TK di Bintaro : Daftar Nama Sekolah, Bahasa Pengantar, Alamat, dan Biaya Sekolah

Dari tahun lalu cari daftar TK di Bintaro. Sebentar lagi mau jadi geng mamak-mamak Bintaro neeeehhh hihihihi. Insya Allah #boy1 dan #boy2 sudah diterima di sekolah yang kami inginkan. Kapan-kapan dibahas ya.

Baca Juga : “Cluster Bintaro Sektor 9”

Sekarang tinggal si #boy3 nih yang udah usia TK di Bintaro nanti. Tapi masa pandemi begini ogah-ogahan nyari sekolahnya. Saya siapin plan B, just in case, mau cobain homeschooling tahun ajaran 2020/2021 buat si bontot.

TK di Bintaro

Tapi kita lihat saja lah ya hehehehe. Kalau survey-survey online soal TK di Bintaro mah udah gencar dari kemarin-kemarin. Survey doang, catet-catetin aja hihihihi.

[Updated : untuk yang cari info sekolah internsional di area Bintaro dan sekitar, sudah saya bikinin postingannya juga ya. Monggo dicek di sini.]

Daftar nama sekolah, bahasa pengantar, alamat, dan BIAYA SEKOLAH untuk TK dan preschool di area Bintaro dan sekitar.

Note : berikut adalah informasi tahun 2018 dan 2019. Mohon dicek lagi perubahan biaya untuk update terkini.

1. Mutiara Harapan Islamic School

  • Alamat : Jl. Pd. Kacang No.2, Pd. Kacang Tim., Kec. Pd. Aren, Kota Tangerang Selatan, Banten 15227
  • Bahasa Pengantar : Bahasa Inggris
  • Biaya formulir : 300 ribu rupiah
  • Playgroup C Uang Pangkal : 12 juta rupiah
  • Uang Pangkal sampai TK B : 30 juta rupiah
  • Uang aktivitas / tahun : 1 juta rupiahSPP / bulan: 1,2 juta rupiah
  • Uang Ittihada / tahun : 125 ribu rupiah
  • TK AUang Pangkal : 19 juta rupiah
  • Uang aktivitas / tahun : 1,5 juta rupiah
  • SPP /bulan : 1,5 juta rupiah
  • Uang Ittihada / tahun : 125 ribu rupiah
TK di Bintaro

[Updated : Januari 2021, akhirnya untuk Mutiara Harapan ini, kami survey langsung minggu lalu buat si bontot.

Baca Juga : “Review Sekolah Mutiara Harapan Islamic School”

Ini saya bikinin vlognya, buat yang mau liat-liat video live langsung dari sekolahnya, ya. Dari lokasi sekolahnya maksudnya. Ada info biaya sekolah juga untuk masuk SDnya]

https://www.youtube.com/watch?v=oa5jaufZ8aU

2. TK RegnBue Bintaro

  • Alamat : Jl. Parkit Raya Bintaro Jaya Sektor 2
  • Bahasa Pengantar : bahasa Inggris
  • Uang Pangkal (sama semua level) : 5 juta rupiah
  • SPP bulanan (nursery 1 dan nursery 1) : 1,3 juta rupiah
  • SPP bulanan (kindergarten 1 dan kindergarten 2) : 1,35 juta rupiah
  • Biaya workbook / tahun : 250 ribu rupiah

Baca Juga : “Cluster Bintaro Sektor 9, Ini Dia daftarnya!”

3. Shining Stars

  • Alamat : Jl. Elang Blok Hf.1 No.15, Pd. Pucung, Kec. Pd. Aren, Kota Tangerang Selatan, Banten 15229
  • Bahasa Pengantar : bahasa Inggris
  • Biaya formulir : 100 ribu rupiah
  • Nursery (3-4 tahun) Uang Pangkal : 10,5 juta rupiah (sampai TK)
  • SPP (untuk yang jadwal masuk 3x seminggu) : 3,6 juta rupiah / term
  • SPP (untuk yang jadwal masuk 5x seminggu) : 4 juta / term
  • TK –> Uang Pangkal : 8 juta rupiah
  • TK –> SPP : 4,750 juta rupiah / term (9-10 minggu)
  • Seragam : (300-500 ribu rupiah)
  • Deposito Library : 500 ribu rupiah

4. KB – TK Pembangunan Jaya

Baca Juga : “Tara Salvia : Sekolah Idola Para Ortu di Bintaro dan Sekitar”

  • Alamat : Kawasan Komersial Blok JE Sektor 9 Bintaro Jaya, Jl. Maleo Raya, Pd. Pucung, Kec. Pd. Aren, Kota Tangerang Selatan, Banten 15413
  • Bahasa Pengantar : Bahasa Indonesia
  • Biaya formulir : 300 ribu rupiah
  • Psikotes : 150 ribu rupiah

Kelompok Bermain – TK B

  • Uang Pangkal : 16 juta rupiah
  • SPP / bulan : 1,1 juta rupiah
  • Ada pilihan full-day (sampai jam 4 sore) : + 500 ribu rupiah / bulan

5. Amanda Montessori Preschool

  • Alamat : Jl. Cempaka Raya No.44, RT.3/RW.11, Bintaro, Kec. Pesanggrahan, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12330
  • Bahasa pengantar : Bahasa Inggris
  • Biaya formulir : 100rb

Playgroup (2-4 tahun)

  • Uang Pangkal : 8,5 juta rupiah
  • SPP / term: 1,735 juta rupiah (usia 3) – jadwal masuk 3x seminggu

TK A & B (4-6 tahun)

  • Uang Pangkal : 9 juta rupiah
  • SPP / term: 2,820 juta rupiah

Baca Juga : “Catering Harian Masakan Rumahan Murah dan Enak di Bintaro”

6. Sunflower

  • Alamat : Bintaro Sektor 9, Jl. Titihan No.02, Parigi, Kec. Pd. Aren, Kota Tangerang Selatan, Banten 15224
  • Bahasa Pengantar : Bahasa Inggris
  • Biaya formulir : 250 ribu rupiah
  • Uang Pangkal : 11,4 juta rupiah (semua level sama)
  • SPP / bulan :Nursery : 1,65 juta rupiah (jadwal 4x seminggu), 1,75 juta rupiah (jadwal 5x seminggu)
  • K.1 : 1,85 juta rupiah
  • K.2 : 1,9 juta rupiah

7. Bakti Mulya 400 (BM 400) Bintaro ????

Ini agak bingung beneran ada di Bintaro gak ya hihihi. Soalnya alamatnya adanya di area Pondok Indah semua?

  • Bahasa Pengantar : Bilingual (Indonesia – Inggris)
  • Biaya formulir : 250 ribu rupiah

Playgroup

  • Uang Pangkal: 19,5 juta rupiah
  • SPP / bulan: 1,05 juta rupiah

TK A

  • Uang Pangkal: 15,5 juta rupiah
  • SPP / bulan : 1,2 juta rupiah

8. Khalifa IMS Bintaro

Ini info biaya per tahun ajaran 2020 / 2021 ya :

  • Alamat : Jl. Kampung Lio no.68 RT.2 / RW.1 Parigi Baru – Pondok Aren – Tangerang Selatan
  • Nomor telepon : 0217459891
  • Bahasa Pengantar : Bahasa Inggris dan Bahasa INdonesia (kurikulum Cambridge tersertifikasi untuk level TK sampai SMA. Kurikulumnya juga campur dengan Kurikulum nasional dan pendidikan Agama Islam)
  • Uang Pendaftaran : 250 ribu rupiah
  • Admission fee untuk 2 tahun : 19 juta rupiah
  • Material dan activity fee untuk setahun : 4,5 juta rupiah
  • SPP bulanan : 1,25 juta rupiah / bulan
  • School Committee bayar di awal : 400 ribu rupiah

Saya sudah main ke Khalifa IMS Bintaro ini beberapa minggu lalu, ini sempet bikin vlognya hehehehe, yang mau lihat lokasi sekolah dan live video dari dalam area sekolah, monggooooooo 😉

https://www.youtube.com/watch?v=Tl_RTLogkGM

Baca Juga : “Sekolah Tunas Indonesia :Sekolah Kurikulum Sejenis Cambridge dengan Harga Lebih Bersahabat”

9. TK BUdi Mulia Dua Bintaro

Alamat : Jl. Jombang Raya no.89, Jombang – Ciputat Tangerang Selatan

  • Bahasa Pengantar : Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia (menggabungkan kurikulum Cambridge, kurikulum nasional, dan pendidikan agama Islam).
  • Nomor telepon : 021 7456150
  • Uang Pangkal/uang gedung : 6 juta rupiah (bayar sekali saja untuk TK 2 tahun)
  • Uang kegiatan dibayar tahunan : 3.5 juta rupiah / tahun.
  • Uang Pendaftaran : 300 ribu rupiah
  • Uang seragam : 600 ribu rupiah
  • SPP bulanan : 800 ribu rupiah / bulan

Updated : Desember 2020 kami survey langsung nih ke sekolah ini. Tapi niatnya buat daftar SD. Kami sempat rekam langsung dalamnya sekolahan kayak apa. Ini sebagian gedung SD dan SMP yang kami tinjau tapi kira-kira ruangan di TK nya mirip kok.

Gedungnya oke nih yang Budi Mulia Dua. Kami skip karena kurikulum Cambridge cuma sampai kelas 3 SD saja. Sisanya lanjut pakai kurikulum nasional.

Berikut vlognya, ada info biaya sekolah untuk SD nya dalam info vlog ini :

10. TK Auliya Bintaro

Yang ini TK Islam terpadu. Alamat : Gedung Abu Bakar Ashiddiq, Jl Jombang Raya No. 39, Pondok Aren

TKIT : (021) 745 2897, Whatsapp :  08568523583, website : sekolahauliya dot sch dot id

  • Bahasa Pengantar : Bahasa Indonesia
  • Biaya Formulir : Tidak ada
  • Iuran bulanan : 1,35 juta rupiah
  • Biaya Masuk Sekolah (BMS) : 16,25 Juta rupiah 
  • potongan Gel 2 berlaku dari 1 Jan – 26 Mar 2022 : 1,5 juta rupiah
  • Biaya observasi : 400 ribu 
  • Iuran ISTIYA (Ikatan Silaturahim orangtua AULIYA : 250 ribu rupiah (dibayarkan setahun sekali)
  • Graduation : sekitar 300 – 350 ribu rupiah
  • Seragam 3 stel : sekitar 800 ribu rupiah
  • tidak ada catering
  • ada antar jemput
 

DANGAL : Parenting Challenge?

Nah, kalau yang ini film india yang bagus sekaligus mainstream, nih. Pasti banyak yang udah nonton. Film keluaran akhir tahun 2016. Nontonnya dah lama. Udah review di FB juga. Baru dipindahin ke blog hehehe.

Baca juga : “Film Andhadhun, Open Ending yang Seru.”

Tokoh pegulat perempuan 2 bersaudara ini beneran ada loh. Terinspirasi dari kisah nyata.

Tapi cerita dalam filmnya sudah banyak sekali dibumbui sana sini hehehe. Misalnya, sepupu-sepupu mereka ternyata juga pegulat semua :D. Bukan cuma pemanis cerita saja.

film india yang bagus
Amir Khan (aktor utama film Dangal) berpose dengan tokoh-tokoh asli di dunia nyata

Setidaknya Dangal itu mengajari kita sebagai orang tua kalau untuk mencetak anak selevel Geeta dan Babita memang butuh pengorbanan.

Gak bisaaaaa cuma modal “Yang penting anaknya bahagia. Kita cuma bisa mengarahkan” 🙈😁.

Namanya anak-anak, kalau dikasih pilihan, “Latihan soal atau main Roblox.” Ya otomatis biasanya bakal jawab, “ROBLOX” Hahahahaha.

Spoiler alert!
.
.
.

Lihat kan, gimana Geeta dan Babita awalnya stres banget digembleng sekeras baja oleh ayahnya (Mahavir Singh). Mereka merasa dipermalukan, perempuan kok ikutan gulat dengan segala penampilan yang ala-ala lakik (budaya India memang patriarki abis) dan sempat bete banget kepada sang Ayah.

Tapi begitu di pertandingan pertama, Geeta kalah, dia malah enggak bisa tidur dan ambisinya terbakar. Walau kekalahan itu tetap saja diperoleh dengan terhormat. Mereka bergulat melawan laki-laki karena kompetisi buat pegulat perempuan belum ada di wilayah mereka.

film india yang bagus dangal

Akhirnya terlihat, Geeta ternyata memang punya bakat dan passion untuk melanjutkan cita-cita ayahnya menjadi seorang pegulat. Setelah itu menang terus hingga akhirnya maju ke kompetisi internasional.

Baca Juga : “96 dan Geliat film-film Kollywood.”

Padahal awalnya, kedua anak perempuan ini nangis dan merajuk dilatih ketat oleh ayah mereka.

Memang inilah seninya. Gimana caranya kita berusaha agar mereka mengeluarkan kemampuan terbaiknya tanpa dipaksa berlebihan.

Dalam praktiknya kan enggak bisa lah mereka mempan terus-terusan dibujuk semanis madu untuk disiplin latihan piano misalnya buat yang kepengin anaknya menjadi pianis profesional.

Kadangkala sebagai ortu ya memang harus keras. Harus tega ;).

Saya pernah membaca biografi Nasution bersaudara, keluarga perenang, yang pagi-pagi buta sudah harus bangun dan latihan dibimbing oleh ayah mereka sendiri. Every. Single. Day.

Berat sekali menurut mereka di masa-masa awal. Pernah sampai menangis saking capeknya.

Juga Williams bersaudara (Serena dan Venus), mereka awalnya tidak 100% ikhlas untuk menjadi petenis profesional karena beratnya latihan yang harus dilalui.

Petenis-petenis Rusia itu juga ajegila lah masa kecil yang harus dilewati untuk bisa sampai di level dunia (y). Ada yang pernah pengin kabur dari orang tuanya sendiri. Rata-rata mereka dilatih langsung atau minimal di bawah supervisi orang tua masing-masing.

Tapi saat sudah menjalani kehidupan sebagai petenis pro, barulah airmata menitik terharu saat diwawancara “Siapa sih yang paling berjasa membuat kalian ada di titik ini.”

No regret :).

film india yang bagus

Jangan dikira anak-anak yang besarnya bisa punya prestasi gemilang begini masa kecilnya cuma rileks dan jalani takdir apa adanya :p. Nope. It took a super duper hard work for them (and the parents) to be the they that we know now:).

Ini yang sebenarnya juga sering menjadi momok. Buat saya pribadi sih. Saya takut menyesal tidak mengawal anak-anak dengan baik sehingga mereka gagal menjadi “versi terbaik” atas dirinya sendiri. Gagal membuat mereka mengeluarkan kemampuan terbaiknya.

Tapi terbentur dengan tekanan lingkungan kalau kita tuh gak boleh maksa, gak boleh ini, gak boleh itu, takut anak stres bla bla bla.

Padahal ya kalau terlalu rileks juga jadinya gitu, maunya main Roblox aje dari pagi ampe pagi lagi kalau perlu hahahahaha.

Menemukan titik keseimbangan ini yang kadang berat banget. Plus mempertahankan konsistensinya.

Ya kali ada anak-anak yang sedari kecil sudah mantap merintis cita-citanya. Justru kita sebagai orang tua yang harus membantu mereka menemukan dan mengasah bakatnya. Jangan malah dibalik ye kaaaaaannn :D.

Kalau kalian menganggap masuk sekolah favorit misalnya dengan perjuangan dan antrian warbyasak dengan segala prosesnya yang dianggap wakwaw adalah harga yang harus dibayar untuk masa depan lebih baik, then GO FOR IT! 💪💪💪

Saya lupa di film apa pas seorang Ibu ditanya, “Kamu gak takut anak-anakmu bakal benci sama kamu?”

“Tugas utama saya adalah memastikan mereka bisa menjalani hidup sebaik yang mereka sanggup bukan membuat mereka tergila-gila kepada saya.”

Suka kesel kalau ada yang sok-sok an, “Eh gue punya temen loh yang waktu sekolah gak jelas tapi sekarang hidupnya sukses.”

Apa iya SEMUAnya kayak gitu?

Woooiiii, jangan-jangan gue punya lebih BANYAAAAAKKKK temen yang pas sekolahnya gak jelas ternyata masa depannya juga gak jelas :p.

Jangan ngajarin yang gak bener, ah! 😅🙈.

Daftarin Anak SMP di Irlandia, Langsung diterima Tanpa Tes? Kok?

Bulan kemarin anak saya mendaftar SMP di sini, I live in a little town in Republic of Ireland. Terus denger cerita temen yang mau balik Indonesia yang daftarin anaknya sekolah di sekolah internasional Jakarta.

It’s pretty hard to let them belajar di kurikulum nasional. Jadi mereka memilih sekolah internasional.

Surprisingly, saya pikir asal mau bayar, langsung cuuussss. Lah masih kena waiting list. Katanya mesti tes dulu dan itu harus dilakukan sebelum Juni. Karena peminat banyak. Whaaattt?? Ribetnyaaaaa. Padahal bayarnya mahal ye kaaaan :D.

Sementara itu, minggu lalu dah dapat kabar kalau anak kami udah diterima di SMP lokal sini hihihihihi.

Prosesnya mudah sekali. Tinggal datang ke sekolah, lihat-lihat, nonton pidato-pidato bla bla bla, pihak sekolah mamerin sekolahnya, sekolah buaguuuussss <3. Terus udah. Pulang dan tunggu kabar. Gak ada tes gak ada apa pun. Sesimpel masukin nama doang sama nama SD (primary school) nya.

Terus tau-tau diterima hahahahaha.

Salah satunya lebih karena SISTEM PERSAINGAN HAMPIR TIDAK ADA. Penduduknya sedikiiiiiiitttt. Beberapa kali saya dengar kabar ada sekolah yang di-SHUT DOWN karena kekurangan murid dan pemerintah tidak bersedia mendanai lagi 😅🙈.

Ngomongin kualitas juga gak usah terlalu khawatir antara kota kecil vs kota besar. Gitu-gitu juga kok. Hampir sama. Gak sulit menjaga kualitas sekolah di negara penduduk cuma 5 juta ini.

Anak saya pas saya bilangin di Jakarta itu ada 10 juta penduduk, dia bengong hahahaha. Masa iya katanya satu kota jumlah penduduknya bisa lebih besar daripada di satu negara? Abis itu ya kita ngobrolin Cina dan India serta USA, which is easier karena dulu pernah tinggal di Texas.

Anak saya terasa kok perubahan nyata dari Ireland ke Texas dulu. Di Texas teman jauuuuhh lebih banyak, banyak award-award (semacam rengking tipis-tipis hihihihi). Di Ireland mana adaaaaaaa. Santuuuuuyyyyy hahaha.

Lah ngapain jugak, wong nanti tinggal daftar ke SMP lokal kemungkinan diterima 90% tanpa tes, kok. When in Ireland, kasarnya … we can see THE FUTURE.

When I’m taking about the FUTURE, itu satu paket sama bayangan kita terhadap anak-anak setelah lulus sekolah. Harus kuliah? Gak osah mah. Lulus SMA sudah boleh apply-apply kerjaan di supermarket dengan gaji yang cukup layak.

Terus nanti kalau mereka menikah dan punya anak, ya udah kebayang juga, wong sekolah gratis kok sampai gede, ada child benefit, ada tunjangan ana-unu kalau misalnya nganggur kelamaan, ada tunjangan sewa rumah segala (for emergency only ya).

Karena ibaratnya, asal mau dan tidak pilih-pilih, cari kerja di Irlandia tidak bisa dibilang susah. Lowongan pekerjaan gak pernah kurang-kurang rasanya. Slot buat 2-3 orang paling yang apply maksimal 10.

Di Jakarta, waktu masih kerja di MLI, pernah ngobrol sama HR soal lowongan pekerjaan admin yang sebenarnya cuma butuh lulusan SMA. Tapi yang apply bujubuneng, butuh cuma 5 orang, aplikasi yang masuk lebih dari 100!

Lulusan S2 pun ada. Mau tidak mau, HR harus melalukan “sistem kompetisi”. Akhirnya dicek IPK segala. Ya abis kadang bingung mau gimana menurut HR. Diambil lulusan SMA beneran ya perusahana juga gak mau rugi, kalo ada lulusan S1 ngapain ambil anak SMA?

Kalau lulusan S1 ada yang dari negeri, mereka prefer yang negeri. Kalau sama-sama dari negeri, ya terpaksa dicari lagi yang IPK palingn tinggi. Kalau mau wawancara satu-satu ribeeeeettt, apalagi cuma level admin bukan MANAGEMENT TRAINEE.

Tetangga atas saya tuh di Ireland sini, istri cleaning service di perkantoran, suaminya delivery pizza, sepatu-sepatu anaknya gonta ganti.

Anaknya suka main ke apartemen saya, sahabatan dengan anak-anak kami. Kusuka bingung sepatunya gak pernah sama hahahahaha. Merek gak usah sebut, stres kau nanti 😂😂😂.

Mereka ini anaknya satu tapi mobilnya 2! Karena dua-duanya kerja. Kerjanya ya itu tadi. Suaminya dulu-dulu pernah jadi tukang listrik terus kerja di restoran, sekarang jadi supir buat delivery.

Tempo hari saya ngobrol dengan sang isitri soal jaket dese yang terbaru. “Wow, cool coat” kata saya sambil mengedipkan mata. Dia cekikikan, “From Zara, very good price.”

Clening service di Indonesia coba di-data berapa yang bisa beli mantel di Zara? Jangan yang seken ye kaaan hahahaha.

Kerjaan-kerjaan kayak gitu tetap menawarkan gaji yang tidak jomplang. Bisa halan-halan ke negara-negara Eropa daratan. Bisa pakai baju-baju bermerek, pokoknya gak akan keliatan status sosialnya kalau cuma papasan di jalan.

That’s the life they had (mostly) in western europe. Kayaknya mirip sama Aussie dan Canada ya. Di US yo jelas bedaaaaaaa hahahaha. Gak seindah itu :p.

Saya tidak punya jawaban SISTEM PENDIDIKAN TERBAIK apakah yang cocok buat Indonesia. Cuma kumerasa agak nganu aja kalau kita terlalu sering berkaca mentah-mentah dari negara-negara yang menerapkan sistem “welfare state” dengan berbagai kondisi yang jauh berbeda dengan Indonesia :(.

Waktu tinggal di Bern(Swiss), sering ketemu mas-mas yang nenteng gitar naik tram. Mau kerja, katanya. Kerjanya ya gitu jadi pengamen di stasiun. Bajunya rapi, area tinggalnya juga lumayan. Ternyata semacam pengamen “resmi” khusus di stasiun itu. Bisa hidup layak euy 🥰🥰🥰 .

Bagai surga memang di Swiss, tapi surga mendadak mati lampu begitu kuterpaku dengan harga barang-barang di supermarket dan tentu saja … pajaknya yang aduhai walau tidak sesadis Jerman-Belanda.

Beda banget dengan Arab Saudi, yang gajinya turah-turah tanpa pajak, tapi tetep aja suka disangka pembokat hahahaha. Soal living in Saudi, saya udah sering cerita yes? Onak duri banyak tapi soal gaji, luar biasaaaaaaaaa mana kerjanya santai pula kata suami 🤑🤑🤑🤑.

Gusti Allah, adakah hidup di dunia yang senyaman di Indonesia urusan keramahan dan kuliner murah-murah, gaji Timur Tengah (waktu era tanpa pajak hahaha), teknologi secanggih US, sistem pendidikan santuy yang macam Finlandia (katanya), jumlah penduduk kek Ireland, pemandangan alam ala Swiss (minus winter hahahaha).

Uniknya, yang terkenal “ngeri” urusan otak malah etnis Cina dan India. Mereka sering dikritik karena terlalu kejam soal pendidikan ke anak. Tapi diaspora mereka terus menyebar “mengancam” dunia di mana-mana.

Sampai-sampai konon beberapa uni di US harus “membatasi” dan sedikit diskriminatif soal etnis saking banyaknya 2 etnis ini di sana. Sik, sik, nanti kucari sumbernya kutaro di kolom komentar, ya (y)

Jadi gimana? Ya gak gimana-gimana. Ya emang rumit kok. Sekadar mengamati aja kuudah merasa tet-tot, gak kebayang jika harus menjadi pemangku kebijakan.

Begitulah. C’est la vie.

Mengapa NADIEM MAKARIM? (Kontroversi Kabinet Kerja II)

Diantara hosip-hosip kabinet, nama Nadiem yang cukup tajam sorotannya. Usia paling belia dan latar belakangnya yang cukup ‘eksentrik’ untuk dunia pendidikan di tanah air.

Kalau buat mereka (eh, termasuk saya sih hehehe) yang bukan bagian dari ‘kalangan pendidik formal’, kayaknya excited dengan terpilihnya Nadiem Makarim di pos Pendidikan.

Tapi justru kritik banyak datang dari ya itu tadi … ‘kalangan pendidik formal’. Jangan dikit-dikit dianggap nyinyir dan baper lah. Justru kita harus cermati dentuman-dentuman yang datang langsung dari mereka yang berjibaku sebagai salah satu ‘jantung pendidikan’ di tanah air.

Kemarin ngobrol sedikit dengan teman yang sudah lamaaaa menjadi dosen di sebuah kampus ternama di tanah air. Yang bersangkutan juga level pendidikannya sampai S3. Buat saya pribadi, pendapatnya lumayan obyektif lah (y).

Level S3 ini agak beda dengan S1 dan S2, karena mereka benar-benar bergantung pada riset dan penelitian dst dst.

Sebenarnya kegelisahan kita sebagai orang tua di Indonesia (eh kalian deng, gue pan di Ireland hahahaha :p) adalah kurikulum milenial sekolah dasar yang kita anggap terlalu berat dan gak pernah konsisten :(.

Tapi mungkin kita lupa PENDIDIKAN TINGGI (S1, S2, dan S3) juga di bawah Kemendikbud. Tadinya sempat dipindahkan ke Ristek ya kalau gak salah, tapi tahun ini dibalikin lagi.

Nah, di sini mungkin bentroknya.

Sudah sekian lama saya terganggu sekali dengan lontaran macam, “Halah, ngapaian sekolah tinggi-tinggi. Noh, lihat si Chanel. Cuma lulus SMA, uangnya banyaaaaak. Lah si Fossil katanya professor, gajinya kecil.”

Makin ke sini kayaknya KESUKSESAN terlalu erat definisinya dengan PUNYA UANG BANYAK. Kalau bisa di usia semuda mungkin sudah tajir (kayak Kak Nadiem? #eh).

Saya rasa sudah sekian lama pun mereka yang berkarier di dunia akademis berusaha mengembalikan harkat dan martabat si ILMU ini. Berusaha mendidik masyarakat kalau ILMU pun adalah harta tak ternilai. Jangan sikit-sikit duit lah.

Hal itu yang membuat kita stres sendiri. Akhirnya lomba-lomba mengejar anak biar masuk jurusan yang kelak bisa menjadi sarang duit. IT misalnya yang terkini.

Boro-boro pengin anak bisa riset dan punya basis meneliti yang bagus. Pasti pada doain anaknya bisa cepat kerja di Google atau di Facebook hahahaha :p.

Mungkin hal ini yang diperjuangkan oleh sebagian tenaga pendidik di tanah air. Dan mereka merasa ‘dikhianati’ dengan munculnya sosok Nadiem Makarim yang justru MEWAKILI generasi milenial yang cita-citanya kok kayaknya melulu mengukur kesuksesan dengan harta (berupa uang dan semacamnya).

Kok malah bertolak belakang dengan semangat mencetak sarjana-sarjana perguruan tinggi yang mampu fokus dengan bidang ilmu dan mempergunakan pengetahuan untuk mengabdi ke masyarakat tidak hanya berdasarkan hasrat haus gaji gede aja gitu.

Nadiem Makarim memang cocok untuk industri ekonomi kreatif. Tapi kita harus jujur lah, dunia penelitian ini memang agak-agak jauh hawa-hawanya dari yang ‘hedon-hedon’ begini-beginian. Kukasih tanda kutip biar gak salah paham.

Peneliti itu basisnya idealisme yang seringkali memang harus rela dibayar seadanya. The ugly truth we must accept. Begitulah dunia ini adanya hehehe. Di negara-negara maju pun problemnya sama kok ;).

Nah kira-kira begitu kegelisahan teman-teman dari tenaga pendidik (utamanya di perguruan tinggi) terhadap penunjukan sosok Nadiem ini.

Khawatirnya sosok Nadiem malah makin menyuburkan salah kaprah soal definisi ‘KESUKSESAN’ ini, terutama di bidang PENDIDIKAN.

Tidakkah kita lelah dengan dunia yang makin ke sini menuntut generasi terkini untuk cepat-cepat cari uang yang banyak hahaha.

Sudah saatnya kita sama-sama sadar tentang pentingnya ILMU yang pernah saya tulis dulu merupakan harta yang paling tidak menyusahkan, paling mudah di bawa ke mana-mana. ILMU itu spesial, makin banyak kita beri eh makin banyak yang kita terima ^_^.

Jangan semua-mua diukur pakek receh ama uang kertas gitu hehehe ;).

I got the point (y). Paham banget insya Allah. Tapi bukan berarti setuju hehehe.

Saya mah tetap percaya, who can tell where the road goes, only time … seperti lirik lagunya Enya :).

Coba berilah kesempatan dulu buat Nadiem Makarim. Kita tunggu gebrakan-gebrakan beliau. Diawasi terus (y).

Semoga kritikan-kritikan yang masuk bisa menjadi pertimbangan beliau dan tim di Kemendikbud.

Kalau nanti gak perform kan tinggal diganti, dulu udah pernah kan? Hehehhehe :p.

Tapi buat teman-teman lain ya jangan diolok-olok lah kritikan dari kalangan pengajar dan pendidik ini hehehe. Dianggap old school lah, dinosaurus yang gak peka perubahan zaman lah, dst dst dst.

Santai ajaaaaaaaaaaaa :D.

Coba yuk, kita lihat dari sudut pandang mereka. Sebagian sudah saya tulis di atas :).

“Real education should consist of drawing the goodness and the best out of our own students. What better books can there be than the book of humanity.“
Cesar Chavez

Think about it 🙏.

gaji di Indonesia

Life Goes On … :)

Ngomongin gaji di Indonesia termasuk hal yang cukup “sensitif”. Makanya banyak yang enggan terbuka soal ini.

Kisaran gaji secara umum, bukan cuma gaji di Indonesia loh ya, memang tergantung field masing-masing dan PERKEMBANGAN ZAMAN.

Jurusan kuliah saya dan suami kan memang di tahun segitu-segitu masih dianggap BARU. Jaman saya SMA mah, kayaknya semuaaaaaaaa kerabat yang kenal sibuk membujuk sama masuk Kedokteran Umum.

Kakak-kakak saya yang anak Teknik Elektro sibuk membanggakan jurusannya dan menyarankan saya pilih Elektro jugak. Makanya pas daftar mau pilih ILMU KOMPUTER diem-diem aja, takut dinyinyirin duluan jadi gak konsen entar ujiannya :p.

Waktu masih bekerja dan belum punya anak, saya pernah janjian makan malam bersama teman lama saya yang kebetulan lagi melanjutkan sekolah di Jakarta. Dia, bersama suaminya, sama-sama lulusan kedokteran umum dari perguruan tinggi negeri tempat kami berasal. Dokter, cyin.

Sepasang suami istri yang sama-sama lagi ambil spesialis.

Karena saya sebagai pihak pengundang jadi kudu memuliakan tamu dong, ya. Setahu saya, teman ini suka sekali masakan Jepang. Jadi kami ajak ke Sushi Tei.

Bertemulah kami berempat di sana. Dia bersama suaminya, saya bersama suami saya.

Obrolan pembuka yang standar antar suami, suami teman yang bertanya duluan, “Kerja di mana, Mas?”

“Oh, saya kerja di telco.”

“Perusahaan apa, ya?”

“Eri*****.”

Suami teman langsung mengangguk-angguk, “Wah, asyik, dong. Jago benerin hp berarti, ya.”

Hahahaha. Waktu itu saya setengah mati menahan ketawa sementara saya tahu pasti, suami pasti gondok bukan kepalang.

Setelah puas tertawa, sebagai istri yang salehah, saya tentu menghibur suami , “Jangan gitu lah. Sekolah kedokteran itu sibuknya gak tanggung-tanggung, Bang. Manalah mereka bisa se-update kita yang kerjanya banyakan browsing internetnya hahahahaha.”

Waktu lagi mengobrol dengan teman-teman sesama ibu-ibu telco di Jeddah lebih banyak lagi cerita lucu. Paling juara cerita teman satu ini. Kita anggap saja namanya Ibu Telco yang sedang berbincang-bincang dengan temannya, Ibu Kepo .

Ibu Kepo : “Suami kerjanya apa sih, Bu?”
Ibu Telco : “Telco engineer.”
Ibu Kepo : “Apa itu?”

Ibu Telco : “Telekomunikasi, Bu. Kerja di perusahaan telekomunikasi gitu.”

Ibu Kepo langsung merasa paham, “Oiyaaaaa, capek juga itu, ya kerjanya. Saya sering lihat lho, kalau di jalan-jalan ada orang manjat-manjat di tiang-tiang sambungan telepon. Aduh, bahaya juga itu kerjanya, ya.”

((MANJAT-MANJAT TIANG))

????

Tapi dunia terus berputar ya. Jika dulunya anak-anak MIGAS atau tambang dan anak-anak Telco jumawa gampang dapat kerja dengan gaji maksimal, sekarang dunia IT yang kembali berjaya ;).

Sektor Telco sudah banyak yang kena optimasi saking canggihnya teknologi KECERDASAN BUATAN sekarang.

Vendor telco sudah mulai surut. Banyak layoff di mana-mana. Sedih :'(. Mau pulang ke tanah air, kantor cabang sana malah sibuk pecat-pecatin karyawan ??.

Temen-temen di MIGAS juga banyak yang dirumahkan. Anjloknya harga tambang juga menghajar sektor kerjanya.

Makanya adaik-adik yang enggak lulus di PTN impian jangan sedih atau berputus asa ;).

SEKARANG, era START-UP dan YOUTUBER (dan ENDORSER) ???.

Dunia terus berputar. Banyak yang sedih kehilangan kesempatan kerja yang dulu berlimpah tapi banyak yang juga hepi dengan kesempatan-kesempatan baru yang menanti.

Makanya anak-anak harus bener-bener kudu diajarin biar KUAT dan ULET, terus belajar, gak boleh KUDET ^_^. ATTITUDE adalah segalanya no matter what ;).

Sekarang serem, banyak yang INSTAN. Kalau mental enggak kuat, nanti bisa layu sebelum berkembang.

Sudah banyak kisah seleb-seleb instan yang akhirnya tumbang satu per satu karena belum sempat mengasah keuletan sudah keburu tenar dan akhirnya bingung sendiri, stres sendiri dihajar gaya hidup yang ketinggian yang belum seharusnya mereka jalani :(.

Akhirnya banyak sekuter (selebritis kurang terkenal) yang terjerumus ke dunia prostitusi, rame-rame pakai narkoba (kadang juga dipakai buat dopping).

Saya berempati pada para korban narkoba dalam beberapa hal :(. Apalagi kalangan selebriti. Mumpung lagi banyak job, banyak yang kerja mati-matian sampai harus bergantung pada obat-obatan terlarang :'(. Selagi banjir tawaran, HAJAAARRRRR. Karena mereka sadar, bintang-bintang baru akan segera muncul membenamkan mereka :(.

Kalo abis sembahyang, selalu sempatkan berdoa buat anak-anak, seperti lirik lagunya Chrisye “Hanya padaMu Tuhan, tempat kami berlindung dari semua kepalsuan dunia. Gusti Allah, titip anak-anak.”

Era digital, banyak kesempatan tapi makin banyak pula cobaannya *ngelapKeringat*.

Jadi pengin nyanyi,

“Life asks no question, it goes on without you.
Leaving you behind if you can’t stand the pace.”

gaji di Indonesia