[Film Tokyo Love Story] Ku Tak Tahu Harus Memulai Dari Mana

Hari ini hari ulang tahunnya Kanji. Rika sudah menyiapkan surprais macam-macam. Kanji dan Rika? Penggemar film Tokyo Love Story harusnya langsung ngeh dong ya ;).

Hokinya Rika kayaknya lagi jelek. Karena ternyata, di hari yang sama, Satomi menelepon Kanji. Nampak pengin curhat :D. Kanji memilih menemui Satomi.

Sebel banget deh pas episode yang ini. Cengeng amat ya ini si Satomi. Gak penting, gak jelas, kegeeran bakal ditaksir sama semua orang! Suara hati hater banget gak sih? Hahaha.

Problem is… ini si Mbak Satomi pan sudah sama Mikami, ya. Ngapain lagi ganggu-ganggu Kanji yang ternyata lagi ditaksir habis-habisan sama Rika –> ceritanya yang nulis ngefansnya sama Rika :p.

Film Tokyo Love Story
Rika & Kanji

Habis maki-maki Satomi, Kanji juga harus dipersalahkan. Mbok ya, empati dikit toh yaaaa. Dihargai sedikit usaha temannya yang sudah berusaha keras biar ente tahu kalau dese itu lagi naksir berat :p.

Terus belakangan ternyata diceritakan juga tentang pertemanan Satomi-Kanji-Mikami dalam Film Tokyo Love Story, yang ternyata lahir dan dibesarkan bahkan bersekolah bareng dan menjadi sahabat karib sejak kecil. Mereka sama-sama merantau ke Tokyo dari sebuah desa kecil yang sama.

Sejak kecil, Kanji memang sudah memberi perhatian lebih kepada Satomi. Selalu ingin melindungi semacam itulah. Sampai remaja juga begitu. Tapi Kanji kan ceritanya pemalu jadi dia diam saja dan berharap Satomi nanti tahu sendiri.

Too bad, Satomi malah naksirnya sama Mikami. Sebaliknya dengan Kanji, Mikami ini tipe-tipe “bad boy” begitulah. Tapi Satomi yang perangainya keibuan dan tidak terlalu suka banyak bicara malah senengnya sama yang model Mikami ini. Onde Mande kuadrat lah.

Film Tokyo Love Story
Satomi Sekeguchi

Duh, begitulah cinta ya, deritanya tiada akhir –> Cu Pat Kay mode on. Cu Pat Kay? Jangan kebanyakan nonton drama, sekali-sekali nonton Kera Sakti dong ah :v :v :v.

Then, they grew up. Rame-rame hijrah ke Tokyo. Tetap bersahabat karib. And here came Rika Akana. Beda dengan Satomi, Rika ini mulutnya toa’ abis. Ceriwis luar biasa. Dia adalah rekan kerja Kanji di kantor.

Sampai-sampai tidak sedikit adegan di mana Kanji bete dan bilang ke Rika, “Kamu ini bisa diam, gak, sih?” Hahahaha.

Ealah, Rika malah naksir sama Kanji yang bawaannya tenang dan irit ngomong. Enggak tanggung-tanggung, dalam suatu acara kantor, Rika lagi pegang mic terus teriak kencang-kencang, “I love you, Kanji Nagao!”

Terus mukanya Kanji di close up, kelihatan banget kalau saat itu ekspresinya semacam “aku mau mati saja”. Cewek sableng emang! Hahaha.

Terusnya lagi, Satomi malah jadian dengan Mikami (finally!) tapi ternyata Mikami masih ‘bandel’. Sibuklah si mbak-nya curhat ke Kanji. Kanji ya sebenarnya sudah mau move on, apalagi mungkin pusing juga ya dipepetin terus sama Rika (hihihi). Tapi dia enggak rela juga kalau melihat Satomi sakit hati.

Intinya, Kanji ikhlas Satomi buat Mikami asalkan Satomi hepi. Macam itulah. Tapi kenyataannya kan enggak.

Nah, dari situlah, cinta segi lima dimulai. Segi lima? Yoih, karena ada satu tokoh perempuan lagi yang namanya … duh, lupa. Malas browsing. Pokoknya si Eneng yang ini naksir sama Mikami gitu lah.

Rika & Mikami
Rika & Mikami

Kepada RIka, Kanji sebenarnya juga enggak tega. Tapi gimana ya, bingung juga ngadepin cewek super agresif satu ini kali hehe. Tidak ingin menyakiti tapi gimana, naksirnya dari dulu sudah sama orang lain :).

Rika lama-lama juga “menyerah”. Semacam … “I can’t make you love me if you won’t…”

Film Tokyo Love Story ini cukup ribet dan bikin mikir. Karena by the time you hate Satomi misalnya, dikasih flashback soal masa lalu Mikami-Satomi-Kanji tadi. Jadi ya, bingung lagi, harus bete apa enggak nih hehehehe. Tokoh Mikami juga begitu. Kok ya laki-laki gatel-gatel aja bawaannya, ada juga “why” dan “how”nya sekilas-sekilas. Enggak jadi deh mau menghujat habis-habisan :D.

Setiap tindakan atau kelakuan masing-masing karakter tidak dilempar begitu saja. Tapi juga tidak diurai detil. Dikasihnya sedikit-sedikit biar nontonnya juga seru dan itu tadi…bikin mikir ^_^. Bahwa yang kita sangka enggak penting/genit/sok kecakepan ternyata enggak gitu-gitu amat :p.

Konflik kecil-kecilnya juga banyak. Pokoknya tidak ada tokoh yang sempurna baiknya –> cantik, baik, lugu, miskin (miskin tapi kullitnya semulus sutra zzzzzz -_-), selalu ditipu tapi akhirnya “happily ever after”.

Tidak ada juga karakter yang enggak ada angin enggak ada hujan, pokoknya dari lahir kayaknya sudah jahat ajah! :v :v :v.

Demam AADC beberapa hari terakhir ini malah bikin saya terkenang-kenang sama dorama Jepang “Tokyo Love Story.” Wah, nasionalismenya rendah ini! hehehe.

Mungkin, film AADC itu diputar justru saat saya sudah mau lulus kuliah :D. Dan saat saya SMA, urusan cinta-cintaan belum menjadi prioritas. Waktu itu benak saya 80% isinya, “Harus lulus di UMPTN! Mau kuliah di Jakarta! Pengin merantau ke tanah Jawa!”

Ada lah naksir-naksiran pas waktu SMA. Cuma ya, sekadar drama-drama-an ala abege yang memang agak tak terhindarkan ya :p.

Jadinya ya begitu, Film Tokyo Love Story lebih membekas karena settingnya sama-sama di usia kerja. Saat yang sama dengan saya dimana drama percintaan sedang ada di puncaknya hahahahaha.

Kisah dalam Film Tokyo Love Story juga lebih “membumi” dan logis. Walau tentu saja, sebagai fans garis keras Teteh Rika Akana, saya berharap endingnya adalah … Kanji Nagao sujud menyembah di hadapan si Teteh karena menyesal sudah telat datang ke stasiun kereta api tempat mereka berjanji untuk bertemu terakhir kalinya sebelum terpisah selama 3 tahun.

kanji nagao
Kanji Nagao

Ending Film Tokyo Love Story ini memang bikin gatal-gatal tapi memang jauh lebih masuk akal. Tiga tahun kemudian, secara tak sengaja Rika berpapasan di jalan dengan Kanji yang sedang bersama Satomi.

Rika, seperti biasa, tetap heboh dan ceria. Kanji lega melihat Rika biasa-biasa saja, mungkin tadinya sempat takut bakal disambit hahahahaha. Satomi malah menyarankan mereka berdua reunian dan dia undur diri.

Kanji sempat enggak enak. Tapi Satomi memberi senyuman manis penuh pengertian.

Rika akhirnya tahu kalau Kanji sudah menikah dengan Satomi. Mereka mengobrol biasa dan saling bertanya keadaan. Tidak terlalu diperlihatkan apakah Rika bete apa gimana. Pokoknya ya biasa saja. Tapi tidak juga digambarkan mereka seolah baik-baik saja dan pura-pura lupa sama masa lalu. Kesan grogi ada tapi ya … biasa aja gitu. Ini mbulet gini sih neranginnya hahahahahaha.

Kanji : Apa kabar, Rika? Balik Tokyo lagi?
Rika : Yoih. Ya, gue gini – gini aja. Enggak berubah banyak.
Kanji : Iya sih
Rika : Etapi, ngaku aja, kalau mau jujur, gue cakepan kan ya?
Kanji : (ketawa grogi)
Rika : Ngaku aja lo!
Kanji : Iya deh, iya. Lebih cakepan sekarang.
Rika : Wah, genit lo! Gue bilang Satomi ah… hahahaha (ngakak nenek sihir)
Kanji : Idih
Rika : Biarin, mau gue laporin! Hahahahahha

Mereka saling berpisah dengan cara berjalan saling membelakangi ke arah yang berbeda. Klise tapi nontonnnya enak aja gitu. Natural. Sempat becanda-becanda lagi si Rika kayak dulu-dulu. Sifat sablengnya ini yang bikin banyak yang ngefans kali ya sama karakter cewek grabak grubuk ini :p. Kanji juga ketawa-ketawa. Sama sekali tidak diperlihatkan ada tanda-tanda CLBK.

Rika bahkan menolak memberikan nomor teleponnya –> “Isn’t it better this way? Running into each other in a city like we did today.”

Rika & Kanji
Rika & Kanji

Scene terakhirnya adalah, Kanji langsung mencari Satomi dan begitu bertemu langsung senyum hepi dan jalan lagi berdua sambil nempel-nempel gitu. Sementara Rika, walau jalannya masih sendirian, tapi tampangnya tertawa lepas seolah satu beban sudah hilang dari hatinya. Sotoy aje dah yang nulis! :v :v :v.

Memang harusnya begitu kan, ya. Move on gak move on, hidup terus berjalan dan tidak perlulah ditunjukkan semua drama dalam hati ke seluruh penjuru dunia :p.

Untuk penonton macam kita juga diajak berpikir dan lama-lama jadi terasa sulit untuk sebel sama si Satomi. Dan jadi mereka-reka ulang, “Ini jadi yang jahat yang mana nih???”

Semua punya alasan walau tidak harus selalu dibenarkan. Tapi ya, kalau dirunut lagi satu-satu, ya memangnya siapa gitu “bad guy” nya? Hehehe.

Kenapa ya kita itu kecenderungannya selalu berusaha nyari-nyari siapa yang salah. Padahal cuma perlu menggeser pertanyaan sedikit, “Salahnya DI MANA?” Lebih general. Tidak harus mencari SIAPA ;).

Bisa saja, waktunya yang salah, kondisinya yang tidak memungkinkan, right one on the wrong time or right time on the wrong one. Karena konon, karakter orang per orang bukan sesuatu yang statis. Kondisi dan situasi yang tengah dihadapi merupakan salah satu faktor utama yang bisa memengaruhi si karakter tadi. Bersyukurlah, jika dalam perjalanan kita di dunia, kita jarang-jarang berada di “ujung jurang” atau tidak harus mengalami yang namanya “buah simalakama” :D.

Seharusnya akan sangat jarang kita boleh menyimpulkan, “Ish, dia memang jahat tauk! Orangnya memang gitu! Ih amit-amit, enggak pernah deh ketemu orang sekejam dia.”

Judgemental, judgemental, judgemental ^_^.

Itu dia. Mencari the whole story biasanya susah. Informasi tidak lengkap dan hanya sepotong-sepotong. Berat sebelah dan hanya mengupas dari satu sisi. Kadang juga makan waktu dan memang pada akhirnya seringnya kita tidak mungkin mendapatkan satu jalan cerita yang utuh.

Nah makanya jelas kan, seringnya kita sulit mengetahui sesuatu secara komplit, sistematis dan terstruktur (eh, ini pasangan katanya salah deh kayaknya hahahahaha). Maka dalam banyak hal pula, kita harusnya LEBIH SERING untuk tidak menuduh dan menghakimi ^_^.

We don’t judge others for often we don’t know the whole story ;). Jangan kebanyakan nonton sinetron gak jelas lah :p. Kalau pun (ngakunya) enggak pernah nonton, stop thinking others like the ones you refuse to watch on TV lah ;).

Salam damai dari fangirl garis kerasnya Teteh Rika Akana ^_^. Catat ya, sebelum ada Jokowi, saya sudah sering mengemban amanat sebagai fans garis keras! :v :v :v.

Pertanyaan penting dari tulisan yang tidak penting-penting amat ini :p –> kira-kira relevansi judul sama isi tulisan apa yaaaaaa? ;). Ini ending dari Film Tokyo Love Story nya :

Film Tokyo Love Story
Tokyo Love Story – The Ending Scenes 😀

***

A Tribute to Ibu Susi Pudjiastuti : “Dalamnya Lautan Bisa Diterka, Tapi …”

Tulisannya didedikasikan buat Ibu Susi Pudjiastuti ;). Menteri kelautan yang lagi hits karena prestasi dan gebrakan positifinya :).

Dulu, jarang-jarang saya diajak Ibu berbelanja ke Paotere’. Paotere’ = pasar ikan, bahasa Makassar.

Saya sendiri walau lahir dan besar di Kota Makassar tidak lancar berbahasa Makassar. Jadi, saya bingung kalau ditanya artinya lagu Anging Mammiri itu apa? Hahahahhaaha :p. Kalau lagu Indo’ Logo saya tahu ^_^.

Iya teman-teman, di Sulawesi Selatan ada 4 suku besar yang hidup berdampingan.Plus banyak suku-suku imut-imut lainnya. Agak beda kondisinya dengan wilayah Sumatera Barat misalnya.

Kalau kata suami saya yang asli Minang, di seluruh wilayah Sumbar, apa pun sukunya ya bahasanya pasti bahasa Minang hehehe. Beda dengan kami di SulSel. Bahasa Makassar dan Bahasa Bugis itu beda banget. Belum lagi Bahasa Toraja atau Bahasa Mandar. Btw, sebagian wilayah Mandar sudah memisahkan diri dan berdiri menjadi satu propinsi khusus, Sulawesi Barat :).

Itu baru intermezzo :p.

Kali ini mau cerita soal ikan yang kalau di Sulsel sering di-okkots-kan menjadi ikang hahahaha. Hanya orang sulawesi yang ngerti arti “okkots” :D.

Jam 5 pagi, ibu sudah bisik-bisik di telinga saya, “Temanika’ dulue, Nak, pi Paotere’.”

Duh, males banget. Tapi bisikan keduanya yang membuat akhirnya saya bangun juga. “Nanti kita makan pisang epek abis itu.” Cih, murahan bener. Diimingin pisang epek langsung angkat tangan! Hahahaha.

Habis salat subuh, pasang jilbab terus ikut ke pantai.

Saya kelas 3 SMA waktu itu. Tinggal di rumah salah satu kerabat yang kebetulan tinggalnya dekat banget dari kawasan Pantai Losari, Kota Makassar.

Di Paotere’ ternyata sudah ramai banget. Padahal langit belum lagi sepenuhnya pulih dari gulita malam. Sudah rusuh orang-orang lalu lalang. Baunya itu lho booooo huhuhu. Demi pisang epek, marilah kita mendampingi ibunda tercinta beli-beli ikang eh…ikan :p *benerinSendalJepit*.

Lantainya jelas becek. Yang kadang bikin lama, lagi nangkring depan dagangan seorang daeng (abang/mas/kang/aa’ dalam bahasa Makassar/Bugis), penjualnya malah enggak ada.

Penjual Ikan di Paotere' Makassar (gambar : beritadaerah.co.id)
Penjual Ikan di Paotere’ Makassar (gambar : beritadaerah.co.id)

“Sebentar Bu, sebentar dulu kasiang.” Begitu ada gelagat ibu mau hengkang ke penjual lain, tahu-tahu ada daeng-daeng berteriak dari kejauhan. Kayaknya ibu kasihan juga. Ditunggui deh tuh si Daeng.

Ngapain sih dia? Lagi ngebakso? hihihi. Enggak lah. Dia, seorang laki-laki yang kalau dari penampilan kayaknya udah tua tapi kan orang-orang yang ‘garis hidup’nya keras memang gitu ya. Dikira udah 50 tapi ternyata masih 40. Dia, seorang diri susah payah menyeret sebuah keranjang besar yang isinya penuh dengan ikan.

Tak jauh dari tempat berjualan memang ada lokasi pelabuhan kecil. Disitulah mungkin para nelayan berlabuh setelah semalaman sibuk memancing. Karena banyak perahu-perahu kecil bersandar di sana.

Asumsi saya, si daeng ini adalah nelayan yang memasarkan sendiri ikan-ikannya. Dia yang memancing, dia yang mengangkat ikan-ikannya sendiri menuju lokasi pasar, sambil melayani pembeli yang mulai ramai jam segitu. Jadi dicicil-cicil. Mungkin tadi pembeli sepi, dia buru-buru ke arah perahu mengangkut hasil tangkapannya.

Nah, model penjual kayak gini banyak. Sambil jualan sambil bolak balik sendiri mengangkut dagangannya.si

Pahit getir kehidupan nelayan di pedalaman (gambar : mitranews.com)
Pahit getir kehidupan nelayan di pedalaman (gambar : mitranews.com)

Di Paotere’, apalagi kalau beli langsung dari bapak nelayannya, murah bingiitsss. Segar-segar pula. Tapi satu hal terpuji yang selalu saya perhatikan dari ibu saya. Kalau membeli dari pedagang-pedagang kecil macam si daeng tadi, ibu nyaris tidak pernah menawar. Soalnya istri mantan pedagang eceran juga kali ya :D. Jadi paham banget kalau pedagang-pedagang kecil ini ngambil untungnya paling seberapa. Yang dikejar adalah sebanyak-banyaknya yang bisa laku.

Padahal Ibu saya ini… kalau nawar kain di kios-kios besar Tanah Abang, beuh! Galak, Euy! Hahahahahahha :p.

Hasil tangkapannya banyak lho. Saya sampai bingung, itu ikan segitu banyak apa habis dibeli? Soalnya nelayannya banyaaaaakkk. Pembeli juga banyak sih. Tapi kebanyakan mungkin yang model-model kayak ibu saya. Seorang janda tanpa penghasilan yang paling kuat belinya cuma sekantong plastik saja hihihi.

Ibu saya, walau belinya tidak banyak, udah kayak Jokowi aja gayanya. Blusukan ke sana sini hahahhahaha. Kalau menemani ibu belanja mah, betis mendadak atletis.

Sementara anak gadisnya ini sudah gelisah walau akhirnya daripada bosan, ya saya lihat-lihat saja suasana sekeliling. Sambil observasi enggak jelas. Ternyata, 17 tahun kemudian, tidak menyangka kalau akan datang juga kesempatan untuk mendayagunakan kisah ke Paotere’ itu di tulisan ini ^_^.

Berkali-kali ibu bergumam sambil mengangguk-angguk, “Dekke sempo, dekke kanja’ balena. Dekke loppo urang na. Iyoro cumi’na, dekke kanja’ dekke kanja’, sempona kesi’ … ” (Murah sekali, bagus sekali. Besar sekali udangnya. Itu cuminya, bagus sekali, bagus sekali, murah pula harganya).

Selepas SMA, saya pindah ke Depok. Nasib baik membawa salah satu embak bugis yang kece dan “produksi” asli Pantai Losari ini merantau ke Pulau Jawa *benerinJaketKuning* :p.

Terasa banget oleh saya bahwa harga-harga ikan dan produk-produk laut di tempat tinggal baru ini relatif lebih mahal. Sementara saya datang dari daerah yang kaya hasil laut.

Jenis-jenis ikan yang menjadi makanan sehari-hari di Makassar dulu, padahal saya pun bukan dari keluarga berada, ternyata di Jakarta harganya dahsyat.

Ikan Bolu Bakar, nyam-nyam-nyam (gambar : food.losari.org)
Ikan Bolu Bakar, nyam-nyam-nyam (gambar : food.losari.org)

Otomatis saja saat itu saya berpikir, “Ya kenapa enggak ambil saja ikan-ikan dari Sulawesi untuk di Jawa. Mungkin harganya tidak akan semahal itu. Wong ikan dan hasil laut di Makassar saja berlimpah ruah luar biasa.”

Lucu saja rasanya, di sana ikan melimpah harga murah. Di Jakarta ikan laut segar tidak sebanyak di Makassar wajar harganya mahal. Kan kalau bisa distribusi merata, hidup para nelayan enggak akan melarat amat-amat. Sampai-sampai harus menyeret keranjang ikan sendiri di area pasar pelabuhan setelah semalaman lelah bertarung di tengah laut.

Taraf hidup nelayan tak begitu bagus ditambah lagi, konsumennya di Paotere’ ya ibu-ibu rumah tangga serba nge-pas kayak ibu saya :p. Produksi berlimpah, tapi konsumen megap-megap. Tidak ada gunanya juga.

Coba ini ibu-ibu ekonomi menengah di Jakarta dikirim ke Paotere’, bisa kalap kali ya hahahahaha.

Disitulah asal mulanya menjadi cinta mati sama tahu-tempe hahaha. Di Makassar juga sering makan tahu-tempe tapi masih lebih cinta ikan dkk :D. Daging dari hewan berkaki empat dari dulu saya enggak terbiasa. Makanya suka diledekin suami karena saya enggak terbiasa makan steak dan teman-temannnya hahahaha.

Biarin! :p. Tak akan lupa kacang pada kulitnya dong. Ikang mana ikang :v :v.

Jawabannya ternyata ketemunya pas mendapatkan kesempatan bekerja di sebuah perusahaan consumer goods besar di tanah air. Kebetulan juga nyangkut di divisi Supply Chain-Distribusi. Kerjaan saya dulu ya kelayapan di gudang atau meeting dengan customer-customer. Gayanya doang mah hahahaha.

Saya seringnya malah sibuk merhatiin perwakilan Key Account Manager berdebat dengan tim CSOG di mobil dalam perjalanan menuju kantor customer. Nanti di customer berdebat lagi dengan orang salesnya Customer. Hihihihi. Siapa bilang jadi “sales” itu gampang ^_^.

Ketahuan deh kerja di mana hehehehe (gambar : industri.kontan.co.id)
Ketahuan deh kerja di mana hehehehe (gambar : industri.kontan.co.id)

Saya juga pernah bolak balik ke Surabaya. Ke Rungkut atau ke Waru.

Kalau di Gudang atau di Pabrik terus terang saya takut hahahahaha. Gudangnya gede banget gilak! :p. Tapi kalau mood lagi bagus dan posisinya ada di pintu gerbang gudang, saya senang juga ngobrol-ngobrol dengan orang gudangnya. Kepo-kepo sana sini.

Saya pernah terlibat penuh dalam pembuatan sistem “Transportation Cost”. Bekerja sama dengan tim Finance di Supply Chain-Customer Service.

Ternyata baru paham segala keruwetan di dunia nyata. Sumpah, enakan ngoding di komputer ini mah hahahahaha. Saya memang kaget melihat harga jual barang yang bisa melonjak luar biasa di beberapa wilayah tertentu. Pabrik barang jadi memang masih terpusat di Jakarta dan sekitarnya. Pabrik pengolahan juga mayoritas masih di tanah Jawa.

Saya suka marah-marah kenapa ada order yang manual yang sangat rentan dengan kesalahan karena ya di lapangan memang kondisinya begitu. Jadi malu suka nyinyirin mbak-mbak operator di gudang atau di MBAU :p. Sungkem dulu, sungkem lagi :v :v.

Betapa ruwetnya proses distribusi barang di Indonesia. Itulah mengapa, khusus di perusahaan saya ini di cabang Indonesia, Distribusi ini sempat dijadikan ‘agak terpisah’ dengan proses Supply Chain. Malah Distribusi dulu jadi satu dengan Sales. Tapi kalau gak salah terakhir Distribusi sudah kembali ke kodrat sejatinya, yaitu bagian dari Supply Chain :D.

Distribusi sangat khas dan menantang di Indonesia karena wilayah kepulauan di dunia memang ada berapa? ;).

Memang rumit. Apalagi untuk pengiriman barang yang sifatnya “makanan”. Berpacu dengan waktu/expired data dan harus menghadapi infrastruktur yang pas-pasan. Belum lagi kalau sudah ke wilayah Timur Indonesia. Sebagai orang asli Sulawesi, sakit hati juga saya melihat bedanya harga barang di wilayah Timur. Tapi setelah meraba-raba kondisi di lapangan, baru saya paham. Masalah distribusi di kepulauan Nusantara memang sangat challenging.

Belum lagi masalah keamanan. Jalan darat untuk pengiriman barang dari Jawa ke Sumatera sering ditempuh untuk menekan biaya transportasi jika harus menempuh jalan udara. Jalan daratnya ngeri juga, Bo. Banyak perampok huhuhu. Saya salut luar biasalah dengan teman-teman sesama trainee yang diterjunkan di daerah-daerah pedalaman. Sementara saya banyakan duduk-duduk cantik di kantor pusat hihihi :p.

Konon, perusahaan saya sempat harus melepas sebuah produk makanan ringan salah satu alasannya karena tidak kuasa lagi menyeimbangkan antara ongkos produksi dan ongkos distribusi yang akan berimbas ke harga jual. Seperti kasus ikan tadi. Tapi ini terbalik. Produsennya ada di Jawa tapi konsumennya malah ramai di luar Jawa.

Itulah mungkin jawabannya mengapa ikan yang berlimpah di wilayah-wilayah pedalaman sulit berjodoh dengan konsumennya di kota-kota besar. Masalah transportasi dan distribusi.

Gambar : nec.com
Gambar : nec.com

Sebagian besar kita mungkin hanya bisa seperti saya. Mentok di sebatas tahu saja tanpa tahu harus bagaimana :(. Sebatas bisa prihatin saja *tutupMuka*.

Maka, bayangkan tertamparnya saya (saya lho ya, kalian ya belum tentu hehehehe), membaca riwayat hidup si Ibu Susi Pudjiastuti yang penuh kontroversi itu. Terpikir lho dia untuk menerbangkan produksi ikan berlimpah itu dengan pesawat! Kapal terbang dan nelayan, 2 hal yang mungkin sangat tidak terbayangkan.

Ibu Susi Pudjiastuti paham betul kalau mengandalkan maskapai besar nan komersil itu ya jelas bubar lah. Dia pun menawarkan solusi maskapai penerbangan perintis.

Ide yang sangat brilian. Lebih brilian lagi karena beliau tidak mentok di ide. She’s a DO-ER! (DOER bukan dower ya Kaaaaa hahahhahaha :p). Dia benar-benar mengawal idenya sampai ke tahap aplikasi. Sesuatu yang sangat langka di dunia ini. Sudah pakemnya kan manusia itu, omongnya gede, semangat berkorbannya tipis *tertundukMalu*.

Tidak berhenti di masalah pemasaran ikan, Ibu Susi Pudjiastuti terus mengembangkan maskapai penerbangan perintisnya untuk “menolong” daerah-daerah pedalaman yang nyaris tak terjangkau teknologi nun jauh di wilayah tertimur Indonesia sana. Sudah nonton “The Worst Places to be a Pilot” belum?

Sebenarnya jujur saja, apakah tidak ada ahli yang mampu mengurai masalah ini? Pastilah ada. Bahkan banyak. Tapi mungkin berteori itu jauh lebih mudah daripada terjun langsung ke lapangan. Tidak hanya terjun, tapi datang membawa solusi dan mengawal solusi tersebut hingga menjadi kenyataan. Seberapa banyak sih dari kita yang sanggup kayak gitu? *sodorinKaca*.

Yang dibantunya orang-orang kecil pula. Para nelayan dan mereka yang hidup di tempat-tempat terpencil. Berapa memangnya keuntungan yang didapatkan oleh maskapai perintis yang berbisnis di pedalaman???? Jelas lebih untung berbisnis di maskapai penerbangan massal sekalian :D.

Tidak banyak orang-orang berhati emas seperti Ibu Susi Pudjiastuti :). Kalau yang “bacotnya emas” mungkin gampang nemunya hahahahaha.

Memang masuk akal juga jika ada pakar kelautan yang mencemooh ide Jokowi mengangkat Ibu Susi Pudjiastuti jadi menteri. Kelautan dan maritim itu bukan hanya masalah ikan, ikan dan nelayan. Banyak sekali aspeknya. Bu Susi itu apa sanggup?

Tapi balik lagi, yang milih dia kan Jokowi. Sementara Jokowi sudah kenyang kali dimaki-maki, “Solo itu cuma kampung kecil. Bisa apa lo di Jakarta?” –> “Jakarta itu cuma satu kota. Bisa apa lo ngurus seluruh Indonesia? Punya modal apa? Modal blusukan doang?”

Jokowi milihnya pasti yang setipe lah biar cocok jadi rekan kerja kali hehehe.

Nah, jangan lebay juga ngebelainnya. Biarkan saja. Biarkan Jokowi, Bu Susi, dan seluruh tim kabinet membuktikan kepiawaian mereka. Kita lihat saja apakah para pekerja keras yang katanya minim pengetahuan teoritis dan hanya punya pengalaman lapangan di area lebih kecil bisa membawa negeri ini ke arah yang lebih baik?

Sembari menunggu, kalau tak sanggup berkontribusi langsung nan positif, kita doakan saja yang baik-baik yuk ^_^. Walau kontribusi positif ini sangat debatable. Kan mengkritisi negatif-negatif juga tujuannya bisa positif yaaaaa *uhuk Uhuk*.

Semoga Ibu Susi Pudjiastuti bisa dimampukan untuk berhenti merokok. Biar kesehatannya terus terjaga. Karena Indonesia sangat butuh para pemberani seperti beliau ini ^_^.

Susi Pudjiastuti
Ibu Susi Pudjiastuti

Semoga Koh Ahok juga bisa dikurangi marah-marahnya karena takut kena darah tinggi. Kita maunya Koh Ahok sehat terus ^_^. Untuk membasmi yang bandel-bandel itu karena kayaknya dinasehatin udah enggak pada mempan hehehe.

“Orang-orang baik itu banyak. Tapi yang berani itu sedikit.” -Ahok-

Orang baik dan para pemberani ini harus kita doakan supaya umurnya panjang toh ya ;).

Kalau ada yang bawa-bawa agama ya terserah saja. Untuk saya, agama saya selalu menganjurkan untuk beriman dan berbuat baik. Sementara saya tahu, keimanan itu letaknya dalam hati. Saya robek-robek dadanya juga belum tentu saya tahu sedalam apa imannya. Tapi perbuatan baiknya secara muamalah tentu sangat mudah untuk diukur secara kasat mata manusia biasa.

Kecuali situ malaikat lho, ya. Saya mengaku saja. Saya ini manusia biasa walau kadang suka khilaf dan mengaku sebagai bidadari #eaaaaaa :v :v.

Anda boleh beda pendapatnya ;).

Selamat berjuang Bu Susi Pudjiastuti, jelajahilah samudera nusantara dan selamatkan lautan Indonesia dan simpan rapat-rapat niat baik dalam hatimu untuk Yang Maha Mengetahui saja.

Dalamnya lautan bisa diterka, dalamnya hati siapa yang tahu ;).

Bu Susi Pudjiastuti

Blogger yang Baik dan Benar ???

Wah, hari ini hari Blogger ternyata. Harus eksis dong yaaaaa, poni mana poni hahahahaha 😀.

Btw, beberapa waktu lalu ramai-ramai orang posting tentang tipe-tipe blogger dan semacam ‘kode etik’ yang harus dilakukan oleh para blogger. Berasa ketampar bolak balik pas bagian “blogger yang baik harus rajin blogwalking” ‪#‎ups‬ . Dan makin keselek di bagian “blogger yang baik harus rajin balas komentar pengunjung blognya” huhuhu.

Saya mulai ngeblog kalau enggak salah dari tahun 2004 apa 2005 ya. Dulunya sih, hanya sekadar memindahkan kebiasaan menulis diary. Dari lembaran kertas ke dalam blog elektronik . Isinya waduh…curhat terooossss . Dari blogspot, friendster blog, sampai akhirnya tahun 2009 punya Multiply.

Gambar : padasuatuketika.blogspot.com
Gambar : padasuatuketika.blogspot.com

Tahun 2011, lahir juga Mama Sejagat dan Cerita Jeddah. Pokoknya menulis terosssss hehehe. Kedua blog ini yang saya kembangkan lebih serius. Blog pribadi malah enggak pernah di-share.

Lalu Multipy ‘wafat’, sekitar september 2012 lahirlah jihandavincka.wordpress.com. Yang beberapa bulan terakhir ini akhirnya jadi jihandavincka.com :D. Saat pindah ke wordpress ini, banyak postingan yang dihapus karena ya gitu deh hihihihi.

Blog pribadi dulu jarang saya publikasikan. Barulah setelah awal 2013 mulai ikut lomba blog, trafficnya mulai berubah. Apalagi kalau hoki lagi bagus dan kebetulan menang. Traffic langsung cling tuh hahaha. Baru deh mulai was-was dan ogah curhat gak penting lagi.

Tahun 2005-2011 saya suka blogwalking, kok. Suka komentar juga di mana-mana. Tapi saya memang enggak membaca semua blog. Sesuai minat saja . Dan kalau sampai berkomentar, sejujurnya saya enggak pernah berharap akan dibalas, ya saya komentar kalau ada yang ingin disampaikan tidak mengharap KUNBAL.

Istilah KUNBAL ini juga saya baru tahu ketika tidak sengaja ada blogger yang ngomel-ngomel di blog orang lain (di kolom komentar), mengeluhkan soal blogger inisial JD yang katanya, “belagu luar biasa. Gue setengah mati komentar di blognya, dia enggak pernah satu kali pun KUNBAL ke gue. Terus, gue link blognya, eh dia enggak ngelink balik blog gue. Gue unfollow aja tu orang!”

Panjang lebar dia menceritakan si JD karena banyak temannya yang nanya-nanya : Si JD ini perempuan. Tinggal di luar negeri, pernah tinggal di Arab Saudi, suka menulis cerpen, dan yang paling bikin yakin dia juga menulis … mentang-mentang orangnya cakep! ‪#‎eaaaaa‬ . And again…poni mana poni hahahhaahha.

Gambar : wowkeren.com
Gambar : wowkeren.com

Iya sih, saya rasa memang kurang sopan kalau kita tidak membalas komentar. Padahal blog saya sedikit lho komentarnya hahahaha. Memang dasar pemalas saja . Mungkin ini menjadi peer biar enggak dicap belagu. Karena kalau kolom komentar saya tutup pernah ada yang protes, “Ngapain nulis kalau enggak mau dikomentarin?” Huhuhuhu. Kudu piye iniiiiiiii…

Soal KUNBAL ya gimana ya… Jujur saja, saya menulis itu lebih karena hobi dan memang senang menulis. Kalau blogger lain suka pusing mengatur waktu biar bisa menulis, saya malah repot mengurangi waktu menulis kalau suami mulai komplen hihihihi .

Saya punya target menulis tersendiri dalam jangka waktu tertentu. Dan tidak pernah memasukkan komponen “jumlah komentar” ke dalam target itu . Tapi nanti dibilang sombong lagi ya *alamak* 😀.

Simpel saja. I write to express not to impress 😉. Pasti senang dong kalau ada yang baca dan sampai meninggalkan komentar segala, saya senaaaanggg banget . Tapi balik lagi, saya tidak ingin memaksa dan saya anu…tak cukup pandai berbassa basi untuk hal semacam ini. Saya merasa enggak sanggup kalau harus blogwalking ke mana-mana tiap ada komentar . Padahal kalau kata suami, ya basa basi saja, tulis komentar apa kek. Maafkan kelemahan ini ya 🙁.

Tapi saya sadar ini bukan hal yang benar. Untuk komentator yang rajin komen di blog saya, saya sering bagi-bagikan buku gratis hihihihi. Memang, there are things that money can’t buy. Tapi mau gimana lagi, daripada benar-benar cuek, saya upayakan memberi perhatian lebih.

Sejak membaca tulisan tipe-tipe blogger itu, saya jarang share link blog saya di grup-grup komunitas yang saya ikuti. Tapi takutnya disangka enggak aktif, saya usahakan share link sebulan sekali sajalah . Saya hanya share di Twitter dan akun FB pribadi yang versi rutinnya .

Biar ‘fair’ saja sih . Agar orang-orang yang main ke blog saya ya karena memang ingin membaca tulisan saya (karena mereka kan ngekliknya dari akun pribadi saya) dan sebisa mungkin menghindari pengunjung yang mungkin memang blogwalking untuk KUNBAL tadi.

Mengharapkan KUNBAL ini BUKAN perilaku yang buruk kok. Saya paham dan menganggap itu wajar . Hey, berbeda boleh dong, tidak salah juga kan untuk memperpanjang talisilaturahmi dan networking. Cuma mungkin, I’m not that type . Sungkem dulu sama blogger-blogger pro KUNBAL .

Ya mungkin memang ada tipe blogger macam saya yang tangannya gatal saja untuk menulis ini itu. Menulisnya ya karena gatal hihihhi. Bikin blog ya karena ingin bikin kenang-kenangan saja, biar tulisan-tulisan terarsip rapi dan bisa dibaca-baca untuk diri sendiri buat lucu-lucuan. Narsis kauuuuuu . Selain karena mungkin saya ekstra sotoy dan kepo juga sih ya .

Kalau membaca buku saya takut lupa makanya saya suka menulis tentang hal-hal yang sudah saya baca. Kemudian sok-sok nambah-nambahin ini itu biar kesannya cerdas gitu deh hahahahahaha.

Kalau pun ada orang lain yang ikut menikmati, wah, sekali lagi….saya sebenarnya senaaaaangggg . Tapi tidak mau menjadikan itu sebagai beban. Karena bukan itu tujuan utama saya nge-blog . Saya tekankan sekali lagi, to express not to impress. Kalau ada yang nyangkut dan jadi follower wah alhamdulilah banget tuh ^_^.

Gimana ya menjelaskannya biar enggak dibilang belagu *garukGarukPoni* hihihihi. Tenar kagak, songong iya :p.

Pokoknya begitulah. Semoga tidak menyinggung siapa pun. Saya enggak mau cari pembenaran apa pun. Ya memang beginilah adanya blogger pemalas satu ini hihihihi. Mungkin memang model kayak saya bukan tipe blogger yang terpuji *tertundukMalu*.

Bukannya tak ingin menyambung tali silaturahmi, tapi ya, kalau untuk pergaulan lebih suka di media sosial saja. Walau sering juga di FB malas balas komentar hahahahahaha. Udah sih, ngaku aja kau pemalassss!!!! . Masih ngeyel aje.

Mohon maaf jika selama ini banyak kekurangannya ya. Tidak masuk kategori blogger yang baik. Tetap semangat ngeblog ya teman-teman. Jangan sedih kalau pengunjung sedikit, komentar sedikit, menang lomba blog jarang, dapat job review enggak pernah …

Kebetulan saya seorang muslim. Di mana sebagai muslim, kita dituntut untuk percaya kepada Hari Akhir .

Jika keringat kita tak berbayar di dunia, masih ada akhirat kan? Therefore, menulislah selalu untuk kebaikan ^_^.

Selamat hari Blogger! 😉

Gambar : koran-indonesia
Gambar : koran-indonesia

 

Lihat Segalanya Lebih Dekat

Gara-gara tulisan tentang “Namanya IKEA, Kelakuan Indonesia” yang jadi trending topic kenapa jadi pada judgemental begitu, ya? Hehehehe.

Mental Indonesia katanya. Mental minta dilayani.

Sebenarnya sih, itu bukan mental Indonesia. Lebih tepat jika dikatakan sebagai “mental yang ada di negara berkembang pada umumnya” . Enggak cuma di Indonesia sajalah gaya hidupnya macam begitu. Di India juga sami mawon 😀.

Salah satu pembeda utama antara negara maju dan negara berkembang adalah kesenjangan sosial-ekonomi sepertinya. Kita selalu mencap negara-negara maju adalah negaranya orang-orang tajir. Kurang tepat lagi.

Jakarta yang glamour ^_^
Jakarta yang glamour ^_^

Karena di negara maju yang menonjol itu justru kalangan menengah-nya. Dan mungkin akan sedikit sulit menemukan kelas masyarakat yang mesti sampai mengais sampah untuk cari makan *hiks*.

Kalau mau cari orang-orang kaya yang petantang petenteng, nah, di negara-negara berkembang itu baru gampang dapatnya . Tapi biasanya kontras. Ibu-ibu yang pakai Hermes ada, tapi ibu-ibu yang modal kantong plastik buat naruh dompet dan segala macam juga ada hihihihihi .

Dari segi gaji saja, mari mengambil contoh Indonesia-Arab Saudi dan Irlandia. Tiga negara yang cukup lama pernah kami diami 😀.

Di tahun 2008 itu, kalau kalian tahu berapa gaji telco engineer di INdonesia pasti sesak nafas. Termasuk saya yang dulu masih bekerja sebagai IT Business Analyst di salah satu consumer goods paling yahud seNusantara. Ihiiiiyyy :D.

Mengamuk dong ah melihat slip gaji suami. Untung suami sendiri ya. Hahahahahaha. Gaji suami di Jakarta dulu jauuuuhhh lebih besar daripada pendapatan perkapita rata-rata penduduk di Indonesia.

kemiskinan indonesia

Di Arab Saudi, hampir sama. Melihat biaya hidup di Jeddah, compare to the salary, saya sempat takut itu kalau suami pasti mau seumur hidup kerja di Jeddah! Hahahahhahaha. Untunglah, Tuhan mendengar doa saya :p.

Penghasilan rata-rata seorang telco engineer di Arab Saudi juga di atas pendapatan perkapita rata-rata penduduk di sana. Walau tidak ‘sejomplang’ seperti di Indonesia sih ya.

Nah, di Irlandia baru agak berbeda. Gajinya sih tetap di atas rata-rata. Tapi enggak yang jomplang banget kayak di Indonesia dan Arab Saudi. Malah saya melotot pas dikasih tahu suami penghasilan seorang karyawan toko di Irlandia. Wah, pengeeeeennnn, hahahhaha.

Dan mengapa toko-toko pada tutup kalau hari Minggu (atau ada juga dari sabtu udah tutup). Karena tenaga manusia di Irlandia … mahaaaaalllll. Di Jakarta sih, justru hari minggu toko-toko ramai dan pada buka semua.

Apalagi kalau kerja di hari libur mingguan itu (di negara maju). Gajinya harus ekstra.

Di rumah-rumah makan, jumlah pegawainya pas-pasan. Ya seringnya, dia yang kasir, dia yang ngantar makanan, dia yang beres-beres meja, dia yang nyapu-nyapu. Ya karena itu tadi, gaji mereka mahaaaaallll . Manusia itu sangat dimanusiakan di negara-negara maju .

Makan di resto itu harganya bisa selangit ketimbang beli bahan dan masak sendiri. Di Saudi dan di Indonesia? Seringnya sih mending jajan daripada masak sendiri hahahaha. Harganya paling beda tipis . Belum kalau jajannya di ‘kaki lima’, murahnya suka keterlaluan ya *hiks*. Di eropa, enggak ada gitu-gituan huhuhu.

Beda dengan negara-negara berkembang di mana si kaya dan si miskin itu punya tembok yang sangat sukar dirobohkan . Kita bisa mempekerjakan simbok yang jam kerjanya enggak jelas juga secara kan simboknya tinggal di rumah . Gajinya? ya gitu deh hehehehe.

India yang Glamour ^_^ (gambar : hindustantimes.com)
India yang Glamour ^_^ (gambar : hindustantimes.com)

Di Saudi juga begitu kok. Penghasilan pekerja-pekerja domestik ya ala kadarnya. Makanya, banyak keluarga yang memanfaatkan jasa mereka.

Di Eropa? Ya mikiiiiirrrr hahahahaha. Konon, satu jam beres-beres rumah mintanya 20 euro. 20 euro mah bisa buat belanja di Aldi tuh untuk kebutuhan makan satu minggu hahahaha. Iyaaaaa, jangan kau kira Eropa ini mahalnya ampun-ampun. Enggak juga kok . Kapan-kapan saya bahas terpisah ah .

Pssttt…daging di sini lebih murah daripada di tanah air. Jangan garuk tanah yak hahahahaha.

Makanya, jangan heran, kalau orang-orang di negara maju otomatis ya harus menguatkan diri untuk semandiri mungkin. Bukan karena dari lahir mereka sudah top atau pendidikannya gimana-gimana. Enggak juga kok. Lebih karena situasi dan kondisi . Janganlah terlalu menganggap rendah bangsa kita sendiri.

Karena asal tahu, orang-orang Indonesia kalau dilempar ke Eropa ya umumnya bisa beradaptasi dengan baik kok . Dan kalau emak-emak bule itu kau kirim ke Jakarta, ya mereka pasti pakai simbok begitu tahu ‘gaji’nya cuma ‘segitu’ .

Saya pernah menjadi tutor di 4 keluarga asing berbeda (ada yang asal Inggris, US dan kawin campur Asia-Eropa) di Jakarta pas masih kuliah dulu. Mereka ngaku kok senang tinggal di Jakarta. Enggak capek. Sama kantor disediakan supir 2, asisten rumah tangga 2, plus tukang kebon 1 hihihihi.

Yang tinggal di apartemen ada. Di Dharmawangsa. Apartemen imut-imut begitu, ya tetap pakai asisten rumah tangga tuh 😉. Pan judulnya tinggal di Jakarta. Pakai simbok? Why not? ^_^.

Masalah penghasilan minimum bagaikan buah simalakama. Macam tempo hari buruh-buruh perempuan minta dana kosmetik, ibu-ibu kantoran pada ngamuk dan nyinyirnya minta ampun hahahahaha. Sadarilah, kita sendiri tidak siap bukan melepaskan diri dari kesenjangan ekonomi yang sudah terlanjur ada sekarang? . Tanpa sadar, kita ikut “menikmati”.

Bayangkan kalau simbok minta gaji minimal 2.5 juta. Pingsan kan? Karena pegawai kantoran di Jakarta juga gajinya enggak segede itu. Kita sudah terbiasa dengan paradigma, “Ya masa gaji gue beda-beda tipis sama pembantu?”

Well, heloooooo, itulah yang terjadi di Eropa yang kalian puja-puja itu . Jangan mau makmurnya saja, tapi enggak mau bagian ‘susah’nya :p.

Imbasnya juga ke pendidikan. Nih, suami baru dari Cina, assignment 6 minggu di sana. Dia cerita terkaget-kaget mendengar anak SMP di sana pulang sekolahnya bisa hampir malam gitu hahahhahha. Di India pun ternyata kurikulumnya termasuk ‘disiplin dan keras’.

Sisi lain  India (gambar : blogs.sacbee.com)
Sisi lain India (gambar : blogs.sacbee.com)

Di negara-negara berkembang, persaingan sangat tinggi. Umumnya kan negara model begini, jumlah penduduknya membludak. Jadi, wajar bila anak-anak kita harus dikondisikan seperti itu . Maksud saya, tidak sepenuhnya karena pemerintah kita enggak peduli. Ada faktor situasi dan kondisi di sini.

Jangan lupa, profesi-profesi non formal di negara-negara berkembang, penghasilannya bikin nangis. Beda dengan profesi non formal di negara maju yang tetap memungkinkan mereka hidup layak seperti orang lain pada umumnya .

Jadi, orang di negara-negara maju ya tidak punya tekanan sebesar kita yang besar di negara-negara raksasa macam India, Indonesia dan Cina . Jepang pun jangan salah, ‘sadis’ juga lho kurikulumnya ketimbang kurikulum standar ‘barat’.

Kita harus berusaha keras membuat anak-anak agar siap bersaing dengan keterampilan yang mumpuni. Harapan kita kan pasti profesi-profesi kelas atas. Jangan nyinyir-nyinyir soal memaksakan kehendak kepada anak unless you’re ready when someday they say, “Ah, aku mau jadi pegawai toko aja deh Ma, asyik ya kayaknya. Ketemu banyak orang tiap hari. Kerjanya dinamis lagi.”

Orang bule mah santai saja anaknya entar mau jadi pegawai toko. Toh, pegawai toko di sini ya tinggal di apartemen yang sama, berpenampilan sama, berpenghasilan cukup, dibanding orang-orang lain.

Belum lagi tunjangan dari pemerintah di negara maju macam-macam. Termasuk jika mereka sudah tua. Dari anak lahir saja, child benefit menanti hihihihi. Lumayan banget lho jumlahnya. Kan sudah saya bilang ya, hidup di Eropa itu sesungguhnya tidak bisa dibilang mahal (ya tergantung gaya hidup sih ya :p).

Kesehatan terjamin. Di usia pensiun pun dapat penghasilan. Jumlahnya cukup untuk hidup normal tanpa harus bekerja sama sekali. Kalau ada yang bekerja itu karena mereka bosan saja. Tidak semata-mata cari duit. Jangan heran, aki-aki dan nenek-nenek di sindang, kerjaannya nongkrong di kafe pagi-pagi. Ketawa-ketiwi sesamanya hihihihihi. Ikut dong, Neeeekkkk 😀.

Dun Leary - Irlandia
Dun Leary – Irlandia

Coba di Indonesia? Apaaaa kamu mau jadi petugas pemadam kebakaran? Orang tua bisa langsung pingsan tuh! Hahhahahahahha. Padahal di negara-negara maju, petugas pemadam mah dianggap “normal” lho 😉.

Ya karena hidup di Indonesia itu keras, Bung!

Tempat nongkrong di negara-negara yang kesenjangan ekonominya tinggi juga bisa beda. Ada warteg untuk kalangan menengah ke bawah, ada cafe dan resto-resto mahal untuk yang tajir-tajir. Sangat mempengaruhi gengsi kan itu? Ayolah, kita semua manusia biasa . Wajar itu. Kondisi bisa membuat kita menjadi egois.

Sementara di negara-negara maju, enggak segitu-gitunya perbedaannya.

Dengan tantangan masa depan seperti itu, bekal yang harus dipersiapkan ke si anak memang harus ekstra. Gak bisa dikit-dikit lihat negara maju, dikit-dikit lihat negara maju. Kecuali ya itu tadi, kita mau melihat segalanya lebih dekat.

Industri kreatifitas di Indonesia dan banyak negara berkembang lainnya belum mendapat tempat. Jujur saja, kita akan lebih ‘tenang’ jika anak-anak kita memilih profesi macam dokter, insyinyur, pegawai bank ketimbang mereka tiba-tiba bilang, “ingin mengejar cita-cita menjadi pemain drum kawakan” atau “mau menjadi pemain bola kayak Ronaldo.”

Jujur saja. Are we ready?

Aduh, kok kayak nakut-nakutin? Hahahhahahaha. Enggak kok, ya. Biar bisa lebih luas saja daya jangkau pemahamannya. Saya ini tetap orang Indonesia lah biarpun tinggalnya sedang tidak di sana. Tersinggung juga kalau dibilang “kelakuan Indonesia”. Sementara saya sepakat jika seringkali karakter kita sangat dipengaruhi oleh situasi dan kondisi dan lingkungan. Baca buku Tipping Point tuh .

Peer pemerintahan kita banyak banget memang. Revolusi mental itu adalah jalan panjang yang belum tentu akan selesai dalam 5 atau 10 tahun. Ya sebelum melihat Eropa sekarang, coba saja baca-baca sejarah mereka dulu. Penuh drama dan air mata macam sinetron-sinetron hahahahaha.

Entah mana yang harus jadi prioritas? Penegakan hukum kah? Masyarakatnya kah? Membasmi korupsinya kah? Membersihkan jajaran pejabat pemerintahan dari tangan kotor kah? Mengusir kepemimpinan asing kah? Menghalau konspirasi kah?

Banyak. Teramat banyak. Ruwet. Tumpang tindih. Karena kalau ngomongin kelakuan suatu penduduk di wilayah tertentu itu faktornya tidak hanya sekadar individunya yang memang rusak atau gimana-gimana. Faktornya super duper akeh lho Mas-mas dan Mbak-mbak!

Pemerintah terlibat. Lingkungan terlibat.

Dengan hal yang sebegitu sulitnya, masih juga kau maki-maki presiden kau! Hahahhahahahaha.

Ya semoga penegakan hukum di negara kita bisa terus membaik karena kedisiplinan masyarakat agak sulit dikejar kalau penegakan hukum lemah. Macam buang sampah sembarangan. Undang-undangnya sih komplit. Tapi siapa yang mengawasi? Kalau yang mengawasi jujur? Lah, kalau bisa disogok juga? Bubar toh yaaaaaa 😀 😀 :D.

Memang kalau dipikir malah mumet. Serba tidak berdaya. Mulai dari mana saja enggak kebayang hihihi.

Saya sih memilih optimis. Walau mungkin ada faktor karena saya fansnya Pakde dari dulu. Tapi ya, pesimis enggak bakal bawa kita ke mana-mana kok ya ;).

Kalau pun hasilnya nanti nihil, ya tetap lebih baik daripada maki-maki toh, ya. Capek wooiii, capeeeeekkkk :D.

Jangan berputus asa. Kalau pun berputus asa, berusahalah dalam keputusasaan itu. Doakan saja yang baik-baik. Siapa yang tahu doa-doa yang indah, dukungan positif kepada pemerintahan yang baru, harapan-harapan bagus, akan menjelma menjadi keajaiban tersendiri. Saya pernah dengar, doa yang baik bisa menghalau malapetaka yang akan terjadi. Mudah-mudahan benar ^_^.

Gambar : oprah.com
Gambar : oprah.com

Untuk Indonesiaku, selamat menempuh hidup baru ^_^. Semoga sakinah, mawaddah, warrahmah :D.

“Bermimpilah setinggi langit. Jika pun terjatuh, engkau akan jatuh diantara bintang-bintang.” -Bung Karno-

***

C’est La Vie

Seringkali teman-teman di Grup Hits 80/90 an membanggakan masa kecil kami dahulu dan mengatakan bahwa zaman kami kecil itu layak disebut “Golden Age”. Tak sedikit yang mengejek kehadiran internet dan menjadikannya penyebab rusuhnya kehidupan di era terkini.

Padahal saya selalu merasa internet adalah keajaiban abad ini! Tak jarang saya senyum-senyum dan berharap, andai dulu sudah ada internet di masa saya kecil hehehe.

Gambar : hongkiat.com
Gambar : hongkiat.com

Pernah bincang-bincang iseng dengan suami soal buku 100 orang paling berpengaruh di dunia. Suami saya bilang, harusnya buku ini disusun ulang dan orang-orang kayak Bill Gates dan penemu internet harusnya masuk dalam daftar. Di 10 besar kalau bisa. Saya jawab, “Tunggulah beberapa ratus tahun lagi.” HIhihihi.

Tapi saya setuju, jika internet memang nyatanya sudah sangat berhasil mengubah wajah dunia. Tak sedikit yang mengutuk, tapi saya pribadi, adalah pengagum kecanggihan teknologi satu ini :D.

Waktu kecil, karena tak ada dukungan dari sekitar, setengah mati saya berusaha mengirimkan cerita ke media cetak. Saya tidak mengerti. Harus bertanya ke siapa dan harus bagaimana. Ya saya ikuti saja cara-cara standar. Lari ke kantor pos dan menunggu jawaban hihihi. Asal tahu, kumpulan puisi-cerpen-novel waktu kecil dulu ada banyak, lho :p.

Mau rutin membeli majalahnya, duit dari mana ya, Ceu? Beli majalah ya sebulan sekali itu sudah istimewa.

Saya mengerti kalau ibu saya sepertinya kurang mendukung karena ya di masa-masa itu, dunia menulis bisa menjanjikan apa, sih? Mana ada yang namanya email? PC pun hanya dimiliki oleh kalangan ‘atas’. Mana ada lomba blog? Mana ada lomba-lomba ini itu via online? :D.

Melihat prestasi akademis saya, ya wajar kalau ibu lebih mendorong saya untuk meraih masa depan di bidang formal yang sudah pakem macam jadi insyinyur kek atau jadi dokter yang sangat dicita-citakannya.

Gak apa-apa juga, sih :D. Saya tidak menyesal mengikuti saran itu.

Impian lainnya saat sudah lulus kuliah adalah…sekolah ke luar negeri! Hehehe. Saya tunggu-tunggu saat tepat itu datang. Waktu itu juga enggak tahu harus cari informasi ke mana. Malu juga kalau koar-koar ke mana-mana. Banyakan gengsinya sih. Hihihi.

Tapi saya memang orangnya susah fokus, sih, ya. Mau sekolah di luar negerilah, mau kawin lah, mau anu lah, hahahahaha. Prinsip saya, apa yang ada di sekarang, jalani secara optimal.

Karena rezekinya jadi perempuan kantoran, saya selalu berusaha keras mengejar karier dan pindah-pindah perusahaan sampai dapat yang cocok :D. Ya sambil cari suami juga pastinya, ya, Kakaaaaa *maeninBuluMata*.

Kalau dulu saya ditanya, “Tidak menikah sama sekali atau menikah dengan orang yang salah?”

Jawaban saya pasti, “Menikah dengan orang yang salah!”

Hahahahaha. And indeed, jadi jomblo sekarang bebannya lebih berat sepertinya ketimbang jadi janda/duda :v :v :v.

Dulu, saya perkirakan, kalau adik saya lulus kuliah, “kewajiban” saya bisa terlepas, barulah saya akan mencoba peruntungan melanjutkan sekolah ke luar negeri. Ealah, malah diajak ke pelaminan sama yayang. Enggak mikir 2x, ya mending menikah sih ya hihihihi *ngikikCentil*. Sama sekali tidak punya jiwa Cosmo-Girl-Single ‘n Fabolous ini Mbak-nya :v :v :v.

Gambar : jaksflowergirldresses.com
Gambar : jaksflowergirldresses.com

Iya sih, waktu menjelang kelulusan, sahabat-sahabat saya asyik memikirkan karier dan macam-macam, saya malah merusak angan-angan mereka dengan tahu-tahu melontarkan kalimat, “Terus kawinnya kapan?” Hahahhahahha.

Sejak bekerja, sudah ada rencana cadangan. Bermimpi-mimpi biar bisa mendapat pekerjaan yang membuat saya harus traveling ke luar negeri. Enggak pernah kejadian. Enggak pernah hoki. Bahkan di tempat kerja terakhir saat ada proyek yang melibatkan 90% personel divisi dan ada training bolak balik ke beberapa tempat di luar negeri, takdir memilih saya menjadi yang 10% nya *nangisDiPojokan*.

Anak pertama lahir, ya sudah. Pikiran sudah terbagi. Saya memutuskan resign. Lupakan cita-cita tinggal di luar negeri (niatnya memang tidak untuk sekadar jalan-jalan).

Kalau jalan-jalan fokusnya ya pasti beda dan yang kita tangkap juga pasti terbatas karena minimnya waktu. Kecuali jalan-jalannya benar-benar diniatin dan direncanakan dan dijalani dalam waktu yang tidak sebentar. Misalnya 3 bulan keliling Eropa bla bla bla. Pasti seru juga tuh ^_^. Tapi paling enak memang beasiswa sekolah, deh. Dibayarin soalnya hahahaha :p.

Tapi untuk adik-adikku yang lain, yang mungkin kini baru lulus kuliah dan baru mulai kerja, cicipilah kesempatan untuk tinggal di luar negeri :). Bukan untuk adu keren-keren-an. Untuk menimba pengalaman dan memperluas wawasan. Soal kualitas pendidikan, saya sih tidak terlalu menyembah-nyembah kurikulum negara lain.

Tapi…pengalaman hidupnya itu, lho. There are things that money can’t buy.

Sekarang … sudah ada internet ^_^.

Tanpa perlu berkoar-koar pun, dengan mudah kita memperoleh info berbagai macam beasiswa via internet. Kan ada juga yang seperti saya, maluuuu kalau mau tanya-tanya. Sudah tanya-tanya entar enggak dapat, ribet (atau tengsin) pula nerangin sana sini hihihihi.

Beasiswa terbaru yang lagi hits adalah LPDP. Beasiswanya juga agak istimewa dibanding yang lain karena kesempatannya dibuka 4 x dalam setahun. SEmentara umumnya beasiswa yang lain hanya 1 x dalam setahun. Daya jangkau dan daya tampungnya juga banyak, lho ^_^. Ceki-ceki ya di https://www.beasiswalpdp.org

LPDP

Thanks to internet (again), kehadiran blogger dari berbagai kalangan juga memudahkan kita untuk mempelajari pengalaman dan cara/tips/trik orang lain untuk mendapatkan beasiswa. Semudah memainkan jemari tangan di atas papan ketik. Mainkan google-nya, Kakaaaaa ^_^.

Tapi untuk yang sudah lulus dan bekerja dan ternyata gajinya tidak hanya untuk membeli bedak untuk diri sendiri (hihihihi) tapi juga harus memegang peranan sebagai tulang punggung keluarga–> pilihan untuk sekolah ke luar negeri tentu bukan pilihan yang bijak, santai saja ….

“Bila kau tidak mendapatkan apa yang kau inginkan, mungkin saja itu keberuntunganmu” ^_^.

Seperti saya yang sudah memasrahkan mimpi tinggal di luar negeri. Tuhan menjawab doa-doa di masa lampau itu melalui orang lain. Rezekinya justru datang via suami hehehe. Dua minggu setelah saya menyerahkan surat pengunduran diri di kantor, suami mendapat kabar gembira pertama kalinya dari luar negeri.

When it’s time, it’s time ;).

Namun, kalian yang masih muda dan segar, yang pilihannya masih terbentang luas di hadapan … kejarlah selagi ada kesempatan ;). Itulah sebagian fungsi positif internet dan media sosial :).

Saat kita berpikir kenapa ya akhir-akhir ini kok banyak berita kejahatan, apa berarti dulu enggak ada? Belum cencuuuuu. Dulu ada bahkan mungkin sama banyaknya, tapi dulu enggak ada internet yang bisa dengan cepat menyebarkannya hahahaha.

Macam dulu ibu saya selalu bernostalgia dengan foto-fotonya di tahun 70an dan selalu berkata fashion di tahun 70 an jauh lebih baik daripada fashion tahun 80 dan 90 an.

Sebagian kita, generasi 80/90 an kini merasa tahun kita jauh lebih keren daripada generasi milenium. Sejarah berulang :p.

Dulu pun ibu saya bilang enak juga ya jadi saya. Banyak pilihan sekolah. Untuk sekolah lintas pulau, dari Sulawesi ke Jawa pun, tidak se’sangar’ zaman dulu. Dunia pendidikan terus berkembang.

Termasuk saya juga yang kini berpendapat, “Enaknyaaaa generasi muda yang hidup di masa-masa jayanya internet.”

Siapa bilang, generasi sekarang tidak seberuntung kita dulu. Tiap zaman punya pertaruhannya masing-masing lah :). Semua kemudahan yang datang tinggal difokuskan pada manfaat positifnya saja.

Untuk ibu-ibu rumahan seperti saya, kehadiran internet malah terasa lebih banyak positifnya :D. Pendapat pribadi, ya ;).

Gambar : va-mom.com
Gambar : va-mom.com

Dunia terus berputar dan berubah. Ada harapan yang tercapai, ada yang memudar, ada yang datang belakangan, ada yang mungkin masih terus dikejar. Termasuk jika sudah berstatus ibu-ibu dan sudah punya anak, masih boleh kok untuk terus menerbitkan harapan-harapan dan keinginan untuk diri sendiri. Asalkan tahu prioritasnya saja ;).

“There is no real ending. It’s just the place where you stop the story.”
― Frank Herbert

Whether you really think about this or not … C’est la vie :).

Gambar : etsy.com
Gambar : etsy.com