Turun salju arab saudi

Snow on The Sahara

Katanya, ada salju di Arab Saudi. Ini apa siiiiih, serius ada yang mengklaim kiamat sudah dekat gara-gara ada salju di Timur Tengah? Terutama Arab Saudi? -_-.

Soal hadisnya ya mungkin benar. Tapi apa iya maksudnya memang persis seperti yang diklaim itu?

Salju di arab Gambar : reuters.com
Gambar : reuters.com

Saya jadi ingat beberapa tahun lalu waktu masih tinggal di Jeddah juga beredar artikel “kiamat sudah dekat karena di beberapa tempat di Arab Saudi muncul rerumputan dan tumbuhan hijau”. Halamaaaak *tepokJidat*. Harus diajak piknik nih keliling Saudi ;).

Kok bisa-bisanya klaim-klaim hal-hal yang sebenarnya mudah dikonfirmasi dengan kemajuan teknologi digital zaman sekarang? Herannya, banyak aja gitu yang percaya dan menelan mentah-mentah hihihihi.

For info, ukuran otak manusia diantara mamalia lain adalah yang terbesar jika dibandingkan dengan ukuran tubuh kita. Otak gajah sih pastinya berukuran lebih besar tapi secara persentase terhadap ukuran tubuh, ya kalah sama manusia.

Itu juga mungkin alasan mengapa yang dipilih menjadi khalifah di dunia adalah manusia, bukan lumba-lumba atau kucing :p.

Mengapa pula ILMU menjadi hal yang penting bagi kelangsungan hidup manusia :). Ilmu jangan dibatasi definisinya ya :).

Saya cek barusan, ada yang komen di artikel tersebut, “Itu sumbernya dari situs Al Jazirah ya. Itu media terkenal lhooo…”

Woiiiiii, yang benar itu Al Jazeera, kalau yang Al Jazirah itu situs apaan? Ampun dah, makin kreatif nih emang pembuat situs gadungan! Hahaha. Pokoknya jangan percaya deh sama artikel yang diakhiri dengan, “LIKE and SHARE” atau “ketik amin” dan lain-lainnya.

Masa iya sih, di era internet merajalela, di Indonesi ada yang enggak tahu kalau di kawasan Timur Tengah juga ADA SALJU? Dan saljunya itu RUTIN tiap tahun. Bukan keanehan alam gimana-gimana.

Internet itu luaaaaaaaaaaaaaaaaaasss banget kegunaannya selain buat fesbukan doang lho Kakaaaaaaa -_-.

Masalahnya itu yang share-share beritanya via fesbuk berarti dia punya koneksi internet kan ya?

Sederhananya begini … kawasan Timur Tengah tesebar di belahan utara dan ada yang mepet ke selatan (mendekati garis khatulistiwa). Nah, yang menjauh dan di bagian utara itu ya iklimnya juga mengikuti iklim di belahan dunia utara sana :).

Penjelasan ilmiahnya lebih kompleks. Tapi bolehlah patokan ini kita pakai :D.

Sekarang cek di peta, gak usah lari ke toko, buka saja Google-Maps! :p. Jadi, selain facebook ada lhoooo yang namanya situs Google. Tenang saja, ini bukan situs konspirasi. Ya masa iya, bikin peta saja kudu konspirasi atuh lah hahahaha.

Next, ketik kata “Tabuk”. Tabuk adalah wilayah di Saudi yang paling sering kebagian salju. Kadang juga saljunya sedikit atau tidak ada tergantung suhu. Tapi salju di Arab terutama yang turun di Tabuk itu sangat-sangat-sangat lumrah :).

Sepertinya foto-foto di Tabuk inilah yang dimanfaatkan oleh situs-situs “nganu” untuk menyedot perhatian pembaca. Ya lumayan kan dapat traffic disertai komen-komen yang entah harus terharu atau ngakak bacanya.

Sudah nemu lokasinya? Sekarang minimize ukuran petanya. Nanti kelihatan bahwa wilayah Tabuk ini mepet-mepet ke atas. Kalau Jeddah posisinya mepet ke selatan (ke arah Khatulistiwa). Jadi suhunya lebih stabil. Enggak bakal ketemu salju di Arab di wilayah Jeddah dalam kondisi “normal” :D. Kalau “kun fayakun” ya itu lain soal ya :p.

Dari persebaran kota-kota di Arab Saudi juga terlihat, letak Mekkah lebih dekat dengan Jeddah. Makanya, suhu agak mirip ;). Madinah lebih ke utara, suhunya lebih tajam. Kalau musim dingin, di Madinah bisa drop sampai di bawah 10 derajat celcius.

Lebih-lebih lagi di ibukota Riyadh. Riyadh ini lebih ke utara lagi. Di Riyadh, musim dinginnya bisa mencapai di bawah 0 derajat. Di Jeddah, 3x dapat musim dingin di sana, paling banter 14 derajat lah. Itu juga sudah heboh pakai sweater sama kaos kaki dalam rumah hahahaha :p.

Kalau sekilas lihat dekat-dekat saja ya semuanya kalau di peta hihihi. Tapi realnya, Riyadh – Mekkah itu sekitar 1000 km. Madinah-Mekkah itu kira-kira 400 km. Jeddah-Mekkah 80 km sajah <3.

Ada salju di Arab Saudi
Gambar : the-saudi.net

Tabuk sudah hampir mepet Israel. Sementara di Israel pun salju turun rutin tiap tahun. Bukan karena Israel kena laknat lho yaaaaa :p.

Karena kebetulan pun, Iran dan Suriah juga rutin didatangi salju tiap tahun. Sekarang kan ada yang suka sensi terhadap Iran dan Suriah :p.

Karena di Irak yang juga punya komunitas Syiah yang tidak kecil, salju juga turun di sana! Nah looooooo …

Tapi jangan tegang dulu, karena Turki yang hits itu juga dirundung salju tiap tahun kok :D.

Jadi karena perbedaan letak geografis wilayah inilah yang membuat Arab Saudi ada yang kena salju, ada yang walau tidak ada salju tapi suhu bisa drop secara ekstrim, dan ada yang mirip-mirip wilayah Indonesia suhunya ^_^.

Contoh lain, negara India. India sebelah utara, New Delhi dan sekitar itu mengenal salju. Tidak di daratannya. Tapi di wilayah pegunungan dan datarann tinggi. Tapi coba tanya teman-teman kalian yang asalnya dari Bangalore ;).

Bangalore letaknya di belahan selatan India jadi suhunya mirip suhu khatulistiwa dan….tidak ada salju! :D.

Belum punya duit piknik ke Arab Saudi? Piknik ke blog saya aja yuk hihihi. Saya kenalkan dengan 5 wisata lain di Saudi selain 2 kota suci Mekkah dan Madinah.

Sayang sekali, saya pribadi belum pernah ke wilayah Tabuk yang katanya ada salju itu. Tapi kalau yang hijau-hijau ada dalam artikel. Sekali lagi … tumbuhan hijau di Arab Saudi bukan keanehan alam! 😉

Wilayah dekat Mekkah yang juga lumayan hijau : ini dia si Kota Thaif :D.

Saya tadinya hanya menganggap ini lelucon begitu pertama kali ada teman yang bahas ini di wallnya. Tapi saya search, waduuuuh, ada juga dari ternyata teman-teman saya sendiri yang ikut share huhuhu.

Turun salju arab saudi
Salju di Tabuk (gambar : arabnews.com)

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat”.

Suka nonton BBC Click gak? Itu acara yang sering membahas kemajuan teknologi dan penemuan terbaru di bidang kesehatan misalnya.

Bukankah sebaik-baiknya manusia adalah mereka yang bermanfaat paling besar bagi sesamanya? :).

Dan Tuhan paling membenci mereka yang berbuat kerusakan. Menebar berita hoax itu ya jelas bisa merusak kemampuan berpikir lah :p. Apalagi menebar bom untuk meneror masyarakat sipil! :(.

Masalah utama umat muslim sekarang ini juga perkara keILMUan ini sih ya. Ya gimana mau pinter, bentar-bentar konspirasi, dikit-dikit kafir. Lah itu tempo juga ada tokoh muslim lokal lumayan terkenal yang mengklaim kalau matematika, ilmu politik itu ilmu orang kafir :(.

Mungkin benarlah bila … “Great minds are always feared by lesser minds.”
― Dan Brown, The Lost Symbol

***

Bahrah Mekkah pic Dani Rosyadi

Piknik ala Gurun, Petualangan di Kotak Pasir Raksasa

 

(dimuat di Majalah Parenting Indonesia edisi Oktober 2015)

Oleh Jihan Davincka

***

Bermukim di Arab Saudi, Sang Negeri Penjaga Dua Kota Suci, memang agak unik. Ada beberapa peraturan lokal yang tidak umum diberlakukan di negara-negara lain. Semisal aturan bahwa perempuan tidak boleh menyetir mobil dan harus mengenakan abaya panjang berwarna hitam di ruang-ruang publik atau tempat-tempat umum.

Awal bermukim di kota Jeddah, bukan cuma masalah penyesuaian dengan banyaknya hal baru yang memenuhi kepala. Tapi juga kekhawatiran terhadap lingkungan baru bagi anak-anak.

Selama di Jakarta, saya tinggal dalam lingkungan perumahan kompleks. Tiap sore anak-anak bebas bermain di luar rumah. Bercanda dengan teman-temannya atau sekadar berlari-lari sambil bermain bola. Naik sepeda ramai-ramai juga sering.

Di Jeddah, suasananya berbeda. Kami tinggal dalam lingkungan apartemen. Lingkungan sehari-hari cenderung tertutup. Perempuan tidak terlalu  bebas kemana-mana. Boleh saja, sih, kemana-mana sendirian tanpa suami. Tapi tidak mungkin tiap sore menenteng anak bermain di playground yang harus ditempuh dengan berkendaraan.

Ternyata, ada banyak tempat-tempat menarik selain dua kota suci Mekkah dan Madinah. Tiap minggu, saya sekeluarga bermain ke taman bermain gratis yang tersebar di berbagai penjuru kota. Tiap bulan kami piknik bersama-sama dengan keluarga asal Indonesia lainnya yang bermukim di Jeddah. Semacam acara gathering keluarga.

Kehidupan perempuan di Jeddah Jihan Davincka
Teman-teman di Jeddah 🙂

Salah satu sisi positif tinggal di Saudi karena banyaknya keluarga perantau yang sama-sama berasal dari Indonesia juga. Rasa kesepian mudah dihalau karena banyak teman untuk berbagi.

Menghabiskan Senja di Gurun Bahrah

Lokasi: Kota Bahrah 

No. Telp./Website: –

Jam Buka: Buka sepanjang waktu

Harga Tiket: Gratis

Anak-anak saya dari dulu paling suka bermain pasir. Di taman-taman bermain umumnya disediakan arena untuk bermain pasir berupa sebuah kotak yang luasnya beragam. Umumnya memuat hingga belasan anak untuk bermain pasir dalam waktu yang sama.

Bayangkan bagaimana senangnya mereka diajak piknik ke padang pasir nan luas. Beramai-ramai pula dengan teman-temannya yang lain.

Belum lengkap  rasanya tinggal di Negeri Gurun jika belum mencoba menaklukkan daerah gurun. Di suatu sore saat akhir pekan, kami diajak teman-teman menghabiskan senja di Gurun Bahrah.

Gurun Bahrah Padang Pasir di Arab Saudi
Gurun Bahrah, Arab Saudi, foto : Dani Rosyadi

Kami pun pernah beramai-ramai menjajal Gurun Bahrah yang letaknya tidak jauh dari Kota Mekkah. Berangkat dari Kota Jeddah, hanya perlu menyetir sekitar 30-40 menit.

Sepanjang perjalanan saja, banyak area gurun berpasir yang kami lewati. Kepala anak-anak sudah menempel di kaca mobil, “Nanti kita yang ke sana itu, ya, Ma. Nanti bikin benteng-benteng ya, Ma. Boleh guling-guling, ya, Ma?”

Mereka sudah tidak sabar. Saya menanggapi sambil tertawa kecil, “Iya, iya. Nanti tempatnya kayak gitu. Tapi enggak boleh dorong-dorongan, ya.”

Benar saja. Anak-anak tampaknya tidak membuang waktu begitu kami tiba di lokasi. Anak-anak kami meluncur bolak balik di atas gundukan-gundukan pasir  yang berbentuk bukit-bukit kecil.

Pasirnya halus nyaris tanpa kerikil sama sekali, begitu diinjak biasanya langsung terburai. Asyiklah anak-anak menjerit sambil tertawa, “Awas tenggelam, pasirnya goyang-goyang.”

Bahrah Mekkah pic Dani Rosyadi
Anak-anak di Padang Bahrah (foto : Dani ROsyadi)

Kami, para orang tua saling melempar tawa melihat hebohnya mereka lari-larian ke sana ke mari. Di mata mereka, wilayah gurun mungkin sudah semacam kotak pasir raksasa.

Angin agak kencang saat hari masih terang. Menjelang senja, barulah mereda. Saat itulah, para ibu-ibu segera menggelar tikar dan membongkar barang bawaan masing-masing. Jauh-jauh Selepas senja memang sudah berniat makan malam bersama di sana. Namanya orang Indonesia, tidak bisa lepas dari selera nusantara. Jauh-jauh ke gurun, menunya tetap saja bakso kuah dan sate ayam.

Menjelang malam, mentari yang menjadi satu-satunya sumber penerangan di wilayah gurun mulai menghilang. Lampu-lampu mobil kami nyalakan sebagai sumber cahaya. Makin seru makan bareng-bareng dalam gelap karena penerangan sangat terbatas.

Anak-anak yang sudah kelelahan tidak begitu sulit diminta untuk duduk dan makan.

Tapi tetap sulit dibujuk pulang.

“Sudah gelap enggak bisa main lagi. Besok-besok lagi, ya, mainnya. Pulang, yuk.”

Karena malam, penglihatan terbatas. Mereka jadi bertanya-tanya, “Pasirnya masih ada kan, ya?”

“Masih ada, kok. Masih.”

Piknik di gurun terbuka memang seru. Murah meriah secara biaya tapi anak-anak senangnya tetap optimal. Tapi sebaiknya dilakukan di awal-awal musim panas atau di penghujung musim dingin. Kalau musim dingin saat puncak-puncaknya, suhu terlalu rendah. Bisa menggigil apalagi kalau menjelang senja sampai malam. Di puncak musim panas sebaliknya, suhu terlalu panas.

Melihat Kereta Api Antik di Madain Saleh

Lokasi: Kota Al Ula 

No. Telp./Website: https://www.worldheritagesite.org/sites/alhijr.html

Jam Buka: 07.00 – 18.00 

Harga Tiket: Gratis. Tapi harus disertai pemandu. Tarif pemandu tergantung rombongan. Umumnya minimal 300 riyal untuk kelompok berkisar 20 an orang)

“Ada kereta, ada kereta! Serbuuu …” Anak-anak langsung berhamburan begitu mobil-mobil kami sudah terparkir rapi di sisi sebuah tempat yang diperkenalkan oleh pemandu sebagai stasiun kereta api zaman dulu.

Stasiunnya sama sekali sudah tidak terpakai. Tapi bangunannya masih lengkap. Sebuah kereta api lengkap dengan gerbongnya juga masih berdiri tegak.

Stasiun Kereta di Al Hijr Madain Saleh Arab Saudi
Stasiun kereta di Madain Saleh, foto : Dani Rosyadi

Stasiun ini peninggalan dari Kekaisaran Ottoman yang pernah berniat menghubungkan Mekkah-Madinah dengan kota-kota lainnya di jazirah Arab. Kereta-keretanya akan digunakan untuk mengangkut jemaah haji ke tanah suci.

Di Perang Dunia I, pembangunannya terbengkalai. Oleh pemerintah Saudi, stasiun dan keretanya direnovasi dan dijadikan tempat wisata. Lokasi stasiun ini juga menjadi  bagian dari Madain Saleh. Oleh UNESCO, situs ini dinobatkan sebagai salah satu “Warisan Budaya Dunia” tahun 2008.

Madain Saleh terletak di kota Al Ula, berjarak sekitar 400 km dari Madinah. Kali ini, pikniknya kembali beramai-ramai.

Dari lokasi stasiun dan kereta tadi, kami kembali menyetir ramai-ramai dengan mengekor Pak Pemandu di belakang jeep-nya. Pemandu kami, seorang laki-laki paruh baya, yang kami panggil dengan sebutan Abu Ahmad. Orangnya cukup jenaka dan tidak kaku. Beliau menerangkan kepada kami dalam Bahasa Inggris.

Berikutnya kami berhenti dimana banyak terdapat bangunan-bangunan yang terpahat di bukit batu. Abu Ahmad mengawali dengan ucapan, “You can pick your room. You’re going to stay at this hotel.”

Tentu saja maksudnya hanya bercanda. Bangunan-bangunan batu tadi dibangun di abad pertama oleh orang-orang dari suku Nabatean. Sebagian bangunan digunakan sebagai kuburan.

Abu Ahmad menerangkan dengan penuh semangat bahwa proses pembuatan bangunan tadi sangat unik. Mengandalkan tenaga manusia biasa. Hanya dipahat dengan menggunakan alat dari kayu dan batu disertai percikan air untuk melunakkan agar mudah dibentuk.  Sangat kami melongo, Abu Ahmad tersenyum puas, “Isn’t it amazing?”

Madain Saleh Al Hijr Kuburan Batu foto Dani Rosyadi Blog Jihan Davincka
Madain Saleh, foto : Dani Rosyadi

Di sekitar area tadi banyak wilayah padang pasir. Anak-anak berlarian ke sana kemari sambil berteriak-teriak.

Lokasi terakhir yang kami datangi bernama Ad Diwan. Bangunan batu khusus yang digunakan oleh orang-orang dari suku Nabatean tadi untuk berkumpul di acara-acara pemujaan. Ad Diwan juga berupa bangunan yang dibentuk dengan memahat perbukitan batu. Modelnya agak beda. Ruang tengahnya lebar dan tidak ada pintu.

Seharusnya masih ada beberapa titik yang biasanya ramai dikunjungi oleh para wisatawan. Sayang sekali, sudah terlalu sore untuk  melanjutkan jalan-jalan ke lokasi lainnya.

Karena anak-anak senang sekali bermain pasir, jadi cukup repot ketika harus mengumpulkan mereka masuk ke dalam mobil untuk melanjutkan perjalanan antar  lokasi tadi. Cukup makan waktu membujuk mereka.

Akhirnya sebelum senja benar-benar berada di puncaknya, kami sudah meninggalkan pintu gerbang Madain Saleh, hendak kembali ke Madinah, ke hotel tempat kami menginap.

Bersenang-senang di Pantai Thuwal

Lokasi: Kota Thuwal

No. Telp./Website: –

Jam Buka: Buka sepanjang waktu, tidak ada pagar/penghalang 

Harga Tiket: Gratis

Jeddah terletak di pesisir  barat Saudi, dimana terdapat beberapa pantai cantik di luar kota yang seru buat liburan.

Salah satunya Pantai Thuwal. Terletak di kota Thuwal, sekitar 80 km di utara Jeddah, dan ditempuh sekitar sejam dengan menyetir santai.

Bosan juga, ya, kalau terlalu mengandalkan fasilitas di mal-mal besar yang tersebar di berbagai penjuru kota untuk  menyenangkan hati anak-anak. Mereka perlu hiburan di luar ruangan. Sementara anak-anak lebih senang bergembira beramai-ramai. Masalahnya tidak mudah juga memberikan aktivitas untuk mereka tanpa menganggu orang lain. Di kota-kota besar, di tempat-tempat publik di Saudi, privasi dijaga ketat. Ribut sedikit pasti ada yang menegur.

Tinggal jauh dari tanah air jangan sampai menjauhkan anak-anak dari akarnya. Rata-rata dari kami sudah tinggal di Arab Saudi lebih dari 2 tahun. Kami ingin mengenalkan kebiasaan anak kecil sebaya mereka di tanah air. Kami pun seru-seruan dengan mengadakan lomba makan kerupuk buat mereka.

Anak-anak umumnya suka sekali makan kerupuk. “Ayo, ayo, ayoooo … ” Mereka merespons dengan penuh semangat saat diberitahu.

Kerupuk, bukan makanan langka di Arab Saudi. Maraknya pendatang asal tanah air membuat banyak orang membuka toko-toko yang menjual makanan khas dan barang-barang lain asal Indonesia.

Anak-anak Indonesia di Jeddah Pantai Thuwal Arab Saudi
Foto Lomba Kerupuk di Pantai Thuwal, Arab Saudi

Lomba makan kerupuk sebenarnya untuk anak-anak yang berusia di atas 5 tahun. Tapi yang kecil-kecil juga memaksa ikut serta dalam barisan. Mereka ikut ribut, “Mau kerupuk juga.”

Mereka awalnya bingung melihat kerupuknya diikatkan di seutas tali  dan berusaha memegangi kerupuk, “Kerupuknya goyang-goyang,” begitu alasan  mereka.

Setelah diterangkan aturan mainnya, barulah mereka paham dan permainan bisa segera dimulai.

Acara lomba-lomba dilanjutkan dengan permainan mencari harta karun bajak laut. Sudah disiapkan oleh tim ibu-ibu topi-topi handmade dan hadiah secukupnya bagi mereka. Menang kalah semua dapat hadiah tentunya.

Ini permainan untuk anak yang lebih kecil. Ibu-ibu mengubur bola-bola warna warni dalam pasir. Nanti mereka akan mengais-ngais di pasir dan memasukkan temuan bola-bola tadi  ke dalam kantong plastik. Pengumpul terbanyak akan menjadi pemenangnya.

Salah satu kelebihan pantai Thuwal dibanding pantai-pantai lain di kota Jeddah dan sekitarnya adalah kebersihan dan kelengkapan fasilitasnya. Di Thuwal, banyak petugas berseragam wara wiri membersihkan berbagai tempat di lokasi tempat wisatanya. Termasuk kamar-kamar mandi yang bebas digunakan oleh siapa saja.

Seringkali anak-anak berlarian dari arah pantai sambil memegang celana sambil panik, “Mau pipis, mau pipis!”

Tak ada masalah. Jumlah kamar mandi di sana cukup memadai dan kondisinya bersih dan sangat layak pakai. Sementara di beberapa pantai lain, fasilitas umumnya nyaris tidak ada dan tempatnya kurang terawat.

Anak-anak bermain di Pantai THuwal Arab Saudi JEddah
Pantai Thuwal, Saudi 🙂

Di pantai Thuwal, didirikan sebuah bangunan yang dibiarkan terbuka. Hanya ada atap yang menutupi seluruh bagian bangunan dan tiang-tiang penyangga yang berjajar rapi di sisi kanan dan kiri bangunan. Bangunan beton ini dibuat memanjang dan cukup luas untuk menampung hingga ratusan pengunjung.

Tidak cuma para orang tua yang ingin melepaskan penat dengan istirahat di atas gelaran tikar sambil memandangi birunya langit yang beradu dengan birunya air laut. Anak-anak pun tidak ketinggalan ingin bermain sepuasnya kala di sana.

Pilihan mereka untuk bersenang-senang tidak hanya dengan berenang. Sebagian anak-anak nampak asyik bermain-main dengan pasir halus yang mendominasi pelataran di pesisir pantai Thuwal.

Perairan di wilayah pantai Thuwal termasuk cukup aman untuk berenang. Karena letaknya bukan di laut lepas. Melainkan di wilayah teluk. Jadi, nyaris tanpa ombak dan pusaran airnya cukup tenang. Tak perlu khawatir melepas si kecil  berlarian ke dalam air bila sudah bosan bercengkrama dengan timbunan pasir.

Buat para perempuan dewasa, kostum wajib abaya tetap harus digunakan. Abaya, berupa kain hitam panjang yang menutup hingga ujung kaki tidak boleh dilepas sekali pun para perempuan dewasa ingin beraktifitas dalam air. Sebenarnya ada beberapa tempat yang memungkinkan para perempuan untuk melepas abayanya. Misalnya di wilayah yang termasuk dalam private beach.

Private beach biasanya tidak dibuka untuk umum. Perlu undangan khusus untuk bisa menikmati tempat khusus seperti ini. Kalaupun dibuka untuk umum, kita perlu merogoh kocek untuk membayar biaya masuk.

Pantai Thuwal sendiri termasuk tempat umum. Tidak dikenakan biaya apa pun tapi aturan yang berlaku adalah aturan khas Kerajaan Saudi. Termasuk kewajiban berabaya dalam kondisi apa pun bagi para perempuan dewasa.

Saat senja telah hampir usai, wilayah perairan harus dikosongkan. Ada petugas yang lalu lalang memberi peringatan agar semua pengunjung keluar dari air sebelum gelap datang.

Setelah lelah bermain, silakan membersihkan diri di kamar-kamar mandi yang jumlahnya cukup banyak dan tersebar di berbagai penjuru wilayah pantai. Selanjutnya, marilah bersantai di atas tikar yang boleh digelar di atas pasir atau di atas lantai bangunan terbuka yang saya ceritakan sebelumnya.

Di malam hari, lampu-lampu bangunan akan dinyalakan. Beberapa penjual layangan akan bermunculan. Bila masih sanggup beraktifitas, kita bisa membeli beberapa  buah layangan dan bermain bersama si kecil di bawah siraman cahaya rembulan di tepi pantai ****

 

Saat Mina dan Arafah Sedang Tertidur

 

Menyusuri kembali jalan-jalan di salah satu sudut Mina yang sisi kiri kanannya dipenuhi jajaran tenda yang kini lengang tak berpenghuni. Memandangi Padang Arafah yang sungguh berbeda tanpa hiruk pikuk jemaah dan hanya berupa hamparan tanah kosong ditumbuhi rumput liar. Tetap saja, suasana yang berbeda tidak membuat rasa haru berkurang sedikit pun.

Padang Arafah Arab Saudi
Padang Arafah, pic : Dani Rosyadi

Setahun selepas saya berhaji bersama suami via biro haji lokal di Jeddah, suami mendapatkan kesempatan untuk bekerja di negara lain. Usai sudah perjalanan kami sekeluarga menjadi pemukim di Kota Jeddah, Arab Saudi, selama hampir 3 tahun lamanya. Menjelang minggu terakhir kami di Jeddah itulah, kami berangkat menuju Mekkah untuk berpamitan.

Setelah melakukan ibadah umrah di Masjidil Haram, barulah kami bertolak menuju Mina dan Arafah. Ingin sedikit napak tilas mengenai perjalanan haji yang baru beberapa bulan lalu kami jalani. Tentu saja, salah satu kenangan paling indah dan tak terlupakan selama tinggal di Arab Saudi adalah…naik haji.

Lengangnya Mina

Sebenarnya, akses menuju perkemahan jemaah haji di Mina ditutup saat bukan musim haji. Tapi jalanannya tidak ditutup sama sekali. Jadi, kami  nekat saja melintas untuk masuk.

Tenda-tenda jemaah di Mina sifatnya permanen. Hanya saja, saat bukan musim haji, kain-kain penutup yang berfungsi sebagai dinding-dinding tenda diangkat ke atas. Dibiarkan terbuka. Mungkin agar udara bisa leluasa masuk dan tidak pengab kala hendak digunakan.

Tenda terbagi-bagi dalam beberapa wilayah. Ada penomoran khusus. Nah, areal tenda-tenda inilah nanti yang disewakan kepada para pengelola jemaah haji dari negara lain atau biro haji lokal lainnya.

Beda sekali suasananya. Karena saat musim haji, jalanan selalu penuh dengan orang hilir mudik, kami tak mengira sebenarnya jalanan dalam kompleks perkemahan haji itu cukup lebar dan lapang. Biasanya ada juga para pedagang kaki lima yang menutup tengah-tengah jalan sehingga terasa sesak.

Kompeks jemaah haji di Mina
Kompleks jemaah haji di Mina

Kami menyusuri Mina hingga mencapai tempat melontar jumrah. Tempat melontar jumrah kini sudah ada 4 lantai. Tidak perlu berdesak-desakan seperti musim haji belasan tahun silam. Walau sepertinya lantai 1 masih menjadi tempat favorit bagi sebagian besar jemaah haji.

Masih ingat, kan, dengan peristiwa Terowongan Mina tahun 1991 lalu? Berkaca dari pengalaman itulah, akses masuk menuju tempat melontar jumrah dan keluar dari sana juga sudah dipisah dengan ketat.

Sewaktu naik haji, saya tak terlalu memperhatikan bentuk bangunan tempat melontar jumrah ini. Barulah tempo hari saat lagi sepi-sepinya saya baru melihat dengan seksama bahwa keempat lantai tempatnya ditopang oleh 2 buah bangunan berbentuk bulat.

Padang Arafah Tanpa Penghuni

Kalau di Mina kami masih bisa mengenali lokasi tenda kami kala menginap di sana, suasana di Padang Arafah sungguh  jauh berbeda. Tenda-tenda yang digunakan para jemaah saat wukuf setiap tanggal 9 Zulhijjah tersebut bukan tenda permanen seperti di Mina. Di luar masa-masa wukuf, tendanya dilepas.

Ternyata, Padang Arafah tidak benar-benar berupa padang pasir terbuka. Rumput-rumput liar terlihat tumbuh subur di sebagian areal. Bahkan tak jarang ada pohon-pohon yang tingginya lebih dari semeter. Kemungkinan, menjelang wukuf dan pemasangan tenda, pohon-pohon ini sebagian besar harus ditebang untuk menyediakan lahan yang luas. Mengingat jumlah jemaah yang membludak dari seluruh penjuru negeri.

Tak jauh dari Padang Arafah ini  kita bisa mencapai lokasi Jabal Rahmah, si bukit yang konon melambangkan kasih sayang itu. Ada mitos yang menyebutkan di sinilah dahulu Adam dan Siti Hawa bertemu setelah terpencar saat diturunkan dari surga ke bumi.

Jabal Rahmah terlihat sepi tanpa kerumunan jemaah. Kawanan unta yang biasanya diberi pernak pernik warna warni untuk dijadikan tunggangan jemaah yang ingin berfoto atau mengitari sekitar Jabal Rahmah juga tidak kelihatan. Kebetulan saat kami  ke sana itu, visa umrah juga belum dibuka kembali.

Menuju Padang Arafah Arab Saudi
Jalan Menuju Arafah dari Mina, foto : Dani Rosyadi

Setelah musim haji berakhir, pemerintah Saudi tidak serta mengizinkan umat muslim dari negara lain untuk datang dan melakukan ibadah umrah. Sekitar sebulanan setelah musim haji selesai, Mekkah dan Madinah terkesan sangat sunyi tanpa kehadiran jemaah dari negara lain.

Saat inilah, pemukim Arab Saudi dari berbagai kota hilir mudik ke Mekkah dan Madinah. Keuntungan lainnya, umumnya hotel-hotel berbintang yang sepi pengunjung memberikan potongan harga kamar yang bisa dipangkas hingga 70%.

Kenikmatan mengunjungi dan menikmati tanah haram di ‘bulan-bulan sepi’ sudah bukan rezeki kami lagi.

Tempat melontar jumrah di Mina Arab Saudi
Tempat melontar jumrah, Mina – Mekkah (foto : Dani Rosyadi)

Baca : Naik Haji via Jeddah

Inilah mungkin keuntungan utama sebagai umat muslim saat berkesempatan menjadi mukimin di Jeddah. Kesempatan untuk menunaikan ibadah haji tanpa perlu mengantre seperti yang kini berlaku di tanah air. Biayanya pun tergolong lebih murah, durasi lebih singkat, dan fasilitas yang jauh lebih menyenangkan.

Tapi ada aturan khusus dimana penduduk asli/siapa pun yang tinggal di Arab Saudi hanya boleh naik haji 5 tahun sekali. Nomor iqama (semacam kartu tanda penduduk untuk para pendatang di Saudi) akan diberi tanda.

Saya dan suami naik haji via Jeddah di tahun 2012 silam. Mendaftar melalui biro haji lokal. Biro haji ini menyediakan transportasi, akomodasi dan yang paling penting … surat izin resmi untuk naik haji ala Saudi yang namanya Tasrikh.

Mina dan tempat melontar jumrah arab saudi
Tempat melontar jumrah dilihat dari sebuah area tenda jemaah di Mina, foto : Dani Rosyadi

Biaya naik haji tergantung biro haji yang digunakan. Rata-rata berkisar antara 2000 hingga ada yang mencapai lebih dari 10 ribu riyal. Biro haji yang saya gunakan  mematok harga 4500 riyal per orang. Kami memilih biro haji ini karena keistimewaannya yang membolehkan jemaah membawa anak-anak. Umumnya, biro-biro haji lokal tak mengizinkan anak-anak untuk ikut serta. Oh ya, di biro haji kami, anak-anak di bawah usia 10 tahun tidak perlu membayar sepeser pun.

Pendaftaran biasanya mulai dibuka selepas masa Idul Fitri. Jangan khawatir kehabisan tempat karena biro haji lokal ini jumlahnya tidak sedikit.

Tenda di Mina diberi fasilitas tempat tidur per orang lengkap dengan kasur+selimut+bantal. Tidak mewah memang. Tapi kami mendengar banyak jemaah dari tanah air yang hanya tidur beralaskan karpet tipis tanpa kasur sama sekali. Makanan juga termasuk berlimpah. Minuman tak pernah kosong disertai makanan-makanan kecil dan buah-buahan setiap pagi dan sore.

Jumlah kamar mandi dan toilet terbilang cukup dan tidak berdesakan. Biro haji kami juga menyediakan tenaga bersih-bersih yang sigap membersihkan kamar mandi hingga ke dalam tenda.

Tenda di Arafah pun tergolong nyaman dan mencukupi. Tetap dilengkapi dengan jumlah toilet yang layak.

Dari Mina menuju Arafah, kami tidak perlu berjalan kaki. Pemerintah Saudi sebenarnya sudah membangun lintasan kereta yang menghubungkan 3 titik penting Arafah-Mina-Tempat melontar jumrah (yang sebenarnya masih ada di wilayah Mina juga). Tapi hingga kini, fasilitas kereta belum bisa menjangkau semua jemaah haji.

Salah satu yang beruntung yang leluasa menikmati kereta listrik full AC ini adalah para jemaah lokal, seperti saya dan suami saat itu. Semoga ke depannya, pemerintah Saudi terus berbenah sehingga fasilitas kereta bisa ditujukan kepada seluruh jemaah haji.

Jemaah haji asal Kota Jeddah biasanya serentak memasuki Mekkah menuju Mina pada tanggal 7 Zulhijjah malam. Beberapa biro haji juga ada memberangkatkan jemaahnya pada tanggal 8 Zulhijjah. Durasi berhaji via Jeddah rata-rata 5-7 hari saja.

Fenomena Haji Koboi

Tak sedikit para penduduk maupun pendatang yang bermukim di Arab Saudi yang ingin melaksanakan ibadah haji lebih dari sekali dalam 5 tahun. Mungkin dengan pertimbangan mumpung aksesnya sangat dekat. Termasuk beberapa rekan-rekan saya di Jeddah dahulu.

Untuk  menghindari pemeriksaan Tasrikh (surat izin resmi untuk berhaji tadi), calon jemaah haji ‘ilegal’ ini berusaha memasuki Mekkah dengan cara kucing-kucingan denga petugas. Biasanya mereka langsung menuju Padang Arafah di hari wukuf atau sehari sebelumnya masuk ke Mina setelah tawaf di Masjidil Haram.

Berbekal tenda/tikar/makanan sendiri, mereka melaksanakan ibadah haji secara mandiri. Ada yang sendiri-sendiri, tapi  kebanyakan berkelompok. Nah, mereka inilah yang dikenal dengan istilah haji koboi. Haji koboi tak hanya datang dari kalangan menengah ke bawah. Tidak sedikit orang-orang berada yang menempuh cara ini untuk berhaji karena ingin merasakan petualangan khusus.

Sebaiknya kita memahami alasan pembatasan jumlah jemaah dan diberlakukannya “sistem Tasrikh” sejak sekitar akhir tahun 90-an. Dulunya, siapa pun pemukim Saudi bebas berhaji berkali-kali tanpa batas.

Para haji koboi yang biasanya memang hanya menggelar tikar di jalan atau di tanah kosong tanpa tenda ‘resmi’ juga membuat isu kebersihan tersendiri. Seringnya mereka membiarkan begitu saja sisa-sisa pembungkus makanan, botol-botol minuman berserakan di jalan. Sementara jemaah haji resmi menggunakan tenda resmi yang lazimnya juga bertanggung jawab atas sampah para jemaah di masing-masing tenda.

Haji koboi
Gambar : news.liputan6.com

Belum lagi toilet dan kamar mandi umum (di luar fasilitas tenda resmi) sangat terbatas. Sehingga tak heran, sebagian haji koboi kesulitan untuk membuang hajat dii tempat yang seharusnya. Maka dari itu, bau pesing dan kurang sedap akan muncul di mana-mana di sepanjang jalan setelah proses wukuf selesai di Arafah.

Maraknya haji koboi akan membuat pemerintah Saudi kesulitan mengoptimalkan fasilitas untuk jemaah haji secara keseluruhan. Jumlah mereka sulit diterka dan terus membesar tiap tahun. Makin banyak yang berani mencoba.

Tapi sejak 2 tahun terakhir, pemerintah Saudi mulai memperketat pengawasan. Konon, tahun ini, hukuman mulai diperberat dan ancaman akan ketidakdisiplinan dalam mematuhi proses berhaji bagi pemukim lokal Arab Saudi makin gencar disebarluaskan.

Daya tampung wilayah Mina dan Arafah tentu tak mungkin terus diperlebar. Sekarang saja, antara wilayah Mina dan Musdalifah sudah mulai tumpang tindih. Sehingga jemaah memang harus dibatasi.

Saya mengerti betapa nikmatnya jika kita bisa naik haji berkali-kali. Tapi pertimbangkanlah mereka yang datang dari jauh. Mungkin kesempatan ini akan menjadii kesempatan pertama dan terakhir mereka. Secara hukum agama, naik haji tak perlu berkali-kali. Berikanlah kesempatan kepada mereka yang belum pernah. Rasulullah pun konon  hanya melaksanakan ibadah haji sekali dalam seumur hidupnya. Mari kita tingkatkan amal ibadah lainnya terutama dalam bermuamalah. Sehingga polemik dalam masalah pengaturan jemaah haji bisa terus meningkat dan membaik.

Akomodasi?

Jalur penerbangan Jeddah-Jakarta atau Madinah-Jakarta termasuk yang cukup padat. Harga-harga tiket sangat bersaing sehingga tak sulit mendapatkan ongkos yang terjangkau. Maskapai yang melayani jalur ini juga terhitung tidak sedikit. Harga tiket berkisar antara 4  juta rupiah per orang (pulang pergi) hingga di atas 10 juta rupiah per orang saat peak season.

Sayang sekali hingga kini pemerintah Arab Saudi belum membuka visa turis pagi pengunjung dari luar negeri. Orang-orang yang tidak bermukim di Saudi hanya boleh masuk melalui visa bisnis atau visa umrah/haji. Cara lain adalah dengan “invitation” khusus dari kerabat yang sedang bermukim di wilayah Saudi. Ini pun dibatasi khusus untuk kerabat terdekat saja seperti orang tua kandung/mertua kandung dan saudara kandung.

***

Makanan di Rumah Makan Putri Sriwijaya Jeddah foto Dani Rosyadi

Perut Terjamin Lahir Batin di Jeddah :D

Again, salah satu tulisan dari buku “Memoar of Jeddah : How Can I not Love Jeddah?” :D.

***

Setelah menuntaskan kontrak kerja di Jeddah, suami saya memutuskan untuk pindah ke Irlandia. Menjelang tiga hari keberangkatan menuju kota Athlone, Irlandia, saya sibuk menjejali isi koper dengan berbagai macam bumbu dan rempah khas tanah air. Sembari heboh dengan acara packing, sesekali terlintas nostalgia untuk Jeddah.

Selama tinggal di Jeddah, 2x saya mudik. Acara beres-beres koper kala liburan usai dan harus kembali ke Jeddah selalu berlangsung santai. Malah beberapa hari sebelum berangkat, saya woro-woro ke teman-teman di Jeddah, “Ada yang mau titip, gak? Koper gue kosong, nih.”

Gambar : sedapsekejap.net
Gambar : sedapsekejap.net

Tinggal di Jeddah, biarpun judulnya ‘luar negeri’, tidak membuat kita jumpalitan membawa segala macam bumbu dan penganan khas tanah air. Di Jeddah…all you can eat, Babe! Oh ya, karena ke mana-mana berabaya, tidak perlu pula pusing-pusing memikirkan baju dan teman-temannya.

Teman saya, sesama pemukim Jeddah, punya pengalaman sama. Dia mudik ke tanah air bersama kakak iparnya. Kebetulan mereka berbarengan membereskan barang bawaan untuk pulang kembali ke tempat masing-masing.

Kalau kakak iparnya sibuk memasukkan segala macam bumbu, sampai bawang goreng pun dibawa hingga berkilo-kilo, teman saya malah bingung, “Duh, bawa makanan apa, ya?”

Teman saya hendak kembali ke Jeddah, kakak iparnya ke Dubai. Padahal Dubai terletak di Uni Emirat, berbatasan langsung dengan negara Arab Saudi. Tapi urusan makanan bagaikan bumi dan langit.

***

Dari sebuah traveling blog, saya jadi punya banyak teman sesama ibu-ibu yang bermukim di luar negeri. Mereka ke luar negeri karena bermacam-macam alasan : mengikuti suami, sekolah atau bekerja di sana. Keluhan mereka rata-rata hampir sama, “Kangen euy masakan Indonesia.”

Di beberapa negara, makanan Indonesia tidak susah ditemukan. Tapi terganjal masalah lain. Kalau harganya tidak mahal, rasanya yang kurang enak.

Teman saya di belahan dunia lain, yang tadinya buta urusan dapur, mendadak jadi jagoan di depan kompor. “Tidak ada pilihan lain, terpaksa jadi jago masak,” begitu rata-rata alasan mereka.

Happy Cooking Mama ^_^ (gambar : destructoid.com)
Happy Cooking Mama ^_^ (gambar : destructoid.com)

Alhamdulillah urusan perut terjamin lahir dan batin di Jeddah. Harganya sangat ‘terjangkau’ dan rasanya juga enak. Makanya, impian saya menjadi ‘masterchef‘ kalau tinggal di luar negeri pupus sudah.

***

Rumah makan ala Indonesia di Jeddah cukup banyak. Apalagi jika berada di distrik Sharafiyah dan Bagdadiyah, 2 distrik yang sarat pemukim asal Indonesia. Levelnya bervariasi. Yang model warteg juga ada, lho. Menyediakan nasi rames komplit dengan rasa yang tak jauh beda dengan tanah air.

Rumah makan level menengah ke atas juga ada. Menunya pun lengkap. Katering rumahan juga menjamur. Inilah salah satu alasan saya cukup percaya diri menjalani proses hamil hingga melahirkan anak ke-2 di kota Jeddah. Biarpun saya tahu baik ibu saya maupun ibu mertua berhalangan untuk datang menemani di masa-masa melahirkan.

Semasa hamil muda dimana saya melilhat dapur saja rasanya sudah muak, kami memutuskan untuk menggunakan jasa katering. Diantarkan langsung ke pintu apartemen, lho.

Makanan di Rumah Makan Putri Sriwijaya Jeddah foto Dani Rosyadi
Hidangan khas Indonesia di Rumah Makan Putri Sriwijaya, Jeddah (foto : Dani Rosyadi)

Senang bertarung di dapur pun tidak perlu khawatir. Bumbu khas tanah air mudah sekali ditemukan di toko-toko Indonesia dengan harga yang masuk akal. Daun-daunan, rempah-rempah hingga tahu tempe selalu tertata rapi di rak-rak toko.

Tak perlu pula susah-susah memboyong bungkus-bungkus instan. Indomie bukan barang langka di Saudi. Indomie bahkan dengan mudah ditemukan di toko-toko lokal Saudi, apalagi di supermarket. Harganya? 1 riyal saja per bungkus ^_^.

Pagi-pagi di saat akhir pekan, para istri pun ingin bersantai di taman atau pantai. Dapur diliburkan dulu. Kalau tak sempat memesan katering, datangi saja toko-toko Indonesia yang terbilang ramai.

Tiap pagi toko-toko ini tak pernah absen menyediakan nasi rames kotakan khas tanah air. Isinya nasi, sejumput sayu dan lauk pauk (seperti telur, daging atau tahu-tempe plus sambel). Untuk membawa sekotak nasi rames, harga yang harus dibayar rata-rata 3-5 riyal! (1 riyal sekitar 2500 rupiah). Amboi, murahnya.

***

Salah satu makanan siap saji yang menjadi trademark kota Jeddah adalah Al Baik. Biarpun hanya berupa ayam goreng tepung, tapi Al Baik ini sangat tersohor di kota Jeddah. Sebelum saya menginjakkan kaki di kota Jeddah, suami saya sudah sering banget mengelu-elukan si ayam goreng yang satu ini. Padahal biasanya suami kurang suka dengan segala menu yang berupa ayam.

Baru 2 hari menghirup udara Jeddah, di suatu malam, diajaklah saya ke Serafi Mal, khusus buat icip-icip si Al Baik ini. Saat di foodcourt, melihat antriannya yang panjang, saya cukup optimis membayangkan kelezatan Al Baik ini. Tapi setelah mencoba sendiri, saya tidak merasa ada yang istimewa.,Mungkin selera saya yang kurang umum.

Al Baik ini sendiri adalah sejenis fastfood seperti KFC / McDonalds. Tidak semua kota di Saudi menyajikan si Al Baik ini. Hanya ada di Makah, Jeddah, Madinah, Yanbu dan Taif. Di kota Jeddah ini, saking tenarnya, cabangnya ada sekitar 20. Tersebar di berbagai mal dan gerai yang berdiri sendiri.

Menu udang di Al Baik Mekkah
Menu udang, di Al Baik gambar : www.albaik.com

Menunya terdiri dari : ayam, udang dan ikan.  Ketiganya disajikan dalam bentuk hidangan goreng tepung dan nugget. Menu yang lebih ringan juga ada, misalnya : jagung-jagungan dan es krim.

Apanya yang khas? Rasa memang sedikit berda dibanding ayam goreng tepung lainnya. Lebih kaya bumbu dengan aroma rempah-rempah yang unik. Selain dinikmati dengan saos tomat, hidangan utama Al Baik juga bisa disajikan bersama saos bawang putih (garlic sauce) yang rasanya juara banget.

Harga-harga menu di Al Baik lebiih murah dibandingkan dengan menu yang sama dari fastfood lain yang sejenis. Mungkin selain rasanya yang khas, karena harganya ini yang membuat orang-orang lebih memilih Al Baik.

Porsi makanan di Saudi secara umum sangat mengenyangkan. Misalnya paket menu ayam goreng yang regular isinya : 4 potong ayam, sekantong kentang goreng, 1 buah roti dan sekaleng minuman bersoda. Kalau untuk saya pribadi, ukuran seporsi tadi terlalu banyak untuk jatah makan satu orang. Seringnya kami membeli 1 paket lalu dibawa pulang ke rumah dan dinikmati bersama-sama dengan anak-anak.

Alasan lain kenapa saya lebih suka makan di rumah adalah di gerai Al Baik tidak menyediakan nasi. Maklumlah lidah kampong saya ini, makannya mesti pakai nasi.

***

Mumpung tinggal luar negeri, tak ada salahnya mencicipi masakan internasional. Tapi, konon di banyak tempat di luar tanah air agak sulit menemukan makanan yang halal. Bahkan di negara-negara yang mayoritas muslim. Nah, ini kelebihan lain negara Saudi. Pemerintah menjamin kehalalan semua restoran yang dibuka untuk umum. Saudi menerapkan aturan ini, entahlah dengan negara TimTeng lainnya.

Jadi, jangan takut wisata kuliner di restoran publik mana pun. Saya sekeluarga kebetulan tidak terlalu suka makan di luar rumah. Tapi kami juga punya restoran favorit, namanya Pattaya. Restoran yang menyajikan masakan Thailand yang segar dengan harga cukup murah. Sebagian teman saya lebih menyukai restoran lain yang menyediakan menu sejenis. Restoran Asia namanya. Restoran Asia ini yang lebih umum dikenal oleh para jemaah umrah atau haji asal tanah air.

Di ruas jalan Andalus banyak berjajar restoran-restoran papan atas kelas dunia. Dijamin halal. Saya selama ini seringnya menumpang lewat saja. Selama 30 bulan tinggal di Jeddah, tidak pernah terbersit keinginan coba-coba jajan di sana. Suami sih sering ribut ngajakin makan ke sana. Apa hendak dikata, lidah istrinya ini lidah kampung. Hahaha.

Masakan khas Arab juga patut dicoba. Hidangan Timur Tengah dan sekitarnya tak sulit ditemukan. Mulai dari aneka kebab daging segar khas Turki, masakan ayam bakar ala Pakistan-Afganistan, nasi kari ala India atau berbagai menu lebanon.

Gambar : islesgillian.com
Gambar : islesgillian.com

Masakan ala oriental juga bertaburan. Misalnya hidangan khas Cina, Jepang, Thailand maupun Filipina.

Jangan ragu-ragu, dijamin kehalalannya oleh pemerintah setempat. Tidak perlu capek-capek cek label halal :P. Meskipun beberapa teman saya ada yang tetap ‘berkeras dan menganggap pemerintah Saudi ‘tidak terlalu disiplin’ dan label halal mudah dipermainkan. Di masa kini, apa sih yang tidak bisa dibeli? Jangankan label halal, harga diri pun mudah tergadai dimana-mana.

Untuk urusan kehalalan makanan di Saudi prinsip saya, sih, hidup jangan dibuat susah. Kita ikhtiar semampunya. Pemerintah berani menjamin berarti tanggung jawab pun siap mereka tanggung. Mari menikmati

***

Di Jeddah, urusan perut memang terbilang memuaskan untuk para perantau dari tanah air. Biaya hidup secara umum yang tergolong murah membuat saya sempat enggan untuk pindah. Kesempatan emas untuk mengkatrol angka tabungan seoptimal mungkin hehehehe.

Materi memang penting. Tapi tentunya kita semua sepakat, PENGALAMAN adalah hal yang tidak mungkin terbeli oleh uang. Tiap tempat pasti punya keistimewaannya masing-masing :).

Travel! You will find a replacement for what you leave behind,

And strive! Because the joy of living is in striving.

– Imam al-Shafi’i-

foto traveling

People We Haven’t Met Yet (6)

Tulisan ini merupakan salah satu bab dalam buku “Memoar of Jeddah : How Can I not Love Jeddah?” :D.

***

Saya ingat betul ucapan salah satu teman saya, “Waktu baru nyampe di Jeddah, pertama kali ke mal, ke Serafi Mall. Terus gue takut banget. Pegangan terus sama suami gue. Gue takut diculik!”

Kalimat tersebut tidak berlebihan. Saya juga begitu. Sewaktu masih di tanah air, cerita-cerita yang mendominasi tentang Saudi ya tentang penculikan perempuan, perkosaan TKW dan sejenisnya. Sebagian besar teman-teman saya di Jeddah punya kesan pertama yang tidak jauh berbeda.

Baca : People We Haven’t Met Yet (5) 

Sekarang sih, jangan ditanya! Siang-siang suami di kantor, kami suka kelayapan kemana-mana. Awal-awalnya masih suka naik taksi dengan supir Indonesia. Lama kelamaan makin banyak yang berani naik taksi ‘abal-abal’. Taksi apa saja yang kami setop sendiri di jalan. Termasuk saya.

Padahal saya termasuk penakut. Manalagi kecerdasan visual saya sangat terbatas. Susah sekali mau menghapal jalan. Sampai sekarang masih suka bingung antara 4 ruas jalan utama yang mengelilingi lokasi apartemen kami : Madinah Road, Sitten Street, Palestine Street dan Tahlia Street.

Saya masih pilih-pilih rute. Kalau cuma ke sekolah anak, rumah teman yang sering saya datangi, saya berani naik taksi ‘abal-abal’ sendiri. Tapi ada, lho, teman saya yang tidak pandang bulu. Ke mana pun berani naik taksi ‘abal-abal’ sendiri!

Taksi di Jeddah
Taksi di Jeddah

***

Pernah tersiar rumor yang mengatakan bahwa kewajiban menutup aurat bagi wanita di tempat umum malah menjadikan negara Saudi ini sebagai negara yang rawan perkosaan. Datanya dari mana, ya?

Kejahatan pemerkosaan yang beberapa kali diberitakan di media nasional pada umumnya terjadi di wilayah ‘domestik’. Kejadiannya di dalam rumah. Sedangkan di tempat-tempat umum, hijab sangat dijaga antara perempuan dan laki-laki. Kecuali di tempat-tempat tertentu yang pengunjungnya didominasi oleh pendatang seperti di pusat perbelanjaan Balad.

Saya cuma berani ke Balad kalau ditemani suami atau ramai-ramai dengan teman perempuan lainnya. Pendatang pada umumnya tidak terlalu terbiasa dengan aturan hijab seperti ini. Tapi, kalau ke mal-mal besar, insya Allah aman buat perempuan yang hanya sendiri atau menenteng balita saja.

Women in Saudi (gambar : theguardian.com)
Women in Saudi (gambar : theguardian.com)

Pengalaman tiap orang berbeda-beda. Memoar ini tentu berdasarkan pengalaman pribadi saya sendiri. Mungkin berbeda dengan teman-teman lain. Karena ada juga teman saya yang empet luar biasa dengan pria Arab yang menurutnya selalu mencari gara-gara. Alhamdulillah, biarpun ada yang kurang menyenangkan, untuk saya pribadi lebih banyak yang meninggalkan kesan yang baik.

***

Awalnya saya bingung dengan laki-laki yang suka membuang muka pada saya. Atau kalau saya di lift bersama suami, laki-laki lain dalam lift tiba-tiba merapat ke dinding. Kayak gengsi gitu, lho, dekat-dekat saya. Pernah juga di rumah sakit, saya duduk di ujung sebuah kursi panjang. Laki-laki yang duduk di ujung satunya langsung berdiri. Padahal diantara kami masih bisa ditempati oleh sekitar 2-3 orang lagi.

Lain lagi di supermarket. Kalau di kasir, biarpun saya yang ada dalam posisi mengeluarkan uang dari dompet, kasir laki-laki pasti memilih berbicara pada suami saya. Padahal saya kan juga bisa berbahasa Inggris dan sedikit-sedikit mengerti bahasa Arab.

Saya mengomel ke suami, “Buset, deh. Sombong amat laki-laki di sini. Kenapa sih, Bang? Aku disangka TKW, ya? Jijik dekat-dekat orang Indonesia?”

Suami langsung terbahak. Lalu menjelaskan, “Jangan geer dulu. Di tempat umum memang begitu, laki-laki tidak boleh dekat-dekat perempuan. Apalagi mengajak ngobrol yang tidak perlu.”

Benar juga ternyata. Baru, deh, saya perhatikan betul-betul sejak saat itu. Ternyata perlakuan seperti itu berlaku untuk perempuan mana pun.

Jadi, aman kok buat para perempuan untuk bepergian. Apalagi kalau ada suami. Selain lebih aman, kalau mau belanja-belanja kan juga ‘terjamin. Ada ‘ATM colek’ dengan saldo yang tak terbatas. Hahaha.

Apa? Kemana-mana harus menenteng suami? Suami di kantor seharian dari pagi hingga sore. Masa jalan-jalannya malam doang? Tidak, kok. Tadi sudah dibahas jika akan mengunjungi tempat-tempat tertentu saja harus menunggu suami pulang kantor dulu.

Dibandingkan situasi di Jakarta, rasanya memang berbeda. Di ibukota tanah air, saban ke mal, biarpun sudah punya anak dan tampang seadanya, ada saja yang suit-suit enggak jelas. Sudah pakai penutup kepala pula. Di Saudi, perlakuan seperti itu jarang terjadi di tempat-tempat umum.

Yanbu Arab Saudi
Foto kenangan waktu liburan ke Yanbu. Mirip dengan Pangandaran kan? Hehehe

***

Bulan januari 2011, saya tengah hamil 6 bulan. Bumil kepengin jalan-jalan malam-malam. Jadi, deh, kita putar-putar ke Corniche Road. Terus mampir di salah satu kios di pantai untuk jajan. Semua keluar dari mobil. Pintu dikunci dengan central lock. Lalu, suami tersadar, “Yaaaaa, kuncinya ketinggalan dalam mobil!”

Waktu itu masih menggunakan mobil sewa. Angin bertiup kencang sekali dan Jeddah sedang berada di puncak  musim dingin. Aduh, langsung lemas.

Suami mencoba menghubungi pihak penyewa. Sembari menunggu mereka membawa kunci cadangan, suami berusaha sendiri. Saya berdiri di samping kios sambil kedinginan. Bingung pula mau duduk di mana. Sementara Abil, anak sulung saya, sudah sibuk berlarian sendiri kesana sini.

Tiba-tiba pemilik kios keluar membawa karpet. Saya cuekin saja, pura-pura tidak lihat. Mana tahu maksudnya kurang baik. Eh, pas menoleh lagi, orangnya sudah tidak ada, menghilang ke dalam kiosnya. Dan…karpet yang ditentengnya tadi sudah digelar di atas lantai. Duh, sudah berburuk sangka. Lagi-lagi kegeeran tidak jelas. Tidak berapa lama, dibawain secangkir teh hangat. Tangannya memberi isyarat harganya 1 riyal. Saya ambil terus dia buru-buru pergi lagi.

Main sama bocah di Corniche - Jeddah, 2012
Main sama bocah di Corniche – Jeddah, 2012

Pemilik kios juga ikut membantu suami beserta satu orang temannya. Tapi dilakukan sambil melayani pembeli. Enggak ada tuh yang mengajak saya mengobrol atau menggoda tidak jelas.

Tahu-tahu sudah pukul 11 malam. Parahnya, tempat penyewa mobil tidak menemukan kunci cadangan. Jadi, mereka sibuk mencari cara lain. Kemudian sebuah mobil mewah berhenti. Seorang pria .arab dengan penampilan necis keluar dari mobil dan mendekat. Saya sudah deg-degan. Mau apa, ya, dia kira-kira. Saya cuma memperhatikan dari jauh. Tidak tahu mereka mengobrol apa. Tapi setelah itu, dia pun sibuk membantu mengeluarkan kunci mobil.

Akhirnya sekitar pukul 12 malam, kunci berhasil dikeluarkan. Para laki-laki itu termasuk suami saya saling berjabat tangan dengan senyum merekah. Alhamdulillah, kaki sudah beku menahan dingin. Herannya, Abil tetap bagai gasing berputar-putar dengan gembira di pelataran parkir.

Saya membayar jajan kami dan bermaksud memberi uang lebih untuk karpet. Pemilik kios menggeleng-geleng, “Mafi musykilah.” (“Tidak ada masala, tidak apa-apa.”)

Sewaktu saya tetap memaksa, suami menegur, “Jangan, Dek. Tersinggung, lho, nanti.”

Ya sudah, kami pun pulang.

Masya Allah pengalaman kami malam itu. Sampai sekarang kalau ingat bantuan mereka (yang tanpa pamrih sama sekali), rasa harunya tak pernah berkurang.

***

Lalu, pernah pula ban mendadak kempes di daerah Balad. Kami mudik mendadak. Jadi, dadakan pula berburu oleh-oleh. Pakai acara ban bermasalah pula saat hendak pulang setelah membeli beberapa barang di toko langganan di Balad.

Saat suami mencoba ganti ban sendiri, beberapa anak kecil berkulit hitam tiba-tiba menghampiri. Mereka menawarkan bantuan. Dari dalam mobil saya was-was. Barang dari bagasi berserakan di luar karena suami mengeluarkan ban serep yang ditaruh di bagasi. Biasanya orang-orang ini terkenal agak-agak Bengal. Konon, mereka suka melakukan tindakan kriminal. Akhirnya, saya berdiri di luar mobil, dekat bagasi. Menjaga barang maksudnya.

Kemudian lewat seorang lelaki dewasa berkulit hitam. Duh, makin cemas. Tapi ternyata laki-laki itu mengajarkan cara mengganti ban yang benar. Benar saja, acara ganti ban berlangsung lebih lancar setelahnya. Setelah memberi pengarahan singkat, laki-laki dewasa itu pergi begitu saja.

Saat kami sibuk memasukkan barang ke bagasi, anak-anak tadi juga ikut pergi. Saya cepat-cepat mengingatkan suami, “Bang, kasih uang, Bang.”

Suami buru-buru mengejar mereka. Mereka malah masuk ke dalam mobil dan siap-siap pergi. Suami mengetuk pintu kaca mobil. Akhirnya dengan wajah malu-malu mereka menerima pemberian suami. Masya Allah, never judge a book by its cover.

Pasar di Jeddah
Pasar di Jeddah

***

Saat di mal atau di rumah sakit, saya sering kesulitan menjaga Abil. Apalagi ketika Narda pun sudah bisa diajak main oleh kakaknya. Mereka berdua menjadi ‘duet maut’ yang kerap membuat saya sibuk minta maaf ke orang sekitar.

Ini kebiasaan di Indonesia, sih. Rasanya kalau di tanah air, orang-orang kurang suka dengan tipe anak-anak tidak bisa diam. Suka melempar pandangan, “Duh, ibunya bisa ngurus anak enggak, sih?”

Makanya kalau acara pengajian, kebetulan anak sulung saya tidak sekolah, saya memilih menahan diri untuk tidak ikut acara. Kecuali rumah penyelenggara yang saya kenal dekat. Kalau saya sudah tahu nyonya rumah ‘kurang nyaman’ dengan kehadiran anak-anak saya, saya akan memilih enggak datang.

Lain dengan di Jeddah ini. Kalau saya menegur anak-anak, saya sering ditegur balik oleh pria Arab. Pernah di rumah sakit, saya menegur Abil yang bolak balik naik ke kursi terus loncat terus naik lagi terus loncat lagi. Ibu-ibu arab lain senyum-senyum.

Tapi saya pikir mereka hanya senyum basa basi seperti  teman-teman dari Indonesia. senyum-senyum di depan, dalam hati menyimpan jengkel. Jadinya tetap saya tegur anak saya. Sorang pria Arab malah melotot ke saya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

Shagiir“, katanya. (Shagiir = kecil). Mungkin maksudnya masih anak kecil, santai saja. Saya akhirnya membiarkan Abil jadi tontonan orang-orang di ruang tunggu.

Kejadian yang sama di supermarket. Abil mau masuk ke troli seorang pria Arab. Langsung saya tegur. Pria Arabnya mengomel balik ke saya. Malah, anak saya diberi permen.

***

Selanjutnya, bagaimana kesan-kesan bekerja dengan orang-orang Arab? Apa dicambuk kalau bandel? Hahaha. Mari kita tengok pengalaman suami saya.

Di hari acara perpisahan yang diadakan divisi tempat suami bekerja, sepulang dari kantor, wajah suami terlihat muram. Dia menenteng sebuah kotak hitam besar. Katanya souvenir dari teman-teman di kantor. Dia memang tidak menyangka akan dibuatkan acara perpisahan secara khusus. Lengkap dengan tanda mata pula. Kenang-kenangannya pun bukan barang murah.

“Seumur-umur aku kerja, baru kali ini dapat kenang-kenangan.” Kata suami, sekilas saya melihat matanya sedikit berkaca-kaca,

Kalau di Jeddah, adatnya sedikit berbeda. Yang mau pergi yang akan ditraktir oleh teman-temannya. Semasa di Jakarta, biasanya yang akan resign yang ditodong untuk mentraktir teman-teman lain.

Suami saya terharu sekali. Orang Arab memang punya ciri khas sendiri. Tidak jelek-jelek semua, kok. Mereka ada sisi positifnya. Biarpun terkenal ‘bawel’ dan ‘pemalas’, kalau sudah kenal baik dimana kita bisa merebut kepercayaan mereka, mereka bisa memperlakukan kita dengan istimewa.

Tapi cerewetnya memang tidak ketulungan, sih, menurut suami saya. Kadang suka memaksa. Tapi mereka tidak pendendam. Kalau sudah mengomel, tidak berapa lama mereka akan biasa-biasa lagi.

Perpisahan dengan teman-teman di Jeddah (Januari 2013)
Perpisahan dengan teman-teman di Jeddah (Januari 2013)

Konon seorang teman yang tinggal di Negeri Sakura pernah mengeluh. Supervisornya baik dan jarang protes. Tapi tahu-tahu memberi appraisal atau nilai yang kurang bagus. Padahal sudah mengira hasil kerjanya bagus karena tidak pernah mendapat kritikan. Saya percaya tidak semuanya seperti itu. Kebiasaan kita sebagai orang timur memang banyak “enggak enakan” nya.

Salah satu teman kerja suami di Jeddah merupakan karyawan kesayangan bos. Sam-sama dari Indonesia. Kebetulan bosnya sama dengan bos suami saya. Bos yang ini engineer asal Indonesianya ada beberapa. Ketika suami mau pergi, dia langsung menagih CV teman suami. Sudah jatuh cinta pada orang Indonesia. Padahal rate orang Indonesia konon lebih tinggi daripada rate karyawan asal Pakistan-Bangladesh-India.

***

Tak terasa akhirnya kami pun harus pindah ke tempat lain. 30 bulan di Jeddah menyisakan banyak sekali kenangan manis. Di hari keberangkatan untuk terbang meninggalkan Jeddah, sejak jam 2 malam saya sudah tidak bisa tidur. Sibuk mengingat kalau saya pernah kecewa karena “tak ada salju di kota Jeddah.” Saya sungguh ingin tinggal di negeri yang bersalju..

Gagal bertemu salju. Tapi sukses bersentuhan dengan hal-hal indah lainnya.

Namun, tak ada penyesalan sudah mengambil keputusan yang tidak mudah ini. Insya Allah di tempat baru nanti, jika Tuhan menghendaki, kami pun akan dipertemukan oleh orang-orang baik. Sekali lagi … insya Allah <3.

Perpisahan dengan madam-madam di Jeddah (Corniche, 2013)
Perpisahan dengan madam-madam di Jeddah (Corniche, 2013)

***