Islam, Arab Saudi, dan Hal-hal yang Tidak Bisa Dibeli Dengan Uang :)

Lagi hangat-hangatnya soal kedatangan Raja Salman ke Indonesia 2017, sungguh sulit untuk menahan diri tidak eksis, yes? Hahaha. Kabar dunia Islam.

Kayaknya sudah banyak yang saya tulis terkait pengalaman tinggal di Kota Jeddah selama 2.5 tahun kemarin. Di buku, di blog, dan di Facebook tentunya .

Uniknya, 2 tulisan paling hits di blog yang terkait Arab Saudi itu saling bertolak belakang : “How Islamic are Islamic Countries?” dan “10 Keuntungan Tinggal di Arab Saudi”. Ya memang isinya bagaikan bumi dan langit ya hahaha.

Di tulisan HIAIC misalnya dapat segabruk-gabruk komentar, “Kok sinis banget sama Arab Saudi dan Islam?”

Historic District. Foto : Dani Rosyadi

Tulisan 10 KTDAS sih cenderung aman. Hingga suatu hari ada yang komentar, “Dasar onta!” di fanpage pas ngeshare tulisan itu hahaha. Terkait tulisan ini pula jadi sering mendapat email/inbox semacam ini, “Bagaimana caranya agar saya pindah ke Mekkah atau Madinah ya Mbak? Tolong diberitahu caranya. Saya sekeluarga ingin khusnul khatimah di sana.”

Walah, bingung ya jawabnya . Makanya, saya tidak pernah reply pesan-pesan model begini. Mohon maaf, ya *sungkem*.

Saya rasa di sinilah salah satu persoalannya. Buat sebagian umat muslim, Arab Saudi itu dianggap sebagai representasi ajaran Islam. Kalau ngomongin orang Saudi mungkin bayanginnya selevel Rasulullah dan sahabat ya hehehe.

Sementara di kutub satunya lagi, kayaknya alergi banget sama Arab Saudi. Tapi bisa jadi kutub ini muncul justru karena adanya orang-orang yang saya ceritakan di paragraf sebelumnya .

fotografer Dani Rosyadi Masjid Apung
Masjid Apung, Jeddah-Arab Saudi, fotografer : Dani Rosyadi

Untuk “kaum pemuja Saudi”, sedikit saja kita mengkritik atau melontarkan hal-hal yang di luar ekspektasi mereka, entah mengapa langsung dicap “anti Islam”, “pembenci agama” bla bla bla. Pusing kan?

Malah saya pernah mendapat komentar, “Sok tahu lo! Kayak pernah tinggal di sana aja!!!” Well, heloooooooo … hahaha .

Tapi 2 buku saya, “Bunda of Arabia” dan “Memoar of Jeddah : How Can I not Love Jeddah?” itu dua-duanya menceritakan sisi positif selama tinggal di Kota Jeddah, lho .

Jadi begini, buat saya pribadi bersama keluarga inti saya, tinggal di Jeddah ya memang menyenangkan kok . Gaji gede yang menyebabkan biaya hidup jadi relatif “murah” .

Kayaknya kota-kota besar di Saudi ini dirancang untuk dinikmati oleh “kalangan berada” 😉. Kalau banyak uang ya pasti hepi lah hahaha. Harga mobil + bensin murah, listrik + sembako dan segala macam disubsidi.

Makan di resto tergolong murah. Belanja ke mana-mana serba dilayani. Itu karena kehidupan kaum berada di Saudi ditopang oleh adanya “warga kelas dua”. Siapa mereka? Ya orang-orang di sektor informal yang gajinya jauuuuuhhh di bawah pekerja formal .

Makan di resto di Eropa tergolong mahal lebih karena ada “jasa manusia” tambahan yang dibutuhkan. Man-hour di negara-negara welfare state memang cukup “adil” untuk level informal sekali pun .

Bagaimana dengan di Saudi?

Enak, sih hahaha. Dulu tuh ya, buang sampah saja tinggal bayar 50 riyal sebulan, sampah diangkutan sama Haris (pekerja apartemen). Tinggal taruh saja depan pintu. Nanti Haris keliling mungutin kantong sampah dari lantai 1 sampai 6. Plus 100 riyal sebulan, mobil dicuciin sampai kinclong sama Haris hampir setiap hari .

Mana bisaaaa lo bayar jasa orang segitu di Eropa .

Fore Abbey – Ireland <3

Hal-hal inilah yang saya bahas di tulisan “How Islamic are Islamic Countries?” Karena keadilan sosial adalah salah satu napas utama dalam ajaran Islam di kehidupan bermasyarakat .

Itu baru ngomongin kesenjangan sosial. Belum ngomongin gaya hidup lainnnya .

Aturan-aturan khusus di Arab Saudi juga sering disorot oleh dunia internasional sebagai aturan Islam. Umumnya oleh kalangan non muslim. Oleh beberapa teman India di Ireland misalnya, saya ditanya, “Eh, kenapa sih di agama Islam perempuan dilarang menyetir?”

So pasti saya tegaskan, kalau aturan itu khusus di Arab Saudi saja. Bahkan di negara-negara Timur Tengah lain yang mayoritas muslim, tidak ada aturan seperti itu .

Sorotan lain adalah aturan bahwa di Saudi tidak boleh mendirikan rumah ibadah selain rumah ibadah umat muslim. Saya selalu tekankan bahwa itu BUKAN aturan Islam. Banyak juga lho komentar di forum-forum agama yang menuduh, “Islam sih mana bisa hidup damai dengan agama lain. Mereka punya berbagai aturan diskriminatif.”

Irlandia *loved*

Sayangnya, kalangan muslim sendiri memang banyak yang memimpikan hidup “Islami” ala Arab Saudi. Untuk teman-teman non muslim dari negara lain, saya rajin lho mempromosikan Indonesia dan Malaysia sebagai dua negara mayoritas muslim yang punya “cita rasa” berbeda dengan Timur Tengah hehehe.

Cadangan minyak yang dahsyat ikut menyokong perekonomian Kerajaan Arab Saudi . Hal ini yang sering diabaikan hingga mendatangkan komentar seperti, “Saudi kaya itu karena berkah dari Allah sebagai negara suci.”

Ngggg…yang ada itu kota suci kali yaaaaa, Mekkah dan Madinah. Negara suci emang ada? .

Pendapatan tertinggi Kerajaan Saudi memang didominasi oleh ekspor minyak terkait posisi Saudi sebagai negara kedua penghasil minyak terbesar di dunia. Menghasilkan minyak terbanyak tidak selalu berbanding lurus dengan peningkatan kehidupan masyarakat.

Karena nomor satu itu Venezuela lho . Toh buktinya Venezuela gagal menghalau korupsi hingga tumbang begitu cepat saat harga minyak dunia berguncang.

Berbeda dengan Kerajaan Saudi. Saudi cukup piawai mengolah kelebihan minyak mereka . Dengan cerdas, Saudi sukses berkolaborasi dengan negara-negara teknologi maju dan mengolah cadangan minyak yang menguntungkan bagi berbagai pihak.

Padang Badr (The Badr Sand Dune), Arab Saudi

Saudi tergolong negara yang paling efisien dalam mengelola minyak . Biaya cukup kecil untuk kualitas yang bagus. Saudi pandai memilih teman bisnis tanpa harus merendahkan diri sebegitu rupa. Yup, temenan sama Amerika Serikat dalam mengelola minyak itu sudah lama. Kita tahu sendiri negeri adidaya ini punya keunggulan teknologi dan pengalaman bisnis yang caem .

Kasus Saudi mungkin bisa dipetakan terhadap kisruh Freeport. Jangan saya atuhlah yang bahas. Malu sama daster hahaha .

Sektor migas menyumbangkan sekitar 70% dari total penerimaan Kerajaan Saudi. Sudah rahasia umum, dengan kondisi harga minyak yang gonjang ganjing beberapa tahun terakhir, perekonomian Saudi pasti terkena imbasnya.

Internal Saudi sendiri sudah banyak berbenah kok. Pencabutan subsidi dari berbagai bahan pokok dan listrik sudah mulai ditarik. Sebentar lagi mungkin akan ada aturan penarikan pajak penghasilan. Banyak proyek infrastruktur yang ngadat. Tidak sedikit perusahaan yang bermasalah dengan gaji karyawannya.

Tenaga kerja Indonesia di sektor konstruksi juga sudah mulai banyak yang pulang sejak setahun terakhir. Gaji macet. Bukan hanya pekerja informal. Ekspat-ekspat di sana, yang selevel manajer segala macam banyak yang ketar ketir menunggu pembayaran yang belum kunjung selesai. Itu fakta .

Pantai Thuwal, Saudi 🙂

Tapi seberapa jatuhkah ekonomi Saudi? Nah ini yang harus hati-hati melihatnya. Karena Saudi sendiri MEMANG TAJIR beneran hehehe. Kalau enggak salah, rasio utang terhadap GDP juga tergolong rendah .

Selama ini, Saudi juga tergolong “bersih” dalam pengelolaan keuangan negara. Cek di data Indeks Persepsi Korupsi (IPK) tahun 2015, Saudi cukup bagus di angka 52. Negara-negara yang IPKnya di atas 50 dianggap “Bagus” . Mumtaz! Hehehe .

Sejak tahun 2016, pemerintah Saudi juga mengeluarkan komitmen untuk melepaskan diri dari ketergantungan Sumber Daya Migas dan mulai menggarap sektor lain. Mungkin terkait hal itu juga, sekarang Raja Salman beserta tim aktif bertandang ke mana-mana .

Tentu kita berharap Indonesia bisa menjadi salah satu tempat berlabuh untuk urusan investasi Sang Raja ya . Aamiin.

Jangan sampai kita lebay tidak jelas juga. Baru juga rencana sudah hebohknya kayak apa hahaha. Ingat lho, RENCANA. Belum benar-benar kejadian.

Jangan sampai kita malah dengan nyinyirnya membandingkan RENCANA ini dengan realisasi investasi yang sudah masuk dari negara-negara lain, termasuk China yang entah kenapa sangat dibenci sekarang ini . China dan negara lain SUDAH investasi, sementara Arab Saudi baru RENCANA, wooooiiiii .

Kabar dunia Islam
Padang Bahrah, Arab Saudi

Tentu kita berharap baik Arab Saudi maupun China atau negara-negara besar lainnya beramai-ramai berinvestasi di Indonesia. Enggak usah dikait-kaitin melulu sama agama dan konspirasi kenapa sih?

Kok malah dijadikan bahan beranteman baru? *pijetKening*.

Ah ya, untuk pertanyaan, “Mengapa hengkang dari Kota Jeddah padahal katanya gajinya gede bla bla bla?”

There are things that money can’t buy dong ya . Hidup ini tidak melulu soal bahan pokok harus murah, harus punya mobil bagus bla bla bla, punya koleksi barang mahal endebre-endebre, gaji tanpa pajak dst dst.

Ada lebih banyak hal yang ternyata tidak bisa dibeli uang. Tidak ada hubungannya dengan harga-harga . Nah, yang begitu-begitu itu yang bisa saya dapatkan dari pengalaman hidup di Irlandia Walaupun pajaknya terekdungces, harga barang gak semurah di Saudi, harga bensin juga ngek ngok. But I do love living in Ireland .

Walau tentu tetap banyak yang bisa dikeluhkan dari Ireland :p. Tidak ada tempat yang sempurna kalau masih level hidup di dunia, yes? 😉

Saya juga tidak tahu pasti mengapa hal-hal yang saya yakini adalah ajaran-ajaran utama dalam agama saya justru bisa saya rasakan efeknya di negara se”kafir” Irlandia hahaha .

Ring of Kerry Ireland by Dani Rosyadi
Irlandia, pic by : Dani Rosyadi

Remember, there are things that money can’t buy. Termasuk bisa terus berada dekat dengan keluarga tercinta, sesuatu yang menjadi dilema terbesar bagi perantau seperti kami-kami ini .

Zaman Kegelapan Eropa Kilkenny Castle

Zaman Kegelapan Eropa : Kastil Kilkenny di Irlandia

Zaman Kegelapan Eropa : Kastil Kilkenny, peninggalan dari abad ke-13 yang didirikan oleh bangsawan Inggris yang bermukim di wilayah Kilkenny saat Kerajaan Inggris Raya masih menguasai Pulau Irlandia secara keseluruhan.

Kastil ini direnovasi di abad ke-19 dan dijadikan tempat wisata. Hingga kini, kastil Kilkenny masih menjadi salah satu atraksi turis andalan di Kota Kilkenny, Republik Irlandia.

Zaman Kegelapan Eropa

 

Di dalam kastil tidak boleh mengambil foto. Galak euy penjaganya hihihi. Beberapa kali saya kena tegur karena anak-anak pecicilan dalam kastil .

Ke sananya sudah hampir 4 tahun lalu. Anak-anak masih unyu-unyu. Si nomor 2 masih 2 tahun lagi kepala batu-kepala batunya hahahaha.

Ruangan-ruangan dalam kastil sangat mewah. Lengkap deh. Ruang duduk sama ruang rekreasi saja bisa beda gitu. Ruang membaca juga ada. Meja makannya sangat lebar walau konon dalam sehari-hari, yang makan di situ hanya anggota keluarga inti.

Bagaimana mereka memaintain rumah sebegitu besarnya? Belum lagi halamannya. Ya pakai simbok dooooongggg hihihi.

Di abad 12, perbudakan sudah mulai dihapuskan di wilayah UK dan Irlandia. Tapi digantikan dengan sistem tuan tanah dan feodalisme.

Tuan-tuan tanah yang umumnya berasal dari kaum bangsawan, secara turun temurun menguasai lahan yang luas. Sebagian rakyat kurang mampu berlindung kepada para tuan tanah ini. Mereka-mereka inilah yang dijadikan pelayan di kastil-kastil besar milik kaum bangsawan dan tuan tanah.

Kalau lihat di bukti sejarah, perbedaan tempat tinggal antara si kaya vs si miskin jomplang banget. Misalnya nih, dalam keluarga miskin, ukuran rumahnya paling cuma 2-3 meter. Sementara keluarga kaya, halamannya saja bisa berapa hektar hahaha .

Begitulah kehidupan masyarakat di Eropa Barat di Zaman Kegelapan Eropa (Dark Ages). Mulai abad ke-14, masa Renaissance dimulai. Renaissance, abad ke-14 sampai 17, semacam masa peralihan dari Zaman Kegelapan ke Zaman Modern.

Kekuasaan kerajaan berbentuk monarki mewarnai Masa Pertengahan di Eropa. Raja-raja berkuasa secara turun temurun. Mereka juga cukup dekat dengan Gereja. Ibaratnya, kekuasaan mereka “dilindungi” oleh Gereja.

Zaman Kegelapan Eropa Kilkenny Castle
Kilkenny – The View from the Castle

Saling memanfaatkan lah ya mungkin hehehe. CMIIW.

Dalam rentang Renaissance tadi, muncullah paham Protestan untuk menentang kekuasaan Gereja Katolik yang dianggap terlalu mengekang.

Salah satu kritik keras dari Marthin Luther, salah satu penggagas utama paham Protestan, adalah diperjualbelikannya surat pengampunan dosa. Menurut kalangan Protestan, hubungan Tuhan dan Manusia tidak perlu menggunakan campur tangan manusia lain. Apalagi ini dijadikan “bisnis” atau semacam itulah.

Korupsi yang terjadi gereja-gereja Katolik juga memunculkan perlawanan dari pihak yang sama. Pertentangan antara Katolik vs Protestan ini juga memicu pertikaian ratusan tahun yang penuh konflik dan darah.

Perlahan-lahan beberapa wilayah Eropa melepaskan diri dari Monarki Absolut dan Feodalisme. Terutama di akhir abad ke-18 dan awal abad ke-19. Salah satunya ya kaum komunis yang memperjuangkan nasib kalangan buruh. Belakangan, di wilayah Rusia, Lenin memperjuangkan nasib petani miskin yang dianggapnya sama terpuruknya dengan kalangan buruh.

Zaman Kegelapan Eropa
Black Abbey – Kilkenny

Termasuk perlawanan terhadap sistem kerajaan dan tuan tanah yang dianggap menghisap rakyat kecil itu.

Paham komunisme yang dianggap memperjuangkan kesetaraan dalam masyarakat ini juga menginspirasi kalangan muda dari negeri-negeri terjajah seperti Indonesia. Bersinggunganlah paham ini dengan Islam yang menjadi agama mayoritas di Indonesia saat itu.

Makanya jangan heran, tidak sedikit pejuang kemerdekaan bangsa kita yang komunis iya tapi muslim juga iya 🙂. Karena sebenarnya antara komunisme dan Islam juga tidak 100% bertolak belakang. Keadilan sosial adalah hal yang sama-sama diperintahkan dengan keras baik dalam Islam maupun komunisme.

Cumaaaaaa … caranya mungkin beda. Somehow kaum komunis ini entah mengapa jadinya menghasut orang miskin untuk benci kepada orang kaya :p. Segala tanah milik orang lah mau dibagi-bagi seenaknya. Urusan tanah ini konon yang memperuncing hubungan partai-partai komunis vs kalangan Islam pesantren di tahun 50 dan 60 an.

Tapi begitulah hidup, ya. Urusan apa pun, emang paling nikmat kalau digoyang pakai isu agama :p. Sedep-sedep bikin sakaw gimana gitu :p.

Itulah mengapa Karl Marx, si penulis buku-buku tentang Marxisme, melontarkan kritikannya yang terkenal, “Religion is the opium of the people.” Marx mengkritik kekuasaan Gereja di masa itu.

Candunya yang sudah terkenal dari ratusan tahun yang lalu. Di mana umat Katolik mau mohon ampun saja kudu beli surat tertentu dari Gereja dengan jumlah tertentu. Tentunya dengan ancaman, “Mau beli suratnya atau mau masuk neraka?”

Zaman Kegelapan Eropa

-Kilkenny, City Center-

Ya orang pasti takutlah sama para pastor yang dianggap memiliki ilmu agama lebih mumpuni 🙂.

Ancaman yang sama, walau mungkin untuk konteks berbeda-beda, terus menerus kejadian … sampai sekarang 🙂.

Ah, kenapa jadi serius. Padahal cuma mau share vlog doang hehehe.

Well, tak mudah menyembunyikan kesedihan karena cukup lelah menyaksikan sejarah yang sama terus berulang tanpa kita mampu berbuat apa-apa untuk mencegah :'(.

Yawdah, bikin vlog ajaaaa yang hepi-hepi joy-joy hihihihi :p.

Mohon maaf bila tulisannya kurang berkenan *sungkem*.

“The use of traveling is to regulate imagination with reality, and instead of thinking of how things may be, see them as they are.” – Samuel Johnson

#traveling #vlog #irlandia

Kumpulan Emak Blogger

Mama Yeah

Masih ingat akun ini gak sih? Hihihi.

Akun ini sempat ramai beberapa tahun lalu di kalangan emak-emak. Akun Mamayeah ini dibuat dan popular via Twitter.

Tweet-tweetnya setajam silet, semacam sarkasme sebagai respons kepada makin membahananya perselisihan kaum emak-emak. Ya you knowlah, ASI vs Sufor – Melahirkan normal vs SC – dan yang paling hits tak lekang ditelan zaman … ibu bekerja vs ibu di rumah!

Masih inget beberapa tweet-tweet dari akun si MamaYeah sebelum akhirnya akunnya direport ramai-ramai dan akhirnya dihapus hahaha.

“Eh anakku ketawa! Twitpic ah. Eh anakku makan! Twitpic ah! Eh anakku napas! Twitpic ah. Eh anakku ga ngapa-ngapain! Twitpic ah.”

#Bangganya setelah jago main ABCKids, sekarang bayiku udh jago ngulik app CNN. Pasti ntar keterima TK internasional. Semua berkat iPad.”

”Haree genee sibuk cari diskonan Pampers di koran? Clodi dong clodi! Save the environment, save the world. Ciyeee…”

“Pa, tabah ya, ternyata kita harus ngemil beras dulu 2 bln. MamaYeah mending mati daripada si buyung nggak sekolah di TK Internasional…”

Sarkas abessss hahahaha .

Ini lagi beberapa yang bikin emosi jiwa tapi tetap ngikik-ngikik hihihi :

“Bosen debat panggilan ibu. Gmn dgn panggilan pembeti? ART? Pembantu? Bedinde? Nanny (nanny niyeee)? Sitter? Suster? Ncus? Mbak? Kok ribet?”

“Baju anak kalian apa? Kalo baju anak-anak kami gabungan antara Gap, Mothercare, H&M Kids, dan jait sendiri. Maklum, super mom.”

Gambar : va-mom.com

“Goodnight mommies. Tidurlah biar kuat netekin nanti mlm… Ingat, susu formula adalah minuman setan, dan kalo nggak ASIX, ur a devil mom.”

“Selamat bekerja, working moms! Ninggalin anak niyeee…

“Selamat menyambut hari, para IRT! Ingat, pertanyaan yg paling penting “Gak sayang kuliah tinggi2 ujungnya ngangon anak aje?” IRT niyeee…”

“Shiloh Jolie-Pitt dan Suri Cruise juga robot doang, kok. Tenang aja, bayi kita yg paling sempurna.”

Sayangnya akun ini secara terbuka dan eksplisit menyindir-nyindir beberapa panutan ibu-ibu. Termasuk beberapa blogger-blogger perempuan yang lagi hits saat itu.

Mungkin Mama Yeah ini refleksi dilema Ibu di Kehidupan Nyata vs Tuntutan Parenting di Buku dan Ceramah ini itu oleh ahli nganu dan ngono (hahaha) vs Peer Pressure .

Apalagi dunia digital sekarang ini sangat memungkinkan kita untuk intip-intip sana sini hihihi. Atau sebaliknya, kita yang jadi kepengin diintip-intip .

Saya juga tidak paham sih harusnya “ibu yang baik” itu harus bagaimana. Karena kehadiran media sosial membawa perubahan gaya hidup bagi banyak orang. Termasuk para emak-emak dong ya .

Misalnya kita suka menulis blog tentang perkembangan anak. Maksudnya sih buat kenang-kenangan sendiri, eh ternyata banyak yang baca. Ini mungkin kejadian sama Mbak Astri Nugraha yang punya keluarganugraha dot net.

Working at Home – Mommy (Gambar : www.alexisgrant.com)

 

Saya baca blognya dari tahun 2005, anaknya baru satu. Sampai anaknya 4 tahun2010 Mbak Astri masih rajin ngeblog. Fansnya banyak tapi yang nyinyir juga ada .

Sekarang makin ramai, ya. Walau blogger ibu-ibu sekarang trennya sudah bergeser. Topik-topik yang sering ditulis sudah beda lagi kecenderungannya.

Mungkin sih begini ya, umumnya masa-masa “pencarian jati diri” itu ada di anak pertama . Bingung mau bandingin sama siapa. Jadilah kita bandingin sama hasil pencarian kita di kolom search di Google hihihi.

Dari situ kenalan dengan blog-blog ibu-ibu yang share ini itu tentang anaknya. Atau juga masuk forum-forum di mana para Ibu saling share pengalaman masing-masing. Kalau sekarang juga sudah ramai di Instagram-FB dan media sosial lainnya.

Anak pertama penginnya serba ideal. Kalau perlu, 24 jam kita siap di dapur dan bersumpah setia, “Anak gue enggak boleh makan Indomie seumur hidupnya!” Hahhahaha.

Tempo hari juga ada blogger yang menulis tentang FOMO, Fear of Missing Out. Di mana FOMO ini sebenarnya “penyakit era medsos” yang juga sangat mungkin dialami oleh para ibu-ibu.

FOMO, dalam tingkat kronis, akan terus menerus menghidupkan keinginan untuk mengikuti hal-hal yang orang kebanyakan lakukan. Semacam haus untuk merasakan/mencoba/mendapatkan hal-hal kekinian yang lagi hits.

Kumpulan Emak Blogger
Gambar : bloggingmatters.com

Misalnya ya itu tadi di contoh-contoh Mama Yeah. Lagi rame pakai clodi, rame-rame pengin pake clodi. Beli berlusin-lusin walau menderitanya minta ampun ngajarin embak cara mencuci clodi yang baik dan benar. Mau nyuci sendiri kan pegel, Cyin! Hahaha.

Tapi bedakan dong ya antara kaum FOMO vs mereka yang benar-benar terinspirasi oleh diri sendiri . Tidak sedikit kan yang bela-belain pakai clodi karena memang terdorong oleh hasrat pribadi ingin berkontribusi yang lebih baik untuk lingkungan . Orang-orang seperti ini jelas ada.

Lama-lama menjadi absurd mau menilai siapa yang mau pamer, siapa yang hanya ikut-ikutan, siapa yang beneran idealis. Ribet lah.

Makanya, jangan dibikin susah hidup ini. Dengan segini banyak sumber informasi berhamburan dari mana-mana, hal yang paling rasional dan memungkinkan adalah “menguasai” diri sendiri .

Ibuk-ibuk, kalau lagi PMS atau semacamnya, jangan malah blusukan di timeline. Nanti anak lagi susah makan, ada orang lain yang kebetulan share anaknya gampang makan, jadi sensitip, “Mau pamer aje lu, Nyet!” Kan serem yak hahahaha .

Gambar : ctworkingmoms.com

 

Mustahil kita mau mengatur-atur bagaimana orang lain harus bersikap dalam akun pribadi mereka masing-masing .

Tapi dari sini kan kita juga bisa bercermin. Eh, jangan-jangan kita yang dalam posisi sebaliknya . Tapi ingat, ngomongnya ke diri sendiri ajaaaa, enggak usah di-status-in lagi hahaha.

Hal penting lainnya adalah tidak pernah melupakan kalau status Ibu itu tidak otomatis melepaskan kita dari identitas pribadi kita.

Saya kurang suka dengan istilah, “Anak itu mencerminkan didikan orang tuanya.” Di mana yang paling sering kena “bogem” ya ibunya lah .

Misalnya saya 7 bersaudara, sifatnya juga 7 kombinasi. Diantara ber7, ada 4 orang yang sangat mudah bergaul. Ada 3 orang yang agak sulit menjalin pertemanan di lingkungan baru. Saya termasuk yang 3 orang ini. Waktu kecil, ada yang makannya gampang, ada yang harus menangis meraung sejam baru mau makan.

Ada yang pendiam, ada yang seperti saya, walau agak susah bergaul tapi cerewetnya naudzubillah hahaha. Ada kakak saya yang depan orang lain seperti patung tapi di dalam rumah paling bisa membuat seisi rumah terpingkal-pingkal.

Adik saya lebih luwes dan sangat plegmatis secara kepribadian. Bandingkan dengan saya yang punya sifat koleris garis keras . Makanya, adik saya jarang berantem secara frontal dengan teman-temannya sementara saya lumayan sering bikin teman-teman saya menangis karena mulut saya yang seperti silet ini hahaha. Sungkem dulu .

Gambar : thestri.cafemom.com

Jadi kami ini cerminan siapa???? APa orang tua saya bunglon apa gimana hahaha.

Makanyaaaaaaa, rileks saja, yes? . Kita lakukan yang terbaik yang kita bisa tapi tidak perlu sampai gimana-gimana banget. Apalagi sampai harus stres lihat anak orang lain.

Mau anak-anak kelak gimana….you are you! . Mereka akan menjadi individu-individu berbeda saat dewasa nanti. Kombinasi dari banyak hal yang akan menjadikan mereka seperti apa.

Banyak faktor lah. Tidak berarti jadi terlalu santai jugaaaaaa . Ya jangan dong. Tanggung jawab jangan lupa .

Have a nice monday, Moms. Jangan lupa bahagia .

Perekam Suara PC : Merekam Suara dengan Aplikasi Voice Recorder di Windows

Untuk bikin vlog, perekam suara PC salah satu andalan saya. Kadang (eh kalau saya hampir selalu sih hihihi), vlog perlu dilengkapi dengan backsound suara non musik. Misalnya, ya suara kita sendiri hahaha.

Biar gegayaan gitu yaaaaa, sekalian melampiaskan obsesi masa kecil juga untuk menjadi pembawa acara atau dubber :D. Selain pengin jadi foto model dan bintang film tentunya hahaha. Ish, betapa inspiratifnya cita-cita masa kecil dulu :p.

Baca juga : “Download Musik Latar Vlog dari Youtube Audio Library

Siapa sangka ya, era digital terus berlari. Sekarang, kita bisa menjadi foto model dan bintang misalnya di … akun media sosial kita sendiri! Hahaha. Apalagi sekarang ada yang namanya selfie, gak perlu fotografer dan studio mahal, Cuy! :D.

Lengkap dengan Insta-Beauty-nya jadi enggak perlu make up artist segala *lemparTasKosmetik*.

Menjadi presenter juga sekarang bisa! Di … vlog-vlog bikinan kita sendiri! Hahaha.

https://www.youtube.com/watch?v=kFa9BqN9u0w

We can be everything lah ya di era media sosial nan ngehits sekarang ini ;).

Untuk merekam suara sendiri sekarang juga sudah banyak aplikasi buat Android atau iOs di smartphone masing-masing. Tapi generasi laptop kayak saya masih tergantung banget sama Windows, nih.  Perlu yang namanya perekam suara PC dan semacamnya itu. Emak-emak jadul masih susah move on dari laptop :p.

Merekam suara juga sudah diakomodasi dengan software bawaan Windows, “Voice Recorder”. Enggak usah bingung nyarinya ;).

Cara menggunakan perekam suara PC dengan aplikasi “Voice Recorder”

1.- Tinggal ketikkan “Voice” atau “Sound” di kolom search Windows. Nanti hasilnya akan keluar, tinggal di-klik dari situ saja ;).

voice recorder hasil search

2. – Tampilan aplikasinya juga sederhana banget. Seperti ini tampilannya :

Perekam suara PC voice recorder klik tombol hijau

Tinggal pencet tombol hijau yang di tengah bagian bawah itu untuk mulai merekam suara kita.

3. – Sebaiknya ya, siapkan dulu naskah untuk dibacakan walau cuma 2-3 kalimat biar seru gitu kayak presenter beneran hehehe. Kalau ngomong masih sambil mikir biasanya malah belibet.

Kalau sudah ada naskah kita tinggal mengatur tekanan suara yang jauh lebih mudah dilakukan jika sudah ada teks yang tinggal dibaca. Tapi kalau lebih sreg langsung ngomong tanpa naskah ya bisa juga sih hehehe. Maklum lah ini juga tips ala-ala :p.

4. – Pakai headset untuk hasil yang lebih baik. Kalau direkam langsung tanpa bantuan headset/mic atau semacamnya, hasilnya kurang mulus euy hehehe.

5. – Saat suara sedang direkam, tampilannya seperti ini :

perekam suara PC

Kalau sudah selesai, klik tombol hijau dengan kotak putih di tengah itu. Lihat gambar di atas lagi, ya. Nanti filenya  otomatis tersimpan dan sudah ada default namanya Recording(x). Tapi bisa di-rename untuk memudahkan penggunaan ke depannya.

Untuk merekam bagian selanjutnya ulang lagi dari langkah nomor 2 dan seterusnya.

***

Kayaknya sih, di Android atau iPhone kita bisa instal banyak aplikasi yang sejenis dengan Voice Recorder ini. Saya pernah instal di Android, lupa namanya. Tapi tinggal search pakai kata kunci “voice recording” atau “sound recording” juga banyak banget tuh hasilnya. Gratis kok rata-rata hehehe *ciyumDompet*.

Cuma belum pernah pakai sih. Lebih praktis di laptop kalau saya. Saya ini tipe jadul gitu lah. Fesbukan saja mesti pakai laptop hahaha. Lebih puas ngetiknya. Makanya, kalau bikin status di Facebook tuh, jarang deh kurang dari 1000 kata hahaha. Sekalian bikin buku di Fesbuk kali Mbak? :p.

Jadi tidak berarti merekam suara harus via Windows dong ya ;). Kebetulan aja saya pakainya memang aplikasi Voice Recorder bawaan Windows :D. Selama ini kayaknya sudah cocok saja. Mungkin lain kali mau nyobain juga merekam suara via aplikasi di smartphone gitu-gituan. We’ll see :).

Semoga infonya berguna ya ^_^. Tetap semangat nge-vlognya yaaaaaaa :D.

**

Membeli Pashmina Grosiran di Bab Shareef Jeddah Arab Saudi

Tempat belanja di Jeddah Arab Saudi ini favorit banget di kalangan ibu-ibu teman saya di masa saya tinggal di sana. Entah sekarang mereka masih pada doyan ke sana apa enggak.

Saya sendiri rada males diajak ke sana waktu dulu-dulu karena kan harus nenteng-nenteng bayi hehe. Waktu di Jeddah anak kedua saya baru lahir. Tapi demi berburu oleh – oleh yang murah meriah ? menjelang mudik ke Indonesia, jadilah nekad H-1 sebelum lepas landas dari Jeddah, saya akhirnya menjejakkan kaki di Bab Shareef ini.

Bab Shareef, gambar : travbuddy.com

Para perempuan janganlah berani-berani dateng ke tempat belanja ini sendirian. Semua penjual di sini beserta tukang jaga toko nya laki-laki semua booo. Mending kayak saya kemarin ke sananya berempat plus para krucils.

Tempatnya sendiri sih lumayan kok. Banyak yang bilang ini versi Tanah Abangnya Jakarta. Tapi tempatnya sih enggak seramai Tanah Abang dan tempatnya lebih terbuka. Adem-adem banget sih enggak, cuma jauh lebih asik lah cuacanya. Sepanas-panasnya Jeddah, enggak pernah ada cerita bermandikan keringat la yaow :p.

Pasar satu ini belum setenar Commercial Corniche Center dan sekitarnya sih emang. Tempatnya juga agak jauh dari pusat perbelanjaan yang dikenal orang-orang sebagai Balad. Daaaannn, saya salah ya booo, dulu saya kira kalo ke sini agak susah ketemu penjual yang bisa bahasa Indonesia. Ternyata banyak yang bisa!

Malah mereka rata-rata susah tuh pake bahasa Inggris. Tapi ada juga yang bahasa Indonesianya ala kadarnya. Untung kemaren pas ke sana, salah satu rombongan sirkus ada yang gape bahasa Arab (thanks yah Mba Ira ^_^).

(Note : sr = saudi riyal, 1 sr = kira-kira 2300 rupiah, kurs tahun 2011 nih :D).

Pashmina nya kebanyakan “made in india” atau “made in china”. Yang India punya ini yang harganya miring gag kira-kira hehehe. Dulu, satu lusinnya rata-rata 60 – 200 sr saja. Modelnya lucu-lucu deh. Bentuknya kan seragam lah persegi panjang gitu dengan ukuran yang beda-beda.

Misalnya yang motif garis-garis, per lusin 70 sr. Contoh nya bisa dilihat di bawah. Si banci tampil kesempatan banget yaaaaa hahaha. Ya biar kelihatan kalau dipakai tuh caem loh ;).

Tapi yang India punya ini luntur sih :(. Yaaaa, sesuai lah ama harganya :p. Jangan sampe dibarengin masuk mesin cuci ntar meleber kemana-mana.

Nah, yang sebelah ini agak mahal punya (merah). Bahan brokat gitu. Selusinnya 100 sr. Bahannya enak banget, gampang diatur dan bisa dimodelin macem-macem. Satu lusin ada 12 warna yang berbeda. Tetep kan lebih murah dari Indo punya ;). Satu buahnya kan jadinya sekitar 20 rb sajah :D.

Ini favorit saya. Enggak perlu pake peniti. Tinggal lilit-lilit doang.

Btw, penjual-penjual disini jangan harap kayak di Indonesia yah. Mereka cuek banget. Malah ada yang kalau kita masuk ke tokonya, dieeem aja di pojokan. Ditanya-tanyain jawabnya males-malesan. Hampir enggak ada yang namanya tawar-menawar. Harga pas saja. Jadi kalo kita enggak jadi beli, ya si penjual cuek saja dan jangan harap dikejar-kejar yeeeee :p.


Nah, yang ini satu lusinnya 80 sr saja. Bahan kaos pake rimpel-rimpel gitu. Caem yah *uwel-uwel pipi mba Ani hihihihi*. Satu lusin ada 12 warna berbeda juga.

Pashmina-pashmina ini dijual dalam bentuk satuan juga di segala toko berlabel X murah, tapi per satuannya dijual 10 sr. Kalo buat oleh-oleh sih mending ke Bab Shareef kan, bisa beli beberapa lusin sekaligus buat orang sekampung :D.

Yang ini bahan kaos. Adem banget. Selusin cuma 70 sr juga. Bahannya elastis jadi bisa banget buat dipake model turban yang banyak tutorialnya tuh di youtube :D.

Model jilbab kayak gini kurang cocok buat emak-emak ber-bayi yang bayinya doyan tarik sana sini :P. Jadi saya ber turban ria hanya untuk contoh doang :p. Dan pas ada ajang foto-foto aja (Situ model? Hahaha).

O ya, di Bab Shareef jarang ada yang jual satuan. Belinya mesti lusinan. Tapi kadang ada yang berbaik hati mau jual setengah lusin. Tapi kan pashmina kepake banget yah di Jeddah, jadi bisa lah bagi-bagi ato tuker-tukeran ama temen.

Yang ini juga model kaos. Tapi cuma 65 sr per lusin. Bahannya tipis, adem, dan elastis. Enaknya kalo pake bahan ini, jilbabnya enggak merosot gitu, jadi ‘kokoh’ lah  atau apa ya istilahnya, pokoknya bisa bertahan lama biarpun si dedek bayi sibuk isengin jilbab emaknya :P.

Bisa dipake tanpa daleman dan tanpa bantuan peniti sama sekali looohhhh ^_^.

Selain pashmina, di bab shareef juga banyak banget sajadah dan lain-lain. Ada yang buatan india atau cina yang murah meriah. Ada pula yang kualitasnya agak bagusan misalnya buatan Syria atau Maroko. Cuma ya gitu belinya lusinan.

Yang motif kotak-kotak di sebelah harganya juga 70 sr per lusin. Bahannya lebih tipis dan agak licin, ukurannya juga lebih kecil jadi agak susah mau dipake jadi turban. Model lilit-lilit aja kali ya kayak yang diperagakan model di sebelah #eaaaa :p.

Di tiap lusin ada 6 motif berbeda, satu motif dapet 2 buah jadinya.

Sebenernya banyaaaak banget jenis-jenis pashmina. Dari tadi kog enggak ada yang di atas 100 sr per lusin sih? Kelihatan yeee yang nulis enggak pernah beli yang mahal-mahal :D.

Ada sih yang bahannya oke, sekitar 180 sr per lusin, saya punya 1. Dikasih oleh salah satu teman yang baik hati dan tidak sombong (peluk mba Ira :D). Sayang, tak ada bukti foto.

Nah, jadi oleh-oleh dari Jeddah tidak harus sajadah, kurma, boneka Unta saja dong ya. Pashmina kan lagi musim tuh, bisa dipake model macem-macem, dan bertebaran tutorialnya di youtube.

Buat yang hajian atau umrah, pashmina bisa jadi alternatif oleh-oleh juga kan? Jadi, bilangin ke travel nya minta anterin ke Bab Shareef yaaaa. Mari diborong pashminanya ^_^, boleh Kakaaaak …