Wanita … (Bukan Lagi) Perhiasan Sangkar Madu

Blusukan ke news feed di Facebook barusan menghasilkan kesimpulan : ada 2 topik ala emak-emak yang lagi ramai hihihi.

Politik istirahat dulu yaaaaa, lagi gak mood nih bahas politik hahaha :p.

Topik 1 : heboh soal melahirkan via SC. Ini gara-gara ada seorang bapak-bapak yang terekdungces banget komentarnya soal SC. Tapi pas ngecek di blog, waduh, belum pernah dibahas topik ini. Jadi lewati dulu :D.

Topik 2 : heboh Post Partum Depression. Menangkap kekhawatiran beberapa teman, saya cukup sejalan. Jangan-jangan nih pada enggak bisa bedain antara baby blues vs Post Partum Depression :D.

Nah yang ini lebih pas. Karena sudah pernah dibahas di blog hihihi. Jadi mari kita buka dengan share link ini :p

Baca : “Baby Blues Pasca Melahirkan”

Baby Blues / Post Partum Blues sebenarnya bukan hal baru. Tapi bersyukurlah dengan era yang terus berlari dan maraknya informasi maka kesadaran tentang kondisi ini sudah mulai banyak dirasakan oleh ibu-ibu :).

Karena jujur, saya enggak gitu paham soal Baby Blues ini pasca melahirkan anak pertama. Jadilah waktu kena Baby Blues ya enggak nyadar dan malah takut dan bingung.

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

Kok rasanya macam perempuan terkutuk ya? Abis lahiran kok malah galau? 9 bulan jungkir balik, malah jelang-jelang anak lahir sibuk belanja sana sini dengan perasaan gegap gempita kok begitu lahir malah jadi berasa kayak mau gila gini? Ada apa dengan saya? huhuhu.

Terus, curhatnya ke tempat yang “salah” pula. Ealah, malah dinasihati panjang lebar. Itu katanya karena kurang bersyukur, iman lemah, terlalu manja, minta diperhatiin, dsb. Disuruh merenung soal kehidupan orang miskin yang enggak bisa beli susu buat anak sendiri, kehidupan para janda dsb. Apa hubungannya ya? -_-.

Walah, makin stres dah hahaha.

Saya terus terang enggak berani cerita ke suami. Jadi ya saya simpan sendiri saja. Malam-malam saya terbangun, saya injak-injak popok anak saya di kamar mandi sambil nangis-nangis. Itu suami pules aja hahaha, padahal pintu kamar mandi dekat tempat tidur.

Saya terselamatkan karena akhirnya saya memutuskan cepat-cepat masuk kerja lagi! Untunglah saya cepat menguasai diri walau saya tetap tidak paham ini gejala apa.

Cutinya saya pangkas. Sampai-sampai teman-teman kantor bingung kenapa saya cepat banget masuk kantor lagi hihihi. TIdak ada yang benar-benar ingat jadwal cuti saya kecuali HR. Saya berbohong ke suami, bohong ke mertua, bohong ke Pak Bos sekaligus hahahaha.

Yang lucu, mbak sekretaris divisi menghampiri saya di meja dan bertanya, “Jee, mau gue urusin biar cuti lo diperpanjang?”

Saya menjawab panik, “Jangan, jangan Mbak!” Hahaha.

Gambar : huffingtonpost.com
Gambar : huffingtonpost.com

Alhamdulillah, pas masuk kerja, lebih tenang :p. Mulai kerja lagi kayak biasa ketemu teman-teman lagi, tidur normal lagi karena sudah ada baby sitter (hihihi).

Minggu pertama masuk kerja, begitu mobil keluar dari halaman rumah dan saya tentunya harus buka kaca dan pura-pura melambaikan tangan ke anak bayi dengan akting murung depan mertua, padahal dalam hati saya malah lega banget, “Yes, I’m free!” –> mamak durhaka! 😀

Anak kedua masih baby blues. Tapi sudah ada pengalaman dan saya sudah tahu, “Everything will be over.” Somehow, walau masih malas googling, saya sudah merasa “rasa mellow dan gampang mengamuk” pasca melahirkan itu adalah hal yang wajar.

Pasti akan lewat. Jadilah sebentar aja baby bluesnya pas anak ke-2.

Anak ke-3? Alhamdulillah sampai sekarang, hasilnya negatif hihihi. Artinya, tidak kena baby blues seujung kuku pun tongue emoticon. Iyalah, untuk kelahiran ke-3 ini, kami mengimpor Mama langsung dari Jakarta hahahaha.

Suami saya kayaknya kapok! Dia yang maksa-maksa biar Mama datang menemani saya :D.

Well, happy ending buat semua pihak, ya. Termasuk Mama saya. Saya terharu lho pas Mama sempat bilang, “Seumur-umur gak nyangka bakal bisa ke Eropa. Dulu berdoanya buat anak-anak saja yang bisa ke luar negeri.”

Saya lebih rileks sih emang. Selain karena memang sudah pengalaman ke-3, support systemnya sudah “dipersiapkan”. Dan berbekal yang dulu-dulu, dari jauh-jauh hari sudah sering berdiskusi panjang lebar dengan suami.

Saya sudah lebih berani menyuarakan isi hati. Tentu saja sudah disertai kesadaran penuh soal “kewajaran” kondisi Baby Blues ini. Suami disiapkan, diri sendiri disiapkan.

Itulah mungkin mengapa susahnya ya boooo menurunkan berat badan sekarang ini dibanding kehamilan 1 & 2. Dulu-dulu tuh, sebulan abis melahirkan, semua lemak lenyap tak bersisa :D. Pasti pada sirik kan lo, padahal cepat kurusnya lebih karena stres hahaha.

Sekarang nih? Butuh 5 bulan buat balik ke berat badan sebelum hamil hahahaha. Ini juga sekarang kudu ditambah ekstra olahraga untuk nendangin sisa-sisa lemaknya. Terima kasih Kayla Itsines dan Blogilates, jadi bisa ngegym di rumah dengan gratis dan nyaman hihihi.

Sekarang malah kalap pengin berat badan ada di kepala 4 lagi *benerinMatras*.

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

Yah jadi perempuan memang kadang serba salah, ya. Diharapkan ini itu dan mudah sekali mendapat tudingan sana sini. Disuruh harus kuat buat anak-anak tapi kita pada dasarnya ya serba baper hihihi.

Begtu ada kaum perempuan nunjukin kekuatan dikit aja langsung dihakimi, “Perempuan tuh ya kodrat sebenarnya tuh kudu …nganu, nganu, nganu”

Kalau nangis tapi dibilang cengeng dan dituduh hendak memanipulasi.

Kalau kita protes minta “kesetaraan” langsung disindir, “Perempuan banyak maunya. Minta dimengerti lah minta ini lah minta itu lah. Lebay!”

Sekarang saya jadi paham tuh sebuah quote yang pernah dipopulerkan oleh seorang teman (laki-laki lho padahal) di kampus di milis angkatan kami, “Hanya wanita yang mengerti wanita.” Hahaha :p

Pengaruh hormon saat kita menghadapi berbagai situasi “istimewa” memang tak bisa dihindari. Entah saat menstruasi yang datangnya malah bulanan ;), saat perubahan tubuh di awal kehamilan, dan kembali tubuh kita beradaptasi selepas melahirkan.

Mungkin justru di situ letak kekuatan spesial kita? Apaan tuh? Ah, sudah pernah ditulis panjang lebar di sindang, baca lagi dong  –> “In Her Shoes” 

Bersyukurlah kita, perempuan, hidup di era yang tidak lagi terlalu timpang memandang masalah antara perempuan dan laki-laki. Satu generasi di atas kita saja, generasi ibu-ibu kita, masih terasa benar bedanya, kan?

Ibu saya masih enggak paham-paham juga kalau dijelasin soal Baby Blues ini hehehe :p.

Hm, masih merasa ingin kembali ke masa lalu? Masih merasa kecanggihan teknologi hanya menawarkan efek negatif saja? ;).

***

Blessing in Disguise

Plus minus gak bisa nyetir mobil, ya.

Minusnya, tergantung ke suami buat belanja yang jauh-jauh. Plusnya, jadi olahraga tiap hari hihihi.

Sekolah para buyuang kete’ ini bisa ditempuh dengan 2 rute. Shortest path nya ada, cuma berjarak 600 m dari apartemen. Tapi rutenya melewati rumah-rumah jalanan sepi yang anjingnya suka berkeliaran di jalanan. Eike kan takut bener ketemu anjing. Ya ngeliat lalat banyak aja saya takut kok hahahaha.

Rute kedua, ngelewatin jalanan besar dan masuk mal ‪#‎eaaaaaa‬. Tapi ini harus muter. Pernah iseng pakai endomondo, jaraknya sekitar 1 km.

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

Nah lumayan kan, tiap hari sekolah jalan kaki minimal 2 km bolak balik. Itu kalau satu doang yang dijemput. Kalau dua-duanya harus dijemput karena suami ada meeting segala macam bisa 4 km bolak balik jalan kaki.

Berangkatnya bareng bapaknya. Tapi kalau bapaknya dinas luar atau ada urusan ya emaknya juga yang nganterin plus jemput. Nah bisa berapa kilo tuh sehari hahahahaha.

Belum lagi kalau pulang nganterin ke sekolah melipir sampai ke area Golden Island. Bisa berkilo-kilo paha dan betis beraksi dalam sehari doang :D. Capek sih. But, it’s easier to maintain healthy weight (y). Blessing in disguise :p.

Tapi tetap dipaksa bisa nyetir sih. Soalnya kalau di Jakarta, kata suami, repot kalau enggak bisa nyetir mobil. Ribet juga ya, anak angkot disuruh belajar nyetir.

Dulu belum punya anak jadi santai-santai saja ngangkot ke banyak tempat. Naik KRL Ekonomi juga tahan banting.

Tapi setelah punya anak memang jadi lebih gimanaaa gitu ya. Naik angkot saja repotnya kalau supir angkot rese’ nurunin di tengah jalan kita lagi gendong anak -_-.

Pernah dulu kejadian. Soalnya rumah saya dekat dari Pejaten Mal. Jadi nanggung mau naik taksi. Taksinya juga suka enggak mau, karena dekat banget.

Jalan kaki ya tidak ada trotoarnya.

Jadi memang kudu ngangkot pilihan lainnya. Letak mal yang hampir di perempatan lampu merah suka untung-untungan berhentinya. Kalau lagi hijau, kita dipaksa turun buru-buru karena diklakson dari belakang.

Paling enak kalau ya pas lampu merah :D. Soalnya pasti pada berhenti juga. Jadi bisa dipinggirin dan turun dengan tenang.

Mungkin dulu di Jeddah juga susah maintain berat badan karena kurang gerak hihihi. Yaiyalah, mau ke warung jarak 100 m dari apartemen juga pakai mobil kok.

Di Jeddah, bensin murah, parkir gratis, jalanan mulus. Cuaca di sana juga cukup menyulitkan untuk jalan kaki ke mana-mana, sih. Jadi ya ke mana-mana ngadem dalam mobil melulu pakai AC.

Seiring berat badan yang susah turun, banyak terkungkung dalam rumah, tapi karena biaya hidup serba murah, angka di tabungan juga susah turunnya ;). Another blessing in disguise ^_^.

honor uang rupiah

 

Ada juga pengalaman yang lebih berat dan sedih yang sadarnya itu belakangan banget. Misalnya pas almarhum bapak saya meninggal waktu umur saya 12 tahun.

Ternyata kata Mama saya, bapak tuh orangnya strict banget dengan anak-anak perempuannya. Agak-agak konservatif dan menganggap perempuan tidak perlu lah sekolah tinggi-tinggi. Kalau pun sekolah sampai lanjut, jangan sampai sekolah di luar kota atau tinggal pisah dengan orang tua kecuali setelah menikah.

Menurut Mama kalau bapak masih ada ya jangan harap saya boleh kuliah di Jakarta. Waduh!

Tapi ya tetap saja sedih. Walau bingung juga harus membayangkan kalau waktu berjalan mundur apakah lebih menginginkan takdirnya sama atau lebih ingin Bapak ada lebih lama. Ribet ya mikirinnya hehehe.

Pada intinya, kita memang harus  banyak-banyak bekerja keras melihat sisi baik dari banyak hal. Mungkin sih pesannya tidak langsung bisa kita terjemahkan. Butuh berhari-hari bahkan tahunan baru bisa ketahuan… “Ooooo, ini toh hikmahnya.”

Teringat pesan bagus yang saya tempelkan dekat meja kerja di tempat bekerja pertama dulu. Saya baca-baca kalau lagi kecewa karena interview di tempat lain tidak berjalan mulus.

“Bila kau tidak mendapatkan apa yang kau inginkan, mungkin saja itu keberuntunganmu” <3.

Biar lebih sahih ditutup dengan quote hasil googling yang ini :

“Sometimes life takes you in a direction you never saw yourself going … but it turns out to be the best road you have ever taken.” -a saying-

Besok sudah senin lagi. Jangan bete dooooong hihihi. Diberi kesempatan untuk hidup lebih lama sampai besok pun itu selalu menjadi berkah tersendiri tiap harinya ;).

Don’t we love monday? <3

 

When We Just Can’t Have It All :)

Bagian dari Wisata Swiss yang agak sayang dilewatkan :Rosengarten, salah satu tempat yang menempati daratan tertinggi di Kota Bern, Swiss.

rosengarten rimbun

Yang membuat pemandangan alam Swiss yang mempesona itu karena sebagian kotanya memiliki daratan yang tidak rata. Jalanannya bisa turun naik gitu hehehe.

Yang paling kontras adalah kontur daratan di Kota Lausanne.

Tapi di Bern pun juga tidak rata-rata amat. Makanya, ada banyak titik di mana kita bisa leyeh-leyeh dan memandangi kota Bern dari ketinggian. Di Rosengarten ini misalnya :D.

Rosengarten = Rose Garden = Taman Bunga (Mawar) :D.

Taman bunga ini menjadi tempat bagi lebih dari 200 spesies bunga mawar. Saat ke sana, sebagian besar bunga-bunga belum mekar. Maklumlah masih akhir Maret waktu itu. Musim seminya  masih malu-malu.

Di sana juga ada restoran yang cukup besar yang menyediakan tempat makan outdoor dan indoor. Menunya ada yang makanan ringan seperti sandwich, kue-kue manis, roti-rotian lainnya, teh serta kopi. Ada juga makanan yang lebih berat seperti pasta-pastaan dll.

Rosengarten bisa ditempuh dengan tram no.10 dari Bahnhof-Bern. Turun di halte dengan nama yang sama, “Rosengarten”. Dari Bahnhof, waktu tempuhnya sekitar 20-25 menit. Terhitung agak jauh nih untuk kota seukuran Bern. Tapi tramnya nyaman banget kok ;). Swiss gitu lho ^_^ *jempolGedeGede*.

Di salah satu sisi area Rosengarten, ada tembok menjalar yang menjaga agar kita tidak terperosok di lembah bukit yang bawahnya tuh jalan raya gede. Tidak terlalu curam sih lembahnya.

Di situlah, saat matahari musim semi mulai rutin menampakkan diri, banyak orang duduk-duduk sambil lihat-lihat kota dari atas. Eike dong salah satunya hihihihi.

rosen sama abil

Nah, foto di atas itu (yang ada saya dan si bocah nomor 1 :p),  pemandangan Bern yang kita lihat dari tembok di Rosengarten tadi saat pepohonan belum ada yang berdaun ^_^.

Waktu itu, awal musim semi baru tiba. Sebagian besar pohon belum keluar daunnya. Jadi kita bisa memandang jelas bangunan-bangunan tinggi di bawah dan aliran sungai Aare yang warnanya hijau bening itu ^_^.

Surga bener deh rasanya <3. Pengin aja gitu rasanya duduk-duduk terus sampai lamaaaaaaaa di situ.

TerCandy-candy banget saat tiba-tiba kepikiran kalimatnya Terry ke Candy di seri 7 yang fenomenal itu, “Lebih baik waktu berhenti di saat seperti ini.”

Lebay kaleeeeee hahaha. Niatnya mau wisata Swiss kok ya malah dramaaaa -_-.

wisata swiss kota bern rosengarten
Dari atas Rosengarten, Bern, Swiss

 

Enggak lama abis ke Rosengarten ini, kami sekeluarga balik ke Irlandia lagi. Anak-anak udah kelamaan bolosnya hahaha. Hampir 2 bulan boooo ngintilin suami di Swiss :p. Tapi suami cuma 3-4 hari terus balik lagi ke Bern untuk menyelesaikan assignment yang totalnya memang 3 bulan.

Terus dikirimin foto ini, dari spot yang sama di Rosengarten. Wah, pohon-pohonnya sudah gondrong semua hihihi. Pemandangan di bawah sudah banyak yang ketutup dengan dedaunan dari segabruk-gabruk pohon di sudut-sudut jalan dan pinggiran lembah.

rosen rimbun 3

Tapi jadinya seger lihatnya. Kalau pas awal musim semi, cantik tapi kesannya gersang karena yang terlihat hanya batang dan dahan pohon coklat-coklat tanpa daun sama sekali.

Tapi kalau pepohonan rimbun, pemandangannnya jadi enggak maksimal. Penginnya dapat semuanya yak, ya yang seger-seger plus pemandangan cantik :p. Ya gimana … sudah dari sananya begitu.

Dalam hidup ini pun *mulai dah ceramahnya hihihi*, kita juga tidak selalu bisa berkesempatan memilih yang baik-baik saja. Misalnya nih, uang pas-pasan, lapar plus masih harus menyimpan uang untuk pulang naik angkot. Maunya sih tetap makan enak dan tidak jalan kaki pas pulang hahaha.

Apa daya, uang hanya cukup untuk beli nasi + kuah sayur nangka + kerupuk + perkedel di warteg, sisanya cukup untuk naik kendaraan umum. Padahal makan soto ayam enak juga, tuh, huhuhu.

Atau mari kita pikirkan drama yang lebih esktrim lagi hihihi.

Perhaps, about this girl. Tentang salah satu persimpangan di jalan hidupnya.

Ceritanya, dese ingin melanjutkan sekolah ke luar negeri dan sudah dapat beasiswa. Terus dapat tawaran pekerjaan juga di sana. Heaven! Sudah dari kecil dia bercita-cita “melihat dunia”.

Eh, si pacar ngajak nikah. Tapi pacarnya enggak mau kalau dia ke luar negeri. Maunya nikah saja terus sekolah atau kerja tetap di Indonesia.

Orang tua si perempuan ya kepenginnya sekolah dulu saja enggak usah kerja. Paling kan setahun dua tahun baru pulang dan menikah. Tapi itu pun yang laki-laki enggan menunggu.

Jadi semacam ultimatum, pilih aku atau luar negeri! Yuk yaaaaa, kurang drama apa iniiiiiii hahaha.

Then, she has to choose.

Pastilah pilihan yang berat, ya. He was such a perfect person for her. Tapi ya si Eneng juga udah kadung punya cita-cita mau “melihat dunia” bahkan sejak sebelum bertemu si pria idaman tadi.

Si Eneng tentu penginnya ya dia tetap sekolah terus mungkin bekerja sebentar lalu pulang lagi dan melanjutkan mimpinya yang lain :). Atau, si Akang yang ikut ke luar negeri. Sekolah juga kek atau cari pekerjaan juga.

Pokoknya gimana biar tercapai semuanya.

Jadilah dia tetap berangkat ke luar negeri dan merelakan hubungannya kandas. Ya putusnya pun drama. Lalu, si perempuan berharap at least yang laki-laki memaafkan dan hubungan tetap berlanjut walau bukan lagi sebagai kekasih atau calon istri.

Si perempuan akhirnya bersekolah di luar negeri dan mendapatkan pekerjaan di sana. She finally gets what she wants. Well, some of them.

Iya sih, akhirnya yang laki-laki mengirim permintaan maaf. Anggaplah via email, ya. Happy ending? Entar dulu. Di dalam email itu ada lampiran dalam bentuk attachment.  Berupa undangan pernikahan. Nyesssss, sakitnya di mana, sakitnya di mana … huhuhu.

Ranting-ranting kering di sekitar Rosengarten membuat  mata kita leluasa menikmati pemandangan kota dari sebuah tembok tinggi. Walau cuaca masih terbilang dingin dan berangin. Namun, begitu musim semi mencapai puncaknya dan pepohonan lagi rimbun-rimbunnya, suhu pun sedang cerah-cerahnya, justru pemandangan dari atas tertutup oleh banyaknya dedaunan yang muncul.

Sometimes along this thing called life, we can’t have it all.  We just … can’t :). Tapi kalo rajin menabung mudah-mudahan kesampaian ya cita-cita kita ngerasain yang namanya wisata swiss ke berbagai tempat cantik di negara Eropa ini ;).

Have a nice weekend, Readers! <3

rosen rimbun 2

We Found Love in A Hopeless Place

 Baru-baru ini salah satu teman suami pindah kerja. Pindah negara juga. It’s a bit special karena saya jadinya ngikutin timeline (istri)nya dan serasa ikut bernostalgia melihat mereka sibuk ngepak barang buat dikirim kembali ke Jakarta :D.

Spesialnya lagi, mereka sekeluarga tinggal di apartemen yang sama dengan kami saat kami masih di Jeddah dulu hihihi.

Serba kebetulan. Sama-sama penghuni Mushrifah lantai 6 nomor sekian-sekian. Sama-sama hengkang ke Eropa dari sana.

Foto di apartemen Mushrifah - Jeddah, 2012.
Foto di apartemen Mushrifah – Jeddah, 2012

 

I believe what she (and perhaps her family) felt was quite the same with the one I had back then, more than 3 years ago.

Bedanya dia (dan mungkin mayoritas teman saya di sana yang juga pindah) dengan saya adalah saat packing-packing barang.

Kalau mereka rata-rata pusing dengan banyaknya barang. Saya malah cemas karena barang saya dikit banget! Hahaha.

Awalnya galau karena kalau dibawa sendiri ya overweight tapi kalau dikirim via kargo ada angka minimal. Akhirnya diputuskan untuk membabi buta beli oleh-oleh hihihi.

 

This one funny thing, waktu akhir-akhir ada teman yang mungkin baru pertama datang ke apartemen saya ngomong gini, “Rumahmu udah kosong aja, Mbak? Barang-barang sudah dikirim separuh ya?”

Duh, gimana jawabnya ya. Karena saat itu belum satu pun barang saya sentuh buat diberesin! Hahahaha.

Monumen @Corniche Jeddah. Foto : Dani Rosyadi
Monumen @Corniche Jeddah.

 

Di apartemen Jeddah, paling berkesan adalah ruang tengah. Karena dibiarkan kosong melompong. Gorden pun ogah saya pasang. Karena saya senang kalau cahaya matahari menembus masuk tanpa penghalang sedikit pun.

Suasana di Saudi sungguh berbeda dengan tanah air. Serba tertutup. Jangankan interaksi sehari-hari, bahkan kaca jendela apartemen pun rata-rata dibikin buram! -_-.

Ya tidak ada pemandangan juga sih yang dilihat. Tapi menurut suami itu karena privasi hal yang sangat penting di Saudi. Jadi, jendela pun dibuat seperti itu.

Saya ingat, hari pertama mendarat di Jeddah. Optimis banget rasanya. Karena modal pernah tinggal di Teheran. Dulu kan sebelum ke Teheran juga saya takut tapi malah keren banget kotanya. Nah, harapan saya ke Jeddah juga sama.

Unfortunately, baru masuk apartemen, saya sudah tercekat sendiri.

Apartemennya terbagi dari banyak sekali ruangan. Bahkan dapur pun dikasih pintu khusus. Di Teheran dulu apartemennya bagus banget dan dapurnya model bar gitu. Jadi tembus sampai ke ruang tengah.

Di Teheran, ruang tengah punya jendela kaca raksasa. Modelnya seperti kaca rayban. Jadi kita leluasa melihat ke luar tapi yang di luar enggak bisa lihat ke dalam.

Pemandangan cantik dari pegunungan yang mengelilingi Teheran yang masih menyisakan sisa-sisa salju musim dingin bikin saya geer, “Alhamdulillah akhirnya lihat salju”. Dari jarak ratusan meter!! hahaha :p.

Apartemen Mushrifah-Jeddah, alamak! Penuh dinding. Padahal apartemennya lumayan luas, lho. Tapi ya gitu, dinding-dinding-dinding membatasi semua ruangan dalam rumah.

Jendelanya kecil-kecil, buram pula.

Saya tidak tega mau mengeluh ngeliat suami asyik peluk-pelukan dengan anak sulung (anak masih satu waktu itu). It took him almost 1 year untuk membawa saya dan anak saya ke Jeddah. Setengah mati mengurus surat dan visa agar kami berkumpul kembali.

Iya gitu hari pertama kita cekikikan bertiga dalam kamar, finally together again, saya malah mengeluh, “Apartemennya cupu amat” :'(.

Saya pikir mensugesti diri sendiri salah satu cara tepat untuk mudah beradaptasi. Saya pun menulis di notes di FB di blog (waktu itu masih multiply) betapa optimisnya saya dengan hari-hari baru di Jeddah hihihi. Tidak saya hapus kok sampai sekarang hahaha.

Akhirnya pun fokus mau punya anak lagi. Which is sebulan kemudian memang langsung hamil lagi ;). I kept talking to my self, “Happy, happy, happy as a hippo!” :D.

That magic really works ^_^ *tepukTangan*.

Perempuan Indonesia di Arab Saudi
Berakhir pekan di Corniche Road, Jeddah ^_^

 

Tinggal di rantau jadi ketemu banyak teman baru. Walau jujur, pertama kenal banyak korslet, namanya juga adaptasi. Di masa sekolah, kuliah, dan bekerja, pergaulan saya lebih homogen. Nah di Jeddah ketemu macam-macam teman dengan berbagai latar belakang.

Kan gengges juga yak hahahaha. Mau “humble” kok ya saya merasa direndahkan. Mau nyolot kok ya saya enggak tega sendiri karena ya gitu lah. I can’t be too detail.

Suami nih yang berperan banyak membuat saya lebih “dewasa” dalam urusan pertemanan. Dia yang memberi banyak masukan dan menyadarkan saya, “Emang situ oke? Sok-sok an menuntut orang lain begini begitu ya coba ngaca ke diri sendiri deh!”

Lama-lama … voila! Beberapa sahabat terbaik dan terdekat saya sampai sekarang ya mamak-mamak Jeddah ituuuu hahahaha.

 

my angels jeddah

Having many good new and great friends melahirkan semangat positif yang lain. Saya sebenarnya anak rumahan banget. Tapi senang di rumah vs terkurung dalam rumah itu 2 hal yang berbeda  huhuhu.

Jadi saya berusaha menciptakan kesibukan baru yang bisa saya nikmati sembari dalam rumah. Ketimbang terus-terusan melihat ke arah jendela yang ada malah tambah stres hahahaha.

That’s how I found blog Mama Sejagat dan blog Cerita Jeddah. Keduanya menjadi blog serius saya yang pertama. Dan saya buat dalam bentuk komunitas blog biar isinya ramai dan saya bisa sibuk lebih lama dan tidak ada waktu mengeluhkan yang sebenarnya tidak perlu dikeluhkan.

Di awal-awal Mama Sejagat saya bisa membuat 32 postingan dalam satu bulan! Hahaha. Cerita Jeddah datang, makin menggila *ngakak*.

And that’s how I realized how I really LOVE writing. Ke mana aja gue? :p.

Di Jeddah bikin buku pertama kali. Sesuatu yang selama ini tidak pernah terpikirkan lagi. Waktu kecil sih memang doyan menulis tapi kan tidak sejauh itu sampai terpikir mau punya buku segala. Diari aja mah modalnya dan beberapa fiksi di atas berlembar-lembar kertas dan buku buat iseng-iseng.

Awalnya sempat terpikir, mau jadi apa ya tinggal di Jeddah? Apalagi sebelum pindah saya sudah berniat melanjutkan S2 dan mendaftar di almamater saya dulu. Sudah ikut tes dan diterima. Tapi ya masa mau jauh-jauhan terus dengan suami? Toh situasi saya tidak mendesak?

Sudah saya pasrahkan dan saya pikir yang penting tidak stres aja dah hehe. Boro-boro stres, ternyata banyak hal-hal terbaik dan pencapaian yang tercipta justru saat saya tinggal di Jeddah.

Makanya balik ke ruang tengah tadi. Kalian pasti sudah lupa deh :p. Ayok, scroll up, scroll up hahaha. Di ruang tengah ini yang ada hanya sebuah kursi + meja kecil tempat saya meletakkan laptop di atasnya.

Letaknya dekat dengan pintu dapur. Jadi, sambil masak bisa ketak ketik. No wonder, suami saya selalu nyinyirin keyboard laptop saya yang penuh cipratan bumbu dapur dan minyak :p. Sampai sekarang! Hahaha.

Anak ganteng di Masjid paling keren sedunia <3
Anak ganteng di Masjid paling keren sedunia <3. #1stBoy

 

“Hopeless”, salah satu hal yang terlintas dalam pikiran sejak pertama tinggal di Jeddah.

Tapi Mbak Rihanna seolah mengingatkan saya dengan salah satu lirik lagunya yang berulang-ulang, “We found love in a hopeless place”

Indeed, we can always find love even in a “hopeless” place <3.

“Happiness can be found even in the darkest of times, if one only remembers to turn on the light.” -Dumbledore-

Tapiiiiiii … buat nyalain lampu di “rumah” yang baru kadang-kadang perlu waktu kan ya untuk menemukan “saklar”nya di mana ;). It’s not always easy to get in the mood. But it’s ok, as long as we DO not forget to TURN ON THE LIGHT.

How’s your Monday, Peeps? Have you turned on the light? ^_^

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

***

Resep MPASI Ayam Wortel

Resep MPASI Ayam Wortel ini pertama saya berikan saat anak saya telah melewati makan padat sebulan pertama. Tapi sebenarnya dimulai dari usia 6 bulan juga boleh, kok.

 

mpasi ayam wortel

 
 
Anak saya yang ke-3 nih mulai makan di usia 6 bulan kurang seminggu. Sengaja dicepetin hehehe. Soalnya takut kalau terlalu mepet.
 
Dari wholesomebabyfood, petunjuk untuk memberikan makan padat pertama kepada anak bayi itu diantara usia 20-26 minggu. Makanya, ada yang menganjurkan pemberian makanan solid pertama starting di usia 4 bulan. Tapi tetap diingat, lebih direkomendasikan dimulai dari usia 6 bulan daripada 4 bulan.