Time Trax

Kata “salary” berhubungan dengan kata “salt”. Garam.

Di masa lalu, garam ternyata dihargai sangat tinggi. Produksinya masih sangat jarang. Sehingga garam dijadikan alat tukar yang berharga. Dari sinilah, garam pun dijadikan sebagai upah bagi pekerja di masa lampau. Salt, then salary 😀.

pixabay garam

Di masa-masa Inggris kesusahan dalam soal materi, para serdadu akhirnya dibayar dengan … garam!

Garam, Cuuuy. Yang beberapa tahun lalu kalau saya borong daging ayam ke si Gondrong, tukang sayur langganan kompleks, suka dikasih gratis satu bungkus 😀.

Dulunya orang mau bekerja keras supaya dapat sejumput garam buat pelezat makanan kali ya. Sekarang … kasih duit seribu rupiah ke tukang sayur, bisa dapat sebungkus yang dipakai bisa sampai sebulan lebih ^_^. Jangan kebanyakan makan garam, sayangi tekanan darah 😉.

Ternyata, sesuatu yang di masa lalu sangat berharga bisa mengalami pergeseran sangat signifikan seiring perkembangan jalan. Enggak cuma garam.

Yang lebih kekinian misalnya ponsel.

Dulu masih ingat banget saya, kelar gajian bulan kedua di kantor pertama bekerja dulu (gaji pertama habis buat bayar utang hahahaha), langsung beli ponsel. Ponsel Nokia yang sangat hits waktu itu. Bangganya enggak ketulungan. Padahal cuma buat menelepon sama sms doang bisanya.

Nokia jadul :D (gambar : snapguide.com)
Nokia jadul 😀 (gambar : snapguide.com)

 

Sekarang? Beuh, ponsel dipakai nyari duit juga tokcer abessssss hahahaha. Makanye, media sosial jangan dipakai buat baper-baperan ajalah 😉. Banyak betul kesempatan dan keuntungan yang bisa kalian raih selain mikirin isi/makna status, kegiatan dan foto-foto orang lain toh yaaaaaa hahahaha :p #uhuk.

Di sekitar awal abad ke 19, ekonom Thomas Malthus meramalkan bahwa di masa depan dunia ini tidak mungkin menampung banyak manusia. Karena jumlah makanan yang mampu disediakan oleh bumi tidak akan bisa cukup. Ini berkaitan dengan perkembangan manusia = deret ukur vs perkembangan makanan = deret hitung.

Diprediksi bahwa jumlah manusia tidak akan mungkin mencapai 1 milyar orang. Karena keburu makanan tidak cukup. Jadi, akan terjadi kelaparan bahkan perang memperebutkan makanan dan banyak yang meninggal hingga akhirnya manusia enggak terlalu banyak lagi dan makanan cukup. Begitu seterusnya. Intinya, jumlah manusia tidak mungkin melebihi 1 milyar.

Concernnya, “Gimana cara menyediakan makanan untuk manusia sebanyak itu?” Catat ya, di abad segitu orang hanya mampu meramal sebatas apa yang terbayang di saat itu saja 🙂. Mana ada makanan instan/pabrikan zaman segitu 😉.

Jangankan abad ke-18, di awal abad ke-20 pun, Daniel Quinn memperkenalkan istilah “Food Race”. Intinya mirip dengan ramalan Malthus. Cuma fokusnya Quinn berbeda, “Gimana cara membatasi pertumbuhan manusia?”

Lihatlah kini. Jumlah penduduk Cina + India saja sudah 3 milyar kali. Disusul US + Indonesia yang jelas-jelas sudah melebihi angka 600 juta jangan-jangan, ya. Malas googling hehehe.

Kita rebutan makanan sampai perang gitu? Heloooooo, ada Indomie, ya, booooo hahaha. Segala macam rasa dari Sabang sampai Merauke juga ada :p. Makanan pabrikan dari semua lini terus menerus tercipta. Teknologi yang sebenarnya juga berasal dari “kecerdasan” manusia sendiri. Bukan sihir toh yaaaaa :p.

Nah, sama juga dengan prediksi beberapa pihak soal naik haji 😉.

Kata mereka, sebaiknya naik haji itu diubah aja fatwanya menjadi enggak wajib karena di masa mendatang nanti bakal ‘chaos’ bakal begini bakal begitu bla bla bla. Dikait-kaitkan pula dengan pemborosan segala macam endebre-endebre-endebre.

Kompleks jemaah haji di Mina
Kompleks jemaah haji di Mina

 

Belum 50 tahun berlalu lho, saat naik haji itu bisa terlaksana via perjalanan laut saja. Perjalanannya saja bisa memakan sebulanan kali.

Sekarang? Voila! Pakai pesawat yang 10 jam juga enggak nyampe 😉 –> maklum yak, saya pernah bermukim di Jeddah jadi hafal durasi terbang Jakarta-Jeddah hehe.

Mungkin baru lima tahun berlalu saat semua jemaah harus jalan kaki menuju Arafah saat wukuf. Sekarang sudah ada kereta, Kakaaaaa ^_^. Things changed. Many things did change.

Kita meramal begitu wajar sih. Sama seperti Opa Malthus dan Pakde Quinn tadi yang belum terbayang tentang makanan kaleng dan segala macam hihihi. Kita menilai sesuai keterbatasan kita sebagai manusia yang hidup di era sekarang 🙂.

bekerja di luar negeri

Siapalah yang tahu apa yang bisa dicapai manusia di masa mendatang 🙂. Teknologi apa yang sedang dalam proses menunggu untuk ditemukan oleh manusia-manusia di masa depan.

Sebagai muslim, buat saya teori Malthus dan Quinn jelas bertentangan dengan keyakinan saya bahwa Allah yang menjamin rezeki tiap manusia. Ekonom ya boleh saja mengeluarkan berbagai macam teori, tapi faktanya … bukan tanpa dasar Tuhan memilih manusia sebagai khalifah di muka bumi ini 🙂. Sesuatu yang dulu sempat dipertanyakan oleh para malaikat bahkan dilawan oleh kaum iblis.

Saya tidak menantang para ilmuwan lho ya. Ampuuuun. Saya percaya 100% kalau bumi itu bulat lho! #eaaaaa hahaha :p.

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

 

Tapi jangan terlalu pesimis terhadap masa depan. Saya sih sepakat kalau umat muslim harus diberi pencerahan soal naik haji. Jangan juga menganggap bahwa meninggal sebelum naik haji itu “terhina” sehingga hanya menghabiskan waktu dan materi di dunia untuk mikirin gimana biar naik haji doang. No, no, bukan itu maksudnya.

Justru karena itu umat muslim jangan malah menjauh dari ilmu pengetahuan muamalah. Jadilah ilmuwan-ilmuwan di berbagai bidang ilmu yang cetar membahana untuk membuktikan pada orang-orang yang tidak lagi percaya pada agama bahwa agama dan kehidupan dunia itu bukan 2 hal yang bertentangan.

Kejar ilmu dunia untuk kemaslahatan bersama bukan untuk kafir-kakfirin orang lain huhuhu.

Challenge what the future holds, yes? 😉.

Belajar juga dari sejarah garam tadi. Jangan suka takut dan galau soal sumber energi yang katanya mulai menipis.

Di awal tahun 2000 an, produksi minyak dunia dan hasil tambang ditakutkan tidak akan mencukupi kebutuhan dunia lagi. Orang dilanda kekhawatiran dan minyak dunia dianggap penting banget.

Kalau sudah kerja di perusahaan minyak atau tambang, beuuuhhh, kayaknya sudah akan bahagia sampai 7 turunan hehehe.

Sadar tidak, beberapa tahun terakhir ini baik tambang dan minyak dunia terus merosot popularitasnya 🙂. Kendaraan listrik mulai menuai pamor di berbagai tempat. Energi baru mulai ditemukan.

Roda pedati ya, teman-teman. Dunia ini berputar seperti roda pedati. Jangan jumawa pun jangan pesimis. Ada gilirannya siapa yang di atas siapa yang di bawah.

Tugas kita cuma berusaha dan berprasangka baik pada Tuhan. Selalu <3.

Have a nice weekend ^_^.

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com
Review bagus film Zootopia

Fear Always Works

Judy berteriak kepada Bellwether, “It won’t work!”

Bellwether menyeringai, “Fear always works!”

Sepenggal percakapan di atas salah satu dari final scenes menjelang ending film Zootopia. Yang belum nonton sungkem ya. Spoiler nih hehehe :p.

Zootopia sempat heboh di timeline pas baru dirilis. Ceritanya memang super. Sama seperti kebanyakan teman yang lain, saya pikir topik utamanya hanya tentang kelinci imut yang ngotot ingin membuktikan kepada dunia bahwa kemungilannya tidak akan menghalanginya mencapai cita-cita menjadi polisi.

Setelah beberapa kali kecewa dengan film-film Disney yang rada garing nan datar, Zootopia membuat saya kembali tergetar *tsaaaaah*, jadi inget ponsel jadul yang bisa digetar-getarin hahahaha :p.

Istilah Zootopia sendiri sungguh pas untuk menggambarkan kondisi kota Zootropolis, tempat di mana Judy ingin hengkang dan mengadu nasib setelah meninggalkan Bunny Burrow, daerah asalnya.

Review film Zootopia keren
Gambar : Forbes.com

Judy merasa Zootropolis sungguh keren karena di sana, berbagai macam binatang bisa hidup rukun dan damai dan siapa pun bisa menjadi apa pun. Hal inilah yang menginspirasi Judy untuk membuktikan dirinya bisa menjadi polisi. Indeed, Judy adalah kelinci pertama yang menjadi anggota kepolisian di Zootropolis.

Tetap saja, sulit menembus tembok stereotip. Judy hanya diserahi tugas remeh temeh di awal penugasan. Hingga akhirnya sebuah kasus yang awalnya disangka ‘ringan’, membuat Judy mendadak hits dan menjadi seleb di Zootropolis 😀.

Beberapa hewan berjenis predator mendadak hilang dalam jumlah cukup siginifikan di waktu singkat. Bla bla bla, akhirnya ketahuanlah kalau hewan-hewan predator ini mendadak menjadi ganas tak terkendali. Walikota Zootropolis, seorang Singa, sengaja menyembunyikan para predator yang mendadak kalap ini agar tidak membuat penduduk Zootropolis, yang mayoritas BUKAN predator menjadi panik.

Tapi akhirnya bocor juga dan beneran … Zootropolis gempar bukan kepalang!

Para predator dan hewan lain yang umumnya menjadi mangsa mereka, yang awalnya hepi-hepi aja gema ripah loh jenawi mendadak menjadi ‘dingin’. Hewan predator mulai dijauhi dan dikucilkan serta dicurigai.

Muncullah teori konspirasi *uhuk* bahwa hewan predator ini pada dasarnya memang beringas dan sampai kapan pun mereka tidak akan bisa menyembunyikan keberingasan itu. Bahwa para predator ini, somehow akan berusaha memangsa hewan lainnya, cepat atau lambat.

Seperti menertawakan kondisi dunia manusia dengan sindiran halus lewat pesan di film ini 🙂.

Otak dibalik ‘teori konpsirasi’ ini adalah Bellweather, seekor domba yang posisinya adalah asisten walikota. Bellweather sering diperlakukan semena-mena oleh si Walikota Singa. Dendam membuatnya terpikir merebut kekuasaan.

Dengan cara apa? Ya membuat teror dan menebarkan ketakutan. Seperti yang diklaimnya kepada Judy, “Fear always works!”

Bellweather menjebak beberapa predator dengan ramuan tertentu yang membuat mereka bisa lepas kendali dalam waktu sekejab.

Klop ya dengan pernyataan Yoda di serial Star Wars (dia lagi, dia lagi hahaha :p), “Ketakutan adalah sisi kelam dari seorang manusia. Karena rasa takut melahirkan marah. Kemarahan membuat kebencian tumbuh subur. Kebencian inilah yang mengakibatkan penderitaan.”

Review bagus film Zootopia
Gambar : pixabay.com

Melihat kondisi terkini di berbagai belahan dunia, teror ketakutan sedang merebak di mana-mana. Misalnya bom di bandara Istanbul tempo hari.

Iya, tanggal 28 Juni kemarin, sebuah bom meledak di sana dan menewaskan hampir 50 orang. Bom meledak di arrrival area sekitar 2 jam setelah saya dan keluarga meninggalkan tempat itu. Bomnya di sekitar pangkalan taksi pula. Haduhhh, langsung gemetar lutut saya waktu suami menenangkan ibu mertua yang panik dan langsung menelepon kami di hotel.

Saya sempat terpikir ingin memaksa suami membatalkan acara jalan-jalan kami selama 4 hari di sana. Pengin cepat-cepat reschedule jadwal pulang saja. Untunglah suami tetap ‘waras’ dan akhirnya jadi juga Ramadan-Trip di Istanbul tersebut 😀. Foto-foto nyusul ya hehehe :p.

Lalu terakhir, bom di Kota Madinah, walau korban tewasnya tidak sedahsyat di Bagdad, sempat menimbulkan ketegangan dan berbagai teori konspirasi. Hadeeeehhh *ngelapJidat*.

Situasi seperti ini, persis seperti yang digambarkan di Zootropolis tadi. Ketakutan sudah membuat hubungan merenggang, melahirkan kecurigaan komplit dengan teori konspirasi ini itu dan dimanfaatkan oleh beberapa pihak untuk menuai keuntungan 🙁.

Lawan, ya, teman-teman 🙂.

Jangan terjebak dalam pusaran prasangka dan tetaplah berpihak kepada kemanusiaan dalam kejadian apa pun <3. Karena posisi kita sebagai manusia itulah yang menguatkan persamaan kita dan seharusnya mampu melemahkan banyaknya perbedaan yang ada.

Seperti pesan Judy :

“I thought this city would be a perfect place where everyone got along and anyone could be anything. Turns out, life’s a little bit more complicated than a slogan on a bumper sticker. Real life is messy.

We all have limitations. We all make mistakes. Which means, hey, glass half full, we all have a lot in common. And the more we try to understand one another, the more exceptional each of us will be.

But we have to try. So no matter what kind of person you are, I implore you: Try. Try to make the world a better place. Look inside yourself and recognize that change starts with you.”

Dunia utopis akan menjadi tempat yang sempurna di mana setiap orang bisa bersama dan menjadi apa pun. Kenyataannya, kehidupan sebenarnya lebih rumit daripada sekadar slogan-slogan manis ala meme-meme motivator hihihi 😀. Real life is messy.

Gambar : misacor.org
Gambar : misacor.org

Kita semua punya keterbatasan. Pernah berbuat kesalahan. Semakin kita berusaha saling mengenal semakin banyak hal luar biasa yang bisa kita capai masing-masing.

Tapi KITA HARUS MENCOBA. Jadi, siapa pun kita, ayo saling menguatkan untuk menciptakan dunia ini sebagai tempat yang lebih baik dan layak.

Sekali lagi, lawan ketakutan kita. Runtuhkan ego kita.

Semoga ramadan tahun ini mampu menciptakan perubahan-perubahan lebih baik untuk kita semua. DI dunia nyata maupun di dunia maya, yes? 😉.

Remember, change starts with you <3.

Selamat hari raya Idul Fitri bagi teman-teman muslim di mana pun berada.

Taqabbalallahu minna wa minkum. Semoga Allah berkenan menerima amal ibadah kita semua. Aamiin, aamiin ya rabbal aalamiin.

***

Klasifikasi Hater

Ada sebuah artikel yang dishare teman di salah satu status saya di Facebook beberapa hari yang lalu. Linknya ada di bagian bawah tulisan ini, ya :).

Di artikel itu seorang komedian muslim di Amerika Serikat mengembangkan kampanye tertentu untuk melawan Islamophobia di sana.

Mbak-mbak komedian ini membagi kaum hater dalam beberapa kategori :

Gambar : wallpaperswide.com
Gambar : wallpaperswide.com

1. The Trolls : orang-orang yang memang khusus menghentikan kegiatan mereka yang lain untuk terus-terusan membuat/menyebarkan berita apa pun dalam bentuk “hate speech”.

Istilahnya, nyebarin kebencian ya memang kerjaan mereka sehari-hari 😉.

And yes, there’s nothing we can do about these people 😉. Leave them. But of course, a little prayer won’t hurt anyone, yes? <3

Ada pun kita yang kontra sebaiknya jangan malah ikut-ikutan share/komentar di kolom mereka. Kalau mau klarifikasi ya klarifikasi saja jangan ikut-ikutan ribut di sana. Itu hanya membuat mereka makin tenar ;).

2. Drive-by haters orang-orang yang berhasil dipengaruhi oleh para Troll-er tadi. Golongan ini tidak selalu frontal. Umumnya, mereka cenderung mengubah sikap dan perlakuannya terkait obyek yang di-hate.

3. The mission-oriented-bigot- whose-group-affiliation- gives-them-cover-for-hating hater. Yang ini dikendalikan oleh grup/afiliasi tertentu. Ya mereka enggak bakal terang-terangan menyebut diri mereka “Kami Pembenci Anu” misalnya. Tapi dibungkus dengan lebih rapi dan halus.

4. Swing-haters, ya mirip dengan swing voters. Mereka ya kadang-kadang benci kadang-kadang enggak. Hal ini lebih karena mereka tidak punya cukup informasi.

Nah! Tipe ke-4 Inilah yang merupakan target utama si embak-embak komedian muslim tadi 🙂.

Kalau si embak komedian membahas Islamophobia di US, sebenarnya ketakutan ini berlangsung 2 arah.

Gambar : getthelowdown.co.uk
Gambar : getthelowdown.co.uk

Sebaliknya, di beberapa negara mayoritas muslim, juga terjadi …mmm…apa ya istilah enaknya, barat-phobia? Hehehe.

Ada semacam ketakutan bahwa barat hendak menghancurkan Islam no matter what gitu lah. Ini sampai dikait-kaitkan ke ayat-ayat tertentu dalam Alquran 🙁.

“Barat” di sini mengacu kepada “western countries” (Eropa, Amerika Utara dan Tengah) plus Australia dkk. Umumnya, negara-negara maju di mana Islam bukan mayoritas.

Balik ke tipe ke-4 tadi yang dipicu oleh KETIDAKTAHUAN, tidak ada informasi yang cukup. Jadilah mereka terombang ambing antara, “Benci kagak nih, benci kagak ya? Ummm..benci apa gimana ya? Ngggg….” ya semacam itulah hehehe.

Seperti misalnya heboh pelarangan jilbab di Perancis tempo hari. Memang betul ada keterbatasan soal “berpakaian ala muslimah” di sana. Tapi ya tidak membabi buta, siapa pun yang masuk Perancis harus melepas jilbab -_-. Enggak gituuuuuu.

Demikian pula berbagai berita-berita yang bikin tekanan darah langsung melonjak dari berbagai belahan dunia :(. Kita hanya dapat sepotong-sepotong. Ditambah lagi emosi yang lebih dulu berbicara. Jadilah mngkin hater tipe 4 yang jumlahnya tidak sedikit.

Karena jelas tipe 1-3 itu ya sudah di luar kendali kita 😉. Tapi yakinlah, golongan 1-3 ini jumlahnya keciiiiiiil banget. Mereka terlihat gengges karena bacotnya aja yang kenceng hehehe.

Ya mungkin dari kedua belah pihak harus lebih banyak tukar menukar informasi, saling mendengarkan, saling berbagi hal-hal yang mungkin luput dan malah dimanfaatkan oleh Para Troll dkk untuk memantik api 🙁.

Lagi-lagi kutipan dari video embak-embak mantan CIA kudu dipajang dimari,

“Because as long as your enemy is a subhuman psychopath, that’s going to attack you no matter what you do, THIS NEVER ENDS.
But if your enemy is a policy, however complicated, THAT WE CAN WORK WITH.”

Selama kita memilih untuk percaya bahwa ada kaum tertentu yang akan menghabisi Islam no matter what we do, THIS NEVER ENDS.
Tapi jika yang mengganggu kita lebih karena kebijakan-kebijakan tertentu, walau serumit apa pun, THAT WE CAN WORK WITH <3.

Tonton video singkat dengan pesan keren dari embak mantan anggota CIA ini di akun fanpage AJ+ di Facebook ;).

Anway, beberapa waktu lalu, kru Trans7 datang khusus ke Republik Irlandia untuk meliput Islam di sini. Inilah videonya. Sila dilihat sendiri bagaimana kondisi Islam di salah satu negara paling barat di Benua Putih ini 🙂.

https://www.youtube.com/watch?v=Xl5Y89_JRjI

Kalau ada kuota lebih, mari ditonton videonya. Tayangan ini sudah diputar di Trans7 edisi Kamis 16 Juni kemarin. Sayang nih belum ketemu video yang kualitasnya lebih bagus :(.

Jangan membatasi diri kita sendiri. Membangun tembok-tembok pembatas untuk mempertegas betapa berbedanya kita dengan “mereka di luar sana”.

“We build too many walls and not enough bridges.” -Isaac Newton-

Baca : When We Build Too Many Walls

Robohkan dindingnya. Bangunlah penghubung dan seberangi ketakutan-ketakutan dan ego kita sendiri. Again… you’ll be surprised 😉.

Selamat melanjutkan ibadah puasa ya teman-teman <3.

Artikel “A highly Scientific Taxonomy of Haters” bisa dibaca di sini :).

Cerita Hijab : Berbicara Hijab, eh…Jilbab :p

Cerita Hijab : ribut-ribut soal baju lagi. Ya namanya juga perempuan yak. Adaaaaaa aja yang bisa dibahas. I love being a woman hahaha.

Paling kasihan sih sebenarnya yang “pertengahan” atau ala-ala seperti saya ini hihihi. Pakai jilbab -nya cuma “sepotong” kalau menurut kritikan beberapa teman :p.

cerita hijab

Terus masih pakai celana jeans. Apalagi saya sekarang lagi demen yang model straight, karena model baggy sudah old school dong ya. Nah lho sudah pakai jilbab masih milih-milih model hahaha. Dan bukankah pakai celana panjang itu menyerupai laki-laki?

Tadinya saya sepakat. Eh, terus saya tinggal di Saudi dan melihat laki-laki pakai gamis panjang (namanya thobe di sana) yang sebenarnya mirip banget dengan baju model perempuan. Laki-laki Pakistan pakai baju sepasang yang bajunya panjang kayak baju kurung dan celananya longgar banget. Lah ya piye? Hahaha.

Then I realize something … baju itu memang bagian dari budaya setempat :).

Makanya, susah mendefinisikan apa yang dimaksud dengan “menarik perhatian”. Karena jelas, kalau Anda di Saudi dan pakai baju bunga-bunga segede-gede gaban dengan warna merah-kuning-hijau di langit yang biru ya so pasti orang-orang akan syok.

Tapi kalau Anda hadir di acara kumpul-kumpul orang Malaysia, berasa salah kostum pakai baju hitam-hitam karena mereka warna bajunya kinclong-kinclong. Jilbab merah, atasan kuning, rok hijau misalnya. Ya jadinya biasa saja karena semua orang juga pakai baju model begitu ;).

Terakhir datang ke acara mereka, ya saya kerahkan atasan kuning muda, jilbab garis-garis hijau kuning walau celana saya enggak pede macam-macam tetap pakai pantalon hitam hehehe. Baru deh bisa terasa tidak saltum :D.

Balik lagi ke masalah jilbab.

cerita hijab
Foto : Dani Rosyadi

Yang kayak saya nih, kiri dihajar, kanan disepet hahaha.

Oleh teman-teman yang masih enggan berjilbab tidak segan-segan bilang depan saya, “Gue bingung sama elo. Pakai jilbab tapi masih pakai celana jeans ngepas di badan. Kalau pakai jilbab ya jangan tanggung-tanggung. Gue makanya belum jilbabab karena enggak mau setengah-setengah. Justru yang kayak elo ini yang merusak citra perempuan berjilbab.”

Oleh “wing kanan” kena jugak, “Apalah gunanya pakai jilbab kalau cuma setengah-setengah? Pakai yang panjang nih kayak gue. Yang syar’i, yang syar’i.”

Tapi ya sudahlah. Fleksibel aja kita yak. Kalau disepet ya pasti kesal lah ya. Cuma biar mengimbangi dosa saya yang segabruk-gabruk (hahaha) saya alihkan pikiran. Kalau disepet rasanya sungguh terluka makanya janganlah suka sepet-sepet orang masalah baju ;).

Indeed, saya memang tidak terlalu terganggu dengan ragam fashion atau apalah-apalah yang katanya menimpa umat muslimah di tanah air. Saya tahu rasanya berjualan, ya. Dulu merasakan jualan buku terbit indie kayak orang gila.

Makanya, kalau ada rezeki dan mood bagus ya kalau ada yang nawarin baju-baju atau jilbab-jilbab walau terus terang saya enggak cocok modelnya, insya Allah tetap inbox dan beli beberapa. Apalagi kalau saya ngefans sama yang jual atau kenal baik dan mereka nawarinnya sopan :p.

Tapi memang, kalau mahal-mahal ya saya angkat tangan! Hahaha.

Prinsip saya dalam berbusana ya … itu tadi. Enggak pengin yang mahal-mahal. Kikir sama hemat memang tipis bedanya :p.

Sekarang pun baju-baju saya arahin ke satu warna semua. Di sini sih santai ya. Keluar rumah pakai jeans + jaket. Jaket saya ya hitam semua hahaha. Itu juga cuma ada 3 biji : winter, autumn, spring. Untuk summer udah keburu punya beberapa kardigan.

Gurten Swiss Bern pic by Dani Rosyadi
Bareng anak ke-2 ^_^, kostum lagi liburan juga sama hahaha (hamil 20 bulan di Swiss tempo hari)

Waktu mau mudik saya baru sadar, alamak, kenapa baju hitam semua iniiiiiiii hahaha. Terinspirasi Pak Jokowi nih :p. Masa presiden saja bajunya gitu-gitu doang, kita rakyat jelata mau macem-macem.

Itu  jawaban ala cebong *benerinEkor*.

Sebenarnya saya senang warna hitam karena :

  1.  Bikin kelihatan langsing hahaha
  2. Gampang dipadu padankan dengan warna jilbab apa saja.
  3. Kalau ditanya saya tinggal ngeles, “Eh baju saya banyak cuma memang hitam semua” Hahaha. Jadinya, orang enggak akan tahu sebenarnya berapa banyak baju saya :p.
  4. Kalau bawahan ya saya paling suka celana jeans. Praktis. Udara dingin maupun tropis :D. Bisa dipakai berkali-kali tanpa perlu dicuci dan tidak perlu disetrika dan tetap kelihatan rapi hahaha. Nah cucok kan celana jeans + atasan hitam :D. Tinggal jilbabnya saja yang dimainkan :D.

Namun, saya tidak rewel kalau situ mau pakai baju bunga-bunga atau pink atau kuning atau manalah. Ya soalnya saya juga tidak terlalu suka sih menilai-nilai orang dari penampilan ;).

Paling merhatiin yang umum-umum saja misalnya kerapihan dan kebersihan :). Soal warna dan model monggo sajalah. Saya fleksibel. Lihat yang modis-modis juga suka, kok ^_^.

Kakak saya yang rewel suka banget nyinyirin penampilan saya yang di  matanya “standar abesssss”. Ya biarin saja dia ngomong sampai berbusa toh enggak pernah saya dengerin hahaha. Tapi saya pribadi senang kok dengan baju-baju rancangan dia yang modis-modis itu ;). I’m still a proud sister <3.

Tidak sedikit memang teman-teman saya yang kini beralih mode busana. Pakai gamis panjang dan jilbab panjang. Good for them <3.

Untuk urusan niat dan soal tabarruj dan berhias diri, ya saya pun tipe perempuan yang hanya kenal bedak dan pelembab bibir. Tapi saya suka juga sih  nonton-nontonin youtube cara bikin alis walau saya tidak pernah habis pikir, “Kenapa alisnya dihapus terus digambar lagi?” Hahahha.

Tapi ya, tidak merasa terganggu juga. Ya, alis-alis dia :p.

cerita hijab : Dermaga Burkliplatz Zurich pic Dani Rosyadi
Numpang eksis di Dermaga Burkliplatz Zurich 😀

Perkara niat lebih absurd lagi, ya. Bukan ranah manusia :p. Kadang, kenal juga tidak. Jadi kenapa kita harus pusing kalau dia punya koleksi gamis yang diklaim syar’i 10 biji dengan harga tidak murah? Let them! Yang penting ketemu tetap haha hihi dan cipika cipiki ^_^.

Saya sih kalau lihat pashmina agak besar dan bahannya bagus saya sering beli buat oleh-oleh :). Karena teman-teman dan kerabat memang banyak yang pakai pashmina/jilbab lebar-lebar. Saya lebih prefer yang kecil-kecil kan pakai jilbabnya memang cuma sedada atau seleher :).

Teman-teman yang sekarang pada pakai gamis lebar dan jilbab besar ya tetap baik-baik saja sih dengan saya. Terserahlah ya kalau di belakang saya, saya toh juga mungkin sesekali keserimpet ngomongin orang *tutupMuka*. Yang penting kalau ngobrol di FB, WA dan tatap muka mereka tetap akrab :). So why bother? :).

Masalah busana hanya salah satu sisi dari berwarnanya hidup ini, kan, kan, kan ^_^. Tidak terlalu signifikan buat saya sih.

Hidup merantau membuat saya melihat banyak sekali hal-hal dan perbedaan budaya yang mungkin ribet di tempat A tapi simpel di B. Atau krusial di B tapi di A ya santai-santai saja.

Itulah warna dunia. Pasti bosan sekali ya, sudah jauh-jauh merantau ya ketemunya model-model itu-itu juga hehehe. Lebih senang kalau warna warni ^_^. Lebih bahagia lagi karena untuk menikmati dan menjadi bagian darinya, saya tidak perlu ikut-ikutan menyamakan “warna”.

Urusan siapakah kelak yang menunjukkan “warna” sejatinya sesuai perintah sembahan masing-masing, ya itu bukan ranah manusia ;). Biar sajalah malaikat Rakib dan Atid melaksanakan tugasnya :D. Kita semua posisinya sama. Sama-sama menunggu hasil yang hanya akan ketahuan “nanti”. Bukan sekarang :).

Tapi kalau dibikin ribut juga enggak apa-apa. Kan asyik, sudah berapa hari bingung  mau nulis apaan, tetiba ada topik seru kan bisa nulis-nulis lagi hihihi.

Cuma saja, buat sebenarnya masih  banyak hal lain tentang persoalan perempuan yang lebih menarik dan edukatif untuk diperdebatkan :). Lah terus kenapa situ ikut-ikutan rempong? Ya sekalian curhat sebagai orang “tengah-tengah” yang kena sikut melulu dari 2 sisi dooooong hahahaha. Kapan lagi dapat momen yang pas :p.

Sekalian pasang foto-foto ala OOTD dong ya hahahaha :p. Sungguh postingan yang sangat inspiratif :D.

 

What You Wish to See in The World

Lelah yaaaa, dengan tuduh-tuduhan keberpihakan dan teori konspirasi kala ada tragedi duka di mana saja. Tuduhan “selective empathy” misalnya.

Anehnya, sebagian mereka yang ngotot menuduh selective empathy remained silent di kasus Brussel dan tidak bersuara soal Pakistan. Tentunya bukan karena mereka tidak peduli. Mungkin saat beritanya ramai mereka tidak lagi online di FB :). Atau mereka terlalu sedih untuk ikut posting status.

See? Kita tidak harus membalas tuduhan yang sama kan? ^_^. Saya tidak suka jika dituduh bersikap “selective empathy” makanya, saya tidak akan menuduh orang lain dengan tuduhan yang sama ;).

Ini sempat saya “catat” beberapa tuduhan saat bom Istanbul yang kejadiannya sebelum Brussel. Padahal itu sudah bom ke-4 di Turki. Waktu bom Ankara malah agak sepi. Mungkin mereka juga tidak ngeh hehehehe. And for me … it’s oke ^_^.

Walau tak ada status di media sosial, mungkin saja ada doa-doa terucap dalam sembahyang yang mereka pilih untuk dituangkan dalam “ruang pribadi” saja. Tidak untuk dipertontonkan di status-status.

Coverage beritanya secara internasional sih baik-baik saja. Di situs-situs mainstream liputannya lengkap. Tidak ada usaha menutup-nutupi. Tapi respons masyarakat yang berbeda.

Waktu Brussel, makin marah. Sempat ada tuduhan Facebook bakal pasang bendera Belgia lagi. Tapi enggak tuh ;).

Yang luput diperbincangkan justru kejadian-kejadian di Afrika. Waktu kasus Boko Haram saya malah tahunya dari wall suami saya. Saya merasa bersalah, tragedinya sudah ngeri begitu kok bisa tumben enggak ribut.

Suami saya malah ngetawain saya, “Emang lo siape? Anggota PBB? Kok merasa harus ikut campur dalam semua konflik berdarah?”

Nah !!!

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

And so that you know, sebelum Brussel pun ada tragedi berdarah di Afrika, Ivory Cost. Dan saya pun baru tahu juga! *nangis*.

Pada dasarnya, saya tidak suka kita malah bertengkar soal aturan peristiwa mana yang harus kita pedulikan, membanding-bandingkan tragedi yang satu dengan yang lain, bahkan lebih jauh, menuduh konspirasi media mainstream yang menutup-nutupi beberapa kasus.

Tidak sih menurut saya. Di hampir semua kasus, media mainstream (setidaknya BBC yang secara “jarak” paling dekat dengan lokasi saya kini) rajin meliput peristiwa mana pun. Like I said before, respons penonton yang beda-beda.

Namanya media cari duit pun, berita yang kurang diminati ya umumnya lebih cepat hilang dari penyiaran. Mereka cari uang, bukan yayasan sosial kan ya. Walau tentu jurnalis yang idealis pasti akan bersuara terkait hal ini. But hey … we are not living on the heaven! Terima kenyataan itu :).

Kita tidak bisa menyempurnakan situasi seperti yang kita mau. Toh, kita juga bagian dari ketidaksempurnaan itu kan? Tentu saja, saya, kalian atau mereka punya kecenderungan masing-masing.

Kalau di-break down secara detail kenapa orang merespons luas terhadap kejadian tertentu dan sebagian tidak, itu bisa lebih panjang lagi. Saya tidak akan terasa capek kalau menuliskannya tapi saya khawatir kalian yang capek bacanya hahaha.

Setiap kita tentu harus berusaha bersikap adil. Tapi kita harus paham, kita tidak akan pernah bisa benar-benar netral. Tidak akan :).

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

Lah saya ini kalau menulis peristiwa-peristiwa itu ya lihatnya di media-media mainstream. Kalau Eropa ya saya lihat ke BBC. Pembandingnya AlJazeera. Demikian pula sebaliknya di banyak wilayah lain. Capek memang. Makanya enggak bisa reaktif, bom meledak langsung tergopoh-gopoh pasang belasungkawa sambil menuduh orang lain tidak peduli pula :p.

Enggak bisa gitu juga kan. Saya biasanya langsung googling. Lihat di beberapa media mainstream di beberapa wilayah. Ya, ya, ya, tuduhlah saya korban konspirasi. Tapi maaf yaaaaa, media mainstream saja tidak saya percayai 100% apalagi media-media kacrut bikinan “kalian”! :p. Yang sering pula pakai ancaman, “Sebarkan jika kalian peduli!”

Sudahlah sumber tidak jelas, judulnya rata-rata aduhai, nama wartawan kadang pakai nama “random”, isinya tebar kebencian pula. Tetap lebih baik media mainstream :p. At least, sesama media mainstream itu bisa saling berdebat dan mereka sering merangkum dari beberapa sisi. Walau tidak selalu :).

Ini seperti misalnya saya datang ke pemakaman salah satu teman saya. Di tengah kesedihan keluarga, ada orang mengamuk, “Kalilan semua munafik! Kok kalian tidak sedih waktu si anu yang meninggal.”

Perhaps, that man got his reason and perhaps…he is right. But remember, knowledge knows what to say, but wisdom will define WHEN to say it <3. Bukan kata saya. Itu kata-kata bijak yang mudah kalian temukan kalau kalian googling sendiri ;).

Dan ke mana golden rule yang konon adalah salah satu pesan penting dari metode dakwah rasulullah? Yang ternyata juga menjadi inti dari banyak keyakinan lain di dunia ini. Compassion. Jangan melakukan hal yang kita tidak ingin orang lain lakukan terhadap kita.

Kita marah jika “komunitas” kita ditimpa tragedi orang kok tidak peduli. But look what we’ve did (we means including me, myself). Kalau ada kesempatan yang sama, kita cenderung akan membalas dendam.

Contohnya? Ingat peristiwa jatuhnya Air France saat ternyata tersangkanya ternyata orang bule non muslim. Ingat respons kalian? –> “KOK DIA TIDAK DiTUDUH TERORIS?”

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

Kita cenderung membalas dendam. Kita ingin mereka merasakan sakit yan sama. Biar nyaho’, biar tahu rasa. Dan itu…manusiawi. Iya dong, manusiawi. Kita cenderung akan seperti itu. Tapi kita tahu kan kalau itu tidak benar. Sebisa mungkin, minimalkanlah :).

TIdak ikut mengutuk toh tidak berarti kita membela. Kita “mengutuk” dengan cara yang benar. Tuntutlah pengadilan yang adil. Hindari menyebut ras dan agama. Fokus pada peristiwa. Walau itu sulit, tapi mengusahakan adil adalah kewajiban kita. Tidak harus berhasil kok setiap saat, but once you remember, keep it on the right track as much as you can 🙂

Saya pun sering gagal kok ya . Apalagi bahas soal itu tuh‪#‎siAnakCebongGarisKeras‬ hahhaha :p.

Tapi soal prinsip anak cebong ini saya punya pembelaan diri yang tidak mungkin saya tulis di sini karena bakal lebih panjang lagi hahahaha. I’ll wait the right time to defend my self regarding this ^_^. Meanwhile kalian boleh kok menuduh saya fanatik dan lain-lain hahaha. Kuterimakan keadaanku lah :p.

Omong-omong sepanjang ini, untuk kembali mengingatkan para penggemar teori konspirasi bahwa dunia ini tidaklah sejahat yang kalian pikirkan kok smile emoticon. Tidak secuek yang kalian tuduhkan.

Baca lagi : “Katanya, Dunia Tidak Peduli?”

Kita tidak suka digeneralisasi sebagai muslim yang sama jika ada tragedi berdarah yang mengatasnamakan Islam. Then, don’t do the same.

Saat menggunakan kalimat, “Dunia Tidak Peduli” ya hati-hatilah. Dunia yang mana yang kalian maksud? Dunia ini luas sekali. Sadarilah … saya, kalian, dan mereka juga adalah bagian dari dunia ini :).

Dunia yang tidak hitam putih ini. Bahkan dari film yang menurut saya salah satu yang paling ngeri yang pernah saya tonton (saya memang banyakan nonton drama ala Disney sih btw hahaha) tetap pula saya bisa ketemu quote yang mencerahkan.

Tahu film S7VEN? Nah quote penutup ini saya ambil dari ending film tersebut,

William Somerset: Hemingway once wrote, “The world’s a fine place and worth fighting for.” I agree with the second part.

Same with me. I agree with the second part. Don’t you? 🙂

That’s why kita harus menyempurnakannya dengan quote lain dari Gandhi, “Be the change you wish to see in this world”.

Quote melulu. Lah saya mah apalah, bisanya cuma ngutap ngutip doang hahahaha :p.

Have a nice thursday, World <3

Gambar : misacor.org
Gambar : misacor.org