“Darah itu merah, Jendral!”

– Darah itu merah Jendral -Masih ada yang ingat Gestapu? :D.

Sejak era reformasi, gaung peristiwa Gestapu 1965 makin melemah. Saya juga tak sadar kalau hari ini adalah 30 september. Dimana belasan tahun masa kecil saya, saya suka tersiksa di tanggal ini. Karena malamnya sudah pasti sebuah film dokumenter akan diputar di TVRI.

Saya takut menonton film ini. Intro musik di awal film saja sudah bikin saya pengin pipis. Tapi sumpah deh kepo bener pengin tahu filmnya secara lengkap. Ahahahaha. Makanya saya bilang saya tersiksa, antara takut sama kepo :P.Tapi rasa takut yang selalu menang. Hingga saat ini, saya tidak pernah berani menonton filmnya hingga tuntas. Paling bagian-bagian tertentu saja, itu pun pakai acara ngumpet di bantal. Atau kalau adik saya ikut menonton bersama saya, saya ngumpet dan terus-terusan merongrong dia, “eh, gimana? gimana? adegan apa sekarang? adegan apa sekarang?” ahahahahaha… colek si Buntel :P.Judul tulisan di atas adalah salah satu kalimat yang cukup tenar gara-gara film “Pengkhiatan G30S/PKI” itu. Ada yang masih ingat? :).

***

Waktu masih kecil, tahu apa sih kita salah satu sejarah hitam dalam perjalanan menuju orde baru ini? Saya sendiri sih jelas. Sangat-sangat-sangat benci PKI. Pokoknya partai ini kalau dalam PSPB dan pelajaran sejarah dulu, adalah partai biang kerok. Mereka dengan liciknya membubarkan Masyumi dan beberapa partai besar lainnya.

Ideologinya? Duh, gak pernah pengin tahu, tuh. Pokoknya jahat saja. Titik. Ibaratnya dalam sinetron, PKI adalah Lely Sagita! Ahahahahaha.

Era internet memperkenalkan saya kepada banyaknya tulisan-tulisan tentang konspirasi gerakan ini. Baru tahu ternyata di mata banyak kalangan, gerakan ini tergolong bodoh dan impulsif. Btw, jangan cuma baca konspirasi Rheumason-Yahudi dong, boleh diintip sekali-sekali konspirasi tentang sejarah bangsa sendiri :P.

Tentang PKI dan D.N Aidit, ada banyak tuh biografi tentang beliau di internet :). Gratisan, asal mau baca saja sih :). Baru tahu ideologinya PKI yang sebenarnya. Siapa D.N Aidit dan apa falsafah hidupnya. Tolol juga dulu tahunya cuma sebatas PKI itu komunis dan penyiksa para ustaz :P.

***

Tokoh lain yang menarik perhatian saya dalam peristiwa Gestapu adalah Bung Karno. Zaman orde baru, tak banyak sejarah perjuangan Bung Karno yang diajarkan di sekolah. Ya, paling pahlawan proklamator dan ikut berjuang demi kemerdekaan.

Dulu saya suka bingung kenapa Bung Karno dan Bung Hatta sih yang disuruh bacain proklamasi? Tempo itu saya mikirnya, “oohh, mungkin beliau berdua yang paling hits di zaman segitu. Makanya dipilih.” Hehehehe. Dan diajarkan juga bahwa beliau pun dikenal sebagai seorang orator ulung. Karena itu juga kali makanya dipilih.

Sejarah masa muda Soekarno pertama kali saya dapatkan dari sebuah buku percintaan. Lho? Iya, dari buku “Kuantar Hingga ke Gerbang”, kisah cinta beliau dengan Ibu Inggit Garnasih.

Sumpah lho, saya malah baru tahu waktu baca buku itu bahwa Ibu Fat bukan istri pertama Bung Karno. Bukan pula istri ke-2. Tapi yang ke-3!

Kalau Bung Karno punya banyak istri saya sudah tahu ;). Di masa kuliah, di salah satu koleksi buku Ibu kosa ada buku “Istri-istri Soekarno.” Lumayan, bacaan gratis kalau bengong di kosan.

Nah, di buku itu banyak diceritakan tentang Soekarno muda. Yang tampan, sangat cerdas, tapi sejak remaja sudah ‘nyolot’ ke pemerintah Belanda. Konon, beliau itu kesayangan guru-guru Belandanya. Tapi, beliau menampik setiap kesempatan untuk menjadi ‘piaraan’ kompeni, dan sudah berpikir tentang kemerdekaan untuk bangsa pribumi.

Berkali-kali bolak balik masuk penjara tapi gak kapok-kapok. Ternyata jasa Bapak proklamator ini bukan cuma sebagai orang paling hits sehingga terpilih untuk membacakan naskah proklamasi. Sedari usia belia, hampir seluruh masa mudanya dihabiskan untuk memikirkan dan sekaligus memperjuangkan langsung tentang nasib kaum pribumi.

Jadi, pantaslah masih banyak orang yang begitu menggilai Bung Karno, sampai ke keturunannya. Jelas. Kita boleh keki sama Megawati dan adik-adiknya :P, tapi jangan lupa, di darah mereka mengalir darah Soekarno. Tanpa kerja keras beliau, belum tentu kita bisa berbangga sebagai sebuah bangsa merdeka :).

Tapi tentu tiap pribadi punya kekurangannya masing-masing. Dan masih simpang siur tentang keterlibatan dan pengetahuan Bung Karno soal gestapu ini.

***

Pening kalau ngikutin semua teori tentang siapa sebenarnya dalang Gestapu 47 tahun silam. Apa betul PKI? Banyak yang meragukan. PKI adalah sebuah partai yang sangat besar waktu itu. Juga memiliki kedekatan khusus dengan Soekarno. Why would they become so stupid?

Tapi gosipnya memang ada ketegangan antara Angkatan Darat dengan PKI karena isu angkatan ke-5.

Sebuah teori yang cukup masuk akal mengatakan ini kerjaan kapitalisme barat yang sebel sama Soekarno. Presiden pertama kita ini terkenal bukan cuma karena selera seninya yang luar biasa. Beliau pun tak pernah segan menghardik siapa pun yang berseberangan dengannya termasuk pada Amerika Serikat!

Ingat peristiwa Dwikora? Bung Karno sangat berani menentang pembentukan Federasi Malaysia, atas inisiatif Inggris. Kala itu perang dingin sedang melanda Blok Barat dan Blok Timur. Disimpulkan sendiri, deh. Ditambah lagi Bung Karno membiarkan paham komunis tumbuh subur di Indonesia.

Konon, di salah satu literatur disebutkan bahwa Kolonel Untung adalah salah satu fans berat beliau. Tapi banyak yang menyebutkan bahwa Untung ini bukan orang bodoh.

Ada juga teori yang mengatakan, ada pihak yang memanfaatkan Untung atas nama ‘keselamatan Soekarno’. Siapakah pihak itu? Jeng..jeeengggg… zoom in zoom out zoom in zoom out, itu lah misteri terbesarnya hingga saat ini. Semua teori konspirasi mentok disitu hehehe.

Ada pula tokoh Syam, yang out of nowhere tiba-tiba menjadi tenar. Pokoknya ini konspirasinya lumayan banyaklah ‘drama’nya hehehehe. Syam ini katanya otak Gestapu. Tapi pas ditangkap, tanpa perlu payah-payah disiksa, dia langsung mengakui semuanya secara gamblang, Konon, karena kerjasama Syam yang extraordinary ini, Syam sendiri paling belakangan dihukum mati.

Literaturnya lumayan banyak lho di internet. Silakan di-google jika berminat :).

Darah itu merah jendral
Gambar : pixabay.com

***

Yang jelas di masa lalu, sejarah politik negara kita lebih banyak diwarnai dengan perang ideologi yang sangat kental. Mana ada istilah “wani piro”? :P.

Mungkin buat para politikus yang hidup di era idealisme non kapitalis kala itu … “darah itu merah, Jendral!” Tidak seperti para koruptor di masa kini, “duit itu segalanya, Jendral!” :D. Hehehehe.

Waktu (akan) Berbicara

Ini tulisan yang dibuat tepat di dini hari kemenangan Spanyol (kembali) merebut gelar Piala Eropa di awal Juli kemarin hehehe. Ini status di wall facebook saya per tanggal 3 Juli kalau tidak salah :D.

***

Waktu (akan) Berbicara

Saya bukan pencinta bola. Termasuk orang yang ‘malas’ lah melotot depan televisi selama puluhan menit. Apalagi jika yang ditonton adalah 20 laki-laki yang sibuk berlari-lari memperebutkan sebuah bola di lapangan berukuran raksasa. Helooooo…

Tapi almarhum Bapak dan kakak-kakak saya, duhhh, bola mania semua. Bapak meninggal di tahun 1992, dimana saat itu Beliau amat sangat mengidolakan Brasil. Jadi, ya, in the name of his memory, saya jadi ngefans, deh, sama Brasil.

Ketika Brasil akhirnya benar-benar (kembali) mengangkat trofi sebagai juara dunia di tahun 1994, saya ikut menangis. Bukan karena saya tiba-tiba maniak bola atau tergila-gila dengan tim samba, simply because I suddenly thought “wish he was here”. Ya, kapan siiihhh saya tidak menangis hehehehe :P.

***

Sembari menanti pengumuman UMPTN 1998, apa salahnya ikut dalam kemeriahan piala dunia saat itu. Masih terngiang-ngiang memori Brasil, saya ikut lesu ketika Perancis yang akhirnya berfoto sebagai juara. Menjungkalkan Brasil di final sekaligus melambungkan nama Zidane.

Untunglah, sakit hati saya terbayar karena pengumuman UMPTNnya mengukir nama saya di pilihan pertama. Ke Jakarte kiteeeeee :P.

Tahun 2002, piala dunia datang lagi. Status bukan lagi siswi SMP (seperti di tahun 94), bukan lulusan SMU yang menunggu nasib di tahun 98. Tapi, sebagai karyawati.

Baru dua bulan bekerja, ada kasus menimpa perusahaan tempat saya memulai karir sebagai programmer. Perusahaan dinyatakan pailit huhuhu. Karena diliburkan, sibuklah mengisi waktu nganggur dengan nonton bola.

Kala itu perhelatannya di wilayah Asia, pertandingan berlangsung di siang bolong semua. Berkah buat saya yang dari dulu tidak pernah sanggup begadang.

Gambar : www.fanpop.com
Gambar : www.fanpop.com

Nah, selain (tetap) bernafsu melihat Brasil bersorak gembira di akhir laga, ada pendatang baru buat fans gadungan ini :D. Tim Spanyol. Apalagi lihat si bocah yang berdiri di bawah mistar gawang. Awwww… biarpun gak demen-demen amat dengan bola, lumayanlah ngeceng gratis liat orang kece.

Konon, usia Casillas belum 20 tahun saat itu (info penting! :P). Spanyol merangsek ke perempat final dengan sangat meyakinkan. Tapi kalah dari Korsel lewat adu penalti. Tidaaaakkk. Biarpun seluruh warga Asia nampak merayakan kehebatan Korsel saat itu, tapi saya murka! *kenapaLu?hahahaha*

Saya sangat sepakat dengan isu bila Korsel doping dengan ginseng! Jadi, ketika Jerman melahap mereka di semifinal, “rasain lu!” Ahahahaha, everything turns into drama when a woman is involved :P. Drama Queen speaks here.

Apalagi ketika Brasil lagi yang menyambar predikat juara dan ternyata kasus perusahaan tempat saya bekerja happy ending ^_^. Alhamdulillah, libur berhari-hari kala itu, tetap digaji penuh.

***

Karena Spanyol resmi masuk dalam ‘list’ saya, mau tak mau laga Eropa juga mesti di-kepo-in.

Sayang sekali, 2004, Spanyol gagal lagi. Dan mulai didengung-dengungkan sebagai tim besar yang tak pernah dinaungi keberuntungan. Indeed :(.

Piala Dunia 2006, hasilnya sama. Setelah melewati tahap penyisihan grup dengan sangat gemilang, kandas di kaki Perancis, yang jatuh bangun di penyisihan grup. Kesalnya minta ampun, “dimana kau, Tuhaaannnn?” Drama Queen took over again :D.

***

Tahun 2008, tidak mengikuti dengan serius laga piala Eropa. Saya tengah hamil besar dan menunggu kehadiran anak pertama. Biarpun sudah cuti dari kantor, kegiatan saya di rumah lebih banyak diisi dengan mencuci baju bayi, berburu perlengkapan bayi, atau latihan hypnobirthing sepanjang hari. Maaf, tak ada tempat untuk Casillas dkk saat itu :P.

Tapi, senang sekali mendengar Spanyol berhasil melangkah ke final. Namun sayang, dini hari pas tayangan final, si Abil yang masih berusia beberapa hari, marah besar jika TV dinyalakan. Jadilah, tahun 2008 itu Spanyol mengangkat trofi tanpa saya ikut menangis terharu di depan layar kaca. Huhuhuhu. Inikah balasan untuk fans yang sudah menunggu selama 6 tahun?

Dan di tahun 2010, tanpa ampun membius dunia dengan tiki-takanya. Dan lagi-lagi di tahun ini, tepat tadi malam, menggenggam erat gelar Jawara Eropa dan menuntaskan mimpi besarnya dengan rekor baru sebagai Treble Winner! Dilengkapi dengan predikat baru sebagai negara pertama yang berhasil menjuarai Piala Eropa secara beruntun.

Way to go, guys! Ndak sia-sia eyke pilih jadi favorit. 10 tahun menanti, you make me cry (again). Ahahahahaha.

***

Jadi, begitulah hidup akan berjalan. Yang namanya keberuntungan kadang tidak bisa kita ukur. Rasanya sudah melakukan semua hal terbaik dan diatas kertas kitalah sang juara. Namun, kadang nasib mengolok-olok kita dan menghempaskan kita ke bawah.

Tapi saya selalu percaya, God never said NO. The only options He has : 1. Yes 2. Not now 3. I’ll prepare something better

Makanya, yang namanya kecewa dan patah hati, sih, siapa yang tidak pernah? Tapi, juara sejati tidak pernah menghapus harapan dalam langkahnya.

Mungkin, ketika suatu kali kita meyakini kemenangan milik kita, Tuhan menyuruh kita untuk menunggu. Menunggu untuk sesuatu yang lebih besar. Kita tak akan bisa mencapainya jika kita tidak bergerak maju. Sebab sesuatu itu selalu ada di DEPAN sana. Dan kita tak punya pilihan lain selain melangkah maju.

Remember, God never said NO! Never ;).

Many times, it’s just a matter of time.

 

Berbicara Agama

Ini copas dari status di facebook tempo hari. Pantes lah saya gak bisa cocok sama Twitter. Biarpun dari dulu punya @davincka. Status facebook aja mesti deh minimal 5 paragraf, hehehehehe :P.

Status ini ditulis di tanggal 1 september kemarin. Pas lagi hangat-hangatnya isu Sampang sepertinya :D.
Lumayanlah buat nambah-nambah isi blog :D.

***

Bukan main. Luar biasa. Beberapa isu sensitif (agama, dkk) dalam rentetan peristiwa sekaligus.

Pilkada DKI yang awalnya saya pikir akan menggiring orang-orang untuk akhirnya menyadari bahwa musuh utama tanah air adalah PARA KORUPTOR, sekarang malah berputar-putar di urusan agama.

Konflik Rohingya, yang pernah ternoda oleh penebaran foto-foto palsu bukannya membuat kita tergerak untuk menolong.

Malah membuat foto-foto tentang kebencian terhadap agama Budha sempat beredar luas :(. Saya percaya betul segala penganiayaan itu ada, tapi lihat dong efeknya kalau mata Anda disuguhi foto-foto bombastis).Terus ada #SaveMaryam dengan slogan 2 juta nya. Ah, cuma salah data doang. Beritanya kan mungkin benar. Tapi cermati tujuan si pembuat video. Adakah video ini akan booming kalau mereka ganti datanya misalnya cuma 200 ribu?

Konflik Suriah, saya pikir akan dipahami sebagai lanjutan intervensi pemerintah AS di Timur Tengah (setelah sukses ‘menggoyang’ Mesir, Libya, dan sekarang giliran Suriah). Mulai dihembus-hembuskan sebagai isu kontroversial yang sudah hidup berabad-abad lamanya Sunni vs Syiah.

Isu Sunni vs Syiah diam-diam sudah berkembang sejak awal tahun. Tapi mengapa tiba-tiba ramai di tanah air? Ya karena ada peristiwa Sampang. Selain habis-habisan dikutuk sebagai penyulut pertikaian, paham Syiah pun secara internasional mulai dilirik dan dibahas.

Agak sulit memahami apa yang sebenarnya terjadi. Tapi, kita tidak merasa bingung!

Karena banyak media-media yang dengan mudah menjajakan liputan-liputannya kemana-mana.

Pengalaman pribadi yang pernah saya alami sendiri atas ‘ampuh’nya media internasional memborbardir dunia adalah perisitiwa pemilihan Presiden Iran di tahun 2009. Pemilu 2009 kembali membawa Ahmadinejad memperopleh mahkota pemimpin.

Saya tidak berbicara apakah Syiah sesat bla bla bla, atau apakah Ahmadinejad memperoleh suara terbanyak dengan cara ‘negatif’.

Tapi fakta yang saya tahu pasti, saat protes warga terhadap hasil pemilu, media internasional sudah BERBOHONG besar-besaran. BERBOHONGnya kompak lagi. Yaeyalaaahhh, negara penghasil minyak terbesar di Tim Teng nya kan ‘pacar’nya pemerintah AS. Jangan pura-pura gak tahu, ya ;).

Bukan asal bicara, awal Juni hinggal awal agustus, saya sekeluarga tengah bermukim di kota Tehran. Liputan-liputan media asing internasional diputar berulang-ulang dengan menyuguhkan tayangan yang itu-itu saja. Seolah-olah terjadi kerusuhan massal dan berdarah-darah di Tehran.

Saya sampai kewalahan menerima banyak email dari kerabat, bekas teman-teman kantor, dan teman-teman kuliah, dsb.

Saya tinggal di sekitar Vanak Street, salah satu wilayah jantung kota. Sumpah ya booo, kagak ada apa-apaan! Memang ada protes massal, tapi apa dikira berlangsung sepanjang hari?

Suami saya tetap ke kantor seperti biasa. Karena saya lihat di televisi, BBC, AL Jazeera, dkk, ramai-ramai membahas Tehran, wuiiihhh, jadi kepo dong kita hehehehe.

Gedung apartemen saya memiliki kaca jendela raksasa yang menghiasi seluruh dinding ruang tamu yang menghadap ke jalan. Tak perlu payah-payah saya bisa mengintip ke arah jalan kapan pun dengan mata telanjang. Kok sepi?

Saya telpon suami. Jawabannya bikin saya ngakak, “ooohh, demonya nanti. Kan masih pada kerja. Nanti bubaran kantor baru pada demo lagi.” Ahahahahahahaha.

Gak niat benar, deh :P. Harus belajar dari Indonesia nih. Demo itu ya Mas-mas Mbak-mbak Tehran kudu dari pagi ampe besok pagi laginya. Emang harus capek. Ya kalo nunggu jam kantor kelar, terus abis itu abis magrib udah bubaran, ya kapan suksesnya? hehehe.

Tapi, yang terlihat di berita-berita TV yang diputar tiap jam sekali mungkin (saya pantau terus BBC dan CNN), adalah massa beramai-ramai demo dan berteriak-teriak. Memang ada korban penembakan. Liputan empuk, nih. Saya sampai bosan lihat tayangan itu diputar berulang kali di waktu yang sama, dan pakai slow motion segala.

Bahkan saat demo tiba, masih banyak tempat-tempat publik yang buka seperti toko, dll. Suwer deh, kagak ada mencekam-mencekamnya pisan. Saya sampai gatal pengin ke jalan lihat orang-orang berdemo itu. Tapi rasa penakut saya sendiri yang mengurungkan niat itu hihihihihi.

Mungkin, Syiah itu punya pemahaman BERBEDA, mungkin mereka di mata kita SESAT (saya pun mengaplikasikan Islam saya sebagai seorang Sunni). Tapi jangan lupakan fakta soal Syiah. Bahwa pemerintah Iran, dedengkotnya para Syiah, adalah yang paling keras mendengungkan soal ‘Anti Zionisme ISrael’.

Iran tak anti Yahudi, lho. Bedakan zionisme Israel vs umat Yahudi di seluruh dunia. Konon, ada orang Yahudi yang hidup damai di tengah-tengah Iran. Jangan salah, warga Palestina juga ada yang berasal dari keturunan Yahudi. Jadi, jangan sampai salah menyebarkan ‘kebencian’ :).

Pertama kali Ahmadinejad menjadi Presiden di Iran, media nasional ramai-ramai memuji beliau. Jadi tenar deh langsung Ahmadinejad. Entah mengapa saat itu tak ramai membahas Syiah. Bener-bener deh, kita ini mengapa begitu mudah tersulut?

Soal ‘sisi lain’ kejadian di Suriah, ini ada link pembanding. Jangan langsung skeptis krena yang menulis adalah Ibu Dina Sulaeman, yang pernah tinggal di Iran, dan (mungkin) sudah menganut Syiah atau minimal pro Syiah. Baca saja dulu, ya.

Setelah baca, kalau Anda tetap berkeras bahwa Syiah memang ingin membantai Sunni, bolehlah menyimak sedikit ke ‘belakang’. Saat Irak berguncang di bawah kepemimpinan Saddam Hussein, siapa yang berperan menjadi ‘korban’?

(linknya saya taruh dalam komen. Biar tulisan ini tidak langsung menunjuk pada link nya. Ntar disangka Syiah dan sesat lah saya. Karena menurut menteri agama, “mereka yang tidak menganggap Syiah sesat maka mereka sesat.”) 🙁

Gak akan ada habisnya gak, sih? Apakah pengabdian kita kepada agama akan selalu berbanding lurus dengan pemeliharaan kebencian terhadap penganut kepercayaan lain? (note : syiah dianggap bukan Islam!). Istilah favorit saya yang ditulis oleh salah satu peserta lomba menulis di MP adalah : istiqomah di dalam, toleransi di luar.

Apakah dalam menyiarkan kepercayaan mesti dengan menjelek-jelekkan kepercayaan lain?

Bagaimana kalau menyuarakan kelebihan-kelebihan kepercayaan Anda? Masa sih, menjatuhkan ‘pihak lain’ akan kita yakini sebagai cara untuk menaikkan ‘pihak kita’? Black campaign itu lama-lama #eaaahhhh….

Seberapa besar pun amarah yang berkobar di dada Anda, seberapa cintanya Anda pada ajaran yang menurut Anda telah diinjak-injak oleh orang-orang Syiah, jangan sampai rasa keadilan ikut lebur.

Jangan merasa ini kepentingan Allah. Allah maha Sempurna. Allah tidak butuh Anda untuk membelaNya. Kita beribadah untuk kebaikan kita sendiri, bukan untuk Allah. Tak ada cerita, keagunganNya akan berkurang bila sudah tak ada lagi yang peduli pada ajaranNya. Kalau Anda menyimpang, yang rugi bukan Allah, diri kita sendiri, kan? Camkan hal yang sama untul orang-orang yang Anda anggap sesat.

Anggap saja ini tulisan orang ‘liberalis’ atau ‘pluralis’ atau apalah yang Anda suka. Mungkin ada trend baru yang saya tidak tahu :D.

Ini kan cuma pendapat pribadi saja. Yang mungkin tak saya dapat dari duduk berjam-jam, bertahun-tahun menghapalkan ayat suci. Tapi saya dapatkan dari kehidupan sehari-hari melalui pengalaman dari kesempatan yang diberikan Allah untuk pernah mencicipi hal-hal lain, hidup di tanah berbeda-beda.

Dan mengajarkan bahwa sampai mati pun tak mungkin saya berharap : “ya Tuhan, kenapa seluruh dunia bukan orang Bugis semua? Kalau bisa Bugis-Islam. Dan kalau bisa Islamnya pun harus Sunni. Kalau bisa semua perempuannya pakai jilbab dan abaya hitam, biar gak pusing mereka gonta-ganti baju. Hehehehe” :).

Penggemar Sepatu Crocs

Bosen ah ber-saya-saya. Mari ber-gue-gue hehehe. Secara ini pun postingan iseng hehehe.

Waktu masih kerja di ULI, tiap tahun pasti ada acara gathering ke luar kota (selama 3 tahun berturut-turut gue di sana, acaranya ke Bali terus). Namanya annual conference. Yang paling ditunggu-tunggu selain menutup laptop rapat-rapat dan memanfaatkan jalan-jalan gratis dari kantor (hehehe), adalah ‘goodie bag‘ nya :D.

Nah, di tahun 2009 itu, tersebarlah rumor beberapa minggu sebelum hari H kalau salah satu starter kit yang bakal dibagikan sebelum berangkat adalah…sepatu Crocs!

Ori apa KW neh? hehehe. Duh, kalau kerja di ULI mah ya, jangan inferior begitu. Ya pasti ori dong, dong, dong :P. Awalnya gue dan beberapa teman protes keras. Apalagi pas lihat harganya di website resmi Crocsnya (450 ribu waktu itu!), makin nyinyir aje gue. “Ngapain sih ngasih sepatu plastik warna permen kayak gitu? Banyak palsunya tau di ITC! mending ngasih duit!”

Oiya, selain ngasih Crocs, di tahun itu juga dapat IPod Nano booo, dalam rangka ulang tahun kantor. Boleh milih antara IPod Nano dan tas LongChamp. Karena gue mikirnya kalau tas susah jualnya, jadi milih IPod aja ahahahahahaha. Itu IPod harganya 1.5 jutaan tempo hari. Kalau ingat yang gini-gini, kok mendadak lupa ingatan kenapa ya dulu bisa sampe resign? hehehe.

Balik ke Crocs. Karena gak bisa ngapa-ngapain juga, ya terpaksa diterima aja tuh acara bagi-bagi crocsnya. Gue cerita ke Buntel dan kakak gue. Eh, mereka malah yang semangat. Buntel sukses membuat gue bersumpah kalau entar pulang dari Bali, crocsnya buat dia!

Sepatu Crocs Indonesia Anw, Crocsnya salah pesen, ukuran kegedean, jadi gak gue bawa ke Bali. Pulang dari Bali baru deh dapet tukerannya yang ‘bener’.

Gak ngerti seluk beluk Crocs, akhirnya gue ikut ‘suara terbanyak’ cewe-cewe yang milih Malindi Cotton. Dan pilih warna candy (pink) biar lebih imut :P.

Terus kan ceritanya pulang dari Bali udah last days tuh. Udah resign dari bulan lalu. Jadi sekalian perpisahan ama ULI, tetep ngotot ikut jalan-jalan ke Bali :D.

Dan udah mau berangkat ke Tehran, tuh. Iseng gue pake si Malindi Candy belanja-belanja ke ITC. LUmayan lama muter-muter di sana.

Eh pas pulang, duduk-duduk di rumah bongkar-bongkar belanjaan terus nyadar, “gileee, ada kali 3 jam muter-muter.” 3 jam itu waktu yang super lama buat orang yang males berkeliaran di pusat perbelanjaan kayak gue. Soalnya kaki suka pegel. Ini kok gak pegel-pegel ya. Langsung inget tadi pake sepatu CROCS! Iklan banget dah, ahahahahaha.

Gue pegang-pegang tuh sepatu karet (bukan plastik ye ternyata :P) dengan takjub. Padahal baru sekali pake. Biasnya kan sepatu masih bikin lecet-lecet kaki di awal-awal pemakaian. Eh, ini kok langsung nyaman, ya. Baru, deh, ngerti kenapa si Crocs yang modelnya (waktu itu) cupu-cupu bisa hits dimana-mana. Dan sekaligus menjelaskan harga mahalnya itu. Emang nyaman to the max.

Langsung gue batalin sumpah ke Buntel. Pasti dia ngamuk tapi berhasil diredam dengan IPod Nano :D. Gak apalah nyenengin adek sendiri. Gue emang lebih butuh CROCSnya. Tadinya si IPod juga mau dijual aja sih hihihihi. Jadilah sejak hari pertama berCROCS ria itu gue langsung naksir abis-abisan.

Hampir kemana-mana pakai CROCS. TInggal ke kondangan doang kali yang enggak. Gue bawa 3 sepatu ke Tehran, tapi dari naik pesawat, pas jalan-jalan di sana, ampe pulang lagi naik pesawat, teteeeepppp… pake CROCS  terus :P.

Sampe ke Jeddah pun, gak bawa sepatu apa-apa lagi. Cuma si Malindi Candy seorang itu. Kuat ya, selama sekian tahun gue pake, gak ada lecet dan kerusakan sedikit pun. Nyucinya juga gampang. Keringnya gampang. Dan yang paling penting…super nyaman di kaki!

Selamat 3.5 tahun bersama dengan si Crocs gratisan itu, jodoh kita berakhir saat Umrah Ramadhan kemarin :(. Karena gak inget naro kresek sepatu di rak nomor berapa, sibuklah kita menjelajahi rak sepatu yang super banyak itu dalam masjidil Haram. Tahu sendiri kalau Ramadan, sesaknya Haram kayak apa :(. Jadi pasrah saja ketika kreseknya gak ketemu. Dengan demikian, selamat tinggal, Malindi Candy.

Karena pengetahuan gue yang terbatas mengenai fashion sepatu ini, gak pake pikir panjang mau beli Crocs lagi hehehe.

Belinya di Andalus Mall. Ternyata ada counter CROCS di sana. Baru sih, kata temen-temen. Beli, deh yang modelnya mirip-mirip Malindi. Malindi udah gak dijual di sana katanya :(.

Nah, yang baru ini namanya Flower Dance Espresso. Tetep ya mesti yang pinky-pinky dikit biar imutnya gak ilang hehehe. Dan berhasil membujuk suami juga ikut beli Crocs. Si doi kan tadinya males bener beli sendal yang menurutnya gak jelas dan mahal itu :D. Tapi gue suruh pake di toko, langsung mau dia ^_^.

Selama dua tahun lebih di Jeddah, gue emang jarang banget beli sepatu, sih. PErnah sekali beli pas diskon. Sepatu merek apaaa gitu. Eh, jarang dipake. Kepake pas si Malindi ilang doang. Begitu abis beli Crocs baru, nganggur lagi deh sepatu itu.

Katanya modelnya Crocs ini terbatas dan kurang fasionable. Tapi bener-bener, kalau buat gue, nyamannya itu tiada tandingan lah :D. Dipake kemana aja mantap! Mungkin ntar Crocs bisa bikin model yang fancy dikit dong, buat dipake ke kondangan, hehehe.

Penggemar sepatu Crocs, mana suaranya? 😀 😀 :D.

Bila Kau Tidak Mendapatkan Apa yang Kau Inginkan?

by : Jihan Davincka

***

Mungkin saja itu keberuntunganmu!
Tidak percaya?

***

Waktu kelas 6 SD, saya sudah pernah bercerita bahwa bapak saya meninggal karena serangan jantung. Malam itu, Tuhan menepis permintaan saya untuk mengirimkan Bapak kembali pulang ke rumah. Instead, keesokan harinya, kami sekeluarga bersiap-siap untuk mengantarkan beliau ke peristirahatan terakhirnya.Rasanya sedih sekali. Wajarlah. Siapa yang tidak? It was too soon :(.

Benarkah? Tunggu dulu :).

Sepertinya kekecewaan akan berlanjut. Beberapa tahun setelah itu, things happened. Saya tidak pernah suka membicarakan detailnya seperti apa, tapi yang jelas…waktu itu saya bersorak karena Mama bilang saya akan pindah sekolah ke Jakarta.

Saya kelas 1 SMA dan akan mengakhiri cawu 1 di sekolah. Mama bilang saya sudah harus mengurus kepindahan saya, bilang ke wali kelas segala. Dan tentu saja berfoto-foto dengan teman-teman sekelas sebagai tanda perpisahan. Sejak itu, yang terucap dalam doa-doa saya hanya, “Semoga lancar…semoga lancar…” Saya dari dulu kepengin benar pindah domisili biar ngerasain yang namanya merantau dari kampung kelahiran.

Lagi-lagi … tidak kejadian! Tidak usah dibahas kenapa. Yang lebih tidak menyenangkan lagi adalah, adik saya malah yang pindah. Dua kali lipat kecewanya. Padahal adik saya malah enggan disuruh  pindah ke Jakarta tadinya.

Belum lagi menepis rasa malu karena masa sudah berfoto habis-habisan, peluk-pelukan sana sini, ternyata di hari pertama cawu 2, saya tetap muncul di kelas. Huhuhu.

Tapi belum genap tiga tahun kemudian, saya malah mengobrol dengan Mama di atas kapal laut yang akan membawa saya ke kota Jakarta. Hihihihi, tahun segitu, kapal laut masih jaya-jayanya dan harga tiket pesawat masih amit-amit jabang bayi :D.

Mama bilang, “Kalau Bapakmu masih ada, gak mungkin dapat izin kuliah ke luar kota. Kakakmu dulu saja mau kuliah di Surabaya, mati-matian diurus biar bisa pindah ke Makassar.”

“Tapi kan akhirnya kuliah juga di Surabaya.”

“Ya, tapi kau kan anak perempuan. Gak akan dibolehin.”

Saya baru tahu, waktu kakak saya diterima di ITS, bapak pernah ‘menyewa’ orang yang mengiming-imingi kalau dia bisa merubah hasil Sipenmaru. Hahaha. Dimaklumi ya, almarhum Bapak enggak makan bangku sekolah. Makannya nasi dong hahaha :p.

Mama benar juga. Bapak memang ekstra protektif terhadap saya dan adik perempuan saya. Dua anak perempuan diantara ketujuh anaknya yang lain. Mama jauh lebih ‘nyeleneh’ dan ‘santai’.

Di akhir juli tahun 1998, nama saya tercantum di koran sebagai salah satu siswi yang lulus UMPTN. Bukan di universitas negeri kota kelahiran saya. Tapi di universitas negeri di ibukota.

Belum tentu saya bisa dengan mulus berangkat ke sana jika saja kelas 1 SMA saya benar-benar pindah ke Jakarta. Semua orang dekat saya paham saya bukan tipe orang yang mudah menyesuaikan diri dengan ‘kehidupan baru’. Bisa saja di Jakarta kompetisi lebih ketat dan saya lebih senewen. Biarpun kelihatan luwes dalam beradaptasi but I AM definitely NOT! :D.

Bila bapak masih ada, saya meyakini, beliau pasti akan menentang keras. Biarpun untuk kasus Bapak ini, kalaupun masa lalu bisa menarik saya kembali ke malam itu, saya akan tetap berharap hal yang sama … saya inginnya beliau diberi umur lebih panjang.

***

Saya juga memasang tulisan ini di dekat monitor PC saya di tempat bekerja saya dahulu. Perusahaan pertama yang menerima saya saat saya bahkan belum diwisuda. Terima kasih, ya, Manulife. Hehehe. Hampir empat tahun bekerja di sana, those almost-4-years are one of the best times in my life.

Tapi namanya manusia. Saya pun kadang ingin terbang lebih tinggi. Mencoba interview di tempat lain yang menjanjikan karir lebih baik (ehm…gaji yang lebih tinggi? :P). Tapi seringnya…gagal! Dan kalau gagal, untuk membangkitkan semangat, saya baca saja berulang-ulang ‘mantera’ saya itu.

Sahabat saya pernah bilang, “Model pelor kayak elo ya mana kuat, Jee, kerja di konsultan. Emang paling cocok di end-user. Lo kan suka marah-marah kalau begadang. Kalo belajar bareng pun, banyakan tidurnya.” Hahaha.

Tapi dia tidak salah. Saya bukan tipe ‘manusia malam’. Sekalinya sahabat saya itu membujuk saya ke bioskop malam-malam untuk pertunjukan pukul jam 8 malam. Jam setengah sepuluh, saya sudah setengah terlelap di bangku bioskop. Hihihihi. Pantang mengajak saya melakukan aktifitas di malam hari :P. Saya manusia ‘subuh’ kalau kata sahabat saya, hehehe. Enaknya diajak lari pagi mungkin? ;).

Memang, harus menunggu hampir empat tahun untuk akhirnya melangkah pergi. Dan kepakan sayap pertama itu malah mengantarkan saya bekerja di tempat yang memang pernah saya impi-impikan.

Pekerjaan yang memang tidak membutuhkan saya untuk banyak begadang dengan gaji yang tidak terlalu jelek. Cukup besar malah menurut saya :P. Perusahaan yang beberapa kali menjadi ‘Indonesia’s the most admired company‘ ;). Bukan konsultan IT.

Biarpun akhirnya setelah beberapa tahun berlabuh di tempat itu, saya akhirnya menyudahi karir saya di sana. Waktu itu rencananya ingin melanjutkan sekolah ke jenjang S2. Mencoba ikhtiar kembali untuk menggali kembali impian lama yang hampir terkubur rapat. Menjadi dosen :).

***

Saat sudah hendak mendaftar ulang sebagai mahasiswi S2, takdir lain kembali menghampiri. Suami saya bilang, kalau dia ingin saya dan anak saya ikut bersamanya ke luar negeri. Duh, gagal lagi, deh, cita-cita satu ini.

Bulan april 2010, Montreal lah tujuan kami. Sebenarnya suami lebih menginginkan untuk tetap di Jeddah, tapi iqama (resident permit) tak kunjung datang. Jadi saya dan anak saya tak kunjung bisa ikut serta ke Jeddah. Kami tidak suka berlama-lama hidup terpisah.

Akhirnya suami mencoba peruntungan di negara lain. Dan dengan tangan terbuka, Montreal mengirimkan final offer dan kami bersiap-siap untuk pengurusan visa. Jangan ditanya senangnya saya. Montreal adalah salah satu kota impian saya. Selain ingin melihat salju, saya tahu kota ini salah satu kota tercantik di negara Kanada. Sibuklah saya menelepon kakak saya untuk menemani saya berburu mantel dan sepatu boot. Hihihihi. Cetek bener, dah :P.

Tak disangka, selang dua hari, final offer dari Montreal diterima, tawaran Iqama juga datang dari Jeddah. Dan secara mengejutkan, suami saya memilih Jeddah!

Suami saya sama keras kepalanya dengan saya. Dan saya tidak menampik, alasan dia lebih masuk akal. Jadilah dengan setengah hati, saya mengemasi koper, membuang jauh-jauh rencana berburu mantel + boot, dan mengomel panjang lebar disertai ultimatum ke suami, “pokoknya jangan lama-lama, ya. Satu tahun itu udah lama banget!”

***

Dan lihatlah sekarang. genap sudah dua tahun saya dan keluarga kecil saya berpijak di salah satu kota terbesar kedua di negara Saudi ini. Yang berjarak hanya 70 km dari kota suci Mekkah. Dan hanya perlu menyetir 3 jam melewati jalanan mulus sepanjang 400 km (gak pake macet!) untuk berziarah ke kota Nabi di Madinah.

Seminggu pertama saya menjejakkan kaki disini tidak terpikir untuk melewati banyak hal menarik disini. Tinggal di Jeddah yang awalnya saya yakini akan menjadi ‘momen kemunduran’ malah menghadirkan banyak hal penting.

Anak kedua saya lahir disini. Proses produksinya juga di Jeddah, hihihihi. Gagal mengejar mimpi menjadi dosen membuat saya menemukan passion sejati saya.

Bertahun-tahun yang lalu ketika saya masih duduk di bangku SD, saya sangat suka mengolah kata di atas kertas. Menulis banyak sekali cerita fiksi. Banyak naskah drama, yang setelah saya tulis, saya bawa ke kelas, dan saya minta teman-teman saya berlakon sesuai skenario yang saya buat tadi. Hahahaha. Saya sering membagi-bagikan tulisan saya secara gratis.

Entah kenapa, begitu SMP dan seterusnya, hobi menulis ini nyaris hilang. Hanya sekedar menulis iseng di buku harian saja. Makanya, teman-teman SD saya tak ada yang terkejut ketika sekarang ini saya suka ‘menulis dengan lebih serius’. Sedangkan teman SMP, SMA, kuliah, kantor, bahkan suami saya sendiri mengernyitkan dahi, “sejak kapan bisa menulis? kenapa tiba-tiba?” hehehe.

Hobi menulis membawa saya mengajak teman-teman saya menerbitkan sebuah buku. Yang lagi-lagi prosesnya di Jeddah.

Juga membuat dua blog komunitas. Mamasejagat untuk teman-teman sesama ibu-ibu yang sedang bermukim di luar negeri. Dan blog ceritaJeddah untuk teman-teman di Jeddah yang ingin berbagi cerita.

Ah, blog yang isinya ramai-ramai pasti lebih gampang. Eit, siapa bilang? Butuh kesabaran dan konsistensi untuk membujuk orang-orang lain menorehkan kisahnya disana. Perlu pakai acara wawancara pula kadang-kadang hehehe.

***

Tak ada orang yang seumur hidupnya selalu menengadahkan tangan ke atas dan dalam sekejap waktu segala permohonannya terhidang di hadapan mata. Tidak ada.

Tapi tak pernah ada alasan untuk putus asa dan kecewa berkepanjangan. Bukannya Tuhan menepis keinginan kita, He’s just preparing something better.

Jadi, betul bukan kata saya di awal tulisan ini, bahwa : “Bila kau tidak mendapatkan apa yang kau inginkan? Maka, mungkin itu saja keberuntunganmu!” ;).