Singaparna, Toko Kelontong Khas Indonesia di Jeddah

Bernostalgia dengan Singaparna dulu, nih. Toko kelontong khas Indonesia di Jeddah yang letaknya di distrik Sharafiyah. Distrik ini, bersama dengan Distrik Bagdadiyah, memang terkenal sebagai “markas”nya orang-orang Indonesia hehehe. Pemukim asal Indonesia banyak yang tinggal di wilayah-wilayah ini.

Enggak heran kalau di Sharafiyah dan Bagdadiyah adalah lokasi paling tepat untuk menemukan toko-toko khas Indonesia. Termasuk si Singapurna nan hits :D.

Siapa sih para mama asal Indonesia yang bermukim di Jeddah yang tidak pernah mampir ke toko satu ini?Singaparna menjual bumbu-bumbu dapur khas Indonesia seperti lengkuas, kluwek, daun jeruk, jeruk limau, tahu-tempe, bakso, bumbu pecel, dsb.

Lengkap loh soal bumbu-bumbu an ini di Jeddah. Saking banyaknya pendatang asal Indonesia kali yah, sampai-sampai jengkol pun bukan barang langka di Jeddah :P. Pernah ditawarin oncom juga. Duh, saya enggak paham oncom dimasak apa, belum ngerti combro waktu itu hihihi.

Di Texas pun tidak sulit menemukan bumbu-bumbu khas Indonesia. Apalagi kalau ke Ranch Market 99 di kota Plano tuh. Lengkap banget rasanya ;). Yang agak challenging itu ya di Teheran sama di Ireland. Di ibukota Dublin pun belum tentu selengkap yang di Texas atau di Jeddah.

Toko Singaparna sendiri letaknya di distrik Sharafiyah. Malah Singaparna membuka 2 gerai sekaligus di satu ruas jalan yang sama di Sharafiyah ini. Maklum aja, seperti saya bilang di awal. Sharafiyah ini ibarat base-camp nya para warga asal Indonesia. Tidak sulit menemukan orang-orang Indonesia yang bermukim di distrik ini.

Malah saking terkenalnya, Singaparna sering menjadi meeting point buat ketemuan dengan sesama teman yang kebetulan lagi tinggal di Jeddah juga. Saya misalnya, waktu itu janjian dengan teman yang baru datang dari Jakarta.

Suami teman saya sudah datang duluan dan tinggal di Jeddah. Tempat yang sama-sama kita tahu persis cuma Singaparna itu. Jadinya janjian bertemu pertama kali di Jeddah ya di sana :D. Hai Ibun Dian, ingatkah pertemuan kita yang pertama itu? Hihihi.

Toko ini tidak hanya menjual bumbu-bumbu khas indonesia saja kok. Singaparna juga menjual aneka snack lokal khas Saudi, bumbu-bumbu dapur khas filipina juga ada, bumbu-bumbu dapur umum juga ada di sini.

Bisa pula  didapatkan barang-barang lain khas indonesia seperti minyak telon, lotion merk ‘Citra’, produk-produk lulur, shampoo merk lokal Indonesia, macem-macem deh, balsem cap kaki 3 pun ada :p.

Nemu booo foto singaparna di https://www.aksesdeplu.com hihihihi.

Nih kayak gini suasana di kasirnya, dulu waktu saya masih di sana pun masih persis kaya gini :D, termasuk si mas-mas penjaga kasirnya masih yg iniiii :D.

Kalau pagi biasanya jualan jajanan khas Indonesia juga loh, seperti aneka gorengan (tahu isi, risoles, dll), nasi kuning + lauk, nasi uduk, somay, ketoprak, martabak, dan lain-lain.

Biasanya konsumen di pagi hari rata-rata para bujang yang kebetulan enggak bawa istri maupun yang bujang beneran alias belum punya istri. Lumayan kan buat sarapan tanpa perlu repot.

Harganya pun oke punya. Contohnya : satu paket nasi kuning komplit (lauknya sepotong daging, setengah telor rebus, tahu balado) bisa didapatkan dengan harga 3 sr saja (sr = saudi riyal), kalau dirupiahkan kira-kira 7 rb perak! Enggak mahal-mahal amat kaaannnn ;). Ini harga tahun 2011 sih, entah sekarang sudah naik apa belum.

Tapi ya gitu deh, karena segala kemudahan itulah, jadi males banget masuk dapur pas di Jeddah hehehe.

Islam, Arab Saudi, dan Hal-hal yang Tidak Bisa Dibeli Dengan Uang :)

Lagi hangat-hangatnya soal kedatangan Raja Salman ke Indonesia 2017, sungguh sulit untuk menahan diri tidak eksis, yes? Hahaha. Kabar dunia Islam.

Kayaknya sudah banyak yang saya tulis terkait pengalaman tinggal di Kota Jeddah selama 2.5 tahun kemarin. Di buku, di blog, dan di Facebook tentunya .

Uniknya, 2 tulisan paling hits di blog yang terkait Arab Saudi itu saling bertolak belakang : “How Islamic are Islamic Countries?” dan “10 Keuntungan Tinggal di Arab Saudi”. Ya memang isinya bagaikan bumi dan langit ya hahaha.

Di tulisan HIAIC misalnya dapat segabruk-gabruk komentar, “Kok sinis banget sama Arab Saudi dan Islam?”

Historic District. Foto : Dani Rosyadi

Tulisan 10 KTDAS sih cenderung aman. Hingga suatu hari ada yang komentar, “Dasar onta!” di fanpage pas ngeshare tulisan itu hahaha. Terkait tulisan ini pula jadi sering mendapat email/inbox semacam ini, “Bagaimana caranya agar saya pindah ke Mekkah atau Madinah ya Mbak? Tolong diberitahu caranya. Saya sekeluarga ingin khusnul khatimah di sana.”

Walah, bingung ya jawabnya . Makanya, saya tidak pernah reply pesan-pesan model begini. Mohon maaf, ya *sungkem*.

Saya rasa di sinilah salah satu persoalannya. Buat sebagian umat muslim, Arab Saudi itu dianggap sebagai representasi ajaran Islam. Kalau ngomongin orang Saudi mungkin bayanginnya selevel Rasulullah dan sahabat ya hehehe.

Sementara di kutub satunya lagi, kayaknya alergi banget sama Arab Saudi. Tapi bisa jadi kutub ini muncul justru karena adanya orang-orang yang saya ceritakan di paragraf sebelumnya .

fotografer Dani Rosyadi Masjid Apung
Masjid Apung, Jeddah-Arab Saudi, fotografer : Dani Rosyadi

Untuk “kaum pemuja Saudi”, sedikit saja kita mengkritik atau melontarkan hal-hal yang di luar ekspektasi mereka, entah mengapa langsung dicap “anti Islam”, “pembenci agama” bla bla bla. Pusing kan?

Malah saya pernah mendapat komentar, “Sok tahu lo! Kayak pernah tinggal di sana aja!!!” Well, heloooooooo … hahaha .

Tapi 2 buku saya, “Bunda of Arabia” dan “Memoar of Jeddah : How Can I not Love Jeddah?” itu dua-duanya menceritakan sisi positif selama tinggal di Kota Jeddah, lho .

Jadi begini, buat saya pribadi bersama keluarga inti saya, tinggal di Jeddah ya memang menyenangkan kok . Gaji gede yang menyebabkan biaya hidup jadi relatif “murah” .

Kayaknya kota-kota besar di Saudi ini dirancang untuk dinikmati oleh “kalangan berada” 😉. Kalau banyak uang ya pasti hepi lah hahaha. Harga mobil + bensin murah, listrik + sembako dan segala macam disubsidi.

Makan di resto tergolong murah. Belanja ke mana-mana serba dilayani. Itu karena kehidupan kaum berada di Saudi ditopang oleh adanya “warga kelas dua”. Siapa mereka? Ya orang-orang di sektor informal yang gajinya jauuuuuhhh di bawah pekerja formal .

Makan di resto di Eropa tergolong mahal lebih karena ada “jasa manusia” tambahan yang dibutuhkan. Man-hour di negara-negara welfare state memang cukup “adil” untuk level informal sekali pun .

Bagaimana dengan di Saudi?

Enak, sih hahaha. Dulu tuh ya, buang sampah saja tinggal bayar 50 riyal sebulan, sampah diangkutan sama Haris (pekerja apartemen). Tinggal taruh saja depan pintu. Nanti Haris keliling mungutin kantong sampah dari lantai 1 sampai 6. Plus 100 riyal sebulan, mobil dicuciin sampai kinclong sama Haris hampir setiap hari .

Mana bisaaaa lo bayar jasa orang segitu di Eropa .

Fore Abbey – Ireland <3

Hal-hal inilah yang saya bahas di tulisan “How Islamic are Islamic Countries?” Karena keadilan sosial adalah salah satu napas utama dalam ajaran Islam di kehidupan bermasyarakat .

Itu baru ngomongin kesenjangan sosial. Belum ngomongin gaya hidup lainnnya .

Aturan-aturan khusus di Arab Saudi juga sering disorot oleh dunia internasional sebagai aturan Islam. Umumnya oleh kalangan non muslim. Oleh beberapa teman India di Ireland misalnya, saya ditanya, “Eh, kenapa sih di agama Islam perempuan dilarang menyetir?”

So pasti saya tegaskan, kalau aturan itu khusus di Arab Saudi saja. Bahkan di negara-negara Timur Tengah lain yang mayoritas muslim, tidak ada aturan seperti itu .

Sorotan lain adalah aturan bahwa di Saudi tidak boleh mendirikan rumah ibadah selain rumah ibadah umat muslim. Saya selalu tekankan bahwa itu BUKAN aturan Islam. Banyak juga lho komentar di forum-forum agama yang menuduh, “Islam sih mana bisa hidup damai dengan agama lain. Mereka punya berbagai aturan diskriminatif.”

Irlandia *loved*

Sayangnya, kalangan muslim sendiri memang banyak yang memimpikan hidup “Islami” ala Arab Saudi. Untuk teman-teman non muslim dari negara lain, saya rajin lho mempromosikan Indonesia dan Malaysia sebagai dua negara mayoritas muslim yang punya “cita rasa” berbeda dengan Timur Tengah hehehe.

Cadangan minyak yang dahsyat ikut menyokong perekonomian Kerajaan Arab Saudi . Hal ini yang sering diabaikan hingga mendatangkan komentar seperti, “Saudi kaya itu karena berkah dari Allah sebagai negara suci.”

Ngggg…yang ada itu kota suci kali yaaaaa, Mekkah dan Madinah. Negara suci emang ada? .

Pendapatan tertinggi Kerajaan Saudi memang didominasi oleh ekspor minyak terkait posisi Saudi sebagai negara kedua penghasil minyak terbesar di dunia. Menghasilkan minyak terbanyak tidak selalu berbanding lurus dengan peningkatan kehidupan masyarakat.

Karena nomor satu itu Venezuela lho . Toh buktinya Venezuela gagal menghalau korupsi hingga tumbang begitu cepat saat harga minyak dunia berguncang.

Berbeda dengan Kerajaan Saudi. Saudi cukup piawai mengolah kelebihan minyak mereka . Dengan cerdas, Saudi sukses berkolaborasi dengan negara-negara teknologi maju dan mengolah cadangan minyak yang menguntungkan bagi berbagai pihak.

Padang Badr (The Badr Sand Dune), Arab Saudi

Saudi tergolong negara yang paling efisien dalam mengelola minyak . Biaya cukup kecil untuk kualitas yang bagus. Saudi pandai memilih teman bisnis tanpa harus merendahkan diri sebegitu rupa. Yup, temenan sama Amerika Serikat dalam mengelola minyak itu sudah lama. Kita tahu sendiri negeri adidaya ini punya keunggulan teknologi dan pengalaman bisnis yang caem .

Kasus Saudi mungkin bisa dipetakan terhadap kisruh Freeport. Jangan saya atuhlah yang bahas. Malu sama daster hahaha .

Sektor migas menyumbangkan sekitar 70% dari total penerimaan Kerajaan Saudi. Sudah rahasia umum, dengan kondisi harga minyak yang gonjang ganjing beberapa tahun terakhir, perekonomian Saudi pasti terkena imbasnya.

Internal Saudi sendiri sudah banyak berbenah kok. Pencabutan subsidi dari berbagai bahan pokok dan listrik sudah mulai ditarik. Sebentar lagi mungkin akan ada aturan penarikan pajak penghasilan. Banyak proyek infrastruktur yang ngadat. Tidak sedikit perusahaan yang bermasalah dengan gaji karyawannya.

Tenaga kerja Indonesia di sektor konstruksi juga sudah mulai banyak yang pulang sejak setahun terakhir. Gaji macet. Bukan hanya pekerja informal. Ekspat-ekspat di sana, yang selevel manajer segala macam banyak yang ketar ketir menunggu pembayaran yang belum kunjung selesai. Itu fakta .

Pantai Thuwal, Saudi 🙂

Tapi seberapa jatuhkah ekonomi Saudi? Nah ini yang harus hati-hati melihatnya. Karena Saudi sendiri MEMANG TAJIR beneran hehehe. Kalau enggak salah, rasio utang terhadap GDP juga tergolong rendah .

Selama ini, Saudi juga tergolong “bersih” dalam pengelolaan keuangan negara. Cek di data Indeks Persepsi Korupsi (IPK) tahun 2015, Saudi cukup bagus di angka 52. Negara-negara yang IPKnya di atas 50 dianggap “Bagus” . Mumtaz! Hehehe .

Sejak tahun 2016, pemerintah Saudi juga mengeluarkan komitmen untuk melepaskan diri dari ketergantungan Sumber Daya Migas dan mulai menggarap sektor lain. Mungkin terkait hal itu juga, sekarang Raja Salman beserta tim aktif bertandang ke mana-mana .

Tentu kita berharap Indonesia bisa menjadi salah satu tempat berlabuh untuk urusan investasi Sang Raja ya . Aamiin.

Jangan sampai kita lebay tidak jelas juga. Baru juga rencana sudah hebohknya kayak apa hahaha. Ingat lho, RENCANA. Belum benar-benar kejadian.

Jangan sampai kita malah dengan nyinyirnya membandingkan RENCANA ini dengan realisasi investasi yang sudah masuk dari negara-negara lain, termasuk China yang entah kenapa sangat dibenci sekarang ini . China dan negara lain SUDAH investasi, sementara Arab Saudi baru RENCANA, wooooiiiii .

Kabar dunia Islam
Padang Bahrah, Arab Saudi

Tentu kita berharap baik Arab Saudi maupun China atau negara-negara besar lainnya beramai-ramai berinvestasi di Indonesia. Enggak usah dikait-kaitin melulu sama agama dan konspirasi kenapa sih?

Kok malah dijadikan bahan beranteman baru? *pijetKening*.

Ah ya, untuk pertanyaan, “Mengapa hengkang dari Kota Jeddah padahal katanya gajinya gede bla bla bla?”

There are things that money can’t buy dong ya . Hidup ini tidak melulu soal bahan pokok harus murah, harus punya mobil bagus bla bla bla, punya koleksi barang mahal endebre-endebre, gaji tanpa pajak dst dst.

Ada lebih banyak hal yang ternyata tidak bisa dibeli uang. Tidak ada hubungannya dengan harga-harga . Nah, yang begitu-begitu itu yang bisa saya dapatkan dari pengalaman hidup di Irlandia Walaupun pajaknya terekdungces, harga barang gak semurah di Saudi, harga bensin juga ngek ngok. But I do love living in Ireland .

Walau tentu tetap banyak yang bisa dikeluhkan dari Ireland :p. Tidak ada tempat yang sempurna kalau masih level hidup di dunia, yes? 😉

Saya juga tidak tahu pasti mengapa hal-hal yang saya yakini adalah ajaran-ajaran utama dalam agama saya justru bisa saya rasakan efeknya di negara se”kafir” Irlandia hahaha .

Ring of Kerry Ireland by Dani Rosyadi
Irlandia, pic by : Dani Rosyadi

Remember, there are things that money can’t buy. Termasuk bisa terus berada dekat dengan keluarga tercinta, sesuatu yang menjadi dilema terbesar bagi perantau seperti kami-kami ini .

We Found Love in A Hopeless Place

 Baru-baru ini salah satu teman suami pindah kerja. Pindah negara juga. It’s a bit special karena saya jadinya ngikutin timeline (istri)nya dan serasa ikut bernostalgia melihat mereka sibuk ngepak barang buat dikirim kembali ke Jakarta :D.

Spesialnya lagi, mereka sekeluarga tinggal di apartemen yang sama dengan kami saat kami masih di Jeddah dulu hihihi.

Serba kebetulan. Sama-sama penghuni Mushrifah lantai 6 nomor sekian-sekian. Sama-sama hengkang ke Eropa dari sana.

Foto di apartemen Mushrifah - Jeddah, 2012.
Foto di apartemen Mushrifah – Jeddah, 2012

 

I believe what she (and perhaps her family) felt was quite the same with the one I had back then, more than 3 years ago.

Bedanya dia (dan mungkin mayoritas teman saya di sana yang juga pindah) dengan saya adalah saat packing-packing barang.

Kalau mereka rata-rata pusing dengan banyaknya barang. Saya malah cemas karena barang saya dikit banget! Hahaha.

Awalnya galau karena kalau dibawa sendiri ya overweight tapi kalau dikirim via kargo ada angka minimal. Akhirnya diputuskan untuk membabi buta beli oleh-oleh hihihi.

 

This one funny thing, waktu akhir-akhir ada teman yang mungkin baru pertama datang ke apartemen saya ngomong gini, “Rumahmu udah kosong aja, Mbak? Barang-barang sudah dikirim separuh ya?”

Duh, gimana jawabnya ya. Karena saat itu belum satu pun barang saya sentuh buat diberesin! Hahahaha.

Monumen @Corniche Jeddah. Foto : Dani Rosyadi
Monumen @Corniche Jeddah.

 

Di apartemen Jeddah, paling berkesan adalah ruang tengah. Karena dibiarkan kosong melompong. Gorden pun ogah saya pasang. Karena saya senang kalau cahaya matahari menembus masuk tanpa penghalang sedikit pun.

Suasana di Saudi sungguh berbeda dengan tanah air. Serba tertutup. Jangankan interaksi sehari-hari, bahkan kaca jendela apartemen pun rata-rata dibikin buram! -_-.

Ya tidak ada pemandangan juga sih yang dilihat. Tapi menurut suami itu karena privasi hal yang sangat penting di Saudi. Jadi, jendela pun dibuat seperti itu.

Saya ingat, hari pertama mendarat di Jeddah. Optimis banget rasanya. Karena modal pernah tinggal di Teheran. Dulu kan sebelum ke Teheran juga saya takut tapi malah keren banget kotanya. Nah, harapan saya ke Jeddah juga sama.

Unfortunately, baru masuk apartemen, saya sudah tercekat sendiri.

Apartemennya terbagi dari banyak sekali ruangan. Bahkan dapur pun dikasih pintu khusus. Di Teheran dulu apartemennya bagus banget dan dapurnya model bar gitu. Jadi tembus sampai ke ruang tengah.

Di Teheran, ruang tengah punya jendela kaca raksasa. Modelnya seperti kaca rayban. Jadi kita leluasa melihat ke luar tapi yang di luar enggak bisa lihat ke dalam.

Pemandangan cantik dari pegunungan yang mengelilingi Teheran yang masih menyisakan sisa-sisa salju musim dingin bikin saya geer, “Alhamdulillah akhirnya lihat salju”. Dari jarak ratusan meter!! hahaha :p.

Apartemen Mushrifah-Jeddah, alamak! Penuh dinding. Padahal apartemennya lumayan luas, lho. Tapi ya gitu, dinding-dinding-dinding membatasi semua ruangan dalam rumah.

Jendelanya kecil-kecil, buram pula.

Saya tidak tega mau mengeluh ngeliat suami asyik peluk-pelukan dengan anak sulung (anak masih satu waktu itu). It took him almost 1 year untuk membawa saya dan anak saya ke Jeddah. Setengah mati mengurus surat dan visa agar kami berkumpul kembali.

Iya gitu hari pertama kita cekikikan bertiga dalam kamar, finally together again, saya malah mengeluh, “Apartemennya cupu amat” :'(.

Saya pikir mensugesti diri sendiri salah satu cara tepat untuk mudah beradaptasi. Saya pun menulis di notes di FB di blog (waktu itu masih multiply) betapa optimisnya saya dengan hari-hari baru di Jeddah hihihi. Tidak saya hapus kok sampai sekarang hahaha.

Akhirnya pun fokus mau punya anak lagi. Which is sebulan kemudian memang langsung hamil lagi ;). I kept talking to my self, “Happy, happy, happy as a hippo!” :D.

That magic really works ^_^ *tepukTangan*.

Perempuan Indonesia di Arab Saudi
Berakhir pekan di Corniche Road, Jeddah ^_^

 

Tinggal di rantau jadi ketemu banyak teman baru. Walau jujur, pertama kenal banyak korslet, namanya juga adaptasi. Di masa sekolah, kuliah, dan bekerja, pergaulan saya lebih homogen. Nah di Jeddah ketemu macam-macam teman dengan berbagai latar belakang.

Kan gengges juga yak hahahaha. Mau “humble” kok ya saya merasa direndahkan. Mau nyolot kok ya saya enggak tega sendiri karena ya gitu lah. I can’t be too detail.

Suami nih yang berperan banyak membuat saya lebih “dewasa” dalam urusan pertemanan. Dia yang memberi banyak masukan dan menyadarkan saya, “Emang situ oke? Sok-sok an menuntut orang lain begini begitu ya coba ngaca ke diri sendiri deh!”

Lama-lama … voila! Beberapa sahabat terbaik dan terdekat saya sampai sekarang ya mamak-mamak Jeddah ituuuu hahahaha.

 

my angels jeddah

Having many good new and great friends melahirkan semangat positif yang lain. Saya sebenarnya anak rumahan banget. Tapi senang di rumah vs terkurung dalam rumah itu 2 hal yang berbeda  huhuhu.

Jadi saya berusaha menciptakan kesibukan baru yang bisa saya nikmati sembari dalam rumah. Ketimbang terus-terusan melihat ke arah jendela yang ada malah tambah stres hahahaha.

That’s how I found blog Mama Sejagat dan blog Cerita Jeddah. Keduanya menjadi blog serius saya yang pertama. Dan saya buat dalam bentuk komunitas blog biar isinya ramai dan saya bisa sibuk lebih lama dan tidak ada waktu mengeluhkan yang sebenarnya tidak perlu dikeluhkan.

Di awal-awal Mama Sejagat saya bisa membuat 32 postingan dalam satu bulan! Hahaha. Cerita Jeddah datang, makin menggila *ngakak*.

And that’s how I realized how I really LOVE writing. Ke mana aja gue? :p.

Di Jeddah bikin buku pertama kali. Sesuatu yang selama ini tidak pernah terpikirkan lagi. Waktu kecil sih memang doyan menulis tapi kan tidak sejauh itu sampai terpikir mau punya buku segala. Diari aja mah modalnya dan beberapa fiksi di atas berlembar-lembar kertas dan buku buat iseng-iseng.

Awalnya sempat terpikir, mau jadi apa ya tinggal di Jeddah? Apalagi sebelum pindah saya sudah berniat melanjutkan S2 dan mendaftar di almamater saya dulu. Sudah ikut tes dan diterima. Tapi ya masa mau jauh-jauhan terus dengan suami? Toh situasi saya tidak mendesak?

Sudah saya pasrahkan dan saya pikir yang penting tidak stres aja dah hehe. Boro-boro stres, ternyata banyak hal-hal terbaik dan pencapaian yang tercipta justru saat saya tinggal di Jeddah.

Makanya balik ke ruang tengah tadi. Kalian pasti sudah lupa deh :p. Ayok, scroll up, scroll up hahaha. Di ruang tengah ini yang ada hanya sebuah kursi + meja kecil tempat saya meletakkan laptop di atasnya.

Letaknya dekat dengan pintu dapur. Jadi, sambil masak bisa ketak ketik. No wonder, suami saya selalu nyinyirin keyboard laptop saya yang penuh cipratan bumbu dapur dan minyak :p. Sampai sekarang! Hahaha.

Anak ganteng di Masjid paling keren sedunia <3
Anak ganteng di Masjid paling keren sedunia <3. #1stBoy

 

“Hopeless”, salah satu hal yang terlintas dalam pikiran sejak pertama tinggal di Jeddah.

Tapi Mbak Rihanna seolah mengingatkan saya dengan salah satu lirik lagunya yang berulang-ulang, “We found love in a hopeless place”

Indeed, we can always find love even in a “hopeless” place <3.

“Happiness can be found even in the darkest of times, if one only remembers to turn on the light.” -Dumbledore-

Tapiiiiiii … buat nyalain lampu di “rumah” yang baru kadang-kadang perlu waktu kan ya untuk menemukan “saklar”nya di mana ;). It’s not always easy to get in the mood. But it’s ok, as long as we DO not forget to TURN ON THE LIGHT.

How’s your Monday, Peeps? Have you turned on the light? ^_^

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

***

vaksin haji

Vaksin Haji : Vaksin Meningitis Untuk Jemaah Haji di Arab Saudi

Naik haji juga perlu vaksin. Vaksin haji yang paling populer itu vaksin meningitis.

Sebelumnya, saya cuma ingin bilang kalau saya bukan aktivis pro-vaksinasi. Anak-anak saya sih divaksin semua tapi saya merasa enggak perlu ngurusin orang-orang yang anti-vaksinasi. Suka-suka ente la yaowww hehehe.

Nah, kemarin ada teman yang inbox langsung ke saya. Intinya dia bertanya, ada berita kalau katanya kewajiban untuk vaksinasi / vaksin haji bagi jemaah haji/umrah bukan datang dari pemerintah Saudi. Ada pun katanya (lagi) pemerintah Saudi malah tidak membuat peraturan semacam itu. Maka dari itu, biarpun sebenarnya enggan ya, mau tak mau ‘KEBOHONGAN’ macam ini masa didiamkan begitu saja?

Vaksin Haji Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

Saya sudah ditunjukkan status tentang berita ini di sebuah gruup kalau tidak salah. Sudah saya beri komentar langsung di sana. Tapi kok ya masih banyak yang nanya-nanya :D. Berasa artis kan gue? :p

***

Saya  pernah tinggal di Jeddah selama 30 bulan. Alhamdulillah di tahun 2012 lalu, diberi kesempatan untuk naik haji bersama suami dan anak bungsu kami melalui biro haji (hamla) lokal Saudi.

Baca : What’s Your Hajj Story? (Naik Haji via Jeddah) 

Hamla kami jelas bukan kepunyaan orang Indonesia. Di hamla ini, SEMUA calon jemaah haji WAJIB menyerahkan surat bukti bahwa calon jemaah bersangkutan TELAH melaksanakan vaksinasi meningitis. Kudu lolos screening vaksin haji tanpa pandang bulu.

Sebagai info, saya menjamin, sebagian besar jemaah adalah orang-orang Arab, dari berbagai negara misalnya : Mesir dan Suriah.

Apa ini berarti yang anti-vaks enggak boleh naik haji? Boleh dong, ah. Pakai saja surat palsu. Tapi ingat, situ bohong tanggung dosa sendiri hehehehe. Suratnya tetap wajib. Tidak sedikit klinik yang bersedia membuat ‘surat palsu’ untuk keterangan vaksin haji seperti ini. Soalnya bayarannya sama, malah mereka untung dapat duit begitu saja tanpa perlu repot-repot menyuntik pasien ;).

Inti permasalahan terjawab, kan? Pemerintah Saudi JELAS MEWAJIBKAN CALON JEMAAH HAJI MANA PUN untuk melaksanakan vaksinasi meningitis ini. Ini bukan konspirasi apalagi akal-akalan pemerintah Indonesia kali ah :p. Situ kok kepinteran sendiri sih bikin teori konsipirasi macam ini? :D. Ada pun pelaksanaannya yang mungkin belum sempurna. Surat palsu saya yakin tidak sedikit hehehe.

Jangan-jangan cuma hamla saya yang kena KONSPIRASI YAHUDI VAKSINASI, neh? :p. Silakan dicek en ricek di hamla lain, saudara-saudaraku yang seiman dan setanah air :). Teman saya yang hajian melalui hamla lain (yang juga hamla Arab) banyak, kok. Mereka pun WAJIB VAKSINASI kudu vaksin haji semuaaaaa ^_^. Kalau tidak percaya, beri komentar saja, nanti saya panggilin satu-satu hehehehe.

***

Sekali lagi, saya tidak menentang Anda-anda yang meyakini bahwa ‘vaksinasi haram’. Bahkan yang meyakini bahwa membiarkan jarum suntik ‘yahudi’ itu hinggap di lengan Anda atau anak-anak anda akan mencederai aqidah anda. Monggo. Soal aqidah mah saya tetap pada pandangan saya. Tidak mau repot-repot gantiin Tuhan ;).

Vaksin Haji Vaksin Meningitis untuk jemaah haji di arab saudi
Gambar : pixabay.com

Tapi karena sudah pakai acara bohong-bohongan itu kan sudah menyangkut muamalah, ya :). Kalau hanya mau mempopulerkan praktik bekam, khasiat madu, obat-obatan herbal, tentu tak masalah. Tapi jangan pakai bokis-bokis konspirasi segala lah :). Sampai nekat bilang di negara-negara maju tidak wajib vaksinasi? Negara maju di planet manakah itu, saudara-saudaraku? Kita masih membicarakan planet yang sama, kan? :p.

Sungguh menggemaskan deh lama-lama teori-teori konspirasi model kayak gini. Apa sudah segitu putus asanya kah? Untuk ‘berdagang’ saja mesti menjelek-jelekkan ‘Yahudi dkk’?

Saya, biarpun tidak doyan, sangat menjunjung tinggi khasiat madu. Kami sekeluarga rajin lho mengkonsumsi madu :). Apalagi madu arab saudi yang terkenal dengan kemurniannya (katanya) hehehe. Yang jelas rasanya memang enak, sih.

Saya tidak pernah bekam bukan karena anti. Takut boooooo, hihihihihi. Maklum penakut :p. Obat-obatan alternatif memang saya kurang suka. Tapi bukan herbal dan lain-lain saja. Obat-obat dari dokter kalau saya rasa tidak perlu ya tidak segan-segan saya buang ke tong sampah ;). Kurma bagaimana? Doyan bangeeeettttttttt.

Nah, lunas ya hutang saya buat para inbox-er hehehe. Yang tetap mau anti vaksin silakan :). Asal enggak pakai bohong-bohong ah :p. Yang pro vaksin juga jangan galak-galak begitu. Santai saja, ya :).

Meskipun memang kadang-kadang saya merasa ikut-ikutan gemas apalagi kalau beberapa aktivis toko sebelah sudah mulai menyarankan bawa-bawa golok demi menegakkan apa, sih? :(. Setahu saya, petugas posyandu tidak bakal MEMBUNUH anda kalau anda menolak, deh. Setidaknya itu informasi dari Ibu saya sendiri ketika kami masih kecil-kecil dulu.

You, the ones who said that you did this for the name of aqidah, really give ‘moslem’ a bad name :(. Di atas segalanya, Anda tahu kan, bohong itu bukan hal yang benar?

Salam damai ^_^

***

Perempuan Indonesia di Arab Saudi … Jangan Sensi! ;)

Kisah tentang perempuan Indonesia di Arab Saudi ini berdasarkan pengalaman pribadi tentu saja 😉. Macam kisah antara Arab Indonesia :D.

Indonesia di mata Saudi (mungkin juga di kebanyakan negara Timur Tengah yang membuka pintu gerbangnya buat TKI informal) = negara pembantu! Hehehe. Suka enggak suka ya kenyataannya begitu terus gimana dong? ;).

 

Sebenarnya sektor informal yang tersedia di Arab Saudi bukan cuma ranah domestik rumah tangga seperti pembantu rumah tangga dan supir pribadi (yang sedihnya memang didominasi oleh bangsa kita 🙁 huhu). Tapi ada juga penjaga/pelayan toko, pelayan restoran cepat saji, cleaning service di perkantoran, cleaning service di rumah sakit, supir ambulans, supir buat delivery services… hmm, apalagi ya? Pokonya banyak lah.

Gambar : berita.plasa.msn.com
Gambar : berita.plasa.msn.com

Tapi kenapa cuma PRT dan supir pribadi yang banyak menyedot TKI informal asal Indonesia?

Alasan utama mungkin … kendala bahasa. Biarpun termasuk sektor informal, pekerjaan lain yang saya sebutkan belakangan rata-rata butuh kemampuan berbahasa Inggris, bukan cuma bahasa Arab. Apalagi di Jeddah yang rasa-rasanya memang lebih banyak warga pendatang dibanding penduduk asli Saudi.

Dalam hal berbahasa ini, TKI informal asal Filipina, India, Pakistan (=FIP) memang beberapa tingkat di atas kita. TKI informal asal Indonesia kebanyakan memang oke dalam hal berbahasa arab, tapi bahasa inggris? :(.

Alasan kedua (yang mungkin merupakan imbas dari alasan pertama tadi) adalah kemampuan berkomunikasi dengan sekitar yang berpengaruh pada networking juga, lho. Kelihatan bener deh pedenya orang-orang FIP jauuuuuh d iatas TKI kita. Ini masalah mental atau apa ya? Atau mungkin juga mereka memang ‘persiapan’ nya lebih matang. Konon, PJTKI (Indonesia) suka ‘main belakang’ dan kurang disiplin dalam pembinaan bagi para calon TKI yang dikirim? Enggak terlalu berani banyak omong, enggak punya bukti  langsung soalnya 😀.

Dari tadi kok Malaysia enggak disebut? Ho ho ho, jangan salah! Warga Malaysia itu lebih disegani di Saudi. AFAIK, bukan cuma di Saudi sih, secara umum di Timur Tengah, orang Malaysia termasuk figur “Asia” yang disegani.

Iyalah, di Saudi, Malaysia tidak mengirimkan tenaga kerja sektor informal. Minimal level teknisi, dan tidak ada sama sekali TKW asal Malaysia di sini! Begitulah faktanya, memang pamor orang Malaysia secara internasional lebih oke ;).

Ada enggak sih TKI kita yang bekerja di sektor formal?

Ya ada dong aaaah :D. Ini contohnya suami tercinta si penulis postingan ini hehehe. Suami saya adalah seorang telco engineer semasa di Jeddah. Tapi dibandingkan dengan jumlah TKI informal ya jauh perbandingannya. Persentase pekerja formal asal Indonesia sangat kecil dan kurang ‘kedengeran’.

Jadi, ‘jangan sensi’ ini  juga berlaku untuk anda kaum pria kalau tahu-tahu ada yang ngomong, “Wah, baru tahu saya kalau orang Indonesia juga ada yang jadi engineer di sini” :D. Atau ujug-ujug ditanyain, “Kamu supir di mana?” *ngakakGulingGuling*.

Dengan melihat kenyataan-kenyataan di atas, jangan heran kalau anda adalah seorang wanita Indonesia yang tinggal di Jeddah akan sering mendapat perlakuan yang ‘istimewa’ yaitu … dianggap pembantu! Hahaha *ngakakStres*.

Buku saya tentang Kota Jeddah, "Memoar of Jeddah"
Buku saya tentang Kota Jeddah, “Memoar of Jeddah”

 

Bukan itu saja ‘cobaan’ yang harus dihadapi :p, kalau anda seorang wanita Indonesia dan kebetulan bisa berbahasa Inggris, itu juga bukan hal biasa di Arab Saudi. Atau jika berpenampilan rapi dikit disangkain orang Filipina atau Malaysia. Jangan lupa, secara fisik, Filipina itu memang mirip banget dengan orang Indonesia, apalagi Malaysia 😉.

Waktu awal-awal saya pernah bilang ke suami, “Kampungan banget sih orang-orang sini, banyak kaleeee cewek Indonesia yang bisa ngomong Inggris. Norak!norak!norak!” Hahaha.

Waktu melahirkan di Jeddah tempo hari sampai bete saya menerangkan ke orang-orang di rumah sakit kalau saya asli Indonesia. Jadi bukan karena kulit gw yang kuning langsat makanya saya disangka orang Filipina, tapi karena saya selalu berkomunikasi dengan bahasa Inggris. Abis mau ngomong pakai bahasa apa dong? Bahasa Arab saya kan pas-pasan dan so pasti mereka enggak bisa bahasa indonesia kan? 😉.

 

Pepatah “don’t judge a book by its cover” juga enggak terpakai sama sekali. Indeed, perlakuan sehari-hari yang kita terima tentu saja berbanding lurus dengan apa yang menempel di badan kita 😉. Untung saja dengan tampang saya yang by default sudah jutek dari sananya dan suara yang bariton nan terkesan galak, suster-suster Filipina di rumah sakit enggak berani macam-macam biarpun kemana-mana saya selalu bermodalkan abaya ‘biasa-biasa saja’.

Tinggal di Jeddah Arab Saudi
Main sama bocah di Corniche – Jeddah, 2012

 

Memang, banyak pula ibu-ibu Indonesia yang kebetulan suaminya pekerja formal memilih untuk meng’upgrade’ penampilan 😉. Pake tas-tas mahal, pake abaya keren-keren (ada yang abayanya rata-rata berharga 500 sr ke atas, ihiiiiyyy…pinjem dooong hahaha). Pakai jilbab pun yang sebisa mungkin ‘beda kelas’ dengan jilbab yang dikenakan para ‘bibik/embak’ di Saudi.

Aduh, kalo saya sih, mungkin karena pada dasarnya pelit dan keras kepala rendah hati dan tidak sombong, memilih cara yang lebih murah rajin latihan TOEFL biar grammar makin oke dan melatih aksen bahasa Inggris biar tambah keren hahaha.

Sok intelek banget sih loooooo. Emang intelek boooo :p. Karena yesss, biarpun pembagian kasta berdasarkan penampilan merajalela di Arab Saudi, once they knew you can speak english, they would instantly respect you more ;). Norak, ya? Hahahaha :p.

Kesimpulannya, ya balik lagi, kalau kebetulan berstatus ‘perempuan asal Indonesia’ dan tinggal di Arab Saudi, sesuai judul : Jangan Sensi! ^_^

Santai sajaaa ;). Tanggapi semuanya baik-baik, ingat bangsa kita juga terkenal karena keramahan dan senyum manis nya looohhh *nyengirManis*. Biarpun awalnya pasti bete berat yah, dulu di Indonesia rasanya kece-kece saja masa di sini disangkain pembantu hahaha.

Kalau mereka bilang : “Malaysia? Filipina?” Enggak usah emosi. Kan tinggal dijawab saja : “Oh bukan, saya Indonesia.”

Terus kalau dilanjut lagi, “Loh kok bisa bahasa Inggris?” Respons saja, “Ya bisa dong, enggak salah kan?” Biasanya bakal diterusin dengan, “Wah saya baru tahu ada perempuan Indonesia yang bisa bahasa Inggris, jarang-jarang tuh.” Jawab lagi, “Oo, banyaaak. Mungkin belum pernah ketemu saja” Dan seterusnya…dan seterusnya… :D.

Kesannya horor amat yaaa, ribet amat?

Jangan sensi dong saudari-saudari sebangsa dan setanah air ;).

Perempuan Indonesia di Arab Saudi arab indonesia
Berakhir pekan di Corniche Road, Jeddah ^_^

 

Sesungguhnya ada buanyaaaak hal positif di Saudi yang lebih menyenangkan. Anggap saja buat melatih mental, dan biar mereka jadi tahu bahwa perempuan indonesia juga keren-keren. Bukan cuma pekerja domestik rumah tangga saja yang lahir di sana *kedip2SokManis*.

 

Di Saudi mungkin sering di’remeh’in tapi jangan lupa, di sini harga-harga makanan sangat bersahabat, cari asisten rumah tangga gampang tidak seperti umumnya di luar negeri yang lain, makanan indonesia merajalela (dari yang kelas warteg  hingga yang kelas hotel), katering-katering bergelimpangan dengan harga oke, manalagi mal-mal besar buat cuci mata hihi, harga bensin mureeee *tepukTangan*. Harga mobil juga murah.

Bisa piknik setiap weekend ke luar kota, lihat pemandangan padang pasir yang eksotis ^_^. Pokoknya kenikmatannya jauh lebih menonjol lah timbang terus-terusan makan hati karena disangkain pembantu! Hahaha.

Oiya, ini lho role model mamak-mamak Indonesia yang “tabah” menghadapi “sengit”nya kehidupan ala perempuan Indonesia di Arab Saudi #eaaaaaaa hahaha :p.

Kehidupan perempuan Indonesia di Arab Saudi
Anak baru satu, yang nomor 2 dalam perut ;).