“Bunda of Arabia : Bahagia, Meski Mungkin Tak Sebebas Merpati”

Gilaaakk, sebenernya ada banyaaaaakkk banget yang mau diceritain di balik penerbitan buku “Bunda of Arabia” ini.

Eh, nerbitin buku?? Iyaaaaaaaa ^_^.

Buku antologi ini berisi kumpulan kisah ibu-ibu asal Indonesia yang sedang bermukim di Jeddah. Gue adalah penggagas dan sekaligus penulis di buku antologi ini. Teman-teman yang berhasil gue provokasi untuk ikut menulis ada 8 orang : Teteh Euis, Mbak Vica, Dini, Mira, Aina, Ismiyati, Alfiani, dan Rani.

Ajaib deh, gue ‘lempar’ ide di tanggal 9 januari. 12 Januari mulai pada bergerak. Akhir februari kita ‘lempar’ naskah ke penerbit Indie, dan voila… “Bunda of Arabia” terbitlah sudah di tanggal 25 Maret kemaren! Bukan main, 2 bulan 13 hari saja! Hahahaha, jangan tanya drama nya kayak apa, penggagas dan pemimpin proyeknya adalah Drama Queen nomor satu *nunjukDiriSendiri*.

Tapi belajar banyak hal dari proyek buku ini yang tentu akan gue share selengkapnya disini, tapi nanti ;).

Sampe sekarang rasanya juga gak percaya kenekatan ini bisa membuahkan hasil, hahaha. Dan yang lebih surprais lagi, bukunya ludes 800 eksemplar dalam tempo 10 hari! Cetakan pertama langsung habis dan segera meluncur ke cetakan ke-2.

Loh? Dikit amat? Iyaaaa, buku ini terbit secara Indie :P. Ada kok alasannya kenapa mesti terbit indie, duh, kapan-kapan pengen euy curhat panjang lebar ;).

Berikut ini tentang bukunya dulu deh, ya ;).

Here we go

***

Bahagia, Meski Mungkin Tak Sebebas Merpati

by : Jihan Davincka

***

Burung merpati bukan hal langka di Saudi. Mereka mengepakkan sayap hampir di seluruh penjuru wilayah Saudi. Asyik aja mereka berputar-putar di udara. Tidak perlu mereka payah-payah berburu makanan. Hampir tiap saat, ada saja orang yang melemparkan makanan ke kawanan mereka. Hidup hanya untuk terbang dan makan. What a life :).

Burung sering dilambangkan sebagai simbol kebebasan. Hanya dengan mengembangkan kedua buah sayap, seekor burung bisa melesat kemana mereka suka. Beterbangan di udara, hinggap di dahan dan ranting, atau sekedar duduk berkicau dimana saja.

******

Saudi, negara ladang minyak yang menjanjikan banyak harapan kepada para pendatang yang terhembuskan takdir untuk datang merantau. Gaji tanpa pajak, biaya hidup yang cukup murah, sehingga kesempatan untuk berkontribusi berupa devisa yang lebih besar untuk tanah air terbuka lebar.

Kemana para pekerja formal kita? Mengapa tak banyak yang mencoba merengkuh rejeki di negara yang mengharapkan banyak tenaga profesional asing ini? Kepiawaian pekerja formal negara kita harusnya lebih dari cukup untuk disejajarkan dengan ribuan tenaga kerja dari negara lain yang berdesakan ingin bekerja disini. Persaingan tak begitu sengit, tidak sesengit kesempatan untuk meraup kesempatan di negara-negara maju.

Salah satu alasan utama adalah : keluarga. Terutama bagi mereka yang sudah beristri. Bukan rahasia, Saudi dikenal tak ramah untuk para perempuan, terlebih yang berasal dari Indonesia. Keengganan para istri kadang sanggup menghentikan langkah para pencari nafkah untuk bertolak ke Saudi.

******

Ternyata ada banyak hal-hal menyenangkan yang tersimpan rapi entah dimana. Hal-hal seru yang gaungnya terlalu lemah karena tertimbun banyaknya kisah-kisah dengan nada berbeda tentang kota ini. Meskipun memang tak dipungkiri, kehidupan sehari-hari perempuan di kota Jeddah masih memiliki banyak ‘dinding pembatas” dibandingkan banyak wilayah lain di belahan dunia sana.

Kami mencoba mengangkat kota Jeddah dan kehidupan perempuannya dari sisi yang sedikit berbeda. Kami hadirkan :

“Bunda of Arabia : Bahagia, Meski Mungkin Tak Sebebas Merpati”

Percayalah, kebahagiaan tidak pernah bergantung kepada dimana kita tinggal, kemana kita pergi, bahkan pada berita yang mencecoki mata dan telinga kita. Bahagia itu dari dalam. As we’ve known that HAPPINESS is not given, it is made. Bahagia selalu bisa diciptakan. Hidup dimana pun pasti perlu perjuangan.

******

Diterbitkan secara indie. First printing of 800 copies sold out in its first 10 days!

Cetakan keduanya akan segera dihadirkan di tanggal 25 April 2012 ini.
Mariiii, pre order boleh, lho.

Boleh mention saya di @davincka
Atau email ke davincka@yahoo.com dengan subject : BUKU
Atau message ke inbox saya di facebook, id saya : Jihan davincka, email : davincka@yahoo.com

PM saya lewat Multiply juga monggo.

Untuk daerah Jakarta dan sekitarnya, harganya cukup 35 ribu rupiah saja, sudah termasuk ongkir ;).

Salam
JIHAN on behalf of
-Bunda of Arabia-

Jerome becomes a genius

Gw bingung ‘genre’ nya apa yah hihiihi….

Ini kebetulan aja gw selesai bacanya pas sekarang2. Dimana lagi heboh2 nya urusan Yahudi vs ‘the world’ :). Yup, buku ini ditulis oleh orang Yahudi yang isinya juga menceritakan mengenai ‘rahasia kecerdasan orang-orang Yahudi’ … selain bikin bete seluruh dunia, tentu diam2 banyak orang (misalnya gw) yang amazed dengan kemampuan mereka menjadi tirani minoritas! Yeah, karena memang gw gag percaya dengan alibi beberapa orang yg mengatakan ‘memang orang Yahudi itu khusus dianugerahi kecerdasan yang lebih sama Tuhan’ ….

Dari beberapa buku ini jadi dapet beberapa fakta (katanya siy yah, belon sempet ngecek sendiri nih :p) … bahwa :

1. Penerima hadiah nobel 37% adalah orang Yahudi. Coba bandingkan dengan populasi orang Yahudi di seluruh dunia. Fantastis banget yak :).
2. Perna merhatiin gag, kalu jarang banget ada atlet2 yahudi, yg banyak itu profesi2 sains kaya dokter, insyinyur, dll… atau artis dan pengusaha. Karena memang secara spesifik, mereka memang ‘diarahkan’ untuk lebih mengembangkan ‘otak’ daripada ‘otot’.
3. Kitab taurat itu jauhhhh lebih banyak kesamaannya dengan Al Quran daripada Injil. Dan ternyata… para Yahudi sampai sekarang sangat memegang teguh isi dari Taurat tersebut… ck ck ck… ini nih kali rahasia kecerdasannya :P.
4. Cara Yahudi beradaptasi? karena seems like dimana pun mereka berada selalu bisa ‘mengeluarkan kemampuan terbaik’ mereka… ternyata orang2 Yahudi sangat ‘jago’ melakukan asimilasi…mereka tidak menutup diri terhadap lingkungan…sebaliknya, mereka selalu berusaha mempelajari hal2 baru di sekitar mereka… menyerap hal2 positif buat mereka…. dan kemudian diabadikan dalam keseharian mereka. Ini perlu banget buat dicontoh :).
5. Dibahas pula mengenai asal mula kenapa ‘kelihatan’ nya para yahudi lihai banget cara nyari duitnya :P. Well, jadi inget kata2 pembimbing akademik waktu kuliah dulu : “kadang-kadang keterbatasan membuat kita jadi kreatif loh” … yes, indeed :)…

Dan oh ya, pada dasarnya gw tidak percaya kalau ada satu bangsa tertentu yang khusus diciptakan menjadi ‘orang jahat’… no way!!!

Btw, inti bukunya mengajarkan teknik2 untuk mengolah memori agar bisa menghapalkan banyak hal. Tau gag , di novel ‘Negeri 5 menara’ dibahas mengenai cara menghapal dengan suara keras… nahhhh, itu ternyata ajaran Yahudi boooo hehehehehe…

Wah, seru2 deh metode2 yang diajarkannya. Paling terkesan dengan cara menghapalkan list nya. Kalau misalnya kita harus menghapal beberapa hal dalam bentuk list, mudah saja… cukup kita analogikan ke dalam bentuk cerita yang unik, terserah kita. Well, gw praktekin beberapa kali. It works! it really works!!

Ayo,ayo pada baca bukunya. Tenang aja, gag bakal masuk neraka kog ‘nyontek’ cara2 mereka mengaplikasikan isi taurat nya ke dalam kehidupan sehari2 hehehehe… di dalam buku sama sekali gag diajarkan harus jadi orang yahudi dulu baru bisa pinter hahahahahahaha….

Daripada capek2 mikirin cara boikot2 segala macam tetek bengek yahudi, mending kita tiru tuh cara2 mereka untuk ‘menaklukkan dunia’ hehehehehe…

No offense yak ^_^ … saya tetap muslim sejati looohhhhh … *amin*

Ps : agak2 boring sih baca2 nya pas udah agak lamaan… tapi poin2 nya emang oke banget sih 🙂

Perang Suci

Waaahhh, jarang2 nih baca buku. Apalagi buku yg tebelnya sekitar 800 an halaman hihihihi :P.

Tapi sebelum buku ini gw dah perna baca 2 buku KA ini sebelumnya (sejarah tuhan, Muhammad sang Nabi). Sekilas kaya buku agama yah :). Tapi coba dibaca, buku2 karya beliau ini lebih tepat menjadi buku sejarah.

Meskipun konon kabarnya, Karen Armstrong ini seorang atheis, mantan pemeluk agama kristen, dan menyebut dirinya freelance monotheist, di beberapa bukunya (termasuk Perang Suci) secara eksplisit dia memuji2 Islam.

Garis besar buku ini membahas asal muasal pertentangan 3 agama samawi (Yahudi-Kristen-Islam) dan mencoba menarik benang merah antara Perang Salib di abad pertengahan dan hubungannya dengan konflik di timur tengah (Israel-Palestina) di masa kini. Konflik yang secara tidak langsung mempertentangkan ketiga agama samawi tersebut.

perlengkapan perang pake judul

Gw suka sekali dengan semangat toleransinya yang tinggi. Memang benar, gw setuju dengan penulis, kalau dilihat secara sepintas, sungguh tidak masuk akal bila asal muasal pertentangan ini hanya karena perasaan memiliki yang begitu mistis atas kota Yerusalem yang diklaim sebagai kota suci bagi para pemeluk ketiga agama samawi tersebut.

Pertentangan yang sengit ini juga membuat masing2 pemeluk agama memandang pemeluk agama lain sebagai musuh Tuhan. Dan memerangi pemeluk agama lain dipandang sebagai jalan untuk meraih tempat yang mulia di sisi Nya. Sehingga tercetuslah istilah Perang Salib. Dan pada akhirnya memicu Jihad di sisi kaum muslim.

Penulis beranggapan alasan pertentangan sebenarnya banyak yang bersifat sekuler, tapi bisa melenceng menjadi pertentangan religius yang sayangnya berkepanjangan sampai hari ini.

Dalam buku ini, dibahas pula karakter para pemimpin Yahudi, Kristen, dan Islam yang sempat berseteru dari abad pertengahan, hingga era 1980 an. Bagaimana seorang Salahuddin (Saladin) bisa begitu populer untuk kaum muslim tapi bisa mendapat tempat di hati kaum non muslim. Bagaimana seorang Anwar Sadat yang memperjuangkan perdamaian di timur tengah bisa mendapat puja puji setinggi langit dari Amerika, barat, bahkan Yahudi, tapi terbunuh oleh militan dari negaranya sendiri.

Meskipun si penulis habis2 an mencoba merubah perspektif barat mengenai Islam, penulis ini banyak salah kaprahnya soal Islam. Mungkin karena dia mantan pemeluk agama kristen, sehingga melihat Islam nya dari kerangka pemikiran yang sama. Menurut gw, penulis hanya melihat Islam dari segi ritualnya saja. Hal2 lain yang tampak dalam Islam dipandangnya sebagai sekularisme semata. Padahal kan Islam itu bukan hanya soal sholat, puasa, berbuat baik pada sesama, bla bla bla.

Adapun mengenai Israel – Palestina yang sekarang ini memang masih hangat2nya, gw pun setuju dengan penulis. Israel tentu patut mendapat caci dari berbagai belahan dunia hanya semata karena alasan sekuler : Israel mendirikan negara di atas tanah Palestina. Terlepas dari apakah Israel itu mayoritas penduduknya beragama Yahudi atau tidak.

Buku ini cukup bagus untuk memperluas pandangan kita yang seringkali terjebak dalam konflik agama dalam banyak hal yang bila ditelaah lebih jauh ternyata sifatnya jauh lebih sekuler dari yang kita kira.

Selamat membaca :). 800 an halaman booo hehehehe…