Suatu Saat di Kuta Bali

Sepasang pengantin, berpakaian putih-putih asyik berbaur dengan rekan dan teman sambil menikmati santapan acara. Tamu yang datang biasanya sedikit. Acara lebih santai but the bride always looked beyond stunning <3. Tetap terlihat berbeda walau ikutan wara wiri dengan tamu lainnya.

Dari gambar yang lebih lebar kita jadi tahu menikahnya di sebuah bangunan yang tidak terlalu luas. Dindingnya hampir berupa kaca semua. Pemandangan outdoornya … speechless! Bangunan terletak di atas tebing yang di bawahnya membentang pantai indah berpasir putih.

At some moments, I didn’t really care about who was going to be the groom, pokoknya pengin jadi embak-embak pengantin itu aja hihihi #benerinKebayaPutih.

Ayo angkat tangan, siapa yang pernah ngarep-ngarep bakal mantenan di Bali? Hehehe :p.

Gambar : traveloka.com & free images from pixabay
A dream wedding – Uluwatu, Bali (gambar : traveloka.com & free images from pixabay)

Saya tidak paham dulu tempat itu tepatnya di mana. Ternyata, sebuah spot di Uluwatu menjadi tempat favorit beberapa kalangan untuk mengadakan ritual mengikat janji suci pertama kali sebagai pasangan suami istri :).

Ada pun saya, dulu, kalau mendengar Bali ya otomatis ingatnya Kuta Bali. Kuta, benar-benar pengetahuan paling pemula “pemula” soal Bali.

Identiknya Kuta dengan Bali “diperparah” dengan sebuah lagu dari Andre Hehanusa yang populer di masa-masa abege kita dengan judul yang sama, “Kuta Bali”. Bukan kita sih, saya maksudnya :p.

Sebagian liriknya masih terngiang jelas, “Bersemi dan entah kapan kembali, mewangi dan tetap akan mewangi…”

Pengalaman ke Kuta Bali pertama kali buat saya adalah tahun 1997. Liburan kenaikan kelas 3 SMA diajak jalan-jalan ke Bali bersama tante sekeluarga :). Benar saja, pantai yang pertama kali kami datangi ya pantai di Kuta.

Kita bisa melihat pemandangan matahari terbenam di Pantai Kuta. Untuk mendapatkan view sunrise, tempatnya adalah di Pantai Sanur.

Kami ke Kuta Bali siang menjelang sore. Panasnya pakai banget. Tapi turis-turis asing malah makin senang. Lagi norak-noraknya lihat turis bule sebanyak itu hahaha.

Sayangnya, sudah harus balik ke penginapan sebelum sunset :(.

Tapi memori ke Bali pas masih SMA ini meneguhkan angan-angan untuk suatu hari bisa mantenan di sana beneran bertahun-tahun setelahnya :p. Belum ada smartphone waktu itu jadi ya, foto-foto versi cetaknya entah sudah ke mana.

Ternyata, kesempatan ke Kuta Bali datang lagi 10 tahun kemudian. Saya sudah bekerja dan kantor mengadakan acara tahunan di Bali. Tepatnya, ya di Kuta Bali lagi. Menginap di salah satu landmark Kuta yang cukup terkenal, Hard Rock Hotel :).

 

Kuta Bali FIT Annual Conference Unilever, Hard Rock Hotel 2007
FIT Annual Conference Unilever, Hard Rock Hotel 2007

 

Acara kantor tahunan selalu diisi dengan acara-acara lumayan padat dan seru. Hari kedua ada semacam team building dan kami dibagi menjadi beberapa grup. Tiap grup diminta untuk memecahkan beberapa kode rahasia yang tersebar di berbagai tempat menarik di Kuta Bali dan sekitarnya.

Starting pointnya dari hotel tempat kita menginap, Hard Rock Hotel di Kuta tadi. Dari hotel ini akses ke beberapa tempat wisata di Kuta juga dekat banget. Jadilah, tiap grup berpetualang ramai-ramai ke berbagai tempat-tempat menarik yang bisa dijangkau dengan jalan kaki saja.

Salah satunya adalah Pasar Seni Kuta dan makan siangnya mampir bergiliran di Warung Made. Warung Made, yang didirikan sebelum tahun 1970 ini terus eksis menjadi salah satu ikon penting di Kuta Bali.

Selain bikin baper karena pemandangan alamnya yang cantik, Bali juga menjadi tujuan wisata kuliner khas Indonesia. Termasuk Warung Made yang sampai sekarang selalu ramai dijejali turis asing maupun lokal.

 

Kuta Bali Foto koleksi pribadi
Foto koleksi pribadi

 

Waktu berjalan-jalan di area Beachwalk di sepanjang pantai Kuta yang pas depan hotel tuh, sempat mengkhayal pasang tenda warna putih di tengah pantai. Terus sok-sok an berjanji setia berdua depan penghulu. Enggak kepanasan, tuh, Neng? Hihihi :p.

Enggak dooong, pan ceritanya sudah menjelang senja. Sekalian nungguin sunset gitchuu *benerinKacamataItem*.

Terus, gimana? Jadi beneran menikah di Bali, nih? Ya enggaklah hahaha.

Uniknya, saya menikah di tahun yang sama, tahun 2007 itu. Sekitar dua bulan setelah pulang dari acara kantor di Bali.

Pernikahan saya menggunakan acara adat Bugis saat akad nikah dan memakai pelaminan Minang lengkap dengan suntiang Padang di atas kepala saya saat acara resepsi sehari setelahnya :). And for sure, I was still as happy as I can be ;).

“You know you’re in love when you can’t fall asleep because reality is finally better than your dreams.”
– Dr. Seuss

collage_20160519103038499

Tidak berarti tidak perlu jalan-jalan ke Bali dong, ya. Jalan-jalan  mah teteeeeeeup :p. Walau kini saya sudah resign dan tidak bisa lagi ke Bali gratisan seperti pas masih kerja dulu (hahaha), saya masih tetap kepengin ke sana lagi. Kali ini, dengan formasi  berbeda … membawa suami dan anak-anak yang sekarang sudah ada 3! :D.

Dulu sih enak ya, tinggal berangkat, semua sudah diberesin oleh pihak kantor. Tinggal angkat koper, duduk manis di pesawat-bus, eh tahu-tahu sudah tiba di hotel *kipasKipas*.

Sekarang? Ya tetap enak juga. Welcome to the online world, Babe!

Tinggal cusss ke Traveloka 😉, salah satu situs booking online lokal di tanah air :). Tinggal pilih mau hotel mana dan tiket kapan pakai maskapai apa dengan harga gimana. Untuk Kuta Bali, Traveloka menyediakan banyak informasi layanan, tinggal klik di sini saja ;).

Iya lah, dulu mimpi-mimpi banget ya bisa menikah ala-ala yang saya tulis di paragraf atas tadi. Ealah, jauh panggang dari api hehe.

But trust me ;). Where you held your wedding ceremony had nothing to do with whether your marriage would last or not :p. Masih banyaaaaaak banget yang perlu kalian khawatirkan selain harus pakai baju apa atau harus menikah di mana ;).

Jalan-jalan bareng anak-anak juga seru kali ya ke Bali. Saya belum pernah, nih. Suami saya juga terakhir ke Bali pas masih umur 2 tahun cobak, hahaha.

Eh, sebentar, anak sulung saya pernah sih saya ajak ke Bali. Tapi waktu itu dia masih di dalam perut hihihi. Ini foto saya di Bali setahun setelahnya, juga acara kantor yang sama. Bukan di Kuta tapi di Jimbaran :). Sedang hamil 5 bulan waktu itu.

Kuta Bali

 

Gagal mantenan di Bali, mudah-mudahan suatu hari nanti bisa jalan-jalan berlima bareng suami dan anak-anak menyusuri kembali tempat-tempat yang dulu pernah didatangi. Bernostalgia juga kalau dulu pun pernah jadi perempuan kantoran *benerinCelemek*.

Seperti lirik di lagu yang saya sebut-sebut tadi, “Bersama rinduku, suatu saat di Kuta Bali …”

Yup, muter-muter berlima (atau mungkin akan berenam? hahaha) … suatu saat di Kuta Bali ;).

Kalau kamu, sudah pernah ke Bali juga? Kalau sudah, apa ingin kembali lagi? :).

 

The Ranch Lembang Bandung

De Ranch Bandung : Wisata Keluarga Murah-Meriah-Seru di Lembang Bandung :D

De Ranch Bandung : “Ikut ke De Ranch, gak?” Tanya adik saya.

“Tempat apaan?”

“Belum tahu, ini baru pertama mau ke sana besok. Katanya sih uang masuknya 5 rebu doang.”

Hapaaahhh? 5 ribu? Goceng???? Berangkaaaattttt! Hahahaha.

de ranch bandung
Foto rame-rame di De Ranch Bandung

Eh, tapi kurang tahu sekarang masih goceng apa enggak hahaha. Ini jalan-jalan ke The Ranch Bandung -nya tahun 2014. Cuma baru ditulis sekarang aja :p.

Komplit storynya begini, 2 tahun lalu lebaran pasca lebaran enggak ada rencana ke Bandung sih. Cuma tahu-tahu pas ngumpul lebaran di rumah Tante diajakin ke Bandung sama si Mama Buntel (adik perempuan saya). Eh, ternyata kakak no.2 juga mau ikut sama keluarganya.

Tumben iniiiii pada semangat mau ke Bandung. Ealah ternyata ada penginapan gratisan hihihi. Adik sepupu ada yang punya villa di Dago Pakar. Kamar tidurnya ada 5 apa 6 gitu. Jadi deh ikut semangat hahaha *hidupGratisan*. Kita pun heboh mau konvoi.

Konvoi yang gagal! Hahaha.

Mereka sih sukses berangkat jam 7 pagi kayaknya. Saya dan keluarga baru berangkat jam 9 pagi kayaknya. Padahal waktu itu masih 2 anak masih ribet mau berangkat sepagi itu :p.

Anw, terima kasih ya penginapan gratisnya, Om Anggu dan Tante Icha ;).

Singkat cerita, siang nyampe Bandung. Sore dan malam leyeh-leyeh saja kita di villa sambil ngobrol. Besoknya baru konvoi lagi ke The Ranch Bandung. Kali ini, konvoinya beneran hihihi :p.

Wisata murah meriah The Ranch Bandung
Nongkrong dulu depan vila sebelum capcus ke The Ranch 😀

Nyampe De Ranch Bandung sekitar jam 10 pagi. Halamak, ramainyaaaa :D. Ngantri di pintu masuk, untungnya masih dapat parkiran. Ngantri lagi pas mau masuk De Ranch-nya. Beneran, cuma bayar goceng per orang itu juga dapat gratis segelas susu segar, top dah pokoknya mah :D.

Begitu masuk, ternyata ramainya tidak sehoror yang dikhawatirkan. Kalau ramai ya pasti ramai soalnya liburan panjang abis lebaran gitu kan. Pada tumplek biasanya di Bandung orang-orang dari Jakarta. De Ranch Bandung ini pun pasti jadi salah satu tempat andalan liburan keluarga.

Mungkin karena tempatnya lapang dan mataharinya lagi super makanya di tengah-tengah lapangan rumput abis ngantri karcis masuk agak lowong. Langsung deh kita sigap foto-foto duyuuuuu hahaha. Tuh, fotonya yang paling atas.

Dari situ, sudah lalu lalang wahana-wahana yang ada di De Ranch Bandung. Pas melihat kereta yang ditarik kuda pastinya anak-anak langsung nunjuk-nunjuk pengin naik itu. Naik delman ramai-ramai.

Baca juga : Farm House Susu Lembang Bandung

de Ranch Bandung Lembang

Yang naik hanya anak-anak + kakak saya, si om-om yang duduk di belakang di foto atas itu tuh hihihi. Kalau tidak salah bayarnya 30 ribu rupiah per satu putaran untuk fasilitas yang ini. Enggak terlalu banyak antriannya. Begitu datang, kayaknya enggak nyampe 15 menit sudah kebagian delman.

Sementara anak-anak ngider pakai kereta ini, saya dan suami serta yang lain sibuk lihat-lihat suasana sekitar situ. Sempat foto-foto narsis sama kakak ipar hihihi.

Pas rombongan delman datang, anak-anak ternyata sudah ribut mau naik kuda. Kayaknya mereka papasan dengan anak-anak yang naik kuda pas ngiter pakai delman tadi.

Walah, ngantri karcisnya lumayan nih. Ternyata juga bisa langsung beli beberapa karcis sekaligus. Harganya mirip-mirip, sih, ya. Rata-rata 15 ribu per orang untuk satu “permainan”. Ada juga car-racing atau apalah itu namanya. Kalau masih kecil belum boleh.

Ada juga fasilitas “Loncat Anak” yang anaknya diikat terus loncat di atas trampolin gitu sampai mental ke atas. Waduh, anak saya sudah horor duluan lihatnya hahaha. Padahal ada lho itu anak 2-3 tahun yang berani nyobain :D.

Ya udah, pokoknya naik kuda dulu lah :D.

De Ranch Bandung Lembang

Kuda juga ada 2 macam. Ada yang kecil ada yang besar. Tapi tarifnya sama sih ya kalau gak salah. Maaf nih, serba “kalau gak salah”, maklum yaaaa, sudah 2 tahun lewat –> blogger pemalas hahaha :p.

Anak-anak mah, dari mulai milih kostum buat naik kuda aja sudah ribet :p. Mau ini mau itu. Padahal modelnya mirip-mirip paling. Ukuran saja yang beda-beda.

Naik kuda di The Ranch Lembang Bandung

Alhamdulillah, pada seneng abis muter-muter sama kuda :D. Anak senang, ortu hepi *tepokDompet* :p.

Dari sini, karena pada enggak mau main trampolin, loncat-loncatan dan racing, akhirnya naik balon air. Di sini kita jadinya mencar. Adik saya dan keluarganya kayaknya naik kuda lagi deh hahaha. Doyaaaaan :p.

Anak-anak saya milih naik  balon air. Sama, tarifnya juga 15 ribu. Hanya boleh 2 orang dalam satu balon. Agak ngeri juga ya lihatnya. Balon gede gitu terus anaknya dimasukin ke dalam terus muter-muter sendiri gelindingan di permukaan air.   Tapi anak-anak ngotot jadi ya sudahlah. Yang penting hepi dan tentunyaaaa, 15 ribu aja gitu hahahaha :p.

Enggak kefoto pas di balon airnya. Pas lagi ngantri sebelum kebagian balon sih ada nih fotonya :

Balon Air di De Ranch Bandung Lembang

 

Efek panas yang dahsyat (lebay hahaha), bikin cepet laper. Jadi abis main balon air itu udah enggak konsen. Mau makan di situ ternyata penuh huhuhu.

Jadilah kita memutuskan untuk udahan aja di The Ranch -nya. Mau nyari makan di luar saja.

Tentunya, menggeret bocah-bocah untuk udahan itu perlu perjuangan banget :p. Mereka masih pecicilan mau main di playground. Wis lah, ditemenin sebentar plus numpang foto-foto dulu hahaha.

De Ranch Bandung Playground di The Ranch Lembang Bandung

 

Mungkin karena lapar juga akhirnya  mereka sendiri yang sukarela mau ngikut kita keluar dari sana :D.

Overall, untuk harga segini mah, The Ranch Lembang ini sangat memuaskan banget ^_^. Mana tempatnya luas banget pula. Cuma memang teriknya mayan, yak. Mana lupa bawa cengdem pulak -__-.

Boleh banget lah tempat ini dijadikan sebagai salah satu tempat wisata keluarga di Bandung. Etapi saya juga tidak begitu hafal Bandung yak. Tempat wisata yang saya tahu terbatas banget di Bandung :p. CMIIW ya.

 

Every Step Toward

For this whole week, I’ve been discussing about this with my husband. Dese kan orangnya memang pragmatis vs saya yang menurutnya terlalu ‘utopis’ hehehe.

Menurut suami, at some points, kita masing-masing pastilah memimpikan Dunia Utopis. Tapi sekaligus harus paham, dalam praktiknya, yang mana melibatkan banyak sekali manusia biasa (manusia yaaaaa bukan malaikat), itu adalah hal yang mustahil 🙂

Kita ngobrolin (dan kadang-kadang sampai berantem hahaha) soal penggusuran, spesifik soal Luar Batang, dan gaya kepemimpinan Ahok selama ini.

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

Kalau menurut suami, “Baca lebih banyak lagi sejarah. Pembangunan itu mustahil tanpa pengorbanan. There’s no such thing : maju bersama-sama. Itu mimpi lo aja.”

“Gak adil amat.”

“That’s life, Dear.”

Lalu mulailah dia mengoceh tentang Restorasi Meiji yang diiringi dengan berakhirnya era Samurai.

“Ya harusnya yang pro kekaisaran ngomong baik-baik aja ke Para Samurai untuk join jadi tentara Jepang.”

“Ngerti gak sih Samurai itu apa? Posisi mereka di masa shogun berkuasa itu kayak apa?”

Iya sih saya enggak terlalu tahu hahahaha. Mulai lagi dah dese dongeng sejarah kayak biasa.

Ternyata kaum Samurai itu semacam kalangan bangsawan ala militer. Mereka punya kedudukan penting dalam struktur sosial bermasyarakat.

Di masa sebelum reformasi berlangsung, Jepang adalah bangsa yang terkungkung dan terbelakang. Kedatangan banyak orang asing malah menimbulkan kegelisahan dan penolakan. Standar lah, orang lokal Jepang takut perubahan ;). Kita juga sering kan berada di dalam posisi yang sama.

Kuil Meiji, gambar : pixabay.com
Kuil Meiji, gambar : pixabay.com

Namun, orang asing datang tak terbendung hingga akhirnya menimbulkan konflik sosial dan ekonomi bla bla bla. Kaum Shogun pun terdesak oleh banyak konfrontasi.

Singkat cerita akhirnya muncul pemikiran untuk mengembalikan Jepang kepada pemerintahan “satu komando” di bawah satu kekaisaran yang sah dan berdaulat. Kaisar mah dari dulu juga ada, tapi cuma simbol saja. Dalam keseharian, para shogun ini yang menyebar di banyak daerah dan masing-masing punya wilayah kekuasaan sendiri-sendiri.

Nah, para Samurai yang jadi “tangan kanan” para Shogun itchuuu. Kalau diibaratkan kasta, Shogun = Kasta Bangsawan/warlord, Samurai = Ksatria. Sisanya ya rakyat jelata nan tidak terlalu penting.

Singkat cerita, Meiji lah yang akhirnya berusaha mewujudkan ide ini. Salah satu konsekuensi yang terjadi ya terhapusnya para Shogun dan kelas Samurai.

Tentu tidak segampang itu kaum Samurai takluk setelah selama ini mereka sudah mencicipi kemegahan hidup ala “Kasta Ksatria”. Namanya manusia biasa. Harga diri terinjak lah yaow. Jadilah mereka melawan habis-habisan. Dari sini suami menutup, “Nah dulu inget kan kita nonton The Last Samurai. Inget-inget aja lagi filmnya, kira-kira begitulah ending perlawanan Samurai.”

Tapi aslinya sih tidak semua kaum samurai nyolot. Ada juga yang akhirnya bersedia bergabung dengan kekaisaran atau minimal tidak menolak jika kelas Samurai pada akhirnya dihapuskan.

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

Yang tidak siap dengan perubahan pun tentu tidak sedikit. Dan begitulah hingga akhirnya Si Negeri Matahari Terbit mengawali kiprahnya sebagai raksasa ekonomi Asia. Roda pun terus berputar, nampaknya jatah “Matahari Asia” bentar lagi akan menjadi milik Si Negeri Tirai Bambu :D.

Saya sempat bilang, “Ya mbok sabar aja. Bujukin aja dulu satu-satu biar mau gabung baik-baik, gak perlu pakai kekerasan sama sekali.”

Suami saya malah ngakak.

Ya begitulah mungkin beratnya menjadi pemimpin. Keterbatasan sebagai manusia akan selalu mungkin dikonfrontasikan dengan situasi dan kondisi. Sementara…waktu akan terus berlari.

Mungkin, hampir semua keputusan akan seperti buah simalakama.

Ya karena itu juga kali tidak semua kita dilahirkan menjadi pemimpin 🙂

Leadership, adalah salah satu dari sekian banyak hal terpuji nan terhormat yang tidak begitu saja terprogram otomatis dalam sanubari setiap kita.

Berapa orang yang punya nyali berdiri di garis terdepan, menjadi eksekutor bagi begitu banyak keinginan diantara keterbatasan waktu dan sumber daya? Memangnya kita semua sanggup mengambil keputusan besar yang tidak mudah diantara banyak pilihan sulit?

Beberapa diantaranya mungkin akan terus menerus menjadi perdebatan moral yang takkan ada habisnya.

Human progress is neither automatic nor inevitable… Every step toward the goal of justice requires sacrifice, suffering, and struggle; the tireless exertions and passionate concern of dedicated individuals.  

-Martin Luther King, Jr-

Siapa pun pemimpin Jakarta terpilih di 2017 nanti, terus berbenah Jakarta-ku <3

Indonesia, Bukan Bangsa 2.5 Sen!

Asara, asara …” Seorang penjual parfum tahu-tahu menjajari kami, saya-suami dan anak-anak, yang baru saja keluar dari lift hendak menuju ke Masjidil Haram selepas memarkir mobil di basement mal. Asara = sepuluh (dalam bahasa Arab), maksudnya 10 riyal.

Mafi, mafi … ” Saya menggeleng pelan sambil mengangkat tangan.( Mafi = tidak, bahasa Arab)

Dia masih sempat bertanya, “Indonezi?”

Aiwa.” Jawab saya sambil terus berlalu. (Aiwa = ya, bahasa Arab setempat).

Dari jauh saya menengok dan mendapati si bapak penjual malah tersenyum sumringah. Tidak dibeli malah-malah senyum-senyum? :).

Setelah musim haji berlalu, visa umrah ditutup bagi seluruh  jemaah dari luar Arab Saudi. Di saat-saat seperti inilah, 2 kota suci Mekkah dan Madinah seperti sedang “tertidur”.

Yang cukup menonjol adalah sepinya aktivitas bisnis di saat-saat seperti itu. Termasuk hotel-hotel bintang lima yang memangkas harga sewa kamar habis-habisan di suasana sepi jemaah. Di Masjid Nabawi Madinah yang pagar-pagarnya biasa dikepung para penjual rupa-rupa buah tangan sejak selepas Salat Subuh sama sekali tidak kelihatan sampai malam tiba.

Salah satu penanda ramainya kembali jemaah membanjiri 2 kota adalah kedatangan para jemaah umrah asal Indonesia. Selain jumlahnya  menonjol secara kuantitas, tradisi belanja oleh-oleh menjadi pemikat khusus bagi para pebisnis di seputaran Masjidil Haram di Mekkah dan Madinah.

Saat jemaah umrah dari  Indonesia sudah berdatangan, suasana menjadi ramai seiring dengan geliat bisnis yang mulai bergairah kembali. Pantas saja si bapak penjual tadi senyum-senyum. Mungkin disangkanya kami ini jemaah umrah. Padahal, waktu itu saya tinggal di Jeddah mengikuti suami yang bekerja di sana.

Toko-toko berlabel "X-murah" di Pasar Balad, Jeddah, Arab Saudi
Toko-toko berlabel “X-murah” di Pasar Balad, Jeddah, Arab Saudi

Para pedagang oleh-oleh di wilayah Balad-Jeddah juga punya banyak trik khusus untuk menarik perhatian jemaah asal Indonesia. Coba saja perhatikan banyaknya toko-toko di Balad-Jeddah yang memasang plang nama toko dengan embel-embel bahasa Indonesia, “murah”, toko A murah atau toko B murah dsb.

Di Mekkah dan Madinah pun, tidak perlu sungkan kalau tak bisa berbahasa Arab. Banyak penjual/penjaga toko di sana yang cukup fasih berbahasa Indonesia untuk proses jual beli. Sampai-sampai berbelanja dalam pecahan rupiah pun bisa dilakukan di banyak tempat/toko.

Coba saja lewat di sana, pasti ada saja yang memanggil, “Sini Bunda Cantik. Murah, murah,  …” Hehehe.

Justru di toko-toko seperti itu, harga barangnya malah tidak murah lho ;). Toko-toko di Balad banyak menjual barang-barang yang sama yang dijual di pasar tradisional lokal di Jeddah yang justru jarang disambangi oleh para jemaah karena lokasinya tidak strategis dan kendala bahasa tentunya.

Tidak hanya jumlah penduduknya yang banyak tapi juga “tradisi belanja” masyarakat kita yang menjadi daya tarik sebagai pasar andalan para pebisnis di luar maupun di dalam negeri.

Di lingkungan regional ASEAN, Indonesia harus lebih waspada terkait budaya konsumsi masyarakatnya setelah MEA dicanangkan per tahun 2015 kemarin. Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) 2015 bertujuan untuk meminimalkan hambatan dan aturan dalam kegiatan ekonomi lintas kawasan. Termasuk dalam perdagangan barang dan jasa serta investasi.

Sebagai negara ASEAN dengan jumlah penduduk terbanyak, wajar saja jika Indonesia dianggap sebagai pasar potensial untuk negara-negara lain. Barang dan jasa lebih mudah terdistribusi antar negara ASEAN terkait kebijakan MEA 2015 tadi. Kita semua harus merespons cepat. Salah satunya dengan meningkatkan kesadaran akan hak dan kewajiban sebagai konsumen.

 

7 gerakan koncer

Gerakan Konsumen Cerdas Untuk Peningkatan Indeks Keberdayaan Konsumen 

Berdasarkan data dari Kemenkominfo, Indeks Keberdayaan Konsumen (IKK) Indonesia masih berada di level 34% di tahun 2015. Bandingkan dengan IKK Eropa yang sudah di atas 50% untuk data tahun 2011. Dengan jumlah penduduk sekarang, posisi kita ada di negara konsumen terbesar ke-4 di dunia.

Gambar : Kominfo.go.id
Gambar : Kominfo.go.id

Salah satu korelasi langsung terhadap  (IKK) adalah tingkat pengaduan konsumen kepada pihak penjual jika terjadi ketidaksesuaian dan ketidakpuasan terhadap barang dan jasa yang diinginkan. Makin tinggi IKK = makin tinggi kesadaran konsumen untuk melaporkan/mengadukan/membuat langkah hukum terkait haknya sebagai konsumen atas barang dan jasa yang didapatkan.

Pemerintah mengimbau agar masyarakat selaku konsumen tidak hanya memahami hak dan kewajiban tapi juga MENGGUNAKANNYA saat dibutuhkan.

IKK yang rendah menunjukkan bahwa perilaku konsumen di tanah air harus ditingkatkan keberaniannya untuk memperjuangkan haknya manakala dilanggar. Apa saja hak-hak konsumen yang dimaksud? Poin-poinnya ada dalam gambar berikut :

hak konsumen

 

Hak dan Kewajiban Sebagai Konsumen Online 

Era digital memperkenalkan masyarakat luas kepada transaksi elektronik. Toko-toko berbasis online mulai bermunculan dan sebagian mulai mendapat perhatian lebih dari para konsumen.

Transaksi online melibatkan rupa-rupa penawaran barang dan jasa. Tak heran bila konsumennya pun terus meningkat seiring perkembangan teknologi informasi yang seperti berlari. Maraknya penggunaan media sosial memungkinkan perluasan wadah transaksi online. Lihat saja ramainya penjual dan pembeli berinteraksi via Instagram-Facebook-Twitter dan media sosial lainnya.

Tantangan dalam melakukan transaksi online tentu berbeda. Kasus-kasus penipuan dari kedua belah pihak seringkali tak terhindari.

Salah satu kasus yang pernah mencuat adalah penipuan oleh pihak penjual dengan menggunakan nama tokoh terkenal di tanah air. Sebuah akun di media sosial menggunakan nama salah seorang artis papan atas di tanah air untuk berjualan tas dengan brand-brand ternama yang harganya tergolong mahal.

Akhirnya sang artis melakukan klarifikasi tapi entah apa yang terjadi dengan para korban penipuan yang sudah terlanjur kena harapan palsu.

Harus dipahami bahwa transaksi online TETAP mengikuti hukum dan aturan mengenai hak dan kewajiban konsumen seperti layaknya transaksi konvensional/tatap muka/offline. Yang berbeda hanya WADAHnya saja.

Terkait transaksi online, “UU no.8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen” hendaknya dilengkapi dengan “UU no.11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.”

Jadi, saat melakukan transaksi online dan mengalami perlakuan/tindakan yang tidak sesuai dengan hak kita sebagai konsumen, silakan merujuk kepada 8 pedoman mengenai hak konsumen yang sudah dijelaskan di atas.

Konsumen Cerdas Melakukan 6 Langkah Berikut Sebelum dan Sesudah Membeli!

1- Mencari informasi terlebih dahulu mengenai barang dan jasa yang dibutuhkan sebelum membeli.

Seringkali kita perlu melibatkan pihak yang lebih kompeten terkait barang dan jasa tertentu. Khususnya yang memiliki harga yang cukup mahal. Misalnya bagi konsumen yang awam terhadap  barang-barang elektronik, silakan bertanya langsung kepada teman/pihak yang lebih mengerti.

Koncer 2

2- Maksimalkan tempat menggali informasi pra pembelian.

Di era internet ini, hampir semua hal bisa kita cari via mesin pencari seperti Google. Manfaatkan juga pertemanan dengan berbagai pihak di media sosial. Jangan lupakan forum-forum online yang juga memiliki ragam tema khusus yang melibatkan pihak-pihak mumpuni terkait topik masing-masing. Kumpulkan informasi sebanyak mungkin dari banyak tempat khususnya jika kita tidak memiliki kenalan/teman langsung terkait kebutuhan kita.

3- Perhatikan hal-hal detail

Pastikan kita mendapatkan fasilitas lebih detail terkait barang dan jasa masing-masing. Misalnya : label, kartu garansi dan manual berbahasa Indonesia. Tanggal kadaluwarsa jangan sampai terlewatkan khususnya untuk produk makanan dan obat.

Perhatikan juga asal usul dan identitas lengkap pihak yang bertransaksi dengan kita.

koncer 5

4- Bertanya Sebelum Membeli Mengenai Kemungkinan Penukaran Barang dan Jasa Tertentu

Misalnya saat membeli barang sandang bukan untuk kita sendiri –> membeli baju dan sepatu untuk anak-anak. Pastikan kita sudah tahu apakah barang-barang tersebut  boleh ditukar bahkan boleh dikembalikan jika terjadi ketidakcocokan setelah barang terbeli.

5- Tetap Cermat dalam Perbandingan Harga

Jangan mudah terbujuk dan hanyut oleh potongan harga tertentu. Misalnya : sebuah barang seharga 1 juta rupiah kena diskon 30% dibanding sebuah barang yang sama yang dijual dengan harga 800 ribu rupiah dengan diskon 25%. Hati-hati menghitung harga akhirnya.

Bayangkan bila harga barang menjadi 10 juta rupiah vs 8 juta rupiah dengan potongan harga seperti ilustrasi di atas. Selisihnya lumayan, kan? ;).

6- Mengetahui Tempat Mengadu dan Meminta Perlindungan Bila Mengalami Ketidakpuasan terhadap Barang dan Jasa Tertentu

Pahami lagi mengenai undang-undang perlindungan konsumen yang sudah dibahas sebelumnya. Kenali lembaga-lembaga terkait perlindungan konsumen seperti : YLKI (Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia), Kolom Pengaduan Konsumen di berbagai media, serta BPSK (Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen).

Beranikan diri untuk tetap mengadu dan menyampaikan keluhan walaupun nominal barang terbilang kecil/murah.

pengauan

 

Memajukan Ekonomi Bangsa Melalui Dukungan Langsung Terhadap Produk Dalam Negeri

Beberapa waktu lalu, sebuah brand ternama di Eropa terlibat skandal karena menjual produknya dengan harga sangat mahal dengan biaya produksi sangat memprihatinkan. Brand tersebut memanfaatkan tenaga-tenaga kerja murah di negara-negara dunia ketiga. Indonesia, termasuk negara dengan tenaga kerja berlimpah dengan harga murah, dibandingkan upah tenaga kerja di negara-negara maju.

Sebenarnya tidak sedikit brand level dunia yang menggunakan cara-cara produksi seperti ini. Dengan teknik marketing yang bagus, produk tertentu bisa dijual jauh melebihi harga produksinya.

Ketimpangan inilah yang akhirnya coba dijembatani dengan program “Fair Trade”. Fair Trade dicanangkan untuk perbaikan bagi perdagangan konvensional antar negara.

Fair Trade sendiri mengutamakan dialog, transparansi, untuk mencapai kesetaraan. Bentuk perdagangan ini berkontribusi atas pembangunan berkelanjutan dan menjamin hak-hak dari produsen dan pekerja yang terpinggirkan, khususnya produsen yang berada di negara-negara berkembang.

Banyak aktivis mengkritisi keserakahan para produsen yang memanfaatkan keringat orang lain dengan upah sangat minim padahal harga jual produk tergolong mahal.

Sedihnya, kadang konsumen dari barang tersebut berasal dari negara-negara tempat produksi barang-barang tadi. Saya sendiri, semasa bermukim di luar negeri, banyak melihat label “made in Indonesia” dari berbagai brand-brand internasional yang harganya tidak murah.

Ini membuktikan bahwa sebenarnya kualitas barang-barang yang diproduksi langsung di Indonesia sanggup bersaing secara kualitas. Masalahnya, produk dalam negeri masih sukar bersaing terkait teknik promosi dan “nama besar”.

Tidak sedikit  konsumen yang mengutamakan “gengsi” ketimbang kualitas barang. Misalnya, kalangan yang secara khusus menggemari merek-merek asing lebih karena “label” di balik produk bukan karena kualitas semata.

Dengan potensi konsumen yang terbilang besar, seharusnya produk-produk lokal bisa meraup pasar yang luas di negeri sendiri.

Mengacu ke “Gerakan Konsumen Cerdas” di atas poin ke-3, ke-4 sekaligus yang ke-7 semoga bisa menjadi pedoman bagi kita semua. Fokus kepada fungsi barang terkait kebutuhan, mengutamakan mutu bukan “gengsi”, serta mengutamakan produk dalam negeri. Terlebih lagi dukungan kepada produk dalam negeri berkontribusi langsung kepada kemajuan ekonomi bangsa.

3 pedoman

Indonesia, Bukan  Bangsa 2.5 Sen! 

Dengan kekuatan penduduk yang besar, wajar kiranya bila di masa lalu, Bapak Bangsa kita punya cita-cita besar terhadap negeri tercinta ini. Salah satunya Bung Karno yang sangat aktif berperan dalam politik luar negeri pasca kemerdekaan untuk menunjukkan bahwa Indonesia berhak untuk berdiri sejajar dengan negara-negara besar lainnya.

Pandanglah bangsa kita sekarang. Janganlah hanya terus-terusan menjadi sasaran konsumsi dari banyak negara. Hanya sekadar menjadi “pembeli” dari segenap propaganda produk asing yang sering dipandang lebih mumpuni. Bangsa “penonton” yang minim peran.

Kini, jumlah penduduk tanah air sudah mencapai lebih dari 250 juta jiwa. Tugas besar untuk seluruh rakyat, bukan hanya pemerintah dan segenap jajarannya, untuk terus mengobarkan semangat kemajuan dan kemandirian di berbagai bidang termasuk bidang ekonomi.

Mari  jalankan peran dan optimalkan potensi masing-masing melalui Gerakan Konsumen Cerdas ini. Untuk selanjutnya merapalkan cita-cita besar salah satu bapak proklamator kita :

“Kami menggoyangkan langit, menggempakan darat, dan menggelorakan samudera agar tidak jadi bangsa yang hidup hanya dari 2 setengah sen sehari! Bangsa yang kerja keras, bukan bangsa tempe, bukan bangsa kuli. Bangsa yang rela menderita demi pembelian cita-cita” -Ir.Soekarno-

Indonesia, BUKAN bangsa 2.5 sen!!!

 

***

Sebagian isi tulisan mengacu kepada sumber-sumber berikut ini :

“Perlindungan Hukum Bagi Konsumen Belanja Online” (https://www.hukumonline.com/klinik/detail/lt50bf69280b1ee/perlindungan-hukum-bagi-konsumen-belanja-online)

“Apa itu Fair Trade?” (https://forumfairtradeindonesia.org/fair-trade/what-is-fair-trade/)

“Hari Konsumen Nasional 2016,  Momentum Tingkatkan Martabat Konsumen” (https://kominfo.go.id/index.php/content/detail/7337/hari-konsumen-nasional-2016-momentum-tingkatkan-martabat-konsumen/0/artikel_gpr)

Depresi Pasca Melahirkan (PPD) dan Baby Blues, Antara Penyakit atau Kepribadian?

Yaela enggak kelar-kelar ya bahas Baby Blues dan Depresi Pasca Melahirkan (PPD) hahaha. Baby blues itu sih gejala normal kok. Bukan sesuatu yang gimana-gimana. Depresi Pasca Melahirkan (PPD) itu MURNI penyakit yang tidak ada hubungannya dengan kapasitas kita sebagai ibu dan sebagainya.

[Updated : sudah saya bikinin versi vlognya nih soal tips mengatasi baby blues pada Ibu pasca melahirkan ^_^]

Pahami ini dulu deh sebelum sibuk pamer-pamer kalian tidak mengalami karena kalian tabah, tidak banyak cing cong dsb. Tidak ada hubungannyaaaaaaaaa :D. Hehehe. Memangnya kalau perfeksionis cenderung kena Baby Blues atau bahkan PPD. Enggak ada riset medis yang membuktikan tuh ^_^

Depresi Pasca Melahirkan (PPD) dan Baby Blues
Gambar : best-pregnancy-advice.com

Sedikit sharing, di Irlandia sendiri, pendampingan Baby Blues dan Depresi Pasca Melahirkan (PPD) ini termasuk layanan serius lho sejak kita hamil sampai melahirkan :). Sangat ditekankan bahwa dalam fase perubahan setelah melahirkan, si ibu baru jangan segan-segan berkonsultasi atau curhat dan sebagainya.

Ada bidan khusus yang menangani ini. Dan segabruk-gabruk brosur tentang Baby Blues dan Depresi Pasca Melahirkan PPD ini sudah dibagi-bagikan sejak hamil. Sama sekali tidak ada penghakiman dan tidak ada judgement apa pun dalam brosur.

Tidak pernah kita ditanya-tanya, “Eh kamu perempuan rewel gak? Kamu perfeksionis gak? Kamu nyante gak? Kalau nyante sih kayaknya enggak bakal baby blues deh!”

SEkali lagi, yang ditekankan adalah BAGAIMANA menghadapinya dan hal ini sama sekali tidak bisa dijadikan patokan untuk menilai kepribadian si Ibu :).

Di Indonesia sendiri, sepertinya memang tabu banget ya di masa-masa lalu ngomongin ginian. Saya sih yakin banget sebenarnya tidak sedikit ibu-ibu kita dahulu juga mengalami kondisi ini. Somehow sekarang mungkin kalau ditanya ya sudah lupa. Entah beneran lupa atau memang malu mengakui ;).

Soalnya masih banyak yang menganggap kondisi ini sebagai dosa atau apalah-apalah. Tuduhan manja, tuduhan perfeksionis, tuduhan sok-sok an, dan macam-macam. Padahal ya, siapa pun bisa aja kena.

Depresi Pasca Melahirkan (PPD) Baby BLues
Gambar : pixabay.com

Again, untuk baby blues nya sendiri, ITU NORMAL BANGET lho ;). Jangan merasa lemah apalagi sampai muncul perasaan terkutuk hahaha.

Karena dulu saya pun di anak pertama merasanya gitu. Saya ketiban karma atau apalah. Padahal ya enggak gitu hihihi. Itulah pentingnya memahami soal kondisi ini, agar saat terkena kita tidak kaget atau malah menarik diri. Tapi harus yakin kalau gejala seperti itu somehow akan segera berlalu, asalkan penanganannya tepat ;).

Buat teman-teman yang tidak punya background psikologi, tidak apa-apa sih sharing pengalaman pribadi. Tapi ya, jangan sampai ya asyik sendiri ngambil-ngambil kesimpulan sesuka hati hehehe.

Alhamdulillah buat kalian yang tidak mengalami baby blues ^_^. Lucky you ;). Tapi again, jangan sampai gatal menghubungkan-hubungkan kondisi pribadi diri sendiri dengan orang lain yaaaa. Misalnya tetiba berpikir, “Ah, gue mah enggak kena baby blues soalnya gue orangnya asyik dan santai sih.”

Rasanya sih tidak ada hubungannya antara gaya hidup sehari-hari seorang perempuan dengan kemungkinan dia kena baby blues :). CMIIW juga ya.

Bahkan ya, ada seorang perempuan yang dari anak ke 1 sampai ke 3 sama sekali tidak mengalami hal aneh-aneh. Ealah begitu anak ke 4 dia depresi ;). Anak ke-4 padahal yang normalnya sudah bisa santai karena sudah pengalaman.

Pic from thhis video : https://www.youtube.com/watch?v=ko2LCrpeC_A
Pic from this video : https://www.youtube.com/watch?v=ko2LCrpeC_A

Berdasarkan brosur yang saya dapat kemarin sih, ini lebih ke pengaruh hormon di mana respons orang bisa beda-beda.

Miriplah dengan gejala hamil muda yang berlainan di tiap orang dan tiap kehamilan. Saya mah kenyang yaaaaa, mengalami hamil muda serba drama di 3 kehamilan saya hahahaha. Kenyang juga dinasihati macam-macam oleh orang-orang yang merasa, “Ah, itu karena elo emang drama kali Jee. Lihat deh gue. Hamil muda selalu nyantai. Malah kayak kebo. Makan gila-gilaan.”

Sabaaaaaaarrrrrrr :D. Goloknya umpetin dululah hahahaha.

Saya paham sih, buat yang tidak mengalami pasti deh sibuk berandai-andai sendiri hihihi. Mungkin karena saya begini mungkin karena saya begitu. Ujung-ujungnya ya gitu deh. Malah jadi sotoy ;).

Jangan juga jadi takut melahirkan hanya karena takut baby blues. Busyet deh hihihi. Saya baby blues anak “lumayan” pas anak pertama, lanjut terus nih sampai anak ketiga produksinya hahaha.

Terima kasih kepada teknologi informasi yang menyadarkan saya tentang kondisi pasca melahirkan ini. Khusus anak ketiga karena melahirkan di negara maju jadi lebih terbantu juga pemahaman saya.

Harus diakui jugalah, budaya patriarki yang hegemoninya masih kuat di mayoritas negara-negara berkembang membuat kaum perempuannya masih terasa tabu bahas-bahas ginian.

Kalau laki-laki yang bingung ya wajarlah. Lah ini, sesama perempuan juga masih enggak paham tapi gatal pengin komen-komenan. Masih saja ada anggapan, “Amit-amit jabang bayi, sudah dikasih rezeki punya anak kok ya malah kena baby blues. Salat yang banyak gih!! Minta ampun sama Tuhan!”

Sad yet true. It still happens until now :). Cek saja tanggapan orang-orang, sesama ibu-ibu di timeline terkait hal ini. TIdak sedikit yang beranggapan, “Baby blues itu hanya menunjukkan level kemanjaan seorang perempuan. Makin manja ya makin gampang kena.”

RIP ilmu psikologi? Hahahaha :p

Bahas soal manja-manjaan, apa kabar Princess Syahrini dengan segambreng hestek manja-nya di Instagram. Belum tentu nanti dia pas lahiran baby blues melulu :p.

“Post Natal depression is an illness and not a reflection of you as a mother or as a woman.”

Note : Depresi Pasca Melahirkan (Post Natal Depression/Post Partum Depression) vs Baby Blues adalah 2 HAL YANG BERBEDA.

Jangan minder karena hamil mudanya ribet, atau pasca melahirkannya malah galau … karena balik lagi, kedua hal terbseut sama sekali bukan refleksi kita sebagai seorang Ibu atau seorang perempuan.

Ada yang sotoy dan sok-sok an menghubung-hubungkan antara hal-hal begini dan kepribadian kita, ya udah sih. Biarin saja mereka koar-koar sendiri. Urusan kita ya dengan suami dan anak-anak masing-masing dong ya. Yuk ah, cemungud, cemungud, cemungud eaaaaa :D.

***