negara maju dan negara berkembang

Negara Maju dan Negara Berkembang (1) : Perbedaan Kesenjangan

Kemarin lihat video ini seliweran di timeline Facebook.

Yang lebih menarik membaca komentar-komentarnya. Video ini tentang seorang Ayah yang sudah terpisah selama 3 TAHUN dengan anak-anaknya dan ingin memberi surprais … pertemuan tiba-tiba.

Tidak sedikit komentar yang justru mempertanyakan, “Lho kok bisa pergi ampe 3 tahun? Mana tanggung jawabnya sebagai Ayah?”

Bahkan sindiran yang lebih kasar, “Wah, si Ayah pasti sibuk foya-foya tuh di luar negeri lupa anak lupa istri. Benar-benar tidak menghargai pentingnya keluarga.”

Juga, “Pergi selama itu kok anaknya gak dibawa? Ck ck ck. Orang tua macam apaaaaahhh…”

Laki-laki tersebut adalah tenaga kerja asal Filipina yang bekerja di luar negeri. Diaspora Filipina ini amat sangat terkenal di Timur Tengah. Istilahnya, Overseas Filipino Workers (OFW).

Setelah melahirkan anak ke-2 di Jeddah (Arab Saudi) dan sudah harus pulang ke rumah, saya didorong pakai kursi roda oleh seorang perawat Filipina. Fyi, mungkin 90% tenaga medis non-dokter di rumah sakit di Jeddah dikuasai orang Filipina.

Bisa curcol yang lumayan lama kan itu dari lantai 3 ke lobi rumkit .

Mending si Bapak tadi perginya (cuma) 3 tahun. Si embak suster cerita dia pernah 5 tahun tidak ketemu anak-anaknya sama sekali. Dese janda.

Tapi kini, anak-anaknya sudah besar-besar. Salah satunya bekerja sebagai IT-engineer di Dubai, katanya dengan bangga. Embak suster memilih bertahan di Jeddah karena sudah punya banyak teman dekat di Arab Saudi. Anak-anaknya sudah tidak di Filipina semua, untuk apa kembali?

negara maju dan negara berkembang
Overseas Filipino Workers – The Women (gambar : untvweb.com)

 

Kalau screening sekilas dari para komentator sejenis di atas itu, kemungkinan mereka lahir dan besar di negara-negara maju. Bukan asal negara kek kita-kita ini yang diberi gelar “The Third World Countries” –> semacam negara-negara berkembang.

Tapi banyak juga komentar yang berusaha menerangkan dengan baik tanpa perlu tarik urat hehehe. Bahwa kondisi bekerja di luar negeri buat tenaga kerja level menengah ke bawah macam si bapak ya memang tidak memungkinkan buat bawa keluarga.

Dan para pekerja ini secara sadar mengirimkan uang kepada keluarga di Filipina.

Tapi terus disindir lagi, “Halah, apalah artinya uang bagi kebahagiaan anak.”

Ya memang enggak akan pernah nyambung ngobrolin hal begini-begini dengan mereka-mereka yang terbiasa tinggal di negeri aman-nyaman-sejahtera di mana dari lahir sudah dapat CHILD BENEFIT segala macam dan sepaket dengan sekolah gratis dan tunjangan kesehatan mumpuni sampai dewasa nanti.

Bandingkan dengan negara-negara berkembang yang umumnya penduduknya membludak. Boro-boro CHILD BENEFIT, mau sekolah saja kadang SEKOLAHNYA yang belum ada *hiks*.

Untuk mencapai pendidikan berkualitas harus merogoh kocek dalam-dalam. Justru untuk masa depan yang lebih baik lah untuk keluarga yang ditinggalkan maka para tenaga kerja ini mengejar peruntungan sampai nun jauh di sana dan bersedia berlelah-lelah dalam kesepian. Berat lho itu .

Di Saudi sih banyak banget tenaga kerja asing yang membujang. Termasuk yang dari Indonesia dan Filipina.

Overseas Filipino Workers – The Men (gambar : philstar.com)

 

Curhat salah seorang supir asal Indonesia, “Anak istri belum tentu betah di sini, Buk. Biarlah. Saya aja yang di sini. Kirim uang saban bulan. Alhamdulillah Buk, bangun rumah, bisa bikin warung kecil-kecilan, anak-anak sekolah semua. Jangan sampe bodoh kayak bapaknya ini.” Ngomongnya sambil cengengesan, tapi saya yang denger sibuk biar gak nangis hahahaha #cengengKauuuuu .

Standar kebahagiaan dan kelayakan hidup memang JAUUUHHH berbeda. Ya mau gimana lagi.

Mereka yang menjalani toh fine-fine saja hehehe. Walau untuk kasus tenaga kerja Indonesia non-formal banyaaaaaakkk harus dibenahi, tuh. Pakde, abis menang 2019, siap dinyinyirin yak hahahaha. Sekarang mah jangan duluuuuuu  #cebbieOnDutyUntilApril hahahaha.

Filipina sih kereeeeeen. Perlindungan terhadap tenaga kerja mereka sudah jauh lebih layak daripada Indonesia .

Segitu saja masih dinyinyirin habis-habisan sama “wong-wong bule” hahahaha. Gimana kalau lihat TKW kita di Arab Saudi *pijetKeningPakMenaker*.

Kerja Luar negeri TKW arab
TKW Indonesia di Arab Saudi (gambar : berita.plasa.msn.com)

 

Akhir-akhir ini juga saya sering nonton vlog para youtuber Indonesia di mancanegara. Mau serius jadi youtuber nih  #eaaaaaa.

Video-video yang laris justru tema-tema yang pengin bikin saya mengamuk, duh gue mah kapan sih enggak ngamuk hahahaha.

Seriiiiiiiinnggg sekali berupa perbandingan antara orang Indonesia (baik itu kebiasaan-sifat-pola pikir dsb dsb dsb) vs orang-orang di negara tinggal mereka sekarang.

Yang mana intinya jadi menjelek-jelekkan kebiasaan-sifat-pola pikir dsb di orang-orang Indonesia.

Yo mosok kek gitu tho ah. Justru kalau sudah tinggal di luar negeri mbok ya pengalamannya digunakan untuk melihat lebih jernih.

Macam teman saya yang memuja-muja orang bule yang uang-uang lebihnya katanya dipakai buat liburan enggak perlu nabung buat uang sekolah atau cicilan rumah segala macam. Katanya mindset orang bule itu keren gak ribet kek orang Indonesia.

Lho ya kita semua juga maunya liburan. Jangankan punya uang lebih, enggak ada uang saja selalu gatel pengin liburan kok hahahaha.

negara maju dan negara berkembang

Mereka mah enak, anak sakit tinggal ke rumkit, mau sekolah tinggal daftar. Tinggal di country-side yang rumahnya cuma 1-2 pun tetap disediakan sekolah.

Akses jalanan dan transportasi mantap jaya sampai ke pedalaman jadi mereka tidak perlu takut kalau susah ke mana-mana. Enggak perlu sampai menyeberangi jembatan yang udah mau runtuh di atas sungai lah intinya demi buat jalan-jalan ke kota sebelah misalnya .

Lah kiteeeeeeee ??????.

Dengan kesenjangan hidup yang lebih rapat, wong bule secara umum tidak terlalu terpaku pada penampilan dan barang bermerek. Lah semua juga bisa beliiiiiiii hahahaha.

Lah kiteeeeee, gustiiii, nemenin anak maen di mal pakai jeans sama kaos biasa dan tas jahit sendiri hadiah dari teman ditegur dengan manja, “Ibunya anak-anak ke mana, Mbak?” Emot mewek apa ketawa neh enaknye ???.

Tapi ya sudahlah. Itulah nikmatnya hidup dalam perbedaan, ya. To see things from different “eyes”.

The world is a book, and those who do not travel read only a page.
– Saint Augustine

Let’s read more pages, shall we? ?