Sinai Berdarah

Sinai memang spesial. Sejak tahun 1948, sudah bolak balik wilayah ini menjadi perebutan antara Israel dan negara-negara Arab di sekitarnya, termasuk Mesir.

HIngga akhirnya di tahun 1979-1982, dalam beberapa perundingan dan kesepakatan, Mesir menjadi “penguasa sah” atas Semenanjung Sinai. Wilayah ini menjadi bagian dari negara Mesir yang terletak di wilayah Asia. Mesir sendiri “resmi”nya masuk ke dalam jajaran negara di benua Afrika.

Sinai Mesir
Semenanjung Sinai (gambar : themuslimtimes.info)

 

Semenanjung Sinai, beberapa terakhir ini, telah mengalami banyak masalah yang serius. Puncaknya, 3 hari yang lalu. Kabar terakhir lebih dari 300 orang meninggal akibat serangan yang diarahkan ke Masjid Bir-Al-Abed, saat pelaksaan Shalat Jumat.

Dalam korban yang tewas, puluhan diantaranya adalah anak-anak .

Diskusi soal Sinai kurang tepat jika hanya dikaitkan dengan kelompok-kelompok militan yang ada di sana. Walau sejak lama wilayah ini memang menjadi basis bagi peredaran senjata dan “tempat ngumpul-ngumpul”nya kaum separatis di lokasi sekitar.

Mungkin kedengarannya klise ya, tapi jika dirunut-runut, akar utama berkembangnya militansi di wilayah ini justru dipicu oleh hal-hal sekuler.

Secara geografis, wilayah Sinai tergolong “berat”. Gurun tandus mendominasi wilayahnya. Ketimpangan pembangunan dan terbatasnya sumber daya yang dikembangkan di sana melahirkan kemiskinan dan ketidakberdayaan dalam banyak hal . Situasi kondisi yang sangat memungkinkan atas suburnya militansi/paham-paham radikal.

Masyarakat Bedouin, mayoritas yang merupakan suku lokal setempat, sudah lama mengkritisi pemerintah pusat atas ketidakadilan di wilayah Sinai.

Tahun 2011, di masa-masa “Arab Spring”, Semenanjung Sinai makin ricuh. Warga Sinai seolah mendapat momentum dari bangkitnya gerakan-gerakan separatis di beberapa wilayah Arab , misalnya Libya.

Peredaran senjata di Sinai makin marak dan memberi jalan bagi Bedouin untuk menegaskan perlawanan mereka kepada otoritas Mesir. Jatuhnya Husni Mubarak membuat wilayah Sinai makin liar.

Kelompok separatis berbasis jihad (Islam) juga menemukan “jalan”nya di Sinai. Kelompok ini menjadikan Sinai sebagai benteng untuk menghardik Israel di perbatasan (khususnya di Gaza).

Dari konflik lokal yang diakibatkan rasa terasing dari pemerintahan pusat, kisruh di Sinai berkembang menjadi gerakan-gerakan jihad, hendak mendirikan Negara Islam.

Sinai mesir
Masjid yang diserang, menewaskan lebih dari 300 orang (gambar : cnn.com)

 

Otoritas Republik Mesir merespons dengan operasi-operasi militer. Membuat perlawanan makin menjadi.

Kudeta terhadap Mursi mengguncang stabilitas politik Mesir yang kembali dimanfaatkan oleh kelompok separatis. Pemerintahan baru di Mesir mengambil langkah militer yang lebih “keras” terhadap Sinai.

Sebuah kelompok di Sinai akhirnya mendeklarasikan diri sebagai bagian dari ISIL ( Islamic State of Iraq and the Levant).

Bentrokan-bentrokan fisik antara kelompok-kelompok separatis di Sinai yang ingin memerdekakan diri dan militer Mesir mewarnai perseteruan ini sejak tahun 2013 hingga kini.

Pemerintah Mesir terus menerus melancarkan operasi militer yang justru membuat warga Sinai makin marah. Korban pun berjatuhan dari pihak sipil.

Beoduin sendiri tidak pernah jelas berada di pihak yang mana. Apakah mendukung ISIL atau bergerak mandiri untuk melepaskan diri dari Mesir?

Awalnya, kelompok-kelompok sufi yang mendominasi wilayah ini sebelum para jihadis datang dan berkuasa. Konflik internal dalam segi kepercayaan juga terjadi.

Sinai mesir
Masjid di Bir-al-abed, Sinai (Gambar : nbcnews.com)

 

Sudah sejak lama, oleh beberapa kalangan muslim, kelompok Sufi ini dituduh”murtad” dan mempraktikkan hal-hal yang dianggap sesat seperti sihir dan semacamnya.

Perselisihan antara ISIL dan Tareket Sufi inilah yang mungkin menjadi penyebab serangan terhadap Bir-Al-Abed, yang dikuasai oleh Kelompok Sufi. Tetapi saat Shalat Jumat tiba, banyak pula muslim non sufi yang bersembahyang di tempat ini.

Ruwet, ya? .

Ditambah lagi kondisi Mesir secara ekonomi memang masih tergolong “negara dunia ketiga”. Indeks Persepsi Korupsi di Mesir juga tergolong rendah (34). Menempatkan Mesir berada di urutan ke-108 sebagai negara yang paling tidak korup.

Jumlah penduduknya pun tergolong banyak. Sekitar 95 juta penduduk Mesir yang harus diurus oleh pemerintahnya. Dengan luas wilayah yang tidak sedikit dan bentang alam yang tidak mudah, terutama di Semenanjung Sinai. Stabilitas politik dalam negeri yang turun naik berkali-kali turut menyumbang bagi rumitnya kondisi Mesir akibat perebutan kekuasaan oleh mereka-mereka yang haus kuasa.

Sinai Mesir
Gambar : worldatlas.com

 

Kelimpahan pula masalah-masalah dari negeri-negeri tetangganya termasuk kelompok-kelompok separatis yang sudah “nyaman” di Sinai selama bertahun-tahun.

Tambah runyam karena mereka berbaur dengan masyarakat sipil yang membuat Militer Mesir makin salah tingkah harus berbuat apa. Kalau dibiarkan ya makin menjadi, mau dilawan ya akan mengorbankan penduduk sipil.

Itulah mengapa konflik seperti ini seharusnya menjadi tanggung jawab seluruh pemimpin dunia. Karena pada akhirnya semua akan kena “giliran” juga kalau dibiarkan dan tidak peduli.

Sungguh berat tugas seorang pemimpin. Dari sebuah ceramah yang pernah dikirim oleh seorang teman, seorang ustaz dari Malaysia menekankan bahwa syarat menjadi pemimpin politik (dalam kaitan birokrasi sebuah wilayah/negara) syaratnya cuma 2 : KUAT dan AMANAH.

Cuma DUA itu, Al Qowiy dan Al Amin, tapi kesulitannya sangat luar biasa.

Semoga kita semua terus diberi kemampuan untuk bisa memilih pemimpin yang tepat, ya. Agar kelak mereka mampu menjadi penyelenggara negara yang tidak hanya KUAT tapi juga amanah membangun seluruh pelosok negeri dengan seadil-adilnya. Rusaknya pondasi amanah yang membuat korupsi seperti tidak pernah menemukan jalan keluar.

Terkait agama yang saya yakini, mengutip pesan dari Buya Syafi’i Maarif bahwa keadilan sosial adalah hal yang paling keras diperintahkan dalam alquran. And now we should know why, though we learnt it the hard way.

Apa yang terjadi di Sinai, akar masalahnya ya tidak jauh-jauh dari pedihnya harga yang harus dibayar akan diskriminasi terhadap warga negeri sendiri. Ingatlah Rohingya, ingatlah Kurdi, ingatlah pertikaian lain di berbagai belahan dunia yang sebenarnya disebabkan oleh itu-itu juga .

Semoga Tuhan berkenan menganugerahkan kekuatan sekaligus kelembutan bagi seluruh pemimpin-pemimpin negeri di dunia ini.

Menghadapi kelompok-kelompok militan seperti ISIL/ISIS dkk ini mungkin tidak tepat lagi jika dikerasi dan ditekan atau dilawan dengan cara yang sama. Karena sudah berkali-kali terbuktikan bahwa :

“Darkness cannot drive out darkness; only light can do that. Hate cannot drive out hate; only love can do that.”
Martin Luther King, Jr.

Turut berduka cita sedalam-dalamnya akan tragedi di Sinai, Mesir. As hard as it could be, semoga masih ada cinta yang tersisa di dalam kalbu para keluarga korban yang masih hidup. Ya Allah, bantu kami semua memutuskan lingkaran setan ini. Aamiin <3.

Gambar : geekclubbooks.com

The American Dream dan Mimpi Kaum Pendatang

Saat Irlandia dilanda bencana kelaparan yang mengerikan di pertengahan abad ke-19, tidak sedikit orang tergopoh-gopoh menuju tepian laut. Berhimpitan dalam kapal membawa barang seadanya dan segenap keluarga yang masih hidup.

Hendak melabuhkan harapan baru saat situasi tidak lagi mungkin bisa dihadapi di negeri asal. Beramai-ramai menuju Amerika Serikat.

Makanya tuh, di belahan Utara Amerika Serikat banyak pendatang asal Irlandia . Film Far and Away yang jadi tempat cinloknya Tom Cruise dan Nicole Kidman, salah satu yang menggambarkan perjuangan para pendatang asal Irlandia di US.

Dublin, Irlandia
Dublin, Irlandia

Di Boston, perayaan St Patrick’s Day yang merupakan perayaan utama Bangsa Irlandia juga dirayakan besar-besaran .

Mundur ke belakang pun, saat isu anti Yahudi terus menggeliat, banyak kaum Yahudi yang terusir ke sana. Mereka dibujuk agar mau meninggalkan Eropa dan memulai hidup di benua baru.

Saat perpecahan Protestan dan Katolik pun, sebagian terusir dan meninggalkan daratan Eropa menuju Amerika.

Terus berlanjut hingga abad ke-20. Dari biografi Pamela Mountbatten, sepupu dari Ratu Elizabeth II, saat perang Dunia ke-2 memanas dan kembali sentimen anti Yahudi dihembuskan, dia bersama kakak perempuannya diungsikan ke Amerika Serikat.

Pamela ditengarai masih punya darah Yahudi dan ditakutkan akan menjadi sasaran isu SARA imbas Perang Dunia II.

Jadi Amerika Serikat memang sering menjadi “tempat buangan” hahaha . Orang-orang terbuang inilah yang bekerja keras menaklukkan tanah baru dan terbilang sukses. Suksesnya menular ke mana-mana dan menginspirasi “The American Dream”.

usa-1197608_960_720

Eropa, terutama wilayah barat, memang berbeda dengan Amerika Serikat. Eropa dalam beberapa hal lebih ‘kaku’. Sementara di Amerika Serikat, apa pun bisa saja terjadi. Konon, siapa pun yang bekerja keras, akan punya kesempatan yang sama menaklukkan kerasnya hidup.

Sementara di Eropa, keinginan begini mustahil terwujud. Eropa sangat ketat urusan beginian. Amerika Serikat lebih “cair.”

Tidak heran, pendatang asal Asia Selatan banyak yang menjadikan Irlandia sebagai batu loncatan saja. Begitu mereka sukses memilliki paspor Irlandia, mereka akan segera berlayar kembali, menuju sasaran utama mereka, Amerika Serikat.

Kata salah satu teman saya, “Hidup di India sangat berat. Tapi itu tanah asal kita. Saya bahagia di India meskipun repot. Tapi terus ingat anak dan masa depannya. Jadi, kami pindah ke sini. Selesai dapat paspor kami ingin pindah ke US. Di sana nanti, kami akan membawa orang tua kami untuk tinggal bersama kami.”

Mendapatkan paspor Irlandia memang tergolong mudah untuk ukuran Eropa. Enggak pakai tes segala macam. Mungkin karena bahasanya bahasa Inggris ya jadi cincay lah semua pasti bisa hehehe.

Merantau itu seperti 2 sisi mata uang. Kita bahagia bertemu orang baru punya teman-teman yang berbeda bertukar pikiran dan sekadar ocip-ocip ringan hehehe. Tapi hati pun galau meninggalkan keluarga di tanah kelahiran. Makanya banyak yang terpikir memboyong orang tua dan segenap handai taulan. Di US, hal itu sangat mungkin .

Rata-rata ya, pendatang ini hadir dengan semangat full tank. Tentu meninggalkan tanah kelahiran bukan hal yang mudah, lho. Walau sudah dicita-citakan tetap saja berat pas menjalani.

Apalagi memang merantaunya karena sebab yang lebih krusial. Misalnya mereka yang berasal dari negara-negara yang kurang beruntung secara ekonomi, politik dan sosial. Mereka mati-matian akan bertahan. APalagi yang lagi perang. Terbayang kan traumanya.

Di situlah konflik mulai muncul. Para pendatang yang mungkin sebagian sudah bertekad, “Sukses atau mati di negeri orang!” akan melakukan apa saja untuk berjuang di negeri impian.

Perang dan bencana penderitaan besar (gambar : pixabay.com)
Perang dan bencana penderitaan besar (gambar : pixabay.com)

Bekerja jauh lebih keras dengan gaji minimal misalnya. Kok mau, ya? Mereka mengejar harapan dan kesetaraan hal yang mungkin tergolong mustahil di negeri asal. Di negara-negara “maju”, fasilitas umum dan publik sangat bagus dan cukup merata. Apalagi di Eropa Barat, Kanada, Australia yang memang menganut sistem “welfare state/kesejahteraan bersama”.

Mereka yang “terhina” di negara asal ya pasti betah di negara maju. Eropa Barat misalnya, kalian pasti susah menilai mana yang miskin mana yang kaya hehehe. Pemerataan di banyak hal hampir sempurna . Tukang ngepel di mal saja bisa punya mobil sendiri, booooooo .

Warga lokal yang sudah terbiasa santai dan dari kecil mungkin kurang diperkenalkan dengan “situasi yang kompetitif” lambat laun akan kaget dan merasa terdesak.

Sementara perusahaan dan pemilik modal ya sesuai prinsip ekonomi sederhana, “Pengorbanan sekecil mungkin untuk hasil semaksimal mungkin.”

Ngapain bayar pegawai lokal mahal-mahal kalau bisa mendapatkan pegawai pendatang yang etos kerja lebih mumpuni malah kadang … kemampuannya juga lebih bagus.

Kata siapa orang Asia lebih bodoh? . Kurang disiplin mungkin iya hihihi.

Dari kecil, kita orang Asia sudah ditempa dengan pendidikan keras nan kompetitif. Kita terbiasa memberikan effort maksmal dalam berbagai hal. Kita merasa wajar bekerja lebih keras untuk hasil yang lebih baik.

Hidup di Asia ... penuh dengan kerja keras :) (gambar : pixabay.com)
Hidup di Asia … penuh dengan kerja keras 🙂 (gambar : pixabay.com)

Di sinilah masalah makin membesar. Orang lokal (Eropa dan mungkin US) dari kecil sekolahnya santai, kelak mereka bekerja apa pun juga ya tidak merasa terpengaruh.

SEmentara pendatang, dari kecil hidup mungkin sudah keras. Rata-rata mereka punya mimpi di atas rata-rata. Kalau pun orang tuanya hanya sanggup bekerja “informal” misalnya, nah nanti anak-anaknya digembleng biar lebih sukses.

Kombinasi dari sistem pendidikan mumpuni ala “western countries” dan didikan khas “Tiger Moms” dari emak-emak di rumah masing-masing hahaha.

Mereka mengadopsi perilaku santun orang lokal tapi tetap memiliki kemampuan akademis yang tinggi . Ini yang sebenarnya menakutkan buat orang lokal. Pendatang yang mungkin awalnya dicibir tidak punya manner ternyata bisa beradaptasi dengan budaya disiplin masyarakat lokal.

Ini beneran, lho. Di sekolah sini biasanya terbagi 3 kelompok di tiap jenjang kelas : Advanced, intermediate, basic. Hampir semua anak Asia berada di kelas Advanced hahahaha. Sementara orang lokal tidak terbiasa dan tidak terlalu peduli .

Pendatang generasi “home grown” tidak hanya berjaya di bidang informal. Mereka akan terus merangsek ke wilayah profesional.

Dari sini pembatasan terhadap kaum pendatang mulai dilakukan. Dianggap sebagai ketidakadilan. Karena memang sih, misalnya status refugee, itu hanya dianggap solusi sementara. Diharapkan kalau negara asal membaik mereka akan pulang.

Tapi manaaaaaaaa… Pakistan sudah puluhan tahun didera pertikaian internal. Not mention kasus korupsi yang merajalela di banyak negara berkembang . Alih-alih melawan, korupsi termasuk kejahatan yang makin ke sini tidak lagi dianggap tabu.

Sudah mati rasa, Cuy. Kita saja di Indonesia saban ada kasus korupsi, ya udah. Udah ditangkap. Sudahlah. Sabar saja, bla bla bla. Besok juga sudah pada lupa . Nanti terpilih lagi malah. Kalau enggak, anaknya, suaminya, istrinya, iparnya, atau keponakannya atau adiknya atau siapanya yang menggantikan.

Lobbying - Corruption, gambar : pixabay.com
Lobbying – Corruption, gambar : pixabay.com

Masyarakat di negara berkembang, dengan tingkat pendidikan kurang merata bahkan sangat minim, sangat labil secara emosional. Jangankan negara berkembang, negara maju pun yang kini menjadi bagian dari masalah ekonomi global juga sudah mulai panik, kan? .

Apalagi kalau kebutuhan dasarnya belum terpenuhi. Kemiskinan dan kesengsaraan sebagai akibat panjang dari ulah koruptor menjadi penguat ketidakstabilan di banyak negara berkembang. Lingkaran setan tak berujung.

Dodolnya, banyak negara maju malah mengail di air keruh. Untuk mencari uang banyak dalam waktu singkat, mereka itu ya, alih-alih mendamaikan malah jualan senjata cobak! .

Pemerintah resmi berdalih perdagangan senjata terjadi “di bawah tangan” alias ilegal. Omong kosong! .

Akibatnya ya lingkaran setan tadi. Perbuatan jahat ya akan berbalik ke diri sendiri. Lihatlah kini, limpahan imigran yang rata-rata datang dengan maksud permanen mulai mendatangkan sentimen sosial dalam masyarakat setempat .

Pemboman di Brussel tempo hari membahas masalah ini. Brexit adalah salah satu puncaknya. Dan makin disempurnakan dengan fenomena … Trump!

trump-1350370_960_720

Saya percaya, pada dasarnya mayoritas manusia di muka bumi ini, mau suku, agama, warna kulit, asal, dan ras mana pun, menginginkan kedamaian dan kesejahteraan sosial.

Masalahnya, kita ini manusia yang secara default memang pakemnya sudah begitu. Tidak sempurna. Tiap saat kita harus bertempur dengan diri sendiri melawan hal-hal yang sering diistilahkan dengan 7 sins :

1. Kebanggaan
2. Ketamakan
3. Iri hati
4. Kemarahan
5. Hawa nafsu
6. Kerakusan
7. Kemalasan

Makanya, musuh paling berat untuk SEMUA manusia itu justru diri kita sendiri.

Tapi sekali kita percaya bahwa ada sesuatu di luar sana yang tidak terkalahkan yang akan menghancurkan kita semua tanpa mampu kita cegah, entahlah semacam monster atau apalah hehehe, kita tidak akan pernah ke mana-mana .

Penggemar teori konspirasi mana suaranyaaaaaaa hahaha. Propaganda model begini yang akhirnya menghalangi kita berpikir ke arah kemajuan karena udah lemes duluan, “Udahlah. Gak mungkin. Kita pasti kalah. Pasti! Pasti! Ada kekuatan besar tak terlihat nganu-nganu…”

Pada kenyataannya, banyak negara maju sudah hopeless karena seberapa besar pun uang yang digelontorkan untuk bantuan kepada negara bermasalah, ternyata terbukti 80% nya masuk ke kantong para koruptor. Ini kasus di Afghanistan .

Di Pakistan, para pejabat korup ini kabur membawa lari uang negara dan hidup nyaman di negara lain . Di Afrika lebih ngeri lagi. Karena isu perbedaan suku pun masih bisa diramu untuk kepentingan para penguasa nan tamak. Sudah nonton Hotel Rwanda? Itu kisah nyata ya btw.

Selama negara-negara maju menutup mata dan malah ambil kesempatan dalam kesempitan dan gejolak dalam negeri di wilayah negara lain, ya selama itu pula lingkaran setannya enggak akan kelar-kelar.

Coba saja. Kalian halangi negara lain untuk maju karena ketamakan dan kebanggaan ingin menjadi “penguasa dunia”, kelak akan berbalik ke diri sendiri. Betul begitu, wahai US dan Eropa? .

Penduduk di negara yang kalian “kerjain” suatu hari akan berbondong-bondong pergi meninggalkan negara mereka dan malah nyasar ke negara kalian hehehe.

Sebaliknya buat negara-negara berkembang dengan segabruk konflik internal, selama tidak pernah mampu mengurai persoalan utama dan terus menerus meributkan hal-hal kecil yang terus dipercikkan untuk membelokkan perhatian kita dari fokus masalah, ya kita akan begini-begini saja.

Terus terjebak dalam ketidakmampuan, kegagalan membangun, perasaan dizalimi sebagai korban, dan seterusnya.

Entahlah yang mana memengaruhi yang mana. Mumet, Cuy hehehe.

Ini belum masuk isu agama yang lebih sulit lagi. Karena dalam urusan agama, kadang rasionalitas sulit sekali dikedepankan. Asas “pokoknya” jauh lebih mudah akibat doktrin turun temurun dan propaganda “perasaan kalah” tadi.

Untuk agama Islam, Mas Khairun Fajri Arief punya tulisan bagus tentang bahayanya perasaan kalah ini. 

Makanya, dalam kasus Trump, wait and see dulu sajalah. Kok belum apa-apa sudah ngeri duluan hehehe. Amerika Serikat bukan negara abal-abal. Mereka sudah berkali-kali membuktikan diri sanggup keluar dari kemelut besar di sama lalu .

Bukan cuma US kok ya. Jangan sedih. Semua negara punya kesempatan sama untuk maju dan berkembang. Asalkan…fokus .

Tetap tenang ya, teman-teman hehehe. Jangan biarkan ketakutan menguasai kita. Karena rasa takut itulah yang menjadi sumber dari berbagai malapetaka di dunia.

Does fear always work? Nope. It depends on you .

Back to the basic rule, musuh terbesar kita adalah diri kita sendiri. Termasuk KEMALASAN mencerna berita dan situasi apa pun. Sifat tergesa-gesa karena dikuasai HAWA NAFSU dan KEMARAHAN. Chill out, Bro and Sis . Tetap waspada dengan segala bentuk provokasi .

“An Idea is nothing but Information, It won’t do us any harm until we accept it as perception of truth in our mind, which in time will potentially evolve and construct major events in history.”
― Djayawarman Alamprabu, Feared Intellectualism

Wait and see .

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

Why (Not) Hillary?

Mayoritas teman di linimasa masih “syok” dengan kemenangan Trump. Di Facebook ya maksudnya. Maklum nih, media sosial saya yang aktif hanya Facebook doang hahaha.

Apa mungkin karena selama ini kita terlalu fokus dengan acara “badut-badutan”nya Trump hehehe. Karena ini, terasa banget bahwa lawannya, Hillary Clinton, sangat layak untuk menang.

hillary

Faktanya, angka golput lumayan tinggi. Hampir 50%. Sebelum-sebelumnya juga sudah sering orang mengeluh betapa pemilihan presiden US tahun ini seperti buah simalakama. Salah satunya oleh Nouman Ali Khan yang mengistilahkan dengan “Evil vs Insane.”

“Evil”nya siapa? Ya Hillary Clinton itu hehehe.

Coba kalian cermati rekam jejak Hillary Clinton dan beralih sedikit dari konyolnya Trump 🙂. Mungkin maki-makian kalian ke Trump bisa lebih direm jadinya 😀.

Masih ingat dengan hangatnya perdebatan LGBT beberapa waktu lalu. Kalian sadar tidak sih kalau Hillary menjanjikan pelegalan pernikahan bagi kaum LGBT di mana Trump justru menolak? .

Beberapa teman saya yang begitu keras menolak pelegalan isu pernikahan LGBT dan isu seputar itu justru kini sangat gencar mendukung Hillary di Pilpres US 2016 ini.

Hillary hendak melegalkan aborsi bahkan saat janin sudah berada di trimester ke-3? Hillary mendukung perempuan atas hak mereka terhadap tubuh mereka sendiri. Tindakan yang dianggap sebagai gerakan “Feminazi” JUSTRU oleh sebagian kalangan perempuan.

Kedua isu ini dijadikan oleh beberapa kalangan misalnya “Nasrani konservatif” untuk memengaruhi orang dan menolak Hillary sebagai Presiden di ajang Pilpres.

Itu baru riak-riak kecil. Tuduhan lebih “medium”, Clinton memanipulasi hasil pemilihan internal Demokrat di mana seharusnya Sanders lah yang menang. Hal ini membuat tidak sedikit dari pemilih Demokrat ikutan bete. Karena banyak yang yakin justru Sanders lah yang lebih mampu menjegal Trump.

“Puncak”nya mungkin beredarnya bukti soal dukungan Hillary Clinton saat menjadi senator di tahun 2002 terhadap tindakan bersenjata di Irak yang menjadi salah satu perang paling kontroversi di seluruh dunia.

Kalian jangan mengira “western people” tidak habis-habisan mendemo Perang Irak ini lho ya. Termasuk warga US sendiri. Itulah makanya Hillary di ujung tanduk saat Wikileaks merilis bukti keterlibatannya di Perang Irak.

Sampai sekarang, siapa pun yang terbukti menyetujui serangan militer ke Irak di tahun 2002 itu, bisa menerima hukuman publik yang tidak sedikit.

Not mention, “peran” Hillary yang dianggap tidak kecil dalam konflik Libya dan Suriah.

Teman-teman, kalian sadar kan ya apa yang terjadi dan kini masih berlangsung di kedua negara tersebut? . Hillary is a part of it.

Perang dan bencana penderitaan besar (gambar : pixabay.com)
Perang dan bencana penderitaan besar (gambar : pixabay.com)

Sekaligus menjadi bukti nyata bagi kalian, masyarakat US pun menyesalkan intervensi pemerintah mereka di berbagai wilayah Timur Tengah. Mungkin begini cara mereka “menghukum” dan menunjukkan ketidaksukaan mereka pada politikus yang doyan “main tembak-tembakan.”

Tuh, pada dasarnya kita ini sejalan di banyak hal. Berhentilah berkutat di teori konspirasi nganu-nganu .

Secara penampilan, Hillary memang cerminan politikus sejati. Tenang, berwibawa, pandai berkata-kata. Tapi rakyat US sudah tergolong matang untuk saatnya merasa lelah dengan yang model begini hehehe.

Bukannya saya mendukung Trump. Amit-amit dah hahahaha. Tapi biar opini lebih berimbang saja, ya. Kalau rajin kulik-kulik media non US, mungkin lebih berimbang informasinya.

Enaknya gini, kalau rusuh di Eropa, cari media penyeimbang dari US. Demikian pula sebaliknya. Biasanya lebih “cair” nanti outputnya . CMIIW, ya.

Soal apakah penduduk US mayoritas pada dasarnya rasis dan seksis? Tunggu dulu. Golputnya saja hampir 50% lho . Masalah utama yang ada sekarang di sana condong ke masalah ekonomi. Sisanya itu hanya bumbu-bumbu saja .

trump-1350370_960_720

Pernah dengar pepatah, “Lebih baik menghadapi orang marah ketimbang orang lapar?” Nah, begitulah mungkin situasi di US sekarang. Dan di berbagai belahan dunia lainnya.

Jadi berhentilah merasa presidenmu adalah presiden terburuk di dunia hahahaha .

Because, globally, we’re all suffering now .

Udahlah lagi begini, dikurangilah itu yang negatif-negatifnya ya teman-teman *pelukSatuSatu*. Melawan ketakutan bersama bisa dimulai dengan melihat segalanya lebih dekat .