Siapa Suruh Datang Jakarta?

Ini cerita tentang Jakarta :D.

Mungkin sama dengan sebagian perantau asal pulau lain, saya datang ke Jakarta karena awalnya karena sekolah. Selepas SMA, hasil UMPTN di tahun 1998 mengabulkan doa saya untuk bisa tinggal di ibukota! :D.

Tidak sedikit teman-teman SMA yang memimpikan kota lain seperti Bandung atau Surabaya, tapi saya sejak awal sudah keukeuh…it has to be Jakarta! *kencenginIkatKepala*.

Naik KRL Ekonomi pertama kali dari Kalibata menuju Stasiun UI. Di situ saya baru ngeh ternyata kampus saya adanya di Kota Depok, bukan bagian dari ibukota. Meleset sikit lah hahaha. Toh di Lagu “Genderang UI”, liriknya tetap ngotot, “Universitas Indonesia, Universitas kami, IBUKOTA negara, pusat ilmu budaya bangsa” *kibasJaketKuning*.

Siapa suruh datang Jakarta

Pertama kali naik kereta ya di Jakarta itu hihihi *ngikikNorak*. Pikir saya, penuh amat keretanya. Enggak bisa duduk. Padahal itu belum seberapa dengan kondisi KRL Ekonomi di jam-jam sibuk.

Saya mendaftar ulang ditemani salah satu kakak saya. Saya kebingungan nyari lokasi untuk mendaftar ulang, kakak saya malah pecicilan ke mana-mana, “Eh nanti ke sana ya, nanti ke sini yuk!” Dese malah sibuk mau mejeng hahaha.

“Cari balairung dulu! Harus daftar ulang nih!” Jawab saya kesal.

Ternyata, itu bukan perkenalan pertama dengan KRL Ekonomi. Selesai sidang terakhir, saya dapat kerja sekitar 2 minggu setelahnya. Lokasinya pas banget. Persis depan Stasiun Cikini. Asyiiiiik, bisa naik KRL Ekonomi. Saya dengar, karcis bulanan/abonemen KRL Ekonomi itu murah bangeeeetttt hahaha *ngakakKikir*.

Awal naik KRL Ekonomi tahun sekitar April-Mei 2002, abonemen cuma 10 ribu rupiah lho Kakak. Bisa naik KRL Ekonomi sepuasnya! 10 rebu tapi kondisinya ya gitu deh :p.

Ini lhooo yang namanya KRL Ekonomi hihihi

Hari pertama bekerja, wangi-wangi dari kosan naik ojek menuju Stasiun UI. Masih ngekos di tempat lama di Kukusan Kelurahan. Tidak terlalu ramai di stasiun. Saya optimis bisa tiba di kantor tepat waktu. Masih 15 menit menuju jam 7 pagi. Prediksi 40 menit dari Stasiun UI hingga Stasiun Cikini.

Begitu kereta datang, saya mau pingsan rasanya. Gilaaaaaaa, bukan cuma di pintu orang berjejalan, yang duduk di jendela juga banyak! Hahaha. Bahkan yang naik di atas atap juga ada. Astaganaga, gimana naiknya iniiiiiii?

Jadi saya melongo saja saking syoknya sampai kereta akhirnya berlalu.

Mungkin karena saya terlihat seperti orang bingung, ada mas-mas yang negor, “Mau ke mane, Neng?”

“Cikini, Mas.”

“Lah harusnya naik tadi. Kenapa gak naik? Mumpung keretanya agak lowong. Nanti abis ini biasanya lebih penuh lagi.”

APPAAAAA, AGAK LOWONG? Agak lowong aja segitu ya, duh Gusti, rasanya mau pingsan untuk kedua kalinya! Hahahaha.

Tiba di Stasiun Cikini, baju sudah kusut. Ada kali ngabisin waktu 10 menit kipas-kipas dulu di stasiun sebelum nekat masuk ke gedung kantor. Minimal biar keringat kering dulu ya, Cyin :D.

Setelah semingguan naik KRL Ekonomi, akhirnya jagoan juga #benerinPoni.

Jadiiiii, setelah mengamati embak-embak lain yang diduga juga penumpang tetap karena sering ketemu di jam yang sama, saya belajar sedikit-sedikit cara meloloskan diri masuk ke dalam kereta dalam kondisi sehoror itu hahaha.

Cukup berdiri manis bersama penumpang lain. Baca bismillah, lemaskan badan. Jangan ikut mendorong. Biarkan saja kita maju oleh penumpang lain di belakang. Badan pegel dikit tahan saja. Nanti lama-lama terbiasa. Makin kita ngotot makin sakit rasanya badan kena sikut dan kena dorong.

Nanti kalau sudah naik, pelan-pelan menyusup ke dalam. Biasanya yang dalam lumayan lowong lah. Yang penuh memang dekat pintu. Tapi jangan bayangin lowong yang gimana-gimana. Minimal kedua kaki bisa napak sudah bagus itu itungannya hahaha. Syukur-syukur mepet jendela jadi kena AC, angin cepoi-cepoi hahahaha.

Dari pengalaman 4 tahun naik KRL Ekonomi, saya salut dengan para pedagang yang rata-rata berangkat dari Bogor atau Bojong. Ada ibu-ibu paruh baya yang sepanjang perjalanan menggendong sendiri keranjang belanjaannya. Umumnya sebagian besar turun di Stasiun Manggarai.

Sempat beberapa kali saya merasakan yang namanya telat ke kantor karena kereta ngadat hihihi. Entah mendadak mogok di tengah jalan atau tertahan di Manggarai sampai lebih dari sejam. Maklum angkutan paling rendah kastanya di atas rel kali ya hehe, jadi harus mengalah dengan kereta-kereta luar kota yang juga menggunakan jalur yang sama.

Malu lah mau mengeluh kalau lihat mereka *tutupMuka* :).

Pernah juga KRL tidak beroperasi dan diumumkan di stasiun. Padahal habis lembur di kantor, jam sudah menunjukkan pukul 9 malam. Untung punya geng kereta yang sama-sama tinggal di Depok. Naik taksi deh rame-rame. Argonya bisa tembus 50 ribu rupiah. Untung cuma sekali-sekali :p.

Gambar : antaranews.com

Paling seru waktu Jakarta dilanda mati lampu massal. KRL Ekonomi mogok di tengah jalan. Yassalam. Mogoknya bukan dekat stasiun pula. Setelah menunggu 2 jam, para penumpang akhirnya memutuskan turun dan jalan kaki ke stasiun terdekat. Sudah kayak pasar malam. Sampai di stasiun rebutan naik angkot menuju Depok dan tujuan lainnya hahaha.

Rame banget karena bayangin itu isi beberapa KRL Ekonomi bergerbong-gerbong tumpah ke jalan semua :D.

Sebagai orang Bugis dari Sulsel, posisi saya selalu minoritas di hampir semua komunitas. Di kampus, di kosan, dan di kantor.

Pernah waktu masa orientasi di kampus diajak ngobrol sama mahasiswi asal Jakarta (kalau dengar logatnya), “Lo SMA mana?”

“Dari Ujung Pandang,” kata saya.

“Oooo Sulawesi ya. Ya ampun, seumur idup gue ini baru pertama kali lho gue ketemu sama orang Sulawesi.”

Ya Allah ini eike harus nangis apa ketawa hahaha.

Adaptasinya juga lumayan. Dari kendala bahasa sampai karakter. Sifat kami di Sulawesi kan umumnya meledak-ledak ya hihihi. Tak pandai menyembunyikan isi hati. Tak lihai berbasa basi. Terasa A ya keluarnya A. Ini lumayan banyak cerita lucunya. Dah sering saya tulis sih. Cari sendiri di blog hahaha.

Pekerjaan pertama saya adalah software developer/programmer di end user. Jadi akrab sama user karena tiap hari ketemu user yang sama di divisi yang itu-itu juga. Mereka suka menggoda, “Jee, bahasa Bugis dong, bahasa Bugis dong … ”

Kalau saya berbahasa  Bugis abis itu mereka tepuk tangan sambil ketawa-ketawa. Dikate topeng monyet hahahaha :p. Enggak apa-apa, anggap saja itu karma karena waktu di kantor saya dikenal sebagai anak yang bawel alias super cerewet, sering ngebully orang, dan gampang naik darah hahaha.

Saya suka iseng mengeluarkan umpatan dalam bahasa Bugis mumpung enggak ada yang paham :p. Sebaliknya teman-teman kantor yang waktu itu mayoritas Jawa membalas dengan bahasa Jawa hahaha.

Saya mengajarkan beberapa kata dalam bahasa Bugis kepada teman-teman kantor. Populer itu dulu kata-kata “Ceba” dan “Beleng”. Ceba = monyet, beleng = semacam gila-gila gitulah :p. Ngajarin yang kagak-kagak hahaha.

Setelah hampir 4 tahun di Cikini saya pindah kerja ke daerah Sudirman. Tetap naik KRL Ekonomi dong, dong, dong :p. Beda jurusan saja.

Kemudian saya pindah kosan ke Pancoran. Era baru dimulai. Habis KRL Ekonomi, terbitlah Metromini 604! Waduh, kompetisi naik angkot juga tergolong sulit. Belajar lagi dari awal hahaha.

Mau berangkat pagi pun, sulit mau dapat tempat duduk. Ribet berdiri di Metromini karena ada posisi kursinya gitu. APalagi macet bikin stres huhuhu. Ya sudahlah. Cemungud eaaaaaaa ^_^.

gambar : malesbanget.com ( JG Photo/Safir Makki)

Terus saya pindah kantor lagi ke Gatsu. Nah di Gatsu ini kantornya ternyata punya gym. Duh, saya dari gadis emang tergila-gila exercise saking takutnya gemuk hahahaha :p.

Di kantor ada gym gratis buat para karyawan. Lengkap dengan kamar mandi dan segala perintilannya termasuk sampo, sabun, handuk sampai jus dan teh buat disantap selepas nge gym. Ya iyalah, kerjanya di salah satu Consumer Goods yang cukup hits di tanah air.

Selepas salat Subuh, enggak usah mandi langsung melesat ke kantor. Jam setengah 6, Metromini alhamdulillah masih nyisa 2-3 kursi hihihi. Gym buka jam 6 pagi. Belum terlalu macet jam segitu. Jadi, nyampe kantor masih sempat ganti baju baru terus lari-lari di atas treadmill :D.

Kadang cuma sendiri di gym hingga jam 6.30 datang karyawan lain 2-3 orang. Tenang saja, ada personal trainer sama embak-embak yang jagain gym :D. Tetap bisa bergosip kitaaaaa hahaha.

Setelah menikah, suami yang nganterin ke kantor. Kasihan juga sih. Dese harus muter ke Widya Chandra buat ngedrop saya padahal kantornya di PIM hihihi. Waktu itu ke PIM dari arah Pejaten kondisinya masih sangat bersahabat ;).

Iya, iya, pasti pada ngomel, sudah tahu susah ngapain pada berbondong-bondong menyerbu ibukota.

Ah kamyu jangan nyinyir atuhlah, sudah pernah merasakan tinggal di Sulawesi-Kalimantan-Maluku-atau Papua? :p. Kalau belum ya sudahlah.

Terngiang salah satu lagu lawas yang sering didendangkan para pengamen di tengah penatnya dan sesaknya kondisi dalam KRL Ekonomi di pagi dan sore hari. Lirik lagu yang membuat beberapa dari penumpang senyum-senyum nyengir, termasuk saya :D.

“Siapa suruh datang Jakarta, siapa suruh datang Jakarta,

Sendiri suka, sendiri rasa. Edo’e Sayaaaang…”

Selamat ulang tahun Sang Ibukota!

Terus berbenah Jakarta-ku <3.

-Texas, 22 Juni 2017-

 

The Lone Star Moslem

Empat tahun terakhir, lebih banyak menghabiskan bulan puasa di Irlandia. Puasa di Ireland itu benar-benar “sunyi”. Dibandingkan suasana Ramadan 3 tahun berturut-turut sebelumnya yang 100% saya habiskan di Kota Jeddah, Arab Saudi.

Waktu di Jeddah, selama 3 tahun itu tidak pernah mudik lebaran. Gimana mau mudik, justru menjelang dan pas hari raya Idul Fitri, suami kebagian “jaga kandang” melulu. Musim haji apalagi. Sibuk abis! . Hanya sempat off dari kerjaan pas kebagian jatah naik haji tahun 2012 kemarin .

Di Jeddah ramai banget komunitas Indonesianya. Jadi bulan puasa tuh pecicilan mulu karena undangan buka puasa hampir saban weekend (kamis-jumat).

Buka Puasa Bersama Pengajian Salehah, Jeddah – Arab Saudi 2012

Suhu panas enggak masalah. Di Jeddah mah, melipir ke warung depan gedung apartemen saja pasti naik mobil kok hahaha. Apartemen pun full AC semua rata-rata.

Di Ireland komunitas muslim ya ada juga. Tapi muslim Indonesia minim banget . Apalagi saya tinggalnya di dusun nan jauh di mato hehehe. Kota Athlone yang jaraknya sekitar 2 jam dari ibukota Dublin. Tenang, “Lone Ranger” kayak saya cukup menikmati “kesunyian” model begini .

Mungkin juga ribet karena bulan puasa sejak tahun 2014 itu jatuhnya di puncak musim panas semua. Yup, pernah ngerasain puasa 19 jam ala Eropa .

Sebenarnya enggak perlu lebay karena kondisi cuaca itu besar banget lho pengaruhnya ;). Musim panas pun, kadang cuaca di Ireland mentok di 14 derajat hahaha. Belum lagi anginnya. Kelembaban juga rendah di negara-negara 4 musim pada umumnya. Panas pun, susah untuk keringat.

Badan wangi melulu makanya malas mandi #eh hahaha.

Tahun lalu, saya puasa di Athlone sambil ngangon 3 anak. Suami sempat assginment ke Texas 2 minggu. Anak-anak belum libur. Jadi dari pagi sudah sibuk nganter bocah-bocah ke sekolah. Pulangnya baru belanja-belanja baik belanja buat kebutuhan dapur maupun buat iseng-iseng lihat diskon musim panas hahaha.

Siangnya pergi lagi jemput anak-anak pulang sekolah.

Semua acara wara wiri saya di Athlone kalau suami lagi tidak ada ditempuh dengan … jalan kaki! Itu juga masih aktif menyusui karena adek bayi tahun lalu umurnya baru 8-9 bulan pas Ramadan.

Puasa 19 jam alhamdulillah tidak ada masalah . Suhunya adeeeeeemmm . Kendala utama karena kurang tidur saja . Ngejar waktu berbuka puasa dan sahur yang jaraknya cuma 4-5 jam saja.

Berfoto di depan pintu masuk gedung apartemen, Athlone 2013 :D, anak masih 2 booo hihihi

Lucunya pas mudik beberapa hari sebelum lebaran, puasa pertama di Jakarta saya sama suami lemas gitu padahal cuma 13 jam. Keringetan booooo hihihihi. Jam 4 sore saya sudah rebahan tidak berdaya .

Sibuk ngejar-ngejar anak-anak yang sudah seperti bola ping pong kalau menginap di rumah Opa-Oma yang kata anak sulung saya, “It’s a mansion not a house.” Hahaha. Kebiasaan tinggal di apartemen imut-imut .

Tahun ini kembali merasakan suasan baru. Bulan puasa perdana di Negeri Paman Sam. Bulan puasanya juga di musim panas. Menurut prediksi, musim panas di Texas bisa mencapai 40 derajat.

Sudah bulan Juni tapi malah cukup sering hujan dan mendung di wilayah Texas bagian utara ini. Puasanya sekitar 15.5 jam. Lebih pendek daripada di Irlandia. Tapi ya itu, iklimnya secara umum panas dan lembab daripada wilayah-wilayah di Eropa Barat.

Komunitas muslim di Texas (sekitar Dallas-Fort Worth) juga lumayan banget. Termasuk muslim dari Asia Tenggara. Setidaknya pilihan toko daging halal dari lokasi apartemen saya bisa 4-5 toko, lho. Bumbu-bumbu Asia jauh lebih lengkap dan mudah ditemukan.

Texas, negara bagian yang memiliki jumlah muslim terbesar menurut data tahun 2010 dari Huffington Post. Dari total 25.2 juta jumlah penduduk di Texas, ada sekitar 422 ribu umat muslim. Secara persentase masih kalah dengan New York persentase umat muslimnya mencapai 2% dari total penduduk di New York.

Saya pernah ke masjid di Kota Plano, salah satu kota paling hits di seantero Dallas-Fort Worth Metropolitan. Plano ini kota industri yang cukup maju. Banyak perusahaan besar level internasional yang buka lapak di sini.

Masjidnya gede, rapi, dan bersih. Selain salat 5 waktu, masjid punya banyak kegiatan lain seperti Summer School buat anak-anak muslim, les bahasa Arab, ceramah-ceramah akhir pekan, dsb. Semacam Islamic Center begitu, ya.

Menurut data tahun 2012, ada lebih dari 2 ribu masjid yang berdiri di seantero Amerika Serikat. Sebanyak 166 masjid ada di Texas. Mungkin sekarang sudah banyak masjid baru berdiri .

Umat muslim benar-benar menggeliat di wilayah selatan Amerika Serikat ini. Termasuk komunitas muslim Indonesia. Wah, komunitas orang Indonesianya rame bangeeeeeet .

Selalu senang ya ketemu teman-teman baru . Ada bahan gosip baru dan bisa kepo-kepo sana sini lagi hahaha. Di luar bulan Ramadan, ada pengajian mingguan, pengajian bulanan, pengajian komunitas A, pengajian komunitas B, dst, dst.

Termasuk acara semalam, nih. Buka puasa bersama komunitas muslim Indonesia-Malaysia yang di luar bulan Ramadan memang punya acara pengajian keluarga tiap bulannya.

Semalam saya ingin mengobrol dengan teman-teman yang aktif di kepengurusan. Ingin tanya ini itu bla bla bla, situ wartawan? Hahahaha. Apa daya, mayoritas waktu saya habis buat ngejar-ngejar si Baby3, zzzz . Salat Isya saja tidak sempat .

Yang menghadiri acara, jika ditotal jumlahnya mungkin hampir 200 orang. Tapi menurut teman, yang hadir tadi malam jauh lebih banyak daripada tahun lalu. Tenang saja, makanannya tetap banyak kok hahaha.

Btw, ini bukan satu-satunya komunitas muslim Indonesia-Malaysia di Texas bagian utara (Dallas-Fort Worth dan kota-kota satelit di sekitarnya).

Umat muslim terbanyak di wilayah Texas berada di Kota Houston dan sekitarnya. Ini di wilayah selatan Texas. Dallas-Houston bisa ditempuh sekitar 4 jam.

Diperkirakan total umat muslim di Amerika Serikat mencapai 3.3 juta orang di tahun 2015. Bandingkan dengan penduduk Irlandia yang hanya 4-5 juta orang saja . Cukup banyak tapi sangat minoritas dibanding 325 juta total penduduk US.

Teman-teman muslim di Texas, so far merasa nyaman tinggal di sini . Tidak sedikit yang sudah beranak pinak dan bahkan sudah berpaspor hitam . Lingkungan enak, pendidikan bagus, dan nyaris tidak ada represi dalam urusan keagamaan .

Sekolah Islam saja ada lhooo . Ini kita keep di topik “Sekolah Anak di Texas”, ya .

Central Park, Frisco, Texas 2017

Tapi belum berani mengambil kesimpulan apa-apa karena pendatang baru ya Cyin hehehe. Takut salah ngomong . Sekarang situasi lagi hot-hot pasca ganti presiden, ya, hehe. Kapan-kapan kita ngobrolin ini lagi deh . Entah kapan maksudnya hahaha.

Video semalam kualitasnya kurang bagus. Cuma pakai ponsel. Mau bawa GoPro kok ya takut gimanaaaa gitu. Maklum masih newbie, entar disangka ini emak-emak norak kali mau ngapain sih hahaha. Itu juga ngerekamnya sambil ngangon bocah jadi gambar goyang-goyang .

Terus enggak enak hati sama yang lagi salat. Bukannya ikut salat hihihi. Padahal salat telat juga karena jagain anak bungsu.

Acara berlangsung di sebuah aula publik di Kota Euless. Pintu masuknya ada 4. Nah, semalam anak bungsu saya tawaf dari satu pintu ke pintu yang lain di hampir sepanjang acara, duh Gustiiiii *pijetBetis*.

But overall, kehidupan muslim secara umum di The Lone Star State sini nyaris tidak menemui kendala apa-apa . Tidak susah menemukan masjid dan toko halal maupun komunitas muslim. Insya Allah tetap begitu selamanya, ya. Aamiin.

Walau tentu harus diakui, ada saja kejadian yang kurang menyenangkan dalam menghadapi perbedaan di dalam kehidupan sehari-hari. Tensinya pun jelas meningkat pasca Pilpres US 2016 silam.

Like I’ve always said, hidup di dunia memang tidak akan pernah sempurna. Tapi selalu ingat, KITA SEMUA adalah bagian dari ketidaksempurnaan tersebut .

Kita seharusnya bekerja lebih keras untuk menyiarkan kedamaian. Memperlihatkan bahwa kita itu bisa lho hidup damai dalam perbedaan. Menunjukkan kalau ada tempat-tempat di dunia ini di mana kalian bisa berjalan bebas tanpa mesti menyembunyikan identitas agama kalian dan kalian tetap mendapat kedamaian dan penghormatan dari orang lain.

Setidaknya itu yang saya rasakan sebagai muslimah berjilbab di negara mayoritas Katolik di Irlandia dan so far…tetap saya rasakan selama 5 bulan tinggal di Amerika Serikat .

Kita harus terus menghidupkan harapan tentang “dunia yang damai” itu ADA dan insya Allah bisa kita perjuangkan.

Setop adu domba, yuk! . Setop menyebarkan kebencian untuk hal-hal yang bahkan kita sendiri tidak tahu .

(Alquran 49:13] “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku SUPAYA KAMU SALING KENAL MENGENAL. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Itulah salah satu gunanya merantau bukan? .

Spread love not hate ♥.

Selamat melanjutkan ibadah puasanya ya teman-teman.

-Texas, Juni 2017-

Please Be Careful With Your Heart ;)

“Pulang, Bang! Gila ini, sih. Sudah kacau banget. Pulang aja mendingan.” Saya ngomong di telepon ke suami sambil melotot melihat tayangan berita di televisi.

“Apaan sih? Baru jam segini. Iya, entar pulang. Jam 5 kayak biasa.”

“Wah, kacau, kacau! Pokoknya pulang. Coba nonton berita! Sekarang!”

Terus saya menonton berita lagi dengan khusyuk. Kerusuhan di beberapa tempat sampai ada korbann tembak segala. Makin tidak tenang karena suami kagak pulang juga *pijetKening*.

Saya telepon lagi.

Karena jengkel suami ngomongnya mulai ketus, “Hadeeeeeh, mending sana jalan-jalan ke luar gih. Kayak orang gila aja. Atau intipin di jendela ada ribut-ribut, gak?”

Oiyaaa, kenapa enggak kepikiran ya? Hahahaha.

Hati-hati menjaga hati
Gambar : pixabay.com

 

Pertengahan tahun 2009, saat tensi ketegangan Iran dengan US dkk lagi hot-hotnya, saya menyusul suami ke Teheran, Iran. Saya sendiri sudah berantem duluan dengan suami di telepon hahaha. Maklum waktu itu masih cupu soal gini-ginian.

Beberapa hari setelah saya mendarat di Bandara Internasional Imam Khomeini, Pilpres Iran 2009 berlangsung tanggal 12 Juni 2009. Pertama kali merantau kena tipu agen pula (hahaha), masalah politik internal Iran membuat situasi kami makin tidak terbayang .

Kemenangan Ahmadinejad memang memicu ketegangan dari pihak lawan. Ada demo-demo memang. Tapi yaela, di Al Jazeera-BBC-CNN beritainnya di Teheran udah kayak perang!

Tololnya, SAYA tuh ya, yang jelas-jelas tinggal di apartemen di salah satu area jantung kota Teheran, bisa-bisanya lebih percaya berita ketimbang mata saya sendiri! Hahahaha *toyorKepalaSendiri*.

Ketika saya sudah berhasil menguasai ketakutan, akal sehat mulai mengalir kembali. Barulah saya membuka jendela kaca yang menguasai seluruh dinding ruang tengah yang mengarah ke arah jalan raya.

Krik, krik, krik, kerusuhan apaan cobak. Kehidupan berlangsung dengan normal. Saya melongokkan kepala dengan takut-takut. Soalnya kami tinggalnya di lantai 4 apa 5 gitu. Melihat jauh ke arah jalanan besar di perempatan sana, Vanaak Street. Ya memang enggak ada apa-apa, sih.

Mana reporternya berbicara dengan suara terengah-engah gimanaaaaaa gitu. Jadi pengin nyodorin air putih hahaha. Iya, sekarang ketawa lo! Padahal waktu nonton juga ketakutan setengah mati minta segera pulang ke Jakarta saat itu juga! Zzz -_-.

Bareng si sulung yang masih setahun hehehe (Teheran, 2009)

 

Akhirnya saya bertahan di Disney-Channel aja nemenin anak sulung saya yang waktu itu usianya masih setahun nonton Barney dan Thomas hihihi.

Sambil sibuk menenangkan keluarga dan teman-teman yang terus memborbardir kami dengan email dan pesan, “Eh, gimana di sana? Baik-baik aja, kan? Udah ngeri gitu.”

Tempo hari membaca tulisan Kang Maulana, saya fokus pada  beliau yang khawatir dengan salah satu kerabatnya yang memiliki tingkat pendidikan mumpuni yang terjebak dengan berita-berita hoaks.

Lucunya, kerabat tersebut punya grup WA yang isinya kalangan akademisi semua. Mereka asyik saling memposting berita-berita hoaks penuh kebencian terhadap orang/kalangan tertentu.

Fenomena yang mengagetkan. Padahal kerabatnya kalau meriksa tugas mahasiswa galaknya minta ampun memeriksa sumber tulisan bla bla bla. Kok bisa malah percaya begitu saja tanpa klarifikasi dengan hoaks yang sumpah masuk akalnya enggak kira-kira?

Benarkah pengaruh HOAX tergantung tingkat pendidikan dan kecerdasan bahkan pergaulan?

Tet toooooooooot.

Tidak ada hubungannya!

Saya juga baru sadar kok setelah mengingat-ingat KETOLOLAN saya pas di Teheran tahun 2009 silam itu hahahaha.

Kurang bodoh apa, ada orang yang bercerita betapa hancurnya kota X terus kita terpengaruh begitu saja. Padahal kita TINGGAL di KOTA X!! *tutupMuka*.

Kita paling sering dimanipulasi oleh ketakutan kita sendiri. Sejak awal, saya sudah memelihara penyakit hati masalah Iran ini.

Sebelum berangkat, saya sudah mules-mules membaca berita soal Iran. Makanya pas mendarat dan naik taksi ke apartemen saya benar-benar kaget pas melihat betapa cantiknya Kota Teheran. Padahal suami saya sudah sering cerita via telepon .

Saya kurang menyimak. Karena ya itu, fokus pada prasangka buruk yang berujung ketakutan. Dari takut jadi marah, marah jadi benci. Begitu seterusnya. Persis seperti kata Yoda, dia lagi dia lagi hahaha. Gak ada quote lain apa, Ceu? .

Gambar : pixabay.com

 

Padahal sudah diperingatkan ya kita oleh ayat-ayat suci. Jangan dipelihara itu penyakit hati. Makin dipiara makin ditambahkan kadarnya. Terus bertumbuh. Hingga akhirnya kita sendiri yang menjadi korban, bahkan lebih jauh, mengorbankan orang lain karena kita dengan giatnya menyebarkan kebencian itu.

Sebenarnya membenci sesuatu ya wajar. Memangnya situ malaikat yang hatinya seputih kapas hihihi.

Cuma kontrolnya yang harus kita jaga. Karena membenci vs menyebarkan kebencian JELAS 2 hal yang BERBEDA.

Jadi kalau mau jujur, produsen/pembuat/penggiat/atau siapa pun yang hobinya bikin hoax (hihihi) BUKAN satu-satunya penyebab penyebaran berita hoax.

Ibarat kata, bensinnya sudah tercecer duluan. Sisa-sisa bensin yang tidak pernah bersih ya tinggal dipercikkan api sedikit ya langsung membesar apinya.

Coba saja, kalau kita tidak memelihara penyakit hati, mau dikasih berita apa saja, akal sehat kita seharusnya akan “bekerja” dengan baik.

Taman Sai di Teheran, Iran (gambar : panoramio.com, by Behrooz Rezvani)

 

Kalau sudah ada benih-benihnya -terus menerus dipiara- pula, dapat berita paling konyol sekali pun, jika itu memuaskan pohon kebencian/kecurigaan yang dipupuk dalam hati ya pasti kita otomatis percaya. Refleks aja gitu .

Memang susah dilawan. Mungkin bisa dimulai dari langkah kecil ini, kalau tidak suka sama orang/sesuatu/apa pun, hindari! That’s the best way, hindari saja dulu. Mau berita bagus berita jelek, cuekin!

Jangan berusaha mencari-cari kesalahan apalagi sengaja nge-like akun/fanpage yang hobi menyebarkan kesalahan orang/sesuatu/apa pun yang kita tidak suka.

Bertahan saja. Coba beberapa bulan. Lama-lama kita jadi sadar, tanpa kita ngapa-ngapain pun ya dunia tidak akan hancur kok hahaha. Kita sering merasa kita harus ikut share/membagikan pesan atas nama kebaikan/rasa waspada bla bla bla.

Itu kamuflase saja. Sebenarnya kalau melakukan hal itu, kita ya sedang menyuapi ego kita sendiri. Beuh, apalagi kalau pakai alasan bela agama. Padahal yang kita turuti ya hawa nafsu sendiri saja.

Don’t worry, kita bisa kok menyembuhkan penyakit hati ini. Penyakit beginian kontrolnya 100% ADA PADA DIRI SENDIRI ;).

Omong kosong kalau terasa diri lebih bahagia kalau amarah dan kebencian terus dipelihara dalam hati. Mau pakai alasan agama? Tuhan mana itu yang memerintahkan hal-hal begitu?

Plesetin sedikit judul lagu lawas, “Please be careful with your heart” <3. Jadi hati-hati menjaga hati, ya :).

Hati-hati menjaga hati
gambar: pixabay.com

Kata kata Untuk Ibu dari The Millennial Generation ;)

Yang cukup ramai dari kasus remaja seperti Afi dan Awkarin adalah respons para orang tua. Termasuk kita semua yaaaaaa (yang nulis jugak hahaha *usapUsapKerutanMata*). Penting nih, sekadar membagi kata kata untuk ibu juga orang tua pada umumnya.

Salah satu imbasnya adalah pihak-pihak yang mulai membanding-bandingkan. Mendadak posting-posting misalnya, anak kedokteran yang lulus umur belasan misalnya. Atau ada juga yang memamerkan putra dari daerahnya yang penemu apalah gitu. Dalam bidang eksakta.

Nah, ini dia, nih. Kita, sebagai orang tua, kerap menjerit betapa tidak adilnya dunia pendidikan yang sering fokus kepada tipe-tipe kecerdasan tertentu. Umumnya, anak-anak yang cerdas dalam ilmu-ilmu pasti/eksakta lebih mendapat tempat.

Kata kata untuk ibu
Gambar : pixabay.com

Tapi tanpa sadar, kita, sebagai orang tua, sendiri, yang mempertegas “kasta” ini . Misalnya di kasus Afi. Anak ini terkenal dalam bidang literasi. Keluar deh komentar-komentar semacam, “Halah cuma nulis gitu-gitu doang. Itu tetanggaku umur 7 tahun sudah kuliah Teknik lho. Lulus cum laude!” –> contoh yaaaaaaa hihihi.

“Iya pada norak. Itu ponakanku ikut lomba bikin robot umur 3 tahun. Menang lho di Jepang. Tapi enggak seheboh ini.” –> contoh lagi yaaaaaaa :p.

Ajegila, 3 tahun bikin robot . Itu #baby3 megang sendok sendiri saja belom bisa hahaha.

Coba pikir-pikir berapa banyak dari generasi kita yang sebenarnya mengikuti jenjang pendidikan akademis yang tidak sesuai passion. Soalnya dulu memang kesempatan lebih terbatas, ya. Pilihan tidak sebanyak sekarang.

Ya intinya seperti ingin meremehkan kemampuan anak-anak yang berprestasi di bidang lain seperti dunia literasi ini. “Halah cuma nulis gitu-gitu doang.” Makanya dibandingin sama dokter lah, anak teknik lah dan seterusnya.

Kalau orang tua zaman dahulu yang berpikiran begini ya wajar mungkin. Sementara di era terkini dunia digital berkembang semakin pesat dan membuka lahan baru bagi generasi sekarang untuk menorehkan prestasi di bidang lain yang dulu belum terpikir.

Anak-anak sekarang cita-citanya mau jadi youtuber booooo hahaha. Saya dulu dari kecil senang menulis, aktif menulis fiksi ala anak-anak waktu SD kelas 2 sampai kelas 5 hihihi. Tapi Mama saya malah bingung dan mengimbau saya untuk fokus belajar saja.

Sekarang? Ada blog ada medsos, banyak media untuk menulis tanpa perlu repot-repot naik angkot ke kantor pos dan kirim naskah untuk nerbitin tulisan biar bisa dibaca orang lain hahaha :p.

Sebagai orang tua kekinian, kita yang seharusnya lebih berpikir terbuka dan mengarahkan anak-anak kita. KIta ini adalah nahkoda dari generasi millennial :D. Jangan malah ikut-ikutan kayak anak kecil. Berkompetisi tidak jelas . Malah ikut menegaskan hal-hal yang sebenarnya ingin kita minimalkan untuk masa depan generasi mendatang.

Mengkritik sewajarnya. Kalau dari saya sih jelas, di kasus Afi, penjiplakannya yang saya tidak suka! Harga mati itu hehehe. Mungkin terbawa pengalaman pribadi . Maklum sama-sama berkecimpung di dunia literasi walau secara akademis saya sebenarnya “jurusan anak robot” hahaha. Saya lulusan Ilmu Komputer .

Tapi saya tidak menyesal sih masuk Fasilkom ;). One of the best decisions I’ve ever made in my life, until now :D.

Balik lagi, Afi jelas anak yang cerdas. Anak yang kuliah kedokteran sejak usia 13 tahun juga cerdas. Anak yang hobinya bikin kue sejak usia 9 tahun dan lebih senang main-main dengan perabotan dapur ya jelas juga cerdas. Sini Nak, bikin vlog resep sama Tante Jihan hahahaha.

Anak-anak yang dari kecil suka otak atik penampilan dan gaya berbusana orang lain walau matematika dan bahasa Inggrisnya sering dapat merah di rapor itu (hahaha) juga cerdas. Sini, saya kenalin sama salah satu kakak kandung saya, yang kini menjadi seorang desainer dengan labelnya sendiri, the one and only, Kakak Dada yang super heits .

Selebgram macam Awkarin dkk itu juga sebenarnya jangan diremehkan, lho . Untung dulu zaman saya masih SMP-SMA belum ada Instagram! Bisa habis waktu buat selfie tuh *ciyumHenpon*. Saya waktu SMP cita-citanya sempat pengin jadi foto model hahaha. But who doesn’t? :p.

“Everybody is a genius. But if you judge a fish by its ability to climb a tree, it will live its whole life believing that it is stupid.” ― Albert Einstein

Fokus di persoalan sebenarnya. Mendidik generasi muda kita untuk tetap mempertahankan perilaku terpuji di tengah gencarnya perubahan zaman yang terus berlari. Diantara banyak kemudahan yang mereka terima kini, kita harus tetap berada di depan untuk mengingatkan. Bukan membully, yes? ;).

Gambar : pixabay.com

Duolingo Learn English : Belajar Bahasa Asing dengan Aplikasi Duolingo

Duolingo Learn English : Mana tahu lagi eneg ber-medsos dengan ponsel, coba cari variasi kegiatan lain hihihi … ayoooo belajar bahasa asing dengan aplikasi Duolingo :D. Tinggal instal saja di ponsel masing-masing. Apalagi kalau untuk belajar bahasa Inggris nih, “duolingo learn english” ^_^. Eh harusnya Duolingo learns English, eh harusnya Let’s learn English with Duolingo #eaaaaaa :p.

Tadinya mau posting ini minimal setelah mencapai level 20 lah di Bahasa Spanyol versi Duolingo. Apa daya ya, ini masih mentok di level 15 huhuhu -_-.

Berselancar di internet, bisa dibilang, 90% saya lakukan di laptop. Instagram-an saja saya pakai laptop kok hahaha. Tapi sejak instal Duolingo, lumayan deh, ponsel jadi lebih kepake lagi.

Luar biasa ya kecanggihan era digital sekarang. Jadi ingat dulu waktu kecil punya cita-cita mau belajar bahasa ini-itu, tapi ya enggak mungkin mau les, duit dari maneeeeee :p. Beli buku-buku percakapan ringan, kok ya kurang praktis dan kurang interaktif jadinya. Mau beli buku yang bagusan dan lebih komplit lagi-lagi mentok di dana hahaha.

Nah, aplikasi Duolingo ini bisa menjadi alternatif teman belajar bahasa asing yang lumayan komplit :D. Strukturnya rapi. Banyak latihan soal mulai dari grammar, kosakata, sampai pronounciation segala *jempol*.

duolingo learn english
gambar : slideshare.net

1- Gratis! Tentu harus nomor satu bagian haratis-haratis begini hahaha.

2- Aplikasi Duolingo ini sifatnya interaktif. Banyak soal-soal. Jadi kita tinggal jawab dan nanti dinilai benar apa enggaknya.

2- Fleksibel waktunya. Ya iyalah, kita sendiri yang nentuin mau belajar kapan dan di mana. Modal ponsel dan koneksi internet saja.

4- Terkait nomor 3, intinya NIAT dan MOTIVASI pribadi harus kuat, ya. Karena belajar model begini serba mandiri. Enggak ada guru yang marah-marahin. Semua target juga tergantung kita sendiri. Apalagi karena nomor 1 di atas, kita enggak ngeluarin duit jadi cenderung menggampangkan, ya :p.

Kalau bayar kan rasanya sayang aja gitu mau bolos apa gimana-gimana hihihi.

5- Bisa multitasking beberapa bahasa sekaligus. Ada lho teman-teman saya yang rajin banget ngikutin beberapa bahasa sekaligus dan levelnya juga bagus-bagus. Keren (y).

duolingo learn english
Gambar : duolingo.com

Ada untungnya juga multi-lingual. Karena beberapa bahasa itu akarnya kan sama, ya. Seperti Perancis dan Spanyol banyak kemiripan. Dengan Jerman juga. Bahasa-bahasa ini strukturnya juga mirip. Misalnya ada istilah feminin dan maskulin (kata-kata dipisahkan berdasarkan gender).

6- Belajar bahasa lebih menyenangkan serasa main game aja gitu. Duolingo menyediakan banyak fitur dan reward macam-macam.

7- Ada forum diskusi dan bisa ikut klub-klub sesuai bahasa yang diikuti. Kalau bingung, tinggal masuk forum buat nanya-nanya. Biasanya pun sudah banyak yang menanyakan hal yang sama, kita tinggal search saja.

8- Menambah teman atau ajang silaturahmi karena modelnya kayak media sosial gitu juga. Bisa follow-follow an, bisa add friend, dan seterusnya. Saya sendiri kurang kepake bagian ininya. Karena niatnya memang mau belajar bahasa aja hehehe.

Add orang pun paling akun suami sendiri. Itu juga buat ledek-ledekan siapa yang lebih tinggi levelnya hahaha. Dia kan sempat rajin belajar bahasa Jerman via Duolingo pas kita tinggal di Swiss tempo hari :p. Saya tahu aplikasi ini juga dari suami, sih.

***

Hanya saja, Duolingo belum menyediakan sarana buat  belajar bahasa yang menggunakan huruf non-latin, ya. Misalnya Mandarin, Jepang, atau Arab. Eh, apa sudah ada ya hehe. Pengin juga belajar bahasa Arab.

Dulu sebelum hamil anak ke-3 sempat ikut program BISA. Seru banget sebenarnya. Lebih privat belajar kelompok via WA. Tapi terus keputus karena hamil. Sempat minta tolong diajarin teman tapi ya itu banyakan malasnya hahaha.

Kalau pakai Duolingo no worry. Kadang diserang malas, sampai seminggu enggak buka aplikasi Duolingo sama sekali. Tapi ya, kalau lagi rajin ya ikut lagi aja ;). Jangan dibikin ribet, yes? Hehehe.

Kok milih bahasa Spanyol?

Karena saya pikir Spanyol ini bahasa internasional kedua yang banyak digunakan selain Bahasa Inggris :D. Exclude bahasa Mandarin tapi ya hehe. Serba kebetulan juga. Sekarang saya nangkring di Texas, di mana bahasa Spanyol juga sering digunakan di sini.

Di toko-toko sudah lumayan fasih deh sama bahasa Spanyol terkait barang-barang kebutuhan sehari-hari *sombongKaaaauuuuu* hahaha :p. Di negara-negara bagian selatan, karena banyak orang Hispanik, bahasa Spanyol jadi cukup umum di Texas, Florida, Louisiana, Alabama, bahkan di California juga katanya.

Gambar : dari channel – youtube, “rags360”

 

Bahasa Spanyol juga relatif mudah untuk lidah bahasa Indonesia kita karena pelafalannya mirip banget. Misalnya bandera ya dibaca bandera. Kebetulan artinya juga sama, bendera :D. Yang pengucapannya sulit banget itu bahasa Perancis ya. Ya ampun sumpe looooo, saya masih stuck di level 3 kali nih di Bahasa Perancis hahaha.

Seru kan, kan, kan, berkat kemajuan era digital yang seperti berlari ini.

Efek negatif kecanggihan dunia digital juga ada. Iya kan, bikin kita sering susah mau logout dari akun-akun medsos. Jadi semacam ketergantungan :(. Emosi kita mudah terbentuk dari berita-berita yang berseliweran di medsos.

But we can work on that too, yes? ;). Pinter-pinter kita saja ya, mengambil lebih banyak sisi positif atau terjebak dalam pusaran efek negatifnya.

Ngomong-ngomong soal belajar bahasa, konon menguasai beberapa bahasa membuat resiko kita terkena penyakit Alzheimer menjadi berkurang. Coba itu di-googling sendiri hasil penelitiannya :D.

Buat orang Indonesia sendiri sih sudah banyak contoh, ya. Selain bahasa Indonesia, saya lumayan bisa berbahasa Bugis. Ketambahan bahasa Inggris juga hehehe.

Kakak-kakak saya malah lancar berbahasa Makassar juga. Ibu saya malah bisa 3 bahasa daerah : Makassar-Bugis-Enrekang, semuanya bahasa daerah Sulawesi Selatan. Suami saya bisa bahasa Minang dan Jawa serta sedikit bahasa Madura.

Waktu tinggal di Jeddah, suami juga rajin belajar bahasa Arab. Tapi bahasa Arab sehari-hari di sana ya. Bahasa Arab dialek pendatang, bukan yang baku.

duolingo learn english
Gambar : pixabay.com

Penguasaan bahasa lain selain bahasa asli kita juga bisa dianggap sebagai ilmu :). Asalkan kita tidak mengkotak-kotakkan definisi ilmu. Agama saya mengajarkan bahwa Tuhan akan mengangkat derajat orang yang berilmu <3.

Ilmu ini juga termasuk harta, lho. Banyak belajar, banyak ilmu baru, nambah harta juga.

Ilmu adalah harta yang menyenangkan. Karena bisa dibawa ke mana-mana tanpa memberatkan pemiliknya ;).

Ayooo gunakan ponsel pintar kita untuk menambah harta jangan sampai malah menguras pahala :). Kampanye “duolingo learn English” :D.