Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck : Novel Klasik Karya HAMKA

Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, sebuah roman karangan HAMKA (Haji Abdul Malik Karim Amrullah) yang dipublikasikan pertama kali di tahun 1938. Saya membaca novelnya di usia SD, entah persisnya umur berapa. Iseng bongkar-bongkar sebuah kardus yang sengaja diturunkan oleh ibu saya dari atas lemari karena sedang mencari-cari sesuatu.

Tenggelamnya kapal van der wijck
Gambar : openbooks.com

“Buku cerita bagus itu. Bacami.” Kata ibu saya waktu saya membolak-balik buku tua yang lembarannya masih utuh, hanya sampulnya yang sudah koyak.

Sebagai penggemar fiksi (fiksi apa saja, termasuk komik-komik Donald yang bisa eike baca berulang-ulang tapi tetep ngikik-ngikik hehehe), langsung leyeh-leyeh di atas kasur mulai membuka halaman pertamanya. Awalnya pening, ya, bahasanya ribet begitu hehehehe. Tapi karena ibu bolak balik mempromosikan kalau ceritanya sedih tapi bagus jadinya bikin kepo berat .

Roman Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck ini berisi kisah cinta ala-ala Romeo dan Juliet yang lebih kompleks dengan latar belakang budaya Minang yang membuat saya waktu itu sudah terpikir, “Ajegile ini orang Minang. Repot amat adatnya. Jangan sampai deh berjodoh ama model begini.”

Ahahahahhaha. Who knows bertahun-tahun habis itu, takdir membawa saya menjadi menantu keluarga Minang-Bukittinggi . Diawali dengan sahabat dekat yang masih langgeng hingga kini dari masa awal kuliah yang juga berdarah 100% Minang.

Benarlah kata pepatah yang dibawakan oleh pembawa acara sebagai pembuka di acara resepsi pernikahan saya 6 tahun silam, “Asam di gunung, garam di laut, bertemu di dalam periuk.” Gadis Bugis dari sulawesi, bujang Minang dari sumatera, bertemu di UI – Depok, hihihihihi .

***

Balik ke novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, Kakaaaaa 😀.

Zainuddin, pemuda setengah Minang yang mengawali hidupnya hingga remaja di tanah Sulawesi. Ayah Zainuddin, Pendekar Sutan, adalah pemuda asli Minang. Yang terusir dari kampung setelah terlibat perselisihan yang mengakibatkan kematian Mamaknya. Mamak = Paman. Bukan sembarang paman, tapi paman yang paling ‘dituakan’ dari pihak Ibu. Beda lho dengan pengertian Pakde-nya orang Jawa.

Dari pengasingan di Cilacap, Pendekar Sutan memilih menetap di Sulawesi. Menikah dengan Daeng Habibah (asli sulawesi) dan berbuah seorang bujang, Zainuddin.

Kedua orang tua Zainuddin telah berpulang semasa dirinya masih kecil. Saat remaja, Zainuddin meminta izin pada pengasuhnya untuk kembali ke Tanah Minang. Bertolaklah Zainuddin ke negeri asal ayahanda tercinta.

Ternyata, sambutan tak sehangat yang dibayangkan. Jika di Sulawesi, Zainuddin tak begitu diterima oleh keluarga sulawesinya karena adat Sulawesi yang secara umum mengaitkan asal usul seseorang berdasarkan darah Ayah, maka di Minang ia pun tertolak. Adat Minang kala itu masih memegang teguh prinsip Matrilineal. Yang menggariskan keturunan seorang anak berdasarkan darah ibunya.

Sibuk mengais perhatian dari keluarga minangnya, masalah bertambah dengan tertambatnya hati Zainuddin pada Hayati. Hayati bukanlah upik sembarangan. Melainkan seorang anak perempuan dari keluarga terpandang, semacam bangsawan Minang gitu, deh .

Di zaman itu, perempuan Minang dari keluarga terkemuka tentu saja diharapkan untuk berjodoh dengan sesama urang awak (sebutan khas untuk orang Minang). Lah, Zainuddin kan Minang juga. Eit, karena ibunya orang sulawesi, Zainuddin tidak dianggap orang Minang tulen. Istilahnya anak pisang apa, ya? Tolong yang dari Minang diceki-ceki, suami eike bete nih gue tanya-tanyain dari tadi hahahahahaha.

Sebenarnya, Hayati pun menyimpan bara cinta yang sama untuk Zainuddin. Ihiiiiy. Tapi ya, kehendak Ninik Mamak mana sanggup dibantahnya. Hayati memasrahkan dirinya yang telah dijodohkan oleh pemuda Aziz, yang juga berasal dari keluarga ‘Minang tulen’.

Padahal, waktu itu, Zainuddin sempat diberkahi harta warisan berlimpah selepas meninggalnya sang pengasuh di Sulawesi. Zainuddin tetap maju mempertahankan cintanya. Namun, garis keturunan tetap memenangkan cinta Aziz.

Membawa sakit hati tak terperi, pergilah Zainuddin ke Surabaya. Berbekal harta yang banyak, berusahalah ia melupakan kasih tak sampainya dengan menjadi penulis. Beuh, kenapa sih sastra tempo dulu, asal patah hati pasti ujung-ujungnya jadi penulis? . Untung di era internet, enggak perlu patah hati untuk menjadi seorang penulis, yak. Hehehehe .

Singkat cerita, Zainuddin tentu jadi tenar. Akhirnya Hayati pun ikut merantau bersama Aziz ke Surabaya. Kontras dengan kepopuleran sang bujang pujaan, Hayati malah kurang beruntung. Saking susahnya kehidupan rumah tangganya, Aziz dan Hayati sampai nekat menumpang tinggal di rumah Zainuddin.

Hingga akhirnya, Aziz malah meninggalkan Hayati begitu saja. Ditalak lewat surat dan menitipkan Hayati pada Zainuddin.

Tapi, cinta dan benci sudah terlanjur menyatu, apinya tak kunjung padam di hati Zainuddin. Masih terbakar oleh rasa sakit hati, Zainuddin malah menyuruh Hayati ke kampung halamannya. Padahal Hayati sebenarnya sangat berharap menyatukan kembali cinta yang sesungguhnya tak pernah redup untuk Zainuddin.

Apa daya kemampuan seorang perempuan. Hayati pun pasrah menuruti permintaan Zainuddin. Dengan menumpang Kapal Van Der Wijck, Hayati bertolak pergi. Sebelum pergi, dititipkan ungkapan hatinya kepada sang kekasih melalui sepucuk surat.

Tak lama setelah Hayati pergi, hati Zainuddin bergejolak. Apalagi setelah membaca untaian kasih dari Hayati di atas berlembar-lembar kertas. Tanpa pikir panjang, Zainuddin berusaha menyusul Hayati.

Di tengah perjalanan, tersiar kabar bahwa kapal yang ditumpangi Hayati mengalami kecelakaan. Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, Hayati menghembuskan nafas terakhirnya dalam dekapan Zainuddin. Setelah kedunya sempat saling mengungkapkan perasaan dan penyesalan masing-masing.

Mudah ditebak, sebentar saja setelah ditinggal belahan jiwa, Zainuddin pun jatuh sakit dan ikut menyusul Hayati.

***

Novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck ini sebenarnya menyuarakan kritikan sang penulis kepada adat Minang yang ‘keras’ di masa itu. Apa pula itu menghalang-halangi dua hati yang sudah tersangkut habis-habisan hanya karena perbedaan suku. “It’s so last year” la yaow, kalau isitlah zaman sekarang hehehe. Berapa banyak hati yang luka, dendam dan pengorbanan yang tidak perlu hanya karena ‘perbedaan’ macam ini.

Walau nyatanya, dari hasil kepo-kepo dengan beberapa teman perempuan yang asli Minang, harapan seperti itu dari para orang tua tetap ada. Ada yang masih ketat, ada pula yang sekedar imbauan semata.

Ada juga lho, di abad Facebook, teman perempuan saya yang berdarah Minang yang akhirnya dijodohkan oleh orang tuanya dengan urang awak. Padahal teman ini sudah memiliki tambatan hati lain (kebeneran bukan urang awak :P). Alhamdulillah, mereka mah baik-baik saja sampai sekarang .

Tentu saja, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, novel lama yang terhitung salah satu karya sastra terbaik di tanah air ini masih patut kita jadikan pelajaran. Bahwa yang namanya suku, warna kulit, marga, sesuatu yang tak bisa kita ubah. Sudah dari sananya, kan? . Memangnya kita bisa meminta, “Ya Allah, lahirkan aku sebagai orang bule. Kulit putih mulus, rambut tebal bergelombang, mata biru, rambut blonde, badan langsing selamanya.” Hahahahahha.

Kalau keyakinan seperti agama itu lain lagi. Bisa dipelajari dan bisa kita sebarkan.

La kalau suku piye? Mau bolak balik merantau ke Depok, Jakarta, Tehran, Jeddah hingga ke Athlone, orang bugis ya tetap orang bugis hehehe. Lahir sebagai bugis, sampai mati pun akan tetap berdarah bugis . Begitu pula dengan minang, jawa, batak, tionghoa, sampai ras arab.

Tapi, apa penting ya yang begini-beginian menjadi pemecah persatuan? Apalagi untuk bangsa sebesar Indonesia yang ragamnya macam-macam. Bayangkan, di satu propinsi saja, sukunya bisa belasan jumlahnya. Bahasanya juga macam-macam. Kalau pun kata-kata bermakna sama, sering dialeknya yang berbeda-beda .

Itulah cyin kerennya orang Indonesia . Diantara banyak budaya yang membentang dari Sabang sampai Merauke, kita punya “bahasa Indonesia” untuk saling berkomunikasi. Punya lagu “Indonesia Raya” yang bisa dinyanyikan sama-sama di tanggal 17 Agustus ini .

Karena saya seorang muslim, tak mengapa, ya, bila saya kutipkan sebuah ungkapan indah dari kitab suci kepercayaan saya :

“Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari laki-laki dan perempuan, dan Kami menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kalian adalah orang yang paling bertaqwa di sisi Allah. “[al-Hujurat:13].

Jadi, tetap lho ya, bagi kepercayaan kaum muslim, mau situ Jawa-bugis-Minang-Batak-Maluku-Papua-Flores-Bali dll, ukuran kemuliaan di mata Allah akan kekal sepanjang masa : KETAKWAAN 🙂. Nah, ada pun ketakwaan ini bisa lain panjang lagi ya ceritanya.

Tapi kita cukupkan sampai di sini saja, pan temanya hari Kemerdekaan Bangsa Indonesia bukan ngajak berdebat siapa yang masuk neraka siapa yang masuk surga? Hehehehhe.

17 Agustus tahun ini, kembali semangat kebangsaan agak dikorek-korek dikit. Untuk memperingati 68 tahun lepasnya Nusantara dari tangan penjajah. Satu-satunya kata yang patut menutup tulisan ini  adalah … Merdeka! ^_^. Moga-moga belum basi hihihihi. 

***

Take The Hits!

by : Jihan Davincka

***

Barusan melanglang buana ke salah satu blog favorit saya. Enggak berani share linknya di sini . Karena akhir-akhir ini nama sekaligus foto beliau, si empunya blog, muncul di beberapa situs islam tanah air dan diberi cap, “Hati-hati. Dia kafir” .

Tenang, beliau tidak sedang berdakwah di tulisan yang ini . Melainkan membahas tentang seorang penulis internasional yang juga saya kagumi, Karen Armstrong .

Salah satu buku yang disebut-sebut adalah buku “Muhammad Sang Nabi.” Saya juga sudah baca buku ini. Dipinjamkan oleh teman kantor (sekitar tahun 2005) yang juga fansnya si Armstrong yang ini .

Kalau membaca beberapa karya Armstrong, terlihat jelas keberpihakannya pada ajaran Islam. Meskipun buat saya pribadi, beliau masih memiliki penafsiran yang berbeda dengan saya.

Misalnya saja, di buku “Perang Suci”, Armstrong menafikan bukti bahwa Islam tidak memisahkan antara kehidupan beragama dan sendi kehidupan lain. Islam yang saya yakini justru menyatukan semua aspek kehidupan dalam naungan Islam . Kalau pada kenyataannya belum ada bukti praktikal bahwa semua sendi ini bisa berbalut rapi dalam Islam, itu adalah ‘kesalahan’ umatnya. Ajaran Islamnya mah pasti sempurna . In Shaa Allah.

***

Muhammad Sang NabiDi buku “Muhammad Sang Nabi”, ada bagian yang menceritakan mengenai perjanjian Hudaibiyah. Waktu SD dulu (karena saya sekolahnya di Yayasan Islam Athirah yang porsi pelajaran agama Islamnya cukup besar), saya tahunya kalau perjanjian ini terjadi terbatas karena Rasulullah tidak ingin ribut-ribut dengan penguasa Mekkah.

Armstrong dengan detail menjelaskan betapa Rasulullah punya pertimbangan luar biasa cerdas dan maksud tersembunyi yang sudah diperhitungkan matang-matang. Perjanjian yang dianggap sangat merugikan kaum muslim yang telah hijrah ke Madinah ini menuai rasa bingung/kecewa dari banyak sahabat.

Rasulullah membuktikan ‘kepiawaiannya’ dalam berstrategi. Perjanjian yang dianggap, malah sempat diprotes keras, akan merugikan kaum muslim malah berbalik.

Kembalinya sebagian mukimin Madinah ke Mekkah, yang telah dibekali dengan semangat muamalah Islam yang ‘indah’, membuka jalan dakwah yang nyaris sempurna : tanpa pertumpahan darah dan dengan mudah menarik perhatian/simpati banyak warga Mekkah.

Sebaliknya, mukimin Mekkah yang bebas bolak balik Madinah-Mekkah terbuka lebar-lebar matanya akan keindahan ajaran baru yang dibawa oleh seorang yang bergelar Al Amin . Sejarah membuka bahwa sekali pun ditentang keras oleh banyak petinggi Quraisy, akhlak Rasulullah tak pernah sanggup mereka buang sepenuhnya begitu saja .

Tak heran, belum lagi usai 10 tahun periode perjanjian ini, terjadilah peristiwa Futuh Mekkah. Mekkah diambil alih dengan cara yang ‘indah’, tanpa senjata, tanpa darah. Mahabesar Allah dengan segala petunjukNya. Mahaindah Islam dengan segala keutamaan akidah dan akhlaknya . Nah, makanya kata ‘indah’ saya sebutkan berkali-kali . Ajaran Islam yang saya yakini itu BENAR sekaligus INDAH. Literally.

Apakah semua penduduk Madinah kala itu MEMELUK AJARAN ISLAM SEPENUHNYA? Tak ada kaum Nasrani dan Yahudi? You tell me .

***

Armstrong menyebut-nyebut tentang Compassion (welas asih). Menurutnya, inilah salah satu kesuksesan Rasulullah dalam berdakwah. Compassion adalah sesuatu yang sifatnya stabil. Tidak seperti perasaan manusia yang kadang benci kadang sayang pada berbagai hal.

Berkaitan dengan sifat welas asih ini, saya ambil informasi blog yang saya sebut di awal tadi, Armstrong membagikan ‘golden rule’ yang disimpulkannya dari berbagai ajaran agama : “Jangan melakukan sesuatu yang kita pun tak ingin orang lain melakukannya pada diri kita.”

Sejalan dengan semangat ajaran ‘welas asih’ tadi, kata-kata kami dan mereka akan selalu melebur menjadi kata ‘kita’. Kita, bukan kami … bukan mereka.

Saya tahu setelah ini pasti banyak kritikan, “Sekuler lu!” Ahahahahahaha. Saya sih akan selalu meyakini bahwa Islam itu “rahmatan lil aalamiin”. Ajarannya tidak akan pernah menjadi sesuatu yang membuat alis kita berkerut, dada kita bergoncang gelisah.

“Apa pantas menyiram air teh ke wajah orang yang lebih tua karena dia itu liberal/pembenci Islam?” Walaupun kita tidak suka dengan figur yang seringkali ‘menantang’ Islam (bahkan siram seember juga rasanya pengin ya hehehehe), tapi apa iya batin kita tidak bergejolak dengan perlakuan seperti itu? Apa pantas berkata, “Allahu Akbar, Allah bersamamu.” Indahnya di mana? .

Baru-baru ini sebuah situs islam memberitakan 3 orang yang digadang-gadang telah berjihad karena membunuh seorang murtadin yang konon selalu mencela-cela ayat suci dan berdakwah sebagai seorang pendeta. Luar biasanya, tak sedikit komentar yang memuja-muja 3 orang tadi, yang kini telah ditangkap dan akan diadili. Katanya, “Biarkan hukum thagut yang melaknatmu. Tapi nama kalian sudah tertera di surga.”

Mengapa kita selalu menggeliat melihat ‘lawan-lawan’ yang mungkin hanya ada dalam pikiran yang selalu kita angap berkonspirasi ini itu? Mengapa tak pernah menggelisahkan umat sendiri?

Seperti pertanyaan besar saya selalu sejak saya pernah mencicipi ‘glamor’nya kota Jeddah, “Saudi sekaya dan sekuat ini, mengapa tak pernah mampu memperjuangkan Palestina secara TERBUKA?” Peristiwa Palestina telah dijelaskan panjang lebar oleh Armstrong di buku “Perang Suci.” Berhentilah melihatnya sebagai pusat perselisihan agama. Ini masalah kemanusiaan. Bahwa ada sekelompok kecil orang yang tahu-tahu mencaplok wilayah kelompok lain yang telah lebih dahulu tinggal di sana secara sah. Memangnya anda kira orang Palestina itu muslim semua? .

Di kota di mana Rumah Tuhan hanya berjarak kurang dari satu jam perjalanan, penghianatan terhadap hukum Tuhan berlangsung begitu banyak? . Baik dari penduduk asli maupun para pendatang. Memang, kalau urusan salat dan bacaan alquran, seratus jempol saya untuk penduduk asli. Tapi, urusan muamalah? .

Berbagai pertikaian di Timur Tengah sudah selayaknya membuka mata kita lebar-lebar. Seperti status dari salah satu teman saya yang mungkin bisa menjadi renungan bersama, “The middle easterns can actually kill each other all the times, but the problem is why the heck should most oils lie in there? Why? Why? :))”

A very good point. Penguasa sumber energi dunia secara logika harusnya bisa menjadi pengendali bumi (ih, jadi ingat avatar gak sih? ahahahahahaha). Pada kenyataannya … malah terbalik . Mungkin introspeksi diri untuk kaum di Middle East sana dan kita-kita yang juga berasal mayoritas yang sama. Mengapa kesenjangan ekonomi justru terjadi di banyak negara dengan mayoritas muslim??? WHY??????

Ini memang kita sudah terkena konspirasi musuh Islam atau kita yang tanpa sadar sudah menyembah tuhan mereka yang baru, “UANG” . Tuhan baru yang mampu melebur di ajaran agama mana pun tanpa memandang ideologi apa pun.

***
“That’s how winning is done! Now if you know what you’re worth then go out and get what you’re worth. But ya gotta be willing to take the hits, and not pointing fingers saying you ain’t where you wanna be because of him, or her, or anybody! Cowards do that and that ain’t you! You’re better than that!” -Rocky Balboa-

We, moslems, are not THOSE COWARDS, aren’t we? ;).

Gambar : coveralia.com
Gambar : coveralia.com

Lomba Foto + Menulis Resensi di Koran

Oiya, tempo hari “Yamaha Motor Indonesia” mengadakan semacam photo contest gitu. Judulnya “Buku Jendela Impianku.” Peserta diminta berfoto dengan salah satu buku favoritnya. Terus di keterangan foto diminta menuliskan resensi buku.

Nah, eike tentu tak ketinggalan ingin bernarsis ria hihihihi. Foto-fotonya mah sebentar banget. Paling cuma 10 menit. Pulang dari nganter anak-anak + suami berenang, kita mampir di tepian Sungai Shannon. Apartemen kita kan emang di pesisir sungai ini. Jadinya kalau pulang, pasti ngelewatin salah satu spot bagus di sisi sungai yang ciamik buat foto-foto.

Foto-fotonya 10 menit, resensinya 4 jam! Huhuhuhu. Buku pilihan kali ini tebal punya :P. 400 halaman lebih. Bacanya sudah dari januari kemarin. Tapi kan mesti buka-buka lagi biar resensinya enggak asal jadi. Eh, ternyata baru sehari setelah deadline, pengumuman muncul. Alhamdulillah, juara 2! Horeeeeeee ^_^

pengumuman photo contest yamaha

Senang dong menang…pastinyaaaaa :D. Tapi langsung curiga, apa iya ini resensinya dibaca oleh juri? Terus nyadar, lahhh namanya juga “photo contest.” Tulisannya malah memang cuma pendukung saja.

Daripada mubazir, ditulisnya saja 4 jam, bela-belain tidur jam 1 malam ngejar deadline lomba :P, saya edit lagi terus dikirim ke rubrik “Ruang Perada” / resensi bukunya Koran Jakarta. Alhamdulillah, dimuaaaattttt :D. Enaknya Koran Jakarta ini, ada versi onlinenya juga :). Resensi saya ada di https://koran-jakarta.com/index.php/detail/view01/122521.

Sepertinya sudah diringkas juga oleh editor Koran jakarta. Berikut adalah versi aslinya :).

***

“Jas Merah” Para Ulama dalam Budaya Lampau Nusantara

Judul buku : Ulama & Kekuasaan, Pergumulan Elite Muslim dalam Sejarah Indonesia
Penulis : Jajat Burhanuddin
Penerbit : Mizan
Cetakan : 1 / Juni 2012
Tebal (isi) : 397 halaman, total 496 halaman
ISBN : 978-979-433-691-5
Harga : Rp.85.000
Penulis resensi : Jiihan Davincka

Sebuah peristiwa politik (mungkin) tengah memasuki klimaks, setelah berbulan-bulan ikut menyeret isu ‘islam dalam politik ‘. Keislaman dalam bernegara tengah tergugat.

Menengok masa lampau tanah air, Islam tidak merekah dalam seketika. Tidak serta merta menjadi sebuah kepercayaan mayoritas di sebuah Negeri Khatulistiwa yang senyatanya berhamburan banyak budaya dan tradisi.

Sebuah paparan sejarah yang cukup bernas ditampilkan oleh penulis Jajat Burhanuddin dalam bukunya, “Ulama & Kekuasaan.” Menghamparkan aspek historis yang belum banyak terjamah yang membuat para ulama menancapkan posisi intelektual dan sosial dalam mempertahankan posisi penting mereka dalam Islam Indonesia. Pembahasan dimulai dari periode kerajaan-kerajaan Islam nusantara sebelum masa kolonial.

Munculnya kerajaan-kerajaan Islam tak lepas dari pengaruh para pedagang muslim yang mulai membanjiri pesisir Nusantara di abad ke-13. Setelah Kerajaan Samudera Pasai di Sumatera, kerajaan Islam mulai menuai keberhasilan di pulau Jawa dengan menampilkan kerajaan Demak di akhir abad ke-16. Di masa ini, kaum ulama menjadi bagian dari elite pemerintahan.

Pendekatan penyebaran Islam yang sama sekali tidak mengancam posisi raja membuatnya leluasa meraih pengaruh. “Islam telah dirumuskan dalam kerangka pemikiran politik yang memberi penekanan pada kemahakuasaan raja. Meskipun Islam dijadikan ukuran bagi raja ideal, ia tidak pernah menjadi basis evaluasi perilaku politik raja. Dalam diskursus Islam pada periode tersebut tidak ada peluang bagi rakyat untuk mempertanyakan hal itu kepada raja. Justru, Islam menjadi sumber pembenaran agama bagi para penguasa kerajaan absolutis di Nusantara, yang mencapai puncak di abad ke-17” (Hal.58).

Ide awal mengenai “Insan Kamil” (Manusia sempurna) yang dibawa kaum sufi ditantang oleh Islam yang berorientasi Syariat. “Berakhirnya kerajaan-kerajaan maritim di pesisir sering dipandang sebagai tahap akhir dari Islam kota dan kosmopolitan di pesisir. Pada saat bersamaan dianggap sebagai permulaan dari Islam tradisional yang berbasis di wilayah pedalaman Nusantara” (Hal.73).

Runtuhnya kerajaan, masuknya pengaruh kolonial, membuat para ulama mulai melepaskan diri dan membangun ranah sendiri di luar kerajaan. Muncullah pesantren di Jawa, surau di Minangkabau dan ‘dayah’ di Aceh.

Era ini membuka hubungan lebih jauh antara Islam nusantara dan Timur Tengah. Beberapa guru agama berguru ke Makkah dan Madinah. Selain menegaskan ajaran Islam yang berorientasi Syariat, terbukanya jaringan kepada kedua kota suci muslim tersebut mendatangkan orang-orang Arab di Nusantara sekaligus membentuk sebuah komunitas ulama Indonesia di Makkah, Ulama Jawi.

Semakin merebaknya anti kolonialisme di abad ke-19 membawa kaum ulama tampil sebagai penantang utama. Ulama dan komunitas santri pesantren menjadi kelompok utama dalam mengobarkan perlawanan kepada penjajah. Mereka memberi justifikasi religius kepada pemimpin perang seperti Pangeran Diponegoro. Mengubah konflik internal keraton Jawa menjadi peperangan berdimensi agama.

“Politik Etis” membawa perubahan yang tidak sedikit bagi perkembangan komunitas Islam nusantara. Salah satu tokoh penting Islam yang dipersembahkan pada era ini adalah Raden Mas Tirtoadisurjo. Seorang priyayi yang memiliki minat sangat tinggi pada dunia jurnalisme. RM Tirto menerbitkan surat kabar Soenda Berita, Medan Prijaji dan Putri Hindia. Lebih penting lagi, beliaulah pendiri Sarikat Dagang Islam.

Angin perubahan pun memunculkan reformisme Islam, terkait perubahan jaringan intelektual dari Makkah ke Kairo. Para ulama turut merespons dan memodernisasi pusat-pusat pengajaran Islam di pesantren-pesantren tanah air. Kelahiran organisasi Muhammadiyah yang digagas oleh Ahmad Dahlan di tahun 1912 merupakan salah satu buah reformasi Islam nusantara.

Tanpa disadari, kehadiran para reformis dianggap mengganggu otoritas para ulama tradisional. Pertentangan tokoh reformis vs muslim tradisionalis tergambar dari hubungan kedua sahabat, Wahab Hasbullah dan Mas Mansoer. Kedua sahabat yang hubungannya memburuk sejalan dengan mencuatnya nama kedua tokoh ini sebagai aktor utama dari pertentangan 2 kubu tadi. Mas Mansoer akhirnya bergabung dengan Muhammadiyah dan memulai langkahnya hingga mencapai predikat Ketua Pengurus Besar Muhammadiyah. Adapun Wahab Hasbullah, dengan restu ulama sepuh Hasyim Asyaari, mendirikan Nahdatul Ulama (NU) di tahun 1926. NU menjadi organisasi resmi bagi ulama tradisionalis seperti Muhammadiyah bagi kaum reformis islam nusantara.

Keterlibatan ulama di dalam politik riil merupakan cara lain untuk menegaskan keberadaan mereka pasca-kolonial. Mereka mulai menggunakan peranan beberapa posisi strategis di pemerintahan, seperti Kementrian Agaman, sebagai pelindung konstituennya. Cara ini menuai suara kritis dari tokoh-tokoh muslim baru yang menamakan diri, “intelektual Muslim.” HMI adalah salah satu bentukan organisasi yang mewakili kelompok ini.

Gerakan tarbiyah (pendidikan) yang muncul dalam kelompok-kelompok kecil adalah akar dari kehadiran sebuah partai dakwah, “Partai Keadilan” (PK) yang berdiri di tahun 1998. Sebelum pemilihan umum tahun 2004, PK mengganti nama menjadi “Partai Keadilan Sejahtera.”

Islam Indonesia kontemporer juga memunculkan dewan ulama yang disponsori pemerintah Indonesia, Majelis Ulama Indonesia (MUI). Yang menurut penulis, sebagian besar fatwa MUI dibuat dalam rangka justifikasi Islam bagi kebijakan-kebijakan pemerintah.

***

Kelemahan utama dari buku ini adalah cara penulisannya yang terlalu datar dan sungguh mudah memicu kebosanan. Yang membuat saya tak berkutik untuk tidak menyelesaikan 397 halaman isinya adalah ketertarikan saya (mungkin) terlalu besar pada sejarah. Topiknya pun tidak main-main. Membawa kita pada tamasya sejarah perkembangan Islam dalam rentang waktu beberapa abad lamanya. Kelengkapan referensi dan banyaknya aspek pendukung yang belum umum dibahas sangat menarik untuk dilewatkan.

Keberpihakan penulis pada ulama tradisionalis yang salah satunya ditunjukkan dalam kalimat, “Tidak ada yang lebih kuat tentang partisipasi ulama di Hindia Belanda yang tengah berubah selain pembentukan NU di tahun 1926” (Hal.13) tidak terlalu mengganggu keseimbangan isinya. Sekalipun untuk pembaca seperti saya, yang dibesarkan dalam lingkungan Muhammadiyah yang cukup taat.

Buku ini favorit saya di awal tahun ini yang mungkin bisa menjawab pergulatan pemikiran bagi saya dan sebagian orang akan, “Masih perlukah membawa Islam dalam kehidupan politik tanah air?” Bahkan perdebatan yang menimpa kaum muslim sendiri, yang hingga saat ini masih merupakan komunitas terbesar di tanah air.

Salah satu ungkapan terkenal dari Bung Karno adalah “Jas Merah,” jangan sekali-sekali melupakan sejarah. “Ulama & Kekuasaan” adalah “Jas Merah” dari pergumulan elite muslim sebelum masa kolonial hingga puluhan tahun setelah kata “merdeka” resmi disematkan bagi bangsa besar ini. Selamat membaca :).

***

Ini hasilnya kenapa jutek begini? Padahal itu karena mataharinya terik lho, jadi sok-sok galak gitu hehehehe...
Ini hasilnya kenapa jutek begini? Padahal itu karena mataharinya terik lho, jadi sok-sok galak gitu hehehehe…

Biografi Bung Hatta, Sebuah Buku yang Tak Akan Pernah Tamat Dibaca

Biografi Bung Hatta

***

Sebuah tulisan Bung Hatta di tahun 1962, hanya perlu dicetak ulang untuk menggambarkan situasi negeri ini sekarang :

“Dimana-mana orang merasa tidak puas. Pembangunan tak berjalan sebagaimana mestinya. Kemakmuran rakyat masih jauh dari cita-cita. Sementara nilai uang makin merosot.

Perkembangan demokrasi pun terlantar karena percekcokan politik. Pelaksanaan ekonomi daerah terlalu lamban sehingga memicu pergolakan daerah. Tak banyak yang puas dengan jalannya pemerintahan di tangan partai-partai.”

Kita nyaris tak perlu mengubah satu kata pun.

***

Bung Hatta cukup kontras bila dibandingkan dengan Bung Karno. Sukarno terkenal sebagai orator ulung, penampilannya yang dandy, kisah cinta dengan berbagai wanita, keberaniannya yang menghentak dan perjalanan hidupnya yang bagaikan perputaran matahari. Terbit, tenggelam namun tak berhenti bersinar. Tulisan ini adalah sedikit biografi Bung Hatta.

Gaya bicara Bung Hatta membosankan. Selaras dengan raut wajahnya yang dingin dan kaku. Soal kemewahan, beliau bukan jagoannya. Dengan tampuk pimpinan yang pernah dipegangnya, memiliki sepatu merek ‘Bally’ adalah hal paling mewah yang hanya mampu dimimpikan … hingga akhir hayatnya. Hanya sepasang sepatu dengan merek tergolong mewah saat itu. Apa di zaman Bung Hatta tidak ada pejabat-pejabat bermobil dan hidup mewah? .

Tapi jangan salah. Bung Hatta tidak lahir dari keluarga sederhana. Dalam darahnya mengalir dua perpaduan keluarga terkemuka : pemuka agama dan saudagar. Beliau adalah keturunan dari garis terpandang di kota Bukittinggi, Sumatera Barat.

Di tahun 1947, 2 tahun setelah menjadi orang nomor 2 di Indonesia, beliau membuat seorang sais bendi murka di kampung halamannya. Bung Hatta sibuk menawar namun harga tak kunjung cocok. Sais bendi menghardik gusar, “Kalau tak punya uang, jangan naik bendi. Jalan kaki saja.” Beliau hanya tersenyum dan berlalu.

Hatta telah mempersembahkan sebuah tulisan luar biasa di usia 18, belum lagi menginjak bangku perguruan tinggi. Tulisan personifikasi yang menggambarkan ibu pertiwi dalam diri seorang wanita yang bernama Hindania. Sebuah tulisan yang menggambarkan betapa luasnya bacaan Hatta muda dan tingginya minat beliau pada bidang sastra.

***

Tak kurang sejarah yang menggambarkan dinamika kehidupan seorang Bung Hatta bersama Bung Karno. Setelah dipersatukan oleh cita-cita membawa bangsa Indonesia membuka pintu gerbang kemerdekaan, dwitunggal ini akhirnya tanggal di penghujung tahun 50 an. Ketika akhirnya Hatta dengan arif mengundurkan diri dari pemerintahan dan merelakan biduk negara yang pernah diperjuangkannya selama hampir separuh hidupnya menjadi milik Sukarno seorang.

Nurcholis pernah menggambarkan Hatta sebagai seorang dengan pemikiran yang sangat modern tapi tetap pekat dalam kesalehan agamanya. Terlahir dari keluarga Minang yang kental dengan ajaran Islam, Hatta menjadi sosok yang religius namun memiliki pemikiran tajam, wawasan luas dan tak terbatas waktu.

Masa kecilnya tak hanya diisi dengan belajar, mengaji dan menulis. Hatta adalah penggila bola. Tak hanya bersorak dari pinggir lapangan, Hatta tergabung dalam sebuah klub sepakbola yang diisi oleh pemuda-pemuda belanda dan kaum pribumi. Klub yang menjadi juara Sumatra selama tiga tahun berturut-turut selama dengan Hatta pada posisi gelandang tengah. Teman belandanya menjulukinya, “Onpas seerbaar” (sukar diterobos begitu saja).

Minatnya pada dunia pergerakan membawanya bergabung bersama Jong Sumatranen Bond semasa bersekolah di MULO. Tahun 1921, Hatta tiba di Negeri Kincir Angin untuk melanjutkan kuliah. Semasa di Belanda, Hatta aktif di sebuah perkumpulan yang beberapa kali berganti nama hingga akhirnya memilih nama, “Perhimpunan Indonesia.” Tahun 1926, Hatta memperkenalkan nama “Indonesia” kepada dunia internasional saat memimpin delegasi ke Kongres Demokrasi Intemasional untuk Perdamaian di Bierville, Prancis.

Tahun 1932, setelah menamatkan pendidikannya di luar negeri, Hatta pulang ke tanah air. Selanjutnya, bersama Sukarno, Sjahrir dan pejuang-pejuang kemerdekaan lainnya, mereka bahu membahu mengobarkan perlawanan kepada kaum penjajah. Menafikan semua perbedaan, para kalangan agamis-sosialis (bahkan yang sosialis garis keras sekali pun), bersatu memperjuangkan pencapaian kata “kemerdekaan” bagi segenap bangsa Indonesia.

Awal tahun 1935, Hatta dan kawan-kawannya dibuang ke Tanah Merah, Boven Digoel, Papua. Hatta menolak mentah-mentah tawaran seorang kapten Belanda yang menawarkan agar para tahanan politik ini bekerja pada pemerintah Belanda dengan upah 40 sen sehari dan memiliki kemungkinan untuk dikirim pulang ke ibukota. Hatta menegaskan, “Bila mau bekerja untuk kolonial sewaktu masih di Jakarta, pasti telah menjadi orang besar dengan gaji tidak main-main. Tak perlu jauh-jauh ke Tanah Merah untuk menjadi kuli dengan upah 40 sen.”

Di pengasingan nun jauh di salah satu wilayah paling timur Nusantara, Hatta membawa serta 16 peti buku-buku koleksinya. Di sana, Hatta terus mengobarkan perlawanannya dengan menulis. Akhir tahun yang sama, Hatta dan kawan-kawan dipindahkan ke Bandaneira.

Di masa pendudukan Jepang, Hatta kembali ke tanah Jawa. Masa-masa ini tak banyak pernyataan yang dikeluarkannya. Namun, di tahun 1942, pidatonya di Lapangan Ikada menggemparkan banyak pihak, “Indonesia terlepas dari penjajahan imperialisme Belanda. Dan oleh karena itu ia tak ingin menjadi jajahan kembali. Tua dan muda merasakan ini setajam-tajamnya. Bagi pemuda Indonesia, ia Iebih suka melihat Indonesia tenggelam ke dalam lautan daripada mempunyainya sebagai jajahan orang kembali.”

17 Agustus 1945, bersama Bung Karno, Hatta muncul sebagai pemimpin bangsa yang merdeka secara resmi untuk pertama kalinya. Membawa mereka berdua sebagai “Bapak Proklamator Indonesia.”

Selama menjadi Wakil Presiden, Bung Hatta tetap aktif menulis berbagai karangan dan buku-buku ilmiah. Termasuk untuk di bidang ekonomi dan koperasi. Tak hanya menuangkan pikiran dalam rangkaian kata-kata, Hatta aktif membimbing dan melaksanakan cita-cita dalam pembangunan koperasi dan konsepsi ekonominya. Karena jasanya ini, beliau layak mendapatkan predikat sebagai “Bapak Koperasi Indonesia.”

Jauh sebelum mengundurkan diri secara resmi, Hatta sudah melayangkan surat terlebih dahulu kepada Sukarno. Akhirnya, di 1 Desember 1956, Hatta meletakkan jabatannya sebagai Wakil Presiden RI. Walaupun tengah didera berbagai perselisihan, Sukarno tak serentak mengizinkannya untuk ‘pergi’. Tapi Hatta tetap berkeras. Setelah Hatta benar-benar menyerahkan jabatannya sebagai orang nomor dua di RI, banyak pihak tetap memperjuangkan bersatunya kembali dwitunggal ini. Tak ada yang berhasil.

Tahun 1960, tulisan Hatta yang kontroversial, “Demokrasi Kita”, muncul dalam Majalah “Pandji Masyarakat”, asuhan Buya Hamka. Pemerintah murka. Buya Hamka dipenjara dan tulisan itu terlarang untuk disebarkan.

Namun, perseteruannya dengan Bung Karno tak pernah melebar kepada hal-hal pribadi. Mereka berdua hingga di akhir hayat masing-masing tetap merupakan dua sahabat yang sangat lekat.

Saat masa-masa suram mewarnai akhir hidup seorang Sukarno, Hatta tidak tinggal diam. Hatta yang mengetahui proses perawatan Sukarno yang dianggap kurang terhormat, menuliskan surat kecaman kepada Soeharto. Hatta pun ngotot ingin bertemu sahabatnya.

Hatta datang sendirian ke kamar Bung Karno yang sudah setengah sekarat. Hatta menyapa “Bagaimana kabarmu, No?” Matanya sudah basah.

Bung Karno menjawab, susah payah tangannya berusaha meraih lengan Hatta “Hoe gaat het met Jou?” “Bagaimana pula kabarmu?”

Berdua, dalam kamar yang kondisinya sangat tidak layak, kedua proklamator bangsa ini menangis bersama. Sejarah menjadi saksi betapa tidak bahagianya dua orang yang pernah segenap jiwa memperjuangkan kemerdekaan bangsa mereka. Hatta pulang, tak lama Bung Karno pun meninggal. Seolah menunggu agar bisa bersua dengan sahabat lamanya. Sungguh hubungan yang menyesakkan dada.

***

Tak memiliki kemampuan verbal dalam berbicara sepiawai rekannya, Sukarno, Hatta mencurahkan pengetahuannya dalam bentuk tulisan. Meninggal di tahun 1980, Hatta mewariskan harta termahalnya, “30 ribu judul buku.” Integritas dan kesederhanaan hidup menjadikannya mutiara tak terjamah dalam deretan pemimpin dahulu dan sekarang. Lebih langka lagi sebagai negarawan yang juga sangat aktif dalam menulis.

Seorang penyair dari Padang, pernah berkata kepada anak-anak yang datang kepadanya untuk belajar menulis puisi, “Tulislah sesuatu yang kalian ketahui tentang Bung Hatta. Dia orang besar dan hidupnya seperti buku yang tak akan pernah tamat dibaca.”

Semoga Allah mencurahkan rahmat dan pengampunan bagi beliau. Amin :). Sedikit biografi Bung Hatta ini semoga bisa membantu memahami jalan perjuangannya yang mungkin tidak sementerang rekannya, Bung Karno :).

***

Disarikan dari berbagai sumber :

“Hatta, Jejak Melampaui Zaman” (serial Bapak Bangsa Majalah Tempo)
eramuslim.net/?buka=show_biografi&id=22
www.ghabo.com/gpedia/index.php/Mohammad_Hatta

Bersahabat dengan Kekasih Sejati di Dunia

buku-mb-nurul

Saat membaca judul buku ini, yang terbayang di benak saya adalah kata-kata yang saya di dengar di sebuah pengajian beberapa waktu lalu, “Sungguh merugi orang-orang yang diberi kesempatan hidup dengan kedua orang tuanya dan mereka gagal mendapatkan surga.”

Maknanya sungguh dalam.

***

Mungkin ketika kita telah menikah dan memiliki anak, perlahan kita mulai mengayuh biduk kecil kita makin menjauh dari mereka. Mungkin yang terpikir, “Ah, mereka kan masih sehat.” Atau terlintas, “Cukuplah dikunjungi cucu-cucu dan anak menantu tiap akhir pekan.” Bahkan ada yang menganggap, “Diberi uang bulanan juga sudah cukup.”

Sudah mulai terkikis ingatan akan mereka yang mungkin disampaikan kerabat lain, “Kamu dulu, tuh, makannya susahnya minta ampun. Sabar sekali Mamamu menyuapi kamu. Belum lagi kalau ngambek. Terus tidak mau minum pakai botol susu. Waktu masih menyusui, mesti dibawa ke mana-mana.”

Atau kenangan tentang Bapak. “Dulu membesarkan 7 anak kayak apa itu kerja kerasnya siang dan malam.” Iya, saya ini 7 bersaudara.

Saya mungkin tak seberuntung beberapa orang lain. Bisa berlama-lama bersama Bapak. Almarhum Bapak sudah meninggal lama. Sudah 20 tahun berlalu sejak beliau meninggalkan rumah dengan motor Vespa hijaunya. Hendak bermain bulutangkis bersama rekan-rekan di hari Jumat malam seperti biasa.

Dua jam kemudian telepon berdering, Bapak mendadak tumbang di lapangan. Dilarikan ke UGD. Setengah jam kemudian telepon kembali memanggil. Hanya 5 menit di UGD, serangan jantung membawa beliau pergi untuk selamanya.

Dua belas tahun diberi kesempatan untuk bersama beliau. Tentu inginnya lebih lama.

Saat mereka sudah tidak ada di sisi kita, tiba-tiba ada banyak hal yang kita sesali. Berharap waktu melempar kita kembali dan membalaskan kasih tak berujung mereka. Yang berlimpah ruah sejak kita lahir hingga dititipi cucu agar kita bisa sejenak bersantai bersama pasangan saat akhir pekan tiba.

Makanya selagi masih ada waktu, jadilah sahabat mereka. Membahagiakan mereka bukan karena janji surga semata. Tapi tentu untuk kebahagiaan kita sendiri. Seperti janji Tuhan, siapa yang berbuat baik maka dia telah berbuat baik untuk dirinya sendiri.

Mungkin banyak dari kita berharap kelak dapat merawat orang tua saat usia mereka mungkin sudah memasuki senja. Tapi kadang berbakti kepada mereka bukanlah perkara mudah. Tidak sederhana.

Sekali waktu, bahkan mungkin sering, kita mengeluh saat merawat mereka. Ada kesal, bingung, bahkan serba salah. Kadang mereka tiba-tiba seperti anak kecil. Tidak bisa ditebak apa maunya. Karena itulah kita perlu menyiapkan ‘BEKAL’.

 

Pengetahuan minim kita akan kondisi fisik mereka dan apa saja kendala psikologi yang mereka hadapi membuat kita kebingungan. Mengapa mereka menjadi begini atau mengapa mereka tiba-tiba begitu. Kita perlu tahu apa yang mereka rasakan? Perubahan apa yang mereka alami?

Buku ini memiliki pemaparan yang lengkap misalnya penyakit-penyakit orang tua di usia senja dan bagaimana perawatan yang tepat.  Disisipkan pula kisah-kisah dari masa-masa kehidupan Nabi hingga zaman sekarang mengenai berbakti kepada orang tua. Nilai lebih lain dari buku ini juga ada pengalaman nyata tentang merawat orang tua dari berbagai keluarga.

Bukan hanya pelajaran di sekolah yang mesti kita kuasai teorinya. Menemani kedua orang terkasih ini pun perlu dijejali dengan pengetahuan dasar yang mumpuni. Lakukan sebaik yang kita bisa untuk mereka. Seperti mereka yang selalu sanggup melakukan apa pun hanya untuk sekedar menghapus beberapa butir airmata di masa kita kecil dahulu.

Jika ternyata salah satu atau kedua orang tua kita pun sudah tidak ada, buku ini tetap menarik untuk dibaca. Agar bisa kita semaikan benih-benih pengetahuannya untuk generasi kita selanjutnya.

Jemputlah surga kita, bahagiakan kedua orang tua, kekasih sejati kita di dunia. Selamat membaca.