Katanya, Dunia Tidak Peduli?

1. Dunia tidak peduli pada Perang Irak?

Sudah baca ini ? —> Protests against the Iraq-War 

Malah, salah satu protes anti Perang Irak yang berlangsung di Roma memecahkan rekor dengan jumlah pemrotes terbanyak.

Saya kutip ya :

“Largest Anti-War Rally

On February 15, 2003, anti-war rallies took place across the globe – the largest occurring in Rome, Italy, where a crowd of 3 million gathered to protest against the USA’s threat to invade Iraq. Police figures report that millions more demonstrated in nearly 600 cities worldwide: on the same day, 1.3 million rallied in Barcelona, Spain, 1 million participated in a peace march through the streets of London, UK, and 500,00 people in Melbourne and Sydney, Australia, joined the biggest marches since the Vietnam War peace protests.”

Dari situ juga kelihatan, ada demo anti perang lainnya dari wilayah lain di Eropa :).

2. Dunia tidak peduli pada Palestina?

Wah, ini yang paling banyak linknya hehehe. Perwakilan saja ya saya sertakan di sini. Sila dicari lebih lengkap kalau mau :).

Ini yang versi foto-foto. Aksi protes dari berbagai belahan dunia dirangkum di sini. Klik tanda panah di bagian kanan foto for the next pic.

Di Tel Aviv sendiri juga ada demo –> Demo anti kekerasan di Gaza (Tel Aviv)

Salah satu protes di London –> Gaza Protest March in London

3. Dunia tidak peduli pada Bosnia?

Kasusnya bahkan dibawa ke pengadilan internasional dan diadili sebagai kejahatan perang –> War Cries Chamber in Bosnia 

4. Dunia tidak peduli pada Afghanistan?

Ini daftar lengkapnya, sumbernya juga banyak tuh di bagian bawahnya. Monggo disikat satu persatu ^_^.

5. Dunia tidak peduli pada Suriah?

Jangankan negara-negara mainstream, di sebuah kota kecil di Republik Irlandia, salah satu negara Eropa yang paling tidak tenar (hihihi), sebuah sekolah Katolik beberapa kali menggalang dana + baju-baju/selimut untuk Suriah :). Sekolah itu… sekolah anak saya :’).

Bantuan dikumpulkan via organisasi di gereja sekolah untuk disatukan dengan bantuan lain dari seluruh penjuru Irlandia. Itu sudah dilakukan sejak tahun 2014.

6 … dan seterusnya. Ini masih perlu dilanjutkan kah? Fungsi kalian terkoneksi ke internet itu seharusnya bikin “kalian” lebih aware dengan situasi di tempat lain kan ya? Biar lebih tahu dan tidak terus-terusan hidup bagai katak dalam tempurung? Sumber berita itu bukan cuma FACEBOOK! Bukan juga media sosial lainnya :p.

***

See my dear friends, humanity beyond our differences, including religion :).

Kita seharusnya bekerja lebih keras untuk menyiarkan kedamaian. Memperlihatkan bahwa kita itu bisa lho hidup damai dalam perbedaan. Menunjukkan kalau ada tempat-tempat di dunia ini di mana kalian bisa berjalan bebas tanpa mesti menyembunyikan identitas agama kalian dan kalian tetap mendapat kedamaian dan penghormatan dari orang lain.

Setidaknya itu yang saya rasakan sebagai muslimah berjilbab di negara mayoritas Katolik di sini :).

Juga menyadarkan bahwa kadang persamaan tidak lantas membuat kita dijunjung tinggi oleh orang lain. Dan itu kadang-kadang tidak berhubungan dengan agama :). Ada hal lainnya lagi. Jangan heran kalau seringkali di beberapa kesempatan di Timur Tengah, kita, orang Asia Tenggara/Selatan dipandang sebelah mata oleh saudara-saudara sesama muslim kita yang beda ras :). Itu masalah ekonomi semata. Bahwa mengapa agama tidak sanggup mematahkan hal ini itu adalah peer kita semua bukan? :).

Makanya teman-teman, kita harus terus menghidupkan harapan tentang “dunia yang damai” itu ADA dan insya Allah bisa kita perjuangkan.

Mungkin karena itulah, jika ada gejolak yang menimpa wilayah-wilayah yang kita tahu di sana harapan kita ada (di Paris misalnya), kita terkejut! Lebih terasa efeknya!

Karena separuh hati kita terasa limbung dan was-was nan khawatir, “Apakah sudah tidak ada tempat di mana kita bisa menaruh harapan bahwa perbedaan itu benar adalah rahmat :). Bahwa kita bisa lho hidup damai dalam perbedaan. ”

Gambar : misacor.org
Gambar : misacor.org

Setop adu domba, yuk! ^_^. Setop menyebarkan kebencian untuk hal-hal yang bahkan kita sendiri tidak tahu :).

49:13. Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku SUPAYA KAMU SALING KENAL MENGENAL. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.

Itulah salah satu gunanya merantau bukan? 😉 <3

Baca : To Read More Pages 

foto traveling

Paham Komunis : Cita-cita Komunisme

Paham komunis : Puluhan tahun generasi bangsa didikte untuk membenci hal yang sebenarnya tidak pernah kita pahami benar-benar. Kepada ideologi komunisme misalnya. Saya tidak menganggap komunisme itu keren atau gimana-gimana. Tapi ternyata benar bahwa distorsinya cukup signifikan.

Bahkan banyak tokoh-tokoh pergerakan yang juga benar-benar ikut berjuang selama puluhan tahun yang kiprahnya ikut menguap karena sengaja dilenyapkan :(. Sebutlah salah satu tokoh komunis “terbesar” di tanah air … Tan Malaka.

Namanya bersanding dengan Soekarno, Mohammad Hatta dan Soetan Syahrir, digelar “Bapak Bangsa” oleh redaksi Majalah Tempo. Biografi keempatnya diterbitkan secara terpisah oleh Tempo beberapa tahun silam.

Atheisme dan agama paham komunis
Gambar : merdeka.com

Sosok Tan Malaka, jauh sekali dari bayangan “doktrin Orba” akan paham komunis atau ideologi komunisme. Dibesarkan di Ranah Minang, dengan keislaman yang kental, Tan Malaka tidak pernah melepaskan status muslim hingga akhir hayatnya.

Sekitar tahun 20-an di Belanda, Tan Malaka pernah mengungkapkan kekecewaannya terhadap Stalin kepada Bung Hatta. Menurutnya Stalin telah menjelma menjadi seorang diktator kejam pasca merebut kekuasaan.

Bung Hatta yang memang tidak pernah “suka” dengan paham komunis / komunisme menyindirnya, “Bukankah diktator adalah bagian dari komunisme?”

Tan Malaka menentang keras. Menurutnya konsep komunisme adalah sebuah pengabdian dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat. Konon, inspirasi pembicaraan ini direkam oleh Bung Hatta dan dituangkannya dalam Pasal 33 UUD 1945. Coba dicek sendiri hehehe.

CMIIW, ya. Shame on me, enggak ingat sumber bacaannya. Heran deh, kalau gosip artis aja, saya gampang bener ingat sumbernya hahaha :p.

Komunisme, kalau dibaca benar-benar teorinya adalah sebuah paham yang nyaris tanpa cela. Komunisme memimpikan kehidupan masyarakat tanpa kelas, yang kaya menyokong yang miskin, keadilan sosial yang merata tanpa mengenal kaum papa.

Mungkin karena itulah, tokoh-tokoh komunis dunia lahir dari mereka yang tumbuh dan besar dalam kemiskinan di tengah-tengah kapitalisme penguasa. Stalin dan Mae Zedong misalnya. Merangkak dari bawah, menyaksikan ketimpangan kesejahteraan masyarakat. Lantas bertekad membangun komunisme untuk mengenyahkan ketidakadilan yang juga mereka rasakan sendiri.

Simak cita-cita Mae Zedong saat berada di tampuk kekuasaan, yang menginspirasinya untuk menerapkan konsep “The Giant Leap”

Kira-kira begini cita-cita Mae Zedong –> “Rakyat China tidak akan ada yang kelaparan karena pemerintah sanggup menyediakan makanan sebanyak-banyaknya. Rakyat China tidak perlu ke luar negeri untuk jalan-jalan karena pemerintah sanggup membangun negeri China yang sangat indah di seluruh pelosok. Tidak ada orang miskin, tidak ada yang tertindas, tidak ada yang sengsara.”

Mereka hendak menciptakan surga di dunia :). Korsletnya di mana? Untuk memenuhi cita-cita ini, mereka maksa!!!

Kaum komunis lupa sifat dasar manusia :). Menafikan fakta bahwa manusia tidak bisa dipaksa. Bahwa “surga” tidak akan terwujud hanya dengan campur tangan manusia.

Yang tidak setuju dan tidak menurut dienyahkan. Pemimpin komunis tidak segan-segan menebar teror dan propaganda untuk melenyapkan pihak yang tidak sepaham. Mae Zedong memaksa petani bekerja siang malam demi kecukupan pangan yang dicita-citakannya untuk seluruh rakyat China yang super banyak itu.

Ironis bukan? Mae Zedong hendak meningkatkan kesejahteraan para petani di negerinya yang tertindas segitu lama tapi praktiknya…??? Hendak mencapai surga dengan menciptakan neraka bagi kehidupan orang lain. Piye jal? :p.

Kontroversi lain adalah tokoh Che Guevara. Katanya sih, sahabat kaum miskin dan tertindas. Tapi di mata lawan-lawannya, Guevara adalah seorang pembunuh berdarah dingin yang tidak segan-segan membantai siapa pun yang tidak sejalan.

Komunis adalah atheis juga salah kaprah yang sering terjadi :). Mungkin karena Karl Marx, si pencetus “Das Kapital”, yang dijadikan rujukan para tokoh komunis dunia, menentang agama di sisi lain. Di masa-masa Marx menulis buku-bukunya, negara Eropa banyak yang masih berbentuk kerajaan dengan menganut agama tertentu. Marx menganggap agama dijadikan para penguasa untuk menekan orang-orang miskin agar tidak melakukan perlawanan.

Stalin, dibesarkan sebagai seorang Katolik dan digadang-gadang oleh ibunya agar menjadi pendeta. Tapi justru Stalin tidak suka dengan doktrin-doktrin agama yang menurutnya sudah membodoh-bodohi rakyat miskin untuk tidak menuntut haknya untuk hidup sejahtera kepada penguasa.

Mae Zedong, pada dasarnya juga tidak pernah mengenal agama samawi :D. Jadi ya, dia mau jadi komunis apa enggak, condongnya pasti ke atheis.

Padahal, di Indonesia sendiri, komunisme dianggap perlawanan terhadap imperialisme. Tokoh-tokoh “kiri” di Indonesia yang ikut mati-matian merebut kemerdekaan itu banyak lho, Kakaaaa :D. Sebagian besar pun kelahiran tanah Minang :).

Orang Minang, di masa pergerakan banyak melahirkan pemikir besar yang sekaligus terjun langsung ke kancah perjuangan secara fisik. Rata-rata mereka dibesarkan dalam pendidikan Islam yang kuat ala-ala pesantren. Suku lain enggak usah sirik :p. Fakta masa mau dilawan, Cuy. Walau tidak semua yang kekiri-kirian pasti komunis.

Muso pun seorang muslim. Muso itu Musa dalam bahasa Jawa. Tapi coba, ada yang berani gak ngasih nama anak Muso pasca 1965? :p. PKI lahir dari beberapa tokoh yang besar dalam naungan Sarekat Islam.

Antara Mae Zedong vs Stalin pun sempat terjadi cekcok di mana hubungan sempat mendingin.

Keinginan para sejarawan untuk mengungkap peristiwa G-30-S dari sudut pandang satunya lagi tidak hendak mengatakan bahwa PKI seharusnya dibiarkan hidup dan terus berkembang di tanah air. Tapi sekadar meluruskan sejarah yang sudah saya sebut di atas : distorsinya banyak pakai bangeeettttt :(.

Bahwa dalam perjalanan politiknya, PKI juga banyak melakukan tindakan-tindakan teror terhadap yang tidak sejalan. Tapi jangan sampai kebencian membuat kita tidak adil. Pernah ada yang mengklaim, PKI pernah membunuhi orang dalam masjid saat lagi sembahyang hingga darah menggenang semata kaki. First thing first, kasih tahu dong nama masjid dan lokasinya? Ada yang tahu?

Tapi banyaknya jumlah korban yang terbunuh pasca G-30-S ternyata bukan rekayasa :(. Pemerintah hanya mengakui 500 ribu orang, which is bukan jumlah yang sedikit juga kan? Penelitian selanjutnya, bahkan pengakuan orang-orang yang “terlibat” dalam pembantaian berani mengklaim korban mencapai satu juta orang. Bahkan ada klaim hingga 3 juta orang.

Mengapa sulit menemukan angka yang pasti? Karena keluarga korban banyak yang memilih bungkam. Sebagian takut ribut-ribut demi kelangsungan hidup anak-anak dan cucu mereka. Karena saking lebaynya, generasi-generasi lanjutan dari orang-orang yang “tertuduh PKI” pun harus menanggung “dosa” orang tuanya.

Propaganda komunis bahaya laten disuburkan oleh rezim yang berkuasa setelahnya karena mereka butuh legitimasi kekuasaan. Tidak mudah merebut simpati rakyat dari Bung Karno saat itu :).

Juga yang menganggap Bung Karno menjadikan PKI sebagai anak kesayangan. Ingat Dekrit 1959? Jangan banyakan baca hoax lah. Sekali-sekali mbok ya baca buku sejarah beneran ngono lho hehehe :p. Kalau tak ada Dekrit 1959, di Pemilu selanjutnya sudah pasti PKI akan menang telak dengan banyaknya jumlah pendukung dan simpatisannya.

Justru Bung Karno hendak menekan “kebesaran” kaum komunis dengan menggeser mereka dari kursi legislatif. Saat itu cukup lancar walau ditentang oleh banyak petinggi partai. Bung Karno didukung penuh oleh Angkatan Darat. Sejarah pun mencatat, 6 tahun setelah itu, Bung Karno sukses dilengserkan oleh kekuatan yang sama.

Ya begitulah. Sejarah…tergantung siapa yang bercerita :). Makin banyak baca mudah-mudahan makin tidak mudah panik dan heboh sendiri hehehe :p.

Jangan sampai deh ya kita termakan hasutan dan ikut-ikutan membenci hal-hal yang sebenarnya tidak kita pahami. Mengerti enggak ikut memaki iya. Duh jangan sampai lah ya :). Kalau memang malas mencari tahu ya seharusnya jangan sampai ikut-ikutan benci enggak jelas hehe :p.

Salah satu buku sejarah mengenai G 30 S, ditulis oleh sejarawan John Roosa, dengan judul : “Dalih Pembunuhan Massal”. Mengupas lengkap dari peninjauan ulang terhadap dokumen dan bukti sejarah terkait kejadian ini.

Saya pernah menulis ringkasannya di sini :

“Dalih Pembunuhan Massa” bagian 1
“Dalih Pembunuhan Massa” bagian 2
“Dalih Pembunuhan Massa” bagian 3
“Dalih Pembunuhan Massa” bagian 4

“Dalih Pembunuhan Massa” bagian 5

“Dalih Pembunuhan Massa” bagian 6

“Dalih Pembunuhan Massa” bagian terakhir

Kalau ada waktu luang, sila dibaca.

Btw, buku aslinya bisa didownload gratis kok. Cari saja linknya via Google ;).

Sebuah negara itu tidak hanya dibentuk oleh pemimpinnya. Tapi oleh kerja keras semua elemen masyarakat. Apakah mungkin bersinergi secara positif kalau situ terus-terusan mencari kekurangan pemimpin sendiri? :). Mending baca buku sejarah kali ah hehehe :p.

Again, sejarah seharusnya membentuk pemahaman bukan penghakiman.

Mari berkontribusi positif dalam pembangunan negeri. Pekerjaan rumah bagi semua anak bangsa. Belajar sejarah salah satunya agar kita tidak mengulang yang pahit-pahit yang pernah terjadi :).

“Para politikus dengan kekurangan pengalaman dan pengetahuan mungkin dapat membawa negara ke jalan buntu. Tapi SELURUH RAKYAT akan membantu negara menemukan jalannya.” -Sutan Syahrir-

Numpang lewat sejenak. Yuk ah, mari ngurus anak bayi lagi hihihi :p.

***

What’s Your Hajj Story (5) – FInale

Bagian 1, bagian 2, bagian 3, bagian 4

Tanggal 11 Dzulhijjah memang yang terberat buat kami. Tapi alhamdulillah semua rukun haji selesai di tanggal itu. Selepas Sa’i, secara rukun, kami resmi menyandang gelar haji. Insya Allah mabrur. Amin :).

Pas tidur malamnya terasa deh betis dan kaki mulai pegel. Tapi doa saya malam itu, “Ya Allah, beri kekuatan untuk melakukan tawaf
wada besok sore.” Menurut beberapa teman, boleh saja pemukim Jeddah tidak melakukan wada saat itu juga. Pulang dulu saja ke Jeddah, nanti balik lagi untuk melakukan tawaf wada.

Tapi ya, sudah kadung semangat masih membara hehehe. Toh, bis kami pasti mampir di Mekkah dulu. Daripada bengong di bis, sekalian saja ingin ikut tawaf wada.

Tanggal 12 hari terakhir di Mina. Karena mengambil nafar awal, sebelum senja tiba, kami sudah harus meninggalkan Mina.

Paginya saat di kamar mandi, kaget bukan kepalang. I got my period that morning. Saya sibuk menghitung hari. Seharusnya masih 3 hari lagi waktunya. Kok cepat banget, ya. Hampir tidak pernah jadwal mens saya kecepetan, kalau telat sih pernah.

Saya berpikir positif saja. Mungkin ini jawaban Tuhan atas doa semalam. Saya malah tidak diizinkan untuk ikut tawaf wada hari itu.

Tapi mohon diingat, satu-satunya ritual haji yang ‘terlarang’ bagi wanita yang sedang haid hanya tawaf saja. Sisanya tetap boleh. Wukuf boleh, melontar jumrah boleh. Jadi, menurut saya sih, pemakaian obat-obatan tertentu untuk mencegah jadwal mens itu tidak perlu. Tidak baik pula untuk kesehatan, kan?

Kami melontar jumrah terakhir di pagi hari. Jam 7 sudah menuju stasiun. Kereta kosong melompong. Baru deh kepikiran foto-foto hehehe. Kereta juga cepat datangnya.

Tempat lontar jumrah lantai 4 di hari ke-3 itu benar-benar sepi. Kami berjalan dari stasiun menuju Jumarat sambil mencari kerikil-kerikil kecil buat melontar. Karena sepi banget, cukup aman berjalan sambil sesekali jongkok mungutin kerikil.

Pulang ke tenda, mulai deh beres-beres isi tas segala macam. Beberapa teman mulai pamit. Mereka ke Mekkah sendiri lebih awal tanpa menunggu rombongan. Tapi sebagian besar teman satu tenda saya mengambil nafar akhir. Meninggalkan Mina-nya tanggal 13.

Terharu juga saat pamit. Teman-teman menyalami saya satu persatu. “We’re gonna miss you. Take care. Ma’assalamah. Wada’an.”

***

Bis tiba di Kudai jam setengah tiga sore. Supirnya memberi waktu 4 jam saja katanya. Jam setengah 7 sudah harus berangkat ke Jeddah.

Biarpun tidak ikut tawaf, ogah nunggu sendirian dalam bis. Saya ikut ke Masjidil Haram.

Begitu tiba sudah mulai deg-degan. Hampir semua pintu dikepung pria berseragam coklat. Sempat terjadi kehebohan di salah satu pintu. Beberapa orang mendobrak masuk dan mematahkan brikade para petugas. Tapi dengan sigap, para petugas itu kembali berdiri tegak menghalau orang yang ingin masuk.

Rupanya akses ke lantai 1 ditutup rapat. Kami berhasil menemukan pintu masuk yang cuma ada tanggal langsung menuju lantai 2. Suami sudah tidak berminat turun ke lantai 1. Langsung saja menuju tempat tawaf di lantai 2. Sementara saya dan si kecil menunggu di salah satu sudut masjid yang cukup lengang.

Tadinya ingin memanfaatkan waktu dengan kembali membaca ulang buku-buku doa yang masih tersimpan lengkap dalam tas. Apa daya, si kecil baterainya sedang full :D.

Dia berlarian kesana kemari. Ada bocah laki-laki Arab yang berusia sekitar 3 tahun yang tahu-tahu muncul dan mendorongnya hingga terjatuh. Dia bangkit, menangis, dan berlari kembali ke arah saya.

Saya pikir dia kapok. Salah besar. Dia bangkit lagi menuju ke tempat anak kecil tadi. Eh, mau ngapain tuh?

Anak saya berdiri tegak dengan tangan terkepal. Mukanya serius banget. Anak kecil tadi juga maju dan mulai menghentakkan kakinya. Anak saya diam saja. Anak kecil itu mulai mendorong. Saya masih penasaran jadi saya biarkan dulu.

Ternyata, sabar tidak berarti penakut ya, Nak. Dilabrak sedikit, anak saya sempat terdorong mundur, tapi tangannya masih terkepal dan dia tidak berlari menjauh. Tapi mukanya dong lucu banget. Sudah mewek hampir menangis. Hahahahahaha. Lembut bukan berarti tidak punya nyali ya, Nak. Ini baru orang bugis :p.

Ketika terlihat anak kecil tadi sudah akan mendorong lebih keras, saya langsung berdiri, berteriak tegas, “Laa. Hadza walad. No, don’t hit him!”

Akhirnya saya menghabiskan waktu duduk-duduk dengan pandangan penuh mengawasi si kecil yang berlarian kesana kemari. Dibujuk biar tidur enggak mempan juga.

***

Nyaris 4 jam menunggu, tak lama, suami muncul dengan langkah tertatih-tatih. “Aduh, penuhnya, Dek. Untung saja Adek lagi haid. Gak bisa bayangin kalau harus tawaf yang ini sambil gendong anak kecil.”

Ini rupanya hikmah kenapa jadwal menstruasi saya yang biasanya sangat teratur (kalaupun tidak pas, biasanya telat atau mundur) tiba-tiba dimajukan 3 hari :).

All out banget deh Pak Haji kita yang satu ini. Tawaf qudum 1.5 jam, tawaf ifada 2.5 jam, plus tawaf wada nyaris 4 jam, semuanya dibabat habis. Hehehe. Insya Allah mabrur ya, Haji Dani Rosyadi :).

Tadinya saya sudah rela menggendong si kecil balik lagi ke Kudai. Tapi ternyata… suasana di luar masjid sama ‘horor’nya. Super penuh. Suami yang tadinya jalannya agak pincang mendadak gesit lagi. Sambil gendong si kecil dan tangannya yang satu memegangi saya.

Benar-benar padat. Belum lagi yang tidak sabaran berteriak-teriak, “Yalla! Yalla! Imsi, Imsi. Rouh, Rouh!” Pasrah deh didorong sana-sini diantara lautan manusia segitu banyak.

Akhirnya tiba dengan sempoyongan di bus station. Naik bis, yang alhamdulillah belum terlalu padat, menuju Kudai. Di Kudai kita sudah setengah berlari menuju parkiran bis. Soalnya jam telah menunjukkan pukul 8.30 malam. Kami terlambat 2 jam!

Tapi begitu mencapai bis, kami termasuk jemaah pertama yang tiba. Hanya tampak sepasang suami istri dan si supir yang sudah tampak gelisah.

Baru duduk sebentar di kursi bis, suami tiba-tiba berseru, “Ya ampun, makan malamnya Narda gimana?” Rasa letihnya mendadak luntur, suami langsung melesat keluar bis, lari ke seberang jalan mencari baqala.

Tak lama datang membawa kresek, isinya jus kotak, air mineral, roti-roti, dan kue-kue. Masya Allah :'(. You’re the best, Pak Haji :D.

Satu persatu jemaah lain mulai datang. Wajah-wajah kelelahan, langkah terpincang-pincang, saling menyambut dengan ucapan, “Mabruk, mabruk. Hajj Mabruran Insya Allah.”

لاحول و لا قوه الا بالله العلي العظيم

Laa Hawla wa laa Quwwata Illa Billah

( “Tidak ada usaha, kekuatan dan upaya selain dengan kehendak Allah.”)

Hingga jam 10 malam, bis tak kunjung penuh. Menjelang pukul 11, akhirnya semua penumpang sudah duduk di kursi masing-masing. Jalanan macet luar biasa untuk keluar dari Mekkah. Pukul setengah dua dinihari barulah kami tiba di pelataran parkir hamla Al Mahabbah di Palestine Street, Jeddah.

Untung tempatnya sangat dekat dengan gedung apartemen kami, naik taksi 5 menit, tiba di rumah dengan selamat :).

Semoga menjadi haji yang mabrur. Terima kasih sudah diberi kekuatan untuk melewatkan semua ritual haji ini dengan cukup lancar, ya Allah.

Kalau mendengar cerita Tante suami yang kebetulan juga berhaji tahun ini, kami jauh lebih beruntung. Haji reguler dari Indonesia jalan kaki selama prosesi lontar jumrah, pulang pergi. Kami diberi kemudahan dengan fasilitas kereta.

Kata Tante juga, tenda di Mina cuma tidur diatas karpet. Isinya cukup padat sehingga agak sulit jika ingin meluruskan kaki saat tidur :(. Sementara kami tidur di atas tempat tidur yang sudah dilengkapi selimut + kasur. Kami juga membayar biaya yang jauh lebih murah (dengan fasilitas luar biasa) dengan durasi waktu yang jauh lebih pendek.

Mungkin ada seribu alasan untuk mengutuk Jeddah sebagai kota yang terasa sangat mengekang. Tapi ada sejuta alasan lain untuk melewati hari-hari di sini dengan senyum menyenangkan ;).

***

Jika Tuhan menghendaki dan memberi restu, (mungkin) tahun 2012 ini adalah tahun terakhir kami di Jeddah.Mudah-mudahan kali ini Allah berkenan :).

Setelah di bulan Juni kemarin, proses visa kami menuju salah satu kota di Negara Jantung Dunia terhambat. Quota visa imigran dinyatakan habis 2 minggu setelah kami mengirimkan dokumen untuk pengurusan visa.

Ini pun hikmah Allah untuk mengizinkan kami berhaji dulu di tahun ini. Sebelum melangkahkan kaki meninggalkan kota indah sarat kenangan yang berjarak hanya 40 menit dari Rumah Allah.

Terima kasih atas kesempatannya ya Allah. Izinkan kami untuk menikmati belahan bumiMu yang lain :). Dan tentu jika kau perkenankan kami ke sana, jangan tutup pintuMu agar kami bisa mengunjungi rumahMu di lain waktu.

Amin.

(Tamat)

What’s Your Hajj Story (4), Biaya Naik Haji

Sekadar info awal, biaya naik haji untuk perjalanan dari Jeddah tahun 2012 itu sekitar 4500 riyal per orang. Kami berangkat dari Jeddah karena memang saat itu sedang bermukim di sana.

Bagian 1, bagian 2, bagian 3

Jam setengah tujuh meninggalkan tenda Arafah. Tiba di tenda Mina sekitar jam 10 malam. Langsung memandikan si kecil, mengganti bajunya, dan membiarkannya tidur nyaman di atas kasur. Pahlawan kecilnya Mama :).

Teman sebelah menawarkan untuk menjaga si kecil dan mempersilakan saya mandi. Senangnya. Untung juga pas kamar mandi sedang sepi. Mungkin banyak orang masih ‘berjuang’ di jalan dalam perjalanan pulang dari Arafah.

Mandi sekedarnya lalu langsung pulas di sebelah si kecil.

***

Keesokan paginya, subuh-subuh sudah heboh. Orang-orang saling berjabat tangan dan berpelukan. Sempat bengong sebentar. Hingga akhirnya Eyma, salah satu penghuni tenda yang sama, menghampiri saya, “Happy Ied, Jihan.”

Ya ampun, 10 Dzuhijjah, ya. Hari raya qurban. Yayyyy. Kemeriahannya berlangsung hingga ke kamar mandi. Tiap orang berpelukan dan mengucapkan selamat. Saya ikut-ikutan deh hehehehe. Ikut meluk-meluk dan jabat tangan dengan siapa saja yang melintas :D.

Aduh, senangnya. Rasa keki karena peristiwa semalam, terkurung antrian selama 3 jam menuju kereta, menguap tak berbekas di pagi itu ^_^.

Siapa bilang merayakan hari raya di negeri orang tidak seru? Ingat ya rumusnya “Bunda of Arabia” :D. Happiness is not given…it is made ;).

***

Sebagian besar penghuni tenda saya melontar jumrah hari pertama itu di waktu fajar. Jam 6 pagi mereka sudah menenteng anak-masing-masing (dari 16 orang, 9 perempuan di tenda saya membawa balita), bersama para suami, bergegas menuju stasiun kereta.

Biaya naik haji
Bareng Ibu Hajjah Indira 😀

Oiya, melontar jumrah ini pun sejak hari pertama tidak mendapat bimbingan apa pun dari hamla. Berangkat sendiri-sendiri saja. Toh, stasiun keretanya (Mina 1) dekat sekali dari tenda ;).

“Kita juga berangkat, yuk.” Kata saya pada suami.

“Kasihan si kecil. Belum bangun, kan? Abis dia sarapan saja, ya.”

Sebenarnya sudah gelisah, ya. Penginnya pagi. Apalagi ketika rombongan melontar jumrah itu sudah kembali ke tenda jam 8! Wah, sementara kami belum beranjak sedkit pun :(.

Akhirnya setelah anak kami bangun dan sarapan, jam setengah 9 kami bertiga berjalan menuju stasiun.

Ternyata…kereta menuju Jumarat-Place dihentikan sebentar. Katanya 4 jam lagi baru ‘on’. Tapi dari arah sebaliknya, orang-orang dari Jumarat masih bebas lalu lalang. Masa mau balik ke tenda?

Jadinya di hari pertama itu, kami jalan kaki dari tenda Mina menuju Jumarat. Jaraknya sekitar 4 km. Rasa kesal sudah mulai menghantui. Kenapa gak berangkat lebih pagi, sih? Dari awal saya sudah uring-uringan.

Benar saja. Kesabaran runtuh setelah hampir sejam menempuh perjalanan yang cenderung mendaki di bawah panggangan matahari. Aduh, malu ih kalau ingat *blushing*. Lupa sama semuanya. Pundung tidak karuan saat itu.

Padahal suami dan anak saya biasa-biasa saja. Seperti biasa, anak kami malah sering ketiduran. Dasar mamak-mamak pemarah :P. Waktu mogok jalan dan duduk di pinggiran, banyak lho perempuan paruh baya yang melintas. Berjalan penuh semangat sambil tak putus-putusnya bertalbiyah.

Tapi emosi masih membakar, saya malah meracau tidak jelas. Marah-marah ke suami. Suami saya diam saja :'(. Jadi, saya nyap-nyap sendiri kayak orang gila :P.

Akhirnya setelah 1.5 jam berjalan kaki, tibalah kami di tempat melontar jumrah. Kami memilih lantai 4. Cukup lengang. Tidak ada istilah berdesak-desakan sama sekali. Rasa pundung berangsur menghilang.

Apalagi pas pulangnya naik kereta. Hehehe. Jarak stasiun Jumarat (Mina 3) dekat banget. Cuma 10 menit berjalan kaki santai.

Tiba di tenda Mina, tukang cukur sudah ada dimana-mana. Lantunan talbiyah mulai tenggelam berganti dengan gema takbir, “Allahuakbar, allahuakbar, allahuakbar, walillaahilham…”

Suami langsung mencukur rambut. Bayar 10 riyal, dalam tempo semenit langsung plontos. Usai sudah masa berihram :). Pulang ke tenda, suami mandi, melepas kostum ihram dengan baju biasa.

Karena kelelahan, diputuskan tawaf ifada besok saja.

***

Malamnya agak santai. Saya bermain-main dengan anak-anak kecil dalam tenda saya. Aneh juga, ya. Terus terang saya memang bukan pencinta anak kecil. Dengan anak sendiri saja maunya hehehe. Di kalangan teman-teman Indonesia disini, sudah terkenal deh, Tante Jihan yang galak ala ‘ibu tiri’ ahahahaha.

Si bayi populer, Sultan, paling emoh digendong ama saya. Padahal orang tuanya, Raiz dan Nira, adalah salah satu teman-teman paling akrab saya dan suami :P.

Nah, si anak-anak kecil Arab itu malah gelendotan melulu ke saya. Tangan kiri dipeluk si kecil Joseph, tangan kanan menggendong si kriwil Hamzah. Kata ibu-ibu mereka, pengasuh mereka itu orang Filipina. Wajarlah mereka demen dengan tampang Asia ;).

Jadi, 2 malam terakhir di Mina itu, si nenek sihir menjelma menjadi nanny :P. Hehehe.

***

Belajar dari pengalaman tanggal 10 kemarinnya, tanggal 11 kami bergerak lebih pagi. Jam 6 sudah siap dan sudah sarapan. anak yang masih tidur digotong saja.

Kami berjalan ke arah Musdalifah mencari angkutan menuju Mekkah. Cuma 5 menit menunggu di tepi jalan, datang deh sebuah mobil omprengan tujuan Mekkah. Ongkosnya cuma 30 riyal per orang.

Kota Mekkah masih sunyi sekali di pagi itu. Turunnya dekat masjidil Haram. Kami mampir sebentar membeli sarapan buat si kecil+ dua gelas teh hangat.

Masuk ke masjidil haram pun masih relatif sepi. Tapi tawaf di lantai 1 sudah sangat sesak. Tapi kami tetap nekad menembus masuk.

Sekitar 30 detik terkurung di himpitan orang-orang dan tidak bergerak maju sedikit pun, suami langsung memberi instruksi tegas, “Keluar! Keluar! Kita tawaf di lantai 2 saja.”

Suami langsung sadar kalau terpanggang sinar matahari, saya bisa ‘kumat’, ngomel gak karuan ahahahahahaha :P.

Keputusan yang sangat tepat tawaf di lantai 2. Kami pikir, kepadatan di tanggal 11 harusnya sudah berkurang. Ternyata padat juga.

Lantai 2 adem banget. Full AC dan kipas angin dimana-mana. Sejuknya. Biarpun rada keder saat mengedarkan pandangan dan menyadari betapa panjangnya jarak tempuh di lantai 2 ini *ngelapKeringat*.

3 putaran pertama relatif nyaman. Memasuki putaran ke-4, bottle neck nya mulai memanjang. Tapi masih lebih banyak rute yang ‘lengang’. Mulai deh senggol-senggolan, dorong-dorongan, dan saling menghardik :'(.

Akhirnya tawaf ifada tuntas dalam tempo 2.5 jam non stop. Boro-boro deh mau mampir istirahat. Usai putaran ke-7, sakit-sakit badan berusaha menembus keluar dari jalur tawaf. Di lantai 2, jalur tawaf sudah bercampur dengan rombongan sa’i.

Salut juga sama suami. Membawa beban hampir 11 kilo selama 7 putaran penuh, 2.5 jam tanpa henti, tidak mengurangi rasa khusyuk membaca doa. Proud of you, Haji Dani hehehehe.

Selesai tawaf masih harus segera lanjut sa’i. Terlebih dahulu salat 2 rakaat, pokoknya begitu ketemu tempat kosong, langsung salat saja. Suami ngantri ngambilin air zam-zam sebentar. Antriannya sesak, tapi gesit juga suami hehehe. 5 menit sudah datang membawa 2 botol air dan 2 gelas air zam-zam.

Duduk sebentar di wilayah Safa, sedikit mengatur nafas. Suami memperkirakan kalau Sa’i waktunya harusnya mirip-mirip dengan periode Sa’i normal karena jarak tempuhnya sama dan lurus-lurus saja.

Gak berlama-lama duduk, karena takut keburu makin sesak, kami langsung bergegas melaksanakan Sa’i. Benar kata suami, cuma butuh 1 jam saja. Normalnya sih, saat bukan musim haji dan ramadan, kami sa’i sekitar 40 menit.

Tapi keluar dari masjidil haram pun mesti mengerahkan kekuatan penuh. Sempat melihat tempat sa’i di lantai 1. Subhanallah, penuhnya luar biasa! Seperti tidak bergerak sama sekali.

Kaki sudah kebas benar rasanya. Tapi ritual haji di hari itu belum berakhir. Masih harus melontar jumrah. Mengingat si kecil, kami menuju supermarket “Bin Dawood” dulu. Ramainya susasana di luar haram.

Di Bin Dawood membeli biskuit, wafer, susu, dsb. Untungnya anak saya yang nomor 2 ini, selain sabar, apa aja mudah dilahap. Roti-rotian Arab saja dia doyan. Nasi ok, biskuit boleh, wafer juga demen :P.

Lalu menuju Kudai dengan bis Saptco. Tiba di Kudai, berusaha mencari taksi menuju stasiun Musdalifah 3. Tarif taksinya 100 riyal. Ya sudahlah.

Gak antri sama sekali di stasiun dan kereta pun segera datang. Alhamdulillah. Setelah 25 menit, tiba di stasiun Mina 3 (Jumarat). Lagi-lagi kami ke lantai 4. Gak ramai-ramai banget, lho. Lancar saja tidak pakai antri.

Tempat jumarat memang sudah jauh berbeda sekarang ini. Selain sudah dibuat 4 lantai, tugunya pun diperlebar semua.

Setelah melontar jumrah, langsung balik ke stasiun kereta lagi. Tiba di tenda Mina, tidak ada istilah santai-santai. Buru-buru memandikan si kecil, ganti baju, dan titip ke suami sebentar. Biarpun badan sudah rontok, tetap harus makan dulu sebelum tidur.

Orang Arab jadwal makan malamnya jam 9 malam. Hadeuhhh, dah gak kuat nungguin. Jadinya habis mandi, makan indomie gelas + satu butir telur rebus sisa sarapan. Lumayan lah.

Setelah itu tepar di atas kasur berdua anak saya. Sekitar jam setengah sepuluh malam, kaki saya ditepuk-tepuk. Makan malam sudah datang. Naimee, teman satu tenda, menaruh satu kotak Al Baik di dekat kaki saya. Tadinya sih mata sudah ingin terpejam lagi, tapi aroma nugget ayam bikin perut yang memang tidak diisi dengan semestinya di hari itu langsung memberontak.

Dengan mata setengah mengantuk, setengah porsi Al Baik itu ludes dalam tempo 10 menit saja. Hehehehehe. Laper ni yeeeee :P.

***

(bersambung ke bagian terakhir di sini :D)

Menuju Padang Arafah Arab Saudi

What’s Your Hajj Story (3), Pergi Haji dari Jeddah

Kisah pergi haji kami dimulai dari tulisan ini –> Bagian 1, bagian 2

***

Tenda di Arafah bentuknya juga compound. Hamla kami khusus menyewa kumpulan tenda secara terpisah. Kamar mandinya juga khusus. Gak kalah nyamannya dengan tenda Mina *laaaaffff*.

Tendanya tapi cuma beralas karpet tebal. Mungkin karena enggak bakal menginap. Tapi tiap jemaah dibagi-bagikan kantong tidur. Lumayan, dapat gratisan lagi hehehe. 

Untuk perempuan, ada 5 tenda besar. Satu tenda isinya sekitar 70 – 80 orang. Tendanya lapang dengan atap yang tinggi. Pendingin ruangan disediakan di setiap penjuru tenda. Plus satu kipas angin besar.

Tapi memang nih, orang-orang Arab, rasa sabarnya memang pas-pasan hehehehe. Sejam pertama tiba di Arafah, diisi dengan drama perebutan AC. Iya, masing-masing berkeras mengontrol arah angin dari AC besar tersebut. Duh, ributnya mereka saling berdebat :(.

Sembari ibu-ibunya sibuk adu mulut, anak-anak kecilnya meraung-raung. Mungkin kegerahan. Padahal kok ya buat saya, rasanya adem-adem aja, ya hehehe. Untungnya anak saya lagi-lagi gak ikut-ikutan rewel. Dia asyik saja bermain-main dengan kantong tidur.

Akhirnya ‘kerusuhan’ berakhir saat azan dzuhur. Setelah salat berjamaah, makanan datang. Nasi kabsah yang disajikan dalam bentuk nampan. Sempat bingung juga. Secara ‘beda warna’ sendiri. Satu tenda disapu bersih orang Arab. Teman-teman satu tenda di Mina duduknya sudah tersebar-sebar pula.

Tapi akhirnya dengan membawa nampan kosong, memberanikan diri mendekati 3 orang ibu-ibu yang asyik makan senampan, “Can I have a little?”

Mereka menyambut dengan ramah nampan saya. Diisinya malah banyak banget sampai saya mesti berkeras, “Khalas, khalas. It’s too much.”

Salah seorang dari mereka memandangi saya sambil senyum-senyum, “You should eat more. Look at you. You’re too skinny.” La ya jangan disamain atuh bodi Asia ama bodi Arab hihihi *benerinKorset*.

Sembari menikmati segambreng hidangan dalam nampan seorang sendiri, saya didekati seorang Ibu yang datang dengan menggendong balita. Dia berbahasa Arab. Saya sedikit-sedikit menangkap maksudnya. Dia minta nasi sedikit.

Saya menyodorkan nampan saya, “Sorry, mafi Arabic. But you can sit here, eat with me.” Alhamdulillah, orang Mesir ternyata. Dan fasih berbahasa Inggris. Akhirnya saya punya teman makan (sekaligus temen ngerumpi sembari ngunyah) :D.

Sehabis makan, sebagian besar ibu-ibu di tenda saya malah ketiduran. Anak-anak ramai berlari-lari. Si kecil lagi ganti shift ke bapaknya hehehe. Dibawa ke tenda laki-laki. Kata suami, dia sudah pules ;).

Biarpun suasana tenda agak gaduh dengan suara ibu-ibu lain yang malah asyik mengobrol, saya berusaha konsentrasi berdoa. Mengeluarkan buku-buku doa yang sudah disiapkan sejak jauh-jauh hari. Sembari sesekali mengecek BB, intip-intip siapa saja yang menitip doa via BBM dan FB. Hehehe.

Alhamdulillah, kesendirian tidak menghalangi niat beribadah. Malah ketika terbenam seorang diri dalam tangis, seseorang menepuk bahu saya perlahan, menyodorkan tisu dan air mineral. Masya Allah :). Terima kasih banyak, Saudariku <3. 

Setelah usai memanjatkan doa, saya saling bertukar buku dengan suami. Kami janjian di pintu batas tenda perempuan dan laki-laki. Sekaligus ganti shift jagain si kecil hehehe.

Tiba kembali di tenda perempuan, anak saya lagi-lagi tertidur pulas. Nampaknya tahu kalau mamanya butuh konsentrasi untuk memanfaatkan sedikit waktu memohon belas kasihan melalui munajat panjang kepadaNya. Di tempat dan waktu yang konon salah satu yang paling mustajab itu.

Menjelang senja, tidak sedikit jemaah keluar dari tenda. Kami duduk bersama-sama memandangi senja yang mulai merambat turun. Kami berharap waktu bisa berhenti berputar saat itu dan matahari jangan sampai terbenam :'(.

Akhirnya waktu magrib tiba. Kami berkemas-kemas. Selanjutnya berjalan bersama-sama lagi, berbaris di jalanan. Antri menuju stasiun untuk kembali ke Mina, dengan menggunakan fasilitas kereta.

Sangat sedih melihat jalanan yang mulai kosong oleh para haji koboi tapi meninggalkan tumpukan sampah dimana-mana. Bau pesing yang menyengat pula :'(. Saya tahu, ibadah kepada Allah itu nomor satu, tapi bukankah kebersihan pun sebagian dari Iman? :(.

Tahu tidak, dari buku sejarah “Perang Suci” karya Karen Armstrong dituliskan bahwa orang-orang Eropa Barat belajar mandi dari orang-orang muslim di jazirah Arab. Mereka belajar kebersihan justru dari kaum muslimin. But look at us now :(. And look at them now.

Pergi Haji 2012 dari Jeddah tahun 2012
Bareng keluarga Bang Man dan istri di COrniche Road (2012)

 

***

Jika paginya suasana antri menuju stasiun tertib dan syahdu oleh lantuntan talbiyah, maka suasana pulang berubah 180 derajat! Kami mengantri hingga 3 jam!!!

Dalam 3 jam itu, berdesakan dan berhimpitan, diselingi suara orang-orang yang berteriak mengamuk. Anak-anak kecil bergantian meraung. Keringat sudah mengucur dari atas hingga ke alas kaki. Entah berapa kali kena sikut.

Saya, yang stok sabarnya sering negatif ini :P, mendadak ‘kalem’. Salah satu penyebabnya ya karena anak kami. Anak kecil umur 1.5 tahun ini tidak sedikit pun rewel. Tak ada tangis sebutir pun. Mukanya lempeng aja. Sesekali tertidur malah.

Padahal badannya sudah basah penuh keringat. Anakku sayang :'(. Penyemangat Mama selama hajian kemarin.

Suami juga anteng banget. Tidak pernah tersulut sedikit pun. Tidak sekali pun ikut berteriak-teriak atau memasang wajah emosi. Padahal lumayan kan gendong si kecil non stop 3 jam! Sambil sikut-sikutan dan sesekali tangannya memeluk saya. Maklum bininya mini begini hehehehe.

Dari tawaf qudum selama 1.5 jam, hingga perjalanan jalan kaki lainnya, saya tak pernah menggendong si kecil sedetik pun.

Untuk suami dan anak luar biasa ini :

Bismillahirrahmanirrahim… fabiayyi alaa irabbikuma tukazziban..

“Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang… Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”

***

(bersambung ke sini)