Dulu, pernah ada semacam pertanyaan seperti ini, “Jika dunia mau kiamat, hanya ada kita seorang tersisa di dunia ini. Kita hanya diberikan satu perahu yang bisa kita tumpangi bersama satu hewan yang boleh kita bawa, maka hewan apa yang akan kalian pilih? Apakah burung, kuda, macan, atau kambing?”
Jawab cepat secara spontan :D.
Gambar : indochina.com
Konon pilihan kita menunjukkan prioritas kita dalam memandang kehidupan *tsaaaah*. Keempat binatang tersebut masing-masing melambangkan:
Kuda = karier/pekerjaan
Burung = harta kekayaan
Macan = harga diri
Kambing= kasih sayang
Tempo hari saya posting di wall FB, banyak yang bertanya, “Korelasi antara kambing dan kasih sayang apa, ya?”
Mari kita sesuaikan konteks ceritanya. Siapa sih yang mau bawa-bawa kambing yang susah dibawa-bawa dan ribet penanganannya itu? ;). Instead of menolong, malah kita yang harus ngangon kambing di situasi sulit begitu hehehehe.
Konon, di dunia nyata memang jarang orang yang milih KAMBING. Banyakan yang memilih BURUNG. BURUNG kan gampang, bisa terbang sendiri dan enggak perlu kita tuntun. KUDA bisa kita tunggangi dan MACAN tergolong hewan kuat yang bisa menjaga dirinya sendiri dan bisa menjaga kita juga. Begitu kira-kira filosofinya ^_^.
Burung yang juga melambangkan hal-hal yang mudah datang dan pergi semudah burung mengepakkan sayap. Ya itulah harta kekayaan alias uang ;).
Jangan serius-serius amat, sih hehehehe, Untuk iseng-iseng ajah ;).
Dalam kalendar Tionghoa, kita memasuki tahun baru, nih. Tahun Kambing :). Shio kelahiran saya :D.
Makanya, saya share cerita bersambung ini aja, deh, hihihihi. Again and again, mungkin banyak yang sudah pernah baca :p. Judul asli sebenarnya “Temanku Cina” :D. Tapi diganti dikit biar lebih ‘halus’ hehehehe.
Tahun baru Kambing. Merujuk di kisah awal yang saya share tadi, memilih membawa kambing dalam situasi genting melambangkan prioritas hidup kita terhadap kasih sayang :). Semoga, kasih sayang itulah yang akan lebih banyak menghiasi hari-hari ke depan kita semua.
Selamat tahun baru. Selamat Imlek buat kita semua. Gong xi fa chai, semoga kesejahteraan dilimpahkan kepada kita semua.
Super late post :D. Hahaha.
Ada apa sih menghilang sampai agak lama? Sebenarnya ini adalah kabar gembira, sih. Tapi nantilah dibahas kapan-kapan ;).
Pak Anies Baswedan bisa dikategorikan sebagai salah satu pahlawan perubahan saya di tahun 2014 kemarin ^_^.
Terpesona dengan usaha keras beliau menebarkan semangat untuk berubah, salah satunya dengan program “Indonesia Mengajar”, membuat saya tidak ragu-ragu ikut dalam barisan relawan, “Ayo Turun Tangan!”
Salah satu jargon beliau memang, “Ayo turun tangan, jangan hanya bisa urun angan.”
Aren’t we all like that? :D.
Angan-angan setinggi langit. Bermimpi jadi negara maju lah, mau punya perekonomian yang bisa mempengaruhi dunia lah, pengin disegani oleh asing lah, hendak ini lah menuntut itu lah, tapi hanya sebatas mimpi-mau-pengin-hendak-menuntut saja.
Kita sering sulit menempatkan diri sebagai bagian dari solusi. Parahnya lagi, enggan menjadi mata rantai solusi tapi paling getol nunjuk sana sini. Pokoknya yang salah dia, dia, dia dan mereka!
Kalau terus-terusan menganggap masalahnya di luar sana, lantas kita bisa apa coba? Memang menyenangkan sih, menyalahkan orang lain atau sesuatu di luar sana, di luar diri kita, membuat kita terlepas dari tanggung jawab apa pun. Ya iya dong, namanya juga cuma korban. Apalah daya dan upaya kita.
Sebagai umat muslim pun saya merasa tidak sedikit pihak muslim yang terlalu sering mengarahkan telunjuk ke luar. Selalu merasa menjadi korban. Untuk menyelesaikan masalah, yang “sana” yang harus berubah. Segala konspirasi ini lah, itu lah, media yang jahat lah, atau apa lah.
Selalu menghina media yang menyesatkan, padahal tidak pernah berkaca. Kalau urusan berita hoax yang dirasa menguntungkan pihak yang dibela, beuuuhhhh … ringan sekali jari jemarinya beraksi -_-.
Bila pelaku dari kalangannya, dibilangnya oknum. Kalau pelaku dari luar kelompoknya dianggap mewakili kelompok tersebut secara keseluruhan. Seolah keadilan hanya berlaku sepihak -_-.
Melihat ke dalam memang resikonya besar. Manakala kita berusaha memandang “diri sendiri”, dengan sendirinya kita mengambil alih pertanggungjawaban.
Bertanggung jawab pastilah berat dan menyulitkan. Tapi itu berarti kita mengambil alih kontrol ;). Bahwa ada sesuatu yang bisa kita lakukan. Bahwa sebenarnya kita bisa memercikkan api harapan tanpa perlu memusingkan hal-hal yang di luar kendali kita.
Respons orang lain, rencana orang lain, hasil di masa depan, memangnya bisa kita kontrol? :D.
Ini berlaku untuk masalah apa saja, kok. Dalam setiap hal-hal yang tidak terwujud, hal pertama yang harus kita lakukan adalah … ngaca! Berdiri di depan pantulan cermin dan nyanyi aja, “I’m starting with the man in the mirror…”
Sering-sering ngaca kadang bisa bikin kita narsis tapi ya hihihihi. Hasil berkacanya ya digunakan untuk mengukur diri bukan untuk dipamer-pamerkan ke orang lain ;).
“That’s how winning is done! Now if you know what you’re worth then go out and get what you’re worth. But ya gotta be willing to take the hits, and not pointing fingers saying you ain’t where you wanna be because of him, or her, or anybody! Cowards do that and that ain’t you! You’re better than that!” -Rocky Balboa-
Cowards do that and that ain’t us! ;).
“SESUNGGUHNYA ALLAH TIDAK AKAN MENGUBAH NASIB SUATU KAUM KECUALI KAUM ITU SENDIRI YANG MENGUBAH APA APA YANG PADA DIRI MEREKA ” QS 13:11
Mari ikut mengambil bagian dari perubahan dan turun tangan menjadi mata rantai sebuah solusi dalam hal apa pun menuju perbaikan yang lebih positif. Jadikan sebagai semangat tahun baru kita semua.
Kembali Menjadi Manusia. Setiap orang punya pengalaman spiritual sendiri-sendiri. Termasuk saya yang (ngakunya) beragama Islam ini :).
Saya selalu terpikir saya banyak dosa karena banyak sekali hal-hal yang (katanya) “Islam memang begitu” malah bikin saya jadi ingin menjauh. Suka terasa paradoks. Saat ada yang bilang, asal kata Islam itu adalah as salaam. Salaam bisa berarti kedamaian.
Nah, saya sempat punya pikiran, “Ya Allah, apa kotor benar hati ini. Kalau disuruh ikut acara pengajian kok malah kedamaian makin menjauh.”
Tetap sembahyang tetap puasa tetap mengaji. Karena apa? Ya karena takut. Hahahaha.
Saya pernah ada di masa-masa, “Ya sudahlah. Dipikirin juga tambah gila. Toh, intinya saya percaya pada Islam. Kalau ada yang salah, itu pasti saya. Pasti saya, saya, saya. Jadi, jalanin saja yang wajib-wajib itu. Cukup begitu.”
Karena kepo, maraknya internet bikin kekepoan seolah mendapat fasilitas hihihi. Di sebuah situs anti Islam, saya pernah membaca ada pernyataan, “Di alquran ada lebih dari 200 ayat yang menyuruh umatnya membunuh orang yang tidak sepaham.”
Langsung bete, dong. Saya cek beberapa. Ealah, benar! Jadi tambah takut. Itulah dodolnya. Jarang menyentuh alquran, jadi lupa kalau jumlah ayat itu ada lebih darii 6600 ayat. Kok saya tidak bertanya, kalau memang ada 200 an yang (katanya) menyuruh kita membunuh, terus 6000 ribu lebih lainnya isinya tentang apa?
Jujur, dulu takut mau baca-baca terjemahan. Katanya enggak boleh sembarangan baca alquran. Mending baca bahasa Arabnya saja. Padahal enggak mengerti bahasa Arab. Katanya lagi, kalau sering baca nanti jadi damai sendiri hatinya, biarpun enggak mengerti isinya.
Bingung saya. Kok bisa bikin damai padahal ngerti juga enggak. Hahaha. Tambah takut, deh. Alih-alih damai, malah makin bingung.
Dulu pun pernah, saya membaca buku apa gitu. Tidak ada sampulnya waktu tidak sengaja saya temukan di rumah kosan dulu. Kosan saya menyatu dengan rumah ibu kos. Ibu kos punya koleksi buku banyak banget. Saya bandel, suka gratakin isi laci atau isi kursi yang ternyata di bawahnya dijadikan tempat menyimpan buku.
Waduh, isinya bagus sekali. Yang saya ingat betul adalah tentang mencapai tingkatan tertinggi dalam beribadah. Beribadah karena cinta. Sekali itu baca buku agama yang enggak ada kata kafirnya seingat saya hihihihi. Hanya cinta, cinta, cinta.
Belakangan saya tahu, buku itu mungkin dikarang oleh salah satu pakar sufi :). Ternyata jargon “jika surga dan neraka itu tak pernah ada” adalah ajaran sufisme :). Di situ juga dibilang, ayat-ayat alquran itu indahnya jangan ditanya. Damainya tak terbantahkan.
Saya baca alquran + terjemahan. Masya Allah, ke mana saja selama ini? Isi alquran bagus begitu, super komplit, super sejuk, kok bisa-bisanya menjadi hal yang menakutkan? *getokKepalaSendiri*.
Tuhan kan katanya Maha Membolak-balikkan Hati. Lama berlalu, jarang lagi baca-baca yang model begitu. Malah makin pusing dengan banyaknya aliran yang tidak lagi banyak berbicara tentang cinta :(. Tapi lebih kepada rasa takut, takut, dan takut. Doa yang mengancam, doa yang meresahkan.
Harapan yang tidak menyemangati tapi melemahkan. Karena penyebabnya selalu ada di luar diri, di luar sana. Kita tidak berdaya karena kita sedang dan sepertinya akan selalu menjadi korban. Begitu yang saya rasakan, kita diancam-ancam. Padahal alquran ngisinya ngajak-ngajak ke arah ketenangan.
Yang lebih sering membahas, ini masuk surga, itu masuk neraka. Kalau begini masuk surga, kalau begitu masuk neraka. Gampang saja, ya. Saya jadi bingung itu katanya ada malaikat pencatat amal ya nganggur dong. Wong, ini sudah pada ahli begini :D. Enggak guna lagi yang namanya Hari Akhir, wong sekarang saja bisa ketahuan.
Hawanya beda benar dah huhuhuhu.
Belakangan saya baru tahu, ada yang namanya ilmu tasawuf. Tasawuf inilah yang mungkin menjembatani antara ibadah dan hikmah di baliknya :). Itulaaaahhh, kebanyakan baca gosip artis kauuuu, ilmu tasawuf aja baru-baru ini saja tahunya. Hahahahahaha.
Tahu dalam artian definitif. Dulu-dulu sudah sering bersentuhan dengan bacaan model begini. Cuma baru tahu kalau itu toh yang namanya tasawuf :p.
Saya pikir dulu saya ini saja yang hatinya mudah bercabang. Akidahnya kurang kuat. Imannya enggak bagus karena dikit-dikit nanya, dikit-dikit nanya. Kan katanya iman tidak perlu punya alasan.
Saya pikir dulunya begitu. Sudahlah, imani saja. Jangan banyak bacot. Damai gak damai, itu urusan pribadi masing-masing. Pokoknya gimana biar enggak masuk neraka aja lah, hahahahaha. Bodo amat sama orang lain, ini adalah tentang kita dan Tuhan. Titik.
Mungkin masalahnya itu tadi … kurang membaca. Kurang memperluas wawasan. Sempat terpikir, apakah ada ajaran-ajaran agama yang bisa membuat keimanan bertambah kuat, kecintaan kepada Ilahi semakin dalam, ketulusan dalam beribadah menanjak naik tanpa perlu membuat saya membenci siapa-siapa?
Ingin merasakan ketenangan. Hati yang rusuh ya mana bisa tenang. Kalau terlalu banyak prasangka yang menimbulkan rasa tidak berdaya, ingin melawan, ingin membasmi, ya damainya datang dari mana? Apa tidak bisa agama itu membuat kita jadi lebih percaya diri? Percaya diri yang tidak perlu berbanding lurus dengan besarnya rasa tidak suka kepada yang tidak seagama?
Tapi tetap bersyukur, saya merasa dijaga oleh Tuhan. Geer lo! Ya bisa jadi sih geer doang hahahahaha. Segalau-galaunya, alhamdulillah, belum pernah terpikir berganti keyakinan. Karena obat galau ya … berdoa ^_^. Yakin tidak yakin, selesai shalat saya selalu berdoa, “Apa pun itu, tetapkan di jalanMu ya Allah.”
Pokoknya saya selalu menganggap saya yang kurang ilmu kurang mencari kurang ini itu. AjaranNya sendiri ya pasti sempurna. Cuma, mungkin saya saja yang masih meraba-raba.
Terima kasih kepada Yang Maha Menjaga yang sudah mempertemukan saya dengan si Doni Febriando ini.
Maturnuwun atas bukunya ya, Mas ^_^. Sesuai dengan judul bukunya. Kembali menjadi manusia. Seperti itulah mungkin, yang saya alami sesaat setelah membaca halaman terakhirnya barusan :).
Tak salah memang, Islam itu damai. Rahmat bagi seluruh alam :).
Btw, sesuai dengan kata penulisnya, ini bukan buku agama. Iya, sih. Ini bukan buku agama ;). Yang non muslim pun sebaiknya ikut membaca. Tidak ada doktrin apa pun di dalamnya. Tak ada tuduhan tak ada tudingan. Bahasanya enak banget, Euy. Bahasa Arab pun yang umum-umum saja ^_^.
Barakallah, Mas Doni Febriando. Resensinya menyusul. Banyak banget rasanya yang pengin ditulis. Tapi sementara, sedang menikmati rasa sejuk yang mengalir tak henti-henti ini. Rasanya pengin langsung ambil air wudhu dan bersimpuh dalam-dalam di hadapanNya. Tidak lagi karena takut. Tapi lebih karena … cinta :). Insya Allah.
Tak sedikit yang mempertanyakan yang mempertanyakan, “Mengapa harga minyak dunia turun, Indonesia malah naikin?” :D.
Gambar : fokusjabar.com
Kalau dikatakan Indonesia termasuk negara yang mampu memproduksi minyak mentah yang cukup banyak di dunia. Itu benar. Kalau cek di wikipedia, Indonesia malah urutan ke-22 dari 115 negara. Not bad, huh? Not bad at all ;). Cek di https://en.wikipedia.org/wiki/List_of_countries_by_oil_production (LIST 1)
Satu yang kita suka lupa (termasuk saya kok hehehehe), itu adalah total minyak tanpa memperhatikan jumlah penduduk. Karena jangan lupa, penduduk Indonesia itu kini sudah mencapai di atas 250 juta jiwa. No.4 di dunia.
Bedakan dong dengan trio raja minyak (Emirat, Kuwait dan Arab Saudi). Cadangan minyak mereka masuk dalam 12 besar dunia dengan jumlah penduduk minimalis. Diantara ketiga negara tersebut Arab Saudi yang paling banyak jumlah penduduknya, mencapai 30 juta jiwa. Kuwait bahkan cuma punya penduduk 3 juta jiwa sajah! ^_^ –> https://en.wikipedia.org/wiki/List_of_countries_by_population (LIST 2)
Nah, ini ada data yang mungkin bisa menjelaskan maksud saya : daftar negara berdasarkan cadangan minyak PER KAPITA. Jadii data ini mempertimbangkan cadangan minyak yang dihasilkan negara per jumlah penduduk.
Tadinya, Kuwait yang hanya ada di urutan ke 11 dalam soal produksi minyak total malah naik ke posisi no.1. Ini tahun 2005 sih, mungkin ada data lain yang lebih baru :D. Tapi posisinya saya yakin tidak akan jauh menyimpang.
Rusia dan Amerika Serikat yang merajai produksi minyak dunia malah tidak ada apa-apanya kalau datanya dilihat dengan menambah parameter jumlah penduduk :p. Iyalah, Rusia dan Amerika Serikat, sama-sama ada di 10 besar negara dengan penduduk terbanyak di dunia :D.
Apalagi Indonesia ya Kakaaaa. Terpental jauh hahahahahaha. Bahkan kalah sama Brunei yang di list pertama ada di urutan 48, tapi begitu ngomongin jumlah minyak compare to jumlah penduduk, Brunei berjaya di urutan ke-8. Monggo di cek di list saya yang ke-2, berapa jumlah penduduk Brunei? ;).
Malaysia sendiri, secara produksi juga jauh di bawah Indonesia, tapi begitu di list terakhir (jumlah minyak dibandingkan jumlah penduduk), peringkatnya jauh di atas Indonesia :D.
Harusnya kalian malah heran, kenapa harga BBM kita sekarang enggak jauh beda dengan harga BBM Malaysia? Bayangkan, berapa dana APBN yang disedot untuk mensubsidi BBM di tanah air ;). Dengan kondisi pendapatan per kapita kita yang jauh di bawah Malaysia?
Perbandingan seru lainnya adalah Cina. China pendapatan perkapitanya belum setinggi Malaysia. Tapi Cina sudah menghapus subsidi BBM untuk rakyat. Harga BBM di sana sekitar 13 ribu rupiah. Kalau melihat di LIST no.3, China no.53, Indonesia no.51. Enggak jauh beda kan? ;).
Maklumlah bawa-bawa Cina, kemarin suami habis assignment di sana sebulan. Seru deh dengar cerita-ceritanya ^_^. Kapan-kapan saya tulis di wall ini yaaaaa :D.
Hal menarik lainnya adalah, di list no.3, di jajaran 10 besar ada … Kanada! Mungkin, satu-satunya negara yang menjual BBM nya dengan harga tidak murah. Bandingkan dengan negara-negara Timur Tengah yang mendominasi di 10 besar di LIST 3. Di Tim Teng, bensin murah cuy. Mau negara mana juga hehehehehe.
Sementara konon di Kanada, BBMnya dibandrol sekitar 1 USD per liter. Di atas 10 ribu rupiah! Kok begitu? Kanada kaya minyak lho. Selalu masuk 10 besar baik di LIST 1 maupun LIST 3 :D.
Tanya kenapa? :). Psstt, ada bisik-bisik, konon katanya Kanada malah menjual harga BBMnya di atas harga pasar. Yes, memang banyak negara maju yang malah mengenakan pajak untuk BBM yang terpakai. Macam di Irlandia sini, nih. Negara-negara Eropa umumnya menjual BBM jauh di atas harga pasar yang normal :D.
Kalian tahu Norwegia yang tempo hari dipuji-puji karena metode pendidikannya yang oke. Di sana harga minyak dunia konon termahal. Hampir 40 ribu rupiah per liter! Irlandia yang mematok BBM 28 ribu rupiah per liter masih kalah hahahahahaha :p. Amazingly karena Norway ada di urutan no.11 di LIST 3! Wow, way to go, Norway ^_^.
Isu kesadaran lingkungan juga menjadi salah satu faktor mahalnya BBM di negara-negara maju. Padahal menjaga lingkungan ada dalam alquran lho ya. Sebagai khalifah di dunia, manusia wajib bertanggungjawab atas polusi dan segala macam. Piye dong? Kok jadi lebih “saleh” mereka sih daripada kita? :p.
Harga BBM di suatu negara malah cenderung menunjukkan bahwa negara-negara maju biasanya akan “ogah” memberikan subsidi di sektor energi habis pakai macam minyak-minyak an ini :D. Sementara saya pernah merasakan, di negeri yang bensinnya hanya seribu rupiah per liter, tingkat kesejahteraan rakyat secara umum tidak sebahagia yang saya bayangkan :(.
Mungkin memang benar … there are things that money can’t buy ^_^.
Gambar : pinterest.com
Dan kalau kalian mau meracau soal harga BBM yang pastinya akan selaras dengan kesejahteraan masyarakat secara umum, kalian perlu melihat data-data lain yang bisa dengan mudah kalian akses di WIKIPEDIA hehehe. Tenang, di WIKIPEDIA selalu ada sourcenya yang bisa kalian trackback sesuka hati ^_^.
Jadi, yuk, sama-sama belajar ya ^_^. Lihatlah segalanya lebih dekat ;). Ini saran saja agar diskusi tidak lari-lari ke mana-mana hehehe.
Untuk suku Bugis di Kerajaan Bone, Arung Palakka dianggap sebagai pembebas. Apalagi di Bone, tak jarang ditemui patung-patung besar yang menggambarkan beliau sedang berdiri gagah bertelanjang dada. Memegang tombak panjang dan pandangan sangat menentang.
Arung Palakka, anak bangsawan Bugis yang harus menyaksikan bangsanya diperbudak oleh pemerintah kerajaan yang dipimpin oleh Makassar. Walau Arung Palakka dibesarkan oleh bangsawan Makassar secara terhormat bahkan dibekali pendidikan yang mumpuni, tidak mungkin darah Bugisnya tidak membara melihat perbudakan yang menimpa mayoritas keluarga dan rakyat kerajaannya.
Gambar : bonekab.go.id
Kalian jangan hanya memulai saat Arung Palakka berdiri di barisan yang sama dengan VOC untuk menghancurkan benteng pertahanan terbesar Nusantara yang terakhir di Timur Indonesia. Ingatlah, sebelum Arung Palakka melarikan diri dari Sulawesi, hatinya terluka melihat kerabatnya yang dulunya adalah bangsawan terhormat di tanah Bone dipaksa melakukan pekerjaan kasar oleh sang penjajah.
Saat itu rakyat Bugis banyak yang lari dan meninggal karena kerja paksa. Sehingga pihak Kerajaan Gowa mengharuskan kalangan bangsawan untuk menggantikan tugas tersebut.
Arung Palakka mengobarkan perlawanan pemuda Bugis. Kalah telak. Arung Palakka malu dan melarikan diri. Malu kenapa? Kami orang Bugis punya budaya yang namanya SIRI’. Pantang sekali melihat kaum kami dipermalukan tapi tak ada yang bisa dilakukan. Lebih baik mati. Begitu lebih terhormat.
Tapi Arung Palakka tidak memilih bunuh diri. Dia tidak mau mati begitu saja. Dia lari membawa sisa-sisa pasukan dan merantau ke Jawa dengan sebuah sumpah dalam hatinya, bahwa suatu hari akan dibebaskannya bangsanya yang tengah diperbudak. Whatever it takes!
Memang benar, Arung Palakka sudah membabi buta. Bersama gengnya, dia menjadi preman di pelabuhan-pelabuhan Batavia dan menarik perhatian petinggi VOC. Memang itu yang dia cari. Dia bahkan pernah membantu VOC mematahkan perlawanan orang-orang Minang di salah satu wilayah Sumatera Barat.
Arung Palakka mencari muka kepada pihak yang dianggap kuat untuk menjadi sekutunya nanti. Untuk menemaninya mengembangkan layar kembali ke tanah Sulawesi dan sekali lagi … bertempur untuk harga diri kaumnya! Menuntaskan rasa malu kala dulu gagal melepaskan mereka dari perbudakan.
Jangan dikira hepi-hepi saja perantauannya. Sempat Arung Palakka dan teman-temannya kena fitnah. Apalagi saat terjadi chaos di kepemimpinan VOC di Batavia. Kalau tidak salah, kedua sahabatnya terbunuh, sedangkan Arung Palakka berhasil merebut hati pemimpin VOC yang baru.
Singkat cerita, hari yang ditunggu-tunggunya datang juga. Sekian lama berusaha menunjukkan kesetiaannya pada VOC, pucuk dicinta ulam tiba. Akhirnya VOC meminta Arung Palakka dan pasukannnya bergabung dalam penyerbuan ke Pelabuhan Makassar yang dikuasai oleh Gowa-Tallo.
Begitulah hingga akhirnya perdagangan di perairan Timur Indonesia bisa jatuh ke tangan VOC. Salah Arung Palakka? Bisa jadi.
Gambar : indonesianhistorical.blogspot.com
Tapi mengganggu juga itu predikat pengkhianat. Karena siapa yang dikhianati? Saat itu wilayah Nusantara belum dipersatukan dalam wadah NKRI lho :P. Inga’, inga’ hehehehe.
Masing-masing kerajaan berdiri sendiri-sendiri. Jadi ini seharusnya bukan cerita pengkhianatan terhadap Republik Indonesia. Belum ada lho, Kakaaaaa :p. Republiknya berdiri setelah lebih dari 200 tahun kemudian.
Meraba-raba kejadian di masa lampau itu sepertinya bakal repot kalau hanya terus-terusan memandang dari satu sisi. Apalagi hanya sepotong yang sengaja kita tekankan demi tercapainya maksud/tujuan pribadi.
Heran saya, di wall teman ada yang berkomentar soal sejarah pengkhianatan di Kerajaan Makassar yang konon dikomandai oleh orang Bugis. Itu tidak salah. Tapi tolong, kalau melihat asap, diperhatikan juga apinya dari mana ;). Kalau hanya asapnya yang kalian kibas-kibasan kita akan luput melihat kenapa ada asap? Pemantik apinya juga harus diwaspadai.
Lagipula ini perseteruan antara 2 kerajaan besar yang kebetulan masing-masing berasal dari suku yang berbeda. Jangan lagi kalian berusaha percikkan api kebencian yang tidak penting. Karena puluhan tahun lalu, Bugis-Makassar hidup damai berdampingan di tanah Sulsel. Kita sudah MOVE ON, Cuy! ^_^.
Enggak tahu ya dengan kalian. tapi antara Bugis dan Makassar sekarang tuh sudah seperti saudara saja. Kalau pun ada friksi tidak pernah sampai mesti perang atau bunuh-bunuhan. We’re so over it ;).
Jangan melulu hanya melihat kelihaian Arung Palakka membabi buta dalam mencari sekutu. Itu karena dia seorang petarung. Hidupnya tidak hanya untuk memikirkan dirinya sendiri yang seharusnya sudah hidup enak dengan masa depan cerah karena kecerdasannya yang menonjol. Dia bahkan sudah diterima dengan baik oleh orang tua asuhnya yang keturunan bangsawan Makassar.
Tapi dia tidak pernah lupa, dalam darahnya itu mengalir darah Bugis. Darah yang sama yang ada di jantung orang-orang yang tengah terhina hidupnya akibat perbudakan semena-mena.
Pelajaran yang diambil kan banyak. Perbudakan itu hal yang terlarang. Sudah seharusnya kita menentangnya.
Buat yang muslim tentu tahu, sebagian besar dosa yang kita lakukan mungkin bisa terampuni jika kita melakukan 3 hal berdasarkan prioritas. Anda tahu redemption nomor 1 itu apa? Memerdekakan satu orang hamba sahaya. Kemudian jika tak sanggup memberi makan 60 orang anak yatim, dan terakhir berpuasa 2 bulan berturut-turut.
Memerdekakan hamba sahaya dan menyantuni anak yatim lebih dianjurkan daripada berpuasa 2 bulan berturut-turut. Rahmatan lil aalamiin ;).
Dari sisi Arung Palakka juga ya banyak korsletnya :p. Jangan menghalalkan segala cara. Karena pada akhirnya ada yang namanya karma. Konon, saat sudah memimpin di Sulawesi, banyak petinggi-petinggi kerajaan yang bete dan menentang keras karena Arung Palakka loyal banget sama VOC. Selalu ikut bertempur dan membantu. Itu karena “utang” yang harus dibayarnya atas “jalan pintas” yang dipilihnya.
See? Kalau kalian lihat lebih tuntas dan lebih komplit, kalian akan tahu karakter orang itu tidak statis. Orang yang mungkin by default luhur budinya suatu hari bisa kena ujian dengan situasi dan kondisi yang sulit. Tidak itu namanya orang yang jahat sejak lahir kecuali kelainan genetik tertentu (which is very rare) yang pernah saya pelajari dulu saat SMA. Tidak karena dia lapar lalu dia mencuri maka dia adalah orang yang hina luar biasa. Tengok dulu, kenapa dia lapar, siapa yang membuat dia lapar bla bla bla.
Gambar : trashware.eu
Kita tidak sedang melakukan pembenaran tapi kita lebih baik memilih untuk tidak menghakimi. Tidak menghakimi itu sulit kalau kita tidak tahu persoalannya secara utuh. Untuk mengetahui secara utuh butuh waktu dan baca, baca, dan “baca” ;). Maka dari itu, tempo hari di status saya menuliskan kalimat dari seorang teman bahwa “Untuk mengkritik kita perlu ilmu…maka belajarlah” :).
Saya tidak suka, untuk menyerang orang-orang yang mereka benci, mereka membawa-bawa masa lalu dan bertindak seperti Hakim dengan seenak jidat melabeli siapa yang jahat siapa yang berkhianat. Al Hakim, Yang Mahabijaksana, itu sifat Sang Maha Esa, bukan ranah manusia biasa seperti kita ;).
Sejarah bukan untuk mengungkit-ngungkit kebencian untuk menakut-nakuti orang lain untuk mengkhawatirkan masa depan. Sejarah penting untuk penentuan masa depan. Jangan membaca sejarah dengan penuh kebencian apalagi memang sengaja untuk nyari-nyari salah. Satu, itu sia-sia. There’s nothing you can do about it now ;). Dua, untungnya apa coba?
Sejarah itu penentu masa depan. Hanya dan hanya kalau kita bisa petik pelajarannya tanpa perlu pusing memikirkan, “Ya Allah si anu jahat bener ya. Aduh ada ya orang sekejam itu.”
Sudah kau baca masa kecilnya Hitler, what he had gone thru. What he had seen. Napoleon Bonaparte? Lenin? Mengapa komunisme ada? Siapa Stalin? Dengan cara apa yang dibesarkan? Apa yang dialaminya? Di masa apa dia hidup? Bagaimana perputaran dunia saat itu?
Hati hanya akan rusuh dan rusuh kalau niatnya tidak untuk mencari kebaikan.
Dirahasiakannya masa depan itu bukan untuk petantang petenteng tebar-tebar ayat untuk mengancam orang-orang yang enggak sejalan, mengancam-ancam akan makin dekatnya hari akhir? Karena apa yang kalian mau tidak terwujud kalian ancam orang lain yang tidak sejalan? Bahwa hidup akan suram karena yang kalian inginkan tidak tercapai?
Setahu saya, di alquran tertulis jelas, bahkan Rasulullah pun berkali-kali menerangkan kepada kaum yang menentang bahwa Rasulullah sekali pun tidak tahu masalah gaib yang satu ini. 100% rahasia Allah. KetentuanNya semata. Bukan ranah manusia :).
Tugas kita ya terus mengingatkan untuk hal-hal yang baik, bukan mengancam-ngancam, sok-sok meramal masa depan. Bagus kalau ramalannya enak dibaca, lah ini, diramalnya kita bakal hancur -_-. Anu, anu, anu.
Kok senangnya mengutuk-ngutuk orang sih?
Sebuah kalimat teduh yang saya unduh via Google ini mungkin bisa menjadi penyejuk bagi kita semua. Bagaimana sebenarnya rahasia masa depan itu ^_^.
Gambar : notegraphy.com
Apakah kalau kita sudah melakukan semua itu maka dunia akan berputar sesuai niat baik kita? Ya belum tentu. Penentunya kan Yang Mahakuasa, Maha Menguasai masa depan. Situ Mahakuasa bukan? :p
“God never requires us to succeed. He only requires that we try.” -Bunda Theresa-
Just try! Cobalah lebih banyak berprasangka baik. Tidak takut ya kau ramal buruk bangsamu sendiri. You’re part of us, aren’t you? ;).
Saat galau saat cemas, jika begitu sulit untuk “membaca” maka berdoalah. Berdoa yang baik-baik.
So what’s the secret of the future? Choose happiness over suffering. Always :).