To Impact NOT To Impress

Beberapa waktu lalu saya membujuk teman saya untuk aktif nge blog. Tertarik dengan anak sulungnya yang berkebutuhan khusus (autism) tapi bersekolah di sekolah publik sesuai umurnya. Iya sih, standar sekolah di Amerika Serikat (Texas) tentu beda dengan di Indonesia, ya.

cara menangani anak autis
Gambar : pixabay.com

 

Tapi pas ke apartemennya sekitar 2-3 minggu lalu, saya diceritakan sedikit soal betapa concernnya guru-guru di sekolah kepada anak sulungnya tersebut.  Wah, asyik juga, ya. Walau berkebutuhan khusus tetap bisa sekolah normal dan bergaul dengan anak-anak lainnya.

Teman saya juga banyak mendapat masukan dari guru-guru di sekolah ya pokoknya mereka bekerja samalah antara orang tua di rumah dan guru di sekolah. Saya kepengin dia bercerita lebih banyak soal ini. Mungkin saja banyak orang tua di Indonesia dengan kondisi anak yang sama sangat membutuhkan informasi seperti ini.

Tapi teman saya menolak. Dia enggan, takut dianggap mau pamer. Hmmm, iya juga ya.

Walau ini masalah niat personal tapi jujur saja, selama bertahun-tahun menjadi blogger, saya juga tidak bisa memastikan niat saya “lurus-lurus” saja hehehe. Manusia kan turun naik, ya. Niat dasarnya mah ingin berbagi. Macam kata-kata mutiara, “Sharing is caring.”

Tapi yaaaa, mungkin saja kaaaan, sekali dua kali atau bahkan sering, niatnya memang mau pamer hihihi. Ampuni aku ya Allah #benerinKudung.

Kalau soal pandangan orang lain, saya sih tidak terlalu peduli. Hal seperti ini di luar kuasa kita lah ya. Apa pandangan orang ke kita ya terserah dia saja. Masa kita yang mau ngatur, “Eh lo pokoknya harus nganggep gue inspiratif, yaaaa.” Mana bisa begituuuu :D.

Makanya, tidak usah kita pusingkan yang begini-begini. Kita enggak ngapa-ngapain pun ya mungkin ada saja orang yang tidak suka. Alasannya ya kadang enggak logis macam, “Gue kesel aja lihat mukanya.” Nah lo, terus kita kudu piyeeeee :p. Enggak mungkin tiba-tiba ganti muka gitu kan hehe.

Gambar : pixabay.com

 

Cara menangani anak autis mungkin masih menjadi pertanyaan besar buat sebagian orang tua yang memiliki anak autis di tanah air. Masalah awal tentu fase denial yang cukup berat, ya. Saya pribadi membayangkan pun rasanya sudah rumit banget :(. Apalagi bagi mereka yang benar-benar mengalami.

Sebagian orang tua ini pun, bila akhirnya selesai dengan fase denial dan mulai menerima kenyataan, mereka perlu panduan kan tentang cara menangani anak berkebutuhan khusus begini?

Dalam posisi begini pun, sekadar tahu bahwa ada orang di luar sana yang memiliki masalah serupa rasanya sudah lumayan terbantu beban kita. Iya gak, sih?

Apalagi kalau bisa saling berbagi tips-tips yang bermanfaat (y). Bayangkan ya, seberapa banyak pihak yang bisa terbantu :

  1. Para orang tua dari anak-anak berkebutuhan khusus
  2. Tenaga pendidik yang mungkin juga masih meraba-raba karena masih kurangnya sarana dan prasarana di tanah air. Yah, biar kata Ameriki ini konspirasi nganu-nganu, tetap saja mereka punya banyak kemajuan dan inovasi yang belum “nyampe” ke Indonesia hehehe.
  3. Pihak penyelenggara pendidikan untuk anak berkebutuhan khusus. Baik pemerintah maupun swasta.
  4. Kerabat keluarga/sanak famili/teman dsb dari keluarga si anak ini. Saya sendiri punya keponakan yang juga berkebutuhan khusus (ADHD). Kepengin tahu juga kita itu harusnya bagaimana dalam bersikap gitu-gitulah. Kadang kan serba salah, ya :(.

 

Gambar : pixabay.com

 

Teman yang saya ceritakan tadi juga punya keahlian yang cukup unik, lho. Melukis dengan wadah kue kering. Duh, blog-able banget gak sih hahaha. Idih, napa jadi gue yang heboh sendiri :p.

Tapi saya mengerti banget alasannya. Memang nih, era medsos bikin kita gagap sendiri kadang-kadang. Niatnya begini kok ya orang melihatnya begitu. Penginnya sharing kok jadi kesannya pamer. Padahal mungkin juga iya, ya *tunjukDiriSendiri* hahaha.

Konsep media sosialnya sendiri sih tidak ada masalah. Yang menjadi problem adalah cara kita menggunakannya. Interaksi yang kita lakukan. Kadang terjebak sendiri dengan pencapaian rancu macam jumlah like atau jumlah follower. Itu tuh yang bikin kita terbebani hal-hal yang tidak penting hehehe.

Foto-foto tempat liburan sih walau sering dinyinyiri sebagai ajang pamer sebenarnya kan bisa menjadi promosi buat tempat liburan itu sendiri. Efeknya 2 arah. Tempat wisata yang bersangkutan semacam dapat promo gratis dan orang lain yang tidak tahu akhirnya jadi tahu, kan? “Wah, tempatnya bagus. Ke sana ah.”

Nah, begitu itu kan sebenarnya positif (y).

Macam sebuah peribahasa terkenal, “Live to impact not to impress.”

Terminologi -LIVE- itu kan termasuk living in cyberspace macam kita-kita para blogger/vlogger/instagramer/dst ini, yes? ^_^.

Optimalkan IMPACT yang bisa kita lakukan (in a positive way for sure). Kalau pun nanti orang menjadi impress apa enggak ya itu urusan entar-entar ajah ;). Kecuali memang ingin serius “mencari nafkah” via medsos dan dunia maya ya memang harus ekstra tuh “carper”nya hahahaha. Don’t worry, kita selalu bisa kok mengontrol keseimbangannya ;).

Tetap semangat semuanya yaaaaaaa <3.

 

Masjid di Negara Cina

Di Mana Tanah Dipijak, di Situ Langit Dijunjung

Postingan yang berisi curhat embak-embak soal larangan shalat di tempat umum di Xinjiang seperti biasa langsung membakar timeline hahahaha .

Si Embak konon ditangkap dan diinterogasi oleh petugas di Xinjiang karena melanggar aturan “tidak boleh shalat di tempat umum”.

Saya sudah membatin nih, ini kok ya si embak nyasarnya ke wilayah China ya, ke Xinjiang pula. Coba dia nyasarnya ke kota-kota lain yang tidak punya konflik lokal mungkin bisa lain ceritanya .

“Luka” akibat kampanye brutal Pilkada 2017 terkait isu-isu SARA kepada etnis Tionghoa belum juga usai. Langsung diberondong postingan model begini. Si embak TS juga melenceng ke mana-mana dalam komentarnya. Bawa-bawa komunisme segala. Emang niatnya mau ledakin mercon kali .

FAKTAnya memang ada represi terhadap etnis mayoritas Uyghur di wilayah Xinjiang. Sebagian besar etnis Uyghur kok ya agamanya Islam pula. Yang begini-begini memang enak banget digoreng-goreng oleh “kalangan intoleran” .

Boleh dilihat beritanya di sini ya, jangan lupa baca sub-sub artikel yang linknya bertaburan di artikel utamanya di sini : “Why is there tension between China and Uighurs?”

Tension in Xinjiang (pic : hudson.org)

 

ADA fakta-fakta lain yang melatarbelakangi apa yang sebenarnya terjadi di Xinjiang. Dan potret kekerasan terhadap Uyghur-muslim di Xinjiang BUKANLAH sikap umum pemerintah China kepada umat muslim .

Ini yang harus dihindari, menanamkan semangat intoleran melalui pengalaman-pengalaman pribadi dalam konteks yang “sempit” . It won’t help at all .

Saya belum pernah ke China langsung kok berani klaim begitu ya? Karena suami saya sudah pernah assignment 3 BULAN ke kota Wuxi, di belahan barat Negeri Seribu Rakit ini .

Kota Wuxi salah satu kota favorit suami saya pas assignment. Makanannya enak-enak katanya hahaha. Yaiyalah, kita orang Indonesia sudah terbiasa dengan masakan mereka, ya . Waktu assignment ke Santiago (Chile), dia stress, Kak Emma! Hahahaha .

Makanya paling bener mah kalau assignment tuh bawa tukang masak eh …bawa bini! #benerinCelemek #kibasPanci

Jangan salah, warung makanan halal tidak sulit lho ditemukan di Wuxi dan sekitar . Masjid pun ada!

Masjid di Negara Cina
Foto : Dani Rosyadi

 

Suami saya sempat mengira masjid di Wuxi pasti jamaahnya akan didominasi oleh pendatang-pendatang muslim. Pas shalat jumat isinya membludak. Surprisingly, mayoritas jemaah ternyata orang muslim lokal .

Tahun 2010 diperkirakan ada sekitar 23 juta umat muslim di wilayah China. Tapi jangan lupa total penduduk China itu berapaaaaa hehehe. 23 juta orang ini hanya sekitar 2% dari total penduduk China saat itu.

Tetap saja jumlah 23 juta orang itu tidak sedikit kaaaaaaaannn .

Makanya jangan heran, kalau naik haji bakal sering ketemu jemaah dari Negeri Tirai Bambu ini . Arab Saudi saja di tahun 2010 jumlah penduduk muslimnya sekitar 26 juta saja .

muslim di Cina
Jemaah masjid di Wuxi, China

 

Balik ke kasus di Xinjiang tadi, yang postingannya rame di grup “Backpacker Dunia”.

Pepatah “Di mana tanah dipijak, di situ langit dijunjung” direply oleh si embak TS, “Di mana tanah dipijak, di situ Tuhan disembah.”

Tidak salah. Benar itu .

Tapi ada fakta lain yang juga harus kita terima. Ada banyak sekali agama di dunia ini. Kalian tahu, ada RIBUAN agama dan kepercayaan yang terpencar di seluruh benua di bumi manusia .

Dari RIBUAN ini tentu juga ada RIBUAN cara untuk menyembah Tuhan yang bersesuaian dengan lokasi masing-masing dan aturan setempat . Negara punya kedaulatan masing-masing dan aturan yang harus dipatuhi pendatang, kan?

Kalau mau ke Iran ya harus mengenakan pakaian tertutup bagi seluruh perempuan dewasa termasuk yang non muslim. Jalan-jalan ke Republik Irlandia ya jangan panas melihat banyaknya rumah ibadah umat Katolik di mana-mana .

Eh tapi masjid juga ada lhoooo di Ireland . Yang segede-gede gereja juga ada. Di wilayah Clonskeagh, Dublin. Di Amerika Serikat nih, di area Dallas-Fort Worth, masjid-masjid tidak sulit ditemukan .

Sejak Trump menang pun, alhamdulillah masjid-masjid tersebut masih berdiri tegak dan menaungi komunitas muslim yang ada di sekitarnya .

Ah ya, di negara Arab Saudi tidak diizinkan mendirikan rumah-rumah ibadah apa pun selain MASJID di tempat-tempat umum, lho. Jadi buat teman-teman non muslim, ibadah agamanya hanya boleh dilakukan di ruang-ruang pribadi saja.

Kalau kalian ngotot, “Ya agamaku dong is the best. Paling benar. Yang lain agamanya salah pastinya. Jadi tolong pahamilah saya. Utamakanlah agama saya.”

Coba pikirkan jika dari ribuan agama dan kepercayaan ini juga berkoar-koar di depan umum PERSIS seperti itu? . Berapa banyak tragedi dan penderitaan yang akan terjadi?

Bukankah kita juga percaya perbedaan-perbedaan ini adalah keniscayaan? Tuhan yang menciptakan semua perbedaan ini. Lah terus mengapa kita sendiri yang bersikeras menyeragamkan apa-apa yang sudah dari sananya berbeda? *pijetKening*.

Muslimah di Xinjiang, China (gambar : pakistantoday.com.pk)

 

Jadi kalau jalan-jalan atau bermukim di negara lain, hindarilah menjadi provokator . Tentu provokasi beda dong ya sama bersikap kritis. Kalau mau kritis ya sertakan juga dong semua latar belakang sejarah pertikaian China vs Uyghur kan, kan, kan .

Yang terjadi di Xinjiang ya sebenarnya mirip-mirip juga dengan yang menimpa etnis Rohingya di Myanmar dan suku Kurdi yang bertebaran di banyak wilayah Timur Tengah. Ketidakmampuan kita mengolah dan menerima perbedaan .

Diperparah dengan campur tangan eksternal. Kalau baca dari artikel BBC tadi kan ada pengaruh kelompok luar terhadap gerakan-gerakan separatis di Xinjiang.

Sikap otoritas China yang malah makin “sangar” ke etnis Uyghur justru mungkin memperparah pertikaian ya . Tapi ya itulah, saya juga kalau jadi pemimpin bingung juga harus gimana. Kalau lembek entar ada yang ambil kesempatan dan memberontak beneran. Kalau terlalu keras nanti malah makin ngamuk. Tengah-tengah, ya tengah-tengah itu yang kayak apaaaaaa .

Untunglah hanya ditakdirkan jadi emak-emak berdaster. Tukang komen aja bukan pengambil keputusan level negara hihihi. Semoga Tuhan menganugerahkan kebijaksaan dan kelembutan bagi seluruh pemimpin-pemimpin dunia. Aamiin .

Btw, sebaiknya sebelum traveling ke tempat-tempat lain periksa dulu aturan-aturan setempat. Kalau dirasa menyulitkan atau merusak akidah atau apalah-apalah ya enggak usah ke sana. Hidup ini pilihan, yes? 

Soal aturan beribadah terkait gini-ginian ya Tuhan itu Maha Pengasih dan Maha Penyayang bukan Maha Judgemental kok yaaaaa .

“You must understand the whole of life, not just one little part of it. That is why you must read, that is why you must look at the skies, that is why you must sing, and dance, and write poems, and suffer, and understand, for all that is life.”-Jiddu Krishnamurti

Have a nice weekend .

Keep Calm and Continue Writing :)

Buku pertama saya dulu terbit secara indie. Sumpah mampus enggak lagi-lagi dah terbit indie hahaha.

Saat saya bersorak terharu ketika akhirnya bukunya terbit juga (jangan ditanya dramanya hahaha), sesungguhnya perjuangan sebenarnya telah menanti … MENJUAL BUKUNYA!

 

Menawarkan bukunya sendiri lumayan menyita waktu. Semua grup dan semua forum, waktu itu juga masih era milis-milis, digempur semua. Besoknya dicek lagi satu-satu. Mana tahu ada yang nyangkut.

Sampai pegel leher menulis dan mengedit data di Excel. Anak kedua saya umurnya baru setahun lebih. Lah terus kapan nulisnya? *nangis*.

Tantangan terberat itu sebenarnya di masalah ongkir, ya. Pernah ada teman di Kalimantan pengiiiiin banget baca bukunya. Saya jujur saja, ongkirnya terlalu mahal. Tapi dia pengin banget. Yo wis, saya gratiskan ongkirnya.

Ya abis kasihan, ya. Toh dia udah baik banget mau beli bukunya.

Royalti saat terbit indie memang sangat menggoda. Bisa lebih dari 50%. Tapi mencret mikirin ongkir dan siang malam berjuang nyari pembeli *pasangKoyo*.

Bentang alam negara kita memang sangat menantang untuk urusan distribusi barang . Ituuuu yang nyinyir soal infrastruktur transportasi, mana suaranyaaaaaa .

Bodohnya saya tidak terpikir hal ini dari awal. Dasar sanguinis parah hahaha. Padahal saya pernah bekerja sebagai Business Analyst di salah satu consumer goods nan hits di tanah air. Saya pegang area Supply Chain-Distribusi.

Sudah pengalaman dengan curhat-curhatan divisi Transportasi, rekan-rekan di warehouse dan betapa serunya eyel-eyelan tim sales vs tim distribusi kalau sudah berantem soal pengiriman barang ke luar Pulau Jawa .

Masih ingat dulu saya kesal kalau beli majalah, kok ya sampai ada label harga P. Jawa dan harga non P.Jawa. Rasis amat yak hihihihi .

Maklum Sis, dulu beli majalah juga nabungnya bisa lamaaaaa. Dulu-dulu kan kita pernah muda juga, dimana mimpi-mimpi kita tidak jauh-jauh dari poto model atau bintang pilem, yes? Hahaha. Makanya kudu bener tuh beli-beli majalah sambil mengkhayal punya duit banyak dari hasil pemotretan.

Eh sekarang punya suami doyan motret pun, yang dipotret malah anak-anak mulu. Ya nasib ya nasib #bantingPensilAlis.

Buku kedua saya akhirnya terbit via Penerbit Mayor. Main kirim saja. Alhamdulillah berjodoh. Enggak pakai lama langsung approve.

Mungkin karena sudah merasakan “nikmat”nya terbit Indie, saya sama sekali enggak mikirin royalti lagi. Naskah diterima saja rasanya sudah terbang.

Seharusnya, sebagai penulis, fungsi marketing tetap harus dilakukan, yaaaaa. Saya akui, saya sangat lalai dalam hal ini hihihi *ciyumTanganEditor*.

Barusan membaca artikel Tirto tentang kecenderungan penerbit yang sekarang bekerja sama dengan penulis-penulis yang punya penggemar/follower di media-media sosial. Ya gimana ya, wajar-wajar saja rasanya.

Logikanya, kalau dese banyak fans, harapannya nanti banyak yang beli bukunya. Buku, sebagus apa pun isinya, kalau tidak ada yang beli ya matilah kita semua hahaha.

Penerbit itu kan juga perusahaan yang tujuan utamanya adalah laba/keuntungan. Penerbit kan juga terdiri dari banyak divisi dan karyawan.

Lah terus kalau penulis berkualitas gak suka medsos-an, piyeeee?

Waduh iya ya, saya juga bingung jawabnya hahahaha.

Gambar : techgirl.co.za (kukunya cantik banget, so pasti bukan kuku gue! Hahaha)

 

Karena jujur saja, sebelum ada medsos pun kecenderungan orang untuk BELI BUKU ya tidak dahsyat-dahsyat amat. Nih ya, saya punya pengalaman juga jualan tas brand tertentu dari luar negeri pas lagi mudik.

Ampun ya Bu Sri *ciyumTanganLagi*. Ini dulu lho Buuuuuuu, mohon jangan ditagih pajaknya , sekarang saya sudah kapok.

Saya sudah siapin mental nih, kalau harus angkat bambu runcing lagi mengingat pengalaman jualan buku hahaha. Tapi berhubung kalau jualan tas keuntungannya menggiurkan, ya kenapa tidak dicoba?

Aih gilak, belum juga seminggu bergerilya iseng nawarin ke orang-orang terdekat saja sudah harus setop PO saking banyaknya yang tertarik . Sampai harus cancel beberapa PO lebih karena kopernya tidak muat lagi hahahaha.

Jangan nyinyir yaaaaa. Terimalah kenyataan itu apa adanya . Orang-orang emang lebih suka beli barang-barang lain selain buku. Buku belum menjadi kebutuhan utama.

Apalagi sekaraaaaaang. Sudah banyak wadah lain untuk membaca apalagi e-book gratisan kualitas oke sudah bisa didownload SECARA LEGAL di banyak tempat .

As for me, menulis memang bukan penghasilan utama. Hasilnya tidak seberapa sementara waktu lumayan terkuras. Anak udah 3 nih sekarang *benerinOtot*. Merantau di luar tanpa tangan ketiga.

Gambar : va-mom.com

Suami cari-cari cara biar kegiatan menulis ini tetap ada hasilnya secara materi meskipun cuma receh. Karena biar berkelanjutan harus ada timbal baliknya kan, ya. Jaminan sustainability terbaik ya kayaknya mah duit yak hahahaha.

Dulu rajin kirim-kirim ke majalah. Kalau dihitung lumayan itu karena saya fokus ke tulisan traveling.

Tulisan traveling honornya bisa sampai jutaan kalau di majalah-majalah bagus asalkan foto-fotonya keren. Saya menulis, suami motret. Ealah, sekarang media cetak sedang mengalami kemunduran .

Total tulisan yang pernah dimuat di media cetak itu ada puluhan tulisan. Sesekali bikin fiksi. Tapi sekarang bikin fiksi saya sukar berkonsentrasi. Karena dari pagi sampai malam diburu-buru sama wajan, diaper, cucian kering, lantai kotor, peer anak-anak, dan seterusnya dan seterusnya.

Saya sudah tidak terpikir menerbitkan buku lagi. Karena rasanya tidak sebanding dengan waktu yang dikorbankan .

Terus kita juga coba adsense di blog. Saya terus-terusan belajar SEO. Cobain vlog juga akhir-akhir ini. Karena suami saya senang banget traveling. Dia ngumpulin video segitu banyak tapi gak punya waktu buat mengedit. Sayang kan?

Tapi saya tetap rutin menulis di blog .

Memang zamannya sudah berubah banget, ya. Jangan putus asa buat teman-teman penulis. Sekarang situs-situs banyak yang butuh content writer dengan honor yang tidak kecil.

Beberapa situs besar juga menerima tulisan dari penulis lepas dengan upah yang lumayan banget. Malah ada situs yang menerima naskah novel, lho. Cobak itu digoogling .

Jadi ghost writer juga bisa. Penulis cerita hantu gitu? Hahaha. Googling sana! .

Menulis-menulis di akun medsos masing-masing juga oke sajalah, why not? . Cuma memang agak challenging kalau mau dikonversi ke rupiah, ya, hehehe.

Yah intinya saya juga tidak tahu sih harus menghibur apaan hahahaha. Basi juga kalau mau bilang yang penting amalnya, yang penting pesannya nyampe bla bla bla. Karena namanya manusia biasa ya, masa iya bisa terus-terusan berpikir bak malaikat model begitu? .

Apalagi kalau yang menjadikan profesi ini sebagai sumber penghasilan utama. Memang pintar-pintarnya kita menyesuaikan diri dengan perubahan zaman.

Apa pun kegelisahan itu, jadi ingat quote kakak sulung saya di buku skripsinya, “Janganlah kamu berputus asa. Kalau pun berputus asa, berusahalah dalam keputusasaan itu.”

.

roadtrip amerika

The American Road Trip

Edisi roadtrip Amerika :D. Awal bulan Juli kemarin, road trip lagi nih untuk ketiga kalinya. Setelah ke arah timur (Florida), ke utara (Arkansas), sekarang kita ke barat, menuju Nevada.

Rute road trip teranyar itu jadinya … Dallas (Texas) – Albuquerque (New Mexico) – Flagstaff (Arizona), Grand Canyon National Park (Arizona) dan berakhir di Las Vegas (Nevada).

 

Berangkat dari apartemen hari minggu pukul 8 pagi dari rencana jam 6 pagi! Zzzz -_-. Yah beginilah road trip bareng bocah-bocah. Banyak dramanya, yes? Hahahaha.

Sebelah barat Texas menuju New Mexico juga sudah lebih tandus ketimbang area utara Texas. Mulai memasuki wilayah padang rumput tanpa pepohonan tinggi.

Rencana awal, langsung bablas ke Arizona, karena tujuan utama memang Grand Canyon dan Las Vegas. Tapi saya pikir, assignment bentar lagi selesai, sebisa mungkin mampir di banyak negara bagian, jangan lewat-lewat doang hehehe. Kapan lagi ya booooo :p.

roadtrip amerika
Gambar : pixabay.com

 

Well, New Mexico ini bukan destinasi turis utama baik dari luar negeri bahkan dari dalam negeri sendiri. Dalam salah satu survey, New Mexico hanya berada di urutan 37. 3 besarnya siapa lagi kalau bukan : California, Florida dan Nevada!

Duh, ke California nih yang belum ketemu cara ke sananya via road trip dengan waktu cuti terbatas. Belajar nyetir, belajar nyetir, belajar nyetir wooooiiiiii :p.

Enggak naik pesawat saja? Ajegile harga tiket pesawat antar negara bagian di sindang. Apalagi anak 3 iniiiiii :p. Tempo hari suami sempat naik pesawat dari Texas ke Florida, harga tiketnya sama dengan harga tiket Texas – Irlandia! Hahahaha *ngakakStres*.

Makanya, alternatif utama buat melancong bagi turis lokal itu ya … road trip! Road trip menjadi pilihan bagi sebagian besar orang untuk halan-halan ke negara bagian lain ^_^. Dari sinilah ekonomi menggeliat di banyak tempat termasuk negara yang sepi ‘pengunjung’ macam New Mexico 😉

roadtrip amerika
Mejeng di Kota Tua, Albuquerque – New Mexico

.

Dari beberapa kali road trip inilah jadi pengin sharing soal kebijakan US yang katanya anti transportasi umum ini.
Arizona, karena punya Grand Canyon, masuk dalam 10 besar negara bagian yang dirubung turis (kita sekeluarga ini salah satunya hahaha). Arizona sebelahan sama New Mexico. Umumnya dari arah tenggara, kalau mau ke Arizona ya biasanya melintasi New Mexico dan kadang menginap juga barang semalam di New Mexico.

Road trip pakai mobil kadang memakan waktu sampai belasan jam, pasti dong bakal mampir-mampir buat menginap atau isi bensin atau makan. Kalau kami makannya bawa sih. Kadang agak sulit nyari makanan halal. Tapi di kota-kota besar insya Allah pasti ada (y).

Tempat isi bensin minimal ada satu mini market. Ya kalau pakai kantin kecil segala macam, sudah bisa menyerap beberapa tenaga kerja, kan? Inget ya ini Amerika, bukan Eropa di mana kita selalu dipaksa melayani diri sendiri :p.

Belum lagi hotel-hotel. Itu serapan tenaga kerjanya berapa banyak. Jadi banyak tempat-tempat yang menggantungkan penghasilannya dari para turis lokal yang sedang melakukan road trip. Ingat yaowww, jumlah penduduk US ini ratusan juta, Cyin hihihi. Potensi turis lokal sangat tinggi. Penduduk US ini cukup terkenal hobi jalan-jalan antar negara bagian lho.

Jumlah penduduk tinggi juga berarti banyak potensi tenaga kerja dan banyak mulut yang harus diberi makan toh yaaaa hehehe. Jadilah, kebijakan federal mau tak mau harus mengakomodasi hal-hal seperti ini.

Baru ngerti sekarang hehehe. Dulu-dulu kan lihatnya dari jauh saja. Mencibir melulu betapa tidak kerennya Amerika Serikat dibanding Uni Eropa :p. Again ya, lihat segalanya lebih dekat ^_^.

Ngggg… tetep condong Eropa, ya. Apah iniiiihhh, 4 tahun mutihin kulit di Ireland, baru setengah tahun di Texas sekeluarga udah gosong semua hahahaha. Alasannya karena pengin putih zzzz -_-, sungguh alibi yang sangat mulia hahahaha *benerinPoni*.

 

Tapi efek negatif dari kebijakan yang cenderung mengajak orang ke mana-mana naik mobil pribadi ini membuat Amerika Serikat menjadi penyumbang terbesar emisi CO2 yang ke-2 di dunia. Besarnya emisi CO2 akan berdampak makin buruk bagi Global Warming secara internasional.

Cina nomor satu. Persentase emisi CO2 US lebih dari setengah negara Cina padahal penduduk US hanya seperempat penduduk Cina. India bahkan hanya nomor 3, padahal penduduknya hampir sebanyak Cina.

10 besar memang ditempati oleh negara-negara penduduk segambreng termasuk Indonesia di urutan ke-7. Tapi ada Jerman di urutan ke-8 yang penduduknya “cuma” 80 juta orang. Mungkin karena negara padat industri. Jepang urutan ke-6 soalnya (sumbernya dari artikel ini, ya).

Padahal kebijakan-kebijakan di US (termasuk kebijakan masalah transportasi dan industri) yang ada sekarang itulah yang mungkin menjadi solusi paling feasible untuk mempertahankan posisi sebagai negara adidaya, menggenjot ekonomi yang dimotori dan harus menghidupi lebih dari 320 juta penduduknya.

Makanyaaaa, mumetlah jadi pemimpin mah. Apalagi di negara-negara yang penduduknya tumpah ruah. Sumpah deh, enakan jadi pengamat atau semacam itulah-itulah. Riset-riset sat set sat set terus cuap-cuap, “Wah ini salah, itu salah. Harusnya begini harusnya begitu.”

roadtrip amerika
Salah satu foto waktu road trip ke Arkansas

 

Macam pemain bola saja. Kadang lebih seru komentatornya ya hahaha. Pemain sudah ngos-ngosan di lapangan. Pelatih sudah keringetan menyusun strategi kok ya enggak gol-gol juga. Supporter deg-degan dan terus bersorak sambil berdoa. Komentator semangat 45 maki sana sini hahahahaha.
Tidak apa-apa. Memang dunia ini harus seimbang ;).

Salam hormat untuk semua pemimpin-pemimpin dunia dan mantan pemimpin-pemimpin dunia dari negara mana pun (y). Termasuk dari negara sendiri, yes? ^_^

Tetap hormat selalu buat Bung Karno, Jendral Soeharto, Eyang Habibie, Mendiang Gus Dur, Ibu Megawati, Bapak SBY, hingga kini yang masih dalam proses berjuang … Pak Jokowi :). Tetap semangat Pakde <3.

Kalian sendiri senangnya jadi yang mana, nih? The Observer, the Supporter OR the Do-er? ;).

The world needs dreamers and the world needs doers. But above all, the world needs dreamers who do.  -Sarah Ban Breathnach

Laki-laki, Suami, dan Bapak

Walau tak pernah bermukim di daerah asal kedua orang tuanya, suami saya dibesarkan dalam suasana “Minang yang kental”. Ada segregasi yang tajam antara “tugas Ibu” vs “tugas Ayah” dalam urusan rumah tangga dan mengurus anak. Setidaknya dari kehidupan sehari-hari mertua saya, itu tergambar dengan sangat jelas.

Ada yang bilang, ini sih budaya orang Sumatera. Secara umum ini budaya ketimuran. Di Asia yang begini-begini mah wajar hehehe. Jangan heran kalau di Indonesia pada khususnya, pasti masih banyak yang ribet kalau misalnya melihat bapak-bapak ngurus anak tanpa istri.

Baca : Ayam Kremes (Ayah Muda Keren Bikin Gemes)

Macam meme yang tempo hari ramai. Ada embak-embak melihat seorang suami sibuk ngurus anak sementara istrinya sibuk belanja, si embak tetiba ingin berbisik ke si suami, “Mas, punya istri 2 itu boleh, lho!”

Budaya ketimuran kita selalu ngotot, anak ya harusnya diurus ibunya, laki-laki mah harusnya cari duit saja. Titik. Belum banyak ruang dalam budaya “ketimuran” kita untuk menerima bahwa ada lhoooooo rumah tangga yang di mana suami dan istri bersedia berbagi tugas dalam HAL APA PUN ;).

Pernah ada tulisan tentang sepasang suami istri di mana istrinya yang bekerja penuh dan suami lebih banyak di rumah, itu nyinyiran dari komentarnya dahsyat bener hahaha.

Ada yang menghina, si suami tidak paham tanggung jawab kepala keluarga. Padahal suami kerja juga. Cuma kebetulan suaminya pekerja lepas atau freelancer jadi memang tidak perlu setiap hari ke luar rumah. Belum lagi sekarang banyak bisnis/pekerjaan yang tetap leluasa dikerjakan dari dalam rumah kan? Well, who knows lah.

Sampai ada yang bilang, “Mereka kan muslim, ya. Apa istrinya enggak takut masuk neraka?”

Piye toh masuk neraka? Sang istri bekerja kan juga untuk membiayai kebutuhan keluarga dong. Untuk kehidupan keluarga yang lebih baik dan seharusnya pasangan tersebut sudah mempertimbangkan plus minus segala macamnya. Itu tergantung niat masing-masing saja mereka bekerja untuk apa. Emang situ Tuhan bisa baca niat orang :p.

Tapi tolong jangan dibawa ke titik sebaliknya juga yaaaaa. Again, ini masalah domestik tiap rumah tangga. Suami saya tipe yang memang tidak suka ada 2 matahari dalam sebuah rumah tangga :). Ya kebetulan dapatnya juga tipe yang kayak saya yang memang lebih senang kongkow-kongkow di rumah hahaha :p.

Saya kangen juga ingin bekerja kantoran kayak dulu. Tapi menikmati juga sih kondisi sekarang. Apalagi sekarang saya lagi suka sekali memasak dan praktik-praktik resep.  Saya kebetulan juga punya hobi menulis yang bisa lah mengais uang jajan dikit-dikit dan bisa dikerjakan full time dari rumah thok :D.

Dan suami sangat mendukung soal ini. Misalnya dia ikut pontang panting dulu jualin buku saya yang terbit indie. Kayaknya lebih semangat suami daripada saya. Padahal hasilnya enggak seberapa. Hanya remah-remah dibanding gajinya dia di kantor hihihi. Tapi itu salah satu bentuk supportnya kepada saya <3.

Suami saya selalu ngajarin untuk menghargai penghasilan dan harus kerja keras kalau mau berhasil. Harus mau capek harus mau berkorban. Sementara saya tipe yang agak-agak kurang persisten hehehe.

Jangan bayangin suami saya tipe bapak-bapak yang benar-benar pulang kantor langsung lempar tas dan minta dipijitin segala macam hahaha. Untuk memasak dia memang anti banget kecuali kalau saya sakit atau pas ngidam tempo hari. Tapi kalau urusan gonta ganti pampers, mandiin anak, nyuapin anak, ikut beberes rumah, suami saya SELALU siap dimintai bantuan :).

Tapi memang terasa dese anaknya patriarkis gitu-gitu :p.

Urusan memasak saya memang tidak keberatan kalau dihandle 100% sama saya :D. Terus terang, suami pernah masakin buat saya tapi saya kan orangnya ya tipe-tipe A bilang A, B bilang B. Jadi, masakannya enggak enak ya saya bilang enggak enak, dese ngambek hahaha.

So far, 80% dari kehidupan pernikahan kami,  dihabiskan di luar Indonesia. Memang sih waktu di Jeddah masih mudah sekali beli-beli makan di luar atau menggunakan jasa asisten rumah tangga.

Kodrat laki laki
BBQ-nite @Jeddah, October 2011

 

Terus pindah ke Ireland. Di Ireland yang merupakan bagian dari wilayah Eropa Barat, gaya hidupnya ya tentu beda banget dengan budaya Asia kita. Di sana kehidupan serba mandiri. Mau tak mau, berbagi tugas dalam kehidupan rumah tangga sangat umum.

Tidak sedikit lho di sana yang kebagian tugas anter jemput anak sekolah dan berbelanja itu malah para suami. “Ayam Kremes” bertebaran di mana-mana hahaha :p. Istrinya yang bekerja full time :D.

Suami saya jadi makin aktif membantu urusan rumah tangga hehehe. Walau ya urusan memasak hampir 100% tanggung jawab saya. Kalau yang lain-lainnya dia selalu mau bantuin. Namanya rumah tangga ya, tidak selalu mulus. Kadang juga ada berantem-berantemnya masalah gini-ginian hehehe.

kesetaraan gender
Gambar : pixabay.com

 

One thing for sure, kita tidak boleh lupa, budaya kita sama budaya satu generasi di atas kita jelas berbeda. Misalnya saya dan suami vs mertua dan orang tua saya. Baik Mama (ibu kandung saya) dan Mami (ibu mertua) masih memegang teguh prinsip “istri harus melayani suami dalam banyak hal”.

Mama saya waktu ke Irlandia rewel bener melihat saya kalau nyiapin makan tuh langsung templokin semua ke dalam piring hahahaha. Maunya kan disiapin di atas meja, nasi dalam mangkok, dan lauk-pauk lengkap dalam wadah masing-masing. Ribet amat, banyak-banyakin cucian piring aje :p. Apalagi ibu mertua hihihi.

Ya, ya, ya kita tahu zaman sudah berubah. Tapi ada hal-hal yang memang tidak bisa kita ubah semudah itu.

Orang tua kita sudah berumur dan tentu sudah sukar diubah pandangannya :). Jadi, tidak ada salahnya kita yang muda-muda ini yang mengalah ;). Toh juga tidak tiap hari.

Waktu mama ada di Irlandia, ya saya biarin deh Mama yang ngatur-ngatur dan saya nurut saja kalau disuruh nunggu makan kalau suami belum pulang :p. Biasanya kalau lapar ya makan duluan, bodo amat hahaha. Di rumah ibu mertua atau di depan beliau juga saya tidak mungkin lah nyuruh-nyuruh suami cebokin anak yang habis pup hahahaha :p.

Pasti sebisa mungkin saya jaga perasaan ibu mertua dengan berusaha mengerjakan hal-hal seperti “itu” tanpa bantuan suami. Walau saya rasa bapak ibu mertua pasti sudah paham kebiasaan kami di luar negeri hidup mandiri tanpa tangan ketiga seperti asisten rumah tangga, kerabat segala macam :). Tetap saja, saya menghindari meminta tolong suami untuk hal-hal yang “begitu-begitu” lah DI DEPAN MERTUA :D.

Kecuali terpaksa banget.

Kadang saya juga memposisikan diri sebagai ibu dari anak laki-laki 😀. Koleksi bujang ada 3 nih hahaha. Walau sudah terbiasa hidup “modern” dalam artian segregasi tugas laki-laki dan perempuan dalam rumah tangga tidak setajam di generasi orang tua kita, saya tetap enggak tahan bayangin entar lihat anak saya pontang-panting ngurusin anak sementara bininya kagak ngapa-ngapain hahaha. At least, jangan depan mata eike ya my future in laws hihihi.

Anak-anak laki-laki saya sih sudah digembleng sejak dini buat handle urusan rumah tangga. Boy1 dan Boy2 sudah diajarin menyapu dan beres-beres rumah :D. Sudah rutin mereka bantuin saya tiap hari dalam urusan beginian ;).

Tapi sudah hukum alam ya, semandiri apa pun kita mendidik anak laki-laki kita, tetap saja our boys will be our boys. Belum tentu saat dewasa nanti kita tahan melihat mereka disuruh-suruh sama bininya depan mata kita, yes? Hahahaha.

Makanya, ladies … don’t do that to your Mom-in-law. What you reap is what you sow, yes? 😉