Politisasi agama

Candu Agama, Politisasi Agama, Kedok Ketidakmampuan Para Birokrat?

Jadi ternyata waktu Karl Marx memberi predikat “candu” kepada agama, tujuannya tidak senyinyir yang kita bayangkan selama ini :).

Di masa itu, candu/opium itu dianggap sebagai obat atau “penawar rasa sakit”.

Maknanya bergeser karena penjelasan tentang pendapat Karl Marx yang terpotong. Kutipannya tidak lengkap.

Gambar : pixabay.com

Walau Karl Marx memang bukan penganut agama tertentu, maksud sebenarnya dari istilah “Religion is the opium of the people” bisa dibaca di sini.

Walau dalam praktiknya, agama sering dijadikan alibi bagi penguasa untuk segala ketidakberdayaan mereka dalam menjalankan kewajiban bagi warganya. read more

Kawal Pemilu 2019

Kawal Pemilu 2019, Kawal Indonesia

Alhamdulillah, rekapitulasi final dari KPU untuk Pilpres 2019 selesai sudah. Ketok palu untuk kemenangan pasangan 01 : Bapak Joko Widodo dan Kyai Ma’aruf Amin.

Sebenarnya saya sendiri sejak Kawal Pemilu ketambahan data Bawaslu sudah tidak aktif lagi. Kira-kira awal Ramadan gitu. Lieur lihat scan data Bawaslu .

Suami juga komplen kalau sudah buka situs Kawal Pemilu, bisa berjam-jam nongkrong di situ. Kadang lupa punya suami + anak 3 hahahaha. Jadi maaf tidak bisa menemani sampai garis finish .

Pengalaman yang mengesankan .

Terima kasih buat teman-teman FB yang sudah mengirimkan banyak sekali scan foto C1 Plano dari berbagai TPS.

Ada embak nun jauh di Arab Saudi yang membordir saya dengan scan C1 Plano dari berbagai wilayah Sumatera Utara yang kesemuanya memenangkan 02 hehehehe. Tetap saya upload semua foto yang valid, kan, Mbak? 

Saking takutnya dituduh curang, begitu dapat akses MODERATOR, langsung saya verifikasi data C1 Plano Sumut yang memenangkan 02 ini. Banyak banget soalnya. Mungkin ada 100 C1 *pijetinMouse*.

Teman-teman Jokower yang kebetulan TPS di kelurahannya ternyata memenangkan 02 semua tapi tetap semangat ngirimin scan C1 Plano ke saya. Kereeeeennn .

Buat adekku sayang di Barru-Sulsel, kirim C1 Plano dari kelurahannya sebanyak 10 kalau gak salah ya Dek. Padahal waktu itu dia lagi di Yogya karena ada kerabat yang sakit.

Katanya, “Kak Ji, 02 semua yang menang ini hehehehe.”

“Ya biarin aja. Ayok kirim sini semua, gue upload!”

Juga mbak Projo di Curug Mekarsari, Bogor. Walau semua TPS sekitarnya memenangkan 02, si embak tetap memotret C1 Plano dari TPS sekitarnya dan meminta tolong untuk diupload ke Kawal Pemilu.

Jokower di Sumbar juga tetap istiqomah ngirim scan C1 Plano via inbox walau selalu disertai dengan icon berurai air mata hahahahaha. You’re the best, Dear .

Suami saya minoritas urang awak pendukung 01 hihihi.

Saya rajin ngerjain verifikasi data Sumbar lebih karena pengin ngeledekin suami saya hahahaha. Depan laptop saya suka teriak-teriak ke suami di kamar, “Baaanggg, mantap nih Bang kampung halamanmu!”

Saya juga kebetulan ketemu 3 TPS di Ponorogo-Gontor. Di 3 TPS ini total suara rata-rata di atas 400 suara per TPS. Di mana perolehan suara Pak Jokowi paling banter 5 suara saja. Sisanya sapu bersih buat 02. Pedih, Jendral! .

Ternyata memungkinkan suara di atas 300 per TPS. Kalau tidak salah ini TPS area pesantren.

Waktu saya sudah siap mental sebelum KLIK provinsi Jabar buat verifikasi TPS, ndilalah, ketemu kelurahan di mana 01 meraih banyak kemenangan walau selisihnya tipis-tipis. Woowww.

Setelah puas mengetes kesabaran dengan verifikasi data-data dari provinsi lumbung suara 02, jalan-jalan deh ke Jatim dan Jateng serta Bali .

Teringat pas lagi upload kebingungan nyari nama kelurahan MOJOSARI. Dicari-cari kok tidak ada. Ternyata … adanya MAJASARI! Sukomulyo juga ternyata Sukamulya hahahaha.

Ada C1 Plano yang menyebut entah data kecamatan entah kelurahan : Tanah 600 ternyata di situs ditulisnya Tanah Enam Ratus literally *pijetKening*.

Belum lagi bingung membedakan KABUPATEN dan KOTAMADYA yang namanya SAMA. Seperti Bogor, Bekasi, Bandung, dan banyak wilayah di Jawa Tengah.

Ampe stres kok kecamatannya gak ada.

Yaiyalahhh, ternyata yang dimaksud KABUPATEN TEGAL. Sementara saya nyarinya di KOTAMADYA TEGAL. Gusti nu agung .

Terus saya baru tahu kalau daerah Karang Anyar ada di berbagai wilayah di Nusantara. Ada di Sumut, Jawa Tengah, dan Sulawesi Selatan.

Jadi belajar banyak nama-nama wilayah dan tempat di Indonesia. Di mana saya baru sadar bahkan nama-nama kecamatan di tanah kelahiran saya di Sulawesi Selatan saja, saya tidak hafal *tutupMuka*.

Masya Allah luasnya tanah airku .

Sekali lagi, selamat bertugas Pak Jokowi dan Pak Kyai Ma’aruf Amin.

Beban berat di pundak kalian .

Semoga berusaha keras untuk selalu amanah walau kesempurnaan itu adalah hal yang mustahil.

“The ultimate measure of a man is not where he stands in moments of comfort and convenience, but where he stands at times of challenge and controversy.” -Martin Luther King, Jr-

Lanjutkan perjuangan, Pakde. Doa terbaik dari kami mengiringi selalu .

kawal pemilu 2019

Pendukung Jokowi di Luar Negeri #irlandiaSATULag1

DARI IRLANDIA UNTUK INDONESIA

“Yam, tolongin ..,” kata si Kucing.

“Nape?” Jawab si Ayam ogah-ogahan.

“Jadi gini…”

Kucing mulai bercerita tentang masalah dalam rumah. Jadi, Pak Bolang, majikan mereka, diresahkan oleh banyaknya tikus-tikus berkeliaran dalam rumah. Berbagai cara dilakukan untuk mengusir para tikus, enggak mempan juga.

Kucing merasa kasihan tapi tidak berdaya. Jadi berinisiatif meminta bantuan Ayam.

“Ooo gitu. Waduh, gue punya kandang sendiri. Enggak tinggal dalam rumah. Gue telaten banget bersihin kandang gue. Gak mungkin tu tikus bakal ke sini.”’

Kucing pergi, menuju kandang sapi.

Kucing menyapa, “Pi, sibuk, gak?”

“Apaan?”

“Busyet. Galak amat.”

Sapi terkekeh sebentar, “Abis lu dateng-dateng ngagetin gue. Kaget, Cing. Pa an?”

Kucing pun menceritakan hal yang diutarakannya tadi kepada si Ayam. Sapi manggut-manggut, menjawab singkat, “Kandang gue gede. Lo mau tidur di sini saja? Sok aja atuh.”

“Bukan gitu, Pi. Kasihan sama Pak Bolang. Kita bantulah cari solusi.”

“Yaela, itu bukan urusan kite lah. Tikus kan kagak bakalan gangguin kita.”

“Tapi, Pi …”

Sapi di Swiss fotografer Dani Rosyadi
Sapi di Swiss :D, pics by : Dani Rosyadi

“Duh, kayak hidup kita masih kurang repot aje. Udahlah. Diemin aja. Entar tu tikus juga bakal pergi sendiri. Jaga diri sendiri aja baik-baik. Oke, Cing?”

Kucing masuk kembali ke dalam rumah.

Sebulan berlalu.

Kini, Kucing memandang sedih ke pekarangan di luar. Kandang ayam dan kandang sapi dibongkar oleh Pak Bolang. Kucing berguman pelan, “Andai saja dulu mereka …”

Ke mana Ayam dan Sapi?

Seminggu setelah Kucing mendapat jawaban berupa sikap cuek Ayam dan Sapi atas masalah dalam rumah Pak Bolang, majikan mereka, anak bungsu Pak Bolang jatuh sakit. Sakit tipes dikarenakan ulah tikus-tikus nakal tak terhalau yang wara wiri dalam rumah.

“Beri makanan bergizi biar cepat sembuh. Sup ayam juga boleh.” Begitu saran Pak Dokter. Ayam pun dipotong untuk dijadikan sup.

Si bungsu sembuh, ealah…yang sulung ikutan tipes. Pak Bolang bingung, ayam sudah tidak ada. Kata Pak Dokter,”It’s oke. Sup daging sapi juga tak masalah.”

Sapi dipotong untuk dijadikan sup. Akhirnya Pak Bolang nekat pergi ke kota dan membeli lem tikus plus perangkapnya walaupun harganya sangat mahal.

Tikus-tikus pun bisa dienyahkan. Setelah terlebih dahulu mengorbankan nyawa Ayam dan Sapi.

Kalian familiar dong dengan kisah di atas .

Itulah kenapa, sejauh apa pun kalian merantau, tidak boleh cuek dengan kondisi negeri asal. Mungkin terpikir, “Halah, gue toh udah mau mati di sini. Ogah balik lagi mah. Doamat.”

Enggak boleh begituuuuuu. Kita ini tersambung dalam sebuah bulatan yang sama, ya planet BUMI ini .

Kalian tahu kan persoalan Suriah nun jauh di Timur Tengah pada akhirnya membuat pusing sampai ke Eropa dan Amerika Serikat .

Padahal mungkin yang terjadi di Suriah adalah buah “keangkuhan” dan “ulah” negara-negara di luar Suriah. If you know what I mean .

Where ignorance is our master,
there is no possibility of real peace.
-Dalai Lama-

KITA HARUS TETAP PEDULI.

Jauh-jauh di Republik Irlandia, kami, sebagian WNI yang tinggal di sini, mendeklarasikan dukungan kami untuk kesuksesan Pilpres dan Pileg di Indonesia April mendatang.

Dukungan kami buat Pak Jokowi untuk memimpin NKRI SATU kali lag1 ?.

Tentunya, kami yang bernaung di salah satu negara maju di belahan Eropa (coret) ini (hahaha), paham betul betapa pentingnya makna PEMERATAAN pembangunan di seluruh wilayah dan kalangan.

Infrastruktur transportasi bukan hanya tentang mobilitas orang per orang dari mana mau ke mana, tapi juga distribusi pangan dan pemerataan kesempatan dan kesejahteraan bagi semua kalangan dan wilayah .

COBLOS NOMOR SATU, JOKOW1 SEKAL1 LAG211

ps : nonton videonya doooonggg, eike begadaaaanggg nih ngeditnya. Mana jadi juru kamera, sutradara, penulis skenario segala macam dan gak ada akyu di videonya *nangis*.

Buat yang di Eropa  boleh join di grup Facebook “Eropa Tetap Jokowi” ^_^. Untuk yang di Dallas-FortWorth dan sekitar hadirilah deklarasi dukungan buat Pak Jokowi dari Texas tanggal 2 Maret 2019 besok, ya ;).

-Salam dari para pendukung Jokowi di luar negeri-

pendukung Jokowi di Luar negeri

cek berita hoax

Cek Berita Hoax : Teknik Propaganda yang “Unik”

Video yang sangat menarik ini  sudah saya bahas dengan suami bulan kemarin. Makin ke sini makin banyak bukti yang kami temukan soal kemiripan model propaganda seperti Trump dan beberapa tokoh dunia lainnya dengan “taktik politisi” di Indonesia jelang Pilpres 2019.

Bukti terbaru mungkin terkait wawancara salah satu jendral di salah satu acara televisi terkait PKI. Isu PKI ini relatif “mulus”. Dari dulu sudah tidak jelas lagi mana fakta mana katanya-katanya.

Simak ya wawancara dengan Pak Jendral. Bagaimana beliau dengan tenangnya menyampaikan opini yang (maaf) super duper asbun dan ditangkis dengan sangat baik oleh narasumber yang lain.

Hasilnya? Pak Jendral tetap kalem sama sekali tidak terpengaruh dan terus mengulang pernyataan-pernyataan sejenis.

Why obvious lies make great propaganda? Mengapa hoaks yang nyata-nyata konyol sekonyol-konyolnya justru menjadi alat propaganda yang cukup efisien?

Saya coba rangkum isi videonya, ya. CMIIW.

Kita pakai contoh lain. Karena lagi tema PKI ya pakai contoh seputaran itu saja, ya. Misalnya : ada 15 juta anggota PKI yang siap beraksi. 15 JUTA. Banyak sekali, yes?

Tapi tidak ada yang bisa membuktikan sedikit pun. Sebut satu nama saja, deh. Tidak ada.

Pernah juga sampai tersebut satu nama pemimpinnya. Lupa saya siapa. Tapi entah orangnya ada di mana. Namanya saja yang bergema.

Seketika kita tahu bahwa itu kebohongan yang super duper nyata.

Apa sih yang ingin dicapai oleh teknik propaganda seperti ini?

Apakah orang pada akhirnya akan percaya atau tidak, JUSTRU bukan itu tujuan utamanya.

Coba dikira-kira … dengan terus menerus menggempur peredaran informasi dengan hoaks-hoaks yang nyata-nyata ngibul dan kalian teruuuuussss menghabiskan waktu menangkis, kira-kira apa yang terjadi?

Lama kelamaan makin bikin bingung. Tambah bingung setiap hari. Karena hoaks demi hoaks terus mengalir. Susul menyusul dengan klarifikasinya. Makin bingung makin capek hingga akhirnya … kolaps. Chaos. Kacau.

Sudah tidak jelas lagi mana fakta mana yang hanya opini dst. Ya tiap hari begini-begini aja kerjaan kan. “Mereka” lempar hoaks, kalian sibuk menangkis, lempar hoaks baru, tangkis lagi, lempar terus, tangkis terus.

Ya memang ini tujuannya –> MEREDUKSI FAKTA MENJADI OPINI. Istilah lainnya dalam analisa terkait metode kampanye politik model begini, menghadirkan ALTERNATIVE FACTS, mengadakan fakta-fakta alternatif.

Fakta kok ada alternatifnya? Hehehe.

cek berita hoax

Hingga pada akhirnya, hoax vs klarifikasi akan dianggap sebagai DUA HAL YANG SEJAJAR.

Jadi muncullah nanti semacam, “Oooo itu kan menurut lo. Kalau menurut gue sih begini. Jadi ya dua-duanya bisa aja benar, sih.”

Ini nih bahayanya. Ketika FAKTA dianggap sejajar dengan OPINI.

Jadi lama-lama HOAKS dan KLARIFIKASI dianggap “bisa jadi dua-duanya BENAR”. Serem, yes? Huhuhuhu.

Dari kebingungan atas kekacauan ini, tidak heran jika muncul keputusasaan seperti –> “POKOKNYA GUE TIDAK MAU LAGI BACA BERITA-BERITA DARI MEDIA-MEDIA MAINSTREAM. GAK ADA YANG BISA DIPERCAYA.”

Lah, terus mau nyari berita dari manaaaaaa. Naaaaahhh, di sinilah nanti peranannya grup-grup Whatsapp, situs-situs bodong yang seolah muncul menjadi “berita alternatif” dan lain-lain seperti “gue mah mending percaya sama ustaz tempat gue ngaji.”

cek berita hoax
Gambar : hongkiat.com

 

Itu si ustaz mang dapat berita dari mana? Ya doamat, pokoknya gue percayanya sama ustaz gue yang suka posting-posting di WAG.

Kalau kasus di Indonesia, menjadi lebih mudah, karena tinggal disenggol dikit saja lempar ke isu agama . Beres semua .

Jadi sudah tidak penting lagi apakah hoaksnya tolol atau dungu, sama sekali tidak masalah buat “mereka”. Bikin hoaks dongok kan relatif lebih mudah. Pokoknya yang penting asbun. Asal tiap hari ada “topik”.

Agak rumit juga menanggapinya atau menyediakan solusi.

Karena hoaks yang dilemparkan juga rasa-rasanya disesuaikan dengan kondisi masyarakat. Kenapa muter-muter di PKI terus? Karena traumanya memang masih sangat dalam. Puluhan tahun distorsi sejarah komunisme di Indonesia terjadi. Butuh waktu untuk “menyembuhkan”nya.

Boro-boro juga mau sembuh, buat politisi yang ingin jalan pintas, ngapain capek-capek beradu prestasi untuk titel pemimpin daerah atau presiden misalnya, mending mereka menciptakan permusuhan atau mengobarkan permusuhan yang sudah ada. Tinggal dikipas-kipas saja terus kalau ada kesempatan.

Gambar : pixabay.com

 

Makanya, buat teman-teman Jokower, pilih-pilih lah hoaks yang harus ditanggapi. Bijak-bijaklah dan jangan sampai terbawa arus. Itu kan sudah pernah saya bilangin, jangan menganggap dunia Facebook itu seputar politik saja.

Sekali-sekali alihkan duniamu. Posting apaan kek biar enggak stres sendiri kan hehehe.

Topik beranteman juga susah sekali dikontrol. Karena buzzer-buzzer, baik yang orangnya nyata maupun akun siluman, selalu siap siaga memancing di air keruh.

Saran saya, masa iya sih diantara segini banyak teman di Facebook kalian masih malas ceki-ceki mana yang akun beneran mana yang akun palsu . Atau kalau tidak mau repot, pegangin akun teman-teman sendiri sajalah.

Jangan gampang approve akun-akun robot, mentang-mentang pasang foto ciwi-ciwi cantik langsung maen approve saja .

Kita memang sulit mau mengontrol orang/akun lain. Ya jaga diri masing-masing saja.

Yuk, posting-postingnya dibikin lebih berwarna. Kalau ada berita-berita mencurigakan nan tidak penting, HEMPASKAN saja . Bukan berarti semua hoaks dihindari ya. Bolehlah sekali-sekali buka medan pertempuran hahahahaha.

Berita-berita macam “100 ribu cuma cukup buat beli cabe + bawamg” atau “tempe setipis ATM” itu jelas-jelas hoaks bodong yang sengaja dilempar untuk memanaskan lantai dansa saja. Semua orang juga tahu kok kalau itu ngawur .

Jadi kenapa kalian ikutan pening balas membalas dan sindir menyindir hehehe.

cek berita hoax

Inilah uniknya, makin bego hoaksnya makin rame karena makin banyak yang bisa menangkis. Cobak bikin hoaks yang njelimet, pasti sepi yang nanggepin soalnya pada gak ngerti hahahahahaha.

Tapi jangan terus-terusan fokus di topik politik lah. Sesekali posting foto jalan-jalan, kisah-kisah apa kek terkait hobi misalnya, atau apalah. Biar enggak kek orang gila kalian semua jelang 2019 ini hehehehe.

Jangan terjebak dalam situasi tapi juga … jangan lari, don’t be an ignorant, “Halah, terserah aja dah, pokoknya gue gak mau peduli lagi. Titik.”

Remember … “Nothing in all the world is more dangerous than sincere ignorance and conscientious stupidity.” Martin Luther King, Jr.

Sudah hari rabu, nih. Masuk tengah-tengah minggu. Semoga kalian belum kelelahan dan masih tetap semangat secara akhir pekan masih 3 hari lagi hehehe.

Masih Jokowi sekali lagi dooooonngggg  #jokow1Lag1

Reflect Your HOPE, NOT Your FEAR (3)

Yak, kondisi terkini di dunia maya mengulang keseruan 5 tahun lalu jelang Pilpres 2014. Keseruan? Ketegangan jangan-jangan kata yang lebih tepat huhuhu.

Unfortunately, pasca isu Cambridge Analytica, kita tak bisa lagi meremehkan hal-hal yang terjadi di dunia maya. Dunia nyata pun bisa terseret secara signifikan.

Acara CFD di DKI Jakarta yang terkini misalnya. Acara yang setahu saya memang ajang kumpul-kumpul sekeluarga, jalan-jalan santai, sambil jajan-jajan, sudah lazim bawa anak-anak. Mengapa menjadi ajang bully-bully an?

Sebenarnya ada juga foto-foto atau BUKTI yang menunjukkan bahwa perselisihan 2 kelompok tersebut TIDAK mewarnai sepanjang acara. Tidak bisa dikatakan sebagai penggambaran KESELURUHAN ACARA CFD di hari itu.

Ada juga tuh foto yang menampilkan kedua pihak jalan bersama sambil cengar-cengir enggak saling ngapa-ngapain.

CFD 29 April juga berlangsung damai (sumber : akun Facebook Zulfan Syahnsyah)

 

Beberapa teman yang sepandangan politik dengan saya mempertanyakan, “Itu kok yang kubu sono bisa sampai segitunya ya? Udah kayak mau perang beneran?”

Nah iniiiiiiii. Pahami juga psikologi / alasan tiap kelompok. Dari kedua belah pihak.

Yang hampir selalu saya temui, pendukung kelompok “Ganti Presiden” ini sedang merasa “membela agama”. Ini “perang” mereka terhadap “kezaliman” atau apalah itu yang bertentangan dengan ajaran agama.

Makanya sering membawa-bawa istilah Firaun segala. Tahu kan ya meme-memenya pan udah banyak ituh. Kenapa Firaun? Bukan yang lain? Karena Firaun ini digambarkan langsung dalam kitab suci sebagai “musuh agama”.

Bayangkanlah kondisi psikologis mereka yang turun ke jalan buat kampanye dengan semangat seperti itu.

Tentu lebih gegap gempita karena hal ini SEOLAH titah langsung dari TUHAN. Mereka (merasa) sedang menjalankan amanah dari TUHAN yang maha penting melawan SI LAKNATULLAH FIRAUN …. bersama segenap pengikutnya atau pendukungnya! 

Gambar : pixabay.com

 

Sementara yang kubu “Tetap Pakde”, ya paling banter alasannya karena hasil kerjanya bagus misalnya. Atau tidak menemukan calon lain yang lebih baik dibandingkan beliau. Hanya memandang persoalan ini sekadar Pilpres. Tidak merujuk ke urusan surga sama neraka misalnya.

Makanya itu para Jokower atau Cebonger BERHENTILAH berusaha melakukan perlawanan dengan cara-cara model beginian. Sana bikin kaos, situ ribut juga bikin kaos. Okelah bikin kaos mah FUN, yak.

Tapi jelas kelian akan kalah dalam urusan “mengobarkan semangat juang” di area publik.

Yang di “sana” SEOLAH “MAJU PERANG” demi pengabdian terhadap TUHAN. Yah situ mungkin sekadar pengin negeri kita menjadi lebih baik pembangunannya di tangan Pak Jokowi. Ya jelas KALAH! Hahaha.

On the other hand, pihak Jokower pun ada yang sering menyebarkan ketakutan-ketakutan instead of HARAPAN. Kalau yang “sana” ya sudahlah ya. Kita juga bingung mereka mau menebarkan harapan apa karena dari awal slogannya adalah “ASAL BUKAN ANU”.

Pemicunya adalah KETIDAKSUKAAN pada ANU, bukan karena MENDUKUNG LAWANNYA ANU. Ke Ahok juga “mereka” begitu, ke Pak Jokowi pun sama.

Then why do we have to do the same thing? Pathetic itu mah kalau kalian juga sok-sok menebarkan ketakutan. Don’t!

Kalau yang sana suka mengancam-ancam dan menakuti-nakuti tentang PKI lah, serbuan tenaga kerja asing lah, China mau menguasai Indonesia lah, Islam mau dihancurkan, dan berbagai imajinasi-imajinasi liar yang sangat minim bukti .

Di kubu Jokower juga ada yang model begini. Sok-sok ngancem, Jakarta akan hancur kalau bukan Ahok yang menang! Set dah! Hahahaha. Heloooooo, santai aja maleeeeehhhh.

Buktinya sekarang fine-fine saja kan di Jakarta. Ya mungkin ada beberapa hal yang BERUBAH tapi lebay kali pun sampai bilang HANCUR yadda-yadda-yadda .

Percaya sama saya, orang Jekardah mah setrong! Saya ngalamin banjir besar tahun 2007 tuh. Meeting di customer di Tangerang, kena macet 5 jam ke Pancoran. Bareng teman saya yang lagi hamil muda. Kita ketawa-ketawa saja di mobil. And we STILL ALIVE years after that! Hahaha.

Kalau urusan Pilpres pada ngancem, katanya kalau bukan Pak Jokowi yang menang, nanti korupsi merajalela, pembangunan mangkrak dan seterusnya dan seterusnya!

Benar-benar pendukung stres semua dah hahaha.

Jangan begituuuuuuuu .

Walaupun mungkin sudah bosan dan ternyata kemarin pas di Ahok kita kalah sih (hahaha), KITA TETAP HARUS menebarkan HARAPAN instead of FEAR. Mengapa? Simply because it’s THE RIGHT THING TO DO! 

Jangan bosan share hasil kerja beliau. Jangan patah semangat menunjukkan bukti nyata di sekitar kalian yang membuat kalian tetap mendukung beliau. Jangan gentar terus menghujani timeline dengan hal-hal yang KITA anggap sebagai prestasi-prestasi positif beliau. Walau mungkin yang “sono” so pasti ngamuk dan tidak setuju hahaha.

Kalau sudah begitu mereka tetap baper, itu sudah bukan tanggung jawab kita lagi yes? Masa kita share kebaikan orang lain, mereka marah! Itu sih jatuhnya sudah DENGKI .

Tahu film Monster Inc. gak? Nah ini salah satu film animasi kesayangan saya.

Monster Inc (gambar : disney.wikia.com)

 

Saat akhirnya Sullivan mengambil alih Monster Incorporated dari tangan Waternoose, Waternoose sempat bilang, ““I hope you’re happy, Sullivan. You destroyed this company. Monsters Incorporated is dead! Where will everyone get their scream now? The energy crisis will only get worse, because of you!”

Monster Inc. mengambil energi yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di Negeri Monster dengan cara menakut-nakuti anak-anak manusia dalam mimpi-mimpi mereka di malam hari.

Somehow para monster punya akses untuk memasuki kamar anak-anak ini di malam hari untuk menakut-nakuti mereka. Makin menakutkan para monster, makin takut si anak-anak ini, dan makin kencang pula teriakannya, makin banyak energi yang terserap.

Anak-anak makin stres, energi makin cespleng.

Tapi Sullivan sudah menghancurkan metode ini. Namun, apa benar Monster Inc. remuk di tangan Sullivan?

Despite using the kid’s fear, Sullivan punya ide LAIN untuk meraup energi bagi Negeri Monster.

Mike – Sullivan – Boo (gambar : cinelinx.com)

 

Jika dulu para monster berusaha keras menakuti dan mengancam anak-anak, kini mereka bekerja giat memainkan berbagai macam lelucon, mengisahkan cerita-cerita kocak untuk membuat ANAK-ANAK TERTAWA.

Yup, instead of, memanfaatkan jeritan mereka sebagai sumber energi, Sullivan menemukan cara berbeda untuk mendapatkan energi yang 10 x lipat lebih besar. Para monster tetap memasuki pintu anak-anak secara rutin, tapi yang diincar kini bukan teriakan ketakutan mereka lagi. Tapi tawa mereka.

Hubungan monster dengan anak-anak malah harmonis. “Scare Floor” yang tadinya selalu bernuansa tegang dan ‘dingin’ kini hiruk pikuk penuh balon-balon dan tawa ceria para monster .

Pesan moralnya sangat INDAH, bukan? Did you get it?

Jeritan anak-anak itu identik dengan ketakutan, kebencian dan banyak hal negatif lainnya. Sementara tawa anak-anak selalu diasosiakan dengan kegembiraan, keceriaan dan banyak hal positif lainnya.

Sullivan mengajarkan kepada kita, “Kegembiraan itu efeknya 10 kali lipat lebih dahsyat daripada ketakutan.”

Sullivan and Boo (gambar : weheartit.com)

 

Menebar HARAPAN dan hal positif itu kekuatannya lebih besar daripada menghasut untuk membenci.

Dari kisah FIKSI pun kita bisa belajar banyak hal-hal untuk kebaikan kita di dunia yang NON FIKSI ini, yes? 

Seems like too good to be true, yak hehehehe. But I’m a believer! Aren’t you? 

Yuk yaaaaa, putuskan lingkaran setannya. Sampai kapan ini saban ada kampanye berantem meluluuuuuuu .

Kita memilih atau mendukung dengan harapan agar negeri kita tercinta, Negara Kesatuan Repuplik Indonesia bisa dibawa ke arah yang lebih baik di bawah kepemimpinan BAPAK JOKO WIDODO. Sudah kita cek hasil nyata-kinerja-rekam jejak beliau dibanding alternatif yang lainnya yang sudah ada. Entah kalau nanti ada kejutan ada calon lain ye kaaaannn .

Bukan karena takut sama ini itu .

So … “May your choices reflect your hopes, not your fears.” ― Nelson Mandela

Untuk prestasi-prestasi kerja Pak Jokowi jangan lupa LIKE dan SHARE (kalau mau) dari fanpage resmi beliau di Presiden Joko Widodo. Klik aja itu jangan sampai salah page, banyak yang abal-abal nan provokatif juga soalnya.

Insya Allah, dengan atau tanpa PAK JOKOWI, NKRI tidak akan hancur apalagi bubar . Karena doa-doa terbaik kita akan terus mengawal negeri ini, kan, kan, kaaaaaannn SIAPA PUN PRESIDENNYA .

Tapi jadi presiden memang berat sih, kamu belum tentu bisa. Pakde ajalah #dasarCebong ??????

Salam 2 periode! ✌️✌️

Gambar : foto resmi dari istana kepresidenan