[Netflix] Review Serial Sex Life : Alternatif “Baru” dalam Kehidupan Pernikahan?

Ini sebenernya viralnya dah lama, yes? Hehehehe. Telat review gegara 2 mingguan sibuk menyesuaikan diri (lagi) dengan ritme sekolah online.

Yoih Gaeeesss, nampaknya belum kunjung dikabulkan doa biar segera sekolah offline huhuhu.

Sebelum nonton, baca-baca judul dan nebak-nebak cerita tanpa baca sinopsis/review, saya pikir ini film standar saja soal life-changes after marriage. Bukan tema baru.

Sudah banyak film yang bahas topik-topik “you can have it all” bla bla bla yadda yadda yadda. Setelah menikah, yang imbasnya lebih gede biasanya kan memang perempuan, yes? Faktor tekanan sosial utamanya.

Ternyata film ini fokusnya bukan soal itu.

Baca Juga : “Serial Netflix : Virgin River yang Tenang Tenang Menghanyutkan”

Saya awalnya malah gagal fokus. Terpesona dengan pemeran utamanya, Sarah Shahi. Waduh, body goals abis. Setelah setahun rasanya jumawa sukses mempertahankan komposisi badan di angka 49-52 kg, begitu lihat Sarah Shahi kepercayaan diri hancur berkeping-keping #bantingdumbbell.

Sempet pause pilemnya demi untuk googling siapa dese, niat ya, Sis! :p. Wow, perempuan berdarah Persia. Mana tanggal lahirnya selisih beberapa hari dengan saya. Anak juga 3, Gaeesss.

Baca Juga : “Serial Netflix : LUPIN”

Sungguh selama nonton bawaannya pengin pilates sambil angkat beban! Hahahaha.

Di masa-masa revolusi Iran, tidak sedikit warga Iran yang “kabur” ke US. Tapi marilah kita fokus ke serial yang sempat bikin gempar inih :p.

Serial ini adalah tentang Billie (Sarah Shahi) yang telah menikah dengan laki-laki yang bisa dibilang “almost perfect” dengan 2 orang anak. Mereka tinggal di rumah gedongan di wilayah ‘suburb’.

Di banyak kota-kota besar di negara maju, city center biasanya didominasi apartemen dan perkantoran. Biasanya lebih pas untuk para single atau pasangan yang belum punya anak. Kalau sudah punya anak, umumnya melipir pindah ke suburb, demi untuk punya rumah yang pakek halaman hehehe.

Billie digambarkan mulai gelisah dan “kangen” dengan masa-masa singlenya di kota besar. Sekarang, kalau mau hang out dengan sahabatnya, Billie kudu naek kereta dulu menuju kota. Macam udah tinggal di Depok atau Bogor terus mau pecicilan ke mal Jaksel gitu kira-kira yak :D.

HIngga akhirnya angan terbang jauh ke belakang, nyangkut di kisah-kisah dengan so-called mantan terindah.

Jadilah serialnya ini banyak flashback ke masa-masa lalu Billie termasuk mantan-mantannya dese yang lain. Apanya yang dibahas? Ya silakan dibaca lagi judul serialnya #uhuk.

Apa Billie gagal move on? Apa terus Billie harus memilih antara kehidupan pernikahan yang indah bagai negeri dongeng walo garing vs balik ke masa-masa “freedoooooommm”?

Baca Juga : “Serial Netflix CLICKBAIT, wajib nonton!”

Nope. Ceritanya agak berbelok. Ternyata serial ini menawarkan isu baru yang tentunya akan membuat kalangan konservatif kejang-kejang :p. Monggo ditonton sendiri, yes? πŸ˜€

Memang Netflix tergolong “berani” dengan segambreng original seriesnya. Siapa yang ngikutin “Sex Education”? :D. Well, I did :p. Season 3 udah keluar blom, ya?

Banyak yang membandingkan “Sex Life” dengan “50 Shades of Grey”. Sayang saya enggak pernah nonton film ini jadi enggak bisa komentarin hehehe.

Saya kok ingetnya dengan “Sex and The City” (saya penggemar serial ini, saya ulang-ulang dan film-filmnya juga saya nonton beberapa kali hehehe). Karena fokusnya tentang perempuan.

But somehow, SaTC lebih “membumi” dengan warna warni karakter “khas perempuan” ala Carrie-Miranda-Charlotte. Kalau Samantha kan memang menolak monogami dengan tegas hehehe :p.

Sementara tokoh Billie di “Sex Life” apa deh, enggak terlalu jelas fokus hidupnya, konflik dalam dirinya mau fokus soal apa dst dst. Entah kalau memang filmnya mau pamer hal-hal “lain” sih hahahaha :p.

A little chat with my friends … “Are we going to be the next Billie kalok sekolah onlen gak kelar-kelar?” My oh my πŸ˜†πŸ€£πŸ€£πŸ€£. Kalok sekadar mengkhayal aja boleh laaahhh #eaaaaa :p.

7 out of 10.

Tetep layak tonton, kok :). Walo enggak terlalu semangat nungguin Season 2 nya hehehe.

Netflix : Emily in Paris (Bukan Review!)

Lom bisa review. Belom mood untuk nonton full hihihi.

Emily in Paris semacam Sex and The City versi yurop. Kalau SATC settingnya di New York, Emily bercerita seputar Kota Paris.

Emily in Paris Netflix

Dan percayalah, kedua film ini secara brutal mengambil sisi kota yang bagus-bagus doang hahahaha. Yang begini ini yang bikin kita wakwaw setelah mengunjungi langsung kota yang digambarkan ‘berat sebelah’ ini.

Pernah ke Paris? Dari kecil terbayang-bayang mau foto-foto seheboh mungkin di bawah menara yang selalu muncul dalam mimpi-mimpi obsesi eike tentang tinggal di liar negeri.

Nyatanya, nyampe sana sibuk nahan biar gak muntah saking pesingnya πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚. Saya sensitif banget sama bau-bau an. Joroookkk 😭😭😭.

Saya ngefans banget sama serial SATC. Versi filmnya pun kutergila-gila. Seneng sama persahabatan Carrie-Samantha-Miranda-Charlotte 😍😍😍.
Tapi tentu akal sehat dan logika tidak tertipu dengan gaya hidup Carrie yang begitu terekdungcesss padahal diceritakan hidup sebagai penulis lepas (doang) 😝😝😝.

Eh, daku tidak bermaksud meremehkan pekerjaan menulis. Tapi coba nonton SATC dulu deh β˜ΊοΈπŸ™.

Banyak loh yang tergila-gila pengin tinggal di New York karena nonton SATC doang πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…πŸ™. Duh, dikate nyewa apartemen di Manhattan berape, belum mikirin asuransi kesehatan di US. Tingkat kejahatan yang tinggi dst dst.

Waktu ke Las Vegas juga sama. Gue kira satu kota suasananya blink-blink ajep-ajep laknatullah gimana gitu, eeee ternyata yang gemerlap cuma satu ruas jalan D-Street doang πŸ˜πŸ˜….

Sisanya ya kota biasa ajah. Kotanya kering dan gersang. Begitu ke luar dari kawasan hura-hura, areanya ya cupu begitu πŸ˜…. Banyak gerai makanan halal loohhh di Vegas πŸ˜‰.

Apalagi Arab Saudi. Gemerlapnya Mekkah dan Madinah hanya sekian ratus meter dari Masjidil Haram dan Nabawi kok πŸ™ˆ.

Sisanya ya begitulah. Kotanya puanaaassss, tidak bersih, bangunannya kusam-kusam. Banyak TKI laki-laki dengan gegap gempita membawa anak istri ke sana. Berharap tinggal sampai mati di 2 kota suci.

Gak nyampe setahun, istri nangis-nangis minta pulang πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚ – – > hasil kepo-kepo ke supir asal Indonesia pas masih tinggal di Jeddah.

Intinya, film itu anggap hiburan saja. Fokus ke hubungan antar karakter. Walau memang ada film-film semodel SATC dan EIP ini. Lebih banyak menjual mimpi dan gaya hidup. Secara sengaja menampilkan glamornya sisi-sisi kota tertentu.

SATC tapi lumayan dari segi isu-isu perempuan dengan skenario kasual tapi nendang.

Emily in Paris, anggap hiburan ringan soal setting dan gaya hidupnya. Simak bagian perbedaan budaya sosial di US vs Eropa aja πŸ˜πŸ‘.

Walau sama-sama mayoritas ras kaukasian, sumpah bedaaaaa banget pembawaan bule Eropa vs Bule Amrik. Nah, film ini patut dijadikan sumber informasi terkait hal-hal tersebut.

Emily in Paris Netflix

Percaya deh, soal paling enak tinggal di mana… Rumput tetangga tidak selalu lebih hijau, the grass is greener where you water it 😘😘😘😘.

Siapa bilang mengejar akhirat harus bernaung selama mungkin di bawah lindungan Ka’bah? Sebaik-baik manusia bukan yang shalatnya setiap hari di Masjidil Haram tapi mereka yang membawa banyak manfaat bagi sesama manusia di mana pun kita ngontrak eh tinggal πŸ˜…πŸ™.

Serial ringan ini tetap sangat recommended buat tontonan ringan πŸ˜‹πŸ˜‹πŸ˜‹. Gak usah sampai kebawa mimpi πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜….

Selamat menonton ^_^

[Netflix] Review film The Social Dilemma

Yang lagi happening nih film dokumenter di Netflix. Film The Social Dilemma.

It’s a bit weird, discussing about how dangerous the social-media-business-model melalui salah satu platform media sosial itu sendiri hihihihi.

Iya kannnn? Check this out … yang bikin filmnya Netflix, dipublikasikan lewat Youtube dan dibahas rame di IG, Twitter, dan FB. Piye? Semuanya produk medsos yang lagi dikritisi

😝

Asyiknya menggunakan medsos itu salah satunya karena gratisnya kan? Makanya salah satu pesan penting dari film ini, “If you’re not paying for a product, you’re the product”.

Logikanya, mereka dapat duit dari mana sih? Jualan apa sih? Yang dijual ya preferensi kita-kita ini sebagai pengguna hehehe. Jumlah click kita merupakan salah satu ladang duit bagi FB-IG-Youtube-Google dst dst dst.

HOW?

Business model media sosial yang utama adalah SEBISA MUNGKIN MEMBUAT PENGGUNA BERLAMA-LAMA menggunakan platform mereka.

Caranya? Menyuguhkan, memberikan, menyarankan, INFO yang dianggap menarik bagi pengguna.

Kok bisa terbaca ya preferensi penggunanya? Bukan sulap bukan sihir, kok. Apalagi semua data kalau sudah terDIGITALisasi (is this even a word? cmiiw hihihihi).

Ini tuh bukan kayak kita dihipnotis atau semacam scam untuk memberikan info rumah di mana, nomor rekening berapa, bla bla bla. Mereka berusaha “membaca” … kira-kira ni user senengnya baca/lihat tentang apa ya?

Nah, dari scrolling an kita, berapa lama kita tertahan pada postingan tertentu, ke mana jempol kita sering mampir untuk nge-LIKE, di mana kita menghabiskan waktu berkomentar berlama-lama, foto mana yang membuat kita terhenti sejenak. Bahkan jumlah detiknya bisa dicatat dengan sangat-sangat tepat.

Selamat datang di dunia digital yang tidak punya wilayah abu-abu. Binary/biner, kalau enggak 0 pasti 1.

Data-data ini mungkin kelihatannya remeh saja. Tapi bayangkan dari sekian jam yang kita habiskan di media sosial setiap hari TEREKAM terus. Tanpa sadar kita membuka diri secara gratis, sukarela pula.

πŸ˜ƒ
Image by Tumisu from Pixabay

Data segabruk inilah yang diolah menjadi INFORMASI. Mereka bisa membaca pola atau kebiasaan kita. Dengan mudah, mereka bisa mengatur postingan/foto/tulisan/video mana yang ingin kita lihat.Kalian tahu kan, setiap akun di media sosial itu bisa beda-beda isi news feednya.

πŸ˜‰

Ini tuh bukan RANDOM semata. Tapi misalnya Facebook, begitu kita login, FB akan langsung memperhitungkan semua history kegiatan kita yang lalu-lalu untuk kemudian memprioritaskan postingan-postingan yang sesuai dengan minat kita.

Begitu algoritma udah diset, dengan kecepatan akses data yang makin ke sini makin dahsyat, dalam tempo sepersekian detik juga beres hehehe.

Kita terus scrolling, kita klik, kita like, scrolling lagi, terus ada postingan yang bikin emosi, kita komen, kita berantem (hahhaha), terus scrolling lagi, dst dst dst.

Kalau sudah begini, berjam-jam pun tanpa terasa kita habiskan di FB. Makin ketagihan, makin besar nama FB yang mengundang para pengiklan untuk ‘jualan’ di sini. Yang ngiklan nanti itu ya kita-kita juga sebagai pengguna hahahaha.

Dengan modal data segitu besar, informasi yang lumayan akurat, FB dengan mudah memetakan, iklan mana untuk siapa.

Everybody’s happy …. NOT!

Image by Robin Higgins from Pixabay

Jangan lupa … media sosial tidak peduli kalau postingan itu hoaks atau bukan, apakah postingannya bisa meningkatkan kualitas hidup apa enggak, pokoknya gimana caranya si Jihan Davincka ini bisa menghabiskan waktu selama mungkin di FB. Others … they don’t care!

Jadi segala sponsored post, recommended video, endebre endebre itu tidak muncul begitu saja. Tidak random. Ada algoritmanya.

Mungkin kita akan menangkis, “Ah, itu mah orang tolol doang yang bisa kena hoaks, yang akan tergiring hate speech, gue mah pinter cuy. Gue pergaulannya luas. Gue mah suka melihat dari berbagai sisi.”

Unfortunately, you’re not, Dear. Sooner or later, business model seperti ini akan menjebak kita semua. Karena punya pemetaan data yang luar biasa luasnya, semua pengguna media sosial bisa kena imbas.

Image by Gerd Altmann from Pixabay

Contohnya, metode pencarian di Google.Kalian pernah ngecek gak, kata kunci yang kalian ketikkan di Google itu bisa beda-beda hasilnya di tiap wilayah/negara/domain?

Try it yourself, ketik “Justin Bieber” di domain Google yang berbeda. Perhatikan kata kunci yang keluar, daftarnya pasti beda-beda. Kalau anak SEO pasti taulah hehehe.Jadi Google akan menyarankan kata kunci yang BANYAK dicari, sekali lagi, bodo amat isinya relevan atau enggak.

Soal relevansi ISI postingan sama standar Google itu beda lagi, yes? Google tetap terus mengupdate algoritma untuk membuang link-link ngawur. But remember, ngawur vs hoaks itu 2 hal berbeda. Siapa bilang tulisan hoaks pasti ngawur?

Banyak loh artikel ‘bullshit’ yang memutarbalikkan fakta yang ditulis dengan gaya gemilang nan meyakinkan.

Image by mohamed Hassan from Pixabay

Oooo karena itu ya susah menangkal hoaks di Indonesia apalagi di masa pandemi begini? Kate siapaaaa di Indonesia doang hahahaha. Familiar dengan Qanon Conspiracy? Selevel Australia yang budaya literasinya kuat pun banyak kalangan terpelajar yang kepincut sama si Qanon.

Emang kalian kira penganut teori bumi datar dan kalangan antivaks (berbasis hoaks) itu cuma ada di Indonesia? Tet tooot! Lu kira di negara maju kayak Irlandia mereka gak percaya hoaks? Hahahaha.

Ada loh yang komen, “Kita kena Covid karena Irlandia sudah melegalkan pernikahan sejenis dan aborsi. Ini karma buat Irlandia!” Yang nge like dan memberikan sub komentar setuju juga banyak. Mereka merajalela di berbagai belahan dunia.

Image by Alexas_Fotos from Pixabay

Fakta lain yang harusnya tidak mengejutkan adalah betapa HOAKS itu memang lebih mudah mengalir sampai jauh ketimbang fakta. Lebih eksotis, lebih mudah menarik perhatian, lebih memancing emosi, lebih waaauuuuwww, lebih jeng-jeeeennnggggg… dst dst.

Misalnya : “Sejak sekolah dibuka di Malaysia, ada satu kelas yang dikarantina karena positif covid semua!”

Padahal berita aslinya, “Sejak sekolah dibuka di Malaysia, ditemukan ada satu anak yang positif sehingga semua teman sekelasnya dikarantina untuk dicek lebih lanjut.”

Bangke sekali bukan?

Image by lagrafika from Pixabay

Dan saya menemukan berita ini dishare oleh salah satu teman yang pendidikan akademisnya bukan kaleng-kaleng. Enggak usah sebut profesi, ya. Sensitif nanti hehehe.

Hanya butuh beberapa detik bagi saya untuk menemukan link aslinya dan membaca berita sebenarnya. Tapi menurut teman yang share, “Ah yang penting kan intinya ada yang kena covid dan sekolah tetap harus tutup.”

Ya beda doooonggg, ada satu yang positif covid vs murid satu kelas covid semua. Hadeeehhhh, tentu saja berita hoaksnya lebih mudah memancing emosi. Kok bisa-bisanya dese ketemu link berita kacrut begitu sih?

Mudah saja kalau ngikut algoritma standar medsos di atas. Terbukti ybs tiap hari posting Covid melulu dengan narasi kontra tingkat tinggi. Kebiasaan ini mungkin diolah dengan baik oleh mesin FB untuk mengantarnya bertemu berita-berita yang seolah membenarkan ketakutannya.

Nah sekarang siapa yang bangke?

πŸ˜‘
Image by Gerd Altmann from Pixabay

Business model media sosial boro-boro bikin orang makin luwes dalam mencari informasi. Dibikinnya kita terjebak dalam pikiran kita yang bias dari awal. It’s not rite.

Dengan penjelasan yang sama inilah, urusan politik pun merambah dengan mulus di media sosial. Mereka memanfaatkan preferensi politik pengguna dengan terus menghajar berita-berita sejenis. Tidak jarang malah melanggengkan hate speech.

Ingat kasus Cambridge Analytica? Sangat berhubungan erat.

Kok ya jadi SOCIAL DILEMMA? Karena memang ini problem sosial. Seberapa pun tingginya integritas individual yang mungkin kita miliki, lambat laun akan tergeser dengan arus sosial yang lebih besar.

Again, lu kira yang doyan share hoaks hanya orang-orang yang kurang piknik dengan pendidikan rendah?

Sialnya, di masa pandemi ini di mana PSBB dan lockdown akan makin sering mewarnai hidup kita, gimana lagi cara membunuh kebosanan kalau gak main medsos? Nonton Netflix, cek youtube, scrolling FB, intip story di IG?

Saya pun tipe kalau ingin lari dari Medsos, ya saya jalan ke luar rumah. Ngapain kek, hiking kek, muter-muter di mal kek. Lah kalok pandemi begini? Tapi kini sekolah online sudah merenggut hari-hariku dari medsos hahahahha. Hidup Nadiem! Hahaha.

Media sosial memang sudah menjadi gaya hidup hampir semua orang. Manusiawi sekali itu. But there should be a workaround gimana caranya biar kita tidak terjebak. Dan workaround ini seharusnya bukan hanya menjadi tanggung jawab pengguna.

Pemangku kebijakan sudah seharusnya memikirkan batasan-batasan soal business model yang tetap memperhatikan etika dll. However complicated, that we can work with.

Think about ya teman-teman :).

πŸ™

Film Dokumenter Netflix : MINIMALISM, Living a Meaningful Life

Tadinya nonton film dokumenter Netflix yang ‘Tiny House Nation’ terus dilanjutin sama MINIMALISM ini. Mungkin di masa pandemi ini dimana ruang gerak cukup terbatas, lebih mudah menghayati tayangan dokumenter model begini?

Give them a try ;).

Joshua dan Ryan, yang tinggal di US, menulis buku “Minimalism : Live a Meaningful Life”. Menceritakan pengalaman mereka melepaskan diri dari godaan dunia dan mengejar kebahagiaan sejati.

Mereka merasa sukses melepaskan diri dan jebakan ‘The American Dream’.

film dokumenter Netflix

Again and again, US ini memang buedaaaaaaaaa banget sama yurop secara umum. Tentu saja KESENJANGAN EKONOMI salah satu faktor utama kenapa orang-orang di US kok keliatannya lebih gragas soal barang-barang ketimbang orang-orang di yurop hehehe. Timur Tengah juga mirip, sih :p.

Percayalah, LINGKUNGAN itu pengaruhnya besaaarrrr. Cukup terasa kesulitannya hidup di Jeddah dulu kalau kita penampilannya dekil. Here’s the story about that hihihihi.

Di US tidak segini-gininya sih. Tapi secara sosial sehari-hari ya pasti terasa. Makanya tuh di US sampai ada yang namanya credit-score. Aneh banget. Makin sering kita nyicil, makin bagus skor kita. Kalau gak salah, kalau gak pernah kredit malah susah dapat pinjaman dari bank. Nah loh :p.

Kalok di yurop, like I always said, kesenjangan tidak terlalu timpang. Kasarnya, kehidupan ekonomi hampir semua kalangan tuh mirip-mirip. Walau yah, karena kredit, banyak yang tergoda juga pengin ini pengin itu banyak sekaliiiiii :p.

Kita mungkin sebenarnya sadar kita tidak terlalu butuh tinggal di rumah gede misalnya. Tapi ya itu, tekanan lingkungan sukar dilawan. Namanya makhluk sosial ye kan.

Teman-teman nyicil rumah segede gaban, kok ya gelisah sendiri. Awkward juga kan kalo bikin acara terus ketempatan giliran terus rumah kita ‘beda sendiri’? Sekali dua kali bisa kuat. Kalau berkali-kali ya baper juga, Sis!

Makanya kadang standar kebahagiaan itu sesimpel –> diterima dalam pergaulan / mendapat pengakuan.

Ini sudah banyak pengalaman dari usia sekolah kok, ya.

Dulu sempat becanda-becanda sama teman di sekolah, how we wish to have a rich boyfriend biar bisa upgrade penampilan dan masuk geng anak gaul hahahaha. Apa ini, apa iniiiii, kecil-kecil udah “mental sugar daddy” 🀣🀣🀣.

Pukulan cukup berat dulu itu, one of my biggest crush (kakak kelas) yang ujug-ujug jadian sama anak perempuan kece-gaul-tajir. Sumpah, sakit hati maksimal! Hahaha.

Nah, sama seperti Joshua dan Ryan yang latar belakangnya ‘keluarga susah’, kadang terjebak hidup materialistis itu salah satu cara balas dendam terhadap masa lalu?

Kita mengejar kebahagiaan dengan mengoleksi hal-hal yang dulu tak bisa kita jangkau. Harta benda misalnya. Makin klop dengan desakan lingkungan tadi.

Misalnya dendam dulu dicuekin karena dekil. Berbekal rasa sakit hati itulah jadinya bertekad kalok punya duit mau tampil sekeren mungkin. Dengan begitu kita jadi merasa lebih bahagia?

It is so wrong :(.

Ternyata, rumusnya enggak gitu. Jangan sampai kita menyandarkan tujuan hidup pada dinding yang salah.

Karena kalau keinginan bersifat materi yang terus-terusan kita ikuti, tidak akan ada habisnya. On and on and on … kayak minum yang manis-manis, boro-boro menghilangkan haus, yang ada malah makin craving, kan? Lah kenapa jadi ceramah pola makan sehat ini lama-lama hahahahaha.

In the end –> “The things you own , end up owning you” – Tyler Durdan

Kedua penulis the minimalist ini mau ngasih tahu kalau kita bisa punya standar kebahagiaan kita sendiri. Dan itu jangan sampai dipengaruhi oleh sesuatu di luar sana yang sukar kita kendalikan (pendapat orang, pertemanan, dsb dsb).

But again, melawan tekanan lingkungan itu perlu kerja keras dan kegigihan luar biasa. Ada baiknya juga, birokrasi harus melibatkan diri. Itulah kenapa di Eropa secara umum lebih “merata” ketimbang di US.

Ada peran pemerintah yang cukup signifikan.

Di film ini disebut betapa iklan dan berbagai tayangan informasi punya peranan besar dalam menentukan gaya hidup banyak orang. Tapi di situlah lingkaran setannya.

Perputaran ekonomi secara umum sangat ditunjang oleh perputaran uang dan barang. Kalok semua jadi minimalist ya mentok kreativitas / perekonomian dunia πŸ˜….

Begitulah mengapa manusia tidak diciptakan seragam. Ironis, ya 😊.

Makanya kehidupan manusia itu kompleks, enggak bisa tiba-tiba dibikin simpel gitu aja.

Tapi saya selalu percaya,

“The best feeling in the world is realizing that you’re perfectly happy without the thing you thought you needed” – marxie

Letakkan dunia di tanganmu, bukan di hatimu. Selamat menonton! πŸ₯°

Film Netflix Terbaru Edisi Natal 2019 : THE TWO POPES, “When Noone is to Blame, Everyone is to Blame”

Film Netflix terbaru untuk edisi Natal 2019 ini : The Two Popes.

Sempat disangka film dokumenter beneran saking miripnya aktor pemeran Pope Francis dengan Pope aslinya hehehe. Iyah, mirip bangetΒ πŸ˜….

So that you know, film netflix terbaru yang ini kategori FIKSI. Kalau pun memang terinspirasi dari kisah Pope Benedictus dan Pope Francis, ternyata banyak juga penambalan yang tidak sesuai atau berat sebelah.

film netflix terbaru Natal 2019

Kritikan bertaburan tapi sebagai tontonan, film ini sangat menarik. Mengingat adegan-adegannya didominasi oleh percakapan one on one antara Pope dan Cardinal-nya (sebelum digantikan), TAPI TIDAK MEMBOSANKAN sama sekali.

Yah, namanya film, kadang harus didramatisasi biar seru. Kalo ako mah anaknya emang googling-an kalo abis nonton film. Nonton filmnya 2 jam an, googlingnya bisa seharian hahaha.

Kurang tepat memang kalau menggambarkan Pope Benedictus vs Pope Francis sebagai konservatif vs liberal. Sementara masa lalu Pope Francis di “Dirty War – Argentina” cukup suram. Googling sendiri ya, Gaeeessss <3.

Kritikan tajam dari kaum sosialis tetap mengalir deras terhadap Pope Francis, walau beliau kini sudah menjadi salah satu icon pengentasan kemiskinan di dunia.

Tapi dalam kehidupan sehari-hari seringnya kita terjebak dalam area hitam putih ini, ya. Dalam banyak hal, perlu waktu panjaaaaaang untuk menyadari “wilayah abu-abu”.

Ironisnya, film The Two Popes menyadarkan saya soal ini sekaligus melakukan pelanggaran yang sama dalam skenarionya hehehehe.

Saya terkesan dengan percakapan saat Pope Benedictus menganggap Pope Francis “too compromising”. Di mana Pope Francis menjawab tegas, “I changed. Not compromised. Two different things.”

Versi film menyorot kasus-kasus korupsi dan pelecehan seksual terhadap anak-anak yang terjadi dalam lingkup Gereja Katolik dan terkesan ditutup-tutupi.

film netflix terbaru review The Two Popes 2019

Pope Francis : “Kita lebih rela melihat 9 anak-anak menderita daripada harus kehilangan 9 juta jemaah.”

Di film terlihat kalau Pope Francis mengkritisi petinggi-petinggi gereja yang terkesan menyembunyikan pelanggaran-pelanggaran serius demi menjaga citra gereja dengan tujuan utama –> biar jemaah tidak “lari”???

Percakapan berkesan lainnya soal bagaimana agama tidak seharusnya menjadikan manusia bertujuan menjadi Tuhan. Tuhan hanya ada satu.

Tapi saya setuju dengan salah satu kritikus film yang mengatakan, sudah sangat usang jika kita mempertentangkan konservatif vs liberal dalam urusan kehidupan manusia. Gak ada gunanya jugak, gak nawarin solusi apa-apa juga.

Sebaiknya, yang diangkat adalah korupsi vs reformasi melawan korupsi, dunia yang makin kapitalis vs gimana cara kita menguranginya, kemiskinan vs penyebab dan bagaimana kita terus melawannya.

film netflix terbaru The New Popes

Samalah kayak debat-debat di dunia maya yang cenderung jatuh ke ranah ad hominem :(. Lebih baik bahas KONTEN daripada terjebak dalam eyel-eyelan tidak bermutu yang malah menjebak emosi, macam “dasar lu kadrun” atau “cebong goblok” atau “lu emang kampret sih”.

Sumpah, USELESS! πŸ˜°πŸ˜°πŸ˜°.

Gue bingung Jakarta banjir masih jaman nyalah-nyalahin gubernur. Gusti Allah, dari era gue masih gadis kinyis-kinyis cantik jelita (oh wait, sekarang juga masih cantik sih #sisirPoni), Jakarta sudah banjiiiiiiiiiiirrrrrrr, ke mane aje lu!

Awal tahun 2007 noh, banjir besar ampe kantor libur segala. Tiap tahun setelah itu kalau hujan ya banjir, sampai sekarang. Mbok ya jangan gila malah bahas Pilkada yang sudah lewat hampir 3 tahun! #pijetKening

Udah ngomelnya, balik ke review filmnya lagi :p.

Agama seharusnya menjadi jalan untuk membawa kebaikan bagi banyak orang, termasuk kekhawatiran mengenai dunia yang makin materialistis. Jenjang antara si kaya dan si miskin yang makin menganga, iklim global yang makin memprihatinkan, adalah hal-hal yang seharusnya diperjuangkan oleh GEREJA.

Sungguh kuingin standing ovation pas percakapan ini, literally! πŸ˜…πŸ˜πŸ₯°

Banyak persoalan dalam kehidupan sosial yang “jalan di tempat” karena banyak pihak fokus kepada PENCITRAAN, ego sendiri-sendiri, boro-boro bahas SOLUSI :(.

Kita terjebak untuk berpikir, “HARUS ADA YANG SALAH.” Walau hati kecil kita tahu terlalu rumit untuk menunjukkan satu jari kepada pihak tertentu. We knew, we had noone to blame.

Persis.

Makanya, kalau kalian melihat suatu ketidakadilan nun jauh di sana, tengoklah ke dalam kaca di depan kita, lihat bayangan kita sendiri. Kita mengutuk yang jauh, lupa bercermin kepada yang dekat-dekat.

Memaki pelaku, meratapi korban entah di mana, namun tanpa sadar mungkin menjadi pelaku atas korban-korban di sekitar kita sendiri. ((KITA)), tentu saja, yang menulis termasuk!

Makanya, “When no one is to blame, everyone is to blame” -Pope Francis-

Semoga kita semua berusaha melihat bayangan di cermin sendiri sebagai sosok yang membawa perbaikan atas berbagai persoalan sosial antar manusia di dunia, aamiin πŸ™πŸ™πŸ™.

And here comes one of the special days …. CHRISTMAS day <3.

β€œMy idea of Christmas, whether old-fashioned or modern, is very simple: LOVING OTHERS. Come to think of it, why do we have to wait for Christmas to do that?” -Bob Hope-

Cinta tidak pernah ke mana-mana. Selalu ada di sini <3.

SELAMAT HARI NATAL bagi teman-teman yang merayakan πŸ₯°πŸ˜˜πŸ€©πŸ™.