vaksin haji

Vaksin Haji : Vaksin Meningitis Untuk Jemaah Haji di Arab Saudi

Naik haji juga perlu vaksin. Vaksin haji yang paling populer itu vaksin meningitis.

Sebelumnya, saya cuma ingin bilang kalau saya bukan aktivis pro-vaksinasi. Anak-anak saya sih divaksin semua tapi saya merasa enggak perlu ngurusin orang-orang yang anti-vaksinasi. Suka-suka ente la yaowww hehehe.

Nah, kemarin ada teman yang inbox langsung ke saya. Intinya dia bertanya, ada berita kalau katanya kewajiban untuk vaksinasi / vaksin haji bagi jemaah haji/umrah bukan datang dari pemerintah Saudi. Ada pun katanya (lagi) pemerintah Saudi malah tidak membuat peraturan semacam itu. Maka dari itu, biarpun sebenarnya enggan ya, mau tak mau ‘KEBOHONGAN’ macam ini masa didiamkan begitu saja?

Vaksin Haji Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

Saya sudah ditunjukkan status tentang berita ini di sebuah gruup kalau tidak salah. Sudah saya beri komentar langsung di sana. Tapi kok ya masih banyak yang nanya-nanya :D. Berasa artis kan gue? :p

***

Saya  pernah tinggal di Jeddah selama 30 bulan. Alhamdulillah di tahun 2012 lalu, diberi kesempatan untuk naik haji bersama suami dan anak bungsu kami melalui biro haji (hamla) lokal Saudi.

Baca : What’s Your Hajj Story? (Naik Haji via Jeddah) 

Hamla kami jelas bukan kepunyaan orang Indonesia. Di hamla ini, SEMUA calon jemaah haji WAJIB menyerahkan surat bukti bahwa calon jemaah bersangkutan TELAH melaksanakan vaksinasi meningitis. Kudu lolos screening vaksin haji tanpa pandang bulu.

Sebagai info, saya menjamin, sebagian besar jemaah adalah orang-orang Arab, dari berbagai negara misalnya : Mesir dan Suriah.

Apa ini berarti yang anti-vaks enggak boleh naik haji? Boleh dong, ah. Pakai saja surat palsu. Tapi ingat, situ bohong tanggung dosa sendiri hehehehe. Suratnya tetap wajib. Tidak sedikit klinik yang bersedia membuat ‘surat palsu’ untuk keterangan vaksin haji seperti ini. Soalnya bayarannya sama, malah mereka untung dapat duit begitu saja tanpa perlu repot-repot menyuntik pasien ;).

Inti permasalahan terjawab, kan? Pemerintah Saudi JELAS MEWAJIBKAN CALON JEMAAH HAJI MANA PUN untuk melaksanakan vaksinasi meningitis ini. Ini bukan konspirasi apalagi akal-akalan pemerintah Indonesia kali ah :p. Situ kok kepinteran sendiri sih bikin teori konsipirasi macam ini? :D. Ada pun pelaksanaannya yang mungkin belum sempurna. Surat palsu saya yakin tidak sedikit hehehe.

Jangan-jangan cuma hamla saya yang kena KONSPIRASI YAHUDI VAKSINASI, neh? :p. Silakan dicek en ricek di hamla lain, saudara-saudaraku yang seiman dan setanah air :). Teman saya yang hajian melalui hamla lain (yang juga hamla Arab) banyak, kok. Mereka pun WAJIB VAKSINASI kudu vaksin haji semuaaaaa ^_^. Kalau tidak percaya, beri komentar saja, nanti saya panggilin satu-satu hehehehe.

***

Sekali lagi, saya tidak menentang Anda-anda yang meyakini bahwa ‘vaksinasi haram’. Bahkan yang meyakini bahwa membiarkan jarum suntik ‘yahudi’ itu hinggap di lengan Anda atau anak-anak anda akan mencederai aqidah anda. Monggo. Soal aqidah mah saya tetap pada pandangan saya. Tidak mau repot-repot gantiin Tuhan ;).

Vaksin Haji Vaksin Meningitis untuk jemaah haji di arab saudi
Gambar : pixabay.com

Tapi karena sudah pakai acara bohong-bohongan itu kan sudah menyangkut muamalah, ya :). Kalau hanya mau mempopulerkan praktik bekam, khasiat madu, obat-obatan herbal, tentu tak masalah. Tapi jangan pakai bokis-bokis konspirasi segala lah :). Sampai nekat bilang di negara-negara maju tidak wajib vaksinasi? Negara maju di planet manakah itu, saudara-saudaraku? Kita masih membicarakan planet yang sama, kan? :p.

Sungguh menggemaskan deh lama-lama teori-teori konspirasi model kayak gini. Apa sudah segitu putus asanya kah? Untuk ‘berdagang’ saja mesti menjelek-jelekkan ‘Yahudi dkk’?

Saya, biarpun tidak doyan, sangat menjunjung tinggi khasiat madu. Kami sekeluarga rajin lho mengkonsumsi madu :). Apalagi madu arab saudi yang terkenal dengan kemurniannya (katanya) hehehe. Yang jelas rasanya memang enak, sih.

Saya tidak pernah bekam bukan karena anti. Takut boooooo, hihihihihi. Maklum penakut :p. Obat-obatan alternatif memang saya kurang suka. Tapi bukan herbal dan lain-lain saja. Obat-obat dari dokter kalau saya rasa tidak perlu ya tidak segan-segan saya buang ke tong sampah ;). Kurma bagaimana? Doyan bangeeeettttttttt.

Nah, lunas ya hutang saya buat para inbox-er hehehe. Yang tetap mau anti vaksin silakan :). Asal enggak pakai bohong-bohong ah :p. Yang pro vaksin juga jangan galak-galak begitu. Santai saja, ya :).

Meskipun memang kadang-kadang saya merasa ikut-ikutan gemas apalagi kalau beberapa aktivis toko sebelah sudah mulai menyarankan bawa-bawa golok demi menegakkan apa, sih? :(. Setahu saya, petugas posyandu tidak bakal MEMBUNUH anda kalau anda menolak, deh. Setidaknya itu informasi dari Ibu saya sendiri ketika kami masih kecil-kecil dulu.

You, the ones who said that you did this for the name of aqidah, really give ‘moslem’ a bad name :(. Di atas segalanya, Anda tahu kan, bohong itu bukan hal yang benar?

Salam damai ^_^

***

Konflik Turki dan Suku Kurdi

When We Build Too Many “Walls”

Suku Kurdi, mungkin merupakan etnis terbesar di dunia yang tidak memiliki “negara sendiri”. Mereka tersebar di berbagai wilayah Timur Tengah/Asia Barat dan Eropa Timur. Mayoritas berada di Turki, Iran, Irak dan Suriah.

berita timur tengah terkini Konflik Turki dan suku Kurdi
Kurdistan-women (gambar : cabinet.gov.krd)

 

Etnis Kurdi beda lagi dengan Arab, Persia dan Turki. Di Teheran dulu saya norak, saya sangka banyak orang bule tinggal di Iran hahaha. Ternyata penampakan orang Persia beda dengan orang Arab. Bahasanya pun beda walau sama-sama menggunakan huruf Hijaiyah.

For info, Iran menggunakan bahasa Farsi sebagai bahasa nasional mereka.

Orang Turki juga beda dengan orang Arab. Dan beda lagi dengan orang Persia. Ternyata, etnis Kurdi pun ya dianggap beda.

Belum lagi etnis-etnis campuran Arab-Eropa Timur. Di Afghanistan dan sekitar banyak etnis-etnis minoritas non Arab yang sedihnya, walau agama sama, tapi ya diskriminasi fisiknya tetap ada :(.

Di masa kekuasaan Turki-Ottaman, para etnis ini tergabung dalam kekhalifahan yang sama. Hingga akhirnya di awal abad ke-20, pasca Perang Dunia 1, banyak wilayah memerdekakan diri.

Berita timur tengah terkini Konflik Turki dan Suku Kurdi
Gambar : worldology.com

 

Etnis-etnis besar seperti Arab-Persia-Turki kebagian negara masing-masing. Bangsa Arab malah terpecah jadi beberapa negara. Persia bersatu di Iran. Nah, suku Kurdi ini yang tidak kebagian otoritas wilayah sendiri berupa negara khusus.

Di berbagai negara tinggal mereka, kaum nasionalis Kurdi terus berusaha memerdekakan diri. Termasuk di Turki :(. Dua bom yang meledak berturut-turut di tahun 2016 di ibukota Ankara adalah 2 bukti memuncaknya ketegangan antara otoritas Turki dan pemberontak Kurdi di sana.

Di Irak sendiri mereka sudah lebih “lunak”. Di masa pemerintahan Presiden Saddam Husein, orang-orang Kurdi mengalami tekanan terberat dan diisolasi habis-habisan.

Kini, orang-orang Kurdi di Irak hidup “damai” di sebuah wilayah otonomi khusus, Kurdistan. Kurdistan sendiri masih bagian dari negara Irak.

Salah satu teman, Istiadzah Rohyati, tinggalnya di Kurdistan-Irak ini. Jadi tahu bahwa orang Kurdi di sana punya bahasa sendiri, bendera sendiri dan sebagainya.

Dari Iran rasanya juga belum banyak berita soal ketegangan Kurdi dan pemerintah resmi. Tapi pergerakan separatis Kurdi di sana juga mungkin ada. Di Suriah pun mungkin begitu. CMIIW.

Saya terus terang bingung, mengapa orang Kurdi ini ngotot banget memisahkan diri? Apa karena rasa nasionalisme apa karena tekanan diskriminasi yang mereka terima? Mereka sadar jumlahnya banyak? Pasti signifikan kalau melawan?

Karena etnis minoritas di tempat lain rata-rata memilih hengkang mencari kehidupan yang lebih baik. Misalnya etnis Hazara di Afghanistan yang merantau pergi ke negara-negara lain, meninggalkan tanah kelahiran mencari masa depan lebih baik. Walau mayoritas harus melakoni “pekerjaan kasar” di negara lain. Jumlahnya sangat sedikit soalnya.

Sedih, ya :(.

Kalau kita berpikir Rohingya terusir dari Burma karena perbedaan agama, lantas apa yang terjadi dengan Kurdi dan Hazara? Mereka juga mayoritas muslim, kok :'(. Mengapa mereka berpikir mereka berbeda dan mengapa dibeda-bedakan?

Konflik Turki dan Suku Kurdi berita timur tengah terkini
Gambar : juancole.com

 

Dari sisi otoritas resmi, misalnya pemerintahan Turki, tak bisa kita salahkan begitu saja. Toh, sebenarnya isu gerakan separatisme ini bisa ada di mana-mana. Termasuk di Indonesia. Ramai-ramai menyoal soal Densus 88 kan ya sama-sama mencegah upaya terorisme dalam rangka usaha memisahkan diri atau mengacau keamanan dalam negeri.

Sama! Di Turki pun begitu.

Konflik bersenjata antara Pemerintah Turki dan beberapa kelompok separatis Suku Kurdi di Turki sudah berlangsung sejak tahun 70-an hingga kini.

Tuntutannya beragam. Ada yang garis keras minta berdiri sebagai negara sendiri, ada yang ingin otonomi khusus atau sekadar mendapat porsi yang “layak” di pemerintahan. Pening, ya. Kelompok-kelompok perwakilan Kurdi-nya saja enggak kompak.

Jadi ingat kelompok Taliban di Afghanistan dan sudah menyebar ke Pakistan. Grup-grupnya juga banyak dan kadang berantem sesama mereka sendiri. Cita-citanya sama, mau mendirikan negara Islam. Tapi “Islam” versi mereka masing-masing? :(.

Kelompok pemberontak terbesar di Turki adalah Partai Pekerja Kurdistan. Mereka sudah dilabeli “kelompok teroris” oleh Turki dan negara-negara “satu gengnya”. Siapa saja? Ya termasuk US, Nato, dan Uni Eropa. Turki memang anggota NATO.

Saya juga kalau jadi pemimpin suatu negeri ya pasti seperti buah simalakama, ya. Dibiarin ya mereka mengacau. Diladenin ya mereka bisa ambil kesempatan. Dikerasin? Mereka ngebom membabi buta! *pijetKening*.

 

Masalahnya, banyak pihak lain mengambil kesempatan untuk kepentingan mereka sendiri. Pemasok senjata misalnya. Atau mereka yang punya “niat tertentu”. Tidak segan menjual senjata bahkan mendanai kelompok separatis ini.

Paling sulit memang berada di posisi pemerintahan Turki atau pemerintahan resmi negara mana pun yang berkonfrontasi langsung dengan kelompok pemberontak.

Bom Istanbul belum jelas siapa yang bertanggung jawab. Ini juga merupakan bom ke-2 di Istanbul. Kalau tidak salah, bom pertama yang mengaku itu “afiliasi ISIS”. CMIIW, ya. Kalau yang Ankara, dua-duanya sudah diklaim oleh “geng Kurdi” di sana.

Ada enlightment dari suami soal gerakan separatisme ini.

Istanbul Asian Side. The Moda, pic by Dani Rosyadi
Moda, Istanbul Asian Side, foto : Dani Rosyadi

 

Sebenarnya, beberapa negara maju yang modelnya multi state seperti UK pun tak luput dari tuntutan pemisahan diri.

Masih ingat referendum Skotlandia tahun 2014?

Cuma di negara-negara maju, “peradaban” sosial budaya mereka jauh lebih maju daripada kita di negara-negara berkembang. Enggak harus selalu lempar bom kalau lagi ngambek. Irlandia Utara tapi beda lagi kasusnya.

Hasil referendum Skotlandia? Mayoritas warga masih memilih berada di bawah naungan UK. For info, Scottish ini punya bahasa sendiri juga dulu. Scottish English juga punya aksen khas.

Lalu, mengapa mereka akhirnya banyak yang masih manut ke UK? Ya karena perutnya kenyaaaaaaang ^_^. Secara sosial-ekonomi ya mereka sebenarnya baik-baik saja. Rewel-rewel dikitlah paling. Diskriminasi nyaris tidak ada.

Intinya ya itu-itu juga … betapa keadilan sosial dan kesejahteraan ekonomi dan pemerataan pembangunan memang efeknya tidak kecil (y).

Teringat kembali penggalan dari Buya Syafii Ma’arif, “Benarkah Dunia Islam itu ringkih? Tanpa memerlukan data hasil riset yang mendalam, berdasarkan pengamatan umum saja, pasti jawabannya: benar! Kesenjangan sosial-ekonomi hampir merata di seluruh dunia Islam. Keadilan yang demikian keras diperintahkan Alquran tidak digubris oleh penguasa …”

Suami saya benar. Ini sih ujung-ujungnya urusan perut, kok :(.

Mayoritas beragama sama pun tidak membuat berbagai etnis ini bisa hidup damai berdampingan.

Perbedaan itu sunnatullah. Jangankan beda keyakinan walau sama-sama mengaku mengacu ke kitab suci yang sama, tafsir ya bisa beda-beda. Perbedaan fisik lebih susah lagi kita “lawan”. Itu datangnya dari siapa coba? Siapa sih yang pernah meminta kita ini ingin dilahirkan dari etnis mana?

Sudah tahu memang akan berbeda, mengapa sulit bekerja sama di bidang lain yang kita pasti sepakat? :(. Kurang banyak orang miskin di dunia yang perlu dikasih makan? :(. Kurang banyak anak yatim nan terlantar yang bisa kita diskusikan penanganannya? :(.

Perbedaan sesungguhnya memperkaya. Senang kan kalau punya banyak teman dari banyak budaya. Apa enggak kepo pengin tahu makna dibalik kepercayaan-kepercayaan lokal mereka?

Misalnya saya selalu tertarik dengan gerakan-gerakan Yoga yang katanya berasal dari penganut Budha. Ada banyak filosofi hidup yang tercermin dalam ritual Yoga ini. Try to learn and you’ll be surprised :).

Tapi sepertinya kita lebih sering suka membatasi diri kita sendiri. Membangun tembok-tembok pembatas untuk mempertegas betapa berbedanya kita dengan “mereka di luar sana”.

“We build too many walls and not enough bridges.” -Isaac Newton-

Robohkan dindingnya. Bangunlah penghubung dan seberangi ketakutan-ketakutan dan ego kita sendiri. Again… you’ll be surprised ;).

Di Indonesia, jangan ikut-ikutan “korslet” seperti “mereka” di luar sana :(. Konflik bersenjata untuk urusan apa pun tidak akan membawa kita ke mana-mana.

Syukuri kesanggupan kita hidup bersama dalam perbedaan selama puluhan tahun. More years, even centuries, to come. Aamiin.

Faktanya, tidak banyak tempat di dunia ini yang bisa “senyaman” Sang Zamrud Khatulistiwa ini <3.

‪#‎janganLupakanPapuaDanAceh‬

 

Spot The “Light” on Spotlight ;)

Oscar best picture this year : SPOTLIGHT. Congratulation ^_^.

Gambar : crosscut.com
Gambar : crosscut.com

Wah, ini film yang relevan banget dengan salah satu isu di medsos tanah air yang lagi hot-hotnya. Coba nonton trailernya di youtube deh ;).

Saya sungguh berharap orang-orang bisa secara JELAS dan TERANG membedakan isu pedofilia vs isu LGBT. Untuk urusan pedofilia atau perihal kekerasan apa pun kepada anak-anak (enggak peduli siapa pelakunya), saya percaya KITA SEMUA SATU SUARA.

Nih, film Spotlight tentang isu kekerasan terhadap anak di Amerika Serikat, negara yang kalian benci banget itu terkait urusan LGBT :p.

Justru di negara-negara berkembanglah perlindungan terhadap anak-anak ini sangat memprihatinkan :(. Pemaksaan pernikahan di usia dini bagi anak-anak perempuan misalnya :(.

Ini seperti pedang bermata dua. Karena ibu saya adalah salah satu korbannya hehehe. Tapi gimana ya, walau beliau menceritakan dengan santai dan legowo saya tahu pasti… dulu menikahnya dipaksa! :'(. And there was no way she could say NO.

Gambar : malaysiaedition.net
Gambar : malaysiaedition.net

Walau kini terdengar lucu mendengar cerita Ibu bagaimana dulu beliau “melawan” sebisanya, tetap saja saya sedih :'(.

Belum lagi segabruk-gabruk anak-anak (bahkan bayi-bayi) yang beredar di jalanan di depan mata kita sehari-hari.

Anw, film ini tentang child molestation yang terjadi di ruang lingkup sebuah gereja Katolik lokal. Salah satu ujaran di trailernya yang cukup menggelitik, “How do you say NO to God?”

Dari wallnya Narpati nih tentang review film SPOTLIGHT. Dapat 2 tulisan bagus ini :

Review Spotlight : A Great Paean to Powerful Journalism That Breaking Omerta (tenang ini judulnya aja yang “ngeri”, isinya bahasa Indonesia kok hahahaha :p).

Mencari Rumah Ibadah yang Aman

Penasaran jadi emang dari pagi googling film ini terus hehehe. Penasaran dengan topiknya yang sensitif tapi kok rasanya minim kontroversi (untuk versi film ya)

Ternyata memang filmnya disajikan dengan halus dan ala-ala jurnalis banget. Lah ya memang filmnya tentang jurnalis, ya. Cara penyampaiannnya sangat “tenang” hingga orang bisa fokus ke masalah intinya.

Saya baru nyadar kalau isunya memang serius. Kasus di Bostonnya pun (di tahun 2001) ternyata memicu pengungkapan isu yang sama di berbagai Gereja Katolik di berbagai belahan dunia.

Tapi saya jadi mikir lagi, apa ini karena yang terkait adalah agama Katolik yang umumnya mayoritas di negara-negara “maju”? Entah hukum alam apa gimana, makin “sejahtera” sebuah negara makin meningkat ke”atheis”annya. Makanya isunya jadi, mengutip komentar dari

Kalau kejadian di agama Islam kira-kira gimana ya?

Gambar : atheistrepublic.com
Gambar : atheistrepublic.com

Tapi pernah diskusi serius dengan suami. Kalau menurut suami, hard to tell. Karena belum ada negara mayoritas Islam yang bisa mencapai “kesejahteraan” ala-ala negara-negara “barat”. Walau memang ada pihak-pihak yang memuja-muja beberapa bagian di Timur Tengah sebagai perwakilan negara sejahtera ala Islam. Iya, negara sejahtera buat gajinya gede hahahahaha :p. It’s simply a fact, jangan sensi ;).

Kalau umat kristiani tampaknya sudah mulai “meninggalkan” sentimen seperti ini. Umat Islam masih “gini-gini” saja :p. Di tanah air kita sendiri, seperti misalnya maraknya teori konspirasi yang mengiringi para “tokoh saleh/salehah” yang sedang terjerat urusan hukum.

Selalu trauma deh sama teori-teori konspirasi hahaha. It’s tiring yet unuseful.

Belum lagi konspirasi akan melibatkan “racun” penting yang namanya prasangka. Sementara alquran sudah mengingatkan, “Sesungguhnya prasangka tak sedikit pun memberimu kebenaran.”

Bagian “bermain-main dengan prasangka” itulah mungkin yang dihindari dalam penanganan kasus Gereja-Boston ini, baik di dunia nyata maupun di filmnya sendiri. Justru itu bukan fungsi utama jurnalistik? Menyampaikan data dan informasi bukan “menghasut” atau “mengarahkan” audiens/pembaca/penonton.

Bagian hasut-hasutan sama buzzer-buzzeran itu kasih ajalah ke kami-kami para blogger ini hahahaha. Para blogger menulis atas nama pribadi jadi kami tidak punya keterikatan secara profesional dengan institusi mana pun.

Walau kadang perih juga kalau menunjukkan sikap politik yang buat orang terlihat membabi buta pasti langsung kena tuduhan, “Dibayar berapa sih?” Hahahaha. Etapi memang ada job-job yang berbayar sih, gimana dong ya hahahaha lagi aja dah :p.

Sebagai pembaca ya kita memang bukan orang jurnalis. Saya pun sering berat sebelah menilai berita. Misalnya tempo hari, saya marah banget dengan penembakan Paris jadi saya “memaafkan” sebuah headline berita di media mainstream, yang menurut teman-teman lain yang juga mantan jurnalis, sedang melakukan framing. Sempat eyel-eyelan di wallnya Mas Iqbal nih :D. Baru nyadar belakangan jadi saya buru-buru kabur hahahaha.

Ini memang eranya instan sih, ya. Bukan cuma mi atau makanan instan lain yang diburu-buru. Berita pun kudu instan-instan hihihihi. Seperti media juga yang akhirnya ketularan kepengin mendapatkan perhatian dengan cara instan.

Dibikin dah tuh judul-judul provokatif macam, yang saya bilang di kasus penembakan Paris tadi, “Teroris menembaki penonton konser seperti menembaki burung.” –> ini media mainstream lho!

Kalau media-media nganu-nganu kan bisa kita pahami. Kalau ada yang terperangkan sama media-media nganu ya saya enggak nyalahin medianya sih :p.

Tapi media mainstream pun sekarang hobi bener berlebay-lebay ria demi memborong jumlah klik/like/share di dunia maya.

Sudahlah judulnya simeleketehe, isi beritanya pun cuma seucrit. Itu juga orang pun masih banyak yang hanya mentok di judul tidak baca isi hihihihi.

Makanya enggak heran, dikit-dikit histeris, dikit-dikit histeris. Seringkali jadi tidak fokus dengan permasalahan. Fokusnya ke orang per orang. Entah fokus ke si pelaku entah si korban. Jadinya bisa berefek ke kebencian personal. Ish, saya juga sering terjebak kayak gini hahaha *tutupMuka*.

Saya kutip dari tulisan pertama yang saya share linknya di atas itu :

“Itu sebabnya, karakter Marty Baron menolak untuk mengangkat cerita yang hanya mengupas para pastur pedofil. Baginya, mereka juga bagian dari korban, meski tim Spotlight mengajukan fakta tentang puluhan pastur yang melakukan tindak pelecehan seksual.

“ We’re going after the system,” jelas Marty yang menegaskan bahwa mereka tidak berniat menyudutkan perorangan.”

Ya belajar banyak memang dari fenomena film Spotlight ini. Untung menang Oscar ya, jadi saya ikutan kepo deh hihihi.

Saya tipe yang percaya apa pun bentuk konspirasi di dunia itu pada dasarnya urusan manusia per manusia. Bagaimana masing-masing dari kita berusaha keras menaklukkan sifat-sifat dasar manusia yang diantaranya memang cenderung ingin menang sendiri- rakus-angkuh yang sudah saya rangkum juga di tulisan 7even Sins tempo hari 😉

Kita sendiri, orang per orang, yang harus melawan konspirasi itu. Bukannya terus menerus merasa menjadi korban, malas mencari akar masalah dan menyudahi semua kekhawatiran dengan slogan, “Ini pasti konspirasi!”

Have a nice monday, readers ;). Sudah tahu mau nyari download-an mana dari film-film yang merajai Oscar tahun ini? Hihihihi :p.

***

Candu

Dulu ngikutin F1 karena para pria di kantor ngomongin MotoGP melulu. Saya enggak doyan. Mungkin efek dendam gak bisa-bisa naik sepeda? Hahahaha.

Mending nonton F1.

F1 2005 salah satu yang berkesan. US-GP, dong. Karena kisruh pergantian peraturan soal jenis ban, akhirnya hanya ada 6 pembalap (dari 3 tim) yang berlaga. Kedua pembalap Ferrari menempati tempat teratas. Masih era Schumi nih ;).

Rio Haryanto Dana F1
Gambar : f1fanatik.co.uk

Yang seru yang juara 3 hehehe. Heboh beneeerrrr hahaha. Kapan lagi ya bisa bergaya di atas podium :p.

Lupa namanya siapa. Pokoknya bukan dari grup tenar dan bukan pembalap langganan podium.

Saya sih ngefansnya dengan Kimi Rakkonen. Sayang, tahun 2005 jadi milik Fernando Alonso. Sekaligus mencatat rekor sebagai pemenang F1 (satu musim penuh) dengan usia termuda. Sudah pecah belum sih rekornya?

Tapi perjuangan Kimi benar-benar keren, deh. Di 2-3 GP, Kimi selalu pol-polan nginjek gas dengan kondisi mobil yang “payah”. Walhasil, walau peringkat 3 besar dari awal, selalu gagal di putaran-putaran terakhir.

Di salah satu GP, Kimi memimpin posisi. Tapi mobilnya terbakar di … putaran terakhir! Literally, benar-benar putaran terakhir. Ampe bengong itu nontonnya.

Belakangan ketahuan, Kimi diminta untuk tidak menggenjot mesin biar minimal bisa juara 3 lah. Tapi dese ngotot, “All or nothing” gitu kali ya mikirnya. Dan sukseslah itu mobil berasap di pinggir lapangan. Jangankan juara 3, Kimi malah gagal finish. Padahal hanya butuh bertahan beberapa detik sebelum menembus garis finish dan jadi juara 1.

Siapa bilang F1 gak ada dramanya? Hahaha.

Gambar : sportskeeda.com
Gambar : sportskeeda.com

Sebagai (mantan) pencandu F1 saya termasuk lalai nih soal gosip Rio hahaha. Before, the only thing I remembered, Rio pasang ayat kursi di mobilnya :p. Itu berita sudah cukup lama.

Pertama kali baca saya bertanya-tanya, “Ada urusan apa gitu pasang berita tentang ayat kursi di arena balap? Ah, ini medianya saja yang kehabisan berita! Pengin ngemis traffic aja.”

Barulah tidak lama, ada teman yang share soal opini seorang perempuan yang intinya “bete” karena konon ada dana APBN (KONI) sekitar 100 M yang dimintakan buat seorang atlet. Ini saya belum terlalu ngeh ini orang yang sama dengan yang ayat kursi tadi :D.

Opini tersebut mengkritik permintaan biaya karena masih banyak orang miskin yang dia temui di daerah tertentu. Ya saya respons di postingan itu, saya tidak setuju. Apa hubungannya sih prestasi olahraga vs janda tua nan miskin? Dana APBN pasti sudah dibagi di pos masing-masing. Peruntukannya ya beda-beda, dong. Ada untuk Kemensos beda lagi untuk Kemenpora.

Apa kalau masih banyak orang miskin berarti olahraga tidak boleh berkembang? Tidak dong ya ;).

Tapi perspektif lain datang dari suami. Menurut suami saya ya bandinginnya dengan cabang olahraga yang lain. Banyak cabang olahraga yang jelas-jelas lebih “cucok” dengan sikon Indonesia dan sudah menunjukkan prestasi internasional *jempol*.

Cabang lain yang melibatkan lebih banyak orang dan jelas-jelas punya bakat dan sangat mampu bersaing secara internasional.

Banyak cabang ini yang empot-empotan soal pembinaan. Padahal peminat banyak karena rata-rata cabang olahraga ini relatif popular di tanah air. Paling masalahnya ya dana-dana juga. Bisa jadi yang dibutuhkan tidak perlu sampai 100 M. Bulutangkis, karate, panahan, angkat besi misalnya.

Lah, F1?

Tapi justru ini yang menarik. Beritanya justru sangat viral. Makanya saya mau bahas ini-nya aja deh hihihi.

Iseng saya berkomentar di wall embak-embak yang ikut share berita Rio dan ayat kursi-nya. Saya tebak secara profil kok ya apa iya ngikutin F1? Sungkem dulu sama mbak-nya :p. Kira-kira ngobrolnya begini (duh, mudah-mudahan orangnya gak ingat hahaha)

“Wah, suka F1 juga ya Mbak?”
“Enggak juga Mbak Jihan. Dulu sesekali nonton. Sekarang juga kadang masih ngikutin. Masih Valentino Rossi aja ya yang sering menang.”

F1, Valentino Rossi. Okesip :p.

Makanya menarik bukan? Bisa viral begitu lho di media sosial. Menjadi salah satu trending topic yang lumayan hot. Padahal :

1. F1 tentu bukan olahraga popular di tanah air. Peminatnya juga pasti dari “kalangan tertentu” banget.

2. Profesi pembalap biasanya datang dari kalangan atas. Tahu sendirilah di Indonesia, kalau enggak “miskin” susah lah dapat simpati hahaha :p

3. F1 sendiri termasuk jenis olahraga profesional. Selevel tenis pro dan tinju pro. Atau Golf pro. Kan jarang-jarang ya, pemerintah ikut campur dalam pendanaan untuk level profesional begini? CMIIW, ya.

Soalnya memang dananya gede banget. Sponsor swasta yang banyak bermain. Kalau prestasi memang mentereng banget biasanya otomatis berbondong-bondong yang datang. Hukum alam toh ya ;).

Cerdik juga “tim buzzer”nya. Mereka membidik “segi” lain. Mencari perhatian massa melalui hal-hal lain. Maka hadirlah berita-berita beruntun semacam :

“Subhanallah, Pembalap Rio Selalu Baca Ayat Kursi Sebelum Balapan”
“Tunggu Kepastian ke F1, Rio Selalu Berzikir dan Berdoa”
“Rio Akan Baca Ayat Kursi Sebelum F1 Dimulai”
“Doa, Tahajud, dan Ayat Kursi Mengiringi Langkah Rio ke F1”

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

Fenomena pemerintahan sekarang. Tekanan bisa diluncurkan via media sosial. Pakde dan jajarannya memang terkenal cukup sensitif dengan isu yang viral di media sosial. “Tim Buzzer” si adinda pembalap paham benar tentang hal ini.

Tapi tentu pening kan, dengan kondisi perekonomian empot-empotan zaman sekarang, gimana cara mencari perhatian untuk sponsor dana dari pemerintah? Apa karena mungkin sudah ‘mentok’ di swasta dan BUMN?

Butuhnya ratusan milyar. Untuk olahraga elit yang kurang dikenal di tanah air. Sementara rakyat sekarang juga sensi banget dengan urusan duit. Mengapa justru banyak dukungan mengalir buat Rio? Paradoks abis.

Nah, barulah paham soal berita-berita ayat kursi, suka baca zikir, atlet saleh dll, yang sudah berdengung beberapa minggu yang lalu. Oooooo begitu toh maksudnya hehehe.

Benar-benar wow lho. Tidak sedikit orang yang mungkin seumur hidupnya tidak pernah menonton tayangan F1 (dulu di RCTI rutin diputar ^_^), terus menerus share berita tentang Rio. Caption-captionnya itu lho… “Masya Allah, saleh banget ya. Ganteng pula. Masya Allah, masya Allah.”

Ya mungkin urusan F1 buat negara sekelas Indonesia ini seperti ingin memasang lampu kristal di salah satu kamar tidur di rumah yang tipenya masih tipe 45 :D.

Iya sih, lampu kristal di atas tempat tidur tentu bisa mengundang decak kagum bagi yang melihat. Tapi apalah arti lampu kristal di sana kalau lampu-lampu di ruang lain yang lebih fungsional… bohlamnya saja tidak ada :p.

Terus, cat-cat dinding rumahnya juga masih kopek-kopek. Perabotan ruang tamu masih acak kadut. Logikanya, mana ada penghuni rumah yang tergila-gila mau beli lampu kristal yang harganya tidak murah itu? Ada juga mereka pasti protes minta lampu ruang tamu dulu misalnya yang dibenerin.

Tapi ternyata bisa lain cerita kalau di lampu kristalnya ditempelin ayat kursi ya ‪#‎eh :p.

Jadi ingat salah satu quote yang sering dikutip dari tulisannya Karl Marx, “Religion is the opium of the people.”

Katanya, agama itu candu bagi sebagian orang. Hmm…

***

That The World Shoud Go On

“Robin itu yang mana sih?”

“My best friend.”

“Iya, Mama tahu. Tapi orangnya yang mana?”

“The one who’s usually sitting next to me. We ‘re on the same table this week. You know, the green table.”

“Iyaaaaa, tapi orangnya tuh yang kayak apa? Yang gimana?”

“He likes drawing, he likes playing. But he didn’t like dinos. I like dino. You know…”

Bla bla bla mulai dia meracau soal aneka rupa dinosaurus. Persis kayak abangnya dulu hahahaha.

Robin itu diklaim oleh anak ke-2 saya sebagai “best friend”nya di sekolah. Tapi 2 minggu terakhir ini dia musuhan sama Robin. Karena Robin katanya kalau diajak main apa dia maunya main yang lain.

“I have a new best friend.”

“Oh ya? Namanya?”

“Russel. He’s very nice.”

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

“Orangnya yang mana tuh?”

“The one who said that my bag is cool.”

Here we go again *pijetPijetKening*.

Akhirnya saya bisa mengenali mereka satu persatu, physically! Hahahaha.

Setelah foto “resmi” mereka sekelas plus Miss-nya selesai dicetak dan dibagi-bagikan. Barulah saya bertanya sambil nunjuk satu-satu, “Ini siapa? Kalau yang ini namanya siapa?”

Wow, ternyata si Robin itu sering saya perhatikan di sekolahan pas jam pulang. Soalnya ganteng booo *ihiyyy*. Mirip Christiano Ronaldo versi anak-anak –> mamak-mamak genit! hahaha :p.

Kemudian, yang namanya Lucy itu ternyata etnis Tionghoa. Dan seterusnya.

Sebenarnya beberapa sih sudah pernah dikenalkan kalau kebetulan papasan pas pulang sekolah. Seringnya saya buru-buru kalau pulang. Karena jemputnya kan bareng adek bayi. Adek bayi nih, strollernya diem dia pasti nangis, seolah menuntut, “Keep rolling, Mommy, keep rolling!” Hahaha, zzzz -_-

Gak sempat deh kepo-kepoin teman anak-anak.

Anak pertama dulu juga mirip sih. Cuma dulu kalau pulang sekolah ya saya tanya-tanyain langsung, “Ini siapa? Itu siapa?” Sambil literally nunjuk anak-anaknya langsung hihihihi.

Karena kalau dengar deskripsinya ya begitulah.

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

Misalnya di kelas si sulung ada 2 anak yang namanya sama, Rowena A dan Rowena B. Saya tanya bedanya apa. Anak saya jawab, “Rowena A who always plays a role as a narrator in every christmas play. Don’t you remember? Rowena B who likes running around like silly girl. Ck ck ck…”

Ternyata ya booooo … Rowena A itu aslinya anak Afrika. Rowena B berambut kuning panjang dengan kulit kemerah-merahan.

Padahal teman-temannya di kelas lumayan multikultural. Kadang bisa nebak dari nama. Misalnya Rotsni atau Haidar itu biasanya kalau enggak Pakistan ya mungkin India. Tapi Russel itu ternyata India juga, nah loooo :p

Perhatikan cara anak-anak mendeskripsikan temannya. He likes drawing, her voice is very loud, he likes giggling all the time, the one who always walk with me when we’re out of the class ….

How sweet <3

Tidak pernah rasanya anak-anak saya bilang, “Itu lho Maaaa, yang orangnya item, rambutnya keriting. Yang anu itu lho, yang mukanya bule, hidungnya mancung pokoknya cakep deh.”

Mereka mungkin awalnya malah tidak nyadar tentang perbedaan fisik. Asyik saja mereka berbaur, mengobrol bareng pas lagi baris, lari-larian, kejar-kejaran dan sebagainya.

Kebalikannya, para orang tua menunggu dengan canggung di luar gedung menjelang jam pulang sekolah hehehe. Paling kasihan yang super minoritas lah *tunjukDiriSendiri* :p.

Terakhir saya mengajak ngobrol ibu-ibu yang berdiri di belakang saya, “The weather is very nice today. Last week was disaster.” –> rule mengobrol pertama kali dengan orang yang tidak dikenal versi Eropa : silakan ngomongin cuaca! Hahahaha.

Dia cuma ngangguk sambil cepat-cepat mengeluarkan handphone. Prasangka baik saya : orangnya pendiam. Eh, besoknya dia ketawa sampai ngakak-ngakak saat lagi mengobrol dengan 2 temannya. Oh, pendatang juga. Saya tidak paham bahasa mereka. Kemungkinan besar orang Polandia, pendatang sesama Eropa yang paling banyak di Irlandia.

Jadi begitulah. Sementara anak-anak tidak menyadari “sekat-sekat” ini, di luar gedung, orang India mengobrol dengan orang India, yang etnis Arab (umumnya Saudi/Mesir) ngerumpi bareng sesama mereka, orang Polandia dengan sesamanya, orang Irlandia juga begitu. Orang Indonesia? Yuk yaaa, main sama adek bayi ajaaaa hahaha.

Sulit menembus sekat. Bahkan di negara yang kita kira “terbuka” dan sarat pendatang. Pergaulannya pun berkelompok-kelompok. Karena yang sesama berkerudung pun, kalau beda “ras” ya cuma sebatas “assalamu alaikum” doang :p

Kalau mengobrol one on one memang seru. Tapi kalau sudah ada temannya ya mereka biasanya terbawa dan lupa kalau ada saya. Ini bukan pengalaman pertama kok. Waktu naik haji di tenda juga kan gitu. Kalau ngomong berdua pada pakai bahasa Inggris dengan saya. Begitu ramai-ramai, ya mendadak gelap hahaha. Di tenda, semuanya memang orang Mesir kecuali saya :D.

Mungkin waktu kita masih kecil pun, kita seperti anak-anak kita, ya. Celamitan dengan siapa saja yang mau bermain dengan kita. Asal mereka baik dan tidak nakal, pasti kita main bareng ^_^.

Saya pikir dulu karena saya tinggal di lingkungan homogen. Tapi anak-anak saya kan tidak.

2 girls hiding pixabay
Gambar : pixabay.com

Jika mereka dewasa nanti, ya kemungkinan akan tumbuh seperti kita-kita juga. Jadi, waktu kecil bisa begitu mengapa saat dewasa bisa berubah? Siapa, apa yang mengubah mereka? Mengapa dan bagaimana?

Dalam imajinasi saya yang biasanya modal daster doang dan minim ilmu psikologi ini (hahahaha), jadilah saya ingat kira-kira dulu apa yang saya lakukan dari kecil sampai dewasa. Yang sebisanya diingat.

Jadilah saya menyimpulkan begini …

Waktu kecil, kita bergantung pada sekitar. Orang tua dan lingkungan. Bisa dibilang, tidak bebas tapi tidak ada tanggung jawab juga kan? Apa-apa dipilihkan, apa-apa ditunjukkan.

Jadi ingat petunjuk bahwa bayi itu lahir tanpa dosa. Berarti memang naturalnya kita dilahirkan dengan segala potensi kebaikan.

“No one is born hating another person because of the color of his skin, or his background, or his religion. People must learn to hate, and if they can learn to hate, they can be taught to love, for love comes more naturally to the human heart than its opposite.”
― Nelson Mandela, Long Walk to Freedom

Then we were growing up. Makin besar mungkin ya makin bebas tapi tentu perlahan tanggung jawab mengikuti. Tanggung jawab melahirkan keberanian dan kekuatan, tapi bersamanya potensi ketakutan juga ada.

Waktu kecil, ngapain takut? Ada orang tua atau orang dewasa yang bisa dianggap melindungi. Gedean dikit, mereka makin menjauh. We need to take the control. Di masa remaja banyak masukan banyak bimbang banyak bertemu yang aneh-aneh yang ternyata tidak sesuai tuh dengan dongeng-dongeng orang tua di masa kecil kita dulu :p.

Cinderella, sang tokoh panutan, enggak bisa hanya nyuci ngepel di kosan biar bisa dilamar pria tampan hahaha. Cinderella juga kudu sikut-sikutan di KRL Ekonomi kerja kantoran dari pagi sampai malam hingga akhirnya bisa ngupil di “istana” hahahaha *lemparSepatuKaca*.

Gambar : psfk.com
Gambar : psfk.com

Itu juga Cinderella enggak pernah cerita gimana ribetnya hamil dan melahirkan -_-. Gimana dramanya menghadapi peer pressure. Furthermore… Cinderella belum kenal media sosial dengan segala potensinya. Potensi positif plus negatif.

“Happily ever after” was always be the end of the story, once we were a child.

Now, I’m a mother. A mom of 3. Tentu saja tanggung jawab terhadap 3 bocah ini, seperti saya bilang di awal, melahirkan rasa berani + rasa kuat sekaligus rasa takut.

Pengetahuan saya tentang “dunia” terupgrade sudah. Awas kau, Cinderella dan kawan-kawan! Hahaha :p.

Tapi jadi terpikir lagi. Memangnya dunia dan lingkungan ini dibentuk oleh siapa? Oleh orang-orang yang hidup dan berinteraksi di dalamnya kan?

Betapa kita sebenarnya punya pilihan untuk mengubahnya. Instead, kita ini lebih banyak terbawa oleh ketakutan. Padahal ngakunya ngefans sama Star War, memuja-muja Yoda tapi lupa kalau Yoda sudah wanti-wanti…apa, apa, apa?:p.

Bahwa … ketakutan itu adalah sisi hitam dari kemanusiaan kita. Dari rasa takut itulah sebenarnya marah bisa datang. Dari marah jadi benci. Benci itu yang membuahkan penderitaan.

Takut anak-anak kenapa, langsung mengamuk membabi buta. Setidaknya itu yang terbaca oleh saya melihat timeline akhir-akhir ini. Unfortunately…saya juga takut, Euy! Huhuhu :p.

Tapi saya tahu kalau saya tularkan ketakutan itu, saya dapat apa? Ya nanti orang-orang juga akan berkomentar yang sama. Legaan gak saya? Ya pasti malah tambah takut, tambah marah, tambah benci. Seringnya untuk hal-hal yang malah belum saya konfirmasi sendiri :(. Don’t we all?

Ya namanya takut terus saja cari pembenaran biar kesannya ketakutan kita beralasan :p. Alih-alih cari solusi atau menenangkan, kebencian yang terus menerus bertebaran di mana-mana.

Anak-anak itu jauh lebih polos dan jujur. Lihatlah anak saya. Dia kenal anak dari kelas lain, tahu nama dan tahu orang. Tapi setiap saya tanya, “Eh dia itu siapa? Gimana orangnya?”

Ya jawabannya gitu, “His name is Gray. I don’t know him. Tony said he’s a bad boy. Arlene said he’s nice. But I don’t know. Never really play with him.”

Kalau kita, emak-emaknya nih, ada gosip apa, lihat foto orangnya saja, sudah berhamburan caci maki ke mana-mana. Gak percaya? Tengokin instagramnya artis yang dijuluki Nyonya Cireng. My oh my, saya betul-betul tidak percaya orang-orang dengan kata-kata sekasar dan sedengki itu dulunya juga pernah jadi anak-anak :'(.

Kita berkoar-koar, “Kita tuh begini karena kita sayang anak-anak tauk!”

By doing that…what kind of world are we trying to present to our youngs? We cursed, we said bad words, we sow too much hatred and we expect them to reap something good? Oh really :'(.

It’s us. We did change them. We did not love them enough. When we thought we did, perhaps we did it the wrong way :(.

Saya jadi ingat salah satu penggalan tulisan Pak Hasanuddin Abdurakhman,

“Janganlah engkau mencoba membuktikan bahwa Quran itu pembawa damai dengan membunuhi orang-orang yang tidak pecaya padanya. Karena engkau sedang membuktikan sebaliknya.

Engkau tak perlu mencari bukti-bukti, tapi kau harus membuatnya. Engkaulah bukti itu. Engkaulah yang membuktikan. Seperti sains tadi, kau tak perlu menemukan kebenaran mutlak dalam setiap huruf ayat Quran. Kau hanya perlu menghidupkan pesan-pesan intinya. “Wa man tabi’a hudaya falaa khaufun ‘alaihim walaahum yahzanuun.” Siapa yang mengikuti petunjuk, maka tak ada ketakutan padanya, tidak pula ada kesedihan.”

Seperti melihat anak-anak bermain dan becanda sesamanya tanpa intervensi kita yang tua-tua ini. Lihatlah, sepulang sekolah mereka jalan sama-sama, melambaikan tangan satu sama lain dan berjanji akan bermain bersama esok hari tanpa memperhatikan betapa canggungnya emak-emaknya untuk sekadar saling menyapa tongue emoticon.

Lawan, teman-teman. Lawan ketakutan itu. Jangan takluk padanya dan pada hal-hal yang mengikutinya : marah dan benci.

Jangan jadikan anak-anak tameng. But look at them. Look at your babies. Lihat semua kebaikan dan kemurnian yang mereka tunjukkan.

“A baby is God’s opinion that the world should go on.”
― Carl Sandburg

Sekali lagi, kita hanya perlu menghidupkan pesan-pesan intinya. “Wa man tabi’a hudaya falaa khaufun ‘alaihim walaahum yahzanuun.” Siapa yang mengikuti petunjuk, maka tak ada ketakutan padanya, tidak pula ada kesedihan.”

Have a nice weekend <3.