Beberapa teman yang tinggal di luar negeri ada yang nyinyir dan menganggap ketergantungan pada ART itu budaya ‘manja’ nan feodal.
Saya sebenarnya kepengin bilang ke mereka, “Yo wis, pada pulang sana ke Jakarta. Tenteng anak sama suami dan tinggallah di Jakarta dan jalani hidup yang seperti kalian lakukan di luar negeri yang super mandiri dan tidak butuh siapa-siapa itu.” Hehehe.

Hidup tanpa ART di Luar Negeri … hmm?
People We Haven’t Met Yet (8) : Asisten Rumah Tangga
Film The Help, Kehidupan ART di US Era 1950 an
Courage Doesn’t Always Roar
Kalau untuk saya pribadi, ini tak melulu masalah manja atau mental. Karena di Arab Saudi pun, budaya ber-embak ini masih sangat lazim. Apakah ada hubungannya dengan agama? Ya pastinya enggak. Karena di Iran yang juga mayoritas muslim, kehidupannya sudah seperti negara maju, jarang yang pakai embak ^_^.
Masalah pertama, kesenjangan sosial-ekonomi. Bukan masalah budaya feodal juga. Karena saya pernah senyum-senyum mendengar 2 orang ibu-ibu di sekolah anak saya yang berambut pirang yang mengeluh soal mereka capek habis pulang liburan. Mereka terpikir mengambil asisten rumah tangga tapi mereka marah-marah karena upahnya kegedean menurut mereka.
Iyalah, dengar-dengar jasa tukang bersih-bersih rumah bisa 20 euro per jam. 20 euro = 320 ribu rupiah, per jam!!!!
See? Orang-orang bule ini pun sebenarnya ada keinginan juga kok menggunakan jasa embak. Tapi mungkin enggak yang tiap hari gitu hehehe.
Kesenjangan sosial ekonomi yang tinggal di negara-negara berkembang membuat hadirnya tenaga-tenaga kerja murah meriah. Walau sudah mulai banyak yang kapok memakai jasa embak yang stay-at-home, orang-orang mulai melirik jasa tenaga pulang pergi. Atau spesialis nyetrika doang atau nyapu-ngepel doang. Mengapa? Ya karena jauh lebih murah timbang kita yang ngerjain sendiri.
Saya ingat, waktu ngontrak, saya ogah menggunakan jasa tukang bersih-bersih. Kakak saya butuh. Kakak saya juga tidak sempat mencuci bajunya sendiri. Mau beli mesin cuci, ogah juga, siapa yang ngurusin jemur dan nyetrikanya. Jadi, kakak saya punya bibik khusus. Honornya 300 ribu rupiah sebulan untuk mencuci dan menyetrika saja. Jauh lebih murah daripada gaji kakak saya sebulan di kantornya 🙂.
Tentu lain cerita bila si bibik menuntut gaji 3 juta sebulan. See? Kesenjangan ekonomi.

Masalah kedua, fasilitas dan kondisi. Di negara-negara maju macam Irlandia, yang namanya mesin cuci otomatis (pencet dan langsung kering istilahnya hihihi) dan dish washer (mesin pencuci piring) tidak tergolong barang mewah. Setiap apartemen ya standarnya begitu. Kegiatan berbelanja dan fasilitas umum lain dibuat senyaman mungkin.
Di kota-kota besar negara maju, angkutan umum lengkap dan asoy. Bawa stroller saja bisa banget tuh naik kereta atau naik bus umum. Nah, coba di Jakarta, dijitak gak tuh sama supir Kopaja atau transJ kalau sudah sesak begitu eh berani-beraninya mau masukin stroller hahaha.
Mental ibu-ibunya ya tentu terbangun dari lingkungan tempat mereka berada. Makanya, saya meyakini, ibu-ibu Indonesia yang tinggal di luar negeri dan ‘bawel’ itu (mungkin) sebagian besar tak punya pengalaman menjadi ibu rumah tangga di Jakarta. Mungkin, lho, ya. Soalnya kalau ditanya-tanya memang begitu. Begitu menikah langsung pindah ke luar negeri, melahirkan pun di luar negeri.
Oh well …

Saya juga yakin, ibu-ibu Indonesia yang terbiasa dengan embak jangan risau jika harus tinggal di luar negeri. Saya menjadi buktinya hihihi. Terbiasa hidup dengan orang ketiga (si embak) di Jakarta, saya nyaris tidak mengalami syok apa-apa kok dalam kerjaan rumah tangga begitu pindah ke Jeddah. Itu karena di Jeddah banyak jajanan hahaha.
Tapiiii…dari Jeddah ke Athlone pun ya rasanya biasa-biasa saja alhamdulillah.
Justru, saya bersyukur bisa mendapat kesempatan tinggal di luar negeri. Amit-amit kalau sampai menjadikan kesempatan indah ini untuk ‘nyinyir’ pada teman-teman sesama ibu RT di Jakarta yang masih banyak menggunakan asisten.

Takut, ah. Takut rezekinya di luar negeri keburu abis hahahhahaha. Saya maunya pulang ke tanah air kalau tak punya balita lagi.
Kalau anak-anak sudah besar, sudah saya hitung-hitung, nih, insya Allah sanggup hidup tanpa ART sama sekali di Jakarta 😀. Baik yang pulang pergi sekali pun 😉.
Saya menyadari betul, saya sungguh diuntungkan oleh kondisi dan situasi lingkungan di negara-negara maju. Yang membuat ibu-ibu seperti saya tak perlu bertambah puyeng dengan drama asisten yang konon katanya lebih sakit daripada ditinggal pacar hahahahaha.
Dan di atas itu semua, memang tak baiklah menghina-hina orang lain yang kita anggap lebih ‘rendah’ daripada kita. Siapalah kita. Saya kagum sama ibu-ibu RT di Jakarta yang sanggup hidup tanpa ART sama sekali. Tapi juga tak merasa heran dan memaklumi 100% jika ada yang memilih menggunakan jasa orang ketiga, baik yang menginap di rumah maupun yang pulang pergi.
![]()
Yang tinggal di luar negeri, mari bersyukur. Yang tinggal di Indonesia (especially Jakarta, karena saya tak punya pengalaman menjadi ibu RT di kota lain hehehe), juga harus bersyukur.
“At some point, you gotta let go, and sit still, and allow contentment to come to you.”
― Elizabeth Gilbert, Eat, Pray, Love
Semua ibu-ibu itu pasti keren, kok. Whether they’re using ART or not, saya jamin, keren semuaaaaaaaaaa <3.









