demi sedikit memacu mereka memasuki babak baru. Abad kebangkitan. Darimana mereka ‘mengembangkan’ peradaban mereka?

Invasi mereka ke kaum muslim sekaligus memperkenalkan budaya keislaman di Timur Tengah. Bangsa Eropa barat ini belajar mandi dan membersihkan diri dan kaum muslim. Mereka belajar kebersihan, memakai wangi-wangian, dan tertarik pada kain tenun khas Timur Tengah. Peradaan Muslim yang kala itu banyak melahirkan ilmuwan dan sastrawan besar tak luput dari perhatian mereka.

Mereka berusaha ‘memindahkan’ peradaban ini dan memajukan kawasan mereka. Dan sejarah meninggalkan jejaknya hingga kini. Seperti apa kehidupan umat muslim sehari-hari di kawasan Timur Tengah. Pernah tinggal di Saudi? Doyan mandi gak orang Saudi? :P. Isu kebersihannya bagaimana? Di Indonesia bagaimana? :(.

Apakah yang khas dari negara-negara maju di Eropa? Bahkan sebuah penelitian yang dilakukan tahun lalu, “How Islamic are Islamic countries?” menasbihkan negara New Zealand dan negara-negara barat lainnya di jajaran 10 besar. Kemana umat muslim? Di urutan keberapa negara-negara yang dijejali penduduk yang berstatus Islam? Arab Saudi di urutan ke-131! Indonesia? Urutan 140!

Coba bayangkan, mereka belajar kebersihan dari dunia muslim? How come? 🙁

***

Nama Salahuddin Al Ayyubi terpatri kuat di hati rakyatnya. Semangat jihadnya menyebar benih-benih kekuatan bagi dunia Islam saat itu. Namun, kebesarannya pun tak luput dari perhatian dan puja puji dari kaum lawan.

Selayaknya, tak ada keraguan, jika dipatuhi secara benar dan displin, sesungguhnya Islam adalah rahmatan lil ‘aalamin. Dan tokoh Saladin merupakan salah satu peletak dasar atas (pernah) berjayanya Syariah Islam di hampir 2/3 belahan dunia kala itu. Sejarah pernah mencatat bahwa ketiga agama ini pernah hidup tentram damai selama 450 tahun dalam naungan Syariah Islam. 450 tahun, hampir setengah milenium!

Jangan hanya lantang berbicara aqidah. Muliakan akhlak dan buat dunia sekali lagi mengakui kebesaran Islam :). Rahmat bagi seluruh umat manusia :).

***

Biografi Soekarno : Yang Terbit, Tenggelam, dan Kembali Bersinar

by : Jihan Davincka

***

Rujukan tulisan, disarikan dari berbagai sumber. Lihat di akhir tulisan, ya ;).

***
Di pelajaran Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa, yang cukup sering diulas adalah peristiwa Gestapu. Peristiwa yang me’wajib’kan kita, terutama para belia di masa tahun 80 an, untuk menghujat PKI (organisasi busuk yang kerjanya membantai ustaz). Sekaligus menanamkan paham bahwa Soekarno, sang presiden kala itu, bertanggung jawab atas salah satu sejarah terkelam tersebut.

Kelam bukan karena ada 7 jenderal yang terbunuh di penghujung bulan september 1965. Tapi, justru ada ratusan ribu nyawa lain yang ikut melayang selepas peristiwa tersebut.

Peristiwa yang sudah menyajikan banyak bukti namun masih sarat misteri dalam gelaran sejarah revolusi nasional.Sang presiden yang punya prinsip ‘gila’ untuk menyatukan kaum Nasionalis-Agamis-Komunis tersebut tentu tak diizinkan mendapat simpati dari kaum muslim. Jadi, semasa sekolah, saya tahunya komunis itu ya penentang Islam.Saya tidak memuja komunis.

Buat saya, baik kapitalis maupun sosialis, tak ada yang benar. Sebagai seorang muslim, saya selalu percaya syariah Islam masih satu-satunya jalan terbaik untuk kehidupan bermasyarakat. Hanya saja, mohon maaf, kalau yang sekarang lagi hits membawa-bawa nama Islam dalam dunia politik sangat jauh dari bayangan saya tentang kesempurnaan Islam itu sendiri *noOffense* :P.***Timeline hari ini ramai membahas gelar “Pahlawan Nasional” yang akhirnya resmi disematkan kepada Soekarno-Hatta. Sebelumnya, keduanya cuma resmi mendapat gelar “Pahlawan Proklamator”.

Kebetulan literatur yang sudah banyak dibaca adalah tentang Soekarno. Jadi tulisan ini khusus untuk membahas Bung Karno. Presiden pertama RI yang pernah sukses membuat ‘galau’ pemerintahan kapitalis Amerika di tahun 60-an silam :D.

***

Dulu, satu-satunya yang saya tahu, presiden satu ini nyentrik banget. Tergila-gila pada seni dan…wanita! Hehehe. Buku pertama tentang Soekarno yang saya baca adalah : “Istri-istri Soekarno.”

Masa remajanya banyak diulas dalam buku “Kuantar ke Gerbang.” Sebuah buku yang sebenarnya bercerita tentang Inggit Garnasih, perempuan pertama yang berusia 12 tahun lebih tua daripada beliau. Yang berhasil menawan hati sang proklamator dalam rentang waktu paling lama.

Diceritakan tentang Soekarno muda yang tampan, idealis, cerdas, dan dari dulu ternyata memang penggemar wanita. Hehehe.

Cara berpikir lugas dan kegemarannya berbicara membawanya sebagai salah satu orator ulung. Salah satu untaian kata-kata beliau yang sangat terkenal adalah :

“BERI aku seribu orang, dan dengan mereka aku akan menggerakkan Gunung Semeru. Beri aku sepuluh pemuda yang membara cintanya kepada Tanah Air, dan aku akan mengguncang dunia.” (Bung Karno)

Sesungguhnya Soekarno muda sudah sering mendapat perhatian khusus dari guru-guru belandanya. Tapi beliau memang bukan orang sembarangan. Di usia belia, sudah ditancapkannya cita-cita membawa bangsa Indonesia berdiri tegak sebagai bangsa yang merdeka.

Sebuah mimpi besar yang kelak membawanya bolak balik masuk penjara, bahkan terbuang di pengasingan nun jauh di Pulau Bangka.

Di masa-masa perjuangan kemerdekaan, sedari muda, pergaulannya sudah sangat luas. Salah satu tempat favoritnya adalah di lingkungan rumah Tjokroaminoto (yang disebutnya sebagai “dapur revolusi Indonesia.”). Disinilah beliau bertemu Ki Hajar Dewantara (penggagas pendidikan nasional melalui Taman Siswa), berkenalan dengan Alimin (yang memperkenalkannya pada Marxisme), bahkan dengan Semaun. Seorang tokoh yang aktif di Sarekat Dagang Islam sekaligus anggota dari ISDV, cikal bakal PKI.

Mungkin dari situlah, Soekarno mendapat gagasan tentang Agama-Komunis, dua hal yang hingga kini tak pernah bisa terjembatani. Tapi kemudian di masa kuliah, Soekarno takluk pada paham Nasionalis. Di masa itulah, mimpinya, akan sebuah negara merdeka tempat berbagai ras dan agama mengikatkan kesetiaan pada satu tanah air yang sama, mulai bersemi.

Namanya makin bergaung setelah menuliskan artikel “Nasionalisme, Islam, dan Marxisme.” Soekarno menyerukan semangat persatuan. Berdiri dalam lingkaran yang sama untuk melakukan perlawanan non-kooperatif terhadap penjajahan Belanda.

Soekarno adalah ilham terhadap Sumpah Pemuda. Sekaligus perumus dasar-dasar Pancasila secara gemilang.

***

Perjuangannya mengalami pasang surut. Tak jarang Soekarno yang narsis mengalami hubungan yang sulit dengan rekannya, Bung Hatta. Bung Hatta menginginkan kaderisasi untuk mendukung lahirnya militan-militan sekaliber Soekarno. Sebaliknya Soekarno lebih suka berkoar-koar di depan massa, mengerahkan kemampuan terbaiknya untuk menggerakkan mereka.

Siapa sangka, karier politiknya, yang kelihatannya akan berakhir di pengasingan selama 4 tahun di Pulau Ende, malah kembali bersinar setelah Belanda menyerah pada Jepang.

Soekarno memiliki harapan yang terlampau tinggi pada ‘tuan baru’nya ini. Ditelannya rasa arogan yang dulu berkobar sedemikian perkasa terhadap Para Meneer. Dikerahkannya kemampuan untuk menghipnotis khalayak melalui orasinya. Dibujuknya para pemuda untuk ikut barisan Romusha. Sebagian besar mereka dikirim untuk kerja paksa dan tak pernah kembali lagi.

Hatinya remuk mengenang dirinya yang dianggapnya telah mengirim mereka ke lembah kematian. Tapi ucapannya setelah itu, “Dalam setiap peperangan ada korban. Tugas panglima adalah memenangi perang. Andaikata saya terpaksa mengorbankan ribuan jiwa demi menyelamatkan jutaan orang, akan saya lakukan.”

Tentu saja, hal ini akan selalu menjadi polemik sepanjang waktu. Perdebatan moral yang tak ada habisnya.

Bersama Hatta, Soekarno tampil ke depan podium, membuka sejarah baru untuk bangsa Indonesia. Jatuh bangun bersama-sama di awal masa-masa kemerdekaan. Namun, Hatta yang lebih ‘dingin’ dan disiiplin akhirnya memilih untuk menyingkir dan membiarkan Soekarno yang terkesan tak sabaran berkibar dengan Demokrasi Terpimpin-nya.

***

Di tahun 60-an, prinsip Nasakomnya membuat kaum kapitalis gemas. Pemerintah Amerika yang tengah bergulat dengan komunis Vietnam, makin dirundung kecemasan dengan Soekarno yang keras kepala. Indonesia, dengan PKI-nya, berhasil menjadi negara dengan partai komunis terbesar di luar negara-negara yang memang berpaham komunis.

Tapi, kepopuleran Soekarno di mata rakyat menggentarkan sang Negara Jantung Dunia untuk ‘menyerang’ secara terbuka. Konon, kaum kapitalis ini, diam-diam menyusup dalam setiap kisruh yang sepanjang tahun 50 dan 60-an gencar dilancarkan oleh daerah. Melalui mata-matanya, para kapitalis turut membiayai dan mendanai para perongrong kekuasaan Bung Karno.

Namun kemudian, sadar dengan kesalahannya, kaum kapitalis akhirnya menemukan ‘sekutu sejati’nya : Angkatan Darat.

Tak ada buku yang benar-benar sanggup membahas siapa sebenarnya ‘otak’ dari peristiwa Gestapu. Peristiwa sehari yang terkesan ‘konyol’ ini yang akhirnya diputarbalikkan secara sempurna untuk menjungkalkan kekuasaan Soekarno.

PKI, yang kala itu merupakan anak emas Soekarno, salah satu alat kesombongannya untuk menantang Raksasa Kapitalis, ditumpas nyaris tak berbekas. Setelah Gestapu dilumpuhkan dalam tempo sangat singkat, kurang dari 24 jam saja.

Pertanyaan besar yang sudah tak menyisakan saksi hidup ini masih terus berputar. Mengapa PKI, sebuah partai besar beranggotakan sekitar 3 juta orang, mendapat dukungan penuh dari Presiden Soekarno, yang masih sangat berpengaruh saat itu, rela ‘membunuh diri’nya dengan pemberontakan bodoh (yang secara skenario sudah dipastikan akan gagal) di penghujung september 1965.

***

Di tengah-tengah kehancuran yang tengah dijalaninya, Soekarno ‘menitipkan’ Ali Sadikin untuk ibukota. Soeharto merestui dengan setengah hati. Kala Ali Sadikin memimpin Jakarta, dana yang dikucurkan sangat sedikit. Tapi, Soekarno tak salah pilih. Justru di tangan Ali Sadikin, Jakarta berbenah dengan sendirinya.

Meskipun jalan yang ditempuh Bang Ali cukup kontroversial. Beliau mendanai pembangunan fasilitas umum dengan melegalkan perjudian dan prostitusi. Ditanggapinya semua kontroversi dengan ucapan, “Anda nikmati saja semua fasilitas umum itu. Kita tahu dananya darimana. Urusan lainnya, itu antara saya dengan Tuhan saja.”

Dan sejarah menasbihkan Ali Sadikin sebagai salah satu gubernur yang dianggap paling mumpuni, hingga detik ini.

Berpuluh-puluh tahun setelah G 30 S, Orde Baru berusaha keras membenamkan nama besar Soekarno. Namun, Soekarno membuktikan sumpahnya sendiri, “Sejarah akan membersihkan namaku.”

Segala upaya tersebut berakhir dengan hasil terbalik. Sesungguhnya nama besarnya tak pernah pudar. Dan orde baru tak pernah benar-benar mampu melumpuhkan pesona seorang Bung Karno. Sejarah dan waktu justru melahirkan pengampunan untuk kekhilafannya di masa lalu.

Bahkan, pemerintah menolak permintaannya untuk dikuburkan di Bogor. Bogor terlalu dekat dengan pusat pemerintahan. Tentu dikhawatirkan makam beliau akan menjadi tempat ziarah populer.

Dalam salah satu buku 4 serangkai bapak bangsa keluaran Tempo “Soekarno, Paradoks Revolusi Indonesia” dituliskan bahwa “Jasad matinya pun membuat gentar!”

Kini, kapitalis sudah sangat menggurita. Mungkin sudah terlambat untuk mencerna cita-cita seorang Soekarno yang pernah ingin mengusir penuh kepemilikan asing untuk sumber daya apa pun di Indonesia. Yang begitu perkasa meyakini kemampuan kita untuk berdiri tegak di atas kaki sendiri. Dan tak lelah membagi ‘kesombongan’ ini kepada rakyatnya.

Lihatlah kita, bahkan sebagai negara penghasil tempe, kita pernah diterjang badai : kisruh soal tempe. Sudah semakin menjauh dari pernyataan garang beliau, ” Biar Bangsa Tempe Asal Bukan Mental Tempe!”

***

Sebegitu banyak ironi yang ditampilkan dari sosok pemimpin kontroversial ini. Tapi nama besarnya tentu tak boleh sedikit pun dikecilkan atas jasa luar biasanya.

Meskipun (mungkin) tak pernah mengangkat senjata secara langsung di hadapan kompeni, tapi anak muda luar biasa ini jatuh bangun bertahun-tahun, melepaskan tawaran masa depan dari Para Meneer, bersama-sama para pejuang lain, mengantarkan kita semua memasuki gerbang kebebasan sebagai bangsa yang merdeka.

Bahkan nama besarnya masih bergema di KTT GNB 2012, dikutip oleh pemimpin Iran, Khameini, “….tapi, seperti yang dikatakan Ahmad Sukarno, satu dari para pendiri gerakan ini di Konferensi Bandung 1955 yang legendaris, dasar dari pendirian Gerakan Non-Blok bukanlah kesamaan geografis, rasial, atau relijius, melainkan adanya kesamaan kebutuhan.”

***

Begitulah seorang Soekarno. Seseorang yang sarat dengan puja dan caci. Yang tak pikir panjang menentang pembentukan negara Federasi atas Malaysia dan Singapura oleh pemerintahan Inggris di kala itu. Namanya pernah menciutkan pemimpin dunia sekaliber negara Amerika sekali pun.

“Aku dikutuk seperti bandit dan dipuja bagai dewa.” (Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat).

***

Disarikan dari berbagai buku :

“Soekarno, Paradoks Revolusi Indonesia.” (seri 4 serangkai Bapak Bangsa oleh Majalah Tempo)

“Dalih Pembunuhan Massal / Pretext for Mass Murder” (John Roosa, 2006)

“Kuantar ke Gerbang” (Ramadhan KH).

“Istri-istri Soekarno.” (Lupa nama pengarangnya :P).

Cara menerbitkan buku indie

Kritik Terhadap Bunda of Arabia

***

Kritik pertama adalah soal keakuratan isinya.

Sebelum “Bunda of Arabia” terbit, sebenarnya telah terbit satu buku non fiksi bergenre komedi yang bertajuk “Kedai 1001 Mimpi” yang dikarang oleh Vabyo, yang juga menggunakan latar belakang negara Saudi.

Ketika gencar berpromosi di beberapa milis (thanks to Bapak Dani hehehehe, Baba of Arabia :P), beberapa orang bertanya tentang “Bunda of Arabia” dan “Kedai 1001 Mimpi.” Isinya dianggap bertentangan.”Kedai 1001 Mimpi” karangan Vabyo (yang konon laris manis ini) diterbitkan oleh penerbit formal, Gagasmedia.

Gagasmedia sendiri kebetulan penerbit yang banyak melahirkan penulis-penulis favorit saya seperti suami istri Adhitya Mulya-Ninit Yunita dan Raditya Dika.Sayangnya sampai sekarang saya sendiri belum membaca buku ini. Tapi dari banyak review di berbagai media online, saya jadi maklum kenapa sampai disebut-sebut ‘bertentangan’.Sebenarnya, kedua buku tersebut TIDAK BERTENTANGAN sama sekali :). Kok, kok, kok???

Sudut pandang penceritanya berbeda. Ini nih pokok perbedaannya :).

Vabyo datang ke Saudi dengan ‘menyamar’ sebagai TKI informal dan bekerja di beberapa tempat untuk mengumpulkan bahan cerita.

Sedangkan “Bunda of Arabia” ditulis oleh ibu-ibu asal Indonesia yang datang ke Jeddah untuk mengikuti suami yang bekerja di sana. Spesifik tentang kota Jeddah dan sekitarnya.

Apa yang diceritakan Vabyo dalam “kedai 1001 mimpi” adalah kumpulan pengalamannya bekerja di Saudi selama (kalau tidak salah) 3 pekan (apa 3 bulan), ya.

Sedangkan para Bunda yang menuangkan pengalamannya di “Bunda of Arabia” rata-rata sudah bermukim minimal satu tahun.

Saya tidak suka menceritakan hal ini. Tapi memang pada kenyataannya kaum pekerja formal di kota Jeddah memiliki ‘dunia yang berbeda’ dengan dengan kaum pekerja informal.

Anda jangan lantas menganggap pekerja formal disini sombong. Salah satu sahabat saya disini, akibat terlalu entah lugu entah apa, dimanfaatkan secara materi oleh oknum yang kurang bertanggung jawab.

Oknum, sih. Tapi ya, pengalaman itu guru paling berharga, bukan?

Juga jumlah kaum informal terlalu banyak. Dan nyaris tak tersentuh karena mereka tinggal di lingkungan tertentu dan seringnya berkelompok. Kerasnya kehidupan yang mereka alami mungkin sudah mengikis separuh rasa kesantunan mereka. Tapi jangan digeneralisir. Tentu tidak semuanya :).

Hal-hal ‘sensitif’ ini tak mudah untuk saya terangkan panjang lebar dalam tulisan :(.

***

Kritik kedua adalah isi “Bunda of Arabia” kok kayaknya ‘senang-senang’ semua? Emberrrrrr ahahahahahahaa :P.

Bunda-bunda hepi 😀

Justru sebenarnya saya menggagas buku ini sebagai penyeimbang. Atas berita-berita yang menurut saya terlalu berat sebelah tentang salah satu negara ‘penguasa’ gurun ini. Terutama mengenai kehidupan orang-orang yang berasal dari tanah air.

Saya sudah mengawalinya dengan blog mamasejagat dan ceritaJeddah. Tapi tentu perlu ada langkah lebih ‘serius’. Jadilah saya, yang memang memendam mimpi menjadi penulis (kelak), memberanikan diri mengangkat sisi lain ini ke dalam buku “Bunda of Arabia.”

Ah, berarti untuk kalangan terbatas. Kalau menilik tujuan awalnya saya setuju jika orang-orang berkata ini untuk kalangan terbatas. Makanya saya pantang berdebat lebih jauh ketika mencoba menawarkan naskah buku kepada sebuah penerbit formal dan langsung ditolak dengan alasan ‘segmented readers’. Saya sepenuhnya paham :).

Waktu membahas isu ini pun, resistensi dari rekan-rekan Bunda yang saya tawari untuk ikut menulis pun sudah ada.

Bahkan saya akhirnya rela mengganti judul yang awalnya adalah : “How can we not love Jeddah?” menjadi “Bahagia, Meski Mungkin Tak Sebebas Merpati” untuk ‘menggaet’ salah satu penulis yang awalnya hendak hengkang, padahal dia adalah penulis incaran utama saya.

Beliau inilah yang sebenarnya memiliki kemampuan menulis yang paling ‘mumpuni’ diantara kami hehehe. Heran saya, orangnya masih gak pede juga melangkah lebih ‘jauh’ padahal sudah saya komporin hehehehe. Mana buku solo-mu, Mbaaaaakkkk? :D.

Demikian juga dengan rekan penulis lain yang menunjukkan keengganan saat saya minta menulis dengan tema yang sudah saya tetapkan. Meskipun tidak kepada saya, saya tahu dia meminta pertimbangan dari mana-mana. Saya maklum. Dia takut disangka mau pamer. Tapi alhamdulillah, melalui BBM intensif, beliau pun akhirnya ‘takluk’ dan mau nyetor tulisan hehehe.

Perempuan Indonesia yang banyak mendiami wilayah Saudi, sebagian besar datang dengan status TKW. Dan diantara mereka, jumlah terbesarnya memang ada di ranah domestik, sebagai asisten rumah tangga atau pengasuh anak.

Jadi, kami (para penulis) pun mencoba sangat berhati-hati dalam tiap tulisan. Agar orang tak lantas menuduh kami sebagai ‘musuh dalam selimut’. Dan demi Tuhan, kami tak ada yang menentang dan tak ‘memusuhi’ apalagi memandang rendah pada mereka. Setiap orang berhak mencari rezeki halal dengan kesanggupannya masing-masing.

Maka dari itu, butuh kerja ekstra untuk terus menumbuhkan semangat ini kepada rekan penulis yang lain, bahkan mengusir ‘ketakutan’ yang sering hinggap di pikiran saya sendiri.

Meskipun tetap ada teman yang malah menganjurkan menulis tentang ‘tema perjuangan’, mengangkat kisah-kisah TKW dan semacamnya. Ini memang mungkin akan menjadi topik populer (mengingat kisah menyayat hati memang cukup laku di tanah air hehehe), tapi justru kisah-kisah seperti ini yang saya hindari.

Maksud saya, cukuplah berita-berita memilukan hati ini dimanfaatkan oleh media untuk menaikkan jumlah pembaca mereka. Sekali lagi, saya ingin menghadirkan ‘kisah penyeimbang’ :).

Jadi ya, dari awal pun, tujuannya malah untuk memperkenalkan ‘sisi lain Saudi’ kepada tanah air. Agar kalau Anda-anda kebetulan sedang umrah dan hajian, bertemu dengan perempuan berabaya hitam di masjidil haram, Anda tidak buru-buru memandangi mereka dengan rasa kasihan, mengeluarkan uang 10 riyal untuk anak kecil yang mereka bawa dan berucap, “senang disini? majikannya baik?” hehehehe ;). Terlepas dari apakah cerita macam ini akan ‘laku’ atau tidak :).

Bahwa hidup di kota Jeddah mungkin memang serba dilarang tapi ada hal-hal lain yang akan membuat iri para perantau asal Indonesia di negara lain :P.

***

Kritik ketiga, judulnya terlalu ‘drama’ sementara isinya sangat deskriptif. Hehehehe.

Saya akui pemilihan judul memang untuk menarik perhatian publik :D. Dan kalimat ini yang selalu terngiang di kepala saya saat melihat foto-foto teman-teman disini yang hobi sekali ‘foto loncat-loncat’ kalau lagi main ke pantai hihihihihi. Sebenarnya selain dicomot dari salah satu lirik lagu Kahitna, kalimat ini juga saya jadikan judul foto teman-teman yang tempo hari piknik ke South Corniche. Saya tak ikut, tapi saya yang menuliskan ceritanya di blog hehehe.

Ada pun tentang cara penulisan dan sebagainya, saya cuma mau bilang, kami tak ada yang berprofesi penulis sebelumnya. Harap dimaklumi :P. Cuma 3 orang blogger dan 6 orang Bunda yang mungkin sebenarnya ‘terpaksa’ karena saya teror terus. Ahahahaha.

***

Terima kasih atas pihak yang sudah membeli dan memberikan kritikan dan memberi review untuk buku kami :).

Bagi yang belum beli, saran saya cuma satu : inbox saya secepatnya, ya! hehehehehe.

Jangan lupa kunjungi page kami, di facebook – fanpage ini.

Salam dari Jeddah

Jihan Davincka, on behalf of penulis “Bunda of Arabia” (Ibu Euis Fauziah, Ibu Vica Item, Ibu Aina Hidayati, Ibu Nining HaerAni, Ibu Ismiyati Afni, Ibu Dini Fabria, Ibu Alfiani, Ibu Mira Sonia).

Bunda of Arabia (Behind The Scene)

Pengalaman pertama memang biasanya yang paling berkesan ;).

hdr-4-jhn.jpg

***

Bunda of Arabia (Behind The Scene)

By : Jihan Davincka

***

“Bunda of Arabia” tadinya adalah judul novel yang ingin saya buat. Tapi kala itu saya berpikir saya tak pandai menulis fiksi. Jadi, judul itu menganggur saja.

Di penghujung 2011, setelah (sangat) aktif menulis di blog mamaSejagat dan ceritaJeddah, saya menyadari satu hal, “Saya suka sekali menulis!”

Saat itu saya menghitung ada puluhan postingan dari saya di mamaSejagat, dan puluhan postingan lain yang saya edit. Dan belasan postingan yang saya tulis tentang negara lain, yang diceritakan teman saya via message. Tapi saya menuliskan nama teman saya sebagai penulisnya. Hehehe.

Begitu tergila-gilanya saya menulis. Gak apa deh, yang penting blognya ramai dan saya ada alasan menulis. Toh, foto-fotonya dari teman saya itu.

Saya menuliskan kalimat ini di catatan resolusi 2012 saya :

“Mamasejagat was some kind of sign to remind me of how much I loved writing when I was just a kid. It led me to create another blog : ceritaJeddah. Then I truly realized how I still love writing until now, and tadaaaaa … suddenly we get one resolution for 2012 : writing something more serious than a casual post on my blogs (a book perhaps? :P)”
Resolusi iseng saja. Tapi yang iseng-iseng ini justru mengganggu jadwal tidur selama berhari-hari di awal bulan Januari itu. Akhirnya daripada gak bisa tidur, why not? Let’s write a book!

***

Tapi dasar sok keren, saya pikir sekedar menerbitkan sebuah buku saja kayaknya terlalu biasa-biasa. Bagaimana kalau pakai deadline? Ya, jangan 1 tahun. Yang menantang, dong! Saya pun menantang diri sendiri, “Do it in 3 months! From the scratch!”

Jadilah tanggal 1 April 2012 saya jadikan tanggal keramat. Di tanggal itu nanti buku pertama saya akan terbit, whatever it takes!

Nama pun bukan penulis, ketika googling dan menemukan berbagai artikel mengenai berapa lama biasanya sebuah buku terbit, saya langsung layu. Rata-rata minimal 3-6 bulan. Itu pun levelnya udah penulis tenar, bukan orang macam saya yang out of nowhere tiba-tiba merasa pengin nerbitin buku. Hehehe. Siapa lu?

Tapi anehnya, sifat keras kepala saya malah meluap-luap, “Masa sih tidak ada cara lain?” Jadilah saya colek-colek Mbah Google dan menemukan banyak sekali informasi tentang Indie publishing. Serasa bertemu jodoh, dalam hati saya bersorak, “Eureka! Eureka!”

***

Nah, sekarang mulai menulis. Karena memang buku pertama ini mengandung misi ‘terselubung’ (misinya saya ceritakan di minggu depan, ya), saya memilih bentuk antologi. Sejujurnya, ini tantangan baru lagi. Saya tahu pasti mengedit tulisan orang jauuuhhhhh lebih susah daripada menulis sendiri.

Teman-teman saya disini tak banyak yang suka menulis. Dimulailah bergerilya mencari kontributor. Saya ceritakan misi saya. Belum ada yang tertarik. Saya arahkan tema apa saja yang saya mau. Sudah ada yang tertarik tapi mengaku tak bisa menulis.

Tapi layar sudah terkembang, pantang surut ke daratan. Saya bujuk tanpa henti (via BBM, inbox di facebook, ada yang saya samperin ke apartemennya) satu per satu, orang yang saya incar kisahnya. Saya bujuk, saya wawancara, akhirnya mereka mulai menulis.

Namanya saja mereka banyak yang menulis pertama kali, saya sudah memprediksi akan banyak sekali mengedit tulisan mereka. Nekad, ya. Sementara saya juga cuma penulis boong-boongan, hehehe.

Hasil berburu kontributor dengan intensif membuahkan sebuah naskah dalam tempo 3 minggu. Jangan ditanya sepetnya mata ngedit tulisan tiap malam, hehehe. Hey, there’s no such thing called free lunch! Mana ada sih yang enak-enak untuk mendaki puncak pengharapan ;).

Tapi, begitu naskah selesai, jalannya masih panjaaaaannnggg…

522016_206055992838871_1253662978_n.jpg

***

Sesungguhnya, rasa gentar itu sudah selalu menghantui dari awal. Sejak mencanangkan proyek menerbitkan buku 3 bulan saja, kadang-kadang lutut sudah bergetar.

Saat hampir putus asa mencari kontributor, saya sudah lemas. “Ah, sudahlah. Lanjutin kapan-kapan aja, deh. Lagian kok sinting mau nerbitin buku 3 bulan.”

Saat naskah sudah jadi. Berburu indie publishing tidak kalah melelahkannya. Siapalah saya, cuma blogger doang gitu, lho. Info hanya mengandalkan Google. Sempat takut dengan beberapa peristiwa penipuan via penerbit indie ini. Duh, apa mundur saja, ya?

Setelah menghubungi 5 penerbit, akhirnya menemukan satu yang cocok. Ini pun deg-degan sangat. Untung salah satu teman dekat saya disini kenal baik dengan pemiliknya.

Ya sudah, korek isi tabungan hasil berkarir 7 tahun kemarin.

***

Selesai sampai disitu? Belum ternyata, saudara-saudara! Inilah puncaknya. Penerbit indie memang asoy, naskah kita tak akan tertolak. Tapiiii… penerbit tidak mengurusi marketing dan sales nya. Itu tanggung jawab penulis. Mereka hanya bantu proses distribusi. Onde mandeee, siapa yang mau beli buku ini?

Tapi ya sederhana saja ternyata. Jual saja door to door. Ada internet, pikir saya. Kirim message saja banyak-banyak. Oiya, saya malas mentag orang lain di wall mereka. Saya pikir itu kurang sopan. Karena saya juga tidak suka bila nama saya dipajang di barang dagangan orang lain. Hehehe. Kecuali mereka minta izin lebih dulu.

Saya message satu persatu via inbox FB. Message nya kan sama tinggal copy-paste saja dan mengganti beberapa bagian yang dirasa perlu, hehehe. As simple as that ;). Melelahkan sangat tapi.

Awalnya respons sangat minim. Ya, lagi-lagi ciut. “Bego sih, nekad langsung cetak 800.” Tapi ya gimana lagi, terus saja saya menyebar message secara personal. Chatting satu persatu. Pokoknya tutup mata dulu dengan hasil. Lakukan saja yang terbaik semampunya.

Saya terbakar dengan kalimat dari Ust. Salim A Fillah, “Keajaiban kadang memancar dari sumber yang lain. Bukan dari jalan yang kita susuri atau jejak-jejak yang kita torehkan dalam setiap langkah menjalani usaha.
Begitulah keajaiban datang. Terkadang tak terletak dalam ikhtiar-ikhtiar kita.”

Jadi…just do your best! Let Allah takes care the rest!

Menjelang buku terbit, entah kenapa, mendadak banyak yang tertarik. Satu persatu
mulai membalas message. Tiba-tiba banyak teman yang menawarkan jadi reseller. Anehnya, saya tidak pernah menghubungi mereka. Ternyata mereka tahu dari teman saya yang lain. See? Begitulah keajaiban datang. Terkadang tak terletak dalam ikhtiar-ikhtiar kita ;).

***

So far, cetakan pertamanya habis dalam tempo 10 hari sejak terbit. Tapi kalau terbit secara indie, sebelum buku benar-benar terbit, kita sudah harus hunting pembeli, lho.

Sekarang saya sedang melanjutkan ikhtiar untuk cetakan ke-2 nya hehehe.

Benar-benar belajar banyak hal dari pengalaman yang satu ini. Satu yang utama, saya pikir, setelah menjalani banyak tahapan yang ‘melelahkan’, saya kapok. Enggak lho, saya makin cinta menulis. Berusaha agar makin mahir. Kalau membaca lagi naskah “Bunda of Arabia”, ah, saya sungguh tidak puas.

Dan satu kesimpulan saya yang mungkin tercantum dalam kalimat ini (saya ambil dari Running Quotes from George Sheehan), bahwa :

“It’s very hard in the beginning to understand that the whole idea is not to beat the other runners. Eventually you learn that the competition is against the little voice inside you that wants you to quit.”
Benar juga. Sebenarnya dalam setiap mimpi yang berusaha kita gapai, dalam setiap langkah kita untuk mendekat padanya, ada satu musuh dalam diri yang sukar terlihat makanya terlihat susah ditaklukkan : “a little voice inside you that wants you to quit.”

Melawan diri sendiri itu intinya. Melawan bisikan-bisikan yang dihembuskan oleh batin sendiri, “Udahlah, ngapain capek-capek. Berhenti aja. Emang gak mungkin kali. Jangan sotoy, deh.”

Kemenangannya bukan terletak saat bukunya akhirnya terbit. Terbit lebih cepat dari target, 25 maret udah terbit. Yayyyy. Tapi pada kemenangan-kemenangan kecil dalam tiap pertarungan untuk menaklukkan bisikan-bisikan tadi. Mengusir jauh-jauh keinginan untuk berhenti saat garis finishnya malah sudah di depan mata.

Anggaplah kita sedang berlari. Boleh menurunkan kecepatan. Tak salah bila langkah melambat. Tentu tak masalah sekali-sekali berhenti mengelap keringat dan mengumpulkan nafas. Yang tidak boleh itu…melepaskan sepatu anda, menepi di lintasan lari dan menunduk putus asa sambil berbisik : “I’m never gonna make it.” Siapa yang tahu, ketika anda menyerah dan berbalik, justru garis finishnya tinggal beberapa meter lagi.

Jadi, cari garis start nya. Pasang sepatu. Mulailah…mulailah berlari. Jangan mengizinkan ayunan langkah terhenti sebelum anda yakin bahwa garis finish telah terlewati ;).

buku-boa.jpg