We Can Go The Distance

Visa kerja ternyata hanya janji palsu si agen. Perpanjangan visa suami saya mengalami masalah. Suami sudah overstay! Belum lagi ancaman hukuman. Iyalah, kerja berbulan-bulan pakai visa turis *pingsan*. Seru lah ini pengalaman kerja luar negeri pertama kali :D.

Saya dan anak saya sendiri menyusul ke Iran dengan visa turis. Yang bisa diperpanjang sebanyak 3x.

Tak hanya mempermainkan kami soal visa. Apartemen pun akan direlokasi. Tadinya kami bisa tinggal gratis, agen meminta kami membayar setengah biaya sewa apartemen. Uang lembur tiba-tiba dihapus. Hanya dibayar sebulan. Alasannya, gaji suami sudah kegedean kalau harus pakai lembur segala.

Siapa bilang tinggal dan kerja luar negeri enak? :).

Pengalaman pertama kami merantau ke Tehran sungguh mendebarkan hehehe. Suami sudah berkali-kali interview dan selalu mentok. Jadi, begitu Tehran memberi kabar bahagia, dibuai angan kelamaan, kami lalai memperhatikan kontrak 🙁.

Sempat tiga bulan tinggal terpisah. Saya mulai cranky. Karena tujuan saya resign adalah sekolah lagi. Kalau pun tidak melanjutkan S2, saya inginnya ikut dia ke luar negeri. Akhirnya, suami menyuruh saya datang dengan modal visa turis.

Kerja luar negeri pertama ke Tehran Iran
Sai Park, Tehran, 2009

 

Saya baru tahu masalahnya setelah tiba di Tehran. Tentu saja … berantem hebat. Hahaha. Agen dan perusahaan seperti lepas tangan dan ogah-ogahan soal paspor suami yang statusnya sudah overstay dan harus membayar denda.

Saat mengadu ke KBRI, duh, makin sakit hati. Boro-boro dihibur dan dibantu, kok kami malah disalah-salahkan , “Makanya jangan hanya terbuai gaji gede, mending kerja di Indonesia kalau gini. Bikin susah saja!”

Hiks, katanya pahlawan devisa malah dibilang bikin susah .

Kami jelas-jelas ditipu. Ke mana lagi harus berlindung kalau bukan ke KBRI? . Saya juga sempat marah karena suami tidak ngotot. Alasannya, pihak KBRI memberikan prosedur yang berbelit-belit dan menyusahkan.

Tapi, suami tidak putus asa. Dia mendekati staf lokal yang fasih berbahasa Farsi. Staf lokal inilah pahlawan kami .

Beliau mengambil resiko dengan menelepon langsung ke agen dan mengancam atas nama KBRI. Voila! Agennnya ketakutan dan paspor langsung dikembalikan.

Sempat kisruh lagi karena suami tetap menolak membayar denda. Bukan karena enggak punya duit.

Alhamdulillah, gaji tidak sampai kena tipu. Gaji bulanan lancar. Kami sangat sanggup membayar denda. Tapi suami eike kan ngotot-an dan terus memperjuangkan haknya. Akhirnya, perusahaan bersedia membayar denda overstay untuk ‘memutihkan’ status paspor suami.

Setelah diam-diam interview dan mendapat kepastian dari Jeddah dan paspor suami beres, kami memutuskan kabur hahahahaha. Pura-pura minta izin ke perusahaan dengan alasan urusan keluarga dan harus pulang segera.

Saya sampai mau menangis ketika berhasil melewati imigrasi setelah berjam-jam deg-degan karena takut masalah overstay dipertanyakan. Tegang gilaaaaaak hihihihi.

Untung saja Tehran kota yang cantik. Walau berat badan kami berdua turun drastis diterpa stres karena kena tipu hahaha, kami sangat bersyukur sempat menikmati eloknya Kota Tehran yang super duper bersih . Dan bisa keluar dari sana tanpa masalah. Fffiiiuuuhhh…

Setelah Tehran, Jeddah mengundang masalah baru. Trauma dengan visa temporer, kami sepakat untuk tinggal terpisah dulu. Menunggu 11 bulan, LDR-an penuh drama selama hampir satu tahun (berantem melulu hihihhi), iqama (resident permit ala Saudi) akhirnya diusahakan juga. Itu pun setelah suami mengancam resign. Dan memang benar, Montreal-Kanada sudah memberi sinyal positif.

Namun, suami akhirnya memilih Jeddah.

Kerja Luar negeri ke Jeddah Saudi
Obhur Beach, Jeddah, 2011

 

Melewatkan 2.5 tahun tanpa masalah berarti di Jeddah, apa setelah pindah ke Irlandia hepi ending juga?

Ternyata masalah lain datang lagi. Di Athlone, suami ternyata harus traveling ke luar negeri. Minimal durasi kepergian sekitar sebulan.

Baru juga sebulan nyampe Athlone, suami sudah harus pergi selama 30 hari penuh ke Istanbul. Mau ikut tapi anak baru masuk sekolah. Saya sempat grogi dan tidak bisa tidur. Banyak-banyak berdoa dan pasrah sama Allah saja, deh. Untuk melindungi kesehatan anak-anak, saya benar-benar disiplin soal makan kalau ayahnya lagi jauh. Ke diri sendiri juga. Hidup Food Combining!

Jangan dikira di Athlone ini macam di Jeddah. Orang Indonesia segambreng, cari makan gampang dan murce, mau ke mana-mana tinggal telepon supir taksi asal Indonesia yang banyak menjadi pelanggan para Madam .

Alhamdulillah, 3x ditinggal, sebulan ke Istanbul, 7 minggu ke Santiago, dan sebulan berikutnya di Santiago lagi, everything was just fine. Alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah .

Justru kalau lagi sendiri, mendadak kuat dan disiplin. Mengurus anak sorangan dan ke mana-mana jalan kaki belanja ini itu nyaris tanpa masalah. Saat lagi di jalan … hujan deras kek, salju turun kek, enggak boleh panik depan anak-anak . Harus stay cool. Padahal aslinya gampang panik dan heboh hahahaha.

Masih berpikir tinggal dan kerja luar negeri itu hepi-hepi joy-joy???? Hehehehe. Itu mah foto-fotonya aja kaliiiiii 😛 😛 😛

But remember, what doesn’t kill us, makes us stronger :).

Kerja Luar Negeri Irlandia
Bray, Irlandia, 2013

 

***

Well, yang selevel keluarga engineer seperti kami saja harus melewati banyak hal-hal yang tidak mudah.

Pernah membayangkan ‘perjuangan’ para TKI informal seperti misalnya para TKW di Jeddah?

Mereka, para perempuan yang biasanya sudah berstatus orang tua tunggal. datang sendiri. Meninggalkan anak-anak di kampung halaman.

Janda-janda dari kampung ini tidak diam dan meratapi nasib di kampung. Tapi mereka merantau dengan gegap gempita.

Bukan main cita-cita mereka, ya. Saya tahu tidak mudah bekerja dan bertahan di Arab Saudi. Kami saja yang menempati ‘kalangan atas’ kadang elus-elus dada kok menjalani kehidupan bersosialisasi di Jeddah, apalagi mereka.

Di tanah air peluangnya sempit. Bekerja dengan gaji sekitar 700 ribu rupiah, itu pun katanya sudah termasuk mahal. Anak ada 2. Masa depan apa yang bisa dimimpikan dengan penghasilan ratusan ribu rupiah. Sementara, di Saudi, minimalnya bisa dapat 800 riyal, sekitar 2 juta rupiah. Ingat ya, di Saudi mereka enggak keluar duit sama sekali. 2 juta itu bersih.

Itu kalau legal. Lantas, mengapa yang ilegal leluasa wara wiri di sana? Ada ‘mafia’nya . Dan status ilegal memungkinkan mereka mendapat penghasilan 2x lipat atau lebih.

Biaya hidup di Saudi tergolong murah. Apalagi Jeddah yang sarat pendatang. Tahu tempe merajalela. Rumah makan Indo dengan harga murah cukup mudah ditemukan. Kenalin, keluarga Gober adalah salah satu pelanggan warteg-warteg murmer di Sharafiyah hihihihi. Murah dan enak-enak alhamdulillah 🙂.

Perlakuan tak menyenangkan sanggup membuat mereka bertahan karena mereka punya mimpi besar. Mereka tentu akan melakukan apa pun asalkan sang buah hati tidak perlu mengulang takdir yang sama.


Seperti kita-kita ini yang berharap para penerus mengukir masa depan yang jauh lebih baik daripada orang tuanya, sebesar itu pula angan-angan para TKW ini . Kalau kita bergantung pada suami, mereka tak mendapat perlindungan apa-apa dari pemerintah bahkan lingkungan. Terkurung dalam kemiskinan membuat mereka nekat menjajal ke luar negeri seberapa pun banyaknya berita atau rumor mengenai kemalangan yang menimpa rekan/teman mereka.

Ironisnya, di luar negeri pun, pemerintah seperti kehilangan akal mengurusi mereka. Saya sungguh bingung, para mafia berkeliaran dengan leluasa.

Kerja Luar negeri TKW arab
Gambar : berita.plasa.msn.com

 

Kisruh TKI ilegal tempo hari malah menghadirkan beberapa komentar negatif seperti, “Siapa suruh OON, gampang ditipu. Membaca saja enggak bisa malah nekat ke luar negeri. Ya salah sendiri.”

Saya sampai berantem euy di grup hahahahha. Ya habisnya kesal. Empati mana empati???? :'(. Kalau tak mau membantu ya enggak usah banyak bacot kaliiiii. Cukup doakan mereka. Nyinyirin koruptor aja tuh lebih ada gunanya! 😛.

Ya, memangnya siapa yang mau bodoh? Memangnya siapa yang minta jadi orang miskin? Siapa yang memungkinkan mereka yang keterampilannya pas-pasan bisa lolos ke luar negeri?

Salah satu masalah yang sering mendera para TKW adalah lemahnya perlindungan hukum untuk mereka. Luar biasa banyaknya pendatang asal Indonesia di Saudi. Sedihnya, mayoritas adalah TKI informal. Belum lagi aturan Saudi yang serba tertutup dan kadang-kadang tidak jelas. Hari ini begitu, besok-besok begini.

Salah satu kasus yang tengah mencuat adalah masalah Satinah. Satinah menyerahkan diri aparat setelah mengakui telah memukul majikannya di dapur. Ini pun simpang siur. Ada yang bilang memukul karena mencuri ada yang bilang memukul karena disiksa dan gaji tak kunjung dibayar.

Kerja Luar Negeri
gambar : ayogitabisa.com

 

Malangnya, setelah dirawat di rumah sakit, sang majikan meninggal dunia. Hukum qisas harus diberlakukan. Kalau keluarga tak memaafkan, Satinah harus dihukum pancung. Maafnya pun tidak gratis. Keluarga korban meminta denda sampai 21 Milyar rupiah.

Pemerintah hanya menyanggupi sekitar 12 milyar rupiah.

Gimana, ya? Saya juga tidak mengerti masalah sebenarnya. Saya rasa pemerintah pun punya pertimbangan sendiri untuk tidak memenuhi permintaan 21 M tadi.

Pemerintah tidak mendiamkan kasus ini, kok. Pemerintah terus aktif memperjuangkan pembayaran denda untuk menyelamatkan nyawa Satinah. Tapi tentu, ada batasnya, kan?

Sementara Satinah memang dalam posisi sulit. Tapi kalau kita meninjau lebih dalam, sungguh tidak adil jika kita menghakimi Satinah seorang. Bisa jadi Satinah bingung harus ke mana dan harus mencari bantuan ke siapa saat mendapati kenyataan bahwa gaji dan pekerjaan jauh dari harapan .

Satinah juga bekerja di kota kecil. Bukan di Riyadh dan Jeddah, yang memang punya KBRI dan KJRI. Ini tugas pemerintah untuk mensosialisasikan dan menjamin keamanan dan hak para TKI informal di Saudi.

Harusnya karyawan KBRI dan KJRI ditambah, tuh. Kasihan juga kan KJRI-nya dengan pegawai pas-pasan harus banting tulang peras otak mengurusi orang Indonesia yang jumlahnya ratusan ribu orang atau lebih dengan berbagai macam kasus.

Terlepas dari kasus yang melilitnya, kita harus menghargai perjuangan Satinah. Tak semua orang akan bersikap tangguh dan berjuang sampai jauh ke luar negeri untuk memperbaiki ekonomi keluarga.

Like a shooting star, she will go the distance,
She will search the world, willing to face its harms,
She doesn’t care how far, she believes she can go the distance
(modifikasii dikit lagu Michael Bolton, “I Can Go The Distance”)

Satinah dan rekan-rekannya mengajarkan pada kita, “Hidup yang tak pernah diperjuangkan, tak akan pernah dimenangkan (Sutan Syahrir)” 🙂.

Gambar : rri.co.id
Gambar : rri.co.id

 

Saya mengerti bila ada yang menganggap Satinah harus menanggung hasil perbuatannya dan tidak selayaknya kita membuang-buang uang untuk membela kejahatan. Kalau begitu, mohon doanya saja agar keluarga korban sudi memaafkan dan menurunkan biaya denda. There can be miracle when we believe and… pray .

Kalau ada yang nyinyir dan mengait-ngaitkan dengan kasus Darsem, ya sebenarnya itulah gunanya kita belajar ikhlas, ya . Lagipula, barangsiapa yang berbuat baik maka dia berbuat baik untuk drinya sendiri. It’s always between us and God . Ikhlaskan pemberian jikalau memang berkenan.

Kepada para pahlawan devisa mana pun yang kerja luar negeri, stay strong . Tidak gampang menaklukkan kehidupan di luar sana walaupun kita datang sebagai pekerja profesional sekali pun. Selayaknya negera berkembang dengan penduduk membludak, seharusnya pemerintah menyemangati dan memfasilitasi pekerja asal tanah air ke luar negeri. Seperti Cina-India-Filipina .

Jangan bayangkan enak-enaknya saja. Persiapkan mental sekuat baja.

But to look beyond the glory is the hardest part,
For a hero’s strength is measured by his heart,
We can go the distance, we can go the distance 
(lagu yang sama dari Michael Bolton :D)

“I do believe we’re all connected. I do believe in positive energy. I do believe in the power of prayer. I do believe in putting good out into the world. And I believe in taking care of each other.”

Harvey Fierstein

I do believe 🙂. You?

https://www.youtube.com/watch?v=Cu6ze1wmSxA

 

***

Be a Lamp, or Lifeboard, or a Ladder

Florence Nightingale, “The Lady with The Lamp”, menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk mengabdi di dunia medis. Florence, salah satu tokoh peletak dasar dalam ilmu keperawatan modern .

Florence lahir dari keluarga sangat berada. Di masa itu, Eropa nyaris tidak mengenal kalangan menengah. Seringnya ya 2 golongan saja. Kalau enggak tajir mampus, berarti super miskin.

Florence dibesarkan dalam rumah besar, memiliki pelayan-pelayan, sering menghadiri pesta-pesta dansa ala bangsawan, keliling eropa pun pernah dijalaninya bersama keluarga besarnya. Lengkap dengan pelayan-pelayan yang setia mengiringi perjalanan mereka dalam sebuah karavan yang sangat besar.

Di masa remaja, Florence merasa tersentuh dengan kehidupan golongan bawah yang sering disaksikannya sendiri. Hatinya memberontak. Namun, seolah hidup dalam 2 dunia, Florence pun menikmati hura-hura abege ala kalangan ningrat di masa itu .

Untuk beberapa lama Florence sempat melupakan janji sucinya yang dituliskannya dalam buku harian di usia belasan dulu. Untuk mengabdikan hidupnya pada kemanusiaan. Larut dalam kesenangan dan pesta-pesta yang kerap dihadirinya.

Menjelang dewasa, Florence kembali gelisah. Dengan mata kepalanya sendiri dia sedih mendapati kenyataan bahwa saat itu pun bahkan agama seolah ‘melegalkan’ takdir bahwa memang Tuhan menginginkan sebagian orang untuk hidup sebegitu miskinnya.

Perempuan-perempuan dari golongan berada hidup dalam kemewahan luar bisa, memakai baju-baju rajutan bagus yang dijahit semalaman oleh perempuan-perempuan miskin. Yang mungkin harus mengorbankan waktu tidur malam mereka demi menyelesaikan gaun-gaun megah tersebut.

Florence bosan dengan hidupnya yang hanya menghabiskan waktu dengan pesta, atau duduk-duduk di depan perapian hampir sepanjang hari. Mengobrol hal-hal yang tidak penting dengan sesama teman-teman bangsawannya.

Saat itu, perempuan dari keluarga kaya tidak boleh bekerja. Yang boleh bekerja hanyalah perempuan-perempuan dari kalangan bawah saja. Niat Florence untuk bekerja membuat syok ibu dan kakak perempuannya.

Florence nekat bekerja (secara sukarela) di sebuah rumah sakit. Kondisi rumah sakit di masa-masa tersebut sangat mengenaskan. Kotor, jorok dan sangat ramai. Florence sangat tertekan diantara tekanan batinnya sendiri dan penolakan orang tuanya atas niatnya untuk mengabdi bagi masyarakat.

Bertahun-tahun Florence sakit keras karena menuruti permintaan keluarga besarnya dan mengubur mimpi sucinya. Hingga akhirnya ibunya merelakan Florence bergabung di sebuah komunitias gereja untuk mempelajari ilmu keperawatan.

Begitulah awalnya hingga akhirnya Florence meretas jalan mendirikan sekolah-sekolah perawat dan mengobarkan semangat agar perempuan-perempuan dari keluarga berada menyumbangkan tenaga mereka di dunia medis. Sekaligus melawan dominasi patrialikal yang sangat kental di Eropa zaman itu. Menumbangkan paham bahwa perempuan seharusnya duduk-duduk manis dalam rumah saja mengurus keluarga.

Ada 2 hal yang menyebabkan Florence hidup berselibat sepanjang hidup. Pertama, dia merasakan ini sebagai panggilan Tuhan. Kedua, Florence merasa dia tak akan sanggup membagi mimpi besarnya ini kepada siapa pun. Dia tak ingin berbagi beban kepada calon anak-anaknya kelak. Belum lagi situasi saat itu tak membiarkan perempuan kalangan atas meninggalkan anak-anak untuk alasan pengabdian pada masyarakat sekali pun.

perempuan mandiri
gambar : en.wikipedia.org

***

Beberapa tahun lalu seorang teman lama menghubungi melalui pesan singkat via ponsel.  Dari sapaan biasa tahu-tahu jadi curhat.

Dia seorang dokter. Menikah di usia muda sehingga saat meraih gelar dokternya, dia sudah memiliki 3 anak usia balita. Saya nyinyirin keinginannya untuk mengasuh anak saja dan melepas karier sebagai dokter.

Kenapa masuk kedokteran kalau kayak gitu? Di universitas negeri pula. Dia sudah merampas hak orang lain yang mungkin memang lebih cocok dan ingin mengabdikan hidup sebagai dokter.

Lama hubungan terputus, dia kembali curhat. Dia gelisah. Ternyata selama ini dia tidak enak pada keluarga besar dan kenalan yang menghujat niatnya untuk menjadi dokter karena harus banyak meninggalkan anak-anak di rumah dengan pengasuh atau asisten rumah tangga.

Padahal menurutnya, suaminya (yang bukan seorang dokter) sangat mendukung niatnya untuk terus berkarier di dunia medis. Ya saya langsung menyemangatinya bertubi-tubi!

Saya tegaskan padanya, saya ini seorang ibu rumah tangga yang memilih untuk di rumah daripada melanjutkan karier di kantor tidak karena perintah siapa pun. Suami saya saja tahu pasti kok, dia tak akan mungkin bisa memerintah saya berhenti ngantor hehehe.

Ini adalah keputusan saya pribadi. Tidak pernah setitik pun saya merasa saya keren saya hebat saya anu saya itu hanya karena dengan pendidikan mumpuni yang saya milliki saya malah memillih di rumah. Simpel. Wanita karier ternyata bukan panggilan jiwa saya, panggilan jiwanya berantem di fesbuk.

Saya semangati. Saya anjurkan untuk mencari pengasuh anak yang baik atau menitip pada kerabat lain anak-anaknya yang masih kecil-kecil. Toh, dia mengaku tersiksa juga dan tidak benar-benar ikhlas melepaskan niatnya untuk mengabdi menjadi dokter.

Apa gunanya dia di rumah? Mana bisa membesarkan anak-anak dengan bahagia kalau siksaan batinnya seperti itu?

Alhamdulillah. Walau dia cerita susah sekali mencari beasiswa spesialis yang biayanya selangit itu dan harus bersaing dengan banyak dokter muda, dia akhirnya berhasil. I’m proud of you, my girl. Eike sudah bilang, tidak ada kata terlambat ).

Untuk 2 profesi khusus ini : pengajar dan dokter, saya tak pernah segan-segan meminta teman-teman perempuan saya untuk menguatkan hati dan meneruskan pengabdian untuk masyarakat. Niatnya harus benar tapi hehehe. Kecuali jika dengan ikhlas mereka memilih untuk ‘stay at home’ .

Saya ingat kata-kata Ibu Risma di Mata Najwa tempo hari, “Saya minta Tuhan yang menjaga anak-anak saya.” Saking sibuknya mengurus Surabaya, Ibu Risma mengaku, dia sampai tak punya waktu lagi untuk mengurus para buah hatinya. Aku padamulah Ibu Risma :).

perempuan mandiri
Gambar : indonesiaposnews.com

***

Saya yakin sekali, kita tidak diciptakan seragam. Termasuk kaum perempuan. Menjadi perempuan itu memang serba salah, ya .

Tekanan terbesar justru datang dari peer pressure. It really breaks my heart ketika tempo hari beredar sebuah gambar dengan kata-kata yang menusuk hati. Bahkan untuk saya yang seharusnya tidak perlu tersinggung dengan gambar tersebut.

Kata-katanya halus namun menghujam tepat di ulu hati. Tak heran setelah itu banyak teman-teman perempuan yang berpredikat ‘ibu kantoran’ curhat di status masing-masing hahaha.

Gambar tersebut menyindir ibu-ibu yang menitipkan pengasuhan anaknya kepada pengasuh anak / asisten RT dengan sebuah percakapan seorng anak dan ibunya. Sang anak digambarkan sedih karena sang ibu konon tidak rela menyerahkan perhiasan berharganya kepada para embak tapi menyerahkan pengasuhan anaknya kepada embak.

perempuan mandiri

Why do we have to judge each other? 🙁

Seharusnya kita, para perempuan yang kini sudah punya predikat tambahan sebagai ibu, saling menyemangati untuk menjadi versi terbaik dari diri kita masing-masing.

Daripada menghina mereka, ibu kantoran, yang tak sanggup memberikan ASI kepada buah hati, kita desak saja pemerintah untuk memberikan cuti setahun penuh kepada ibu-ibu bekerja yang baru melahirkan. Seperti di negara-negara maju gitu hehehe. Cuti setahun plus digaji pula. Asoy kan? 

Daripada meremehkan mereka yang lulusan PT ternama tapi memilih berada di rumah, kita desak pemerintah menyediakan internet cepat dan murah. Saya tahu pasti dan bergabung di banyak komunitas di mana isinya adalah stay at home Moms yang tetap aktif nyari duit via internet hihihihi. Blogger dan kuter mana suaranya? Hahaha.

Kita harusnya bersatu menyuarakan hak dan kepentingan kita kepada pemerintah. Bukannya malah perang sendiri dan saling mengobarkan propaganda yang menjatuhkan .

Ingatlah Florence Nightingale yang begitu sulit mendobrak dinding yang membatasi gerak perempuan di zamannya. Ingatlah Ibu Risma yang berbesar hati mengabdikan kemampuannya untuk masyarakat Surabaya lebih kepada baktinya untuk keluarganya sendiri.

Memangnya pengin ya, semua perempuan punya pikiran yang sama? Terus enggak akan ada dokter perempuan? Enggak boleh ada perawat perempuan? Dosen dan guru pun hanya boleh untuk laki-laki saja? Itukah yang kita inginkan?

Di masa sekarang, semua perempuan harusnya bisa menjalani peranan apa pun tanpa tekanan apa-apa . Asal ingat, niatnya harus benar . Kalau bekerja hanya untuk beli sepatu dan tas mahal karena suami enggak mau beliin ya gimana ya, hahahahhahaha *ngakakSambilMelet*.

***

Be a lamp, or a lifeboat, or a ladder.
Help someone`s soul heal.
Walk out of your house like a shepherd.

-Rumi-

Pick your own path. Yakini keputusan sendiri tanpa merasa perlu menghujat orang lain dengan pilihan yang berbeda.

Apakah memilih untuk menjadi stay at home mom, menghabiskan waktu lebih banyak di dapur, menenggelamkan hari dengan buku-buku, berkarier di kantor, mengabdi di rumah sakit, membagi ilmu di sekolah/kampus, menulis di blog, sekadar berbagi tips masak di grup-grup WA (it did help a lot!), whatever it is … just be the best version of your own.

Mari saling melengkapi.

Happy belated international’s women day ^_^.

Perempuan mandiri
Gambar : aware.org

***

Pemahaman vs Pengalaman?

Dari artikel di link paling bawah, saya kutip sedikit :

“Seorang yang pernah mengalamii hidup sebagai minoritas, akan memiliki sense toleransi yang jauh lebih tinggi dari pada orang yang selalu hidup sebagai mayoritas.

Seorang siswa yang punya teman dari berbagai suku, bangsa dan agama, akan lebih faham tentang makna menghargai. Pengalaman mengantarkan pada pemahaman yang lebih dalam.”

Benar juga. Jadi malu karena dulu dari TK sampai SD sekolah di sekolah Islam, begitu masuk SMP Negeri, kaget melihat teman-teman ada yang beragama non muslim. Ya abes, dulu tahunya di dunia ini hanya ada 2 : orang muslim dan orang kafir, surga vs neraka. Kalau melihat teman-teman kristiani berlatih menyanyi, saya sering kepikiran, “Ya ampyun, pada ngapain, sih? Enggak tahu apa kalau mereka nantinya bakal masuk neraka semua!” Astagfirullah .

Pindah ke Jawa setelah 18 tahun besar di Kota Makassar, bete banget mendapati lingkungan yang sarat basa basi hehehe. Kita orang bugis ini simpel. Iya artinya iya. Tidak artinya tidak. Mulut dan hati, biasanya kompak terus . Makanya, sering dijuluki ‘mulut silet’ hahaha. Entah berapa banyak itu korbannya dulu -_-. Astagfirullah.

Ternyata, diberi rezeki untuk mencicipi belahan bumi yang lain. Dulu, suka bingung, mengapa diantara sekian banyak negara-negara Tim Teng, kenapa nancepnya mesti di Teheran sama Jeddah, siiiiihhhhhhh . Luar biasa cara Allah mengajarkan umatnya, ya . Fabi ayyi a alaa irabbikumaa tukadzdziban.

Dulu suka merasa kagum berlebihan sama yang lebih fasih membaca alquran dan pandai berbahasa Arab. Semacam emejing begitulah. Tapi untungnya, sebelum ke Jeddah, saya tidak terlalu mendewa-dewakan lagi. Syukurlah. Karena kalau berpikir begitu, baru sebulan di Jeddah mungkin sudah kepikiran murtad, kali, melihat ‘kelakuan sehari-hari’ orang-orang yang mungkin jauh lebih lancar membaca alquran dan mungkin hafal lebih banyak ayat-ayat suci. Astagfirullah.

Tapi ingat jangan buru-buru main stereotip. Walau yang menjengkelkan jumlahnya tidak sedikit, yang baik juga masih ada :). Sudah baca buku saya yang “Memoar of Jeddah : How Can I not Love Jeddah” kan? Bab “People We Haven’t  Met” khusus membahas mereka yang baik-baik itu :).

Benarlah kiranya, satu-satunya cara bagi kita sesama manusia untuk mendeteksi iman dan takwa adalah melalui amal dan perbuatan . Sisanya, Allah Sang Mahatahu. Betapa muamalah jangan-jangan adalah setengah dari iman itu sendiri.

Dan kini, dilengkapi dengan merasakan sebagai minoritas muslim di belahan barat Eropa. Tak bisa membayangkan saya seandainya umat mayoritas non muslim di sini menyimpan pikiran yang sama seperti saya kepada rekan-rekan non muslim saya di masa abege dulu.

Pemahaman vs Pengalaman. Pilih yang mana? ;).

Semoga kita bisa memiliki pemahaman yang murni diimbangi dengan pengalaman yang mumpuni. Amin, amin ya rabbal aalamiin. Mampukan umatMu ya, Allah 🙂.

https://islamindonesia.co.id/index.php/opini/1864-menjadi-radikal-karena-pemahaman-menjadi-toleran-karena-pengalaman

Gambar : eportfolio.lagcc.cuny.edu
Gambar : eportfolio.lagcc.cuny.edu

If Tomorrow Never Comes

“Sembarangan. Gue enggak pernah ya ngomong kayak gitu. Ibu-ibu Perkakas Dapur yang lain juga enggak pernah nuduh-nuduh gitu.” Suara saya meninggi saking sebalnya mendengar tudingan Dandang barusan.

“Lah, gue juga enggak pernah ngelakuin yang lo ceritain barusan. Kalian tuh yang suka fitnah gue.”

“Mana buktinya?”

“Ya pokoknya gue taulah. Kalian ini hobinya ngomong di belakang. Ketemu gue aja pada enggak mau bisanya cuma jelek-jelekin gue.”

Saya makin naik pitam, “Duh, enggak salah, tuh. Kita enggak ke sini ya karena katanya Mbak Dandang udah enggak mau ngomong sama kita lagi.”

“Enggak kebalik? Kalian kali yang suka suudzon. Katanya gue jutek lah, katanya gue suka marah-marah enggak jelas.”

Tuding-tudingan langsung berakhir saat Parutan Keju, yang memang saya minta khusus untuk menemani saya menemui Dandang, melerai kami.

Benarlah selama ini kalau kisruh diantara Ibu-ibu Perkakas Dapur vs Mbak Dandang dipicu oleh kesalahapahaman. Kesalahpahaman yang dibiarkan berlarut-larut karena tidak adanya pihak yang sudi untuk bertabayyun.

Sebelum ke rumah Dandang, kepada Parutan Keju sudah saya ceritakan semuanya. Sudah saya sebut-sebut nama Panci yang saya curigai sebagai ‘tukang kipas’ diantara kami.

Parutan Keju berusia jauh lebih tua diantara kami dan beliau berada di luar lingkaran pertemanan “Ibu-ibu Perkakas Dapur”.

Karena saya tahu pasti, baik saya maupun Dandang adalah sedikit diantara perkakas lain yang tidak takut berkonfrontasi langsung dengan tegangan tinggi sekali pun. Makanya biar enggak korslet, perlu ada Parutan Keju hehehe.

Perlu lebih dari sejam untuk meyakinkan Dandang kalau saya bisa membuktikan semua cuma salah paham. Pasti enggak gampang untuk Dandang karena ternyata selama ini hubungannya tetap rapat dengan Panci. Padahal Panci mengaku sudah tidak akrab lagi dengan Dandang .

Saya ajak langsung Dandang bertemu Panci.

Yang saya inginkan bukan menghukum Panci, kok. Suwer. Benar-benar hanya ingin mengakhiri ketegangan yang sebenarnya berawal dari perselisihan Dandang vs Wajan & Dandang vs Mangkok. Dengan Mangkok saya tidak begitu dekat. Tapi Wajan adalah sahabat karib saya.

Malah, sebelum pertengkaran ini terjadi, Wajan-Dandang-Panci-Saya bisa dibilang kuartet yang paling karib. Kalau mengaji duduknya berempat rapat-rapat, cekikikan sembunyi-sembunyi hihihi. Pernah kejadian listrik di gedung Dandang dan Panci mati, mereka ngibrit ke rumah Wajan.

Saya, yang sudah bisa mencium aroma makan-makan tentunya ikut absen di rumah Wajan. Hahaha *temanMacamApaaahhh* .

Saya tidak rela melihat hubungan yang dulunya harmonis bisa pecah berkeping-keping. Tak hanya antara Mangkok-Wajan vs Dandang.

Ketidakpedulian saya, Sendok, Piring, Gelas dll membuat semuanya terseret. Tiba-tiba saja, it’s us against Dandang!

Padahal mungkin maksud Sendok dan Piring itu baik. Diamkan saja. Yang penting kita tidak ikut-ikutan. Istilahnya, cari aman sendiri . Saya tahu setelah ribut-ribut, Sendok masih dekat dengan Dandang. Piring yang belakangan juga kena hasut.

Pengajian kami terpecah dua. Kelompok arisan bubar. Aroma permusuhan menyebar luas ke seantero ‘rumah’. Tak hanya di ‘dapur’, di ‘ruang tamu’ sampai ‘ruang tidur’ tahu perang dingin antara kami. Malu rasanya.

Singkat cerita, setelah Panci ‘terdesak’, saya usulkan semuanya bertemu. Saya-Panci-Wajan-Dandang dan Mangkok. Yang lainnya entar-entar saja dulu. Dandang menolak konfrontasi. Ya sudah. Saya bilang yang penting ketemu saja. Peluk-pelukan dan saling minta maaf, tidak usah membahas apa-apa lagi.

Saya pulang. Tanpa sepengetahuan saya, Dandang berbicara dengan Panci. Katanya, Panci menangis. Dandang tidak tega. Pertemuan batal. Konon, Wajan akhirnya menelepon Dandang, Mangkok juga. Anehnya, Wajan sempat marah pada saya. “Lu kenapa sih? Dasar gila urusan! Enggak ada kerjaan lain apa, ya?”

Inilah repotnya. Panci jauh lebih dekat kepada Wajan daripada saya. Manalagi, Wajan ini, walau gampang marah dia tidak terlalu suka berkonfrontasi langsung. Dia tidak mau berdiskusi langsung.

Pada kenyataannya, hubungan kami semua dan Dandang tidak membaik.

Gambar : bubblews.com
Gambar : bubblews.com

Awalnya, Dandang tidak sadar. Saya ingat lho sekitar seminggu setelah konfrontasi itu, Dandang membuat acara buka puasa di kediamannya. Harapannya, kami semua datang.

Entah hasutan apa yang dibuat Panci, perwakilan “Perkakas Dapur” hanya ada saya dan Serbet, yang memang sejak awal memilih tidak ikut-ikutan sama sekali.

Mellihat saya datang, Dandang berseri-seri, katanya, “Wajan mana?”

Aduh, saya tidak tega melihat mukanya yang penuh harapan. Saya bilang saja tidak tahu. Padahal Wajan sudah berdalih kalau dia enggak bisa datang karena suaminya kerja malam .

Sepanjang acara, saban ada yang datang, Dandang sontak menengok ke arah pintu. Tapi, yang ditunggu-tunggu tidak pernah datang . Sedih euy ingatnya.

Di situ saya jadi ketakutan sendiri. Pengecutnya langsung keluar. Saya mulai berhitung-hitung. Panci sepertinya ‘lawan’ yang ‘tangguh’. Tentu saja. Dia sudah lebih dahulu membentangkan sayap pertemenan di ‘dalam dapur’. Temannya banyak sekali. Dari ‘ruang tamu’ sampai ‘ruang tengah’, siapa yang tidak kenal Panci?

Saya waktu itu baru bergabung di ‘rumah’ itu. Siapalah saya. Sudahlah orangnya malas berbasa basi, malas datang ke acara ibu-ibu di luar acara ‘dapur’, saya juga terkenal bermulut silet huhuhu. Sementara Panci bersifat seperti malaikat. Kebaikannya sudah melegenda. Saya kagum kok kepadanya. Sifatnya yang ringan tangan kepada siapa saja tanpa pandang bulu memang patut kita acungi jempol .

Manusia … tidak ada yang sempurna 🙂.

Saya menyerah. Wajan sepertinya mulai menjauh. Mangkok memang terkenal pendiam. Jadi, ketika akhirnya Dandang malah bersikap dingin pada saya saat kami bertemu kembali, ya saya bisa bilang apa 🙁.

Walau sakit hati luar biasa, saya hanya berani mengamuk depan suami hahaha.

‘Dapur’ kami sudah mulai ramai. Saya pasrahkan bila memang Dandang yang memang harus terusir. Maaf ya, Mbak Dandang . Hiks. Enggak sanggup saya kalau harus berselisih dengan Mangkok, Wajan, Sendok, Piring, Gelas dan belakangan datanglah Tatakan Piring, Taplak, Toples dll.

Bersama teman-teman baru, ibarat kata, saya memilih menyembunyikan bangkai dalam lemari dan pura-pura tidak tahu saja. Seperti selama ini yang dilakukan oleh Sendok, Piring, Gelas dll.

Dan itu berlangsung terus selama bertahun-tahun. Yup, bertahun-tahun . Bahkan, Panci terus menyeret Tatakan Piring, Taplak dll ke dalam perang dingin. Sungguh lucu.. Mengingat Tatakan Piring, Taplak dll ini kan bahkan tidak kenal dan belum pernah bertemu dengan Dandang.

Sementara itu, hubungan Dandang dan Panci tetap bagai dua sejoli tak terpisahkan.

Gambar : infodapur.com
Gambar : infodapur.com

***

Beberapa hari lalu Dandang mengirimkan pesan kepada saya. Panjang sekali isinya. Sungguh tidak mengira. Akhirnya, sekali lagi, ada yang membongkar muslihat Panci. Kali ini, semuanya melibatkan diri dan konfrontasi kembali dilakukan terang-terangan langsung di rumah Dandang. Panci sengaja tidak diikutsertakan.

Alhamdulillah. Selesai urusan antara Dandang dan ‘seantero dapur’.

Tapi … masalah lain mulai datang. Ini yang sebenarnya ingin sekali saya hindari dulu . Kisruh dengan Dandang terurai, sekarang seperti terlihat Panci menjadi musuh bersama.

Bukannya sok baik. Kalau untuk saya pribadi, berlarut-larutnya masalah ini ya hasil dari kesalahan kita bersama. Dandang sudah diperingati tapi tetap takluk pada airmata Panci atas nama rasa kasihan.

Saya juga oon bin pengecut. Dulu, sudah melangkah sejauh itu tiba-tiba mundur sendiri. Termakan rasa takut karena enggak kehilangan lebih banyak teman. Istilahnya ya itu tadi cari aman sendiri .

Mangkok, Wajan, Sendok, Piring dan Gelas saya rasa juga sudah bisa membaca situasi. Tapi apa daya. Selama ini, tingkah laku Panci yang bak malaikat di hadapan mereka menimbulkan rasa tidak enak yang bermuara pada ketidakpedulian. Alasan klasik, enggak tega.

Belum lagi semangat bertabayyun masih sangat rendah. Telan saja Panci bilang apa. Dibumbu-bumbui kalau perlu.

Ignorance membawa perselisihan ke level yang lebih tinggi. Bertahun-tahun booo. Dan akhirnya melibatkan hampir seisi dapur.

Sebenarnya, ada apa sih antara Panci dan Dandang? Saya bukan psikolog atau psikiater sih hehe. Tapi, sekilas saya menangkap Panci ini tipe orang yang tidak bisa bilang tidak kepada siapa pun. Dia terobsesi untuk menyenangkan semua orang. Mustahil atuh.

Beberapa tahun pertama di ‘dapur’, Panci hanya ikut-ikut di acara ‘ruang tamu’, ‘ruang tidur’ dll. Panci ingin punya komunitas sendiri. Jadi, ketika akhirnya Wajan, Sendok, Piring, Gelas, saya dll datang mengisi ‘dapur’, dia ingin memegang komando. Maklum paling senior.

The problem is, ada Dandang. Secara leadership, Dandang memang juara banget . That’s why I admire her that much . Untuk menghadapi ibu-ibu yang “terserah kata lo” tapi di belakang doyan ngomel ini, memang perlu banget karakter seperti Dandang hahahahaha.

Singkatnya, ‘komando’ yang diidam-idamkan malah jatuh ke tangan Dandang. Mungkin karena itulah, tanpa sadar Panci ingin menjauhkan Dandang dari kami. Mungkin lho, ya hehehe. Sotoy aja nih eike.

Kalau dikatakan Panci jahat, ya tidak bisa begitu juga. Toh, selama ini, Panci sudah begitu rupa menjaga hubungan baik dengan Dandang sebaik dia mengakrabi “Perkakas Dapur” lainnya . Saya rasa, Panci terjebak dalam dustanya sendiri.

Saya pernah ada dalam situasi seperti itu. Waktu SD, saya ini dikenal sebagai Pabote’ alis Pembual hehehe. Saya bersekolah di sekolah swasta yang banyak dihuni oleh para siswa dari kalangan atas. Ada yang anak dokter, anak pengacara terkenal atau minimal anak dosen.

Saya takut kalau mereka tahu saya cuma anak penjual seprei dan gorden di kios kecil di Pasar Sentral, tidak ada yang mau akrab dengan saya. Hehehe. Padahal teman-teman saya tidak sekerdil itu . Saya saja yang lebay.

Akhirnya, saya suka membual tentang saya yang ikut les bahasa inggris seperti mereka, saya ikut les piano, saya punya tante kaya raya yang sering mengajak saya menginap di rumahnya, pokoknya macam-macamlah.

Sekali berbohong, memang dampaknya luar biasa . Lain kali deh kita cerita soal ini hehehe.

Satu kebohongan harus ditutupi oleh kebohongan yang lain. Seperti saya saat itu, saya rasa begitulah posisi Panci selama ini. Panci jelas bukan tipe yang sanggup ‘menyendiri’. Dia sangat tergantung kepada orang-orang di sekitarnya. Apa pun dia lakukan untuk ‘membeli’ kesetiaan semua orang. Termasuk jika harus bergunjing soal orang lain.

Seharusnya, itulah gunanya teman sejati. Sepatutnya … saya, Wajan, Mangkok, Sendok dll yang harus buru-buru mengembalikan Panci ke arah yang benar. Iya dong, namanya sahabat masa mendiamkan jika ada teman yang sedang terperosok? .

Lagian, jangan lupa kebaikan-kebaikan Panci selama ini . Siapa yang menjaga anak-anak kalian saat kalian naik haji? Siapa yang selalu membawakan makanan tambahan di setiap acara pengajian di berbagai rumah? Siapa yang menjaga anak-anak sulung kalian saat kalian melahirkan? Siapa yang paling sering mengorbankan waktu menemani kalian ke sana kemari? .

Memang. Kalau lagi emosi, yang terbayang yang jelek-jeleknya saja. Saya suka gitu soalnya hahaha. Nah, mumpung lagi waras (which is jarang-jarang hihihi), saya ingin mengingatkan kita semua .

Karena apa yang terjadi pada Panci kan tidak 100% kesalahan dia. Saat Dandang meminta maaf pada saya, saya bilang kepada Dandang kalau saya tak menjamin apa yang dikatakan oleh Panci salah semua. Bisa saja saya memang pernah khilaf mengatakan hal-hal yang kurang baik tentang Dandang kepada Panci.

Soal lidah, kita semua tak luput dari khilaf lah ya. Lidah siapa pun gampang keseleo . Jangan sekarang semuanya dipersalahkan kepada Panci . Tidak fair itu namanya hehehe.

Kalau Wajan dulu selalu menutup ruang diskusi dengan mengatakan, “Biarin aja. Biar waktu nanti menyelesaikan.”

Tapi Saudari-saudariku tercinta, kita bukan penguasa waktu. Waktu tak dikendalikan oleh kita. Kita sering pasrah dan berpikiran, “Lihat besok sajalah.” Bagaimana kalau besok itu ternyata tidak pernah terjadi. If tomorrow never comes, what will happen?

Sudah terlalu lama ya. 3 tahun. Kita tidak lagi muda. Waktu yang panjang yang sudah kita lewati seharusnya menjadi proses penting yang tidak boleh disia-siakan. Jangan ditunda-tunda hehe. Menunda-nunda hanya akan membuat syaitan masuk dari segala celah.

Memaafkan memang bukan sifat sembarangan. Kalau menurut Gandhi, hanya orang-orang besar yang sanggup memaafkan. Kalau orang kerdil, jangankan memaafkan, minta maaf saja tidak akan punya nyali. It’s your choice, kesempatan untuk membuktikan orang seperti apakah kita ini .

Kalau temannya berselisih, minimal jangan ditambah-tambahi atau berkumpul untuk membahas satu orang itu saja. Percaya deh, begitulah dulu awalnya perselisihan dengan Dandang muncul. Sudah cukup, kan? Masih kurang sakit? Masih perlu diulang lagi? .

Untuk yang lain yang tidak merasa terlibat masalah ya kesempatan beramal untuk mendamaikan yang lagi bersitegang. Amar ma’ruf nahi munkar kalau istilah kerennya hehe.

Waktu tak akan selalu berpihak pada kita. Bagaimana bila takdir tak mengizinkan kita bertemu besok? Sementara urusan sesama manusia harus selesai di dunia.

Saya tidak tahu ya perkembangannya seperti apa. Atau mungkin banyak kata-kata dari Panci tentang saya, mohon kebesaran hati dari saudari-saudariku yang cantik dan baik hatinya untuk memaafkan. Sekali lagi, saya enggak bilang Panci bohong. Ya siapa tahu ada yang benar. Maafkan saya. Maafkan Panci.

Panci tidak sempurna. Dandang juga tidak. Saya apalagi, mulut silet boooo hahahahaha. Dan kalau kalian menengok ke dalam kaca dan bercermin, kalian pun akan mendapati hal yang sama .

***

Satu musuh terlalu banyak. Sejuta teman takkan pernah cukup.

Saya tutup dengan lirik lagu favorit dari band jadul ini hehehe…

“Adakah waktu mendewasakan kita
Kuharap masih ada HATI BICARA
Mungkinkah saja terurai satu persatu
Pertikaian yang dulu bagai pintaku
Semoga 🙂”

friends posting


Every Little (Good) Thing You Do is Magic ;)

“Every little (good) thing you do is magic”, mungkin itu adalah salah satu pesan penting yang saya bawa sampai sekarang mengenai pertemanan di dunia maya dengan salah satu dari#10finalisSrikandiBlogger2014, Mak Arin- Murtiyarini.

Perhelatan akbar tahunan dari “Kumpulan Emak-emak Blogger” dgelar kembali di tahun 2014 . 10 Finalis telah terpilih. Salah satunya ya si Mak Arin ini :D.

***

Menerbitkan buku secara indie di 2012, “Bunda of Arabia”, stresnya ternyata bukan hanya saat menyusun isinya. Bahkan, puncaknya justru pada saat penjualan. Nyut-nyutan abis, deh, hahaha .

Saat sukses menjual 800 eksemplar cetakan pertama, tetap nekat (meski lebih ke arah emosional) ketika kembali mencetak 800 eksemplar di cetakan ke-2 . Penjualan padat merayap. Hingga akhirnya bosan sendiri.

Suami bilang, “Posting dong di grup-grup ibu-ibu yang kamu ikuti.” Saya ogah-ogahan. Setengah mati saya inbox satu persatu teman-teman di FB yang hanya kenal dari dunia maya saja yang merespons hanya seujung kuku hehehe. Apalagi kalau cuma tahu-tahu datang pasang iklan di grup 😛.

Ya sudahlah. Sudah putus asa juga. Semangat sudah menguap. Saya berandai-andai pagi itu, kalau saya posting dan ada yang merespons, mungkin itu tanda bahwa “Masih ada harapan” . Saya posting di salah satu grup yang juga ada Mak Arin di dalamnya. Waktu itu Mak Arin masih menjadi salah satu ‘guru’ dan turut membagi tips mengenai menembus media cetak 🙂.

Tips-tipsnya memang joss dan enggak pakai basa basi. Segala alamat media, tata cara sampai sedetil-detilnya selalu dibagi tiap minggu. Wajar, Mak Arin menjadi salah satu ‘seleb’ dan ‘cikgu penting’ di sana hehe.

Setelah saya posting, beneran lho, tak lama ada inbox masuk. Kaget sekali. Dari Mak Arin, enggak pakai basa basi, “Saya tertarik membeli bukunya. Transfer ke mana, ya?”

Waduh, jangan ditanya senangnya. Surprise banget. Kenal enggak kok tahu-tahu mau beli bukunya, ya. Padahal Mak Arin juga bukan tipe orang yang gampang kasihan dan sering berbasa basi . Itu menurut saya pribadi ya, Mak Arin. Jangan tersinggung hihihi.

Semangat langsung bangkit lagi. Seminggu penuh, padahal sudah inbox membabi buta , daftar pembeli masih kosong! Tentu menjadi geer tiada terkira saat sang “Ratu Media” (yang belakangan juga sukses menjadi “Ratu Kontes” :P) tiba-tiba tertarik dengan buku indie saya.

Padahal mungkin Mak Arin enggak ada niat sok-sok jadi pahlawan hehe. Buatnya, ya biasa-biasa saja. Kebetulan tertarik dan mau beli. Untuknya, hal ini seperti percikan api kecil yang mungkin tak terlalu bermakna. Sementara saya melihatnya bagai kembang api berhamburan di udara hahahahaha.

Like I’ve said, “Every llittle (good) thing you do is magic” 😉.

Ya namanya juga lagi putus asa. Langit mendadak kelam. Matahari sudah terbenam. Kita sering menangisi matahari yang menghilang dan tidak sadar jika airmata menghalangi pandangan kita untuk bersaksi akan indahnya bintang-bintang di angkasa malam 🙂.

Mungkin, terlalu susah bagi kita untuk bertingkah seperti Sang Surya. Seorang diri memancarkan begitu banyak kebaikan ke seluruh penjuru bumi. Hanya memberi tak harap kembali pula. Berat, bukan? hihihi 😛.

Namun, menurut orang bijak, “Mustahil menjadi orang yang sempurna. Tapi ada jutaan cara untuk menjadi orang yang baik” .

Tidak harus menjadi mentari . Cukup menjadi salah satu bintang-bintang kecil yang pastinya akan selalu mendapat tempat di seluruh penjuru langit :).

Sekecil apa pun, berbuat baik memang jangan ditunda-tunda, ya. Siapa yang tahu yang kecil-kecil itu ternyata merupakan keajaiban besar bagi orang yang dituju. We’ll never know. 

Walau tak ada jaminan juga, sekerlip kecil bintang pasti akan mendapatkan penghargaan yang semestinya. But … “The good you do today, people will often forget tomorrow; Do good anyway!”

People often forget. But I did not hehehe.

Good luck, Mak Arin 😉.

Enjoy the video ^_^.

https://www.youtube.com/watch?v=BTt0XhEpUxY

Kumpulan Emak2 Blogger adalah wadah persatuan dari perempuan-perempuan Indonesia yang doyan ngeblog . Entah anda adalah perempuan kantoran, perempuan yang bekerja dari rumah, perempuan yang dijuluki ibu rumah tangga, perempuan yang pakai ART maupun tidak hihihihi, semuanya ADA dan berbagi cerita.

Selamat juga kepada 9 finalis yang lainnya. Teruslah menebarkan inspirasi positif tanpa membuahkan energi negatif. Sesuai tag kami, “Kami ada untuk berbagi” :).

Mbak arin solo 4