Untuk Mereka, Untuk Mereka

Pada suka nonton stand up comedy, gak? Tahu Muhadkly Acho? Wah, asli deh, maraton di youtube gara-gara kocak dan seru. Enggak cuma kocak, si Bang Acho ini pinter banget menyelipkan pesan-pesan yang menohok dalam humornya 😀.

Salah satu yang berkesan ketika Bang Acho cerita tentang tema Santet. Juara banget, deh, penutupnya, “…dan mungkin kita lupa ya, teror yang paling menakutkan itu bukanlah teror dukun santet. Tapi teror kemiskinan, kebodohan, pemerkosaan dan semua yang lahir dari sana … itu yang seharusnya kita takuti dan kita berantas!”

Suka risih dengan orang-orang yang meributkan pelacuran. Hanya lantang berbicara soal fitnah dan dosa dan bla-bla lainnya. Sementara, kalau mungkin kita sanggup menghujam ke inti persoalan, akar permasalahan enggak jauh-jauh dari … kemiskinan 🙁.

Ada, laki-laki yang komentar kayak gini, “Ya, abis jadi pelacur enak. Kerjanya gampang. Cuma gesek-gesek vagina. Dapat duit. Daripada capek-capek kerja lain.”

Goblok kuadrat! Tanya kepada ibu sendiri, saudara perempuan sendiri. Ada ya orang yang punya cita-cita menjadi pelacur? . Ingat, perempuan itu bukan laki-laki. Laki-laki mungkin bisa berhubungan intim kepada siapa yang membuatnya nafsu. Tapi tidak dengan perempuan.

Makanya, perempuan tidak banyak yang protes kalau praktik poliandri itu dilarang. Iyalah, gilak. Satu saja kita repot nyari-nyari alasan hihihi. Lagi datang bulan, walaupun perut sakit, ada ‘rasa lega’ tersendiri. Ibu-ibu tahu maksud saya, kan? hehehe .

Pas mereka melacurkan diri, lantang benar kalian berbicara soal moral soal zinah soal dosa! Giliran mereka meratap untuk menghidupi anak-anak yang mungkin ditelantarkan oleh suami yang pergi entah ke mana atau kawin lagi dengan perempuan lain, anda ada di mana, ya?

***

Di sebagian negara maju, termasuk Irlandia ini, ada yang namanya semacam child benefit. Tunjangan beberapa ratus euro untuk tiap orang anak yang diberikan per bulan. Kepada siapa? Hanya kepada ibunya. Sang ibu yang berhak menerima child benefit ini. Dari si anak lahir sampai usia 18 tahun!

Jumlahnya tidak sedikit. Tapi pengalaman ditinggal suami sampai sebulan lebih, duit segitu cukup banget untuk biaya hidup sehari-hari saya bertiga dengan anak-anak. Pas 😀.

Pemerintah mungkin menyadari betul, anak-anak itu secara fitrah ya nempelnya ke ibunya . Child benefit juga sebagai salah satu bentuk perlindungan kepada sang anak sekaligus ibunya. Tidak membuat seorang ibu dilanda kegelisahan atau terpaksa melakukan hal-hal ‘terlarang’ hanya untuk sekadar bertahan hidup dengan anak-anaknya.

Kalau di tanah air sekolah negeri pun mulai empot-empotan, di banyak negara maju, sekolah gratis! Biasanya dari pre school sampai lanjutan atas/SMA. Jadi, no drama jual diri demi biaya sekolah anak.

Memang, kita tidak boleh berprasangka buruk kepada orang yang kekurangan. Tapi ingat juga, mereka pun manusia biasa seperti kita. Punya kebutuhan, punya perasaan. Sebagai sesama ibu, kalau tidak terdesak, apa tidak terpikir untuk melakukan hal aneh-aneh? .

Sebuah negara dikatakan maju bukan dilihat dari berapa banyak merek mobil mahal yang beredar di jalanan. Bukan dari berapa harta kekayaan pejabatnya . Bukan dari berapa persentase orang kayanya. Bukan dari berapa banyaknya restoran mahal di negerinya.

Tapi sebagian besar karena sistem pemerintahan yang berpihak pada hampir semua lapisan masyarakat. Kesanggupan pemerintahan untuk melindungi mereka yang kurang mampu dan tidak malah berpesta pora di atas sebagian masyarakat yang masih menjerit kekurangan .

Salah satu contoh nyatanya adalah tingkat kesenjangan ekonomi. Misalnya, cek saja pendapatan perkapita negara yang bersangkutan .

Di sini, karena ada perpustakaan, jadi sering baca-baca sejarah masa lalu Inggris dan Irlandia. Dulu pun, negara sekeren Inggris, sebagian masyarakatnya pernah terpenjara dalam kemiskinan. Yang berimbas pada kelaparan, ketakutan, kejahatan dan rendahnya tingkat kesehatan yang berujung pada kematian.

Tahu novel terkenal “Oliver Twist” karya Charles Dickens di abad 19 silam . Itulah potret kehidupan masyarakat kelas bawah Kerajaan Inggris yang kala itu dipimpin oleh Ratu Victoria.

Masyarakat Inggris tak diam saja dan terus menyuarakan perubahan. Hingga akhirnya, kini Inggris Raya tegak berdiri sebagai salah satu negara yang paling bikin mupeng dari tingkat kesejahteraan sosial ekonominya.

Survey iseng-iseng dari lingkaran pertemanan saya membuat saya berkesimpulan, teman-teman yang tinggal di Eropa – Australia tingkat kebetahannya bisa dibilang lebih tinggi dibanding teman-teman yang tinggal di US atau belahan bumi lain. US itu pajaknya kecil, lho . Di Timur Tengah malah rata-rata enggak ada pajak hehehe.

Padahal di Eropa/Australia, pajaknya lumayan banget, ya . Sistem ekonomi Eropa dan Australia modelnya tidak 100% liberal. Malah cenderung sosialis. Sebagai gambaran, penghasilan tertentu di (sebagian besar) Eropa bebas pajak. Tapi makin tinggi penghasilan, pajak pun makin tinggi. Jadi, bikin gondok aje ye hahahaha. Sistem kesehatan biasanya di bawah wewenang pemerintah bukan swasta.

Yang gondok itu yang masih belum sadar . Toh, buktinya banyak sekali yang betah. Cari alasan ini itu agar bisa bertahan terus di Eropa. Sudah rahasia umum itu, lulus sekolah ini, daftar lagi sekolah anu kalau belum dapat kerja hehehe .

Tak sedikit yang akhirnya rela bertukar warna paspor.

Akhirnya kehidupan membuktikan, uang bukan segala-galanya. Perlu tapi bukan yang utama. Di Eropa sini, siapa yang peduli dengan uang banyak jika fasilitas dan kenyamanan yang kita terima sehari-hari cukup mumpuni?

Naik ferrari kalau jalanan macet kan juga bikin mutung, Cyin hehehe . Pakai tas hermes, mantel berlian, jam tangan emas, gigi pun bertabur mutiara kalau perlu hihihi, apa gunanya kalau masih kena banjir? Hahahaha. Sungkem dulu sama Pak Jokowi .

There are things that money can’t buy .

Dan apakah hati nyaman dan bahagia, kalau Anda makan dalam rumah makan mewah dan dalam perjalanan pulang mendapati seorang bapak-bapak tua, badannya kurus, tengah sibuk mengipasi sate-sate dagangannya di pinggir jalan kala sebagian besar orang malah tengah lelap dalam peraduannya .

Di Athlone sini, ya. Bapak-bapak yang tiap hari keliling kota mungutin sampah pakai rompi hijau gonjreng, sering juga terlihat sedang menikmati kopi hangat dan sepiring muffin di kafe dalam mal bersama teman-temannya . Yes, di kota kecil ini masih ada tukang sampah keliling.

Nah, di kota-kota di negara berkembang, ada gak tukang sampah yang di waktu luangnya ngopi-ngopi di starbucks sama teman-temannya? .

Untuk itulah, peraturan mesti ditegakkan. Kita mesti punya pemimpin yang bisa bertarung untuk kita. Seperti kata Najwa Shihab, “Pemimpin adalah mereka yang berani mendobrak keadaan, bukan mereka yang mengokohkan kemapanan.”

Bukan orang-orang yang bila sudah di atas, lupa memandang ke bawah . Bila sudah di atas, bukannya sibuk memikirkan perbaikan, isi kantongnya saja yang sibuk diisi. Bagus kalau cuma kantongnya doang, kantong kerabatnya juga digemukin .

Masalah banjir contohnya. Mau setengah mati Jokowi dan Ahok berkoar-koar agar semua kali dikeruk dan dibersihkan, kalau situ tetap buang sampah sembarangan, ya untuk apa? .

Tapi uniknya, mental masyarakat ya memang harus ditopang oleh pemimpin yang kuat. Orang-orang Eropa takut buang sampah tidak semata-mata karena kesadaran pribadi kaleeee. Ada undang-undangnya, Gan! Dendanya lumayan kalau buang sampah sembarangan. Bukan cuma hiasan, tapi ada penegak hukum yang siap beraksi tanpa kenal yang namanya uang damai hehehe.

Pemerintah berusaha keras membuat masyarakat aktif dalam masalah lingkungan. Soal penggunaan kantong plastik misalnya. Di sini kantong plastik kudu beli, harganya lumayan juga. Jadinya, saban belanja, kudu siapin kantong sendiri. Anak balita harus rela berbagi stroller dengan barang belanjaan hihihi.

Pemimpin-pemimpin yang bagus akan menjamin terlaksananya peraturan yang adil. Mereka tidak akan datang kalau masyarakat tidak memberi dukungan . Mereka tidak lahir dari sihir atau mukjizat. Tapi dari pilihan-pillihan yang Anda buat.

***

As Gandhi said, “Poverty is worst form of violence.”

‘Kejahatan’ ini yang harus kita lawan sama-sama. Bukan orang miskinnya yang jahat. Kemiskinannya yang kita perangi .

Kadang, bukan karena mereka tidak pernah berusaha melarikan diri dari kebodohan. Seringkali, bukan karena usaha mereka yang tidak cukup keras. Tapi, dinding kemiskinan itu terlalu tinggi untuk dipanjat seorang diri. Lintasannya terlalu jauh untuk dilalui. Sekeras apa pun mereka mencoba berlari, garis finishnya belum sanggup mereka capai sementara nafas sudah setengah-setengah.

Untuk merekalah, kita harus berjuang membuang rasa skeptis dan apatis dengan memilih jalan golput. Golput emang enak. Enggak perlu mikir, enggak perlu takut masuk neraka pula kalau sampai salah pilih hehehe .

untuk merekalah kita menguras otak dan ikut berperan aktif dalam setiap kesempatan untuk membenahi bangsa .

Kadang kita berpikir dengan golput kita tengah melakukan perlawanan. Hasilnya apa?

Toh, 80% yang memilih golput pun, sistem demokrasi kita tetap akan memilih pemerintahan berdasar 20% yang memilih. Lain halnya bila sistem demokrasi kita menganut sistem quota macam rapat-rapat DPR . Itu baru ngaruh kalau ngajak-ngajakin orang untuk walk-out. Karena makin sedikit yang hadir, quota tak akan terpenuhi, hasilnya harus dipending.

Kenapa sih orang tidak mau memilih? Ya biasanya karena mereka sudah tidak punya harapan bukan karena betah dengan pemerintahan yang sekarang hehe. Ironisnya, justru golput itu biasanya akan menguntungkan status quo .

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka.”

Bagaimana kalau salah pilih?

“God never requires us to succeed. He only requires that we try” .

Untuk mereka yang terkurung dalam dinding-dinding kemiskinan yang sedemikian sulit untuk dirontokkan itu, untuk mereka yang masih terus berlari dengan sisa-sisa napas menuju garis kemenangan, untuk mereka yang malah mungkin sudah kehilangan harapan, masihkah terpikir untuk golput?

Masihkah? 🙂

kemiskinan indonesia

***

Christina Onassis, The Things That Money Can’t Buy

Tulisan ini sedikit membahas tentang Christina Onassis. Yang sempat saya baca sebagian kisahnya di Majalah Intisari. Majalah Intisari itu masih ada enggak, ya? Hehe. Dulu, seingat saya ukurannya kecil seperti buku. Tapi isinya lumayan tebal.

Entah siapa dulu di rumah yang doyan beli Intisari. Bokap nyokap kayaknya enggak mungkin hehehe. Mungkin salah satu kakak saya. Mungkin enggak beli, tapi pinjam atau ngambil dari mana . Soalnya, kalau saya nemu, pasti edisi lama. Entah beberapa bulan sebelumnya, bahkan pernah edisi setahun yang lalu.

Dibilang suka-suka banget membaca sih enggak, cuma kalau enggak ada kerjaan ya senang juga membaca. Lebih suka membaca fiksi. Apalagi kalau malam-malam acara kelompencapir bisa 2 jam gitu apa ya, hihihi. Antara bosan dan gagal paham itu bapak-bapak pakai caping lagi pada ngapain . Belum lagi bunyi gongnya yang legendaris itu hahaha. TOONNGGG! “Yak, waktunya sudah habis! Silakan kelompok A, potnya dibawa ke sini.”

Selain fiksi, saya gemar membaca biografi. Nah, di Intisari itu selalu ada rubrik biografi tokoh-tokoh dunia. Enak juga, tuh, menghabiskan waktu duduk dekat jendela menghabiskan waktu menikmati rubrik yang biasanya dibuat berlembar-lembar ini.

Paling senang membaca biografi orang kaya. Hahaha. Atau kalau enggak, biografi anggota kerajaan atau profil wanita dunia macam Jackie Onassis. Ada 1 yang ingin dibahas sedikit, Christina Onassis.

Christina Onassis

Christina meninggal di usia cukup muda, sekitar 37 tahun. Mengapa? Bukan karena kelaparan sih yang pasti hahaha. Christina wafat dengan mewariskan harta yang banyak kepada anak tunggalnya, Athina Onassis. Saat itu, Athina heboh diperbincangkan sebagai balita paling tajir di dunia. Di usia 4 tahun saat ibunya wafat, Athina sudah punya kebun binatang sendiri, lho, hadiah ulang tahun dari ibunya saat usianya 2 tahun!

Kebun binatang beneran, yaaaa. Bukan lego-legoan. Bukan pula mainan plastik yang banyak dijual di Pasar Gemblong *umpetinMainanAnakSendiri* hahahaha. Dulu beli 25 ribu rupiah sudah lengkap dengan sungai-sungai dan pohon-pohonnya, lho hihihi.

Christina adalah anak kedua dari Raja Kapal asal Yunani, Aristotle Onassis dengan istrinya yang cantik jelita, Athina Livanos. Sayang, Christina bisa dibilang tidak mewarisi kecantikan klasik sang ibunda. Hal ini konon salah satu penyebab Christina selalu tidak percaya diri. Zaman dulu belum ada operasi plastik apa, ya? .

Lahir dari keluarga super tajir tidak membuat hidup Christina hepi-hepi amat. Ayahnya sempat berselingkuh dengan artis opera, Maria Callas. Hingga akhirnya bercerai dengan ibunya. Ibunya sendiri belakangan gonta ganti pacar.

Gambar : biography.com
Gambar : biography.com

Saat ayahnya menikahi janda Kennedy, Jacqueline Kennedy, hidup Christina tidak lebih baik. Antara cemburu, bete dan curiga dengan si janda kembang, yang selalu mendapat sorotan dunia, yang dipikirnya hanya tertarik pada harta ayahnya saja.

Pertengahan tahun 70-an, badai besar menghampiri hidupnya. Dimulai dengan kematian saudara tunggalnya, sang kakak, Alexander Onassis. Tak lama ayah dan ibunya juga menyusul. Hanya dalam rentang waktu 2-3 tahun saja, Christina yang memang secara kepribadian sangat rapuh kehilangan semua anggota keluarga intinya.

Sempat ada drama perebutan harta antara Christina dan Jackie Onassis. Kalau tidak salah, Christina bahkan menantang untuk membeli nama Onassis dari Jackie. Dia bersedia membayar berapa pun yang Jackie minta asal Jackie ‘melepaskan’ titel Onassis dari namanya.

Singkat cerita, Christina yang mewarisi sebagian besar usaha dan harta kekayaan Onassis. Kehidupan rumah tangganya pun tak bisa dibilang mulus. Christina menikah sampai 4x. Bersama salah satu suaminya, dia memiliki seorang puteri. Diberi nama sama dengan mendiang ibunya, Athina 🙂.

Bisa dibilang, dari kecil Christina selalu gagal berdamai dengan dirinya sendiri. Dari merasa selalu terbebani dengan ibunya yang cantik, ayahnya yang playboy, kakaknya yang pemalu hingga sirik sama ibu tirinya yang secara pamor memang sangat mengintimidasi, ya, hehe .

Seorang diri Christina membesarkan Athina setelah satu persatu pernikahannya selalu gagal di tengah jalan. Christina juga sangat membenci ukuran tubuhnya yang dianggapnya gemuk. Christina Onassis mengkonsumsi obat-obatan untuk menurunkan berat badan dan juga obat-obatan lain untuk mengatasi penyakit insomnianya.

Akhir hidupnya cukup mengenaskan. Ditemukan tewas di salah satu rumah sahabatnya kala tengah berlibur. Over dosis obat-obatan membuatnya terkena serangan jantung. Sejarah pun menasbihkan Athina menjadi bocah terkaya di dunia setelah itu .

Tragis, ya. Kurang apa coba hidupnya? Ayah Christina Onassis punya banyak sekali kapal pesiar yang bisa dibilang termewah di dunia kala itu. Ibu yang cantik yang sebenarnya sangat sayang kepadanya. Kakak yang baik yang selalu menghiburnya kala sedih.

Tanpa sadar, Christina Onassis menggantungkan kebahagiaannya pada orang-orang di sekitarnya. Pada kharisma ayahnya, pada kecantikan ibunya dan pada kasih sayang dari kakak kandungnya. Ketika semuanya diambil dari sisi hidupnya, Christina Onassis sudah mulai kehilangan arah. Walau saat itu harta bisa dibilang masih bergelimang. Sangat bergelimang tepatnya 😀.

Christina Onassis
Aristotle Onassis & Athina Livanos (Gambar : biography.com)

Well, there are things that money can’t buy 🙂. For sure.

Katanya, ya, dunia ini cuma sementara saja. Hanya main-main saja. Malah, kata seorang penceramah di salah satu pengajian yang pernah saya hadiri, semua yang kita alami di dunia ini hanya ujian semata.

Diberi kekurangan jelas ujian, ya. Tapi, diberi kelebihan pun sebenarnya ujian juga. Cuma, kalau urusan kelebihan, banyak yang enggak sadar kalau itu ujian. Disangkanya hadiah kali, ya, hihihi .

Kalau dipikir-pikir, yang hidupnya terlihat susah yang lebih sering memenangkan pertarungan. Jadi orang dengan kemampuan ekonomi pas-pasan misalnya. Pilihannya apa, ya sabar dan sabar. Hehehe. Hidup semampunya, beli-beli yang secukupnya. Uang enggak ada soalnya haha.

Coba yang kebalikannya. Hidup terlihat seperti banyak pilihan. Mau makan pusing, mau pakai baju pusing, mau beli ini pusing. Mau hidup bersahaja bisa, tapi hidup bermegah-megah juga bisa . Pusing, kan? Hehe.

Belum lagi bisikan-bisikan, “Cuy, belanjain ajaaaaa… kan uang, uang lo. Uangnya halal. Enggak ada hadisnya kok kalau orang kaya itu harus sederhana. Itu mah bisa-bisanya orang nyinyir ajeee. Beli aja, Cuyyy.”

Soal hadis sih iya juga, ya. Hihihihi. Saya pernah, lho, di sebuah grup ditantang sama bapak-bapak dengan ucapan seperti di atas. “Tidak ada hadisnya kalau umat harus hidup sederhana. Yang penting harta halal! Yang penting sembahyang, puasa dan zakat plus sedekah. Orang miskin kan bukan salah kita. Masa gara-gara ada orang tidak punya kita harus ikut-ikutan hidup susah. Kita juga kaya karena kita usahanya optimal.”

Tetot pertama adalah … hidup sederhana memang sama gitu dengan hidup susah? :P.

Tetot kedua, ikhtiar adalah kewajiban manusia tapi hasil akhirnya ada di tangan Allah. Nah sekarang saya yang mau tanya ke bapaknya, nih, “Ada enggak dalilnya kalau kita berusaha keras dan bekerja keras kita pasti bakal punya banyak uang?” Hayoooooo 😛.

Sebaliknya, si Eneng Christina kagak ngapa-ngapain duitnya akeh dari bapak’e. Athina kecil apalagi. Belum lagi lancar ngomong, sudah menjadi pewaris harta kekayaan yang luar biasa.

Titipan, atuh, Pak . Titipan saja. Makanya, jangan langsung gagap ah kalau baru punya uang banyak hehe.

Tadinya tidur di atas kasur kapuk saja bisa nyenyak, giliran banyak uang, tidurnya baru bisa enak kalau pakai kasur bertahtakan berlian misalnya. Aih, sakit atuh punggungnya hehe . Tadinya, jalan-jalan ke Ancol saja sudah heboh, begitu banyak uang, langsung ribut mau piknik ke bulan! Hihihi. Becandaaa 😛.

Kalem aja. Kaleeeem. Kita toh enggak pernah tahu kapan semuanya bakal diambil sama yang punya. Namanya juga cuma titipan ;). Suka-suka yang nitip, ya, hehe.

Sementara bebekerja keras itu sudah menjadi prinsip hidup kita, dong. Apakah akan menjadi milyulner atau tidak, sudah selayaknya setiap orang selalu berusaha yang terbaik dalam menjalani hidup . Mencari rezeki yang halal nan bermanfaat dalam kebaikan.

Seperti Mbak Christina, ya, jangan sampai kita menyandarkan tangga kebahagiaan hidup pada dinding yang salah. Pada teman-teman yang keren atau pergaulan, pada harta yang banyak, pada anak-anak, apalagi hanya pada beberapa helai poni di jidat, hahahaha *potongAjaPoninya* .

Bahagia itu simpel sekali. Kalau ingin bahagia, bahagiakanlah orang lain. Membahagiakan orang lain seringkali malah enggak perlu duit sama sekali. Macam yang ringan-ringan saja, menebar senyum atau menanyakan kabar pada kawan lama .

“The way to happiness is in making others happy.” Kata Mbah Google sih, begitu. Dalilnya apa? Waduh, bantu cariin hadis sahihnya, dong .

Intinya sih sama kok dengan yang kemarin-kemarin. Sesuai tema kita di bulan Januari ini, “Letakkanlah dunia di tanganmu, bukan di hatimu.”

Wabillahi taufik wal hidayah, wassalamu alaikum wr.wb

*benerin jilbab, benerin celana jeans, eh gamis :P*

***

Where Ignorance is Our Master

“Yam, tolonglah aku…” Kata si Kucing.

“Nape lu?” Jawab si Ayam ogah-ogahan.

“Jadi gini…”

Kucing pun mulai bercerita tentang masalah dalam rumah. Jadi, Pak Bolang, majikan mereka, tengah diresahkan oleh banyaknya tikus-tikus berkeliaran dalam rumah. Sudah berbagai cara dilakukan untuk mengusir para tikus.

Kucing merasa kasihan dan tidak berdaya. Dia pun meminta bantuan Ayam.

“Ooo gitu. Waduh, gue kan punya kandang sendiri. Enggak tinggal dalam rumah. Lagian gue telaten banget bersihin kandang gue. Kagak mungkin tu tikus bakal ke sini.”

Kucing pun beranjak pergi. Dia menuju kandang sapi.

Kucing menyapa, “Pi, sibuk, gak?”

“Apaan?”

“Busyet. Galak amat.”

Sapi terkekeh sebentar, “Abis lu dateng-dateng ngagetin gue. Gue lagi kilik-kilik kuping. Kaget, Cing. Ya ude, apaan?”

Kucing pun menceritakan hal yang sama. Seperti yang diutarakannya tadi kepada si Ayam. Sapi manggut-manggut dan menjawab singkat, “Kandang gue gede. Lo mau tidur di sini saja? Sok aja atuh.” –> Sapi Sunda? hihihi .

“Bukan gitu, Pi. Kasihan sama Pak Bolang. Kita bantulah cari solusi.”

“Yaela, itu bukan urusan kite lah. Tikus kan kagak bakalan gangguin kita.”

“Tapi, Pi …”

“Duh, kayak hidup kita masih kurang repot aje. Udahlah. Diemin aja. Entar tu tikus juga bakal pergi sendiri. Jaga diri sendiri aja baik-baik. Oke, Cing?”

Kucing pun masuk kembali ke dalam rumah.

Sebulan berlalu. Kini, Kucing memandang sedih ke pekarangan di luar. Kandang ayam dan kandang sapi dibongkar oleh Pak Bolang. Kucing berguman pelan, “Andai saja dulu mereka …”

Kucing tak sanggup meneruskan kalimat batinnya. Sudut matanya telah basah. –> eya ampun, drama amat! Hahaha .

Ke mana ayam dan sapi?

Seminggu setelah Kucing mendapat jawaban berupa sikap cuek Ayam dan Sapi atas masalah dalam rumah Pak Bolang, majikan mereka, anak bungsu Pak Bolang jatuh sakit. Sakit tipes dikarenakan ulah tikus-tikus nakal tak terhalau yang wara wiri dalam rumah.

“Beri makanan bergizi biar cepat sembuh. Sup ayam juga boleh.” Begitu saran Pak Dokter. Ayam pun dipotong untuk dijadikan sup.

Si bungsu sembuh, ealah…yang sulung ikutan tipes. Pak Bolang bingung, ayam sudah tidak ada. Kata Pak Dokter,”It’s oke. Sup daging sapi juga tak masalah.”

Sapi dipotong untuk dijadikan sup. Akhirnya Pak Bolang nekat pergi ke kota dan membeli lem tikus plus perangkapnya walaupun harganya sangat mahal. Tikus-tikus pun bisa dienyahkan. Setelah terlebih dahulu mengorbankan nyawa Ayam dan Sapi.

Tinggallah Kucing bersenandung sedih tiap malam, “Sunyi sepi sendiri…sejak kau tinggal pergi…” #eaaaahhh, hayooo lagu apaan itu? hihihi *ngikikJadul*.

Ini bukan cerita karangan saya. Pernah baca di mana gitu. Lupa, hehehe. Tapi inti ceritanya sama. Pasti bisa, dong, menangkap pesan moralnya .

***

Kalau di atas cerita fiksi. Yang berikut ini cerita non fiksi alias berdasarkan kisah nyata.

Anggap saja namanya Ibu Mawar. Ibu Mawar ini ibu yang baik lah, terkenal cukup disiplin menjaga anak-anaknya. Termasuk si Kupu-kupu, anak perempuannya yang masih berusia 5 tahun.

Tiba-tiba Ibu Mawar dikejutkan oleh Kupu-kupu yang tiba-tiba demam tinggi dan suka meracau dalam tidurnya. Sebelumnya, Kupu-kupu juga mendadak menjadi anak yang pendiam. Padahal biasanya cuwawa luar biasa.

Terbongkarlah semuanya ketika akhirnya Kupu-kupu buka mulut dan membuat gempar seisi kompleks. Kupu-kupu mengaku telah sering disuruh untuk (maaf) menjilati (maaf lagi) anak kelamin salah seorang anak tetangganya. Namanya Kumbang. Usia Kumbang sekitar 11 tahun.

Kupu-kupu mengaku, awalnya dia senang-senang saja karena selalu dibujuk dengan pensil warna, permen atau pita rambut. Padahal Ibu Mawar berasal dari keluarga berada yang tidak segan-segan membelikan ini itu untuk putrinya. Tapi ya, kembali lagi, namanya juga anak-anak . Dikasih permen saja bisa loncat-loncat kegirangan huhuhu.

Lama-lama Kupu-kupu sering melawan dan malah membuat Kumbang marah. Hingga akhirnya dilakukan dengan cara paksaan. Bahkan, Kumbang mengajak Belalang, anak tetangga juga, laki-laki usia 8 tahun untuk ikutan dalam permainan yang dinamakannya, “Main celup-celupan.” Astagfirullah. Bayangkan perasaan Ibu Mawar.

Kasusnya sampai ke polisi kalau enggak salah. Ya kembali lagi, namanya juga anak-anak. Kumbang mengaku mengetahui aktifitas tersebut dari youtube. Ibunya si Kumbang berkeras kalau dia selalu mengunci ponsel dan gadget lainnya dengan password. Tapi Kumbang menjawab, dia tahu semua password ibunya. Nah lo.

Belalang mengaku hanya ikut-ikutan. “Kayaknya seru. Awalnya geli, tapi lama-lama enak.” Astagfirullah. Mau marah tapi bagaimana? Usianya masih 8 tahun .

Kejadiannya di kompleks perumahan menengah. Jadi bukan di kampung-kampung kismin lho ya.

Tamparan keras untuk Ibu Mawar dan seluruh keluarga dalam kompleks tersebut. Ibu Mawar konon sempat histeris karena tidak terima. Beberapa kali menjerit, “Apa dosaku Tuhan? Kurang apa? Kurang apa pada anak-anak?”

Saya tidak punya anak perempuan. Tapi membaca tulisan seorang teman di blog itu, yang dibuat berdasarkan kisah nyata kerabat dekatnya, membuat saya menangis. Iyalah. Saya juga prihatin pada Kumbang dan Belalang. Tahu apa sih mereka?

Konon, suasana kompleks mendadak ribut. Sampai rapat dan banyak ibu-ibu yang ikut menangis. Mengingat Kumbang, Belalang dan Kupu-kupu semuanya berasal dari keluarga baik-baik. Emosi pun tak kuat dibendung. Kalau tak salah, keluarga Kumbang akhirnya memutuskan hengkang dari kompleks karena tak tahan makian para tetangga.

Salah siapa? Ada apa ini?

Jawabannya simpel. Di blog itu juga ditulis oleh teman saya. Kata Ibu Elly Risman, seorang pembicara senior dalam seminar-seminar parenting sering mendengung-dengungkan kepada kita semua, “IT TAKES A VILLAGE TO RAISE OUR CHILDREN.”

Nabil & His Friends :D (Thuwal Beach, 2011)
Nabil & His Friends 😀 (Thuwal Beach, 2011)

Sungguh tidak bijaksana jika kita seringkali khilaf dan menganggap, “Aduh, gue mah lindungi keluarga sendiri aja, deh. Keluarga kan yang paling penting. Yang penting anak-anak gue, gue didik baik-baik.”

Jangan lupa, suatu hari, kita bisa berada dalam posisi Ibu Mawar. Astagfirullah *ketokKetokMeja*, “Jangan sampe, jangan sampeeee…”

Anak-anak kita tidak akan terbatas kehidupannya oleh dinding-dinding rumah kita saja. Tidak pula hanya sebatas pekarangan rumah. Bahkan pun tidak hanya dalam kompleks. Mereka kan makhluk sosial, sama seperti kita. Butuh berinteraksi dengan orang lain di berbagai tempat.

Dalam buku “Tipping Point” bahkan jelas-jelas sebuah penelitian dilakukan untuk memantau perkembangan anak-anak dalam 2 lingkungan berbeda. Hasilnya? Anak-anak dari keluarga broken home yang dibesarkan dalam lingkungan baik-baik ternyata LEBIH SELAMAT daripada anak-anak dari keluarga baik-baik yang dibesarkan dalam lingkungan yang kurang baik.

Jadi, jauhilah sikap seperti ‘Ayam dan Sapi’ tadi, ya . Generasi penerus adalah TANGGUNG JAWAB KITA SEMUA. Apa pun yang bisa mengancam ‘masa depan’ mereka bukanlah semata-mata tanggung jawab orang tuanya. Tanggung jawab kita semua 🙂.

Nabil (Thuwal, 2012)
Nabil (Thuwal, 2012)

Kita harus bekerja sama . Untuk merobohkan ‘keangkuhan dunia’ yang kadang tidak peduli lagi pada sang penerus sing penting keuntungan materi :(.

Sesuai fitrahnya, manusia itu adalah makhluk sosial.

Maka, selayaknya sebagai orang tua, mari sama-sama terus saling mendukung perbaikan dan tindakan positif untuk menyelamatkan makhluk-makhluk mungil yang mungkin sekarang masih kita gendong-gendong atau masih kita suapin. Tapi suatu saat nanti…di tangan merekalah kelak dunia akan berputar 🙂.

Saatnya ‘melawan’, ya. Saatnya pro aktif untuk menyajikan lingkungan terbaik untuk memicu keberhasilan mereka di masa depan. Bukan hanya sebatas menyiapkan rumah yang hangat dan nyaman . Kalau pun mau homeschooling, sampai kapan? Suatu hari mereka pun harus kita ‘lepas’, kan? .

Heal the world, make it a better place, for you and for me and the entire human race. -Heal The World, Michael J-

Banyak hal-hal yang bisa kita bantu untuk kontrol. Acara televisi nasional misalnya. Walau kita sebenarnya sanggup menggunakan channel berbayar yang tayangannya lebih mudah kita pilih-pilih. Sebagai salah satu wujud ikhtiar kita bagi para penerus bangsa. Siapa yang tahu besarnya harga yang harus kita  bayar kelak atas ketidakpedulian  kita saat ini.

Where ignorance is our master,
there is no possibility of real peace.
-Dalai Lama-

Is it worth it anyway? Together, it is  :).

Amar ma’ruf nahi mungkar ^_^.

Wassalam

– dari seorang Ibu rempong-kepo-penuh drama-nan sok tahu  yang percaya kalau perbaikan itu bisa dimulai dari hal-hal yang kecil  ;)-

The Kids (Madain Saleh, 2012)
The Kids (Madain Saleh, 2012)

***

 

Bagaimana Saya Memulai Diet Food Combining

Di bulan November 2012, mendapati hasil tes darah suami yang mengklaim bahwa angka kolesterolnya sudah berada di angka 260, saya yang paling merasa bersalah. Suami saya tak suka jajan di luar. Walau semasa di Saudi, kehidupan kuliner pemukimnya dikepung oleh resto-resto ternama yang menawarkan menu-menu lezat dengan harga yang sangat terjangkau oleh kami.

Bisa dikatakan, karena ulah saya-lah, kolesterolnya bisa menjulang sampai setinggi itu . Ditambah saya pun rasanya makin jompo. Sudah mulai tak sanggup melewati hari tanpa bantuan antangin atau minyak angin hihihihi. Semakin saya memacu diri berolahraga, anehnya, kepala makin sering pusing dan sering mual. Huhuhu. Serba salah.

Itulah kelemahan utama saya. Saya paling tidak suka sayur. Merembet ke anak-anak dan suami karena semasa di Jeddah dulu, 90% menu sehari-hari berasal dari racikan tangan saya di dapur. Dulu, sering sekali mendapati sayur-sayuran yang membusuk dalam kulkas saking lamanya enggak dimasak .

 

Kalau buah, anak-anak masih saya rutinkan minum jus dari buah-buahan segar yang diblender. Saya sendiri jarang sekali menyentuh buah . Sementara suami memang tidak suka, diperparah dengan saya yang tak pernah memberi sugesti positif huhuhu.

Saya paling ogah kepada alternatif mengkonsumsi obat permanen dan menentang ide mertua yang meminta suami saya rajin minum obat penurun kolesterol. Apalagi setelah tahu kalau obat itu tergolong ‘keras’ dengan efek samping yang tidak kalah berbahayanya.

Saya juga selalu mengharamkan diri terhadap makanan/minuman buatan pelangsing. Yang namanya buatan mana bisa dibilang alami, sih? Hehehe. Walau banyak yang mengklaim aman 100%. Tapi ingat, buatan ya buatan . Pasti ada efek sampingnya, belum kelihatan/ketahuan saja 😉.

***

 

Memulai Diet Food Combining tahun 2013

Setelah sekian lama mengeluarkan segala ilmu kepo-kepo terbaik via Google, saya langsung ‘jatuh cinta’ pada Diet Food Combining. Yang diawali dari ‘provokasi’ seorang teman. Terima kasih, Linda 😀.

Teorinya sangat masuk akal. Tanpa obat-obatan, tanpa suplemen buatan, jadi jangan nuduh eike mau jualan sesuatu, ya, hahahaha. Asli lho, satu-satunya hal yang ingin saya tawarkan adalah menerapkan pola makan sehat alami. Kita enggak bakal ngomongin merek atau brand, karena namanya alami, semuanya made in Tuhan Yang Maha Esa, ya, Kakaaaa 😀.

Diet Food Combining
Gambar : pixabay.com

Saya sendiri, dari awal, tidak pakai pikir panjang. Hari itu melahap info-infonya dari Google, besoknya langsung praktik! Kombinasi makanan serasi dalam diet Food Combining  menetapkan protein nabati sebagai teman sejati untuk baik menu karbo maupun protein. Penggemar tahu-tempe langsung bersorak kegirangan hahaha.

Terbuai oleh manfaat-manfaat sayur dan buah, saya langsung berubah drastis. Niat saya memang kuat banget. Tujuan utamanya ya itu, mencoba pola makan ini untuk selanjutnya diterapkan pada suami dan anak-anak . Sudah berkubang dalam lumpur dosa, nih, bertahun-tahun membiarkan mereka ikut pola makan saya yang sangat cupet ini *tertundukMalu*.

Mungkin karena benar-benar disiplin, ‘mukjizat’  Diet Food Combining menghampiri saya dalam waktu singkat . Dalam tempo tiga hari saja, migrain harian langsung kabur, badan mendadak bugar . Pakai dikasih bonus segala, dalam tempo seminggu, perut kendur dengan berat badan merosot 2.5 kg. Padahal, enggak pakai lapar . Bukan sulap, bukan sihir hihihi.

Nah, setelah beberapa hari itu, saya langsung membulatkan tekad mempraktikkan hal yang sama pada suami dan anak-anak. Saya sih mencoba logis saja. Mereka kan belum tentu sanggup 100% seperti saya kala itu.

Prinsip dasar diet Food Combining y ang paling masuk akal menurut saya pribadi yang bisa langsung diterapkan adalah … menghapus konsumsi dairy products (susu sapi, keju, yoghurt dsb). Padahal dulu suka mengganti santan dengan susu sapi dengan harapan lebih sehat hihihi.

Susu tinggal diganti ke susu kedelai/susu kacang. Itu pun, dari teori diet Food Combining , saya menyadari kita telah sekian lama diperdaya oleh pemikiran pentingnya susu sapi dalam pertumbuhan anak-anak. Bahkan orang dewasa pun dibujuk-bujuk minum susu . Minum susu enggak mesti tiap hari, kok .

Coba pelajari berapa jumlah kalsium yang kita butuhkan secara harian. Dan betapa semuanya bisa dipenuhi dari ragam macam sayuran . Vitamin-vitamin yang selama ini kita percayakan pada botol-botol sakti hehehe, ternyata melimpah ruah dalam buah-buahan dan sayuran .

Baca : “Susu Hewan dalam Pola Makan Food Combining” 

Ada pun kalori memang masih jatahnya karbo. Tapi apa iya dengan rutinitas kita sehari-hari, kita butuh tiga piring nasi setiap harinya? . Protein yang selalu kita yakini hanya milik para hewani, ternyata juga dimiliki oleh beberapa jenis sayuran dan tergolong cukup tinggi pada jenis nabati semacam tahu, tempe dan jamur .

Untuk ‘makan besar’, suami masih ogah kalau paginya hanya diberi buah hehehe. Baiklah. Pelan-pelan, ya.

Pagi hari selalu dimulai dengan segelas jus bagi suami dan anak-anak. Bukan jus kotak atau jus kaleng atau jus botol. Ingat kandungan gula dan zat-zat tambahan yang PASTI mereka tambahkan kepada suplemen yang diberi nama jus buah paling sehat sekali pun . Sifat dasar buah = gampang busuk. Jadi, pikirkan sendiri gimana cara produsen membuat sari buah tersebut bisa bertahan lama dalam bentuk kaleng/botol/kotak .

Jus buah yang saya maksud … buah-buahan segar yang matangnya cukup yang diolah dalam blender. Kalau bisa jangan terlalu lama, agar masih kasar dan memancing mereka untuk mengunyah. Potongan buah segar lebih sehat, tapi mereka masih ogah-ogah, euy hehehe. Jadilah diakali dengan memberi jus.

Sejam setelah minum jus baru saya perkenankan mereka ‘makan berat’. Untuk pagi hari, sebisa mungkin saya selalu memberi menu karbo. Misalnya :

Menu Diet Food Combining

1. Mie/nasi goreng isi sayur-sayuran plus tahu atau jamur (kalau ada :D). Eh, saya tak pernah mengharamkan mi instan macam Indo***. Tapi ingat, kalau dulu makannya pakai bakso dan telur hihihihi, sekarang, cukup dengan sayur-sayuran saja. Kalau bisa irisan sayur segar seperti : sawi, kol, timun, tomat dsb.

2. Bisa juga kentang panggang + irisan seledri/timun/paprika segar tanpa diolah 😀.

3. Atau juga makaroni skutel yang dipanggang tanpa ditumis dan tentu saja tanpa daging sama sekali, tapi tetap mencampur sebutir telur dibantu susu kedelai atau santan 😀.

Entar, kalau fotografer sudah balik, kita posting foto + resepnya 😉.

Soal ngemil pun, anak-anak tak saya batasi. Saya biarkan saja makan biskuit, roti, kue-kue coklat. Tapi, sesekali saya tawarkan cemilan macam kue lumpur kentang, misro kentang (isi gula merah atau coklat biar mereka doyan hehe), atau pisang panggang yang ditaburi coklat. Ya, tergantung eike lagi mood apa kagak hahaha.

Makan siang dan makan malam mereka hampir selalu menu mix, ada protein hewani ada nasi hehehe. Aduh ya, lidahnya masih indonesia banget hihihi. Makan mesti pakai karbo. Walau kini karbonya tidak cuma nasi saja. Bihun atau kentang juga sering saya gunakan sebagai pengganti.

Tapiiiiii…sayur-sayurnya segambreng. Dan sebisa mungkin, walau sayur tumis atau sayur sop, selalu saya tambahkan sayuran segar. Maksudnya gini. Sayur sop atau tumis tetap diberikan tapi sambil dibubuhi irisan timun/tomat/seledri segar misalnya. Jangan semuanya dicemplungin ke wajan .

Intinya, sarapan-makan siang-makan malam, harus selalu bertabur sayur, sayur dan sayur .

Hasilnya untuk anak-anak? Saya, sih, takut kalau dibilang takabur. Tapi alhamdulillah, terasa banget anak-anak enggak pernah sakit-sakitan. Ya Allah, jangan sakit deh apalagi pas bapaknya lagi jauh begini hehehe.

Beberapa kali Nabil terpaksa ke sekolah sambil menerobos hujan, pilek pun enggak . Paling hidung berair, tiba di rumah, normal lagi tidak berubah menjadi ingusan hehehe.

Hasilnya untuk suami? Dalam tempo sepuluh bulan, kolesterolnya turun drastis dari 260 ke 190. Padahal enggak pakai diet khusus, kan? . Hanya benar-benar menghapus dairy products, rutin minum jus buah segar tiap pagi dan banyak-banyak makan sayur (kalau suami lebih sering saya beri sayuran segar).

Makan daging tetap walau tidak sesering dulu. Apalagi, di sini, kami lebih doyan makan daging kambing/domba daripada daging sapi . Kolesterolnya malah turun hehe. Daging tak melulu mesti kaki empat. Daging ikan jauh lebih sehat.

Btw, anak-anak kok bisa doyan sayur? Itulah ironisnya. Nafsu makan justru dipicu oleh zat besi. Dimana zat besi ini mudah ditemukan pada berbagai sayur-sayuran utamanya yang hijau dan segar (sebisa mungkin tanpa diolah/dipanaskan).

Memang sulit awalnya, mesti disuapi dan saya paksa! Karena saya yakin betul manfaatnya jadi saya nekat pakai sedikit kekerasan hehe . Lama-lama, mereka doyan sendiri. Anak sulung saya sekarang sudah bisa makan sendiri tanpa banyak membantah dan selalu menghabiskan sayur-sayuran sebanyak apa pun yang saya taruh ke piringnya .

Oh ya, satu lagi. Sejak belajar diet Food Combining , saya mulai memasak 3x sehari. Dulu kan, biar praktis sekali masak langsung segambreng dan macam-macam. Nanti tinggal dimasukkan ke dalam kulkas dan dipanasin di microwave. It’s a big NO-NO, ya, ibu-ibu . Panjang ini penjelasannya hehe. Pokoknya itu bukan pola makan yang sehat.

Goreng-gorengan juga begitu. Saya hanya menggoreng lauk yang akan dimakan pada saat itu juga. Suami dan anak-anak juga makin lahap karena selalu menikmati menu-menu yang langsung dari atas kompor hehe. Bukan dari microwave .

Microwave nganggur? Pakai untuk masak nasi juga bisa lho atau untuk menggoreng kerupuk atau untuk defrost daging beku dari dalam kulkas . Kulkas menganggur? Ah, enggak juga. Kan tetap menjadi tempat penyimpanan makanan. Tapi sekarang isinya sayur-sayur segar dan buah-buah segar .

Gila, kagak repot masak 3x sehari? Ingat, pelan-pelan biasakan mengkonsumsi sayur segar biar enggak repot tumis/rebus/kukus/panggang untuk menu sayur . Kan tinggal dicuci bersih + dipotong-potong.

Dan dietFood Combining  juga menyarankan kita untuk tidak rakus! Hahahha. Kalau sudah makan ayam, enggak usah pakai telur. Kalau sudah ada telur, enggak usah pakai daging sapi/kambing. Simpel banget lho jadinya .

Contoh-contoh menu harian menyusul, ya. Sudah kepanjangan hehehe.

Oiya, ingat ya, sayurnya bukan cuma sekadar pelengkap. Tapi porsinya sebisa mungkin lebih banyak atau menyamai jumlah lauk lainnya .

Intinya … saya sih merasa memasak jadi lebih gampang dan praktis meskipun harus stand by 3x sehari . Suami juga makan siangnya bawa terus dari rumah. Entah mau hemat apa sehat iniiiii hahahahaha.

Jadi, menyambut tahun 2014 ini, saya berharap semoga pola hidup sehat ini terus berlanjut. Suami dan anak-anak tercinta sehat terus . Saya juga dong, ya hihihi. Dan saya juga ingin lebih serius membagi manfaat diet Food Combining  buat teman-teman dan siapa pun.

Saya memang sengaja menunggu setahun dulu untuk mulai berkoar-koar. Kan harus dibuktikan dulu sendiri hasilnya baru mulai jadi provokator hehehe. Dari diet Food Combining  saya belajar bahwa perut buncit berkepanjangan adalah tanda bahwa sistem pencernaan mulai bermasalah . Bila sistem pencernaan mulai error, efeknya bisa ke mana-mana. Karena seluruh energi tubuh dikendalikan oleh hasil penyerapan zat makanan yang dilakukan oleh sistem cerna kita.

Pernah mendengar cerita Rasulullah berbadan tambun? . Beliau kan sudah menegaskan dan mencontohkan, “Semua penyakit berawal dari perut.”

Jadi, jangan ada yang nyinyir-in eike yak, “Dalilnya apa umat harus langsing?” Hahahaha.

Intinya, sehatnya yang lebih utama, kan? Bayangkan berapa banyak hal positif yang bisa kita lakukan sebagai niat ibadah (baik ritual maupun muamalah) bila kita punya fisik yang prima :). Perlu saya panggilkan dokter untuk mengatakan bahwa kelebihan maupun kekurangan berat badan, keduanya bukan pertanda yang baik? ;).

Hidup yang benar itu kita pasrahkan dengan selalu berdoa kepada Sang Pencipta diiringi dengan ikhtiar yang benar :D.

Masa iya hidup kita pasrahkan pada kendali lidah/mulut? Hehehe.

Sementara kesehatan itu adalah salah satu harta yang tak ternilai. Mau menggadaikannya setiap hari dengan sepiring beef steak yang paling enak di dunia? Dengan indomie telur bakso dan irisan cabe rawit? *iniMahCurhatPenulisnyaHihihihi* :D.

Bolehlah kita gadai, tapi kan tidak setiap hari. Sesekali saja ;).

***

Back to The Basic Rule ;)

Tadinya sempat bingung saat mendengar tentang Boxing Day. Boxing Day? Mau main tinju? Hihihi.

Ternyata, boxing yang dimaksud, asal katanya dari box :D. Box = kotak hadiah. Kalau dikilik-kilik dari wikipedia, asal mula Boxing Day ini memang berkaitan dengan kotak hadiah.

Gambar : www.stylegerms.com
Gambar : www.stylegerms.com

Konon, sehari setelah perayaan Natal, para pelayan-pelayan atau pekerja mendapatkan kotak kado khusus dari majikan/perusahaan tempat bekerja masing-masing. Sebagai tanda terima kasih. Hm, semacam THR gitu kali, ya hehe. Cuma, kalau di tanah air, THR-nya diberikan sebelum hari raya :D.

Boxing day ini jatuh di tanggal 26 desember. Tidak seluruh belahan dunia mengenali hari khusus ini. Hanya umum di Kerajaan Inggris Raya, Kanada dan hampir semua negara persemakmuran Kerajaan Inggris. Makanya tidak heran kalau Hongkong, Australia, Selandia Baru dkk juga familiar dengan si Boxing Day ini.

Di Irlandia sendiri, lebih umum disebut sebagai St. Stephen’s Day.

Uniknya, Boxing Day kini dikenali sebagai “Hari Diskon” alias sale besar-besaran. Nah, tadi pagi itu, kan, cuaca cerah. Setelah berhari-hari hujan dan angin kencang melanda sebagian besar daratan Irlandia, saya memanfaatkan hari ini untuk berbelanja, sekalian mau mengajak anak-anak keluar rumah.

Nabil kan lagi winter holiday, nih. Bosan kali booo, mendem di rumah melulu :P.

Maksud hati mau ke swalayan tapi ternyata enggak ada yang buka. Jadinya pas pulang mampir ke mal, mana tahu dalam mal ada toko yang buka. Alamak, tidak menyangka ramainya minta ampun!

Ternyata, Irlandia juga menganut paham boxing day sebagai hari berbelanja akbar hahaha. Saya kan jadi penasaran. Jadi tadi masuk ke gerai-gerai standar macam Zara, Top Shop dan Monsoon.

Gambar : www.worldsoccertalk.com
Gambar : www.worldsoccertalk.com

Terus…jadi bingung sendiri. Murahnya di mana, ya? Harganya tetap saja berkisar di 20-50 euro per helai. Iya, sih, harga aslinya memang bisa di atas 50 euro bahkan di atas 100. Baju-baju yang di bawah 10 euro, tipis-tipis gitu. Atau kebanyakan model tank-top. Aduh, nothing can beat Tenabang dan ITC lah yaaaa hahahaha.

Jadi, tadi kebanyakan observasi saja dan nyengir melihat emak-emak dan para perawan yang heboh dalam toko hehehe. Jarang-jarang melihat gerai-gerai semacam Zara-Next-Promod dihajar pengunjung begitu. Biasanya sepi-sepi saja :P.

Ya, eike kebiasaan lihat-lihat bajunya di Penny’s sih hahaha. Di Penny’s sih, enggak usah menunggu boxing day. Saya pernah beli sweater seharga 3 euro hihihi *ciumCiumDompet* :P.

Kalau dipikir-pikir, urusan belanja memang paling asoy di tanah air, ya. Untuk barang bermerek, sih, sepertinya di Eropa lebih murah. Apalagi di Arab Saudi :D. Saya juga kurang tahu pasti. Dengar-dengar sih begitu. Maklum, semasa di tanah air, saya belanjanya enggak jauh-jauh dari ITC atau Matahari Dept Store :P.

Kalau saya punya rumus khusus soal penampilan. Waktu kuliah saya sering iri pada teman-teman yang berbadan langsing. Mau pakai baju apa juga kok kayaknya asyik-asyik saja, ya. Melihatnya tetap keren. Mau yang harganya murah sekali pun. Yang badannya langsing ini, mau pakai yang longgar oke, pakai yang ketat juga tak masalah.

Kalau berat badan berlebih, pakai baju gombrang akan membuat kita terlihat makin lebar (hihihi), pakai baju sempit apalagiiiiii … makin enggak jelas bentuknya :P.

Karena itu juga mungkin seorang Kate Middleton tidak terlepas dari aura ‘anggun’nya walau baru-baru ini membuat heboh karena muncul mengenakan aksesoris murah. Errr…enggak murah, sih. Tapi untuk ukuran seorang putri kerajaan, 39 euro itu murah sekali ya, Kakaaaaa :D.

Istri Pangeran William ini juga terkenal dengan selera ‘rakyat’nya. Tidak segan-segan mengenakan gaun-gaun keluaran sekelas Zara. Padahal kata kakak saya, sang fashionista ibukota hihihihihi, Zara itu merek ‘menengah’. Waduh, ngalah-ngalahin selera Tuan Puteri hahaha.

Kate Middleton selalu terlihat chic salah satunya ya karena bodinya yang ramping. Casingnya sudah kece dari sononya. Jadi, walau sekelas puteri sekali pun, kalau casingnya kurang bagus, rasanya baju yang paling mahal sekali pun akan sulit mendongkrak penampilan hihihi.

Kate Middleton dan kalung Zara-nya :D (gambar : www.entertainmentwise.com)
Kate Middleton dan kalung Zara-nya 😀 (gambar : www.entertainmentwise.com)

Sebenarnya gampang saja ternyata. Perbaiki pola makan maka dengan sendirinya banyak masalah terpecahkan. Inilah yang saya sukai dari prinsip-prinsip yang dikemukakan oleh pakar-pakar FC. Dalam FC tidak ada istilah, “Biar gemuk asal sehat, biar kurus asal sehat.”

Dalam FC, mau gemuk mau kurus, kedua-duanya akan dicap kurang gizi. Tidak ada orang yang kelebihan gizi seperti yang selama ini kita kira bila kita melihat orang berukuran lebih.

Saya juga suka heran dengan yang menuduh pola makan FC ini ‘mahal’. Hm, hidup sehat memang tidak murah. Tapi percayalah, sakit itu lebih mahal hehe. Kalau buat saya sih, dengan menerapkan FC, kantong malah lebih terjaga ;).

Iya, kan? Pola makan benar, in shaa Allah badan terus fit, kesehatan terjaga, dan … tidak ada itu perut buncit dkk hehehe. Therefore, mau pakai baju apa juga, pasti jatuhnya oke ;). Mau yang 3 euro, mau yang 30 euro. Lah, kalau dua-duanya tetap membuat kita kelihatan keren, ngapain beli yang mahal-mahal ya, Kaka? *benerinPoniKancinginDompet* hahaha.

Pengeluaran dapur terjaga, pengeluaran lain-lain ikut terjaga. Simpel, ya, ternyata.

Tante-tante yang berpose sok abege hahaha :D
Tante-tante yang berpose sok abege hahaha 😀

***

Saya dulu selalu merasa cetek karena takut gemuk. Kalau berat badan berlebih itu, olala, repotnya mau cari baju. Sementara saya juga walaupun jauh dari kata modis, tetap picky orangnya hihihi. Begitu membaca banyak literatur kesehatan, ternyata enggak cetek, kok hehehe.

Asal caranya mesti benar :). Saya memang dari dulu anti banget sama yang namanya obat pelangsing, makanan khusus pelangsing dan bla-bla-bla lainnya. Takut efek sampingnya euy :(. Apalagi rata-rata buatan. Bukan alami *elusElusSayurDanBuah*.

Jargonnya kan rata-rata, “Badan langsing tapi tetap makan enak.” There’s no such thing called free lunch, rite? Selalu ada harga yang harus dibayar :D.

Tentu saja, menjaga pola makan itu hanya salah satu ikhtiar kita. Sebagai muslim, formula kita dalam menghadapi hidup sehari-hari kan tidak jauh-jauh dari doa + ikhtiar. Kombinasi paling serasi itu :). Tak berarti kalau sudah mati-matian menjaga makanan, penyakit tak mungkin datang menyerang.

Selain menjaga makan, ibadah juga jalan terus plus berdoanya jangan lupa :).

Nah, apa resolusi tahun 2014 teman-teman semua? Adakah memulai pola hidup sehat termasuk diantaranya? ;).

Gambar : www.health.com
Gambar : www.health.com

***