Please Be Careful With Your Heart ;)

“Pulang, Bang! Gila ini, sih. Sudah kacau banget. Pulang aja mendingan.” Saya ngomong di telepon ke suami sambil melotot melihat tayangan berita di televisi.

“Apaan sih? Baru jam segini. Iya, entar pulang. Jam 5 kayak biasa.”

“Wah, kacau, kacau! Pokoknya pulang. Coba nonton berita! Sekarang!”

Terus saya menonton berita lagi dengan khusyuk. Kerusuhan di beberapa tempat sampai ada korbann tembak segala. Makin tidak tenang karena suami kagak pulang juga *pijetKening*.

Saya telepon lagi.

Karena jengkel suami ngomongnya mulai ketus, “Hadeeeeeh, mending sana jalan-jalan ke luar gih. Kayak orang gila aja. Atau intipin di jendela ada ribut-ribut, gak?”

Oiyaaa, kenapa enggak kepikiran ya? Hahahaha.

Hati-hati menjaga hati
Gambar : pixabay.com

 

Pertengahan tahun 2009, saat tensi ketegangan Iran dengan US dkk lagi hot-hotnya, saya menyusul suami ke Teheran, Iran. Saya sendiri sudah berantem duluan dengan suami di telepon hahaha. Maklum waktu itu masih cupu soal gini-ginian.

Beberapa hari setelah saya mendarat di Bandara Internasional Imam Khomeini, Pilpres Iran 2009 berlangsung tanggal 12 Juni 2009. Pertama kali merantau kena tipu agen pula (hahaha), masalah politik internal Iran membuat situasi kami makin tidak terbayang .

Kemenangan Ahmadinejad memang memicu ketegangan dari pihak lawan. Ada demo-demo memang. Tapi yaela, di Al Jazeera-BBC-CNN beritainnya di Teheran udah kayak perang!

Tololnya, SAYA tuh ya, yang jelas-jelas tinggal di apartemen di salah satu area jantung kota Teheran, bisa-bisanya lebih percaya berita ketimbang mata saya sendiri! Hahahaha *toyorKepalaSendiri*.

Ketika saya sudah berhasil menguasai ketakutan, akal sehat mulai mengalir kembali. Barulah saya membuka jendela kaca yang menguasai seluruh dinding ruang tengah yang mengarah ke arah jalan raya.

Krik, krik, krik, kerusuhan apaan cobak. Kehidupan berlangsung dengan normal. Saya melongokkan kepala dengan takut-takut. Soalnya kami tinggalnya di lantai 4 apa 5 gitu. Melihat jauh ke arah jalanan besar di perempatan sana, Vanaak Street. Ya memang enggak ada apa-apa, sih.

Mana reporternya berbicara dengan suara terengah-engah gimanaaaaaa gitu. Jadi pengin nyodorin air putih hahaha. Iya, sekarang ketawa lo! Padahal waktu nonton juga ketakutan setengah mati minta segera pulang ke Jakarta saat itu juga! Zzz -_-.

Bareng si sulung yang masih setahun hehehe (Teheran, 2009)

 

Akhirnya saya bertahan di Disney-Channel aja nemenin anak sulung saya yang waktu itu usianya masih setahun nonton Barney dan Thomas hihihi.

Sambil sibuk menenangkan keluarga dan teman-teman yang terus memborbardir kami dengan email dan pesan, “Eh, gimana di sana? Baik-baik aja, kan? Udah ngeri gitu.”

Tempo hari membaca tulisan Kang Maulana, saya fokus pada  beliau yang khawatir dengan salah satu kerabatnya yang memiliki tingkat pendidikan mumpuni yang terjebak dengan berita-berita hoaks.

Lucunya, kerabat tersebut punya grup WA yang isinya kalangan akademisi semua. Mereka asyik saling memposting berita-berita hoaks penuh kebencian terhadap orang/kalangan tertentu.

Fenomena yang mengagetkan. Padahal kerabatnya kalau meriksa tugas mahasiswa galaknya minta ampun memeriksa sumber tulisan bla bla bla. Kok bisa malah percaya begitu saja tanpa klarifikasi dengan hoaks yang sumpah masuk akalnya enggak kira-kira?

Benarkah pengaruh HOAX tergantung tingkat pendidikan dan kecerdasan bahkan pergaulan?

Tet toooooooooot.

Tidak ada hubungannya!

Saya juga baru sadar kok setelah mengingat-ingat KETOLOLAN saya pas di Teheran tahun 2009 silam itu hahahaha.

Kurang bodoh apa, ada orang yang bercerita betapa hancurnya kota X terus kita terpengaruh begitu saja. Padahal kita TINGGAL di KOTA X!! *tutupMuka*.

Kita paling sering dimanipulasi oleh ketakutan kita sendiri. Sejak awal, saya sudah memelihara penyakit hati masalah Iran ini.

Sebelum berangkat, saya sudah mules-mules membaca berita soal Iran. Makanya pas mendarat dan naik taksi ke apartemen saya benar-benar kaget pas melihat betapa cantiknya Kota Teheran. Padahal suami saya sudah sering cerita via telepon .

Saya kurang menyimak. Karena ya itu, fokus pada prasangka buruk yang berujung ketakutan. Dari takut jadi marah, marah jadi benci. Begitu seterusnya. Persis seperti kata Yoda, dia lagi dia lagi hahaha. Gak ada quote lain apa, Ceu? .

Gambar : pixabay.com

 

Padahal sudah diperingatkan ya kita oleh ayat-ayat suci. Jangan dipelihara itu penyakit hati. Makin dipiara makin ditambahkan kadarnya. Terus bertumbuh. Hingga akhirnya kita sendiri yang menjadi korban, bahkan lebih jauh, mengorbankan orang lain karena kita dengan giatnya menyebarkan kebencian itu.

Sebenarnya membenci sesuatu ya wajar. Memangnya situ malaikat yang hatinya seputih kapas hihihi.

Cuma kontrolnya yang harus kita jaga. Karena membenci vs menyebarkan kebencian JELAS 2 hal yang BERBEDA.

Jadi kalau mau jujur, produsen/pembuat/penggiat/atau siapa pun yang hobinya bikin hoax (hihihi) BUKAN satu-satunya penyebab penyebaran berita hoax.

Ibarat kata, bensinnya sudah tercecer duluan. Sisa-sisa bensin yang tidak pernah bersih ya tinggal dipercikkan api sedikit ya langsung membesar apinya.

Coba saja, kalau kita tidak memelihara penyakit hati, mau dikasih berita apa saja, akal sehat kita seharusnya akan “bekerja” dengan baik.

Taman Sai di Teheran, Iran (gambar : panoramio.com, by Behrooz Rezvani)

 

Kalau sudah ada benih-benihnya -terus menerus dipiara- pula, dapat berita paling konyol sekali pun, jika itu memuaskan pohon kebencian/kecurigaan yang dipupuk dalam hati ya pasti kita otomatis percaya. Refleks aja gitu .

Memang susah dilawan. Mungkin bisa dimulai dari langkah kecil ini, kalau tidak suka sama orang/sesuatu/apa pun, hindari! That’s the best way, hindari saja dulu. Mau berita bagus berita jelek, cuekin!

Jangan berusaha mencari-cari kesalahan apalagi sengaja nge-like akun/fanpage yang hobi menyebarkan kesalahan orang/sesuatu/apa pun yang kita tidak suka.

Bertahan saja. Coba beberapa bulan. Lama-lama kita jadi sadar, tanpa kita ngapa-ngapain pun ya dunia tidak akan hancur kok hahaha. Kita sering merasa kita harus ikut share/membagikan pesan atas nama kebaikan/rasa waspada bla bla bla.

Itu kamuflase saja. Sebenarnya kalau melakukan hal itu, kita ya sedang menyuapi ego kita sendiri. Beuh, apalagi kalau pakai alasan bela agama. Padahal yang kita turuti ya hawa nafsu sendiri saja.

Don’t worry, kita bisa kok menyembuhkan penyakit hati ini. Penyakit beginian kontrolnya 100% ADA PADA DIRI SENDIRI ;).

Omong kosong kalau terasa diri lebih bahagia kalau amarah dan kebencian terus dipelihara dalam hati. Mau pakai alasan agama? Tuhan mana itu yang memerintahkan hal-hal begitu?

Plesetin sedikit judul lagu lawas, “Please be careful with your heart” <3. Jadi hati-hati menjaga hati, ya :).

Hati-hati menjaga hati
gambar: pixabay.com

Kata kata Untuk Ibu dari The Millennial Generation ;)

Yang cukup ramai dari kasus remaja seperti Afi dan Awkarin adalah respons para orang tua. Termasuk kita semua yaaaaaa (yang nulis jugak hahaha *usapUsapKerutanMata*). Penting nih, sekadar membagi kata kata untuk ibu juga orang tua pada umumnya.

Salah satu imbasnya adalah pihak-pihak yang mulai membanding-bandingkan. Mendadak posting-posting misalnya, anak kedokteran yang lulus umur belasan misalnya. Atau ada juga yang memamerkan putra dari daerahnya yang penemu apalah gitu. Dalam bidang eksakta.

Nah, ini dia, nih. Kita, sebagai orang tua, kerap menjerit betapa tidak adilnya dunia pendidikan yang sering fokus kepada tipe-tipe kecerdasan tertentu. Umumnya, anak-anak yang cerdas dalam ilmu-ilmu pasti/eksakta lebih mendapat tempat.

Kata kata untuk ibu
Gambar : pixabay.com

Tapi tanpa sadar, kita, sebagai orang tua, sendiri, yang mempertegas “kasta” ini . Misalnya di kasus Afi. Anak ini terkenal dalam bidang literasi. Keluar deh komentar-komentar semacam, “Halah cuma nulis gitu-gitu doang. Itu tetanggaku umur 7 tahun sudah kuliah Teknik lho. Lulus cum laude!” –> contoh yaaaaaaa hihihi.

“Iya pada norak. Itu ponakanku ikut lomba bikin robot umur 3 tahun. Menang lho di Jepang. Tapi enggak seheboh ini.” –> contoh lagi yaaaaaaa :p.

Ajegila, 3 tahun bikin robot . Itu #baby3 megang sendok sendiri saja belom bisa hahaha.

Coba pikir-pikir berapa banyak dari generasi kita yang sebenarnya mengikuti jenjang pendidikan akademis yang tidak sesuai passion. Soalnya dulu memang kesempatan lebih terbatas, ya. Pilihan tidak sebanyak sekarang.

Ya intinya seperti ingin meremehkan kemampuan anak-anak yang berprestasi di bidang lain seperti dunia literasi ini. “Halah cuma nulis gitu-gitu doang.” Makanya dibandingin sama dokter lah, anak teknik lah dan seterusnya.

Kalau orang tua zaman dahulu yang berpikiran begini ya wajar mungkin. Sementara di era terkini dunia digital berkembang semakin pesat dan membuka lahan baru bagi generasi sekarang untuk menorehkan prestasi di bidang lain yang dulu belum terpikir.

Anak-anak sekarang cita-citanya mau jadi youtuber booooo hahaha. Saya dulu dari kecil senang menulis, aktif menulis fiksi ala anak-anak waktu SD kelas 2 sampai kelas 5 hihihi. Tapi Mama saya malah bingung dan mengimbau saya untuk fokus belajar saja.

Sekarang? Ada blog ada medsos, banyak media untuk menulis tanpa perlu repot-repot naik angkot ke kantor pos dan kirim naskah untuk nerbitin tulisan biar bisa dibaca orang lain hahaha :p.

Sebagai orang tua kekinian, kita yang seharusnya lebih berpikir terbuka dan mengarahkan anak-anak kita. KIta ini adalah nahkoda dari generasi millennial :D. Jangan malah ikut-ikutan kayak anak kecil. Berkompetisi tidak jelas . Malah ikut menegaskan hal-hal yang sebenarnya ingin kita minimalkan untuk masa depan generasi mendatang.

Mengkritik sewajarnya. Kalau dari saya sih jelas, di kasus Afi, penjiplakannya yang saya tidak suka! Harga mati itu hehehe. Mungkin terbawa pengalaman pribadi . Maklum sama-sama berkecimpung di dunia literasi walau secara akademis saya sebenarnya “jurusan anak robot” hahaha. Saya lulusan Ilmu Komputer .

Tapi saya tidak menyesal sih masuk Fasilkom ;). One of the best decisions I’ve ever made in my life, until now :D.

Balik lagi, Afi jelas anak yang cerdas. Anak yang kuliah kedokteran sejak usia 13 tahun juga cerdas. Anak yang hobinya bikin kue sejak usia 9 tahun dan lebih senang main-main dengan perabotan dapur ya jelas juga cerdas. Sini Nak, bikin vlog resep sama Tante Jihan hahahaha.

Anak-anak yang dari kecil suka otak atik penampilan dan gaya berbusana orang lain walau matematika dan bahasa Inggrisnya sering dapat merah di rapor itu (hahaha) juga cerdas. Sini, saya kenalin sama salah satu kakak kandung saya, yang kini menjadi seorang desainer dengan labelnya sendiri, the one and only, Kakak Dada yang super heits .

Selebgram macam Awkarin dkk itu juga sebenarnya jangan diremehkan, lho . Untung dulu zaman saya masih SMP-SMA belum ada Instagram! Bisa habis waktu buat selfie tuh *ciyumHenpon*. Saya waktu SMP cita-citanya sempat pengin jadi foto model hahaha. But who doesn’t? :p.

“Everybody is a genius. But if you judge a fish by its ability to climb a tree, it will live its whole life believing that it is stupid.” ― Albert Einstein

Fokus di persoalan sebenarnya. Mendidik generasi muda kita untuk tetap mempertahankan perilaku terpuji di tengah gencarnya perubahan zaman yang terus berlari. Diantara banyak kemudahan yang mereka terima kini, kita harus tetap berada di depan untuk mengingatkan. Bukan membully, yes? ;).

Gambar : pixabay.com

Resep Ayam Bakar Padang

Ngangkut salah satu resep dari Dapur Davincka nih, Resep Ayam Bakar Padang. Alasan bikin blog resep soalnya takut keserimpet sama postingan-postingan Food Combining hehehe. Kesannya kan masak gini-ginian terus.

Padahal sih masak Resep Ayam Bakar Padang dan sejenisnya ini umumnya kalau ada acara doang hahaha. Nah, di Texas ini sering dapat undangan makan ke rumah teman. Apalagi pas bulan puasa begini. Jadi, sering dapat tugas bawa-bawa juga.

 

Sekarang juga lagi doyan maenan vlog hihihi. Vlog traveling dan vlog resep :D. Kadang masak menu tertentu buat dibikin videonya hahaha.

Sebelum menikah, saya biasa-biasa saja dengan masakan Padang. Sama rendang juga ya kalau ada dimakan, kalau enggak ada ya enggak nyari juga hehehe.

Pas hamil anak pertama tuh baru mulai craving makanan Padang. Malah tergila-gila dengan Sate Padang. Sabtu sore-sore suka ngajak suami makan sate Padang di pinggir jalan. Dia mah seneng banget. Malah kadang lebih semangat dia daripada saya. Ini yang ngidam siapa cobak hahaha.

Kalau suami kan memang berdarah Minang asli ya wajar saja. Dia itu segala rendang, sate padang, gulai-gulai jerohan, semuanya doyan. Saya paling tidak tahan sama Gulai Limpo (limpa). Duh, ngeliatnya saja sudah horor begitu hahaha *sungkemSamaNinikMamak* :p.

Untuk masakan dari daging sapi, saya sih tetap setia dengan Sambal Goreng Daging Sapi khas Makassar :D. Salah satu menu andalan lebaran di keluarga saya di Makassar dulu ;).

Khusus menu Minang yang Ayam Bakar Padang ini ya lumayanlah :D. Saya doyan juga.

Waktu masih di Jakarta, embak saya nih dulu yang bilang kepengin Ayam Bakar Padang, saya cariin resepnya di internet terus dia yang masak. Mungkin dulu karena masih jarang ke dapur, lihat resepnya kok ribet bener hihi.

Setelah mencoba sendiri, sudah lihat kan videonya di tautan paling atas itu? Tidak terlalu susah, yes? ;).

Masakan khas nusantara itu bumbunya memang kaya banget. Kalau sudah ada santan, segala jenis daun-daunan buat masak seperti sereh dkk, aneka rupa rempah, rasa masakan biasanya mantap punya tuh :D. Tidak perlu menambahkan penyedap rasa juga sudah gurih (y).

Btw, sebenarnya bumbu-bumbu bisa dihaluskan ya. Gara-gara keseringan nonton orang bule masak di Food Network nih, kok kayaknya seru ya bumbu-bumbu dicemplungin langsung gitu saja. Atau bisa pakai bumbu bubuk, kayak kunyit bubuk misalnya hehe.

Alasan kedua kenapa tidak ada acara ulek-mengulek di sebagian besar resep vlog karena memang saya tidak punya ulekan pas pindah ke Texas sini hahaha. Malas lah mau beli-beli, kan cuma sementara di sini :D.

Untuk cabe merah, bisa pakai kemasan “Sambal Oeleg”. Jangan yang garlic, ya. Yang “original”, banyak dijual di Walmart kok hehe.

Resep Ayam Bakar Padang

1 ekor ayam, potong 6-8 bagian
1 buah jeruk nipis
7 butir kemiri, sangrai dan haluskan
1 buah bawang bombay, iris
3-4 siung bawang putih, iris tipis
8 buah cabe merah besar haluskan (atau pakai 2 sdm “Sambal Oeleg”)
3 cm jahe, iris halus
1 sdt kunyit bubuk
1/2 sdt merica bubuk
1 batang serai, ambil putihnya, memarkan
300 ml santan kental
1 sdm asam jawa, kentalkan dengan air matang secukupnya
Garam + gula pasir secukupnya
Minyak untuk menumis

Cara Membuat :

Lumuri ayam dengan jeruk nipis. Sisihkan minimal 30 menit.
Panaskan minyak. Tumis kemiri,bawang bombay, bawang putih, bawang merah, merica, kunyit, jahe, dan sereh hingga harum dan layu.
Masukkan ayam. Masak hingga berubah warna.
Masukkan santan, garam, gula, dan asam kandis. Masak hingga mendidih. Aduk perlahan hingga matang, air menyusut, dan bumbu meresap.
Panggang ayam hingga matang, sajikan dengan sisa bumbu.

***

Panggang ayamnya bisa di atas teflon kalau tidak punya alat pembakaran khusus (kayak saya hahaha). Kalau dimasukin oven bisa juga tapi ummm…kurang pas ya rasanya.

Resep Ayam Bakar Padang ini bisa jadi alternatif menu lebaran juga :D. Kalau bosan dengan Ayam Goreng Ungkep hehehe. Yaelaaaa, belum juga setengah bulan Ramadan terlewati, sudah ribut ngomongin menu lebaran hahaha :p.

Anw, jangan lupa kalau bikin makanan super lemak kayak gini, netralkan dengan sayuran segar saat menyantapnya, atau coba bikin acar-acaran ;).

Selamat mencoba Resep Ayam Bakar Padang -nya yak ^_^. Plus resep-resep lainnya yang ikutan nongol di postingan ini hihihi :p.

 

Duolingo Learn English : Belajar Bahasa Asing dengan Aplikasi Duolingo

Duolingo Learn English : Mana tahu lagi eneg ber-medsos dengan ponsel, coba cari variasi kegiatan lain hihihi … ayoooo belajar bahasa asing dengan aplikasi Duolingo :D. Tinggal instal saja di ponsel masing-masing. Apalagi kalau untuk belajar bahasa Inggris nih, “duolingo learn english” ^_^. Eh harusnya Duolingo learns English, eh harusnya Let’s learn English with Duolingo #eaaaaaa :p.

Tadinya mau posting ini minimal setelah mencapai level 20 lah di Bahasa Spanyol versi Duolingo. Apa daya ya, ini masih mentok di level 15 huhuhu -_-.

Berselancar di internet, bisa dibilang, 90% saya lakukan di laptop. Instagram-an saja saya pakai laptop kok hahaha. Tapi sejak instal Duolingo, lumayan deh, ponsel jadi lebih kepake lagi.

Luar biasa ya kecanggihan era digital sekarang. Jadi ingat dulu waktu kecil punya cita-cita mau belajar bahasa ini-itu, tapi ya enggak mungkin mau les, duit dari maneeeeee :p. Beli buku-buku percakapan ringan, kok ya kurang praktis dan kurang interaktif jadinya. Mau beli buku yang bagusan dan lebih komplit lagi-lagi mentok di dana hahaha.

Nah, aplikasi Duolingo ini bisa menjadi alternatif teman belajar bahasa asing yang lumayan komplit :D. Strukturnya rapi. Banyak latihan soal mulai dari grammar, kosakata, sampai pronounciation segala *jempol*.

duolingo learn english
gambar : slideshare.net

1- Gratis! Tentu harus nomor satu bagian haratis-haratis begini hahaha.

2- Aplikasi Duolingo ini sifatnya interaktif. Banyak soal-soal. Jadi kita tinggal jawab dan nanti dinilai benar apa enggaknya.

2- Fleksibel waktunya. Ya iyalah, kita sendiri yang nentuin mau belajar kapan dan di mana. Modal ponsel dan koneksi internet saja.

4- Terkait nomor 3, intinya NIAT dan MOTIVASI pribadi harus kuat, ya. Karena belajar model begini serba mandiri. Enggak ada guru yang marah-marahin. Semua target juga tergantung kita sendiri. Apalagi karena nomor 1 di atas, kita enggak ngeluarin duit jadi cenderung menggampangkan, ya :p.

Kalau bayar kan rasanya sayang aja gitu mau bolos apa gimana-gimana hihihi.

5- Bisa multitasking beberapa bahasa sekaligus. Ada lho teman-teman saya yang rajin banget ngikutin beberapa bahasa sekaligus dan levelnya juga bagus-bagus. Keren (y).

duolingo learn english
Gambar : duolingo.com

Ada untungnya juga multi-lingual. Karena beberapa bahasa itu akarnya kan sama, ya. Seperti Perancis dan Spanyol banyak kemiripan. Dengan Jerman juga. Bahasa-bahasa ini strukturnya juga mirip. Misalnya ada istilah feminin dan maskulin (kata-kata dipisahkan berdasarkan gender).

6- Belajar bahasa lebih menyenangkan serasa main game aja gitu. Duolingo menyediakan banyak fitur dan reward macam-macam.

7- Ada forum diskusi dan bisa ikut klub-klub sesuai bahasa yang diikuti. Kalau bingung, tinggal masuk forum buat nanya-nanya. Biasanya pun sudah banyak yang menanyakan hal yang sama, kita tinggal search saja.

8- Menambah teman atau ajang silaturahmi karena modelnya kayak media sosial gitu juga. Bisa follow-follow an, bisa add friend, dan seterusnya. Saya sendiri kurang kepake bagian ininya. Karena niatnya memang mau belajar bahasa aja hehehe.

Add orang pun paling akun suami sendiri. Itu juga buat ledek-ledekan siapa yang lebih tinggi levelnya hahaha. Dia kan sempat rajin belajar bahasa Jerman via Duolingo pas kita tinggal di Swiss tempo hari :p. Saya tahu aplikasi ini juga dari suami, sih.

***

Hanya saja, Duolingo belum menyediakan sarana buat  belajar bahasa yang menggunakan huruf non-latin, ya. Misalnya Mandarin, Jepang, atau Arab. Eh, apa sudah ada ya hehe. Pengin juga belajar bahasa Arab.

Dulu sebelum hamil anak ke-3 sempat ikut program BISA. Seru banget sebenarnya. Lebih privat belajar kelompok via WA. Tapi terus keputus karena hamil. Sempat minta tolong diajarin teman tapi ya itu banyakan malasnya hahaha.

Kalau pakai Duolingo no worry. Kadang diserang malas, sampai seminggu enggak buka aplikasi Duolingo sama sekali. Tapi ya, kalau lagi rajin ya ikut lagi aja ;). Jangan dibikin ribet, yes? Hehehe.

Kok milih bahasa Spanyol?

Karena saya pikir Spanyol ini bahasa internasional kedua yang banyak digunakan selain Bahasa Inggris :D. Exclude bahasa Mandarin tapi ya hehe. Serba kebetulan juga. Sekarang saya nangkring di Texas, di mana bahasa Spanyol juga sering digunakan di sini.

Di toko-toko sudah lumayan fasih deh sama bahasa Spanyol terkait barang-barang kebutuhan sehari-hari *sombongKaaaauuuuu* hahaha :p. Di negara-negara bagian selatan, karena banyak orang Hispanik, bahasa Spanyol jadi cukup umum di Texas, Florida, Louisiana, Alabama, bahkan di California juga katanya.

Gambar : dari channel – youtube, “rags360”

 

Bahasa Spanyol juga relatif mudah untuk lidah bahasa Indonesia kita karena pelafalannya mirip banget. Misalnya bandera ya dibaca bandera. Kebetulan artinya juga sama, bendera :D. Yang pengucapannya sulit banget itu bahasa Perancis ya. Ya ampun sumpe looooo, saya masih stuck di level 3 kali nih di Bahasa Perancis hahaha.

Seru kan, kan, kan, berkat kemajuan era digital yang seperti berlari ini.

Efek negatif kecanggihan dunia digital juga ada. Iya kan, bikin kita sering susah mau logout dari akun-akun medsos. Jadi semacam ketergantungan :(. Emosi kita mudah terbentuk dari berita-berita yang berseliweran di medsos.

But we can work on that too, yes? ;). Pinter-pinter kita saja ya, mengambil lebih banyak sisi positif atau terjebak dalam pusaran efek negatifnya.

Ngomong-ngomong soal belajar bahasa, konon menguasai beberapa bahasa membuat resiko kita terkena penyakit Alzheimer menjadi berkurang. Coba itu di-googling sendiri hasil penelitiannya :D.

Buat orang Indonesia sendiri sih sudah banyak contoh, ya. Selain bahasa Indonesia, saya lumayan bisa berbahasa Bugis. Ketambahan bahasa Inggris juga hehehe.

Kakak-kakak saya malah lancar berbahasa Makassar juga. Ibu saya malah bisa 3 bahasa daerah : Makassar-Bugis-Enrekang, semuanya bahasa daerah Sulawesi Selatan. Suami saya bisa bahasa Minang dan Jawa serta sedikit bahasa Madura.

Waktu tinggal di Jeddah, suami juga rajin belajar bahasa Arab. Tapi bahasa Arab sehari-hari di sana ya. Bahasa Arab dialek pendatang, bukan yang baku.

duolingo learn english
Gambar : pixabay.com

Penguasaan bahasa lain selain bahasa asli kita juga bisa dianggap sebagai ilmu :). Asalkan kita tidak mengkotak-kotakkan definisi ilmu. Agama saya mengajarkan bahwa Tuhan akan mengangkat derajat orang yang berilmu <3.

Ilmu ini juga termasuk harta, lho. Banyak belajar, banyak ilmu baru, nambah harta juga.

Ilmu adalah harta yang menyenangkan. Karena bisa dibawa ke mana-mana tanpa memberatkan pemiliknya ;).

Ayooo gunakan ponsel pintar kita untuk menambah harta jangan sampai malah menguras pahala :). Kampanye “duolingo learn English” :D.

Fidget Spinner Itu Apa

Fidget Spinner Itu Apa

Fidget Spinner itu apa cobaaaaaaa :p. Setelah berhari-hari anak-anak di rumah ngigo melulu tentang Fidget Spinner, akhirnya saya bilang saja ke suami, “Udah sih beliin aja!”

Habisnya anak saya yang kedua tuh, baru bangun juga tahu-tahu sudah ngobrolin Fidget Spinner ke abangnya, zzzz -_-. Saya sendiri waktu itu belum tahu itu mainan apaan. Tapi udah bosen banget dengernya karena disebut-sebut melulu sama anak-anak.

Mereka juga udah sering minta, sih. Cuma kirain cuma mainan-hits-sesaat-besok-juga-lupa gitu-gitulah. Yaela, sampai seminggu lebih ituuuuuuu aja terus yang jadi bahan obrolan hahaha.

Akhirnya minggu lalu itu mungkin puncaknya anak-anak rewel minta Fidget Spinner. Akhirnya kita ke Seven Eleven beli di sana aja yang dekat dari rumah. Kirain harganya 1-2 dolar, apes-apesnya 5 dolar lah. Ternyata … 9.99 dolar!! Idiiiiihhhhh *bantingDompet* hahaha.

Mungkin karena lagi hits, ya. Terus wakwaw banget pas lihat penampakannya. TErnyata gitu-gitu doang. Kenapa bisa harganya 10 dolar beginiiiiiiiiii -_-.

Fidget Spinner Itu Apa
Fidget Spinner hijau punya si abang nomor 2 😀

Saya kira juga pakai batere atau gimana. Bisa terbang sendiri atau apalah. Eya ampun ternyata cuma buat diputer-puter doang. Halamaaaak, mana harus beli 2 kan. Ya kaliiii mereka mau sharing setelah 2 minggu mereka meratap minta Fidget Spinner!

Saya juga baru ngeh kalau mainan ini memang lagi booming banget. Mungkin karena itu juga harganya bisa bikin pening begitu. Pas acara ngumpul di rumah teman besoknya, ternyata semua anak laki nenteng Fidget Spinner masing-masing! Segala macam warna ada. Seru amat dah hihihi.

Terus para emak-emak mengobrol termasuk gue yang komplen soal harga mainan ini. Harga lipstik aja enggak semahal itu kalo lagi diskon, yes? Et dah kayak situ pernah beli lipstik ajeeee hahaha.

Ternyata macam-macam harganya. Katanya ada juga yang jual 6-7 dolar per buah. Kalau mau beli lebih murah bisa lewat e-bay atau toko online lainnya. Kata suami gue, “Iyeeee, terus entar nyampenya satu bulan kemudian. Elo aja udah ngamuk-ngamuk mulu anak-anak ngomongin itu terus.”

Iya juga sih hahaha.

Fidget Spinner ini hanya untuk diputer-puter gitu lho. Di tengahnya kan ada pegangan yang bulet itu. Nanti kita pegang di situ sambil diputar itu salah satu baling-balingnya. Apa sih istilahnya itu yang 3 sisi yang kayak cabang di luarnya?

Nanti sambil diputar bisa ditaruh di lengan, di lutut, anak saya juga pamerin bisa naruh di jidat. Which is mau ditaruh di mana juga amat sangat tidak penting yaaaaaa menurut saya -_-.

Mainan ini emang iklannya kenceng banget di tivi.

Jadi kepo kan ini sebenarnya alat apaan sih. Anak pertama saya memang sudah pernah bilang kalau itu mainan buat “stay focusing”. Biar enggak bosan kalau lagi sendirian gitu? Tapi anak laki juga ngumpul berlima mainan Fidget Spinner semuaaaaa :D.

Ternyata, memang Fidget Spinner ini punya efek psikologis lho. Konon, awalnya ditujukan untuk anak-anak hiperaktif untuk mengontrol aktivitas mereka yang kadang di luar kendali. Mainan ini katanya membuat mereka lebih fokus sehingga akan menjadi tenang. Misalnya untuk anak-anak penyandang autis seperti ADHD, ADD, dsb.

Saya tidak paham sejauh mana ya pengaruh si Fidget Spinner. Efek sembuhnya juga ada apa enggak, tidak sejauh itu saya bacanya. Cuma iseng searching saja tadi berbekal info dari anak sulung saya.

Fidget Spinner Itu Apa
Fidget Spinner kuning punya si abang sulung 😀

Kayaknya gaungnya sudah mulai ke mana-mana ya. Tempo hari juga teman saya di Jeddah, Mami Amel, juga posting-posting soal bocahnya yang rewel minta Fidget Spinner hihihi. Di Indonesia kayaknya juga sudah mulai, ya.

Buat ibuk-ibuk, selamat berjuang yaaaaaa hahaha. Abisnya bikin gondok bener deh harganya ya. Tapi Indonesia mah kreatif, persaingan juga ketat jadi harga bisa ditekan :D.

Walau saya tidak mengerti apa serunya main-main ginian tapi ya sudahlah, sudah kebeli jugak. Ini udah seminggu sudah mulai bosan kayaknya. Mainannya disembunyiin sama papahnya. Adek bayi juga lama-lama kesengsem sama si Fidget Spinner. Tapi ama dese buat dibanting-banting doang hahaha.

Hadeeeeh, waktu kita kecil mah adanya paling tetris yak. Atau mainan game yang manual yang tinggal diisi pakai air itu :p. Dulu norak banget waktu dibeliin Tetris yang bisa ngomong, “Pinter juga lu!” atau “Bego lu!” Hahaha. Kok dulu enggak ada protes ya sama Tetris yang omongannya serem begini. Dulu belum ada medsos sih ya hahahaha.