Hidup Tanpa ART di Luar Negeri … Hebatkah?

Beberapa teman yang tinggal di luar negeri ada yang nyinyir dan menganggap ketergantungan pada ART itu budaya ‘manja’ nan feodal.

 

Saya sebenarnya kepengin bilang ke mereka, “Yo wis, pada pulang sana ke Jakarta. Tenteng anak sama suami dan tinggallah di Jakarta dan jalani hidup yang seperti kalian lakukan di luar negeri yang super mandiri dan tidak butuh siapa-siapa itu.” Hehehe.

Hidup tanpa ART di Luar Negeri … hmm?

 

Kalau untuk saya pribadi, ini tak melulu masalah manja atau mental. Karena di Arab Saudi pun, budaya ber-embak ini masih sangat lazim. Apakah ada hubungannya dengan agama? Ya pastinya enggak. Karena di Iran yang juga mayoritas muslim, kehidupannya sudah seperti negara maju, jarang yang pakai embak ^_^.

Masalah pertama, kesenjangan sosial-ekonomi. Bukan masalah budaya feodal juga. Karena saya pernah senyum-senyum mendengar 2 orang ibu-ibu di sekolah anak saya yang berambut pirang yang mengeluh soal mereka capek habis pulang liburan. Mereka terpikir mengambil asisten rumah tangga tapi mereka marah-marah karena upahnya kegedean menurut mereka.

Iyalah, dengar-dengar jasa tukang bersih-bersih rumah bisa 20 euro per jam. 20 euro = 320 ribu rupiah, per jam!!!!

See? Orang-orang bule ini pun sebenarnya ada keinginan juga kok menggunakan jasa embak. Tapi mungkin enggak yang tiap hari gitu hehehe.

Kesenjangan sosial ekonomi yang tinggal di negara-negara berkembang membuat hadirnya tenaga-tenaga kerja murah meriah. Walau sudah mulai banyak yang kapok memakai jasa embak yang stay-at-home, orang-orang mulai melirik jasa tenaga pulang pergi. Atau spesialis nyetrika doang atau nyapu-ngepel doang. Mengapa? Ya karena jauh lebih murah timbang kita yang ngerjain sendiri.

Saya ingat, waktu ngontrak, saya ogah menggunakan jasa tukang bersih-bersih. Kakak saya butuh. Kakak saya juga tidak sempat mencuci bajunya sendiri. Mau beli mesin cuci, ogah juga, siapa yang ngurusin jemur dan nyetrikanya. Jadi, kakak saya punya bibik khusus. Honornya 300 ribu rupiah sebulan untuk mencuci dan menyetrika saja. Jauh lebih murah daripada gaji kakak saya sebulan di kantornya 🙂.

Tentu lain cerita bila si bibik menuntut gaji 3 juta sebulan. See? Kesenjangan ekonomi.

Masalah kedua, fasilitas dan kondisi. Di negara-negara maju macam Irlandia, yang namanya mesin cuci otomatis (pencet dan langsung kering istilahnya hihihi) dan dish washer (mesin pencuci piring) tidak tergolong barang mewah. Setiap apartemen ya standarnya begitu. Kegiatan berbelanja dan fasilitas umum lain dibuat senyaman mungkin.

Di kota-kota besar negara maju, angkutan umum lengkap dan asoy. Bawa stroller saja bisa banget tuh naik kereta atau naik bus umum. Nah, coba di Jakarta, dijitak gak tuh sama supir Kopaja atau transJ kalau sudah sesak begitu eh berani-beraninya mau masukin stroller hahaha.

Mental ibu-ibunya ya tentu terbangun dari lingkungan tempat mereka berada. Makanya, saya meyakini, ibu-ibu Indonesia yang tinggal di luar negeri dan ‘bawel’ itu (mungkin) sebagian besar tak punya pengalaman menjadi ibu rumah tangga di Jakarta. Mungkin, lho, ya. Soalnya kalau ditanya-tanya memang begitu. Begitu menikah langsung pindah ke luar negeri, melahirkan pun di luar negeri.

Oh well …

akun gosip

Saya juga yakin, ibu-ibu Indonesia yang terbiasa dengan embak jangan risau jika harus tinggal di luar negeri. Saya menjadi buktinya hihihi. Terbiasa hidup dengan orang ketiga (si embak) di Jakarta, saya nyaris tidak mengalami syok apa-apa kok dalam kerjaan rumah tangga begitu pindah ke Jeddah. Itu karena di Jeddah banyak jajanan hahaha.

Tapiiii…dari Jeddah ke Athlone pun ya rasanya biasa-biasa saja alhamdulillah.

 

Justru, saya bersyukur bisa mendapat kesempatan tinggal di luar negeri. Amit-amit kalau sampai menjadikan kesempatan indah ini untuk ‘nyinyir’ pada teman-teman sesama ibu RT di Jakarta yang masih banyak menggunakan asisten.

Takut, ah. Takut rezekinya di luar negeri keburu abis hahahhahaha. Saya maunya pulang ke tanah air kalau tak punya balita lagi.

Kalau anak-anak sudah besar, sudah saya hitung-hitung, nih, insya Allah sanggup hidup tanpa ART sama sekali di Jakarta 😀. Baik yang pulang pergi sekali pun 😉.

Saya menyadari betul, saya sungguh diuntungkan oleh kondisi dan situasi lingkungan di negara-negara maju. Yang membuat ibu-ibu seperti saya tak perlu bertambah puyeng dengan drama asisten yang konon katanya lebih sakit daripada ditinggal pacar hahahahaha.

Dan di atas itu semua, memang tak baiklah menghina-hina orang lain yang kita anggap lebih ‘rendah’ daripada kita. Siapalah kita. Saya kagum sama ibu-ibu RT di Jakarta yang sanggup hidup tanpa ART sama sekali. Tapi juga tak merasa heran dan memaklumi 100% jika ada yang memilih menggunakan jasa orang ketiga, baik yang menginap di rumah maupun yang pulang pergi.

Yang tinggal di luar negeri, mari bersyukur. Yang tinggal di Indonesia (especially Jakarta, karena saya tak punya pengalaman menjadi ibu RT di kota lain hehehe), juga harus bersyukur.

“At some point, you gotta let go, and sit still, and allow contentment to come to you.”
― Elizabeth Gilbert, Eat, Pray, Love

Semua ibu-ibu itu pasti keren, kok. Whether they’re using ART or not, saya jamin, keren semuaaaaaaaaaa <3.

Golput dalam Pemilu ? Do It Anyway ;)

Sebisa mungkin ya jangan sampai golput dalam Pemilu lah ya. Kecuali memang sudah darurat banget. Bener-bener calonnya bapuk abis lah hehehe.

Dear all, di situs ini ada profil tiap calon anggota dewan sesuai partai dan sesuai daerah pemilihan masing-masing. Tinggal diklik-klik saja. Tadi saya sudah mencoba beberapa kali. Tapi lupa, saya kan berdomisili di wilayah di mana internetnya memang woosh-woosh hihihi. Sungkem dulu sama teman-teman di tanah air. Sungkem. Bukan ngeledek 😛.

Jadi, kalau ada yang bertanya, “Internet cepat gunanya untuk apa?” Salah satunya adalah untuk mereview profil-profil calon anggota legislatif 2014 – 2019 dengan rileks secara online! .

Karena percayalah, integritas seorang manusia bisa diukur dari kesabarannya saat menghadapi koneksi internet yang lelet! Hahahahaha. Elus-elus notebook yang saban pulang ke Jakarta selalu menjadi sasaran kemarahan si empunya hihihihi 😛.

Golput dalam pemilu

***

Saya percaya, bukan tanpa maksud, Najwa Shihab mengundang calon anggota dewan semacam AL (yang akhir-akhir ini sering sekali berpenampilan serba hijau dan berkerudung :P) untuk diwawancarai di acara “Mata Najwa.”

Najwa (mungkin) ingin mengundang kewaspadaan para pemirsanya. Kalau kita ‘lengah’ orang-orang seperti AL dkk ini sangat mungkin untuk meraih kesempatan untuk mendapat kursi.

Jangan dikira partai itu segitu ‘bodoh’ dan ‘putus asa’nya sampai berani ‘meminang’ para selebritis bahkan yang ‘sekelas’ si AL . Partai-partai itu punya hitung-hitungannya sendiri.

Mereka mungkin sudah memperkirakan, “Halah, yang pinter-pinter paling pada golput. Mending kita berkonsentrasi ‘menggarap’ pemilih-pemilih kalangan bawah. Yuk, kita sodorin artis. Mereka kan juga yang penting ngeliat yang bening-bening. Suka muncul di TV apalagi.”

Kalau mau jujur, rakyat Indonesia yang hidup di bawah garis kemiskinan (kemiskinan ya bukan kecukupan) masih mayoritas. Berapa, sih, ‘dana’ yang diperlukan oleh partai-partai untuk membeli suara mereka? Kalian kira partai perlu mempersiapkan sampai 100-200 ribu per suara? Tidak, teman-teman. Sejumlah 10-20 ribu rupiah per orang pun kadang sudah lebih dari cukup .

Patutkah kita menodongkan telunjuk kepada mereka dan menghujat, “Tolol-tolol amat sih lo pada? Coblosannya dibeli murah banget.”

‘Sistem’ membuat mereka tak leluasa membuat pilihan. Boro-boro internetan. Mungkin cerita ini kedengarannya lebay. Tapi embak saya yang pernah bekerja di rumah saat saya masih tinggal di Jakarta pernah cerita, “Kerja di sawah orang dapatnya paling gede 12 ribu rupiah per hari.” Kerja full dari pagi sampai sore. Menantang matahari di tengah ladang.

“Kerja di pabrik teh bisa juga. Dapatnya bisa 17 ribu sehari.” Jam kerja sama. Tapi setidaknya bisa dapat makan sekali sehari dan tidak perlu berpanas-panas di bawah terik matahari.

12 – 17 ribu per hari, dari pagi hingga petang. Kira-kira siapa yang tidak kelojotan kalau diberikan imbalan 20 ribu rupiah untuk hal kecil yang mereka bisa lakukan di TPS dalam tempo 5 menit saja? Anggaplah 30 menit plus proses mengantre.

Bookmark situsnya. Luangkan sedikit waktu. Dalam hidup, tidak semua pilihan akan menghadapkan kita pada pilihan, “Pilih bangkai ikan atau nasi uduk?” Hehehe. Kadang-kadang, pilihannya adalah, “Bangkai tikus atau bangkai kucing?” Hihihihi. Becanda yo . Pilihan kita tak selalu benar dan tepat. Namanya manusia, tak luput dari salah dan khilaf. Tapi tetaplah memilih!

If you are honest and frank, people may cheat you;
Be honest and frank anyway.

Give the world the best you have, and it may never be enough;
Give the world the best you’ve got anyway.

You see, in the final analysis, it is between you and your God;
It was never between you and them anyway.

-Bunda Theresa- 

“Janganlah kamu berputus asa. Bila pun berputus asa, berusahalah dalam keputusasaan itu.”

Do our best, let God takes care the rest . Say no to golput 😉.

Sekali lagi, monggo dibookmark linknya :).

***

Each Life Unravels Differently

Barusan baca tulisan teman tentang “Kacamata Pelangi” dalam menyikapi ‘pergaulan’ di dunia digital (internet). Kalau dia mengaku tak terlalu berani menulis hal-hal yang kontroversial. Seorang teman lain juga berkomentar, lebih suka menulis yang ‘damai-damai saja’.
Gambar : asacinta.blogspot.com
Gambar : asacinta.blogspot.com

Nah, definisi yang ‘damai-damai saja’ ini seperti apa, ya? Hihihi. Karena kalau sudah menyangkut ‘ranah opini’, percayalah, istilah ‘damai-damai saja’ ini bisa dibilang nyaris tidak ada. Jadi, mungkin maksud mereka, lebih suka menghindari berbagi opini hehehe.

Kan bisa menulis tentang perkembangan anak sendiri misalnya, kerajinan-kerajinan tangan (lucu kan, kalau kita posting tentang craft ada yang nyinyir? Sirik iya hihihihi), tentang biografi orang tertentu, intinya yang sifatnya deskriptif tentang hal tertentu. Bukan opini yang pasti . Menulis resep-resep masakan juga bisa dibilang damai atau berbagi tulisan jalan-jalan yang HANYA membahas tentang tempatnya saja.

Dulu, saat menulis tulisan “Every Mom Has Her Own Battle” itu saya merasa damai. Kan tujuannya mendamaikan sekte-sekte para ibu yang makin gencar saja nyinyir menyinyirnya . Ternyata, komentar-komentar yang tidak damai juga banyak hahahaha. Namanya opini, tidak harus seragam tidak mesti semua setuju 😉.

Bahkan yang menyangkut prinsip-prinsip universal seperti keikhlasan, kerja keras dan empati misalnya. Biasanya berbenturan dengan agama hal-hal yang seperti ini . Masih ada semacam sikap, “Dahulukan yang seiman.” Apalagi di negara-negara macam Indonesia yang mayoritasnya masih menganut paham tertentu. Dijamin bakal ‘ramai’ kalau berani mengupas masalah muamalah antar agama. Minimal agak sulit melepaskan diri dari cap ‘liberal’ atau ‘JIL’ yang kayaknya jidat eike sudah penuh dengan cap-cap semacam ini hahahahaha.

Tulisan yang saya maksud adalah tulisan “Jika Surga dan Neraka Tak Pernah Ada.” Lumayan capek menghapus komentar-komentar yang ngajak berantem hehehe. Tuh kan, saya ini sebenarnya senang yang damai-damai, kok *pasangSeringaiSerigala* hahhaha.

Ini tulisan ke-2 yang membahas hal yang agak mirip itu, Jika surga dan neraka tak pernah ada versi 2 lah :D. 

Btw, saya pernah menulis semacam sekuel dari “Every Mom Has Her Own Battle” hihihi. Umm..harusnya sih damai, dong, ya . Karena saya ini tergolong stay at home Mom, kok. Tapi saya tak suka membayangkan bila semua perempuan punya pikiran sama seperti saya.

Athlone, 2013
Athlone, 2013

Aduh, bayangkan kalau tidak ada dokter perempuan! Dokter kandungan lah minimal. Dua kali melahirkan, di Jeddah dan Jakarta, saya selalu sreg-nya dengan dokter perempuan hehehe. Perawat juga. Agak risih saja kalau membayangkan seluruh perawat di rumah sakit seluruh dunia adalah laki-laki!

Terus, tidak rela juga kalau dosen-dosen di universitas didominasi oleh laki-laki hehe. Atau customer service di bank-bank laki-laki semua. Iiihhh, kita kan juga pengin curhat panjang lebar tanpa khawatir bakal disangka genit. Eh, saya pernah menolak dilayani CS laki-laki dii sebuah bank swasta karena lebih nyaman ngobrol-ngobrol sama embak-embaknya aja. Keluhannya banyak iniiiiiiii hahahahaha –> emak-emak bawel bermulut silet :P.

Itulah mungkin kelebihan utamanya Pelangi 🙂. Yang digambarkan dengan sangat relevan oleh teman saya tadi. Kita suka lupa, yang membuat sesuatu terlihat indah itu adalah keberagamannya. Aduh, garing banget kalau dunia ini hanya dipenuhi satu pikiran doang . Kalau semua orang pendiam misalnya. Laaah, kan sunyi, yak –> alibi dari perempuan bawel hahahaha.

“Don’t let your luggage define your travels, each life unravels differently.”
― Shane Koyczan
Hidup ini tidak hitam putih. Begitu banyak mimpi dan harapan serta cara tiap ibu untuk bahagia.Bukan egois. Simpel saja. Bagaimana mau menumbuhkan cinta di ladang kita untuk suami dan anak-anak kalau tanah tempatnya tumbuh malah gersang? 🙂
Mari menyikapi dan belajar dari hikmah perbedaan yang memang selamanya akan ada ini.
Mati gaya ini mau nulis panjang-panjang kek biasa hehe. Jadi, singkat saja dan tebar-tebar link tulisan-tulisan lama 😛 dan foto-foto narsis hahaha. 
Mushrifah - Jeddah, 2012
Mushrifah – Jeddah, 2012
***

Again! Again! Again!

 

Sebenarnya pengin juga sering-sering menulis tentang sirah Nabawiyah atau tokoh-tokoh Islam terkenal. Terutama yang seperti Al Farabi dkk, yang hidup sebelum tahun 1000 M. Untuk menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan modern sebenarnya sudah lebih dahulu dikenal dalam peradaban Islam . Sementara kaum terpelajar Eropa baru tercerahkan setelah abad kegelapan mulai ditinggalkan (sekitar abad ke-16). Tapi, sebelumnya Eropa juga sudah mulai ‘menggeliat’ di zaman Eropa Klasik. Tapi … ah, panjang ceritanya. Kapan-kapan yo hihihihi.

Buku-buku saya kebanyakan ditinggal di Jakarta, isi detailnya sudah banyak yang lupa. Dan saya tidak kuat imannya kalau diterjang dengan, “Dalilnya mana? Dalilnya mana? Dalilnya mana?” Hahahhaha.

Terutama setelah membawa-bawa kisah mengenai Sayyidina Umar yang melempar pasir kepada panglimanya yang dianggapnya tengah terbuai hidup mewah saat menulis tentang petinggi partai tertentu. Kadernya langsung ‘menyerang’ via inbox. Mereka minta judul buku yang memuat kisah tersebut, dan harus lengkap dengan bahasa arabya! Matilah awak! Hahhahahahaha.

Ujung-ujungnya di grup yang lain saat hendak berdiskusi tentang poligami, eike dibilang “Ruwaibidhah.” Ai, ngeri kaliiiiii hehehe. Tapi, jangan buru-buru sakit hati. Untuk saya, dijadikan pelajaran saja . Benar juga. Mungkin selama ini saya suka khilaf membawa-bawa tentang sirah nabawiyah padahal modal google doang hihihi. Kapok akyu mau menulis-nulis tentang Islam lagi. Kecuali ingin membagi opini atau membuka ruang diskusi kali, ya .

Saya tahu berat sekali untuk mempelajari bahasa Arab terutama sikon yang sekarang ada di belahan barat Eropa sini. Jadi, lebih baik menahan diri. Bahas yang lain saja yang memang ada di sini literaturnya . Saya pribadi lebih percaya buku sih emang so far hehe.

Tapi lucunya, kalau membahas biografi orang-orang seperti Gandhi, profil Presiden Uruguay tempo hari, malah dinyinyirin lagi, “Kok membahas orang di luar Islam terus? Bahas yang muslim, dong!” Ampuuuuunnnnn . Intinya sih, bakal tetep diprotes hahaha

Lebih senang menulis tokoh-tokoh dunia popular semacam Gandhi, Bunda Theresa atau mendiang Michael Jackson. Karena enggak bakal ketemu pertanyaan-pertanyaan macam, “Dalilnya manaaaaa?” Hahhahaha.

Tapi, kisah tentang Saladin ini saya tulis pas mudik ke Jakarta tahun 2012 silam. Saya rangkum dari buku, kok . Jadi, dalilnya sahih ya, Kakaaaa hehehe.

Salahuddin Al Ayyubi memang tokoh Islam yang cukup istimewa. Namanya termasyhur hingga disebut-sebut dalam berbagai literatur barat. Saladin menjadi salah seorang tokoh peletak dasar berjayanya Islam selama sekitar 450 tahun di 2/3 belahan dunia (saat itu benua Amerika dan daratan-daratan lain yang belum ‘ditemukan’ belum diitung :P).

saladin

Di masa itu, ketiga agama Samawi hidup rukun di bawah naungan Syariah Islam. Lihatlah, menegakkan Syariah Islam tidak berarti memaksa seluruh orang bersyahadat .

Salah penyebab Saladin dengan cepat merebut simpati rakyat karena gaya kepemimpinannya yang berubah drastis dari pemerintah sebelumnya. Jika sebelumnya para Sultan/petinggi lainnya seolah terasing dalam istana mewah dan menara-menara tinggi, maka Saladin berbaur dengan rakyat. Semacam doyan blusukan gitu kali ya hihihihihi. Saladin juga terkenal ‘santai’ dalam berhubungan dengan bawahannya.

Gaya hidupnya pun sangat jauh dari kemewahan. Asistennya sering sembunyi-sembunyi menaruh uang untuk dipakai saat keadaan darurat karena Saladin benar-benar bukan tipe pejabat yang mengokohkan kemapanan di tengah-tengah masyarakat yang terdiri dari berbagai lapisan .

Di akhir hayatnya, konon, beliau hanya meninggalkan harta sejumlah 47 dirham saja. Menjadi pemimpin di masa lalu itu berat. Tak banyak orang yang mau. Karena dulu mikirnya harus memikul tanggung jawab yang tidak sedikit dan harus mengurus kesejahteraan banyak orang. Kalau sampai ditunjuk pasti tegang dan gelisah.

Kontras, ya, dengan pemimpin masa kini yang berlomba-lomba menaiki singgasana kekuasaan. Menghalalkan segala cara kalau perlu. Apa tidak takut dengan tanggung jawab? Apalagi aura kemiskinan masih menjadi wajah utama tanah air kita tercinta . Itulaaaaaaah, yang mereka kejar adalah ‘tahta’nya bukan tampuk kepemimpinannya. Yang mereka bayangkan adalah hidup megah dan senang-senangnya hehehe.

Lihat saja, tidak sedikit orang-orang yang kalau sudah menjadi anggota dewan, kehidupannya mendadak berubah. Tapi perubahannya tidak diimbangi dengan perubahan hak dan standar hidup orang-orang yang seharusnya diperjuangkannya. Begitulah. Pejabat makin kaya, rakyat tak berpunya makin sengsara.

Rakyat yang ‘berpunya’ ngapain? Ya golput! Hehehehe . Bodo wae lah, urus diri sendiri-sendiri. Mereka yakin there’s nothing they can do. Karena yang salah adalah pemerintah. Yang mereka lupa, pemerintah yang berkuasa adalah pemerintah yang DIPILIH.

Tak sedikit pula yang berdalih bahwa mereka takut salah pilih. Memangnya kenapa kalau salah? Manusia apa tidak boleh berbuat salah? . Kalau salah, besok-besok tinggal ganti pililhan, kan?

Apakah ada jaminannya kalau kita belajar tekun sepanjang malam maka nilai-nilai akademis akan selalu gemilang? Ada jaminannya 100%? Apakah ada jaminan kalau kita membanting tulang dari pagi sampai senja kita akan kaya raya? Ada kepastiannya 100%?

Lantas kalau tidak ada, apakah kita lebih baik memutuskan untuk berhenti berusaha atau berhenti belajar? Tidak kan? .

Karena sebagai muslim, kehidupan kita tidak akan bermuara di dunia. Ada akhirat sebagai masa depan. Nilai akhirnya bukan di sini. Maka dari itu, lucu sekali bila garis finishnya belum kelihatan kita sudah membuka sepatu dan terduduk lesu di pinggir lintasan, “I’m never gonna make it!”

Masih bernyawa kok bertingkah seperti orang yang sudah mati? Sudah tidak ada yang bisa kita lakukan? Itu kan kalau kita sudah terbujur kaku. Tinggal menunggu keputusan akhir.

How do you know? Bagaimana cara kita tahu kalau kita berhenti? Apa yang hendak kita ubah jika kita memilih diam? Apa?

“Do it again. Play it again. Sing it again. Read it again. Write it again. Sketch it again. Rehearse it again. Run it again. Try it again.
Because again is practice, and practice is improvement, and improvement only leads to perfection.”
― Richelle E. Goodrich, Smile Anyway

Gambar : wikipedia.org
Gambar : wikipedia.org

Salah coblos? Coblos yang lain. Salah lagi? Coblos yang lain lagi. Coblos terus. Minimal kita mengirimkan pesan penting, “Hey Dude, we’re not stupid, we’re listening, we’re not ignorant, we’re watching. You fail, you lose our support.”

Lama-lama mereka sadar, “Ajegile, rakyat tambah pinter, kita kudu bener-bener kerja nih sekarang. Suara mereka udahh enggak bisa kita beli lagi.”

Gampang kan rumusnya? Coblos terus. Salah? Ganti. Salah lagi? Ganti lagi.

What you spend years building, someone could destroy overnight;
Build anyway!

Pemilu 2014, jangan golput! 😉

The Davincka Code, How Traveling Inspires You

Bulan pertama di tahun 2014 sudah terlewati lebih dari setengahnya. Menengok kembali ‘catatan akhir tahun’ 2011 dan 2012, I always wrote that my life was at its best hehehe. For both years 🙂.

2011 dan 2012 adalah masa-masa bermukim di Jeddah, Saudi. Catatan akhir tahun’ 2013, rasanya bernada-nada mirip. Walau sejak Maret 2013, kehidupan sudah berpindah daratan, lintas benua pula.

Dan kalau dirunut-runut lagi, mulai rajin mencatat dan serius mengurus blog sejak tinggal di Teheran tahun 2009 lalu. Benar juga berarti, sub judul yang diberikan editor kepada kumpulan tulisan-tulisan saya yang memang ditulis di rentang waktu 2011 – 2013, “How Traveling Inspires You.”

Jadi belajar juga. Bahwa enggak pilih-pilih tempat, ya, yang namanya petualangan menyenangkan itu. Mengingat dulu, kagok diajak ke Teheran dan sempat ‘mengamuk’ disuruh ikut ke Jeddah hahaha.

triple mama

Ternyata, it’s your choice. Kita sendiri yang memutuskan apa akan bahagia, apa akan bete, apa akan merasa berada di titik terendah kehidupan, atau sebaliknya…merasa hidup lebih hidup. It’s all yours 😉. We are able to find the love, even in a so-called hopeless place.

Tapi yang jelas sih, selalu pengin mudik dan jadi kangen sama tanah air, bahkan terhadap hal-hal yang dulu selalu dikeluhkan, eg : macet dan rempongnya hehe.

Tapinya lagi, petualangan tidak mesti selalu harus mengunjungi tempat-tempat baru di luar sana. Sekadar mengubah persepsi dan cara pandang kita terhadap banyak hal akan membawa dunia kita berputar kepada petualangan-petualangan baru. Membaca buku atau catatan-catatan orang lain juga bisa membuat kita berpikir kembali dan menata ulang persepsi kita 🙂. Ke arah yang lebih baik dan positif tentu saja.

***

Media sosial semacam facebook pun sempat mengundang sindiran tajam bagi penggunanya. Apalagi yang aktif banget di sana. Kesannya, hanya kesia-siaan yang didapatkan jika berlama-lama dalam pergaulan dunia maya :P.

Kecanggihan teknologi masa kini seperti layaknya sebilah mata pisau. Tentu marabahaya yang diundangnya jika kita membiarkan sebilah mata pisau ini berada di tangan seorang balita. Tapi di tangan seorang ibu yang sedang sibuk meracik menu di dapur, sebilah pisau ini mendatangkan manfaat yang tidak sedikit.

Saya percaya, mana ada sih hal-hal di dunia ini yang mengandung manfaat saja? Air putih yang sudah sangat nyata khasiatnya buat kesehatan kita, bila dikonsumsi sekaligus dalam jumlah banyak, apa tidak membuat perut kembung?

Buku “The Davincka Code” sebenarnya bukan tulisan-tulisan baru. Tapi kumpulan tulisan-tulisan ringan yang selalu saya rangkai dalam bentuk status-status ‘ular naga’ panjangnya bukan kepalang haha.

Nah, kumpulan tulisan tersebut yang dilirik oleh editor yang menghubungi saya via inbox FB dan email. Mau dibukukan katanya. Saya juga  bingung, sih. Kok segitunya ya mau dibukukan segala? Waktu editor minta 200 halaman, ya saya kaget. Pikir saya, mana mungkin ada segitu? Barulah saya sadar, itu status bisa panjang minta ampun ketika dicopas ke MS Word. Ada status yang panjangnya ternyata sekitar 1800 kata dan memenuhi 6-7 halaman A4. Hahahaha.

Jadi, menulis pun wadahnya banyak ternyata.  Termasuk jalan menerbitkan buku. Dari status-status ringan juga bisa menjadi buku :). Inilah The Davincka Code :

the davincka code FA 2

Sepakat. Dalam menebarkan kebaikan jangan kita yang ditelan zaman. Kita yang harus menaklukkan zaman. Media perantara tidak seharusnya  menjadi masalah.

Karena masyarakat masa kini sekarang wara wiri di media sosial, jangan heran para penulis pun mulai buka lapak di mana-mana. Tak pernah dibatasi, kok, cara kita menebarkan kebaikan kepada orang lain. Dari tontonan wayang, sehelai daun, lembaran kertas, papan-papan tulis, atau dinding-dinding Facebook sekali pun . Lihatlah bagaimana cerdiknya Para Sunan menebarkan Islam di bumi Nusantara kala Islam baru bersemi di tanah air :).

Kebaikan sering digambarkan dengan warna putih. Sementara sisi yang satunya ditandai dengan warna hitam. Adalah tugas kita untuk menyematkan warna yang mana yang kita inginkan untuk setiap hal yang kita temui dalam hidup ini. Hitam atau putih?

***

Kalau bikin status memang serasa bikin artikel, euy, sering dikasih judul gitu hihihi.

Telah terbit “The Davincka Code : How Traveling Inspires You”, 38 judul artikel yang terangkai di 298 halaman buku. Berupa kumpulan cerita-cerita yang memang kalau dirunut-runut cukup banyak mengambil hikmah dari kisah-kisah yang dialami kala bermukim di Tehran-Jeddah maupun Athlone kini :). Dapatkan di toko-toko buku terdekat di tanah air. Harga sebelum diskon, Rp42.000. Bisa juga dibeli di toko-toko buku online yang biasanya kena diskon minimal 10% lho ;).

Akhir kata, mari memilih bahagia, di mana pun kita berada!  Because indeed … happiness is not given, it is made 🙂.

Regards,

-Jihan Davincka-

cover FB duo buku