Katanya, ada salju di Arab Saudi. Ini apa siiiiih, serius ada yang mengklaim kiamat sudah dekat gara-gara ada salju di Timur Tengah? Terutama Arab Saudi? -_-.
Soal hadisnya ya mungkin benar. Tapi apa iya maksudnya memang persis seperti yang diklaim itu?
Gambar : reuters.com
Saya jadi ingat beberapa tahun lalu waktu masih tinggal di Jeddah juga beredar artikel “kiamat sudah dekat karena di beberapa tempat di Arab Saudi muncul rerumputan dan tumbuhan hijau”. Halamaaaak *tepokJidat*. Harus diajak piknik nih keliling Saudi ;).
Kok bisa-bisanya klaim-klaim hal-hal yang sebenarnya mudah dikonfirmasi dengan kemajuan teknologi digital zaman sekarang? Herannya, banyak aja gitu yang percaya dan menelan mentah-mentah hihihihi.
For info, ukuran otak manusia diantara mamalia lain adalah yang terbesar jika dibandingkan dengan ukuran tubuh kita. Otak gajah sih pastinya berukuran lebih besar tapi secara persentase terhadap ukuran tubuh, ya kalah sama manusia.
Itu juga mungkin alasan mengapa yang dipilih menjadi khalifah di dunia adalah manusia, bukan lumba-lumba atau kucing :p.
Mengapa pula ILMU menjadi hal yang penting bagi kelangsungan hidup manusia :). Ilmu jangan dibatasi definisinya ya :).
Saya cek barusan, ada yang komen di artikel tersebut, “Itu sumbernya dari situs Al Jazirah ya. Itu media terkenal lhooo…”
Woiiiiii, yang benar itu Al Jazeera, kalau yang Al Jazirah itu situs apaan? Ampun dah, makin kreatif nih emang pembuat situs gadungan! Hahaha. Pokoknya jangan percaya deh sama artikel yang diakhiri dengan, “LIKE and SHARE” atau “ketik amin” dan lain-lainnya.
Masa iya sih, di era internet merajalela, di Indonesi ada yang enggak tahu kalau di kawasan Timur Tengah juga ADA SALJU? Dan saljunya itu RUTIN tiap tahun. Bukan keanehan alam gimana-gimana.
Internet itu luaaaaaaaaaaaaaaaaaasss banget kegunaannya selain buat fesbukan doang lho Kakaaaaaaa -_-.
Masalahnya itu yang share-share beritanya via fesbuk berarti dia punya koneksi internet kan ya?
Sederhananya begini … kawasan Timur Tengah tesebar di belahan utara dan ada yang mepet ke selatan (mendekati garis khatulistiwa). Nah, yang menjauh dan di bagian utara itu ya iklimnya juga mengikuti iklim di belahan dunia utara sana :).
Penjelasan ilmiahnya lebih kompleks. Tapi bolehlah patokan ini kita pakai :D.
Sekarang cek di peta, gak usah lari ke toko, buka saja Google-Maps! :p. Jadi, selain facebook ada lhoooo yang namanya situs Google. Tenang saja, ini bukan situs konspirasi. Ya masa iya, bikin peta saja kudu konspirasi atuh lah hahahaha.
Next, ketik kata “Tabuk”. Tabuk adalah wilayah di Saudi yang paling sering kebagian salju. Kadang juga saljunya sedikit atau tidak ada tergantung suhu. Tapi salju di Arab terutama yang turun di Tabuk itu sangat-sangat-sangat lumrah :).
Sepertinya foto-foto di Tabuk inilah yang dimanfaatkan oleh situs-situs “nganu” untuk menyedot perhatian pembaca. Ya lumayan kan dapat traffic disertai komen-komen yang entah harus terharu atau ngakak bacanya.
Sudah nemu lokasinya? Sekarang minimize ukuran petanya. Nanti kelihatan bahwa wilayah Tabuk ini mepet-mepet ke atas. Kalau Jeddah posisinya mepet ke selatan (ke arah Khatulistiwa). Jadi suhunya lebih stabil. Enggak bakal ketemu salju di Arab di wilayah Jeddah dalam kondisi “normal” :D. Kalau “kun fayakun” ya itu lain soal ya :p.
Dari persebaran kota-kota di Arab Saudi juga terlihat, letak Mekkah lebih dekat dengan Jeddah. Makanya, suhu agak mirip ;). Madinah lebih ke utara, suhunya lebih tajam. Kalau musim dingin, di Madinah bisa drop sampai di bawah 10 derajat celcius.
Lebih-lebih lagi di ibukota Riyadh. Riyadh ini lebih ke utara lagi. Di Riyadh, musim dinginnya bisa mencapai di bawah 0 derajat. Di Jeddah, 3x dapat musim dingin di sana, paling banter 14 derajat lah. Itu juga sudah heboh pakai sweater sama kaos kaki dalam rumah hahahaha :p.
Kalau sekilas lihat dekat-dekat saja ya semuanya kalau di peta hihihi. Tapi realnya, Riyadh – Mekkah itu sekitar 1000 km. Madinah-Mekkah itu kira-kira 400 km. Jeddah-Mekkah 80 km sajah <3.
Gambar : the-saudi.net
Tabuk sudah hampir mepet Israel. Sementara di Israel pun salju turun rutin tiap tahun. Bukan karena Israel kena laknat lho yaaaaa :p.
Karena kebetulan pun, Iran dan Suriah juga rutin didatangi salju tiap tahun. Sekarang kan ada yang suka sensi terhadap Iran dan Suriah :p.
Karena di Irak yang juga punya komunitas Syiah yang tidak kecil, salju juga turun di sana! Nah looooooo …
Tapi jangan tegang dulu, karena Turki yang hits itu juga dirundung salju tiap tahun kok :D.
Jadi karena perbedaan letak geografis wilayah inilah yang membuat Arab Saudi ada yang kena salju, ada yang walau tidak ada salju tapi suhu bisa drop secara ekstrim, dan ada yang mirip-mirip wilayah Indonesia suhunya ^_^.
Contoh lain, negara India. India sebelah utara, New Delhi dan sekitar itu mengenal salju. Tidak di daratannya. Tapi di wilayah pegunungan dan datarann tinggi. Tapi coba tanya teman-teman kalian yang asalnya dari Bangalore ;).
Bangalore letaknya di belahan selatan India jadi suhunya mirip suhu khatulistiwa dan….tidak ada salju! :D.
Sayang sekali, saya pribadi belum pernah ke wilayah Tabuk yang katanya ada salju itu. Tapi kalau yang hijau-hijau ada dalam artikel. Sekali lagi … tumbuhan hijau di Arab Saudi bukan keanehan alam! 😉
Saya tadinya hanya menganggap ini lelucon begitu pertama kali ada teman yang bahas ini di wallnya. Tapi saya search, waduuuuh, ada juga dari ternyata teman-teman saya sendiri yang ikut share huhuhu.
Salju di Tabuk (gambar : arabnews.com)
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat”.
Bukankah sebaik-baiknya manusia adalah mereka yang bermanfaat paling besar bagi sesamanya? :).
Dan Tuhan paling membenci mereka yang berbuat kerusakan. Menebar berita hoax itu ya jelas bisa merusak kemampuan berpikir lah :p. Apalagi menebar bom untuk meneror masyarakat sipil! :(.
Masalah utama umat muslim sekarang ini juga perkara keILMUan ini sih ya. Ya gimana mau pinter, bentar-bentar konspirasi, dikit-dikit kafir. Lah itu tempo juga ada tokoh muslim lokal lumayan terkenal yang mengklaim kalau matematika, ilmu politik itu ilmu orang kafir :(.
Mungkin benarlah bila … “Great minds are always feared by lesser minds.”
― Dan Brown, The Lost Symbol
Di awal abad ke-20, Republik Irlandia akhirnya berhasil merebut kemerdekaannya dari Kerajaan Inggris Raya. Beberapa aktivis Katolik dan nasionalis Irlandia mengklaim kemerdekaan mereka dan tidak disambut mulus oleh pihak Kerajaan Inggris.
Katoliknya harus disebut, ya, karena di masa itu, hubungan Protestan vs Katolik ikut mewarnai perebutan wilayah di Pulau Irlandia oleh Kerajaan Inggris dan Republik Irlandia. Mayoritas Kerajaan Inggris adalah penganut Protestan.
Gambar : gtaforums.com
Sebelumnya pula, lebih dari 100 tahun, pertikaian antar kepercayaan ini terus berkobar sejak masa penjajahan Kerajaan Inggris terhadap Republik Irlandia. Penekanan dari sisi agama juga dilancarkan oleh pihak penjajah. Misalnya pemaksaan bahwa warga Irlandia HARUS manut pada ajaran Protestan.
Yang begini ini yang bikin perselisihan makin sengit.
Dari klaim kemerdekaan di tahun 1916 itulah, muncul IRA (Irish Republican Army). Anggotanya : sukarelawan komunitas Katolik di Irlandia (kaum militan katolik) dan anggota militer Inggris yang berasal dari Irlandia.
IRA melancarkan operasi-operasi militer yang akhirnya berhasil memaksa Kerajaan Inggris untuk membagi Pulau Irlandia menjadi 2 bagian. Wilayah utara tetap berada dalam naungan Kerajaan Inggris, wilayah selatan yang hingga kini berdiri sebagai satu negara sendiri, Republik Irlandia. Perjanjiannya dikenal dengan nama Traktat Anglo.
Note, mbak yang nulis ini tinggalnya di Republik Irlandia sekarang :p. Jadi suka pening kalau ada yang nanya-nanya soal teroris. Salah woi, salaaaaahhh :p. Terorisnya di bagian utara ituuuuuu :D. Tapi baiklah, mumpung temanya lagi pas bahas teroris, kita tuntaskan tanya kalian via tulisan ini *tsaaaaah* :p.
Pasca Traktat Anglo, IRA terpecah menjadi 2 : pro Traktat vs kontra Traktat. Yang pro yang setuju-setuju saja wilayah Pulau Irlandia terbagi 2. Yang kontra sebaliknya, kepengin kalau Pulau Irlandia merdeka secara utuh.
Berantem sendiri. Hingga akhirnya yang kontra Traktat terdesak dan kalah. Tapi IRA versi kontra ini terus menerus melancarkan perlawanan dengan aksi bersenjata. Tentu dengan dukungan militan Katolik Irlandia.
HIngga akhirnya tahun 1969 pecah kerusuhan besar. Komunitas Protestan pro Inggris dan polisi setempat sukses mendesak komunitas Katolik. Tidak sedikit penganut Katolik di wilayah Belfast (Irlandia Utara) yang rumahnya dibakar oleh pihak lawan.
IRA dikecam oleh militan Katolik karena dianggap gagal melindungi umat Katolik di Belfast. Setelahnya, IRA kembali terpecah : Official IRA (OIRA) vs Provisial IRA (PIRA).
OIRA lebih moderat. PIRA yang radikal. Umm…bisa dibilang Fatah vs Hamas kali ya kalau di Palestina? CMIIW.
PIRA yang terus melanjutkan tradisi kekerasan militer. PIRA melindungi kalangan Katolik di Irlandia Utara dengan tidak segan-segan menggunakan senjata. Inilah bedanya OIRA dan PIRA. OIRA menghindari bentrokan fisik. Namun, PIRA mendapat dukungan dari militan Katolik baik di Republik Irlandia maupun Irlandia Utara.
Sejak tahun 1970 mereka memang menggunakan taktik peledakan bom dan metode “urban warfare”, menyerang polisi Inggris di pemukiman padat penduduk.
Karena banyaknya korban dari kalangan sipil, lama-lama rakyat di Republik Irlandia pun ogah mendukung PIRA. Tapi PIRA masih didukung oleh kalangan Katolik di Irlandia Utara yang tidak suka dengan kehadiran militer Inggris.
Persenjataan modern PIRA disuplai dari Libya (Qaddafi), komunitas Irlandia di US, ETA (Spanyol) dan PLO (Palestina). Konon, Qaddafi rajin menyuplai senjata karena dendam pribadi terhadap US dan Kerajaan Inggris.
Masifnya teror bom oleh kelompok PIRA, Kerajaan Inggris yang kepayahan akhirnya membuat aturan baru. Menangkap siapa saja yang tertuduh PIRA tanpa pengadilan. Hal ini malah membuat kalangan Katolik di Irlandia Utara makin bete dengan militer Inggris.
Serangan bom tahun 1996 di UK,, gambar : irishtimes.com
Tahun 1979, PIRA meledakkan bom tidak jauh dari kapal pribadi Lord Mountbatten (veteran Perang Dunia II dari Inggris) di perairan Irlandia. Lord Mountbatten tewas dalam serangan tersebut.
Tahun 80-an, PIRA makin hot. Tahun 1984, sebuah bom diledakkan di Hotel Grand Brighton (Inggris). Margareth Thatcher yang sedang berada dekat lokasi selamat. Bom menewaskan 5 orang dan melukai 34 lainnya.
Tahun 90-an loyalis Protestan mulai melawan dengan bantuan intelijen Inggris. Makin-makin dah PIRA mengamuk. Terdesak di Irlandia Utara, PIRA terus melancarkan serangan bom di Inggris Raya.
Tahun 1993, PIRA mengebom wilayah Chesire. Kesalahan teknis. Yang meninggal justru 2 anak kecil :'(.
Tahun 1996, pemboman lebih sukses. PIRA meledakkan bom di beberapa titik di London dan Manchester. Peristiwa ini berhasil membuat Kerajaan Inggris menelan kerugian materi hingga ratusan juta pounds.
Proses menuju gencatan senjata terus berlangsung. Hingga akhirnya lahir perjanjian Belfast tahun 1998 yang disepakati oleh PIRA. PIRA berjanji hanya akan memperjuangkan kemerdekaan Irlandia Utara via negosiasi damai tanpa aksi kekerasan.
Butuh waktu belasan tahun hingga akhirnya PIRA melenyapkan stok senjatanya.
Tapi di sini saya bertemu teman dari India yang pindah dari Belfast ke Athlone sekitar tahun 2011 silam. Menurutnya, keadaan di Belfast di beberapa wilayah tertentu masih suka rusuh kecil-kecilan. Masih suka ada ledakan bom iseng-iseng. Duh, iseng-iseng kok ledakin bom? :'(.
PIRA terkikis tapi warisannya itu lho … metode baru menebar teror via penyerangan fisik/peledakan bom di area sipil :'(. Taktik ini menginspirasi banyak pergerakan/pemberontakan di dunia :(.
Suami saya bilang, ide teror bom di kawasan sipil ini awalnya ya dari PIRA ini. Saya belum bisa menemukan data yang lebih dulu soal teror bom di kawasan sipil sebelum era PIRA. Apa benar, ya?
Lots of things we can learn.
Terutama sensitifnya isu agama ini. Sekarang sih kayaknya sudah hampir tidak ada lagi sumbu pendek antara Protestan dan Katolik. Di sini sendiri ya damai-damai saja so far alhamdulillah :). Apalagi saya di kota kecil. Rasanya belum pernah mendapat teror aneh-aneh terkait selembar kain yang selalu melingkar di kepala saya kalau saya lagi berada di luar apartemen.
Ada juga saya pernah disangka orang Gipsi, pengungsi dari Rumania yang kebanyakan jadi tukang minta-minta di banyak negara Eropa yang maju hihihihi. Dikasih duit booooo, sayang cuma 1 euro 50 sen :p. Hadeeeeeh,, hahahahaha :p.
Dulu pun di Masjidil Haram, oleh seorang jemaah Indoonesia, anak sulung saya dikasih duit 10 riyal, saya disangka TKW hahahahaha. Anak saya disuruh belajar yang rajin katanya biar pengorbanan saya katanya tidak sia-sia. Onde mandeeeee, banyakan fesbukan seharian di rumah kok dibilang berkorban sih hahahahahaha :p.
Masa ya, kece begini selalu disangka orang miskin, sih? *nangis*.
Berakhirnya tegangan tinggi antara Protestan dan Katolik ternyata diikuti oleh makin runcingnya pertikaian internal antara Sunni dan Syiah dalam Islam, ya? :(.
Sebenarnya pemicu awal pertikaian itu SEMUA diawali dengan masalah yang sifatnya sekuler. Enggak jauh-jauh dari perebutan tanah atau wilayah atau kekuasaan atau lebih kekinian di Timur Tengah, merebut pasar minyak :p. Apalagi goncangnya harga minyak membuat kondisi di sana kejang-kejang. Ya gimana, dominasi penghasilan rata-rata dari minyak. Manalagi sudah biasa hidup “hedon-hedon” :p. Makin pusing pala para Abu dan Ummu :D.
Kejang-kejangnya ini yang menular ke mana-mana. Dan bumbu agama untuk kesekian kalinya dimanfaatkan untuk menambah romansa pertikaian. Semangat jihad dikobarkan salah satu tujuannya untuk membentuk militansi, sih, ya.
Yang “atas-atas” memang nyari duit dan kekuasaan. Tapi mereka perlu serdadu-serdadu yang bisa dimanfaatkan militansinya tanpa perlu keluar uang banyak. Candu apalagi yang paling tepat selain candu agama?
PIRA/IRA kan berjuang untuk pembebasan Irlandia. Persoalan agama hanya pelengkap yang justru membuat masalah makin sulit diurai.
Palestina? Ya masalah tanah juga. Sudah berhamburan berita bahwa di Palestina itu sebenarnya ada penganut agama lain selain muslim. Demikian pula pemerintahan Israel itu sebenarnya sekuler, tidak mewakilli kepercayaan Yahudi.
Tapi yah, kalau sudah urusan Palestina, perdebatannya ujung-ujungnya bahas orang kafir, surga dan neraka. Padahal di belahan dunia lain, banyak kalangan masyarakat yang mati-matian mengutuk Israel. Tapi buat mereka yang sudah “kecanduan”, Palestina ya jihad agama! Terkutuklah kau Yahudi dan Nasrani. Lah jangan-jangan petinggi-petinggi Israel atheis semua hahahahaha :p.
Pokoknya kalau sudah bawa-bawa Tuhan, repot ya :(.
Gambar : misacor.org
Susah kan mau minta konfirmasinya gimana. Enggak bisa kita confirm langsung, “Tuhan, jadi yang benar yang mana nih? Dia apa saya?” Lah masing-masing merasa perwakilan Tuhan :p. Mengkritisi mereka berarti mengkritisi Tuhan, onde mande banget kan? :D.
Tapi teman-teman muslimku, saya percaya mayoritas kita sebenarnya BUKAN orang-orang yang sakaw yang menganggap keislaman kita adalah seberapa keras kita mengutuk (bahkan membunuh) orang lain di luar Islam. Saya yakin deh, yang error-error itu cuma sedikit.
Problemnya, mereka sedikit tapi BERISIK. Terlalu BISING. Suara mereka yang terlampau kencang ini yang membuat orang-orang di luar Islam merasa bahwa sesungguhnya merekalah perwakilan Islam yang “benar”.
Saya kutip nih satu komentar di sebuah video yang membahas soal fanatisme kekerasan dalam Islam, “…kalau umat Islam mengklaim yang suka meneror dengan kekerasan hanya orang-orang tertentu yang ekstrimis lalu mengapa tak ada yang lantang menentangnya? Sisanya kok diam saja? Their silence is deafening.”
Kata “mereka”, diamnya kita justru bukti bahwa jangan-jangan kita mengiyakan? Padahal mungkin kita malas saja dituduh LIBERAL kan, kan, kan? Hahhaahahaha.
Banyak teman saya mengaku menghindari mengomentari hal-hal seperti ini karena ujung-ujungnya bisa berdebat tiada ujung.
Alasan sebagian teman, “Lo sih enak, emang lo doyan berantem! Lah kita yang pengin nyari resep doang di Facebook ya ogahlah ngurusin gituan.” Hahahahaha :p. Husss, eike juga rajin nyatet-nyatetin resep di Facebook kali aaaaahhh ;).
Tapi kita mungkin sudah berada di masa di mana DIAM tidaklah cukup :).
“Our lives begin to end the day we become silent about things that matter.” -Marthin Luther King Jr-
Kecuali…tentu saja, kalian diam karena dalam hati memang sepakat. Atau buat kalian, ini bukan perkara yang penting.
Saya mendarat di Bandara Internasional Imam Khomeini di puncak musim panas tahun 2009. Namun, sisa-sisa musim dingin masih menyajikan pemandangan salju di puncak-puncak perbukitan yang mengelilingi Kota Teheran.
Waktu itu, Mbak kita yang satu ini masih bercita-cita melihat salju. Jadi, dari balik kaca besar yang memenuhi seluruh dinding ruang tengah apartemen, saya kerjaannya liatin salju melulu hahaha.
Pertama kali saya tahu kalau ternyata di Timur Tengah pun ada salju.
Snow in Tehran, gambar : theiranproject.com
Walau kotanya tua dan minim bangunan mewah nan tinggi, bersihnya jangan ditanya. Dibanding Kota Athlone ini pun, Teheran masih juara rasanya.
Konon, “Kalau ada 10 perempuan Iran lagi jalan bareng, 9 diantaranya pasti cantik.” Itu ilustrasi yang pas untuk menggambarkan betapa kece-kecenya cewek-cewek Persia hehehehe. Emang cantik ya boooo, untung cepet-cepet nyusul suami nih hahahaha :p.
Perempuan di Iran juga wajib berpakaian tertutup tapi modelnya lebih ‘bebas’. Tidak harus ber-abaya, seperti misalnya di Arab Saudi. Yang penting bajunya longgar dan menutupi area paha, di atas lutut sedikit boleh. Celana panjang enggak masalah. Tapi namanya perempuan, banyak juga yang bandel hehehe.
Di Saudi juga sama. Ada lho model abaya ketat melekat gitu ;).
Soal tutup rambut, di Iran masih boleh kerudung-an yang jambulnya kelihatan sedikit hihihi. Di beberapa tempat umum, ada semacam “polisi Syariah” yang berjaga-jaga, menegur perempuan yang bajunya agak “melenceng”. Tapi tenang saja, biasanya mereka enggak rewel ke orang asing.
Soal warna baju juga mirip dengan Saudi. Sebisa mungkin di Iran berpakaian hitam-hitam, tapi dalam praktiknya yang warna-warni juga banyak. Bukan hitam pun, mayoritas warna gelap sih.
Tidak sedikit perempuan di Teheran suka dandan menor-menor. Ampun dah, lipstiknya merah membara dengan blush on tebel-tebel :p. Belum lagi poni disasak tinggi-tinggi pakai anting-anting gede karena kerudungnya enggak nutup kuping. Tapi yang pakai chador (baju perempuan khas Iran), baju hitam panjang mirip abaya tapi jauh lebih longgar, juga banyak.
Gambar : touchIran.com, news.bbc.co.uk, reuters.com
Kalau di Saudi perempuan enggak boleh nyetir, di Teheran, embak-embaknya kalau nyetir gila-gila, Ceu! Hahahahhaha. Ngeri aja kalau mau menyeberang jalan di perempatan Vanak Street.
Saya suka jajan kue-kue manis di seberang jalan di area Vanak Street. Awalnya saya bingung gimana cara menyeberangnya. Lampu merah saja suka diterabas di Teheran -_-. Saya dinasihati oleh salah seorang lokal sana.
Katanya, kalau mau menyeberang, enggak usah lihat kiri kanan, jalan saja maju, nanti mobilnya berhenti sendiri. Ajegile! Horor amat! Hahaha. Kalau telat menginjak rem gimana? *ngelapJidat*. Makanya, saya kalau mau menyeberang tunggu ramai dulu. Lalu, saya ngintilin di samping orang-orang yang sama-sama mau menyeberang jalan hihihi :p.
Hal lain soal budaya ke-perempuan-an di Iran adalah soal dukungan terhadap ibu bekerja. Separasi ruang publik untuk laki-laki dan perempuan juga terasa banget di Iran. Bedanya, Iran punya transportasi publik yang lumayan bagus ;). Gak mesti ke mana-mana naik mobil sendiri walau pun Iran juga raja minyak, lho. Di Iran, harga BBM juga terbilang murah.
Separasi laki-laki dan perempuan di Iran itu sifatnya woman only vs Family. Jadi perempuan boleh bepergian tanpa kerabat laki-laki tanpa perlu umpel-umpelan di bus atau di subway/metro. Bujang-bujang yang pergi bareng tanpa perempuan silakan masuk gerbong/area untuk Family.
Tehran Subway Station (Gambar : wikimedia.org)
Kalau di Saudi, separasinya … single vs Family. Single ditujukan buat bujang laki-laki. Perempuan yang bepergian tanpa laki-laki (which is legally enggak boleh di Saudi) silakan gabung di area Family.
Waktu di Iran, anak saya baru satu, si sulung yang usianya sekitar satu tahun .Karena dia anaknya grasak grusuk tingkat tinggi dan menikmati berada di keramaian jadilah saya masukkan ke daycare. Buat nyari teman saja. Karena bingung di apartemen mau main sama tetangga yang mana hehehe.
Di daycarenya ya saya temenin saja. Yang penting dia ketemu teman-teman baru. Benar saja, hari pertama dia sudah melesat bak anak panah dari gendongan saya hihhi. Sama sekali tidak canggung, menghampiri anak-anak Persia dan ikut main bola bareng :D. Saya juga senang dapat teman ngerumpi hahahaha :p.
Saya mengobrol dengan ibu pemilik daycare. Saya terus terang kurang suka karena beliau terkesan meremehkan saya, “Kamu anak baru satu kok enggak kerja saja? Ngapain saja tuh di rumah? Padahal bisa bahasa Inggris. Masa enggak mau kerja?”
Inginnya sih nyolot balik, “Gimana ya Bu, enakan ngupil di rumah, hambur-hamburin gaji suami. Gaji suami saya gede, lho!” Hahahahaha. Becanda :p.
Nyatanya, pemikiran model begini bukan hanya di Iran saja.
Dari pengalaman saya, baik perempuan Iran maupun perempuan Mesir dan perempuan Saudi, yang pernah berkomunikasi langsung dengan saya, yang lebih sering mencecar, “Kok lulus kuliah malah enggak kerja? Tuh, bisa bahasa Inggris, kok di rumah saja?”
Apa mungkin karena stigma mereka tentang kondisi negara Asia Tenggara ya? Dikiranya kita datang ke Timur Tengah buat ngemis ke mereka hehehe. Disangka Indonesia semiskin apa :p.
Kalau perempuan Saudi mungkin lebih bisa saya maklumi karena mereka memang terbatas akses pendidikannya. Ya malas aja, wong lahan pekerjaan masih mendiskriminasikan mereka. Tekanan sosial terhadap perempuan bekerja masih tinggi.
Nah, Iran sama Mesir lebih norak! :p. Dikiranya mungkin perempuan berpendidikan tinggi masih jarang di Indonesia. Makanya, bagus juga kalau Indonesia itu jangan kebanyakan mengirim TKW informal. Kasihan nih, kita-kita yang dituduh perempuan pemalas hanya gara-gara enggak ikutan nyari duit secara “formal” hahahaha.
Buat kita orang Indonesia, walau memang perselisihan antara ibu di rumah vs ibu bekerja masih ramai, tapi ya tidak terlalu aneh rasanya ada ibu di rumah yang sekaligus lulusan perguruan tinggi ternama dan punya skill formal mumpuni yang milih ngupil-ngupil di rumah aja pas suami di kantor dan anak-anak di sekolah kan? Hahaha :p.
Gambar : en.wikipedia.org
Hal unik lainnya di Teheran adalah hobi pasangan muda mudi mojok di banyak sudut taman kota yang memang dibangun secara serius di banyak wilayah Teheran. Di area taman yang sepi, sering lho mendapati semak bergerak-gerak yang pas dilewatin, ternyata ada sepasang pria dan wanita muda lagi duduk lengket-lengketan hahahahaha.
Iran juga ketat soal hubungan laki-laki dan perempuan di tempat publik. Kegiatan selevel pacaran ya mana boleh. Pengawasan juga lumayan ketat dengan wara wirinya “polisi Syariah” di banyak tempat umum.
Tapi ya mau sebanyak apa sih menyebar polisi Syariah kalau kesadaran itu dibentuk atas dasar paksaan dan kekangan ;). Anak muda yang pada dasarnya hobi main api ya nemu aja celah-celah semak buat sekadar ngobrol berdua, duduk empet-empetan *ihiiiiyyyy*. Mana taman-taman di sana memang segede-gede gaban.
Lupakan dulu yang lagi indehoy, karena taman cantik model begini adalah anugerah bagi keluarga Gober yang kikir ini hahahaha. Enggak pusing mau cari cara nyenengin anak. Ajak saja ke taman, Sudah lengkap dengan kebun binatang mini, bunga-bunga dan tetumbuhan yang dirawat serius tumbuh subur di berbagai sudut, plus taman bermain gratis yang dilengkapi aneka rupa mainan buat anak-anak ^_^.
Taman Sai di Teheran, Iran (gambar : panoramio.com, by Behrooz Rezvani)
Konon, taman-taman cantik itu termasuk hasil kerja keras mantan Pak Walikota yang sukses melaju menjadi Presiden hingga 2 periode. Waduh, jangan-jangan … ah enggak ah, nanti kaum cebong kesenengan hahahaha :p.
Secara yaaaa, Teheran modelnya mirip kota-kota di Eropa pada umumnya. Jarang ada mal gede-gede. Jadi, hiburannya banyakan outdoor.
Sekarang bahas laki-lakinya. Saya suka geli kalau melihat laki-laki jalan bareng sambil pegang-pegangan tangan dan rangkul-rangkulan hihihi. Itu bukan kebiasaan umum di budaya Indonesia kita kan ya?
Hubungan antar laki-laki di Teheran memang terbilang “mesra”. Ketemu saja bisa cipika cipiki dengan heboh. Ternyata, kebiasaan itu bukan hanya milik kaum Persia, orang-orang Arab juga begitu ternyata. Malah menurut suami saya, India dan Pakistan juga tidak masalah laki-laki saling bersentuhan atau pegangan tangan kalau jalan bareng. Penasaran saja, apa lagi-lagi ini karena budaya patriarki tadi kah? HIhihihi. Sotoy! :p.
Atau karena di wilayah-wilayah ini, percampuran antara perempuan dan laki-laki masih dianggap “tabu” jadi aja mereka jadi lebih dekat dengan sesama laki-laki? Hihihi.
Taman Mellat di Teheran (gambar : en. wikipedia.org)
Yang jelas, bukan karena faktor agama! Karena India kan mayoritasnya Hindu. Dan di sana tuh, kondisi “keamanan” untuk kaum perempuan di tempat umum masih memprihatinkan :(.
Kesulitan bahasa menjadi salah satu kendala terberat tinggal di Teheran. Walau sama-sama menggunakan huruf hijaiyah, bahasa resmi Iran adalah Bahasa Farsi, bukan Bahasa Arab. Bedanya lagi, bahasa Farsi mengenal huruf P, bentuknya seperti huruf Ba, tapi titiknya ada tiga di bawah.
Iran tidak terlalu terbuka pada para pendatang. Makanya, pendatang di Teheran tuh mudah mencuri perhatian. Sebelnya, cukup sulit menemukan orang lokal yang bisa berbahasa Inggris. Saya pernah membeli pizza di sebuah warung lokal hanya modal bahasa isyarat dan tunjuk-tunjuk menu hahahahaha. Nama warungnya justru lucu, sok-sok bule dengan memajang plang bertuliskan “UFO Pizza”, zzzzz -_-.
Jangan harap ketemu gerai-gerai standar macam KFC, McD dan Pizza Hut di Teheran. Gak ada! Mereka punya sih ayam goreng sejenis KFC atau McD tapi merek lokal. Enak juga sih. Coca Cola juga tidak ada. Tapi minuman sejenis banyak bikinan lokal.
Kendaraan yang lalu lalang di jalan juga banyak merek lokal. Iran lumayan juga. Kena embargo malah jadi lebih mandiri hehehe. Nah, kalau di Jeddah, senang cuci mata lihat mobil mewah lalu lalang di jalanan. Warna-warnanya gonjreng dan atraktif :D. Di Teheran, mobilnya dekil-dekil dan seperti mobil tua. Sama kayak di Irlandia hahaha :p.
Soal duit juga ribet di Iran. Di sana, ATM-nya tidak bisa menggunakan kartu jenis Visa atau Mastercard. Pendatang juga tidak leluasa buka rekening lokal. Suami saya gajiannya seru banget. Jadi berbaris gitu terus dibagiin amplop satu persatu, hahahahaha. Semua pekerja asing kayak gitu, level formal sekali pun :p.
Kontrak kerja pakai USD tapi terimanya dalam bentuk Euro. Jadi, nominal gaji berubah-ubah tergantung kurs Euro terhadap USD. Transfernya juga ribet. Tapi sebenarnya dalam peredaran sehari-hari, USD juga tetap boleh digunakan.
Urusan public service, orang Persia juga mirip dengan orang Arab, enggak ada ramah-ramahnya huhuhu. Malah Teheran parah karena ada kendala bahasa. Sempat butuh ke rumah sakit karena anak saya kena sakit mata. Sampai minta tolong ke KBRI buat ditemenin daftar di klinik hihihi.
Dokternya sih ramah ^_^. Surprisingly, harga obat juga murah banget di Iran. Tapi di Iran ini tapi mayoritas harga mahal-mahal. Yang terbilang murah hanya beberapa kebutuhan pokok. Misalnya roti, gandum, susu, tepung, dan itu tadi…obat :D. Sisanya sih, bikin pijet-pijet kening, deh hehe.
Soal kehidupan sosial, Saudi jelas lebih homogen. Karena di Teheran ya bebas-bebas saja berdiri rumah ibadah non Islam. Kalau di Saudi kan tidak boleh, ya. Hanya boleh ada masjid hehehe.
Sinagog juga ada di Teheran. Rabi-rabi yang pakai topi kecil khas Yahudi juga rasanya pernah papasan. Pemerintah Iran, wewotnya sepertinya hanya kepada pemerintahan Israel dkk :D. Ya enggak jauh-jauh dari urusan minyak dan duit lah :p.
Soal Sunni-Syiah waktu itu belum terlalu terasa sih. Jadi saya juga enggak terlalu merhatiin. Yang jelas, kalau shalat Jumat, suami saya shalatnya di gedung KBRI bukan di masjid umum. Mereka shalat jumat di lapangan tertentu saja kata suami. Suami juga takut-takut sih memperlihatkan identitas Sunninya hehehe. Walau selama di sana ya memang tidak diapa-apain.
Soal alquran beda ya jelas hoax. Di apartemen umumnya sudah disediakan alquran sama batu kecil something oleh landlord. Batu itu katanya buat sujud. Penganut Syiah sujudnya harus pakai batu/tanah dan semacamnya. Kira-kira begitulah. CMIIW ya.
Alquran-nya normal. Enggak setebal tuduhan orang-orang. Ukuran sama dan pas dibaca-baca ya nama surahnya sama. Saya bukan hafizah sih ya jadi enggak bisa bandingin ayat per ayat :D.
Saya di sana di masa-masa Pilpres sedang berlangsung. Konon, kemenangan Ahmadinejad di periode ke-2 bikin “lawan politik” luar negerinya bete. Jadilah itu ramai-ramai bikin berita hoax soal berita hasil Pemilu di Teheran.
Lovely Teheran (gambar : commons.wikimedia.org)
Saya kan jadi bingung. Rasanya di Teheran biasa-biasa saja tapi berita di CNN, BBC, Al Jazeera dkk sudah kayak kerusuhan berdarah-darah. The power of media ya. Kasihan sih dengan kerabat di Indonesia. Ibu mertua ribut nyuruh suami pulang hahahaha.
Padahal masalah yang menjerat kami bukan soal itu. Tapi kena tipu oleh agen yang merekrut suami. Sampai suami overstay dan status tinggalnya terhitung ilegal. Lumayan menguras emosi menghadapi situasi saat itu. Ketambahan lagi kisruh politik jadi bikin tambah stres dah.
Ahmadinejad bisa dibilang Koppig versi Iran hahahaha :p. Beliau kaku dan tidak kenal kompromi. Sebenarnya, di kota-kota besar di Iran seperti Teheran, Ahmadinejad kurang disukai. Apalagi oleh kaum muda di Teheran. Dianggap terlalu konservatif.
Tapi katanya, di kota-kota kecil dan di pedalaman, Ahmadinejad masih didukung penuh oleh mayoritas rakyat saat itu. Wallahu alam lah, gak paham situasi politik. Namanya juga mamak-mamak ya, yang diterawang ya urusan seputar per-daster-an aja hahahaha.
Sayang ya, waktu itu suami belum hobi fotografi dan banyak masalah dengan agen jadi kami gak puas jalan-jalannya. Padahal Persia merupakan salah satu peradaban tertua di dunia. Tidak banyak rekaman gambar untuk bersaksi betapa indahnya Kota Teheran <3. Ya fotonya masih banyakan muka emak dan anak -_-.
Soal pekerjaan, untunglah gaji tetap lancar dibagiin dalam amplop tiap bulan hihihi. Somehow, we managed to get out from there, safe and sound 😀. Dari sanalah, suami akhirnya keterima bekerja di Jeddah. Berakhirlah episode Teheran di awal musim gugur di tahun yang sama :).
Saya rasa sih, Iran sama Arab Saudi banyak samanya daripada bedanya. Bedanya cuma di masalah Sunni-Syiah. Tapi hobi maksanya sama saja hehehe :p. Sama-sama tajir minyak juga jadi mungkin masing-masing merasa berhak menjadi “raja” di Jazirah sana :p.
Enakan jadi orang Jepang kali ya, kekuatan negeri ada di sumber daya manusia ;). Manusia yang seharusnya menjadi kekuatan terbesar sebuah negeri, bukan intan berlian, bukan minyak dan tidak juga hasil non tambang lainnya.
Apa karena itu ya, hikmah mengapa manusia dipilih menjadi khilafah di muka bumi ini? Kita ini khilafahnya, kita ini koordinator yang harusnya mengatur, kok malah diperbudak oleh materi? ;).
Tanggal 5 November 1605, Guy Fawkes gagal meledakkan gedung parlemen Inggris dengan bubuk mesiu yang sudah disiapkannya di bawah tanah. Peristiwa yang dikenal dengan Gunpowder Plot of 1605 ini membuatnya harus menerima hukuman mati.
Guy Fawkes berusaha membunuh King James, raja Inggris yang beragama Protestan. Sementara Fawkes sendiri adalah pemeluk Katolik.
Topeng Guy Fawkes, gambar : pixabay.com
Fawkes dan pemeluk Katolik lain hidup dalam tekanan saat Kerajaan Inggris berada di bawah pemerintahan raja-raja Protestan. Sebaliknya, saat kerajaan diperintah penguasa Katolik, pemeluk Protestan yang terpinggirkan.
Guy Fawkes sebelumnya pernah menjadi serdadu Kerajaan Spanyol yang sedang menghadapi pemberontakan sekelompok orang yang ingin mendirikan Dutch Republic.
Kerajaan Spanyol yang dipimpin oleh kekuasaan beragama Katolik memanfaatkan orang-orang seperti Fawkes dengan dalih “berjihad” atas nama agama. Spanyol menyewa serdadu bayaran dengan iming-iming mempertahankan Spanyol dari pemberontak yang diklaim sebagai “pihak” Protestan.
Tentu saja, otoritas Spanyol saat itu sebenarnya hanya ingin mempertahankan keutuhan wilayahnya semata. Tapi, apa yang lebih ampuh mengobarkan semangat “bertempur nan berani mati” selain alasan agama? Sad yet true, it continued happening years and years after that.
Setelah Spanyol, Fawkes kembali ke Kerajaan Inggris dan kembali “dimanfaatkan” oleh sekelompok Katolik yang ingin merebut kekuasaan dari King James saat itu. Politik, politik, politik. Politik atas nama agama. Kok kayaknya familiar, ya? :p.
Dalam beberapa peristiwa lain, atas nama agama, banyak nyawa melayang di berbagai tempat. Bahkan tidak mesti berbeda kepercayaan antara yang membunuh dan yang dibunuh.
Mohandas Karamchand Gandhi, mati tertembak oleh seorang ekstrimis Hindu (Nathuram Godse), saat hendak menuju ke tempat peribadatan. Gandhi pun seorang pemeluk agama Hindu.
Pemicu pembunuhan karena ketidakpuasan kalangan ekstrimis Hindu terhadap sikap akomodatif Gandhi kepada kaum muslim India. Pertikaian berdarah antara Hindu-Muslim-Syikh mewarnai awal kemerdekaan India sekitar tahun 1947 silam.
Gandhi, salah satu pelopor kemerdekaan India yang juga terkenal dengan gerakan nonviolent resistance-nya. Gandhi memimpin protes kepada para penguasa pra kemerdekaan India dengan cara “damai”.
Saat kemerdekaan telah direbut dan hubungan sengit antara Hindu dan Muslim terus membara, Gandhi muncul sebagai penengah yang akhirnya dibayar dengan nyawanya sendiri.
Anwar Sadat, juga ditembak mati oleh pemuda muslim (Khalid Islambouli) saat parade militer di Mesir. Pemuda tersebut diperkirakan bagian dari sebuah gerakan Islam dalam Mesir sendiri.
Presiden Anwar Sadat, gambar : pixabay.com
Anwar Sadat dimusuhi pasca menyetujui perjanjian Camp David yang berusaha menurunkan tensi ketegangan antara Mesir dan Israel pasca pemerintahan Gamal Abdel Nasser yang terkenal sangat kontra dengan Israel.
Tahun 1995, Yitzak Rabin juga tebunuh di tangan seorang ekstrimis Yahudi (Yigal Amir). Pembunuh Rabin berasal dari kelompok Yahudi yang menentang perjanjian Oslo, perjanjian perdamaian antara Israel dan Palestina.
Fawkes, Godse, Islambouli dan Yigal Amir, keempatnya mengklaim perbuatan mereka sebagai bagian dari “pengabdian terhadap agama” masing-masing.
Yitzak Rabin, gambar : eteacherhebrew.com
Mengutip ucapan Gus Nuril (2013), ” “Banyak orang mengira sedang mengabdi kepada Tuhan dan agama. Padahal sebenarnya, mereka hanya sedang melayani nafsunya sendiri.”
Damai terus bumi Indonesia tercinta. Tempat bersatunya berbagai macam agama dan kepercayaan, suku dan bangsa, bahasa dan ragam budaya.
Persatuan dalam keberagaman adalah kekuatan kita sebagai bangsa Indonesia. Kalau kita bersatu, pihak mana pun hanya akan menemui kesia-siaan jika ingin mencoba mengail di air keruh . Biarkan saja belahan dunia lain rusuh. Tugas kita mendoakan dan mendamaikan. Bukan ikut ribut ya, Cyiiiinnn ^_^.
“When there is no enemy within, the enemies outside cannot hurt you.”― Winston Churchill
Satu lagi dari Gus Nuril,
“Kalau sampeyan sudah mengakui Tuhan sebagai Yang Maha Kasih, menjadi anak-anak Tuhan, maka kewajiban anda semua mengaplikasikan makna Sang Pengasih itu dalam kehidupan sehari-hari.” -Gus Nuril-
Mari kita hadirkan Sang Maha Kasih nan Penyayang, Ar Rahman Ar Rahiim, dalam kehidupan kita sehari-hari.
“Christmas is not as much about opening our presents as opening our hearts” -Janice Maeditere-
Menyusuri kembali jalan-jalan di salah satu sudut Mina yang sisi kiri kanannya dipenuhi jajaran tenda yang kini lengang tak berpenghuni. Memandangi Padang Arafah yang sungguh berbeda tanpa hiruk pikuk jemaah dan hanya berupa hamparan tanah kosong ditumbuhi rumput liar. Tetap saja, suasana yang berbeda tidak membuat rasa haru berkurang sedikit pun.
Padang Arafah, pic : Dani Rosyadi
Setahun selepas saya berhaji bersama suami via biro haji lokal di Jeddah, suami mendapatkan kesempatan untuk bekerja di negara lain. Usai sudah perjalanan kami sekeluarga menjadi pemukim di Kota Jeddah, Arab Saudi, selama hampir 3 tahun lamanya. Menjelang minggu terakhir kami di Jeddah itulah, kami berangkat menuju Mekkah untuk berpamitan.
Setelah melakukan ibadah umrah di Masjidil Haram, barulah kami bertolak menuju Mina dan Arafah. Ingin sedikit napak tilas mengenai perjalanan haji yang baru beberapa bulan lalu kami jalani. Tentu saja, salah satu kenangan paling indah dan tak terlupakan selama tinggal di Arab Saudi adalah…naik haji.
Lengangnya Mina
Sebenarnya, akses menuju perkemahan jemaah haji di Mina ditutup saat bukan musim haji. Tapi jalanannya tidak ditutup sama sekali. Jadi, kami nekat saja melintas untuk masuk.
Tenda-tenda jemaah di Mina sifatnya permanen. Hanya saja, saat bukan musim haji, kain-kain penutup yang berfungsi sebagai dinding-dinding tenda diangkat ke atas. Dibiarkan terbuka. Mungkin agar udara bisa leluasa masuk dan tidak pengab kala hendak digunakan.
Tenda terbagi-bagi dalam beberapa wilayah. Ada penomoran khusus. Nah, areal tenda-tenda inilah nanti yang disewakan kepada para pengelola jemaah haji dari negara lain atau biro haji lokal lainnya.
Beda sekali suasananya. Karena saat musim haji, jalanan selalu penuh dengan orang hilir mudik, kami tak mengira sebenarnya jalanan dalam kompleks perkemahan haji itu cukup lebar dan lapang. Biasanya ada juga para pedagang kaki lima yang menutup tengah-tengah jalan sehingga terasa sesak.
Kompleks jemaah haji di Mina
Kami menyusuri Mina hingga mencapai tempat melontar jumrah. Tempat melontar jumrah kini sudah ada 4 lantai. Tidak perlu berdesak-desakan seperti musim haji belasan tahun silam. Walau sepertinya lantai 1 masih menjadi tempat favorit bagi sebagian besar jemaah haji.
Masih ingat, kan, dengan peristiwa Terowongan Mina tahun 1991 lalu? Berkaca dari pengalaman itulah, akses masuk menuju tempat melontar jumrah dan keluar dari sana juga sudah dipisah dengan ketat.
Sewaktu naik haji, saya tak terlalu memperhatikan bentuk bangunan tempat melontar jumrah ini. Barulah tempo hari saat lagi sepi-sepinya saya baru melihat dengan seksama bahwa keempat lantai tempatnya ditopang oleh 2 buah bangunan berbentuk bulat.
Padang Arafah Tanpa Penghuni
Kalau di Mina kami masih bisa mengenali lokasi tenda kami kala menginap di sana, suasana di Padang Arafah sungguh jauh berbeda. Tenda-tenda yang digunakan para jemaah saat wukuf setiap tanggal 9 Zulhijjah tersebut bukan tenda permanen seperti di Mina. Di luar masa-masa wukuf, tendanya dilepas.
Ternyata, Padang Arafah tidak benar-benar berupa padang pasir terbuka. Rumput-rumput liar terlihat tumbuh subur di sebagian areal. Bahkan tak jarang ada pohon-pohon yang tingginya lebih dari semeter. Kemungkinan, menjelang wukuf dan pemasangan tenda, pohon-pohon ini sebagian besar harus ditebang untuk menyediakan lahan yang luas. Mengingat jumlah jemaah yang membludak dari seluruh penjuru negeri.
Tak jauh dari Padang Arafah ini kita bisa mencapai lokasi Jabal Rahmah, si bukit yang konon melambangkan kasih sayang itu. Ada mitos yang menyebutkan di sinilah dahulu Adam dan Siti Hawa bertemu setelah terpencar saat diturunkan dari surga ke bumi.
Jabal Rahmah terlihat sepi tanpa kerumunan jemaah. Kawanan unta yang biasanya diberi pernak pernik warna warni untuk dijadikan tunggangan jemaah yang ingin berfoto atau mengitari sekitar Jabal Rahmah juga tidak kelihatan. Kebetulan saat kami ke sana itu, visa umrah juga belum dibuka kembali.
Jalan Menuju Arafah dari Mina, foto : Dani Rosyadi
Setelah musim haji berakhir, pemerintah Saudi tidak serta mengizinkan umat muslim dari negara lain untuk datang dan melakukan ibadah umrah. Sekitar sebulanan setelah musim haji selesai, Mekkah dan Madinah terkesan sangat sunyi tanpa kehadiran jemaah dari negara lain.
Saat inilah, pemukim Arab Saudi dari berbagai kota hilir mudik ke Mekkah dan Madinah. Keuntungan lainnya, umumnya hotel-hotel berbintang yang sepi pengunjung memberikan potongan harga kamar yang bisa dipangkas hingga 70%.
Kenikmatan mengunjungi dan menikmati tanah haram di ‘bulan-bulan sepi’ sudah bukan rezeki kami lagi.
Tempat melontar jumrah, Mina – Mekkah (foto : Dani Rosyadi)
Inilah mungkin keuntungan utama sebagai umat muslim saat berkesempatan menjadi mukimin di Jeddah. Kesempatan untuk menunaikan ibadah haji tanpa perlu mengantre seperti yang kini berlaku di tanah air. Biayanya pun tergolong lebih murah, durasi lebih singkat, dan fasilitas yang jauh lebih menyenangkan.
Tapi ada aturan khusus dimana penduduk asli/siapa pun yang tinggal di Arab Saudi hanya boleh naik haji 5 tahun sekali. Nomor iqama (semacam kartu tanda penduduk untuk para pendatang di Saudi) akan diberi tanda.
Saya dan suami naik haji via Jeddah di tahun 2012 silam. Mendaftar melalui biro haji lokal. Biro haji ini menyediakan transportasi, akomodasi dan yang paling penting … surat izin resmi untuk naik haji ala Saudi yang namanya Tasrikh.
Tempat melontar jumrah dilihat dari sebuah area tenda jemaah di Mina, foto : Dani Rosyadi
Biaya naik haji tergantung biro haji yang digunakan. Rata-rata berkisar antara 2000 hingga ada yang mencapai lebih dari 10 ribu riyal. Biro haji yang saya gunakan mematok harga 4500 riyal per orang. Kami memilih biro haji ini karena keistimewaannya yang membolehkan jemaah membawa anak-anak. Umumnya, biro-biro haji lokal tak mengizinkan anak-anak untuk ikut serta. Oh ya, di biro haji kami, anak-anak di bawah usia 10 tahun tidak perlu membayar sepeser pun.
Pendaftaran biasanya mulai dibuka selepas masa Idul Fitri. Jangan khawatir kehabisan tempat karena biro haji lokal ini jumlahnya tidak sedikit.
Tenda di Mina diberi fasilitas tempat tidur per orang lengkap dengan kasur+selimut+bantal. Tidak mewah memang. Tapi kami mendengar banyak jemaah dari tanah air yang hanya tidur beralaskan karpet tipis tanpa kasur sama sekali. Makanan juga termasuk berlimpah. Minuman tak pernah kosong disertai makanan-makanan kecil dan buah-buahan setiap pagi dan sore.
Jumlah kamar mandi dan toilet terbilang cukup dan tidak berdesakan. Biro haji kami juga menyediakan tenaga bersih-bersih yang sigap membersihkan kamar mandi hingga ke dalam tenda.
Tenda di Arafah pun tergolong nyaman dan mencukupi. Tetap dilengkapi dengan jumlah toilet yang layak.
Dari Mina menuju Arafah, kami tidak perlu berjalan kaki. Pemerintah Saudi sebenarnya sudah membangun lintasan kereta yang menghubungkan 3 titik penting Arafah-Mina-Tempat melontar jumrah (yang sebenarnya masih ada di wilayah Mina juga). Tapi hingga kini, fasilitas kereta belum bisa menjangkau semua jemaah haji.
Salah satu yang beruntung yang leluasa menikmati kereta listrik full AC ini adalah para jemaah lokal, seperti saya dan suami saat itu. Semoga ke depannya, pemerintah Saudi terus berbenah sehingga fasilitas kereta bisa ditujukan kepada seluruh jemaah haji.
Jemaah haji asal Kota Jeddah biasanya serentak memasuki Mekkah menuju Mina pada tanggal 7 Zulhijjah malam. Beberapa biro haji juga ada memberangkatkan jemaahnya pada tanggal 8 Zulhijjah. Durasi berhaji via Jeddah rata-rata 5-7 hari saja.
Tak sedikit para penduduk maupun pendatang yang bermukim di Arab Saudi yang ingin melaksanakan ibadah haji lebih dari sekali dalam 5 tahun. Mungkin dengan pertimbangan mumpung aksesnya sangat dekat. Termasuk beberapa rekan-rekan saya di Jeddah dahulu.
Untuk menghindari pemeriksaan Tasrikh (surat izin resmi untuk berhaji tadi), calon jemaah haji ‘ilegal’ ini berusaha memasuki Mekkah dengan cara kucing-kucingan denga petugas. Biasanya mereka langsung menuju Padang Arafah di hari wukuf atau sehari sebelumnya masuk ke Mina setelah tawaf di Masjidil Haram.
Berbekal tenda/tikar/makanan sendiri, mereka melaksanakan ibadah haji secara mandiri. Ada yang sendiri-sendiri, tapi kebanyakan berkelompok. Nah, mereka inilah yang dikenal dengan istilah haji koboi. Haji koboi tak hanya datang dari kalangan menengah ke bawah. Tidak sedikit orang-orang berada yang menempuh cara ini untuk berhaji karena ingin merasakan petualangan khusus.
Sebaiknya kita memahami alasan pembatasan jumlah jemaah dan diberlakukannya “sistem Tasrikh” sejak sekitar akhir tahun 90-an. Dulunya, siapa pun pemukim Saudi bebas berhaji berkali-kali tanpa batas.
Para haji koboi yang biasanya memang hanya menggelar tikar di jalan atau di tanah kosong tanpa tenda ‘resmi’ juga membuat isu kebersihan tersendiri. Seringnya mereka membiarkan begitu saja sisa-sisa pembungkus makanan, botol-botol minuman berserakan di jalan. Sementara jemaah haji resmi menggunakan tenda resmi yang lazimnya juga bertanggung jawab atas sampah para jemaah di masing-masing tenda.
Gambar : news.liputan6.com
Belum lagi toilet dan kamar mandi umum (di luar fasilitas tenda resmi) sangat terbatas. Sehingga tak heran, sebagian haji koboi kesulitan untuk membuang hajat dii tempat yang seharusnya. Maka dari itu, bau pesing dan kurang sedap akan muncul di mana-mana di sepanjang jalan setelah proses wukuf selesai di Arafah.
Maraknya haji koboi akan membuat pemerintah Saudi kesulitan mengoptimalkan fasilitas untuk jemaah haji secara keseluruhan. Jumlah mereka sulit diterka dan terus membesar tiap tahun. Makin banyak yang berani mencoba.
Tapi sejak 2 tahun terakhir, pemerintah Saudi mulai memperketat pengawasan. Konon, tahun ini, hukuman mulai diperberat dan ancaman akan ketidakdisiplinan dalam mematuhi proses berhaji bagi pemukim lokal Arab Saudi makin gencar disebarluaskan.
Daya tampung wilayah Mina dan Arafah tentu tak mungkin terus diperlebar. Sekarang saja, antara wilayah Mina dan Musdalifah sudah mulai tumpang tindih. Sehingga jemaah memang harus dibatasi.
Saya mengerti betapa nikmatnya jika kita bisa naik haji berkali-kali. Tapi pertimbangkanlah mereka yang datang dari jauh. Mungkin kesempatan ini akan menjadii kesempatan pertama dan terakhir mereka. Secara hukum agama, naik haji tak perlu berkali-kali. Berikanlah kesempatan kepada mereka yang belum pernah. Rasulullah pun konon hanya melaksanakan ibadah haji sekali dalam seumur hidupnya. Mari kita tingkatkan amal ibadah lainnya terutama dalam bermuamalah. Sehingga polemik dalam masalah pengaturan jemaah haji bisa terus meningkat dan membaik.
Akomodasi?
Jalur penerbangan Jeddah-Jakarta atau Madinah-Jakarta termasuk yang cukup padat. Harga-harga tiket sangat bersaing sehingga tak sulit mendapatkan ongkos yang terjangkau. Maskapai yang melayani jalur ini juga terhitung tidak sedikit. Harga tiket berkisar antara 4 juta rupiah per orang (pulang pergi) hingga di atas 10 juta rupiah per orang saat peak season.
Sayang sekali hingga kini pemerintah Arab Saudi belum membuka visa turis pagi pengunjung dari luar negeri. Orang-orang yang tidak bermukim di Saudi hanya boleh masuk melalui visa bisnis atau visa umrah/haji. Cara lain adalah dengan “invitation” khusus dari kerabat yang sedang bermukim di wilayah Saudi. Ini pun dibatasi khusus untuk kerabat terdekat saja seperti orang tua kandung/mertua kandung dan saudara kandung.