(Apalah) Arti Sebuah Nama

by : Jihan Davincka

***

Hanya satu kata di akte kelahiran saya yang menunjukkan identitas nama lahir saya : JIHAN.

JIHAN sendiri diambil dari nama istri salah seorang presiden Mesir yang cukup terkenal di penghujung tahun 70 an, Anwar Sadat. Nama istri Presiden Sadat adalah Lady Jihan. Kakak saya sendiri juga ada, lho, yang namanya Anwar Sadat :P.

Kemungkinan besar nama Jihan Fahira pun diambil dari nama Lady Jihan ini. Mengingat Jihan yang ini lahirnya Januari 1978, tepat dua tahun sebelum saya. Hehehehe *pentingYeeee*.

Masalah mulai muncul ketika sekolah, nama harus pakai dua kata. Jadilah waktu SD, nama saya menjadi “Jihan Syamsuddin”. “Syamsuddin” itu nama Bapak.

Nama “Davincka” resmi saya tambahkan sendiri sejak duduk di bangku SMP. “Behind the scene” nama ini sendiri kok ya malas ya ngebahasnya hihihihi. Entar deh kapan-kapan :P.

***

Sebenarnya saya kurang puas, nih, dengan fakta nama satu kata ini. Jadilah, kedua anak saya, masing-masing memiliki 3 kata sebagai nama lahirnya di akte kelahiran. Hihihihihi *balasDendam*.

Ketika membuat akun email pertama kali di tahun 1998, tahun pertama kuliah, tanpa berpikir panjang, langsung memilih nama Davincka. Dan hampir semua identitas di dunia maya akhirnya menggunakan embel-embel Davincka ini.

Untuk teman-teman SMP, SMA, kuliah dan kantor, pasti langsung mengenali nama ini :D. Teman SD yang suka bertanya-tanya.

***

Begitu media sosial bermunculan, saya pun tak ragu-ragu mencantumkan nama “Jihan Davincka.” Ingat, ya. Pakai C dan K sekaligus *penting!* :D.

Masalah nama kadang tidak bisa dianggap sepele. Begitu mulai menikah, saya melihat beberapa teman mengganti nama belakang mereka. Saya suka kebingungan kadang-kadang. Kenapa mesti mengganti nama belakang, sih?

Hal lainnya adalah ketika ada invitation dari beberapa teman lama yang malah menuliskan namanya sebagai “Bundanya anu” atau “Umminya X” atau “Mamanya D.” Dan diper’parah’ dengan profil foto anak-anak mereka -_-. My oh my. How am I supposed to recognize you, my dear friends? Hehehehehe.

Makanya bukan cuma karena alasan narsis semata, mengapa saya lebih senang memakai foto diri sendiri untuk profil apa pun di dunia maya. Akhir-akhir ini lebih sering berfoto bertiga karena ‘terganggu’ dengan beberapa pesan yang bernada ‘kurang sopan’. Entah itu dari antah berantah atau dari teman lama yang mungkin malas mengecek sendiri isi info pribadi.

Foto bersama anak sekaligus menegaskan, “I’m married with 2 boys. Back off!” Mamak-mamak yang sok kecakepan bener gak, sih? Ahahahahaha.

_MG_6651

***

Dan baru-baru ini pun saya ‘terpaksa’ harus (lagi-lagi) memindahkan isi blog ke tempat yang baru. Saya pilihlah nama Jihan Davincka di wordpress ini. Apalah arti sebuah nama ya :D.

Semua postingan akhirnya rampung dipindahkan kesini. Biarpun ‘benah-benah’nya belum rampung 100%.

Foto profil pastilah memilih foto diri sendiri. Untuk blog karena komunikasinya lebih banyak satu arah, saya tak merasa perlu pamer-pamer foto anak jadi foto profil. Nama blog pun memilih nama sendiri (ini sih karena males repot + mikir lagi hehehe).

Sebagai seorang perempuan, identitas kadang menjadi ‘labil’. Dari kecil hingga dewasa, kita akan dikenali sebagai anaknya Pak Anu. Ketika sudah menikah, nama belakang pun ikut diganti. Padahal menurut guru mengaji saya disini, nama belakang seorang muslimah seharusnya tetap menggunakan nama Bapak, bahkan setelah menikah.

Setelah punya anak, berubah menjadi “Bunda/Mama/Ummi/Ibu-nya Anu.” Kalau teman baru di dunia maya, rasanya risih saya bertanya, “Mbak, namanya siapa, ya?” Jadi dengan canggung saya menyapa, “Mbak Bundanya X, apa kabar?” Hihihihihihi.

Saya rasa, berstatus apa pun seorang wanita (dari kecil hingga dewasa dan punya anak), identitas sebagai pribadi tetap harus dijaga :).

Jadi, saya adalah Jihan. Jihan Davincka ;). Jihan Davincka yang sekarang sekaligus menjadi seorang istri dan Ibu dari 2 anak laki-laki.

_MG_1747

Cara menerbitkan buku indie

Kritik Terhadap Bunda of Arabia

***

Kritik pertama adalah soal keakuratan isinya.

Sebelum “Bunda of Arabia” terbit, sebenarnya telah terbit satu buku non fiksi bergenre komedi yang bertajuk “Kedai 1001 Mimpi” yang dikarang oleh Vabyo, yang juga menggunakan latar belakang negara Saudi.

Ketika gencar berpromosi di beberapa milis (thanks to Bapak Dani hehehehe, Baba of Arabia :P), beberapa orang bertanya tentang “Bunda of Arabia” dan “Kedai 1001 Mimpi.” Isinya dianggap bertentangan.”Kedai 1001 Mimpi” karangan Vabyo (yang konon laris manis ini) diterbitkan oleh penerbit formal, Gagasmedia.

Gagasmedia sendiri kebetulan penerbit yang banyak melahirkan penulis-penulis favorit saya seperti suami istri Adhitya Mulya-Ninit Yunita dan Raditya Dika.Sayangnya sampai sekarang saya sendiri belum membaca buku ini. Tapi dari banyak review di berbagai media online, saya jadi maklum kenapa sampai disebut-sebut ‘bertentangan’.Sebenarnya, kedua buku tersebut TIDAK BERTENTANGAN sama sekali :). Kok, kok, kok???

Sudut pandang penceritanya berbeda. Ini nih pokok perbedaannya :).

Vabyo datang ke Saudi dengan ‘menyamar’ sebagai TKI informal dan bekerja di beberapa tempat untuk mengumpulkan bahan cerita.

Sedangkan “Bunda of Arabia” ditulis oleh ibu-ibu asal Indonesia yang datang ke Jeddah untuk mengikuti suami yang bekerja di sana. Spesifik tentang kota Jeddah dan sekitarnya.

Apa yang diceritakan Vabyo dalam “kedai 1001 mimpi” adalah kumpulan pengalamannya bekerja di Saudi selama (kalau tidak salah) 3 pekan (apa 3 bulan), ya.

Sedangkan para Bunda yang menuangkan pengalamannya di “Bunda of Arabia” rata-rata sudah bermukim minimal satu tahun.

Saya tidak suka menceritakan hal ini. Tapi memang pada kenyataannya kaum pekerja formal di kota Jeddah memiliki ‘dunia yang berbeda’ dengan dengan kaum pekerja informal.

Anda jangan lantas menganggap pekerja formal disini sombong. Salah satu sahabat saya disini, akibat terlalu entah lugu entah apa, dimanfaatkan secara materi oleh oknum yang kurang bertanggung jawab.

Oknum, sih. Tapi ya, pengalaman itu guru paling berharga, bukan?

Juga jumlah kaum informal terlalu banyak. Dan nyaris tak tersentuh karena mereka tinggal di lingkungan tertentu dan seringnya berkelompok. Kerasnya kehidupan yang mereka alami mungkin sudah mengikis separuh rasa kesantunan mereka. Tapi jangan digeneralisir. Tentu tidak semuanya :).

Hal-hal ‘sensitif’ ini tak mudah untuk saya terangkan panjang lebar dalam tulisan :(.

***

Kritik kedua adalah isi “Bunda of Arabia” kok kayaknya ‘senang-senang’ semua? Emberrrrrr ahahahahahahaa :P.

Bunda-bunda hepi 😀

Justru sebenarnya saya menggagas buku ini sebagai penyeimbang. Atas berita-berita yang menurut saya terlalu berat sebelah tentang salah satu negara ‘penguasa’ gurun ini. Terutama mengenai kehidupan orang-orang yang berasal dari tanah air.

Saya sudah mengawalinya dengan blog mamasejagat dan ceritaJeddah. Tapi tentu perlu ada langkah lebih ‘serius’. Jadilah saya, yang memang memendam mimpi menjadi penulis (kelak), memberanikan diri mengangkat sisi lain ini ke dalam buku “Bunda of Arabia.”

Ah, berarti untuk kalangan terbatas. Kalau menilik tujuan awalnya saya setuju jika orang-orang berkata ini untuk kalangan terbatas. Makanya saya pantang berdebat lebih jauh ketika mencoba menawarkan naskah buku kepada sebuah penerbit formal dan langsung ditolak dengan alasan ‘segmented readers’. Saya sepenuhnya paham :).

Waktu membahas isu ini pun, resistensi dari rekan-rekan Bunda yang saya tawari untuk ikut menulis pun sudah ada.

Bahkan saya akhirnya rela mengganti judul yang awalnya adalah : “How can we not love Jeddah?” menjadi “Bahagia, Meski Mungkin Tak Sebebas Merpati” untuk ‘menggaet’ salah satu penulis yang awalnya hendak hengkang, padahal dia adalah penulis incaran utama saya.

Beliau inilah yang sebenarnya memiliki kemampuan menulis yang paling ‘mumpuni’ diantara kami hehehe. Heran saya, orangnya masih gak pede juga melangkah lebih ‘jauh’ padahal sudah saya komporin hehehehe. Mana buku solo-mu, Mbaaaaakkkk? :D.

Demikian juga dengan rekan penulis lain yang menunjukkan keengganan saat saya minta menulis dengan tema yang sudah saya tetapkan. Meskipun tidak kepada saya, saya tahu dia meminta pertimbangan dari mana-mana. Saya maklum. Dia takut disangka mau pamer. Tapi alhamdulillah, melalui BBM intensif, beliau pun akhirnya ‘takluk’ dan mau nyetor tulisan hehehe.

Perempuan Indonesia yang banyak mendiami wilayah Saudi, sebagian besar datang dengan status TKW. Dan diantara mereka, jumlah terbesarnya memang ada di ranah domestik, sebagai asisten rumah tangga atau pengasuh anak.

Jadi, kami (para penulis) pun mencoba sangat berhati-hati dalam tiap tulisan. Agar orang tak lantas menuduh kami sebagai ‘musuh dalam selimut’. Dan demi Tuhan, kami tak ada yang menentang dan tak ‘memusuhi’ apalagi memandang rendah pada mereka. Setiap orang berhak mencari rezeki halal dengan kesanggupannya masing-masing.

Maka dari itu, butuh kerja ekstra untuk terus menumbuhkan semangat ini kepada rekan penulis yang lain, bahkan mengusir ‘ketakutan’ yang sering hinggap di pikiran saya sendiri.

Meskipun tetap ada teman yang malah menganjurkan menulis tentang ‘tema perjuangan’, mengangkat kisah-kisah TKW dan semacamnya. Ini memang mungkin akan menjadi topik populer (mengingat kisah menyayat hati memang cukup laku di tanah air hehehe), tapi justru kisah-kisah seperti ini yang saya hindari.

Maksud saya, cukuplah berita-berita memilukan hati ini dimanfaatkan oleh media untuk menaikkan jumlah pembaca mereka. Sekali lagi, saya ingin menghadirkan ‘kisah penyeimbang’ :).

Jadi ya, dari awal pun, tujuannya malah untuk memperkenalkan ‘sisi lain Saudi’ kepada tanah air. Agar kalau Anda-anda kebetulan sedang umrah dan hajian, bertemu dengan perempuan berabaya hitam di masjidil haram, Anda tidak buru-buru memandangi mereka dengan rasa kasihan, mengeluarkan uang 10 riyal untuk anak kecil yang mereka bawa dan berucap, “senang disini? majikannya baik?” hehehehe ;). Terlepas dari apakah cerita macam ini akan ‘laku’ atau tidak :).

Bahwa hidup di kota Jeddah mungkin memang serba dilarang tapi ada hal-hal lain yang akan membuat iri para perantau asal Indonesia di negara lain :P.

***

Kritik ketiga, judulnya terlalu ‘drama’ sementara isinya sangat deskriptif. Hehehehe.

Saya akui pemilihan judul memang untuk menarik perhatian publik :D. Dan kalimat ini yang selalu terngiang di kepala saya saat melihat foto-foto teman-teman disini yang hobi sekali ‘foto loncat-loncat’ kalau lagi main ke pantai hihihihihi. Sebenarnya selain dicomot dari salah satu lirik lagu Kahitna, kalimat ini juga saya jadikan judul foto teman-teman yang tempo hari piknik ke South Corniche. Saya tak ikut, tapi saya yang menuliskan ceritanya di blog hehehe.

Ada pun tentang cara penulisan dan sebagainya, saya cuma mau bilang, kami tak ada yang berprofesi penulis sebelumnya. Harap dimaklumi :P. Cuma 3 orang blogger dan 6 orang Bunda yang mungkin sebenarnya ‘terpaksa’ karena saya teror terus. Ahahahaha.

***

Terima kasih atas pihak yang sudah membeli dan memberikan kritikan dan memberi review untuk buku kami :).

Bagi yang belum beli, saran saya cuma satu : inbox saya secepatnya, ya! hehehehehe.

Jangan lupa kunjungi page kami, di facebook – fanpage ini.

Salam dari Jeddah

Jihan Davincka, on behalf of penulis “Bunda of Arabia” (Ibu Euis Fauziah, Ibu Vica Item, Ibu Aina Hidayati, Ibu Nining HaerAni, Ibu Ismiyati Afni, Ibu Dini Fabria, Ibu Alfiani, Ibu Mira Sonia).

Semua Anak … Cerdas!

“Kunci kesuksesan anak Anda? Matematika dan bahasa Inggris!” Begitu isi tulisan sebuah spanduk yang terpampang lebar-lebar yang dipasang di sebuah jembatan penyeberangan.

Saya tidak sengaja melihatnya ketika melewati salah satu jalan protokol ibu kota. Lagi macet parah. Daripada putus asa karena taksi saya tak kunjung bergerak maju, saya alihkan saja pandangan menyisir apa saja selain keruwetan yang terjadi di depan jalan sana.

Kelihatan spanduk yang cukup besar itu. Slogan di atas tertulis mencolok dengan warna ngejreng. Oh, ternyata iklan sebuah tempat kursus buat anak-anak. Di bawah kalimat tadi, ada keterangan mengenai nama tempat kursus, lengkap dengan alamat dan nomor teleponnya.

Wah, trik pemasaran yang cukup jitu ;) .

***

Kenapa, sih? Jangan-jangan saya menulis ini karena saya tak pandai di kedua mata pelajaran di atas. Jangan salah. Saya ini sering sekali menjadi juara kelas dari SD hingga SMA, sombong sedikit hihi :p.

Bahkan kuliah di fakultas yang sangat mengandalkan kemampuan logika matematika. Bahasa Inggris? Wah, sedari kecil saya suka sekali dan tak pernah punya kesulitan berarti dengan bahasa Inggris.

Saya berasal dari keluarga besar. Tujuh bersaudara. Jadi sudah biasa dengan macam-macam karakter dan pola pikir. Saya yang sangat cerewet ini bisa hidup damai tentram satu atap belasan tahun dengan kakak-kakak dan adik-adik saya yang “warna warni”.

Adik saya yang perempuan sangat supel, banyak teman, biarpun prestasi akademisnya sedang-sedang saja. Iri deh dengan kemampuannya bergaul di semua kalangan. Kontras dengan dia, kakak saya yang nomor 3 sangat pemalu. Hanya bisa mengobrol santai dengan orang-orang terdekat saja, padahal orangnya super kocak. Jika di depan umum, membisu seribu bahasa.

Salah satu kakak saya, yang nomor 4, pas di atas saya, saat ini sedang berada di puncak kariernya. Dia salah satu definisi sukses buat saya. Memangnya apa sih kerjanya? Ahli matematika? Jago sekalikah bahasa Inggrisnya?

Bukan sama sekali! Kakak saya bekerja di bidang mode. Bukan seorang desainer, tapi seorang fashion stylist! Saya tak menyangka juga hobinya mengutak-atik cara berpakaian seseorang, berburu busana dari mal mewah hingga pasar loak, bisa menghasilkan uang banyak.

Dari kecil kakak saya ini sangat alergi sama yang namanya matematika. Dia sungguh kerepotan menghadapi mata pelajaran yang satu ini. Dia juga tidak suka bahasa Inggris. Tapi sekarang sudah mulai mau belajar karena sering bepergian ke luar negeri.

***

Semua orang menginginkan anaknya tumbuh cerdas dan menuai kesuksesan di masa depan. Tapi apa sebenarnya definisi CERDAS ini?

Contohnya saya. Prestasi akademis saya terbilang gemilang di masa sekolah. Tapi tahu tidak, ada satu mata pelajaran yang sangat saya takuti. Olahraga. Iya, saya paling tidak bisa olahraga. Saya bolak-balik mendapat angka 6 untuk pelajaran satu ini.

Pada suatu ujian praktik, saat duduk di bangku SMA, malunya minta ampun. Saya satu-satunya siswi yang tidak berhasil mencetak satu angka pun di bawah ring bola basket. Masing-masing diberi kesempatan sebanyak 10 kali. Dan saya gagal total. Teman-teman banyak yang meledek. Termasuk kecengan saat itu yang memang salah satu punggawa tim basket di sekolah kami. Rasanya ingin menghilang ditelan bumi.

Di kantor dulu pernah mewabah hobi main pingpong. Berebutan ingin belajar. Ternyata gampang karena tiba-tiba jadi banyak yang bisa. Termasuk para karyawati. Saya ikutan belajar, dong. Biarpun sudah tiap hari sepulang kantor minta diajari, selama sebulan penuh, servis saja tidak pernah bisa!

Yah, urusan olahraga, bukan kurang lagi, tapi saya termasuk idiot. Sama dengan urusan menghafal jalan. Entah sudah berapa kali kami sekeluarga berangkat ke Mekkah dari kota Jeddah. Saya masih kebingungan dengan rutenya. Saya sering merasa jalan yang kami lewati itu berubah-ubah.

Suami saya sampai jengkel karena saya sering bertanya, “Kok lewat sini? Tidak lewat jalan kemarin saja?” Dia menggerutu, “Aduh, ini kan jalannya dari dulu selalu lewat sini. Masa tidak hafal juga, sih?”

Lagi-lagi, urusan menghafal jalan, saya cuma bisa pasrah. Saya sangat lemah untuk urusan satu ini. Makanya selama tinggal di Jeddah, suami melarang keras saya naik taksi sendiri. Padahal di sini boleh-boleh saja, lho, perempuan naik taksi sendiri ke mana-mana. Padahal struktur jalan di kota Jeddah teratur banget, lurus, dan berbentuk kotak.

Nah, karena pada dasarnya kecerdasan itu memang macam-macam. Pasti sudah familiar dong dengan istilah multiple intelligence. Apakah itu?

Ada 8 kecerdasan yang tercantum dalam pengertian ini :

  1. Verbal/Linguistik
  2. Logis/Matematis
  3. Visual/Pandang-ruang (spasial)
  4. Tubuh/Kinestetik
  5. Musikal
  6. Intrapersonal
  7. Interpersonal
  8. Naturalis

Jadi sebenarnya naive sekali, ya, kalau kita hanya menempelkan definisi cerdas secara sempit. Cerdas itu ya mesti jagoan matematika. Jago berhitung. Jago fisika. Padahal semua yang disebutkan barusan cuma satu di antara 8 kecerdasan yang ada.

Siapa bilang anti matematika punya pengaruh besar dalam kesuksesan kita? Nanti saya kenalkan ke kakak saya ya.

Jadi, tipe-tipe kecerdasan ini cukup penting untuk digali agar kita lebih mudah mengarahkan bakat anak kita untuk masa depannya nanti. Kalau sudah bisa menemukan passion yang tepat, didalami dengan sungguh-sungguh, tinggal urusan waktu saja untuk menuai keberhasilan.

Ini bisa iseng-iseng kita tes, lho. Konon katanya, menurut penelitian, tiap orang itu biasanya “kuat” di 3 hal, sedang-sedang saja di 2 hal, dan cukup “lemah” di 3 hal lainnya.

Contohnya… lagi-lagi, saya! Saya cukup fasih secara verbal-logis-interpersonal, tapi biasa-biasa saja di musikal dan intrapersonal, dan lemah di visual-natural-kinestetik.

Makanya tidak heran, saya lemah di kemampuan visual, jadinya gampang kesasar di jalan. Hal yang sama berlaku untuk kemampuan kinestetik/olah tubuh. Makanya tidak pernah bermimpi jadi atlet, cukup jadi fansnya atlet yang ganteng-ganteng saja. Hahaha.

***

Jadi, jangan buru-buru panik bila si kecil mengerutkan kening ketika dihadapkan dengan sederetan angka-angka. Coba serahkan raket tenis atau kenakan sepatu balet di kakinya?

Atau mungkin si kecil yang cantik tak kunjung gemulai jika suara musik menghentak-hentak mengajak menari. Coba kenalkan dia lebih dekat pada alam. Mungkin jiwanya mengarah ke naturalis.

Kesimpulan tulisan ini, saya kutip dari tulisan salah satu orang cerdas yang dikenang sepanjang masa :

“Everybody is a genius. But if you judge a fish by its ability to climb a tree, it will live its whole life believing that it is stupid.”  ― Albert Einstein

Yakini, semua orang itu… cerdas!

***

Nah, ilustrasi fotonya adalah foto para bocah-bocah gue hehehehe. Terlihat jelas biarpun sama-sama anak laki, mereka  tipe yang berbeda :). Si sulung Abil sudah menunjukkan potensi verbal dan logika yang cukup tinggi. Terlihat aktif dan lincah nan ‘garang’ namun persis kayak Mamanya, kinestetisnya kurang hihihihi.

Adapun si kecil Narda. Lebih pemberani mengarah ke naturalis kali, ya. Kinestetik jauh lebih terasah dari abangnya.

Love you both…no matter what ;). *kecupBasahSatuSatu*

kata kata bijak tentang belajar

Lebaran di Arab Saudi : Eid Mubarak 1433 H

Tahun ini, lebaran ke-3 di tanah Saudi, di kota Jeddah. Lebaran di Arab Saudi tentu beda dengan lebaran di kampung halaman.

Jadi ingat, libur lebaran tahun lalu, gue sekeluarga ke Yanbu-Badar. Perjalanan yang sangat-sangat menyenangkan sekaligus ‘menguntungkan’. Bulan lalu, kisah jalan-jalan itu berhasi di’duit’in karena dimuat di Femina hihihihihi.

Sayang sekali, tahun ini, suami malah terbang ke Dublin 5 hari huhuhu. Mungkin tertunda liburan ke luar kota, nunggu majikan balik dulu :D.

Inginnya salat Eid di Masjidil Haram, Mekkah. Tapi berangkatnya mesti jam 2 malam. Duh, kasihan anak-anak :(. Sempat iri dengan teman-teman lain yang tetap semangat salat Eid di Haram. Tapi lega juga dengar cerita mereka yang akhirnya gelar sajadah di bawah tangga masjid saking penuhnya areal Haram. Hehehehe.

Jadi, pagi hari tepat di hari raya itu, tetap terbangun jam 5 pagi. Thanks to alarm yang masih ke-set di jam segitu :P. Tapi gak ikutan salat, jagain para bocah di rumah. Suami yang salat di masjid dekat rumah. Abis itu kita sarapan pake…nasi goreng! Ahahahahahahaha.

Gue masak, kok ;). Tapi buat menu siang. Yaeayalaaahh, masaknya baru jam 6 pagi :P. Masak gulai ayam + goreng persediaan empal gepuk di kulkas. Lumayanlah. Empal itu udah gue bikin 3 hari sebelumnya. Sengaja bikin dalam porsi banyak, buat persiapan hehehe.

Sorenya baru deh halal bi halal bareng teman-teman Keluarga besar Telko di kota Jeddah. Kita kumpul-kumpul di playground dekat Corniche. Menu utamanya Kari Rajungan bikinan Mbak Ratna. Sayang euy, biarpun lahir dan besar di kota pantai, gue dari dulu gak demen makan rajungan atau kepiting :D. Selain kari tadi, juga ada ayam goreng, sayur nangka, sambal ati, lontong, dll. Kenyang lah ^_^.

Baru deh 2 hari kemudian, si Papa capcus ke Dublin.

Overall, tetap senang sih dengan lebaran kali ini :). Suasana yang memang beda banget dengan tanah air lama-lama ilang sendiri. Entah ya, makin lama makin terkikis rasa nasionalisme sejak tinggal jauh dari tanah air hehehe.

Nih, ada foto para Madam yang lagi santai-santai di playground kemaren itu ;). Kinclong sekali dong ya kita-kita ini hahahaha.

Tampil di Leisure – Republika

Republika edisi selasa 14 Agustus 2012 kemarin memuat tulisan gue tentang kota Jeddah. Judul artikelnya “Jeddah, Kota Bertabur Monumen.”
Kayaknya artikel jalan-jalan so far hokinya lebih bagus daripada naskah cerpen hehehe. Respons dari redakturnya cepat dan pemuatannya juga gak menunggu waktu lama. Padahal ini gue lebih rajin ngirim cerpen huhuhu.
Oiya, syarat untuk mengirim tulisan Jalan-jalan ke “Leisure Republika” dicek di https://enggar.net/2012/03/27/lowongan-penulisan-jalan-jalan/
Ayooo diserbu redaksinya hehehe. Tidak harus cerita dari luar negeri, lho. Hasil liputan jalan-jalan dalam negeri pun boleh bangeeeet ^_^.

Leisure – Jalan-jalan Religi (Harian Republika 14 agustus 2012)