Suhay Salim Profesi Dunia Digital

Suhay Salim dan Geliat Profesi Terkini di Dunia Digital

Lagi ramai bahas Suhay Salim. Seorang beauty blogger/vlogger yang punya gaya tersendiri dan banyak fans di tanah air.

Saya tidak suka make up. Benar-benar tidak suka! Hehehe. Tapi saya ini skincare junkies abis hahahaha.

Sesekali pengin belajar make up demi sosialiasi saja dan sekadar lucu-lucuan . Kemarin di Texas ada tuh kumpul-kumpul belajar make up dan saya jadi modelnya. Nanti kapan-kapan kuposting foto wajah lenongku hahaha.

Dulu-dulu kalau ada kondangan masih memaksakan ke salon bla bla bla. Tapi pas mudik kemarin ada saudara menikah, saya benar-benar cuma pakai bedak dan lipstik hahaha. Doamat . Gue cakep ini, yes? #maeninBuluMata #eaaaaaaa.

Embak sebelah kiri gak kalah cakep kaaaaannn sama penganten di tengah hihihihi 😀

 

Tapi setahun terakhir saya suka memperhatikan boomingnya beberapa beauty blogger yang merambah ke beauty vlogger. Umumnya mereka fokus ke make up tutorial atau review produk-produk make up.

Jangan sinis dulu. Walau kelihatannya tidak berfaedah dan glamorous enggak jelas dan sering dicap “Ah, gitu-gitu doang” tidak mudah lho menembus persaingan di Youtube.

Apalagi beauty vlogger itu rata-rata BUKAN ARTIS / SELEBRITIS. Banyak yang memulai benar-benar dari bawah, dari bukan siapa-siapa hingga memiliki nyaris 1 juta subscriber di Youtube dan jutaan follower di IG.

Kenalin salah satunya, SUHAY SALIM.

Suhay Salim Profesi Dunia Digital
Gambar : femaledaily.com

Kalian kebayang mereka berjuang posting dan review 1 produk per hari secara terus menerus. Itu butuh konsistensi dan semangat juang yang enggak gampang di-maintain biar bisa berkobar di level yang sama setiap harinya.

Dunia perlenongan ini sendiri diantara kalangan perempuan masih suka saling nyinyir-nyinyiran. Heran akutu. Padahal kalau pun tidak suka make up ya kenapa harus merendahkan perempuan lain yang senang merias wajah?

Menurut saya, make up itu susah gilak. Saya menganggapnya sebagai skill khusus, bagian dari seni.

Mungkin juga pada terbawa stereotip zaman baheula, “Cewek menor biasanya dongok” ??? Walah, Suhay Salim ini lulusan Manajemen FE UI, Dear .

Jangan nyinyir. Kan kasihan kaliaaaaaaan, udahlah gak cakep julid pulak #eh .

Aslinya introvert, lho. Kelihatan, kok. Dia bukan tipe-tipe banci tampil malah awalnya Suhay hobi fotografi dan hanya pede memotret orang lain. Tapi kemudian dia tertarik dengan dunia make up dan coba-coba bikin review sendiri.

Suhay terlihat beda karena cara ngomongnya yang “suka-suka” dan tidak jaim hehehe. Malah awalnya saya pikir agak galak-galak gimana. Ternyata memang anaknya cuek hehehe.

Suhay berwajah unik karena blasteran Jawa-Arab kalau enggak salah. Enggak dandan juga udah kece dari sananya sih .

Profesi utamanya pun ternyata bukan beauty blogger/vlogger melainkan TRANSLATOR. Yoih, kalau sering nonton videonya tahu kan kalau Suhay bahasa Inggrisnya cas cis cus abis .

Suhay Salim in skincare review (gambar : suhaysalim.blogspot.com)

 

Review dari orang-orang “biasa” kayak Suhay ini lebih menarik minat kita ketimbang yang seleb beneran. Abis kalau artis banyakan endorsement nya ya, Cyin hihihihi.

Apalagi Suhay ini relatif “jujur” dan ceplas ceplos kalau ngasih review.

Baru-baru ini Suhay Salim bikin heboh karena berita pernikahannya yang cuma pakai baju kasual / celana jeans di KUA. Udah gitu doang .

Apa kabar gue yang kudu pesta 2 hari (akad nikah + resepsi) dengan 2 adat berbeda : Bugis dan Minang! *nangis*.

Kalau mau kayak Suhay, kudu langkahi mayat keluarga besar dulu kali hahahahaha.

Daripada nyinyir menyangka dia ini cuma selebgram enggak penting yang tiba-tiba tenar enggak jelas, mending teladani konsistensi adik-adik kita seperti Suhay Salim dkk ini hehehe.

Merit pakai celana jeans di KUA ala Suhay Salim :).

 

Buat orang tua seperti kita yang didera kekhawatiran semacam, “Gustiiiii, akan jadi apa anak-anak kita kelak?”

Era perubahan digital apalagi ancaman Artificial Intelligence / Kecerdasan Buatan yang terus menerus bikin deg-degan.

Para orang tua gundah, pergeseran gaya hidup termasuk pilihan profesi di era mendatang bikin kita bingung kira-kira skill apa ya yang perlu kita genjot ke anak-anak biar siap menghadapi masa depan???

Ya makanya kaaaaaannn, buka mata lebar-lebar. Kenalilah dunia baru sekitar kita ini . Tidak perlu memaksakan diri untuk masuk dan menjadi bagian dari mereka tapi minimal jadilah pengamat dan jangan takut belajar dan menerima perubahan .

Bukan buat kita semata. Buat anak-anak kita oiiiiiiiiii hehehe.

Gambar : hongkiat.com

 

Daripada meremehkan, “Siapa sih Suhay Salim ini”, mending kita pelajari kiat-kiat suksesnya dan teladani kerja mereka serta cermati profesi-profesi terkini di zaman yang makin berlari ini .

Contoh lain, mungkin boleh kita cemas dan mengeluh, banyak toko-toko offline kelihatan bangkrut dan tutup gerai dan menghempaskan banyak karyawan mereka.

Kalau fokus meratap doang, apalagi meratap sambil julid (hahahaha) plus nyalahin presiden (awwwww tetap #cebbieOnDuty hahaaha), mending pelan-pelan ubah persepsi kita.

Ratusan toko tradisional tutup? Tapi mungkin ada ribuan emak-emak dasteran di rumah yang membuka usaha jastip dan berbisnis jual beli online kan? .

Belum lagi endorser-endorser di Instagram yang makin merata, tidak cuma nyangkut di seleb-seleb doang. Orang biasa pun kalau tekun dan pandai membaca peluang bisa “cari makan” dari profesi endorser ini .

Tak kenal maka tak sayang, yes? Makanya daripada nyinyir-nyinyir gak penting dapat duit juga kagak, mbok ya kenalan dulu .

The Seven Good Years

“Kakak Perempuanku yang Hilang”, salah satu tulisan berkesan dari buku memoar ini.

Penasaran, yes?

Setelah membaca 2-3 kalimat di awal tulisan jadi paham “hilang”nya bagaimana. Kakak perempuan penulis bergabung dengan sekte ultra-ortodoks Yahudi dan tiba-tiba berganti penampilan dan kebiasaan hidup terutama setelah menikah.

Kaum perempuan biasanya menggunakan baju panjang yang menutup kepala hingga mata kaki, yang laki-laki tiba-tiba berjenggot dan “menghilang” dari pergaulan menghabiskan banyak waktu untuk berdoa dan berkumpul dengan “sesama mereka” dst dst.

Langsung merasa relate dengan kisah ini. Teringat fenomena “hijrah” di tanah air yang juga membuat saya juga merasa “kehilangan beberapa teman terdekat” .

the seven good years review buku Indonesia
Perempuan dari kelompok ultra-orthodoks Yahudi sedang membaca ( Gambar : dailymail.co.uk)

 

Mirip banget yah deskripsi “kembali ke agama” ala Yahudi-Ortodoks dengan tradisi “hijrah” edisi muslim terkini, setidaknya di tanah air kita.

The Seven Good Years, kumpulan tulisan seorang penulis Yahudi yang tinggal dan bermukim di Israel.

Bukan kisah-kisah parenting. Melainkan pengalaman-pengalaman ringan yang dihadapinya dalam rentang waktu 7 tahtun pertama kehidupannya setelah memiliki anak laki-laki, Lev.

Dari tulisan Keret, terbayang betapa sebenarnya semua pihak sama menderita dan tersiksanya akibat warisan kebencian yang turun temurun selama ratusan tahun ini .

Sebagai seorang Yahudi, seringkali Keret merasa tertekan dan penuh curiga saat berada di Eropa.

Di sebuah pub, Keret pernah terlibat perkelahian dengan seorang Jerman yang sedang mabuk hanya karena salah dengar. Prasangka buruk Keret mengira laki-laki tersebut sedang menghina orang Yahudi tapi ternyata TIDAK sama sekali.

Sekali lagi, cuma salah dengar.

Keret juga sering bertukar cerita dengan teman sesama Yahudi-nya tentang ketakutan-ketakutan mereka jika kelak dunia akan kembali dipenuhi semangat anti-Semit. Bagaimana mereka akan menabung sebanyak mungkin agar bisa lari ke tempat yang aman dan nyaman.

Bagaimana ritual mereka untuk tetap membuat sang anak nyaman saat bunyi sirine tanda bahaya berbunyi saat mereka lagi mengendara di jalan. Di Israel hal seperti ini sangat umum.

Sirine tanda bahaya bisa tiba-tiba berbunyi dan semua orang harus tiarap dan bom pun jatuh berdentum, entah di mana. Bisa dekat, bisa jauh.

Keret juga merasa sangat tidak nyaman saat berada di taman bermain dan mendapati ibu-ibu saling bertanya, “Apakah anakmu kelak akan jadi tentara?”

Ternyata, pembicaraan semacam ini sangat biasa di Israel.

Israel, satu diantara sedikit sekali negara di dunia yang memiliki aturan WAJIB MILITER bagi seluruh warga negara baik laki-laki dan perempuan.

Beberapa tulisan juga membahas mengenai asal usul orang tua Keret yang berasal dari Polandia. Bagaimana kedua orang tuanya terusir dari sana pasca melewati hari-hari yang berat di masa Jerman-Nazi menyerbu ke negara-negara tetangganya termasuk Polandia.

Dari tulisan-tulisan ringan ini juga kita mendapatkan informasi mengenai hari-hari suci umat Yahudi seperti Yom Kippur dan Sabat.

Ada juga catatan ringan mengenai perdebatan Keret, istrinya, anak mereka dan ibu Keret tentang game Angry Birds hehehe.

Keret menyesalkan sikap ayahnya yang dianggapnya terpenjara dengan cerita turun temurun mengenai kebencian. Keret ingin kita semua lebih proaktif menciptakan masa depan yang lebih cerah, alih-alih mengenang masa lalu yang sudah usang.

Keret salah satu penulis Israel yang giat mengkritisi pendudukan Israel di tanah Palestina. Karena keberpihakannya pada perdamaian di tanah konflik Timur Tengah, Keret lumayan bisa diterima di negeri-negeri mayoritas muslim. Pernah diundang ke Bali segala, lho .

We need to read something like this. Melihat dari sisi lain. Banyak miripnya ajaran Yahudi dengan Islam secara agama.

Etgar Keret (gambar : huffingtonpost.com)

 

Misalnya ada kosher, daging/makanan halal versi Yahudi. Kosher ini oleh sebagian ulama Eropa dianggap HALAL pula buat kaum muslim .

Kembali ke tulisan “Kakak Perempuanku yang Hilang”, Keret menunjukkan satu pesan penting. Meski didera ketakutan mengenai perubahan ekstrim yang terjadi bagi orang-orang yang dianggap “hilang”, Keret punya sudut pandang sendiri.

Menurut Keret, “Aku tidak punya Tuhan, tetapi kakakku punya, dan aku mencintainya, jadi aku mencoba untuk menunjukkan hormat.”

Di masa-masa frustrasi saat ditinggal pergi oleh gadis pujaan hatinya, Keret mendatangi kakaknya di pemukiman Ortodoks. Keret memohon kakaknya untuk mendoakan agar gadis tersebut kembali kepada Keret.

Kakaknya bilang tidak bisa, itu bukan doa yang benar. Tapi kakaknya berjanji akan berdoa setiap hari agar kelak Keret bertemu perempuan lain yang akan membuatnya bahagia.

Sepuluh tahun kemudian, itu benar terjadi. Keret percaya, doa kakaknya telah dikabulkan Tuhan.

We can still love and respect each other terutama dengan orang-orang terdekat kita pasca “perubahan”.

Terlepas dari prasangka dan ketakutan (yang mungkin sebagian besar tidak perlu atau karena tidak paham saja), kita masih bisa berkasih sayang dalam perbedaan .

Semoga lebih banyak orang-orang seperti Keret atau siapa pun yang berupaya untuk berbicara lebih kencang mengenai perdamaian dalam permusuhan panjang di konflik Israel-Palestina.

Saling berbagi apa yang dirasakan, apa yang dilewati, dari sudut pandang masing-masing. Surprisingly, banyak persamaan yang bisa didapatkan.

Siapa pun bisa bersuara yang sejalan, seperti saintis Albert Einstein sekali pun yang pernah berujar, “Peace cannot be kept by force; it can only be achieved by understanding.”

Saling memahami adalah koentji ???.

menghilangkan trauma pelecehan seksual

Menghilangkan Trauma Pelecehan Seksual

Banyak sindiran terhadap hasil penelitian kejahatan seksual kepada perempuan di banyak negara. Lho kok hasilnya malah negara-negara maju yang di peringkat teratas?

Terus jadi jumawa, “Ih katanya kesetaraan. Manaaaaa, kok banyak laporan kejahatan seksualnya?”

Itu masalahnya. DIHITUNG BERDASARKAN LAPORAN.

Di Indonesia sendiri, masih ingat tidak ada berita seorang perempuan diperkosa oleh kakak iparnya sendiri. AKhirnya dia berani melaporkan ke polisi setelah 3x kejadian.

Boro-boro dibelain, komen-komennya ampun deh .

menghilangkan trauma pelecehan seksual
Gambar : TLNT.com

 

Mayoritas (yang juga sesama perempuan lho) menyalahkan perempuan. “Masa udah 3x baru lapor. Itu doyan kali.”

Tentu kulangsung mengamuk di thread yang bersangkutan!

Di Hollywood sendiri heboh skandal besar tahun lalu soal seorang produser ternama yang dilaporkan oleh banyak perempuan terkait pelecehan seksual?

Bahkan selevel negara Amerika Serikat pun warbyasak komen-komen netijen . Tidak sedikit orang yang menuduh para pelapor yang kebetulan mayoritas sekuter (selebriti kurang terkenal) hanya ingin cari sensasi.

Ada juga yang menuduh ini adalah konspirasi untuk menjatuhkan perusahaan si pelaku yang emang lagi jaya-jayanya.

Ternyata, ada juga seleb perempuan papan atas yang menjadi korban dan akhirnya mau mengaku. Walau beberapa memilih “memaafkan” dan tidak mau nama mereka dibawa-bawa lagi .

Salah seorang teman saya (perempuan) berkomentar, “Kok ya ndak malu ya tu perempuan lapor-lapor kayak gitu? Kan kasihan orang tua kita, keluarga kita, mereka pasti malu, kan?”

Saya kaget juga. Yang berkomentar ini tergolong punya pendidikan tinggi dan gaya hidupnya cukup “modern”. Orang “kota” pendidikan tinggi saja mikirnya masih begini.

Perempuan tidak ditempatkan sebagai “korban” . Malah dianggap hilang kehormatan dan bikin malu keluarga.

Saya pernah mengalami pelecehan seksual di KRL Ekonomi. Masih gadis, masih bekerja kantoran.

menghilangkan trauma pelecehan seksual
Gambar : soundgirls.org

 

Sebagai software developer, kadang memang perlu pulang malam apalagi kami ini in-house developer, internal user. Tunggu user bubaran dulu baru bisa utak atik.

Waktu itu pulang sendiri. Sering sih memang pulang sendiri.

Kereta lewat Cikini pukul 19.30, enggak malam-malam banget lah. Saya pernah pulang subuh lho gara-gara kerjaan.

Kalau lagi sendiri, saya malas duduk di dalam takut ketiduran. Jadi berdiri dekat pintu. Biasanya memang orang berjubel di pintu walau di dalam lowong.

Kayak hari biasa saja. Samar-samar ingat ada laki-laki di belakang yang entah kenapa selalu berusaha lihat muka. Saya geser saja. Nah, mungkin dese ngikutin terus. Soalnya saya malas nengok-nengok lagi.

Ini lhooo yang namanya KRL Ekonomi 🙁

 

Kalau ditempelin dari belakang juga sudah biasa kalau naik KRL Ekonomi. Baru nyadar pas turun, enggak sengaja menyentuh celana bagian belakang. Kok basah? Kirain air tapi kok lengket.

Karena sudah lapar banget ya mampir makan dulu. Tiba di kos baru saya cek benar-benar. Aduh! Panik sendiri. Celananya saya lempar ke tempat sampah.

Waktu itu kesal dengan diri sendiri. Kok bisa lho digituin orang enggak nyadar sama sekali .

Besoknya langsung curhat ke teman-teman dekat. Responsnya asoy sekali. “Lo lagi ngapain waktu itu? Baju lo kali? Lo senyumin kali jadi dia geer? Makanya jangan pulang malam-malam. Nyetir sendiri aja, beli mobil, gue udah bilang bahaya naik kereta. Resign aja say cari kerjaan lain atau lo pindah kos.”

Nobody asked about who could that be. How I felt . Hopeless banget mana saya sama sekali tidak lihat siapa orangnya. Tidak habis pikir kok sempat-sempatnya ya tu anj*ng .

Solusinya juga zzzzz .

Memilih enggak cerita ke Mama dan kakak-kakak. Jauh semua. Ya apa juga gunanya. Nanti malah khawatir terus disuruh berhenti kerja. Lah terus bayar kosnya pakai apa? Pakai daun? Haeeeee sobat misqueenque *menyapaDiriSendir* .

menghilangkan trauma pelecehan seksual
Gambar : pixabay.com

 

Ya waktu itu bisa apa, sih. Berusaha dilawan saja traumanya. Toh besok-besok tetap harus naik KRL Ekonomi juga. Cuma sejak itu, kecuali emergency, saya selalu nyari teman kalau pulang kantor.

Terus baca kasus pelecehan seksual di kampus yang lagi ramai beberapa hari terakhir saat tulisan ini dimuat. Di kampus saja penanganannya berat, ya. Apalagi cuma pelecehan selevel dimuncratin sperma di kereta .

Makanya jangan geer kalau ternyata laporan pelecehan seksual di negeri sendiri tergolong rendah.

Ya lihat saja respons lingkungan belum lagi dari sisi penegakan hukum. SIAPA YANG MAU MELAPOR KALO KAYAK GINI MAH? . Bukannya dihibur, dikasih semangat, dibantu, malah disalah-salahin, dianggap bikin malu dst dst dst.

Perempuan bukan gender kelas dua.

Bahkan tantangannya justru dari sesama perempuan sendiri kadang-kadang. When are we gonna learn? 

Venezuela – Arab Saudi – Norwegia, Apa Kabar Para Raksasa Minyak Dunia?

Walau sebagian besar dari 10 daerah penghasil minyak bumi  dengan cadangan minyak terbesar di dunia ada di Timur Tengah, namun juaranya adalah VENEZUELA.

Beberapa tahun terakhir harga minyak dunia terjun bebas dalam tempo singkat dan sampai sekarang masih goyang-goyang.

Di bawah kepemimpinan Hugo Chavez dengan jargon “sosialisme abad 21”, Venezuela pernah sangat berjaya.

Di Venezuela kini, inflasi gila-gilaan, kejahatan makin mengerikan, dan angka kemiskinan membubung tinggi. Di kepemimpinan Chavez, Venezuela pernah membabat kemiskinan, turun hingga 30%.

daerah penghasil minyak bumi venezuela
Venezuela (gambar : pixabay.com)

 

Arab Saudi, negara minyak yang paling mencolok di Timur Tengah.

Arab Saudi sekarang juga mengalami guncangan. Masalah politik internal walau tidak separah Venezuela. Penetapan pajak sana sini padahal sebelumnya pajak benar-benar 0% di sana. Harga-harga barang pun tiada seindah dulu lagi.

Norwegia, walau peringkatnya tidak sebagus Venezuela dan Arab Saudi, dimasukkan sebagai perbandingan khusus.

Berbeda dengan Venezuela-Arab Saudi yang memanjakan rakyatnya dengan subsidi konsumsi sana sini berkat limpahan minyak, harga BBM di Norwegia justru tergolong mahal banget dari dulu.

Di Venezuela, Chavez menjanjikan kesempatan kerja yang merata kepada rakyat sebagai salah satu upaya mengatasi kemiskinan. Caranya? Dengan memasukkan sebanyak-banyaknya karyawan ke perusahaan-perusahaan negara (semacam PNS), termasuk perusahaan minyak negara.

Nasionalisasi besar-besaran di berbagai sektor. Hampir semua sektor swasta dinasionalisasi.

Dengan pegawai yang membludak tapi produksi minyak begitu-begitu saja tentu membebani biaya produksi. Belum lagi basis teknologinya memang belum secanggih negara-negara lain.

Saat itu mereka tetap berjaya karena tertolong oleh harga minyak dunia yang lagi tinggi-tingginya dan cenderung naik terus. Marjinnya masih kuat untuk menutupi ongkos produksi.

daerah penghasil minyak dunia
Gambar : japantimes.co.jp

 

Begitu harga minyak dunia terjun bebas, di mana negara ini andalannya ya bisa dibilang minyak tok, langsung ikut terjun bebas.

Pemerintah tak mungkin menempuh cara-cara standar misalnya naikin pajak, lah sektor usaha ibaratnya sudah BUMN semua, siapa yang mau diandelin bayar pajak???

Ini belum ngomongin ketidakstabilan politik internal dan maraknya korupsi di pemerintahan.

Jadi ingat sindiran Margareth Thatcher yang sering digunakan untuk menyindir sosialisme, “The trouble with Socialism is that eventually you run out of other people’s money.”

Niatnya sih mulia. Keseteraan dan pemerataan. Indah nian kedengarannya. Alih-alih memiliki seorang pemimpin berhati emas yang berjuang buat rakyat seumur hidup seringnya malah diktator yang rentan korupsi .

Sosialisme agak berat di praktik karena ya itu tadi, melawan human nature . Lemah di sustainability.

Disangka semua manusia pasti ulet dan mau bekerja sama kerasnya?

Gambar : grrrgraphics.com

 

Sorry to say ya, PNS vs karyawan swasta ya pasti naturenya beda. Yang satu dibiayai negara no matter what, satunya lagi mengandalkan kinerja sendiri + koneksi/keberuntungan untuk bertahan.

Itulah kenapa manusia memang perlu sedikit kompetisi untuk memacu produktivitas. Kita ini manusia biasa toh ya. Rentan manja dan mau enaknya sendiri apalagi kalau serba difasilitasi. Kalian boleh tidak setuju .

Arab Saudi walau terkena imbas yang besar juga tapi lumayan tertolong oleh efisiensi biaya produksi minyak. Saudi Aramco, salah satu perusahaan minyak dengan biaya paling efisien. Kira-kira biaya produksi di Saudi : Venezuela selisihnya hampir 100%.

Saudi tidak ujug-ujug mengusir vendor mereka di awal masa booming minyak (Amerika Serikat) demi nasionalisme yadda-yadda-yadda. Saudi mengambil alih Aramco SETELAH waktunya dirasa tepat.

daerah penghasil minyak bumi

Lesson learned, tidak selamanya anti aseng-asing itu tepat 100%. Kenapa harus anti-anti sih. Bekerja sama saja bagaimana? Tentu yang menguntungkan kedua belah pihak .

Soal nasionalisasi minyak di Saudi ini juga banyak teori konspirasinya. Termasuk terbunuhnya Raja Faisal di tahun 1975.

Monarki absolut menyelamatkan Saudi dari gonjang-ganjing politik yang parah. Kalau pun berantem ya sesama mereka-mereka juga. Rakyat bisa apa wong demo apa pun dilarang hehehe.

Saudi ya korupsi juga. Cuma Saudi ini sekorup-korupnya sungguh saya salut … bahkan kalau kita menjelajahi Saudi sampai ke pedalaman yang jaraknya ratusan kilo dari kota-kota besar seperti Riyadh dan Jeddah, bukan main infrastruktur transportasinya! Mantep abis.

Jalanan lebar dan mulus beratus-ratus kilo dibangun sampai ke atas perbukitan batu. Warbyasak. Nih raja-raja Saudi kek Firaun juga gak nih? #kikirKuku

Kalau mau bawa-bawa impor sih, kedua negara ini impornya sama-sama tinggi, kok . Keduanya juga royal subsidi.

Ada salju di Arab Saudi
Gambar : the-saudi.net

 

Norwegia yang memang spesial. Pasti ada dampaknya juga penurunan harga minyak di sana. Tapi yah, tidak setajam di Venezuela dan Arab Saudi.

Banyak yang mengira negara-negara Nordic ini sosialis? Sebenarnya bukan, sih. Mereka condong ke welfare-state. Welfare state ya kenal pasar bebas juga. Pasar bebas ini yang paling sering dikritik oleh aktivis sosialis sebagai neo-kolonialisme.

Norwegia dan negara-negara Nordic lainnya sebisa mungkin menghindari subsidi konsumsi. Mereka lebih fokus ke pemerataan kesempatan. Ini lebih masuk akal dan ternyata bisa diterapkan walau tentu tidak sempurna 100%.

Di negara welfare state tidak ada jaminan situ pasti dapat kerja, situ kagak perlu ngapa-ngapain pasti hidupnya terjamin 100%. Jebakan ini sebenarnya yang sering bikin buntu. Karena seperti yang saya bilang tadi, ya kaleeeee 100% rakyatnya rajin semua, saleh dan salehah semua dst dst dst.

Yang ditawarkan oleh welfare state adalah pemerataan kesempatan dan pemenuhan kebutuhan dasar. Akses sekolah gratis untuk semua kalangan di mana pun berada, sampai daerah terpencil sekali pun.

Masih nyolot kenapa infrastruktur transportasi itu penting? Masiiihhhh???? #pasangMataSuzanna.

Akses terhadap jaminan kesehatan yang ditanggung sama-sama secara proporsional.

Tunjangan-tunjangan buat kalangan tertentu, tidak semua orang dapat. Itu juga secukupnya banget. Enggak bakal bisa dipakai bermewah-mewah.

daerah penghasil minyak bumi
Norwegia

 

Sisanya? Ya silakan perjuangkan sendiri. Silakan bersaing. Toh “modal”nya sudah dibagikan seadil mungkin . Modal pendidikan dan jaminan kesehatan tadi misalnya.

Kasus di Venezuela dan Arab Saudi mudah-mudahan bisa mengajarkan konsep berdikari untuk suatu negara.

Saya suka dengan penjelasan Ibu Sri Mulyani, salah satu ekonom nasional yang sering dituduh antek NEOLIB , mengenai konsep berdikari.

Bahwa kita ini sering terjebak dengan romantisme bahwa berdikari itu adalah kita bisa sendiri tanpa BUTUH siapa-siapa.

Konsep BUTUH itu tidak selalu berarti lemah. BUTUH itu adalah interaksi. Saling ekspor dan saling impor, pertukaran ilmu dan teknologi, kehadiran swasta sebagai penyeimbang usaha negara dan kompetitor untuk mencegah monopoli dst dst … semua itu yang menyebabkan ekonomi dunia tumbuh .

“To argue against the global economy is like stating opposition to the weather – it continues whether you like it or not.” -John McCain-

Berat ya topiknya hahahaha. Sekali-sekali, yes? 😀

Gen Z

Kabar BTS terbaru nih ^_^. Btw, judulnya jangan dibaca “genset” ya hahaha .

Di majalah TIME terbaru (edisi Asia), sampulnya memajang wajah-wajah personil lengkap dari band K-Pop yang katanya lagi tenar banget, BTS.

BTS, dalam bahasa Korea : Bangtan Sonyeondang, sedangkan dalam versi bahasa Inggris –> Beyond The Scene.

Gambar : jabar.tribunnews.com

It took sometime lah buat yang cukup buta soal K-pop kek saya buat berburu info via googling terkait BTS ini hihihihi. Selera musik saya benar-benar mentok sampai tahun 90 an doang. Gak maju-maju lagi hahaha.

Baca Juga : “If The Music Sings A Thousand Memories”

Sebagai grup musik yang lagu-lagunya berbahasa Korea dan punya ciri khas sendiri yang tidak terpengaruh dengan “budaya barat”, tiket konser mereka pernah TERJUAL HABIS di Amerika Serikat.

It was really something .

Lebih WOW lagi kalau membaca betapa kerasnya gemblengan yang mereka terima dari tim manajemen untuk bisa bertahan di industri K-Pop. Yang ini juga berlaku untuk aktor dan aktris di drama-drama Korea.

Kehidupan pribadi mereka benar-benar ditekan agar jangan sampai muncul di publik. Ada yang sama sekali tidak boleh pacaran. Benar-benar harus menjaga perilaku depan umum dst dst dst.

Keren, ya. Iya sih salah satu tujuannya biar fans mereka yang terkenal garis keras enggak baper dsb hehehe. Tapi juga dampak positifnya mereka hanya akan dikenal karena karya semata bukan karena sensasi-sensasi gak mutu.

Paling males sama artis-artis “sekuter” di tanah air yang mati-matian pengin tenar pakai cara-cara “nganu” .

Terlepas dari citra kesempurnaan fisik kehidupan artis Korea yang katanya penuh kepalsuan, saya tetap kagum sekali, euy.

Soal citra-citra kepalsuan. ah, sampai sekarang saya juga enggak pernah berani pasang foto tanpa filter sama sekali sih hahahaha.

Bersama dengan beberapa aktivis, aktor-aktris, dan beberapa atlet, BTS dikategorikan sebagai “Next Generation Leader”.

Seminggu terakhir, saya berusaha keras mengikuti beberapa drama-drama Korea yang sempat tenar. Yang jadul-jadul dulu. Kayak yang kemarin heboh abessss, The Descendant of The Sun. Tetap gak mashoooookkkkk .

Etapi dulu pernah ada satu drakor yang pernah saya review. Jadul abis nih. Tahun 2010 booooo :p.

Apalagi yang lagu-lagunya. Kemarin kan pas penutupan Asian Games ada SUJU, boyband asal Korea juga. Akyu tetap tidak paham *tutupMuka*.

Abege tua yang satu ini enggak bisa move on dari soal selera musik. Sama Westlife aja gak pernah ngefans hihihi. Tapi ngotot pengin nonton konsernya tahun depan di Dublin atas nama dendam karena dulu sebel gak bisa beli tiketnya hahhahaha.

Ya sudahlah. Kan kita tidak perlu setuju untuk bisa menunjukkan apresisasi dan kekaguman, yes? .

Tapi sebagai orang tua tetap harus catch-up dong dengan perkembangan zaman.

Baiklah. Pelan-pelan masukin beberapa lagu-lagu K-pop ke playlist kalau lagi masak/exercise di rumah yang sampai sekarang isinya ya kalau gak Boys II Men, Usher, Mariah C, untung masih ada nyempil lagu-lagu Coldplay dll ??????.

Kalian sudah tahu belom how to do the Floss Dance? Hahahaha. Anak-anak saya tiap malam sebelum tidur suka becandain saya disuruh floss-dance .

Once I was able to do it, si sulung langsung bilang, “Great. Next, The Hype Dance! It’s much easier.”

Halah, apaan lagi tu ???.

Aduh, makin cepat ya rasanya dunia berputar *pijetKening*.

“The only way to make sense out of change is to plunge into it, move with it, and JOIN THE DANCE.” -Alan Watts

Sudah seperti ombak datang menyerbu ini cepatnya zaman berlari. Jangan dilawan. Siapkan papan selancar. Tantangl ombak di puncak tertinggi. Lalu … meluncurlah bersamanya .

Sumber berita : Next Generation Leader – BTS and others