Negeri di Awan

Angin topan menghambat mobil ambulans yang ditumpangi Meredith dan Alex, yang sedang membawa seorang bayi yang usianya kurang dari seminggu. Bayi tersebut ditransfer dari rumah sakit yang kekurangan peralatan karena sang bayi butuh perawatan khusus.

Ambulansnya mendadak berhenti di tengah hujan deras dan mereka berdua diminta oleh Pak Supir untuk turun dari mobil. Meredith ngotot mempertahankan adek bayi tetap dalam ambulans karena ribet membawa keluar peralatan yang menempel di sekujur tubuh si adek bayi. Alex sebaliknya. Jadi berdebatlah mereka.

Gambar : Meredith Grey dan Alex Karev (theodysseyonline.com)

Hingga akhirnya sebuah benturan membuat keduanya pingsan. Saat tersadar, mereka pun buru-buru mengangkut si adek bayi keluar dari mobil sebisanya.

Sementara kedua dokter ini berusaha keras menyelamatkan nyawa si adek bayi, alangkah horornya mereka mendapati pemandangan di luar ambulans. Ternyata, tiga orang dewasa tergeletak berpencar di atas aspal. Sudah tidak bernyawa. Termasuk si supir ambulans.

Yoih, saya masih rajin nonton re-run nya serial “Grey’s Anatomy” di salah satu siaran lokal di sini . Gabungan antara mimpi terpendam pengin jadi dokter ahli bedah dan penggemar drama level kronis (hahaha, ini mah alasan nomor satunya .

Di salah satu serial Bones (serial favorit lainnya ), ada satu cerita yang enggak kalah galaunya.

Seperti biasa, adegan awal di setiap episode adalah penemuan tengkorak manusia. Kali ini, identitasnya adalah seorang remaja pria, Dylan, yang berasal dari keluarga baik-baik dengan kemampuan akademis yang oke.

Brennan dan Booth dari serial Bones

Dylan punya kekasih, Kelly, seorang anak yatim piatu yang berada dalam pengasuhan orang tua angkat bersama adiknya, Alex. Kelly dan Alex juga sering bergaul dengan anak-anak jalanan lainnya di sebuah rumah penampungan khusus.

Dylan sudah berhasil menyemangati Kelly dan Alex untuk semangat di sekolah dan berusaha meraih nilai-nilai bagus untuk bersaing mendapatkan beasiswa di pendidikan tinggi. Kalian tahu tidak sih ongkos kuliah di US sini? *pingsanDulu*.

Dua tokoh tambahan dalam episode ini , suami istri Kevin dan Fran. Pekerja sosial yang sering membagi-bagikan makanan dan kebutuhan lain buat para anak jalanan.

Kelly ngotot mengaku kalau dia membunuh Dylan. Belakangan Kevin juga terbunuh. Kelly juga mengaku membunuh Kevin.

Ternyata, Kevin ditembak oleh istrinya sendiri, Fran. Selama ini Kevin sudah sering mencabuli anak-anak perempuan dengan menjanjikan sebungkus roti isi kepada mereka. Fran berpikir bisa membuat Kevin sadar, tapi ternyata masih kumat juga.

Fran tadinya memanfaatkan Kevin untuk mendekati para anak jalanan dan menolong mereka. Sekaligus berharap bisa menyadarkan Kevin. Tapi gagal.

Kasusnya Dylan lebih sedih. Tadinya, Kelly pikir ingin pergi dari rumah orang tua asuh agar adiknya, Alex, bisa punya kesempatan mendapat hidup lebih baik. Karena ekonomi keluarga angkat mereka juga pas-pasan. Lebih bagus kalau mengasuh satu anak saja.

Kelly mau kabur bersama Dylan. Terus tahu-tahu berantem sama Dylan. Dylan tidak sengaja bersikap kasar kepada Kelly. Ternyata ada Alex di tempat itu. Melihat kakaknya dikasari, Alex refleks mendorong Dylan. Karena itulah Dylan menabrak kaca dan jatuh dari lantai atas hingga akhirnya meninggal.

Untuk melindungi Alex lah, Kelly terpaksa mengaku. Karena Fran juga selama ini selalu menjadi tempat bersandar bagi anak-anak jalanan di wilayah itu, makanya Kelly juga rela berbohong untuk Fran.

Gambar : pixabay.com

Kalau tidak salah Kevin juga error karena masa kecilnya yang kurang menyenangkan sebagai seorang foster child. Membuat kita pusing untuk memikirkan siapakah gerangan penjahatnya, di mana letak kesalahannya?

Enggak kebayang di Indonesia dan kebanyakan negara-negara berkembang lainnya pasti lebih seru lagi kisah-kisah seperti ini ya .

Negara dengan penduduk segabruk-gabruk kadang mentok dalam urusan kesejahteraan sosial. Bahkan untuk negara semaju dan secetar Amerika Serikat.

Konon, salah satu alasan rakyat US ogah-ogahan milih Clinton (walau lawannya Trump sekali pun ) karena isu kenaikan pajak. Kalau tidak salah, Partai Demokrat memang ingin melanjutkan bahkan meningkatkan kebijakan “Obama Care”. CMIIW ya.

Enggak usah jauh-jauh ke Amerika Serikat, kita saja di Indonesia, kalau Ibu Sri Mulyani senggol pajak dikit, beeeuuuuhhh, timeline dunia maya bisa langsung terbakar, yes? Hahahaha.

Di Eropa hal ini lebih mudah diterapkan. Penduduknya cimik-cimik, Cuy hihihi. Jumlahnya berapa? Mereka pun lebih homogen. Makanya sekarang lagi gamang diserbu pengungsi “luar”. Lah Amerika Serikat? Antar negara bagian saja masih banyak kesenjangan ekonomi jadi yah, kompleks yaaaaa.

Untung gue bukan presiden ya Allah *sujudSyukur*. Enggak harus mengambil keputusan.

Tapi kemudian saya ingat kasus Primark tempo hari. Primark adalah waralaba besar asal UK/Ireland yang menjual pakaian segala macam dan beberapa peralatan rumah tangga dengan harga sangat murah.

Pernah ada kejadian, katanya di salah satu baju yang dijual terselip selembar kertas, ” “Forced to work exhausting hours”.

Entahlah itu beneran apa tidak. Tapi serius, saya sendiri memang sering mempertanyakan bagaimana cara Primark menjual barang-barang yang kualitasnya lumayan lho dengan harga semurah itu.

Bayangin harganya kalau diskon. Bahannya tidak ecek-ecek lho. Ketahuan nih bajunya Primark semua hahaha.

Jangan ketawa, Neng!!

Terus bagaimana dengan isu tenaga kerja dari negara-negara dunia ketiga yang dibayar dengan upah sangat murah untuk menyokong bisnis di negara-negara maju?

Saya sendiri belanjanya di Primark mulu waktu masih di Ireland *tutupMuka*. Alamaaak, kalau diskon, kemeja-kemeja perempuan dewasanya bisa dihargai 5 euro. Bahkan ada yang 3 euro, mau PO gak Sis? #ehGimana hahahaha .

Kesannya tidak adil, ya. Tapi kita lupa, kita adalah bagian dari ketidakadilan ini .

Gambar : independent.co.uk

Ya tapi gimana dong, ternyata industri-industri begini juga menolong roda perekonomian di negara-negara berkembang sarat penduduk. Di Cina misalnya. Sekarang lihatlah, Negeri Seribu Rakit ini sudah menjadi ekonomi nomor 2 di dunia.

Sebenarnya kita ini di banyak kesempatan ingin semuanya baik-baik saja, ya. Kita senang, mereka senang. Win-win solution gitulah. Tapi ternyata tidak semudah itu.

Seperti Meredith dan Alex yang mati-matian mikirin gimana biar si anak bayi selamat sampai rumah sakit tanpa kehilangan nyawa, ealah, malah 3 orang dewasa meninggal tanpa pertolongan mereka sama sekali saat mereka sibuk berjibaku tentang si adek bayi.

Seperti Dylan, Kelly, Alex, Fran, semua punya niat baik masing-masing. Tapi ya begitulah, alih-alih semuanya bahagia malah twisted ending habis-habisan .

Saya pikir pun apa tidak bisa kita beli barang-barang murah tapi tidak “mengorbankan” tenaga orang lain? Bisa, pakai robot! Tapi kalau sudah ada robot, lantas manusia mau disuruh kerja apaan? Mumet lagi kaaaaan huhuhu.

Kadang juga untuk kasus penggusuran. Saya pikir, apa tidak bisa semua penduduk di bantaran kali, mbok ya dikasih saja rumah satu-satu gratis deket-deket situ juga. Tapi kan penduduk miskin bukan hanya mereka yang tinggal di daerah yang masih abu-abu ilegal apa tidak, ya. Bagaimana dengan kalangan miskin yang tinggal di wilayah LEGAL? Is it fair for them?

Entahlah. Kalau pun pemerintah misalnya mau minta urunan ya belum tentu pada nyumbang. Kalau dipaksa bayar pakai kenaikan pajak, ya nanti bertengkar lagi dong kita di Fesbuk, yes? Hahaha.

Di manakah gerangan kebahagiaan sempurna buat semua orang itu berada?

Samar-samar ingat sama lirik lagunya Katon yang sempat populer di tahun 90 an :

“Kau mainkan untukku
Sebuah lagu tentang Negeri di Awan
Di mana kedamaian menjadi istananya…”

Terus jadi sadar, ya iyalah, kita semua masih menapak di atas bumi. Sebuah dunia yang memang tidak sempurna. Setidaknya sampai tulisan ini kalian baca .

Di mana di dunia ini, kaum manusia yang punya kendali terbesar terhadap makhluk hidup lainnya. Manusia, tempatnya salah dan lupa, seperti kata salah satu ayat dalam kitab suci agama saya.

Kita semua, sebagai manusia, adalah bagian dari ketidaksempurnaan itu. Dari ketidaksempurnaan-ketidaksempurnaan inilah terjalin hubungan-hubungan di dunia.

Jangan dibuat rumit karenanya. Akan muncul kesalahan dan penderitaan dari koneksi apa pun yang melibatkan manusia. Termasuk oleh saya kepada teman-teman semua, walau mungkin hanya saling menyapa di dunia maya. Maafkan, ya, teman-teman .

Tidak ada manusia yang sempurna. None of us. So stop acting like one .

Marhaban ya Ramadan.

Selamat menjalankan ibadah puasa bagi teman-teman muslim .

Gambar : geekclubbooks.com

Hizbut Tahrir Indonesia, “Salafi”, atau PKS ?

Di kuartal terakhir tahun 2016 kemarin, Tunisia mengeluarkan perintah resmi melarang gerakan radikal Hizbut Tahrir dengan tuduhan “merusak ketertiban umum”.

Sudah bertahun-tahun pemerintah Tunisia memperjuangkan undang-undang ini hingga akhirnya tahun lalu berhasil diterapkan.

Gerakan Hizbut Tahrir muncul pertama kali di tahun 1950-an, gebrakan awalnya di Yordania dan Arab Saudi. Hingga akhirnya terus menyebar ke negara-negara lainnya.

Gambar : pixabay.com

Hizbut Tahrir menginginkan berdirinya khilafah Islam yang diharapkan mempersatukan dan menaungi seluruh umat Islam di seluruh dunia. Secara “alami”, gerakan ini tentu ditentang oleh Kerajaan Arab Saudi dan sebagian besar negara-negara lain di Timur Tengah yang juga penduduknya mayoritas muslim.

Dalam salah satu situs resminya di Indonesia (hizbut-tahrir.or.id), HT-Indonesia (HTI) sering “mengecam” pemerintahan Saudi. Mengapa spesifik Arab Saudi? Mungkin karena negara inilah yang sering dijadikan “kiblat negara muslim” oleh sebagian kalangan muslim di tanah air. Dimana HTI tentu menentang keras anggapan tersebut.

Sejarah panjang keruntuhan khilafah terakhir di awal abad ke-20, pemberontakan internal dari negara-negara Arab di Timur Tengah menjadi salah satu penyebabnya.

Terlihat lebih “konsisten” ya . Bagi mereka yang mengklaim memperjuangkan pemerintahan islam via sistem khilafah tentu tidak akan bermuka dua dengan “memuji-muji” negara-negara monarki seperti Saudi, Brunei dll dan negara-negara demokrasi seperti Turki.

Negara tetangga kita, otoritas Malaysia pun sudah sejak lama punya hubungan “tidak mengenakkan” dengan organisasi Hizbut Tahrir ini. Saya coba cari berita resmi pelarangan HTI di Malaysia tapi tidak ketemu. Yang banyak itu kecaman dari kelompok Islam setempat terhadap organisasi ini dan desakan masyarakat untuk melarang HT.

Mayoritas negara-negara Timur Tengah juga melarang gerakan Hizbut Tahrir termasuk Mesir, Yordania, Irak, Suriah, Libya dll. Di Asia ada Turki dan Pakistan yang juga bersikap sama terhadap Hizbut Tahrir.

Justru “anggota-anggota” HT ini banyak yang bermukim di negara-negara “bule” hihihi. Di UK misalnya, lumayan ramai itu orang-orang HT ngumpul di sana. Aish, asyik ya tinggal di “negara kafir” #eh hahahaha . Emang enak ciiiiiihhhh  #iLoveLondon .

Hizbut Tahrir Indonesia
Gambar : pixabay.com

Tapi harus dipahami ya bahwa perjuangan HT ini TIDAK dengan jalan kekerasan . Mereka radikal dalam pikiran. Jadi salah banget kalau mengira ISIS-ISIS an itu identik dengan HT. Tapi saya pribadi menolak ide khilafah 100% ;).

Btw, yang sering terjadi adalah ungkapan dan makian “Wahabi lo” atau “Dasar salafi” kepada orang-orang yang merindukan khilafah. Nah, ini termasuk salah kaprah yang cukup parah hehehe.

Saya terus terang tidak mengerti terminologi “salafi” or “wahabi” ini maksudnya apa. Kalau Hizbut Tahrir kan jelas ya organisasinya. Nah yang 2 ini saya kurang jelas.

Setahu saya ya, pengajian-pengajian yang memakai istilah “salafi” atau “mengikut pada ulama salaf/ulama-ulama di masa awal” malah punya paham yang bertentangan 100% dengan Hizbut Tahrir.

“Pengajian salafi” (pakai tanda kutip ya karena again, saya tidak pernah tahu definisi resminya hehehe), menentang Bughot, memberontak pada pemerintahan yang resmi/sah.

Naturally, ajaran ini ya cocok dengan doktrin kemasyarakatan di Kerajaan Arab Saudi. Makanya, kalau “pengajian salafi” itu pro pada Arab Saudi, bertolak belakang banget dengan HT yang jelas-jelas mengecam pemerintahan Saudi.

Sepengetahuan saya ya, which is belum tentu 100% tepat makanya CMIIW , “pengajian salafi” fokusnya BUKAN ke politik. Tapi ke penerapan tauhid. Penerapan tauhid ala “pemahaman mereka”. Silakan dicari tahu sendiri .

Di Arab Saudi sendiri karena sistemnya monarki absolut, pemerintahan itu berdasarkan keturunan raja. Jadi memang situasi dibuat kondusif dengan beberapa aturan-aturan khusus. Kebebasan pers ya hal yang cukup langka lah di sana .

Hizbut Tahrir Indonesia

Ceramah-ceramah jumatan di Arab Saudi itu ada “aturan khusus” segala lho . Justru untuk mencegah para ekstrimis agama. Jadi, niatnya bukan untuk mengekang agama sama sekali.

Satu kelompok lagi yang suka kena serangan salah arah adalah kelompok PKS . Nah, yang ini partai politik. Sebenarnya PKS lebih jelas dan “tertulis”. Seharusnya sih karena berdiri dalam naungan NKRI, PKS secara organisasi masih berpegang pada Pancasila. Di mana Pancasila tentu tidak cucok buat khilafah, yes? .

Dalam lingkaran pertemanan Facebook saya sendiri, jangan salah lho ya, itu “teman-teman salafi” banyak yang suka nyinyir-nyinyiran sama orang-orang PKS hahaha. Dalam hal ini, saya yakin ini masalah oknum per oknum bukan atas nama organisasi mereka masing-masing.

“Teman-teman salafi” secara umum memang tidak suka perselisihan politik. Sementara yang dari PKS waduh, paling semangat 45 kalau urusan politik ya hehehe. Terlihat kontra dengan pemerintah karena ya jelas dong, mereka sekarang berada dalam lingkaran “oposisi”. Wajar saja.

Kalau HTI ya seperti itu tadi. Mereka fokusnya ke pendirian khilafah. Sama PKS ya tentu tidak cocok pandangan politiknya. Sama “Salafi” apalagi hehehe. Pernah tuh ngotot-ngototan dua oknum perwakilan “Salafi” vs HTI soal kedatangan Raja Salman tempo hari. HTI kontra tapi “salafi” pastinya pro .

Gambar : pixabay.com

Namun, dalam perhelatan Pilkada DKI kemarin, baik HTI, “Salafi” maupun simpatisan PKS, terlihat KOMPAK “menolak Ahok” . Tapi ingat penolakan mereka memiliki basis alasan yang berbeda-beda lho ya.

Sebagai pendukung Ahok, saya resmi menjadi musuh bersama, deh hahahaha. Becanda ya .

“Ulama-ulama salafi” ada yang menolak dengan tegas berkomentar soal politik di Pilkada DKI kemarin ini. Tapi ada juga yang mengeluarkan pernyataan “keras”. Kalau “anggota”nya mah tergantung oknum.

Ada juga “kerabat salafi” yang walah nyinyirnya pedesnya sekilo cabe rawit soal Ahok hahaha. Sementara ada juga yang memilih “tidak bersuara” dan dengan jelas menyatakan golput hehehe.

Antara mereka sempat bersitegang masalah demo turun ke jalan. Tentu saja, “kalangan salafi” MENENTANG demo-demo model begini. Sementara HTI dan PKS malah menyerukan sebaliknya.

Soal Syiah : HTI masih menganggap Syiah sebagai bagian dari Islam. HTI meyakini dalam Syiah juga ada banyak mazhab. Yang sesat ada dan yang masih sesuai tuntutan Islam juga ada.

PKS secara organisasi resmi belum pernah mengeluarkan pernyataan soal Syiah. CMIIW ya. Tapi simpatisan PKS tidak sedikit yang suka berkomentar kasar dan tidak sopan mengenai paham Syiah.

Sementara “pengajian salafi” ini saya tidak tahu situs resminya apa. Pernah bertanya kepada salah seorang “teman salafi” tapi dia juga tidak tahu. Katanya ada beberapa kelompok dalam istilah salafi ini di Indonesia.

Yang jelas, hampir 100% “teman-teman Salafi” dalam lingkaran pertemanan saya kompak MENGUTUK pemahaman Syiah secara absolut.

Agak rancu juga, ya. Mengingat di Arab Saudi sendiri, komunitas Syiah hidup aman dan tenteram dalam masyarakat. Mereka juga dilindungi oleh Kerajaan Saudi. Dijaga haknya dan segala macam. Entah juga mengapa “akar rumput” bisa berkobar sebegitu besar bencinya kepada kalangan Syiah?

Soal HTI kepada Arab Saudi juga saya tidak terlalu sepakat. Walau berbentuk monarki absolut, pemerintahan Saudi itu cukup menjaga tanggung jawab lho dalam urusan ekonomi negara. Indeks Persepsi Korupsinya termasuk bagus. Infrastruktur di sana keren-keren gila. Saya pernah tinggal di Saudi lho jadi lihat langsung bukan katanya-katanya-katanya .

Kira-kira, terbayang kan perbedaan antara ketiga “kelompok” ini?

Itulah mengapa kalian jangan suka seenaknya lempar label ke orang lain. Apalagi soal khilafah. Ketiga “kelompok” ini serupa tapi tak sama. Jangan lupa kehadiran oknum-oknum yang pemikirannya mewakili isi kepala masing-masing, belum tentu pendapat resmi organisasi.

Sebaliknya, jangan panik tidak jelas dengan aturan pelarangan resmi terhadap kelompok Hizbut Tahrir Indonesia. Organisasi ini sudah jelas MENOLAK Pancasila sebagai dasar negara. Harusnya sudah sejak dulu dilarang.

Ancamannya jelas dan di berbagai negara mayoritas muslim lain pun, Hizbut Tahrir sudah “dikecam” sejak lama.

Saya sendiri sih secara pribadi sudah membekali pengetahuan lebih detail tentang ketiga kelompok ini. Bukan untuk publik untuk diri sendiri saja hehehe. Makanya, tidak pro sama sekali kepada salah satu .

Saya enggak tahu juga cocoknya masuk mana. Masuk NU kok juga rasanya beberapa kurang pas. Jadi bagian dari Islam rahmatan lil aalamiin saja deh .

Saya meyakini sebaik-baiknya manusia dalam ajaran agama saya adalah mereka yang memiliki manfaat sebesar-besarnya dalam arti positif bagi orang lain. Terserah mau masuk kelompok yang mana hehehe.

Lakukan kebaikan sebanyak yang kita bisa dengan meminimalkan keburukan semampu yang kita sanggup .

Pergolakan terbesar ya melawan diri sendiri. Misalnya menundukkan hati untuk tidak merasa paling benar terhadap siapa pun (konteks sesama manusia ya). Itu termasuk perang yang paling sulit, kan? .

Nah, itulah perjuangan yang harus kita hadapi setiap saat. Seumur hidup kita. Mustahil untuk bisa menang terus. Kayaknya saya lebih sering kalah-nya hahahaha .

Berdoa untuk diri sendiri agar menjadi lebih baik dari hari ke hari.

Prayer does not change God, but it changes him who prays.
-Soren Kierkegaard-

Aamiin .

Topkapi Museum : The Truth Will Set You Free

“Kota di dalam kota” merupakan istilah yang cukup pas untuk menggambarkan fungsi Topkapi Museum di masa lalu. Salah satu situs bersejarah peninggalan Kesultanan Ottoman, bagian dari kekhalifahan Islam yang berakhir di awal abad ke-20.

Hampir 400 tahun, Topkapi Museum menjadi pusat kediaman Sultan di Kerajaan Ottoman. Sebelum akhirnya dipindahkan ke Istana Dolmabahce di pertengahan abad ke 19.

Sekitar 4 ribu orang diperkirakan bermukim di dalam kawasan Topkapi Museum. Termasuk 300 orang selir sultan yang tinggal dalam bangunan tertentu yang dikenal dengan istilah Harem.
Konon 1000 tukang masak istana harus menyiapkan makanan sebanyak 6 ribu porsi setiap harinya.

Malas baca panjang-panjang, rehat dulu nih  nonton vlognya :p

Masih ingat serial The Magnificient Century dari Turki, berkisah tentang Suleiman The Magnificient, yang dikritik oleh beberapa kalangan muslim di tanah air karena dianggap sebagai “distorsi” terhadap ajaran Islam.

Seolah penggambaran bahwa Sang Sultan memiliki selir (tepatnya, ratusan selir!) dan gaya hidupnya saat itu hanyalah “rekaan” semata. Disangkanya raja-raja di masa kekhalifahan penjelmaan nabi semua apa .

Mungkin inilah salah satu contoh glorifikasi terhadap masa lalu yang tidak terlalu berani diutak utik oleh para ulama di masa kini . Oh well, memangnya pengajian mana yang akan berani mengajarkan sejarah-sejarah seperti ini .

Yang sering ditekankan adalah “indahnya masa lalu”, sempurnanya ajaran Islam pada masa kekhalifahan bla bla bla. Padahal jejak kehidupan mereka di masa lalu tak begitu sulit diurai dan ditemukan buktinya.

Seperti ada jarak antara kehidupan rasulullah dan para sahabat vs kehidupan modern. Padahal diantara jarak waktu ratusan tahun itu, many things happened. Many-many-many things .

Oleh kalangan orientalis anti Islam, mereka menjadikan “catatan sejarah” ini untuk menyerang Islam. Beberapa kalangan muslim tentu membantah keras dan menganggap itu hanya rekayasa karena dari kecil kita sudah dibentuk dengan ajaran seperti itu. Betapa indahnya penerapan Islam di masa lalu bla bla bla.

Enggak heran pada teriak-teriak minta khilafah, yes? .

Itulah gunanya menelisik sejarah. Tidak ada yang salah dengan aturan seperti ini di masa lalu. Perbudakan dan perlakuan terhadap kaum perempuan, adalah hal yang sangat-sangat lazim di masa lalu .

Topkapi Museum
Topkapi Palace, Istanbul 2016

Saya ingat pas ke monumen konfederasi di depan Capitol Building, Little Rock – Arkansas, saya bergumam, “Heran, orang yang ngotot memperjuangkan perbudakan kok ya dianggap pahlawan.”

Suami saya ketawa, “Elo pun kalau hidup di masa itu mungkin akan menganggap itu hal biasa.”

Yup, perbudakan bahkan baru benar-benar hilang dari kehidupan modern ini di abad 20 kali, ya. Karena pasca Perang Sipil 1965 pun tidak serta merta seluruh budak dibebaskan di semua wilayah Amerika Serikat.

Mungkin itu salah satu kepingan yang hilang dalam pendidikan tentang Islam di masa sekarang. Kita sibuk ngeyel dan malah menjadi bahan tertawaan para ahli sejarah.

Karena pada dasarnya mayoritas keagamaan kita lebih karena warisan. Berapa banyak sih yang benar-benar mau “belajar” Islam dan keluar dari zona nyaman berupa doktrin-doktrin dari masa kecil dulu? Geser dikit diteriakin liberal, bertanya dikit diserang dengan tuduhan “punya penyakit hati” hahaha.

Topkapi Museum

Kita suka gagap menanggapi tuduhan kok bisa di alquran ada aturan-aturan memperlakukan budak. Faktanya, alquran turun di abad berapa dulu, Cuy? Abad segitu aturan begini-begini sangat visioner di masanya .

Jangan heran jika penerapannya tidak bak-buk-bak-buk. Instead of mengancam dan memaksa agar budak dibebaskan otomatis, Allah menawarkan solusi khasnya, sebagai Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang : membebaskan budak diganjar pahala yang sangat besar .

Secara halus, Islam sudah menegaskan, berabad-abad sebelum dunia modern berteriak-teriak terhadap HAM, salah satunya dalam surah Al Balad ayat 12-13, “Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu? (yaitu) melepaskan budak dari perbudakan…”

Nggg…terus kok masih selir-seliran di era kekhalifahan ratusan tahun setelah alquran turun. Bukan ajaran Islamnya yang bermasalah, tapi umat di kala itu ya memang sanggupnya segitu . Bertahap dan berproses.

Topkapi Museum

Makanya, yang beginian-beginian janganlah terus-terusan disembunyikan dan dianggap “tidak ada” atau pura-pura tidak tahu.

Kita tidak dibekali dengan “kisah nyata” dari masa lalu. Beberapa kalangan memberi alasan, “Ya nanti kalau dijelasin semua pada salah paham dan bingung. Jadi lebih baik memang dibahas yang bagus-bagusnya saja.”

Bukankah Islam adalah ajaran bagi mereka yang berpikir? Ya biarkan umat berpikir jangan dininabobokan dengan kisah-kisah absurd dan enggan menceritakan sejarah secara lebih komplit berdasarkan fakta. Ya gak, ya gak, ya gak? .

Maaf ya, sekali-sekali memang harus diajak ngomong serius soal gini-ginian hehehe. Pengetahuan sejarah jangan dipilih-pilih .

“The truth will set you free, but first it will piss you off.”
― Joe Klaas, Twelve Steps to Happiness

Anyway, biar enggak stres, nonton vlognya deh hahaha. Pemandangan cantik di sisa-sisa peninggalan Istana Topkapi Museum berusaha kami abadikan dalam vlog yang ini.

Ngerekamnya gantian, karena harus jagain anak-anak yang ketiduran depan museum hahaha. Suka duka traveling sama anak-anak kicik ya .

Topkapi Museum

 

Dari salah satu teras bangunan, kita bisa memandang bebas perairan di Selat Bosphorus dan wilayah Golden Horn.

Hingga kini, kawasan Topkapi Museum merupakan bangunan istana terbesar peninggalan masa lalu yang masih bisa dilihat dan dikunjungi.

Jumat barokah buat kita semua .

And have a nice weekend .

Plan Actions, Don’t Plan The Results

Setelah saya menulis artikel “10 Keuntungan Tinggal di Arab Saudi”, saya jadi sering mendapatkan permintaan (biasanya via email) tentang “Mohon bantuannya agar saya sekeluarga bisa pindah ke Saudi dan hidup bahagia selamanya di sana.”

Saya kaget juga. Wah, jadi segitunya ya . Padahal sebenarnya di tulisan lain juga banyak saya ceritakan tentang hal-hal yang tidak terlalu menyenangkan tentang bermukim di Arab Saudi.

Lucunya, saya pernah menjadikan artikel ini menjadi “Sponsored Post” di fanpage saya The Davincka Code (like dong kalau belum hahaha #teteeeeeup), dan saya mendapat komentar, “Dasar unta lu! Bawa tuh semua temen unta lu ke sono.”

Gambar : pixabay.com

Kalau sponsored post kan memang jangkauannya luas dan kita tidak tahu siapa saja yang kena umpan oleh FB hehe. Termasuk si komentator tadi tentu tidak kenal saya sama sekali .

Tapi ada juga teman yang saya kenal mengomentari artikel ini dengan sinis, “Ya kalo tinggal di Saudi ngapain lo pindah. Munafik amat. Enggak usah tinggal di Eropa, Sis. Balik aja sono!!”

Sebaliknya, tulisan “How Islamic are Islamic Countries” mendatangkan komentar yang berseberangan. Saya dituduh hendak menjelek-jelekkan umat muslim dan Arab Saudi secara khusus.

Sampai kadang saking capeknya baca komentar saya sampai ketawa sendiri depan laptop enggak tahu mau reply apalagi hahaha. Karena sepertinya yang berkomentar juga tidak butuh jawaban ya. Mereka sudah menganggap saya munafik bla bla bla. Enggak guna juga menjawab.

Kalau agama sih mungkin wajar, ya. Sebenarnya topik lain pun banyak yang mirip. Misalnya soal Baby Blues dan Post Partum Depression. Istilah ini belum begitu populer di tanah air. Jadi tetap pro dan kontra saat ditulis. Padahal niatnya cuma nerangin penyakit dan semoga lebih aware.

Tulisan tentang politik ya apalagi hahaha. Jangan ditanya rusuhnya *pingsan*.

Topik netral tentang melahirkan juga sama kok. Saya pernah cerita soal hypnobirthing dan ada yang bilang gitu-gituan cuma mitos sebenarnya enggak ada penelitian ilmiah gimana-gimana. Mirip dengan tulisan tema Food Combining.

Beda artikel beda-beda cobaannya hahaha.

Kalau kita berpendapat tentang sesuatu ya mustahil lah mau bikin orang lain setuju hehehe. Saya tapi sanggupnya menulis tentang opini . Berdasar pengalaman dan pemahaman pribadi. Biar tidak terbebani karena ya memang pengalaman dan pemahaman bisa beda-beda.

Gambar : pixabay.com

Pada dasarnya ranah opini memang begitu, ya.

Mencoba sok-sok menyatukan berbagai pendapat juga sama kok. Pasti ada yang kontra. Seperti tulisan “Every Mom Has Her Own Battle” mencoba ngasih plus minus masing-masing pilihan Ibu ya tetap saja “wah Mbak Jihan ini sotoy deh bla bla bla, ibu yang baik itu jelas dong yang bla bla bla bukan yang bla bla bla”.

Mau topik liburan pun emang dikira netral? Enggak juga lho kadang-kadang. Yang lucu pernah menulis di blog pengalaman liburan sekeluarga tapi foto-foto yang saya tampilkan hanya foto landscape saja tanpa ada foto muka. Ada yang komentar, “Kalau ambil foto dari google mohon tampilkan sumber. Kalau begini bisa dianggap penipuan. Katanya jalan-jalan bareng anak-anak, ya tampilkan saja foto anda sendiri.” Hahahaha.

Belajar dari situ, postingan berikut ya kasih foto-foto muka, hasilnya adalah, “Wah nulis panjang-panjang cuma mau pamer kalau pernah ke luar negeri ya Mbak. Shallow banget.” *nangis*.

Ya makanya mustahil kan berusaha menyenangkan semua orang. Lagian memang siapa yang nyuruh begituuuuuu hehehe.

First thing first, make your self happy! .

 

Saya senang menulis. Menulis bikin saya senang. Macam topi saya bundar kalau tidak bundar bukan topi saya gitulah hahaha.

Saya pikir juga, dulu kan saya senang banget ya membaca buku-buku 7 Habits dan semacamnya. Ikut semangat habis membacanya. Jadilah saya pikir, siapa tahu tulisan saya juga bisa bikin orang lain senang.

Kan lumayan, ya. Kegiatan ini bisa dilakukan dari rumah. Sekarang juga gampang. Tinggal menulis di media sosial pribadi saja kalau enggak mau ribet. Atau di blog pribadi.

Tulisan memang dibuat untuk ditanggapi kok. Minimal kalau ada yang nanggapi ya ada yang baca hehehe.

Tentu tetap ada konsekuensi yang menyertai, tulisan adalah tanggung jawab masing-masing. Batasannya apa? Ya sudah ada kata-kata populernya kan bahwa “I’m only responsible for what I write NOT for what you UNDERSTAND.”

Saya enggak bisa mengatur-ngatur tanggapan/perasaan orang lain saat membaca tulisan saya. Itu sih sudah di luar kuasa kita. Tapi cukup penting untuk mengatur respons kita terhadapnya. Kita mungkin tidak bisa membuat semua orang setuju tapi respons kita terhadap perbedaan-perbedaan tersebut terkontrol penuh di tangan kita ;).

Ya, ya, ya, saya juga manusia biasa. Kadang juga hawa berantemnya lagi tinggi, jadi kalau ada komentar kurang setuju ngebalesnya bisa nyinyir hahaha. Tapi itu harus dikontrol beneran sih. Harus terus dilatih biar woles membaca apa pun komentar, which is tidak selalu mudah ;).

Gambar : pixabay.com

Jangan juga jadi gentar mau share-share opini hanya karena takut “dibully”. Tapi mungkin bisa dipertimbangkan langkah-langkah berikut ini sebelum menulis sesuatu yang sudah kita prediksi akan menimbulkan “kontroversi” walau kadang rasanya netral pun tetap saja kena serangan yak hahaha :p.

As for me, tulisan politik yang paling terekdungces :p. Sebenarnya makin ke sini cukup sering saya lebih berhasil menahan diri untuk tidak menulis opini lebih karena “malas ribut” hahaha. Tapi untuk hal-hal yang rasanya memang harus ditulis, setelah dipertimbangkan kiri kanan atas bawah, pasti akan tetap saya tulis dan share ;).

Pastikan juga untuk “edit, edit, edit”. Kadang, menulis dalam kondisi emosional itu biasanya lebih cepat kelarnya dan lebih menusuk  isinya hihihi. Tapi seringnya, setelah selesai, saya baca lagi bolak balik. Tunggu sampai emosi agak reda, baru bisa diedit dengan lebih ‘tenang’.

Walau kadang, ya gagal juga hahahaha :p. Masih tetap kecolongan energi negatif :(.

Jangan terlalu dipikirin respons orang-orang untuk topik yang kita rasa memang harus disuarakan :). Pertimbangkan saran 1 & 2 tadi, tapi pilihan tetap di tangan masing-masing. Jangan sampai mundur hanya karena tidak mau menerima konsekuensi akibat rasa takut/gak enak/dsb.

Ish, kesannya jadi ribet ya hahaha. Yah intinya dibawa happy aja sih, ya. Kita bebas memilih mau menulis apa saja tapi kita tidak bisa memilih konsekuensi yang akan timbul setelahnya. Termasuk tanggapan orang-orang terhadap opini kita.

Kendalikan apa yang bisa kita kendalikan tapi jangan malah muter-muter mikirin hal-hal yang di luar kuasa kita.

Remember this one, dari Dennis Wholey, “Happy people plan actions, they don’t plan results” ;).

Therefore, menulislah terus untuk kebaikan. Apa pun definisi kebaikan yang sanggup kita urai ya. Namanya juga manusia biasa. Mana ada yang sempurna :).

Gambar : pixabay.com

Islam, Arab Saudi, dan Hal-hal yang Tidak Bisa Dibeli Dengan Uang :)

Lagi hangat-hangatnya soal kedatangan Raja Salman ke Indonesia 2017, sungguh sulit untuk menahan diri tidak eksis, yes? Hahaha. Kabar dunia Islam.

Kayaknya sudah banyak yang saya tulis terkait pengalaman tinggal di Kota Jeddah selama 2.5 tahun kemarin. Di buku, di blog, dan di Facebook tentunya .

Uniknya, 2 tulisan paling hits di blog yang terkait Arab Saudi itu saling bertolak belakang : “How Islamic are Islamic Countries?” dan “10 Keuntungan Tinggal di Arab Saudi”. Ya memang isinya bagaikan bumi dan langit ya hahaha.

Di tulisan HIAIC misalnya dapat segabruk-gabruk komentar, “Kok sinis banget sama Arab Saudi dan Islam?”

Historic District. Foto : Dani Rosyadi

Tulisan 10 KTDAS sih cenderung aman. Hingga suatu hari ada yang komentar, “Dasar onta!” di fanpage pas ngeshare tulisan itu hahaha. Terkait tulisan ini pula jadi sering mendapat email/inbox semacam ini, “Bagaimana caranya agar saya pindah ke Mekkah atau Madinah ya Mbak? Tolong diberitahu caranya. Saya sekeluarga ingin khusnul khatimah di sana.”

Walah, bingung ya jawabnya . Makanya, saya tidak pernah reply pesan-pesan model begini. Mohon maaf, ya *sungkem*.

Saya rasa di sinilah salah satu persoalannya. Buat sebagian umat muslim, Arab Saudi itu dianggap sebagai representasi ajaran Islam. Kalau ngomongin orang Saudi mungkin bayanginnya selevel Rasulullah dan sahabat ya hehehe.

Sementara di kutub satunya lagi, kayaknya alergi banget sama Arab Saudi. Tapi bisa jadi kutub ini muncul justru karena adanya orang-orang yang saya ceritakan di paragraf sebelumnya .

fotografer Dani Rosyadi Masjid Apung
Masjid Apung, Jeddah-Arab Saudi, fotografer : Dani Rosyadi

Untuk “kaum pemuja Saudi”, sedikit saja kita mengkritik atau melontarkan hal-hal yang di luar ekspektasi mereka, entah mengapa langsung dicap “anti Islam”, “pembenci agama” bla bla bla. Pusing kan?

Malah saya pernah mendapat komentar, “Sok tahu lo! Kayak pernah tinggal di sana aja!!!” Well, heloooooooo … hahaha .

Tapi 2 buku saya, “Bunda of Arabia” dan “Memoar of Jeddah : How Can I not Love Jeddah?” itu dua-duanya menceritakan sisi positif selama tinggal di Kota Jeddah, lho .

Jadi begini, buat saya pribadi bersama keluarga inti saya, tinggal di Jeddah ya memang menyenangkan kok . Gaji gede yang menyebabkan biaya hidup jadi relatif “murah” .

Kayaknya kota-kota besar di Saudi ini dirancang untuk dinikmati oleh “kalangan berada” 😉. Kalau banyak uang ya pasti hepi lah hahaha. Harga mobil + bensin murah, listrik + sembako dan segala macam disubsidi.

Makan di resto tergolong murah. Belanja ke mana-mana serba dilayani. Itu karena kehidupan kaum berada di Saudi ditopang oleh adanya “warga kelas dua”. Siapa mereka? Ya orang-orang di sektor informal yang gajinya jauuuuuhhh di bawah pekerja formal .

Makan di resto di Eropa tergolong mahal lebih karena ada “jasa manusia” tambahan yang dibutuhkan. Man-hour di negara-negara welfare state memang cukup “adil” untuk level informal sekali pun .

Bagaimana dengan di Saudi?

Enak, sih hahaha. Dulu tuh ya, buang sampah saja tinggal bayar 50 riyal sebulan, sampah diangkutan sama Haris (pekerja apartemen). Tinggal taruh saja depan pintu. Nanti Haris keliling mungutin kantong sampah dari lantai 1 sampai 6. Plus 100 riyal sebulan, mobil dicuciin sampai kinclong sama Haris hampir setiap hari .

Mana bisaaaa lo bayar jasa orang segitu di Eropa .

Fore Abbey – Ireland <3

Hal-hal inilah yang saya bahas di tulisan “How Islamic are Islamic Countries?” Karena keadilan sosial adalah salah satu napas utama dalam ajaran Islam di kehidupan bermasyarakat .

Itu baru ngomongin kesenjangan sosial. Belum ngomongin gaya hidup lainnnya .

Aturan-aturan khusus di Arab Saudi juga sering disorot oleh dunia internasional sebagai aturan Islam. Umumnya oleh kalangan non muslim. Oleh beberapa teman India di Ireland misalnya, saya ditanya, “Eh, kenapa sih di agama Islam perempuan dilarang menyetir?”

So pasti saya tegaskan, kalau aturan itu khusus di Arab Saudi saja. Bahkan di negara-negara Timur Tengah lain yang mayoritas muslim, tidak ada aturan seperti itu .

Sorotan lain adalah aturan bahwa di Saudi tidak boleh mendirikan rumah ibadah selain rumah ibadah umat muslim. Saya selalu tekankan bahwa itu BUKAN aturan Islam. Banyak juga lho komentar di forum-forum agama yang menuduh, “Islam sih mana bisa hidup damai dengan agama lain. Mereka punya berbagai aturan diskriminatif.”

Irlandia *loved*

Sayangnya, kalangan muslim sendiri memang banyak yang memimpikan hidup “Islami” ala Arab Saudi. Untuk teman-teman non muslim dari negara lain, saya rajin lho mempromosikan Indonesia dan Malaysia sebagai dua negara mayoritas muslim yang punya “cita rasa” berbeda dengan Timur Tengah hehehe.

Cadangan minyak yang dahsyat ikut menyokong perekonomian Kerajaan Arab Saudi . Hal ini yang sering diabaikan hingga mendatangkan komentar seperti, “Saudi kaya itu karena berkah dari Allah sebagai negara suci.”

Ngggg…yang ada itu kota suci kali yaaaaa, Mekkah dan Madinah. Negara suci emang ada? .

Pendapatan tertinggi Kerajaan Saudi memang didominasi oleh ekspor minyak terkait posisi Saudi sebagai negara kedua penghasil minyak terbesar di dunia. Menghasilkan minyak terbanyak tidak selalu berbanding lurus dengan peningkatan kehidupan masyarakat.

Karena nomor satu itu Venezuela lho . Toh buktinya Venezuela gagal menghalau korupsi hingga tumbang begitu cepat saat harga minyak dunia berguncang.

Berbeda dengan Kerajaan Saudi. Saudi cukup piawai mengolah kelebihan minyak mereka . Dengan cerdas, Saudi sukses berkolaborasi dengan negara-negara teknologi maju dan mengolah cadangan minyak yang menguntungkan bagi berbagai pihak.

Padang Badr (The Badr Sand Dune), Arab Saudi

Saudi tergolong negara yang paling efisien dalam mengelola minyak . Biaya cukup kecil untuk kualitas yang bagus. Saudi pandai memilih teman bisnis tanpa harus merendahkan diri sebegitu rupa. Yup, temenan sama Amerika Serikat dalam mengelola minyak itu sudah lama. Kita tahu sendiri negeri adidaya ini punya keunggulan teknologi dan pengalaman bisnis yang caem .

Kasus Saudi mungkin bisa dipetakan terhadap kisruh Freeport. Jangan saya atuhlah yang bahas. Malu sama daster hahaha .

Sektor migas menyumbangkan sekitar 70% dari total penerimaan Kerajaan Saudi. Sudah rahasia umum, dengan kondisi harga minyak yang gonjang ganjing beberapa tahun terakhir, perekonomian Saudi pasti terkena imbasnya.

Internal Saudi sendiri sudah banyak berbenah kok. Pencabutan subsidi dari berbagai bahan pokok dan listrik sudah mulai ditarik. Sebentar lagi mungkin akan ada aturan penarikan pajak penghasilan. Banyak proyek infrastruktur yang ngadat. Tidak sedikit perusahaan yang bermasalah dengan gaji karyawannya.

Tenaga kerja Indonesia di sektor konstruksi juga sudah mulai banyak yang pulang sejak setahun terakhir. Gaji macet. Bukan hanya pekerja informal. Ekspat-ekspat di sana, yang selevel manajer segala macam banyak yang ketar ketir menunggu pembayaran yang belum kunjung selesai. Itu fakta .

Pantai Thuwal, Saudi 🙂

Tapi seberapa jatuhkah ekonomi Saudi? Nah ini yang harus hati-hati melihatnya. Karena Saudi sendiri MEMANG TAJIR beneran hehehe. Kalau enggak salah, rasio utang terhadap GDP juga tergolong rendah .

Selama ini, Saudi juga tergolong “bersih” dalam pengelolaan keuangan negara. Cek di data Indeks Persepsi Korupsi (IPK) tahun 2015, Saudi cukup bagus di angka 52. Negara-negara yang IPKnya di atas 50 dianggap “Bagus” . Mumtaz! Hehehe .

Sejak tahun 2016, pemerintah Saudi juga mengeluarkan komitmen untuk melepaskan diri dari ketergantungan Sumber Daya Migas dan mulai menggarap sektor lain. Mungkin terkait hal itu juga, sekarang Raja Salman beserta tim aktif bertandang ke mana-mana .

Tentu kita berharap Indonesia bisa menjadi salah satu tempat berlabuh untuk urusan investasi Sang Raja ya . Aamiin.

Jangan sampai kita lebay tidak jelas juga. Baru juga rencana sudah hebohknya kayak apa hahaha. Ingat lho, RENCANA. Belum benar-benar kejadian.

Jangan sampai kita malah dengan nyinyirnya membandingkan RENCANA ini dengan realisasi investasi yang sudah masuk dari negara-negara lain, termasuk China yang entah kenapa sangat dibenci sekarang ini . China dan negara lain SUDAH investasi, sementara Arab Saudi baru RENCANA, wooooiiiii .

Kabar dunia Islam
Padang Bahrah, Arab Saudi

Tentu kita berharap baik Arab Saudi maupun China atau negara-negara besar lainnya beramai-ramai berinvestasi di Indonesia. Enggak usah dikait-kaitin melulu sama agama dan konspirasi kenapa sih?

Kok malah dijadikan bahan beranteman baru? *pijetKening*.

Ah ya, untuk pertanyaan, “Mengapa hengkang dari Kota Jeddah padahal katanya gajinya gede bla bla bla?”

There are things that money can’t buy dong ya . Hidup ini tidak melulu soal bahan pokok harus murah, harus punya mobil bagus bla bla bla, punya koleksi barang mahal endebre-endebre, gaji tanpa pajak dst dst.

Ada lebih banyak hal yang ternyata tidak bisa dibeli uang. Tidak ada hubungannya dengan harga-harga . Nah, yang begitu-begitu itu yang bisa saya dapatkan dari pengalaman hidup di Irlandia Walaupun pajaknya terekdungces, harga barang gak semurah di Saudi, harga bensin juga ngek ngok. But I do love living in Ireland .

Walau tentu tetap banyak yang bisa dikeluhkan dari Ireland :p. Tidak ada tempat yang sempurna kalau masih level hidup di dunia, yes? 😉

Saya juga tidak tahu pasti mengapa hal-hal yang saya yakini adalah ajaran-ajaran utama dalam agama saya justru bisa saya rasakan efeknya di negara se”kafir” Irlandia hahaha .

Ring of Kerry Ireland by Dani Rosyadi
Irlandia, pic by : Dani Rosyadi

Remember, there are things that money can’t buy. Termasuk bisa terus berada dekat dengan keluarga tercinta, sesuatu yang menjadi dilema terbesar bagi perantau seperti kami-kami ini .